Sunday, 24 June 2018

[Review] Jailangkung 2: Ancaman Terror Matianak Berlanjut


#Description:
Title: Jailangkung 2 (2018)
Casts: Jefri Nichol, Amanda Rawles, Naufal Samudra, Hannah Al Rashid, Lukman Sardi, Gabriella Quinnlyn, Dania Michelle, Deddy Soetomo, Wulan Guritno
Director: Rizal Mantovani & Jose Poernomo
Studio: Skymedia Pictures, Legacy Pictures


#Synopsis:
Kapal SS Ourang Medan berencana akan berlayar sambil membawa sebuah muatan berbentuk kotak besar. Sang kapten membeli muatan tersebut dengan harga yang sangat tinggi dari penduduk pribumi. Muatan tersebut berisi seorang perempuan bernama Matianak (Dania Michelle) yang terkurung dengan kalung Kurung Sukmo. Matianak merupakan anak gaib dari hasil pernikahan antara salah satu dayang Nyi Roro Kidul dengan manusia. Matianak sendiri sangat diincar dan dijadikan jimat gaib oleh manusia lantaran ia mampu memberikan manusia kekayaan, kekuatan serta kekebalan. Anak gaib tersebut sangat berbahaya jika terlepas dari kurungan kalung Kurung Sukmo. Gara-gara kapal SS Ourang Medan lah, Matianak bisa lepas dari kurungan lalu kabur mencari "majikan" barunya.
Sementara itu, Tasya (Gabriella Quinlynn) sangat merindukan sosok ibunya bernama Sara (Wulan Guritno) karena telah meninggal dunia usai Tasya lahir. Ia ingin sekali bisa melihat dan berkomunikasi dengan ibunya itu. Tasya lantas mencoba bermain Jailangkung di kamarnya untuk memanggil ibunya. Usai bermain Jailangkung, Tasya menghilang. Sang ayah, Ferdi (Lukman Sardi) panik gara-gara Tasya menghilang. Sikap anaknya yang lainnya yakni Angel (Hannah Al Rashid) juga semakin aneh dan misterius usai dirinya melahirkan bayi secara tak wajar. Bella (Amanda Rawles) meyakini bahwa semua hal-hal misterius yang keluarganya alami gara-gara sosok Matianak yang terlahir kembali dari rahim kakaknya, Angel.
Bella pun kembali meminta tolong pada Rama (Jefri Nichol), kekasihnya untuk menyelidiki asal usul Matianak itu. Disaat keduanya sedang mencari tahu tentang Matianak, mereka bertemu dengan mahasiswa baru bernama Bram (Naufal Samudra) yang memiliki sedikit informasi tentang Matianak. Bram meyakini jimat Kurung Sukmo yang merupakan kalung untuk melemahkan kekuatan Matianak itu masih berada didalam kapal SS Ourang Medan yang karam didasar laut.
Tanpa pikir panjang, Bella, Rama dan Bram memutuskan untuk pergi ke sebuah mercusuar terbengkalai yang konon pada saat masih beroperasi pernah menerima signal terakhir dari kapal SS Ourang Medan. Disepanjang perjalanan, Bella dan Rama terus dihantui sosok gaib yang terus mengikutinya mulai dari terror pom bensin, mini-market dan ketika di mercusuar. Bahkan ketika Bella dan Rama menyelam ke bangkai kapal SS Ourang Medan pun, terror gaib itu masih mereka alami. Beruntung, mereka tak sia-sia. Usia menyelam dan menelusuri bangkai kapal, mereka menemukan kalung Kurung Sukmo tersebut dengan cepat.
Sementara itu, dengan bantuan Bude dari Rama (Ratna Riantiarno), Ferdi menemukan sedikit jalan tentang keberadaan Tasya. Bude terkejut bahwa selama ini, keluarga Ferdi dikelilingi oleh banyak sosok gaib dirumahnya. Bude memutuskan mengirim Ferdi ke alam gaib untuk membawa Tasya kembali ke alam dunia. Disana, Ferdi memasuki sebuah istana besar yang berisikan banyak sekali sosok gaib yang menahan Tasya disana untuk selamanya.
Bella, Rama dan Bram bergegas pulang untuk memasangkan kalung Kurung Sukmo pada Matianak yang sedang  berada dirumah mereka bersama dengan Angel. Mampukah kali ini Bella dan Rama menghentikan terror Matianak?


#Review:
Kesuksesan film JAILANGKUNG (2017) secara komersil yang dirilis pada moment lebaran tahun lalu membuat Legacy Pictures tak tinggal diam untuk membuat kelanjutan kisahnya. Tahun ini, pada moment lebaran juga sekuelnya resmi dirilis berbarengan dengan empat judul Film Indonesia lainnya. Hingga postingan dibuat, jumlah penonton film yang dibintangi Amanda Rawles sama Jefri Nichol ini sudah menyentuh angka 800.000 penonton lebih dalam kurun waktu tayang kurang dari seminggu. Kesuksesan secara komersil yang kembali diraih ini ternyata berbanding terbalik dengan kualitas yang film ini hadirkan. Untuk segi cerita, film ini terasa penuh sesak dengan menceritakan banyak hal. Tapi semua yang diceritakan tersebut dibuat secara terburu-buru dan makin lama semakin maksa. Embel-embel sekuel pun dalam film ini tidak begitu kuat terasa. Film ini alangkah lebih mending disebut sebagai spin-off yang menceritakan sosok Matianak ketimbang disebut sebagai sekuel. Makin menuju akhir film pun, ceritanya semakin berantakan. Banyak sekali adegan dan moment yang konyol dihadirkan. Mayoritas adegan jumspcared juga sangat mainstream, beberapa bahkan terlalu berlebihan. Tapi untungnya adegan jumpscared di mercusuar serta adegan diving dalam film ini patut untuk diapresiasi. Sisanya, mengecewakan. 
Overall, film JAILANGKUNG 2 (2018) menjadi film lebaran terburuk tahun ini setelah film TARGET (2018). Sorry!


[4/10Bintang]

Saturday, 16 June 2018

[Review] Dimsum Martabak: Dongeng Kisah Cinta Seorang Waitress


#Description:
Title: Dimsum Martabak (2018)
Casts: Ayu Ting-Ting, Boy William, Muhadkly Acho, Tyas Mirasih, Meriam Bellina, Denira Wiraguna, Chen Kin Wah, Olga Lydia, Ferry Salim
Director: Andreas Sullivan
Studio: RA Pictures


#Synopsis:
Mona (Ayu Ting-Ting) adalah seorang waitress disebuah restaurant chinese food milik Ko Huyen (Chew Kin Wah) yang terbilang bagus dalam bekerja. Karena ketekunan dan kesigapannya dalam bekerja ia selalu mendapat bonus dari atasannya. Sifat Mona yang baik dan 
selalu membantu satu sama lain membuat dirinya juga disegani oleh keempat rekan kerja lainnya.
Namun, istri baru dari Ko Huyen yakni Cici Sandra (Magdalena) ternyata tak suka dengan Mona. Ia bahkan dengan berani memecat Mona meskipun Mona tak melakukan kesalahan sama sekali. Ko Huyen tak bisa menolong Mona, karena istri barunya itu sangat otoriter dalam melanjutkan bisnis restaurantnya. 
Mona pun kini menganggur. Ia lalu mencoba mencari pekerjaan baru demi bisa melunasi sisa hutang almarhum ayahnya yang menunggak ke bank dan juga menghidupi Ibunya (Meriam Bellina) dan Lissa (Denira Wiraguna) adiknya yang tengah duduk di bangku sekolah. Suatu malam, sepulang dari mencari pekerjaan, Mona membelikan satu bungkus martabak asin untuk ibu dan adiknya dirumah. Martabak tersebut ia beli dari sebuah food-truck yang dimiliki oleh Sooga (Boy William) dan Dudi (Muhadkly Acho), rekannya. Ternyata martabak asin itu enak, Ibu dan Lissa menyukainya. Lissa kemudian iseng ikutan kompetisi video challenge dari akun sosial media Martabak Sooga dengan merekam ekspresi Mona ketika makan martabak asin dari Martabak Sooga. Ternyata video milik Lissa  menarik perhatian Sooga dan Dudi. Mereka pun memutuskan untuk memenangkan videonya Lissa. Mereka berdua kemudian datang ke foodtruck Sooga untuk mengambil hadiah kompetisi video itu. Keberuntungan memihak lagi pada Mona, ternyata Sooga sedang membutuhkan karyawan baru untuk foodtrucknya. Dengan referensi dari adiknya serta mempunyai pengalaman kerja dan kemampuan membuat sistem alur kerja di restaurant, Mona pun akhirnya diterima bekerja di Martabak Sooga.
Seiring berjalannya waktu, usaha Martabak Sooga berjalan lebih maju lagi usai Mona dan Lissa ikut bergabung. Sistem yang diterapkan Mona berjalan lancar. Disaat yang bersamaan pula, Sooga perlahan mulai menyukai Mona, setelah sekian lama susah move-on dari mantan pacarnya yakni Tammy (Stella Cornelia). Mona pun sama, ia merasakan hal yang sama seperti Sooga.
Namun disaat keduanya semakin dekat, tiba-tiba saja Sooga menghilang usai ia di serang oleh para preman yang mencoba memeras foodtrucknya. Hilangnya Sooga membuat Mona khawatir. Tapi hilangnya Sooga tak begitu lama. Sooga kembali muncul. Ia ternyata menyiapkan sesuatu bagi Mona. Sooga akan mengajak Mona bertemu dengan kedua orangtuanya (Olga Lydia dan Ferry Salim) disebuah resort mewah.
Melihat sosok Sooga yang ternyata berasal dari keluarga berada membuat Mona sedikit minder dan tak yakin bisa melanjutkan hubungannya dengan Sooga. Mampukah Sooga meyakinkan Mona?

#Review:
Berdesakan dengan empat film lainnya yang dirilis bersamaan pada libur lebaran tahun 2018 ini tak membuat RA Pictures ketakutan untuk kehilangan penontonnya. Sebuah film drama kali ini dihadirkan oleh rumah produksi Raffi Ahmad yang dibintangi penyanyi dangdut masa kini yakni Ayu Ting-Ting. Ketika kabar Ayu Ting-Ting akan bermain dalam film layar lebar, tak sedikit orang yang memandang sebelah mata keputusan ini dan menganggap hanya sebatas memanfaatkan kepopuleran Ayu Ting-Ting sebagai penyanyi dangdut populer sekaligus sering menjadi headline berita akun-akun gosip di instagram.
Untuk segi cerita, Film DIMSUM MARTABAK (2018) ini ternyata cukup enak untuk dinikmati. Paruh pertama adalah bagian paling aku suka dalam film ini. Sang sutradara mengenalkan sosok Mona dan Sooga yang memikat. Suprisingly keduanya menampilkan perjalanan chemistry yg klop satu sama lain disepanjang film. Aku suka introduce Mona disini tak dibuat over-sederhana. Semuanya terasa pas banget. Sosok Mona sebagai seorang Waitress handal pun kuat dan menjiwai. Paling suka saat Mona mengomentari sistem foodtruck Sooga saat bersama dengan adiknya Lissa. Menuju paruh tengah film, konflik pun ditebar. Mona dengan Sooga, Mona dengan Ibunya dan Mona dengan orang-orang disekitarnya. Meskipun terasa sedikit kompleks, tapi untungnya konflik itu hadir tak terlalu berat. Ayu Ting-Ting juga ternyata tampil tidak mengecewakan dalam debut filmnya ini. Ia tampil begitu menawan sebagai sosok Mona yang sederhana. Kharismanya bahkan dibeberapa adegan tampil begitu bersinar. Sosok pecicilan dan berbicara nyablaknya tak terlihat sama sekali disini. Beberapa pemain pendukung juga tak cuma sekedar tempelan semata. Aku suka karakter yang dimainkan Meriam Bellina, Denira Wiraguna, Muhadklu Acho hingga Tyas Mirasih dalam film ini mempunyai masing-masing karakter yang masih reasonable masuk ke dalam cerita. Semua konflik berjalan smooth. Meskipun sudah bisa ditebak bahwa endingnya akan happy dari awal-awal film. Nah, plotline untuk mengarah happy ending disini terasa seperti dongeng cinderella. Sosok laki-laki ditampilkan sangat kaya raya dan perempuannya berasal dari kalangan biasa saja. Pamer harta dan kekayaan lewat rumah minimalis mewah yang mempunyai lift serta sederet mobil sport ferarri dan mobil berharga miliaran rupiah kembali dilakukan dalam film ini, setelah kemarin dilakukan juga di film THE SECRET SUSTER NGESOT URBAN LEGEND (2018). Agak sedikit membuatku ternganga sekaligus geleng kepala sih hal tersebut bagiku. Tapi ada SATU hal yang paling ku kecewa pada film ini adalah RAFFI AHMAD sebagai produser dan pemilik rumah produksinya MAKSA banget dimasukkan ke dalam dua adegan dalam film ini. Paling ngeselin adalah adegan credit scene. Mood saya seketika hancur padahal sudah dibuat manis dengan endingnya.
Overall, sebagai debut perdana main film, Ayu Ting-Ting tidaklah mengecewakan. Aku suka!


[7.5/10Bintang]

Tuesday, 12 June 2018

[Review] Ocean's 8: Aksi Delapan Pencuri Wanita Yang Menghibur


#Description:
Title: Ocean's 8 (2018)
Casts: Sandra Bullock, Cate Blanchett, Anna Hathaway, Mindy Kaling, Sarah Paulson, Awkwafina, Rihanna, Helena Bonham Carter
Director: Gary Ross
Studio: WarnerBros Pictures, Village Roadshow

#Synopsis:
Debbie Ocean (Sandra Bullock) yang merupakan adik perempuan dari Danny Ocean (George Clooney) akhirnya bisa keluar dari jeruji besi usai ia mendapatkan keringanan hukuman yakni bebas bersyarat. Hal tersebut rupanya tak membuat ia jera. Keluarga Ocean sudah terkenal sebagai seorang pencuri ulung yang cerdik, pintar dan terbebas dari kejaran polisi. Debbie kemudian berencana melakukan aksi pencurian lagi dibantu dengan sahabatnya Lou (Cate Blanchett). Kali ini mereka mengincar sebuah kalung berlian toussiant bernilai ratusan juta dollar dari pemilik rumah berlian Cartier. Kalung berlian tersebut bahkan dijaga sangat ketat diruang basement berlapis beton besi dan sudah aman tersimpan selama puluhan tahun lamanya.
Kali ini Lou agak sedikit pesimis untuk melakukan aksi tersebut jika dilakukan hanya dua orang saja. Jiwa maling Debbie yang cerdik rupanya sudah berjalan. Ia mempunyai ide untuk memanfaatkan event Met Gala dan mengincar salah satu seorang aktris Hollywood bernama Daphne Kluger (Anna Hathaway) untuk memakai kalung berlian tersebut ketika datang ke event Met Gala. Debbie tidak melakukan aksinya sendirian, ia lalu mempunyai ide briliant lagi untuk mengajak seorang designer yang sudah turun pamor bernama Rose Weil (Helena Bonham Carter) untuk dijadikan sebagai perancang busana Met Gala bagi Daphne. Dengan mengajak Rose, Debbie dan Lou akan dengan mudah mencari tahu lebih personal akan sosok Daphne. Di lapangan, Debbie juga merekrut Constance (Awkwafina) seorang wanita  ahli pencopet di jalanan, Amita (Mindy Kaling) wanita India yang ahli dalam urusan soal berlian, Nine Ball (Rihanna) wanita Barbados yang sangat ahli dalam urusan teknologi dan pembajakan dan Tammy (Sarah Paulson) seorang ibu rumah tangga yang ahli dalam urusan bidding.
Setelah semuanya berkumpul mereka lalu menyusun rencana sedemikian rupa untuk bisa mendapatkan kalung berlian berharga fantastis tersebut. Rose diutus untuk merancang dan mendekati Daphne, Constance diutus untuk menjadi seorang pelayan di event Met Gala untuk mengetahui persis denah tempat duduk Daphne dan Rose. Amita dan Lou ditempatkan di bagian penyedia makanan untuk event Met Gala, mereka bahkan sudah menyiapkan mobil box untuk melancarkan aksinya. Nine Ball mengerjakan tugas sesuai ahlinya yaitu meretas sistem keamanan kamera pengawas event Met Gala. Tammy menyusup menjadi pegawai majalah Vouge yang merupakan official partner event Met Gala dan Debbie menyusup menjadi tamu undangan ke event Met Gala.
Perlahan tapi pasti, aksi pencurian yang dilakukan Debbie dan ketujuh rekannya berjalan mulus. Semua yang mereka rencanakan juga berjalan dengan baik. Disaat yang bersamaan pula, Debbie memiliki rencana tersembunyi lainnya yang tidak diketahui oleh ketujuh rekannya yakni menjebak seseorang yang telah menjebloskannya ke penjara. Orang tersebut adalah mantan pacar Debbie yakni Claude Becker (Richard Armitage) yang merupakan pemilik sebuah perusahaan lelang Becker Holdings.

#Review:
Terinspirasi dari trilogy film OCEAN'S 11, 12 dan 13 yang dibintangi oleh George Clooney, film karya sutradara THE HUNGER GAMES (2012) ini menghadirkan sebuah film heist yang diisi oleh sederet aktris Hollywood papan atas. Nama-nama besar seperti Sandra Bullock, Cate Blanchett, Anna Hathaway dan Helena Bonham Carter sudah membuatku film ini menjadi tontonan wajib ketika tayang di bioskop.
Untuk segi cerita, film OCEAN'S 8 (2018) ini mampu hadir sebagai sebuah film heist yang ringan, fun dan bermain aman. Kita langsung dibuat interesting pada paruh awal film ketika sang ketua, Debbie Ocean memulai aksinya sendirian usai keluar dari penjara. Begitu licik, cerdik dan pintar. Kita jadi semakin tak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Keseruan dan rasa fun dalam film ini ternyata terus berlanjut dari awal hingga akhir film. Kita diajak berkenalan dengan delapan wanita yang masing-masing mempunyai "keahlian" dibidangnya. Sosok Rose yang dimainkan Helena Bonham Carter mengingatkan ku pada Sarah Sechan, gesture dan karakternya begitu kuat. Anna Hathaway yang berperan sebagai Daphne Kluger menurutku adalah karakter yang paling mencuri perhatian. Sepanjang film aku terpesona olehnya. Rihanna yang memerankan Nine Ball juga surprisingly tampil tidak mengecewakan. Rihanna, Awkwafina, Mindy Kaling dan Sarah Paulson yang sedikit mengingatkan ku pada Emily Blunt, mereka sangat menikmati dalam memainkan karakternya. Chemistry kedelepan pemain pun tak kalah memikat seperti film OCEAN'S versi cowoknya. Porsi lebih besar dalam film ini berfokus pada ketuanya yakni Debbie dan Lou yang diperankan dengan baik oleh Sandra Bullock serta Cate Blanchett. Aktris Kim Kardashian, Kendall Jenner dan Kylie Jenner juga tampil menjadi cameo dalam film ini. 
Oia aku juga sangat suka dengan twist yang dihadirkan film ini, terasa semakin entertaining. Cerita aksi pencurian di event Met Gala ini sukses membuatku jatuh hati. One of my favorite movie ever! 


[8.5/10Bintang]

[Review] Target: Permainan Aksi Dengan 9 Artis


#Description:
Title: Target (2018)
Casts: Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Hifdzi Khoir, Romy Rafael, Abdur Rasyad, Samuel Rizal, Willy Dozan, Anggika Bolsterli, Ria Ricis


#Synopsis:
Disuatu pagi, Raditya Dika dan Hifdzi Khoir mendapatkan sebuah email tawaran untuk bermain dalam sebuah film. Dika langsung curiga bahwa tawaran tersebut fiktif belaka karena tawaran itu datang hanya via email saja tanpa ada konfirmasi melalui manager/meneleponnya langsung. Tapi ternyata tawaran bermain film itu sungguhan. Honor yang akan diterima Dika sudah ia terima di rekeningnya. Dalam naskah skenario yang ia terima, film tersebut berjudul Target dan dibintangi oleh sembilan orang terkenal di Indonesia. Mereka adalah Raditya Dika, Hifdzi Khoir, Abdur Rasyad comic stand-up comedian, Samuel Rizal, aktor yang bugar dan cenderung sombong, Cinta Laura Khiel, aktris yang sedang meniti karier di Hollywood yang juga mantan dari Dika, aktor senior Willy Dozan yang kini tidak se-garang dahulu, Romy Rafael yang terkenal dengan kemampuan mentalistnya, Anggika Bolsterli, aktris langganan film dan ftv drama dan selebgram Ria Ricis.
Kesembilan orang itu lalu dipertemukan untuk pertama kalinya disebuah rumah. Mereka lalu disuruh untuk beristirahat, berganti pakaian dan makan sebelum proses shooting dimulai. Semua instruksi tersebut mereka dapatkan dari cuplikan-cuplikan TV yang konon berasal dari sosok bernama Game Master. Usai menyantap hidangan makan malam, satu persatu dari mereka pingsan. 
Ketika tersadar, mereka sudah berada di dalam sebuah gedung terkunci yang sudah terpasang banyak CCTV disetiap sudut gedung dan ruangannya. Mereka lalu mendapatkan intruksi untuk memulai proses shooting film Target. Sebelum dimulai, mereka mendapat instruksi dari Game Master untuk tidak coba-coba keluar permainan sebelum waktunya, jika nekad, kalung yang terpasang dalam kostum yang mereka kenakan tak segan-segan memberikan sengatan listrik. Babak pertama pun dimulai, sembilan orang tersebut diharuskan untuk mencoba sebuah senjata revolver dan wajib ditodongkan ke masing-masing diantara mereka. Game Master merekam semua ekspresi real dari sembilan orang tersebut untuk nanti dijadikan salah satu scene untuk Film Target. Kepanikan dan ketakutan melanda Dika dan yang lainnya, mereka tak ingin semuanya mati konyol dalam permainan Game Master. Babak pertama menyebabkan Romy Rafael tewas tertembak. Menyisakan delapan orang lagi. Mereka kemudian berlanjut ke lantai berikutnya.
Di lantai kedua, mereka menemukan sebuah TV. Game Master lalu mengajukan sebuah pertanyaan tebak-tebakan. Dengan percaya diri, Ria Ricis mencoba menjawabnya. Tapi, jawaban Ricis tersebut salah. Ia lalu tewas terjatuh terjun ke lantai dasar. Kepanikan lagi-lagi melanda orang-orang yang tersisa. Hifdzi sangat ketakutan dan mencoba untuk kabur dari gedung tersebut. Naas, Hifdzi malah tersengat listrik dari kalung yang terpasang dilehernya.
Anggika Bolsterli juga tak tahan dengan semua permainan Game Master, ia juga mencoba untuk menantang Game Master dan kabur dari permainan itu. Hal tersebut ternyata membuat Game Master kesal. Anggika didorong oleh sosok misterius dan tewas terjatuh ke lantai dasar.
Akhirnya, digedung tersebut tinggal menyisakan Dika, Cinta, Hifdzi, Samuel, Willy dan Abdur. Mereka kemudian berlanjut ke permainan berikutnya. Di permainan selanjutnya, mereka mendapatkan masing-masing sebuah revolver dan ditugaskan untuk membunuh satu sama lain. Abdur dan Samuel saling kejar-kejaran dan menyerang satu sama lain karena keduanya disepanjang permainan berlangsung mempunyai rasa kesal dan dendam satu sama lain. Hal tersebut membuat mereka terpisah dari Dika, Willy Cinta dan Hifdzi. Cinta mencoba membuat orang yang tersisa untuk tetap tenang dan kompak. Ia meyakini kunci untuk bisa keluar dari gedung tersebut dan terbebas dari permainan Game Master adalah kekompakan, bukan saling membunuh.
Mampukah artis yang tersisa dalam permainan Game Master itu bertahan dan menyelesaikannya?

#Review:
Kabar Raditya Dika yang konon akan vakum dalam waktu yang cukup lama untuk membuat sebuah film usai HANGOUT (2016) mungkin terpatahkan karena selang beberapa bulan setelahnya, ia tetap saja merilis sebuah film yakni THE GUYS (2017). Tahun ini pun Dika tidak absen untuk meramaikan industri film Indonesia. Ia kembali merilis sebuah film berjudul TARGET (2018) digandeng untuk yang ketiga kalinya bersama dengan Soraya Intercine Films. 
Respon para pecinta film Indonesia usai teaser dan trailer film TARGET (2018) dirilis pun menuai reaksi yang beragam. Banyak yang beranggapan (termasuk aku) premise film terbaru Dika ini sangat mengikuti film Dika sebelumnya yakni HANGOUT (2016) yang dikombinasikan dengan film SAW-nya James Wan. Aku sendiri langsung menurunkan ekspektasi serendah mungkin usai melihat trailernya. 
Dan tanggal 8 Juni 2018, aku berkesempatan bisa hadir dan nonton lebih awal di Gala Premiere film TARGET (2018) yang diselenggarakan di Plaza Senayan XXI. Lalu bagaimanakah dengan  hasil film ini?


Sudah bisa kuduga, film ini mengecewakan. Film TARGET (2018) memang seperti perpaduan antara film HANGOUT dan SAW. Dika sendiri mengakui hal tersebut ketika press konferensi berlangsung. Tapi, jika harus dibandingkan dengan kedua film itu, sudah sangat jelas film TARGET (2018) ini jauh lebih buruk. Dari segi skenario pun sangat predictable mirip HANGOUT namun kali ini memiliki double twist. Motif akhir cerita juga terasa cemen sama seperti motif tersangka di film HANGOUT dan kali ini jauh lebih maksa banget. Hadirnya twist lagi di penghujung film juga terasa semakin mengada-ngada. Dibilang mirip film SAW juga, film TARGET (2018) terasa serba mentah. Aku sama sekali tidak bisa menikmati action dan cara membunuh satu sama lain dalam film ini yang tidak se-kreatif film SAW. Empat hingga lima permainan dalam film ini hanya mengandalkan revolver saja. Ditambah lagi, satu persatu para artis yang tewas juga caranya sama semua. Dimana letak kreatif nya coba?
Segi action juga terasa sangat nanggung, gak terlalu menonjol. Moment fight antara Samuel-Abdur dan Cinta-Hifdzi juga sebetulnya bisa jauh lebih epic kalau dikemas full serius tidak ditambah unsur komedi yang cukup garing. Aku jauh lebih suka film HANGOUT, setidaknya disana aku masih mempunyai unsur thriller dan komedinya yang efektif dibeberapa bagian. Di film ini sama sekali aku tidak merasakan hal itu.
Jajaran pemain juga tak ada yang membuatku terkesan sama sekali. Penulis skenario film ini sangat membiarkan begitu saja kesembilan pemain tanpa adanya karakter yang kuat, malah berfokus pada komedi dan action yang nanggung banget. Kisah cinta antara Dika-Cinta yang sengaja diselipkan dalam film TARGET (2018) ini juga terasa sangat maksa. Bahkan ada satu adegan ketika flashback, ini munculnya sangat kasar tanpa aba-aba atau penghubung sama sekali. Bagian itu menjadi bagian paling mengecewakan untuk aku.
Overall, IMHO Film TARGET (2018) ini menjadi film terlemah dan paling mengecewakan dari Raditya Dika. Sorry!


[4/10Bintang]

[Review] Kuntilanak: Terror Kuntilanak Mengancam Anak-Anak


#Description:
Title: Kuntilanak (2018)
Casts: Kresna Sulaiman Bima, Ciara Brosnan, Sandrinna Michelle Snornicki, Adlu Fahrezy, Ali Fikri, Aurelie Moeremans, Fero Walandouw, Nena Rosier, Aqi Singgih, Naufal Ho
Director: Rizal Mantovani
Studio: MVP Pictures

#Description:
Ditengah hujan deras dimalam hari, Anjas (Naufal Ho) merindukan sosok almarhum ibunya yang selalu mengerti dirinya. Sifat ibunya itu jelas berbanding terbalik dengan ayahnya (Aqi Singgih) yang justru tak peduli dan bahkan sering mabuk-mabukan usai ditinggal pergi sang istri. Anjas pun hanya bisa meluapkan rasa rindunya dengan menggambar ibunya di kertas. Tak berapa lama kemudian, Anjas mendengar suara bisikan yang memanggil dirinya. Suara tersebut terasa tak asing bagi Anjas. Ia lalu mencari tahu sumber suara itu, ternyata suara itu berasal dari sebuah cermin antik yang berada di kamar almarhum ibunya. Anjas kaget bisa melihat sosok ibunya yang tengah duduk didepan cermin tersebut. Ia lalu memeluknya dan ingin ikut bersama dengan ibunya itu. Tapi ternyata, itu bukan ibu sebenarnya. Itu adalah sosok kuntilanak dan berhasil menculik Anjas.
Sementara itu, Lydia (Aurelie Moeremans) diminta untuk datang kerumah tantenya, Donna (Nena Rosier) untuk menjaga kelima anak angkatnya yakni Dinda (Sandrinna Michelle), Kresna (Andryan Sulaiman), Panji (Adlu Fahrezy), Miko (Ali Fikri) dan Ambar (Ciara Brosnan) selama ia pergi ke San Fransisco selama tiga minggu. Lydia tak sendiri, ia kadang ditemani sang pacar, Glenn (Fero Walandouw) seorang pembawa acara reality show yang mengulas hal-hal supranatural.
Sampai suatu hari, Glenn membawakan sebuah cermin antik untuk tante Donna  yang ia ambil dari rumah kosong yang pernah ditinggali oleh keluarga Anjas. Disatu sisi lainnya, kelima anak tersebut semakin dibuat penasaran dengan mitos sosok Kuntilanak usai membaca buku-buku yang mengulas hal gaib dan menonton acara reality show nya Glenn di televisi. Mereka berlima kemudian nekad untuk pergi kerumah kosong bekas keluarga Anjas untuk membuktikan kebenaran adanya sosok Kuntilanak. Petualangan yang awalnya mereka kira akan menyenangkan, ternyata berujung mengerikan. Satu persatu dari mereka berlima dihantui sosok Kuntilanak dan terancam akan berakhir seperti Anjas.
Mampukah kelima anak tersebut terbebas dari kejaran Kuntilanak?

#Review:
Kesuksesan Trilogy Kuntilanak karya sutradara Rizal Mantovani dan rumah produksi MVP Pictures yang dirilis pada 10 tahun yang lalu menjadikan film tersebut salah satu Film Horror Indonesia yang cukup menyeramkan. Tahun 2018 ini, MVP Pictures kembali menggandeng Rizal Mantovani untuk "membangkitkan" lagi sosok Kuntilanak di layar bioskop. Tak sedikit orang yang cukup penasaran akan film ini karena nama besar Kuntilanak sudah difilmkan cukup baik dengan 3 series yang dimainkan oleh Julie Estelle.
Di Kuntilanak versi terbaru ini, Rizal Mantovani dan Alim Sudio menghadirkan cerita tentang sosok Kuntilanak yang berbeda dengan Kuntilanak versi sepuluh tahun yang lalu. Disini, Rizal mencoba menceritakan kebiasaan Kuntilanak yang selalu mengincar para anak-anak. Film ini dibuat seringan mungkin. Penjelasan tentang sosok Kuntilanak dengan segala sifatnya juga dijelaskan disini dengan cukup baik. Tak ada twist atau cerita yang sulit untuk dimengerti. Fokus cerita pun hanya kepada kelima anak-anak yang sedang diincar oleh Kuntilanak. Peran orang dewasa dalam film ini terasa useless sama sekali. Hal tersebut bisa kumaklum lantaran film ini memang akan dirilis pada moment Lebaran 2018 ini.
Beberapa jumpscared di film ini berpotensi tampil creepy meskipun formulanya sudah banyak sekali ditemukan pada film-film horror lainnya. Sosok Kuntilanak yang ada disini pun penampilannya cukup oke meskipun harus dibalut dengan efek visual CGI. Musik scoring kali ini terasa jauh lebih terkontrol dan rasional dibandingkan dengan film horror yang baru saja dirilis akhir Mei kemarin atau film horror Rizal Mantovani sebelum ini. Set properti rumah juga disini terlihat niat dan bagus tidak menggunakan rumah-rumah spesialis langganan shooting film horror lokal.


Jajaran pemain yang tampil mencuri perhatian dan menjadi poin tertinggi untuk film ini ada ditangan kelima anak-anak itu. Kelimanya sukses menghadirkan suasana akrab, kocak dan menghibur disepanjang durasi film. Aku suka kelima karakter anak dalam film ini. Terutama Ambar. Berasa ingin kuculik dia. Haha. Peran Aurelie Moeremans serta Fero Walandouw dalam film ini menurutku terasa tak berguna, hanya sebagai pemanis belaka.
Overall, Film KUNTILANAK (2018) versi terbaru ini memang tidak sama dengan versi Julie Estelle. Hanya sebagai another story dari cermin terkutuk yang kini berpindah tangan.


[6/10Bintang]

Thursday, 7 June 2018

[Review] Jurassic World Fallen Kingdom: Menyelamatkan Kembali Dinosaurus


#Review:
Title: Jurassic World: Fallen Kingdom (2018)
Casts: Chris Pratt, Bryce Dallas Howard, Isabella Sermon, James Cromwell, Daniella Pineda, Justice Smith, Rafe Spall, Geraldine Chaplin, Toby Jones, Jeff Goldblum, Ted Levine, BD Wong
Director: J.A. Bayona
Studio: Universal Pictures, Legendary Pictures, Amblin Entertainment

#Synopsis:
3 tahun usai ditutupnya wahana Jurassic World yang terletak di pulau Nubla Islar, gunung aktif yang berada di pulau tersebut kini sedang mengalami aktivitas vulkanik pada level berbahaya dan diprediksi akan meletus dalam waktu dekat. 
Mendengar berita buruk tersebut, salah satu orang dibalik kejayaan Jurassic World yakni Benjamin Lockwood (James Cromwell) berencana untuk memindahkan populasi para dinousaurus ke sebuah pulau baru yang terbebas dari kurungan dan juga campur tangan manusia. Dibantu asistennya, Eli Mills (Rafe Spall) mereka mencari tahu informasi dan keberadaan Claire Dearing (Bryce Dallas Howard) salah satu orang penting dan mengetahui setiap detail dan spesies dinosaurus yang ada di Jurassic World. Mendengar rencana Benjamin yang akan melestarikan hewan purbakala itu, Claire merasa senang dan tertarik untuk ikut membantu project tersebut. Ia kembali mengajak Owen Grady (Chris Pratt) sang peneliti dan penjinak dinosaurus untuk terlibat dalam project tersebut. Tak hanya itu saja, mereka juga dibantu dua peneliti muda lainnya yakni Zia (Daniella Pineda) dan Franklin (Justice Smith).
Claire beserta rombongannya kemudian terbang ke pulau Nubla Islar. Sesampainya disana, mereka merasakan flashback kejadian tiga tahun lalu ketika melihat kondisi Jurassic World yang sudah hancur dan kini diambang lenyap juga akibat ancaman letusan gunung berapi. Ketika menjelajah Jurassic World, Owen kembali bertemu dengan Blue, dinosaurus yang berhasil ia jinakkan yang kini sudah tumbuh besar. Ketika Owen mencoba untuk melakukan kontak dengan Blue, rombongan keamanan yang mengawal Owen dan yang lainnya menembak dan membius Blue. Ternyata dibalik rencana yang sedang dibangun Benjamin, ada rencana tersembunyi  lainnya yang sedang dijalankan oleh Eli. Ia mencoba mengambil beberapa spesies dinosaurus yang langka untuk dilelang dengan harga fantastis dan juga tengah mengembangbiakan satu spesies dinosaurus baru yang konon jauh lebih pintar dari Blue bernama Indoraptor. Para dinosaurus yang ditampung tersebut dilelang di sebuah ruangan rahasia di kediaman Benjamin.
Mampukah Claire, Owen, Zia dan Franklin menghentikan aksi Eli yang akan menjual para dinosaurus untuk dijadikan "senjata" masa depan?

#Review:
Kesuksesan film JURASSIC WORLD (2015) yang dirilis tiga tahun lalu tak membuat Universal Studio untuk melanjutkan kisahnya. Namun bayang-bayang kekhawatiran nasib sebuah sekuel itu selalu ada. Aku adalah salah satu orang yang cukup khawatir akan nasib sekuel JURASSIC WORLD: FALLEN KINGDOM (2018) ini. Terlebih, ada beberapa sekuel atau film monster yang dirilis pada musim spring-summer disana seperti sekuel PACIFIC RIM UPRISING (2018) dan RAMPAGE (2018) tampil tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. 
Tapi untungnya, sekuel film ini tampil masih sama bagusnya, bahkan mempunyai sedikit perbedaan dalam segi tone film dengan film pertamanya. Plotline yang dihadirkan sebetulnya masih cukup klise tentang penyelamatan hewan, pengkhianatan dan balasan apa yang telah dilakukan karakter antagonis dalam film ini, beberapa moment juga hadir terasa cukup over-dramatis. Tapi dibalik itu semua, sang sutradara menutup segala ke-klisean film ini dengan menghadirkan atmosfer horror yang cukup creepy dan kelam. Aku suka banget cara sang sutradara menghadirkan moment jumpscared lewat para dinosaurus dalam film ini tanpa basa-basi. Beberapa moment tersebut aku yakin bisa jadi memorable moments ever untuk franchise film Jurassic. Beberapa karakter pemain dalam film ini pun tampil cukup memuaskan. Starlord yang memerankan Owen serta Bryce sebagai Claire masih mampu menjaga dengan baik kharisma mereka dari film pertamanya. Isabella Sermon yang memerankan cucu dari Benjamin Lockwood tampil cukup mencuri perhatian disepanjang film. Aku suka banget tingkah lakunya dalam film ini.
Music scoring, visual efek serta tata lighting dalam film ini juga sukses membuatku terkesan. Ketiga aspek ini sangat diperhatikan dengan amat baik oleh sang sutradara untuk menghadirkan moment-moment creepy yang pastinya akan memorable. Beberapa spesies dinosaurus dalam film ini tampil tidak se-variatif jilid pertamanya. Bahkan untuk Indoraptor yang menjadi musuh antagonis utama film ini pun diberi jatah tampil sebentar banget. Film ini jauh lebih menekankan pada perjalanan Owen dan kawan-kawan untuk menghentikan aksi Eli saja.
Overall, JURASSIC WORLD: FALLEN KINGDOM (2018) tampil memuaskan sebagai sebuah blockbuster summer movie tahun ini. Recommended!


[8/10Bintang]

Friday, 1 June 2018

[Review] Love Simon: Semua Orang Pasti Punya Rahasia


#Description:
Title: Love, Simon (2018)
Casts: Nick Robinson, Katherine Langford, Alexandra Shipp, Jorge Londeborg, Josh Duhamel, Jennifer Garner, Keiynan Lonsdale, Logan Miller, Talitha Bateman, Tony Hale, Miles Heizer, Joey Pollari
Director: Greg Berlanti
Studio: 20th Century Fox, Temple Hill Production

#Synopsis:
Simon Spier (Nick Robinson) adalah seorang siswa SMA yang mempunyai kehidupan seperti remaja pria pada umumnya. Ia mempunyai orangtua (Josh Duhamel dan Jennifer Garner) serta adik perempuan Nora (Talitha Bateman) yang begitu perhatian. Di lingkungan sekolahnya, Simon mempunyai teman baik sejak anak-anak, dia adalah Leah (Katherine Langford) lalu ada juga Abby (Alexandra Shipp) dan Nick (Jorge Londeborg) teman satu sekolah yang sudah dekat satu sama lain. Namun, ada satu hal yang Simon sembunyikan dari semua orang yang ada di kehidupannya. Hal tersebut mengenai orientasi seksualnya. Ya, Simon gay. Tapi, hal tersebut tak membuat ia menjadi takut, Simon tetap menjalani hidup seperti biasanya.
Suatu hari, social media di kalangan siswa SMA sekolah Simon digegerkan dengan sebuah postingan tentang pengakuan orientasi seksual namun menggunakan akun samaran bernama Blue. Ketika membaca postingan tersebut, Simon dibuat penasaran dan tertarik ingin mencari tahu siapa yang menulis postingan tersebut. Simon pun lalu nekad untuk mencoba mengirim email pada penulis postingan tersebut dengan menggunakan nama samaran juga yakni Jaqcues.
Gayung bersambut, setelah beberapa hari menunggu, email Simon akhirnya dibalas oleh Blue. Semenjak saat itu Simon dan Blue menjalin komunikasi yang cukup intens lewat berkirim email. Mereka saling bertukar cerita satu sama lain tentang diri masing-masing. Simon makin terpesona dengan rangkaian kata-kata yang ditulis oleh Blue. Ia merasa sangat nyaman bisa berbagi banyak hal dengan Blue meskipun hanya sebatas berkabar lewat email saja.
Di kehidupan nyata, Simon mencoba untuk menebak-nebak siapa Blue sesungguhnya. Ia lalu berimajinasi bahwa sosok Blue itu adalah Bram (Keiynan Lonsdale) siswa yang mengadakan pesta Halloween dirumahnya, tapi hal itu langsung terpatahkan karena tak sengaja Simon memergoki Bram tengah bermesraan dengan seorang wanita di kamarnya. Ia kemudian menerka Lyle (Joey Pollari), temannya yang bekerja sebagai seorang waiter di Waffle House. Tapi hal tersebut kembali terpatahkan karena Lyle mencoba mendekati Simon untuk mengenal lebih jauh tentang Abby, sahabatnya.
Karena dugaannya yang selalu meleset, Simon akhirnya sedikit menyerah. Ia lalu mencurahkan isi hatinya pada Blue. Simon mencoba untuk saling membuka identitas satu sama lain diantara mereka, namun sayang, Blue menolaknya. Suatu hari, Simon membuka email kiriman dari Blue lewat PC di perpustakaan. Celakanya, ia lupa untuk logout. Email yang masih terbuka itu, terbaca oleh siswa lain yakni Martin (Logan Miller). Tak tinggal diam, Martin langsung mendatangi Simon. Ia memohon pada Simon untuk bisa mendekatkan dirinya pada Abby. Jika Simon menolak, Martin tak segan untuk memposting screen capture seluruh email percakapan antara Simon dengan Blue di social media sekolah mereka. Mendengar ancaman itu, Simon jelas merasa ketakutan. Ia tak ingin semua orang mengetahui tentang orientasi seksualnya. Ia dengan terpaksa membantu Martin untuk bisa dekat dengan Abby.
Disatu sisi, apa yang telah dilakukan Simon mengancam persahabatan ia dengan Abby, Nick dan Leah. Simon berusaha sekuat tenaga untuk mendekatkan Martin dengan Abby, menjauhkan Nick yang ternyata diam-diam menyukai Abby juga dan memaksanya untuk lebih mendekati Leah yang menurut Simon, ia menyukai Nick. Semua rencana yang telah dirancang Simon berantakan. Abby tetap tidak bisa menerima Martin. Begitu juga dengan Leah dan Nick. 
Apa yang ditakutkan oleh Simon pun terjadi. Martin melakukannya. Social media sekolah menjadi gempar tentang postingan email antara Simon dan Blue. Seisi sekolah kini mengetahui orientasi seksual Simon. Adiknya pun ikut mengetahuinya. Hal itu semakin diperparah ketika Abby, Nick dan Leah mengetahui semua rencana yang Simon lakukan bersama Martin. Hubungan pertemanan mereka akhirnya renggang. Blue pun kini ikutan menghilang usai mengetahui siapa sosok Jacques sesungguhnya. Simon dilanda kesedihan, ia merasa dikucilkan dan tak mempunyai teman. 
Karena semuanya sudah terlanjur. Simon memutuskan dengan terbuka dan jujur mengakui tentang orientasi seksualnya pada kedua orangtuanya. 

#Review:
Film-film bertema LGBT memang masih menjadi tema yang sangat sensitif untuk dikomersilkan. Pro dan kontra pasti akan mengikuti ketika film bertema LGBT dirilis. Meskipun tak semua film bertema LGBT ini tentang seks atau having fun semata, beberapa diantaranya bahkan tampil sangat memuaskan. Contohnya film CALL ME BY YOUR NAME (2017) yang sukses tembus ke ajang Oscar 2018 lalu dan mendapat banyak nominasi serta penghargaan sana-sini. Tak heran jika film-film seperti ini mayoritas diproduksi oleh production house spesialis film-film festival.
Langkah yang cukup mengejutkan datang dari production house 20th Century Fox. Rumah produksi yang menghadirkan block-buster ini mencoba memproduksi sebuah film bertema LGBT yang dikemas ringan khas film-film teenage love story pada umumnya. Awalnya aku sempat berspekulasi bahwa film ini akan terasa so cheesy disepanjang film. Namun hal tersebut harus ku klarifikasi sekarang. Film LOVE, SIMON (2018) ternyata tampil memuaskan! Aku suka cara sang sutradara dan penulis skenario menghadirkan cerita Simon Spier yang dibuat seringan mungkin. Dari pembukaan film saja, aku pribadi langsung dibuat tertarik untuk mengikuti kehidupan Simon. Film ini tak melulu soal orientasi seksual semata. Semua orang didunia pasti mempunyai sebuah rahasia besar dalam hidupnya. Entah itu apa tak harus tentang orientasi seksual saja. Aku suka cara Greg Berlanti menghadirkan konflik dalam film ini yang terasa asyik tak membosankan sama sekali. Lingkungan sekitar Simon sangat mendukung untuk mengembangkan cerita dalam film ini. Chemistry antar para pemain juga terasa begitu kuat. Yang paling membuatku tersentuh adalah chemistry diantara keluarga Simon. Gila sih, itu adalah salah satu moment terbaik dalam film ini. Yang sedikit aku kurang suka film LOVE, SIMON (2018) ini cuma satu, pemilihan akhir cerita Simon dengan si Blue nya yang terasa over-sweet. Padahal disepanjang cerita sebelum menuju akhir, kadar manis dan hangat film ini sudah sangat pas. Terus lagi, sosok Blue nya tidak terlalu dibuat misterius bagiku, karena dari awal film aku sudah bisa menebak dan ternyata BENAR. Haha.
Film LOVE, SIMON (2018) sudah jelas menjadi film terbaiknya Nick Robinson. Disini ia sangat sukses menghadirkan sosok Simon Spier dengan segala permasalahan yang ia rasakan. Aku sama sekali tak menemukan hal berlebihan dalam diri Simon. Semuanya begitu terkontrol dan wajar. Pemain lain pun tampil tak mengecewakan. Sosok kedua orangtua dan para teman-teman dekat Simon tampil memuaskan.
Overall, LOVE, SIMON (2018) memberikan cerita cukup menghangatkan dan juga fun tentang penerimaan akan sebuah rahasia yang ada dalam diri seseorang.

[9/10Bintang]