#Description:
Title: Keluarga Suami Adalah Hama (2026)
Casts: Raihaanun, Omar Daniel, Meriam Bellina, Sitha Marino, Jeremie Moeremans, Fairuz A. Rafiq, Husein Alatas, Dinda Mahira, Tio Pakusadewo, Kevin Faulky, Karlina Inawati
Director: Anggy Umbara
Studio: Umbara Brothers Film, VMS Studio
#Synopsis:
Memasuki tahun ketiga pernikahan, Intan (Raihaanun) dan Damar (Omar Daniel) dihadapkan dengan ujian dalam rumah tangga mereka. Ujian tersebut datang setelah ayahnya Damar meninggal dunia. Damar mau tak mau harus menggantikan posisi sang ayah sebagai tulang punggung untuk keluarganya yaitu Ibu (Meriam Bellina), Bella (Sitha Marino) dan Danan (Jeremie Moeremans).
Setelah prosesi pemakaman, Ibu meminta Damar untuk menyiapkan berbagai kebutuhan untuk acara tahlilan di rumah mulai dari memesan souvenir duka, konsumsi makanan, pasang tenda dan mengundang tetangga hingga anak yatim piatu untuk datang ke rumah. Meskipun merasa keberatan, Damar tetap mengiyakan semua keinginan sang Ibu meskipun menguras dompet dan tabungan yang dimiliki. Akibatnya, Damar dan Intan terpaksa harus menunda lagi untuk membeli rumah dan tetap tinggal bersama dengan Ibu, Bella dan Danan di sana.
Karena sibuk mengurus acara tahlilan sang ayah dan berbagai kebutuhan di rumah, Damar jadi absen dan tidak masuk ke kantor selama berhari-hari. Ketika kembali ke kantor, Damar terkejut karena ia sudah di lay-off dan posisinya sudah digantikan oleh orang lain. Hal tersebut membuat Damar harus memutar otak untuk mencari pekerjaan baru secepat mungkin. Bersama dengan sahabatnya Attar (Husein Alatas), Damar menerima semua tawaran sebagai freelance demi bisa mendapatkan uang.
Di sisi lain, Intan mengambil keputusan berhenti sejenak dari bisnis online shop nya demi mengurus rumah, ibu mertua dan kedua adik iparnya. Namun sayang, keputusan yang diambil Intan tersebut perlahan mulai membuatnya menyesal. Sikap ibu mertua dan kedua adik iparnya sangat menyebalkan. Mereka menganggap Intan seperti asisten rumah tangga di rumah. Intan pun berusaha tetap sabar dan kuat dalam menghadapi kelakuan keluarga suaminya tersebut.
Ditengah kondisi finansial yang semakin memburuk, Bella yang baru satu bulan bekerja memutuskan untuk resign karena ia ingin daftar Visa agar bisa bekerja di Australia. Sementara itu, Danan diam-diam menggadaikan motornya untuk dijadikan modal membuka usaha coffee shop bersama teman-teman kuliahnya. Belum lagi sang ibu meminta Damar untuk melunasi biaya wisuda Danan dengan alasan ketiga anaknya harus lulus kuliah dan punya gelar sarjana. Damar pun terpaksa menjual mobilnya agar semua permasalahan ekonomi keluarganya bisa cepat selesai.
Seiring berjalannya waktu, Intan semakin diperlakukan semena-mena di rumah oleh ibu mertua dan kedua adik iparnya. Mereka tidak menghormati Intan yang sudah mengurus dan memenuhi semua kebutuhan yang ada di rumah. Kesabaran Intan akhirnya habis dan meluapkan amarahnya pada ibu mertua, Bella dan juga Danan. Setelah suaminya pulang, Intan memutuskan ingin secepatnya keluar dari rumah dan rela mengeluarkan tabungannya untuk membeli atau mengontrak rumah ketimbang terus-terusan tinggal bersama mertua dan adik ipar yang tidak tahu diri. Damar pun setuju dengan keputusan Intan karena satu-satunya alasan untuk bertahan sampai saat ini karena ia menyayangi istrinya. Mendengar obrolan Damar dan Intan di kamar, membuat sang ibu terkejut hingga jatuh pingsan. Setelah dibawa ke rumah sakit, ibu terkena stroke ringan sehingga harus banyak istirahat. Intan pun masih bersedia merawat ibu mertuanya ditengah kesibukannya mengelola online shop pakaian bersama sahabatnya, Sisy (Fairuz A. Rafiq) dan adik perempuannya Lia (Dinda Mahira).
Di sisi lain, Danan yang sedang menunggu lulus wisuda, kini disibukkan dengan bisnis coffee shop bersama teman kuliahnya. Namun sayang, coffee shop nya cenderung sepi peminat. Danan kemudian punya rencana untuk memperbesar coffee shop nya agar dikenal lebih luas dengan cara meminjam sertifikat rumah dan digadaikan ke bank. Danan berjanji sertifikat tersebut akan cepat kembali ke tangan ibunya setelah bisnis coffee shop sudah berjalan dengan lancar.
Sementara itu, Bella berinisiatif mengenalkan pacar barunya yaitu Rendy (Kevin Faulky) yang bekerja sebagai agen properti perumahan setelah mendengar kakak dan istrinya sedang mencari rumah. Tak membutuhkan waktu lama, Bella langsung mengajak Rendy untuk bertemu Damar dan Intan. Mereka berempat kemudian mendatangi lokasi cluster perumahan yang akan segera dibangun. Karena harganya murah lokasinya cukup strategis, Damar pun langsung setuju memberikan DP pada Rendy, meskipun awalnya Intan sedikit ragu dengan keputusan suaminya yang langsung percaya saja pada Rendy. Karena takut nanti uang tabungan terpakai lagi oleh keperluan lain, akhirnya Intan pun sepakat memberikan DP di cluster perumahan yang dipegang Rendy tersebut.
Setelah membayar DP untuk cluster perumahan, Intan bisa bernafas lega akhirnya impian untuk punya rumah sendiri dan tidak satu atap dengan keluarga suami bisa segera terwujud. Selain itu, bisnis online shop pakaian yang dikelola bersama Sisy dan Lia pun semakin banyak peminatnya setelah dibeli oleh salah satu influencer populer di sosial media. Omset dan pendapatan mereka pun meningkat drastis hingga kebanjiran pesanan.
Waktu terus berlalu. Kebahagiaan Intan ternyata tidak bertahan lama. Keluarga Damar kedatangan pihak bank akan menyita aset rumah yang dijadikan jaminan oleh Danan karena sudah 6 bulan menunggak pembayaran cicilan. Kabar tersebut membuat Damar dan Intan terkejut. Pihak keluarga sudah tidak bisa menyelamatkan rumah dan harus segera mengosongkannya. Bencana lain kembali datang menimpa rumah tangga Damar dan Intan. Cluster perumahan yang ditawarkan Bella dan Rendy pada mereka ternyata mengalami sengketa lahan. Rendy juga menghilang tanpa jejak. DP puluhan juta yang sudah dibayarkan kini hilang begitu saja. Kondisi finansial keluarganya yang terus terpuruk membuat Damar semakin tidak layak sebagai pasangan dan suami bagi Intan. Tanpa berpikir panjang, Damar mengambil keputusan untuk menceraikan Intan agar istrinya itu tidak terus-terusan menanggung beban berat menjadi bagian dari keluarganya. Bagaimana nasib rumah tangga Damar dan Intan selanjutnya?
#Review:
Sutradara Anggy Umbara kembali hadir meramaikan industri perfilman Indonesia dengan merilis film drama terbaru berjudul KELUARGA SUAMI ADALAH HAMA (2026). Film ini ternyata diadaptasi dari film pendek di platform Noice karya sutradara Aditya Santana yang sempat viral saat pertama kali dirilis pada Mei tahun 2025 lalu. Dengan judul yang sangat provokatif dan bombastis karena menganalogikan keluarga seperti hama yang selalu mengganggu tanaman, aku jadi penasaran se-hama apa sih keluarga suami yang divisualisasikan oleh Anggy Umbara.
Untuk segi cerita, film ini mengusung drama rumah tangga dengan pendekatan yang serba hyperbola di setiap pemicu konflik antara istri dengan ibu mertua dan juga kedua adik iparnya. Sejak film dimulai saja, film ini sudah dibuka dengan bahan konflik yang berhasil membuat penonton mengucap istighfar berkali-kali. Moment berduka justru jadi menjaga gengsi bagi ibu mertua dengan alasan sudah menjadi tradisi keluarga dibuat seperti itu. Memasuki pertengahan film, sederet konflik hyperbola terus terjadi mulai dari ibu mertua yang menggampangkan semua hal, anak pertama yang terus-terusan dimanfaatkan kebaikannya, anak kedua yang pemalas dengan ambisi ingin kerja di luar negeri dan anak ketiga yang terlalu idealis ingin punya usaha tapi kemampuan masih serba nol. Mereka bertiga berhasil menjelema menjadi sosok yang tak hanya menyebalkan, playing victim dan juga manipulatif terhadap Intan. Selain itu, film KELUARGA SUAMI ADALAH HAMA (2026) juga turut menyoroti impian pasutri muda yang tak jarang sering mendapat ujian ketika memiliki rumah sendiri. Sekilas mengingatkanku akan film nya Visinema Pictures yaitu HOME SWEET LOAN (2024) namun versi too much dramatic layaknya sinetron hahaha. Anggy Umbara yang terlibat juga sebagai penulis cerita dan skenario untuk film ini bersama dengan Ardianto Agung dan Dewi Fita, berhasil mendefinisikan keluarga suami adalah hama yang sudah di level bukan red flag lagi tapi dark flag dan parasit yang sangat mematikan. Selain sederet konflik yang sulit untuk dimaafkan, film KELUARGA SUAMI ADALAH HAMA (2026) punya karakter-karakter yang dibuat se-realistis mungkin. Keluarga Damar sudah jelas dibuat untuk mudah dibenci, begitu juga dengan sikap Damar yang sebagai seorang suami dan kepala keluarga terlalu dibuat "lembek" dan tidak tegas. Hal tersebut jadi berimbas pada performa akting Omar Daniel yang berkali-kali "kebanting" banget oleh Raihaanun. Kehadiran karakter Sisy yang menjadi sahabat dari Intan untungnya dibuat realistis, mengedepankan akal sehat dan bagusnya lagi tidak dibuat full religius. Setelah semua konflik dan permasalahan keluarga Damar yang sudah over-dramatic, Anggy Umbara justru menutup kisah film ini dengan bahagia. Jujur, konsep kesempatan kedua yang dihadirkan menurutku sangat tidak worth it. Intan more deserved than this!! Jujur, baru kali ini aku benci dengan film yang happy ending! Hahaha.
Untuk jajaran pemain, penampilan Raihaanun sudah jelas sangat effortless memerankan karakter Intan dengan segala amarah dan kesedihannya yang terus dipendam. Klimaks nya saat adegan makan malam, penonton ikutan terbawa suasana ketika Intan akhirnya menumpahkan semua emosi pada ibu mertua dan kedua adik iparnya yang sialan itu. Penampilan Meriam Bellina yang kembali memerankan karakter mertua antagonis dan menyebalkan sukses mengobati kerinduan penonton akan aksinya yang memang sangat cocok dengan peran seperti ini hahaha. Selanjutnya penampilan dua Gen Z yaitu Sitha Marino dan Jeremie Moeremans juga berhasil bikin emosi penonton dengan pov mereka masing-masing yang sangat sotoy!! Hahahaha.
Untuk urusan visual, Anggy Umbara tidak menyajikan film KELUARGA SUAMI ADALAH HAMA (2026) seperti film drama keluarga kebanyakan. Teknik pengambilan gambar yang digunakan sangat fleksibel dan dinamis. Kesan raw dan extra close up ketika para karakter berdialog seakan penonton merasa ikut berada di samping mereka. Overall, film KELUARGA SUAMI ADALAH HAMA (2026) bukan sekedar film yang menguras emosi penonton, namun bisa menjadi pembelajaran efektif untuk pasutri dan keluarga dalam beretika di rumah.
[8/10Bintang]


0 comments:
Post a Comment