Friday, 28 June 2019

[Review] Sabyan Menjemput Mimpi: Melihat Perjalanan Karier Grup Sabyan Gambus


Description:
Title: Sabyan Menjemput Mimpi (2019)
Casts: Nissa Sabyan, Anis Sabyan, Ayus Sabyan, Kamal Sabyan, Tebe Sabyan, Owan Sabyan, Dicky Chandra, Cici Tegal, Aquino Umar, Shandy William, Shenina Cinnamon, Meni Agus Nori, Fuad Idris, Ade Firman Hakim
Director: Alim Ishaq
Studio: Millenia Pictures, Falcon Pictures

Synopsis:
Film dibuka dengan para personel grup Sabyan Gambus yang tengah berkumpul disaat kini mereka menuai kesuksesan luar biasa sebagai grup musik. Mereka lalu bernostalgia Nissa (Nissa Sabyan) adalah seorang siswi SMK teknik mesin yang mempunyai pekerjaan sampingan sebagai penyanyi grup Gambus di acara-acara pernikahan bersama dengan Anis (Anis Sabyan), Kamal (Kamal Sabyan), Tebe (Tebe Sabyan) dan Owan (Owan Sabyan). Grup Gambus ini selalu marathon dari satu acara nikahan ke acara nikahan lainnya. Bahkan grup Gambus ini terkadang suka mendapatkan event manggung serba dadakan.


Melihat anaknya yang sibuk dengan sekolah, latihan musik dan jadwal manggung di acara nikahan hingga larut malam membuat kedua orangtua Nissa (Dicky Chandra & Cici Tegal) khawatir pada Nissa. Mereka takut prestasi disekolahnya menurun gara-gara Nissa kurang waktu untuk beristirahat. Namun Nissa selalu meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.



Karies grup Gambus ini perlahan semakin dikenal luas gara-gara seorang pengguna youtube bernama Ndut Kece (Meni Agus Nori) mengupload video performance grup Sabyan Gambus di channelnya. Tawaran manggung semakin deras mengalir ke grup musik ini.. Fans-fans dari Sabyan Gambus juga semakin bertambah. Nissa yang semakin sibuk manggung membuat hubungannya dengan dua sahabatnya disekolah yaitu Dimas (Shandy William) dan Lala (Shenina Cinnamon) semakin berantakan. Mereka yang terlibat cinta segitiga dilanda rasa gengsi untuk mengutarakan perasaan. Nissa yang tidak peka akan rasa cinta dari Dimas sementara itu Lala ternyata memendam rasa cinta pada Dimas namun tak pernah diungkapkan karena demi menjaga persahabatan mereka semua.


Review:
Siapa yang tak kenal dengan grup musik Sabyan Gambus. Semua orang aku yakin pasti kenal karena lagu-lagu islami mereka selalu diputar dimanapun. Kesuksesan dan hype grup musik ini kemudian menginspirasi Millenia Pictures dan Falcon Pictures untuk mengangkatnya ke layar lebar dengan fokus flashback perjalanan karier grup musik ini.
Menurutku film SABYAN MENJEMPUT MIMPI (2019) ini tak seutuhnya seperti film, karena diselingi narasi para Sabyan yang berinteraksi dengan penonton disaat kisah flashbacknya diputar disepanjang film. Hal ini membuatku cukup terganggu karena para personel ini masih sangat kaku dan interaksi yang mereka lakukan kerasa banget tidak natural.


Untungnya disaat filmnya dimunculkan, rasa kecewa itu cukup terobati. Surprisingly Nissa Sabyan ternyata cukup menghibur juga. Akting menjadi dirinya sendiri ini sangat related dengan kebanyakan remaja SMA saat ini. Tektokan chemistry dengan keluarganya juga asyik banget. Dicky Chandra dan Cici Tegal yang emang dasarnya komedian, setiap gerak geriknya selalu memancing tawa bahkan disaat moment sedih pun mereka sempat-sempatnya menyelipkan kelucuan.


Moment cinta segitiga antara Nissa, Dimas dan Lala harusnya bisa dieksplor lebih mendalam karena berpotensi menjadi baper tapi sang sutradara hanya menempatkannya sebagai pemanis belaka. Alhasil kisah mereka jadi nanggung dan berakhir begitu saja. Film ini menurutku akan sangat cocok sebagai fanservice fans Sabyan Gambus, karena beberapa hits lagu-lagu Sabyan Gambus dinyanyikan full disepanjang film.. Tak cuma itu saja, subplot Ndut Kece sang fans fanatik yang selalu hadir dimanapun Sabyan Gambus manggung bakal related dengan fans-fans berat Sabyan Gambus diluaran sana.


Overall, film SABYAN MENJEMPUT MIMPI (2019) ini tampil tidak terlalu mengecewakan. Moment komedi keluarga Sabyan asyik banget ditambah lagu-lagu hits Sabyan Gambus yang diputar full cukup berhasil membangun suasana haru biru di dalam bioskop.


[7/10Bintang]

[Review] Koki-Koki Cilik 2: Serunya Cooking Camp Berbisnis Foodtruck


#Description:
Title: Koki-Koki Cilik 2 (2019)
Casts: Muhammad Adhiyat, Farraz Fatik, Alifa Lubis, Claire Cutie, Ali Fikri, Marcello, Romaria Simbolon, Ringgo Agus Rahman, Kimberly Ryder, Christian Sugiono, Yayu Unru
Director: Viva Westi
Studio: MNC Pictures

#Synopsis:
Dua tahun berlalu usai kemenangan Bima (Farraz Fatik) di Cooking Camp, para peserta musim itu berencana untuk berkumpul dan reuni di Cooking Camp. Bima, Melly (Alifa Lubis), Niki (Claire Cutie), Alva (Ali Fikri), Kevin (Marcello) dan Key (Romaria Simbolon) dibuat kaget dan sedih saat tiba di Cooking Camp yang kondisinya terbengkalai dan sudah tidak beroperasi lagi. Mereka juga semakin terkejut saat bertemu lagi dengan Chef Grant (Ringgo Agus Rahman) yang menjadi pengangguran dan pemalas sejak Cooking Camp ia tutup operasi. Chef Grant lebih memilih menutup Cooking Camp karena sejak kepergian Pak Malik (Adi Kurdi) eksistensinya semakin menurun. Ditambah lagi dengan adanya ulasan buruk seputar Cooking Camp oleh seorang Celebrity Chef ternama yaitu Chef Evan (Christian Sugiono).


Melihat terpuruknya kondisi Chef Grant membuat Bima dan kawan-kawan berinisiatif untuk berencana membuka kembali Cooking Camp dengan bermodalkan bisnis foodtruck yang menyediakan makanan dan cemilan ringan untuk anak-anak. Chef Grant yang awalnya pesimis berubah menjadi bersemangat karena dorongan motivasi para muridnya itu. Disaat yang bersamaan pula Cooking Camp kedatangan Adit (Muhammad Adhiyat) bersama tantenya Adel (Kimberly Ryder) untuk mendaftarkan diri sebagai murid Cooking Camp untuk mengisi libur sekolahnya Adit.
Mendengar Chef Grant dan para alumni Cooking Camp akan berbisnis foodtruck disambut baik oleh Adel. Ia bahkan bersedia menjadi supir demi mengembalikan keceriaan keponakannya usai ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh ibunya.



Adit yang awalnya pendiam dan tidak mau berinteraksi dengan para anak-anak lainnya perlahan mulai menemukan kebahagiaannya selama berada di Cooking Camp. Passion memasak dalam dirinya yang selama ini ia sembunyikan dari ayahnya yaitu Chef Evan bisa tersalurkan dengan baik. Tante Adel sangat senang akhirnya Adit bisa kembali tersenyum bahagia. Karena semenjak kematian ibunya, ia sangat dilarang untuk memasak oleh ayahnya.


Bisnis foodtruck Cooking Camp perlahan mulai mengalami masalah. Mereka harus berhadapan dengan petugas satpol PP karena foodtruck mereka berjualan di area terlarang untuk berjualan. Mereka juga harus mendapatkan review mengecewakan dari seorang selebgram cilik yaitu Sashi (Sanndrina Michelle Snornicki) karena tidak puas dengan makanan yang dibeli dari foodtruck Cooking Camp. Namun untungnya foodtruck Cooking Camp ini tak sepenuhnya jelek. Cemilan andalan buatan Adit yaitu Sandwich, selalu menjadi primadona para pembeli, hingga akhirnya kabar soal Cooking Camp yang kembali beroperasi dan berbisnis foodtruck ketahuan oleh Chef Evan.
Akankah Adit bisa meluluhkan hati sang ayah agar tetap mengizinkan dirinya untuk tetap memasak?


#Review:
Kesuksesan film KOKI-KOKI CILIK (2018) yang menuai respon positif dari para kritikus, pecinta film Indonesia dan para anak-anak tak membuat MNC Pictures tinggal diam untuk melanjutkan kisah dari kompetisi Cooking Camp. Kali ini jilid keduanya bukan lagi dipegang oleh Ifa Isfansyah. Kursi sutradara kini dipegang oleh Viva Westi yang sebelumnya duduk di bangku penulisan skenario.


Untuk segi cerita, film KOKI-KOKI CILIK 2 (2019) ini mengambil cerita yang tidak menggunakan konsep kompetisi seperti jilid pertamanya. Main plotnya pun berbelok yang semula berpusat pada karakter Bima, berubah dan beralih ke karakter Adit yang diperankan Muhammad Adhiyat. Ide dan konsep seputar bisnis foodtruck serta penggunaan manfaat sosial media dibahas cukup asyik dalam film ini. Kita bisa melihat para keseruan para bocah yang berjualan makanan serta cemilan buatan mereka sendiri dengan tingkah polahnya yang lucu. Twist soal hubungan ayah-anak antara Adit dan Chef Evan juga menjadi kejutan dalam keseluruhan cerita. Tak cuma itu saja, film ini pun memberikan flashback moment saat Chef Evan masih anak-anak yang ternyata salah satu murid angkatan pertama Cooking Camp bersama dengan Chef Grant. Berkat memasak itu juga Chef Evan menemukan cinta sejatinya yaitu istrinya yang kini sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Yang sedikit too much menurutku mungkin alasan Chef Evan yang melarang anaknya untuk memasak itu terlalu mengada-ngada dan malah membuat Adit drop, padahal jika melihat masa anak-anak Chef Evan dan istrinya, mereka sama-sama mencintai aktivitas memasak tapi mengapa saat anaknya juga mempunyai passion sama dengan orangtuanya eh malah dilarang. Bahkan ditantang dan diancam jika kalah, Adit dilarang memasak untuk selama-lamanya. It's so weird for me.


Ensemble casts KOKI-KOKI CILIK 2 (2019) masih berhasil memberikan keceriaan dan energi positif untuk para penonton. Alifa Lubis yang memerankan Melly kali ini digunakan sebagai senjata utama film untuk mengocok perut penonton. Hampir setiap kemunculan karakter Melly selalu berhasil memecah tawa penonton. Akting lebaynya begitu natural dan cocok banget dah. Muhammad Adhiyat yang kali ini menjadi pemeran utama terlihat cukup trying too hard untuk menjadi sosok anak yang pendiam padahal disaat ia bahagia justru jauh lebih oke dan lucu. Untungnya disaat ia meluapkan amarah pada Sashi, Adhiyat membuktikan bahwa ia bisa dalam beradu peran yang bertolak belakang dengan aslinya. Chemistry bareng Christian Sugiono untungnya cukup kuat dan membuat terharu terutama disaat ending film. Ringgo Agus Rahman tampil tak terlalu istimewa. Kimberly Ryder terlihat makin matang dan meningkat dalam kualitas aktingnya, jiwa keibuannya begitu terpancar disaat bersama dengan anak-anak Cooking Camp.


Untuk segi visual, film ini tidak secantik jilid pertamanya, tapi hal itu tak membuat film KOKI-KOKI CILIK 2 (2019) kehilangan cantiknya tangkapan gambar cemilan dan makanan foodtruck yang cukup menggugah selera. Original Soundtrack yang dinyanyikan Romaria Simbolon dan juga para casts lainnya sangat berhasil membangun mood bahagia ketika menontonnya. Overall, film KOKI-KOKI CILIK 2 (2019) masih seru untuk diikuti khususnya penampilan Melly yang semakin menggila.


[7/10Bintang]

Tuesday, 25 June 2019

[Review] Annabelle Comes Home: Terror Boneka Annabelle Terus Berlanjut


#Description:
Title: Annabelle: Comes Home (2019)
Casts: Vera Farmiga, Patrick Wilson, Mckenna Grace, Madison Iseman, Katie Sarifie, Michael Cimino, Samara Lee, Steve Coulter, Alexander Ward, Gary-7, Luca Luhan
Director: Gary Dauberman
Studio: New Line Cinema, RatPac Dune Entertainment, Atomic Monster, Warner Bros Pictures

#Synopsis:
Usai mendapatkan boneka Annabelle yang mengganggu sekelompok remaja disebuah apartment, Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga) memutuskan untuk mengamankan dan membawanya ke ruangan bawah tanah mereka agar aman dan tidak mengganggu orang lagi. Lorraine bisa merasakan kekuatan gaib dalam boneka Annabelle tersebut sangat besar hingga mampu membangkitkan roh-roh jahat yang ada disekelilingnya. Ed dan Lorraine bahkan mengunci boneka Annabelle itu didalam sebuah lemari kaca yang sudah diberi doa-doa.


Setahun berlalu, pasangan suami istri ini semakin dikenal dengan profesinya sebagai Cenayang bahkan pahlawan karena selalu berhasil menolong orang-orang yang mengalami gangguan gaib. Namun tak sedikit juga yang menganggap bahwa Ed dan Lorraine ini penipu dengan berdalih sebagai pasangan paranormal. Hal ini membuat anaknya, Judy Warren (Mckenna Grace) selalu diajauhi oleh teman-teman disekolahnya karena Judy dianggap sebagai orang yang aneh seperti kedua orangtuanya. 


Suatu hari, Ed dan Lorraine mendapat panggilan tugas ke luar kota, Terpaksa Judy mereka tinggalkan dirumah dan menyewa jasa pengasuh untuk menemani Judy selama mereka pergi ke luar kota. Pengasuh itu adalah Mary Ellen (Madison Iseman), seorang gadis remaja yang sedang duduk di bangku kuliah. Mereka mempercayai Mary Ellen untuk menemani dan mengurus Judy. Kabar Mary Ellen akan tinggal sementara di rumah Ed dan Lorraine Warren terdengar oleh temannya yaitu Daniella (Katie Sarifie). Ia sangat penasaran ingin masuk ke rumah keluarga Cenayang itu dan ingin melihat-melihat ruang bawah tanah mereka.


Daniella lalu datang kerumah Judy dan Mary Ellen dengan alasan ingin bermain dan meramaikan rumah. Daniella berjanji pada Mary Ellen ia tidak akan melakukan hal-hal aneh selama berada disana. Namun Daniella malah iseng, disaat Judy dan Mary Ellen lengah, ia perlahan masuk ke ruang bawah tanah dengan mencuri kuncinya dari ruang kerja Ed Warren. Selama berada didalam ruangan bawah tanah itu, Daniella sangat penasaran apakah roh gaib disana itu nyata atau tidak. Ia lalu melakukan pemanggilan roh ayahnya untuk berkomunikasi namun hasilnya nihil. Karena masih penasaran, setiap sudut dan benda yang ada didepannya selalu ia sentuh, termasuk boneka Annabelle. Daniella sangat berani membuka lemari kacanya.


Usai kejadian itu, Daniella mengalami hal-hal gaib. Satu persatu benda yang ada disekitarnya bergerak dan membuat alarm dirumah itu aktif. Daniella yang panik lalu bergegas keluar dari ruang bawah tanah sebelum ketahuan oleh Judy dan Mary Ellen. Waktu yang terus berputar, perlahan tapi pasti mereka bertiga mulai merasakan ada yang tak beres dirumah. Sosok-sosok gaib mengganggu Daniella, Judy dan Mary Ellen. Setan-setan seperti Ferryman, The Wedding Dress, Hell's Dog, Samurai Soldier & Demon bertanduk mengincar jiwa dari ketiga perempuan ini. Karena terancam dalam bahaya, Judy berusaha sekuat tenaga menggunakan kekuatan indera keenamnya untuk melawan mereka karena dirinya mempunyai kelebihan seperti ibunya.
Mampukah Judy, Mary Ellen dan Daniella menghentikan setan-setan yang mengincar jiwa mereka?

#Review:
Conjuring Cinematic Universe nampaknya semakin dibuat luas dan besar. Dimulai pada tahun 2013 lalu total sudah ada tujuh film (jika film WEEPING WOMAN dimasukkan) yang sudah dirilis. Tiga judul diantaranya adalah film yang berkisahkan tentang boneka iconic Annabelle. Jilid pertamanya saat itu menuai kritikan karena filmnya cukup mengecewakan. Beruntung disaat jilid keduanya dirilis yang berjudul ANNABELLE: CREATION (2017) arahan David F. Sanberg ini melakukan perbaikan disegala aspek dan berhasil menuai respon positif dari para pecinta film. Dua tahun kemudian, jilid ketiga film ANNABELLE ini kembali hadir memeriahkan bioskop dengan mempunyai subjudul ANNABELLE: COMES HOME (2019).


Untuk segi cerita, film ketiganya ini masih mempunyai benang merah dengan dua film sebelumnya. Timeline yang dipakai pun masih connected dengan salah satu scene di film THE CONJURING. Kali ini terror Annabelle menghantui anak dari Ed dan Lorraine Warren yaitu Judy Warren gara-gara teman pengasuhnya ISENG. Sebuah ide yang cukup konyol menurutku. Padahal lima film di Conjuring Cinematic Universe selalu mempunyai sebab dan akibat yang oke. Keisengan karakter Daniella yang diperankan aktris sekilas mirip Kimberly Ryder ini benar-benar so' pemberani banget. Penambahan subplot soal dirinya yang ingin berkomunikasi dengan ayahnya tapi dilakukan di gudang setan milik The Warrens adalah suatu ide yang sangat gila.


Terror yang diberikan ANNABELLE: COMES HOME (2019) juga hanya berisikan jumpscared dan penggunaan musik menggelegar saja. Bahkan aku ngerasa di 60 menit awal, film ini cukup membosankan karena pengulangan jumpscared gagal yang dilakukan secara terus menerus. Parade setan yang mengganggu Judy, Mary Ellen dan Daniella juga menurutku terlalu banyak sehingga setan-setan ini tidak mempunyai background yang kuat untuk menjadi terror bagi mereka bertiga. It's okay mungkin kedepannya setan-setan ini akan mempunyai film stand-alone kedepannya di Conjuring Cinematic Universe, tapi sayang sih, Ferryman, The Wedding Dress, Hells Dog & The Devil Horns menurutku sama sekali tidak memorable. Yang cukup membuatku kesal berikutnya adalah duo Cenayang Ed dan Lorraine Warren kali ini hanya dibuat sebagai cameo saja. Disaat Judy diserang setan-setan dirumahnya, kedua orangtuanya sama sekali tidak merasakannya. Padahal sudah jelas di salah satu film THE CONJURING (2013) Lorraine langsung bergegas pulang disaat dirinya mendapat firasat anaknya diganggu oleh Valak.



Terlepas dari segala kekurangannya, film ANNABELLE: COMES HOME (2019) ini mempunyai babak akhir yang cukup asyik. Terlebih disaat terror para setan menyerang ketiga perempuan cantik ini. Penampilan dan look Mckenna Grace, Iseman dan Sarifie cukup cute. Ditambah dengan love interest tampan dari karakter Mary Ellen yakni Bob-A-Balls yang diperankan Michael Cimino cukup efektif menjadi pencair suasana. Tata artistik dan setting lokasinya pun cukup berhasil membangun atmosfer seram terutama disaat kabut mulai muncul. Suasana rumah The Warrens kerasa banget horrornya.
Overall, it's enough for Annabelle. We want Ed and Lorraine Warrens back to the action!


[7/10Bintang]

Saturday, 22 June 2019

[Review] Parasite: Kisah Keluarga Miskin Yang Ingin Hidup Kaya Raya


#Description:
Title: Parasite (2019)
Casts: Song Kang No, Lee Sun Kyun, Cho Yep Jeong, Choi Woo Shik, Park So Dam.
Director: Bong Joon Ho
Studio: CJ Entertainment, CBI Pictures

#Synopsis:
Berkisah tentang sebuah keluarga yang hidup miskin dan tinggal disebuah apartment sempit dan posisinya tepat berada di lantai basement. Sang ayah Ki-Taek (Kang-Ho Song) adalah seorang supir yang kini sedang menganggur. Sementara sang ibu Chung-Sook (Hye-Jin Jang) hanya seorang ibu rumah tangga. Mereka memiliki dua orang anak yang sudah beranjak remaja. Untuk bertahan hidup, keluarga ini bekerja sebagai buruh pelipat box pizza.
Suatu hari, si anak laki-laki Ki-Woo (Woo-Sik Choi) membujuk temannya yang berprofesi sebagai guru private les bahasa Inggris untuk menggantikannya selama temannya itu pergi belajar ke luar negeri. Murid dari temannya itu merupakan anak gadis remaja dari keluarga kaya raya. Dengan penuh percaya diri dan terus belajar kemampuan bahasa Inggrisnya, ia akhirnya diterima menjadi guru private les di keluarga kaya raya itu.


Ki-Woo kemudian dipanggil oleh keluarga Park ke Mansion nya yang mewah dan besar. Ia lalu diwawancarai oleh istri dari Mr. Park yaitu Mrs. Yeon-Kyo Park (Yeo-Jeong Jo). Karena Ki-Woo pandai berbicara ia akhirnya diterima menjadi guru les private bahasa inggris disana. Ketika Ki-Woo selesai diwawancar ia tak sengajamelihat lukisan dan karya seni yang begitu indah dan artistik. Ia kemudian mempunyai ide untuk menambah guru lagi untuk anak-anak Mr.Park dengan alasan potensi dan jiwa seni yang ada dalam diri anak-anak bisa semakin dieksplor lagi. Ki-Woo lalu merekomendasikan Jessica sebagai guru kesenian. Tanpa ragu, Mr. Park dan istrinya langsung memanggil Jessica atas dasar rekomendasi dari Ki-Woo.


Rupanya Jessica (So-dam Park) itu adalah adik perempuannya Ki-Woo yang memang dikenal pintar dan juga pandai berbicara. Setelah Jessica berhasil masuk kedalam keluarga Park, Ki-Woo lalu mempunyai rencana gila berikutnya yaitu memasukkan ayahnya untuk menjadi sopir dan ibunya menjadi asisten rumah tangga dari keluarga kaya raya ini. Dengan cerdik, ide gila dan berkat bantuan Jessica, sopir lama dan asisten rumah tangga lama keluarga Mr.Park ini berhasil disingkirkan dan diganti dengan kedua orang tua mereka. Rencana keluarga Ki-Woo ini berjalan sesuai apa yang mereka rencanakan. 


Suatu hari, keluarga kaya raya ini memutuskan untuk pergi berliburan berkemah. Mansion keluarga Park lalu dititipkan pada Chung-Sook. Kepergian keluarga Mr.Park ini untuk berliburan membuat keluarga dari Ki-Woo sangat bahagia. Mereka memanfaatkan segala fasilitas dan kemewahan Mansion milik Mr.Park. Namun ternyata, kebahagiaan mereka sedikit terusik disaat mantan asisten rumah tangga yang sudah dipecat yaitu Moon-gwang (Jeong-Eun Lew), datang kembali ke Mansion dengan alasan membawa barang yang ketinggalan di gudang.
Chung-Sook yang awalnya merasa curiga dengan sikap mantan asisten rumah tangga itu akhirnya mengizinkan ia masuk ke gudang. Karena lama, Chung-Sook kemudian masuk juga ke gudang. Dan ternyata mantan asisten rumah tangga itu masuk lagi ke sebuah pintu menuju ruangan bunker yang ada dibawah tanah. Alangkah terkejutnya, di ruangan itu terdapat seorang pria paruh baya yang ternyata suami dari Moon-gwang. Alasan sang suami berada disana lantaran terlilit banyak hutang dan memutuskan bersembunyi di ruang bawah tanah Mansion keluarga Park, karena ruangan tersebut tidak diketahui oleh para penghuninya.


Diluar dugaan, sang ayah, Ki-Woo dan juga Jessica ikut masuk ke ruangan bawah itu dan terjadilah aksi baku hantam antara dua keluarga ini. Keluarga dari Ki-Woo berencana akan mengurung pasangan suami istri ini agar tak ketahuan oleh majikannya. Kejadian tak terduga kembali terjadi. Keluarga Park yang tengah berliburan memutuskan kembali ke rumah lantaran kondisi cuaca yang tak bersahabat. Chung-Sook dan yang lainnya panik. Sang ayah dan kedua anak terpaksa harus bersembunyi serapi mungkin karena keluarga majikannya akan segera pulang. Sementara itu, Chung-Sook harus bisa menyembunyikan soal Moon-gwang dan suaminya yang bersembunyi penuh luka di ruang bawah tanah. Akankah keluarga Park mengetahui apa yang sebenarnya yang terjadi dirumah mereka?


#Review:
Industri film korea semakin menunjukkan taringnya di tingkat Internasional. Tak cuma itu saja, beberapa filmnya belakangan ini selalu mempunyai plot dan ide sederhana namun dieksekusi dengan sangat briliant dan gila. 
Salah satu film dengan premise simple dan dieksekusi dengan gila adalah film terbaru arahan Bong Joon Ho yang sebelumnya sudah mencuri perhatian lewat film SNOWPIERCER (2013) dan OKJA (2017) yang berjudul PARASITE (2019). Jika melihat dari judul film dan posternya, film ini menurutku sepertinya akan mengarah ke thriller serius yang dibalut dengan horror pembunuhan gitu. Bahkan ketika aku mendapatkan kesempatan untuk bisa menontonnya lebih awal di Special Screening & Gala Premiere film PARASITE (2019) di CJ CGV* Cinemas Grand Indonesia Jakarta pada 21 Juni 2019 yang lalu berkat akun twitter @WatchmenID, aku merasa tidak terlalu penasaran dan excited banget. Tapi ketika tersadar bahwa film ini dari kreator SNOWPIERCER (2013) dan berhasil meraih penghargaan Palme D'Or Cannes Film Festival 2019 aku langsung tertarik. Seperti apa sih film ini sampai berhasil meraih penghargaan tertinggi dari Cannes?


Untuk segi cerita, film PARASITE (2019) ini sebenarnya sangatlah sederhana, tentang kongkalikong sebuah keluarga miskin yang ingin menjadi kaya raya. Paruh awal film kita diajak berkenalan dengan anggota keluarga ini. Dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan itulah, tak membuat ide kreatif dan cerdik mereka muncul. Chemistry dan tektokan dialog anggota keluarga miskin ini sekilas mengingatkanku pada film SHOPLIFTERS (2019) asal Jepang. 
Keseruan film ini yang aku kira bakalan serius ternyata terpatahkan pada saat babak pertengahan film dimulai. Keseruan dan komedi satir yang ditampilkan film PARASITE (2019) ini berhasil membuatku tertawa miris. Aksi baku hantam, kejar-kejaran dan "petak umpet" yang mereka lakukan bikin aku gregetan dan gemas. Tak sedikit aku berucap "Bngst pinter banget!" "Yaallah.. bego amat sih.." disepanjang film. Bahkan disaat aksi "petak umpet" itu berlangsung, surprisingly sang sutradara menyelipkan adegan sensual yang lumayan gerah dan dishoot cukup cantik dengan menggunakan angle dari atas. Hahaha.


Kejutan tak berhenti disitu saja, menuju babak akhir film, sang sutradara menyajikan sebuah moment thriller dengan sentuhan sadis yang sangat memuaskan. Motif serta moral value tentang disfunctional family dan kesetaraan status sosial antara si kaya dan si miskin ini gokil banget! Dibuat speechless dan bisa juga menjadi bahan introspeksi diri. Dan klimaks cerita film ini pun begitu indah disaat si anak laki-laki dari keluarga miskin mempunyai obsesi dan keinginan yang sangat mulia.
Para pemain pun memberikan penampilan memuaskan. Keluarga miskin tampil oke dengan permainan emosional yang mereka lakukan. Babak akhir film menjadi bagian paling memuaskan melihat aksi dari keluarga miskin ini. Penampilan keluarga kaya raya juga tidak mengecewakan pas sesuai porsi dan digambarkan juga bahwa sifat-sifat mereka juga sama seperti kita semua. Musik scoring yang dihadirkan film PARASITE (2019) ini juga tak kalah mengesankannya. Aku rasa semua genre musik yang dimasukkan ke dalam film ini sangat berhasil menghidupkan suasana film.
Overall, film PARASITE (2019) is a pure genius! Sebuah drama komedi satir berbalut thriller yang sangat layak mendapatkan apresiasi tertinggi dari Cannes 2019! Tayang di bioskop Indonesia (CJ CGV, Cinemaxx, Flix Cinemas, Lotte Cinemas, Kota Cinema) serentak secara reguler mulai 24 Juni 2019 mendatang!


[9.5/10Bintang]

Friday, 21 June 2019

[Review] Toy Story 4: Babak Awal Woody Melihat Dunia


#Description:
Title: Toy Story 4 (2019)
Casts: Tom Hanks, Tim Allen, Annie Potts, Tony Hale, Keanu Reeves, Keegan Michael Key, Jordan Peele, Christina Hendricks, Madelaine McGraw, Ally Maki, Joan Cusack, Bonnie Hunt, Kristen Schaal, Wallace Shawn, John Ratzenberger, Blake Clark, Don Rickle, Estelle Harris
Director: Josh Cooley
Studio: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios

#Synopsis:
Usai menyelamatkan mainan mobil-mobilan yang terjebak aliran air hujan didepan rumah, Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), Jessie (Joan Cusack), Dolly (Bonnie Hunt), Trixie (Kristen Schaal), Rex (Wallace Shawn), Slinky (Blake Clark), Hamm (John Ratzenberger), Mr & Mrs Potato (Don Rickles & Estelle Harris) harus menerima kenyataan Bo Peep (Annie Potts) beserta dengan ketiga kambingnya (Emily Davis) akan dibawa keluar dari rumah Andy (Jack McGraw) karena sudah tidak pernah dimainkan lagi oleh adiknya.


Tujuh tahun berlalu, kini Woody, Buzz Lightyear dan kawan-kawan tinggal bersama dengan pemilik barunya Bonnie (Madeleine McGraw) setelah Andy tumbuh dewasa dan duduk di bangku kuliah. Woody dan kawan-kawan merasa sangat bahagia bisa kembali menjadi mainan anak-anak dan tidak berakhir menjadi sampah. Saat ini Bonnie akan memasuki sekolah taman kanak-kanak dan memulai orientasinya disana. Bonnie malas dan selalu ketakutan karena diharuskan berinteraksi dengan orang baru. Melihat kondisi Bonnie yang ketakutan itu membuat Woody mempunyai ide untuk menemani Bonnie ke sekolah, meskipun beresiko mainan yang dibawa murid ke sekolah akan disita oleh guru.
Tiba di sekolah, Bonnie kebingungan dan masih malu untuk berinteraksi dengan sesama murid. Ia lebih memilih menyendiri dan mencoba fokus membuat prakarya yang ditugaskan gurunya. Didalam tas, Woody lalu berinisiatif keluar dan membantu memberikan benda-benda di tempat sampah untuk bisa dirakit oleh Bonnie. Berkat bantuan Woody, Bonnie berhasil merakit sebuah prakarya mainan dari sebuah sendok-garpu plastik dengan ditempeli dua bola mata, perekat untuk menempelkan dua sendok eskrim, sikat pembersih pipa dan lem. Prakarya pertama Bonnie itu lalu diberi nama Forky (Tony Hale). Bonnie sangat menyukai dan menyayangi mainan barunya itu. Tapi tidak dengan Forky, ia selalu merasa dirinya hanya sampah bukan mainan yang layak dimiliki oleh anak-anak. Forky selalu berusaha kabur dari tangan Bonnie, bersembunyi di tong sampah hingga parahnya lagi ia melarikan diri saat Bonnie dan ayah-ibunya dalam perjalanan untuk berliburan dengan menyewa mobil RV.


Melihat Forky kabur, membuat Woody terpaksa keluar dari mobil untuk mencari Forky. Ia tak ingin melihat Bonnie sedih kehilangan mainan yang paling ia sukai. Woody berjanji pada teman-temannya untuk segera menemukan Forky dan menyusul mereka ke tempat liburan secepatnya. Beruntung, Forky bisa ditemukan dengan cepat oleh Woody. Disepanjang jalan menuju tempat liburan, Woody terus menasehati dan meyakinkan Forky bahwa dirinya adalah sumber kebahagiaan Bonnie.


Ketika tiba di tempat liburan, Bonnie panik melihat Forky yang tidak ada di kasurnya. Ibu dan ayahnya lantas langsung mencari keberadaan Forky. Sementara itu Buzz, Jessie dan yang lainnya juga ikut panik karena Woody dan Forky belum juga sampai ke mobil. Bonnie terus menangis karena kehilangan mainan kesayangannya. Sementara itu, saat Woody dan Forky tinggal satu langkah lagi ke mobil Bonnie, ia melihat lampu meja disebuah toko barang antik bernama Second Chance Antique Store. Woody merasa lampu meja itu adalah milik Bo Peep dan ketiga kambingnya yang dulu ada dikamar adiknya Andy. Ia lalu mengajak Forky sebentar masuk ke toko barang antik itu untuk memastikan apakah Bo Peep ada disana atau tidak.



Ketika berada didalam sana, Woody dan Forky bertemu dengan Gabby Gabby (Christina Hendricks) boneka perempuan yang dikawal oleh boneka The Benson's. Gabby langsung tertarik melihat Woody yang masih mempunyai speaker suara normal dan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam sebuah lemari pajangan. Setibanya disana, Woody dan Forky malah dikurung karena Gabby berencana akan mengambil secara paksa speaker yang ada didalam tubuh Woody. Dilanda kepanikan, Woody kemudian berusaha untuk bisa lolos dari tangan Gabby dan juga The Benson's.




Akhirnya Woody berhasil kabur dari toko barang antik tersebut dan pergi mencari mobil Bonnie untuk meminta pertolongan karena Forky gagal kabur dari tangan The Benson's. Di perjalanan itu Woody tak sengaja bertemu kembali dengan Bo Peep yang kini terlihat seperti boneka yang tangguh dan kuat. Rupanya setelah Bo Peep pergi dari keluarga Andy, ia ditempatkan di toko barang antik itu. Bo Peep memutuskan untuk kabur dan lebih memilih hidup bebas tanpa harus dimiliki oleh anak-anak karena selama di toko barang antik itu juga ia terabaikan dan berdebu. Selama tujuh tahun itu juga Bo Peep bertahan hidup menjadi boneka tangguh diluaran sana dan mendapatkan pengalaman-pengalaman luar biasa yang mampu mengubah sudut pandangnya selama ini. Bo Peep berteman dengan Giggle McDimples (Ally Maki) dan kenal dengan hampir semua mainan di toko barang antik. Woody lalu meminta bantuan pada Bo Peep untuk menyelamatkan Forky dari tangan Gabby Gabby.
Sementara itu, Buzz Lightyear memutuskan untuk keluar dari mobil dan mencari keberadaan Woody dan Forky. Diperjalanan itu Buzz bertemu dengan Bunny (Jordan Peele) dan Ducky (Keegan Michael-Key) yang terjebak sebagai mainan hadiah. Tak lama kemudian, Buzz Lightyear berhasil menemukan Woody dan juga kembali bertemu dengan Bo Peep. Mereka lalu berencana untuk masuk kembali ke toko barang antik itu. Bo Peep juga disana meminta bantuan Duke Caboom (Keanu Reeves) untuk bisa menyelematkan Forky dari tangan Gabby Gabby.
Akankah Woody, Bo Peep, Buzz Lightyear, Giggle McDimples, Ducky, Bunny, The Sheeps dan Duke Caboom berhasil menyelamatkan Forky?


Review:
Berjarak 9 tahun dari jilid ketiganya tak membuat Disney•Pixar kehilangan semangat dan ide untuk menghadirkan kelanjutan cerita dari Woody, Buzz Lightyear dan kawan-kawan. Awalnya aku pribadi agak worried dengan keputusan Disney•Pixar ini kembali melanjutkan kisah Toy Story ini karena menurutku, ending dari jilid ketiganya sudah sangat sempurna sebagai penutup dari Saga ini. Tapi keraguanku itu terpatahkan sudah usai menonton film TOY STORY 4 (2019) di bioskop pada 21 Juni 2019 kemarin.


Jilid keempatnya ini masih sama seperti tiga judul lainnya yaitu berfokus pada sebuah petualangan dan penyelamatan. Namun hal itu sama sekali tak membuatku bosan. Aksi Woody dan kawan-kawan selalu menghibur dengan segala kelakuan dan gesture mereka masing-masing. Cukup mengejutkan juga jokes-jokes simple di jilid keempatnya ini sangat berhasil memancing tawa penonton. Porsi komedi muncul dari kepolosan Forky yang selalu menganggap dirinya sampah, Buttercup, Trixie, Rex dan mainan lama Andy yang selalu bertingkah dan berdialog konyol, duo Bunny Ducky yang aku kira bakal annoying tapi ternyata menampilkan performa yang gila banget. Tak cuma itu saja, di jilid keempatnya ini sang sutradara Josh Cooley juga memberikan sensasi horror jumpscared yang kadarnya disesuaikan untuk semua umur lewat karakter Gabby Gabby dan pengawalnya si The Benson's yang sekilas mirip perpaduan antara boneka Annabelle, Chucky dan boneka seram di film DEAD SILENCE (2007) nya James Wan.


Seperti yang sudah-sudah, film Toy Story dan film-film Disney•Pixar lainnya selalu mempunyai signaturenya yaitu beberapa golden moments yang menguras emosi, air mata dan perasaan penonton di dalam filmnya. Di TOY STORY (2019) ini moment emas yang menguras emosi muncul lewat keputusan yang diambil oleh Woody dan juga musuhnya yaitu Gabby Gabby. Dua karakter tersebut berhasil menyajikan plot dan motif yang sangat powerful. Moral value dari mereka sangat menyentuh dan mengharukan. Keputusan Woody mengubah rencana hidupnya ini smooth banget dan sesuai dengan apa yang ia rasakan selama berpetualang bersama Bo Peep dan menyelamatkan Forky. Begitu juga dengan Gabby Gabby, meskipun terlihat menyeramkan tapi ternyata motif yang ia tampilkan sangatlah mulia dan mengharukan. Menurutku ini adalah salah satu villain film terbaik yang pernah ada.


SELURUH karakter mainan dalam film ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh penulis skenario dan sang sutradara. Kehadiran mereka tidak ada yang useless, semuanya bahu membahu dengan baik menghadirkan cerita yang bagus, semakin luas dan tetap terkendali. Para pengisi suara film TOY STORY 4 (2019) juga memberikan performa yang tidak mengecewakan. Visual dan musik yang dihadirkan juga memuaskan! Kelar nonton dibikin kepengen untuk mempunyai merchandise dan action figure Toy Story!
Overall, film TOY STORY 4 (2019) is one of the best animated movie all the time. To infinity and beyond! Welcome to real-life Woody! Let's get wild!


[9.9/10Bintang]

Wednesday, 12 June 2019

[Review] X-Men Dark Phoenix: Babak Akhir Saga X-Men


#Description:
Title: X-Men: Dark Phoenix (2019)
Casts: James McAvoy, Michael Fassbender, Sophie Turner, Jessica Chastain, Jennifer Lawrence, Tye Sheridan, Nicholas Hoult, Alexandra Shipp, Evan Peters, Kodi-Smith McPhee, Scott Stepherd
Director: Simon Kinberg
Studio: Marvel Entertainment, 20th Century Fox, Bad Hat Harry Productions


#Synopsis:
Akibat kekuatan telekinesisnya, mutant yang bernama Jean Grey (Summer Fontana) harus kehilangan kedua orangtuanya. Ayah dan Ibu Jean mengalami kecelakaan mobil sementara Jean selamat dari peristiwa tersebut tanpa luka sedikitpun. 
Jean (Sophie Turner) tumbuh menjadi seorang gadis remaja yatim piatu ini lalu dibawa oleh Professor Charles Xavier (James McAvoy) untuk bersekolah di Xavier's School Youngster Gifted, yaitu sekolah khusus untuk para mutant agar bisa mengendalikan sekaligus belajar lebih mendalam tentang kekuatan yang dimiliki. Disana Jean bertemu dengan para murid lainnya yaitu Scott Summers / Cyclops (Tye Sheridan), Munroe / Storm (Alexander Shipp), Peter Maximoff / Quicksilver (Evan Peters) dan Kurt Wagner / Nightcrawler (Kodi Smith-McPhee). Jean dan para murid lainnya ini diajar oleh para generasi X-Men Kelas Pertama yaitu Raven / Mystique (Jennifer Lawrence), Hank McCoy / Beast (Nicholas Hoult) dan Professor Charles Xavier.


Usai tragedi para X-Men generasi pertama berhasil mengalahkan En Sabah Nur / Apocalypse (Oscar Isaac), kini keberadaan para mutant bisa diterima oleh umat manusia. Mereka bisa hidup berdampingan satu sama lain dan bahkan para mutant pun bisa melindungi para manusia dari tindak kejahatan ataupun ancaman bahaya. Keberhasilan Professor X ini membuat NASA meminta pertolongan pada para X-Men untuk menyelamatkan awak astronot mereka yang mengalami kecelakaan di luar angkasa karena pesawat apollo yang mereka kendarai ditabrak oleh suar cahaya matahari.
Professor X lalu mengutus para murid mutantnya yakni Mystique, Beast, Nightcrawler, Cyclops, Storm, Jean dan Quicksilver untuk menolong para astronot itu dari bahaya. Dengan aksi saling gotong royong, satu persatu para astronot berhasil diselamatkan. Tapi sebuah insiden terjadi. Jean yang sedang berusaha mencoba menahan puing puing pesawat apollo tiba-tiba energi suar cahaya matahari itu mengelilingi dan masuk ke dalam dirinya. Mystique dan yang lainnya dibuat panik dan mengira Jean pasti tewas karena ia terjebak didalam pesawat apollo yang hancur oleh ledakan suar cahaya matahari itu.


Mengejutkan, Jean ternyata selamat dari insiden tersebut. Dengan sigap Nightcrawler membawa Jean yang mengambang di angkasa masuk ke dalam pesawat mereka. Jean lalu tersadar dari pingsannya dan ia tidak mengalami luka dan sakit sama sekali. Teman-temannya lega melihat Jean yang selamat dari insiden tersebut. Mystique dan Beast lalu membawa pesawat mereka kembali ke bumi. Setibanya di bumi, para rombongan mutant ini disambut meriah dan tepuk tangan oleh penduduk bumi. Mystique dan yang lainnya semakin dipandang baik dan dianggap sebagai pahlawan karena telah menyelamatkan para astronot pesawat apollo.


Sementara itu, akibat insiden ledakan suar cahaya matahari yang terjadi di dekat bumi itu, suku alien ras D'Bari yang dipimpin oleh Vuk (Jessica Chastain) memburu dan akan memanfaatkan siapapun yang berhasil menyerap suar cahaya matahari tersebut, karena suar cahaya itu merupakan kekuatan sangat dahsyat yang bernama Phoenix Force. Vuk dan alien lainnya lalu menyelinap ke bumi dan berubah wujud menyerupai manusia. Vuk terus berusaha mencari sosok yang berhasil menyerap kekuatan Phoenix Force agar ia dan bangsa alien D'Bari bisa menguasai seluruh alam semesta.
Suatu malam, Xavier's Youngster Gifted School dikagetkan oleh guncangan yang cukup besar. Cyclops lalu melaporkan bahwa ada yang tak beres dengan kondisi Jean pada Professor X. Dikamarnya, Jean terlihat sangat gelisah dalam tidurnya. Bahkan dinding kamar Jean menampakkan seperti meleleh akibat panas. Professor X yang mencoba mengakses pikiran Jean pun kini tak bisa melakukannya karena terhalang oleh sebuah kekuatan besar yang kini ada didalam diri Jean.
Keesokan harinya Jean lalu tersadar dan melakukan aktivitas sehari-harinya seperti biasa. Jean bahkan sekarang tampak jauh lebih sehat dan bersemangat dibandingkan sebelum melakukan misi penyelamatan para astronot apollo NASA. Hal ini juga dirasakan oleh Cyclops dan para mutant lainnya. Berkat kekuatan Phoenix Force yang ada dalam dirinya, kini Jean bisa merasakan dan mengakses ingatan masa lalu dirinya. Jean terkejut, ia baru mengetahui bahwa ayah-ibunya itu mengalami kecelakaan gara-gara dirinya sendiri. Tak cuma itu saja, Jean juga mengetahui fakta soal ayahnya John Grey (Scott Shepherd) ternyata masih hidup dan menyerahkan dirinya saat masih anak-anak untuk diasuh oleh Professor X. Mendapat kenyataan seperti itu membuat Jean dilanda kesedihan dan juga amarah. Ia kini membenci Professor X karena telah menghapus seluruh ingatan dirinya ketika masih anak-anak. Emosi yang tak terkontrol serta amarah dalam dirinya membuat Jean lepas kendali dan menghancurkan Xavier's School. Jean lalu kabur dan mencari keberadaan sang ayah.


Melihat apa yang telah dilakukan Jean membuat Professor X terpaksa meminta bantuan pada Mystique, Cyclops, Nightcrawler, Storm dan Quicksilver untuk menyusul Jean yang berada di tempat tinggal ayahnya karena Professor X tak ingin ayah dari Jean menjadi korban. Setibanya disana, Jean sudah dilanda amarah yang semakin tak terkontrol, terpaksa para mutant mencoba menghentikan Jean dengan menggunakan kekuatannya masing-masing. Tapi usaha itu gagal, bahkan menyebabkan kematian dari Mystique. Usai insiden itu, Jean malah kabur dan menghilang. Ketika kekuatan Phoenix Force nya tidak muncul, Jean menangis dan merasa bersalah karena telah melakukan hal-hal jahat. Jean lalu mencoba menemui Erik Lehnsherr / Magneto (Michael Fassbender) yang kini memutuskan untuk pensiun, hidup rukun berdampingan dengan manusia dan memiliki sebuah keluarga kecil. Jean ingin seperti Magneto yang bisa mengontrol bahkan menahan kekuatannya agar bisa hidup normal seperti manusia. Magneto menaruh curiga kenapa Jean tiba-tiba datang menemui dirinya dengan alasan ingin bisa mengontrol dan menahan kekuatannya. Ditambah lagi melihat kondisi pakaian Jean penuh dengan percikan darah membuat Magneto yakin telah terjadi suatu hal yang tidak beres. Ia kemudian memaksa Jean untuk berkata jujur soal apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Jean tetap kekeuh tidak mau berkata jujur dan diam.


Karena terus mendapat tekanan dari Magneto membuat Jean kesal dan lepas kendali. Ia menyerang Magneto dan menghancurkan tempat tinggalnya. Jean lalu kabur setelah melakukan aksinya. Tak lama setelah kejadian itu, Beast memutuskan untuk pergi ke tempat Magneto seorang diri tanpa sepengetahuan Professor X dan yang lainnya. Setibanya disana, Beast lalu menceritakan apa yang sebetulnya terjadi soal Jean. Mendengar kenyataan Jean menjadi penyebab kematian Mystique membuat Magneto dilanda amarah. Ia memutuskan menggunakan kembali kekuatannya untuk memburu dan membunuh Jean.
Ditengah persembunyiannya itu, Jean terus dilanda panik dan juga kesedihan. Karena dirinya dan kekuatannya, banyak orang yang ia cintai merasakan akibatnya. Jean merasa bersalah disaat ia tersadar dan tidak menggunakan kekuatan Phoenix Force. Tiba-tiba Vuk datang menemui Jean. Vuk selalu memberikan wejangan dan motivasi pada Jean untuk tetap menggunakan kekuatan Phoenix Force, karena kekuatan tersebut sangat besar dan bahkan mampu mengendalikan seluruh alam semesta. Kehadiran Vuk inilah yang membuat Jean kembali bangkit. Mereka berdua kemudian berencana untuk mengendalikan dunia. Tapi disisi lain, rupanya Vuk hanya memanfaatkan Jean saja, karena sebenarnya ia akan menyerap energi Phoenix Force yang ada didalam diri Jean untuk kepentingan dirinya sendiri.
Mampukah X-Men menghentikan rencana Vuk dan mengembalikan Jean seperti semula?


#Review:
Universe X-Men Saga merupakan universe superhero yang sudah lama eksis dan senior di industri film Hollywood. Debut perdananya kala itu di tahun 2001 sukses mencuri perhatian pecinta film dunia tentang kisah para mutant ini. Beberapa katakter X-Men bahkan sangat iconic, seperti Wolverine, Mystique dan Magneto. Hingga tak terasa usia X-Men Saga ini telah mencapai 18 tahun dengan total film mencapai 17 film termasuk spin-off, jauh lebih tua 8 tahun dengan Marvel Cinematic Universe yang baru dimulai pada 2008.
Ada satu hal yang menjadi ciri khas dari X-Men Saga ini dibandingkan dengan MCU atau Saga lainnya yaitu pola timeline filmnya tidak beraturan. Hal ini aku yakin membuat sebagian penonton menjadi malas untuk mengikuti Saga X-Men. Bahkan dengan banyaknya kritikan, membuat salah satu sutradara X-Men yakni Bryan Singer mengambil langkah yang cukup mengejutkan lewat film X-MEN: DAYS FUTURE OF PAST (2014) yaitu dengan me-reset keseluruhan timeline X-Men Saga sehingga film-film sebelum DAYS OF FUTURE PAST dan X-MEN: FIRST CLASS (2011) dianggap lenyap dan tidak pernah terjadi.
19 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi X-Men Saga bertahan di industri film Hollywood bersama dengan 20th Century Fox. Dan pada akhirnya, usai kembali ke pangkuan Marvel Studios dan Disney, X-Men Saga yang diproduksi oleh Fox ini memutuskan untuk menghadirkan babak akhir X-Men Saga berjudul X-MEN: DARK PHOENIX (2019) yang dirilis di bioskop Indonesia pada 14 Juni 2019 lalu.


Dan ternyata film yang mengangkat lebih dalam soal Jean Grey ini mendapat ulasan yang kurang memuaskan dari para pecinta dan kritikus film dunia. Bahkan film yang disutradarai Simon Kinberg ini menjadi salah satu judul terburuk dari X-Men Saga. Untuk segi cerita, menurutku film ini cenderung lebih cocok sebagai sebuah film stand-alone untuk karakter Jean Grey ketimbang diberi title sebagai film penutup X-Men Saga. Karena disepanjang film diputar, X-MEN: DARK PHOENIX (2019) ini sangat berfokus pada katakter Jean Grey. Padahal X-Men Saga dari zaman dahulu kala filmnya terkenal konsisten selalu mempunyai benang merah yang sangat kuat dan asyik antara satu judul X-Men dengan judul X-Men lainnya. Tak cuma itu saja, X-Men Saga ini juga menurutku mempunyai ciri khas lainnya yaitu moral value tentang mutant vs manusia yang selalu dibahas cukup kuat dan mengharukan. Tapi di X-MEN: DARK PHOENIX (2019) ini aku sama sekali kehilangan signature khas X-Men Saga ini. Motivasi tiap karakter dalam film ini juga menurutku kurang digali lebih jauh. Alhasil, Jean Grey sendiri sebagai tokoh sentral terlihat apa adanya banget. Karakter Vuk yang diperankan Jessica Chastain pun menurutku kurang berguna dan jika dihilangkan pun tak menjadi masalah berarti. Malah plot seputar Vuk dan Jean ini sekilas mengingatkanku dengan plot film MCU yaitu CAPTAIN MARVEL (2019). 
Moment yang seharusnya penuh emosional ketika kematian Mystique dalam film ini juga menurutku tasteless. Padahal karakter Mystique yang diperankan oleh Jennifer Lawrence ini salah satu tokoh iconic di X-Men Saga. Cukup disayangkan banget sih, cara mengakhiri Mystique dibuat seperti ini, tidak menimbulkan shocking effect seperti kematian Black Widow dan Iron Man di AVENGERS: ENDGAME (2019). Babak akhir film ketika Jean melawan Vuk juga dieksekusinya kurang memuaskan. Kekuatan Phoenix Force yang digadang-gadang overpower melebih Captain Marvel ini hanya ditampilkan cuma gitu doang.


Terlepas dari banyak sekali kekurangan, film X-MEN: DARK PHOENIX (2019) ini masih mempunyai sisi positifnya. Seperti chemistry Professor X dengan para mutant masih terjaga dengan baik. Magneto yang semakin charming dan sisi emosionalnya sangat oke ketika dieksplor. Kekuatan para mutant yang tersisa ditampilkan sangat powerful. Moment baku hantam para mutant pada saat di ruang angkasa, rumah ayah Jean dan didalam kereta api masih keren khas X-Men Saga. Dan yang terakhir adalah music scoring yang dibuat Hans Zimmer menurutku sangatlah memuaskan dan berhasil menghidupkan tiap adegan dalam film ini. Bahkan beberapa adegan dengan scoring terasa seperti film-film space INSTERSTELLAR (2013) dan GRAVITY (2012).
Overall, sebagai ending X-Men Saga bersama dengan Fox, Film X-MEN: DARK PHOENIX (2019) tampil kurang memuaskan. Semoga dengan kembalinya ke Marvel Studios, The New X-Men Saga nanti bisa bisa lebih lebih lebih lebih baik lagi.


[6.5/10Bintang]