Monday, 23 December 2024

[Review] 2nd Miracle In Cell No.7: Kejutan Sekuel Yang Melampaui Film Pertamanya!



#Description:
Title: 2nd Miracle in Cell No. 7 (2024)
Casts: Vino G. Bastian, Graciella Abigail, Marsha Timothy, Denny Sumargo, Muhadkly Acho, Indro Warkop, Tora Sudiro, Indra Jegel, Rigen Rakelna, Bryan Domani, Agla Artalidia, Ayushita Nugraha, Agus Kencrot, Coki Pardede, Megarita, Yati Surachman, Keanu Azka, Iedil Dzuhrie Alaudin, Della Dartyan, Rizky Hanggono, Piet Pagau, Elly D. Luthan, Restu Sinaga
Director: Herwin Novianto
Studio: Falcon Pictures


#Synopsis:
Dua tahun setelah kepergian Dodo Rozak (Vino G. Bastian) yang tetap menjalani putusan vonis hukuman mati dari pengadilan, Kartika (Graciella Abigail) kini tinggal dan dibesarkan oleh Kepala Lapas yaitu Hendro Sanusi (Denny Sumargo) beserta sang istri, Linda (Agla Artalidia). Meskipun sudah dua tahun berjalan tanpa kehadiran sang ayah, Ika selalu rutin mendatangi sel tahanan untuk bertemu dengan kelima sahabatnya yaitu Japra (Indro Warkop), Zaki (Tora Sudiro), Atmo (Indra Jegel), Yunus (Rigen Rakelna) dan Asrul (Bryan Domani). Hendro terpaksa merahasiakan untuk sementara waktu perihal vonis hukuman mati yang sudah diterima Dodo, karena ia tidak tega dan khawatir terhadap kondisi psikologis Ika jika mengetahui ayahnya sudah dihukum mati. Hendro dan Linda berjanji akan memberitahukan hal tersebut ketika Ika sudah dewasa.



Untuk melepas kerinduan ayahnya, Ika selalu rutin mengirimkan surat yang dititipkan pada Hendro. Selama dua tahun terakhir ini, Ika hanya tahu jika sang ayah dipindahkan ke lapas lain saja dan berjanji akan segera pulang setelah semuanya selesai. Surat-surat yang ditulis oleh Ika tersebut dikumpulkan dan dibalas oleh Hendro agar Ika tetap menjalani hidupnya sehari-hari. Selain menulis surat, Ika tak sengaja menemukan buku harian almarhumah ibunya yaitu Ibu Juwita (Marsha Timothy) di lemari rumah Ika yang kini sudah digusur karena perluasan jalur kereta api. Buku harian tersebut menceritakan kegiatan sehari-hari Ibu Juwita saat menjadi perawat di rumah sakit khusus penyandang disabilitas dan akhirnya dipertemukan dengan Dodo Rozak.



Suasana lapas kini jauh lebih baik. Para napi yang ada disana rutin melakukan banyak kegiatan positif dan saling membantu satu sama lain. Hubungan antara para petugas dan narapidana juga harmonis. Hendro dan kedua asistennya yaitu Amat (Coki Pardede) dan Agus (Agus Kencrot) membebaskan Ika untuk bisa mengunjungi lapas kapanpun. Mereka semua berkomitmen akan menjadi teman yang baik sekaligus pelindung bagi Ika.


Seiring berjalannya waktu, kabar mengejutkan datang menghampiri Hendro. Lapas yang ia pimpin akan kedatangan pimpinan pusat yaitu Hengky Supratman (Muhadkly Acho). Setibanya disana, Hengky mendapat tugas dari atasannya untuk menegakkan kembali kedisiplinan serta memperketat aturan lapas setelah kasus tentang Dodo Rozak ramai diperbincangkan dalam berita. Hendro pun mendapat hukuman skorsing karena terbukti dengan sengaja menyelundupkan anak kecil ke lapas dan mengizinkannya masuk ke dalam sel tahanan. Hengky sangat menentang hal tersebut dan khawatir akan memberikan dampak buruk kepada anak kecil yang bergaul dengan para kriminal di penjara. Hengky pun diutus sebagai pengganti Hendro untuk memimpin lapas.



Cobaan lain datang menghampiri Hendro dan sang istri. Mereka harus berurusan dengan dinas sosial yang mempermasalahkan hak asuh Ika. Perwakilan dari dinas sosial yaitu Kemala Wibisono (Ayushita Nugraha) secara tegas menolak permohonan hak asuh Ika yang sudah lama diajukan oleh Hendro dan Linda. Kemala dan dinas sosial menganggap Ika tidak layak diasuh oleh Hendro yang selama ini menyembunyikan fakta sebenarnya tentang kematian Dodo kepada anak kandungnya. Ika pun akhirnya dibawa oleh Kemala dan ditempatkan di panti sosial sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Semenjak ditinggal Hendro dan Ika tinggal di panti sosial, suasana lapas jadi berubah. Japra, Zaki, Atmo, Yunus dan Asrul merasa kehilangan sosok Hendro dan juga Ika yang sudah lama tak mengunjungi mereka dan napi lain di lapas. Ika yang selalu membawa keceriaan lewat buku-buku yang dibawa ke lapas membuat Japra makin rindu dengannya. Atmo dan Yunus kemudian menyusun rencana untuk menggelar acara pementasan teater menghibur tempat sekolahnya Ika. Mereka berharap, dengan pementasan tersebut Ika bisa bertemu lagi dengan Hendro dan Linda meskipun dibatasi oleh pihak dinas sosial.



Di sisi lain, Hendro dan Linda terus memperjuangkan hak asuh Ika. Hendro semakin curiga dengan sikap dari dinas sosial yang berusaha memisahkan dirinya dengan Ika. Hendro pun terpaksa mengambil langkah hukum untuk mendapat hak asuh sekaligus melindungi Ika dari pihak-pihak yang berusaha memisahkan Ika dari orang-orang yang menyayanginya. Selama masa persidangan hak asuh Ika, dinas sosial masih berpegang teguh pada prinsip mereka tentang kesalahan Hendro dan Linda yang membohongi Ika atas kematian ayahnya. Kuasa hukum dari kedua belah pihak yaitu Sarah (Della Dartyan) dan Farhan (Rizky Hanggono) pun memberikan pembelaan dengan alasan yang sama-sama kuat baik kepada keluarga Hendro maupun dinas sosial yang diwakili Kemala. Mampukah Hendro dan Linda memenangkan persidangan demi mendapatkan hak asuh Ika yang sudah mereka anggap seperti anak kandung sendiri?


#Review:
Kesuksesan remake film MIRACLE IN CELL NO. 7 (2022) produksi Falcon Pictures yang mencetak lebih dari 5.8 juta penonton selama penayangan di bioskop Indonesia menjadi bukti jika project remake atau adaptasi resmi dari film yang sudah populer pun masih bisa menuai kesuksesan yang sama dengan versi aslinya. Kejutan tak terduga rupanya sudah dipersiapkan. Akhir November kemarin, Falcon Pictures merilis first look film 2ND MIRACLE IN CELL NO. 7 (2024) yang terkonfirmasi menjadi sekuel sekaligus prekuel dari film pertamanya. Reaksiku dan mayoritas pecinta film pasti terkejut, mengingat film versi aslinya yang berasal dari Korea Selatan saja tidak ada sekuelnya. Seketika muncul banyak sekali pertanyaan dalam diri, Falcon Pictures kok berani banget melanjutkan film remake nya yang di versi aslinya saja tidak ada? Sepenting itukah film ini harus ada sekuelnya? Perasaan pesimis dan skeptis pun jadi bermunculan dibenakku.


Semalam (21/12), aku berkesempatan hadir pada acara Gala Premiere film 2ND MIRACLE IN CELL NO. 7 (2024) yang sukses digelar sangat sangat meriah di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Sejak siang hari, bioskop yang berlokasi di lantai 8 ini sudah dipadati oleh para penonton dan tamu undangan yang sangat membludak. Puncaknya saat penonton jam 16:00 yang sudah selesai dan akan keluar area bioskop, tertahan di area lobby tengah yang berbarengan dengan acara yellow carpet menyambut seluruh cast untuk masuk ke auditorium 1. Acara tersebut menyebabkan akses dua pintu masuk utama terhalangi, ditambah lagi ribuan penonton berdesakan mendekati stage yellow carpet dan akhirnya terjadilah chaos. Penonton makin padat dan terjebak saling berhimpitan sampai susak nafas karena tidak bisa keluar area bioskop. Kejadian tadi malam harus menjadi evaluasi penting nih untuk Falcon Pictures agar kekacauan dan chaos setiap gala premiere yang digelar tidak terus terulang, khususnya saat menggunakan venue CGV Grand Indonesia sebagai lokasi gala premiere.



Untuk segi cerita, film 2ND MIRACLE (2024) ini memang menjadi sekuel sekaligus prekuel dari film pertamanya. Kursi sutradara film keduanya ini tak lagi Hanung Bramantyo dan dialihkan kepada Herwin Novianto, yang kemarin sukses dengan film remake KANG MAK (2024). Kolaborasi sang sutradara dengan penulis skenario Alim Sudio dalam menyajikan kelanjutan cerita dari karakter Dodo dan Ika beserta orang-orang disekitarnya berhasil mematahkan rasa pesimis dan skeptis penonton! Dengan durasi mencapai 145 menit, film 2ND MIRACLE (2024) sangat leluasa dalam mengembangkan cerita dari masing-masing karakter yang ada. Eksplorasi cerita bukan lagi berpusat pada karakter Dodo, Ika dan para narapidana, melainkan datang dari deretan karakter pendukung di film pertamanya dan juga karakter-karakter baru. Kisah tentang perjuangan pasangan suami istri Hendro dan Linda untuk hak asuh atas Ika tampil luar biasa. Development character dari Hendro dan Linda terasa makin kuat berkat kualitas akting yang memukau dari Denny Sumargo dan Agla Artalidia. Ketulusan dan cinta mereka kepada Ika terasa nyata dan believable.
Selanjutnya, kemunculan karakter baru yaitu Hengky Supratman yang diperankan Muhadkly Acho juga tak kalah mencuri perhatian! Sebagai villain baru dalam film ini, Acho sukses menampilkan range akting antagonis yang memuaskan! Setiap gesture dan dialog tegas yang diucapkan oleh karakter Hengky berasa banget intimidatif nya. Andai saja karakter Hengky ini dibuat 100% serius tanpa menampilkan kelucuan pasti akan lebih memorable dan akan menjadi best performance as an actor dari seorang Muhadkly Acho. Lewat karakter Hengky ini juga film keduanya ini jadi punya benang merah dengan film pertamanya yang berkaitan dengan karakter keluarga Wibisono yang diperankan dengan memuaskan juga oleh duet Ayushita Nugraha dan Iedil Putra. Aku juga suka dengan kepedulian sang sutradara dan penulis cerita untuk para karakter pendukung seperti dua petugas lapas Mamat dan Agus, Ibu Guru Poppy hingga Ibu Anik yang porsinya meskipun minor tapi tetap punya pengaruh terhadap keseluruhan cerita. Meskipun giliran para supporting character di sekuelnya kali ini mendapat porsi yang dominan, penampilan geng narapidana yang dibintangi Indro Warkop, Tora Sudiro, Indra Jegel, Rigen Rakelna dan Bryan Domani tetap berhasil dengan pesona mereka yang selalu menghadirkan gelak tawa penonton. Tektokan Indra Jegel dan Rigen Rakelna semakin ampuh memberi hiburan yang ampuh memancing tawa kencang dari penonton.



Apresiasi paling meriah harus kita berikan lagi pada trio Vino G. Bastian, Graciella Abigail dan Marsha Timothy. Ketiganya berhasil tampil sebagai sebuah keluarga kecil yang hangat dan ceria meskipun hanya sebatas di masa lalu saja. Moment-moment flashback yang disatukan dengan kejadian terkini saat Ika menghadapi problem dengan dinas sosial sukses membuatku terharu. Di bagian ini juga, sang sutradara menyelipkan narasi tentang sisi personal karakter Dodo yang meskipun mengalami keterbelakangan mental, tapi ia menjalankan kewajibannya dan bertanggung jawab sebagai seorang suami dan juga ayah. Sekali lagi, kualitas akting dari para aktor yang terlibat di film 2ND MIRACLE (2024) sudah tidak perlu diragukan. Manis, hangat, lucu, menghibur, mengharukan dan bikin nangis semuanya lengkap!
Overall, film 2ND MIRACLE IN CELL NO.7 (2024) berhasil mengembangkan dan mengeksplorasi cerita dari film pertamanya menjadi lebih luas dan semakin menarik untuk diikuti. Sebuah project sekuel yang awalnya dianggap tidak penting, ternyata tampil luar biasa dan menurutku jauh lebih baik dari film pertamanya! Keren!


[9/10Bintang]

Sunday, 22 December 2024

[Review] Kraven The Hunter: Berkenalan Dengan Anti Hero Pemburu Terbaru Dari SSU!



#Description:
Title: Kraven The Hunter (2024)
Casts: Aaron Taylor-Johnson, Russell Crowe, Ariana Debose, Fred Hechinger, Alessandro Nivola, Christopher Abbott, Levi Miller, Billy Barratt, Diana Babnicova, Dritan Kastrati
Director: J. C. Chandor
Studio: Sony Pictures, Columbia Pictures, Marvel Entertainment


#Synopsis:
Semenjak sang ibu, Anna Kravinova (Masha Vasyukova) sakit dan mengalami gangguan mental, Sergei Kravinoff (Levi Miller) dan adiknya, Dmitri Kravinoff (Billy Barratt) dipindahkan ke New York untuk melanjutkan pendidikan oleh ayah mereka, Nikolai Kravinoff (Russell Crowe). Dua tahun kemudian, sang ibu dinyatakan meninggal dunia. Kematian Anna tak membuat Nikolai bersedih karena sudah tidak peduli dan menganggap istrinya sudah menyerah dalam menghadapi penyakit yang dialaminya.
Sebagai salah satu pimpinan operasi perdagangan narkoba dan juga pemburu hewan-hewan buas, Nikolai mengajak kedua anaknya untuk pergi ke Tanzania. Nikolai beserta anak buahnya akan memburu singa Tsar yang dikenal sebagai predator puncak di alam liar yang sangat sulit ditangkap. Nikolai ingin kedua anaknya itu bisa menjadi seorang pemburu handal sama seperti dirinya dan berharap mereka bisa menjadi penerus Nikolai di masa yang akan datang. Saat rombongan Nikolai berjalan menyusuri bioma sabana di sisi utara Tanzania, Sergei dan Dmitri tak sengaja berpapasan dengan singa Tsar yang selama ini diincar oleh Nikolai. Keduanya berusaha setenang mungkin saat melihat singa tersebut. Saat situasi hampir terkendali, Nikolai langsung mengarahkan tembakan pada singa dan membuatnya agresif. Singa tersebut langsung menyerang Sergei dan menyeretnya jauh. Nikolai dan anak buahnya langsung berpencar untuk mencari keberadaan Sergei.
Tubuh Sergei yang terluka dan penuh darah akibat gigitan singa Tsar akhirnya ditemukan oleh seorang remaja perempuan yang sedang berkeliling di bioma sabana. Perempuan tersebut berusaha menolong Sergei dan memberikan cairan yang ia dapatkan dari neneknya. Konon cairan serum keramat tersebut bisa menyembuhkan penyakit dan luka apapun. Dan benar saja, Sergei seketika siuman meskipun luka yang ia alami sangat parah. Nikolai, Dmitri dan anak buahnya langsung membawa Sergei ke rumah sakit untuk perawatan. Tak membutuhkan waktu lama, kondisi kesehatan Sergei mulai membaik. Luka-luka yang ada di tubuhnya pun cepat menghilang. Semenjak insiden diserang oleh singa Tsar, Nikolai masih menyimpan kekecewaan pada Sergei yang dianggap lemah dan sama seperti ibunya. Nikolai pun memutuskan Sergei tidak kembali ke New York dan tetap berada di Inggris untuk berlatih bersama dirinya. Agar sang anak tak lagi takut untuk berburu, Nikolai rupanya berhasil menangkap dan mengawetkan singa Tsar yang kemarin menyerang Sergei. Melihat bagian kepala singa Tsar yang kini sudah diawetkan di ruangan ayahnya membuat Sergei sangat kesal. Sergei pun memutuskan untuk pergi dari rumahnya untuk mencari remaja perempuan yang telah menyelamatkan nyawanya. Selain itu ia juga berencana untuk pergi menuju ke tempat persembunyian milik mendiang ibunya yang berada di hutan wilayah utara Rusia. Dalam perjalanan kaburnya itu, Sergei merasakan kondisi fisiknya semakin kuat. Tak hanya itu saja, Sergei pun jadi punya kekuatan besar serta kemampuan panca indera yang semakin tajam layaknya seekor singa.
16 tahun berlalu. Sergei (Aaron Taylor-Johnson) menggunakan nama baru yaitu Kraven. Ia tumbuh menjadi pria tangguh dengan fisik yang prima serta mempunyai kekuatan luar biasa layaknya seekor singa. Kraven memburu orang-orang jahat yang menurutnya sudah merugikan banyak hal. Mayoritas para penjahat berlindung kepada seorang pengacara yaitu Calypso Ezili (Ariana DeBose) yang selalu berhasil meloloskan para kliennya dari jeratan hukum.
Selama memburu orang-orang jahat, rupanya Kraven juga mengawasi Calypso yang telah berjasa menyelamatkan nyawa saat terkena serangan Singa Tsar di Tanzania. Kraven pun menyusun rencana untuk menghabisi semua orang jahat dengan meminta bantuan pada Calypso. Namun sayang, Calypso belum bersedia menyerahkan semua client nya kepada Kraven.
Sementara itu, Dmitri yang kini sudah dewasa tengah disibukkan dalam menjalani bisnis restorannya. Sang ayah untungnya sangat mendukung keinginan sang anak meskipun tidak melanjutkan warisan bisnis yang selama ini sudah ia jalankan. Saat Dmitri berulang tahun, Kraven selalu menyempatkan datang ke restoran untuk merayakan ulang tahun adiknya.
Di sisi lain, mantan asisten dari Nikolai yaitu Aleksei Sytsevich (Alessandro Nivola) tengah menyusun rencana untuk menghancurkan bisnis milik Nikolai. Dendam dan rasa sakit hati Aleksei yang sudah lama ia pendam akhirnya segera dibalaskan setelah dirinya melakukan eksperimen yang membuat dirinya bertransformasi menjadi rhino-hybrid. Agar perubahan fisiknya tidak ekstrim, Aleksei harus menyuntikkan serum penenang setiap saat ke dalam tubuhnya. Bersama dengan anak buahnya, Aleksei pun berencana untuk menculik Dmitri dan meminta tebusan agar Nikolai menjual seluruh asetnya. Untuk mengecohkan anak buah Nikolai dan juga Kraven, Aleksei merekrut penjahat bernama Foreigner (Christopher Abbott) yang memiliki kemampuan sangat cepat dalam berpindah dan mengalahkan musuhnya. Mampukah Kraven menyelamatkan adiknya dari tangan para penjahat?


#Review:
Menutup tahun 2024, Sony Pictures dengan Sony Spider-Man Universe (SSU) nya merilis film terbaru berjudul KRAVEN THE HUNTER (2024). Seperti yang sudah-sudah, film ini memperkenalkan origin story dari karakter-karakter yang masih ada kaitannya dengan Spider-Man. Setelah Venom, Morbius dan Madame Web, kali ini penonton diajak menyaksikan film solo dari sosok Kraven The Hunter, salah satu anggota Sinister Six, kumpulan musuh dari superhero Spider-Man.


Untuk segi cerita, film KRAVEN THE HUNTER (2024) ini sebenarnya cukup mudah untuk dipahami layaknya film-film superhero kebanyakan. Pada paruh awal film, penonton diajak melihat bagaimana seorang remaja bernama Sergei yang ditantang menaklukan singa di alam liar demi ambisi sang ayah. Plot tentang masa lalu dari karakter Sergei ini berjalan cukup mulus dan cukup fresh karena kekuatan super yang didapatkan Sergei dari gigitan singa dan bantuan serum keramat ini terasa lebih menarik dibandingkan villain-villain Spider-Man sebelumnya yang sudah difilmkan. Namun saat film memasuki babak pertengahan, fokus cerita jadi terlalu bercabang kemana-mana. Sang sutradara dan penulis skenario terlalu banyak menampilkan karakter antagonis dengan backstory nya yang tidak terlalu kuat. Alhasil, kemunculan karakter Foreigner dan Omer pun hanya sebatas assassin saja tanpa adanya cerita yang lebih mendetail dari mereka berdua. Belum lagi cerita keluarga dan bisnis dari keluarga Nikolai yang hanya sebatas di permukaan saja tanpa menjelaskan lebih detail tentang apa yang selama ini mereka lakukan. Selain itu, journey dari Sergei yang memutuskan menjadi seorang Kraven The Hunter pun sama sekali tidak diperlihatkan dengan baik disini, tahu-tahu sudah 16 tahun kemudian saja dengan segala kemampuan berburunya. Padahal jika menampilkan banyak adegan dari kehidupan Aaron Taylor-Johnson yang belajar sekaligus survival menjadi The Hunter di rumah kaca milik mendiang ibunya, kemudian melihat interaksi dirinya dengan hewan-hewan buas pasti akan jauh lebih menarik lagi.
Terlepas dari development character yang kurang memuaskan, film KRAVEN THE HUNTER (2024) punya nilai plus dari adegan action yang dihadirkan. Hampir semua adegan aksi menggunakan gerakan tubuh tanpa bantuan kekuatan fiksi seperti Venom, Morbius maupun Spider-Man sekalipun. Kraven betul-betul memanfaatkan fisik dan sense nya yang sudah seperti hewan buas betulan. Mayoritas adegan aksi pun eksekusinya cukup brutal dan banyak darah dimana-mana. Hal ini menjadikan film KRAVEN THE HUNTER (2024) sebagai film dengan Rating Restricted pertama dan satu-satunya di SSU.
Untuk jajaran pemain, sudah jelas pesona Aaron Taylor-Johnson menjadi daya tarik terbesar untuk film KRAVEN THE HUNTER (2024). Meskipun pendalaman cerita dan karakter dari Sergei Kraven nya masih jauh dari kata memuaskan, performa Aaron Taylor-Johnson terbilang bagus dan sudah setara dengan Tom Hardy sebagai Venom. Rasa cinta terhadap karakter yang diperankannya terpancar cukup kuat. Jajaran pemain lainnya pun sebetulnya tidak ada yang mengecewakan namun kapasitasnya saja tidak mendapat eksplorasi lebih mendalam. Bahkan sekelas Ariana DeBose peraih Piala Oscars pun terasa disia-siakan oleh film ini.
Untuk urusan visual, film KRAVEN THE HUNTER (2024) juga tidak seburuk yang dibayangkan. Bahkan jika dibandingkan dengan Madame Web dan Morbius, film ini jauh lebih baik! Overall, KRAVEN THE HUNTER (2024) punya potensi cukup menarik sebagai film solo villain di SSU meskipun lagi dan lagi, narasi ceritanya masih bisa ditingkatkan lebih baik!


[7/10Bintang]

Wednesday, 18 December 2024

[Review] Racun Sangga: Dampak Santet Paling Mengerikan Yang Berasal Dari Kalimantan!



#Description:
Title: Racun Sangga - Santet Pemisah Rumah Tangga (2024)
Casts: Frederika Cull, Fahad Haydra, Wafda Saifan, Umar Lubis, Mila Jamila, Zidan El Hafiz, Ravelra Supit, Gusti Gina, Shafa Almera, Julian Kunto, Elvito, Elly D. Luthan
Director: Rizal Mantovani
Studio: Soraya Intercine Films


#Synopsis:
Setelah lulus kuliah, Mahya (Frederika Cull) dijodohkan dengan pria pilihan orangtuanya yaitu Andi (Fahad Haydra). Sebagai anak yang baik dan tak pernah membantah keinginan Abuya (Umar Lubis) dan Uma nya, Mahya bersedia dengan rencana perjodohan tersebut dan mengakhiri hubungan asmaranya dengan Duma (Wafda Saifan) yang sudah berjalan selama mereka masih kuliah.
Acara pernikahan Mahya dan Andi digelar meriah. Kedua keluarga menggunakan adat budaya Kalimantan penuh suka cita. Kerabat, saudara dan rekan-rekan dari kedua mempelai memberikan doa yang terbaik untuk pernikahan Mahya dengan Andi. Setelah resmi menjadi pasangan suami istri, mereka memutuskan hidup mandiri. Mahya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil dan Andi fokus bisnis coffee shop yang sudah memiliki beberapa cabang di Kalimantan.



Tak ada angin tak ada hujan, rumah tangga Mahya dan Andi dihadapkan dengan sebuah masalah. Setiap malam, Andi selalu terbangun dari tidurnya di tengah malam. Ia sering berperilaku aneh dan seolah-olah melihat sosok mengerikan di hadapannya. Saat pagi hari, kondisi kesehatan Andi mulai menurun. Ia mengalami demam tinggi, batuk berdarah dan sesak nafas. Mahya yang khawatir dengan kondisi suaminya langsung dibawa ke rumah sakit. Saat diperiksa oleh Dokter, tidak ditemukan hal-hal aneh dalam tubuh Andi. Keduanya masih berpikir positif dan menduga kondisi kesehatan Andi menurun karena faktor kelelahan saja.


Hari demi hari terus berlalu. Kondisi kesehatan Andi terus mengalami penurunan. Selain demam, batuk berdarah dan sesak nafas, kali ini sekujur tubuhnya memerah dan gatal, padahal Andi tidak memiliki gejala alergi sama sekali. Mahya yang panik kemudian membawa lagi sang suami ke rumah sakit untuk dirawat disana. Melihat kesibukan Mahya dalam pekerjaan dan merawat suaminya yang sakit-sakitan membuat rekan-rekan di balai desa khawatir. Mereka curiga jika Andi terkena kiriman santet karena gejalanya sangat mirip dan tidak terdeteksi oleh medis rumah sakit. Mendengar hal tersebut membuat Mahya ikut khawatir, karena gejala sakit dari sang suami selalu berbarengan dengan kejadian-kejadian mistis saat mereka sedang berada di rumah. Ditengah kondisi kesehatan Andi yang tak kunjung sembuh, muncul kabar bahagia tentang Mahya yang sedang hamil. Keduanya tentu sangat senang dengan kabar tersebut. Mahya dan Andi akhirnya diberi kesempatan untuk menjadi orang tua.
Memasuki bulan kehamilan pertengahan, Mahya masih disibukkan dengan pekerjaan sekaligus mencari pengobatan alternatif untuk sang suami dengan dibantu adik Safiya (Mila Jamila) dan iparnya Rashid (Zidan El Hafiz). Hingga suatu hari, saat keluarga Mahya menggelar acara syukuran dirumahnya, keluarga dari pamannya terkejut saat melihat kondisi Andi yang sakitnya itu disebabkan oleh santet. Mereka menyarankan Mahya dan juga Andi untuk mendatangi kerabat mereka yang bisa melakukan Ruqyah terhadap orang terkena santet.



Mahya, Safiya dan Rashid pun bergegas membawa Andi menuju ke kediaman orang pintar tersebut untuk Ruqyah. Namun sayang, orang-orang pintar yang ditemui mereka selalu menolak saat melihat kondisi Andi yang santetnya terlalu kuat, karena santet yang digunakan yaitu Santet Racun Sangga. Santet ilmu tingkat tinggi yang bertujuan untuk memisahkan orang sampai maut memisahkan. Satu-satunya cara untuk meringankan efek Santet Racun Sangga tersebut yaitu melakukan ritual keramat Baharagu bersama salah satu sesepuh adat yaitu Nini Bulan (Elly D. Luthan).
Akankah ritual Baharagu tersebut berhasil menyelamatkan Andi dari Santet Racun Sangga yang sangat mematikan tersebut?


#Review:
Rumah produksi Soraya Intercine Films kembali hadir di tanggal cantik penghujung tahun dengan film horror terbaru berjudul RACUN SANGGA: SANTET PEMISAH RUMAH TANGGA (2024). Film ini diadaptasi dari Thread X nya Gusti Gina yang sempat viral pada Mei 2024 lalu. Yang awalnya membuatku skeptis, Soraya Films menggandeng Rizal Mantovani sebagai sutradara untuk project film RACUN SANGGA (2024) ini. Skeptisku ini menurutku cukup beralasan, mengingat sepak terjang Rizal Mantovani menggarap film horror dalam beberapa tahun terakhir terbilang sangat produktif namun berbanding terbalik dengan kualitas cerita ataupun film yang dihadirkan. Namun rasa skeptisku sedikit memudar setelah melihat penulis skenario dari film RACUN SANGGA (2024) ini ditangani oleh sang pemilik Thread X nya langsung yaitu Gusti Gina dengan dibantu Adi Nugroho. Padahal biasanya, Soraya Films ataupun sister company nya yaitu Hitmaker Studios selalu mengandalkan Riheam Junianti sebagai penulis skenario dan cerita setiap film-film yang diproduksi.


Untuk segi cerita, film RACUN SANGGA (2024) memang tak menawarkan hal baru. Premisnya pun sudah sering sekali kita temukan di film-film horror, yaitu tentang pasutri yang terkena kiriman santet. Yang menjadi kejutan, kolaborasi Rizal Mantovani, Gusti Gina dan Adi Nugroho disini berhasil menciptakan hal baru dari premis mainstream tersebut. Film RACUN SANGGA (2024) bukan menjual parade penampakan jump scared setan, melainkan dampak buruk santet yang dirasakan oleh korban. Dengan durasi yang cukup melar sampai 118 menit, film ini tampil sangat detail menampilkan struggling pasutri asal Kalimantan untuk mencari kesembuhan dari kiriman santet tersebut. Plot terasa makin kompleks dengan menambahkan sisi psikologis dari kedua karakter yang sama-sama frustasi dalam menghadapi kiriman santet tersebut. Penonton bisa merasakan betapa lelahnya karakter Mahya dan juga Andi yang selama bertahun-tahun kesana-kemari untuk bisa sembuh. Sisi psikologis dari karakter Andi semakin bombastis berkat dukungan tata suara, scoring musik, prostetik dan efek visual yang mempertegas betapa kacaunya psikologisnya Andi selama terkena santet tersebut. Salah satu adegan paling memorable di film RACUN SANGGA (2024) yaitu saat adegan Andi di dapur. Kombinasi antara adegan, suara dan aktingnya gokil banget!


Alur cerita semakin kompleks sekaligus banyak kejutan tersembunyi saat plot memasuki babak ketiga. Siapa sangka, film ini menambahkan elemen drama rumah tangga yang kemudian dipadukan dengan unsur budaya tarian Baharagu khas Kalimantan Selatan! Ritual tarian untuk prosesi Ruqyah disini bikin merinding dan seketika mengingatkanku dengan apa yang sudah dilakukan luar biasa di film EXHUMA (2024) nya Korea Selatan. Aku juga suka dengan keputusan akhir cerita film ini yang dibuat seperti itu. Bitter nya ngena banget sama persis dengan apa yang pernah aku rasakan ketika selesai menonton film DI AMBANG KEMATIAN (2023) tahun lalu. Namun ada beberapa hal minor yang masih bisa penonton temukan dalam plot film ini. Salah satu yang paling mencolok yaitu terlalu banyak hal repetitif yang dilakukan untuk sebuah penjelasan pada suatu adegan. Hal inilah yang menyebabkan film ini terasa panjang, khas Soraya Films.


Untuk jajaran pemain, debut Frederika Cull sebagai pemeran utama wanita dalam film RACUN SANGGA (2024) ini sekilas mengingatkanku akan Pevita Pearce. Cantik bule dengan gaya bahasa daerah yang sangat kental. Kualitas aktingnya semakin terlihat maksimal saat plot berada di drama rumah tangga. Sisi emosional seorang ibu hamil yang harus menghadapi kenyataan pahit tentang suaminya tersampaikan dengan baik kepada penonton. Chemistry yang dibangun bersama aktor muda Fahad Haydra pun masih terlihat canggung, namun hal tersebut sedikit aku maklumi mengingat background story kedua karakter tersebut memang dijodohkan, bukan sebagai pasangan yang sudah lama berpacaran kemudian menikah. Fahad Haydra bisa jadi the next big thing nih di industri film, kualitas aktingnya sebagai Andi dalam film ini bisa diperhitungkan! Aksi kesurupan dan effort nya maksimal.
Untuk urusan visual, Soraya Films lagi dan lagi selalu konsisten membawa film-film yang diproduksinya berada di level teratas. Kesan mahal, megah dan elegan terpancar kuat dari film RACUN SANGGA (2024) ini dan menjadi pembeda yang sangat mencolok dari film-film karya Rizal Mantovani sebelumnya. Overall, film RACUN SANGGA: SANTET PEMISAH RUMAH TANGGA (2024) memuaskan! Meskipun punya sedikit minor, tapi tertutupi oleh point-point plus tadi. Karya Rizal Mantovani terbaik di tahun ini!


[8.5/10Bintang]

Monday, 16 December 2024

[Review] Samsara: Pengalaman Sinematik Konser Dari Garin Nugroho Yang Memukau!



#Description:
Title: Samsara (2024)
Casts: Ario Bayu, Juliet Burnett, Gus Bang Sada, I Wayan Wira Kusuma, Alit Aryani Willems, Siko Setyanto, Ni Ketut Arini, Cok Sawitri, Nyoman Darwin Setiabudi, I Kadek Agung Arya Krisna
Director: Garin Nugroho
Studio: Cineria Films, Garin Workshop, Lynx Films, Djarum Foundation


#Synopsis:
Pada tahun 1930an, keindahan Pulau Bali semakin dikenal luas dan mendunia. Banyak tokoh-tokoh dari luar negeri berdatangan ke Bali untuk tujuan wisata. Banyaknya warga asing yang tinggal di Bali menghasilkan percampuran budaya dan pernikahan dengan warga pribumi asli. Salah satunya yaitu Sinta (Juliet Burnett), anak dari konglomerat dari Belanda yang menikah dengan pria pribumi dari golongan bangsawan Bali.
Sedari kecil, Sinta sudah terbiasa bermain dengan anak-anak pribumi yang ada disekitar rumahnya. Meskipun berbeda status sosial, keluarga Sinta tidak membatasi sang anak untuk berinteraksi dengan siapapun. Salah satu anak pria yang sering mengajak Sinta bermain yaitu Darta (Ario Bayu). Saat beranjak dewasa, Darta jatuh cinta kepada Sinta dan ingin melamarnya dengan membawa beberapa uang koin dan perhiasan sederhana untuk diberikan kepada keluarga Sinta. Namun sayang, lamaran Darta ditolak oleh ayahnya Sinta karena alasan perbedaan status sosial. Darta dan Sinta pun sedih karena cinta mereka tidak bisa bersatu di pelaminan.
Penolakan tersebut membuat Darta murka. Ia marah karena cintanya tidak direstui gara-gara kondisi ekonominya yang miskin dan bukan berasal dari golongan bangsawan. Darta semakin terobsesi dengan Sinta. Ia mengambil jalan pintas melakukan pesugihan dengan Siluman Raja Monyet (Gus Bang Sada) untuk mendapat kekayaan. Ritual gaib antara Darta dan Siluman Raja Monyet tersebut membuahkan hasil. Darta kini bergelimang harta dan seketika langsung mendapat restu dari kedua orangtua Sinta untuk menikah.
Darta dan Sinta akhirnya resmi menikah dan hidup sebagai pasangan suami istri. Kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan kehamilan anak pertama mereka. Namun sayang, dibalik keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga Darta dan Sinta ini, terdapat konsekuensi besar yang harus dihadapi oleh rumah tangga Darta. Ketiganya menerima kutukan mengerikan dari Siluman Raja Monyet. Berbagai permasalahan pun turut menghampiri ketiganya dan mengancam keselamatan mereka bertiga karena Siluman Raja Monyet berencana akan melakukan pembalasan lantaran Darta melanggar perjanjian yang sudah mereka sepakati.


#Review:
Salah satu sutradara senior dan terbaik Indonesia yaitu Garin Nugroho menggebrak industri sinema Indonesia dan juga dunia lewat project film terbarunya yang berjudul SAMSARA (2024). Gebrakan terbarunya kali ini, Garin Nugroho menghadirkan film dengan format hitam putih dan tanpa dialog sama sekali! Meskipun sebelumnya sudah ia lakukan di film SETAN JAWA (2016), namun di film terbarunya ini memiliki banyak hal baru yang belum ditemukan dalam sejarah perfilman Indonesia.
Aku berkesempatan untuk menonton lebih dulu film SAMSARA (2024) di bioskop pada perhelatan Jogja NETPAC Asian Film Festival pada 30 November - 7 Desember 2024 lalu di Yogyakarta. Film SAMSARA (2024) terpilih menjadi film pembuka JAFF Jogja yang ke-19. Setelah menonton di bioskop, aku juga mendapat kesempatan untuk menonton Cine-Concert SAMSARA (2024) yang sukses digelar pada 13-15 Desember kemarin di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini Jakarta Pusat. Menonton dua kali film SAMSARA (2024) dengan format yang berbeda tentunya menciptakan experience tersendiri yang selama ini belum pernah aku rasakan sebagai penonton dan pecinta film Indonesia.


Untuk segi cerita, SAMSARA (2024) sendiri menjadi salah satu film karya Garin Nugroho yang cukup mudah diikuti alur ceritanya dan tidak se arthouse biasanya. Premis sederhana tentang melakukan ritual perjanjian gaib demi mengejar cinta sudah sering sekali kita temukan baik dalam film, ftv, sinetron maupun serial. Premis simple tersebut ternyata bisa menjadi sajian yang sangat memukau oleh seorang Garin Nugroho. Budaya dan keindahan Bali tempo dulu tervisualkan dengan luar biasa dalam film ini. Unsur magis dan kesan mistis tentang Siluman Raja Monyet juga terasa sangat maksimal disepanjang film. Salah satu adegan yang mengesankan bagiku yaitu saat pertama kali Darta masuk ke kerajaan monyet tersebut. Merinding banget!
Konsep film bisu dengan format hitam putih yang digunakan film SAMSARA (2024) ini seolah menjadi sebuah penghormatan bagi film-film klasik di era tahun 1930an. Selain itu, hadirnya film ini juga bisa disebut sebagai terobosan dari sang sutradara yang berani untuk mundur dengan konsep jadul ditengah perkembangan pesat dan canggihnya teknologi di industri sinema seperti saat ini. Yang menjadi daya tarik selanjutnya dari film ini yaitu kolaborasi musik tak lazim antara musik tradisional dengan musik elektronik modern! Lalu bagaimana dengan hasilnya? Wow! Sungguh mengesankan! Perpaduan suara gamelan yang dimainkan oleh Tim Gamelan Yuganada memberikan sentuhan magis dan sakral disepanjang film. Tempo dan alunannya makin lengkap sekaligus mencengangkan saat berkat sentuhan musik elektrik dari Gabber Modus Operandi.
Untuk jajaran pemain, penampilan Ario Bayu, Juliet Burnett dan para pendukung lainnya sukses menunjukkan kualitas akting mereka meskipun tanpa dialog sama sekali. Gesture tubuh, ekspresi muka hingga tarian bernuansa magis yang sangat Bali banget bisa tersampaikan dengan baik kepada penonton, sehingga alur cerita serta maksud dan tujuan dari film ini mudah dipahami. Jadi tak heran di Festival Film Indonesia 2024 kemarin, film SAMSARA (2024) berhasil memenangkan 4 Piala Citra untuk kategori Sutradara Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Penata Musik Terbaik dan Penata Busana Terbaik. Segera tayang hanya di bioskop tahun 2025!


[9/10Bintang]

Wednesday, 4 December 2024

[Review] Cinta Tak Seindah Drama Korea: Keseruan Tak Terduga Tiga Sahabat Saat Liburan!



#Description:
Title: Cinta Tak Seindah Drama Korea (2024)
Casts: Lutesha, Jerome Kurnia, Ganindra Bimo, Dea Panendra, Anya Geraldine, Rafly Altama, Sadha Triyudha, Seong Byeong-Suk, Unique Priscilla, Gary Iskak, Miller Khan, Izabel Jahja
Director: Meira Anastasia
Studio: Imajinari Pictures


#Synopsis:
Sedari dulu, Dhea (Lutesha) dan kedua sahabatnya yaitu Kikan (Dea Panendra) dan Tara (Anya Geraldine) memiliki rencana untuk liburan bareng ke Korea Selatan. Namun yang terjadi, Dhea justru akan segera berliburan kesana bersama dengan sang pacar yaitu Bimo (Ganindra Bimo), tanpa kedua temannya itu. Disaat Dhea merasa bersalah dan punya perasaan tak enak hati, tiba-tiba saja Kikan dan Tara muncul di bandara menemui Dhea. Rupanya Bimo memberikan kejutan kepada Dhea dengan memberikan tiket liburan untuk Dhea, Kikan dan Tara ke Korea Selatan. Meskipun kaget, Dhea sangat senang akhirnya wishlist mereka untuk liburan bareng ke negara impian terwujud.
Tiba di Korea Selatan, Dhea, Kikan dan Tara langsung berteriak histeris sambil berkeliling menyusuri setiap sudut kota sambil mencicipi kuliner khas yang ada disana. Tak terasa waktu sudah malam hari. Ketiganya melanjutkan berwisata kuliner tendaan sambil minum Soju. Karena Kikan mabuk berat, mereka langsung segera pulang ke hotel. Dhea terkejut ternyata dompet miliknya tertinggal di tempat makan tadi. Saat ia kembali kesana untuk mengambil dompet, Dhea bertemu dengan Julian (Jerome Kurnia), cinta pertama semasa SMA yang sudah empat tahun hilang tanpa kabar.
Julian pun meminta waktu sebentar untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ia terpaksa pergi tanpa memberi kabar kepada Dhea ketika mereka masih SMA. Kala itu, Julian merasa tidak pantas sebagai pacar bagi Dhea karena berasal dari keluarga yang memiliki permasalahan pelik. Pekerjaan ayahnya (Gery Iskak) yang mengharuskan pindah tempat dan sering mendapat kekerasan jika Julian dan ibunya (Unique Priscilla) tidak mengikuti perintah sang ayah. Julian pun akhirnya memutuskan untuk pergi bersama sang ibu ke Korea Selatan dan tinggal di rumah kerabat sang ibu yaitu Imo (Seong Byeong-Suk).
Pertemuan tak sengaja dengan Dhea membuat Julian sangat yakin jika mereka ditakdirkan untuk kembali menjalin hubungan asmara. Namun sayang, Dhea kini sudah memiliki pacar yaitu Bimo yang sangat menyayanginya. Julian kemudian menawarkan pada Dhea sebagai tour guide selama berliburan di Korea Selatan.
Keesokan harinya, Dhea menceritakan tentang pertemuannya dengan Julian kepada Kikan dan Tara. Dhea juga bersedia Julian jadi tour guide mereka selama disana. Mendengar hal tersebut membuat Tara kesal. Dhea seperti tidak bisa menjaga perasaan dan menghargai pacarnya sendiri yaitu Bimo yang sudah memberikan fasilitas dan akomodasi untuk liburan mereka bertiga. Dhea pun berjanji, kehadiran Julian hanya sebatas sebagai tour guide dan teman saja. Selama berwisata di Korea Selatan, tak jarang moment-moment kecil muncul antara Dhea dengan Julian. Tara langsung dengan sigap memisahkan mereka berdua.
Waktu terus berlalu. Persahabatan Dhea, Kikan dan Tara mulai diwarnai konflik dari mereka masing-masing. Selain Dhea yang bertemu lagi dengan cinta pertamanya, Kikan menghadapi rasa insecure sebagai ibu rumah tangga dengan tiga anak serta Tara yang harus menghadapi permasalahan dari talent nya di Jakarta. Sementara itu, Bimo yang berada di Jakarta memutuskan terbang ke Korea Selatan setelah mengetahui tentang Julian dari adik Dhea yaitu Sakti (Rafly Altama). Bagaimana nasib Dhea selanjutnya? Kemanakah hatinya akan berlabuh?


#Review:
Imajinari Pictures kembali merilis film drama terbaru di awal Desember tahun ini berjudul CINTA TAK SEINDAH DRAMA KOREA (2024). Film ini menjadi debut bagi istri dari Ernest Prakasa yaitu Meira Anastasia sebagai sutradara film layar lebar, setelah sebelumnya Teh Meira lebih dikenal sebagai penulis novel dan skenario film.


Aku berkesempatan untuk menonton film CINTA TAK SEINDAH DRAKOR (2024) sebanyak dua kali dalam waktu yang berdekatan pada press screening dan premiere di Jogja NETPAC Asian Film Festival 2024. Pada kesempatan tersebut, Teh Meira menceritakan ide cerita film ini berasal dari kecintaan dirinya menonton drama Korea Selatan ketika Pandemi CoVid-19 melanda dunia beberapa tahun yang lalu. Kala itu, ditengah situasi genting tersebut, satu-satunya hiburan Teh Meira dan para pecinta K-Pop di seluruh dunia hanya menonton film atau drama Korea Selatan yang memang dikenal punya kualitas bagus. Bermula dari situlah, Teh Meira akhirnya menggarap cerita drama percintaan dengan taste ala-ala Drakor.


H-1 JAFF Jogja nonton duluan CTSDK!

Untuk segi cerita, film CINTA TAK SEINDAH DRAKOR (2024) memang sangat terasa menggunakan treatment khas Drakor. Namun yang membuatku tertarik, persahabatan tiga karakter di sini tampil sangat menghibur sekaligus saling melengkapi satu sama lain. Karakter Dhea, Kikan dan Tara berhasil merepresentasikan fans Drakor yang ceria dan riang saat mereka pertama kali tiba di Korea Selatan. Moment-moment khas wisatawan yang mereka lakukan sukses memancing tawa penonton. Paruh awal film dieksekusi dengan sangat baik dengan ditambah adanya adegan flashback jaman mereka masih SMA yang dimana, transisinya sangat rapi dan tidak mengganggu plot utama tentang Dhea dengan Julian. Memasuki bagian pertengahan, konflik semakin menarik karena persahabatan mereka bertiga diuji dengan berbagai masalah. Namun sayang, subplot tambahan yang muncul malah kebanyakan. Alhasil, film CINTA TAK SEINDAH DRAKOR (2024) ini terlalu banyak hal yang ingin disampaikan. Contohnya: subplot dari karakter Kikan tentang insecure terhadap kondisi fisiknya setelah ia menjadi ibu rumah tangga dengan tiga anak. Eksekusinya, jujur sangat bagus berkat penampilan duo maut Dea Panendra dan Sadha Triyudha. Namun kehadiran subplot ini menurutku tidak terlalu nge-blend dengan cerita utama. Ditambah lagi subplot tentang manager heroik dari karakter Tara, lalu disatukan dengan subplot menggemaskan dengan Sakti, kemudian subplot masa lalu dari Julian dan hingga plot twist sangat menghentak dari karakter Bimo. Semua hal tersebut terasa menumpuk jadi satu dan membuat penonton merasa penuh banget aja gitu. Mungkin jika CINTA TAK SEINDAH DRAKOR (2024) disajikan sebagai serial pasti akan lebih ngena dan pas dengan segala subplot yang ditawarkan tadi.


Day 2 JAFF Jogja nonton lagi CTSDK!

Untuk jajaran pemain, film CINTA TAK SEINDAH DRAKOR (2024) ini boleh dibilang punya ensemble casts yang memuaskan di tahun ini. Teh Meira berhasil membuktikan sosok Lutesha dan Ganindra Bimo yang selama ini identik sebagai aktor spesialis film-film action, thriller dengan aura depresif, tiba-tiba berubah drastis di film ini. Aura cheerful, bahagia, penuh cinta dari keduanya tersampaikan dengan maksimal lewat karakter Dhea dan juga Bimo. Selain itu, pesona Jerome Kurnia di film ini pun lagi-lagi dan selalu bersinar terang menghipnotis para penonton. Penampilan Dea Panendra, Anya Geraldine dan Rafly Altama juga tak kalah mencuri perhatian sekaligus melengkapi betapa serunya film CINTA TAK SEINDAH DRAKOR (2024) ini.
Overall, film CINTA TAK SEINDAH DRAMA KOREA (2024) bisa banget masuk sebagai salah satu film terfavorit di tahun ini. Sajian (terlalu) lengkap tentang drama, romantis, komedi dan haru! Aku yakin Teh Meira Anastasia bakal jadi the next big thing sebagai sutradara perempuan di Indonesia! Big love and big hug for Teh Meira, Lutesha, Jerome Kurnia dan seluruh casts lainnya!


[8/10Bintang]