#Description:
Title: Ghost In The Cell (2026)
Title: Ghost In The Cell (2026)
Casts: Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Bront Paralae, Dimas Danang, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming Sugandhi, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Kiki Narendra, Haydar Salishz, Arswendy Beningswara, Dewa Dayana, Ical Tanjung, Farrell Rafisqy, Radja Nasution, Marissa Anita
Director: Joko Anwar
Studio: Come and See Pictures, Rapi Films, Legacy Pictures, Barunson E&A
#Synopsis:
Setelah melakukan penelusuran di kawasan hutan bernama Nehea yang ada di Kalimantan untuk keperluan artikel berita, seorang jurnalis sekaligus editor yaitu Dimas (Endy Arfian), dikejar deadline oleh pemimpin redaksi di kantornya untuk segera menerbitkan artikel tentang perusahaan tambang nikel milik anak dari wakil presiden Indonesia yang melakukan penebangan hutan secara ilegal di sana. Namun sayang, hasil penelusuran yang dilakukan Dimas justru menemukan banyak keanehan. Selain luas wilayah hutan yang ditebang tidak sesuai dengan yang dilaporkan, ia juga mendapat kabar jika tak sedikit warga sekitar dan para pekerja tambang di sana yang hilang secara misterius. Informasi yang didapatkannya itu membuat Pemred Pak Endy (Rio Dewanto) marah besar. Ia menyuruh Dimas segera merevisinya agar tidak fokus pada hal-hal mistis tersebut.
Dimas pun langsung merevisi artikel beritanya sesuai permintaan Pak Endy. Setelah selesai, Dimas terkejut saat masuk ke ruangan Pemred, ia menemukan Pak Endy tewas secara mengenaskan di ruangannya. Karena tidak ada saksi dan Dimas jadi orang pertama yang menemukan jasad Pak Endy, ia dinyatakan jadi tersangka kasus pembunuhan sadis Pak Endy dan langsung dijebloskan ke penjara. Dimas dan narapidana lain yang ada di kantor polisi langsung dibawa ke penjara Lapas Labuhan Angsana untuk menjalani hukuman di sana.
Tiba di penjara, Dimas langsung melalui serangkaian pengecekan fisik yang dilakukan oleh para sipir. Setelah itu, ia bertemu dengan Irfan (Dimas Danang), salah satu narapidana di sana yang diminta untuk memandu Dimas berkeliling ke setiap sudut penjara. Irfan sendiri merupakan tersangka kasus penipuan melalui telepon yang sudah menelan banyak korban. Selama berkeliling, Irfan meminta Dimas agar tidak kemana-mana sendirian dan harus ikut berkelompok supaya aman. Di penjara, Irfan berkelompok dengan Anggoro (Abimana Aryasatya), tersangka kasus perampokan rumah pejabat karena tanah dan rumahnya digusur secara ilegal. Lalu ada Pendi (Lukman Sardi) dosen kampus yang dijebak karena tidak mau terlibat kasus korupsi, Wildan (Mike Lucock) tersangka kasus penipuan penggandaan uang. Terakhir yaitu Six (Yoga Pratama), tersangka penipuan yang merugikan korban miliaran rupiah.
Anggoro sendiri dikenal sebagai narapidana yang selalu peduli dan membela napi-napi lain yang mendapat perlakuan tidak adil baik dari sesama napi maupun para sipir di sana. Sikap Anggoro tersebut rupanya sangat dibenci oleh kepala sipir yaitu Jefry (Bront Paralae) dan beberapa napi mafia anak buah dari Koh Rendra (Ho Yuhang) yaitu Bimo (Morgan Oey), Tokek (Aming), Bucky (Almanzo Konoralma) dan Bambang (Ical Tanjung).
Setelah selesai berkeliling penjara, Dimas mendapatkan sel tahanan bersama dengan Tokek, salah satu napi yang ditakuti karena sikap anehnya. Tokek juga diam-diam tertarik pada Dimas karena terlihat polos dan penampilannya tidak seperti penjahat. Sebelum masuk ke sel tahanan masing-masing, Irfan dan Anggoro meminta Dimas untuk selalu waspada terhadap Tokek.
Waktu terus berlalu. Dimas masih selamat dari godaan Tokek karena pada malam itu Tokek mabuk berat. Saat para napi sedang membersihkan diri, Tokek lagi-lagi berusaha menggoda Dimas. Untungnya Anggoro dan yang lainnya ada di sana dan menolong Dimas agar tidak lagi diganggu Tokek. Setelah selesai, semua narapidana kembali ke sel tahanan dan menjalankan tugas mereka masing-masing. Saat Six sedang menyapu di depan sel tahanan, ia melihat Tokek berjalan menuju sel nya dari tempat bilas tanpa mengenakan pakaian. Saat Six mendekati sel tahanan Tokek, ia terkejut karena Tokek tidak ada di sana. Tak lama setelah itu, terdengar teriakan kencang dari salah satu napi di tempat bilas. Para napi lain dan sipir langsung berlari ke sana. Mereka terkejut menemukan Tokek tewas dengan cara yang sangat mengenaskan.
Kematian Tokek membuat Jefry dan kepala pengelola penjara yaitu Pak Sapto (Kiki Narendra) khawatir akan jabatan mereka. Jika kabar tewasnya napi sampai ketahuan polisi dan media, akan berdampak buruk kepada mereka berdua dan juga para napi koruptor di Blok K yang selama ini dikenal sebagai narapidana eksklusif. Jefry kemudian mengumpulkan semua napi dan memaksa pelaku pembunuh Tokek untuk mengakui perbuatannya. Namun para napi memang tidak ada yang melakukan hal keji tersebut. Jefry dan para sipir lain kemudian menghukum semua napi dengan tidak menyediakan makanan selama seharian. Sementara itu, Pak Sapto menutupi kejadian tersebut agar napi yang paling disegani oleh Pak Sapto di Blok K yaitu Prakasa Kitabuming (Arswendy Bening Swara) dan napi eksklusif lainnya tidak ketakutan.
Seiring berjalannya waktu. Six yang kesehatannya kembali pulih semakin sensitif merasakan hal-hal aneh di penjara. Selain itu, kemampuan Six dalam membaca aura orang lain juga semakin menguat. Hal tersebut terbukti setelah terjadi lagi kematian tragis dari beberapa napi yang menciptakan suasana mencekam di penjara. Six, Anggoro, Irfan, Pendi dan Wildan meyakini jika semua kematian yang terjadi di sana setelah Dimas datang. Para napi lain pun jadi curiga jika Dimas menjadi penyebab dan yang membawa malapetaka ke dalam penjara. Setelah mempelajari pola kematian dari para napi, Six meyakini jika kematian brutal yang terjadi di penjara karena para korban tersebut memiliki aura berwarna merah yang menandakan adanya emosi dan amarah besar. Six, Anggoro, Irfan, Pendi, Wildan dan para napi lain kemudian sepakat untuk kerja sama agar sosok gaib yang gentayangan di penjara itu tak lagi menjemput ajal mereka yang tersisa. Berhasil kah mereka?
#Review:
Sutradara Joko Anwar kembali hadir dan meramaikan industri perfilman Indonesia dengan merilis film terbarunya yang berjudul GHOST IN THE CELL (2026). Menariknya, sebelum tayang di Indonesia, film ke-12 dari Joko Anwar ini sukses menggelar world premiere perdana di Berlinale International Film Festival pada bulan Februari kemarin dan mendapat respon sangat positif dari penonton di sana.
Untuk segi cerita, film GHOST IN THE CELL (2026) memadukan tiga genre utama yaitu komedi, horror dan sedikit sentuhan action di dalamnya. Ketiga genre tersebut berhasil disatukan oleh Joko Anwar lewat plot survival para narapidana dan mengungkap misteri sosok gaib yang mengincar nyawa mereka. Jika berkaca pada track record filmography Joko Anwar, penonton pasti punya pemikiran jika elemen horror dan kesan serius akan mendominasi film ini. Namun siapa sangka, Joko Anwar justru menyajikan film GHOST IN THE CELL (2026) penuh dengan komedi satir yang mengkritik kondisi sosial, budaya, politik dan pemerintahan Indonesia saat ini. Tidak tanggung-tanggung hampir semua dialog dari para karakter selalu "ngeri-ngeri sedap" bikin penonton tertawa kencang. Saking ironisnya, kok terlalu relatable dengan kondisi sekarang di Indonesia. Selain melalui celetukan-celetukan "pedas" nya, Joko Anwar juga turut memelesetkan nama-nama besar yang penonton bisa langsung paham itu siapa saja hahaha. Konsistensi jokes yang mengkritik tersebut terasa disepanjang durasi, dari awal sampai akhir film. Untuk sebagian orang, mungkin akan terasa too much karena di beberapa dialog, terlihat so asik sendiri. Apalagi di beberapa adegan yang melibatkan karakter Tokek cukup sensitif karena mengarah ke sexual harrasment.
Ketika elemen horror mulai dimunculkan lewat serangkaian terror kematian, plot cerita tidak langsung menjelaskan apa yang terjadi agar kebingungan dari para karakter napi di penjara tampil believable. Alhasil, penonton jadi dibuat penasaran dengan penyebab semua kekacauan yang terjadi di sana. Ketika para napi menyadari satu-satunya cara untuk mencegah kematian lewat konsep aura dalam diri manusia, plot kembali bersenang-senang lewat kombinasi action dan komedi. Kapan lagi coba bisa melihat para aktor sangar pada gelut sambil melakukan hal-hal konyol wkwkwk. Eksekusi horror nya pun tidak penuh dengan jump scared dan penampakan berkali-kali. Joko Anwar bermain-main dengan elemen gore secara brutal sekaligus artsy. Seperti biasanya, setelah selesai nonton, muncul berbagai pertanyaan menarik yang jadi bahan diskusi panjang dari penonton dan penggemar setia film-filmnya Joko Anwar. Mengapa kematian brutal mereka dibuat artistik layaknya instalasi seni. Apakah sosok gaib yang gentayangan dan balas dendam di sana adalah seorang seniman? Hahaha.
Untuk jajaran pemain, hampir semuanya berhasil memancarkan pesona dan kelebihan mereka masing-masing. Nama-nama aktor yang sering dijuluki "Kartap nya Joko Anwar" selalu konsisten memberikan penampilan terbaik di film GHOST IN THE CELL (2026). Sebut saja, Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Yoga Pratama, Lukman Sardi, Bront Paralae, Morgan Oey, Kiki Narendra, Mike Lucock hingga Aming, mereka semua tampil having fun tanpa jaim sama sekali di film ini. Adegan fighting dan latihan menari jadi salah scene paling lucu! Hahaha.
Untuk urusan visual dan audio, film GHOST IN THE CELL (2026) tampil memukau. Sinematografi khas Joko Anwar semakin didukung dengan artistik dan wardrobe yang keren. Set penjara yang sepertinya masih sama dengan set film PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI (2025) jadi mengingatkanku akan film bertema penjara namun bergenre drama tearjerker yaitu MIRACLE IN CELL NO. 7 (2022) versi remake oleh Falcon Pictures. Hahaha. Untuk sisi efek visual, dari awal sampai pertengahan sih berjalan sangat mulus, namun entah kenapa saat memasuki akhir film, CGI dan visualnya mengalami penurunan, terutama saat adegan fighting melawan para napi preman di Blok K hingga akhir film.
Overall, film GHOST IN THE CELL (2026) berhasil menyajikan cerita komedi, horror yang sangat brutal dalam mengangkat berbagai keresahan dari penonton dan juga Warga Negara Indonesia. Definisi having fun dengan sarkasme yang berkesan!
[9/10Bintang]










0 comments:
Post a Comment