Saturday, 30 November 2024

[Review] Venom 3 The Last Dance: Perpisahan Antara Eddie Brock dengan Symbiote Venom!

 


#Description:
Title: Venom: The Last Dance (2024)
Casts: Tom Hardy, Juno Temple, Chiwetel Ejiofor, Clark Backo, Rhys Ifans, Stephen Graham, Peggy Lu, Alanna Ubach, Hala Finley, Dash McCloud, Cristo Fernandez, Andy Serkis, Jared Abrahamson
Director: Kelly Marcel
Studio: Sony Pictures, Columbia Pictures, Marvel Entertainment


#Synopsis:
Usai pertempuran melawan Carnage (Woody Harrelson), Eddie Brock (Tom Hardy) beserta symbiote Venom yang ada dalam tubuhnya kini menjadi buronan pihak kepolisian kota New York. Eddie dinyatakan sebagai tersangka atas kematian Detektif Patrick Mulligan (Stephen Graham). Disisi lain, Eddie dan Venom turut dipantau oleh organisasi Imperium di wilayah Area 51 di Nevada yang sedang menjalankan program untuk penelitian symbiote di bumi usai kemunculan Venom dan juga Carnage. Program tersebut dipimpin oleh dua ilmuwan yaitu Dr. Teddy Paine (Juno Temple) dan Sadie (Clark Backo), serta diawasi secara langsung dari perwakilan pemerintah yaitu Rex Strickland (Chiwetel Ejiofor).
Selain dinyatakan sebagai buronan pihak kepolisian dan dipantau oleh organisasi Imperium, Eddie dan Venom juga diburu oleh monster alien bernama Xenophage. Monster tersebut diutus oleh pencipta symbiote di alam semesta yaitu Knull (Andy Serkis) yang selama ini terkurung di planet Klyntar, tempat asal seluruh symbiote yang kini tersebar di seluruh alam semesta. Satu-satunya cara bagi Knull untuk keluar dari planet Klyntar yaitu dengan menggunakan sebuah energi bernama Codex yang berisikan energi bonding dari symbiote dan inangnya. Codex yang diincar oleh Knull yaitu yang dimiliki oleh Venom dan juga Eddie di bumi.
Ketika Eddie berubah wujud menjadi Venom, seketika langsung terdeteksi dan diburu oleh Xenophage. Disaat yang bersamaan Eddie juga harus menghadapi pasukan dari Imperium yang berusaha memisahkan dirinya dengan Venom. Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan. Eddie dan Venom berhasil lolos dari kejaran Xenophage dan terdampar di sebuah gurun. Untuk sementara waktu Venom terpaksa menahan diri untuk tidak keluar dari tubuh Eddie agar tak menimbulkan masalah. Eddie pun berencana untuk segera kembali ke New York untuk bersembunyi dan menjauh dari hal-hal berbahaya. Tak lama kemudian, Eddie bertemu dengan keluarga Martin Moon (Rhys Ifans) berserta istri dan kedua anaknya yang sedang piknik untuk melihat Area 51, karena mereka semua sangat antusias terhadap hal-hal kosmik dan alien. Kehadiran Eddie disambut hangat oleh keluarga Martin dan mereka pun memberikan tumpangan pada Eddie yang ingin menuju Las Vegas.
Tiba di Las Vegas, Eddie harus secepatnya bersembunyi sekaligus mencari uang dengan cepat. Ia pun langsung masuk ke kasino yang ada disana dan tak sengaja bertemu lagi dengan Mrs. Chen (Peggy Lu) yang sedang berliburan disana. Venom sangat senang bisa melihat Mrs. Chen dan mengajaknya untuk berdansa. Saat Eddie berubah menjadi Venom dan berdansa di penthouse yang disewa Mrs. Chen, Xenophage mendeteksinya dan langsung mengejar Venom. Untungnya, Venom langsung bersembunyi sehingga tidak ketahuan oleh Xenophage. Namun sayang, Rex dan pasukannya juga datang dan langsung menangkap Eddie untuk dibawa menuju Area 51.
Ketika tersadar, Eddie terkejut karena Venom sudah dipisahkan dari dalam dirinya dan ia juga bertemu lagi dengan Patrick yang kembali hidup usai tubuhnya dijadikan inang oleh symbiote berwarna hijau berkat eksperimen dari organisasi Imperium. Symbiote yang ada dalam diri Patrick tersebut memberitahukan satu-satunya cara agar Knull tidak lepas dari kurungannya yaitu dengan cara menghancurkan Codex jika salah satu dari Eddie atau Venom yang mati.
Situasi di Area 51 jadi kacau setelah Xenophage muncul dan berusaha merenggut Eddie dan juga Venom yang kembali bersatu. Teddy, Sadie, Rex dan para petugas disana kemudian membebaskan para symbiote untuk membantu Venom melawan Xenophage. Para symbiote tersebut bekerja sama dan saling melindungi satu sama lain termasuk orang-orang yang ada disana agar tidak terkena serangan dari Xenophage. Bagaimana nasib Eddie dan Venom selanjutnya?


#Review:
Film yang digadang-gadang menjadi penutup dari Trilogy VENOM (2018) berjudul VENOM THE LAST DANCE (2024) akhirnya tayang di bioskop Indonesia mulai, 23 Oktober 2024 lalu. Meskipun masih mendapatkan score tomatomater rendah di Rotten Tomatoes, namun menariknya ketiga film VENOM yang sudah dirilis di bioskop ini konsisten mendapat score audiens yang memuaskan yaitu diatas 80%. Sebagai pecinta film-film live action superhero yang diadaptasi dari Marvel Comic, tentunya aku masih mengapresiasi dan bisa menikmati semua film-film Sony's Spider-Man Universe kok.



Untuk segi cerita, film VENOM 3 (2024) memang terasa lanjutan banget dari film kedua. Sempat menampilkan adegan Multiverse MCU di credit scene film keduanya, nah di lanjutannya kali ini, Sony Pictures mengambil langkah untuk mengembalikan Eddie Brock dan Venom ke universe nya sendiri untuk menyelesaikan konflik baru yang sangat berbahaya. Ditangan Kelly Marcel yang sebelumnya duduk sebagai penulis skenario dan kini sebagai sutradara, film VENOM 3 (2024) menampilkan sosok villain yang semakin besar sekaligus berbahaya dari dua film sebelumnya. Namun sayang, karakter Knull yang ditampilkan di film penutup Venom Tom Hardy disini malah sebatas teasing saja dan diganti dengan pasukan monster alien Xenophage. Selain itu, paruh awal film dari VENOM 3 (2024) juga menurutku terasa disesaki banyak karakter dan tidak terlalu nge-bonding maksimal dengan Eddie dan juga Venom. Plot kehadiran rombongan keluarga alien enthusiast disini juga terasa dipaksakan untuk ada. Untungnya, saat memasuki pertengahan film, keseruan dan kelucuan bromance antara Eddie dengan Venom kembali hadir. Setiap interaksi mereka selalu berhasil membuatku tertawa. Jokes reference keduanya asik banget. Yang tak kalah menarik, film ini juga menampilkan daya tarik tersendiri lewat adegan transformasi symbiote Venom saat berpindah-pindah ke makhluk hidup selain manusia. Tak boleh dilupakan juga moment gotong royong para symbiote yang berusaha mengalahkan Xenophage yang sedikit mengingatkan penonton akan adegan-adegan epic ensemble para superhero di film-film MCU. Klimaks cerita ditutup antara Eddie dengan Venom pun surprisingly memuaskan dan cukup emosional. Siapa sangka aku bisa terharu juga saat keduanya memutuskan untuk berpisah. Ditambah lagi sang sutradara menampilkan cuplikan-cuplikan flashback kebersamaan antara mereka berdua. Lucu sekaligus bikin haru!


Untuk jajaran pemain, Tom Hardy memang memberikan energi besar untuk ketiga film VENOM ini. Karakter Eddie Brock memang sangat pas diperankan olehnya. Meskipun kali ini karakternya tidak mendapatkan porsi drama asmara, tapi moment heroik dari Venom jadi lebih menonjol, khususnya saat memasuki babak akhir film. Jajaran pemain pendukungnya pun sebetulnya punya banyak sekali potensi untuk dikembangkan namun sang sutradara memilih jalur aman dan lebih memfokuskan diri terhadap karakter utama saja.
Untuk urusan visual, film VENOM 3 (2024) berada di level yang tidak mengecewakan. Setiap adegan action dan efek visual dari para symbiote nya semakin terlihat realistis. Moment di dalam air dan pesawat sukses membuatku terpukau! Oh iya, penggunaan lagu-lagu populer mulai dari Don't Stop Me Now nya Queen, Wild World dari Cat Stevens, lalu Memories nya Maroon 5 hingga Dancing Queen nya ABBA semakin memeriahkan setiap adegan yang ada dalam film ini. Overall, film VENOM THE LAST DANCE (2024) tampil tidak buruk dan ditutup dengan cara yang lumayan emosional! Keren!


[8/10Bintang]

Monday, 25 November 2024

[Review] Cinta Dalam Ikhlas: Drama Percintaan Remaja Muslim Yang Sangat Inspiratif!



#Description:
Title: Cinta Dalam Ikhlas (2024)
Casts: Abun Sungkar, Adhisty Zara, Omar Daniel, Maizura, Zoe Abbas Jackson, Alif Rivelino, Cut Mini, Donny Damara, Elang El-Gibran, Izzati Khansa, David Chalik, Eksanti, Tike Priatnakusumah
Director: Fajar Bustomi
Studio: Starvision Plus


#Synopsis:
Bintang Atharisena Firdaus (Abun Sungkar) masuk SMA yang sudah dipilih oleh ibunya, yaitu Ibu Ratih (Cut Mini) dengan harapan Athar bisa seperti almarhum sang suami dan juga almarhumah anak pertamanya yang dulu bersekolah disana. Di sekolah barunya ini, Athar memilih untuk fokus bermusik dengan membentuk grup band bersama teman-temannya. Ia bercita-cita ingin menjadi seorang seniman musik yang karyanya dikenal luas. Karena terlalu sibuk dengan urusan musik dan juga sering main bersama grup band nya, Athar jadi tidak fokus terhadap sekolahnya. Ia sering mendapat hukuman dari guru dan juga nilai-nilai akademiknya jelek. Selain itu, penampilan Athar yang berambut gondrong dan tidak rapi membuatnya sering diomeli oleh wali kelas dan guru.
Suatu hari, Athar tak sengaja beradu tatap mata dengan siswi SMA ketika sedang upacara. Perempuan tersebut sukses membuat Athar terpesona karena kecantikannya. Setelah selesai upacara, Athar terkejut karena perempuan tadi satu kelas dengannya. Perempuan tersebut bernama Aurora Cinta Purnama (Adhisty Zara) yang merupakan siswi baru pindahan dari Bandung. Selama belajar, Athar dibuat kagum dengan kecantikan Ara yang mengenakan hijab. Athar jadi punya cita-cita setelah lulus SMA nanti akan mengajak Ara untuk menikah.
Mendengar impian Athar tersebut membuat teman sekelasnya yaitu Mamat (Alif Rivelino) tertawa. Mamat tak yakin Ara mau dengan Athar yang selama ini dikenal sebagai siswa yang sering telat, nongkrong dan jarang mengerjakan tugas di kelas. Mamat menyarankan Athar untuk berhijrah jika ingin mendapatkan perempuan sholehah seperti Ara. Karena termotivasi, Athar mengikuti saran dari Mamat untuk menjadi sosok pria yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Perubahan yang dilakukan Athar tersebut turut membuat ibu dan adiknya senang. Athar mengikuti ekstrakurikuler Rohis, makin giat belajar dan berpakaian lebih rapi dari biasanya. Atas usahanya tersebut, nilai-nilai akademik nya mengalami kenaikan drastis. Athar kini jadi salah satu siswa berprestasi di sekolah dengan nilai yang memuaskan. Melihat perubahan Athar yang semakin lebih baik membuat Ara ikut senang. Athar pun semakin yakin untuk mengungkapkan perasaannya pada Ara sebelum mereka lulus sekolah.
Saat hari kelulusan sekolah, apa yang diharapkan oleh Athar tidak sesuai dengan kenyataan. Ara belum bisa menjalin hubungan dengan orang lain karena ia ingin mengejar cita-cita untuk melanjutkan pendidikan kuliah di Jakarta. Ara juga menyarankan Athar untuk sama seperti dirinya mengejar cita-cita terlebih dahulu. Ara yakin jika mereka berjodoh, Insyaallah mereka berdua akan dipertemukan kembali di kemudian hari. Mendengar keputusan yang diberikan oleh Ara membuat Athar tak bisa berbuat banyak. Ia mengikhlaskan jika saat ini keduanya belum bisa berjodoh. Athar pun berjanji akan jika ia sudah selesai kuliah dan mendapat pekerjaan yang layak, akan kembali mencari Ara untuk dijadikan sebagai istri.
Athar yang kini sudah lulus SMA kemudian melanjutkan kuliah di Bandung. Mamat pun menyarankan kepada Athar untuk tinggal di kontrakan sahabatnya yang ada disana yaitu Maulana Zein (Omar Daniel) dan Eko Jobs (Elang El-Gibran). Kepergian Athar ke Bandung membuat Ibu Ratih dan adik perempuan Athar yaitu Tiara (Izzati Khansa) bersedih. Athar berjanji selama ia kuliah di Bandung tidak akan merepotkan sang ibu dan jika ada waktu luang pasti akan menyempatkan pulang ke rumah.
Tiba di Bandung, Athar merasa sangat bersyukur karena bisa kenal dengan Zein dan juga Eko. Mereka menyambut dengan hangat kehadiran Athar dan mempersilahkannya untuk tinggal di rumah kontrakan. Untuk membalas budi kebaikan mereka, Athar siap membantu usaha jualan pakaian muslim yang dikelola oleh Zein dan Eko.
Selain disibukkan dengan tugas kuliah, Athar pun rutin ikut berjualan pakaian muslim bersama Zein dan Eko. Hingga suatu ketika, lapak jualan mereka hampir saja diamankan oleh Satpol PP. Athar tak sengaja bertemu lagi dengan Pak Farhan (Donny Damara) yang ternyata mengelola bisnis pakaian muslimah bersama dengan anaknya, Salsabilla (Zoe Abbas Jackson). Setelah pertemuan tak sengaja itu, Athar kemudian mengenalkan Pak Farhan kepada Zein yang sama-sama berbisnis pakaian muslim. Pak Farhan tertarik untuk mengajak Athar dan Zein mengelola bisnis bersama. Hasil penjualan dan keuntungan pun akan dibagikan secara adil oleh Pak Farhan kepada mereka berdua.
Perlahan tapi pasti, kehadiran Athar dan Zein dalam bisnis yang dikelola Salsabilla membuat angka penjualan mengalami peningkatan yang signifikan. Dari bisnis pakaian muslim yang mereka kelola, Athar dan Zein kini memiliki penghasilan yang digunakan untuk keperluan kuliah dan juga membahagiakan orang tua mereka. Disaat yang bersamaan, Zein dan Salsabilla terlihat saling menyukai satu sama lain. Sementara itu, Athar juga berkenalan dengan seorang perempuan cantik di kampusnya yaitu Lestari (Maizura). Tak membutuhkan waktu lama, Lestari kemudian mengajak Athar untuk bertaaruf. Hal tersebut membuat Athar dilema. Disatu sisi, ia masih mengharapkan Ara. Namun disisi lain, hadir sosok Lestari yang sudah memberanikan diri untuk mengajaknya menikah.
Perasaan dilematis semakin kompleks usai Athar bertemu lagi dengan Ara. Tak hanya itu saja, Athar harus menghadapi sebuah permintaan dari Pak Farhan yang membuatnya kebingungan dalam mengambil keputusan. Kepada siapakah hati Athar berlabuh?


#Review:
Rumah produksi Starvision Plus kembali hadir dengan membawa film bergenre drama religi terbaru yang berjudul CINTA DALAM IKHLAS (2024). Film ini diadaptasi dari novel best seller berjudul sama karya Kang Abay Adhitya. Jika biasanya film bergenre drama religi mayoritas dibintangi aktor aktris yang sudah berhijrah, di film yang disutradarai oleh Fajar Bustomi ini, ensemble casts pemainnya mayoritas aktor aktris muda dan bukan dari kalangan berhijrah.



Aku berkesempatan hadir di acara press conference dan gala premiere film CINTA DALAM IKHLAS (2024) yang sukses digelar pada Selasa, 19 November 2024 lalu di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Hal menarik diungkapkan oleh Fajar Bustomi selaku sutradara selama proses pengambilan gambar. Fajar mengaku proses produksi film ini berjalan sangat lancar serta diberi kemudahan berkat dukungan dari produser dan juga para pemain yang totalitas dalam memerankan karakter mereka masing-masing. Hal yang sama turut ungkapkan oleh penulis skenario film CINTA DALAM IKHLAS (2024) yaitu Oka Aurora. Pesan yang ingin disampaikan oleh penulis novel sendiri sangatlah sederhana, yaitu tentang cinta itu tak perlu berlebihan, jika takdirnya sudah berjodoh maka akan dipertemukan kembali. Abun Sungkar dan Adhisty Zara pun mengaku tak kesulitan untuk membangun chemistry karena sebelumnya mereka terlibat dalam beberapa project film maupun serial bersama. Abun Sungkar pun tak sungkan memuji perubahan dari penampilan lawan mainnya yang kini makin dewasa dan juga makin cantik ketika mengenakan hijab. Apresiasi Kang Abay dan sang istri pun mereka berikan kepada Adhisty Zara, Maizura dan Zoe Abbas Jackson yang terlihat makin cantik saat mereka mengenakan hijab.


Untuk segi cerita, film CINTA DALAM IKHLAS (2024) mempunyai premis sederhana tentang seorang remaja pria yang jatuh cinta dan berusaha memperbaiki diri jadi lebih baik demi mendapatkan cintanya. Proses hijrah yang dilalui oleh karakter Athar disini terasa believable dan tidak terkesan menggurui para penonton. Kolaborasi Fajar Bustomi, Oka Aurora dan Kang Abay disini berhasil memvisualkan jika elemen religi Islam dalam sebuah film itu tidak selamanya harus dieksploitasi berlebihan. Drama percintaan remaja soleh dan sholehah yang terjalin antara Athar, Ara, Zein dan Salsabilla jadi sangat menarik karena mereka berempat berhasil mendefinisikan makna tentang kesabaran, dan keikhlasan dalam menggapai cinta. Selain drama asmara yang dikemas sangat baik, film CINTA DALAM IKHLAS (2024) juga banyak menampilkan elemen-elemen positif tentang berbaktinya anak kepada orang tua, selalu berbuat baik kepada orang lain dan orang tua pun memberikan contoh yang sangat baik kepada anak mereka. Hampir disepanjang film, aku bisa merasakan vibes yang sangat positif dan juga banyak hal-hal yang dapat penonton ambil untuk dijadikan panutan. Apresiasi aku berikan kepada Oka Aurora yang bisa mengakhiri konflik serta plot twist film CINTA DALAM IKHLAS (2024) dengan sangat baik sekaligus membuat penonton lega.


Untuk jajaran pemain, penampilan Abun Sungkar dan Adhisty Zara benar-benar sukses mencuri perhatianku di sepanjang durasi film. Selama ini kedua aktor tersebut sangat identik sebagai Gen Z yang gaul dan populer dengan segala aktifitasnya di sosial media. Namun siapa sangka, saat Abun dan Zara memainkan karakter Athar dan Ara, mereka berhasil bertransformasi menjadi sosok yang sangat kalem, sholeh dan sholehah. Aura positif benar-benar terpancar dari mereka berdua, termasuk juga Maizura, Omar Daniel dan Zoe Abbas Jackson. Doa dan harapan positif pastinya timbul dari penonton saat melihat Adhisty Zara, Maizura dan Zoe Abbas Jackson yang Masyaallah.. Sangat-sangat cantik ketika mereka mengenakan hijab. Yang tak kalah menarik, deretan pemain pendukung lainnya juga tampil melengkapi kesempurnaan dari film ini. Applause pokoknya untuk Alif Rivelino, Cut Mini dan juga Donny Damara.
Overall, fiilm CINTA DALAM IKHLAS (2024) tampil memuaskan sebagai sajian drama religi romantis yang penuh dengan nilai-nilai positif di dalamnya. Salah satu film drama Indonesia terbaik di tahun ini!


[9/10Bintang]

Thursday, 21 November 2024

[Review] Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu: Drama Pemuda Seni Yang Jatuh Cinta Pada Seorang Wanita Yang Lebih Tua!




#Description:
Title: Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu (2024)
Casts: Ajil Ditto, Adinia Wirasti, Hanggini, Ciara Nadine Brosnan, Faiz Vishal, Gracia JKT48
Director: Kuntz Agus
Studio: MVP Pictures


#Synopsis:
Sadali (Ajil Ditto) sangat mencintai seni, terutama seni lukis. Setiap sudut rumah dan kamar penuh dengan coretan karyanya. Kecintaannya terhadap melukis tersebut membuat Sadali tertarik untuk melanjutkan kuliah seni di Yogyakarta. Meskipun ia berasal dari Bukittinggi, Padang tak membuatnya takut untuk merantau ke Pulau Jawa. Namun sebelum pergi ke Yogyakarta, Sadali sudah direncanakan oleh ayah dan ibunya untuk dijodohkan dengan Arnaza (Hanggini), gadis Minang cantik yang merupakan anak dari sahabat sang ibu. Awalnya Sadali menolak perjodohan tersebut, namun saat ia bertemu dengan Arnaza untuk yang pertama kali, ia langsung jatuh hati melihat kecantikan calon istrinya itu.
Beberapa minggu sebelum berangkat ke Yogyakarta, Sadali sering menghabiskan waktu bersama dengan Arnaza. Rasa cinta perlahan mulai tumbuh diantara mereka. Keduanya berkomitmen akan sering berkirim surat saat Sadali sudah merantau ke Yogyakarta untuk kuliah. Selain itu, Sadali juga berjanji setelah selesai kuliah, ia akan pulang ke Bukit Tinggi dan menikah dengan Arnaza.
Setelah menempuh perjalanan darat, akhirnya Sadali tiba di Yogyakarta. Ia sangat senang berada di kota yang selama ini dikenal sebagai kota lahirnya para seniman besar di Indonesia. Selain itu, Sadali juga resmi diterima menjadi mahasiswa baru di kampus impiannya yaitu Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saat berkeliling kampus, Sadali berkenalan dengan mahasiswa disana yaitu Budi (Faiz Vishal). Sadali pun meminta bantuan pada Budi untuk mencarikannya kost atau kontrakan untuk ditinggali. Sadali ingin menjadi mahasiswa seperti pada umumnya di perantauan dan tak mau numpang tinggal di kampus seperti mahasiswa-mahasiswa seni kebanyakan.
Budi kemudian membawa Sadali untuk mendatangi restoran dan galeri seni Tentrem yang dikelola oleh Mera (Adinia Wirasti), karena disana terdapat satu kamar kosong yang rencananya akan disewakan. Tiba di restoran dan galeri seni Tentrem, Sadali terpesona pada pandangan pertama saat melihat Mera. Selain itu, kecintaan Mera terhadap tanaman dengan merawat banyak sekali bunga membuat Sadali semakin tertarik pada Mera. Sadali pun langsung bersedia untuk menyewa kamar disana dan siap membantu Mera merawat semua tanaman dan menjaga restoran serta galeri Tentrem. 
Hari demi hari terus berlalu. Selain disibukkan dengan kegiatan belajar di kampus, Sadali juga terkadang memikirkan Mera. Ia berusaha mencari cara agar bisa sering berbincang dan bertemu dengan Mera. Tak jarang, Sadali sering memberikan sanjungan dan gombalan kecil kepada Mera. Disaat yang bersamaan pula, Sadali tak pernah lupa untuk berkirim surat kepada Arnaza di Bukittinggi. Sadali selalu menceritakan betapa senangnya ia bisa belajar banyak hal tentang seni di kota yang selama ini ia impikan untuk ditempati.
Suatu hari, Sadali terkejut saat mengetahui ternyata Mera sudah memiliki anak perempuan yang cantik bernama Kikan (Ciara Nadine Brosnan). Awalnya Sadali berniat mundur saat mengetahui Mera sudah memiliki anak dan juga suami. Namun saat mendengar penjelasan Budi soal Mera yang ternyata sedang dalam proses perceraian dengan suami bulenya yang berasal dari Australia, seketika ada sedikit harapan bagi Sadali untuk tetap dekat dengan Mera.
Seiring berjalannya waktu, Sadali semakin berusaha untuk mendapatkan hati Mera. Ia sering mengajak Mera untuk jalan-jalan dan melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh Mera. Di satu sisi, Mera merasakan adanya perasaan bahagia ketika bersama dengan Sadali. Namun disisi lain, Mera masih belum berani dan trauma untuk membuka hati untuk orang lain setelah disakiti oleh suaminya yang sudah memiliki keluarga sebelum menikah dengannya.
Perasaan dilematis kini menghantui mereka berdua. Sadali harus dihadapkan pada dua pilihan. Sementara itu, Mera juga harus mendapat kenyataan tentang Sadali yang ternyata sudah memiliki tunangan serta sang mantan suami yang meminta untuk kembali rujuk. Bagaimana akhir cerita kebimbangan dari mereka berdua?


#Review:
Novel karya Pidi Baiq kembali diangkat menjadi film layar lebar. Kali ini bukanlah berasal dari Universe Dilan. Melainkan buku berjudul HIDUP INI TERLALU BANYAK KAMU (2024) yang dirilis pada tahun 2022 lalu. Film ini disutradarai oleh Kuntz Agus dan skenarionya dikerjakan oleh kolaborasi antara Pidi Baiq dengan Titien Wattimena.


Untuk segi cerita, film yang judulnya sudah seperti gombalan ini memang hampir serupa namun tak sama dengan dari universe Dilan. Sepertinya, drama kehidupan remaja dengan gombalan-gombalan maut akan menjadi signature khas dari Pidi Baiq baik dalam novel maupun film yang diadaptasi dari novelnya. Pada paruh awal film, penonton diajak berkenalan dengan main character yaitu Sadali yang kali ini berasal dari tanah Parahyangan Minang. Menariknya, karakter Sadali disini bukanlah seperti Dilan yang masih di bangku SMA, ia mahasiswa baru yang merantau ke Yogyakarta. Kadar gombalan maut dan gesture genit dari Sadali pun tidak dibuat overwhelming seperti Dilan. Selain berfokus pada usaha Sadali mendapatkan hati Mera, skenario yang ditulis Titien Wattimena dan Pidi Baiq ini juga turut mengembangkan cerita dari sisi Mera. Hal inilah yang membuat cerita menjadi berimbang. Keduanya sama-sama menonjol dan memiliki kekuatannya masing-masing. Karakter Mera yang diperankan dengan sangat apik oleh Adinia Wirasti disini memperlihatkan betapa sulitnya seorang wanita yang sudah berstatus janda kemudian takut untuk memulai kembali hubungan dengan orang baru. Dinamika dan harus menjaga perasaan dirinya sebaik mungkin yang dilakukan oleh Mera benar-benar memukau. Sebetulnya, sutradara Kuntz Agus bisa saja mengambil langkah lebih berani dan menggunakan klasifikasi rating dewasa untuk cerita antara Sadali dengan Mera, namun ia dan tim penulis naskah memilih jalur aman dengan mengedepankan perasaan dilematis yang harus dihadapi oleh Sadali dan juga Mera. Klimaks penyelesaian drama percintaan antara Sadali, Mera dan juga Arnaza pun lebih mature. Dan memang seharusnya seperti itu. CUMAAA! Sangat disayangkan kenapa harus ada adegan tambahan post credit scene yang menurutku SANGAT TIDAK PERLU! Hahahaha.
Untuk jajaran pemain, siapa sangka sosok Ajil Ditto ternyata bisa juga menjadi sosok pemuda buaya dengan tebar pesonanya lewat tutur kata serta gesture yang sangat meyakinkan! Hahaha. Takjub sih seorang Ajil Ditto ternyata bisa mengimbangi kemampuan dari Adinia Wirasti di film ini. Keduanya benar-benar nampak seperti saling jatuh cinta namun terhalang oleh beberapa alasan kuat. Penampilan Hanggini yang porsinya masih terbatas disini juga cukup mencuri perhatian. Aura gadis baik-baik dan vibes protagonis nya memang sangat cocok bagi dirinya.
Overall, film HIDUP INI TERLALU BANYAK KAMU (2024) cukup berhasil bikin penonton kesengsem dengan segala usaha Sadali yang sesekali membuat penonton ikut sumpah serapah kepadanya.


[7.5/10Bintang]

Sunday, 17 November 2024

[Review] Smile 2: Kutukan Kembali Berlanjut Dan Menimpa Seorang Penyanyi Terkenal!




#Description:
Title: Smile 2 (2024)
Casts: Naomi Scott, Rosemarie Dewitt, Lukas Gage, Miles Gutierrez-Riley, Ray Nicholson, Dylan Gelula, Peter Jacobson, Raul Castillo, Kyle Gallner
Director: Parker Finn
Studio: Paramount Pictures, Temple Hill Entertainment


#Synopsis:
Setelah kematian mantan kekasihnya yaitu Rose Cotter (Sosie Bacon), kutukan mematikan dari sosok gaib yang selalu tersenyum kini terperangkap dalam diri Joel (Kyle Gallner). Untuk melepaskan kutukan tersebut, Joel yang merupakan seorang detektif dari pihak kepolisian terpaksa mengikuti salah satu cara yang pernah diucapkan Rose yaitu harus membunuh seseorang. Joel kemudian mengikuti dua orang pengedar narkoba yang selama ini sudah menjadi target kepolisian. Saat misi tersebut hampir saja berhasil, ia gagal karena harus berhadapan dengan beberapa pengedar narkoba lain yang terkejut saat melihat dua rekannya tewas dibunuh oleh Joel.
Di sisi lain, seorang penyanyi pop yaitu Skye Riley (Naomi Scott) memutuskan untuk come back ke panggung dan siap menggelar rangkaian konser tour terbarunya usai satu tahun berduka atas kematian tunangannya, Paul Hudson (Ray Nicholson) dalam kecelakaan mobil bersama dengan dirinya. Rangkaian konser terbarunya ini mendapat banyak dukungan dari para fans dan juga produser label rekamanya yaitu Darius (Raul Castillo). Ibu sekaligus manager pribadinya yaitu Elizabeth Riley (Rosemarie Dewitt) pun sangat senang akhirnya sang anak bisa bangkit dari keterpurukan dan siap kembali ke panggung musik dengan dibantu asisten mereka Joshua (Miles Gutierrez-Riley).
Hampir setiap hari Skye menjalani latihan musik dan juga koreografi demi penampilan maksimal saat nanti menjalani rangkaian konser tour nya. Namun sayang, sejak kecelekaan mobil, Skye memiliki luka jahitan di beberapa bagian tubuhnya. Selain itu ia juga masih sering mengalami rasa sakit di bagian pinggangnya jika terlalu banyak bergerak. Demi profesionalitas, Skye selalu menahan rasa sakit tersebut di hadapan ibu dan juga produsernya. Hingga suatu malam, Skye makin tersiksa dengan rasa nyeri dan obat Vicodin nya sudah habis. Ia pun bergegas pergi menemui temannya, Lewis (Lucas Gage) yang selama ini menjadi pemasok obat untuk Skye.
Ketika tiba di apartment temannya itu, Skye terkejut melihat Lewis yang panik, ketakutan dan berperilaku tak biasa. Puncaknya, Lewis tiba-tiba berteriak histeris dan mengaku jika selama seminggu terakhir ini sering diganggu oleh hal-hal gaib. Tak lama setelah itu, ekspresi muka Lewis berubah menjadi tersenyum lebar dan seketika bunuh diri dengan cara yang sangat tragis. Melihat kejadian mengerikan tersebut membuat Skye ketakutan dan panik. Ia langsung pergi dari apartment Lewis dan berharap dirinya tidak terlibat dengan kejadian mengerikan itu.
Melihat secara langsung kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh Lewis tersebut membuat Skye terguncang dan berdampak juga pada performa nya selama latihan untuk konser. Selain itu, Skye juga mulai merasakan hal-hal aneh termasuk penampakan sosok Lewis dengan senyuman yang mengerikan. Skye yang mulai mengalami gejala halusinasi ini membuatnya melakukan hal tak terduga saat menghadiri acara charity yang digelar oleh produsernya. Halusinasi, kecemasan dan ketakutan yang dialami oleh Skye membuatnya enggan untuk berbicara kepada siapapun termasuk kepada sang ibu ataupun asistennya. Skye khawatir akan dianggap lagi masih menggunakan narkoba dan mengalami halusinasi jika berkata jujur. Skye pun akhirnya menghubungi sahabatnya, Gemma (Dylan Gelula) yang selama satu tahun ini hubungan mereka renggang. Skye meminta maaf atas perbuatannya yang dulu menyinggung tentang suami dari Gemma. Gemma pun sudah lama memaafkan kesalahan sahabatnya itu dan bergegas pergi menuju ke apartment Skye. Setibanya disana, Skye langsung memeluk Gemma dan menceritakan tentang kematian Lewis dan semua kejadian aneh yang menimpa dirinya.
Usai menceritakan kegelisahannya pada Gemma, Skye pun kini selalu mendapat pesan misterius yang mempertanyakan keberadaan Gemma saat kematian Lewis. Setelah ditelusuri, pesan tersebut berasal dari seorang pria bernama Morris (Peter Jacobson) yang selama ini berusaha untuk menghentikan kutukan entitas gaib yang selalu tersenyum, usai adiknya ikut terseret dalam kutukan tersebut. Selama bertahun-tahun Morris melakukan riset dan penelusuran tentang pola kutukan yang terus berpindah-pindah dengan cara yang sama persis. Saat ini, kutukan tersebut berada dalam diri Skye setelah berpindah dari Lewis. Lewis sendiri merupakan salah satu pembeli narkoba yang pengedarnya tewas ditembak oleh Joel.
Dari hasil risetnya itu, Morris yakin kutukan tersebut bisa dihentikan tanpa harus membunuh orang lain. Morris kemudian menyusun rencana dengan meminta bantuan pada Skye agar bersedia mengikutinya. Akankah mereka berdua berhasil terbebas dari kutukan mengerikan itu?


#Review:
Kesuksesan film SMILE (2022) yang mencetak angka pendapatan lebih dari $210 juta Dollar Amerika Serikat secara global membuat Paramount Pictures tak pikir panjang untuk menghadirkan sekuelnya. Berselang dua tahun dari film pertamanya, SMILE 2 (2024) akhirnya tayang di bioskop saat menjelang Haloween tahun ini. Untuk kursi sutradara dan penulisan skenario masih dipegang sepenuhnya oleh Parker Finn inilah yang tak membuat penonton khawatir akan kualitas serta cerita yang dihadirkan.


Sama seperti film pertamanya, formula horror psikologis masih digunakan dengan baik di film keduanya ini. Jika film pertama menampilkan karakter seorang psikiater, di sekuelnya ini cerita berpindah kepada karakter yang merupakan seorang penyanyi pop terkenal! Parker Finn berhasil melakukan ekspansi cerita dengan sangat baik di sekuelnya ini. Development dan backstory dari karakter Skye Riley sangat matang. Hal tersebut bisa penonton rasakan dengan production value seorang pop superstar yang begitu detail dan juga sangat meyakinkan. Terlebih lagi, Naomi Scott memiliki kemampuan akting, menyanyi serta tari yang apik sehingga penampilannya sangat menonjol dan tidak kaku seperti Saleka Shyamalan di film TRAP (2024) kemarin. Hahaha.
Untuk sisi psikologisnya, terror yang dihadirkan film SMILE 2 (2024) kali ini memang mengalami peningkatan drastis. Moment antara halusinasi dan kejadian nyata dalam film ini benar-benar tipis, sehingga sangat mudah bagi penonton untuk merasakan sensasi kejutan yang diberikan. Perasaan trauma dan ketakutan di masa lalu yang dialami Skye Riley pun bisa disampaikan dengan jelas kepada penonton. Semua misteri tentang kutukan gaib dari sosok mengerikan yang selalu tersenyum pun akhirnya bisa terkuak dengan sempurna di film ini. Eksekusi ending cerita film SMILE 2 (2024) juga benar-benar gila dan sangat potensial untuk dibuatkan lebih massive lagi.
Untuk jajaran pemain, penampilan gemilang datang dari Princess Jasmine Naomi Scott. Ia berhasil memerankan sosok pop superstar Skye Riley dengan segala kompleksitasnya dalam menghadapi kutukan mengerikan yang menimpa dirinya. Kualitas aktingnya benar-benar sempurna tanpa cela sedikitpun. Ekspresi ketakutan sampai moment depresinya terpancar sangat kuat dan bisa dirasakan oleh penonton. Beberapa moment jump scared yang dialami oleh Skye Riley juga selalu on point bikin penonton ketakutan sekaligus misuh-misuh ngilu.
Overall, film SMILE 2 (2024) sangat layak dinobatkan sebagai salah satu film horror terbaik di tahun ini. Peningkatan luar biasa dari film pertamanya. Jika kemarin tidak berharap adanya sekuel, namun setelah hasil dari sekuelnya bagus seperti ini, aku jadi berharap franchise SMILE ini terus berlanjut gas terus!


[8.5/10Bintang]

Saturday, 16 November 2024

[Review] Bila Esok Ibu Tiada: Ketika Orang Tua Merindukan Kebersamaan Dengan Anaknya Yang Sudah Dewasa!

 


#Description:
Title: Bila Esok Ibu Tiada (2024)
Casts: Christine Hakim, Adinia Wirasti, Fedi Nuril, Amanda Manopo, Yasmin Napper, Hana Saraswati, Immanuel Caesar Hito, Baim Wong, Nunu Datau, Slamet Rahardjo
Director: Rudi Soedjarwo
Studio: Leo Pictures, Legacy Pictures, A&Z Films, Layana Pictures


#Synopsis:
Ibu Rahmi (Christine Hakim) dan Pak Haryo (Slamet Rahardjo) adalah pasangan suami istri yang sudah berusia senja namun saling mencintai satu sama lain. Rumah tangga mereka berjalan harmonis dan penuh kebahagiaan bersama keempat anak mereka yaitu Ranika (Adinia Wirasti), Rangga (Fedi Nuril), Rania (Amanda Manopo) dan Hening (Yasmin Napper). Hampir setiap akhir pekan mereka selalu berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.
Namun ditengah kebahagiaan tersebut, Pak Haryo pergi untuk selama-lamanya meninggalkan sang istri dan keempat anaknya. Ibu Rahmi sangat terpukul dengan kematian sang suami yang begitu mendadak. Hingga sudah tiga tahun berlalu, ia masih dalam tahap berusaha untuk bangkit dari keterpurukan. Seiring berjalannya waktu tersebut, keempat anak Ibu Rahmi tumbuh menjadi orang dewasa dengan kesibukan mereka masing-masing. Ranika fokus mengejar kariernya di bidang advertising. Rangga memutuskan menikah dengan Thea (Hana Saraswati) dan berusaha mewujudkan impiannya sebagai seorang musisi. Rania berprofesi sebagai bintang iklan yang berambisi ingin menjadi aktris terkenal. Sementara itu, Hening yang masih kuliah berusaha mewujudkan impiannya menggelar pentas seni musik rock bersama kekasihnya, Dito (Immanuel Caesar Hito).
Ibu Rahmi selalu merindukan kehangatan dan kebersamaan dengan keempat anaknya yang kini semakin susah untuk berkumpul. Disatu sisi, ia memaklumi dengan kesibukan Ranika, Rangga, Rania dan Hening. Namun disatu sisi lainnya, rasa rindu itu selalu menghantuinya. Alhasil, Ibu Rahmi hanya bisa menangis sambil memeluk foto keluarganya saja di kamar. Namun kesedihan Ibu Rahmi tak selalu berlarut-larut, karena masih ada Hening yang masih tinggal satu rumah dengannya.
Waktu terus berlalu. Tak terasa Ibu Rahmi berulang tahun yang ke-65. Di moment pertambahan usia sang ibu, keempat anaknya malah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Adik dari Ibu Rahmi yaitu Hesti (Nunu Datau) untungnya masih menyempatkan datang ke rumah untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada kakaknya sambil membawa banyak hidangan makanan. Karena kesal keempat keponakannya lupa dengan ulang tahun sang kakak, Hesti langsung menelepon Ranika dan ketiga adiknya untuk pulang dan menemui Ibu Rahmi. Ranika, Rangga, Rania dan Hening pun langsung meninggalkan semua pekerjaan mereka lalu pergi ke rumah merayakan ulang tahun ibu mereka.
Setibanya di rumah, Ranika kesal karena ketiga adik dan iparnya sama sekali tidak ada yang mengingat ulang tahun ibu. Rangga, Rania dan Hening pun membela diri karena mereka juga sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Rania yang tak terima disalahkan, ia juga menyalahkan Ranika karena tak pernah mau disalahkan. Ranika semakin terpancing emosi hingga akhirnya Rangga memutuskan pulang duluan dari rumah sambil mengajak istrinya karena dibuat tersinggung dengan apa yang diungkapkan Ranika.
Sejak keributan tersebut, Ibu Rahmi semakin merasa sedih dan menyalahkan dirinya karena tak bisa lagi membuat keempat anaknya akur. Ia pun terus memikirkan bagaimana caranya agar Ranika, Rangga, Rania dan Hening tidak sering bertengkar yang berkaitan dengan dirinya. Karena hal ini juga, kondisi kesehatan Ibu Rahmi perlahan mulai menurun. Penyakit vertigo yang selama ini diderita Ibu Rahmi pun semakin parah dan membuatnya harus banyak istirahat. Dokter menyarankan agar Ibu Rahmi lebih diperhatikan lagi oleh keluarganya, namun ia memutuskan untuk sementara tidak memberitahu keempat anaknya karena khawatir akan mengganggu semua kegiatan mereka. Ibu Rahmi berpesan kepada Hesti agar merahasiakan tentang kondisi kesehatannya kepada keempat anaknya. Selain itu, Ibu Rahmi juga ingin pergi ke Pekalongan untuk ziarah ke makam sang suami sendirian tanpa merepotkan Ranika, Rangga, Rania dan Hening.
Keesokan harinya, Ibu Rahmi akhirnya pergi ke Pekalongan seorang diri dan menggunakan kereta tanpa sepengetahuan keempat anaknya. Saat Ranika pulang ke rumah, ia terkejut karena rumah kosong. Ia langsung menelpon Hening menanyakan perihal ibu mereka, namun Hening juga tidak tahu karena sedang sibuk tugas kuliah serta persiapan acara pentas musik dengan Dito. Ranika semakin emosi pada Hening karena masih tinggal satu rumah dengan ibu namun ia tidak tahun perginya kemana. Keadaan semakin panik setelah Ranika menemukan surat berobat dari rumah sakit yang ada di kamar ibu. Ranika tak menyangka ibunya mengidap vertigo parah namun tak pernah menceritakannya kepada ia dan ketiga adiknya. Rania beserta Rangga dan Thea pun meninggalkan pekerjaan mereka untuk segera pulang ke rumah secepatnya. Pertengkaran keempat kakak beradik ini kembali terjadi. Mereka saling menyalahkan satu sama lain atas ketidaktahuan penyakit dari ibu mereka. Tak lama setelah itu, Hesti datang ke rumah dan meminta keempat keponakannya itu untuk menghormati semua keinginan Ibu Rahmi yang ingin pergi ke Pekalongan sendirian.
Seiring berjalannya waktu, hubungan kakak beradik ini kembali diuji usai Rania dan asistennya ditangkap oleh pihak kepolisian atas dugaan mengkonsumsi narkoba. Rania ditahan di kantor polisi selama proses pemeriksaan. Semua barang dan alat komunikasi miliknya ditahan sementara untuk melacak pengedar narkoba tersebut. Di tengah malam, pihak kepolisian akhirnya mengabarkan penangkapan Rania kepada keluarganya yaitu Ranika dan Hening yang sedang berada di rumah. Mendengar adiknya ditangkap polisi, Ranika langsung bergegas pergi untuk menjemput adiknya itu. Namun sayang, dalam perjalanan menuju kantor polisi, Ranika mendapat kabar buruk bagi dirinya dan juga ketiga adiknya.


#Review:
Rumah produksi Leo Pictures semakin produktif dalam dua tahun terakhir. Pasca kesuksesan film SOSOK KETIGA (2023) lalu disusul film THAGHUT (2024) dan serial viral JANGAN SALAHKAN AKU SELINGKUH (2024) yang tayang di WeTV, kini giliran film layar lebar terbaru berjudul BILA ESOK IBU TIADA (2024) tayang di bioskop mulai Kamis, 14 November kemarin. Setelah mengalami peningkatan kualitas cukup signifikan di film horror THAGHUT (2024), Leo Pictures terlihat semakin ingin membuktikan konsistensi dalam merilis film-film dengan menampilkan banyak aktor-aktris yang sudah memiliki jam terbang tinggi di industri perfilman tanah air.


Film BILA ESOK IBU TIADA (2024) yang diadaptasi dari novel karya Nuy Nagiga ini disutradarai oleh Rudi Soedjarwo, kemudian skenarionya ditulis oleh Oka Aurora dengan melibatkan Adinia Wirasti juga. Yang tak kalah menarik, ensemble cast film ini dibintangi sederet aktor yang sudah memiliki nama besar dan fans militan di industri hiburan tanah air. Maka tak heran, jika dalam dua hari penayangan di bioskop saja, film ini sudah mengumpulkan lebih dari 600.000++ penonton dari seluruh bioskop Indonesia. Otomatis akan jadi calon Top 10 box office hit film Indonesia tahun 2024 inimah.
Untuk segi cerita, sesuai dengan judulnya, film ini sudah pasti akan menjadi drama menguras air mata bagi penonton di bioskop. Kisah seorang ibu yang sudah berusia senja yang merindukan kebersamaan dengan keempat anaknya ini sudah pasti akan sangat related kepada semua kalangan penonton. Kolaborasi antara Rudi Soedjarwo dan Oka Aurora disini ternyata tak sepenuhnya menampilkan cerita pilu seorang ibu yang diperankan Christine Hakim saja. Dinamika hubungan empat kakak beradik yang selalu panas saat mereka berkumpul juga menjadi daya tarik dari film ini. Empat karakter ini memiliki kekuatan serta kekurangannya masing-masing dalam sebuah keluarga. Anak pertama yaitu Ranika yang diperankan dengan sangat luar biasa oleh Adinia Wirasti terdeliver maksimal bagaimana ia berjuang mencapai puncak karier demi membahagiakan orangtua dan ketiga adiknya. Sikap tegas dari Ranika ini memang bisa kita temukan pada anak pertama dalam sebuah keluarga gak sih? Development character menarik selanjutnya datang dari anak kedua yaitu Rangga yang diperankan Fedi Nuril. Surprisingly, subplot tentang Rangga yang idealisme dalam bermusik dan selalu mendapat support penuh dari istrinya juga tidak berlebihan. Scene stealer dari keempat bersaudara datang dari karakter Rania yang diperankan Amanda Manopo, subplot cerita perjalanan kariernya dan menjadi salah satu kunci dalam dinamika konflik keluarga Ibu Rahmi disini juga baguus! Karakter anak bungsu yaitu Hening yang diperankan Yasmin Napper juga memiliki daya tarik tersendiri karena selalu menjadi sasaran empuk yang disalahkan oleh kakak-kakaknya. Kompleksitas drama keempat kakak beradik serta pergulatan batin sang ibu dalam film ini memang sudah berada di level yang memukau. Ditambah lagi, Rudi Soedjarwo menggunakan teknik one take setiap keempat anak ini kumpul. Emosi dan ketegangan dalam satu kali pengambilan gambar disini sukses membuatku takjub dengan range akting semua aktor yang terlibat. Namun yang sedikit mengganjal yaitu saat fokus cerita jadi terlalu lebar saat menceritakan drama asmara dalam kehidupan Ranika dan Rania. Untungnya, saat moment klimaks dan reveal kebenaran, kehadiran karakter pendukung yang diperankan Baim Wong, Caesar Hito dan Hana Saraswati jadi melengkapi dengan indah keseluruhan cerita film BILA ESOK IBU TIADA (2024) ini.
Untuk jajaran pemain, penampilan Ibu Christine Hakim memang menjadi nyawa terbesar dalam film ini. Bahkan film baru dimulai saja, tatapan dan gesture dari beliau sudah bikin air mata ambyarrrrr! Adinia Wirasti juga semakin membuktikan diri sebagai salah satu aktris terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Moment kepedihan, sakit hati dan kekosongannya bisa dengan mudah penonton rasakan. Sempurna banget! Fedi Nuril, Amanda Manopo dan Yasmin Napper juga hadir semakin melengkapi kualitas performa ensemble cast film BILA ESOK IBU TIADA (2024).
Untuk urusan visual, film ini sesuai dengan porsinya tidak menggunakan filter atau sinematografi berlebihan. Mungkin yang sedikit mengganggu bagiku yaitu penempatan scoring musik indah karya Andi Rianto dalam beberapa adegan terlalu repetitif sehinga membuatku terasa seperti dipaksa untuk menangis gara-gara scoring indah tersebut.
Overall, film BILA ESOK IBU TIADA (2024) berhasil menjadi sajian drama tearjerker yang bukan sekedar bikin nangis semata tapi punya kualitas akting terbaik dari para pemainnya. Salut! Makin excited dengan produksi-produksi selanjutnya dari Leo Pictures!


[8.5/10Bintang]