Friday, 29 September 2017

[Review] Pengabdi Setan: Kematian Ibu Membawa Terror Mengerikan Untuk Keluarga!


#Description:
Title: Pengabdi Setan (2017)
Casts: Tara Basro, Bront Paralae, Ayu Laksmi, Endy Arfian, Nasar Annuz, M. Adhiyat, Dimas Aditya, Elly D. Luthan, Arswendi Beningswara, Egy Fedly, Asmara Abigail, Fachry Albar
Studio: Rapi Films & CJ Entertainment

#Synopsis:
Rini Suwono (Tara Basro) terlihat duduk cemas dan sangat berharap masih bisa mendapat royalti album-album ibunya, Mawarni Suwono (Ayu Laksmi) yang kini sudah terbaring sakit selama 3 tahun lebih. Namun sayang, usaha Rini untuk mendapatkan royalti itu gagal. Karena album penjualan album-album dari ibunya sudah sepi peminat. Ditengah kondisi keuangan yang tengah krisis, terpaksa sang ibu dirawat seadanya dirumah mereka. Sang ayah yaitu Suwono (Bront Paralae) bahkan menggadaikan sertifikat rumah mereka untuk bisa bertahan hidup menghidupi keluarga.
Rini mau tak mau harus bisa menjadi pengganti ibu untuk mengurus urusan keluarga dan ketiga adiknya yaitu Toni (Endi Arfian), Bondi (Nasar Annuz) dan Ian (M. Adhiyat). Satu-satunya cara sang ibu untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya untuk meminta bantuan yaitu menggunakan lonceng. Sesegera mungkin salah satu dari anak mereka ketika mendengar bunyi lonceng itu langsung membantu ibunya.
Suatu malam, Rini terbangun karena mendengar suara lonceng. Ketika ia mendatangi kamarnya, sang ibu tiba-tiba tak sadarkan diri lalu menghembuskan nafas terakhirnya. Kondisi sakit yang cukup aneh serta meninggal dalam kondisi yang tidak wajar membuat Bondi dan Ian merasa ketakutan usai ibu mereka dimakamkan. Kekhawatiran Rini semakin bertambah usai sang ayah memutuskan untuk pergi ke Kota untuk mencari nafkah. Otomatis dirumah itu menyisakan Rini, ketiga adiknya dan sang nenek (Elly D. Luthan) yang sehari-sehari menggunakan kursi roda.
Beberapa hari setelah kematian sang ibu dan kepergian sang ayah ke kota, Rini, Tony, Bondi dan Ian merasakan ada sesuatu yang mencoba mengganggu mereka. Rini berfikiran serealitis dan selogis mungkin meskipun sudah diberitahu oleh Hendra (Dimas Aditya) tentang adanya sosok misterius yang mencoba mengganggu kehidupan mereka.
Puncaknya, sang nenek tiba-tiba saja meninggal secara mengenaskan. Setelah kematian itu, Rini menemukan sebuah surat yang ditulis oleh sang nenek yang harus disampaikan pada temannya, Budiman (Egy Fedly). Isi surat tersebut berisi sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh Rini dan ketiga adiknya. Sebuah rahasia besar yang dimana salah satu anggota keluarga Suwono terlibat dalam sebuah ajaran sekte sesat.



#Review:
Salah satu masterpiece Film Horror Indonesia pada era tahun 80'an yaitu PENGABDI SETAN (1980) yang diproduksi Rapi Films membuat sineas kenamaan Joko Anwar tertarik untuk membuat kembali Film itu di tahun 2017 ini. Salah satu alasan Joko Anwar membuat kembali film ini lantaran Film PENGABDI SETAN (1980) kala itu menjadi salah satu Film Horror yang paling membekas dalam dirinya ketika ia masih berusia remaja.
Film PENGABDI SETAN (2017) versi Joko Anwar ini (menurut yang sudah nonton versi 1980) mempunyai sedikit perbedaan dengan yang terdahulu. Aku sendiri agak kurang berani nonton versi 1980 karena banyak adegan yg konon bakalan susah buat dilupain. Haha.
Dalam versi terbarunya ini, Joko Anwar lebih mendekatkan filmnya ke arah yg lebih universal dan sedikit taste internasional. Hal itu terlihat lebih universal ketika unsur religi dalam Film PENGABDI SETAN (2017) versi terkini tidak terlalu dominan. Meski begitu, Joko Anwar tetap sukses menyajikan alur cerita yang tak kalah bagusnya dengan versi terdahulu. Plotline dari awal hingga akhir film terasa rapi meskipun ada beberapa bagian cerita masih penuh dengan tanda tanya. Namun hal tersebut tersebut bisa terselamatkan dengan APIK lewat atmosfer horror, jumpscared yg otentik serta plot twist yang cukup bikin shock! Atmosfer horror dalam Film PENGABDI SETAN (2017) sangatlah jempolan! Penggunaan properti, set lokasi yang NIAT, serta penggunaan suara-suara alam seperti hembusan angin, pintu berderit, bunyi lonceng, suasana rumah sepi sangat efektif mengundang bulukuduk merinding! Camera works dan sinematografi Film PENGABDI SETAN (2017) juga bekerja dengan baik dan mahal banget kelihatannya.


Support dari CJ Entertainment digunakan dengan amat baik oleh Joko Anwar dan Rapi Films disini. Tak heran jika Film PENGABDI SETAN (2017) menjadi Film Indonesia PERTAMA yang bisa tayang dalam format 4DX di jaringan CGV Cinemas.
Jumpscared yang dihadirkan Joko Anwar juga tak boleh dianggap murahan. Disini beliau dengan apik menghadirkan serentetan jumpscared yang dimana beberapanya sangat original dan otentik! Gak pernah gue menemukan jumpscared sesimple itu dalam Film Horror Indonesia atau Luar Negeri manapun! Applause!!! Ditengah atmosfer yang tidak mengenakan itu, Joko Anwar tak lupa menghadirkan beberapa sisi humor untuk pencair suasana, mulai dari gigolo, tukang pijat hingga upil semuanya terasa related dengan humor sehari-hari. Meskipun menurutku sisi humor ini ada yang tidak pada tempatnya.
Jajaran pemain memberikan penampilan yang pas! Tara Basro tampak meyakinkan sebagai seorang kakak tertua yang sangat jauh dari sisi keagamaan. Sosok Bapak Suwono yang diperankan aktor asal Malaysia, Bront Paralae berasa terlalu kemudaan menjadi seorang ayah bagi Rini dan ketiga adiknya. Haha. Sosok Hendra yang diperankan Dimas Aditya yang konon sebagai orang yg diam diam menyukai Rini ini juga minim eksplorasi. Sosok Bondi juga tampil agak aneh. Tiba-tiba kayak kesurupan, lalu tiba-tiba jadi kembali seperti biasa. Tapi untungnya ia punya jeritan yang cukup bikin kaget! Ternyata dia toh yang ngejerit! Haha. Pemain terbaik dalam Film PENGABDI SETAN (2017) ini jatuh pada Ayu Laksmi (Sang Ibu) dan Muhammad Adhiyat (Ian). Gue gatau harus bagaimana lagi, aku dan penonton lain dibuat terpesona oleh akting mereka!


Plot twist yang dihadirkan cukup cemerlang meskipun berasa terlalu cepat dihadirkan dan buru buru diselesaikan dipenghujung film. Endingnya memang mampu melampaui tingkat keseraman dari film terdahulunya. Joko Anwar memvisualkan bangkitnya setan (yang sangat khas Indonesia)  mengerubungi rumah Suwono dengan mencekam, ditambah beberapa adegan ala-ala film horror luar! Keren!
Overall, Film PENGABDI SETAN (2017) ini boleh banget dibilang sebagai salah satu Film Horror Indonesia terbaik sepanjang masa! Standar Horror di Film Indonesia menjadi semakin tinggi lagi usai kemarin dilakukan dengan sempurna oleh Film BADOET (2015)!


[8/10Bintang]

Wednesday, 27 September 2017

[Review] Ruqyah The Exorcism: Pengusiran Setan Yang Dialami Artis



#Description:
Title: Ruqyah: The Exorcism (2017)
Casts: Celine Evangelista, Evan Sanders, Mega Carefansa, Torro Margens, Ratu Dezmi Azalia, Ikmal Abrar, Alfie Afandy, Vinnia Kuntadi
Director: Jose Poernomo
Studio: MD Pictures & Pichouse Films

#Synopsis:
Mahesa (Evan Sanders) adalah seorang wartawan media yang cukup aktif mencari informasi untuk dijadikan bahan berita. Suatu hari, ia mendapat informasi mengenai hadirnya suara suara misterius yang muncul di tengah hutan. Dengan berbekal peralatan rekam, Mahesa mencari informasi tersebut.
Setibanya dihutan itu, ia berhasil merekam suara misterius dan menemukan sebuah gubuk yang didalamnya terdapat seorang wanita yang tengah dipasung oleh warga setempat.
Suatu hari, Mahesa tak sengaja bertemu dengan Asha (Celine Evangelista) seorang aktris film di rumah sakit yang tengah memproses kematian sahabatnya. Usai pertemuan tak sengaja itu, komunikasi diantara keduanya terus berlanjut. Asha kemudian menceritakan pengalaman mistis nya kepada Mahesa. Asha seperti diganggu oleh sosok misterius. Bahkan ia selalu berperilaku seperti orang yang kesurupan dan tidak sadarkan diri jika ia tinggal di apartement pribadinya. Asha yakin Mahesa bisa mempercayai apa yang ia telah alami.
Mendengar cerita Asha, Mahesa kemudian memutuskan untuk mencari informasi kepada seorang dukun (Torro Margens). Usai melihat kondisi Asha, sang Dukun yakin kondisi Asha saat ini memang sedang mengalami gangguan dari sosok misterius. Sosok itu disengaja "dimasukkan" ke dalam diri Asha oleh seseorang.
Mahesa lalu mencari informasi lebih jauh seputar Asha dari orang-orang terdekatnya. Ia pun mendapat informasi dari temannya Vinna (Vinnia Kuntadi) bahwa Asha mengalami gangguan misterius itu akibat ia melanggar aturan susuk dan jimat yang ditanamkan dalam dirinya. Susuk dan jimat itu ditanam oleh Ibu Kandung Asha sendiri (Mega Caferansa) di kampung agar Asha dan teman-temannya ketika merantau ke Ibukota bisa sukses dan memikat banyak orang-orang kaya raya. Aturan yang dilanggar Asha itu adalah, mencintai kembali orang yang sudah terpesona oleh Asha. Terbukti, seorang pria beristri bernama Kelvin (Ikmal Abrar) yang hidup mapan sangat mencintai Asha. Begitu juga Asha, ia sangat mencintai Kelvin.
Mendengar kabar bahwa Asha menggunakan susuk dalam dirinya, Mahesa kemudian meminta bantuan kepada seorang ustadz (Alfie Afandy). Sang ustdaz menyarankan Mahesa untuk melakukan ritual Ruqyah agar sosok misterius dan susuk yang ada dalam diri Asha bisa hilang.
Dengan bekal ilmu agama yang seadanya, Mahesa mencoba me-Ruqyah Asha. Ia mengajak Asha untuk beribadah Sholat, lebih mendekatkan diri kepada Tuhan hingga mengurung Asha disebuah rumah terpencil agar proses Ruqyah itu berjalan lancar.
Bisakah Asha terbebas dari gangguan sosok misterius yang selama ini ada dalam dirinya?


#Review:
Gue mendapat kesempatan untuk menyaksikan Film RUQYAH: THE EXORCISM (2017) lebih awal di Gala Premiere film ini yang berlangsung tadi malam (26/9/2017) di Metropole XXI Jakarta.
Film RUQYAH: THE EXORCISM (2017) mempunyai alur cerita yang sangat lambat. Jose Poernomo tampak ingin menghadirkan banyak teka-teki disepanjang film. Namun sayang, banyak hal-hal janggal yang gue temukan dalam film ini. Beberapa adegan juga kebanyakan berakhir dengan tanda tanya besar tanpa penyelesaian yang jelas. Apalagi itu tuh, tujuan si Mahesa bawa Asha ke rumah kosong. Apaan coba?
Sisi drama percintaan yang dihadirkan juga terasa cukup maksa. Penggunaan informasi tanggal yang selalu muncul dibeberapa bagian juga tidak memberikan pengaruh yg efektif pada cerita. Gunanya apasih?
Beberapa karakter juga hadir tidak mempunyai kejelasan tujuan. Hanya sosok Asha yang diperankan Celine Evangelista saja yang cukup mengesankan dalam film ini. Ia melakukan adegan kerasukan cukup meyakinkan dan bikin gue merasa kasian dan capek sendiri ngeliatnya. Tapi tata riasnya juga sungguh menakjubkan. Dari bangun tidur sampe wudhu pun make-up nya tetap cetar membahana.
Jumpscare yang dihadirkan juga terasa cukup biasa aja. Padahal Jose Poernomo terkenal selalu memiliki stok jumpscare yang ikonik dalam filmography nya. Adegan menyeramkan terbaik dalam film ini hanya muncul saat sosok Asha mengalami kesurupan saja (salah satunya ketika Sholat adalah yang paling oke!). Atmosfir horror yang dihadirkan juga menurut gue entah kenapa terasa sangat kurang dalam film ini. Namun untuk segi visual (terutama adegan longshoot di hutan dan adegan di dalam hutan) cukup creepy dan keren.
Overall, Film RUQYAH: THE EXORCISM (2017) hadir semakin memeriahkan genre Film Horror Indonesia yang sedang hype pada tahun ini meskipun kualitasnya kurang memuaskan!



[6/10Bintang]

Tuesday, 19 September 2017

[Review] Gerbang Neraka: Misteri Besar Di Balik Gunung Padang


#Description:
Title: Gerbang Neraka: Firegate (2017) 
Casts: Reza Rahadian, Julie Estelle, Dwi Sasono, Ray Sahetapy, Ratu Anandita, Ayasha Putri, Khiva Iskak, Reza Nangin, Puy Brahmantya, Lukman Sardi 
Director: Rizal Mantovani

#Synopsis:
Theo Wirawan (Ray Sahetapy) seorang Profesor Arkeolog diutus oleh Presiden untuk melakukan ekskavasi dan riset terhadap Gunung Padang diwilayah Cianjur Jawa Barat. Gunung Padang sendiri diyakini merupakan sebuah situs Piramida yang konon usianya mencapai 4000an tahun Sebelum Masehi. Jauh lebih tua dibandingkan Piramida yang berada di Giza Mesir.
Dalam melakukan risetnya, Theo tidak sendiri, ia ditemani beberapa arkeolog lainnya. Salah satunya adalah Arni Kumalasari (Julie Estelle). Pemerintah memutuskan untuk ekskavasi Gunung Bantuan tanpa bantuan asing. Hal itu menimbulkan pro-kontra lantaran banyak pihak meragukan tim Arkeolog dari Indonesia.
Mendengar kabar tentang Situs Gunung Padang, Tomo Gunadi (Reza Rahadian) seorang wartawan tabloid mistis tertarik untuk membuat sebuah artikel. Ia yakin bisa menghadirkan berita yang cukup besar jika ia membahas tentang Situs Gunung Padang. Ia pun mendapat sponsor dengan imbalan yang cukup besar jika berhasil membuat berita tentang misteri Situs Gunung Padang. Meskipun ia sendiri tidak mempercayai hal-hal mistis. Tak hanya Tomo saja, Guntur Samudra (Dwi Sasono), seorang paranormal program acara mistis di televisi juga tertarik untuk mendatangi Situs Gunung Padang.


Setibanya di Situs Gunung Padang, terlihat camp para Arkeolog disana. Banyak aktivitas yang mereka lakukan seperti meriset dan meneliti berbagai macam batuan serta tulisan yang ada di sekitar Situs Gunung Padang. Terlihat pula beberapa awak media yang mencoba meliput kondisi disana namun dijaga ketat oleh pihak keamanan.
Suatu hari, para Arkeolog dikejutkan dengan tewasnya Professor Theo di lokasi ekskavasi. Berita tewasnya Professor Theo tidak menghentikan proses ekskavasi. Presiden menunjuk Arni untuk mengganti posisi Professor Theo dan tetap melanjutkan proses ekskavasi Situs Gunung Padang. Hari berlanjut. Kejadian aneh pun terulang kembali. Wartawan dan tim Arkeolog lainnya ditemukan tewas secara tidak wajar.
Melihat banyak kejanggalan, Tomo dan Guntur mencari informasi lebih dalam kepada Kuncen Situs Gunung Padang. Setelah mendapatkan informasi dari Kuncen Situs Gunung Padang, Tomo dan Guntur akhirnya membantu Arni untuk melanjukan proses ekskavasi.
Ditengah serangkaian proses penelitian, Arni, Tomo dan Guntur juga mengalami gangguan misterius dari sosok yang bernama Badurakh. Untungnya mereka tidak menyerah untuk memecahkan misteri Situs Gunung Padang. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah fakta bahwa Situs Gunung Padang menyimpan rahasia yang mengancam keselamatan umat manusia di bumi. 

#Review:
Setelah mengalami penundaan jadwal tayang di Bioskop, Film GERBANG NERAKA: FIREGATE (2017) akhirnya bisa disaksikan di Bioskop mulai 20 September 2017. Film yang rampung proses produksi nya pada periode tahun 2014-2015 ini cukup ditunggu kehadirannya lantaran mengambil genre film yang fresh dan baru di industri Film Indonesia yaitu Horror-Thriller-Adventure-Sciene Fiction. Rizal Mantovani dan Robert Ronny cukup berani dan ambisius untuk menjadi pioneer dalam film bergenre seperti ini di Indonesia.
Untuk segi cerita memang Film GERBANG NERAKA: FIREGATE (2017) ini sangat menjanjikan. Rizal dan Robert mengangkat tema situs Gunung Padang yang konon merupakan Piramida Tertua yang ada di muka bumi ini, dengan menambahkan elemen horror dalam ceritanya. Yang sekilas berasa diingatkan dengan Film THE MUMMY (2017). Namun sayang, sejarah misteri Piramida Gunung Padang terasa sangat kurang dieksplor lebih dalam disini. Padahal riset yang dilakukan oleh para karakter sudah sangat menjanjikan diawal film. Rizal dan Robert berfokus pada perjalanan Tomo, Arni dan Guntur menyusuri teka-teki misteri Situs Gunung Padang. Tak lupa juga mereka menghadirkan cerita drama keluarga yang dihadirkan lewat sosok Tomo dengan mantan istri dan anaknya. Segment menyusun teka-teki yang ditebar di paruh awal film sukses dibangun dengan baik dan membuat gue penasaran. Element horror kerap kali dihadirkan untuk memperlengkap sensasi tegang dalam film. Namun sayang, menuju paruh pertengahan dan akhir film intense ketegangan dan penasaran makin berkurang lantaran beberapa tingkah konyol (terutama karakter Guntur Samudra) yang dilakukan. Gue bener-bener cukup terganggu dengan sosok Guntur disini. Jadi berasa mengurangi intense "keseriusan" film ini.


Untungnya jajaran pemain tampil cukup memuaskan. Akhirnya gue bisa melihat Reza Rahadian bermain dalam Film Horror beneran bukan abal-abal. Performa beliau sebagai Tomo Gunadi cukup oke. Julie Estelle tampil cukup meyakinkan sebagai seorang Arkeolog. Mas "Adi" Dwi Sasono tampil sebagai seorang cenayang cukup menghibur meskipun sebenarnya yang ia lakukan itu bukan moment komedi.
Segi visual pun Film GERBANG NERAKA: FIREGATE (2017) ini harus diapresiasi. Efek CGI nya hampir sekelas dengan Film BANGKIT! (2016) dan sangat niat. Beberapa malah terlihat terlihat smooth. Set lokasi Situs Gunung Padang juga tampak meyakinkan. Penambahan genre horror juga dimanfaatkan dengan baik lewat beberapa jumpscared disepanjang film. Efek kejut yang dihadirkan terasa sangat efektif diparuh awal film. Iringan musik karya Andi Rianto juga memberikan ketegangan serta alunan yang tak menganggu. Sosok gaib yang kali ini dihadirkan oleh Rizal Mantovani lewat Badurakh kembali membuktikan bahwa beliau jago dalam menghadirkan sosok gaib yang ikonik! Meskipun sosok selanjutnya setelah Badurakh itu cukup mencengangkan. Namun ide tersebut juga cukup "fresh" lantaran tidak lagi menghadirkan sosok setan! Haha. Dialog yang dilakukan antara peran antagonis dan protagonis disini begitu related dengan keadaan zaman now dan juga sangat mengintimidasi. Keren!

Overall, Film GERBANG NERAKA: FIREGATE (2017) ini menghadirkan something "fresh" untuk genre Horror Indonesia. Semoga kedepannya semakin banyak film sejenis yang terus meningkat dalam segi kualitas!


[7.5/10Bintang]

Thursday, 7 September 2017

[Review] It Chapter One: Terror Badut Misterius Bernama Pennywise


#Description:
Title: It (2017)
Casts: Bill SkarsgÃ¥rd, Jaeden Lieberher, Jackson Robert Scott, Jeremy Ray Taylor, Sophia Lilis, Finn Wolfhard, Jack Dylan Grazer, Wyatt Oleff, Chosen Jacobs, Nicholas Hamilton, Stephen Bogaert, Jake Sim, Logan Thompson, Owen Teague, Geoffrey Pounsett, Pip Dwyer
Director: Andy Muschietti
Studio: WarnerBros Pictures, New Line Cinema, RatPac Dune Entertainment


#Synopsis: 
Ketika hujan turun, Georgie (Jackson Robert Scott) membuat sebuah perahu kertas yang dibantu kakaknya Bill (Jaeden Lieberher). Setelah beres membuatnya, perahu kertas tersebut ia hanyutkan di aliran air hujan yang mengalir di jalanan disekitar rumah Georgie. Ketika sedang asyik bermain, perahu kertas itu hanyut dan masuk kedalam gorong-gorong. Georgie merasa bersalah dan takut untuk pulang kerumah jika perahu kertas itu hilang. Ketika Georgie mencoba untuk mengambil perahu kertas itu, sesosok badut bernama Pennywise (Bill Skarsgard) muncul di dalam gorong-gorong itu. Si badut berjanji akan mengembalikan perahu itu asalkan Georgie ikut dengannya. Georgie yang menolak tawaran itu kemudian diserang oleh si badut dan menghilang.


Kabar duka menyelimuti keluarga Bill dan Georgie. Selama berbulan-bulan adiknya itu hilang tanpa kabar. Ketika libur musim panas datang, Bill memutuskan akan mencari keberadaan adiknya itu. Bill yakin jika adiknya itu hilang bukan tewas. Meskipun Georgie tewas hanyut terbawa arus air ketika hujan lebat turun, jenazah adiknya pasti akan bermuara pada suatu tempat di Kota Derry, kota tempat tinggal mereka saat ini.
Bill mengajak keenam teman sekolahnya yaitu Ben (Jeremy Ray Taylor), Richie (Finn Wolfhard), Eddie (Jack Dylan Grazer), Stanley (Wyatt Oleff), Beverly (Sophia Lilis) dan Mike (Chosen Jacobs) untuk ikut membantunya mencari keberadaan adiknya itu. Namun rencana mereka yang tergabung dalam The Losers Club itu selalu saja ada yang menghalangi. Diantaranya adalah grup kakak kelas mereka yang dipimpin oleh Henry (Nicholas Hamilton) yang selalu melakukan tindakan bullying cukup kasar terhadap Bill dan keenam teman-temannya.


Meskipun selalu mendapat tindakan kekerasan dari Henry dan teman-temannya, serta mendapat deretan kejadian serta gangguan dari sosok misterius, mereka semua tetap bisa fokus untuk mencari Georgie. Dengan bantuan Ben yang rajin menelusuri sejarah Kota Derry, Bill dan yang lainnya menemukan sebuah titik terang tentang sesuatu yang mereka cari. Di usia mereka yang masih anak-anak menginjak masa remaja serta rasa takut dalam diri masing-masing yang masih sangat besar, bisakah Bill dan keenam temannya itu menemukan Georgie dan melawan sosok Pennywise yang selalu muncul dengan wujud yang berbeda-beda?


#Review:
Adaptasi dari Novel Horror Fenomenal yang mencapai seribuan lebih lembar halaman karya Stephen King ini kembali diangkat ke sebuah layar lebar setelah sebelumnya sudah dibuat versi film pada tahun 1986 dan versi TV seriesnya pada tahun 1990. Dua versi Film It kala itu sukses menjadi salah satu film horror yang ikonik di masanya.
Tahun 2017 ini, Sutradara film MAMA (2013) merilis film tentang badut Pennywise ini di Bioskop. Sang sutradara membuat cerita Film IT (2017) ini berfokus pada cerita Bill dan keenam temannya diusia anak anak yang beranjak remaja saja. Keputusan ini menurut gue sangatlah tepat. Disini Andi Muschietti memberikan plot cerita yang jelas dan lengkap. Secara keseluruhan pun, plot cerita film IT (2017) berasa seperti cerita dongeng thriller.


Satu persatu karakter protagonis dikenalkan dengan amat baik lewat background masing-masing yang kuat. Bill si gagap yang ingin menemukan adiknya, Ben si gemuk yang selalu jadi sasaran tindakan bullying, Richie si banyak ngomong dengan kacamata besarnya, Eddie si anak higienis yang mengidap asma, Stanley si anak yang selalu rajin beribadah, Beverly si perempuan yang dicap murahan dan Mike si orang luar pengembala domba. Sang sutradara menyelipkan berbagai macam ketakutan terbesar yang dialami oleh ke tujuh anak itu. Rasa ketakutan itulah yang menjadi boomerang untuk mereka sendiri dan sasaran empuk untuk Pennywise dalam menyerang ke tujuh anak itu.


Jumpscare dan terror yang ditebar oleh Andi Muschietti dalam Film IT (2017) ternyata sangat mengasyikkan, tak terduga dan mencekam! Gue baru ngerasain lagi loncat dari kursi bioskop gara-gara ketakutan. Gila! Terrornya sangat mengganggu psikologis. Gue mungkin jadi orang ke-8 setelah ke-7 anak itu yang bener-bener ketakutan ngeliat sosok Pennywise dengan aneka macam wujudnya.
Dengan durasi mencapai 2 jam 16 menit, Film IT (2017) tak hanya menebar terror mencekam saja, disini juga diselipkan cerita persahabatan yang terasa sangat real dan kuat. Lawakan komedi lewat dialog dialog khas anak-anak beranjak remaja yang dilontarkan serta karakter Richie dan Eddie sangatlah sukses mencuri perhatian dikala suasana sedang tidak kondusif. Yang gak gue nyangka adalah si penulis skenario juga tak lupa memberikan sisi romantis yang simple serta moment mengharukan dalam film ini. Tujuannya mungkin agar durasi yang melar ini mempunyai cerita yang lengkap dan padat.


Bill Skarsgard sangat sukses memerankan sosok Pennywise yang haus akan anak-anak. Ia tampil prima dalam memanipulasi dan mengontrol ke-7 anak itu lewat ketakuan-ketakutan terbesar mereka. Ekspresi Bill Skarsgard dalam memerankan Pennywise begitu menyeramkan. Apalagi ketika ia geleng-geleng kepala sambil tertawa dan muncul tiba-tiba. It will be the best nightmare for everyone!
Efek CGI yang dihadirkan dalam wujud lain dari sosok Pennywise ketika menakut-nakuti ketujuh anak-anak itu semakin memberikan kesan menyeramkan. Meskipun mempunyai durasi yang melar dan mempunyai beberapa part yang terasa sangat panjang tapi hal itu tak membuat gue bosan di bioskop. Gue sangat menikmati alur cerita Film IT (2017) ini. Tak sabar untuk menantikan IT CHAPTER TWO (2019) dimana ke-7 anak ini sudah dewasa dan kembali menghadapi ketakutan terbesar mereka yaitu Pennywise!


[8.5/10Bintang]

Monday, 4 September 2017

Album Isyana Sarasvati - The Voice Of Paradox (2017)


Official Cover Album Isyana Sarasvati - The Voice of Paradox (2017)
Published by: Sony Music Entertainment Indonesia

Tracklist:

1. Echo
2. Terpesona (Feat. Gamaliel)
3. Nada Cinta
4. Lembaran Buku
5. Mad
6. Anganku Anganmu (Feat. Raisa)
7. Winter Song
8. That's it, I'm Done
9. Sekali Lagi (From Critical Eleven)
10. Gelora


Dapatkan dan Simpan Album Isyana Sarasvati - The Voice of Paradox (2017) disini
Dapatkan dan Simpan Album Isyana Sarasvati - The Voice of Paradox (2017) disini (via iTunes)

Sunday, 3 September 2017

Long Weekend Goes To The Lodge Maribaya is Not Worth It!


Liburan long weekend pada moment Idul Adha 1438 Hijriyah (1-2 September 2017) ini menjadi unforgettable journey in my life! Baru pertama kalinya, jarak tempuh cuma -/+ 17 kilometer dari Pusat Kota Bandung menuju The Lodge Maribaya harus ditempuh pulang-pergi selama 9 jam! Yess.. Sembilan jam! Dua kali lipat perjalanan Tasikmalaya - Bandung atau sama dengan perjalanan Bandung - Yogyakarta!
Pagi itu, 2 September 2017 gue kedatangan teman-teman dekat gue dari Jakarta dan Tasikmalaya yang lagi menikmati long weekend Idul Adha di Bandung. Awalnya gue gak ada niatan sama sekali untuk berwisata ke daerah Lembang apalagi Maribaya. Gue yakin pasti bakalan macet kalau memutuskan berwisata ke daerah sana. Tapi salah satu temen gue itu kepengen banget jalan-jalan ke Maribaya. Akhirnya kita bertiga memutuskan untuk nekad berangkat pergi ke Maribaya.


Transportasi yang dipakai, kami naik mobil dengan memesan Go-Car. Setelah menunggu 10-15 menitan, mobilpun tiba menjemput kami. Si driver Go-Car yang bernama Pak Andreas mengendarai mobil matic Daihatsu Ayla berwarna merah. Awalnya Pak Andreas agak sedikit menyesal karena telah mem-pickup orderan kami untuk pergi ke The Lodge Maribaya. Hal itu terlihat dari gesture serta obrolannya. Gue juga mikir sih, long weekend gini orderan ke The Lodge Maribaya, ongkosnya cuma Rp.35.000 dan pake saldo Go-Pay juga, tapi karena sudah terlanjur, beliau akhirnya bersedia mengantarkan kami ke tempat tujuan.
Perjalanan kami dimulai dari daerah Ciumbuleuit. Untungnya Pak Andreas sudah tahu jalan dan memutuskan lewat daerah Ciumbuleuit untuk pergi ke Lembang lalu The Lodge Maribaya. 30 menit dalam perjalanan awalnya lancar. Gue sempet berpikir kalau si Pak Andreas ini pinter juga ngambil jalan via Ciumbuleuit untuk pergi ke daerah Lembang. Karena gue yakin kalo ngambil jalan biasa ke daerah Setiabudi, pasti macet total. Tapi ternyata, setibanya di daerah Lembang, mobil yang kami tumpangi terjebak macet PARAH!
Perjalanan itu baru dimulai setengahnya. Kami semua hanya bisa pasrah menghadapi kemacetan ini. 2 jam berlalu pun, mobil yang kami tumpangi cuma bisa bergerak beberapa jengkal saja. kendaraan yang menuju kawasan Maribaya ternyata sangat banyak. Posisi duduk kami dalam mobil sudah tidak karuan lagi. Ditambah cuaca siang hari sangat terik membuat seisi mobil kepanasan, padahal AC sudah dinyalakan. Karena bete berjam-jam cuma bergerak sejengkal, dua jengkal, gue memutuskan untuk keluar mobil dan mencari warung dipinggir jalan untuk membeli minuman dan cemilan. 
Ketika gue turun dari mobil, dan sedikit melihat kedepan, ternyata antrian kendaraan mobil sangaaat panjaaang! Gue makin penasaran dengan penyebab kemacetan ini, gue kemudian berjalan kedepan untuk melihat keadaan.


Ditambah cuaca saat itu sangatlah panas terik, angin cukup bertiup kencang dan polusi debu karena tanah yang berada disekitar terjadinya kemacetan cukup gersang. Dan gue mendapat informasi dari warga sekitar kalau macet ini sampai kawasan pintu masuk The Lodge Maribaya (kurang lebih jarak pintu masuk dengan mobil yang kami tumpangi sejauh 6-7 kilometer). Daripada suasana tidak karuan didalam mobil, gue melanjutkan aksi jalan kaki gue menyusuri deretan kendaraan yang terjebak macet parah. Dan ternyata, penyebab kemacetan yang terjadi menuju kawasan The Lodge Maribaya itu adanya sistem buka tutup. Ditambah lagi kondisi jalannya sedang pengecoran dengan beton yang belum rampung, membuat jalanan menuju kawasan The Lodge Maribaya macet parah.
Sistem buka tutup jalan yang dilakukan oleh masyarakat setempat juga dimanfaatkan untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Meskipun seikhlasnya, tak sedikit juga para kendaraan yang mau tak mau memberikan receh selagi nunggu kendaraan mereka bisa berjalan maju.


Lokasi The Lodge Maribaya ternyata sangatlah terpencil. Akses utama hanya satu jalan seluas 2 mobil dan itu juga kita harus menelusuri jurang, hutan, berkali-kali jalanan menanjak dan juga terjal. Gue yang memutuskan untuk berjalan kaki, tak terasa tiba juga di area parkir The Lodge Maribaya. Dan jika dikalkulasikan, gue berjalan sejauh lebih dari 6 kilometer!
Setibanya di area parkir kira-kira pukul 15:45, mobil kami harus membayar sebesar Rp.15.000.- untuk parkir kendaraan. Jarak antara lahan parkir mobil dan pintu masuk juga cukup jauh sekitar 500-1000 meter. Setibanya di tempat pembelian tiket, kita juga harus kembali antri.
Harga tiket masuk yang diberlakukan pada saat itu adalah:
Weekday: Rp.20.000/orang
Weekend: Rp.25.000/orang
Tiket tersebut juga mendapat voucher minuman gratis. Ketika kami kesana mendapatkan satu gelas minuman Milo dingin.
Usai mendapatkan tiket masuk, lagi-lagi harus kembali antri untuk masuk ke The Lodge Maribaya. Karena saat itu pengunjung tempat wisata sangatlah sangat-sangat banyak! Ketika sudah berada dikawasan The Lodge Maribaya, kita harus menelusuri naik turun tangga untuk mengeksplor tempat wisata.




Kala itu semua tempat spot foto sudah penuh dan antri. Banyak banget wisatawan yang ingin berfoto di spot-spot foto terbaik di The Lodge Maribaya meskipun harus kembali membayar sebesar Rp.20.000.- untuk SATU KALI jepretan foto. Gue sama kedua temen gue memutuskan untuk berfoto-foto di spot photo yang gratisan saja karena sudah terlanjur capek serta males duluan melihat antrian yang mengular di spot-spot foto itu.
Ditengah-tengah sedang asyik mengabadikan foto, terdengar suara pengumuman dari pengeras suara bahwa kawasan wisata The Lodge Maribaya akan ditutup pada pukul 17:00. Jam di ponsel kita sudah menunjukan pukul 16:30, yang dimana KITA CUMA mempunyai kesempatan untuk menikmati The Lodge Maribaya tinggal 30 menit lagi. SH*T! Perjalanan 4 jam menuju The Lodge Maribaya cuma segitu doang?!
Setelah selesai mengabadikan foto-foto (meskipun masih kurang banyak banget), kami memutuskan untuk kembali ke parkiran dan pulang. Kami juga berdiskusi bersama Pak Andreas untuk menentukan tarif offline mobilnya yang uyuhan sudah nganterin kami ke The Lodge Maribaya. Deal lah Rp.300.000.- antara kami dengan Pak Andreas untuk bisa kembali pulang.
Jam sudah menunjukan pukul 17:30, mobil kami akhirnya keluar dari kawasan Maribaya. Gue dan temen-temen gue sangat berharap kondisi jalan sudah lancar. Disepanjang perjalanan gue cuma bisa bilang dalam hati "kasian deh lo" kepada yang masih antri untuk pergi ke The Lodge Maribaya, karena tempat itu sudah TUTUP! HAHAHA *evil laugh*
Setelah keluar dari kawasan Maribaya, gue masuk kawasan Lembang lalu Dago Giri. Dan disana kita kembali lagi bertemu dengan kemacetan. Dan kali ini sama parahnya ketika waktu berangkat. Hampir satu jam lebih mobil tidak bergerak sama sekali. Jam di ponsel terus bertambah. Semua badan terasa pegal-pegal.
Dan akhirnya, pada jam 22:30 mobil kami berhasil keluar dari kawasan Dago. Gue dan Pak Andreas dibuat keheranan setengah mati melihat kondisi jalanan di Kota Bandung (Dago, Surapati, Cihampelas) kala itu LANCAR! Gue dan kedua teman hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerelaannya Pak Andreas yang mau mengantarkan kami ke The Lodge Maribaya dan kembali ke kosan di daerah Surapati, Gasibu.
Overall, gue gak bisa kasih high recommended untuk berwisata ke The Lodge Maribaya ketika weekend atau tanggal libur merah kalender. Kalau tetap kekeuh, kejadian yang gue alamin bakal kalian alamin juga! Semoga kedepannya, The Lodge Maribaya terus membenahi diri agar para wisatawan ngerasa worth it setelah berjam-jam antri dan terjebak macet berwisata disana.

Friday, 1 September 2017

[Review] Warkop DKI Reborn Part 2: Petualangan Dono Kasino Indro Berlanjut!



#Description:
Title: Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (2017)
Casts: Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, Tora Sudiro, Indro Warkop, Hannah Al-Rashid, Ence Bagus, Nur Fazura, Nora Daanish, Babe Cabiita
Director: Anggy Umbara
Studio: Falcon Pictures


#Synopsis:
Ditengah tuntutan pengadilan atas insiden terbakarnya pameran lukisan mahal oleh ulah mereka, Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian) dan Indro (Tora Sudiro) harus mencari cara untuk bisa terbebas dari jeratan hukum. Pengadilan memberikan pilihan antara dijebloskan ke penjara atau membayar ganti rugi sebesar belasan miliar rupiah. Tak hanya itu saja, sang bos CHIPS (Ence Bagus) juga menuntut ketiga anggotanya itu untuk secepatnya menyelesaikan kasusnya. Jika tidak, CHIPS akan dibubarkan.
Ketika dalam perjalanan, tak sengaja Dono, Kasino dan Indro menolong orang yang tertabrak. Namun sayang, nyawa orang itu tak terselamatkan. DKI yang ditemani oleh Sophia (Hannah Al-Rashid) itu mendapatkan sebuah peta harta karun pemberian orang yang ditolong oleh mereka. DKI dan Sophia lantas terbang menuju ke Malaysia untuk mencari harta karun itu.
Setibanya di Malaysia, tas yang berisikan buku petunjuk harta karun tersebut tertukar dengan tas milik Nadia (Nur Fazura) di Bandara. Nadia merupakan seorang ilmuwan yang sedang melakukan penelitian di Malaysia.


Untungnya mereka kembali dipertemukan oleh insiden Kasino (Vino G. Bastian) yang "tak sengaja" tenggelam di pinggiran pantai. Tas pun kembali kepada DKI dan Sophia. Mereka berusaha untuk memecahkan teka teki buku harta karun itu. Dengan bantuan Nadia juga, DKI dan Sophia bergegas pergi ke sebuah pulau tak berpenghuni yang konon menyimpan harta karun yang melimpah. Setibanya di pulau tersebut, DKI malah terpisah dengan Sophia dan Nadia. DKI kemudian memutuskan berpencar untuk menemukan Sophia dan Nadia. Sialnya Dono malah bertemu dengan Kuntilanak, Kasino dengan pepohonan yang bisa bergerak dan Indro bertemu dengan sosok Pocong.
Hingga pada akhirnya menemukan sebuah gua misterius yang ternyata menyimpan sebuah rahasia besar.



#Review:
Siapa yang tak kenal dengan Film WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1 (2016). Film itu sukses meraih respon sangat positif ketika tayang di bioskop Indonesia pada tahun 2016 lalu. Penonton sangat membludak ingin menyaksikan Trio Warkop versi Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian dan Tora Sudiro beraksi memerankan Dono, Kasino dan Indro. Hasilnya pun tak mengecewakan. Film yang disutradarai oleh Anggy Umbara itu sukses mencetak 6.800.000 penonton lebih diseluruh Indonesia dan menjadikan Film Indonesia Terlaris Sepanjang Sejarah.
Tak tinggal diam, satu tahun kemudian (tepatnya hari ini), Falcon Pictures dan Anggy Umbara merilis WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 2 (2017).


Jika pada jilid pertama berfokus pada pengenalan masing-masing karakter yang tampil cukup memuaskan namun minim eksplor cerita, pada jilid keduanya ini Anggy Umbara giliran mengeksplor cerita petualangan Dono, Kasino & Indro yang penuh dengan kekonyolan luar biasa. Penonton benar-benar diberi porsi humor yang tanpa putus dari film awal hingga akhir. Beberapa humor yang dihadirkan memang banyak terinspirasi dari Film-Film Warkop DKI zaman dulu yang sedikit dimodifikasi oleh sang sutradara. Fokus cerita petualangan pun menurut gue menjadi sedikit terlupakan gara-gara kelakuan konyol dan humor dari DKI. Beberapa elemen komedi untungnya masih ada yang bisa bikin gue tertawa kencang. Diantaranya: Adegan Pintu, Adegan TV Ajaib (Segment Suzzana) dan Adegan Behind The Scene. Menurut gue ada juga beberapa adegan dimana personel DKI berbicara pada kamera, awalnya terasa cukup lucu tapi karena keseringan dan berulang malah menjadi biasa aja. Jangan lupakan juga Anggy Umbara juga di film ini memberikan kejutan twist yang selalu diluar nalar dan dugaan. Untungnya, di akhir cerita, sang sutradara memberikan jawaban atas segala pertanyaan dengan baik yang menggantung baik dari jilid pertama maupun awal film jilid kedua.


Jajaran pemain juga tampil semakin menggila disini. Porsi dialog komedi pada jilid kedua di dominasi oleh Kasino yang diperankan Vino G. Bastian. Sosok Dono yang diperankan oleh Abimana Aryasatya masih tetap mencuri perhatian gue dalam film ini. Tora Sudiro yang memerankan Indro untungnya masih mampu mengimbangi Vino, Abimana serta Indro Warkop dalam urusan komedi. Untuk pemain lainnya terutama Hannah Al-Rashid, Nur Fazura & Nora Daanish semakin terlihat cuma sebagai pemanis belaka.
Untuk segi visual dan musik, kualitasnya masih mirip dengan jilid pertamanya. Namun sayang, beberapa scene musikal dalam film ini kalau menurut gue terlalu lama disisipkan di dalam film. Gue berharap kedepannya Warkop DKI Reborn terus dibuat filmnya dan terus mengalami peningkatan kualitas baik dari segi cerita, komedi, visual dan lain sebagainya. Gue sedikit pesimis, jilid keduanya ini tidak akan menyamai rekor apa yang telah dicapai oleh jilid pertamanya. Tapi gue yakin masih mampu berjaya di Box Office Indonesia Tahun 2017!



[7.5/10Bintang]