Thursday, 29 March 2018

[Review] Teman Tapi Menikah: Kisah Cinta Yang Bermula Dari Pertemanan


#Description:
Title: Teman Tapi Menikah (2018)
Casts: Adipati Dolken, Vanesha Prescilla, Cut Beby Tsabina, Denira Wiraguna, Diandra Agatha, Refal Hady, Rendi John, Shara Virisya, Sari Nila, Sarah Sechan
Director: Rako Prijanto
Studio: Falcon Pictures

#Synopsis:
Ditto (Adipati Dolken) tak menyangka salah satu aktris remaja yang ia idolakan dan selalu ia tonton sinetronnya yaitu Ayudia (Vanesha Prescilla) ternyata satu sekolah dan satu kelas ketika bangku SMP. Ditto pun berusaha untuk menjadi sahabat terbaiknya Ayu ketika di sekolah. Dan semua harapan Ditto terkabul, mereka menjadi sahabat dekat hingga duduk bangku SMA. Kedekatan mereka berdua sudah tidak ada rasa jaim sama sekali. Masing-masing dari mereka selalu bercerita tentang kehidupan serta kisah cintanya. 
Kebersamaan yang Ditto dan Ayu lalui bersama sejak zaman duduk di bangku SMP membuat Ditto mulai sayang dan menaruh perasaan pada Ayu, namun ia belum berani mengutarakannya. Ditambah lagi saat itu Ayu sedang dekat dengan Darma (Rendi John) seorang gitaris dari band di sekolah mereka. Tak mau dirundung cemburu, Ditto kemudian berpacaran dengan Mili (Cut Beby Tsabina). Awalnya berjalan lancar, tapi tak berapa lama, hubungan mereka berakhir. Usai putus dari Mili, Ditto kemudian berpacaran dengan Acha (Diandra Agatha). Tapi seperti sebelumnya, hubungan mereka kandas. Ditto merasa tidak punya feeling yang besar baik itu pada Mili atau Acha. Rasa sayang yang ia miliki hanya untuk Ayu.
Hingga waktu pun berlalu, Ditto dan Ayu kini sudah lulus SMA. Ayu memutuskan untuk fokus di dunia akting di Jakarta. Sementara itu, Ditto melanjutkan untuk kuliah di Bandung. Ia merasa sedih karena harus berpisah jarak dengan Ayu. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, rutinitas kuliahnya, Ditto perlahan mulai bisa melupakan Ayu dan bisa membuka hatinya pada Dilla (Denira Wiraguna), salah satu anak kampus yang tak sengaja bertemu di perpustakaan.
Hubungan Ditto dan Dilla berjalan lancar hingga menginjak tahun keempat. Disisi lainnya, Ayu pun kini sudah berbahagia dengan Rifnu (Refal Hady). Karena lama tak berjumpa, Ditto dan Ayu akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan membawa pasangan masing-masing. Dan secara mengejutkan, sifat serta kelakuan Ditto dan Ayu ketika bertemu kembali, tidak ada perubahan sama sekali. Hal ini membuat pasangan dari mereka menaruh curiga dan juga cemburu.
Usai pertemuan itu, Dilla memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Ditto. Dilla sangat memahami bahwa sebetulnya selama empat tahun mereka berpacaran, hati dan cinta Ditto tidak sepenuhnya untuk Dilla. Melainkan untuk Ayu. Mendengar kabar Ditto dan Dilla putus, membuat Ayu heran karena penyebab putus Ditto dengan pasangannya selalu saja sama. Disaat yang sama juga, Ditto akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Ayu setelah ia mencoba menyembunyikannya selama 12 tahun lamanya.
Tapi sayang, Ditto terlambat. Ternyata Ayu sudah mempunyai berencana akan bertunangan dengan Rifnu. Hal itu tak membuat Ditto bersedih, ia malah lega akhirnya bisa mengungkapkan perasaannya pada Ayu meskipun itu terlambat. Lalu, bagaimanakah akhir cerita Ditto dan Ayu?

#Review:
Usai euforia kesuksesan luar biasa Film DILAN 1990 (2018) pada Januari lalu yang bekerjasama dengan Max Pictures, Falcon Pictures akhir Maret ini kembali tertarik mengadaptasi novel ke layar lebar. Kali ini diangkat dari novel karya pasangan selebriti Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion berjudul TEMAN TAPI MENIKAH.
Dengan jarak yang tak terlalu jauh dengan Film DILAN 1990 (2018), beberapa pihak banyak yang menduga karakter Ayu yang diperankan oleh Vanesha Prescilla ini hanya untuk memancing respon pro kontra terutama dari fans Dilan-Milea dan Ditto-Ayu. Ditambah lagi, kedekatan Adol-Vanesha yang digembar-gemborkan sebelum film rilis, terasa hampir mirip dengan strategi yang pernah dilakukan Iqbaal-Vanesha di film DILAN 1990 (2018). 
Terlepas dari entah itu gimmick promosi atau real terjadi, Film TEMAN TAPI MENIKAH (2018) ini boleh banget dibilang salah satu Film Drama Indonesia Terbaik yang pernah dibuat. Alur cerita yang dihadirkan oleh sang penulis skenario serta sutradara terasa begitu mengalir, sesuai pada porsinya dan tak lupa juga manis. Meskipun sebetulnya berakhir dengan cheesy, tapi sang penulis skenario dan sutradara bisa mengakhiri ceritanya dengan amat baik disini. Aku suka banget!
Tak cuma itu saja, Rako Prijanto juga menggambarkan sosok Ayu-Ditto dari zaman SMP sampai menikah masih menggunakan aktor-aktris yang sama. Perubahan sikap, sudut pandang serta kelakuan mereka ada progress signifikan dari SMP hingga dewasa. Chemistry antara Adol serta Vanesha juga menjadi hal terkuat di film ini. Tek-tok dialog diantara keduanya begitu klop banget. Progress akting Vanesha dalam film ini naik signifikan dibandingkan film sebelumnya. Jajaran pemain pendukung pun yang mayoritas pemain pendatang baru di industri Film Indonesia, tampil semakin menguatkan dan memeriahkan perjalanan cinta Ditto-Ayu. Jajaran para mantan dari Ditto-Ayu pun cukup sukses mencuri perhatian dengan segala sikapnya yang cukup related dengan realita. Refal Hady dan Denira Wiraguna menurutku tampil paling mengesankan. Mereka mampu mengaduk emosi penonton ketika harus dihadapkan dengan Ditto-Ayu. Aku jadi berimajinasi, karakter Rifnu ini harus dibuat spin-off nya. Ku jadi penasaran, siapa aja sebetulnya deretan para mantan Ditto dan Ayu di kehidupan nyata. Haha.
Yang kusuka berikutnya adalah tata artistik film TEMAN TAPI MENIKAH (2018) begitu catchy dan enak dipandang. Kostum Adol-Vanesha serta pemain pendukung lainnya begitu pas banget tidak berlebihan. Urusan musik serta soundtrack juga film ini begitu kece. Tapi maaf, aku lebih mencintai lagu-lagu karya Ditto dan Ayudia difilm ini daripada soundtrack utama yang dinyanyikan oleh Iqbaal. Haha.
Overall, TEMAN TAPI MENIKAH (2018) surprisingly is really good movie about teenagers love story. Salah satu yang terbaik yang pernah dibuat!


[8/10Bintang]

Tuesday, 27 March 2018

[Review] Danur 2 Maddah: Cerita Risa Sarasvati Dan Para Hantu Berlanjut


#Description:
Title: Danur 2 Maddah (2018)
Casts: Prilly Latuconsina, Elena Victoria, Sophia Latjuba, Bucek Deff, Shawn Adrian, Sandrina Michelle, Annov Hariprabowo, Dea Panendra
Director: Awi Suryadi
Studio: MD Pictures, Pichouse Films

#Synopsis:
Ibu (Kinaryosih) terpaksa harus pergi meninggalkan kedua anak perempuannya, Risa (Prilly Latuconsina) dan Riri (Sandrina Michelle) karena urusan pekerjaan ayah mereka ke Malaysia. Risa dan Riri pun ditawari sementara bisa tinggal di rumah keluarga  pamannya, Achmad (Bucek Deff) dan tantenya Tina (Sophia Latjuba) jika mereka kesepian. Om Achmad dan tante Tina mempunyai seorang anak remaja bernama Angki (Shawn Adrian).
Suatu hari, ketika Risa dan Riri berkunjung ke rumah keluarga tantenya itu tak sengaja melihat aktivitas tak biasa yang dilakukan oleh om nya. Ia lebih sering bolak-balik ke paviliun terbengkalai yang berada tak jauh dari rumah mereka. Tak hanya itu saja, om Achmad juga banyak menanam dan menyimpan bunga sedap malam di halaman dan di dalam rumah.
Kecurigaan Risa terhadap om nya itu semakin terasa kuat setelah ia tak sengaja melihat om Achmad bersama dengan sesosok perempuan. Risa yakin bahwa om nya itu telah berselingkuh dari tante Tina. Lalu semenjak kejadian itu, hal-hal aneh dan misterius juga menyelimuti keluarga om Achmad. Bahkan Riri dan Risa pun ikut merasakannya.
Sosok misterius yang mencoba mengganggu keluarga om Achmad adalah seorang hantu wanita Belanda yang menghuni paviliun bernama Elizabeth (Elena Victoria). Ia melihat sosok om Achmad seperti kekasihnya, Dimas (Annov Hariprabowo) yang tewas ditembak oleh ayahnya sendiri karena tidak merestui hubungan antara Elizabeth dan Dimas.
Untuk mendapatkan om Achmad, hantu Elizabeth menggunakan banyak cara. Ia  menghantui anggota keluarga om Achmad. Satu persatu mulai dari tante Tina, Angki, Riri hingga Risa merasakan terror menyeramkan dari Elizabeth. Bersama dengan kelima teman hantunya, yaitu Peter, William, Jensen, Hendrik dan Hans, mampukah Risa menghentikan sosok Elizabeth yang menginginkan om nya?

#Review:
Sebagai pelopor film Horror Indonesia pertama di tahun 2017 yang sukses secara komersil, Film DANUR (2017) adaptasi novel mistis karya Risa Sarasvati menjadi project menjanjikan bagi produser Manoj Punjabi. Meskipun menuai kesuksesan secara komersil, tapi untuk segi kualitas, Film yang dibintangi oleh Prilly Latuconsina dan Shareefa Daanish itu masih jauh dari kata bagus.
Produser pun bergerak cepat, dengan kembali menggandeng Awi Suryadi sebagai sutradara, sekuelnya yang berjudul DANUR 2 MADDAH (2018) ini rilis di bioskop Indonesia mulai hari ini.
Untuk segi cerita dan screenplay, jilid keduanya ini terasa jauh lebih rapi dibandingkan jilid pertamanya. Menit pertama film yang dibuka dengan cuplikan wawancara tampil lumayan mencuri perhatian dan terasa cukup creepy. Moment jumpscared yang ditampilkan kali ini sangat slowburn namun sukses mencapai klimaksnya. Ku sangat suka beberapa moment jumpscared tampil cukup mengesankan (terutama adegan dzikir, musholla, piano dan dua adegan yang diulang-ulang) dan bahkan intense seramnya naik bekali-kali lipat dibandingkan jilid pertamanya. Hal tersebut semakin didukung oleh gaya kamera serta sinematografi Awi Suryadi yang kali ini sangat ciamik hampir sekelas dengan film horror terbaiknya, yakni BADOET (2015) dan sedikit mengingatkan juga akan gaya kamera khas James Wan. Penyelesaian klimaks yang ditampilkan di akhir film pun tampil memuaskan. Ditambah lagi kemungkinan besar akan berlanjut di jilid berikutnya dengan sosok hantu Canting yang lagi-lagi membuatku sangat penasaran usai melihat siapa yang memerankannya. 
Untuk jajaran pemain tampil tidak terlalu mengecewakan. Kemampuan akting Prilly Latuconsina kali ini jauh lebih diasah oleh sang sutradara. Sosok hantu Elizabeth yang diperankan oleh model cantik Elena Victoria pun tampil sangat menyeramkan. Kuyakin nih Elizabeth bisa jadi sosok hantu yg iconic dan memorable banget. Bucek Deff tampil sukses sebagai sosok yang pendiam penuh misteri. Shawn Adrian dan Sandrina Michelle juga tampil tidak mengecewakan. Yang sedikit disayangkan menurutku adalah porsi Sophia Latjuba disini begitu terbatas. Ditambah lagi kelima karakter hantu teman Risa dalam film ini juga tidak terlalu menonjol dan berpengaruh besar terhadap filmnya.
Untuk segi musik, sekuelnya kali ini jugtidak terlalu berisik. Awi Suryadi memanfaatkan dengan amat baik suara-suara alami dalam film ini. Atmosfer horror di set lokasi yang masih sama dengan film BAYI GAIB (2018) ini juga terjaga dengan baik dari awal hingga akhir film.
Awi Suryadi dan Manoj Punjabi nampaknya mendengar segala macam kritikan saat jilid pertamanya rilis di bioskop dan memperbaiki semuanya di jilid keduanya dengan amat baik. Overall, film DANUR 2 MADDAH (2018) adalah film horror Indonesia terbaik di semester pertama tahun ini. Terima kasih Awi Suryadi sudah mengembalikan kepercayaanku terhadap film horror Indonesia. Sebuah film horror Indonesia itu kalau dibuat dengan sungguh-sungguh pasti bagus. Contohnya adalah ini.


[8/10Bintang]

Thursday, 22 March 2018

[Review] Kenapa Harus Bule: Perjalanan Cinta Gadis Pribumi MencariJodoh Bule


#Description:
Title: Kenapa Harus Bule? (2018)
Casts: Putri Ayudya, Natalius Chendana, Cornelio Sunny, Michael Kho, Chicco Kurniawan, Djenar Maesa Ayu, Paul Agusta.
Director: Andri Cung
Studio: Kalyana Shira Films, Good Sheep Production

#Synopsis:
Pipin (Putri Ayudya) sejak kecil selalu diejek oleh teman-teman sepermainannya. Mereka menganggap Pipin tidak terlalu cantik bahkan ia selalu dipanggil Mimin (panggilan hewan monyet yang sering beraksi topeng monyet didekat tempat tinggal Pipin). Hal tersebut membuatnya sedih. Namun dua sahabat dekatnya, Arik dan Buyung selalu menjadi teman teman terbaik untuk Pipin.
Waktu berlalu, kini Pipin sudah berusia 29 tahun. Diusianya yang bukan lagi remaja abege, impian Pipin sedari dulu hanya satu, yakni bisa pacaran dan menikah dengan bule. Alasannya cuma satu, ia ingin memperbaiki keturunan dan emansipasi wanita, karena Pipin beranggapan bahwa bule sangat menghargai perempuan. Namun selama ia tinggal di Jakarta dan mencari pasangan bule, nasib Pipin selalu sial. Bule-bule yang mencoba mendekatinya kebanyakan hanya untuk kepuasan seks semata. Ditambah lagi persaingan para wanita pencari bule di Jakarta sudah sangat ketat. 
Pipin pun memutuskan untuk pergi ke Pulau Dewata, Bali yang konon merupakan surganya bule yang mencari penduduk asli. Ia lalu menghubungi sahabatnya, Arik (Michael Kho) yang telah lama pindah dan menetap disana. Selama di Bali, ia sementara tinggal di tempatnya Arik. Kedatangan Pipin ke Bali sangat ditunggu Arik. Ia ternyata sudah mempersiapkan sesuatu untuk sahabatnya itu. Arik berencana menjodohkan Pipin dengan Buyung (Natalius Chendana) yang merupakan pemilik cafe di Bali. Buyung rupanya sudah mencintai Pipin dari dulu sebelum ia pergi ke Australia untuk mengobati kelainan pigmen kulit serta gagap yang ia alami sejak kecil. 


Mengingat Pipin yang ngebet banget ingin punya pasangan bule, Arik meminta Buyung berpura-pura sebagai seorang bule blasteran bernama Ben. Tujuannya agar Pipin tertarik, karena jika ia tahu siapa Ben sebetulnya, pasti ia langsung menolak lantaran bukan seorang bule.
Lambat laun, rencana penyamaran yang semulanya berjalan lancar, menjadi terbongkar. Buyung berkata jujur. Dan seperti yang sudah diduga, Pipin langsung menolaknya. Ia tetap kekeuh ingin punya calon suami seorang bule.
Usai kejadian itu, Pipin tak sengaja bertemu dan berkenalan dengan seorang bule italia bernama Gianfranco (Cornelio Sunny). Kedekatan mereka kemudian berlanjut. Gianfranco bahkan selalu meminta Pipin untuk datang ke villa nya. Pipin langsung jatuh cinta melihat Gianfranco beserta villa nya itu. Ia langsung yakin Gianfranco bisa menjadi suaminya nanti. 
Seiring berjalannya waktu, hubungan Pipin dan Gianfranco itu terasa seperti matre dan memanfaatkan belaka. Tiap makan atau jalan bersama, selalu Pipin yang bayar. Tak hanya itu saja, Pipin selalu disuruh untuk membersihkan villa tempat tinggal Gianfranco. Meskipun merasa cuma dimanfaatkan semata, Pipin tetap tersenyum dan ia masih yakin bahwa Gianfranco adalah bule yang mau menikahinya.
Melihat kondisi sahabatnya yang terasa semakin seperti asisten rumah tangga, membuat Arik kesal. Ia berusaha menasehati dan membukakan mata pintu hati Pipin bahwa selama ini ia hanya dimanfaatkan saja oleh Gianfranco. Pipin justru tidak melihat Buyung yang benar-benar mencintainya dengan tulus.
Seiring berjalannya waktu, Pipin akhirnya mengetahui siapa sosok Gianfranco sebenarnya usai tamu sepasang suami istri (Paul Agusta dan Djenar Maesa Ayu) yang selalu datang ke villa dan memergoki Gianfranco tengah bersama Pipin. Ia merasa sakit hati dan merasa kembali terjerumus ke lubang yang sama menerima kenyataan bahwa orang-orang bule yang dekat dengannya tidak pernah ada yang berkelakuan baik.


Pipin memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Gianfranco dan fokus untuk bekerja yang ia dapatkan dari Buyung. Kesibukan Pipin yang kini bekerja, membuat ia sedikit melupakan obsesinya untuk mencari bule. Ditengah kesibukan itu, Buyung lalu memutuskan untuk mencoba lagi mengungkapkan perasaannya pada Pipin.
Akankah Pipin bisa menerima pria pribumi? Atau masih saja kekeuh ingin bule?

#Review:
Sutradara Andri Cung nampaknya kali ini ingin hadir meramaikan perfilman Indonesia di bioskop reguler setelah sebelum2nya hanya eksis dan konsisten pada film-film festival bertema LGBT atau short movie saja. Dengan menggandeng Nia Dinata sebagai produser, Andri Cung mencoba menghadirkan sebuah film yang bercerita tentang obsesi seorang perempuan yang ngebet mempunyai pasangan bule. Premis yang coba Andri Cung tampilkan ini cukup sukses membuatku penasaran. Karena kuyakin hal yang dialami oleh sosok Pipin dalam film ini pasti sangat related untuk sebagian orang.


Dan itu terbukti diparuh pertama film, Andri Cung sukses mengenalkan sosok Pipin dan orang disekitarnya dengan cukup baik. Percakapan antara Pipin dan Arik dalam mobil ketika film dimulai terasa begitu real, natural dan sangat menyenangkan. Ku langsung dibuat jatuh cinta dengan dua karakter itu. Chemistry keduanya sebagai sepasang sahabat pun terus bergulir semakin baik menuju pertengahan film.
Namun ketika berbagai konflik dimunculkan, intens keseruan yang sudah dilakukan paruh pertama film, menurutku mendadak berubah. Hal itu dimulai ketika peran yang dimainkan oleh Djenar dan Paul muncul. It's too dramatic! Aku cukup heran, kenapa sih harus seperti itu. 
Rupanya konflik serta penyelesaian berikutnya pun terasa makin lama makin komersil. Kurasa moment Pipin kembali terjerumus kelubang Gianfranco yang sama untuk yang kedua kalinya itu juga cukup maksa. Padahal satu kali saja juga udah pas banget. Hal berikutnya yang menurutku lagi-lagi terasa mainstream dan komersil adalah penentuan akhir film yang begitu cheesy. Aku jadi makin tak suka dengan akhir cerita film ini. Kenapa harus dibuat seperti ini sih. Kesannya premis yang cukup menarik di paruh awal film berakhir dengan kisah layaknya FTV.
Namun dibalik kekurangan itu, sosok Pipin dan Arik yang diperankan oleh Putri Ayudya dan Michael Kho adalah karakter yang sangat entertaining disepanjang film. Tek-tok antara mereka berdua begitu pas dan menyenangkan. Bahkan aku pribadi, selalu menunggu kehadiran si Arik muncul. Gila nih Michael Kho keren cuco' meong dan mencuri perhatian banget meranin pemeran pendukung untuk film ini. Sudah masuk list Favorite Supporting Actor versiku tahun ini!
Segi sinematografi dan kamera, film KENAPA HARUS BULE? (2018) tampil cukup pas khas film-film indie festival dengan gaya pengambilan gambar serta filternya seperti itu.
Overall, film KENAPA HARUS BULE? (2018) ini akan terasa begitu entertaining dan menghibur jika kamu open-minded. Bahwa orang-orang seperti Pipin, Arik, Buyung dan yang lainnya itu memang ada di dunia nyata.


[7/10Bintang]

[Review] Guru Ngaji: Tak Ada Salahnya Dengan Profesi Sebagai Badut


#Description:
Title: Guru Ngaji (2018)
Casts: Donny Damara, Akinza Chevalier, Dewi Irawan, Ence Bagus, Andania Suri, Dodit Mulyanto, Verdi Solaiman, Tarzan
Director: Erwin Arnada
Studio: Chanex Ridhall Pictures


#Synopsis:
Mukri (Donny Damara) adalah seorang guru ngaji di desanya. Ia merupakan suami dari Sopiah (Dewi Irawan) dan mempunyai anak bernama Ismail (Akinza Chevalier). Kehidupan keluarga kecil mereka sungguh sederhana. Ismail tumbuh menjadi anak yang pintar dan taat pada agama. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang mempunyai usaha sampingan berjualan kerupuk.
Kehidupan ekonomi yang pas-pasan itu membuat Mukri mempunyai pekerjaan sampingan selain sebagai seorang guru ngaji. Ia tersadar bahwa penghasilan seorang guru ngaji tidaklah cukup untuk menafkahi keluarganya. Mukri berprofesi sebagai badut disebuah pasar malam milik Koko Alung (Verdi Solaiman). Ia tak sendirian, disana Mukri mempunyai partnernya yakni Parmin (Ence Bagus). Profesi sampingan yang Mukri jalani ini ia lakukan secara sembunyi-sembunyi dari keluarga dan warga desa. Mukri beranggapan profesi sebagai seorang badut adalah hal yang memalukan karena ditertawakan oleh orang-orang yang melihat aksinya.
Di pasar malam itu, Mukri harus berhadapan dengan kisah cinta Parmin yang mengagumi Rahma (Andania Suri) namun harus terhalang oleh keterbatasan ekonomi serta hadirnya Yanto (Dodit Mulyanto) yang selalu mencoba menghentikan Yanto mendekati Rahma.
Suatu hari, Koko Alung mendapatkan tawaran pertunjukan badut dari klien kepala desa (Tarzan). Ia ingin pertunjukan badut Mukri dan Parmin hadir di acara ulang tahun anak kesayangannya. Ditambah lagi, kepala desa tersebut meminta secara langsung Mukri menjadi pemimpin do'a di acara yang sama. Mendengar tawaran itu, Mukri merasa dilema. Ia tahu bahwa kepala desa itu adalah tetangganya dan akan menggelar acara ulang tahun di desanya juga. 
Mampukah Mukri menjalankan dua profesi itu sekaligus? Akankah semuanya akan terbongkar, jika selama ini guru ngaji di desa itu mempunyai profesi sampingan sebagai seorang badut?

#Review:
Erwin Arnada nampaknya tahun ini mulai produktif kembali dalam membuat sebuah film. Usai bermain dalam genre horror lewat NINI THOWOK (2018), beliau kali ini menghadirkan sebuah drama inspiratif yang mengisahkan tentang profesi guru ngaji dan badut.
Untuk cerita yang dihadirkan, seperti film-film drama inspiratif kebanyakan, tokoh utama digambarkan sebagai protagonis yang hidup dilingkungan yang sederhana. Paruh pertama film awalnya cukup baik berfokus pada kehidupan keluarga dan profesi Mukri. Namun perlahan-lahan, sub-plot lainnya bermunculan. Plot lainnya tentang kehidupan anaknya disekolah, hubungan Mukri dan orang disekitarnya serta kisah cinta Parmin, Yanto dan Rahma, menurutku membuat film GURU NGAJI (2018) ini terasa sesak. Semua subplot yang dihadirkan begitu menumpuk dan masing-masing diceritakan cukup panjang. Bahkan ada satu-dua subplot yang terlalu bertele-tele menurutku. Cukup terlihat hingga paruh akhir film, sang penulis skenario seperti kebingungan sendiri dalam menentukan akhir cerita film ini. Namun untungnya, masih ada beberapa adegan dan cerita yang cukup kuat. Ku paling suka ketika Mukri dan Parmin mendapat tawaran dari Koko Alung untuk menghibur anak-anak gereja. Eksekusinya begitu baik dan membuat penasaran.
Jajaran pemainnya menurutku memberikan penampilan yang cukup oke namun terasa tidak terlalu mengesankan. Donny Damara sih sudah tak perlu diragukan lagi. Sosok Dewi Irawan dalam film ini tak terlalu menonjol. Sayang banget. Andania Suri tampil terlalu cantik dan pendiam sebagai seorang penjual tiket wahana pasar malam. Andai sosok Rahma bisa diperdalam lagi karakternya mungkin subplot antara Parmin, Yanto dan Rahma akan jauh lebih menarik lagi. Dua komedian, Ence Bagus dan Dodit Mulyanto tampil baik meskipun terasa tidak ada yang spesial dari mereka.
Overall, Film GURU NGAJI (2018) ini mengajarkan pada kita semua untuk selalu bersyukur pada tuhan atas segala yang kita dapat dan berterima kasih kepada siapapun yang telah mengajari kita akan suatu hal yang positif.


[6/10Bintang]

Wednesday, 21 March 2018

Ending Film Love For Sale (2018)


Berikut adalah alternate ending #VersiGue untuk Film LOVE FOR SALE (2018) karya sutradara Andi Bachtiar Yusuf. Maaf kalau misalnya berakhir dengan cheesy. Karena menurut pendapatku ending kisah cinta Richard (Gading Marten) HARUS bahagia. Kasian dia sudah kelamaan sendiri, belasan tahun gak bisa move-on dari mantannya lalu ditinggal pas lagi sayang-sayangnya oleh Arini (Della Dartyan). Terlalu bertubi-tubi. Hehe.

Inilah sinopsis Alternate Ending LOVE FOR SALE (2018) #VersiGue:

"Mencintai itu sulit dan penuh dengan resiko karena melibatkan perasaan. Tapi tak ada salahnya untuk mengambil resiko tersebut.."
Richard (Gading Marten) pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Kedewasaan sifat Richard dalam hubungan asmara semakin terlihat usai ia mempunyai hubungan spesial dengan Arini (Della Dartyan). Meskipun berakhir dengan tidak bahagia.


Disisi lainnya, Arini kembali ke program Love Inc. Disana ia mendapatkan imbalan atas kerjanya selama ini dari atasannya. Namun entah mengapa, Arini merasakan ada sesuatu yang berbeda usai menjalin hubungan dengan Richard. Hatinya terasa hampa usai ia meninggalkan Richard begitu saja. Ia sebenarnya juga merasakan hal yang sama seperti Richard. Keduanya sudah saling mencintai satu sama lain.
Namun Arini kembali berfikir realistis, ia harus tetap profesional. Jika ia ingin tetap menjalin hubungannya dengan Richard, Arini harus siap kehilangan pekerjaannya. Suatu malam, disudut apartement tempat tinggalnya, ia duduk manis sambil menatap jendela. Arini kemudian membuka galeri photo di ponselnya. Satu persatu foto kebersamaannya dengan Richard ia lihat. Senyum manis Arini terbentuk di bibirnya. Ia lalu menandai semua foto itu, kemudian menghapusnya.



Sementara itu, Ditengah perjalanannya menaiki kendaraan roda dua mengelilingi pulau Jawa, Richard semakin mendapat pengalaman mengesankan ditiap tempat ia kunjungi. Berbagai macam orang, budaya, gaya hidup, semuanya ia temui. Luka dihatinya perlahan mulai terobati. Usai berbulan-bulan melakukan perjalanan itu, Richard memutuskan untuk pulang. Ia kembali ke rumahnya, Prima Warna. Richard disambut haru dan bahagia oleh para karyawannya. Sosok Richard benar-benar dirindukan.

Kehidupan Richard kembali ke rutinitas semula. Seorang pemilik usaha percetakan. Richard yang baru kini disegani oleh para karyawannya. Richard merasa jauh lebih bahagia sekarang. Berkat Arini lah, sosok Richard mampu berubah di hampir segala aspek kehidupannya. Tak ada pendamping pun ia tak menjadi masalah, para karyawan serta si Kelud, kura-kura kesayangannya adalah orang-orang yang saling menyayangi.


Suatu hari, ketika Richard dan ketiga karyawannya sedang makan malam bersama, tak sengaja salah satu karyawannya (Albert Halim) bertemu dengan teman satu kuliahnya bernama Anastasia (Gisele). Lalu di moment tersebut dikenalkan lah Anastasia pada Richard oleh karyawannya. Ternyata Anastasia mempunyai banyak kesamaan dengan Richard. Mereka mencintai satu grup sepak bola yang sama, hobi yang sama, mereka memiliki cerita masa lalu yang hampir sama dan juga mereka langsung satu pemikiran kita berbincang-bincang. Meskipun tidak sebaik Arini, Anastasia ini berhasil membuka pintu hati Richard yang selama ini telah tertutup.


Usai pertemuan pertama itu, Richard dan Anastasia semakin dekat dan menjalin hubungan asmara. Kebahagiaan selalu menyertai mereka. Hingga pada akhirnya, Richard memutuskan untuk mempersunting Anastasia. Anastasia pun menerima lamarannya.


Richard akhirnya naik pelaminan. Teman-temannya merasa sangat terharu melihat Richard menikah dengan orang yang mencintainya. Dengan endorsment kartu undangan oleh Prima Warna yang membuat teman-temannya Richard tertawa bahagia, acara pernikahan Richard dan Anastasia berjalan sederhana, hangat dan penuh cinta.
Tak perlu menunggu lama, keluarga Richard dan Anastasia diberi karunia oleh tuhan seorang bayi berjenis kelamin perempuan. Kelak, ketika bayi itu lahir, mereka akan memberi nama, Gempita. Sungguh kebahagiaan yang paling sempurna dan gempita untuk Richard dan Anastasia.



Photo credit by Instagram @VisinemaID @Gadiiing @Gisel_Ia.

Sunday, 18 March 2018

[Review] Love For Sale: Pencarian Pasangan Hidup Lewat Aplikasi Kencan



#Description:
Title: Love For Sale (2018)
Casts: Gading Marten, Della Dartyan, Verdi Solaiman, Adriano Qalbi, Albert Halim, Rukman Rosadi, Annisa Pagih, Torro Margens, Dayu Widjayanto, Rizky Mocil, Melissa Karim
Director: Andi Bachtiar
Studio: Visinema Pictures


#Synopsis:
Richard (Gading Marten), seorang lelaki berusia 41 tahun yang sudah lama terbiasa hidup sendiri. Ia adalah pemilik dan penerus perusahaan keluarganya yakni percetekan Prima Warna. Richard terkenal sebagai atasan yang sangat disiplin dalam segala hal. Tiga karyawan laki-lakinya (Adriano Qalbi, Albert Halim, Rukman Rosadi) dan dua karyawan perempuannya selalu mengikuti segala kemauan atasannya meskipun terkenal disiplin dan keras.
Kesendirian Richard yang selama belasan tahun terakhir hanya ditemani kura-kura kesayangannya bernama Kelud, mulai terusik ketika salah satu teman nongkrongnya Ridho (Rizky Mocil) akan melangsungkan pernikahan. Ridho dan ketiga teman lainnya nekad taruhan apakah Richard akan membawa pasangannya ke pernikahan Ridho atau tidak. Meskipun terdengar sebagai lelucon semata, hal itu membuat Richard berfikir keras untuk mendapatkan "gandengan" ke pernikahan Ridho. Ia tak ingin harga dirinya kembali jatuh dimata teman-temannya itu. Dengan berusaha mencari akal, Ridho mencoba mengajak karyawan perempuannya, tapi berujung gagal. Berlanjut pada ketemuan dengan client percetakannya, tapi ujungnya masih sama, gagal. Richard selalu merasa belum mendapat pasangan yang pas usai ia putus dengan mantannya, Maia pada belasan tahun silam.


Namun suatu hari, percetakan Prima Warna mendapatkan orderan cetak 200.000 eksemplar brosur product Love Inc. Sebuah aplikasi kencan online yang dimana dalam aplikasi tersebut kita bisa memilih pasangan kencan atau jodoh sesuai dengan kriteria yang diinginkan dan bisa "disewa" selama waktu yang client tersebut inginkan. Karena deadline pernikahan Ridho tinggal beberapa hari lagi, akhirnya Richard mengunduh aplikasi tersebut dan mencobanya. Dengan kriteria hanya mencari yang menarik, Richard kemudian mendapatkan Arini (Della Dartyan) dari aplikasi Love Inc. tersebut. dan berangkatlah mereka ke pesta pernikahan Ridho.
Rasa lega dan bahagia akhirnya Richard alami usai menghadiri pesta pernikahan Ridho. Ia tak jadi bahan olok-olokan jomblo akut oleh teman-temannya. Richard pun memutuskan untuk menyelesaikan misinya bersama Arini. Tapi sayang, Arini menolak. Ia mengatakan jika "sewa" yang Richard setujui di Love Inc. adalah selama 45 hari bukan untuk satu malam saja dan jika Arini kembali ke Love Inc. sebelum masa "sewa" nya selesai, maka ia akan diberhentikan bekerja di Love Inc. Mendengar hal itu, Richard merasa kasihan lalu mempersilahkan Arini untuk tinggal dengannya selama masa "sewa" itu.


Seiring berjalannya waktu, sikap Arini yang sangat baik, hangat dan juga selalu tahu apa yang Richard mau membuat Richard mulai membuka hatinya. Arini bahkan membuat orang-orang disekitar Richard ikut terpesona dengan kecantikan dan segala kemampuan yang ia punya. Ia sangat sukses menjalankan semua misinya. Bibit rasa cinta dan sayang Richard semakin besar kepada Arini. Richard bahkan bisa masuk ke dalam lingkungan kehidupan Arini, bertemu dengan keluarganya dan juga teman-temannya.
Richard kemudian berkonsultasi pada sahabatnya, Panji (Verdi Solaiman) tentang hubungannya dengan Arini. Dan Panji hanya bisa melihat bahwa Arini adalah sosok yang mampu menggantikan Maia, karena banyak sekali perubahaan drastis yang dialami oleh sahabatnya itu. Richard pun dengan mantap akan melamar Arini.
Akankah kisah Richard dan Arini berakhir dengan manis?



#Review:
Kisah jomblo menahun dan terlalu asik sendiri mungkin sudah banyak diangkat ke layar lebar. Namun untuk LOVE FOR SALE (2018) arahan Andi Bachtiar ini terbilang cukup fresh dan anti-mainstream dengan film drama Indonesia kebanyakan. Plot yang dihadirkan terasa begitu let it flow dan berjalan perlahan hingga menuju klimaksnya. Semuanya terasa begitu dekat dengan kehidupan orang-orang khususnya yang sudah berusia 21+ keatas. Interaksi sosial Richard dengan lingkungan sekitarnya pun disajikan begitu simple namun sukses memancing tawa lewat beberapa adegan seperti interaksi dengan para karyawannya yang pasti semua orang pernah merasakan mempunyai atasan atau teman seperti Richard ini. Andi Bachtiar rupanya tak ingin membuat filmnya ini berakhir klise seperti film-film drama Indonesia kebanyakan. Ia mengambil langkah yang cukup berani untuk mengakhiri cerita kisah cinta Richard dan Arini. Tak hanya itu saja, endingnya pun cukup sukses membuatku berdiskusi panjang dengan partner nonton film ini. Apakah ini, apakah itu. Semuanya mempunyai opini dan pendapatnya masing-masing. Namun yang sedikit disayangkan menurutku adalah motif utama Love Inc. itu apa terasa kabur dan lagi-lagi menimbulkan pendapat serta perspektif masing-masing penontonnya.


Kekuatan utama film LOVE FOR SALE (2018) berikutnya terletak pada dua pemain utamanya yaitu Gading Marten dan Della Dertyan. Sudah sangat jelas, film ini merupakan film terbaik dari seorang Gading Marten disepanjang karier filmografinya dia. Sosok seorang Richard terasa seperti dibuat hanya untuknya. Tak ada unsur komedi atau drama yang berlebihan yang coba ia tampilkan disini seperti pada acara musik pagi di salah satu stasiun televisi swasta atau sketsa komedi yang sering ia bawakan. Sosok Richard juga sukses membuat penonton ikut simpati dan respect apa yang ia alami disepanjang film. Aku yakin Gading di film LOVE FOR SALE (2018) sangat patut untuk diperhitungkan masuk ke dalam jajaran nominasi Aktor Terbaik pada musim penghargaan mendatang. Kekuatan pemain berikutnya datang dari sosok Della Dartyan, ia berhasil tampil sangat loveable. Sikap dan tingkah lakunya yang ia tampilkan membuat siapapun termasuk aku jadi sangat iri dan dengki kepada Richard. Jajaran pemain pendukungnya pun tampil begitu hangat dan sederhana. Sebut saja mereka para karyawan percetakan, cici Melissa Karim yang singkat namun mencuri perhatian hingga keluarga "fiktif" Torro Margens dan Dayu Widjayanto.


Overall, LOVE FOR SALE (2018) mampu tampil beda dan berani sebagai sebuah drama film Indonesia. Hal yang sudah baik dilakukan oleh film SATU HARI NANTI (2017) kembali dilakukan dengan baik dalam film ini. Thumbs-up!


[8.5/10Bintang]

Wednesday, 7 March 2018

[Review] Tomb Raider: Reboot Kisah Lara Croft Mencari Ayahnya



#Description:
Title: Tomb Raider (2018)
Casts: Alicia Vikander, Dominic West, Daniel Wu, Walton Goggins, Kristin Scott Thomas, Hannah John-Kamen
Director: Roar Uthaug
Studio: Warner Bros Pictures, MGM Pictures, GK Films

#Synopsis:
Lara Croft (Alicia Vikander) tumbuh menjadi seorang gadis yang berani dan keras. Ia menggeluti hal-hal yang jarang dilakukan oleh kebanyakan perempuan pada umumnya. Ia berlatih tinju, menjadi seorang kurir pengantar makanan hingga sering balap sepeda dengan dikejar oleh segerombolan pria.
Namun dibalik kuatnya fisik Lara, ia masih belum menerima kenyataan atas kepergian sang ayah, Richard Croft (Dominic West) seorang arkeolog besar dan kaya raya yang dinyatakan hilang ketika sedang menelusuri sebuah pulau tak berpenghuni bernama Yamatai di wilayah perbatasan antara Korea dan Jepang. Seluruh warisan dan perusahaan sang ayah kini jatuh ke tangan Lara. Namun hal itu tetap tak membuatnya bahagia. Keinginannya cuma satu, Lara bisa bertemu dengan ayah kandungnya yang telah hilang sejak ia usia anak-anak.
Penelusuran Lara akan jejak kepergian sang ayah ternyata sedikit menemukan titik terang usai ia membuka sebuah Puzzle Himiko milik ayahnya. Didalam puzzle tersebut tersimpan kunci yang menuntun Lara pada sebuah ruangan tersembunyi dirumahnya. Disana Lara menemukan sebuah kotak misterius yang diberi nama "Project Himiko". Isinya berupa beberapa rekaman suara, peta, petunjuk-petunjuk tentang pulau Yamatai. Usai menganalisa semua petunjuk itu, Lara memutuskan untuk pergi ke Korea mencari kapal usang milik Lu Ren (Daniel Wu) yang konon menjadi kapal yang ditumpangi oleh sang ayah menuju Yamatai. Berkat bantuan Lu Ren juga, Lara mengetahui lebih jelas tentang pulau Yamata yang konon memiliki sebuah artefak legenda Jepang berbahaya jika diusik keberadaannya.
Dalam perjalanan menuju pulau tersebut, tiba-tiba badai menghantam lautan dan menghancurkan perahu yang ditumpangi Lara dan Lu Ren. Beruntung, keduanya selamat dan terdampar disebuah pulau. Dan pulau tersebut adalah pulau yang Lara tuju. Ia diselamatkan oleh seorang pria bernama Mathias Vogel (Walton Goggins), rekan dari ayah Lara yang masih bertahan hidup dan terus berusaha mencari keberadaan artefak kuno itu meskipun ayah Lara telah menghilang. Di pulau tersebut, Vogel bersama anak buahnya mempekerjakan para nelayan serta korban yang terdampar ke pulau itu untuk membantunya mencari apa yang ia inginkan. Lara dan Lu Ren tidak tinggal diam, ia berusaha untuk melawan dan menghentikan Vogel.
Hingga suatu hari, Lara bertemu dengan seseorang yang tak ia duga usai ia berhasil lolos dari kejaran Vogel. Dia adalah ayahnya. Selama belasan tahun, ayahnya berusaha bersembunyi dari Vogel karena beliau mengetahui pasti kekuatan magis dari artefak kuno itu akan mampu mengancam kesalamatan umat manusia.
Mampukah Lara Croft menghentikan aksi Vogel?

#Review:
Sosok Lara Croft sudah sangat ikonik dengan aktris Angelina Jolie. Dua filmnya yang dirilis pada tahun 2001 dan 2003 sukses mencetak box office internasional meskipun untuk kualitas dan cerita, film
yang diadaptasi dari video game ini menuai banyak kritikan. Tapi hal itu tak membuat film ini terlupakan begitu saja. Lara Croft di TOMB RAIDER menjadi salah satu karakter ikonik di industri film Hollywood.
15 tahun berlalu, Warner Bros dan MGM Pictures secara mengejutkan akan me-remake film yang dibintangi Angelina Jolie ini. Keputusan untuk me-remake film ini cukup membuat heboh. Apakah versi remake nya ini mampu menyaingi versi Tomb Raider versi lampau?
Untuk segi cerita, TOMB RAIDER (2018) hampir tak ada bedanya dengan versi terdahulu. Perjalanan seorang perempuan pemberani dan pintar menguak kepergian sang ayah yang hilang secara misterius. Paruh pertama film, kudibuat terpesona dengan sosok Alicia Vikander yang kali ini memerankan Lara Croft. Pengenalan cerita pun cukup enak untun diikuti. Namun entah mengapa, menuju pertengahan hingga akhir film, plotline nya terasa begitu lama. Beberapa cerita khas film-film adventure dan action film lain sekilas hampir mirip dalam film ini. Makin menuju akhir film, ceritanya jadi semakin predictable dan performa Lara Croft dalam cerita semakin menurun.
Untungnya, masih ada beberapa adegan action yang khususnya dilakukan Alicia Vikander seorang diri sukses membuat jantung berdebar kencang. Sisi visual pun terasa sangat smooth dan selalu mengingatkanku pada film Jumanji dan The Mummy! Haha.
Jajaran pemain lainnya selain Alicia Vikander yang mayoritas tak kukenal tampil tak begitu mengesankan. Sosok musuh pun terasa kurang dalem dan konsisten motifnya. Yang paling bersinar dalam film ini sudah jelas adalah Alicia Vikander. Meskipun mungil tak se-semok Jolie, Vikander sangat lincah dan rela dibanting sana-sini.
Overall, keputusan me-remake sesuatu yang sudah sangat ikonik itu memang tak perlu dilakukan. Tapi untungnya remake TOMB RAIDER (2018) masih cukup recommended jika kamu suka film petualangan.


[7/10Bintang]