Thursday, 24 May 2018

[Review] The Gift: Kado Terindah Untuk Pria Tuna Netra


#Description:
Title: The Gift (2018)
Casts: Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Dion Wiyoko, Christine Hakim, Romaria, 
Director: Hanung Bramantyo
Studio: Seven Sundays Films, Dapur Film

#Synopsis: 
Tiana (Romaria), Kehidupan dan sifat yang dimilikinya mempunyai sedikit perbedaan dari kebanyakan orang. Tiana selalu menjadi saksi mata pertengkaran hebat antara kedua orangtuanya. Hingga puncaknya, sang ayah pergi meninggalkan rumah dan tak lama setelah itu, sang ibu ditemukan tewas gantung diri. Gara-gara itulah, Tiana ini mempunyai hobby yang cukup aneh, yakni bersembunyi dalam kegelapan. Ia merasa begitu tenang dan damai ketika berada dalam keadaan gelap. Tiana kini menjadi seorang anak yatim piatu. Ia lalu dibesarkan disebuah panti asuhan dan dirawat oleh Ibu (Christine Hakim). Disana, Tiana selalu menceritakan hal apapun kepada temannya, Bona.
Bertahun-tahun berlalu, Tiana (Ayushita Nugraha) sudah beranjak dewasa dan berprofesi sebagai seorang novelist. Untuk mencari bahan cerita, Tiana memutuskan untuk pergi dan menetap di Yogyakarta. Disana ia tinggal disebuah kost sederhana yang berdampingan langsung dengan rumah pemiliknya. Rumah itu dihuni oleh Harun (Reza Rahadian) seorang pemuda tuna netra beserta dengan ketiga asisten rumah tangganya.
Melihat sosok Harun pertama kali membuat Tiana kesal. Karena Harun  mempunyai hobby yang cukup mengganggu orang, yakni mendengarkan musik dengan volume keras. Harun pun merasa bersalah kepada Tiana, ia lalu mengundang Tiana untuk makan bersama sebagai permohonan maaf.
Hari demi hari berlalu, Tiana mulai menaruh perhatian pada Harun. Ia merasa kehidupan yang sedang dijalani oleh Harun begitu mirip dengan apa yang ia jalani dan rasakan. Begitu juga dengan Harun, setelah kedua matanya mengalami kebutaan akibat kecelakaan, kehidupannya menjadi gelap dan tak berguna. Namun, hadirnya Tiana membuat Harun merasa menjadi lebih baik.


Tiana pun mencurahkan isi hatinya pada Bona bahwa ia telah menemukan orang yang mempunyai kemiripan dengannya. Bona hanya bisa mendukung sesuatu yang bisa membuat sahabatnya itu bahagia. Tapi, kebahagiaan Tiana sedikit terusik ketika hadirnya Arie (Dion Wiyoko) teman masa kecilnya ketika di panti asuhan yang kini sudah hidup mapan dan sempurna. Arie datang menemui Tiana dengan satu tujuan, yakni melamar Tiana. Ia pun dilanda dilema, Tiana tak tahu harus memilih siapa. Harun ataukah Arie?
Hingga akhirnya, Tiana pun memutuskan mengambil keputusan yang cukup mengagetkan semua orang.


#Review:
Banyak pihak yang cukup kecewa ketika Hanung Bramantyo belakangan ini sibuk dengan film-film komersilnya. Bahkan kedua film Hanung Bramantyo bergenre drama-komedi yang dirilis tahun kemarin yakni JOMBLO REBOOT (2017)  dan BENYAMIN BIANG KEROK (2017) menuai kritkan pedas dan terasa seperti bukan buatan Hanung sendiri.
Di pertengahan tahun ini, sutradara film AYAT-AYAT CINTA (2008) dan RUDY HABIBIE (2016) ini menghadirkan sebuah film drama berjudul THE GIFT (2018). Sebelum tayang secara reguler di bioskop, film ini terlebih dahulu diputar di event JOGJA NETPAC dan Plaza Indonesia Film Festival 2018 kemarin. Dan ternyata diluar dugaan, responnya begitu positif.


Aku akhirnya berkesempatan bisa nonton terlebih dahulu sebelum tayang serentak di bioskop mulai 24 Mei 2018 mendatang. Dan ternyata memang film ini bagus! Taste khas Hanung Bramantyo begitu kuat dalam film ini. Plotline yang dihadirkan dikupas begitu personal dan dalam. Ketiga karakter dalam film ini juga dibagun dengan amat baik oleh Hanung. Yang satu baperan, yang satu lagi terlalu asik dengan dunia yang ia buat dan yang satu lagi adalah orang mapan dengan kehidupan sempurna. Aku suka banget THE GIFT (2018) tidak menghadirkan  konflik atau cerita yang over-dramatis. Semuanya terasa sederhana dan personal banget. Twist yang dihadirkan cukup sukses membuatku terkejut dan berkaca-kaca. Begitu sederhana, sunyi dan memanfaatkan gesture serta ekspresi emosional yang jempolan.
Ketiga pemain utama dalam film ini tampil cukup cemerlang. Reza Rahadian sudah tidak perlu diragukan lagi. Ayushita Nugraha tampil  mengesankan sebagai seorang wanita yang 'asyik' dengan kehidupannya. Dan juga Koko Dion Wiyoko, memberikan performa tak mengecewakan meskipun porsinya agak terbatas.


Sisi sinematografi, camera works dan musik scoring dan soundtrack, film THE GIFT (2018) ini sangat mengingatkanku pada film-film karya sang sutradara ketika awal-awal muncul. Begitu sederhana khas festival. Overall, THE GIFT (2018) boleh dibilang sebagai come-back nya Hanung Bramantyo sebagai sutradara yang membuat filmnya 100% menggunakan hati.


[8.5/10Bintang]

Wednesday, 23 May 2018

[Review] Alas Pati: Aksi Para Vlogger Menelusuri Hutan Mati


#Description:
Title: Alas Pati (2018)
Casts: Nikita Willy, Jeff Smith, Naomi Paulinda, Roy Sungkono, Steffy Zamora.
Director: Jose Poernomo
Studio: MD Pictures, PicHouse Films

#Synopsis:
Bosan dengan konten vlog yang tidak selalu mencapai jumlah viewers yang diharapkan membuat Rayya (Nikita Willy), Ditto (Jeff Smith), Rendy (Roy Sungkono),  Vega (Steffy Zamora) dan Jessy (Naomi Paulinda) memutar otak untuk mencari sesuatu yang bisa membuat vlog mereka semakin terkenal luas dan mendapat pundi-pundi uang.
Rayya pun tak sengaja membaca artikel tentang area pemakaman misterius disebuah hutan terpencil bernama Alas Pati. Karena didesak faktor ingin terkenal dan masalah keuangan, mereka memutuskan untuk pergi ke Alas Pati untuk melakukan aktivitas vlogging. Rayya dan kawan-kawan yakin jika rekaman aktivitas ke Alas Pati akan mengundang jutaan viewers serta uang kepada channel video mereka.
Perjalanan ke Alas Pati rupanya cukup memakan waktu. Mereka harus melewati sungai yang dikelilingi hutan belantara serta melewati tebing-tebing besar. Perjalanan yang cukup berat itu akhirnya mereka terselesaikan usai tiba di Alas Pati.
Disana mereka menemukan sebuah area pemakaman dimana jenazah-jenazah tersebut tidak dikubur ke dalam tanah, melainkan dibiarkan tergeletak diatas papan yang disanggah oleh beberapa kayu. Rayya dan yang lainnya awalnya merasa ketakutan melihat apa yang ada didepan mereka, tapi hal itu tak membuat mereka mengurungkan niat untuk melakukan vlogging. Mereka bahkan dengan berani bermain dengan jenazah-jenazah disana. Satu persatu dari mereka melakukan hal konyol di area itu. Malang, ketika Jessy mencoba memanjat kuburan tersebut, kayu penyangga patah dan seketika membuat Jessy tewas ditempat dengan bersimbah darah. 
Hal itu membuat Rayya, Ditto, Vega dan Rendy shock. Tanpa pikir panjang mereka kabur meninggalkan Alas Pati dan Jessy disana. 
Rayya dan yang lainnya kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Mereka tak menyangka bahwa Jessy kini telah tiada. Mereka lalu memutuskan untuk diam tidak menceritakan kematian Jessy kepada siapapun. Vlog Alas Pati pun tidak jadi mereka publish. Tapi, semenjak kepulangan dari Alas Pati, satu persatu dari mereka mengalami gangguan misterius yang terus berulang. Ditto mencoba mencari tahu asal usul gangguan misterius itu lewat beberapa rekaman vlog di Alas Pati dan bantuan peralatan yang mampu mendeteksi suara-suara aneh.
Rayya dan yang lainnya yakin bahwa gangguan misterius yang berulang kali mereka alami berasal dari arwah Jessy yang gentayangan. Mampukah Rayya, Ditto, Vega dan Rendy terhindar dari gangguan yang konon berasal dari arwah  Jessy?

#Review:
Salah satu sutradara spesialis film horror Indonesia yakni Jose Poernomo tahun ini kembali hadir memeriahkan bulan suci Ramadan dengan merilis film horror yang berjudul ALAS PATI (2018).
Dari segi trailer dan poster, film ini sedikit memberikanku rasa penasaran. Jose Poernomo kembali menghadirkan sebuah tempat fiktif untuk ide ceritanya. Bahkan sebelum nama Alas Pati ini diangkat menjadi cerita, sudah ada Angker Batu dan Alas Keramat yang lebih dulu eksis. Ide membuat tempat fiktif ini aku suka dan selalu membuatku penasaran dan tampak menjanjikan  (meskipun sudah tau lah ya semua orang juga, kualitas film Jose Poernomo tak selalu berjalan memuaskan). 
Hal inipun menurutku kembali terulang di ALAS PATI (2018). Tempat fiktif yang cukup menjanjikan ini malah diceritakan sangat singkat, tidak dieksplor lebih jauh dan tidak dijadikan set lokasi utama. Padahal aku sudah sedikit berimajinasi bahwa film ALAS PATI (2018) akan berfokus pada misteri kuburan unik yang ada di hutan itu. Jose Poernomo malah fokus menakuti-nakuti penonton lewat jumpscared yang standar khas film dia dengan aransemen musik yang sungguh-sungguh menggelegar (aku sampai gak kuat mendengar musik film ini, berasa ingin melambaikan tangan ke kamera dan contact projectionist bioskop untuk menurunkan volume film ini). Itu saja. 
Adegan yang cukup creepy menurutku cuma ada tiga saja. Dua diantaranya malah sudah ditampilkan dalam trailernya. Jalan cerita pun cuma sebatas menakuti-nakuti seluruh karakter yang tersisa saja. Dan itu terus dilakukan berulang-ulang. Gak ada twist atau kejutan sama sekali. Semuanya terasa predictable. Namun, yang patut diapresiasi film ini adalah kemauan Nikita Willy yang melakukan adegan cukup menantang tanpa bantuan stunt-man. Adegan mobil dalam air keren sih! Eungap aku ngeliatnya. Ini peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan film horror perdananya Nikita Willy yang sangat gabut dan pamer endorsment semata. Beberapa angle kamera dan sinematografi dalam film ini terasa cukup cantik ketika mengeksplor hutan Alas Pati. Sisanya biasa saja. Chemistry antar para pemain pun terasa masih kaku. Padahal film ini diceritakan mereka adalah sahabatan satu kampus dan satu channel vlog.
Overall, film ALAS PATI (2018) masih bisa dinikmati tanpa harus berfikir keras. Seriously! Not really bad, still watch-able on cinema. Much better than first horror movie from her.

[5.5/10Bintang]



Tuesday, 15 May 2018

[Review] Ghost Stories: Memecahkan 3 Kasus Paling Menyeramkan


#Description:
Title: Ghost Stories (2018)
Casts: Andy Nyman, Paul Whitehouse, Alex Lawther, Martin Freeman, Jake Davies
Director: Jeremy Dyson, Andy Nyman
Studio: Altitude Film, Warp Films, Lionsgate

#Synopsis: 
Professor Goodman (Andy Nyman) adalah orang yang sangat realistis dan tak percaya dengan hal-hal mistis. Ia bahkan dengan berani membongkar tipu muslihat sebuah acara televisi bertemakan supranatural. Suatu hari ia mendapatkan sebuah amplop berisikan rekaman suara beserta dengan surat didalamnya. Surat itu bertuliskan agar ia menjumpai orang yang mengirim surat tersebut.
Goodman merasa tertarik dengan surat dan rekaman suara tersebut, ia kemudian pergi ke tempat tinggal sang pengirim surat yang berada di pinggiran kota. Sang pengirim surat menantang Goodman untuk menyelesaikan 3 kasus misterius yang tidak berhasil ia pecahkan hingga membuatnya stress berat. Mendengar tantangan itu, tak membuat Goodman takut. Ia dengan santai menerima tantangan tersebut. 
Satu persatu kasus coba Goodman pecahkan. Kasus pertama adalah kejadian misterius yang dialami oleh seorang petugas penjaga bangunan tua. Petugas itu bernama Tony Matthews (Paul Whitehouse). Suatu malam, ketika ia bertugas malam, merasakan sesuatu yang tak beres. Listrik tiba-tiba mati dan benda-benda disekitarnya bergerak sendiri. Ketika mencoba mencari tahu penyebabnya, ia diserang oleh sosok misterius perempuan berpakaian warna kuning yang berasal dari masa lalunya.
Kasus kedua, Goodman mendatangi seorang remaja bernama Simon Rifkind (Alex Lawther). Dikamar pribadinya, Simon menggambar banyak sekali sosok sosok mengerikan. Rupanya hal itu ia rasakan usai diganggu oleh sosok misterius ketika mengendarai mobil ditengah malam. Gara-gara kejadian itulah sikap simon juga terlihat jadi pendiam dan terkadang mengerikan juga. Kasus ketiga, datang dari seorang konglomerat bernama Mike Priddle (Martin Freeman). Sosoknya yang perfeksionis itu ternyata diganggu oleh sosok tak kasat mata yang selalu mengingatkan ia pada istri dan anak semata wayang mereka. Ternyata tak hanya tiga kasus itu saja, Goodman juga ikut dihantui oleh sosok misterius berjaket tebal yang datang dari masa lalu Goodman.

#Review:
Sebuah film dari daratan Eropa (Inggris, Jerman dll) memang jarang sekali bisa tayang secara komersil di seluruh belahan dunia. Apalagi untuk genre horror. Kalaupun bisa tayang secara komersil di bioskop pasti akan telat, tidak berbarengan dengan waktu rilis disana dan cukup disayangkan keburu rilis versi Blu-Ray atau DVDnya.
Untungnya CBI Pictures Indonesia berhasil membawa sebuah film horror dari Inggris untuk tayang di Indonesia. Judulnya yaitu GHOST STORIES (2018).
Secara mengejutkan, film ini tampil sangat mencekam dan menyeramkan! 3 kasus yang coba dikupas oleh Professor Goodman mempunyai atmosfer horror, jumpscared serta skenario yang jempolan. Kasus pertama dan kedua menjadi kasus yang paling menyeramkan menurutku karena terasa sangat related dengan kejadian disekitar kita. Menuju paruh akhir film, Film GHOST STORIES (2018) memberikan twist yang begitu cerdas dan sukses membuatku terpana nganga. Hint dan clue yang ditebar pada 3 kasus yang dikupas Professor Goodman untuk ending film ini begitu pas dan oke banget. Aku sarankan menonton film ini harus jeli banget pada setiap adegan agar ketika disuguhi twist itu kita merasa puas dan takjub. Berasa Dejavu dengan film PINTU TERLARANG nya Joko Anwar!
Jajaran pemain pun tampil memuaskan. 3 pemain utama dalam 3 kasus itu sama-sama dapat peran yang maksimal. Aku dibuat parno melihat senyum dan tingkah laku Alex Lawther pada kasus kedua. Gila nyeremin abis! Overall, GHOST STORIES (2018) memuaskan! Worth it to watch on big screen!


[8.5/10Bintang]

Monday, 14 May 2018

[Review] Deadpool 2: Wade Wilson Membentuk X-Force!


#Description:
Title: Deadpool 2 (2018)
Casts: Ryan Reynolds, Josh Brolin, Zazie Beetz, Morena Baccarin, Julian Dennison, Karan Soni, T.J. Miller, Leslie Uggams, Bill Skarsgard, Brianna Hildebrand, Shioli Kutsuna, Terry Crews, Rob Delaney, Brad Pitt, Lewis Tan
Director: David Leitch
Studio: Marvel Entertainment, 20th Century Fox

#Synopsis:
Kehidupan Wade Wilson (Ryan Reynolds) setelah menjadi seorang mutant bernama Deadpool menjadi lebih baik. Ia semakin dikenal diseluruh dunia karena selalu berhasil memberantas kejahatan hingga ke akar-akarnya. Pemikiran Wade pun semakin tambah matang dan dewasa. Ia berencana membangun keluarga bersama dengan kekasihnya, Vanessa (Morena Baccarin). Namun, ketika sedang membicarakan hal tersebut, tempat tinggal mereka diserang oleh gangster yang tak terima markasnya digerebek oleh Deadpool. Vanessa terbunuh oleh tembakan anggota gangster itu. Wade tidak terima calon istri dan ibu bagi anak mereka tewas terbunuh. Meskipun Wade berhasil membunuh semua gangster yang menyerang rumahnya, tapi rasa duka yang amat mendalam tak bisa ia hilangkan.
Wade kemudian tanpa pikir panjang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia mencoba bunuh diri dengan meledakkan diri dirumahnya. Tapi hal itu tak membuatnya tewas terbunuh. Karena Wade adalah seorang mutant bernama Deadpool, yang mempunyai kelebihan ia takkan bisa merasakan sakit bahkan tidak bisa mati meskipun tubuhnya hancur.
Mendengar kabar duka kematian Vanessa, Colossus (Stephan Kapicic) kembali mengajak Deadpool untuk bergabung dengan X-MEN. Di Istana tempat para mutant senior tinggal milik Professor Charles Xavier, Colussus berkumpul dengan anggota X-MEN lainnya seperti Negasonic (Brianna Hildebrand) dan kekasihnya, Yukio (Shioli Kutsuna). Ketika tiba di istana tersebut, Deadpool masih saja dirundung duka. Ia selalu memimpikan Vanessa. Bahkan suatu hari, dalam mimpi itu Vanessa memberikan sebuah advice untuk Wade, namun Wade tak paham betul dengan advice yang diberikan Vanessa.
Keesokan harinya, Colossus mengajak Deadpool untuk mencoba menghentikan aksi seorang mutant remaja bernama Russell (Julian Dennison) yang mempunyai kekuatan api. Russell yang mempunyai nama mutant Firefist ini akan menghabisi kepala panti asuhan yang sudah menyiksa dirinya dan teman-temannya disana karena mereka mutant. Usaha mereka berdua awalnya akan berjalan lancar, tapi semuanya menjadi berantakan gara-gara Russell tak bisa dikendalikan.
Colossus dan Deapool merasa kewalahan. Mereka lalu mempunyai ide untuk membuat sebuah team baru berisikan para mutant. Ketika melakukan audisi, keduanya berhasil menemukan Domino (Zazie Beetz) mutant yang memiliki kekuatan keberuntungan, Vanisher (Brad Pitt), Zeitgeist (Bill Skarsgard), Badlam (Terry Crews), Peter (Rob Delaney) dan Shetterstar (Lewis Tan). Mereka lalu menamai team mereka yakni X-Force.
Mendengar kabar bahwa Russell akan dipindahkan ke sebuah sel penjara khusus mutant, team X-Force tak tinggal diam. Mereka langsung berusaha mencegahnya. Tapi, sebelum menuju medan perang, satu persatu anggota X-Force malah pada hilang secara tragis. Tinggal menyisakan Colossus, Deadpool dan Domino saja. Lebih parahnya lagi, Deadpool ikut-ikutan tertangkap oleh para penjaga penjara dan mereka  berhasil memasangkan alat peredam kekuatan mutant pada diri Deadpool. Kini Deadpool tak lagi kuat, fisiknya menjadi melemah dan kekuatan mutant tersebut berubah kembali menjadi sel-sel kanker yang pernah ia derita.
Ditengah kondisi fisiknya yang semakin melemah, Deadpool mendengar kabar bahwa Russell kini diincar oleh seorang mutant dari masa depan bernama Cable (Josh Brolin) yang ingin membunuh Russell. Cable akan berusaha sekuat tenaga dengan kekuatan time travel dan senjatanya untuk membunuh Russell yang dimasa depan nanti, Russell "Firefist" dewasa telah membunuh Istri dan anak perempuannya.
Mampukah Deadpool menghentikan rencana Cable dan juga mengendalikan emosi Firefist?


#Review:
Seperti yang sudah disinggung sendiri oleh Wade disepanjang materi promosinya, Film anti-hero dari komik Marvel ini pasti akan dibuat kelanjutannya karena faktor jilid pertamanya yang dirilis dua tahun lalu menuai kesuksesan besar.
Tahun 2018 menjadi tahun untuk melihat kelanjutan aksi Deadpool di layar bioskop. 
Meskipun tak lagi disutradarai oleh orang yang sama, tak membuat sekuel film DEADPOOL 2 (2018) ini tak kehilangan ciri khasnya. David Leitch justru menaikkan level keseruan-kesadisan-kebrutalan serta kekonyolan tingkah laku Wade Wilson yang lebih tinggi lagi dibandingkan jilid pertamanya. Leitch begitu leluasa menghadirkan kelanjutan cerita Deadpool ini tanpa adanya batasan rating atau sejenisnya. Moment action yang dibalut kesadisan dan kebrutalan sukses dikemas dengan amat baik disini. Tak hanya itu saja, moment konyol serta komedi dalam film ini juga sangat terasa jor-joran disepanjang film. Cerdasnya lagi, Leitch dan penulis skenario mengambil banyak sekali referensi budaya pop dan film untuk memancing tawa sampai terbahak-bahak para penonton! Aku masih dibuat jatuh cinta oleh karakter Wade Wilson ketika ia ngebanyol dengan referensi budaya pop nya yang makin luas tak hanya sebatas julid pada film satu company saja tapi semakin lebar kemana-mana. Bahkan salah satu film animasi terbaik Disney yakni FROZEN (2013) pun bisa menjadi bahan lelucon untuk Wade. GILAAA! Haha. Jangan lupakan juga dua middle credit scene film ini yang konon bertujuan untuk memperbaiki timeline film X-Men. Haha. Ngeselin.
Plotline yang diceritakan dalam film ini terasa lebih menekankan tentang makna sebuah keluarga, asmara dan pertemanan. Aku suka tentang cara Deadpool mencari makna keluarga yang sesungguhnya yang terkoneksi dengan orang-orang disekitarnya difilm ini. Aku juga dibuat merasa hangat ketika moment Wade bersama Vanessa dibahas. Plotline yang tersebar selama ini sebelum filmnya dirilis sangat berbeda jauh. Kita sukses dibuat benci sekaligus respect terhadap semua karakter utama dalam film ini. Kita diberi background yang kuat atas semua tindakan yang dilakukan oleh Deadpool, Firefist dan Cable disini.


Jajaran pemain dalam film ini tampil memuaskan! Ryan Reynolds sudah mendarah daging menjadi Wade Wilson. Josh Brolin lagi-lagi menghadirkan performance tak mengecewakan dan aku selalu terngiang-ngiang sosok Thanos ketika Cable berbicara. Yes! Karena keduanya adalah villain favoritku yang sama-sama dibintangi Brolin. Yang tampil mencuri perhatianku sudah pasti adalah Domino yang dimainkan Zazie Beetz. Mutant kribo ini ternyata mempunyai kekuatan yang benar-benar ingin aku dan semua orang miliki! Haha. Tak cuma Domino saja, personel X-Force yang muncul sangat sebentar juga tampil mencuri perhatian banget. Ngeselin abis deh pokoknya! Haha.
Untuk segi visual dan musik sih aku masih menyukainya juga. Terutama soundtracknya, siapa sangka Diva Celine Dion masuk ke deretan pengisi soundtrack film ini, disaat film-film lain mengajak musisi pop/RnB/rock/hiphop untuk mengisi soundtrack filmnya. Tapi ketika lagu Ashes dikumandangkan dalam film ini, ternyata emang bisa masuk ke dalam cerita! Ditambah lagi penggambaran lagu ini ala-ala film James Bond. Terasa begitu grande tapi tetap konyol! Haha.
Overall, DEADPOOL 2 (2018) still awesome-fun-great-brutally movie! I LOVE YOU WADE WILSON! ❤️

[9/10Bintang]

Friday, 11 May 2018

[Review] 212 The Power of Love: Damai Adalah Islam Sesungguhnya


#Description:
Title: 212 The Power of Love (2018)
Casts: Fauzi Baadila, Humaidi Abas, Abdul Hakim, Meyda Sefira, Hamas  Syahid, Rony Dozer, Asmanadia
Director: Jastis Arimba
Studio: Warna Pictures

#Synopsis:
Rahmat (Fauzi Baadila) seorang jurnalis tabloid Republik yang idealis dan realistis dalam hidupnya mendapat kabar duka, Ibu nya yang tinggal dikampung halaman tepatnya di Ciamis, meninggal dunia. Hal itu membuat ia memutuskan untuk pulang kampung setelah 10 tahun tidak pernah pulang. Perjalanan pulang ke kampung halamannya ia ditemani oleh Adhin (Abdul Hakim), satu-satunya teman yang dimiliki oleh Rahmat.
Setibanya di Ciamis, Rahmat bertemu kembali dengan ayahnya, Zainal (Humaidi Abas) yang merupakan seorang pemuka agama di kampung tersebut. Pulang kampungnya Rahmat tidak membuat sang ayah merasa bahagia, ia justru malah kecewa lantaran anak kandungnya itu menulis artikel tentang menyudutkan Islam secara terang-terangan di tabloid. Tak hanya itu saja, sikap Rahmat yang tak pulang-pulang dan nyaris hilang kabar selama 10 tahun lamanya itu juga membuat hadirnya konflik dan perselisihan pendapat antara Zainal dan Rahmat.
Usai acara pemakaman almarhum ibu, Rahmat mendengar kabar dari teman semasa kecilnya yaitu Yasna (Meyda Sefira) dan Abrar (Hamas Syahid) bahwa Zainal beserta murid-muridnya akan melakukan aksi longmarch dari Ciamis menuju Monas, Jakarta untuk mengikuti Aksi Damai 212, Jumat, 2 Desember 2016. Rahmat beranggapan bahwa aksi demonstrasi umat Islam yang akan digelar itu akan memicu konflik besar, karena bermuatan politis dan pasti memakan korban jiwa yang tak sedikit. Ia lalu mencoba untuk menghentikan rencana sang ayah untuk melakukan aksi yang menurut Rahmat itu adalah aksi yang konyol. 
Namun, Zainal bersih keras akan melakukan longmarch sepanjang 300 kilometer lebih bersama umat muslim lainnya untuk membuktikan kecintaannya terhadap agama Islam dan Allah SWT. Tak hanya itu saja, jutaan umat Islam yang juga akan datang ke Monas, Jakarta ingin membuktikan bahwa mereka datang penuh dengan solidaritas dan cinta. Bukan untuk mengacaukan keadaan.
Akankah peristiwa Aksi Damai 212 itu akan membuat hubungan antara Rahmat dan ayahnya menjadi membaik?


#Review: 
Aksi Damai 2 Desember 2016 lalu boleh dikatakan sebagai salah satu moment paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Jutaan orang dari seluruh pelosok negeri berkumpul di Monas, Jakarta untuk menujukkan rasa cinta dan rasa membela mereka kepada agama yang mereka anut yaitu agama Islam. Aksi damai yang dilakukan itu terjadi usai kontroversi pidato berisikan (konon) penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama. Umat Islam terasa disakiti oleh pidato tersebut.
Namun untungnya, Film ini tidak terlalu membahas lebih detail tentang kejadian tersebut karena berpotensi memicu hal-hal yang tak diinginkan. Disini sang sutradara dan penulis skenario justru  menghadirkan sisi lain dari Aksi Damai 212 yaitu hubungan dan konflik antara ayah dan anak ditengah jutaan umat Islam yang mengikuti aksi ini.
Disini kita bertemu dengan sosok Rahmat dan ayahnya, Zainal. Keduanya sangat bertolak belakang. Rahmat anti-religi, sedangakan ayahnya adalah kebalikan dari Rahmat. Aku cukup menikmati plot cerita ayah-anak dalam film ini dan sedikit mengingatkanku pada film MENCARI HILAL (2015), karya Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth yang sama-sama mengeksplor hubungan antara ayah dengan anak, meskipun dalam film ini terasa dramatisir dibeberapa bagian. 


Aku juga suka cara Jastis Arimba memberikan konflik antar ayah-anak ini masing-masing mempunyai watak dan sifat yang sama satu sama lain. Dua-duanya begitu kekeuh dengan pendirian masing-masing tapi mereka mempunyai alasan yang cukup kuat juga. Yang agak sedikit kurang pas dalam segi cerita film ini menurutku adalah dramatisasi asmaranya. Jika ditampilkan dengan tujuan untuk mempermanis film saja, aku rasa tidak begitu penting. Karena film ini mempunyai plot ayah-anak dengan background Aksi Damai 212 saja sebetulnya sudah cukup. Untungnya sisi percintaannya disini sedikit tertutupi oleh chemistry antara Rahmat dan sahabatnya, Adhin. Aku cukup terhibur disaat mereka berdua beradu argumentasi. Terasa pas tak terlalu berlebihan. Yang kusuka berikutnya adalah penggabungan cerita ini dengan beberapa selingan cuplikan dokumenter asli Aksi Damai 212 lalu itu cukup sukses membuat mataku berkaca-kaca, teringat kembali akan moment itu. Subhanallah. 
Tata artistik, sinematografi dan camera works dalam film ini agak mengecewakan. Ini yang sangat disayangkan. Beberapa adegan yang menggunakan greenscreen masih sangat terlihat dengan jelas. Beberapa dialog juga menurutku terasa seperti ada yg di dubbing dan itu tidak sinkron antara suara dan gerak mulut. Ditambah lagi penggunaan bahasa dan logat sunda dibeberapa adegan dalam film ini masih terasa banget bukan USA (Urang Sunda Asli). 
Fauzi Baadila, Humaidi Abas dan Abdul Hakim menurutku menjadi nyawa utama dalam film ini. Tanpa chemistry mereka satu sama lain yang oke, mungkin film ini akan berakhir kaku dan penuh dramatisasi semata.


Overall, 212 THE POWER OF LOVE (2018) ini tidak terlalu mengecewakan dan tidak jelek juga. Disini kita bisa merasakan bahwa Islam yang sesunggunya adalah cinta akan kedamaian. Andai beberapa kekurangan dalam film ini yang sudah disebutkan diatas bisa diperbaiki mungkin akan jauh lebih baik lagi.
Terima kasih untuk Warna Pictures karena, gara-gara film ini banyak orang mengajak keluarga besarnya hingga orang lanjut usia juga bela-belain untuk menonton film ini. Bahkan beberapa orang ketika aku menanyakan, ini pengalaman pertama mereka nonton film dan ngantri di bioskop komersil. Alhamdulillah juga, antusiasme penonton 212 THE POWER OF LOVE (2018) sangat tinggi bahkan hingga show terakhir selalu sold-out sampai terakhir postingan ini dibuat.

[7/10Bintang]

Monday, 7 May 2018

[Review] The Secret Suster Ngesot: Terror Suster Korban Tabrak Lari


#Description:
Title: The Secret: Suster Ngesot Urban Legend (2018)
Casts: Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Marshanda, Roy Marten, Tyas Mirasih, Kartika Putri, Kanaya Gladys, Lia Waode, Nisya Ahmad, Giselle Anastasia
Director: Arie Azis, Raffi Ahmad
Studio: RA Pictures

#Synopsis:
Ketika Kanaya (Nagita Slavina), akhirnya kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan dan hidup di Australia, ia merasa tidak senang lantaran mendapat kenyataan bahwa sang ayah (Roy Marten), telah menikah lagi dengan wanita lain (Tyas Mirasih) usai sang ibu meninggal dunia (Nisya Ahmad).
Sang ayah berusaha membujuk Kanaya untuk bisa menerima ibu barunya itu meskipun usia Kanaya dengan wanita itu tidak terpaut jauh. Kanaya yang terus dirundung kekecewaan hanya bisa mencurahkan isi hatinya ke sahabatnya (Gisele Anastasia) dan Teddy (Raffi Ahmad) kekasihnya.
Tak ingin melihat anaknya terus kecewa, sang ayah lalu mengadakan sebuah pesta dirumah mewahnya untuk menyambut kedatangan Kanaya. Awalnya acara berjalan lancar, tapi tiba-tiba Kanaya melihat secara langsung wanita pengganti almarhum ibunya tengah mabuk dan berusaha untuk menggoda Teddy. Kanaya semakin sedih dan kecewa lalu memutuskan untuk kabur dari pesta itu. Ia bergegas pergi mengendarai mobil mini cooper warna merah menuju ke rumah masa kecilnya dulu ketika almarhum ibunya masih ada. Ditengah rasa sedih dalam perjalanan, Kanaya menabrak sesuatu hingga ia membanting stir mobil dan menabrak keras pohon dipinggir jalan. Beruntung, tak berapa lama, mobil BMW mewah milik Teddy berhasil menemukan mobil Kanaya dan menolongnya dibawa ke rumah sakit terdekat.
Setelah beberapa hari tak sadarkan diri, Kanaya akhirnya siuman. Ia dirawat disebuah rumah sakit dengan fasilitas seadanya. Kanaya meyakinkan pada Teddy bahwa sebelum menabrak pohon, ia menabrak sesuatu hingga terpental jauh. Namun, Teddy tak percaya dengan omongan Kanaya, karena ia sendiri tak menemukan apapun di lokasi tabrakan. Dengan sedikit cemas, Kanaya pun mencoba tenang usai diyakinkan oleh Teddy.
Suatu malam, Kanaya tak sengaja mendengar suara-suara aneh di kamar rumah sakit itu. Ia lalu mencari tahu sumber suara itu berasal dari mana. Ia mencoba untuk menanyakan pada salah satu suster (Lia Waode dan Wika Salim)  dirumah sakit itu tapi hasilnya nihil. Kanaya pun menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang minim pencahaayaan hingga akhirnya ia masuk ke sebuah ruangan kosong. Disana ia menemukan sebuah kursi roda dan diterror oleh sosok wanita misterius.
Usai kejadian itu, Kanaya memutuskan untuk keluar dari rumah sakit itu dan tinggal di rumah masa kecilnya. Setibanya disana, Kanaya bertemu dengan Kayla (Kanaya Gladys) seorang anak mempunyai indera ke-6 yang tinggal diseberang rumah beserta dengan ibunya (Kartika Putri). Disana juga ia bertemu dengan Marsha (Marshanda) seorang perempuan yang selalu menemani Kayla bermain. Ketiganya langsung terasa akrab satu sama lain. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Kanaya merasa bahagia bisa bermain dengan Kayla dan Marsha disana. 
Rupanya, kejadian terror wanita misterius di rumah sakit tidak berhenti. Dirumahnya, Kanaya selalu mendengar dan melihat lagi wanita misterius itu. Ia mencoba meminta bantuan Teddy, tapi Teddy hanya menganggap Kanaya mengalami halusinasi saja. Ia kemudian mencoba meminta bantuam Kayla untuk mencari tahu siapa sosok wanita misterius itu. Dan mengejutkan, sosok wanita misterius itu ternyata mengincar keselamatan Kanaya dan orang-orang disekitarnya.

#Review:
Sosok artis multitalented Raffi Ahmad kini mencoba peruntungannya untuk membuat sebuah rumah produksi sendiri  untuk menghadirkan Film Bioskop. Rasanya dengan limpahan materi yang ia punya, kita harus mengapresiasi Raffi Ahmad beserta keluarganya yang ingin ikut meramaikan industri perfilman Indonesia.
Usai film RAFATHAR THE MOVIE (2017) yang dirilis bersama dengan rumah produksi RNR Pictures, tahun ini Raffi Ahmad kembali menghadirkan sebuah film horror namun dengan nama rumah produksi baru yaitu RA Pictures berjudul THE SECRET: SUSTER NGESOT URBAN LEGEND (2018). Tanggal rilisnya pun tak main-main, disaat film-film Indonesia lain menghindari head-to-head dengan film blockbuster Hollywood, Raffi dengan berani dan percaya diri mengambil tanggal 26 April 2018 atau H+1 Film Hollywood AVENGERS: INFINITY WAR (2018) rilis di bioskop Indonesia. Hal inilah yang membuatku sedikit penasaran dengan film ini, padahal mempunyai resiko flop dan tidak laku dipasaran yang cukup tinggi, dimana hampir 95% bioskop diseluruh Indonesia baik itu di XXI, CGV, Flix, Cinemaxx dan bioskop lokal lainnya dikuasai oleh film INFINITY WAR (2018).
Akhirnya aku pun menyempatkan untuk menonton film ini H+8 setelah tayang perdana pada 26 April 2018 lalu. Dan yang bikin ku terkejut adalah, film ini masih kokoh tayang di bioskop meskipun digempur Thanos dan Team Avengers. 
Rasa penasaran ku terhadap film ini akhirnya terjawab sudah. Film THE SECRET: SUSTER NGESOT URBAN LEGEND (2018) ternyata tak beda jauh dengan film-film horror Indonesia belakangan ini yang hanya menonjolkan penampakan jor-joran dan musik yang berisik saja. Untuk segi skenario, film horror ini terkesan dibuat mevvah layaknya limpahan materi yang Raffi Ahmad punya. Hal ini sangat terasa diparuh awal film dimana memperlihatkan lusinan mobil-mobil mevvah dan rumah super deluxe dengan adanya lift yang diceritakan milik keluarga Kanaya. Aku hanya bisa terkesima melihatnya, padahal hal tersebut terasa too much dan sama sekali tidak masuk ke cerita. Ditambah lagi dengan berbagai karakter tambahan yang muncul dalam film ini juga terasa sangat mubazir. Cerita tentang hubungan ayah-anak serta ibu tiri juga tak dieksplor dengan baik. Cerita percintaan antara Kanaya dan Teddy juga berasa hambar banget dan juga terlalu di dramatisir chemistry nya padahal mereka di kehidupan nyata itu sepasang suami istri. Twist yang dihadirkan tentang karakter Marsha juga sudah ketebak banget diawal film. Andai saja twist tersebut di eksekusi lebih mateng lagi bisa berpotensi menyelamatkan film ini. Atmosfer horror yang coba ditampilkan dalam film ini juga menurutku yang feel nya lumayan creepy ketika berada di rumah sakit saja. Sisanya tidak. Bahkan penampakan serta musik scoring pun tidak membuatku takut sama sekali. Yang aku benci dalam film ini adalah, penggunaan set lokasi rumah yang digunakan KENAPA HARUS menggunakan rumah yang sama seperti di film DANUR (2017), BAYI GAIB (2018) dan MADDAH (2018) sih! Padahal limpahan materi yang dimiliki Raffi Ahmad seharusnya bisa mencari set lokasi yang lebih creepy, bukan itu lagi itu lagi. Asli, aku sampe hafal tiap sudut dan sekeliling rumah itu gara-gara EMPAT FILM menggunakan tempat yang sama.
Overall, Film THE SECRET SUSTER NGESOT URBAN LEGEND (2018) ini menurutku cukup mengecewakan. Taste horror nya hampir seperti film-film horror Indonesia tahun 2000-2008an yang kebanyakan mengandalkan jumpscared jor-joran serta musik berisik saja. Kedepannya, semoga film-film produksi Raffi Ahmad bisa terus mengalami peningkatan kualitas disemua aspek agar tujuan baik beliau mendukung industri film Indonesia itu terwujud. Bukan lagi sebagai ajang show-off limpahan materi atau gimmick saja. Amiin.


[4/10Bintang]

Saturday, 5 May 2018

[Review] Sajen: Terror Hantu Korban Bully Di Sekolah


#Description:
Title: Sajen (2018)
Casts: Amanda Manopo, Angga Yunanda, Steffi Zamora, Jeff Smith, Rachel Amanda, Chantiq Schagerl, Nova Soraya, Alfie Alfandy, Virnie Ismail, Minati Atmanagara, Ricky Perdana
Director: Hanny R. Saputra
Studio: Starvision Plus

#Synopsis:
Hadirnya tiga sesajen yang tersebar di sekolah SMA Pelita Bangsa membuat Alanda (Amanda Manopo), siswi berprestasi di sekolah tersebut tertarik untuk menguak dan menyelidiki  fenomena bullying yang ada disekolahnya yang dibantu kedua sahabatnya, yaitu Riza (Angga Yunanda) dan Kayla (Chantiq Schagerl). Ketiga sajen tersebut sengaja diletakan di loker perpustakaan, toilet perempuan dan ruang komputer untuk menenangkan arwah siswa-siswi SMA Pelita Bangsa yang konon gentayangan usai mereka tewas bunuh diri gara-gara tekanan batin yang mereka alami semasa mereka di sekolah.
Aksi bullying angkatan tahun ini dilakukan oleh Bianca (Steffi Zamora), Davi (Jeff Smith) beserta anggota genk populer disekolah. Beberapa siswa siswi lain yang menjadi korban selalu pasrah ketika Bianca dan teman-temannya melakukan aksi bullying. Tapi, yang dilakukan oleh Alanda sebaliknya. Ia melawan bahkan berani merekam aksi bullying Bianca sebagai barang bukti menggunakan kamera milik almarhum ayahnya. Melihat keberanian Alanda, membuat Riza dan Kayla cemas. 
Suatu hari Bianca tak sengaja melihat Alanda sedang merekam aksinya, ia  marah lalu mengambil paksa kamera milik Alanda. Bianca dan Davi berjanji akan mengembalikan kamera tersebut, jika Alanda datang ke rumah Davi. 
Awalnya Alanda tak ingin pergi ke rumah Davi, namun karena kamera tersebut peninggalan almarhum ayah, ia memutuskan nekat untuk pergi ke rumah Davi. Usai tiba disana, Alanda dijebak oleh Davi, Bianca dan teman-temannya. Alanda dipaksa untuk mabuk hingga tak sadarkan diri. Alanda yang dalam keadaan mabuk berat, direkam oleh mereka lalu di viralkan disekolah.
Alanda dilanda depresi berat. Gara-gara video tersebut, beasiswa Alanda dicabut, kesempatan untuk menang beasiswa kuliah diluar negeri untuknya juga dicancel oleh kepala sekolah (Minati Atmanagara). Hingga yang paling mengguncang jiwanya adalah, ketika mabuk berat, kehormatan Alanda direnggut oleh Davi. Karena tak mampu menanggung beban semua ini, Alanda memutuskan untuk bunuh diri. Ibunya (Nova Soraya) sangat shock anak kesayangannya kini telah tiada dengan cara yang tidak wajar. Kemarahan dan amarah Alanda membuat arwahnya tidak tenang dan mendorongnya untuk balas dendam ke orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.


#Review: 
Ketika Starvision merilis trailer perdana film SAJEN (2018), rasa penasaran saya cukup tinggi untuk film ini lantaran mengambil cerita tentang bullying namun dikemas dalam genre horror. Konsep tentang kehidupan bullying remaja sudah banyak sekali ditemukan dalam film-film Indonesia, tapi untuk dikombinasikan dengan genre horror, sepertinya film ini terinspirasi dari film-film horror teenager khas Thailand dan film horror UNFRIENDED (2014). Faktor penasaran berikutnya, penulis skenario film SAJEN (2018) ini adalah Haqi Achmad, salah satu penulis skenario favoritku. Apalagi skenario kemarin di MEET ME AFTER SUNSET (2018) sukses membuatku jatuh hati. Sebagai debut perdana Haqi menulis skenario horror, ciri khasnya tidak hilang. Moment drama Di film SAJEN (2018) ini cukup terasa kuat yang uudibuka dengan drama tentang kehidupan dan konflik bullying disekolah yang sukses memberikan rasa interesting padaku ketika menontonnya. Haqi dengan baik menjaga plot drama film ini agar tidak tampil too much. Apalagi ketika part Nova Soraya, sisi emosionalnya terasa kuat sebagai seorang ibu yang kehilangan sekaligus berjuang mencari keadilan untuk anaknya yang menjadi korban bullying disekolah yang terasa sangat menutup mata akan aksi ini. Beberapa hal kecil juga digambarkan dengan baik dan konsisten oleh sang sutradara dan penulis skenario di awal film. Ketika Alanda tewas, terror mulai ditebar oleh Haqi dan Hanny R. Saputra. Namun menurutku plot horror dalam film ini super nanggung. Aksi arwah gentayangan untuk balas dendam dalam film ini bagiku cukup predictable dan mainstream. Hal ini semakin diperparah dengan penggunaan visual efek yang tidak terlalu penting dibeberapa bagian. Jumpscare yang ditebar juga kebanyakan hanya penampakan standar serta musik berisik saja. Penggunaan set lokasi sekolah yang terbilang elite ini juga terasa terlalu mewah dan "hi-tech" untuk genre horror dalam film. Jujur, sepanjang nonton film ini, aku gak merasakan atmosfer horror sama sekali, malah merasa wow tiap layar bioskop menampilkan sekolah Pelita Bangsa ini. Makin menuju paruh akhir film, sang sutradara terasa kebingungan untuk mengakhiri filmnya, hal ini terlihat dari pemilihan ending film yang terasa buru-buru dan semakin tidak rasional.
Untuk jajaran pemain, aku dibuat suka dengan karakter yang dimainkan Amanda Manopo. Tidak terlalu berlebihan sebagai anak sekolah. Steffi Zamora juga cocok banget memerankan karakter antagonis. Raut muka serta gesture nya emang udah terlihat jahat hehe. Angga Yunanda dan Jeff Smith juga tampil tidak terlalu mengecewakan. Yang cukup disayangkan adalah karakter  yang diperankan oleh Rachel Amanda disini terasa mubazir. Sayang banget tidak terlalu di ekspose lebih dalam. Nova Soraya dan Minati Atmanagara jelas memberikan performa oke nya disini. Apalagi ketika keduanya beradu mulut, ekspresi Nova sebagai seorang ibu dan Minati sebagai kepala sekolah yang tak ingin kasus bullying ini diungkit begitu meyakinkan. Tapi hal tersebut sedikit terganggu ketika sang sutradara malah menyelipkan adegan horror ala-ala film THE RING (2002) yang dimana hantu Alanda muncul dari televisi. Ngeselin.
Overall, debut perdana penulis skenario favoritku Haqi Achmad ini dalam menulis cerita horror tidak seperti apa yang ku bayangkan. Semoga kedepannya bisa dapet sutradara atau produser yg klop jika menulis skenario horror lagi. Amiiin.


[3/10Bintang]