Friday, 30 August 2019

[Review] Twivortiare: Kisah Love-Hate Relationship Sepasang Suami Istri


#Description:
Title: Twivortiare (2019)
Casts: Reza Rahadian, Raihaanun, Anggika Bolsterli, Arifin Putra, Dimas Aditya, Boris Bokir, Denny Sumargo, Citra Kirana, Ferry Salim, Lydia Kandou, Roy Marten, Aida Nurmala, Dwi Yan, Leroy Osmani, Dewi Rezer, Okan Kornelius, Inggrid Widjanarko
Director: Benni Setiawan
Studio: MD Pictures


#Synopsis:
Beno Wicaksono (Reza Rahadian) jatuh cinta pada pandangan pertama ketika bertemu dengan Alexandra Rhea (Raihaanun). Dalam hitungan bulan, keduanya menjalin asmara lalu memutuskan untuk menikah. Namun setelah menjalani bahtera rumah tangga selama dua tahun, Beno dan Alex selalu dilanda pertengkaran yang tak pernah berujung. Hingga akhirnya, sang dokter bedah dan bankir ini memutuskan untuk bercerai.


Perpisahan antara Beno dan Alex ini membuat sahabat mereka yaitu Wina (Anggika Bolsterli) dan suaminya Riza (Dimas Aditya) tak yakin seratus persen yakin untuk berpisah. Wina beranggapan, Beno dan Alex itu hanya dilanda emosi, padahal di dalam hati mereka masing-masing, rasa cinta itu masih kuat. Hal itu terlihat disaat Alex tengah dekat dengan seorang pria bernama Denny (Denny Sumargo). Beno nampak kurang sreg melihat mantan istrinya itu bersama dengan pria lain. Begitu juga dengan Alex, semakin ia berusaha untuk berhenti memikirkan Beno dengan cara mendekati Denny, semakin besar rasa masih sayang dan cintanya pada Beno.
Karena tak ingin istrinya jatuh ke tangan yang salah, Beno memutuskan untuk meminta rujuk pada Alex. Ia berjanji di pernikahannya yang kedua ini akan jauh lebih dewasa lagi. Melihat Beno yang tulus ingin menjalin rumah tangga lagi dengannya, membuat Alex senang. Mereka berdua berjanji untuk saling pengertian dan mengurangi sifat egois satu sama lain. Rujuknya pernikahan Beno dan Alex membuat kedua orangtua mereka masing-masing ikut senang. Ayah dan Ibu Beno (Roy Marten - Aida Nurmala) serta Ayah dan Ibu Alex (Dwi Yan - Lydia Kandou) memberikan restu serta wejangan-wejangan agar di pernikahan yang kedua ini bisa berjalan lebih lancar.


Usai pernikahan, Beno dan Alex kembali menjalani rutinitas mereka masing-masing. Alex yang seorang Banker mendapat tugas dari bosnya yaitu Pak Randy (Ferry Salim) untuk berusaha mendapatkan client yaitu seorang pengusaha bisnis properti bernama Adrian (Arifin Putra) yang berencana akan membuka project besar di Palangkaraya. Pak Randy yakin hanya Alex yang mampu membujuk Adrian agar mau bekerjasama dengan bank mereka. Sementara itu Beno semakin sibuk di rumah sakit. Tak jarang membuat dirinya sering pulang larut malam karena harus menangani bedah operasi lebih dari satu pasien. Untungnya intensitas pertemuan Alex dan Beno masih terjaga dengan baik.


Suatu hari, Beno mendapat tawaran untuk studi kedokteran ke New York selama tiga hingga empat minggu. Ia ingin mengajak istrinya sekaligus menjalani bulan madu disana. Mendengar hal itu membuat Alex bingung, pasalnya urusan Alex soal kerjasama dengan Adrian belum selesai. Bahkan bos di kantornya menyuruh Alex untuk pergi ke Palangkaraya menemui dan menemani Adrian disana hingga project kerjasamanya berhasil.


Konflik semakin melebar disaat keduanya saling cemburu. Beno yakin Adrian mempunyai maksud lain terhadap Alex. Begitu juga dengan Alex, ia merasa cemburu disaat Beno sangat akrab dengan rekan dokter di rumah sakitnya yaitu Rani (Citra Kirana). Cekcok pertengkaran terus terjadi diantara mereka berdua. Alex berusaha untuk menolak pekerjaan bertemu dengan Adrian ke Palangkaraya lantaran tak mendapat restu dari sang suami, tapi disatu sisi Pak Randy terus memaksa dan bahkan memberikan syarat jika Alex berhasil membuat Adrian tertarik bekerjasama, maka ia akan memberikan cuti pergi ke New York. Pertengkaran kecil lainnya pun selalu mendatangi pasangan Beno dan Alex ini. Inikah yang dinamakan cinta diantara Beno dan Alex?


#Review:
Novel-novel karya Ika Natassa makin laris dilirik oleh para rumah produksi film Indonesia untuk diadaptasi menjadi film layar lebar. Tak tanggung-tanggung sudah tiga buku berhasil menjadi sebuah film layar lebar, dan tiga-tiganya ini diproduksi tiga rumah produksi yang berbeda. CRITICAL ELEVEN (2017) oleh Starvision Plus, ANTOLOGI RASA (2019) oleh Soraya Intercine Films dan yang terbaru kini yaitu TWIVORTIARE (2019) yang dipegang oleh MD Pictures. Nama besar Ika Natassa sebagai seorang penulis buku menurutku mempunyai peran yang sangat penting dalam proses terciptanya film dari novel-novel yang dibuatnya. Lihatlah deretan ensemble casts mulai dari CRITICAL ELEVEN (2017) dan ANTOLOGI RASA (2019) ini mempunyai deretan aktor-aktris Film Indonesia kelas-A seperti Reza Rahadian, Adinia Wirasti, Herjunot Ali, Refal Hady dan sederet aktor-aktris pendukung yang sudah mempunyai pengalaman banyak di industri film Indonesia. Ika Natassa nampak ingin sekali memuaskan seluruh para pembaca novelnya dengan memvisualkan para karakter novelnya sesempurna mungkin.


Kali ini bersama dengan MD Pictures dan menggandeng Benni Setiawan, novel adaptasi Ika Natassa yaitu TWIVORTIARE (2019) yang berasal dari dua novel Ika yaitu Twivortiare dan Divortiare ini akan tayang di bioskop mulai 29 Agustus 2019 mendatang berbarengan dengan film superhero karya Joko Anwar yaitu GUNDALA (2019). Kali ini aku berkesempatan hadir pada Press Conference dan Gala Premiere Film TWIVORTIARE (2019) pada 19 Agustus 2019 lalu di Lamoda Cafe & Cinema XXI Plaza Indonesia Jakarta. Pada sesi Press Conference, Ika Natassa sangat berterima kasih kepada MD Pictures karena telah bersedia bukunya diangkat ke layar lebar. Tak cuma itu saja, Reza Rahadian pun mengungkapkan sebuah fakta yang cukup unik yaitu saat pemilihan siapa yang akan memerankan karakter Alex, ia memaksa Manoj Punjabi selaku produser film ini untuk memilih Raihaanun. Karena bagi Reza, karakter Alex terasa seperti dibuat di novelnya hanya untuknya.



Untuk segi cerita, Ika, Alim Sudio selaku penulis skenario dan Benni lebih fokus terhadap konflik-konflik sepasang suami-istri dengan profesinya yang sudah pada mapan. Yang cukup asyik dan beda dari dua film adaptasi novel Ika sebelumnya yaitu disini kedua karakter utama mempunyai sikap serta sifat egois yang sama kuatnya dan dua-duanya kekeuh gak mau ngalah. Disepanjang film, penonton disuguhkan konflik-konflik suami istri yang konsisten. Meskipun mereka berdua terus beradu mulut, aku sangat menikmatinya. Tak lupa juga duet Benni dan Alim ini menghadirkan moment-moment sweet diantara Beno dan Alex. Mereka menunjukkan bahwa setelah menjalani pernikahan yang harus dibutuhkan bukan lagi soal cicintaan dan sayang-sayangan, melainkan komitmen untuk saling menghargai, menjaga keharmonisan, komunikasi dan menghormati pilihan masing-masing.
Reza Rahadian semakin memantapkan dirinya adalah salah satu aktor terbaik Indonesia saat ini. Ia mampu bertransformasi menjadi sosok Beno dengan baik. Cara ia membangun chemistry dengan lawan mainnya tak pernah mengecewakan. Give applause berikutnya wajib diberikan pada Raihaanun. Akhirnya.. Istri dari Teddy Soeriaatmadja ini tampil juga dalam film komersil. Penampilan Raihaanun sebagai Alexandra disini sangatlah elegan, mevvah dan wanita berkelas. Disepanjang film aura karakter Alex sangatlah mempesona. Semoga kedepannya Raihaanun makin sering bermain dalam film-film komersil agar pecinta film Indonesia diluaran sana yang jarang nonton film non-komersil bisa melihat dan merasakan kualitas performance Raihaanun dalam berakting.


Yang cukup membuatku senang berikutnya yaitu deretan pemeran pendukungnya sukses semakin menghidupkan keseluruhan cerita. Anggika Bolsterli, Dimas Aditya dan Boris Bokir tampil mencuri perhatian dengan segala tingkah laku mereka. Akting mereka bertiga surprisingly bisa menyatu dengan Reza dan Raihaanun. Conversation mereka cukup asyik disepanjang film.
Kesamaan dari seluruh film Ika Natassa Cinematic Universe mulai dari film CRITICAL ELEVEN (2017), ANTOLOGI RASA (2019) dan TWIVORTIARE (2019) ini menurutku adalah setting lokasi dan background para karakternya selalu berasal dari kalangan menengah keatas dan mempunyai gaya hidup yang super mapan. Imajinasi Ika Natassa disaat menulis buku-bukunya ini tak bisa disalahkan juga lantaran penulisnya sendiri merupakan seorang banker yang sempat tinggal di Jakarta kemudian lanjut di Medan. Tapi aku disepanjang nonton film ini jadi berasa semakin can't related dengan kehidupan sehari-hari. Kehidupan fancy para karakternya membuatku takjub dan geleng-geleng kepala haha.


Seperti pada film-film adaptasi novel Ika Natassa lainnya, film TWIVORTIARE (2019) ini juga mempunyai satu single original soundtrack yang dinyanyikan oleh penyanyi Glenn Fredly berjudul Kembali Ke Awal. Lirik lagunya sangat mewakili apa yang dirasakan oleh Beno dan Alex. Musik serta vokal prima Glenn Fredly sukses menyihir penonton film disaat lagu ini muncul. Salah satu original soundtrack film Indonesia terbaik tahun ini.
Overall, film TWIVORTIARE (2019) menurutku menjadi film adaptasi novel Ika Natassa terbaik sejauh ini. Goodjob dan big applause for Reza, Raihaanun, Benni Setiawan & Alim Sudio!


[8.5/10Bintang]

Wednesday, 21 August 2019

[Review] Move On Aja: Kisah Cinta Aplikasi Kencan Di Malam Tahun Baru



#Description:
Title: Move On Aja (2019)
Casts: Marthino Lio, Asmara Abigail, Uus, Lala Karmela, Edward Akbar, Puja Astawa, Totos Rasiti
Director: Hestu Saputra
Studio: Northcliff Pictures, Open Door Films


#Synopsis:
Tahun baru tinggal menghitung hari lagi. Dani (Uus) semakin gencar menggoda pacarnya untuk bisa bermalam tahun baruan di tempat tinggalnya di Bali. Dani tidak sendiri, ia mengontrak satu rumah bersama temannya yaitu Irwan (Marthino Lio). Dani meminta tolong pada temannya itu untuk tidak berada di rumah disaat ia berkencan dengan pacarnya. Sebagai imbalannya, Dani akan mencarikan perempuan Irwan untuk menemaninya selama malam pergantian tahun itu.


Irwan sendiri berprofesi sebagai seorang arsitek freelance yang mempunyai pekerjaan sampingan sebagai driver ojek online. Irwan menetap di Bali lantaran karier sebagai arsiteknya sudah berantakan disaat dulu hubungannya dengan Jessica (Lala Karmela) kandas. Putusnya cinta dengan Jessica membuat Irwan menjadi susah move-on. Ia masih memikirkan dan merindukan mantan pacarnya itu. Kehidupan sehari-hari Irwan terasa monoton karena ia masih saja menutup hatinya untuk orang lain. Dani lalu mempunyai ide untuk mencari teman kencan Irwan lewat dating apps. Ia kemudian mengganti photo profil hingga bio deskripsi Irwan di dating apps sekeren mungkin. Gara-gara keisengan Dani itu, account Irwan match dengan seorang wanita bernama Nadia (Asmara Abigail). Tanpa basa basi, Nadia lalu mengajak Irwan untuk bertemu secara langsung. Pertemuan mereka pertama kali disebuah Cafe di Bali. Sebagai seorang pria biasa dan berprofesi sebagai driver ojek online, Irwan merasa minder melihat Nadia yang terlihat begitu elegan dan berkelas. Disaat Nadia mengetahui Irwan adalah seorang driver ojek online, Irwan langsung pesimis dan memilih untuk pergi ketimbang menjadi bahan tertawaan Nadia. Tapi Nadia menahannya, ia ingin berbincang lebih lama dengan Irwan. Disaat Irwan menjelaskan soal profesi sebenarnya yaitu aristek, percakapan diantara mereka membuat Nadia terpana. Nadia yakin Irwan adalah tipe good-boy, berbeda dengan mantannya yaitu Alex (Edward Akbar) yang sangat licik dan juga pembohong.


Sepulang dari Cafe itu, Nadia terpaksa ikut naik motor bareng Irwan untuk menghindari kejaran dari seorang pria paruh baya yang terus mengejarnya. Disepanjang perjalanan, mereka berdua kembali terlibat perbincangan panjang dan saling mengetahui satu sama lain.
Nadia lalu meminta pada Irwan untuk menurunkannya di acara pesta tahun baru yang diselenggarakan oleh temannya. Disaat yang bersamaan pula Irwan tak sengaja kembali bertemu dengan Jessica. Begitu juga Nadia, ia bertemu lagi dengan Alex disana. Daripada memancing keributan, Nadia memutuskan untuk meninggalkan pesta itu bersama dengan Irwan. Tahun baru yang tinggal beberapa jam lagi, Alex lalu bergegas mengajak Nadia ke rumahnya. Disaat itulah, perbincangan mereka berdua semakin dekat. Irwan lalu menceritakan soal kisah cintanya dengan Jessica. Begitu juga dengan Nadia yang menceritakan penyesalannya menjadi wanita simpanan dari Alex.

 

Berdasarkan dari pengalaman mereka masing-masing, perlahan tapi pasti Nadia dan Irwan mulai merasakan kenyamanan diantara mereka. Keduanya saling menghargai dengan keputusan yang sudah dilakukan. Pengalaman pahit kisah cinta yang dulu dirasakan oleh Nadia dan Irwan membuat keduanya kini semakin menjadi lebih dewasa. Akankah Irwan berhasil move-on melupakan Jessica dan berpaling pada Nadia?


#Review:
Siapapun pasti pernah merasakan yang namanya patah hati lalu susah untuk move-on. Efek dari sulit melupakan itu sendiri selalu berimbas pada perasaan dan bahkan kehidupan orang tersebut. Karena jika sudah menggunakan hati dan perasaan, sisi rasionalitas dan logika seseorang menjadi urusan belakangan. Asik jadi curhat.


Sutradara muda jebolan Dapur Films yaitu Hestu Saputra kali ini menghadirkan sebuah drama romantis-komedi terbaru yang mengangkat issue seputar move-on. Premis film MOVE ON AJA (2019) produksi Northcliff Pictures ini sebetulnya sangat klise, sederhana dan bahkan mirip kisah-kisah drama romantis-komedi yang ada di FTV-FTV, tapi ditangan Hestu Saputra beserta team penulis skenarionya, premis sederhana ini disulap menjadi sajian yang asyik, menggemaskan, charming dan mendewasakan.
Paruh awal film kita bisa melihat sosok Irwan si susah move-on yang dimainkan sangat baik oleh Marthino Lio. Ditangannya, Irwan ini tidak dibuat lemah akan cinta, justru menampilkan ketegaran dan kharismatik terlebih disaat berhadapan dengan karakter Nadia. Gesture dan mata Lio terlihat sangat bermain dan hidup. GONG! Moment karakter Lio disaat perbincangan kembali dengan Jessica di babak akhir film. Sungguh intens, tajam dan sangat menghargai dirinya sendiri. Munculnya karakter Nadia menjadi seperti sumber air bagi Irwan. Penonton sangat merasakan perubahan sikap yang alami dari Irwan disaat awal ia pesimis yang kemudian perlahan mulai beranjak menjadi nyaman ketika bersama Nadia. 



Big applause untuk Asmara Abigail yang disini menunjukkan kualitasnya dalam memerankan sebuah karakter dalam film. Ini gak bohong ya, Asmara di film MOVE ON AJA (2019) tampil sangat enjoy dan charming. Gesture serta ekspresi emosinya itu natural banget. Aku sangat menikmati peran Asmara disini, karena biasanya Asmara tuh selalu mendapat peran yang mengandalkan ekspresi muka, gerak gesture di film-film arthouse, thriller maupun horror. Debut perdana Asmara dalam genre film drama sekaligus komedi ini menurutku berhasil. Chemistry yang dibangun dengan Lio juga gokil sih apik banget. Irwan & Nadia is a new favourite couple in local movie so far. Good job for Lio & Asmara! Chemistry persahabatan antara Dani dan Irwan pun asyik banget. Tektokan dialog diantara mereka terasa smooth tidak kaku sama sekali. Uus akhirnya mendapatkan peran yang cukup bermanfaat disepanjang filmography-nya dia. Haha.



Menuju babak akhir, dimana ujung kisah perjalanan kisah cinta satu malam di penghujung tahun ini akan berakhir, awalnya aku khawatir akan dibawa menjadi happy ending yang standar, tapi Hestu Saputra memberikan kejutan manis. Definisi stranger to lover to stranger to lover-nya berasa deep banget. Sehingga Irwan dan Nadia sangat layak mendapatkan ending kisah cinta mereka dibuat seperti itu. 



Overall, film MOVE ON AJA (2019) ini secara mengejutkan tampil memuaskan. Meskipun kemasannya sangat sederhana, tapi didalamnya mempunyai segudang makna dan juga pembelajaran untuk menjadi lebih dewasa khususnya untuk urusan cinta dan perasaan. Well done for Asmara & Lio!


[8/10Bintang]

Tuesday, 20 August 2019

[Review] Bumi Manusia: Problematika Hubungan Cinta Orang Pribumi & Gadis Berdarah Belanda


#Description:
Title: Bumi Manusia (2019)
Casts: Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva De Jongh, Sha Ine Febriyanti, Peter Sterk, Giorgino Abraham, Jerome Kurnia, Bryan Dormani, Dewi Irawan, Donny Damara, Ayu Laksmi, Chew Kin Wah, Hans De Krakker, Robert Alexander, Kelly Tandiono, Christian Sugiono, Ciara Nadine Brosnan, Amanda Khairunnisa, Edward Suhadi, Jeroen Lezzer
Director: Hanung Bramantyo
Studio: Falcon Pictures

#Synopsis:
Minke (Iqbaal Ramadhan) adalah seorang anak dari Bupati (Donny Damara) yang berhasil lolos masuk ke sekolah HBS, sekolah khusus untuk orang-orang yang memiliki keturunan Belanda. Minke bisa masuk ke sekolah tersebut lantaran kepintaran dan kemauannya yang gigih meskipun dirinya selalu menjadi bahan olok-olokan oleh teman-teman satu kelasnya.


Suatu hari Minke diajak sahabatnya, Suurhorf (Jerome Kurnia) untuk ikut menemani dirinya bertemu dengan temannya yaitu Robert Mellema (Giorgino Abraham). Suurhorf juga ingin memperlihatkan pada Minke pujaan hatinya yang tak lain adalah adik dari Robert yaitu Annelies Mellema (Mawar Eva De Jongh). Setibanya disana, sikap Robert terhadap Minke ternyata sangat buruk. Ia memperlakukan Minke dengan semena-mena dan bahkan melarang Minke satu meja dengan mereka. Tapi, keadaan berubah disaat Annelies muncul dari dalam rumah. Ia malah sangat ramah pada Minke dan mempersilahkan untuk masuk ke mengobrol dengannya. Minke hanya terdiam karena baru pertama kali dirinya merasa dianggap setara oleh orang berdarah Belanda. Tak cuma itu saja, Minke dibuat terkejut saat bertemu dengan ibu dari Robert dan Annelies yaitu Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), seorang wanita pribumi tulen yang memiliki penampilan tidak seperti Nyai-Nyai biasanya. Nyai Ontosoroh mempunyai dua orang anak dari seorang prajurit Belanda bernama Herman Mellema (Peter Sterk). Berkat Herman lah, Nyai Ontosoroh kini mampu mengelola dengan baik segala usaha yang perkebunan dan peternakan yang mereka jalani bersama.


Pertemuan pertama Annelies dengan Minke rupanya membuat ia terus memikirkan Minke. Annelies ingin menjadi warga pribumi seutuhnya, sama seperti ibunya dan juga kelak nanti memiliki pasangan yang berasal dari pribumi. Melihat anaknya sedang dilanda kasmaran, Nyai Ontosoroh berinisiatif mengundang kembali Minke ke rumahnya. Intensitas pertemuan Annelies dan Minke yang semakin sering ini membuat benih asmara tumbuh diantara mereka. Bahkan Annelies selalu merasa tak berdaya jika Minke ada disampingnya. Nyai Ontosoroh lalu mempersilahkan Minke untuk tinggal menetap di rumahnya agar bisa bertemu setiap hari dengan anaknya. Akibat sering berkunjung ke kediaman Annelies, membuat Minke jadi sering membolos ke sekolahnya.



Sementara itu, Minke terus melihat dan merasakan ketidakadilan yang ada disekitarnya akibat hukum yang diterapkan oleh kolonial Belanda. Hukuman dan segala peraturan yang ada di wilayahnya itu membuat warga pribumi sangat tertindas. Minke lalu mulai belajar cara memperjuangkan haknya pada Nyai Ontosoroh, karena bagi dirinya sosok Nyai Ontosoroh itu merupakan orang dengan sudut pandang modern dan menentang segala hukum yang merugikan warga pribumi.


Keberadaan Minke di keluarga Mellema mulai mendapat perhatian dari kedua orangtua Minke. Ayahnya yang baru saja dilantik menjadi Bupati dan ibunya (Ayu Laksmi) kini merasa anaknya sudah terlalu hidup modern dan jati dirinya sebagai seorang jawan tulen telah luntur. Tak cuma itu saja, Minke juga terpaksa ikut terlibat konflik yang ada di dalam keluarga Mellema. Bahkan Minke dan Nyai Ontosoroh terancam masuk penjara lantaran apa yang terjadi pada Herman, Robert dan Annelies. Mampukah Minke dan Nyai Ontosoroh mempertahankan haknya mereka ditengah hukuman kolonial Belanda yang berlaku?


#Review:
Gaung novel besar karya sastrawan Pramudya Ananta Toer yang akan diangkat ke layar lebar sudah menggema dari bertahun-tahun silam. Nama-nama sutradara besar seperti Joko Anwar, Garin Nugroho, Riri Riza-Mira Lesmana hingga Anggy Umbara dikabarkan akan menyutradarai film ini.  Akhirnya, rumah produksi yang berhasil mendapatkan copyright buku ini adalah Falcon Pictures dan menggandeng Hanung Bramantyo untuk duduk di bangku kursi sutradara.


Sebagai penonton awam yang TIDAK membaca novelnya sama sekali, aku berhasil menikmati keseluruhan ribetnya kisah cinta antara orang pribumi dengan orang blasteran pada saat penjajahan kolonial Belanda di Indonesia. Durasi yang melar mencapai tiga jam tak membuatku kebosanan. Hanung Bramantyo menurutku jika ia menggarap film-film besar dan bertema kemerdekaan itu terasa menjadi comfort zone baginya. Nasib film BUMI MANUSIA (2019) juga dibuat se-enjoy mungkin oleh Hanung agar bisa dinikmati oleh siapapun. Enam puluh menit awal penonton disuguhkan dengan kisah cinta pada pandangan pertama antara Minke dan Annelies. Beberapa moment mereka terasa lucu dan kikuk. Serasa melihat Dilan di zaman era kolonial Belanda dan juga beberapa scene sedikit mengingatkanku pada film TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK (2013).
Menuju pertengahan durasi film, penonton diajak untuk melihat kekuasaan para penjajah di tanah pribumi begitu mengekang kebebasan warganya. Kita diperlihatkan dengan nyata, para penjajah Belanda dengan lancang menyebut monyet terhadap warga pribumi, diperlakukan budak dan tidak menghargai perempuan. Tak cuma itu saja, peraturan hukum soal hak asuh anak pada zaman kolonial Belanda dalam film ini digambarkan begitu tidak adil. Meskipun anak itu sudah menikah dengan pribumi sekalipun tetap tidak sah dimata hukum Belanda. Moment-moment konflik soal keluarga Mellema sukses memberikan ketegangan yang cukup intense disepanjang film. Durasi 181 menit ini sama sekali tidak terasa dan konflik yang menimpa Minke, Nyai Ontosoroh dan Annelies terus datang tanpa henti.


Disaat semua orang meragukan keputusan karakter Minke diperankan Iqbaal Ramadhan dan Annelies diperankan Mawar Eva De Jongh, tapi ternyata penampilan mereka itu menurutku bagus. Keduanya begitu lancar dan fasih disaat berdialog bahasa Belanda. Meskipun aura Iqbaal masih terlihat Dilan banget tapi untungnya permainan emosi ia jauh lebih oke di film BUMI MANUSIA (2019) ini. Aktris muda baru Mawa Eva De Jongh juga ditangan Hanung Bramantyo tampil memukau. Tak cuma mereka saja, para supporting aktor aktris lainnya yang mayoritas dihiasi bintang muda tampil tak kalah luar biasanya. Giorgino Abraham dan Jerome Kurnia disulap menjadi sosok Robert dan Suurhorf yang sangat mengintimidasi. Penampilan paling bersinar dalam film BUMI MANUSIA (2019) ini jatuh ke tangan Sha Ine Febriyanti yang memerankan karakter Nyai Ontosoroh. Ine begitu luar biasa menghadirkan permainan emosi, ekspresi muka dan struggling seorang Nyai sekaligus ibu dari anaknya yang menjadi sengketa. Babak akhir film ini menjadi sangat klimaks dan tragis disaat tiga pemeran utama dalam film ini yaitu Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva De Jongh dan Sha Ine Febriyanti beradu akting menunjukkan kualitas mereka masing-masing.



Untuk segi tata artistik, seperti biasanya Falcon Pictures selalu jor-joran dalam membuat set lokasi. Mereka membangun sendiri rumah-rumah dan bangunan khas zaman kolonial Belanda yang terlihat oke meskipun sangat terlihat bangunan-bangunan itu adalah set lokasi film. Penggunaan filter di film ini menurutku terlalu modern sehingga look tahun 1900an nya jadi berasa kurang meyakinkan.
Overall, film BUMI MANUSIA (2019) ini berhasil menyajikan sebuah tontonan yang menarik dan mudah untuk dipahami. Terima kasih kepada Hanung Bramantyo dan Salman Aristo sudah mem-visualkan buku Pramudya Ananta Toer ini dengan baik.


[8/10Bintang]

Saturday, 17 August 2019

[Review] Konser Dekade Afgan 2019 at Istora Senayan Jakarta


Konser Dekade Afgan

Perjalanan karier musik salah satu penyanyi pop pria terbaik Indonesia saat ini yaitu Afgansyah Reza telah memasuki satu dekade. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi seorang musisi bisa bertahan di industri musik Indonesia. Banyaknya para musisi dan penyanyi pendatang baru untungnya tak membuat nama Afgan tenggelam begitu saja. Tahun 2018 kemarin, album keempat Afgan berjudul DEKADE dirilis sekaligus menandakan sebagai memperingati perjalanan kariernya yang sudah sepuluh tahun di industri musik pop Indonesia.


Pada hari Jum'at, 9 Agustus 2019 kemarin, Afgansyah Reza menggelar sebuah konser tunggalnya bertajuk "Konser Dekade Afgan" yang dilangsungkan di Istora Senayan, Jakarta. Konser ini digadang-gadang menjadi konser besar terakhir Afgan sebelum ia memutuskan "hiatus" dari industri musik Indonesia untuk menghadirkan karya terbarunya yang akan dikerjakan di Amerika Serikat.
"Konser Dekade Afgan" diadakan oleh promotor One Step Forward serta disponsori oleh Tiket.com, Blibli.com, GrabWheels dan beberapa brand besar lainnya.


Sejak sore hari, terlihat antrian di area booth penukaran tiket. Antrian mayoritas diisi oleh para penonton kategori Festival. Beberapa booth tenant food-beverages juga tersedia disana sambil menunggu gate dibuka untuk masuk ke dalam Istora Senayan, Jakarta. Tepat pukul 18:00 WIB aku bersama dengan rombongan dari De'Tones by Afgan Karaoke mendapat kesempatan akses untuk meet & greet dengan Afgan sebelum konser dimulai. Kesempatan yang cukup eksklusif, mengingat jatah bisa jumpa dengan Afgan untuk berfoto hanya untuk kategori tiket Diamond saja. Maka dari itu saya ucapkan terima kasih yang sangat besar kepada De'Tones by Afgan Karaoke yang sudah memberi kesempatan bisa meet & greet dengan Afgan di Istora Senayan, Jakarta.


Usai sesi meet & greet yang singkat itu, kami lalu bergegas masuk ke Istora Senayan. For the very first time bisa masuk ke dalam Istora Senayan yang biasanya hanya bisa kulihat di televisi atau googling saja. Tempatnya cukup besar. Kapasitas penonton yang di area seated juga banyak banget. Stage serta panggung yang dibuat untuk "Konser Dekade Afgan" ini terlihat minimalis dan tak aku tidak menemukan perintilan-perintilan property seperti konser-konser musik lainnya. Konser pun dimulai sekitar pukul 20:30 WIB dan dibuka dengan cuplikan clip video Afgan.
"Konser Dekade Afgan" dibuka dengan lagu Jalan Terus dengan vokal suara Afgan yang sangat matang dan powerful. kemudian dilanjut lagu-lagu lainnya yaitu:
1. Jalan Terus
2. Pesan Cinta (Cute moment saat tiga keponakan Afgan yang masih balita muncul dan joget-joget)
3. Kunci Hati
4. Sadis
5. Percayalah (duet dengan Marion Jola)
6. Feel So Right (duet dengan Rendy Pandugo secara live dan Isyana Sarasvati lewat visual)
7. Lagu Cinta (duet dengan Rendy Pandugo secara live dan Isyana Sarasvati lewat visual)
8. Heaven (duet dengan Rendy Pandugo secara live dan Isyana Sarasvati lewat visual)
9. Knock Me Out
10. Sudah (dengan permainan visual di screen serta lighting yang epic sukses bikin merinding)
11. Jodoh Pasti Bertemu
12. Cinta 2 Hari (best moment semua penonton menyalakan flashlight dari blitz ponsel)
13. Bawalah Cintaku
14. Love Again & Kala Cinta Menggoda (diaransemen lebih EDM bersama dengan Dipha Barus)
15. Bukan Cinta Biasa
16. Dia Dia Dia (dengan koreografi tarian yang asyik banget)
17. Panah Asmara
18. Terima Kasih Cinta

Dua lagu penutup Konser Dekade Afgan masih membuatku terpesona dan takjub betapa prima kualitas vokal dari Afgan. Pop-up confetti semakin membuat suasana tak ingin konser berakhir. Overall, Konser Dekade Afgan tampil memuaskan. Panggung yang di-design sangat keren, lighting memukau, iringan musik sangat top, koreografinya apik dan kolaborasi-kolaborasinya memuaskan!

Thursday, 15 August 2019

[Review] Makmum The Movie: Adaptasi Film Pendek Fenomenal Yang Begitu Mengejutkan


#Description:
Title: Makmum (2019)
Casts: Titi Kamal, Tissa Biani, Ali Syakieb, Bianca Hello, Adila Fitri, Jajang C. Noer, Renny Yuliana, Misha Jeter, Arief Didu
Director: Hadrah Daeng Ratu
Studio: Dee Company, Blue Water Films, MD Pictures


#Synopsis:
Nurul (Tissa Biani), Nissa (Bianca Hello) dan Putri (Adila Fitri) adalah penghuni terakhir Asrama Putri Citra yang terpaksa tidak bisa libur dari Asrama gara-gara pengelola Asrama baru pengganti Ibu Kinanti (Jajang C. Noer) yaitu Ibu Rossa (Renny Yuliana) sangat tegas dan disiplin kepada mereka. Ibu Rossa beralasan melarang ketiga anak itu untuk libur dari Asrama gara-gara Nurul berusaha untuk kabur di malam hari. Nurul beralasan keluar dari Asrama untuk mencari pertolongan karena Putri selalu mengalami kesurupan dan mereka bertiga juga sering diganggu mahluk halus ketika sedang Sholat. Ibu Rossa lantas tak mempercayai omongan Nurul dan malah mengurung mereka di dalam kamar. Kondisi fisik Putri yang semenjak masuk Asrama Putri Citra semakin gampang sakit serta sering kerasukan membuat Nurul dan Nissa yakin mereka diganggu hantu penunggu Asrama. Ibu Kinanti selaku kepala Asrama tidak bisa berbuat banyak lantaran kondisi kesehatannya terus menurun. ia hanya mengandalkan Pak Slamet (Arief Didu), Nurul, Nissa dan Putri untuk beraktivitas.


Sementara itu, salah satu alumni dari Asrama Putri Citra yaitu Rini (Titi Kamal) kini bekerja sebagai perias jenazah disebuah rumah sakit di Jogjakarta. Rini yang mempunyai bekas luka bakar cukup serius di tangannya membuat ia kesulitan untuk mendapat pekerjaan yang layak. Rini tinggal seorang diri disebuah kontrakan sederhana. Suatu hari, Rini memutuskan untuk kembali ke Asrama untuk mengabdi disana tanpa dibayar setelah ia tak mampu untuk melunasi sewa kontrakannya. Niat Rini disambut baik oleh Ibu Kinanti yang terkejut sekaligus bahagia bisa melihat anak didiknya sekarang sudah tumbuh dewasa. Hadirnya Rini juga membuat Ibu Rossa yang awalnya menolak kehadirannya menjadi mendadak menerimanya saat tahu Rini rela tidak dibayar.


Kehadiran Rini di Asrama membuat Nurul, Nissa dan Putri sedikit lega. Mereka mencurahkan apa yang dirasakan selama berada di Asrama pada Rini. Nurul juga menceritakan soal kejadian kerasukan yang sering dialami oleh Putri. Rini yang ternyata memiliki indera keenam percaya jika sosok yang selalu menghantui mereka itu pasti mempunyai tujuan menyampaikan suatu hal, karena selama Rini bekerja sebagai perias jenazah ia bisa berkomunikasi dengan para arwah jenazah-jenazah yang ia urus.


Nurul dan Nissa kemudian membawa Rini bertemu dengan guru pelajaran agama di Asrama yaitu Ustadz Ganda (Ali Syakieb) untuk berkonsultasi lebih jauh soal kejadian yang dialami mereka dan juga Putri. Usai bertemu, mereka kemudian bergegas pergi ke Asrama untuk melihat dan merasakan secara langsung apa yang sebenarnya terjadi. Tak cuma itu saja, hadirnya Rini di Asrama juga menguak sebuah rahasia yang selama ini Ibu Kinanti dan Pak Slamet sembunyikan.


#Review:
Dee Company milik KK Dheeraj Kalwani nampaknya semakin konsisten memproduksi film yang fokusnya di genre horror saja. Memulai debut lewat film GASING TENGKORAK (2017) dan terus setiap tahunnya memproduksi satu hingga tiga judul film horror untuk meramaikan industri film Indonesia. Namun sayang, film-film horror produksi Dee Company ini to be honest, menurutku belum ada yang masuk sampai level memuaskan. Yang menjadi trademark rumah produksi ini ketika merilis film-film horror Indonesia mayoritas selalu dibintangi oleh pemeran utama wanita berlabel "Mama-Mama Cantik" seperti Rianti Cartwright, Shandy Aulia, Nafa Urbach, Olla Ramlan, Meisya Siregar, Ussy Sulistyawati dan kali ini yang terbaru Titi Kamal.


Di bulan ramadan kemarin, Dee Company secara mengejutkan mengumumkan akan memproduksi film horror terbaru adaptasi dari film pendek fenomenal dan viral di YouTube berjudul "MAKMUM" karya sineas muda berbakat Riza Pahlevi asal Jogjakarta. Tak sedikit orang yang kaget sekaligus sedikit worried ide original short-movie "MAKMUM" ini jatuh ke tangan Dee Company. Mengingat track-record film horror mereka belum ada satupun yang memberikan kepuasan pada pecinta film Indonesia. Harapan sedikit muncul usai Dheeraj Kalwani menggaet kembali Hadrah Daeng Ratu untuk menggarap film MAKMUM THE MOVIE (2019) yang sebelumnya cukup baik telah menghadirkan terror horror lewat JAGA POCONG (2018) dan juga MALAM JUMAT (2019). Tak cuma itu saja, yang membuatku menarik perhatian dan respect pada film ini yaitu sang sutradara serta penulis skenario film pendeknya ikut terlibat dalam proses pembuatan versi film panjangnya sehingga ide sederhana soal ketakutan ketika sholat Tahajud ini bisa aman terkendali tidak terlalu melenceng jauh kemana-mana.


Aku berkesempatan hadir ke Gala Premiere MAKMUM THE MOVIE (2019) yang berlangsung tadi malam Rabu, 7 Agustus 2019 di Cinema XXI Epicentrum Jakarta atas undangan pemberian langsung dari sutradara film pendeknya. Makasih idolakuu!
Suasana Gala Premiere MAKMUM THE MOVIE (2019) terpantau sangat penuh dan membludak. Terlihat suasana lobby Cinema XXI Epicentrum Jakarta padat dan lumayan berdesak-desakan antar para tamu undangan dan juga rekan media. Baru kali ini aku datang ke Gala Premiere film produksi Dee Company se-crowded seperti itu. Dalam sesi Press Conference yang berlangsung usai pemutaran premiere jam pertama, seluruh team film yang terlibat dalam film ini mengutarakan kepuasannya. Hadrah Daeng Ratu mengutarakan jika ia cukup merasa tertantang dalam mengeksekusi film ini karena diadaptasi dari film pendek karya Riza Pahlevi yang sudah fenomenal dan menjadi trending di YouTube. Begitu juga dengan sutradara film pendeknya yaitu Riza Pahlevi juga mengutarakan kebahagiaannya lantaran film pendeknya kini bisa hadir dalam bentuk film bioskop. Ia berharap para penonton nantinya bisa menerima dan menikmati film MAKMUM THE MOVIE (2019).



Untuk segi cerita, film MAKMUM THE MOVIE (2019) ini memang dikembangkan lebih luas dari plot cerita versi film pendeknya. Alim Sudio selaku penulis skenario bersama dengan Riza Pahlevi dan juga Vidya Talissa Ariestya menyuguhkan tentang asal mula terror Hantu Makmum yang selalu mengganggu penghuni Asrama Putri Citra. Paruh awal film, penonton diajak untuk berkenalan dengan satu persatu karakter yang menurutku dihadirkan cukup panjang. Untungnya Hadrah cukup cerdik menyisipkan jumpscared efektif bagi penonton di awal film. Signature film pendeknya yaitu adegan sholat tahajud yang ditampilkan dalam versi film panjangnya juga berhasil membangun ketegangan dengan baik. Menuju babak pertengahan, aku kira bagian drama di filmnya akan berkurang tapi ternyata terus berlanjut. Para penulis skenario ingin mengeksplor lebih dalam para karakternya dan kehidupan sehari-hari mereka di Asrama. Tapi sayang, hampir seluruh karakter dalam film ini tidak terlalu menonjol banget. Ketiga remaja perempuan hanya dijadikan sebagai "korban" terror Hantu Makmum. Untungnya penampilan Adila Fitri yang demen banget kesurupan lumayan creepy, look tanpa make-up dan muka pucatnya oke. Tissa Biani yang berperan sebagai Nurul ketika berdialog dengan logat jawanya sudah perfect, ekspresi ketakutan sampe terlihat meneteskan air mata itu udah oke banget tapi sayang karakternya tidak dieksplor lebih jauh lagi. Bianca Hello sebagai Nissa menurutku kurang bermanfaat pada keseluruhan cerita. Nissa lumayan terselamatkan pada saat adegan di kamar mandi.


Jajaran pemain dewasanya tampil tidak terlalu buruk. Debut perdana Titi Kamal dan Ali Syakieb bermain dalam film horror juga bagus. Ekspresi mereka sudah cukup meyakinkan. Minor dari MAKMUM THE MOVIE (2019) yang paling berasa itu penggunaan dialog yang terdengar dibeberapa bagian cukup baku, alhasil adegan percakapan jadi kaku, kurang natural. Ada satu dua adegan yang bikin aku gregetan karena kurang cepat tanggap disaat salah satu orang diterror Hantu Makmum.
Terlepas dari minor-minor kecil itu, film MAKMUM THE MOVIE (2019) ini memiliki jumpscared-jumpscared cerdik dan berhasil membuat seluruh penonton berteriak kencang dan berkata Astagfirulloh! Jumpscared yang ditebar Hadrah, Alim, Riza dan Vidya di film MAKMUM THE MOVIE (2019) ini timing-nya bagus dan unpredictable banget. Horrornya benar-benar dibangun dengan sangat baik. Melihat lemari, mukena dan mushola kini tak lagi sama usai menonton film ini. Plot twist yang dihadirkan juga menurutku simple dan make-sense. Dee Company akhirnya berhenti juga membuat plot twist tentang sekte-sekte pemujaan iblis.



Untuk segi visual dan scoring, film MAKMUM THE MOVIE (2019) ini tampil cantik, artistik dan sesuai porsi pada tempatnya. Pemandangan cantik tertangkap kamera dengan tajam dan bening, Asrama Putri Citra sukses ditampilkan dingin dan menyeramkan. Camera movement-nya juga cantik banget. Apalagi disaat adegan lorong Asrama. 
Overall, film MAKMUM THE MOVIE (2019) boleh banget dibilang menjadi film horror terbaik dari Dee Company sejauh ini. Dheeraj Kalwani dan Hadrah Daeng Ratu berhasil mengembangkan ide sederhana dari film pendek milik Riza Pahlevi menjadi karya film panjang yang tampil mengejutkan.


[7/10Bintang]

Monday, 12 August 2019

[Review] Mahasiswi Baru: Ketika Usia Senja Tidak Menjadi Halangan Untuk Menuntut Ilmu


#Description:
Title: Mahasiswi Baru (2019)
Casts: Morgan Oey, Mikha Tambayong, Widyawati, Umay Shahab, Sonia Alyssa, Slamet Rahardjo, Karina Suwandi, Iszur Muchtar, Della Dartyan
Director: Monty Tiwa
Studio: MNC Pictures


#Synopsis:
Umur Lastri (Widyawati) sudah mencapai angka 70 tahun. Di umur itu, dia ingin merasakan kuliah di perguruan tinggi. Keinginan ini aneh bagi seorang nenek-nenek yang umumnya ingin menimang cucu atau hal-hal lainnya.Namun keinginan Lastri akhirnya diperbolehkan anaknya, Anna (Karina Suwandi) dan suaminya Erik (Iszur Muchtar). 
Di kampus Cyber Indonesia, Lastri berteman dengan Danny (Morgan Oey), Sarah (Mikha Tambayong), Erfan (Umay Shahab) dan Reva (Sonia Alyssa). Layaknya masa kuliah, mereka membentuk semacam geng yang sering berbuat onar dan rusuh di kampus. Dari pergaulan itu, Lastri juga sering pulang larut malam dan keluyuran. Hal itu membuat anaknya menjadi tidak tenang. Anna bahkan sering memarahi ibunya atas kelakuan ibunya selama di kampus. Lastri bahkan terlibat ke tawuran dan baku hantam antar mahasiswa dan juga tak sengaja terkena prank yang dilakukan oleh Danny. Ketenangan Lastri di kampus mulai terancam. Dekan fakultas tempat Lastri menimba ilmu yaitu Pak Chairul (Slamet Rahardjo) mengancam akan mengeluarkan Lastri jika ia tidak mendapat nilai bagus dan terus menimbulkan keonaran di kampus.
Dan disaat nilai IP dari kampus keluar, nilai yang diperoleh Lastri ternyata rendah. Ia menjadi ketakutan karena pasti akan dikeluarkan oleh Pak Chairul. Tapi teman satu gengnya tidak tinggal diam. Sarah menyarankan Lastri untuk mendekati dan menggoda Pak Chairul karena Pak Chairul adalah seorang duda ditinggal meninggal oleh istrinya sepuluh tahun silam. Demi mendapatkan kesempatan sekali lagi, Lastri mencoba ide Sarah. Dengan dibantu Erfan, Danny dan juga Reva mereka lalu mendandani Lastri semenarik mungkin agar Pak Chairul tertarik padanya.
Seiring berjalannya waktu, semua rencana Lastri mulai menunjukan perkembangan. Pak Chairul jadi dekat dengannya. Disisi lain, persahabatan diantara Danny, Sarah, Erfan dan Reva mulai dilanda konflik disaat salah satu rahasia diantara terbongkar.
Akankah Lastri berhasil menjadi mahasiswi lagi?

#Review:
MNC Pictures semakin konsisten menghadirkan film dengan ide dan skenario yang original tanpa embel-embel adaptasi dari buku, biografi atau apapun. Agustus 2019 ini giliran Monty Tiwa diajak MNC Pictures untuk menggarap sebuah film Indonesia bergenre komedi berjudul MAHASISWI BARU (2019). Film ini membawa penonton untuk melihat seorang nenek tua yang mencoba menimba ilmu lagi di bangku kuliah demi satu tujuan.
Monty Tiwa meracik ide ini menurutku berhasil memancing tawa penonton. Dari paruh awal film saja, penonton sudah dibuat tertawa melihat Lastri yang melakukan kegiatan ospek dan dimarahi oleh dua mahasiswa-mahasiswi senior. Kelucuan dan kegilaan Lastri terus berlanjut disaat ia mempunyai geng bersama dengan Danny, Erfan, Sarah dan Reva. Lastri dengan umurnya yang sudah lanjut, tak membuat ia kehilangan semangat. Keempat anggota geng lainnya pun tak kalah gila dengan Lastri. Danny yang diperankan Morgan Oey sangat berhasil dan konsisten menjadi content creator alay yang selalu memuja para followernya yang ia beri nama Baladanny. Umay Shahab yang memerankan karakter Erfan pun dibuat konsisten selalu kritis dan ngegas disetiap tindakannya. Dua perempuan remaja dalam film MAHASISWI BARU (2019) ini tampil sebagai pemanis yang cukup efektif. Mikha Tambayong semakin cantik dan eksotis, sementara itu Sonia Alyssa masih nampak berusaha keras seluwes mungkin berhadapan dengan para aktor aktris yang jam terbangnya sudah tinggi. Yang sudah pasti dan tak perlu diragukan lagi adalah kemampuan aktris senior Widyawati memerankan Lastri. Beliau begitu luwes menjadi seorang nenek yang kembali "muda" ketika bersama dengan teman-teman satu gengnya. Moment sweet tapi alay bersama Slamet Rahardjo pun sukses memancing tawa penonton. Sekali lagi Monty Tiwa membuktikan serta menghadirkan aktor aktris yang bukan berasal dari dunia komedi MAMPU dan BISA melucu juga. Contohnya yaitu film ini dan film Monty Tiwa sebelumnya yaitu SHY-SHY CAT (2016)
Film ini tak membuat penontonnya harus berfikir keras, menebak twist gila atau menunggu moment drama yang menguras air mata. Monty Tiwa cukup menyajikan komedi yang konsisten dari awal hingga akhir film dengan sedikit menyelipkan moment drama lewat maksud dan tujuan Lastri kembali bangku kuliah.
Overall, film MAHASISWI BARU (2019) berhasil tampil ringan dan menghibur dari awal hingga akhir film. Widyawati aselole banget!


[7.5/10Bintang]