Wednesday, 21 January 2026

[Review] Esok Tanpa Ibu: Ketika Peran Seorang Ibu Digantikan Oleh AI Assistant!

 



#Description:
Title: Esok Tanpa Ibu - Mothernet (2026)
Casts: Ali Fikry, Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, Bima Sena, Aisha Nurra Datau
Director: Ho Wi Ding
Studio: Base Entertainment, Beacon Film, Refinery Media, Singapore Film Commission, IMDA


#Synopsis:
Pak Hendi (Ringgo Agus Rahman), Ibu Laras (Dian Sastrowardoyo) dan anak semata wayang mereka yaitu Rama (Ali Fikry) memutuskan pindah dari Jakarta ke wilayah pinggiran kota bernama Cendana demi mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Di sana, Pak Hendi dan Ibu Laras juga turut mengembangkan project Flower Tower bersama perusahaan yang mereka kelola bernama ESOK.
Pindahnya dari kota ke wilayah pinggiran membuat Rama harus beradaptasi lagi dengan lingkungan dan teman-teman baru. Di usianya yang beranjak remaja, Rama memilih menghabiskan waktu dengan gadget dan bermain game favoritnya. Pak Hendi dan Ibu Laras terkadang merindukan kebersamaan dengan Cimot, panggilan sayang mereka untuk Rama sedari kecil. Saat waktu senggang, Ibu Laras selalu menyempatkan waktu untuk bisa ngobrol dengan Rama. Hal tersebut berbanding terbalik dengan Pak Hendi yang merasa ada jarak dengan anaknya itu. Rama pun kini lebih nyaman ngobrol dan curhat dengan sang ibu ketimbang berbagi cerita dengan ayahnya.
Suatu hari, Rama terlihat murung, tidak semangat dan sering menghabiskan waktu di kamar setelah pulang sekolah. Karena khawatir, Ibu Laras mengajaknya berbicara dan Rama pun bercerita jika ia baru saja putus dengan pacarnya yang ada di Jakarta. Rama meminta sang ibu untuk tidak menceritakan hal ini pada siapapun termasuk ayahnya sendiri.
Saat akhir pekan, Ibu Laras dan Pak Hendi mengajak Rama untuk menjelajah hutan dan mendaki bukit. Mereka ingin memperlihatkan sesuatu yang tersembunyi di balik jembatan dan tebing kepada Rama. Selama menjelajah hutan dan berjalan menuju jembatan, Ibu Laras berusaha mencairkan suasana antara Pak Hendi dan Rama. Namun yang terjadi malah Pak Hendi lebih banyak menasehati dan ketus kepada anaknya itu. Ditengah perjalanan, mereka menyadari jika stok minuman sudah habis dan botol minum milik Rama tertinggal di mobil. Ibu Laras berinisiatif turun dari bukit untuk mengambil botol minum dan meninggalkan mereka berdua. Ibu Laras berharap suami dan anaknya itu bisa akur tanpa harus dibantu olehnya. Ketika sedang berjalan turun dari bukit, Ibu Laras mengalami sesak nafas dan kepalanya mulai pusing. Tak lama setelah itu, Ibu Laras terjatuh tak sadarkan diri. Notifikasi keadaan darurat otomatis terkirim dari smartwatch milik Ibu Laras ke Pak Hendi dan Rama. Mereka berdua kemudian berlari turun dari bukit dan langsung membawa Ibu Laras ke rumah sakit.
Selama proses perawatan, Pak Hendi dan Rama mau tak mau harus saling berkomunikasi di rumah. Meskipun terasa kaku dan berjarak, Pak Hendi berusaha menggantikan semua pekerjaan rumah tangga yang sering dilakukan Ibu Laras, termasuk mengurus berbagai keperluan Rama untuk sekolah. Sementara itu, Rama semakin merindukan ibunya yang selalu ada dan menjadi tempat untuk curhat selama ini. Rasa sesal perlahan mulai menghampiri Rama karena selama ini ia selalu merasa malu dan risih ketikan Ibu Laras sering membuat rekaman video keluarga untuk keperluan konten di sosial media. Untuk mengatasi kerinduannya, Rama jadi sering membuka sosial media ibunya sambil browsing mencari berbagai cara agar Ibu Laras dapat memberikan respon ketika sedang dijenguk olehnya.
Waktu terus berlalu. Kondisi Ibu Laras malah semakin memburuk. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak rumah sakit. Namun sayang, Ibu Laras akhirnya meninggal dunia. Kepergian Ibu Laras untuk selama-lamanya membuat Pak Hendi dan Rama sangat terpukul. Saat duka menyelimuti mereka berdua, Rama berinisiatif mengganti suara di AI Assistant gadget Spiko di rumah dan smartwatch nya dengan menggunakan suara dari mendiang ibunya. Dengan bantuan temannya yang mahir soal software dan teknologi yaitu Zyla (Aisha Nurra Datau), mereka menciptakan AI Assistant pribadi terbaru bernama I-BU (Dian Sastrowardoyo) dengan menggunakan suara dari Ibu Laras. Saat Rama pertama kali mencobanya, ia langsung senang sekaligus terharu karena bisa mendengar suara mendiang ibunya, meskipun dalam bentuk AI Assistant.
Seiring berjalannya waktu, Rama mulai bangkit dari dukanya berkat kehadiran AI Assistant I-BU. Hampir setiap hari dan setiap saat ia sering curhat, mengobrol dan mengerjakan tugas sekolah dengan I-BU. Karena merasa terbantu, Rama kemudian meminta bantuan lagi pada Zyla untuk upgrade AI Assistant I-BU. Di versi terbarunya ini, I-BU jadi semakin pintar dan semakin mengerti semua keinginan Rama. Di sisi lain, Pak Hendi yang awalnya tidak menyetujui soal AI Assistant I-BU tersebut, perlahan mulai membiasakan diri karena dapat mengobati kerinduan akan mendiang sang istri.
Dibalik kecanggihan AI Assistant I-BU yang dipakai oleh Rama dan Pak Hendi, tersimpan kekhawatiran dari teman sekelas Rama yaitu Robert (Bima Sena). Ia melihat Rama jadi kecanduan dan membuatnya tidak bisa lepas dari I-BU. Keadaan menjadi semakin kompleks saat Rama memaksa Zyla untuk upgrade lagi I-BU jadi semakin cerdas dengan bantuan arsip data dari harddisk serta ponsel peninggalan Ibu Laras. Setelah upgrade ke versi paling baru, AI Assistant I-BU jadi semakin pintar dan mampu mengenal lebih personal Rama dan juga Pak Hendi. Bahkan I-BU juga punya kemampuan untuk melindungi dan membuat Rama selalu bahagia setiap saat.
Melihat Rama yang semakin ketergantungan dan tak bisa lepas dari AI Assistant I-BU membuat Pak Hendi, Zyla dan Robert khawatir, karena kecanggihan teknologi apapun tidak akan pernah bisa menggantikan emosional dan manusia sekalipun. Bagaimana akhir cerita Rama dan Pak Hendi dalam menghadapi AI Assistant I-BU yang semakin luar biasa tersebut?



#Review:
Setelah tayang perdana di JAFF Jogja yang ke-20 pada Desember tahun lalu, film Indonesia terbaru produksi kolaborasi antara Indonesia, Malaysia dan Singapura berjudul ESOK TANPA IBU - MOTHERNET (2026) siap tayang di bioskop mulai 22 Januari 2026 mendatang.


Aku berkesempatan hadir pada acara Gala Premiere film ESOK TANPA IBU (2026) yang sukses digelar pada Senin, 19 Januari kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada kesempatan tersebut, sutradara Ho Wi Ding asal Malaysia mengungkapkan, proses syuting film ESOK TANPA IBU (2026) berjalan dengan lancar dan penuh suka cita. Meskipun sempat terkendala karena perbedaan bahasa, hal tersebut tak menjadi penghalang bagi mereka. Kolaborasi sutradara dan para pemain terjalin sangat profesional. Selama proses produksi, naskah cerita dan skenario tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang setiap kalimatnya diterjemahkan dengan detail agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi. Lebih lanjut, Ho Wi Ding juga merasa terhormat karena mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan aktor-aktor terbaik Indonesia saat ini seperti Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, Ali Fikry, Nurra Datau dan Bima Sena. Ia mengaku tidak menemukan kesulitan sama sekali saat mengarahkan para aktor bermain di film ini karena sudah berakting dengan sangat bagus.


Untuk segi cerita, film ESOK TANPA IBU (2026) rupanya bukan sekedar drama keluarga yang ditinggal pergi oleh salah satu anggotanya saja. Cerita dan skenario yang ditulis rame-rame oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, Melarissa Sjarief dan Arief Asshiddiq ini turut mengangkat fenomena teknologi Artificial Intelligence di era modern. Paruh awal film, plot keluarga Pak Hendi, Ibu Laras dan Rama sekilas mengingatkanku akan film KELUARGA CEMARA (2018) yang sama-sama ditulis oleh Gina S. Noer, tentang keluarga yang memutuskan berpindah dari kota ke desa. Di film ini, konflik yang terjadi datang dari hubungan berjarak antara ayah dengan anak laki-lakinya. Plot tersebut tersaji secara simple, meaningful dan relatable bagi sebagian penonton yang bernasib sama seperti karakter Cimot di film ini. Memasuki babak pertengahan, plot semakin mengharu-biru ketika sosok ibu pergi untuk selama-lamanya. Potret kehilangan sosok istri dan ibu pasti akan berdampak besar dalam ruang lingkup keluarga. Selain kesedihan, hilangnya karakter Ibu Laras di film ini juga langsung mengubah dinamika hubungan ayah dan anak secara signifikan.


Aku sangat suka bagimana tim penulis dan sutradara menyatukan drama keluarga dengan plot soal teknologi Artificial Intelligence dalam film ini. Berbagai kebiasaan manusia saat ini seperti mengabadikan banyak moment dengan konten video, berjam-jam scrolling sosial media, penerapan smart living dalam rumah tangga, pengunaan smartwatch dan aplikasi AI tersaji apa adanya sesuai dengan jaman sekarang. Menariknya lagi, film ESOK TANPA IBU (2026) juga menampilkan sisi negatif jika manusia terus ketergantungan terhadap kecanggihan teknologi AI dalam segala aktivitas. Pesan yang disampaikan tersebut dibuat sesederhana mungkin, sehingga akan mudah menyentuh perasaan penonton. Jujur, baru kali ini aku menonton film bertema teknologi tapi tidak trying too hard untuk ambisius, pamer kecanggihan efek visual atau chaos skala masif. Sang sutradara memilih jalur yang lebih grounded dan juga emosional.
Untuk jajaran pemain, tiga pemain utama film ESOK TANPA IBU (2026) tampil luar biasa. Apresiasi harus diberikan kepada Ali Fikry yang berhasil memerankan karakter Rama yang sangat kompleks. Range emosionalnya sukses membuatku terpukau. Kesedihan dan kesepian yang ia rasakan terdeliver dengan baik pada penonton. Chemistry kaku in very good way dengan Ringgo Agus juga duh! Definisi hubungan berjarak ayah dan anak yang terlalu nyata! Hahaha. Applause selanjutnya wajib diberikan kepada Dian Sastrowardoyo. Meskipun screentime secara visualnya tidak mendominasi, namun kehadiran Ibu Laras versi I-BU berhasil meyakinkan penonton jika itu adalah AI. Intonasi suara, gesture avatar dan gaya bicara saat menjadi I-BU emang AI banget! Selain itu, yang selalu menjadi signature dari sosok Dian Sastrowardoyo yaitu di setiap film yang dimainkan, ia selalu tampil cantik dan flawless, termasuk saat adegan tak sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit. Cantik banget! Hahaha. Scene stealer pemeran Robert yaitu Bima Sena juga patut diberi acungan jempol. Tektokannya dengan Rama, Pak Hendi selalu berhasil memecah tawa penonton.
Overall, film ESOK TANPA IBU (2026) berhasil memadukan drama keluarga tentang kehilangan dengan balutan kecanggihan teknologi AI secara emosional, menghibur sekaligus bikin haru! Jangan sampai terlewatkan!


[8.5/10Bintang]

Saturday, 17 January 2026

[Review] Pillion: Drama Percintaan Antara Pasangan Dominan Dan Submisif!

 


#Description:
Title: Pillion (2026)
Casts: Harry Melling, Alexander SkarsgĂ„rd, Lesley Sharp, Douglas Hodge, Jake Shears, Nick Figgis, Zoe Engerer, Jake Sharp, Anthony Welsh, Zamir Mesiti
Director: Harry Lighton
Studio: BBC Films, British Film Institute, Element Pictures, Warner Bros Pictures, A24


#Synopsis:
Di malam natal, Colin beserta kedua orangtuanya yaitu Peggy (Lesley Sharp) dan Pete (Douglas Hodge) pergi menuju bar untuk melihat aksi Colin dan rekan-rekannya bernyanyi kuartet di sana. Setelah selesai pentas, Peggy dan Pete rupanya mendatangkan seorang pria yang rencananya akan dijodohkan dengan sang anak. Mereka berdua sudah sangat terbuka dan tidak mempermasalahkan anaknya Gay. Colin pun tak pernah menolak untuk menemui pria pilihan orangtuanya, meskipun pria tersebut bukan tipenya, demi membahagiakan sang ibu yang mengidap kanker dan sedang menjalani proses kemoterapi.
Waktu semakin larut. Colin tak sengaja melihat seorang pria berpostur tinggi dan berbadan atletis diantara para rombongan pembalap motor yang ada di bar itu juga. Colin terpesona pada pandangan pertama pada pria tersebut. Saat sedang di meja bar, pria tersebut rupanya menyadari jika Colin memandanginya. Ia kemudian mendekati Colin dan memberikan selembar kertas kecil yang bertuliskan nomor teleponnya. Pria tersebut bernama Ray (Alexander Skarsgard) yang meminta Colin untuk menghubungi dan menemuinya esok hari di jam dan tempat yang sudah ditentukan.
Ajakan bertemu dari Ray tersebut membuat Colin sangat senang. Kedua orangtuanya pun ikut bahagia karena baru pertama kali melihat Colin akan kencan dengan pria pilihannya sendiri, Pete pun meminjamkan jaket kulit miliknya untuk dipakai Colin setelah mengetahui pria yang mengajak anaknya kencan itu berprofesi sebagai pembalap motor. Sambil membawa anjing kesayanganya, Colin berjalan menuju komplek pertokoan yang sudah ditentukan Ray. Tiba di sana, Colin sudah datang sambil membawa anjing kesayangannya juga. Setelah itu, Ray mengajak Colin berjalan menuju tempat yang sepi di belakang pertokoan. Di sana, Ray meminta Colin untuk berlutut, kemudian mendorongnya untuk menjilat sepatunya. Setelah itu, barulah Colin melakukan oral seks pada Ray. Setelah merasa puas, Ray dan Colin kemudian berpisah.
Setelah kejadian di malam itu, Colin berusaha agar bisa berkomunikasi dan bertemu lagi dengan Ray. Namun sayang, semua chat dan panggilan teleponnya Colin tak pernah direspon. Colin pun memutuskan untuk fokus lagi bekerja sebagai petugas tilang parkir kendaraan dan mulai belajar melupakan Ray. Hingga suatu hari, tiba-tiba saja Ray menelepon Colin untuk datang ke rumahnya. Akhir pekan pun tiba. Peggy dan Pete sangat senang melihat Colin yang akhirnya berpacaran dengan pria sesuai keinginannya. Mereka menyiapkan berbagai perlengkapan termasuk oleh-oleh cemilan cokelat untuk diberikan pada Ray. Colin pun tiba di rumahnya Ray. Di sana, Ray langsung memberikan aturan pada Colin untuk memasak, membersihkan rumah, berbelanja kebutuhan sehari-hari selama tinggal di sana, tidur di lantai kamar dan harus menuruti semua ucapan Ray. Awalnya Colin terkejut karena liburannya bersama Ray tidak sesuai dengan ekspektasinya. Namun karena sudah terlanjur berada di sana, Colin pun menyesuaikan diri dan berharap tidak mengecewakan Ray.
Pagi harinya, Colin terbangun oleh suara alarm. Ia melihat dari balik jendela, Ray yang sudah bangun duluan dan sedang mencuci motor kesayangannya. Di meja, Colin melihat daftar belanjaan yang harus dibeli. Setelah selesai membereskan dan membersihkan rumah, Colin pergi ke swalayan untuk berbelanja. Tiba di rumah, ia menyiapkan makan sehari-hari untuk Ray. Semua tugas dan perintah sudah dilakukan oleh Colin. Sore harinya, Ray mengajak Colin olahraga wrestling dengan kostum yang sudah disediakan. Colin sangat menikmati kebersamaannya dengan Ray meskipun ia belum pernah wrestling sebelumnya. Setelah Colin mengerjakan semua perintahnya, Ray kemudian memberikan imbalan berupa hubungan seksual.
Hari demi hari terus berlalu. Colin mulai nyaman dan terbiasa dengan semua aktifitas yang dilakukan Ray. Ia kemudian mencukur habis rambutnya lalu ikut rombongan geng motor bersama dengan Ray dan teman-temannya. Hingga suatu hari, Colin melihat pesta seks tak biasa anggota geng motor di rumahnya Ray dengan mengenakan kostum latex, berwarna hitam dan banyak alat-alat BDSM di sana. Setelah pesta seks tersebut, Colin melihat beberapa orang yang berperan sama seperti dirinya dan sudah terbiasa menjadi budak bagi Ray dan teman-teman geng motornya.
Seiring berjalannya waktu, perubahan penampilan dan seringnya Colin menghabiskan waktu bersama di rumahnya Ray membuat Peggy dan Pete khawatir. Colin pun berusaha menenangkan kedua orangtuanya dengan memberi kabar jika dirinya baik-baik saja dan bahagia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Ray. Hari ulang tahun Colin pun tiba. Awalnya Colin menganggap Ray tidak mengetahui jika ia sedang berulang tahun. Tapi ternyata ia sudah menyiapkan pesta ulang tahun dengan tour bersama geng motornya. Selama berkemah, rombongan geng motor menggelar pesta seks BDSM. Untuk pertama kalinya, Ray dan Colin melakukan hubungan seksual secara normal dan penuh keintiman sebagai hadiah ulang tahun untuk Colin.
Suatu hari, Colin meminta izin untuk mengajak Ray makan-makan di rumahnya dan bertemu lagi dengan orangtuanya. Colin ingin mengenalkan secara baik-baik agar tidak terjadi kesalahpahaman yang selama ini dipikirkan oleh ayah dan ibunya itu. Namun sayang, acara makan-makan tersebut menjadi berantakan usai Ray mengungkapkan dinamika hubungannya dengan Colin yang berbeda dari pasangan Gay kebanyakan serta menganggap pandangan orang tua Colin itu terbelakang. Hal tersebut membuat Peggy sangat marah dan menganggap Ray adalah orang gila.
Beberapa minggu kemudian, ibunya Colin akhirnya meninggal dunia. Colin terpukul atas kematian sang ibu setelah mereka bertengkar mengenai Ray. Ditengah rasa sedihnya yang mendalam, Ray menemani Colin dan membelikannya makanan. Malam harinya, Ray mengizinkan Colin untuk tidur satu ranjang bersamanya. Keesokan harinya, Colin ingin mengulangi tidur bersama dengan Ray lagi. Selain itu, Colin juga menyarankan untuk mengadakan libur satu hari dalam satu pekan dari hubungan BDSM dan menjalin hubungan normal seperti pasangan Gay pada umumnya. Namun sayang, Ray mau menjalankan keinginan Colin. Ia tetap memerintahka Colin tidur di karpet kamarnya. Colin pun akhirnya melampiaskan amarahnya lalu pergi dari rumah dengan motor kesayangannya Ray.
Keesokan harinya, Colin pulang ke rumah Ray sambil mengembalikan motor. Tak disangka, Ray pun menyetujui untuk libur satu hari dan menjalani hubungan Gay secara normal. Mereka berdua kemudian menghabiskan waktu bersama jalan-jalan ke kota, menonton film di bioskop dan menikmati kuliner di restoran. Setelah itu, Colin dan Ray berlari menuju taman dan untuk pertama kalinya mereka berciuman di sana. Di hari normal tersebut, Colin merasakan kebahagiaan luar biasa yang akhirnya ia dapatkan dari Ray.


#Review:
Setelah berkompetisi di Cannes 2025 dan berhasil memenangkan penghargaan Un Certain Regard for Best Screenplay, film PILLION (2026) yang merupakan karya debut sutradara Harry Lighton, akhirnya segera tayang di bioskop Amerika Serikat mulai awal Februari mendatang.
Film PILLION (2026) merupakan adaptasi dari novel berjudul Box Hill karya penulis Adam Mars-Jones yang pertama kali dirilis pada tahun 2020 lalu. Premisnya pun terbilang tabu karena mengangkat hubungan Gay yang melakukan praktek BDSM. Untuk segi cerita, paruh awal film ini menyajikan formula standar hubungan LGBT tentang pria introvert biasa-biasa saja yang jatuh cinta pada pria tampan berbadan atletis dan seorang pembalap motor juga. Yang menjadi pembeda kali ini, konflik yang dihadirkan bukan lagi soal proses pencarian jati diri dan perjuangan mendapat penerimaan dari orangtua, melainkan dinamika dan kompleksitas dari hubungan Gay yang menjalani praktek BDSM di dalamnya. Orangtua dari karakter Colin justru sudah sangat terbuka. Bahkan mereka mencarikan jodoh untuk sang anak dan ikut senang saat mengetahui anaknya sedang dekat dengan pria yang disukainya. Memasuki babak pertengahan film, Lighton yang turut menulis cerita menyajikan perjalanan hubungan antara Colin dan Ray dengan menerapkan BDSM dengan tidak menekankan pada hubungan seksual semata seperti yang dilakukan Mr. Grey di Trilogy FIFTY SHADES (2015). Karakter Ray hadir dengan sifat sangat dominan dan otoriter terhadap Colin. Sebaliknya, karakter Colin berperan sebagai submisif dalam hubungan tersebut yang harus tunduk, patuh dan mengikuti semua keinginan Ray. Selama di rumah, Colin hanya menjalankan rutinitas seperti asisten rumah tangga saja bagi Ray yang diharuskan untuk belanja, memasak dan bersih-bersih. Mungkin saat bagian Colin yang harus tidur di karpet kamar, mengenakan kalung rantai bergembok dan sesekali harus bertekuk lutut layaknya seekor anjing bisa membuat sebagian penonton merasa tidak nyaman dengan adegan-adegan tersebut, karena ya itu tadi kompleksitas praktek BDSM memang seliar itu hahaha. Ditambah lagi, Lighton secara gamblang menampilkan pesta seks atau orgy BDSM dengan kostum lateks secara outdoor di tengah hutan. Sungguhlah, visualisasi yang terlalu realistis sekaligus memicu trauma bagiku saat melihatnya huft! Konflik yang dihadirkan saat menuju akhir film juga eksekusinya bagus dan sesuai dengan realita karena tidak semua orang dapat mentoleransi perilaku BDSM. Ending cerita dari perjalanan hubungan Colin dengan Ray pun ditutup secara bittersweet. Keduanya menyelesaikan peran dominan dan submisif dengan cara yang relatable dalam journey hubungan LGBT pada umumnya.
Untuk jajaran pemain, duet maut Harry Melling dan Alexander SkarsgÄrd tampil bersinar di film PILLION (2026). Henry berhasil menghidupkan karakter Colin si submisif yang diam-diam menikmati dinamika hubungan BDSM nya dengan Ray namun di satu sisi, ia juga mengharapkan bisa menjalin hubungan yang normal juga. Range emosionalnya di babak akhir film sukses membuatku terpukau. Sementara itu, Alexander Skarsgard pun berhasil menampilkan sisi enigmatik dari karakter Ray si dominan. Sikap dingin, otoriternya saat melakukan BDSM terasa banget intimidatifnya. Namun di sisi lain, ia juga menampilkan sisi lainnya yang berusaha menjadi normal, meskipun pada akhirnya hasrat dominan dan BDSM nya memang tidak bisa dihilangkan begitu saja.
Overall, film PILLION (2026) berhasil menyajikan dinamika hubungan BDSM secara raw, grounded dan realistis tanpa menonjolkan seksualitas yang lebay seperti film-film bertema BDSM kebanyakan.


[8.5/10Bintang]

Friday, 16 January 2026

[Review] Musuh Dalam Selimut: Definisi Tetangga Adalah Maut Yang Mengecoh Rumah Tangga!

 


#Description:
Title: Musuh Dalam Selimut (2026)
Casts: Yasmin Napper, Arbani Yasiz, Megan Domani, Fitria Rasyidi, Willem Bevers, Cakrawala Airawan, Chrismanto Eka, Javed Khan
Director: Hadrah Daeng Ratu
Studio: Narasi Semesta, Unlimited Productions, Legacy Pictures, A&Z Films


#Synopsis:
Sejak ayahnya, Pak Rekso (Willem Bevers) tersandung kasus korupsi dan mendekam di penjara, Gadis (Yasmin Napper) harus hidup mandiri. Ia terpaksa menunda kuliah S1 nya dan memilih bekerja agar bisa mendapatkan uang. Suatu hari, Gadis dipanggil oleh staff HRD yaitu Pak Indarto (Cakrawala Airawan) untuk membahas kontrak kerjanya yang akan segera habis setelah dua tahun bekerja di sana. Pak Indarto kemudian menggoda Gadis sambil menawarkan status karyawan tetap jika bersedia menemaninya. Dengan tegas Gadis menolak tawaran tersebut karena ia tidak ingin mendapat pekerjaan dengan cara seperti itu. Ia memilih untuk tidak diperpanjang dan resign saja dari kantor jika Pak Indarto terus melecehkan dirinya.
Pak Indarto pun tak terima dengan penolakan tersebut. Malam harinya sepulang Gadis lembur bekerja, ia menunggu di basement sambil berusaha mengejar Gadis. Untungnya ada karyawan lain yang melihat kejadian tersebut dan langsung menolong Gadis. Setelah berkenalan, karyawan tersebut adalah Andika (Arbani Yasiz) yang ternyata alumni satu angkatan dengan Gadis di kampus. Gadis sangat berterima kasih pada Andika karena sudah menyelamatkan dirinya dari aksi bejat Pak Indarto.
Keesokan harinya, Pak Indarto resmi dipecat dari perusahaan dan membuat Gadis dan temannya yaitu Gita (Fitria Rasyidi) lega. Saat jam istirahat, Gadis tak sengaja kembali bertemu dengan Andika yang bekerja di satu gedung yang sama. Sejak saat itu, keduanya menjadi dekat dan kemudian berpacaran. Gadis pun langsung mengenalkan Andika pada ayahnya. Pak Rekso sangat senang saat mengetahui Andika punya maksud baik ingin menikahi anaknya itu. Setelah mendapat restu dari ayahnya Gadis, Tak membutuhkan waktu lama, Andika melamar Gadis lalu menikah. Pasutri baru ini kemudian tinggal di komplek perumahan yang nyaman dan tenang. Andika pun meminta sang istri untuk tidak lagi bekerja dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya saja di rumah. Keesokan harinya setelah Andika pergi berangkat kerja, rumah Gadis kedatangan seekor kucing lucu berwarna abu yang terlihat mondar-mandir di depan rumahnya. Rupanya kucing tersebut milik tetangga yaitu Suzy (Megan Domani) yang nampak seusia dengan Gadis. Sejak saat itu, Suzy dan Gadis berteman. Keduanya sering mengisi waktu luang untuk berbelanja ke supermarket, olahraga di komplek dan masak-masak bersama.
Suatu malam, Andika mengajak Gadis untuk dinner ke restoran favorit mereka. Saat akan berangkat, Suzy tiba-tiba berkunjung ke rumah dan mengajak untuk main monopoli. Karena selama ini sudah sering menemani di rumah dan merasa tidak enak hati jika meninggalkan Suzy sendirian, Gadis meminta izin pada Andika untuk mengajak Suzy dinner juga. Karena keinginan sang istri, Andika pun terpaksa mengizinkannya. Selama di restoran, Gadis mulai merasakan ada yang mengganjal pada sikap Suzy. Selain warna dress yang mereka kenakan sama, Suzy juga mengetahui tipe steak yang sering dipesan oleh sang suami. Keesokan harinya, Suzy sudah datang ke rumah membantu Gadis menyiapkan sarapan dan bekal untuk Andika. Hal tersebut kembali membuat Gadis curiga karena perilaku Suzy terasa semakin ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Namun Gadis tak memperpanjang kecurigaan tersebut dan memilih untuk mengabaikannya.
Waktu terus berjalan. Di suatu pagi, Gadis dan Suzy seperti biasa menjalani rutinitas berolahraga dan senam di lapangan komplek. Namun Gadis terlihat lesu dan akhirnya ia jatuh pingsan. Saat diperiksa oleh dokter di rumah sakit, rupanya Gadis sedang hamil dengan usia kandungan 8 minggu. Kehamilan tersebut disambut suka cita oleh Gadis dan juga Suzy. Setelah diizinkan pulang ke rumah sambil menunggu Andika pulang kantor, ia berencana ingin memberikan kejutan kabar kehamilannya pada sang suami. Setibanya di rumah, malah Suzy duluan yang menghampiri Andika dan mengatakan dengan lantang jika Gadis hamil. Rasa curiga dan khawatir kembali dirasakan oleh Gadis gara-gara perilaku Suzy.
Waktu terus berlalu. Kondisi kehamilan Gadis semakin membesar. Rasa curiga semakin menghantui Gadis karena Suzy sering membawakan kado untuk bayinya. Selain itu, Suzy juga selalu ikut campur ingin memberi nama pada bayinya Gadis. Hingga suatu malam saat Gadis mengambil air minum di dapur, ia melihat pintu rumahnya sedikit terbuka dan kucing milik Suzy ada di dalam rumah. Karena penasaran, Gadis mengecek CCTV dan melihat Andika yang diam-diam keluar rumah tanpa sepengetahuannya. Hal tersebut membuat Gadis semakin khawatir jika suaminya berselingkuh. Dugaan tersebut semakin diperkuat setelah hari-hari berikutnya Gadis melihat gerak-gerik tak biasa dari sang suami dan juga Suzy.
Keesokan harinya, Gadis mendapat informasi dan kiriman rekaman video dari Gita yang memergoki Andika sedang berbicara dan terlihat memeluk seorang perempuan di parkiran kantor. Untuk memperkuat dugaannya, Gadis kemudian datang ke rumahnya Suzy sambil membawakan kado untuk kucing kesayangannya. Tiba di sana, Gadis izin ke toilet sambil mengecek lemari pakaian Suzy. Saat dibuka, Gadis melihat adanya blazer yang bentuk dan warnanya sama persis dengan video yang dikirim Gita. Gadis berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang dan setelah itu ia pulang. Di rumah, Gadis langsung mencari bukti-bukti lain yang mungkin saja disembunyikan Andika. Saat menggeledah ruang kerjanya, Gadis menemukan sebuah kunci remote dengan gantungan kunci yang ia tidak ketahui itu kunci apa.
Keadaan semakin memanas setelah Gadis melihat Suzy keluar rumah dengan memesan taksi online. Ia pun mengejarnya dengan mengendarai motor bersama satpam komplek. Namun sayang, Gadis kehilangan jejak mobilnya Suzy. Sebelum pulang, Gadis berinisiatif mendatangi pet shop tempat langganan Suzy untuk membeli segala perlengkapan kucing kesayangannya. Ketika ditelusuri, ternyata Suzy memiliki dua alamat berbeda. Ia juga tak sengaja menemukan akun sosial media kucing kesayangan Suzy yang di salah satu fotonya menandai akun sosial media milik Suzy dan juga Andika. Gadis pun langsung pergi menuju alamat rumah Suzy yang satunya lagi dengan harapan ia bisa membongkar perselingkuhan antara suaminya dengan Suzy.
Tiba di sana, kunci remote yang ia temukan di kamarnya Andika berhasil membuka pintu gerbang rumah mewah itu. Saat masuk ke dalam rumah, Gadis terkejut melihat adanya foto pernikahan Andika dan Suzy yang terpasang di sana. Apa yang sebenarnya terjadi di antara Gadis, Suzy dan Andika?


#Review:
Rumah produksi Unlimited Pictures membuka tahun 2026 dengan merilis dua film layar lebar terbaru yang keduanya sama-sama disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu. Sebelum film horror ALAS ROBAN (2026) tayang di bioskop mulai 15 Januari, film bergenre drama thriller perselingkuhan dirilis duluan yang berjudul MUSUH DALAM SELIMUT (2026). Dengan pemilihan judul yang kece serta mengangkat issue perselingkuhan, rasanya film ini punya potensi untuk menimbulkan kehebohan dari penonton di bioskop.


Untuk segi cerita, film MUSUH DALAM SELIMUT (2026) dibuka dengan pengenalan karakter protagonis Gadis yang mengalami kesialan bertubi-tubi. Ayahnya dipenjara, terpaksa hidup sederhana tinggal di kost-kost an, kuliah tertunda, lalu kontrak kerja akan segera habis dan apesnya lagi ia mengalami pelecehan yang dilakukan oleh atasannya sendiri. Moment-moment apes dari Gadis tersebut disajikan dengan tempo cepat dan sedikit sentuhan thriller didalamnya. Setelah itu, barulah elemen drama romansa rumah tangga dimunculkan ketika Gadis bertemu dengan Andika kemudian berpacaran dan menikah. Pada bagian ini, Cassandra Massardi selaku penulis cerita film MUSUH DALAM SELIMUT (2026) kembali menyajikan tempo yang cepat, sehingga menimbulkan rasa curiga juga pada penonton. Chemistry romantis yang terjadi diantara Gadis dan Andika terasa ada yang mengganjal, tidak seperti biasanya yang dilakukan oleh Arbani maupun Yasmin Napper. Apakah disengaja atau memang menjadi plot hole. Kemunculan karakter Suzy yang diperankan Megan Domani pun semakin menambah rasa suudzon kepada rumah tangga mereka. Tak sedikit kelakuan dan dialog Suzy berhasil bikin penonton sumpah serapah. Dua kalimat yang menyulut emosi dan bisa jadi ikonik yaitu "ya bagus dong, gue malah mau punya suami kayak gini" dan "sumpah ya, serasa suami berjamaah gini" dari Suzy benar-benar menyebalkan hahaha.


Sejak kehadiran karakter Suzy, plot film berfokus pada usaha Suzy untuk ikut campur rumah tangga Gadis dan Andika. Sikap nya yang annoying, rese memang ganggu banget. Yang cukup disayangkan yaitu respon dan reaksi dari Gadis terhadap Suzy tidak dibuat tegas, cenderung masih menjaga perasaan Suzy di sini. Padahal disepanjang film, kedekatan mereka sebagai tetangga yang seumuran pun terlihat fake, sehingga penonton tidak merasakan adanya kedekatan di antara mereka. Memasuki babak akhir film, barulah intensitas thriller nya mulai meningkat. Moment-moment investigasi yang dilakukan Gadis sukses menciptakan ketegangan berjamaah dari penonton. Rasa greget ingin segera terbongkar rahasia yang disembunyikan Suzy dan Andika pun semakin memuncak. Pada bagian ini, Yasmin Napper menunjukkan range emosional yang luar biasa dan top notch disepanjang karier nya sebagai aktris film dan serial. Kolaborasi Hadrah dan Cassandra dalam menyajikan plot twist tak terduga yang sengaja disimpan di penghujung film cukup berhasil menjawab segala keanehan dan kekakuan di babak awal film. Meskipun treatment plot twist nya tidak se-ekstrim LA TAHZAN (2025) nya Hanung Bramantyo, namun narasi yang divisualkan terasa sangat ambisius lewat sudut pandang dari Suzy dan juga Andika. Semuanya terasa buru-buru, sehingga pendalaman motivasi masing-masing karakter melakukan keputusan besar tersebut jadi tidak believable. Alhasil, penonton semakin sulit untuk memberikan empatinya terhadap alasan yang dipilih Andika maupun Suzy. Konklusi dari konflik film MUSUH DALAM SELIMUT (2026) pun dibuat sangat tragis dan juga terlalu cepat. Padahal masih bisa banget dirombak untuk lebih dramatis ketimbang dibuat kecelakaan seperti itu.
Overall, film MUSUH DALAM SELIMUT (2026) menyajikan drama tetangga adalah maut yang menyimpan kejutan dengan cara memutarbalikan posisi diantara kedua karakter perempuannya.


[7.5/10Bintang]

Thursday, 15 January 2026

[Review] Suka Duka Tawa: Cerita Perjuangan Dari Komika Fatherless Yang Ingin Terkenal!



#Description:
Title: Suka Duka Tawa - Comedy Buddy (2026)
Casts: Rachel Amanda, Teuku Rifnu Wikana, Marissa Anita, Myesha Lin, Enzy Storia, Arif Brata, Bintang Emon, Gilang Bhaskara, Nazira C. Noer, Abdel Achrian, Mang Saswi, Dany Beler, Adjis Doaibu
Director: Aco Tenriyagelli
Studio: Bion Studios, Spasi Moving Image, Visinema Pictures


#Synopsis:
Tawa (Rachel Amanda) baru saja dipecat dari tempat kerjanya karena sering kebablasan saat bercanda dengan pelanggan yang datang ke toko. Sambil mencari pekerjaan baru, Tawa meluangkan sedikit waktu untuk menonton dan mengikuti acara stand-up comedy kecil-kecilan yang digelar di cafe. Bersama dengan para sahabatnya yaitu Rais (Arif Brata), Andin (Enzy Storia), Iyas (Bintang Emon) dan Fachri (Gilang Bhaskara), mereka sering membantu dan mendukung Tawa untuk berani open mic di acara tersebut. Sudah berkali-kali Tawa manggung dan open mic namun jokes yang ia lontarkan selalu gagal menciptakan tawa dari para penonton.
Suatu hari, saat Tawa sedang open mic, ia mendapat kabar jika ibunya yaitu Cantik (Marissa Anita) dilarikan ke rumah sakit setelah terpeleset dari tangga kost mereka. Kejadian tersebut membuat Tawa harus segera mencari kontrakan baru yang aksesnya tidak merepotkan sang ibu. Setelah diperbolehkan pulang, Tawa dan Ibu Cantik akhirnya pindah ke kost-kost an murah yang satu rumah dengan Rais, Andin dan Fachri. Sambil menunggu panggilan interview kerja, Tawa merenovasi sedikit kamar mereka untuk dijadikan salon nail art untuk Ibu Cantik, agar sang ibu tak harus lagi mendatangi pelanggannya yang ingin nail art. Karena merasa hidupnya makin serba susah, Tawa punya rencana ingin mengangkat materi komedi perihal hilangnya figur seorang ayah setelah orangtuanya bercerai. Rais, Andin, Iyas dan Fachri pun mendukung rencana tersebut karena issue fatherless pasti akan related dengan banyak orang. Ditambah lagi, ayah dari Tawa yaitu Hasan (Teuku Rifnu Wikana), komedian senior dengan nama panggung Keset yang terkenal dengan program komedi di televisi bersama Santos (Abdel Achrian), Anggun (Nazira C. Noer), Japon (Mang Saswi).
Saat pertama kali open mic dengan materi komedi tentang fatherless dan mengungkap jika komedian Keset adalah ayahnya, Tawa langsung viral karena issue yang diangkat ternyata related dengan banyak orang. Sejak saat itu, Tawa melampiaskan semua keresahan dirinya tentang kehilangan figur ayah menjadi materi stand-up comedy selanjutnya. Sementara itu, viralnya cerita Tawa yang diterlantarkan selama belasan tahun membuat Hasan alias Keset dihujat netizen. Citra negatif tersebut membuatnya terpaksa dipecat dari program komedi yang selama ini membesarkan Hasan, Santos, Anggun dan Japon.
Popularitas Tawa semakin melejit setelah ia berhasil mendapatkan golden ticket mengikuti program stand-up comedy space yang disiarkan televisi. Perlahan tapi pasti, kondisi keuangan Tawa dan Ibu Cantik pun perlahan mulai membaik. Seiring berjalannya waktu, Tawa pun mulai mendapat kritik dari para dewan juri karena materi komedinya keseringan mengangkat tentang aib sang ayah. Mereka pun menantang Tawa untuk mencari materi baru di babak selanjutnya. Dengan bantuan para sahabatnya, mereka menyarankan Tawa untuk menggali cerita romantis ayah dan ibunya sebelum berpisah saja ketimbang mengangkat cerita cinta Tawa yang selama ini belum punya pengalaman pacaran dengan siapapun.
Meskipun kini tak punya program di televisi, Pak Keset justru lega karena ia bisa istirahat sejenak sekaligus punya rencana untuk memperbaiki hubungannya dengan sang anak yang sudah belasan tahun berpisah. Pak Keset pun mengizinkan Tawa untuk terus menggunakan aib ayahnya menjadi materi stand-up comedy asalkan hubungan mereka berdua membaik. Sejak saat itu, Tawa pun mulai membuka diri kepada sang ayah dan mendengarkan semua cerita yang selama ini tidak ia ketahui. Perlahan tapi pasti, Tawa mulai berdamai dengan Pak Keset. Selain itu, Pak Keset juga menjalankan kembali kewajibannya sebagai seorang ayah untuk membahagiakan anaknya dengan membelikan perabot dan alat rumah tangga.
Seiring berjalannya waktu, apa yang dilakukan Tawa bersama Pak Keset selama ini, rupanya memiliki potensi dibenci oleh Ibu Cantik. Tawa berusaha agar semuanya tidak ketahuan oleh sang ibu. Namun sayang, semakin disembunyikan justru semakin memperparah keadaan. Pak Keset juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Ibu Cantik karena setelah mereka bercerai, tak ada lagi komunikasi sama sekali yang terjalin selama Ibu Cantik membesarkan Tawa seorang diri. Pak Keset kemudian menyusun rencana dengan bantuan Rais, Andin, Iyas dan Fachri untuk menggelar open mic di cafe yang materinya roasting Pak Keset tanpa sepengetahuan Tawa. Pak Keset juga turut mengundang Tawa dan Ibu Cantik untuk datang ke cafe dengan harapan hubungan mereka bertiga bisa membaik. Apakah semuanya berjalan dengan lancar?


#Review:
Setelah tayang eksklusif dan menjadi film penutup di JAFF Jogja yang ke-20 pada Desember tahun lalu, film SUKA DUKA TAWA (2026) akhirnya tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 8 Januari kemarin. Ada banyak faktor yang menjadi daya tarik untuk menonton film ini yaitu, film SUKA DUKA TAWA (2026) menjadi debut bagi Aco Tenriyagelli sebagai sutradara film layar lebar, setelah sebelumnya dikenal sebagai sutradara serial, film pendek dan music video dari judul-judul populer. Kemudian, film ini dibintangi sederet nama-nama besar di industri perfilman dan komedi Indonesia seperti Rachel Amanda, Teuku Rifnu Wikana, Marissa Anita, Enzy Storia hingga Arif Brata, Bintang Emon, Gilang Bhaskara hingga Abdel, Mang Saswi, Gita Bhebita dan juga Tara Basro.


Untuk segi cerita, film SUKA DUKA TAWA (2026) ini mengangkat kehidupan sehari-hari seorang komika perempuan yang ingin terkenal dan memperbaiki kondisi finansial keluarganya. Plot semakin menarik saat Aco Tenri mengeksplor lebih dalam tentang sifat si karakter Tawa dan latar belakang cerita dari keluarganya yang broken home. Pada bagian ini, penonton bisa memaklumi kebencian Tara terhadap sang ayah setelah sekian lama berada dalam kondisi yatim pasif atau fatherless. Di sisi lain, kepedihan tersebut rupanya mendatangkan popularitas bagi Tara karena dijadikan bahan materi saat open mic stand-up comedy. Plot kemudian berkembang saat Aco mengeksplorasi moment rekonsiliasi karakter Pak Keset dengan Tara dan sebaliknya. Sederet adegan yang dilakukan mereka berdua tampil apa adanya namun berhasil bikin penonton terharu. Peak dan GONG moment antara Pak Keset dan Tara terjadi saat diiringi lagu Bunga Maaf nya The Lantis. Gila! Jiwa fatherless diriku dan penonton lain yang bernasib sama langsung pecah melihatnya.


Subplot pertemanan antara Tawa dengan Rais, Andin, Fachri dan Iyan sesekali berhasil memancing tawa penonton. Namun sayang, mereka hanya sebatas pelengkap semata tanpa eksplorasi yang lebih mendalam. Alhasil, konflik yang dihadirkan saat menuju babak akhir jadi kurang emosional dan jika dihilangkan pun tidak berdampak signifikan pada main plot keluarga Tawa. Saat memasuki babak akhir, film SUKA DUKA TAWA (2026) ditutup dengan klimaks yang menurutku agak sedikit dipaksakan untuk happy ending. Rekonsiliasi anggota keluarga Tawa sebetulnya bagus-bagus aja kok, cuma alasan Pak Keset, Ibu Cantik dan Tawa sendiri untuk berdamai masih kurang dramatis dan mendalam. Ketiganya hanya terjebak dalam komunikasi yang buruk serta persoalan ego personal masing-masing semata.
Terlepas dari sedikit kekurangan tersebut, film SUKA DUKA TAWA (2026) memiliki ensemble casts yang tampil memuaskan. Rachel Amanda berhasil menghidupkan karakter Tawa dengan gaya komedinya yang sedikit cringe namun punya range emosional jempolan saat beradu akting dengan lawan mainnya. Penampilan Teuku Rifnu Wikana menjadi yang paling bersinar di film ini. Dirinya berhasil meyakinkan penonton dengan menjelema sebagai seorang komedian senior dengan range emosional top notch dalam waktu singkat. Setiap adegan Pak Keset dengan Tawa sukses membuat haru dan tangis penonton ikutan pecah. Aku yakin banget, satu slot nominasi pemeran pendukung pria terbaik ajang penghargaan film akan diisi dengan nama Teuku Rifnu Wikana di tahun ini. Chemistry yang dibangun dengan Marissa Anita pun tampil sangat solid. Keduanya berhasil menghidupkan pasangan suami istri dengan permasalahan dan buruknya komunikasi dengan sangat baik. Jajaran pemain pendukung lainnya seperti Arif Brata, Enzy Storia, Bintang Emon, Gilang Bhaskara hingga Gita Bhebita sesekali berhasil memancing tawa penonton dengan dialog serta jokes-jokes sederhana yang mereka lakukan.
Overall, film SUKA DUKA TAWA (2026) cukup berhasil menyajikan drama perpaduan antara keluarga, stand-up comedy serta persahabatan yang tak cuma menghibur namun bisa menyentuh perasaan penonton barisan yatim pasif secara memukau. Kita tunggu film-film layar lebar selanjutnya dari Aco Tenri!


[8/10Bintang]

Sunday, 11 January 2026

[Review] Penunggu Rumah Buto Ijo: Dongeng Klasik Timun Mas Yang Dieksplor Menjadi Horror!




#Description:
Title: Penunggu Rumah Buto Ijo (2026)
Casts: Gandhi Fernando, Celine Evangelista, Valerie Thomas, Meryem Hasanah, Adnan Putri Djani, Pratito Wibowo, Arie Dwi Andika
Director: Achmad Romie
Studio: Creator Media, Maxstream Studios, Seru Juga Film Studio


#Synopsis:
Srini (Celine Evangelista) dan anaknya, Tisya (Meryem Hasanah) sering diganggu oleh entitas gaib yang ada di rumah mereka. Sosok gaib tersebut berpostur tinggi, besar, berwarna hijau gelap dan Srini menyebutnya Buto Ijo. Berbagai cara ia lakukan untuk mengusir Buto Ijo dari rumahnya. Namun sayang, setiap paranormal dan cenayang dan datang ke rumah, mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan Buto Ijo itu di rumahnya Srini. Mereka menganggap jika Srini dan Tisya hanya sekedar berhalusinasi saja.
Karena frustasi dan ingin membuktikan jika rumahnya berhantu, Srini kemudian meminta bantuan pada Ali Zayn (Gandhi Fernando), seorang konten kreator misteri sekaligus mantan pacar semasa sekolahnya. Srini memberikan tugas pada Ali untuk merekam semua aktifitas gaib yang terjadi di rumahnya. Ia ingin membuktikan jika rumahnya memang berhantu dan membantah semua tuduhan orang yang menganggap dirinya berhalusinasi. Srini juga siap membayar Ali secara profesional jika menyelesaikan pekerjaannya.
Karena kondisi keuangan yang pas-pasan dan harus segera membeli obat untuk ibunya yang sedang sakit, Ali pun menerima tawaran tersebut. Sebelum pergi ke rumahnya Srini, Ali meminjam beberapa kamera dan peralatan syuting milik teman dari adiknya yaitu Lana (Valerie Thomas). Setelah semuanya sudah lengkap, Ali pergi menuju rumahnya Srini. Tiba di sana, Srini langsung mengajak Ali berkeliling rumah dan melihat setiap ruangan yang menurutnya sering terjadi kejadian mistis. Ali kemudian memasang beberapa kamera di setiap ruangan dan sudut rumah dengan harapan bisa merekam hal-hal gaib sesuai keinginan Srini. Setelah semuanya selesai, Srini dan Tisya harus pergi dari rumah untuk menjenguk dan mengahabiskan akhir pekan di rumah ibunya. Setelah Srini dan Tisya pergi dari rumah, Ali bersantai sambil berkeliling ke setiap kamar dan ruangan di rumahnya Srini.
Waktu terus berlalu dan mulai masuk malam hari. Karena terasa tidak ada apa-apa, Ali semakin santai dan menikmati fasilitas rumahnya Srini seperti memasak di dapur, menonton televisi, meminum alkohol hingga menyempatkan diri untuk berendam juga. Selain itu, Ali juga menyempatkan waktu menelepon Lana untuk mengetahui kondisi terkini ibunya yang sudah diberi obat. Saat memasuki diatas jam 10 malam, Ali mulai merasakan ada hal ganjil. Kamera dan laptop yang ia simpan di ruang tengah tiba-tiba bergerak sendiri. Selain itu, Ali juga sering mendengar suara-suara aneh dari lantai atas. Keadaan semakin mencekam saat jam menunjukkan tengah malam. Sosok misterius serba hitam sering terlihat berjalan-jalan di dalam rumah. Tak hanya itu saja, Ali juga melihat secara langsung bayangan besar berwarna hitam dengan suara menggelegar muncul sambil mengacaukan seisi dapur. Untuk menghentikan gangguan gaib tersebut, Ali memanggil temannya yang seorang dukun yaitu Indra (Adnan Putra) ke rumah Srinil. Setelah sepakat untuk biaya imbalan, Indra melakukan ritual untuk berkomunikasi dengan para penunggu rumah nya Srini. Namun sayang, apa yang dilakukan Indra tersebut malah menimbulkan petaka.
Meskipun ketakutan setelah apa yang terjadi pada Indra, Ali berusaha merekam semua kejadian gaib di rumahnya Srinil dengan kamera dan juga ponselnya. Saat memasuki jam tiga pagi, sosok gaib Buto Ijo dan sosok misterius berpakaian serba hitam akhirnya menampakkan diri pada Ali. Saat Ali berusaha mencari jalan keluar dari rumah, ia harus berhadapan dengan Buto Ijo dan akhirnya terungkap apa yang sebenarnya terjadi di rumah Srini.


#Review:
Rumah produksi Creator Media Pictures kembali hadir dengan project film horror terbarunya yang berjudul PENUNGGU RUMAH: BUTO IJO (2026). Aktor multitalenta Gandhi Fernando come back sebagai aktor sekaligus produser dan juga penulis untuk film ini. Aku berkesempatan hadir pada Gala Premiere film BUTO IJO (2026) yang sukses digelar meriah pada Kamis, 8 Januari kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada kesempatan tersebut Gandhi Fernando dan sang sutradara yaitu Achmad Romie mengungkapkan, film BUTO IJO (2026) ini merupakan adaptasi dan rekonstruksi modern dari cerita klasik Timun Mas dan Buto Ijo. Lebih lanjut, alasan Gandhi Fernando tertarik untuk mengangkat folklore ini ke layar lebar dengan treatment horror karena ia ingin membuat cerita dari karakter horror yang jarang dilirik oleh para sineas perfilman Indonesia. Sebelumnya, Gandhi juga sudah menghadirkan dua karakter horror ikonik yaitu TUYUL (2015) dan LAMPIR (2024) yang bisa dibilang tidak sepopuler karakter horror Pocong, Kuntilanak dan Genderuwo di perfilman Indonesia.


Untuk segi cerita, film BUTO IJO (2026) ini melakukan pembaharuan menjadi lebih modern dan juga horror. Keputusan rekonstruksi folklore lokal ini langsung mengingatkan penonton akan film LEGENDA KELAM MALIN KUNDANG (2025) yang diproduksi oleh Come And See Pictures tentunya. Plot yang dihadirkan film ini bergerak secara linear dengan menerapkan banyak sekali adegan dan referensi dari film-film horror. Sebut saja yang paling mencolok yaitu WOMAN IN BLACK (2012), LA LLORONA (2019), film berkonsep found footage seperti GONJIAM (2018) hingga konsep screenlife seperti SEARCHING (2018) bisa kita temukan di film ini. Hal tersebut membuktikan jika Gandhi Fernando memang penikmat dan penonton setia film-film horror di bioskop. Eksekusinya pun tidak begitu jelek kok. Visual Buto Ijo, Pengantin Hitam, treatment found footage dan screenlife nya tampil believable, bagus dan smooth. Jika dibandingkan dengan film-film produksi Gandhi Fernando sebelumnya, film BUTO IJO (2026) sudah jelas punya visual dan sinematografi paling baik. Namun sayang, dengan banyaknya referensi horror yang diterapkan tak membuat plot dan dialog film BUTO IJO (2026) jadi ikutan bagus. Tak sedikit dialog-dialog antara karakter Ali dan Srini terlihat monoton dan juga cringe. Ekspresi ketakutan mereka dan Tisya juga kadang too much, kadang juga kaku. Sekilas, experience nonton film ini seperti menonton film-film horror Indonesia di tahun 2010-2017 an. Tak sedikit juga adegan-adegan "chill" yang dilakukan karakter Ali di film ini pasti akan menjadi bahan perbincangan dan mungkin saja roasting. Hahaha.



Terlepas dari kekurangan tersebut, film BUTO IJO (2026) rupanya menyimpan plot twist yang tersimpan dengan sangat rapi dan unpredictable. Adegan reveal plot twist tersebut juga eksekusinya cakep dan sekilas mengingatkanku akan salah satu adegan memorable Peter Parker di film Spider-Man nya MCU namun dengan treatment horror yang lebih simple. Overall, film PENUNGGU RUMAH: BUTO IJO (2026) cukup oke melakukan rekonstruksi folklore klasik dengan sentuhan horror yang durasinya tidak terlalu melar.


[7/10Bintang]