Showing posts with label Omnibus. Show all posts
Showing posts with label Omnibus. Show all posts

Saturday, 9 October 2021

[Review] V/H/S 94: Rekaman-Rekaman Mengerikan Kembali Hadir Meneror Penonton!



#Description:
Title: V/H/S 94 (2021)
Casts: Anna Hopkins, Christian Potenza, Brian Paul, Tim Campbell, Thiago Dos Santos, Kyal Legend, Devin Chen-Cheong, Daniel Matmor, Adam Kenneth Wilson, David Reale, Budi Ross, Shahabi Sakri, Daniel Ekaputra, Donny Alamsyah, Bio One, Vincent Martin, Sekar Dewantari, Christian Lloyd, Cameron Kneteman, Steven McCarthy, Dru Viergever, Kimmy Choi, Nicolette Pearse, Kevin Gabel
Director: Jennifer Reeder, Chloe Okuno, Simon Barrett, Timo Tjahjanto, Ryan Prows
Studio: Radio Silence Productions, Bloody Disgusting Films, Shudder


#Synopsis:
Tim S.W.A.T. menyerbu sebuah tempat persembunyian anggota sekte sesat yang sudah meresahkan warga. Disana mereka menemukan banyak mayat penuh dengan darah dan potongan-potongan tubuh manusia. Selain itu, terdapat juga beberapa kaset video yang berisi rekaman-rekaman tentang kejadian pembunuhan, mistis dan aksi gila lainnya.


Kaset pertama berjudul "Storm Drain" berisi rekaman seorang reporter bernama Holly Marciano (Anna Hopkins) yang sedang meliput sebuah urban legend bernama Ratman. Sosok Ratman sendiri sudah meresahkan beberapa orang dan sering muncul di saluran pembuangan sungai. Dengan dibantu sang cameraman, keduanya memasuki saluran pembuangan yang terletak dibawah tanah. Disana mereka menemukan sebuah fakta yang sangat menyeramkan.


Kaset kedua berjudul "The Empty Wake" yang menampilkan video kamera pengawas seorang petugas penjaga acara pemakaman yaitu Hayley (Kyal Legend). Ia ditugaskan untuk menjaga peti jenazah seorang pria yang tewas secara mengenaskan. Jenazah tersebut akan segera dikebumikan keesokan harinya. Selama menjalankan tugasnya, Hayley merasakan ada yang tak beres. Ia melihat peti jenazah tersebut sering bergerak sendiri. Selain itu, tak ada satupun keluarga atau kerabat yang melayatnya. Disaat hari semakin larut, cuaca buruk dan listrik padam, Hayley mendapat terror mengerikan dari dalam peti jenazah tersebut.


Kaset ketiga berjudul "The Subject" berisi rekaman video seorang profesor gila (Budi Ross) yang sedang melakukan eksperimen manusia robot. Tak tanggung-tanggung, ia menculik beberapa orang dan menjadikan tubuhnya digabungkan dengan beberapa bagian mesin. Dua manusia robot bahkan berhasil ia ciptakan dan sedang tahap akhir untuk bisa hidup. Namun sayang, aksi sadisnya itu akhirnya terbongkar oleh pihak kepolisian yang dipimpin oleh Kapten Hasan (Donny Alamsyah). Profesor gila itu langsung tewas ditempat. Setelah berhasil melumpuhkan profesor tersebut, Kapten Hasan beserta anak buahnya harus berhadapan dengan dua manusia robot yang sudah diprogram untuk menghabisi seluruh musuh.


Kaset keempat berjudul "Terror" menampilkan video rekaman sebuah kelompok militer ilegal di Amerika Serikat yang melakukan aksi penembakan terhadap warga asing dengan cara sadis dan brutal. Kelompok ini mempunyai tujuan ingin mengembalikan kejayaan Amerika Serikat tanpa adanya orang asing didalamnya.


#Review:
Akhirnya aku memberanikan diri untuk menonton salah satu film terbaru dari franchise V/H/S yang berjudul V/H/S 94 (2021). Dari film pertamanya yang dirilis pada tahun 2012 lalu, aku sangat menghindarinya karena franchise film ini berisi video-video horror dengan memadukan unsur eksplisit, sadis dan penuh dengan darah. Namun pada film keempatnya ini melibatkan sutradara Timo Tjahjanto pada salah satu bagian filmnya. Aku sepakat untuk menontonnya.


Untuk segi cerita, V/H/S 94 (2021) ini menghadirkan cerita anthology yang berkaitan satu sama lain lewat main story Holly Hell yang digarap oleh Jennifer Reeder. Dari kelima cerita dan video yang ditampilkan, tiga kaset awal menjadi kaset yang paling aku suka. Kaset pertama tentang reporter eksekusinya berhasil membuatku ketakutan. Konsep found footage di bawah saluran pembuangan kemudian dikemas dengan unsur urban legend dan ada sedikit sentilan kritik sosial didalamnya menjadi ide yang sangat menarik. Untuk kaset kedua, konsepnya masih serupa namun kali ini hadir lewat sebuah acara pemakaman. Meskipun temponya cukup lambat, namun intens ketegangannya sangat terjaga dengan baik. Klimaks horror yang dihadirkan pada ujung video sangatlah mengerikan. Untuk kaset ketiga yang digarap oleh Timo Tjahjanto menjadi kaset yang paling gila dari seluruh kaset yang ada. Konsep cerita tentang eksperimen gila manusia robot sungguh membuatku geleng kepala. Pusing banget melihat orang-orang yang "disiksa" habis-habisan oleh Timo dalam segment ini. Intens ketegangan pun terus terjaga dan semakin meningkat sampai akhir video. Yang semakin menarik lagi adalah point of view dari kaset Timo ini terus berubah-ubah sehingga sensasi brutalnya semakin membuatku takjub. Efek yang dihadirkan pun paling liar dan proper dibandingkan keempat kaset video lainnya. Andai saja kaset milik Timo Tjahjanto ini disimpan di akhir film mungkin akan lebih memuaskan karena kaset garapan Ryan Prows dan ending kaset dari Jennifer Reeder terasa jomplang sekali dibandingkan ketiga kaset sebelumnya.



[7.5/10Bintang]

Wednesday, 30 December 2020

[Review] Quarantine Tales: 5 Cerita Seru Ditengah Pandemi & Karantina



#Description:
Title: Quarantine Tales (2020)
Casts: Adinia Wirasti, Marissa Anita, Faradina Mufti, Roy Sungkono, Windy Apsari, Verdi Solaiman, Brigitta Cynthia, Kiki Narendra, Teuku Rifnu Wikana, Arawinda Kirana, Muzakki Ramdhan, Abdurrahman Arif, Kukuh Prasetya
Director: Dian Sastrowardoyo, Jason Iskandar, Ifa Isfansyah, Tata Sidharta, Aco Tenriyagelli
Studio: Base Entertainment, Bioskop Online


#Synopsis:

Nougat: 
Berkisah tentang tiga kakak beradik yang sudah terpisah jarak sejak kematian kedua orang tua mereka. Ubai (Marissa Anita) sebagai kakak tertua kini sudah berumah tangga dengan Adji (Teuku Rifnu Wikana). Deno (Faradina Mufti) sebagai anak bungsu yang sedang disibukkan dengan pendidikannya dan berencana akan tinggal di apartemen bersama kekasihnya. Dan yang terakhir yaitu Ajeng (Adinia Wirasti), anak kedua dari tiga bersaudara yang masih bertahan tinggal di rumah masa kecil mereka.


Prankster:
Vlogger Didit (Roy Sungkono) terkenal dengan konten-konten pranknya di sosial media. Salah satu korban prank dari Didit yaitu seorang Food Vlogger yaitu Aurel (Windy Apsari). Di episode terbarunya Didit berencana kembali memberi prank pada Aurel dengan nuansa horror. Didit mengirimkan boneka pocong dan disimpan di pojokan rumah Aurel agar bisa mendapatkan ekspresi ketakutan yang alami dari Aurel. Prank tersebut rupanya berhasil membuat Aurel terkejut dan menangis. Setelah selesai, kini giliran Aurel yang memberikan kejutan "manis" pada Didit dengan mengirimkan aneka cemilan kue kering.


Cook Book:
Pandemi CoVid-19 yang sudah lama melanda dan tak kunjung usai membuat Chef Halim (Verdi Solaiman) akhirnya berhasil menyelesaikan penulisan buku memasak yang selama ini tertunda. Ia lalu membagikan keberhasilan itu kepada temannya Pak Naryo (Kiki Narendra). Setelah itu, Chef Halim mendapat sebuah video-call dari orang tak dikenal. Ketika diangkat, ternyata seorang perempuan yang berbahasa mandarin. Chef Halim bingung dan tak mengerti dengan ucapan perempuan tersebut. Seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya tersadar jika Chef Halim dan perempuan itu adalah dua manusia terakhir yang masih bertahan hidup di muka bumi.


Happy Girl Don't Cry:
Sebuah keluarga miskin tiba-tiba mendapatkan hadiah giveaway berupa seperangkat iMac keluaran terbaru. Sang ayah (Teuku Rifnu Wikana) dan ibu (Marissa Anita) yang mempunyai banyak tunggakan berniat untuk menjual hadiah tersebut demi menyambung hidup dan ekonomi keluarga. Namun sang anak yaitu Adin (Arawinda Kirana) tak setuju dengan pilihan ayah dan ibunya. Pasalnya, hadiah giveaway tersebut merupakan hadiah pertama kalinya yang ia rasakan setelah bertahun-tahun menghabiskan banyak kuota internet bersama almarhum sang adik (Muzakki Ramdhan) menonton channel-channel YouTube yang mengadakan giveaway.


The Protocol:
Usai berhasil merampok uang ratusan juta rupiah, Icuk (Kukuh Prasetya) tiba-tiba batuk, nafas sesak dan tak sadarkan diri. Hal itu membuat rekannya, Arif (Abdurrahman Arif) panik dan menduga jika Icuk tewas karena positif CoVid-19. Arif lalu mencari cara agar Icuk bisa disingkirkan secepat mungkin. Namun disaat Arif mencoba untuk mengubur jenazah Icuk, ia selalu dihantui bayang-bayang Icuk yang meminta jatah hasil rampokan.


#Review:
Base Entertainment kembali menghadirkan sebuah film terbarunya yang kali ini langsung dirilis secara eksklusif di platform streaming milik Visinema yaitu Bioskop Online. Film barunya ini mengusung konsep Omnibus dimana 1 film mempunyai 5 cerita berbeda tentang masa-masa karantina dan suasana Pandemi CoVid-19. Hal ini tentu menjadi sebuah daya tarik tersendiri, pasalnya industri film Indonesia tidak terlalu tertarik menggarap film berkonsep Omnibus. Untuk menggarap Omnibus QUARANTINE TALES (2020) ini, Base Entertainment mengajak 5 sutradara muda yang salah satu diantaranya yaitu aktris Dian Sastrowardoyo.


Lima cerita yang dihadirkan oleh Omnibus QUARANTINE TALES (2020) memang terasa sangat begitu dekat dan related dengan keadaan saat ini. Meskipun per cerita hanya berdurasi 20-35 menitan saja, tapi dieksekusi dengan sangat matang dan kuat. Konflik demi konflik yang hadir disetiap cerita mempunyai drama serta efek "ngeri" dan klaustrofobia yang konsisten. Visual yang dihadirkan oleh masing-masing cerita pun tampil begitu memanjakan mata. My personal favourite goes to: NOUGAT by Dian Sastrowardoyo. Hubungan three sisters nya begitu apik meskipun hanya bertatap melalui video call saja. Kontribusi akting Adinia Wirasti, Marissa Anita dan Faradina Mufti memuaskan. Untuk segmen PRANKSTER berhasil mengobati rasa rindu akan film-film yang mengandalkan User Interface Vlogger. Aku berharap PRANKSTER bisa dijadikan materi asyik untuk dikembangkan ke layar lebar. Segmen yang tak kalah menarik dan sangat menyentil isu sosial saat ini yaitu HAPPY GIRL DON'T CRY. Segmen ini terasa sangat related bagi kita-kita yang pernah mendapatkan hadiah giveaway hahaha. Penampilan bintang baru Arawinda Kirana sungguh mencuri perhatian.
Overall, film QUARANTINE TALES (2020) merupakan salah satu film Indonesia terbaik yang dirilis pada tahun 2020 ini. Sangat berharap jika Pandemi sudah usai, salah satu segmen dalam Omnibus ini bisa diangkat ke layar lebar karena 5 cerita film QUARANTINE TALES (2020) sama-sama kuat.


[8.5/10Bintang]

Thursday, 14 April 2016

[Review] Gila Jiwa: 5 Genre Dalam 1 Film Adalah Ide Gila!



#Description:
Title: Gila Jiwa (2016)
Casts: Hery Purnomo, Joshua Suherman, Jovial Da Lopez, Shaddira Marini, Ade Irawan, Aimee Saras, Julia Perez, Atrie Irawan, Augie Herman, Bagas Aldy, Tio Pakusadewo, Ria Irawan, Tya Arifin, Andre Hehanusa, Fauzi Baadila, Ayushita Nugraha
Director: Ria Irawan, Julia Perez, Aming Sugandhi, Ade Paloh, Afgansyah Reza
Studio: FireBird Films


#Trailer:

Official Trailer Gila Jiwa (2016)


#Synopsis:
Empat anak muda yaitu Omo (Hery Purnomo), Alex (Jovial Da Lopez), Ruben (Joshua Suherman) dan Dhea (Shaddira Marini) tengah berdiskusi tentang kondisi terkini industri perfilman Indonesia disebuah kafe disiang hari. Keempat pemuda itu berambisi ingin membuat sebuah gebrakan lewat ide Film Indonesia yang anti-mainstream. Mereka sudah bosan dengan kondisi perfilman Indonesia saat ini dimana selalu ber-happy ending, ide cerita yang kurang original, selalu berselipkan drama cinta agar mudah diterima penonton, hingga kesulitan mendapatkan jumlah penonton.
Selama berkumpul di kafe tersebut dan melihat orang-orang disekitar, mereka melihat pengunjung kafe lain sedang membaca tabloid selebritis. Seketika itu juga mereka langsung membuat cerita genre action tentang Superdiva (Julia Perez) seorang aktris papan atas yang tengah dikejar-kejar oleh pembunuh bayaran.
Brainstorming selanjutnya mereka membuat cerita genre komedi satir tentang seorang anak sekolah bernama Endang (Hery Purnomo) yang dipaksa menjadi wanita oleh ibunya (Tio Pakusadewo) yang merupakan laki-laki berwujud wanita.  Karena paksaan, Endang mengikuti semua kemauan emaknya. Hingga semuanya terbongkar ketika Endang berkata jujur pada gurunya (Fauzi Baadila, Ayushita).
Setelah menulis dua draft genre, tiba-tiba Ruben menemukan sebuah buku aneh di kafe mereka nongkrong. Mereka kembali membuat sebuah cerita genre horror tentang mitos masuk ke alam gaib dengan ritual bermain engklek. Seorang turis asal Malaysia penasaran dengan segala mitos dan takhayul yang ada di Indonesia, ia kemudian berlibur ke Indonesia dirumah Dewi (Dea Annisa). Dirumah Dewi lah, sang turis itu melakukan ritual engklek. Hingga sesuatu yang menyeramkan mengancam keduanya.
Terakhir, Omo dan kawan kawan membuat cerita genre musikal tentang fenomena bully yang sering terjadi dimana-mana. Namun dibalik semua cerita yang telah mereka buat, tersimpan sebuah benang merah yang terikat satu sama lain diantara genre film itu. Hingga sebuah rahasia pun terbongkar.


#Review:
Akhirnya, film yang sudah dipromosikan pada zaman 2012-2013 lalu lewat akun sosmed kelima sutradara ini rilis juga di bioskop mulai 7 April 2016 lalu. Entah apa alasan mengapa film ini rilis 3-4tahun kemudian. Yang jelas satu alasan kenapa gue niat banget pengen nonton film ini adalah karena penasaran dengan kelima sutradaranya yang baru pertama kali menyutradarai sebuah film. Mereka adalah Afgan, Julia Perez, Aming, Ade Paloh dan Ria Irawan. Kelimanya sudah terkenal terlebih dahulu lewat karya baik itu musik dan akting. Namun dengan keberanian dan mencoba, mereka berlima membuat film GILA JIWA ini. Lalu bagaimanakah hasilnya?
Harus diakui, Film GILA JIWA ini adalah film multi-genre. Semua genre film semuanya ada disini. Namun seperti pada film omnibus lainnya, pasti akan ada 1-2 dua segment yang paling menonjol bagus banget dan kurang. Hal itu pun terjadi di Film GILA JIWA.
Part action yang disutradarai oleh Julia Perez lumayan tampil cukup baik. Adegan action yang langsung diperankan oleh JuPe sendiri cukup menegangkan. Kapanlagi melihat seorang JuPe lari-lari di gang sempit dan berantem dengan preman.
Part komedi satir yang disutradarai oleh Aming ini adalah yang terbaik di Film GILA JIWA. Aming berhasil menghadirkan isu yang lagi hits saat ini yaitu LGBT dengan cara yang segar dan mengundang tawa terbahak-bahak. Bahkan seorang Aming berhasil menyulap Aktor Terbaik Usmar Ismail Awards 2016 menjadi berhijab!
Dua Part selanjutnya yaitu horror dan musikal yang disutradarai oleh Ade Paloh dan Afgansyah Reza. Menurut gue ini adalah part terlemah dan membuat mood turun drastis usai dipukau oleh part komedi satir-nya Aming. Premis horror tentang mitos engklek sebagai portal masuk ke alam gaib dieksekusi terlalu membingungkan dan diberi jatah durasi yang paling lama. Padahal jika dikemas dengan santai, part horror ini cukup menjanjikan karena mengangkat mitos mitos klasik yang ada di Indonesia. Terakhir adalah part musikal yang disutradarai oleh Penyanyi Afgansyah Reza. Menurut gue ini yang paling lemah. Sepanjang durasi full dengan musikal yang membingungkan. Terlalu anti-mainstream hingga gue kurang menikmati part musikal ini. Part musikal sedikit terselamatkan juga oleh plot-twist yang disimpan diakhir film.
Jajaran pemain tampil memberikan performa baiknya. Hery Purnomo yang menurut Ria Irawan ketika diwawancarai pada Gala Premiere Film Gila Jiwa (5/4) lalu di Epicentrum XXI adalah calon aktor yang kualitas aktingnya sejajar dengan Chicco Jerikho atau Reza Rahadian ini memang tampil total ketika multi-peran. Paling favorit ketika Omo menjadi Endang! Haha
Overall, Gila Jiwa The Movie is a little success to be anti-mainstream movie. But the musical and horror segment is not good for me. Sorry!


[6/10Bintang]