Sunday, 21 June 2026

[Review] Blue Film: Eksplorasi Rahasia Kelam & Trauma Masa Lalu Dari Dua Orang Pria!

 


#Description:
Title: Blue Film (2026)
Casts: Kieron Moore, Reed Birney
Director: Elliot Tuttle
Studio: Fusion Entertainment, Obscured Releasing


#Synopsis:
Aaron Eagle (Kieron Moore) adalah seorang live streamer seksi asal Los Angeles yang memiliki banyak penggemar dari kalangan Gay. Setiap Aaron mengadakan sesi live dengan menampilkan aksi nakal dan sensualnya, ia berhasil mengumpulkan uang puluhan hingga ratusan dollar dari orang-orang yang menontonnya secara online. Suatu hari, sebuah akun anonim menawarkan uang sebanyak $50.000 pada Aaron untuk menemaninya selama satu malam di sebuah villa yang sudah ditentukan. Tawaran yang sangat menggiurkan tersebut tentunya langsung Aaron terima.



Setibanya di lokasi yang sudah ditentukan, Aaron bertemu dengan pemilik akun anonim tersebut dengan mengenakan penutup kepala. Aaron kemudian melepaskan pakaiannya dan yang tersisa hanya celana dalam saja. Pria anonim itu kemudian menyalakan kamera untuk merekam. Awalnya Aaron mengira jika ia akan melakukan hubungan seksual, tapi ternyata pria anonim tersebut merekam hanya untuk sesi mengobrol saja. Seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pria anonim semakin sensitif dan personal.



Meskipun awalnya terlihat tidak nyaman, perlahan tapi pasti Aaron mulai terbuka menceritakan hal-hal personalnya pada pria anonim tersebut. Salah satunya, Aaron menceritakan awal mula ia terjun menjadi seorang live streamer seksi gara-gara mendapat imbalan cukup besar setelah sepasang Gay yang menginginkannya untuk memenuhi fantasi seksual mereka. Ketika pria anonim tersebut mulai mengetahui identitas asli dan masa lalu Aaron yang memiliki nama asli Alex McConnell (Kieron Moore), pertengkaran pun tak terhindarkan. Saat Aaron melepas topeng dari pria anonim tersebut, rupanya pria tua itu adalah Hank Grant (Reed Birney), guru Bahasa Inggris semasa SMP nya di Bedford.


Aaron tak menyangka jika ia bertemu lagi dengan gurunya di Los Angeles dengan kondisinya ia hampir telanjang bulat. Ia kemudian menanyakan soal kasus Hank yang dahulu ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pemerkosaan siswa laki-laki yaitu James Scott. Hank kemudian menjelaskan jika memang dirinya berniat untuk melecehkan James di toilet sekolah namun ia langsung berubah pikiran dan melepaskan James ketika menemuinya di toilet. Meskipun tidak terjadi pelecehan, Hank tetap dijebloskan ke penjara karena dituntut oleh orang tua James dan pihak sekolah. Hank menjalani hukuman penjara selama tujuh tahun akibat perbuatannya itu. Setelah bebas dari penjara, Hank tetap melanjutkan hidup di Bedford dengan bekerja di supermarket serta memperdalam agama.



Waktu terus berjalan menuju tengah malam. Hank kemudian mengungkapkan jika dirinya jatuh cinta pada Aaron sejak pertama kali melihatnya di sekolah. Ia masih ingat dengan jelas sosok Alex sebagai murid yang sering terlihat menyendiri, tidak mempunyai teman dan pernah dihukum oleh guru lain karena telat datang ke sekolah hingga berkelahi dengan teman sekelasnya. Hank terpaksa memendam rasa cintanya itu pada Alex karena ia sadar jika hal tersebut merupakan penyimpangan. Setelah tumbuh dewasa dan kini mengetahui Alex sudah bertransformasi menjadi Aaron Eagle, Hank pun mengikuti semua sosial media dan aktivitas Aaron secara online. Aaron kemudian mengajak Hank pindah ke kamar dan mempersilahkannya untuk melakukan aktivitas seksual bersama. Setelah itu, Hank kemudian mencukur habis semua rambut dan bulu yang ada di tubuh Aaron untuk memenuhi fantasi seksualnya dengan membayangkan Alex masih siswa sekolah. Saat mereka melanjutkan kembali aktivitas seksual, Aaron semakin merasa tidak nyaman dan memaksa Hank untuk berhenti.


Hank kemudian menjelaskan perilaku seksual menyimpang pedofilia nya ini berasal dari trauma masa lalu yang menjadi korban pelecehan seksual oleh kakek kandungnya sendiri. Lebih naasnya lagi, aksi bejat tersebut justru disetujui oleh ibu kandungnya dengan alasan sudah menjadi tradisi turun temurun dalam keluarga mereka. Setelah itu, Hank bertanya tentang tattoo "Diablo" yang ada di dada Aaron. Sambil menahan tangis, Aaron kemudian menjelaskan jika tattoo tersebut dibuat ketika masih berpacaran dengan mantannya yaitu Rafael yang sudah lama berpisah. Keduanya lalu mencoba kembali melakukan hubungan seksual sebelum matahari terbit. Bagaimana cerita selanjutnya dari Aaron dan Hank?


#Review:
Setelah ditolak untuk tayang dan berkompetisi di dua festival film bergengsi skala global, karya terbaru dari sutradara Elliot Tuttle yang berani dan provokatif berjudul BLUE FILM (2026), akhirnya tayang perdana di Edinburgh International Film Festival tahun lalu dan kemudian tayang di bioskop Amerika Serikat mulai awal bulan Mei kemarin.


Untuk segi cerita, BLUE FILM (2026) memiliki premis yang awalnya terasa seperti sebuah transaksi seksual biasa antara seorang camboy populer asal Los Angeles dengan followers nya. Namun siapa sangka, plot kemudian cepat bergeser menjadi sebuah interogasi psikologis yang intens, tajam, provokatif hingga permainan kekuasaan yang manipulatif. Elliot Tuttle terbilang sangat berani menyajikan plot yang meraba hal-hal tabu seperti pederasti, trauma masa kecil yang mengalami pelecehan seksual dari orang terdekat, hingga hakikat dari penyimpangan seksual dari kedua karakter dalam film ini. Tektokan dialog dan intergorasi karakter Hank dengan Aaron di villa jadi tempat untuk saling confess, pengakuan dosa satu sama lain yang dimana batasan antara korban dan pelaku, serta realitas dan fantasi seksual keduanya jadi sangat kabur. Hubungan disfungsional antara mereka berdua disajikan secara vulgar dan tanpa sensor moral yang judging. Penonton secara tidak langsung mempelajari bagaimana trauma di masa lalu itu akan terus mendikte masa depan seseorang. Aku sih yakin, untuk sebagian penonton yang menonton BLUE FILM (2026) pasti akan merasa tidak nyaman karena karena mengulik sisi psikologis dari karakter yang seorang pedofilia. Setiap alasan dan masa lalu yang dialami oleh karakter Hank memang tidak bisa menjadi alasan bagi penonton untuk simpati terhadapnya. Begitu juga dengan karakter Aaron yang jadinya terbawa suasana karena termanipulasi oleh Hank meskipun kini keduanya sudah sama-sama dewasa. Untungnya, keputusan akhir cerita BLUE FILM (2026) ini dibuat sangat realistis sesuai tujuan awal Aaron yang semata-mata hanya mengejar uang, bukan jadi baper dan happy ending bersama Hank.
Untuk jajaran pemain, penampilan berani antara Kieron Moore dan lawan mainnya yang sudah senior memang luar biasa meyakinkan. Moore berhasil menampilkan dualitas karakter dengan sangat baik. Di satu sisi ia adalah seorang dominan profesional yang dingin dan memegang kendali. Namun di sisi lain, ia adalah Alex McConnell, seorang pemuda rapuh yang menyimpan rahasia dan trauma masa lalu. Kompleksitas hidupnya sebagai pekerja seks online terlihat cukup dramatis dari sisi karakter Aaron Eagle. Penampilan Reed Birney bisa digambarkan sebagai sebuah pencapaian akting yang tak kalah intens, namun cukup mengganggu tapi di satu sisi memilukan. Beliau berhasil menghidupkan karakter Hank Grant yang sangat sulit untuk dimaafkan atau disukai oleh penonton. Ia tidak terjebak untuk memainkan Hank sebagai sosok monster atau penjahat pedofil satu dimensi. Birney justru membawakan Hank dengan pembawaan yang tenang, rapuh, dan tampak sopan. Ia berhasil membedah psikologi seorang pelaku kekerasan seksual yang juga merupakan produk dari trauma masa lalu, tanpa pernah terkesan membenarkan tindakannya.
Overall, BLUE FILM (2026) berhasil membuktikan diri sebagai sebuah film bertema drama psikologis yang triggering karena mampu mengupas lapisan trauma dan moralitas manusia secara begitu intim dan tanpa kompromi. Sebuah tontonan yang dirancang tidak memberikan kenyamanan, melainkan sebuah refleksi mendalam yang akan terus membekas di benak penonton tentang kesepian, rantai trauma yang tak terputus dan pencarian penebusan dosa tragis di balik transaksi seksual secara online.


[8/10Bintang]

Saturday, 20 June 2026

[Review] Cerita Lila: Cerita Kelam Di Balik Rumah Kosong Antara Ibu & Anak Kembarnya!

 


#Description:
Title: Cerita Lila (2026)
Casts: Lutesha, Myesha Lin, Shareefa Daanish, Firzanah Alya, Sara Wijayanto, Wisnu Hardana, Wafda Saifan, Whani Darmawan, Jovial Da Lopez, Aci Resti, Enrico Winaldy, Kiara Virly, Demian Aditya, Fadi Iskandar
Director: Bobby Prasetyo
Studio: MVP Pictures


#Synopsis:
Sara (Sara Wijayanto) dan Wisnu (Wisnu Hardana) tak sengaja melihat sebuah rumah tua kosong ketika dalam perjalanan menuju basecamp Diary Misteri Sara. Mobil pun menepi sejenak di depannya. Saat berada di depan pagar rumah, Sara merasakan adanya energi buruk yang membuatnya khawatir. Namun sayang, Sara dan Wisnu tidak bisa asal masuk ke dalam rumah karena di depan pagar terpasang iklan dijual oleh agen properti. Sarah kemudian meminta Wisnu menghubungi agen properti tersebut dan meminta izin agar bisa masuk ke dalam rumah. Namun karena tak mendapat jawaban, keduanya tidak jadi masuk ke rumah tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju basecamp.
Di sisi lain, Tari (Lutesha) sedang berjuang menghidupi anak kesayangannya, Nia (Myesha Lin) dengan bekerja sebagai agen properti rumah. Meskipun saat itu sedang demam, Tari tetap berangkat bekerja dan menitipkan Nia selama ia bekerja pada tetangga rusunnya yaitu Septi (Aci Resti). Setibanya di kantor, Tari mendapat teguran dari atasan karena performa sales propertinya buruk. Ia pun terancam dipecat jika tak kunjung mencapai target. Atasannya kemudian memberikan satu kesempatan pada Tari untuk menjual satu properti rumah tua yang sudah lama tidak laku meskipun harga yang ditawarkan tergolong sangat murah. Tari pun langsung mendatangi rumah tua yang harus segera ia jual secepatnya. Tiba di sana, Tari membereskan perabotan jadul yang masih ada di dalam rumah dan membersihkan semua ruangan supaya jika nanti ada calon pembeli yang berkunjung, bisa langsung tertarik dan membeli rumah tersebut. Selain tuntutan pekerjaan yang semakin berat, Tari juga harus menghadapi sidang perceraian dan rebutan hak asuh anak dengan mantan suaminya, Teguh (Jovial Da Lopez). Tari berusaha hidup mandiri bersama Nia dan tidak mau bergantung dari nafkah yang diberikan Teguh karena suaminya itu ketahuan selingkuh dengan wanita lain. 
Setelah bekerja seharian dan membereskan rumah yang akan ia jual, malam harinya, Tari kembali demam dan meriang. Melihat ibunya yang sedang sakit, Nia berinisiatif membuatkan teh hangat. Ketika sedang merebus air di dapur, Nia tak sengaja membakar kain lap dari kompor gas dan menyebar ke gorden dapur. Nia yang menangis kemudian terdengar oleh Tari dan langsung keluar dari rusun untuk meminta pertolongan. Beruntung para tetangga rusun berhasil memadamkan api. Gara-gara kejadian tersebut, Tari mendapat teguran keras dari pemilik rusun karena menyebabkan kebakaran dan membahayakan banyak orang. Tari dan Nia diminta untuk segera mengosongkan rusun yang mereka sewa dan tak lagi tinggal di sana.
Tari berusaha mencari kost atau kontrakan sementara untuk ditinggali setelah ia diusir dari rusun. Karena tak punya uang yang cukup untuk bayar DP, Tari terpaksa menempati rumah tua yang sedang ia pasarkan tanpa sepengetahuan pemilik dan juga kantornya. Tari berjanji pada Nia jika rumah tua tersebut berhasil terjual, komisinya akan langsung digunakan untuk menyewa kontrakan secepatnya. Tiba di rumah, Tari dan Nia kembali membersihkan kamar agar bisa digunakan untuk beristirahat. Setelah selesai beres-beres, Tari mengizinkan Nia untuk terpisah dengannya karena ada kamar satunya lagi yang merupakan kamar anak-anak. Di kamar tersebut Nia melihat ada dua kasur dan juga satu kursi roda.
Di tengah malam, Nia terbangun dari tidurnya dan mendengar suara anak perempuan yang memanggil nama Lili (Firzanah Alya). Selain itu, Tari juga tiba-tiba mengalami sleep walking dan merasakan seperti ada seseorang yang mengawasinya. Seiring berjalannya waktu, Nia berkenalan dengan arwah seorang anak perempuan bernama Lila (Firzanah Alya) yang meminta bantuan pada Nia untuk mencarikan saudara kembarnya, Lili di rumah. Nia yang menyadari jika Lila bukanlah manusia justru tidak takut karena ia yakin jika Lila adalah arwah yang baik.
Hari demi hari terus berlalu. Tari semakin mendapat banyak tekanan dan masalah. Rumah tak kunjung terjual, calon pembeli rumah batal membeli rumah karena mengalami kejadian mistis saat berkunjung ke sana, jadwal persidangan hak asuh anak semakin dekat, mantan suami yang selalu menyalahkannya hingga gangguan mistis perlahan mulai dirasakan Tari dan juga Nia. Sosok penunggu di rumah tua tersebut adalah seorang ibu bernama Rahma (Shareefa Daanish) yang terpaksa gantung diri setelah membunuh kedua anak kembarnya. Cerita masa lalu dari Rahma pun perlahan mulai terungkap melalui mimpi dan kerasukan yang dialami oleh Tari. Bagaimana nasib Tari dan Nia selanjutnya?


#Review:
Rumah produksi MVP Pictures kembali hadir dengan film horror terbarunya yang berjudul CERITA LILA (2026). Meskipun kembali mengadaptasi cerita viral dari sosial media khususnya YouTube channel nya Diary Misteri Sara, sutradara Bobby Prasetyo dan tim penulis cerita serta naskah yang terdiri dari Gea Rexy, Erwanto Alphadullah dan Sara Wijayanto memberikan konsep terbilang baru di film terbarunya ini.


Untuk segi cerita, film CERITA LILA (2026) memiliki tiga plot yang saling beriringan satu sama lain. Plot pertama sebagai pembuka datang dari tokoh nyata yaitu Sara Wijayanto beserta tim Diary Misteri Sara (DMS) nya. Keputusan dan konsep kreatif yang memadukan antara tokoh nyata dan karakter fiksi disatukan dalam film ini tampil solid dan juga believable. Ketimbang harus recast atau memaksa geng DMS untuk full berakting, mending dibuat seperti ini aja. Terasa lebih natural dan tidak cringe. Dengan menghadirkan tiga plot dari tiga sudut pandang yang berbeda, semuanya berhasil dijahit dengan maksimal oleh tim penulis naskah. Setiap pertanyaan dan misteri yang awalnya memunculkan tanda tanya, selalu terjawab tuntas di babak-babak selanjutnya. Konflik utama dari plot Tari dan juga Rahma memiliki kesamaan yaitu perasaan trauma, depresi berat, dan tekanan psikologis dari kejamnya dunia hingga memicu serangkaian kejadian tragis yang terjadi di rumah tua tersebut. Saat karakter Tari dan Nia terperangkap dalam energi mistis di sana, mereka tidak hanya harus bertahan hidup dari terror supranatural, mereka juga buruknya pola asuh orang tua yang dilakukan Rahma, trauma pengkhianatan, ketidakberdayaan perempuan dan issue kesehatan mental. Dinamika emosional antara ibu dengan anak yang mendominasi di sepanjang film berhasil menguatkan sisi drama dalam film horror ini. Yang cukup disayangkan dari film CERITA LILA (2026) ini yaitu penonton terasa "disuapin" banget sehingga setiap teka-teki dan misteri yang ditebar, penonton cuma menikmatinya saja tanpa harus effort memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Hahaha.


Untuk jajaran pemain, time flies banget melihat aktris cantik Lutesha yang kini dipercaya untuk memerankan karakter seorang ibu dalam sebuah film. Rasanya kayak masih kemarin banget baru melihat Lutesha debut dengan karakter ikoniknya yaitu Suki di MY GENERATION (2017), Suci di BEBAS (2019) dan Alpha di THE BIG FOUR (2024), eh sekarang menjadi Tari seorang ibu dan single parent. Pendalaman karakter sebagai seorang ibu muda dengan segala permasalahan hidup serta emosionalnya yang belum stabil terasa believable. Lutesha semakin menunjukkan "taring" sebagai seoranga aktris saat karakter Tari mengalami kerasukan. Chemistry yang dibangun bersama Myesha Lin juga terasa hangat karena keduanya selalu berusaha saling melindungi satu sama lain. Penampilan Shareefa Daanish yang semakin mengukuhkan predikat sebagai expert dan spesialis peran setan juga mengesankan. Setiap kemunculannya di awal film dibuat sangat cerdik. Karakter Rahma yang ia perankan berhasil menarik simpati penonton. Kerapuhannya, kesedihannya dan amarahnya tersampaikan dengan baik disepanjang film. Kemunculan geng Diary Misteri Sara yang menjadi diri mereka dalam film CERITA LILA (2026) ini tampil sangat meyakinkan. Kehadiran geng DMS ini sudah pasti menjadi fan service bagi penonton setia channel Youtube mereka.
Untuk urusan visual, tim artistik, sinematografi dan efek visual berhasil menyajikan terror rumah tua yang memukau. Set lokasi terlihat sangat meyakinkan seperti rumah tua betulan yang tak kunjung laku padahal lokasinya sangat strategis di pusat kota. Scoring yang mengiringi film pun terasa dramatis dan tidak terlalu berlebihan saat memunculkan jump scared. 
Overall, film CERITA LILA (2026) bukan sekadar horror yang menjual ketakutan, melainkan sebuah refleksi tajam tentang bagaimana trauma, amarah dan dendam masa lalu yang tidak disembuhkan dapat terus menghantui secara abadi. Applause untuk Bobby Prasetyo yang berhasil memadukan cerita viral dari Diary Misteri Sara dengan melodrama keluarga yang emosional. Keren!


[8.5/10Bintang]

Thursday, 18 June 2026

[Review] Toy Story 5: Cerita Seru Geng Mainan Klasik Yang Harus Berhadapan Dengan Gadget Modern!

 


#Description:
Title: Toy Story 5 (2026)
Casts: Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cusack, Greta Lee, Conan O'Brien, Tony Hale, Craig Robinson, Shelby Rabara, Scarlett Spears, Mykal Michelle, Matty Matheson, John Ratzenberger, Wallace Shawn, Blake Clark, Jeff Bergman, Anna Vocino, Annie Potts, Bonnie Hunt, Kristen Schaal, Bad Bunny
Director: Andrew Stanton
Studio: Pixar Animation Studios, Walt Disney Studios


#Synopsis:
Di usianya yang beranjak 8 tahun, Bonnie Anderson (Scarlett Spears) masih senang bermain dengan mainan-mainan kesayangannya yaitu Jessie (Joan Cusack), Buzz Lightyear (Tim Allen), Dolly (Bonnie Hunt), Trixie (Kristen Schaal), Bullseye (Alan Cumming), Forky (Tony Hale), Karen (Melissa Villasenor), Fricklepants (John Hopkins), Rex (Wallace Shawn), Mr. Potato Head (Jeff Bergman), Mrs. Potato Head (Anna Vocino) dan Slinky Dog (Blake Clark). Namun sayang, setelah masuk sekolah dasar, Bonnie justru tidak punya teman dekat. Setiap ingin berkenalan dengan anak-anak lain, Bonnie selalu takut. Bahkan saat ia berusaha ingin mengajak tetangganya sendiri yaitu si kembar Jordan untuk bermain, Bonnie selalu ketakutan dan akhirnya pulang ke rumah sambil menahan tangis.


Ibu dan ayahnya Bonnie pun jadi khawatir melihat anak mereka yang berusaha untuk mendapat teman sebaya tapi selalu gagal. Hal serupa juga turut dirasakan oleh Jessie yang kini dipercaya sebagai leader bagi para mainan setelah Woody (Tom Hanks) memutuskan berkelana bersama Bo Peep (Annie Potts). Sebagai mainan kesayangannya Bonnie, Jessie mengajak Buzz dan yang lainnya untuk tetap selalu ada dan memberikan kebahagiaan kepada Bonnie setiap saat. Agar Bonnie tidak bersedih, Jessie dan Bullseye kemudian pergi ke rumah si kembar Jordan agar mereka berdua mau berteman dengan Bonnie. Tiba di halaman rumah, Jessie disambut oleh mainan-mainan usang milik si kembar Jordan yang sudah lama terbengkalai dan tidak digunakan lagi. Mereka mencurahkan kesedihan sebagai mainan yang dilupakan gara-gara kini si kembar Jordan lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain gadget dan game online. Jessie pun jadi ikut ketakutan jika suatu saat nanti ia dan teman-teman mainan lainnya dilupakan juga oleh Bonnie. Sebelum kembali ke rumah, Jessie dan Bullseye melihat dengan jelas sudah banyak anak-anak di rumah lain yang kini ditemani oleh gadget.



Melihat perkembangan teknologi yang kini semakin canggih dan anak-anak lain yang sudah diizinkan oleh orangtuanya untuk bermain gadget, ibu dan ayahnya Bonnie pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama yaitu membelikan tablet pintar yang sedang digandrungi untuk anak-anak yaitu Lilypad (Greta Lee). Setelah checkout dan barangnya tiba di rumah, Bonnie sangat senang ia punya Lilypad juga yang sama persis dengan teman-teman di sekolahnya. Melihat kehadiran Lilypad di kamarnya Bonnie membuat Jessie dan yang lainnya terkejut. Jessie pun melayangkan aksi protes pada Lilypad karena kehadiran tablet pintar itu tetap tidak bisa membuat Bonnie jadi punya banyak teman. Mendengar hal tersebut membuat Lilypad kesal, sebagai tablet pintar, Lilypad langsung mencarikan teman untuk Bonnie secara online dan kemudian dibuatkan grup pertemanan dengan teman-teman kelasnya Bonnie.



Sejak kehadiran Lilypad di kehidupan Bonnie, Jessie dan mainan lain jadi jarang dimainkan bahkan dipindahkan ke keranjang lalu disimpan di dalam lemari. Jessie langsung teringat kembali akan pemilik pertamanya yaitu Emily (Sarah McLachlan) yang dulu mereka berdua sangat dekat namun karena seiring beranjak dewasa, ia menelantarkan Jessie dan kemudian memasukannya ke kotak donasi. Karena merasa frustasi, Jessie pun memutuskan untuk meminta bantuan pada Woody melalui walkie-talkie. Dengan diantar oleh Bo Peep, Duke Caboom (Keanu Reeves) dan McDimples, Woody akhirnya pulang ke rumah Bonnie. Kegelisahan yang dirasakan oleh Jessie ternyata turut dirasakan oleh Woody karena ia juga melihat secara langsung semakin banyak anak-anak yang menghabiskan waktu dengan gadget pintar mereka ketimbang bermain dengan mainan.


Menjelang akhir pekan, Chelsea mengajak Bonnie dan teman-teman kelas tarinya yaitu Heidi dan Karra untuk menginap di rumahnya. Jessie dan Bullseye kemudian menyelinap masuk ke dalam tasnya Bonnie karena ingin memantau interaksi Bonnie dengan teman-temannya itu di sana. Setibanya di sana, Bonnie langsung memperlihatkan mainan Jessie dan Bullseye, namun reaksi Chelsea, Heidi dan Karra malah menertawakannya gara-gara Bonnie masih bermain dengan mainan seperti itu. Bonnie kemudian menitipkan Jessie dan Bullseye ke ayahnya untuk dibawa pulang ke rumah, ia lalu mengambil Lilypad dari tas dan menunjukkannya pada mereka bertiga. 


Dalam perjalanan pulang, Jessie dan Bullseye kabur dari mobil karena ingin kembali menemani Bonnie. Namun sayang, Jessie dan Bullseye malah ditemukan oleh sepasang lansia yang baru selesai belanja. Dengan berbekal alamat dan nama Emily yang masih tertera di pakaiannya Jessie, mereka mengantarkannya ke alamat tersebut. Setibanya di sana, rumah masa lalunya itu kini sudah tidak lagi dihuni oleh keluarga Emily. Jessie dan Bullseye justru bertemu dengan mainan dan gadget yang sudah tidak terpakai di halaman belakang, salah satunya yaitu Smarty Pants (Conan O'Brien) dengan kondisi low battery. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah mencari baterai untuk Smarty Pants. Setelah selesai diganti, Smarty Pants juga meminta bantuan Jessie untuk mengganti baterai dua gadget lainnya yaitu Atlas Hippo GPS (Craig Robinson) dan Snappy Toy Camera (Shelby Rabara). Ketiganya kemudian menceritakan pada Jessie tentang kebersamaan bersama pemilik mereka yaitu Blaze Manoukian (Mykal Michelle) yang dahulu sangat dekat namun karena perkembangan teknologi yang semakin pesat, mereka bertiga pun jadi tersisihkan dan diganti dengan gadget lain yang lebih canggih. Selama berkeliling di rumah tersebut, Jessie merasakan jika Blaze memiliki banyak kesamaan dengan Bonnie. Dengan bantuan Smarty Pants, Atlas dan Snappy, ia berhasil mengirimkan pesan pada Lilypad nya Bonnie yang isinya memberi kabar keberadaan dirinya di rumahnya Blaze.


Keesokan harinya, Bonnie pulang dari acara menginap dari rumahnya Chelsea namun tanpa Jessie dan juga Bulleye. Woody, Buzz dan yang lainnya langsung menginterogasi Lilypad. Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan. Lilypad yang acuh kemudian mengirimkan pesan pada gadget orangtuanya Bonnie untuk menyimpan semua mainan ke gudang kecuali Woody dan Buzz. Setelah mencabut kabel pengisian Lilypad, mereka juga menyadari jika Lilypad bisa diperintah menggunakan suara. Woody dan Buzz lalu memanfaatkan hal tersebut untuk membuka pesan yang dikirim Jessie melalui Smarty dan meneruskan pesan tersebut ke semua kontak yang ada di dalam Lilypad. Setelah dibaca oleh Woody dan Buzz, Jessie kemudian mengirimkan informasi keberadaannya agar segera dijemput oleh Bonnie dan kedua orangtuanya. Dalam perjalanan menuju rumahnya Blaze, Bonnie tak disangka mendapatkan bully dan ejekan yang ia baca di group chat teman kelasnya. Hal tersebut membuat Bonnie sedih dan akhirnya menangis. Bagaimana nasib Jessie, Bullseye dan juga Bonnie selanjutnya? Apakah mereka bertiga akan kembali bertemu atau justru berpisah untuk selama-lamanya?


#Review:
Franchise film animasi legendaris TOY STORY yang sudah eksis sejak tahun 1995 milik Disney Pixar ini rupanya masih sangat potensial dalam urusan menyajikan cerita yang sangat relevan mengikuti perkembangan zaman. Keputusan Disney Pixar untuk "milking" franchise film TOY STORY pun tidak menjadi masalah bagiku dan sebagian besar penonton setia karena sudah lima film yang dirilis dalam 31 tahun terakhir, hasilnya sangat konsisten, selalu bagus dan memuaskan!


Kehadiran film TOY STORY 5 (2026) memang sudah seharusnya dibuat. Plot yang disajikan pun secara garis besar masih terkoneksi dengan film TOY STORY 4 (2019). Latar cerita dan waktu yang digunakan di film kelimanya ini cukup berdekatan dengan film keempatnya sehingga journey dari karakter Bonnie dan mainan-mainannya dieksplorasi lebih kompleks dengan mengikuti perkembangan zaman. Di film kelimanya ini, geng mainan ikonik harus menghadapi musuh paling menakutkan bagi orang tua yang sudah mempunyai anak-anak di zaman sekarang yaitu kecanduan main gadget. Karakter Bonnie yang kini berusia 8 tahun dan sudah masuk sekolah dasar, kemudian mendapatkan gadget tablet pintar Lilypad, seketika fokusnya langsung teralih ke dunia digital dan meninggalkan sisi imajinatifnya. Premis tersebut terasa sangat relevan dengan kondisi kehidupan manusia di era modern seperti saat ini yang dimana sesuatu yang klasik harus berjuang merebut perhatian manusia dari jerat dan kecanduan media sosial dan game online.
Fokus cerita kini ada di tangan Jessie yang mendapat kepercayaan sebagai pemimpin di geng mainannya Bonnie. Selain berjuang keras seperti Woody yang ingin menjadi mainan terbaik untuk anak-anak, narasi cerita dari Jessie di masa lalu pun dijelaskan. Penonton diajak untuk mengikuti petualangan Jessie yang tak sengaja kembali ke rumah mantan pemilik lamanya. Asal-usul, cerita masa lalu dan hubungan Jessie dengan Emily akhirnya terkuak sehingga menciptakan nostalgia yang penuh emosional untuk penonton. Lebih lanjut, film ini juga berhasil mengeksplorasi rasa takut akan dilupakan yang menjadi trauma mendalam bagi Jessie, sekaligus memberikan kedamaian emosional bahwa dirinya tetap hidup sebagai kenangan indah yang tak ternilai bagi pemilik pertamanya tersebut. Selain jualan moment-moment menguras perasaan penonton, kelebihan dari franchise TOY STORY itu selalu menghadirkan karakter baru di setiap filmnya yang menyegarkan dan jenaka. Kehadiran trio gadget jadul yaitu Smarty Pants, Toy Camera dan Hippo GPS terasa seperti sindiran sosial yang brilian mengenai betapa cepatnya siklus perkembangan teknlogi saat ini. Karakter "villain" yang hadir di film TOY STORY (2026) yaitu Lilypad sendiri digambarkan dengan sangat cerdas. Menariknya, Lilypad bukan sepenuhnya antagonis mainstream dengan niat jahat, melainkan representasi AI dan algoritma media sosial yang murni bekerja berdasarkan instruksi operasionalnya tanpa memahami konsep empati seorang manusia. Keputusan Woody dan Buzz untuk mengeksploitasi fitur perintah suara sebagai kelemahan Lily menjadi salah satu adegan komedi situasional yang sangat relevan dengan keseharian penonton di zaman sekarang! Hahaha.


Nonton TOY STORY 5 (2026) memuaskan karena layarnya fullest tanpa bar hitam atas bawah atau samping kiri kanan!

Disney Pixar kembali melampaui pencapaian visual lewat detail animasi yang luar biasa memanjakan mata penonton. Kontras visual antara dunia mainan klasik berbahan plastik dan kain dengan gadget modern yang didominasi oleh layar digital reflektif, efek blue light serta tekstur metalik tampil sangat kontras dan juga detail. Sinematografi pada adegan flashback bawah pohon Emily yang legendaris pun disajikan dengan palet warna hangat dan sinematik menciptakan atmosfer nostalgia yang menjadi ciri khas dari franchise film ini.
Overall, film TOY STORY 5 (2026) bukan sekadar sekuel dari franchise yang money oriented, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang sepenting itu untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan indahnya masa kecil yang dipenuhi imajinasi nyata. Reuni antara Woody, Buzz, dan Jessie terasa organik dan penuh nostalgia. Visual animasi yang semakin memukau dan pesan moral yang kuat baik bagi anak-anak maupun orang tua, film TOY STORY 5 (2026) sukses menyampaikan value luar biasa, bahwa teknologi dan kecanggihan digital tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan hubungan antar manusia dan nilai sebuah persahabatan yang tulus. You did it again Disney Pixar!


[9.5/10Bintang]

Tuesday, 16 June 2026

[Review] Obsession: Ketika Mantra One Wish Willow Diucapkan, Berubah Menjadi Cegil!

 


#Description:
Title: Obsession (2026)
Casts: Michael Johnston, Inde Navarrette, Cooper Tomlinson, Megan Lawless, Andy Richter, Haley Fitzgerald, Darin Toonder, Curry Barker
Director: Curry Barker
Studio: Focus Feature, Universal Pictures


#Synopsis:
Baron Bailey (Michael Johnston) memendam rasa suka pada rekan kerjanya di toko musik yaitu Nikki Freeman (Inde Navarrette). Hampir setiap hari, Baron selalu latihan untuk mengungkapkan perasaannya dengan bantuan kedua rekannya yang lain yaitu Ian (Cooper Tomlinson) dan Sarah Harper (Megan Lawless). Setelah beberapa kali latihan, Baron yang lebih akrab dipanggil dengan nama Bear memutuskan untuk confess pada Nikki di esok hari sepulang mereka bekerja. Tiba di rumah, Bear terkejut melihat kucing kesayangannya bernama Sandy sudah mati karena tak sengaja menelan obat oxycodone milik mendiang ibunya yang terjatuh dari tempat penyimpanan obat. Rasa sedih dan tangis akhirnya pecah di malam hari ketika Bear kini harus tidur sendirian dan tak ada lagi Sandy yang selalu berada di sampingnya.


Keesokan harinya yang kebetulan jadwal kerja Bear sedang libur, ia mengamankan bangkai Sandy dan membersihkan rumah. Tak lama setelah itu, Nikki menelepon Bear dan memintanya untuk datang ke bar yang sudah diagendakan. Awalnya Bear menolak untuk datang dengan alasan sedang sibuk di rumah, namun mendengar kabar Nikki berencana akan resign dan tak sengaja pula ia menjatuhkan kalung kristal ke kloset toilet, Bear pun bersedia datang sekaligus ingin confess juga ke Nikki. Sebelum menemui Nikki, Bear berkunjung ke toko pernak-pernik untuk membeli kalung. Namun karena tidak ada yang cocok, Bear justru tertarik pada sebuah mainan unik bernama "One Wish Willow" dan membelinya untuk Nikki.


Tiba di bar, Nikki, Sarah, Ian dan Bear mengobrol membahas pekerjaan dan hal lain. Salah satunya yaitu Sarah berencana ingin masuk ke sekolah tattoo di Luther Art College. Setelah itu, Ian dan Sarah mempersilahkan Bear dan Nikki mengobrol berdua sambil membawa minuman di bar. Namun karena gugup, Bear pun tidak langsung confess pada Nikki karena terus diganggu oleh Ian dan juga Sarah. Saat mereka akan lanjut ke bar selanjutnya, Nikki memutuskan tidak ikut dan Bear pun bersedia untuk mengantar Nikki pulang dengan mobilnya.


Dalam perjalanan pulang, Nikki mengungkapkan turut berduka cita atas kematian kucing kesayangannya Bear. Selain itu, Nikki juga merasa semakin tidak nyaman bekerja di toko musik karena passion dirinya adalah seorang penulis dan pembaca buku. Ketika sudah berada di depan rumah Nikki, Bear yang awalnya akan memberikan mainan "One Wish Willow" jadi ragu karena Nikki malah menanyakan perasaan Bear terhadap Sarah yang menurutnya Sarah memendam rasa pada Bear. Setelah itu, Nikki langsung bertanya soal perasaan Bear padanya. Bear malah gugup dan membantah hal tersebut. Saat akan pulang, Bear langsung membuka kemasan "One Wish Willow" dan mematahkannya sambil berharap agar Nikki mencintainya melebihi apapun yang ada di dunia. Ketika akan pergi, Bear melihat Nikki berjalan mendekati mobilnya dan meminta ingin menginap di rumahnya Bear. Nikki beralasan jika di rumah ia merasa sendiri karena sudah lama tidak ada kontak dengan ayahnya yang sedang dirawat karena kanker.


Tiba di rumah, Nikki meminta ingin tidur bareng dengan Bear. Saat Nikki mendekati dan mencium Bear, tiba-tiba berteriak histeris dan menarik diri menjauhi Bear. Setelah itu, mereka tetap tidur bareng namun tidak melakukan apapun. Keesokan harinya, Bear terkejut saat melihat bangkai kucing Sandy ada di dapur dengan dikelilingi lilin. Nikki sengaja yang membuatnya karena ingin menghormati kucing kesayangannya Bear. Namun Bear menganggap ide Nikki ini gila dan keterlaluan. Nikki kemudian meminta maaf atas segala perilakunya dari semalam gara-gara mengkonsumsi ekstasi yang ia beli di luar bar. Setelah itu, Nikki kemudian confess tentang perasaan cinta dan sayangnya pada Bear. Sejak saat itu, hubungan mereka semakin dekat dan menjalin hubungan asmara. Tak hanya itu saja, Nikki pun semakin sering menghabiskan waktu dan tinggal di rumahnya Bear.


Suatu hari, saat mereka berdua sedang makan malam bersama di restoran, Bear mendapat panggilan telepon berkali-kali dari Ian. Ia pun izin sebentar untuk mengangkatnya. Lewat telepon, Ian mengatakan jika dirinya sudah menelusuri jika ayahnya Nikki tidak sedang sakit kanker dan dirawat di rumah sakit. Ayahnya sehat dan kini sedang bekerja di New York. Selain itu, saat Bear sedang jadwal libur bekerja, ia tak sengaja mendengar jika Nikki sedang mengobrol dengan Sarah yang mengatakan jika Bear sudah dianggap seperti adik laki-lakinya sendiri. Ian khawatir jika Nikki yang mengarang cerita ini hanya untuk cari perhatian saja pada Bear. Selain itu, Ian juga merasa aneh melihat perubahan sikap Nikki yang jadi tergila-gila pada Bear secepat itu. Saat kembali ke meja makan, Nikki memberikan batu bermotif warna harimau warisan mendiang ibunya pada Bear karena dipercaya bisa meningkatkan rasa percaya diri pemegangnya. Nikki mengungkapkan lagi jika dirinya sangat mencintai Bear melebihi apapun yang ada di dunia ini. Ucapan tersebut membuat Bear jadi ketakutan karena harapan yang ia panjatkan lewat mainan "One Wish Willow" benar-benar menjai nyata. Bear kemudian menanyakan pada Nikki soal kondisi ayahnya. Respon Nikki justru marah, sambil menangis histeris karena mendapat pertanyaan tersebut.
Sepulang dari restoran, mereka pulang ke rumah dan melakukan hubungan intim dengan penuh gairah. Di dini hari, Bear terbangun dan terkejut saat melihat Nikki semalaman berdiri di pojok kamar dan hanya mengawasinya saja. Nikki kemudian menangis dan beralasan jika ia mengalami mimpi buruk jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Pagi harinya saat akan berangkat kerja, Nikki sudah mempersiapkan bekal sandwich untuk Bear. Nikki awalnya melarang Bear untuk berangkat kerja karena ia merasa sedih dan kesepian. Namun Bear memutuskan tetap pergi meskipun pintu rumahnya sudah dilakban banyak oleh Nikki. Ketika di toko dan mengobrol dengan Sarah, Bear menyadari jika bekal sandwich yang dibuat Nikki menggunakan potongan daging dari bangkai kucing Sandy. Bear yang sudah memakannya, dibuat terkejut lalu muntah.


Sepulang bekerja, Ian nebeng pulang pada Bear. Dalam perjalanan, Ian menuduh jika Bear memanfaatkan Nikki yang saat ini kondisinya seperti mengalami gangguan mental dan semua perubahan perilaku Nikki disebabkan oleh Bear. Setelah itu, Bear memutuskan untuk menelepon yang tertera pada bungkus mainan "One Wish Willow" dan meminta mengubah impiannya. Namun sayang, hal tersebut tidak bisa dilakukan. Si penerima telepon memberitahu hanya ada satu cara agar permintaan tersebut berakhir yaitu Bear meninggal. Bagaimana nasib Bear dan Nikki selanjutnya? Apakah mereka berdua akan langgeng sehidup semati?


#Review:
Sutradara film pendek sekaligus YouTuber dengan channel "That's a Bad Idea" asal Amerika Serikat yaitu Curry Barker, sukses mendapat perhatian dari para penonton film di sana setelah debut film panjangnya, OBSESSION (2026) mencetak box office hit dengan pendapatan lebih dari $280 juta Dollar Amerika Serikat dari modal yang dikeluarkan hanya sekitar $750.000 saja. Selain itu, film ini juga berhasil mendapat predikat Fresh Certified dan skor seimbang 94% di Rotten Tomattoes dan masuk jadi salah satu film horror terbaik di tahun ini.


Untuk segi cerita, Curry Barker yang turut menulis naskah cerita, skenario sekaligus editor film OBSESSION (2026), ia berani menembus batas kenyamanan penonton lewat cerita cinta bertepuk sebelah tangan yang berubah menjadi terror domestik sekaligus brutal didalamnya. Film dibuka dengan drama cinta segiempat pada Bear, Nikki, Ian dan Sarah yang dipertemukan karena mereka bekerja di toko musik yang sama. Bear memendam perasaan pada Nikki. Ian diam-diam menjalin hubungan tanpa status dengan Nikki dan Sarah pun diam-diam memendam perasaan pada Bear. Namun mereka berempat mempunyai satu kesamaan yaitu sama-sama tidak berani untuk mengutarakan perasaan demi menjaga perasaan satu sama lain. Premis romantis klise tentang berharap orang yang disukai membalas cinta ini kemudian berubah menjadi mimpi buruk bagi penonton. Selain terror brutal, film OBSESSION (2026) juga memutarbalikan makna cinta sejati menjadi sebuah obsesi super berlebihan. Hal tersebut semakin menarik karena sang sutradara menambahkan unsur magis lewat tongkat dan mantra "One Wish Willow". Rasa frustasi, putus asa dan ketakutan yang dialami oleh karakter Bear bisa dirasakan dengan mudah oleh penonton disepanjang film. Plot bergulir dengan tempo yang awalnya lambat namun secara konsisten menumpuk rasa tidak nyaman, memposisikan penonton ada di pov karakter Bear yang terjebak dalam konsekuensi atas permintaannya sendiri. Keberhasilan sang sutradara terletak pada bagaimana ia mengeksplorasi perubahan drastis mental dari karakter Nikki yang berawal sebagai teman kerja yang manis, kemudian bertransisi menjadi sosok yang mengerikan setelah mantra One Wish Willow membelah kewarasannya. Curry Barker tidak ragu menyajikan serangkaian terror yang absurd sekaligus traumatis, mulai dari manipulasi emosional lewat kebohongan tentang kanker, penyajian bangkai kucing jadi sandwich, hingga aksi mengejutkan yang disimpan sangat memukau di akhir cerita.
Kegilaan cegil dan cogil di film OBSESSION (2026) tidak akan efektif tanpa jajaran pemain yang mampu tampil sangat memukau dan juga meyakinkan. Applause pertama harus kita berikan pada Inde Navarrette yang memerankan karakter Nikki Freeman. Transisi perubahan karakter dan ekspresi yang secepat kilat sungguh luar biasa mengerikan. Adegan saat persona obsesif dari Nikki muncul dan terus-terusan mengejar Bear benar-benar bikin merinding! Applause berikutnya kita berikan untuk Michael Johnston yang beperan sebagai Baron Bear. Ia berhasil menampilkan jiwanya yang rapuh, penuh rasa bersalah, kebingungan dan ketakutan perlahan-lahan menghancurkan mentalnya karena permintaannya tidak bisa di-undo.
Untuk urusan visual, Curry Barker dengan cerdik memanfaatkan estetika yang raw dan pencahayaan minim untuk memperkuat atmosfer klaustrofobik di sepanjang film. Kekuatan utama film OBSESSION (2026) terletak pada keberaniannya menyajikan deretan adegan disturbing yang tidak sekadar mengandalkan jump scare, tapi menciptakan teror psikologis dan body horror yang mengganggu kenyamanan penonton secara mendalam. Kekurangan dari film ini yang menurutku cukup terasa yaitu penurunan logika yang realistis di paruh pertengahan film. Contohnya keputusan Bear yang memilih tetap tinggal bersama Nikki ketimbang melaporkan ke orangtuanya atau pihak polisi serta asal-usul dan aturan tentang mainan magis dan mantra "One Wish Willow" tidak dieksplor dengan maksimal, sehingga menimbulkan pertanyaan.
Overall, film OBSESSION (2026) bisa dibilang sebagai sebuah studi karakter yang memukau tentang bahaya ego dan obsesi dari manusia. Salah satu film horror domestik yang menakjubkan sekaligus disturbing ketika drama romansa picisan tiba-tiba banting setir menjadi tragedi berdarah yang tak terduga!


[9/10Bintang]

Friday, 12 June 2026

[Review] Backrooms: Cerita Depresif Ketika Masuk & Terjebak Di Ruangan Kosong Tak Terbatas!

 


#Description:
Title: Backrooms (2026)
Casts: Chiwetel Ejiofor, Renate Reinsve, Mark Duplass, Finn Bennett, Lukita Maxwell, Avan Jogja, Robert Bobroczkyi, Krista Kosonen
Director: Kane Parsons
Studio: North Road Productions, 21 Laps Entertainment, Atomic Monster, A24, Feat Pictures


#Synopsis:
Seorang peneliti dari ASYNC Foundation yaitu Naren Warne (Avan Jogia), terpisah dari rombongannya dan tersesat di ruangan tanpa batas seperti labirin kosong dengan dinding berlapis wallpaper kuning kusam, karpet lembab dan lampu neon yang terus-terusan mendengung. Ruangan yang ditemukan tersebut kemudian disebut sebagai Backrooms. Setelah berjalan jauh dan berkeliling, Warne menemukan peralatan untuk berkomunikasi dengan ASYNC dan berusaha meminta bantuan. Tak lama setelah itu, Warne dikejar dan diserang oleh entitas misterius. Video footage hilangnya Warne tersebut ditemukan dan diteliti lebih lanjut oleh ASYNC.



Di sisi lain, Clark (Chiwete Ejiofor) pemilik toko furnitur diskonan sekaligus seorang arsitek gagal berusaha mengatasi kecanduan alkohol dan memperbaiki rumah tangganya yang terancam perceraian. Clark kemudian melakukan konsultasi pada psikolog yaitu Dr. Mary Kline (Renate Reinsve), yang dirinya sendiri juga sedang berjuang mengatasi trauma berat terkait pembongkaran rumah masa kecilnya serta ibunya, Nora (Krista Kosonen) yang mengidap gangguan kecemasan. Setelah selesai konsultasi, Clark kembali ke toko dan kembali berjualan meskipun tak ada satupun yang berkunjung ke sana. Malam harinya, Clark memutuskan tidur di toko dan tidak pulang ke rumah. Saat sedang menonton televisi, ia menyadari jika semua lampu toko berulang kali berkedip-kedip. Keesokan harinya, Clark memanggil tukang listrik untuk memeriksa kotak sekring yang ada di lantai bawah toko. Saat dicek, semua sekring listrik tidak ada rusak. Mereka juga menemukan dua sekring listrik dengan warna berbeda dan ketika pengetesan, tidak ada perubahan. Setelah itu, toko furnitur kembali buka seperti biasa. Di siang hari, Clark membuat materi promosi iklan dengan bantuan staff nya yaitu Kat Taylor (Lukita Maxwell). Bersama dengan pacarnya Kat yaitu Bobby Franklin (Finn Bennett) mereka bertiga membuat video iklan toko furnitur dengan tema bajak laut. Clark mengenakan kostum dan menjadi seorang kapten bajak laut seperti maskot tokonya yaitu Captain Clark. Setelah selesai, beberapa hari kemudian video iklan tersebut akhirnya tayang di televisi.


Suatu malam, saat Clark sedang beristirahat di tokonya, seluruh lampu kembali berkedip. Karena kesal, ia kemudian turun ke bawah untuk memperbaiki sekring listrik. Saat semuanya gelap, Clark melihat garis celah bercahaya dari dinding lantai bawah toko furnitur. Ketika mendekatinya, ia masuk dan terjatuh ke dalam Backrooms. Di depannya, Clark melihat banyak barang-barang seperti kursi, lemari dan meja yang saling menumpuk di tengah ruangan. Ia kemudian berjalan menyusuri setiap lorong dan ruangan di Backrooms. Clark mulai menyadari jika ruangan yang ia jelajahi itu tak ada ujungnya. Saat akan kembali ke tempat semula, Clark mendengar suara orang berbicara. Saat dicari keberadaannya, ia menemukan standee bergambar seorang pria yang mengeluarkan suara rekaman. Sumber suara tersebut berasal dari sebuah kabel yang terhubung ke sebuah pintu. Di sisi lain, Clark juga tak sengaja menemukan sebuah tas dengan nama pemilik Naren Warne yang tersembunyi di balik dinding. Saat Clark menarik kabel yang terhubung pada sebuah pintu, ia mendengar suara langkah kaki yang sangat besar. Clark kemudian pergi dari sana dan kembali ke toko dengan selamat.



Keesokan harinya, Clark kembali menemui Mary dan menceritakan pengalamannya memasuki Backrooms. Namun sayang, Mary menanggapinya dengan skeptis dan menduga hal tersebut efek dari kecanduan alkohol saja. Mendengar omongan tersebut membuat Clark kesal. Ia kemudian pulang dan meminta bantuan pada Kat dan Bobby untuk menemaninya masuk lagi ke Backrooms. Clark berjanji akan membayar dengan harga tinggi jika mereka bersedia membantunya. Setelah sepakat, Clark, Kat dan Bobby masuk ke Backrooms dengan cara menembus dinding yang sudah ditandai. Kat dan Bobby terkejut sekaligus takut saat mereka berhasil masuk ke sana dengan cara yang tak lazim. Ketiganya berjalan menyusuri setiap ruangan dan lorong dengan dinding warna kuning pucat, lantai karpet lembab dan lampu neon berdengung dimana-mana. Selama menjelajah Backrooms, Clark mulai menyadari adanya perubahan bentuk ruangan dibandingkan kemarin saat pertama kali masuk. Mereka bertiga kemudian menemukan sebuah lorong dengan kemiringan yang curam. Clark meminta Bobby untuk turun ke sana dan merekam apa yang ada di bawah dengan bantuan tali yang diikat. Ketika mendarat di bawah, Bobby menemukan ruangan yang gelap dan dipenuhi sampah, tumpukan baju kotor dan furnitur yang sudah rusak. Saat akan kembali naik ke atas, Bobby merekam entitas misterius muncul dari kegelapan dan mengejarnya. Clark dan Kat menarik tali yang mengikat pada tubuh Bobby. Namun sayang Bobby kembali terseret ke bawah dan menghilang di sana. Karena kuatnya tarikan dari bawah, Clark dan Kat juga ikut terjatuh. Mereka berdua panik dan berusaha mencari jalan keluar. Kat lalu ditarik oleh entitas misterius itu dan menghilang. Clark yang ketakutan berusaha melarikan diri dan menyusuri ruangan aneh dan tidak beraturan. Setelah berlari tanpa arah, Clark berpapasan dengan dua entitas humanoid yang mengejarnya hingga terjebak di ruangan buntu.


Beberapa hari kemudian, Mary menerima panggilan telepon dari Clark yang mengungkapkan jika ia akan tinggal di Backrooms dan menetap di sana. Merasa khawatir, Mary pun pergi menuju toko furniturnya Clark. Setibanya di sana, toko terlihat sepi tidak ada orang dan dalam keadaan tidak terkunci. Mary pun masuk ke sana dan mencari Clark. Ketika turun ke lantai bawah, Mary melihat sebuah denah lokasi di papan yang digambar oleh Clark. Selain itu, ia juga melihat sebuah tanda garis berbentuk pintu menempel di dinding. Karena teringat akan ucapan Clark, ia mendekati garis berbentuk pintu tersebut dan secara mengejutkan masuk ke dalam Backrooms.
Di sana, Mary berjalan menyusuri setiap lorong dan ruangan sambil memanggil Clark. Mary kemudian menemukan sebuah ruangan dengan coretan gambar yang diyakini dibuat oleh Clark. Tak lama setelah itu Clark muncul dan entitas gaib juga mulai mendekati mereka berdua. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Bagaimana nasib Mary dan Clark selanjutnya?


#Review:
Pertengahan tahun 2026, jagat sinema Hollywood digemparkan dengan kesuksesan film BACKROOMS (2026) yang diadaptasi dari urban legend viral di internet serta disutradarai oleh seorang pemuda berusia 20 tahun! Tak hanya itu saja, debut film Kane Parsons menggarap film layar lebar ini juga mencetak rekor sebagai film produksi A24 terlaris sejauh ini menggeser posisi MARTY SUPREME (2025) dan EVERYTHING EVEREWHERE ALL AT ONCE (2022). Luar biasa!


Untuk segi cerita, film BACKROOMS (2026) terbilang cukup berbeda dengan versi serial web nya. Di versi layar lebar, Kane Parsons dan Will Soodik selaku penulis naskah memilih untuk melanjutkan cerita dari pov warga sipil yang tak sengaja masuk ke dalam Backrooms ketimbang mengulang dari awal. Seperti yang sudah dijelaskan di serial web nya, ASYNC Foundation tak sengaja membuka gerbang dimensi alternatif dan menciptakan sebuah distorsi sebuah ruangan yang tak terbatas. ASYNC menyadari bahwa pembukaan gerbang dimensi alternatif tersebut berdampak buruk pada dunia nyata. Terjadi distorsi di beberapa tempat di bumi, menyebabkan orang-orang atau barang-barang di dunia nyata terjatuh secara tidak sengaja ke dalam Backrooms. Salah satu tempat yang terkena distorsi tersebut adalah toko furnitur diskonan milik karakter Clark. Menariknya di sini, Kane Parsons memadukan gaya found footage dengan sinematografi teatrikal yang megah namun tetap dengan gaya khas kamera VHS seperti serial web nya. Selain itu, ia juga memberikan jiwa dan karakter manusia yang kuat. Penonton tidak lagi hanya melihat orang asing tanpa nama yang tersesat di koridor kuning, melainkan mengikuti Clark, seorang pria yang hancur oleh alkoholisme dan kegagalan hidup, serta Dr. Mary Kline yang berjuang menyembuhkan trauma masa kecilnya. film BACKROOMS (2026) bukan sekadar labirin atau infinity space semata, melainkan manifestasi visual dari keputusasaan, trauma, dan ruang isolasi mental dari kedua karakter utama.
Sumber horror dari film BACKROOMS (2026) bukan berasal dari jump scared atau scoring bombastis khas film-film horror mainstream, melainkan dari ruangan kosong dan tak terbatas itu sendiri. Konsep liminal space menciptakan rasa terisolasi, keputusasaan, dan paranoia yang mencekam bagi penonton. Hampir sepanjang nonton, penonton pasti punya imajinasi tersendiri dan membayangkan di pojokan ruangan atau lorong yang akan dilalui oleh Clark maupun Mary. Jika di versi serial web penggemarnya terbiasa dengan monster kabel, versi film layar lebarnya membawa horor ke arah yang lebih surealis dan psikologis. Kehadiran entitas gaib berwujud Captain Clark atau maskot toko furnitur dan tiga makhluk humanoid terasa lebih creepy dan bikin ngeri. 


Meskipun film BACKROOMS (2026) didominasi oleh ruang kosong dan kegilaan visual, performa kedua aktor utamanya berhasil memberikan "jiwa" dan dimensi kemanusiaan yang membuat penonton benar-benar peduli pada nasib para karakter, bukan sekadar menunggu mereka dikejar monster. Sebagai aktor berkelas pemenang Piala Oscars, Chiwetel Ejiofor memberikan penampilan yang luar biasa intens dan tragis sebagai Clark, arsitek gagal yang tenggelam dalam alkoholisme. Ejiofor dengan sangat brilian menggambarkan transisi Clark dari seorang pria yang depresi dan frustrasi di dunia nyata, menjadi sosok yang tidak waras setelah terjebak di dalam Backrooms. Sementara itu, aktris asal Norwegia yang saat ini sedang naik daun dan dikenal sebagai aktor spesialis film-film festival yaitu Renate Reinsve, berhasil menampilkan secara profesional seorang psikolog di awal film, yang perlahan-lahan runtuh ketika dirinya sendiri masuk ke dalam Backrooms dan dihadapkan pada manifestasi ketakutan terbesarnya. Saat berhadapan dengan Clark yang sudah tidak waras di ruang makan tiruan, akting Reinsve sangat memukau tanpa harus berteriak histeris atau marah-marah. Ia justru bersikap tegas dan realistis dalam menghadapi Clark.
Overall, film BACKROOMS (2026) adalah adaptasi yang sukses dan kualitasnya setara dengan versi serial web. Film ini tidak hanya menjual jump scared mainstream, melainkan sebuah horor psikologis berbalut fiksi ilmiah yang emosional, kelam dan meninggalkan rasa tidak nyaman setelah menonton. Kane Parsons menurutku berhasil mengubah salah satu urban legend internet sederhana menjadi sebuah kisah tragedi fiksi ilmiah yang megah, mencekam dan meninggalkan kesan mendalam mengenai batas ambisi manusia. Keren!


[8.5/10Bintang]