#Description:
Title: Semua Akan Baik-Baik Saja (2026)
Title: Semua Akan Baik-Baik Saja (2026)
Casts: Reza Rahadian, Christine Hakim, Raihaanun, Ari Irham, Happy Salma, Teuku Rifnu Wikana, Rahmatullah Nan Alim, Aquene Aziz Djorghi, Malika Shaquena, Ade Rai, Chew Kin-Wah, Aimee Saras, Asri Welas, Erick Estrada, Amanda Soekasah, Rebecca Tamara, Nagra Kautsar, Benidictus Siregar
Director: Baim Wong
Studio: Tiger Wong Entertainment, Legacy Pictures, RANS Entertainment, Masih Belajar Pictures, Role Entertainment
#Synopsis:
Langit (Reza Rahadian), anak kedua dari empat bersaudara, memilih hidup mandiri di sebuah rumah susun sederhana. Suatu malam, kakaknya, Mentari (Happy Salma), tiba-tiba datang dan berkunjung membawakan nasi padang kesukaan mereka. Sebelum pulang, Mentari sempat menasihati Langit agar segera mencari pekerjaan tetap ketimbang terus menganggur dan hanya mengandalkan jasa perbaikan elektronik di rusun. Mentari merupakan orangtua tunggal dan membesarkan ketiga anaknya yaitu Malika (Ratu Aziz Djorghi), Shafa (Malika Shaquena), dan Alim (R. Nan Alim) seorang diri setelah bercerai dari suaminya, Ilham (Teuku Rifnu Wikana).Keesokan harinya, Langit terkejut saat berkunjung ke rumah Mentari dan melihat bendera kuning sudah terpasang di pagar. Langkahnya terhenti ketika menyaksikan Bintang (Raihaanun), adik ketiganya, bersama warga sekitar sedang memandikan jenazah Mentari di halaman belakang. Langit syok dan sulit menerima kenyataan bahwa kakaknya itu telah tiada, padahal baru semalam mereka ngobrol bersama. Adik bungsu mereka, Banyu (Ari Irham), serta ibu mereka, Ibu Wida (Christine Hakim), berusaha menenangkan Langit agar ikhlas melepaskan Mentari yang meninggal mendadak akibat serangan jantung.
Keesokan harinya, Langit kembali ke rumah Mentari sambil membawa sarapan untuk ketiga keponakannya. Saat pintu dibuka, Langit terkejut melihat Ilham bersama dengan wanita lain yaitu Sarah (Asri Welas) dan mengatakan jika ketiga anaknya sudah dititipkan ke Ibu Wida. Langit pun langsung pergi dari sana menuju rumah sang ibu. Kini, nasib Malika, Shafa, dan Alim menjadi tanda tanya. Langit ragu untuk merawat ketiga keponakannya karena belum berpenghasilan tetap. Bintang pun bimbang mengingat ia masih tinggal di kontrakan kecil dan bekerja sebagai pemandu lagu karaoke. Begitu pula dengan Banyu yang tinggal di kost dan hanya mengandalkan penghasilan dari live TikTok. Melihat ketiga anaknya ragu, Ibu Wida memutuskan untuk merawat ketiga cucunya itu seorang diri. Tak tega melihat ibunya yang sudah tua harus menanggung beban tersebut, Langit akhirnya mengambil sikap dan menyatakan siap merawat ketiga keponakannya. Sementara itu, Bintang dan Banyu pun siap membantu untuk biaya pendidikan mereka di sekolah.
Masalah belum selesai. Keesokan harinya, Ibu Wida mendapat telepon dari sekolah terkait tunggakan SPP Malika dan Shafa. Ibu Wida langsung mendatangi kost nya Banyu untuk mencari jalan keluar. Awalnya, sang ibu hanya ingin Banyu patungan bersama Bintang. Namun, karena tabungannya cukup dari hasil live TikTok, Banyu memilih melunasi seluruh tunggakan tersebut. Ibu Wida pun sangat tersentuh dan berterima kasih atas bantuan anak bungsunya itu. Setelahnya, Ibu Wida meminta Banyu mengantarnya ke kontrakan Bintang. Banyu berusaha menolak permintaan sang ibu. Ia paham betul rahasia kelam kakaknya. Bintang tak sekadar bekerja di karaoke, melainkan juga menyambung hidup sebagai pekerja seks komersial. Namun, karena desakan Ibu Wida, Banyu tak punya pilihan selain mengantarnya. Sesampainya di sana, kenyataan pahit menghantam Ibu Wida. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri putri kandungnya sedang melayani pelanggannya. Tak berhenti di situ, rasa syok sang ibu semakin bertambah saat mengetahui Bintang ternyata telah memiliki seorang anak laki-laki yang selama ini disembunyikan dari keluarga.
Di sisi lain, Malika terpaksa berhenti dari les musiknya setelah kepergian sang ibu. Bakat menyanyi dan bermain piano yang dimiliki ia kubur demi mengalah pada masa depan Shafa dan Alim. Tak tega melihat impian cucunya terkubur, Ibu Wida mendatangi sebuah perguruan tinggi seni dan musik untuk mendaftarkan Malika agar bisa melanjutkan pendidikan di sana. Namun, takdir mempertemukan Ibu Wida dengan Sarah, wanita yang kini menjalin hubungan dengan Ilham, mantan suami Mentari. Mengetahui siapa sosok di hadapannya, Sarah terkejut. Selama ini, Ilham mengaku kepadanya sebagai pria lajang dan memalsukan fakta tentang perceraiannya dengan Mentari. Digerogoti rasa bersalah, Sarah meminta maaf atas ketidaktahuannya, sementara Ibu Wida memilih melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa menguncapkan sepatah kata pun.
Waktu terus berlalu dan himpitan ekonomi keluarga Ibu Wida semakin berat. Demi membiayai sekolah serta masa depan Malika, Shafa dan Alim, Ibu Wida meminta Langit dan Banyu untuk mengambil sertifikat rumah milik Mentari. Ia berniat menjual rumah itu dan tidak rela jika aset tersebut jatuh ke tangan mantan menantunya. Bagaimanapun, rumah dan mobil itu adalah hasil kerja keras Mentari sendiri jauh sebelum menikah dengan Ilham. Mengetahui niat jahat Ilham, Sarah diliputi rasa bersalah sekaligus dendam karena telah dibohongi. Untuk menebus kesalahannya, Sarah menyerahkan sertifikat rumah Mentari secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ilham kepada Langit dan Banyu. Tak hanya itu, Sarah juga memberikan sebuah golden ticket kepada Malika untuk mengikuti kompetisi ajang pencarian bakat di kampus, yang membuka peluang besar baginya meraih beasiswa.
Saat Ilham akan menjual aset rumah milik Mentari, ia terkejut karena sertifikat rumah tidak ada. Ia marah besar dan langsung pergi menuju rumah Ibu Wida. Tiba di sana, keluarga Ibu Wida mengusir Ilham dan mengatakan jika semua harta milik Mentari itu bukanlah haknya. Bagaimana nasib Malika dan keluarga Ibu Wida selanjutnya? Apakah mereka berhasil mewujudkan satu persatu mimpi mereka?
#Review:
Dalam tiga tahun terakhir, aktor Baim Wong semakin serius mendalami profesi sutradara film layar lebar bersama dengan rumah produksinya yaitu Tiger Wong Entertainment. Setelah film horror LEMBAYUNG (2024) dan SUKMA (2025) yang sukses mencetak box office hit, di tahun ini Baim Wong menghadirkan film bergenre drama keluarga berjudul SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA (2026). Film menjadi debut bagi Baim Wong dalam genre drama yang penulisan skenarionya berkolaborasi dengan Oka Aurora dan Eurico Pratama. Saat penayangan di bioskop mulai 13 Mei lalu, film ini berhasil mengantongi 1.168.135 penonton dari seluruh Indonesia. Tepat tanggal 10 September kemarin, film SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA (2026) mulai tersedia di platform streaming Neflix.
Untuk segi cerita, film ini hadir sebagai sebuah drama keluarga yang memotret realitas pahit mengenai bagaimana sebuah tragedi dapat menghancurkan tatanan hidup orang-orang yang ditinggalkan. Mengangkat dinamika keluarga kelas menengah ke bawah di perkotaan, film ini menyuguhkan kisah tentang pencarian arah hidup, beban pengasuhan mendadak, serta kompromi yang harus diambil demi terus melangkah kedepan. Ceritanya tidak hanya fokus pada proses duka, tetapi juga secara dekat menyoroti perselisihan antar anggota keluarga yang cukup realistis. Dinamika cerita keluarga Ibu Wida memang sangat relevan dan mudah penonton temukan di kehidupan nyata. Baim Wong, Oka Aurora dan Eurico Pratama sangat eksploratif sekali mengeksplor berbagai permasalahan ekonomi yang dialami oleh keluarga Ibu Wida. Namun sayang, romantisasi struktural kemiskinan sebuah keluarga dan dinamika yang dihadirkan menurutku terlalu too much. Pacing cerita juga cenderung terburu-buru ketika memasukkan terlalu banyak konflik sampingan dalam jarak waktu yang berdekatan. Alhasil, subplot dan konflik jadi saling tumpang tindih, lalu berakhir jadi tumpukan kemalangan demi kemalangan saja pada keluarga Ibu Wida. Memasuki babak ketiga film, entah mengapa Baim Wong tiba-tiba menyuntikkan elemen komedi yang menurutku sangat tidak efektif, bikin drop dan cringe abis. Kehadiran nama-nama seperti Chew Kin-Wah, Aimee Saras hingga Ade Rai malah jadi bahan komedi garing saja? Sangat disayangkan. Selain itu, kehadiran karakter Sarah yang diperankan Asri Welas (Baim Wong Darling), yang tiba-tiba berubah pikiran memberikan jalan keluar berupa sertifikat dan golden ticket terasa kurang meyakinkan dari segi pengembangan karakter. Transisi emosinya dari orang luar menjadi penyelamat terlalu instan, menghilangkan potensi hukum atau proses negosiasi yang seharusnya bisa dieksplorasi lebih organik. Issue tentang pentingnya kesadaran pendidikan inklusif untuk anak berkebutuhan khusus melalui karakter Alim pun aku kira bakal ditekankan dalam cerita, eh tapi ternyata cuma sekedar tempelan, karena endingnya pun malah pindah fokus ke karakter Malika. Terus lagi, gara-gara banyaknya isu yang ingin dirangkul sekaligus, beberapa diantaranya cuma menyentuh permukaan tanpa penyelesaian yang benar-benar memuaskan.
Terlepas dari cerita dan skenario nya terlalu meromantisasi struktural keluarga menengah kebawah, film SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA (2026) punya ensemble cast dengan aktingnya yang sangat solid. Karakter Langit, Ibu Wida dan Bintang dimakan dengan effortless oleh Reza, Ibu Christine dan Raihaanun. Kehadiran Ari Irham sebagai Banyu seharusnya bisa dieksplor lebih mendalam sisi agama nya agar semakin relevan dengan habit nya yang sering berdakwah secara live di TikTok. Penampilan karakter pendukung anak-anak juga cukup nge-blend dengan para aktor senior. Secara teknis visual, film ini berhasil membangun suasana yang sangat grounded dan meyakinkan. Pengambilan gambar di area rumah susun dan pemukiman padat penduduk memperkuat kesan struggling finansial dan ekonomi yang dialami oleh karakter-karakter di dalamnya.
Overall, film SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA (2026) hadir sebagai sebuah sajian drama yang memang kaya akan pelajaran hidup, meskipun memiliki celah dalam struktur naskah dan penyelesaian konflik di beberapa lini, performa akting para pemainnya yang memukau serta pesan emosional tentang ketahanan sebuah keluarga membuat film ini tetap menyentuh dan layak untuk dinikmati. Yuk udahan romantisasi dan eksploitasi struktural kehidupan keluarga menengah kebawah dan pemakaian judul film yang panjang-panjang. Puitis enggak, forgettable iya.
[7/10Bintang]

































