Friday, 17 April 2026

[Review] Ghost In The Cell: Mengungkap Terror Sadis Dari Sosok Gaib Yang Gentayangan Di Penjara!

 


#Description:
Title: Ghost In The Cell (2026)
Casts: Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Bront Paralae, Dimas Danang, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming Sugandhi, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Kiki Narendra, Haydar Salishz, Arswendy Beningswara, Dewa Dayana, Ical Tanjung, Farrell Rafisqy, Radja Nasution, Marissa Anita
Director: Joko Anwar
Studio: Come and See Pictures, Rapi Films, Legacy Pictures, Barunson E&A


#Synopsis:
Setelah melakukan penelusuran di kawasan hutan bernama Nehea yang ada di Kalimantan untuk keperluan artikel berita, seorang jurnalis sekaligus editor yaitu Dimas (Endy Arfian), dikejar deadline oleh pemimpin redaksi di kantornya untuk segera menerbitkan artikel tentang perusahaan tambang nikel milik anak dari wakil presiden Indonesia yang melakukan penebangan hutan secara ilegal di sana. Namun sayang, hasil penelusuran yang dilakukan Dimas justru menemukan banyak keanehan. Selain luas wilayah hutan yang ditebang tidak sesuai dengan yang dilaporkan, ia juga mendapat kabar jika tak sedikit warga sekitar dan para pekerja tambang di sana yang hilang secara misterius. Informasi yang didapatkannya itu membuat Pemred Pak Endy (Rio Dewanto) marah besar. Ia menyuruh Dimas segera merevisinya agar tidak fokus pada hal-hal mistis tersebut.



Dimas pun langsung merevisi artikel beritanya sesuai permintaan Pak Endy. Setelah selesai, Dimas terkejut saat masuk ke ruangan Pemred, ia menemukan Pak Endy tewas secara mengenaskan di ruangannya. Karena tidak ada saksi dan Dimas jadi orang pertama yang menemukan jasad Pak Endy, ia dinyatakan jadi tersangka kasus pembunuhan sadis Pak Endy dan langsung dijebloskan ke penjara. Dimas dan narapidana lain yang ada di kantor polisi langsung dibawa ke penjara Lapas Labuhan Angsana untuk menjalani hukuman di sana.


Tiba di penjara, Dimas langsung melalui serangkaian pengecekan fisik yang dilakukan oleh para sipir. Setelah itu, ia bertemu dengan Irfan (Dimas Danang), salah satu narapidana di sana yang diminta untuk memandu Dimas berkeliling ke setiap sudut penjara. Irfan sendiri merupakan tersangka kasus penipuan melalui telepon yang sudah menelan banyak korban. Selama berkeliling, Irfan meminta Dimas agar tidak kemana-mana sendirian dan harus ikut berkelompok supaya aman. Di penjara, Irfan berkelompok dengan Anggoro (Abimana Aryasatya), tersangka kasus perampokan rumah pejabat karena tanah dan rumahnya digusur secara ilegal. Lalu ada Pendi (Lukman Sardi) dosen kampus yang dijebak karena tidak mau terlibat kasus korupsi, Wildan (Mike Lucock) tersangka kasus penipuan penggandaan uang. Terakhir yaitu Six (Yoga Pratama), tersangka penipuan yang merugikan korban miliaran rupiah. 


Anggoro sendiri dikenal sebagai narapidana yang selalu peduli dan membela napi-napi lain yang mendapat perlakuan tidak adil baik dari sesama napi maupun para sipir di sana. Sikap Anggoro tersebut rupanya sangat dibenci oleh kepala sipir yaitu Jefry (Bront Paralae) dan beberapa napi mafia anak buah dari Koh Rendra (Ho Yuhang) yaitu Bimo (Morgan Oey), Tokek (Aming), Bucky (Almanzo Konoralma) dan Bambang (Ical Tanjung).
Setelah selesai berkeliling penjara, Dimas mendapatkan sel tahanan bersama dengan Tokek, salah satu napi yang ditakuti karena sikap anehnya. Tokek juga diam-diam tertarik pada Dimas karena terlihat polos dan penampilannya tidak seperti penjahat. Sebelum masuk ke sel tahanan masing-masing, Irfan dan Anggoro meminta Dimas untuk selalu waspada terhadap Tokek.


Waktu terus berlalu. Dimas masih selamat dari godaan Tokek karena pada malam itu Tokek mabuk berat. Saat para napi sedang membersihkan diri, Tokek lagi-lagi berusaha menggoda Dimas. Untungnya Anggoro dan yang lainnya ada di sana dan menolong Dimas agar tidak lagi diganggu Tokek. Setelah selesai, semua narapidana kembali ke sel tahanan dan menjalankan tugas mereka masing-masing. Saat Six sedang menyapu di depan sel tahanan, ia melihat Tokek berjalan menuju sel nya dari tempat bilas tanpa mengenakan pakaian. Saat Six mendekati sel tahanan Tokek, ia terkejut karena Tokek tidak ada di sana. Tak lama setelah itu, terdengar teriakan kencang dari salah satu napi di tempat bilas. Para napi lain dan sipir langsung berlari ke sana. Mereka terkejut menemukan Tokek tewas dengan cara yang sangat mengenaskan.


Kematian Tokek membuat Jefry dan kepala pengelola penjara yaitu Pak Sapto (Kiki Narendra) khawatir akan jabatan mereka. Jika kabar tewasnya napi sampai ketahuan polisi dan media, akan berdampak buruk kepada mereka berdua dan juga para napi koruptor di Blok K yang selama ini dikenal sebagai narapidana eksklusif. Jefry kemudian mengumpulkan semua napi dan memaksa pelaku pembunuh Tokek untuk mengakui perbuatannya. Namun para napi memang tidak ada yang melakukan hal keji tersebut. Jefry dan para sipir lain kemudian menghukum semua napi dengan tidak menyediakan makanan selama seharian. Sementara itu, Pak Sapto menutupi kejadian tersebut agar napi yang paling disegani oleh Pak Sapto di Blok K yaitu Prakasa Kitabuming (Arswendy Bening Swara) dan napi eksklusif lainnya tidak ketakutan.


Seiring berjalannya waktu. Six yang kesehatannya kembali pulih semakin sensitif merasakan hal-hal aneh di penjara. Selain itu, kemampuan Six dalam membaca aura orang lain juga semakin menguat. Hal tersebut terbukti setelah terjadi lagi kematian tragis dari beberapa napi yang menciptakan suasana mencekam di penjara. Six, Anggoro, Irfan, Pendi dan Wildan meyakini jika semua kematian yang terjadi di sana setelah Dimas datang. Para napi lain pun jadi curiga jika Dimas menjadi penyebab dan yang membawa malapetaka ke dalam penjara. Setelah mempelajari pola kematian dari para napi, Six meyakini jika kematian brutal yang terjadi di penjara karena para korban tersebut memiliki aura berwarna merah yang menandakan adanya emosi dan amarah besar. Six, Anggoro, Irfan, Pendi, Wildan dan para napi lain kemudian sepakat untuk kerja sama agar sosok gaib yang gentayangan di penjara itu tak lagi menjemput ajal mereka yang tersisa. Berhasil kah mereka?


#Review:
Sutradara Joko Anwar kembali hadir dan meramaikan industri perfilman Indonesia dengan merilis film terbarunya yang berjudul GHOST IN THE CELL (2026). Menariknya, sebelum tayang di Indonesia, film ke-12 dari Joko Anwar ini sukses menggelar world premiere perdana di Berlinale International Film Festival pada bulan Februari kemarin dan mendapat respon sangat positif dari penonton di sana.


Untuk segi cerita, film GHOST IN THE CELL (2026) memadukan tiga genre utama yaitu komedi, horror dan sedikit sentuhan action di dalamnya. Ketiga genre tersebut berhasil disatukan oleh Joko Anwar lewat plot survival para narapidana dan mengungkap misteri sosok gaib yang mengincar nyawa mereka. Jika berkaca pada track record filmography Joko Anwar, penonton pasti punya pemikiran jika elemen horror dan kesan serius akan mendominasi film ini. Namun siapa sangka, Joko Anwar justru menyajikan film GHOST IN THE CELL (2026) penuh dengan komedi satir yang mengkritik kondisi sosial, budaya, politik dan pemerintahan Indonesia saat ini. Tidak tanggung-tanggung hampir semua dialog dari para karakter selalu "ngeri-ngeri sedap" bikin penonton tertawa kencang. Saking ironisnya, kok terlalu relatable dengan kondisi sekarang di Indonesia. Selain melalui celetukan-celetukan "pedas" nya, Joko Anwar juga turut memelesetkan nama-nama besar yang penonton bisa langsung paham itu siapa saja hahaha. Konsistensi jokes yang mengkritik tersebut terasa disepanjang durasi, dari awal sampai akhir film. Untuk sebagian orang, mungkin akan terasa too much karena di beberapa dialog, terlihat so asik sendiri. Apalagi di beberapa adegan yang melibatkan karakter Tokek cukup sensitif karena mengarah ke sexual harrasment.


Ketika elemen horror mulai dimunculkan lewat serangkaian terror kematian, plot cerita tidak langsung menjelaskan apa yang terjadi agar kebingungan dari para karakter napi di penjara tampil believable. Alhasil, penonton jadi dibuat penasaran dengan penyebab semua kekacauan yang terjadi di sana. Ketika para napi menyadari satu-satunya cara untuk mencegah kematian lewat konsep aura dalam diri manusia, plot kembali bersenang-senang lewat kombinasi action dan komedi. Kapan lagi coba bisa melihat para aktor sangar pada gelut sambil melakukan hal-hal konyol wkwkwk. Eksekusi horror nya pun tidak penuh dengan jump scared dan penampakan berkali-kali. Joko Anwar bermain-main dengan elemen gore secara brutal sekaligus artsy. Seperti biasanya, setelah selesai nonton, muncul berbagai pertanyaan menarik yang jadi bahan diskusi panjang dari penonton dan penggemar setia film-filmnya Joko Anwar. Mengapa kematian brutal mereka dibuat artistik layaknya instalasi seni. Apakah sosok gaib yang gentayangan dan balas dendam di sana adalah seorang seniman? Hahaha.
Untuk jajaran pemain, hampir semuanya berhasil memancarkan pesona dan kelebihan mereka masing-masing. Nama-nama aktor yang sering dijuluki "Kartap nya Joko Anwar" selalu konsisten memberikan penampilan terbaik di film GHOST IN THE CELL (2026). Sebut saja, Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Yoga Pratama, Lukman Sardi, Bront Paralae, Morgan Oey, Kiki Narendra, Mike Lucock hingga Aming, mereka semua tampil having fun tanpa jaim sama sekali di film ini. Adegan fighting dan latihan menari jadi salah scene paling lucu! Hahaha.
Untuk urusan visual dan audio, film GHOST IN THE CELL (2026) tampil memukau. Sinematografi khas Joko Anwar semakin didukung dengan artistik dan wardrobe yang keren. Set penjara yang sepertinya masih sama dengan set film PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI (2025) jadi mengingatkanku akan film bertema penjara namun bergenre drama tearjerker yaitu MIRACLE IN CELL NO. 7 (2022) versi remake oleh Falcon Pictures. Hahaha. Untuk sisi efek visual, dari awal sampai pertengahan sih berjalan sangat mulus, namun entah kenapa saat memasuki akhir film, CGI dan visualnya mengalami penurunan, terutama saat adegan fighting melawan para napi preman di Blok K hingga akhir film.
Overall, film GHOST IN THE CELL (2026) berhasil menyajikan cerita komedi, horror yang sangat brutal dalam mengangkat berbagai keresahan dari penonton dan juga Warga Negara Indonesia. Definisi having fun dengan sarkasme yang berkesan!


[9/10Bintang]

Wednesday, 15 April 2026

[Review] The Drama: Ketika Rencana Pernikahan Diiringi Serangkaian Masalah Tak Terduga!

 


#Description:
Title: The Drama (2026)
Casts: Zendaya, Robert Pattinson, Alana Haim, Mamoudou Athie, Hailey Benton Gates, Jordyn Curet, Zoe Winters, Hannah Gross, Sydney Lemmon, Anna Baryshnikov, Michael Abbott, Dee Nelson, Damon Gupton, Ken Cheeseman, Doria Bramante
Director: Kristoffer Borgli
Studio: Square Peg, A24


#Synopsis:
Suatu hari di sebuah cafe di Cambridge, seorang kurator museum asal Inggris bernama Charlie Thompson (Robert Pattinson) berusaha mendekati seorang staff toko buku bernama Emma Harwood (Zendaya) yang sedang membaca buku. Untuk menarik perhatian, Charlie berpura-pura telah membaca salah satu buku. Namun sayang, Emma mengabaikannya. Karena merasa gagal, Charlie kemudian mendatangi Emma dan meminta maaf jika merasa terganggu dengan sikapnya barusan. Emma terkejut lalu menjelaskan jika dirinya tuli di salah satu telinganya sehingga tidak bisa mendengar dengan jelas maksud dari Charlie itu apa. Mereka kemudian berkenalan ulang. Sejak pertemuan awkward tersebut, keduanya menjadi dekat dan berpacaran.




Dua tahun kemudian, Emma dan Charlie memutuskan untuk menikah dengan tenggat waktu menuju hari pelaminan tinggal seminggu lagi. Meskipun terasa serba mendadak, keduanya berusaha mempersiapkan acara pernikahan semaksimal mungkin dengan mengundang sahabat-sahabat mereka yaitu Rachel (Alana Haim) beserta suaminya, Mike (Mamoudou Athie), lalu Misha (Hailey Gates) dan pacarnya, Blake (Michael Abbott) untuk menjadi grooms man dan brides maid. Selain itu, Emma dan Charlie turut mengundang musisi DJ Pauline (Sydney Lemmon) untuk memeriahkan pesta pernikahan mereka. Tak lupa juga merekrut wedding photographer yaitu Frances (Zoe Winters) untuk mengabadikan moment bahagia keduanya.


Suatu malam, Emma dan Charlie tak sengaja memergoki Pauline sedang mengkonsumsi heroin di taman dekat rumah. Charlie kemudian mendatangi Rachel dan Mike untuk mempertimbangkan ulang keterlibatan Pauline di pesta pernikahannya, karena khawatir akan merusak acara pesta. Emma tak tinggal diam, ia justru membela Pauline karena ia meyakini setiap orang pasti pernah melakukan hal buruk dalam hidup mereka. Hal tersebut kemudian memunculkan ide diantara mereka berempat untuk berkata jujur tentang hal buruk apa yang pernah dilakukan. Charlie mengaku jika pernah jadi pelaku cyberbullying ke teman sekelasnya hingga ia pindah rumah. Rachel mengaku pernah mengunci tetangganya yang keterbelakangan mental di lemari semalaman. Kemudian Mike mengaku pernah sengaja berlindung di balik orang lain saat diserang anjing dan orang tersebut terluka. Terakhir, Emma dengan ragu mengaku jika ia pernah berencana melakukan aksi penembakan di sekolah.


Pengakuan Emma tersebut membuat Charlie, Rachel dan Mike terkejut. Bahkan Rachel langsung teringat sepupunya, Samantha (Anna Baryshnikov) yang menjadi korban insiden penembakan dan membuatnya lumpuh. Sejak terbuka dan saling berkata jujur itu, Charlie jadi meragukan dirinya sendiri yang merasa belum sepenuhnya mengenal baik calon istrinya itu. Ketika mereka sedang berduaan, Charlie mendesak Emma untuk berkata jujur tentang masa lalunya. Emma mengaku punya rencana aksi penembakan tersebut karena depresi dan terpengaruh komunitas online yang mengedepankan kekerasan menggunakan senjata. Namun pengaruh tersebut tak berlangsung lama, setelah Emma melihat secara langsung dampak negatif dari penembakan massal terhadap komunitasnya. Emma memutuskan untuk meninggalkan segala aktivitas berbahaya itu dan kini menjadi aktivis di komunitas pengendalian senjata dari tangan masyarakat dan punya banyak teman.


Setelah saling terbuka satu sama lain, muncul rasa khawatir dalam diri Emma dan Charlie. Keduanya jadi punya opini serta pandangan berbeda yang menyebabkan hubungan menjadi sedikit renggang. Selain itu, Emma semakin sering mengalami mimpi buruk yang berkaitan dengan masa lalunya. Sementara itu, Charlie jadi sering paranoid dengan kondisi mental calon istrinya itu yang pernah terobsesi dengan berbagai senjata api. Meskipun demikian, keduanya tetap melanjutkan rencana pernikahan.
Semakin dekat dengan hari pernikahan, Charlie berusaha meyakinkan dirinya untuk tetap lanjut menikah atau tidak kepada orang-orang disekitarnya. Charlie menanyakan pada rekan kerjanya yaitu Misha (Hailey Gates) tentang reaksi bagaimana jika punya pacar yang memiliki masa lalu pernah merencanakan aksi penembakan di sekolah. Misha pun dengan tegas mengatakan jika pacarnya, Blake (Michael Abbott) melakukan hal tersebut, ia langsung melaporkannya ke polisi. Mendengar reaksi Misha tersebut membuat Charlie semakin putus asa dan sedih untuk mengambil keputusan. Karena saling curhat tersebut, Charlie terbawa suasana sambil melepas pakaian dan menciumi Misha. Untungnya mereka berdua langsung sadar dan menghentikannya. Charlie dan Misha sepakat untuk tidak menceritakan apa yang mereka lakukan pada Emma dan juga Blake.


Hari pernikahan Emma dan Charlie pun tiba. Rachel memberikan pidato pernikahan untuk kedua mempelai secara blak-blakan setelah persahabatannya dengan Emma merenggang. Tak hanya itu saja, Emma tak sengaja mendengar obrolan dari tamu undangan lain perihal rencana penembakan sekolah yang ia lakukan di masa lalu dan langsung melaporkannya pada sang suami. Charlie pun langsung mendatangi Misha dan terjadi miskomunikasi yang membuka kejadian Charlie dan Misha hampir saja bercumbu beberapa sebelum acara pernikahan. Bagaimana nasib pernikahan Emma dan Charlie?


#Review:
Awal bulan Desember kemarin, para pecinta film dikejutkan dengan munculnya artikel pengumuman di surat kabar The Boston Globe tentang tunangan dan rencana pernikahan dengan foto terlampir aktris Zendaya dengan Robert Pattinson. Seperti yang kita ketahui, Zendaya adalah pacar dari Tom Holland dan sudah menjalani hubungan sejak tahun 2021 lalu. Selama lima tahun terakhir pun keduanya nampak harmonis dan tidak ada issue mereka putus. Tapi kok, tiba-tiba Zendaya tunangan dengan Robert Pattinson? Setelah ditelusuri, rupanya artikel berita tersebut adalah gimmick promosi untuk project film drama produksi A24 yang berjudul THE DRAMA (2026) yang disutradarai oleh Kristoffer Borgli.


Untuk segi cerita, film THE DRAMA (2026) diawali dengan scene manis dan menggemaskan yang sering sekali kita temukan di film atau series drama romantis. Pertemuan tak sengaja antara Emma dan Charlie tersebut kemudian berlanjut sampai dua tahun dan menjadi pondasi untuk hubungan mereka ke arah yang lebih serius lagi. Memasuki babak pertengahan film, barulah sang sutradara banting setir genre dan suasana yang tadinya serba menggemaskan jadi thriller psikologis. Moment jujur-jujuran dengan sahabat sebelum menikah yang akhirnya membuka masa lalu dari masing-masing karakter secara mengejutkan. Borgli mengeksplorasi masa lalu versus identitas masa kini dari karakter Emma Harwood yang mendapatkan social judge gara-gara pernah punya niatan untuk melakukan aksi penembakan di sekolah. Padahal Emma sendiri sama sekali tidak melakukannya, namun sudah diperlakukan seperti penemabakan itu benar-benar kejadian. Hal inilah yang menjadi kritik sosial atas fenomena sikap social judge yang sering kita temukan di kehidupan sekitar. Llemen mimpi buruk Emma dan obsesi visual Charlie terhadap senjata untuk menciptakan atmosfer yang mencekam. Adegan pernikahan di babak ketiga adalah puncak dari segala kecanggungan. Alih-alih menjadi momen bahagia, pernikahan tersebut menjadi ajang penghancuran karakter di depan publik. Pidato Charlie yang berniat membela Emma namun malah membongkar perselingkuhannya sendiri adalah momen komedi satir bagi penonton yang menyaksikannya.
Untuk jajaran pemain, Zendaya memberikan penampilan yang sangat berbeda dari film atau series yang pernah ia mainkan. Sebagai Emma, Zendaya harus memerankan karakter yang terjebak dalam rasa bersalah masa lalu sekaligus rasa sakit karena dihakimi oleh orang-orang yang ia cintai. Ia berhasil menampilkan sosok yang rapuh namun tetap defensif. Keheningan Emma di paruh kedua film terasa sangat berat dan emosional. Robert Pattinson memerankan Charlie dengan energi yang sangat tidak stabil. Penonton diajak melihat transisinya dari seorang tunangan yang suportif menjadi pria yang paranoia dan akhirnya melakukan tindakan destruktif yaitu berselingkuh dengan karakter Misha. Lalu, Alana Haim menunjukkan jangkauan akting yang semakin memukau sebagai Rachel. Haim memerankan Rachel dengan sikap yang angkuh, merasa paling benar, dan sangat menghakimi Emma. Definisi toxic friend yang bersembunyi di balik dinding moralitas wkwkwk!
Overall, film THE DRAMA (2026) yang awalnya dibuka dengan drama romantis dari pacaran menuju rencana pernikahan kemudian menjadi sebuah studi karakter yang provokatif tentang penghakiman sosial dan kemunafikan manusia. Keren!


[8.5/10Bintang]

Saturday, 11 April 2026

[Review] Project Hail Mary: Perjalanan Antariksa Untuk Menyelamatkan Matahari Agar Tidak Redup!

 


#Description:
Title: Project Hail Mary (2026)
Casts: Ryan Gosling, James Ortiz, Sandra Huller, Lionel Boyce, Milana Vayntrub, Ken Leung, Priya Kansara, Mia Soteriou, Annalle Olaleye, Maya Eva Hosein, Bastian Antonio
Director: Phil Lord, Christopher Miller
Studio: Lord Miller Productions, Pascal Pictures, Sony Pictures


#Synopsis:
Para peneliti dan ilmuwan internasional kini sedang mengamati secara intens perihal energi yang dikeluarkan oleh Matahari mulai meredup. Fenomena tersebut terjadi karena munculnya garis inframerah yang disebut dengan garis Petrova dan kemudian mengarah pada planet Venus. Jika tidak ditangani secara serius, dalam kurun waktu 30 tahun kedepan, redupnya energi Matahari akan berdampak terhadap planet lain termasuk Bumi. Jika tidak segera ditangani, akan menyebabkan penurunan suhu di permukaan bumi secara drastis dan mengancam umat manusia.



Eva Stratt (Sandra Huller) sebagai perwakilan dari pemerintah Amerika Serikat dan para ilmuwan dari seluruh dunia sedang meneliti mikroorganisme bernama Astrophage yang terdeteksi berkembang biak di permukaan Matahari. Astrophage bermigrasi secara masif menuju permukaan planet Venus dengan cara memakan karbon dioksida di atmosfer dan menciptakan gas emisi yang disebut sebagai garis Petrova. Garis tersebut dapat dimanfaatkan juga untuk menambah bahan bakar pesawat luar angkasa yang sangat efisien namun menyimpan bahaya juga di dalamnya. Untuk memperbaiki redupnya energi Matahari akibat Astrophage, Stratt dan seluruh ilmuwan internasional menyusun sebuah proyek penyelamatan yang diberi nama Project Hail Mary. Proyek tersebut akan mengirimkan beberapa ilmuwan menuju Tau-Ceti, salah satu bintang di luar angkasa yang belum terpapar mikroorganisme Astrophage.


Hasil penelitian sementara membuktikan jika organisme yang ada permukaan Tau-Ceti dapat memangsa Astrophage. Uji coba pun rutin dilakukan oleh para peneliti dari sample mikroorganisme yang didapatkan dengan harapan bisa meredupkan garis Petrova, sehingga tidak ada celah lagi bagi Astrophage bermigrasi ke mana-mana.
Suatu hari, terjadi sebuah insiden ledakan besar di laboratorium tiga hari menjelang hari peluncuran. Kejadian tersebut menewaskan ilmuwan utama yang memimpin Project Hail Mary. Karena tidak ada waktu lagi untuk memberikan pelatihan kepada orang lain, Eva Stratt memaksa Dr. Ryland Grace (Ryan Gosling), seorang ilmuwan ahli mikroorganisme dan molekuler yang kini berprofesi sebagai guru sekolah untuk mengikuti Project Hail Mary. Stratt sangat yakin Grace bisa diandalkan dalam project ini karena memiliki pengetahuan yang luas di bidangnya.


Waktu terus berlalu. Grace tiba-tiba terbangun dari koma dan mendapati dirinya ada di dalam pesawat luar angkasa Hail Mary. Ditengah kebingungannya itu, perlahan Grace mulai sadar jika ia sudah menjadi bagian dari Project Hail Mary yang saat ini sedang sudah berada sangat jauh dari Bumi, Selain itu, Grace juga menjadi satu-satunya survivor dari tiga awak pesawat yang sudah meninggal. Sambil mengembalikan semua ingatannya, Grace kembali mempelajari tentang garis Petrova, mikroorganisme Astrophage, bintang Tau-Ceti hingga mencari cara agar pesawat Hail Mary bisa pulang secepatnya ke Bumi.



Seiring berjalannya waktu, ingatan Grace perlahan mulai pulih, Grace langsung membawa pesawat Hail Mary menuju bintang Tau-Ceti untuk mendapatkan organisme yang dapat memangsa dan mengendalikan berkembang biaknya Astrophage. Saat mendekati orbit Tau-Ceti, Grace melihat sebuah pesawat luar angkasa lain yang perlahan mulai mendekatinya. Dari pesawat itu, keluar sebuah beberapa bongkahan xenon yang sengaja dilemparkan ke Hail Mary. Grace meyakini jika hal tersebut merupakan upaya komunikasi dari Alien yang ada di dalam pesawat luar angkasa itu. Setelah terlihat aman dan tidak berbahaya, kedua pesawat itu saling merapat dan langsung terhubung oleh sebuah terowongan. Karena penasaran, Grace berjalan menyusuri terowongan tersebut dan bertemu dengan pilot pesawat luar angkasa Alien yang berasal dari sebuah bintang bernama 40 Eridani. Grace kemudian memanggil Alien tersebut dengan nama Rocky (James Ortiz) karena berwujud batu dan berkaki lima. Untuk memperlancar komunikasi antara dirinya dengan Rocky, Grace menciptakan sistem penerjemah ucapan dan suara dari Rocky. Setelah itu, Grace mengetahui jika Rocky juga bernasib seperti dirinya yaitu sama-sama survivor yang sedang berusaha menghentikan migrasi masif dari Astrophage.



Perjalanan eksplorasi bintang Tau-Ceti yang dilakukan Grace dan Rocky menambah pengetahuan baru bagi mereka berdua. Di saat yang bersamaan, Rocky juga mengetahui jika Project Hail Mary yang dijalankan Grace adalah misi bunuh diri, karena bahan bakar pesawat Hail Mary dibuat untuk satu kali perjalanan saja. Berkaca pada kegagalannya dalam menyelamatkan rekan-rekannya, Rocky pun menawarkan bantuan pada Grace dengan memberikan sebagian Astrophage untuk mengisi ulang bahan bakar pesawat Hail Mary agar Grace bisa pulang ke planet Bumi. Setelah berhasil mendapatkan organisme yang diinginkan di bintang Tau-Ceti, mereka kemudian kembali ke garis Petrova untuk mengendalikan Astrophage sekaligus menjadikannya bahan bakar untuk pesawat mereka masing-masing.
Namun sayang, terjadi kebocoran bahan bakar yang mengakibatkan ledakan dan pesawat mereka berputar-putar tanpa henti hingga menyebabkan Grace terluka dan tak sadarkan diri. Rocky tak tinggal diam, ia memecahkan baju luar angkasanya demi menyelamatkan Grace. Bagaimana nasib mereka berdua? Akankah bisa kembali ke planet masing-masing?


#Review:
Semester pertama tahun 2026, industri perfilman Hollywood diramaikan lagi dengan sebuah film sci-fi space terbaru yang berjudul PROJECT HAIL MARY (2026). Film yang diadaptasi dari novel fenomenal berjudul sama karya Andy Weir ini dibintangi aktor peraih empat nominasi Oscars yaitu Ryan Gosling dan disutradarai oleh duo Phil Lord dan Christopher Miller. Menariknya, film PROJECT HAIL MARY (2026) merupakan salah satu film Hollywood yang paling diantisipasi kehadirannya di bioskop di tahun 2026 karena berbagai faktor. Seperti, mendapat skor sempurna di Rotten Tomatoes, Letterboxd dan iMDB, kemudian filmnya menggunakan format Filmed For IMAX dan tayang di IMAX 70MM. Sehingga antusias pecinta film di bioskop langsung tinggi terhadap film ini.


Untuk segi cerita, film PROJECT HAIL MARY (2026) menghadirkan kisah tentang rasa kesepian yang ditinggal sendirian bukan lagi di kantor ataupun rumah, melainkan di pesawat luar angkasa dengan jarak sangatlah jauh dari planet Bumi. Premis ini seketika mengingatkan penonton akan film sci-fi space setipe seperti film GRAVITY (2013) dan film yang dibintangi Matt Damon yaitu THE MARTIAN (2015). Yang menjadi pembeda dan daya tarik luar biasa dari film PROJECT HAIL MARY (2026), yaitu adanya elemen komedi serta menyimpan banyak moment mengharukan di dalamnya. Awalnya aku kira film PROJECT HAIL MARY (2026) akan full serius seperti PROMETHEUS (2012), INTERSTELLAR (2014) atau ARRIVAL (2016), tapi ternyata dugaanku salah besar. Plot penjelasan teknis tentang luar angkasa dan istilah-istilah ilmiah nya sih tetap ada dan cukup mudah diikuti oleh penonton awam yang belum baca bukunya. Eksekusi bagian seriusnya juga terbilang sangat bagus dengan menggunakan treatment cerita maju mundur secara back to back. Yang menjadi bagian terbaik sekaligus emosional bagi penonton ketika plot mulai berfokus pada bonding dan interaksi antara karakter Grace dengan alien batu bernama Rocky. Yap betul! Interaksi manusia dengan alien berwujud batu dalam film ini tampil sangat mengesankan dan membuatku nangis berkali-kali! Tangis haru dari karakter Ryland Grace tersampaikan dengan sangat baik pada penonton. Pokoknya siapkan jiwa dan raga kamu saat film memasuki adegan karaoke sampai film selesai. It's very monumental and full of emotional!



Dua hari berturut-turut nonton PROJECT HAIL MARY (2026) di IMAX nya Cinema XXI Mall Kelapa Gading adalah pengalaman sinematik luar biasa!

Untuk jajaran pemain, sudah jelas bintang utamanya di sini adalah Ryan Gosling. Moment survival dihadirkan penuh jenaka olehnya. Selain itu, rasa kesepian dan akhirnya menemukan partner yang tulus dari karakter Rocky juga tersampaikan dengan luar biasa pada penonton. Thumbs up juga untuk pengisi suara Rocky yaitu James Ortiz serta Sandra Huller yang tampil serius sesuai porsinya di bagian serius dalam film ini. Tanpa bonding chemistry mereka bertiga, film PROJECT HAIL MARY (2026) pasti tidak akan semenyenangkan ini.


Duet sutradara Lord dan Miller membawa energi yang dinamis di segala aspek. Sinematografinya menangkap kemegahan bintang Tau-Ceti dengan sangat indah, namun juga berhasil menangkap klaustrofobia di dalam pesawat Hail Mary. Cahaya-cahaya luar biasa indah serta adegan-adegan yang mayoritas banyak menggunakan praktikal ketimbang CGI, menjadi nilai tertinggi selanjutnya untuk film PROJECT HAIL MARY (2026) ini. Urusan audio dan suara juga patut diacungi jempol, saat adegan-adegan di luar angkasa, kombinasi visual dan audinya sangat spektakuler. Lebih lanjut, proses kreatif untuk menerjemahkan bahasa Rocky yang berbasis frekuensi menjadi sesuatu yang bisa dipahami secara emosional oleh penonton. Overall, film PROJECT HAIL MARY (2026) tidak hanya mengandalkan ledakan atau ancaman berbahaya khas film-film sci-fi space pada umunya. Film ini merayakan optimisme dan keyakinan bahwa dengan kecerdasan, kerja sama, dan pengorbanan, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dipecahkan. Durasi 2 jam 35 menit sama sekali tidak berasa! Keren banget! Salah satu film Hollywood terbaik di tahun ini. No debat!


[10/10Bintang]

Friday, 10 April 2026

[Review] Danur 4 The Last Chapter: Asal-Usul Sosok Gaib Canting Akhirnya Terungkap!

 


#Description:
Title: Danur: The Last Chapter (2026)
Casts: Prilly Latuconsina, Zee Asadel, Dito Darmawan, Lewis Robert, Muhammad Fauzan, Zachary Ayden, Said Darian Rizqi, Fillio Dheno, Dian Nitami, Anya Zen, Gilang Devialdy, Fajar Nugra
Director: Awi Suryadi
Studio: MD Pictures, Pichouse Films


#Synopsis:
Beranjak dewasa, Risa (Prilly Latuconsina) memutuskan untuk menutup mata batinnya dan melepas hubungan bersama kelima teman hantunya yaitu Peter (Lewis Robert), William (Muhammad Fauzan), Hans (Zachary Ayden), Hendrick (Said Darian) dan Janshen (Fillio Dheno). Risa kini hidup normal yang sibuk bekerja sebagai ASN di pemerintahan Kota Bandung dan tak lagi merasakan hal-hal gaib seperti biasanya. Di rumah pun demikian, Risa hidup damai bersama ibunya, Ibu Elly (Dian Nitami) dan sang adik, Riri (Zee Asadel).
Suatu hari ketika sedang latihan balet di gedung kesenian, Riri mendapat kejutan ulang tahun yang sudah dipersiapkan pacarnya, Dimas (Dito Darmawan) dengan dibantu Risa. Di hari istimewanya itu, Riri dilamar oleh Dimas. Meskipun adiknya yang dilamar dan akan menikah duluan, Risa menyambutnya penuh dengan suka cita. Risa dan ibunya tak mempermasalahkan Riri melangkahi kakaknya untuk naik ke pelaminan. Setelah selesai latihan balet, Riri mendapatkan kado kecil berupa tusukan konde berwarna emas dari teman latihan baletnya. Sepulang dari latihan, perangai Riri mendadak berubah. Ia jadi pemurung, pendiam dan selalu mengatakan jika ia tidak mau menikah.
Di sisi lain, Peter dan yang lainnya ternyata masih berada di sekitaran keluarga Risa. Mereka belum sepenuhnya pergi meskipun Risa sudah tidak bisa merasakan lagi keberadaan mereka. Peter dan yang lainnya berusaha mencari cara untuk memberitahu Risa jika adiknya itu sedang diganggu oleh sosok gaib penunggu gedung kesenian bernama Canting (Anya Zen).
Waktu terus berlalu. Sikap Riri semakin lama semakin aneh. Dimas pernah memergoki Riri sedang menari dengan tarian aneh. Saat di rumah, Riri juga sering mengeluh dan semakin tidak ingin menikah dengan alasan akan membawa bencana bagi dirinya. Sementara itu, Risa juga sering mendapat pengelihatan di masa lalu tentang kematian tragis Peter, William, Hans, Hendrick dan Janshen di tangan para penjajah Jepang yang akhirnya kembali membukakan mata batinnya.
Sebelum menentukan tanggal yang baik untuk pernikahan Riri dengan Dimas, Ibu Elly mengundang kerabatnya untuk menggelar acara langkahan bagi Risa. Adat dan budaya tersebut dipercaya akan melindungi rumah tangga sang adik dan juga Risa sekaligus menghindari pamali. Ketika adat langkahan dimulai dengan Risa membasuh kedua kaki adiknya, tiba-tiba saja Riri kerasukan Canting dan berkali-kali menenggelamkan Risa hingga tak sadarkan diri. Dengan bantuan Peter dan yang lainnya, Risa berhasil selamat meskipun kini Riri tiba-tiba saja menghilang.
Setelah mata batinnya terbuka, Risa pun akhirnya bisa melihat lagi Peter, William, Hans, Hendrick dan Janshen. Risa berjanji tidak akan memutus hubungan dengan mereka berlima karena kehadiran mereka justru membantu dan juga melindungi keluarga Risa dari bahaya. Saat menemukan tusukan konde berwarna emas milik adiknya, Risa pun akhirnya bisa melihat masa lalu tragis dari Canting yang menjadi korban KDRT dari suaminya sendiri hingga meninggal ketika sedang hamil tua. Dengan bantuan Peter dan yang lainnya, Riri ditemukan di gedung kesenian dengan kondisi kesurupan Canting. Berhasilkah Risa melenyapkan Canting demi kebahagiaan adiknya?


#Review:
Setelah hampir 10 tahun meramaikan genre horror perfilman Indonesia, rumah produksi MD Pictures resmi mengakhiri franchise film Danur lewat film terbarunya yang berjudul DANUR: THE LAST CHAPTER (2026). Sebagai informasi, film ini menjadi film keempat bagi Danur Series dan film ketujuh dari Danur Cinematic Universe yang sudah eksis sejak tahun 2017.


Untuk segi cerita, film DANUR 4 (2026) kali ini masih seperti tiga film Danur Series sebelumnya yang mengisahkan karakter Risa Saraswati harus melindungi orang-orang disekitarnya dari gangguan mahkluk gaib. Sub judul The Last Chapter yang digunakan dalam film ini menurutku agak sedikit janggal sih, karena jika berfokus untuk farewell antara Risa dengan Peter CS sendiri sudah dilakukan di film DANUR 3: SUNYARURI (2019). Di film keempatnya ini, cerita dan skenario yang kembali ditulis oleh Lele Laila ini memiliki narasi mengungkap terror yang menimpa karakter Riri dan asal-usul dari sosok gaib penghuni gedung kesenian yaitu Canting. Motif dan alasan yang di-reveal di akhir film juga menurutku terlalu main aman. Awi Suryadi dan Lele Laila cenderung lebih suka telling story dengan pengembangan plot sangat sederhana di film keempatnya ini tanpa menghadirkan elemen horror superior khas film-film horror box office hit lokal kebanyakan. Jump scared yang ditebar sebanyak mungkin juga, tidak ada yang memorable buatku. Hampir semuanya predictable. Moment karakter Risa yang mengalami lima kali kematian dari Peter CS tampil dengan eksekusi grande lah yang berhasil membuatku terpukau. Efek visual pergantian dua alam yang dialami Risa juga tampil sangat matang dan setara dengan film-film horror Hollywood.
Untuk jajaran pemain, penampilan Prilly Latuconsina sebagai Risa memang menjadi andalan di film ini, terlepas dari dialog serta gesture nya yang terlalu repetitif, sehingga banyak sekali dialog mubazir baik yang diucapkan Risa maupun Riri, Elly, Dimas dan Peter CS. Keputusan recast yang lagi dan lagi dilakukan MD Pictures membuat sensasi nostalgia jadi berantakan. Karakter Riri sudah melekat dengan Sandrinna Michelle, kemudian perbedaan kreatif dari sosok Canting yang sebelumnya penari bergaya konde dan diperankan oleh Dea Panendra di post credit scene DANUR 2 MADDAH (2018), jadi berubah dengan visual rambut berantakan serta berwajah seram yang diperankan Anya Zen.
Overall, film DANUR 4: THE LAST CHAPTER (2026) cukup berhasil melengkapi semua pertanyaan tentang asal-usul Peter CS dan juga Canting meskipun tidak terlalu mengesankan.


[7/10Bintang]

Wednesday, 25 March 2026

[Review] The History of Sound: Kisah Cinta Dua Mahasiswa Yang Sangat Mencintai Folk Music!



#Description:
Title: The History of Sound (2025)
Casts: Paul Mescal, Josh O'Connor, Molly Price, Chris Cooper, Raphael Sbarge, Hadley Robinson, Emma Canning, Emily Bergl, Brianna Middleton, Gary Raymond, Alison Bartlett
Director: Oliver Hermanus
Studio: Closer Media, Film4, Tango Entertainment, Fat City, Mubi, Universal Pictures


#Synopsis:
Saat sedang menghabiskan malam bersama teman-teman kampusnya di sebuah bar, Lionel Worthing (Paul Mescal) tak sengaja mendengar lantunan suara piano serta nyanyian folk music dari seorang pria di ruangan sebelah. Lionel kemudian menghampirinya. Pria tersebut bernama David White (Josh O'Connor) yang ternyata mahasiswa di kampus yang sama dengan Lionel yaitu di New England Conservatory of Music (NEC). Setelah mengetahui punya selera musik yang sama, mereka berduet menyanyikan lagu folk music dan disambut meriah oleh para pengunjung bar lain sambil bernyanyi bersama-sama. Setelah selesai dari bar, David meminta Lionel untuk menemaninya pulang ke rumah dengan alasan mabuk. Tiba di rumah, mereka berdua langsung melakukan hubungan yang lebih intim lagi. Sejak saat itu, hubungan mereka berdua semakin dekat. Lionel sering menghabiskan waktu bersama di rumahnya David sambil bertukar ide untuk menulis lagu-lagu bertema folk musik.
Seiring berjalannya waktu, Perang Dunia I terjadi. Kampus NEC ditutup. David direkrut menjadi tentara bersama beberapa mahasiswa lain. Sementara itu, Lionel pulang ke rumahnya di Kentucky dan memutuskan berhenti kuliah serta meninggalkan dunia musik untuk menemani sang ibu (Molly Price) sambil mengurus lahan pertanian milik keluarga setelah ayahnya meninggal.
Dua tahun berlalu. Lionel mendapat kiriman surat dari David yang mengabari jika ia akan segera pulang dari Eropa dan kini ia bekerja di sebuah perguruan tinggi di daerah Maine. Selain itu, David juga berencana akan melakukan perjalanan ke berbagai wilayah mengumpulkan folk music dari warga menggunakan Wax Cylinders dan meminta Lionel untuk membantunya. Sebelum pergi menemui David, Lionel sudah mempersiapkan berbagai kebutuhan pokok di rumah untuk sang ibu dan juga kakeknya. David dan Lionel akhirnya bertemu lagi setelah bertahun-tahun berpisah. Mereka kembali menjalin cinta ditengah perjalanan merekam lagu-lagu folk music dari berbagai kalangan ke berbagai daerah. Selama perjalanan tersebut, David tak ingin menceritakan pengalamannya sebagai tentara pada Lionel dengan alasan membosankan. David pun bertanya apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh Lionel setelah semua ini selesai. Lionel berharap bisa tetap bersama dengan David dan tinggal di Maine. Namun David menyarankan Lionel untuk mengeksplorasi dunia dan musik lebih luas lagi daripada harus bekerja dengannya. Setelah menyelesaikan project folk music, mereka berpisah lagi. David kembali pulang ke Maine untuk bekerja. Sementara itu, Lionel pergi mengejar mimpinya ke Eropa.
Empat tahun berlalu, Selama tinggal di Roma, Lionel selalu mengirimkan surat pada David. Namun pada akhirnya ia memutuskan berhenti mengirimkan surat karena tidak pernah mendapat respon dari David. Di Roma Lionel sempat menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Vincent (Alessandro Bedetti), namun hubungan tersebut berakhir tidak baik karena perbedaan selera musik serta mengambil pekerjaan di Universitas Oxford. Setahun bekerja sebagai konduktor paduan suara di kampus, Lionel menjalin hubungan dengan muridnya yaitu Clarissa Roux (Emma Canning). Selama mereka berpacaran, Lionel sering diajak mengunjungi keluarga Clarissa yang ternyata keluarga konglomerat dan tinggal di pedesaan terpencil di Roma. Namun sayang, hubungan kali ini kembali berakhir karena Lionel masih belum bisa melupakan David serta harus segera pulang ke Amerika Serikat setelah mendapat kabar ibunya sakit parah.
Setelah ibunya meninggal, Lionel memutuskan pergi ke Maine untuk mencari David. Tiba di salah satu kampus musik, David mendapat kabar mengejutkan. David sudah meninggal beberapa tahun lalu dan semua perjalanan merekam folk music ke berbagai daerah yang David lakukan bersama Lionel bukanlah tugas dari kampus, melainkan ide pribadi dari David. Wax Cylinders yang dikumpulkan pun kini tidak tahu keberadaannya dimana. David kemudian mendatangi rumah David dan bertemu dengan istrinya yaitu Belle Sinclair (Hadley Robinson) yang sudah menikah lagi. Belle kemudian menceritakan jika ia sudah mengetahui siapa Lionel sebenarnya dan memiliki hubungan dengan David. Belle juga mengatakan jika David meninggal bukan bunuh diri, melainkan karena menderita trauma akut pasca perang yang tidak pernah diceritakan pada Lionel. Setelah mengetahui fakta pedih tersebut, Lionel mengunjungi tempat-tempat favorit David semasa muda dan menumbuhkan lagi semangat untuk menulis lirik lagu.
Seiring berjalannya waktu, Lionel Worthing dikenal sebagai seorang etnomusikolog dan juga penulis buku. Hingga suatu ketika, ia mendapat kiriman paket yang berisikan tabung-tabung Wax Cylinders termasuk rekaman suara dari David yang dibuat di hari kematiannya. Dalam rekaman tersebut, David meminta maaf dan berterima kasih pada Lionel atas waktu yang mereka lalui bersama sambil menyanyikan lagu "Silver Dagger", lagu yang Lionel nyanyikan untuk David saat pertama kali mereka bertemu.


#Review:
Sutradara keturunan Afrika Selatan yaitu Oliver Hermanus menghadirkan film bertema LGBT yaitu THE HISTORY OF SOUND (2026) yang diadaptasi dari cerita pendek berjudul sama karya Ben Shattuck. Menariknya, film ini tayang perdana di Cannes 2025 pada bulan Mei tahun lalu dan berhasik masuk nominasi untuk kategori Queer Palm dan Palm d'Or. Selain itu, film ini juga punya dua nama besar aktor yang sedang naik daun di Hollywood yaitu Paul Mescal dan Josh O'Connor.


Untuk segi cerita, film THE HISTORY OF SOUND (2026) menyajikan kisah cinta antara Lionel dengan David secara melankolis, indah dan juga puitis. Hal tersebut didukung dengan latar cerita film menggunakan waktu era Perang Dunia 1 hingga tahun 1980an, sehingga setiap dialog baku dan nyanyian folk music yang dilantunkan terasa magis bagi penonton. Harus diakui, tempo dari plot film ini terasa cukup lambat dan terasa membosankan karena minimnya konflik. Setiap perpisahan yang terjadi diantara karakter Lionel dan David pun terjadi secara mengalir, tanpa adanya adegan menguras emosional penonton. Namun jika berkaca pada latar cerita yang disajikan film ini, keputusan hubungan mereka berdua dibuat discreet pun bisa kita maklumi, karena yaa di jaman itu LGBT masih dianggap tabu di sana. Alur cerita perjalanan asmara karakter Lionel dan David yang membentang dari tahun 1917 hingga 1980 memberikan perspektif yang luas tentang arti dari kehilangan, penyesalan, dan bagaimana cinta yang tak terselesaikan dapat menghantui seseorang seumur hidup. Hal tersebut berhasil tersampaikan dengan sangat baik kepada penonton lewat kedua karakter utama dalam film ini.
Untuk jajaran pemain, big applause tentunya harus penonton berikan pada duet Paul Mescal dan Josh O'Connor. Pesona mereka berdua sangat memikat satu sama lain. Paul Mescal kembali menunjukkan kelasnya dalam memerankan karakter yang memendam kesedihan mendalam tanpa harus berlebihan dalam mengungkapkannya. Josh O'Connor memberikan penampilan yang sangat rapuh. Ia berhasil menggambarkan dualitas seorang pria yang jatuh cinta namun perlahan terkikis oleh trauma pasca-perang yang tak terlihat. Selain mereka berdua, elemen musik dan lagu yang hadir di film ini juga surprisingly menambah kekuatan untuk plot dan juga para karakter. Lagu-lagu folk music seperti "The Unquiet Grave" dan "Silver Dagger" tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi sebagai jembatan komunikasi antara Lionel dan David dalam mengungkapkan isi hati mereka masing-masing. Sangat manis, indah dan berakhir dengan bittersweet!


[8/10Bintang]