Thursday, 25 June 2026

[Review] Power Ballad: Drama Musikal Ringan Tentang Dua Musisi Rebutan Hak Cipta Lagu!

 


#Description:
Title: Power Ballad (2026)
Casts: Paul Rudd, Nick Jonas, Peter McDonald, Marcella Plunkett, Beth Fallon, Jack Reynor, Havana Rose Liu, Rory Keenan, Paul Reid, Keith McErlean, Sophie Vavasseur, Emma Rose Creaner, Robert Mitchell, Juliette Crosbie
Director: John Carney
Studio: 30West, Screen Ireland, Likely Story, Lionsgate


#Synopsis:
Rick Power (Paul Rudd) adalah vokalis dari grup band spesialis untuk acara pernikahan yang berbasis di Dublin, Irlandia. Grup band yang diberi nama The Bride & Groove ini terpaksa mengubur mimpi mereka untuk menjadi bintang musik di Amerika Serikat setelah Rick mengambil keputusan menikah dengan orang Irlandia yaitu Rachel (Marcella Plunkett) dan menetap tinggal di sana setelah dikaruniai seorang anak perempuan bernama Aja (Beth Fallon). Setiap The Bride & Groove manggung di acara pernikahan, Rick selalu menyempatkan untuk membawakan lagu pop rock mereka. Namun sayang, respon dari personel band lain tidak setuju karena lagu-lagu band mereka mayoritas tidak laku dipasaran dan tidak diketahui juga oleh banyak orang. Alhasil, setiap mereka manggung, lagu-lagu populer dan mainstream saja yang dinyanyikan.
Suatu hari, The Bride & Groove mendapat undangan untuk tampil di pesta pernikahan George (Robert Mitchell) dan Barbara (Juliette Crosbie), yang diselenggarakan di sebuah kastil. Ketika Rick dan band nya sedang tampil, George memberi kejutan tamu undangan dengan menghadirkan temannya yaitu Danny Wilson (Nick Jonas), penyanyi muda terkenal yang sedang berencana untuk membuat debut album setelah menuai kesuksesan dalam sebuah grup boy band. The Bride & Groove awalnya menyepelekan dan memandang sebelah mata musikalitas dari para penyanyi di era modern ini karena semuanya terasa serba instan. Namun saat George meminta Danny untuk naik ke atas panggung dan berduet dengan The Bride & Groove, semua anggapan tersebut sirna. Rick dan yang lainnya terpukau dengan penampilan Danny yang bisa berkolaborasi sangat baik dengan mereka. Video duet Danny dengan The Bride & Groove yang direkam oleh para tamu undangan pun menjadi viral di sosial media.
Setelah pesta pernikahan selesai, malam harinya Rick tak sengaja bertemu lagi dengan Danny yang sedang menikmati suasana kastil. Karena memiliki passion yang sama dalam dunia musik, Danny mengajak Rick untuk masuk ke kamarnya dan memperlihatkan jika dirinya sedang menggarap album debutnya. Sepanjang malam itu, mereka minum, menghisap ganja, dan saling berbagi musik, aransemen dan lirik lagu. Rick kemudian menyanyikan sebuah lagu orisinal yang ia tulis sendiri berjudul "How to Write a Song (Without You)". Danny sangat terpukau dengan musikalitas Rick yang masih kuat meskipun kini hanya berprofesi sebagai grup band spesialis acara pernikahan saja. Keesokan harinya, Danny langsung kembali ke Los Angeles, Rick dan teman satu band nya kembali pulang ke Irlandia dengan mengendarai mobil van. Saat akan keluar dari kastil, Rick mendapat kado istimewa dari Danny berupa gitar klasik yang bernilai mahal sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk berbagi ilmu dan musik kemarin malam.
Tiba di Los Angeles, Danny bertemu dengan produsernya yaitu Mac Darling (Jack Reynor) dan langsung mengkritik lagu-lagunya karena dianggap terlalu pasaran. Demi mencari inspirasi baru, Danny memutar lagu Rick yang kemudian tidak sengaja terdengar oleh kekasihnya, Marcia (Havana Rose Liu). Setelah Danny selesai menyanyikannya, Marcia terpukau dengan aransemen serta lirik dari lagu tersebut. Marcia kemudian mendorong Danny untuk merekamnya dan merilisnya karena ia yakin lagu tersebut akan meledak di pasaran.
Enam bulan berlalu. Danny Wilson resmi merilis debut album berjudul "Evolve" dengan single perdananya yang berjudul "How to Write a Song (Without You)". Sesuai prediksi Marcia, lagu tersebut menjadi hit dan No. 1 di berbagai platform musik dan berhasil ditonton ratusan juta viewers di YouTube. Di sisi lain, Rick yang sedang berbelanja di mall, ia mendengar lagunya diputar namun dengan suara Danny Wilson. Rick mencoba meyakinkan diri dan orang-orang disekitarnya bahwa dialah yang menulis lagu tersebut. Namun sayang, Rick tidak bisa membuktikannya karena saat ia menyanyikan lagu tersebut di hadapan Danny, tidak orang lain dan tidak ada rekaman apapun untuk memperkuat keyakinannya. Rick berusaha menghubungi Danny dan juga pihak label namun tidak mendapat respon sama sekali.
Mac pun tak tinggal diam. Ia menemui Danny yang sedang syuting Music Video lagunya untuk mengkonfirmasi terkait tuduhan Rick. Mac lega setelah mendapat penjelasan Danny yang mengatakan jika saat sesi berbagi musik dan aransemen di pernikahan George kala itu, tidak ada saksi maupun bukti kuat tentang kepemilikan lagu tersebut ada di tangan Rick.
Karena sangat ingin mendapatkan pengakuan atas karyanya, Rick meyakinkan rekan bandnya, Sandy (Peter McDonald) untuk ikut terbang bersamanya ke Los Angeles. Keduanya nekat menghadiri konser World Tour nya Danny Wilson yang bertajuk "Evolve" dengan menggunakan uang tabungan mereka. Rick masih percaya jika Danny masih mempunyai rasa respect dan tidak akan menghindarinya. Berhasilkah Rick Power untuk mendapatkan pengakuan atas karya lagunya kepada Danny Wilson?


#Review:
Sutradara John Carney yang dikenal sebagai spesialis film-film bertema drama musikal kembali hadir dengan film terbarunya berjudul POWER BALLAD (2026). Yang menjadi daya tarik dari film ini yaitu sang sutradara menggandeng dua nama aktor besar Hollywood yaitu Scott Lang Paul Rudd dan Nick Jonas, penyanyi sekaligus personel dari grup musik The Jonas Brother.


Untuk segi cerita, film yang naskah cerita dan skenarionya ditulis oleh John Carney beserta Peter McDonald ini berhasil menyajikan komedi-drama musikal yang segar, emosional, sekaligus menyentil realitas industri musik modern. Film ini dengan cerdas mengontraskan dua dunia yang bertolak belakang dari Rick Power seorang vokalis band pernikahan lokal yang telah mengubur mimpi besarnya demi keluarga dan Danny Wilson mantan bintang boy band yang sedang berjuang mempertahankan eksistensinya di dunia musik sebagai solois. Premis perselisihan hak cipta sebuah lagu orisinal di antara keduanya menjadi konflik cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat akan konflik ego dan pencarian jati diri. Kekuatan utama film ini terletak pada chemistry yang dinamis sekaligus kontras performa yang luar biasa dari kedua pemeran utamanya. Paul Rudd berhasil keluar dari zona nyaman karakter komedi romantisnya yang biasa. Ia menampilkan akting memukau sebagai seorang ayah yang frustrasi, keras kepala, namun memiliki hati yang luar biasa lembut. Di sisi lain, Nick Jonas tampil sangat meyakinkan sebagai pop star yang sedang putus asa dan berada di zona abu-abu karena menjadi seorang musisi yang terdesak oleh tuntutan label dan industri musik. Apresiasi selanjutnya harus diberikan pada John Carney yang berhasil menjaga ritme cerita tetap seimbang, berpindah dari momen-momen komedi ke drama keluarga yang mengharukan dengan sangat mulus. Aspek musikal dalam film ini pun digarap dengan sangat serius. Lagu tema utama yang diperebutkan benar-benar terdengar seperti sebuah lagu hit yang emosional, membuat penonton memahami mengapa kedua karakter tersebut rela mempertaruhkan segalanya demi lagu tersebut.
Overall, film POWER BALLAD (2026) jadi tontonan hangat dan lucu dengan akhir yang menyentuh hati. Film ini tidak hanya berbicara tentang siapa yang menang atau kalah dalam perebutan hak cipta, melainkan tentang bagaimana seseorang berdamai dengan takdir dan menemukan kembali apa yang benar-benar berharga dalam hidupnya. Bagi pencinta film drama musikal yang kaya akan pesan moral, penampilan apik dari duet Rudd dan Jonas ini jelas menjadi sebuah tontonan yang tidak boleh terlewatkan!


[8.5/10Bintang]

Wednesday, 24 June 2026

[Review] Saat Aku Bersuara: Ketika Penyintas Kekerasan Seksual Bersatu Menegakkan Keadilan!

 


#Description:
Title: Saat Aku Bersuara (2026)
Casts: Marshanda, Cut Mini, Teuku Rifnu Wikana, Hana Malasan, Rini Yulianti, Lukman Sardi, Ibnu Jamil, Nino Fernandez, Lydia Kandou, Unique Priscilla, Georgina Andrea, Omar Daniel, Bara Valentino
Director: Sonu Samtani
Studio: Arjuna Mega Films, Rain Creation, Lex Pictures


#Synopsis:
Kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang perempuan bernama Riana (Hana Malasan) yang menjadi korban oleh teman dekatnya sendiri yaitu Alex (Omar Daniel). Setelah mengalami trauma berat dan kesedihan luar biasa selama beberapa minggu, Riana dengan didampingi ibunya melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.
Saat proses persidangan, kuasa hukum dari pihak Alex yaitu Pak Rudi (Lukman Sardi) dan timnya berusaha agar Alex tidak terjerat hukum karena terdapat bukti dan saksi mata jika Riana dan Alex memang suka sama suka serta dibawah pengaruh minuman beralkohol. Ditambah lagi, hasil pemeriksaan visum dan medis yang dilampirkan Riana tidak valid karena tidak langsung dilakukan setelah kejadian pemerkosaan. Mendengar hal tersebut membuat Riana semakin sakit hati dan sedih karena memang Alex memperkosanya secara paksa ketika akan mengantarkannya pulang ke rumah. Pengadilan pun menyatakan Alex tidak bersalah dan terbebas dari jeratan hukum.
Pihak keluarga Alex yang berasal dari kalangan pejabat mengucapkan terima kasih dan memberikan honor yang tinggi pada Pak Rudi atas perjuangannya menyelamatkan Alex dari pengadilan. Melihat hukum dapat dibeli dengan uang membuat salah satu pengacara yang mendampingi Pak Rudi yaitu Nadia (Marshanda) resah. Sebagai seorang perempuan, ia ikut merasa sedih dengan apa yang dialami oleh Riana. Namun ia pun tak bisa berbuat banyak karena masih bekerja di kantor pengacaranya Pak Rudi.


Ditengah kesibukannya sebagai seorang pengacara muda, Nadia juga sedang mempersiapkan rencana pernikahannya dengan sang kekasih yaitu Reza (Nino Fernandez). Berbagai persiapan sudah berjalan termasuk gaun pengantin yang dirancang khusus oleh sahabatnya Nadia sejak kecil yaitu Andien (Rini Yulianti). Ibu (Cut Mini) dan Ayah (Teuku Rifnu Wikana) nya Nadia ikut berbahagia melihat anak semata wayang mereka akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.
Suatu hari setelah selesai bekerja, Nadia mendapat telepon dari Andien jika gaun pengantin yang sempat mereka fitting sudah jadi. Dalam perjalanan mengantarkan gaun tersebut ke rumah Nadia, ban mobil yang dikendarai Andien tiba-tiba bocor terkena ranjau paku. Andien kemudian menelepon dan mengirimkan share location pada Nadia. Tak lama setelah itu, dua orang preman dengan wajah tertutup menghampiri Andien dan berusaha menyerangnya. Beruntung, Nadia sudah dekat dan langsung menabrak mereka. Andien berhasil masuk ke dalam mobil bersama Nadia. Dalam keadaaan panik, Nadia tidak bisa mengontrol laju mobil hingga menabrak lagi pembatas jalan. Nadia dan Andien langsung keluar dari mobil untuk menyelamatkan diri. Dua preman tadi kembali mengejar. Andien berhasil naik ke atas jembatan lintasan kereta api. Sementara itu, Nadia ke arah lain menuju kolong jembatan yang gelap dan banyak limbah sampah. Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan. Dua preman tadi kini mengejar Nadia saja. Meskipun sudah berkali-kali berhasil menghindari kejaran mereka, energi Nadia semakin terkuras habis hingga akhirnya ia terjatuh dan ditangkap oleh kedua preman tersebut. Selain dipukul dan disiksa hingga mukanya penuh dengan luka, Nadia juga diperkosa hingga tak sadarkan diri. Kejadian tersebut membuat Nadia trauma berat dan menangis histeris. Setelah proses visum ke rumah sakit dengan ditemani Andien, Nadia pulang ke rumah dengan kondisi hancur. Ibu dan Ayah sangat terkejut saat Andien menjelaskan kejadian tragis yang menimpa Nadia. Selain itu, rencana pernikahannya pun dibatalkan karena Reza butuh waktu untuk memproses atas kejadian tragis tersebut.
Hari demi hari terus berlalu. Nadia yang terpuruk dan masih trauma berat memutuskan untuk menata kembali hidupnya. Ia tak ingin terus-terusan tenggelam dalam kejadian mengerikan itu. Nadia menuliskan pengalaman buruknya tersebut melalui blog dan mengajak semua korban kekerasan seksual untuk berani speak-up, serta menegakkan keadilan untuknya. Blog milik Nadia kemudian menjadi viral dan diketahui juga oleh rekan kerjanya di kantor. Pak Rudi menyayangkan keputusan Nadia yang menceritakan pengalaman buruknya jadi korban pemerkosaan di blog, karena mengancam reputasi dan kepercayaan para kliennya yang mayoritas dari kalangan pejabat dan juga pengusaha. Nadia mengambil keputusan untuk resign dari kantor dan tidak mau lagi berurusan dengan Pak Rudi.
Setelah resign, Nadia menyusun rencana untuk melakukan sebuah gerakan menegakkan keadilan bagi para perempuan yang mengalami kekerasan seksual. Meskipun ditentang oleh ayahnya, Nadia tetap melanjutkan misinya ini dan memilih keluar dari rumah. Bersama dengan Andien, mereka menyusun dan mencari informasi tentang kasus-kasus kekerasan seksual dalam beberapa tahun terakhir dengan dibantu juga oleh Adrian (Ibnu Jamil), pengacara yang selama ini dikenal selalu berpihak pada korban kekerasan seksual di pengadilan. Selain itu, Nadia, Andien dan Adrian juga kedatangan Riana yang ingin berkontribusi dalam gerakan tersebut setelah ia diusir oleh ibunya sendiri dari rumah.
Gerakan menegakkan keadilan yang diberi nama "Silence" semakin mendapat banyak perhatian dari banyak orang. Tak sedikit juga dari masyarakat yang ikut bergabung dengan gerakan yang dibangun oleh Nadia ini. Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh gerakan "Silence" pun menjadi headline berita di televisi karena melibatkan ribuan peserta. Ditengah kesibukannya menyuarakan keadilan bagi para penyintas kekerasan seksual, Nadia dan seluruh anggota gerakan "Silence" digemparkan lagi dengan kabar kasus pemerkosaan terhadap seorang DJ dan model yaitu Aura (Georgina Andrea) yang mengalami koma serta banyak luka berat di sekujur tubuhnya. Ibu (Unique Priscilla) dari Aura berjuang mencari keadilan untuk anaknya meskipun harus berhadapan dengan tersangka yaitu Marcel (Bara Valentino Peter) yang orangtuanya berasal dari kalangan pejabat. Berhasilkah Nadia dan gerakan "Silence" nya melindungi dan menegakkan keadilan untuk Aura?


#Review:
Aktris multitalenta Marshanda kembali meramaikan industri perfilman dengan membintangi film terbaru yang berjudul SAAT AKU BERSUARA (2026). Film yang kabarnya sudah selesai syuting sejak 5-6 tahun lalu ini menceritakan tentang perjuangan para penyintas kekerasan seksual dalam mendapatkan keadilan hukum.


Film langsung dibuka dengan disclaimer dan himbauan kepada penonton karena menampilkan adegan kekerasan seksual secara eksplisit didalamnya. Aku kira adegan trigger tersebut cuma satu dan sebentar, tapi ternyata, ada tiga adegan eksplisit dan screen time nya pun panjang. Di satu sisi, keputusan dramatisasi yang dilakukan sang sutradara dan penulis naskah yaitu Tisa TS ini memang cukup penting untuk menggambarkan jika hal tersebut akan menciptakan trauma berat bagi korban. Namun di sisi lainnya, screen time dan penggambarannya yang terlalu detail ini justru membuat penonton jadi tidak nyaman melihatnya. Ditambah lagi, penggambaran narasi berita dan korban-korban lain yang akhirnya berani speak-up melalui video terasa eksploitatif sekali. Belum lagi beberapa dialog, gesture dan blocking yang dihadirkan terlalu sinetron banget sehingga terkesan kurang believable. Terlepas dari hal tersebut, film SAAT AKU BERSUARA (2026) berhasil menciptakan plot soal women support women yang sangat kuat. Penonton bisa melihat secara nyata gerakan "Silence" yang dibangun penuh susah payah oleh karakter Nadia ini perlahan tapi pasti mulai berdampak ke segala sektor.


Journey karakter Nadia sebagai seorang pengacara muda kemudian hancur menjadi korban, lalu mengambil sikap untuk bangkit, tidak mau bungkam dan ingin membantu perempuan-perempuan di luar sana yang bernasib seperti dirinya untuk mendapat keadilan berhasil menguras emosional penonton. Ketulusan dari Nadia sangat nyata dan hal tersebut berhasil dilakukan oleh Marshanda yang memang selama ini dikenal juga sebagai aktivis perempuan di sosial media. Issue yang diangkat film ini menjadi relevan dengannya. Yang tak kalah menarik, film SAAT AKU BERSUARA (2026) juga turut menyentil kritik sosial terhadap budaya patriarki pada pria yang selalu menganggap perempuan itu lemah dan tidak bisa melawan. Keputusan tegas yang diambil karakter Nadia terhadap pacar dan ayahnya membuktikan jika perempuan bisa mengambil keputusan berani untuk dirinya sendiri.
Untuk jajaran pemain, penampilan Marshanda menjadi yang paling all out dari film ini. Jiwa aktivis dan ketegasannya Nadia memang 11-12 seperti Marshanda di kehidupan nyata. Hana Malasan, Georgina Andrea, Rini Yulianti, Cut Mini, Unique Priscilla, Lydia Kandou, Ibnu Jamil hingga Teuku Rifnu Wikana juga tampil tidak mengecewakan. Karakter villain para laki-laki dalam film ini juga emang sengaja banget dibuat antagonis khas sinetron, minim pendalaman karakter dan pure penjahat aja haha.
Overall, film SAAT AKU BERSUARA (2026) memiliki pesan dan semangat yang besar dalam bentuk women support women, meskipun narasi yang disampaikan terlalu "sinetron" untuk ukuran film layar lebar.


[7/10Bintang]

Monday, 22 June 2026

[Review] Voicemails For Isabelle: Ketika Pesan Suara Salah Kirim Justru Menemukan Jodoh!

 



#Description:
Title: Voicemails for Isabelle (2026)
Casts: Zoey Deutch, Nick Robinson, Harry Shum Jr, Lukas Gage, Ciara Bravo, Nick Offerman, Megan Danso, Gil Bellows, Toby Sandeman, Spencer Lord
Director: Leah McKendrick
Studio: Sony Pictures, Escape Artists, Netflix


#Synopsis:
Sedari kecil, Jill Shaw (Zoey Deutch) sangat dekat dan akrab dengan adik perempuannya yaitu Izzy Shaw (Ciara Bravo). Setiap moment yang ia lalui dalam hidup selalu ia ceritakan pada Izzy. Hal tersebut sudah menjadi kewajiban bagi Jill untuk berbagi cerita dan kebahagiaan dengan sang adik yang tidak bisa menjalani hidup dengan normal karena mengidap penyakit Fibrosis Kistik, sebuah penyakit genetik langka yang menyebabkan pengidapnya kesulitan bernafas karena adanya mutasi gen pada lendir yang menyelimuti organ paru-parunya. Hal tersebut membuat Izzy menghabiskan waktu hanya di rumah dan juga menjalani home schooling.


Setelah lulus kuliah, Jill dan Izzy memiliki passion yang sama di bidang bakery. Keduanya bercita-cita ingin punya toko bakery sendiri. Untuk memperdalam ilmu dunia bakery dan kuliner, Jill berencana melamar kerja sebagai baker di restoran Eropa milik Chef Bastien (Nick Offerman) yang ada di San Francisco. Mendengar hal tersebut tentunya mendapat dukungan penuh dari Izzy dan kedua orang tua mereka. Meskipun awalnya merasa berat harus meninggalkan keluarganya di Austin, Jill pun akhirnya merantau ke San Francisco setelah resmi diterima sebagai chef baru di restorannya Chef Bastien.
Setelah beberapa bulan tinggal dan bekerja di San Francisco, Jill merasakan betapa kerasnya kehidupan di sana. Di restoran, Jill dan karyawan lain selalu kena marah oleh Chef Bastien meskipun mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Sepulang bekerja, Jill selalu mencurahkan keluh kesahnya pada Izzy melalui telepon. Mendengar curhatan kakaknya, Izzy tak pernah lelah menyemangati dan meminta Jill untuk tetap bertahan, karena Izzy sangat yakin akan kemampuan kakaknya itu.



Hari demi hari terus berlalu. Selama tinggal di San Francisco, Jill didekati oleh rekan kerjanya yaitu Arthur (Lukas Gage). Namun sayang, kedekatan mereka tak berlanjut sampai ke tahap pacaran karena Jill tidak selera dengannya. Karena ditolak, Arthur pun menjauhi Jill dan kini menganggapnya sebagai musuh di tempat kerja. Sejak saat itu, Jill memutuskan untuk tidak memprioritaskan urusan asmaranya dan fokus untuk bekerja saja. Suatu malam setelah Jill pulang bekerja, Izzy menelepon Jill dan mengabari jika ia didaftarkan untuk mengikuti transplantasi paru-paru. Mendengar hal tersebut membuat Jill terkejut sekaligus sedih karena menandakan jika kondisi kesehatan Izzy semakin menurun. Keesokan harinya, Jill yang sedang bertemu dengan seorang pria di bar mendapat telepon dari ibunya yang mengabari jika Izzy dilarikan ke rumah sakit. Jill pun langsung pulang dengan pesawat dari San Francisco menuju Austin. Setibanya di rumah sakit, Jill harus menerima kenyataan pahit karena Izzy sudah meninggal dunia.
Kepergian Izzy untuk selama-lamanya menjadi duka yang sangat mendalam bagi Jill dan kedua orangtua mereka. Saat kembali melanjutkan hidup ke San Francisco, Jill belum bisa mengikhlaskan kepergian adiknya itu. Jill bahkan masih sering mengirimkan voicemail ke nomor ponsel milik Izzy dan memutar kembali semua voicemail yang dikirim Izzy pada dirinya. Kebiasaan tersebut terus ia lakukan selama berbulan-bulan karena bisa sedikit mengobati kerinduan Jill terhadap sang adik.


Di sisi lain, voicemail yang selama ini dikirim Jill, terkirim ke nomor ponsel Izzy yang sudah di-recycle. Nomor ponsel tersebut kini dimiliki oleh seorang agen real estate di Austin yaitu Wes (Nick Robinson). Hampir setiap hari Wes menerima voicemail dari Jill yang menceritakan kehidupannya, pekerjaannya, mimpinya hingga urusan asmaranya semua ia curahkan melalui voicemail. Awalnya Wes terganggu dengan notifikasi voicemail yang masuk karena sempat membuat pacarnya, Brittani (Zenia Marshall) cemburu. Melihat pacarnya terlalu pasif dan tidak bisa bersikap romantis layaknya pasangan kekasih, Brittani pun mengambil keputusan untuk putus dengan Wes. Setelah itu, Wes jadi sering mendengarkan setiap voicemail yang dikirim Jill untuk Izzy. Semua curahan hati dan keluh kesah Jill terdengar sangat membahagiakan bagi Wes. Perlahan tapi pasti, Wes semakin tertarik pada kehidupan Jill dan memutuskan untuk menunda berkata jujur soal nomor ponselnya Izzy yang sudah di-recycle dan kini jadi miliknya.



Seiring berjalannya waktu, Jill yang sedang menikmati kesendiriannya tak sengaja bertemu dan berkenalan dengan seorang konten kreator dan podcaster asmara yang punya jutaan followers yaitu Tyler Riordan (Toby Sandeman). Pertemuan mereka kembali berlanjut karena Tyler mulai tertarik pada sikap Jill yang riang dan lucu. Namun sayang, Jill jadi tidak tertarik pada Tyler setelah dirinya dighosting tanpa kabar. Hal tersebut sangat berbanding terbaling dengan personal branding dari Tyler di sosial media dan podcast nya yang selalu memberikan nasihat soal asmara pada jutaan followers nya. Jill kemudian menyusun rencana untuk melabrak Tyler saat sesi meet and greet dengan followers nya yang disiarkan secara live. Rencana yang turut diketahui Wes melalui voicemail membuatnya ingin melihat aksi yang akan dilakukan Jill tersebut. Ia kemudian terbang dari Austin menuju San Francisco dan menjadi saksi dari rencana labrak Jill pada Tyler.


Setelah berhasil menjalankan misinya, Jill sangat senang dan kembali menceritakan hal tersebut melalui voicemail sambil menikmati sunset dengan pemandangan jembatan Golden Gate. Setelah selesai menelepon, Wes duduk disamping Jill dan mengajaknya berkenalan. Dengan bermodalkan semua cerita yang sudah ia dengar melalui voicemail, Wes pun berusaha menjadi sosok terbaik bagi Jill. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin akrab. Jill yang sudah berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun akhirnya menyerah. Treatment yang diberikan Wes terasa sangat sempurna dan ia juga yakin jika Wes adalah jodoh yang dikirimkan oleh tuhan dan juga Izzy dari surga.
Seiring berjalannya waktu, hubungan Jill dengan Wes semakin dekat. Wes pun mengajak Jill untuk datang ke pesta pernikahan kerabat dekatnya yaitu Breeda (Leah McKendrick) dan Andy (Harry Shum Jr). Sebelum menjemput Jill dari San Francisco, Breeda dan Andy memastikan apakah Wes sudah berkata jujur tentang nomor ponsel mendiang Izzy sekarang sudah berpindah tangan pada dirinya atau belum. Sialnya, Wes sampai saat ini belum menyampaikan hal tersebut pada Jill. Namun ia berjanji akan mengatakannya pada Jill di waktu yang tepat, karena tak mau mengganggu keharmonisan dan kebahagiaan yang sudah tercipta diantara mereka berdua.


Pesta pernikahan Breeda dan Andy pun tiba. Semua tamu undangan termasuk Jill dan Wes ikut berbahagia di acara tersebut. Namun sayang, ditengah suasana penuh suka cita itu, Jill tak sengaja menemukan sebuah fakta yang membuatnya harus menelan kekecewaan sangat besar terhadap Wes. Apa yang terjadi pada mereka berdua?


#Review:
Rumah produksi Sony Pictures merilis film drama komedi romantis terbaru yang langsung "dilempar" ke platform streaming Netflix berjudul VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026). Film ini disutradarai oleh seorang perempuan yang dikenal sebagai aktris, sutradara dan penulis naskah asal San Francisco yaitu Leah McKendrick.


Untuk segi cerita, film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026) mencoba menggabungkan premis tentang rasa duka mendalam dengan romansa yang unik, sederhana dan juga lucu. Pada paruh pertama film, plot berhasil menggambarkan dinamika kakak adik perempuan serta proses berduka yang langsung mengguncang emosional penonton. Bonding antara Jill dan adiknya Izzy tampil sangat seru, tidak ada satupun yang mereka rahasiakan dan selalu mengusahakan untuk selalu ada setiap saat. Selain development character kakak beradik ini yang memukau, Leah McKendrick juga turut menyoroti passion serta mimpi karakter Jill yang bekerja di restoran milik Chef Bestien. Penggambaran dunia kerja di restoran yang penuh tekanan, ujaran kebencian dengan dalih untuk memperkuat mental pekerja terasa sangat relatable di dunia nyata, karena tak sedikit lingkungan kerja di dapur tuh emang se-toxic itu. Meskipun berkali-kali diperlakukan tidak adil, untungnya Jill sempat dibuat tetap bertahan berkat support dari adiknya. Journey percintaan yang dialami Jill pun semakin menarik untuk diikuti karena setiap pria yang ia temui punya keunikan masing-masing hahaha. Keputusan Jill yang tidak mudah baper dan bisa mengontrol dengan baik perasaannya saat menghadapi Arthur, Tyler hingga Wes patut diacungi jempol. Justru mereka bertiga yang jatuh cinta duluan pada Jill yang memang memiliki pesona dan daya tarik luar biasa.
Plot percintaan antara Jill dengan Wes menjadi daya tarik selanjutnya dari film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026). Leah McKendrick sukses menghadirkan drama romcom Jill dan Wes yang langsung mengingatkan penonton akan film-film romcom Hollywood di awal tahun 2000-an. Plot berjalan smooth, menggemaskan, ringan dan juga menghibur. Sikap dan keputusan Wes yang tetap melanjutkan aksi stalking via voicemail agar semakin memahami kehidupan Jill dan terus menunda untuk berkata jujur, menurutku masih dalam batas wajar. Keputusan Wes seperti itu pun bisa kita maklumi karena pendalaman karakter nya tipikal pria introvert dan culun hahaha.
Untuk segi visual dan atmosfer, film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026) berhasil menangkap kontras yang menarik antara dua dunia Jill dengan Wes. San Francisco digambarkan dengan palet warna yang hangat namun sibuk, mencerminkan isi kepala Jill yang penuh dengan resep kue dan memori masa lalu bersama Izzy. Sementara Austin, Texas disajikan dengan visual yang lebih lapang, flat dan sunyi, menggambarkan keterasingan emosional yang dirasakan Wes. Aransemen musiknya pun bekerja dengan sangat baik dalam menjembatani transisi emosi penonton, terutama saat voicemail antara Jill dengan Izzy diputar, mengubah momen yang biasa menjadi sangat intim dan mengharukan.
Penampilan Zoey Deutch patut diberi acungan jempol. Karakter Jill mampu mengekspresikan kesedihan secara natural sekaligus menampilkan pesona komedinya yang khas saat karakternya menghadapi karut-marut dunia kerja dan dating dengan beberapa pria di San Francisco. Karakter Wes yang diperankan oleh Nick Robinson bisa dibilang sebagai salah satu elemen yang cukup menonjol selanjutnya dari film ini. Karakter Wes tampil dengan membawa pesona khasnya yang tenang, karismatik dan tulus. Penulisan karakter Wes membawa Nick Robinson menuju di garis tipis antara pria idaman yang sensitif dan seorang stalker sang obsesif yang menurutku masih dalam batas wajar. Ketika Wes mulai menerima pesan suara emosional dari Jill, Nick Robinson berhasil mengekspresikan perubahan karakter Wes dengan sangat meyakinkan. Lewat tatapan mata dan ekspresi wajahnya, penonton bisa merasakan bagaimana Wes pelan-pelan menemukan kembali jiwa dan tujuan hidupnya lewat suara Jill setelah sekian lama ia merasa hampa ketika berpacaran dengan Brittani.
Overall, film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026) berhasil menjadi tontonan healing bagi orang yang sedang berduka dan berada di fase hopeless romantic. Yuk Hollywood perbanyak lagi romcom manis, simple dan lucu seperti ini ketimbang eksplorasi perselingkuhan melulu bosen! Haha!


[9/10Bintang]

Sunday, 21 June 2026

[Review] Blue Film: Eksplorasi Rahasia Kelam & Trauma Masa Lalu Dari Dua Orang Pria!

 


#Description:
Title: Blue Film (2026)
Casts: Kieron Moore, Reed Birney
Director: Elliot Tuttle
Studio: Fusion Entertainment, Obscured Releasing


#Synopsis:
Aaron Eagle (Kieron Moore) adalah seorang live streamer seksi asal Los Angeles yang memiliki banyak penggemar dari kalangan Gay. Setiap Aaron mengadakan sesi live dengan menampilkan aksi nakal dan sensualnya, ia berhasil mengumpulkan uang puluhan hingga ratusan dollar dari orang-orang yang menontonnya secara online. Suatu hari, sebuah akun anonim menawarkan uang sebanyak $50.000 pada Aaron untuk menemaninya selama satu malam di sebuah villa yang sudah ditentukan. Tawaran yang sangat menggiurkan tersebut tentunya langsung Aaron terima.



Setibanya di lokasi yang sudah ditentukan, Aaron bertemu dengan pemilik akun anonim tersebut dengan mengenakan penutup kepala. Aaron kemudian melepaskan pakaiannya dan yang tersisa hanya celana dalam saja. Pria anonim itu kemudian menyalakan kamera untuk merekam. Awalnya Aaron mengira jika ia akan melakukan hubungan seksual, tapi ternyata pria anonim tersebut merekam hanya untuk sesi mengobrol saja. Seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pria anonim semakin sensitif dan personal.



Meskipun awalnya terlihat tidak nyaman, perlahan tapi pasti Aaron mulai terbuka menceritakan hal-hal personalnya pada pria anonim tersebut. Salah satunya, Aaron menceritakan awal mula ia terjun menjadi seorang live streamer seksi gara-gara mendapat imbalan cukup besar setelah sepasang Gay yang menginginkannya untuk memenuhi fantasi seksual mereka. Ketika pria anonim tersebut mulai mengetahui identitas asli dan masa lalu Aaron yang memiliki nama asli Alex McConnell (Kieron Moore), pertengkaran pun tak terhindarkan. Saat Aaron melepas topeng dari pria anonim tersebut, rupanya pria tua itu adalah Hank Grant (Reed Birney), guru Bahasa Inggris semasa SMP nya di Bedford.


Aaron tak menyangka jika ia bertemu lagi dengan gurunya di Los Angeles dengan kondisinya ia hampir telanjang bulat. Ia kemudian menanyakan soal kasus Hank yang dahulu ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pemerkosaan siswa laki-laki yaitu James Scott. Hank kemudian menjelaskan jika memang dirinya berniat untuk melecehkan James di toilet sekolah namun ia langsung berubah pikiran dan melepaskan James ketika menemuinya di toilet. Meskipun tidak terjadi pelecehan, Hank tetap dijebloskan ke penjara karena dituntut oleh orang tua James dan pihak sekolah. Hank menjalani hukuman penjara selama tujuh tahun akibat perbuatannya itu. Setelah bebas dari penjara, Hank tetap melanjutkan hidup di Bedford dengan bekerja di supermarket serta memperdalam agama.



Waktu terus berjalan menuju tengah malam. Hank kemudian mengungkapkan jika dirinya jatuh cinta pada Aaron sejak pertama kali melihatnya di sekolah. Ia masih ingat dengan jelas sosok Alex sebagai murid yang sering terlihat menyendiri, tidak mempunyai teman dan pernah dihukum oleh guru lain karena telat datang ke sekolah hingga berkelahi dengan teman sekelasnya. Hank terpaksa memendam rasa cintanya itu pada Alex karena ia sadar jika hal tersebut merupakan penyimpangan. Setelah tumbuh dewasa dan kini mengetahui Alex sudah bertransformasi menjadi Aaron Eagle, Hank pun mengikuti semua sosial media dan aktivitas Aaron secara online. Aaron kemudian mengajak Hank pindah ke kamar dan mempersilahkannya untuk melakukan aktivitas seksual bersama. Setelah itu, Hank kemudian mencukur habis semua rambut dan bulu yang ada di tubuh Aaron untuk memenuhi fantasi seksualnya dengan membayangkan Alex masih siswa sekolah. Saat mereka melanjutkan kembali aktivitas seksual, Aaron semakin merasa tidak nyaman dan memaksa Hank untuk berhenti.


Hank kemudian menjelaskan perilaku seksual menyimpang pedofilia nya ini berasal dari trauma masa lalu yang menjadi korban pelecehan seksual oleh kakek kandungnya sendiri. Lebih naasnya lagi, aksi bejat tersebut justru disetujui oleh ibu kandungnya dengan alasan sudah menjadi tradisi turun temurun dalam keluarga mereka. Setelah itu, Hank bertanya tentang tattoo "Diablo" yang ada di dada Aaron. Sambil menahan tangis, Aaron kemudian menjelaskan jika tattoo tersebut dibuat ketika masih berpacaran dengan mantannya yaitu Rafael yang sudah lama berpisah. Keduanya lalu mencoba kembali melakukan hubungan seksual sebelum matahari terbit. Bagaimana cerita selanjutnya dari Aaron dan Hank?


#Review:
Setelah ditolak untuk tayang dan berkompetisi di dua festival film bergengsi skala global, karya terbaru dari sutradara Elliot Tuttle yang berani dan provokatif berjudul BLUE FILM (2026), akhirnya tayang perdana di Edinburgh International Film Festival tahun lalu dan kemudian tayang di bioskop Amerika Serikat mulai awal bulan Mei kemarin.


Untuk segi cerita, BLUE FILM (2026) memiliki premis yang awalnya terasa seperti sebuah transaksi seksual biasa antara seorang camboy populer asal Los Angeles dengan followers nya. Namun siapa sangka, plot kemudian cepat bergeser menjadi sebuah interogasi psikologis yang intens, tajam, provokatif hingga permainan kekuasaan yang manipulatif. Elliot Tuttle terbilang sangat berani menyajikan plot yang meraba hal-hal tabu seperti pederasti, trauma masa kecil yang mengalami pelecehan seksual dari orang terdekat, hingga hakikat dari penyimpangan seksual dari kedua karakter dalam film ini. Tektokan dialog dan intergorasi karakter Hank dengan Aaron di villa jadi tempat untuk saling confess, pengakuan dosa satu sama lain yang dimana batasan antara korban dan pelaku, serta realitas dan fantasi seksual keduanya jadi sangat kabur. Hubungan disfungsional antara mereka berdua disajikan secara vulgar dan tanpa sensor moral yang judging. Penonton secara tidak langsung mempelajari bagaimana trauma di masa lalu itu akan terus mendikte masa depan seseorang. Aku sih yakin, untuk sebagian penonton yang menonton BLUE FILM (2026) pasti akan merasa tidak nyaman karena karena mengulik sisi psikologis dari karakter yang seorang pedofilia. Setiap alasan dan masa lalu yang dialami oleh karakter Hank memang tidak bisa menjadi alasan bagi penonton untuk simpati terhadapnya. Begitu juga dengan karakter Aaron yang jadinya terbawa suasana karena termanipulasi oleh Hank meskipun kini keduanya sudah sama-sama dewasa. Untungnya, keputusan akhir cerita BLUE FILM (2026) ini dibuat sangat realistis sesuai tujuan awal Aaron yang semata-mata hanya mengejar uang, bukan jadi baper dan happy ending bersama Hank.
Untuk jajaran pemain, penampilan berani antara Kieron Moore dan lawan mainnya yang sudah senior memang luar biasa meyakinkan. Moore berhasil menampilkan dualitas karakter dengan sangat baik. Di satu sisi ia adalah seorang dominan profesional yang dingin dan memegang kendali. Namun di sisi lain, ia adalah Alex McConnell, seorang pemuda rapuh yang menyimpan rahasia dan trauma masa lalu. Kompleksitas hidupnya sebagai pekerja seks online terlihat cukup dramatis dari sisi karakter Aaron Eagle. Penampilan Reed Birney bisa digambarkan sebagai sebuah pencapaian akting yang tak kalah intens, namun cukup mengganggu tapi di satu sisi memilukan. Beliau berhasil menghidupkan karakter Hank Grant yang sangat sulit untuk dimaafkan atau disukai oleh penonton. Ia tidak terjebak untuk memainkan Hank sebagai sosok monster atau penjahat pedofil satu dimensi. Birney justru membawakan Hank dengan pembawaan yang tenang, rapuh, dan tampak sopan. Ia berhasil membedah psikologi seorang pelaku kekerasan seksual yang juga merupakan produk dari trauma masa lalu, tanpa pernah terkesan membenarkan tindakannya.
Overall, BLUE FILM (2026) berhasil membuktikan diri sebagai sebuah film bertema drama psikologis yang triggering karena mampu mengupas lapisan trauma dan moralitas manusia secara begitu intim dan tanpa kompromi. Sebuah tontonan yang dirancang tidak memberikan kenyamanan, melainkan sebuah refleksi mendalam yang akan terus membekas di benak penonton tentang kesepian, rantai trauma yang tak terputus dan pencarian penebusan dosa tragis di balik transaksi seksual secara online.


[8/10Bintang]

Saturday, 20 June 2026

[Review] Cerita Lila: Cerita Kelam Di Balik Rumah Kosong Antara Ibu & Anak Kembarnya!

 


#Description:
Title: Cerita Lila (2026)
Casts: Lutesha, Myesha Lin, Shareefa Daanish, Firzanah Alya, Sara Wijayanto, Wisnu Hardana, Wafda Saifan, Whani Darmawan, Jovial Da Lopez, Aci Resti, Enrico Winaldy, Kiara Virly, Demian Aditya, Fadi Iskandar
Director: Bobby Prasetyo
Studio: MVP Pictures


#Synopsis:
Sara (Sara Wijayanto) dan Wisnu (Wisnu Hardana) tak sengaja melihat sebuah rumah tua kosong ketika dalam perjalanan menuju basecamp Diary Misteri Sara. Mobil pun menepi sejenak di depannya. Saat berada di depan pagar rumah, Sara merasakan adanya energi buruk yang membuatnya khawatir. Namun sayang, Sara dan Wisnu tidak bisa asal masuk ke dalam rumah karena di depan pagar terpasang iklan dijual oleh agen properti. Sarah kemudian meminta Wisnu menghubungi agen properti tersebut dan meminta izin agar bisa masuk ke dalam rumah. Namun karena tak mendapat jawaban, keduanya tidak jadi masuk ke rumah tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju basecamp.
Di sisi lain, Tari (Lutesha) sedang berjuang menghidupi anak kesayangannya, Nia (Myesha Lin) dengan bekerja sebagai agen properti rumah. Meskipun saat itu sedang demam, Tari tetap berangkat bekerja dan menitipkan Nia selama ia bekerja pada tetangga rusunnya yaitu Septi (Aci Resti). Setibanya di kantor, Tari mendapat teguran dari atasan karena performa sales propertinya buruk. Ia pun terancam dipecat jika tak kunjung mencapai target. Atasannya kemudian memberikan satu kesempatan pada Tari untuk menjual satu properti rumah tua yang sudah lama tidak laku meskipun harga yang ditawarkan tergolong sangat murah. Tari pun langsung mendatangi rumah tua yang harus segera ia jual secepatnya. Tiba di sana, Tari membereskan perabotan jadul yang masih ada di dalam rumah dan membersihkan semua ruangan supaya jika nanti ada calon pembeli yang berkunjung, bisa langsung tertarik dan membeli rumah tersebut. Selain tuntutan pekerjaan yang semakin berat, Tari juga harus menghadapi sidang perceraian dan rebutan hak asuh anak dengan mantan suaminya, Teguh (Jovial Da Lopez). Tari berusaha hidup mandiri bersama Nia dan tidak mau bergantung dari nafkah yang diberikan Teguh karena suaminya itu ketahuan selingkuh dengan wanita lain. 
Setelah bekerja seharian dan membereskan rumah yang akan ia jual, malam harinya, Tari kembali demam dan meriang. Melihat ibunya yang sedang sakit, Nia berinisiatif membuatkan teh hangat. Ketika sedang merebus air di dapur, Nia tak sengaja membakar kain lap dari kompor gas dan menyebar ke gorden dapur. Nia yang menangis kemudian terdengar oleh Tari dan langsung keluar dari rusun untuk meminta pertolongan. Beruntung para tetangga rusun berhasil memadamkan api. Gara-gara kejadian tersebut, Tari mendapat teguran keras dari pemilik rusun karena menyebabkan kebakaran dan membahayakan banyak orang. Tari dan Nia diminta untuk segera mengosongkan rusun yang mereka sewa dan tak lagi tinggal di sana.
Tari berusaha mencari kost atau kontrakan sementara untuk ditinggali setelah ia diusir dari rusun. Karena tak punya uang yang cukup untuk bayar DP, Tari terpaksa menempati rumah tua yang sedang ia pasarkan tanpa sepengetahuan pemilik dan juga kantornya. Tari berjanji pada Nia jika rumah tua tersebut berhasil terjual, komisinya akan langsung digunakan untuk menyewa kontrakan secepatnya. Tiba di rumah, Tari dan Nia kembali membersihkan kamar agar bisa digunakan untuk beristirahat. Setelah selesai beres-beres, Tari mengizinkan Nia untuk terpisah dengannya karena ada kamar satunya lagi yang merupakan kamar anak-anak. Di kamar tersebut Nia melihat ada dua kasur dan juga satu kursi roda.
Di tengah malam, Nia terbangun dari tidurnya dan mendengar suara anak perempuan yang memanggil nama Lili (Firzanah Alya). Selain itu, Tari juga tiba-tiba mengalami sleep walking dan merasakan seperti ada seseorang yang mengawasinya. Seiring berjalannya waktu, Nia berkenalan dengan arwah seorang anak perempuan bernama Lila (Firzanah Alya) yang meminta bantuan pada Nia untuk mencarikan saudara kembarnya, Lili di rumah. Nia yang menyadari jika Lila bukanlah manusia justru tidak takut karena ia yakin jika Lila adalah arwah yang baik.
Hari demi hari terus berlalu. Tari semakin mendapat banyak tekanan dan masalah. Rumah tak kunjung terjual, calon pembeli rumah batal membeli rumah karena mengalami kejadian mistis saat berkunjung ke sana, jadwal persidangan hak asuh anak semakin dekat, mantan suami yang selalu menyalahkannya hingga gangguan mistis perlahan mulai dirasakan Tari dan juga Nia. Sosok penunggu di rumah tua tersebut adalah seorang ibu bernama Rahma (Shareefa Daanish) yang terpaksa gantung diri setelah membunuh kedua anak kembarnya. Cerita masa lalu dari Rahma pun perlahan mulai terungkap melalui mimpi dan kerasukan yang dialami oleh Tari. Bagaimana nasib Tari dan Nia selanjutnya?


#Review:
Rumah produksi MVP Pictures kembali hadir dengan film horror terbarunya yang berjudul CERITA LILA (2026). Meskipun kembali mengadaptasi cerita viral dari sosial media khususnya YouTube channel nya Diary Misteri Sara, sutradara Bobby Prasetyo dan tim penulis cerita serta naskah yang terdiri dari Gea Rexy, Erwanto Alphadullah dan Sara Wijayanto memberikan konsep terbilang baru di film terbarunya ini.


Untuk segi cerita, film CERITA LILA (2026) memiliki tiga plot yang saling beriringan satu sama lain. Plot pertama sebagai pembuka datang dari tokoh nyata yaitu Sara Wijayanto beserta tim Diary Misteri Sara (DMS) nya. Keputusan dan konsep kreatif yang memadukan antara tokoh nyata dan karakter fiksi disatukan dalam film ini tampil solid dan juga believable. Ketimbang harus recast atau memaksa geng DMS untuk full berakting, mending dibuat seperti ini aja. Terasa lebih natural dan tidak cringe. Dengan menghadirkan tiga plot dari tiga sudut pandang yang berbeda, semuanya berhasil dijahit dengan maksimal oleh tim penulis naskah. Setiap pertanyaan dan misteri yang awalnya memunculkan tanda tanya, selalu terjawab tuntas di babak-babak selanjutnya. Konflik utama dari plot Tari dan juga Rahma memiliki kesamaan yaitu perasaan trauma, depresi berat, dan tekanan psikologis dari kejamnya dunia hingga memicu serangkaian kejadian tragis yang terjadi di rumah tua tersebut. Saat karakter Tari dan Nia terperangkap dalam energi mistis di sana, mereka tidak hanya harus bertahan hidup dari terror supranatural, mereka juga buruknya pola asuh orang tua yang dilakukan Rahma, trauma pengkhianatan, ketidakberdayaan perempuan dan issue kesehatan mental. Dinamika emosional antara ibu dengan anak yang mendominasi di sepanjang film berhasil menguatkan sisi drama dalam film horror ini. Yang cukup disayangkan dari film CERITA LILA (2026) ini yaitu penonton terasa "disuapin" banget sehingga setiap teka-teki dan misteri yang ditebar, penonton cuma menikmatinya saja tanpa harus effort memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Hahaha.


Untuk jajaran pemain, time flies banget melihat aktris cantik Lutesha yang kini dipercaya untuk memerankan karakter seorang ibu dalam sebuah film. Rasanya kayak masih kemarin banget baru melihat Lutesha debut dengan karakter ikoniknya yaitu Suki di MY GENERATION (2017), Suci di BEBAS (2019) dan Alpha di THE BIG FOUR (2024), eh sekarang menjadi Tari seorang ibu dan single parent. Pendalaman karakter sebagai seorang ibu muda dengan segala permasalahan hidup serta emosionalnya yang belum stabil terasa believable. Lutesha semakin menunjukkan "taring" sebagai seoranga aktris saat karakter Tari mengalami kerasukan. Chemistry yang dibangun bersama Myesha Lin juga terasa hangat karena keduanya selalu berusaha saling melindungi satu sama lain. Penampilan Shareefa Daanish yang semakin mengukuhkan predikat sebagai expert dan spesialis peran setan juga mengesankan. Setiap kemunculannya di awal film dibuat sangat cerdik. Karakter Rahma yang ia perankan berhasil menarik simpati penonton. Kerapuhannya, kesedihannya dan amarahnya tersampaikan dengan baik disepanjang film. Kemunculan geng Diary Misteri Sara yang menjadi diri mereka dalam film CERITA LILA (2026) ini tampil sangat meyakinkan. Kehadiran geng DMS ini sudah pasti menjadi fan service bagi penonton setia channel Youtube mereka.
Untuk urusan visual, tim artistik, sinematografi dan efek visual berhasil menyajikan terror rumah tua yang memukau. Set lokasi terlihat sangat meyakinkan seperti rumah tua betulan yang tak kunjung laku padahal lokasinya sangat strategis di pusat kota. Scoring yang mengiringi film pun terasa dramatis dan tidak terlalu berlebihan saat memunculkan jump scared. 
Overall, film CERITA LILA (2026) bukan sekadar horror yang menjual ketakutan, melainkan sebuah refleksi tajam tentang bagaimana trauma, amarah dan dendam masa lalu yang tidak disembuhkan dapat terus menghantui secara abadi. Applause untuk Bobby Prasetyo yang berhasil memadukan cerita viral dari Diary Misteri Sara dengan melodrama keluarga yang emosional. Keren!


[8/10Bintang]