Friday, 24 April 2026

[Review] Para Perasuk: Ketika Kesurupan Massal Jadi Budaya Dan Hiburan Di Desa Latas!



#Description:
Title: Para Perasuk - Levitating (2026)
Casts: Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Ganindra Bimo, Indra Birowo, Ivonne Dahler, Ninda Fillasputri, Buyung Ispramadi, Untung Basuki
Director: Wregas Bhanuteja
Studio: Rekata Studio, KG Media, Anami Films, Masih Belajar Pictures


#Synopsis:
Desa Latas yang berlokasi kurang lebih 2-3 jam perjalanan dari Jakarta mempunyai tradisi tak lazim yang diberi nama Sambetan. Tradisi tersebut mengumpulkan Para Pelamun atau orang-orang yang bersedia untuk dirasuki oleh roh spiritual dengan diiringi musik serta mantra yang dimainkan oleh Guru Asri (Anggun C. Sasmi) selaku ketua penyelenggara tradisi Sambetan. Dalam menjalankan tradisi tersebut, Guru Asri dibantu oleh satu orang yang disebut sebagai Perasuk. Tugas dari Perasuk yaitu memainkan musik dan mengendalikan roh spiritual yang merasuki Para Pelamun agar tetap terkendali dan tidak melukai mereka. Dalam periode waktu tertentu, Guru Asri juga menggelar kompetisi untuk mencari Perasuk baru menggantikan Perasuk lama yang sudah pensiun atau mengundurkan diri. Jika terpilih dan sesuai kriteria yang diinginkan Guru Asri, Perasuk baru ini akan menjadi bagian dari pagelaran rutin tradisi Sambetan dari desa ke desa.



Suatu hari, Guru Asri menggelar Sambetan dengan mendatangkan roh spiritual kupu-kupu. Warga yang bersedia menjadi Pelamun mulai kerasukan roh tersebut. Para calon Perasuk kemudian menunjukkan keahlian mereka dalam bermusik, seperti Bayu Laksana (Angga Yunanda) dengan slompret andalannya, kemudian Pawit Arifin (Chicco Kurniawan) dengan gitar elektrik, Ananto Anugerah (Bryan Domani) dengan perkusi dan yang lainnya. Satu persatu dari mereka mulai berhasil mengendalikan roh spiritual yang merasuki Para Pelamun. Ketika Bayu sedang menunjukkan bakatnya dalam bermain slompret, ia kehilangan fokus dan menyebabkan Para Pelamun terluka. Sambetan pun terpaksa dihentikan. Guru Asri kecewa dengan hal tersebut dan meminta Bayu bisa mengendalikan diri lebih maksimal lagi. Setelah selesai acara Sambetan, Bayu kemudian mendatangi Para Pelamun untuk meminta maaf. Salah satu dari Pelamun yaitu Laksmi (Maudy Ayunda), perempuan asal Jakarta yang sedang bekerja dinas luar kota ke Desa Latas untuk proyek pembangunan dari PT. Wanaria.



Bayu sangat berambisi ingin menjadi Perasuk handal selanjutnya di Desa Latas karena ia tidak ingin merantau dan tinggal lagi di Jakarta. Alasannya karena selama hidup di sana, Bayu dan sang ayah, Pak Agus (Indra Birowo) hidup melarat, bisnis mereka ditipu hingga dikejar-kejar debt collector. Kondisi perekenomian keluarga semakin berantakan saat kedua orangtua Bayu bercerai. Tak lama setelah itu Pak Agus mendekam di penjara karena kasus pencurian ponsel. Setelah selesai menjalani hukuman di penjara, Bayu dan sang ayah memutuskan pulang dari Jakarta dan tinggal di rumah peninggalan keluarga di Desa Latas. Masalah baru kemudian muncul ketika PT. Wanaria mengincar curug yang menjadi sumber mata air bagi warga Desa Latas dan banyak tanah serta rumah milik warga dibeli oleh mereka untuk pembangunan hotel dan komplek perumahan. Salah satu lahan yang diincar yaitu milik Pak Agus. Tawaran yang diberikan oleh Pak Fahri (Ganindra Bimo) selaku perwakilan PT. Wanaria membuatnya tergiur untuk menjual warisan tanah dan rumahnya. Ia berjanji uang yang didapat dari menjual warisan setelah dibagi rata dengan kedua saudaranya akan digunakan untuk menyewa rumah susun di Jakarta dan membuka usaha isi ulang air galon bersama calon istrinya yaitu Ibu Nana (Ivonne Dahler). Mendengar hal tersebut membuat Bayu kesal. Ia tidak mau lagi tinggal dan hidup di Jakarta serta meragukan ide usaha dari ayahnya itu yang sudah berulang kali kena tipu orang lain. Bayu memaksa sang ayah untuk tidak menjual warisan mereka karena jika ia terpilih menjadi Perasuk handal oleh Guru Asri, Bayu akan punya penghasilan sendiri dan bisa mencukupi berbagai kebutuhan sehari-hari.


Waktu terus berlalu. Guru Asri dan rombongannya berencana akan menggelar pesta Sambetan sambil melakukan seleksi untuk Perasuk baru. Di Sambetan kali ini, Guru Asri meminta setiap Perasuk membawa roh spiritual masing-masing yang nantinya harus menyatu dengan baik dan tidak membahayakan Para Pelamun. Sehari sebelum pesta digelar, Bayu bertapa di curug yang menjadi sumber mata air warga Desa Latas untuk mencari roh spiritual yang cocok dengan dirinya. Setelah melakukan meditasi, roh hewan bulus berhasil didapatkan oleh Bayu. Keesokan harinya, pesta Sambetan digelar. Para Perasuk lain turut membawa roh hewan jagoan mereka masing-masing. Meskipun sempat diremehkan, Bayu berhasil menunjukkan kemampuannya sebagai Perasuk lewat roh hewan bulus yang disukai oleh para Pelamun. Bayu, Ananto dan tiga Perasuk lain berhasil mendapatkan nilai yang baik dari Guru Asri dan anggota penyelenggara. Mereka berenam kemudian akan kembali dipentaskan untuk mencari yang terbaik dan mampu menguasai roh bawaan mereka.


Sejak tinggal di Desa Latas, Laksmi mulai menikmati sebagai seorang Pelamun di tradisi Sambetan. Sudah berbagai cara dilakukan untuk healing dari trauma dan luka di masa lalu, namun baru kali ini Laksmi bisa bangkit dari keterpurukannya. Di sisi lain, Bayu yang berusaha menjadi Perasuk handal semakin sering mengalami gagal fokus karena terganggu oleh masalah di rumahnya. Bayu belum bisa merelakan rumah keluarganya dijual oleh sang ayah. Selain itu, Bayu juga merasa tersaingi dengan lolosnya Ananto serta dilibatkannya lagi Pawit untuk pemilihan Perasuk baru. Ditengah kerasnya berlatih dan mencari roh spiritual yang lebih meyakinkan, konsentrasi Bayu semakin berantakan gara-gara rumah dijual juga oleh sang ayah ke PT. Wanaria dengan alasan tuntutan dari keluarga saudara-saudaranya yang ada di Jakarta.


Rasa kecewa, kesal, marah dan sedih menyelimuti Bayu. Ketika berhasil mendapatkan roh spiritual lintah, Bayu mengikuti saran Guru Asri untuk lebih totalitas dan menjiwai roh tersebut agar saat pesta Sambetan nanti, Para Pelamun akan terpuaskan olehnya. Di sisi lain, Laksmi yang semakin nyaman tinggal di Desa Latas dan menikmati sebagai Pelamun meminta pada Bayu untuk merasukinya lagi diluar pentas Sambetan, meskipun hal tersebut sangat berbahaya untuk Laksmi dan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana kelanjutan kisah Bayu, Laksmi dan orang-orang di Desa Latas ini?


#Review:
Sutradara muda peraih Piala Citra FFI yaitu Wregas Bhanuteja kembali hadir dengan karya film terbarunya yang berjudul PARA PERASUK (2026). Menariknya, kali ini Wregas mengeksplor genre horror dengan sentuhan "artsy and festival oriented" yang menjadi ciri khasnya di setiap film yang ia garap.


Untuk segi cerita, Wregas bersama Alicia Angelina dan Defi Mahendra selaku penulis naskah menyajikan perspektif unik, baru sekaligus absurd dari fenomena kerasukan menjadi sebuah tradisi budaya yang bernama Sambetan. Dari pemilihan judul dan tema horror kerasukan, pasti sebagian besar penonton akan mengira film ini full horror dengan jump scared yang mengagetkan. Namun siapa sangka, hal mainstream tersebut tidak dilakukan oleh sang sutradara. Film PARA PERASUK (2026) justru menonjolkan budaya dan tradisi fiksi yang rutin digelar di Desa Latas. Elemen klenik kerasukan lewat pesta Sambetan dijelaskan secara apik layaknya sebuah budaya sungguhan di kehidupan sehari-hari. Setiap moment pesta Sambetan dieksekusi dengan ide-ide kreatif, absurd dan absurd. Sesekali penonton dibuat tawa melihat aksi Para Perasuk dan Para Pelamun yang nyeleneh. Jujur, konsep roh spiritual hewan kemudian alam roh pelamun yang divisualkan sangatlah berbeda dari film-film horror kebanyakan hahaha.
Seiring berjalannya durasi film, terdapat serangkaian konflik menarik yang terjadi pada warga desa di sana. Karakter Bayu dihadapkan dengan pergolakan quarterlife crisis mengenai hubungan dengan ayahnya, permasalahan finansial hingga ambisinya untuk menjadi Perasuk handal semuanya tersaji dengan mulus. Selain itu, ada cerita dari karakter Laksmi yang berusaha mengobati trauma di masa lalu. Terakhir, yaitu issue konflik sosial yang melibatkan warga desa dengan perusahaan kontraktor. Semua permasalahan tersebut berjalan beriringan meskipun dinamikanya cenderung datar dan bermain aman. Sepertinya sang sutradara memilih jalan aman dan tidak over dramatic, meskipun sebetulnya potensi sisi menguras emosional penonton bisa banget didapatkan dari banyak hal dalam film ini. Dramatisasi baru muncul di babak akhir film saat karakter Bayu dan Laksmi juga melakukan hal nekat yang melampaui batas. Sensasi horror artsy nya mantap sekaligus tragis sekali! Konflik penyelesaian cerita juga hadir dengan kejutan gotong royong yang serasa seperti metafora rakyat kecil yang enggan ditindas oleh perusahaan besar.


Untuk jajaran pemain, kita harus berikan apresiasi yang luar biasa untuk kelima pemain utamanya. Angga Yunanda bertransformasi menjadi pria kampung dengan logat campuran serta peningkatan kualitas akting yang sangat signifikan. Adegan Bayu yang menjelema menjadi lintah, sungguh mindblowing! Applause selanjutnya untuk Maudy Ayunda yang sangat berani tampil beda dan meninggalkan citra high class nya demi menjadi Laksmi yang ketagihan kerasukan. Kesurupan massal dengan koreografi hewan yang Maudy lakukan apik sekali! Apresiasi juga harus kita berikan pada Anggun C. Sasmi yang debut main film langsung mencuri perhatian dan sangat natural sebagai ketua tradisi Sambetan. Penampilan Chicco Kurniawan dan Bryan Domani juga tak kalah bagus. Gesture, logat dan akting mereka saat menjadi Perasuk dengan alat musik mengesankan!
Untuk urusan visual, film PARA PERASUK (2026) memang tidak menawarkan sinematografi atau efek visual yang luar biasa. Bahkan saat adegan Pelamun kerasukan roh kutu, sensasi melompat lebih tinggi nya CGI nya masih sangat mentah dan itu cukup mengganggu. Selipan-selipan humor dengan visual aesthetic seperti iklan menggunakan warna-warna mencolok menjadi keunikan tersendiri dari film ini. Sungguh sebuah pengalaman nonton di bioskop yang tak lazim, unik tapi aku suka! Hahahaha.


[8.5/10Bintang]

Friday, 17 April 2026

[Review] Lee Cronin's The Mummy: Cerita Tragis Anak Perempuan Yang Dijadikan Tumbal Ritual Mummy Nasmaranian!



#Description:
Title: Lee Cronin's The Mummy (2026)
Casts: Jack Reynor, Laia Costa, May Calamawy, Natalie Grace, Emily Mitchell, Veronica Falcon, Shylo Molina, Billie Roy, May Elghety, Hayat Kamille, Jonathan Gunning
Director: Lee Cronin
Studio: New Line Cinema, Atomic Monster, Blum House Productions, Warner Bros Pictures


#Synopsis:
Charlie Cannon (Jack Reynor) yang berprofesi sebagai reporter berita tinggal bersama keluarganya di Cairo, Mesir. Sang istri yaitu Larissa Cannon (Laia Costa) yang sedang mengandung anak ketiga masih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai perawat di rumah sakit. Sementara itu, kedua anak mereka yaitu Katie (Emily Mitchell) dan Sebastian (Dean Allen Williams) sibuk sekolah dan bermain saja di rumah. Suatu hari, Charlie mendapat tawaran bekerja sebagai reporter dari kantor berita di Amerika Serikat. Hal tersebut membuat Charlie senang karena mereka bisa kembali pulang ke negara asal.
Saat Larissa pergi bekerja ke rumah sakit, anak-anak ada di rumah bersama dengan ayahnya. Katie seperti biasa bermain dengan boneka di kebun belakang rumah dan Sebastian menonton televisi. Tak lama setelah itu, Katie didatangi seorang perempuan mengenakan jubah yang muncul di pagar kebun. Rupanya perempuan tersebut sudah sering menemui Katie sambil memberikan cokelat dan mengaku sebagai seorang pesulap (Hayat Kamille). Namun kali ini, si perempuan berjubah memberikan buah nektarin pada Katie. Dari buah tersebut keluar serangga hewan dan langsung masuk ke dalam mulut Katie. Si perempuan kemudian merusak pagar, menculik Katie dan melarikan diri. Charlie baru menyadari anaknya hilang setelah ia datang ke kebun namun hanya menemukan mainan, boneka dan buah nektarin yang tergeletak di sana. Charlie langsung keluar dari pagar yang rusak dan melihat seseorang sedang berlari menggendong Katie dari kejauhan. Charlie pun langsung berteriak dan mengejar orang itu. Namun sayang, badai dan angin yang membawa pasir tiba-tiba muncul dan menutupi seluruh kota sehingga menyebabkan Charlie kehilangan jejak. Charlie dan Larissa langsung pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kasus penculikan ini. Tiba di sana, Charlie bertemu dengan detektif Dalia Zaki (May Calamawy). Namun sayang respon dari detektif kepolisian yang lebih tua di sana malah mencurigai Charlie dan Larissa berbohong. Charlie pun marah dan tak terima dengan tuduhan tersebut. Keesokan harinya, pihak kepolisian Cairo pun langsung melakukan proses pencarian Katie.
Delapan tahun berlalu. Katie tak kunjung ditemukan. Keluarga Charlie kini sudah tak lagi tinggal di Cairo. Mereka tinggal di Albuquerque, New Mexico di rumah ibunya Larissa yaitu Carmen Santiago (Veronica Falcon). Sebastian (Shylo Molina) tumbuh jadi remaja pria yang menghabiskan waktu belajar dan mendengarkan musik. Sementara itu, Maud (Billie Roy) anak ketiga Charlie dan Larissa sudah lahir dan kini berusia 8 tahun. Suatu hari, Charlie mendapat telepon dari pemerintah Mesir yang mengabari jika Katie berhasil ditemukan dan masih hidup. Keduanya langsung terbang dari Mexico menuju Cairo untuk menjemput Katie. Selama perjalanan, pihak kepolisian menjelaskan kronologis ditemukannya Katie. Pihak kepolisian mendapat laporan dari arkeolog di Cairo yang menemukan seorang perempuan terjebak dalam peti sarkofagus berusia 3000 tahun. Peti sarkofagus tersebut berasal dari pesawat kargo yang mengalami kecelakaan dan jatuh di tengah hutan. Dokter yang merawat dan memantau kondisi Katie kemudian meminta pihak keluarga untuk tetap tenang saat bertemu dengan Katie yang saat ini kondisi fisiknya sangat berubah drastis karena mengalami trauma berat akibat dikurung selama bertahun-tahun di dalam peti sarkofagus. Tiba di rumah sakit, Charlie dan Larissa berusaha menahan rasa kaget serta sedihnya saat melihat kondisi terkini dari anak pertamanya itu. Mereka memutuskan membawa Katie pulang ke Mexico dan merawatnya di sana.
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Mesir menuju Mexico, Charlie, Larissa dan Katie tiba di rumah. Mereka disambut suka cita oleh Nenek Carmen, Sebastian dan juga Maud. Meskipun wujud dan fisik Katie nampak menyeramkan, sang nenek dan Maud tetap menjalin interaksi lewat mengobrol, bercerita dan juga mendoakan Katie. Sementara itu, Sebastian memilih untuk menjaga jarak dengan kakaknya itu karena ia merasa tak nyaman melihat kondisi Katie yang aneh.
Waktu terus berlalu. Larissa berusaha membantu Katie agar bisa kembali berbicara dan merespon dirinya dengan cara memperlihatkan album foto Katie ketika masih anak-anak. Namun sayang, Katie tidak merespon apapun. Saat Nenek Carmen mendekati Katie dan memanjatkan doa dan kemudian mencium kening, tiba-tiba saja Katie membenturkan kepalanya ke hidung sang nenek hingga berdarah. Sore harinya, Larissa dan Nenek Carmen memandikan Katie sambil kukunya digunting. Secara tidak sengaja, Larissa merobek kuku dan lapisan kulit bagian kaki Katie yang menyebabkan ia tak terkendali hingga menikam dirinya sendiri sampai mengalami luka parah. Berbagai kejadian aneh lainnya semakin sering terjadi di rumah. Katie tiba-tiba menghilang dari dalam kamar dan berlarian di loteng rumah yang membuat Sebastian dan Maud semakin ketakutan. Selain itu, Katie juga sering mengeluarkan suara aneh yang tidak bisa dipahami oleh keluarganya.
Seiring berjalannya waktu, perban yang menutupi badan Katie perlahan mulai longgar. Saat akan diganti dengan yang baru, Larissa dan Charlie menemukan perban lainnya yang tersembunyi dan menempel pada kulit Katie. Perban tersebut memiliki banyak tulisan ayat-ayat suci. Karena penasaran, Charlie kemudian berkonsultasi pada arkeolog untuk mengetahui maksud dari lapisan kulit yang menutupi hampir semua badan dari Katie. Saat ditelusuri, rupanya Katie dijadikan tumbal ritual dengan cara mumifikasi untuk entitas gaib kuno bernama Nasmaranian. Ritual tersebut dilakukan agar Nasmaranian tetap terikat dengan Katie yang masih muda dan juga hidup. Charlie langsung mencari cara untuk segera menemukan orang yang sudah melakukan perbuatan jahat itu. Sebelum melanjutkan proses pencariannya, Charlie menemui lagi Katie di kamarnya dan berjanji akan menemukan pelaku. Obrolan tersebut ternyata mendapat respon dari Katie dengan kode morse lewat ketukan berkali-kali. Charlie langsung menyadari jika sebelum Katie diculik, mereka sempat belajar kode morse. Ia pun menulis semua kode morse yang diberikan Katie hingga memunculkan satu nama yaitu Layla. Setelah mendapatkan nama tersebut, Charlie langsung menghubungi Dalia untuk menelusuri nama Layla di Cairo. Namun sayang, Dalia tidak bisa langsung menemukan Layla yang mereka cari mengingat di Cairo dan Mesir sangat banyak perempuan bernama Layla. Charlie kemudian menelusuri semua surat kiriman dari orang-orang seluruh dunia yang mengucapkan turut berduka ketika Katie diculik dan menjadi berita besar kala itu. Setelah membuka kotak penyimpanan yang cukup besar dan membuka semua amplop, Charlie berhasil menemukan satu surat yang pengirimnya bernama Layla Khalil (May Elghety). Dugaan semakin kuat karena isi surat dan sampul amplopnya memiliki gambar cokelat yang sama persis dengan temuan bungkus cokelat untuk memancing Katie sebelum diculik.
Dalia pun langsung menelusuri nama Layla Khalil dan membawanya ke sebuah rumah terpencil dengan kebun nektarin yang tumbuh subur di padang pasir. Tiba di sana, Dalia tak menemukan siapapun di rumah tersebut. Ia kemudian menyusuri ke belakang rumah dan menemukan sebuah piramida tersembunyi di sana. Saat masuk ke dalam piramida tersebut melalui pintu yang tertutup pasir, Dalia terkejut melihat ruangan kosong dengan tanda bekas peti sarkofagus pernah tersimpan di sana. Ia meyakini sarkofagus yang sempat ada di sana adalah sarkofagus nya Katie. Ketika Dalia sedang menelepon Charlie atas temuannya itu, seorang perempuan tiba di rumah dan berusaha menyerang Dalia lalu kabur. Perempuan tersebut adalah pesulap berjubah yang delapan tahun lalu menculik Katie. Untungnya Dalia bawa senjata dan langsung melumpuhkan perempuan itu. Letusan senjata itu terdengar oleh anaknya si perempuan yaitu Layla. Karena takut dengan tembakan, Layla akhirnya menyerah dan memberikan sebuah kotak yang ia kubur berisikan VHS Katie di masa lalu dan langsung terbang menuju Mexico untuk memberikannya pada keluarga Charlie.
Sementara itu, kondisi Katie di rumahnya semakin tidak terkendali semenjak perban dan lapisan kulit nya banyak yang lepas. Katie memanipulasi pikiran kedua saudaranya dan bertindak kasar. Selain itu, Katie juga menyerang sang nenek hingga tewas dengan cara yang mengenaskan. Charlie dan Larissa tak tinggal diam. Mereka mengunci Katie di kamarnya selama prosesi pemakaman Nenek Carmen. Namun karena kekuatannya semakin tidak terkendali, Katie berhasil keluar dari kamar lalu memakan cairan darah dan pengawet mayat pada peti Nenek Carmen. Selain Katie, kedua saudaranya pun bertindak gila menyerang siapapun yang ada di dalam rumah.
Tiba di rumahnya keluarga Charlie, Dalia langsung memberikan VHS itu dan memutarnya. Dalia, Charlie dan Larissa terkejut melihat rekaman prosesi ritual tumbal dan mumifikasi Katie oleh keluarganya Layla dengan cara pertukaran jiwa iblis kuno Nasmaranian ke tubuh Katie demi menjaga agar wilayah mereka tidak terkena kutukan serta banjir bandang. Bagaimana nasib keluarga Charlie selanjutnya?



#Review:
Rumah produksi Warner Bros mencoba peruntungan untuk menghadirkan cerita baru dari legacy franchise legendaris THE MUMMY yang sudah eksis sejak tahun 1932. Menariknya, jika versi Universal Pictures mayoritas film THE MUMMY bertema action adventure, di tangan Warner Bros, banting setir genre menjadi horror supernatural. Tak tanggung-tanggung, Warner Bros langsung menggandeng Lee Cronin yang sukses mencuri perhatian lewat film THE HOLE IN THE GROUND (2019) dan EVIL DEAD RISE (2024) sebagai sutradara dari THE MUMMY (2026) versi horror ini.


Untuk segi cerita, film LEE CRONIN'S THE MUMMY (2026) sebetulnya memiliki premis yang cukup menjanjikan. Namun entah kenapa, plot yang dihadirkan film ini menurutku terlalu panjang dan bertele-tele. Paruh awal film, penonton diajak untuk berkenalan dengan keluarga Charlie yang normal dan bahagia. Aku suka dengan keputusan Lee Cronin yang memilih latar cerita utama bukan dari kalangan keluarga disfungsional seperti film-film horror kebanyakan. Meskipun karakter dalam film ini hidup bahagia, mereka tetap bisa diganggu juga kok, tanpa harus punya konflik internal seperti akibat perceraian, ditinggal meninggal orangtua atau anaknya rebel. Faktor eksternal yang mengganggu keluarga Charlie hadir dengan cara menculik anak pertamanya yaitu Katie dan kemudian dijadikan tumbal untuk ritual. Pada bagian ini, Lee Cronin sedikit memberikan kritik sosial terhadap respon oknum kepolisian atau detektif mengenai kasus penculikan tuh dugaan awalnya selalu orang tua yang disalahkan. Sampai Katie diculik lalu menghilang ditengah badai pasir yang menimpa Cairo masih enjoyable untuk diikuti.


Saat plot memasuki babak pertengahan yang dimulai dengan latar waktu maju ke 8 tahun kemudian, barulah temponya terasa berjalan lambat. Banyak pertanyaan yang tidak terjawab secara jelas seperti pesawat yang mengangkut sarkofagus berisikan Katie dipindahkan lalu mengalami kecelakaan, lalu narasi tentang sejarah ritual Mummy dan entitas gaib Nasmaraian pun hanya dijelaskan melalui rekaman VHS saja. Intensitas ketegangan juga awalnya terjaga dengan sangat baik, namun seiring berjalannya cerita, Lee Cronin justru menebar jump scared khas film-film horror blockbuster melalui parade gore yang terus-menerus. Di satu sisi iya sih, berhasil bikin ngilu dan nahan rasa mual apalagi adegan gunting kuku dan jenazah Nenek Carmen. Ampun! Sisanya, yaa terasa sangat repetitif biar penonton yang suka jump scared terpuaskan teriak-teriak dan misuh-misuhnya. Elemen investigasi dan pemecahan teka-teki misteri yang menimpa Katie di sini terasa seperti tribute kecil-kecilan dari Lee Cronin untuk film-film The Mummy versi action-adventure. Yang cukup disayangkan selanjutnya yaitu bonding keluarga Charlie terasa kuat hanya paruh awal semata. Makin menuju akhir cerita, justru jadi hambar karena filmnya terlalu fokus menyajikan elemen gore yang bertubi-tubi.
Untuk jajaran pemain, penampilan para aktor yang menjadi keluarga Charlie tidak ada yang mengecewakan. Mereka saling melengkapi dan terasa believable jika mereka menyayangi karakter Katie dengan kondisi anehnya itu. May Calamawy yang memerankan detektif Dalia Zaki pun sebetulnya masih bisa dieksplor lebih mendalam lagi karakternya karena banyak sekali hal yang dimana dia tuh tiba-tiba mengetahui semuanya tanpa menampilkan investigasi secara jelas pada penonton.
Untuk urusan visual, nonton film LEE CRONIN'S THE MUMMY (2026) tuh vibes nya jadi 11-12 seperti film EVIL DEAD RISE (2026). Teknik pengambilan gambar secara ekstrim dan tak lazim mudah kita temukan disepanjang durasi film. Sinematografi nya pun sama. Eksekusi adegan-adegan gore nya memang tak kalah gila dengan film Lee Cronin sebelumnya. Scoring yang dihadirkan di beberapa bagian menurutku terlalu berisik. Apakah faktor Atomic Monster dan Blum House yang menyebabkan film ini jadi mengobral jump scared dan scoring di sepanjang durasi film? Entahlah. Hahaha.



[7.5/10Bintang]

[Review] Ghost In The Cell: Mengungkap Terror Sadis Dari Sosok Gaib Yang Gentayangan Di Penjara!

 


#Description:
Title: Ghost In The Cell (2026)
Casts: Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Bront Paralae, Dimas Danang, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming Sugandhi, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Kiki Narendra, Haydar Salishz, Arswendy Beningswara, Dewa Dayana, Ical Tanjung, Farrell Rafisqy, Radja Nasution, Marissa Anita
Director: Joko Anwar
Studio: Come and See Pictures, Rapi Films, Legacy Pictures, Barunson E&A


#Synopsis:
Setelah melakukan penelusuran di kawasan hutan bernama Nehea yang ada di Kalimantan untuk keperluan artikel berita, seorang jurnalis sekaligus editor yaitu Dimas (Endy Arfian), dikejar deadline oleh pemimpin redaksi di kantornya untuk segera menerbitkan artikel tentang perusahaan tambang nikel milik anak dari wakil presiden Indonesia yang melakukan penebangan hutan secara ilegal di sana. Namun sayang, hasil penelusuran yang dilakukan Dimas justru menemukan banyak keanehan. Selain luas wilayah hutan yang ditebang tidak sesuai dengan yang dilaporkan, ia juga mendapat kabar jika tak sedikit warga sekitar dan para pekerja tambang di sana yang hilang secara misterius. Informasi yang didapatkannya itu membuat Pemred Pak Endy (Rio Dewanto) marah besar. Ia menyuruh Dimas segera merevisinya agar tidak fokus pada hal-hal mistis tersebut.



Dimas pun langsung merevisi artikel beritanya sesuai permintaan Pak Endy. Setelah selesai, Dimas terkejut saat masuk ke ruangan Pemred, ia menemukan Pak Endy tewas secara mengenaskan di ruangannya. Karena tidak ada saksi dan Dimas jadi orang pertama yang menemukan jasad Pak Endy, ia dinyatakan jadi tersangka kasus pembunuhan sadis Pak Endy dan langsung dijebloskan ke penjara. Dimas dan narapidana lain yang ada di kantor polisi langsung dibawa ke penjara Lapas Labuhan Angsana untuk menjalani hukuman di sana.


Tiba di penjara, Dimas langsung melalui serangkaian pengecekan fisik yang dilakukan oleh para sipir. Setelah itu, ia bertemu dengan Irfan (Dimas Danang), salah satu narapidana di sana yang diminta untuk memandu Dimas berkeliling ke setiap sudut penjara. Irfan sendiri merupakan tersangka kasus penipuan melalui telepon yang sudah menelan banyak korban. Selama berkeliling, Irfan meminta Dimas agar tidak kemana-mana sendirian dan harus ikut berkelompok supaya aman. Di penjara, Irfan berkelompok dengan Anggoro (Abimana Aryasatya), tersangka kasus perampokan rumah pejabat karena tanah dan rumahnya digusur secara ilegal. Lalu ada Pendi (Lukman Sardi) dosen kampus yang dijebak karena tidak mau terlibat kasus korupsi, Wildan (Mike Lucock) tersangka kasus penipuan penggandaan uang. Terakhir yaitu Six (Yoga Pratama), tersangka penipuan yang merugikan korban miliaran rupiah. 


Anggoro sendiri dikenal sebagai narapidana yang selalu peduli dan membela napi-napi lain yang mendapat perlakuan tidak adil baik dari sesama napi maupun para sipir di sana. Sikap Anggoro tersebut rupanya sangat dibenci oleh kepala sipir yaitu Jefry (Bront Paralae) dan beberapa napi mafia anak buah dari Koh Rendra (Ho Yuhang) yaitu Bimo (Morgan Oey), Tokek (Aming), Bucky (Almanzo Konoralma) dan Bambang (Ical Tanjung).
Setelah selesai berkeliling penjara, Dimas mendapatkan sel tahanan bersama dengan Tokek, salah satu napi yang ditakuti karena sikap anehnya. Tokek juga diam-diam tertarik pada Dimas karena terlihat polos dan penampilannya tidak seperti penjahat. Sebelum masuk ke sel tahanan masing-masing, Irfan dan Anggoro meminta Dimas untuk selalu waspada terhadap Tokek.


Waktu terus berlalu. Dimas masih selamat dari godaan Tokek karena pada malam itu Tokek mabuk berat. Saat para napi sedang membersihkan diri, Tokek lagi-lagi berusaha menggoda Dimas. Untungnya Anggoro dan yang lainnya ada di sana dan menolong Dimas agar tidak lagi diganggu Tokek. Setelah selesai, semua narapidana kembali ke sel tahanan dan menjalankan tugas mereka masing-masing. Saat Six sedang menyapu di depan sel tahanan, ia melihat Tokek berjalan menuju sel nya dari tempat bilas tanpa mengenakan pakaian. Saat Six mendekati sel tahanan Tokek, ia terkejut karena Tokek tidak ada di sana. Tak lama setelah itu, terdengar teriakan kencang dari salah satu napi di tempat bilas. Para napi lain dan sipir langsung berlari ke sana. Mereka terkejut menemukan Tokek tewas dengan cara yang sangat mengenaskan.


Kematian Tokek membuat Jefry dan kepala pengelola penjara yaitu Pak Sapto (Kiki Narendra) khawatir akan jabatan mereka. Jika kabar tewasnya napi sampai ketahuan polisi dan media, akan berdampak buruk kepada mereka berdua dan juga para napi koruptor di Blok K yang selama ini dikenal sebagai narapidana eksklusif. Jefry kemudian mengumpulkan semua napi dan memaksa pelaku pembunuh Tokek untuk mengakui perbuatannya. Namun para napi memang tidak ada yang melakukan hal keji tersebut. Jefry dan para sipir lain kemudian menghukum semua napi dengan tidak menyediakan makanan selama seharian. Sementara itu, Pak Sapto menutupi kejadian tersebut agar napi yang paling disegani oleh Pak Sapto di Blok K yaitu Prakasa Kitabuming (Arswendy Bening Swara) dan napi eksklusif lainnya tidak ketakutan.


Seiring berjalannya waktu. Six yang kesehatannya kembali pulih semakin sensitif merasakan hal-hal aneh di penjara. Selain itu, kemampuan Six dalam membaca aura orang lain juga semakin menguat. Hal tersebut terbukti setelah terjadi lagi kematian tragis dari beberapa napi yang menciptakan suasana mencekam di penjara. Six, Anggoro, Irfan, Pendi dan Wildan meyakini jika semua kematian yang terjadi di sana setelah Dimas datang. Para napi lain pun jadi curiga jika Dimas menjadi penyebab dan yang membawa malapetaka ke dalam penjara. Setelah mempelajari pola kematian dari para napi, Six meyakini jika kematian brutal yang terjadi di penjara karena para korban tersebut memiliki aura berwarna merah yang menandakan adanya emosi dan amarah besar. Six, Anggoro, Irfan, Pendi, Wildan dan para napi lain kemudian sepakat untuk kerja sama agar sosok gaib yang gentayangan di penjara itu tak lagi menjemput ajal mereka yang tersisa. Berhasil kah mereka?


#Review:
Sutradara Joko Anwar kembali hadir dan meramaikan industri perfilman Indonesia dengan merilis film terbarunya yang berjudul GHOST IN THE CELL (2026). Menariknya, sebelum tayang di Indonesia, film ke-12 dari Joko Anwar ini sukses menggelar world premiere perdana di Berlinale International Film Festival pada bulan Februari kemarin dan mendapat respon sangat positif dari penonton di sana.


Untuk segi cerita, film GHOST IN THE CELL (2026) memadukan tiga genre utama yaitu komedi, horror dan sedikit sentuhan action di dalamnya. Ketiga genre tersebut berhasil disatukan oleh Joko Anwar lewat plot survival para narapidana dan mengungkap misteri sosok gaib yang mengincar nyawa mereka. Jika berkaca pada track record filmography Joko Anwar, penonton pasti punya pemikiran jika elemen horror dan kesan serius akan mendominasi film ini. Namun siapa sangka, Joko Anwar justru menyajikan film GHOST IN THE CELL (2026) penuh dengan komedi satir yang mengkritik kondisi sosial, budaya, politik dan pemerintahan Indonesia saat ini. Tidak tanggung-tanggung hampir semua dialog dari para karakter selalu "ngeri-ngeri sedap" bikin penonton tertawa kencang. Saking ironisnya, kok terlalu relatable dengan kondisi sekarang di Indonesia. Selain melalui celetukan-celetukan "pedas" nya, Joko Anwar juga turut memelesetkan nama-nama besar yang penonton bisa langsung paham itu siapa saja hahaha. Konsistensi jokes yang mengkritik tersebut terasa disepanjang durasi, dari awal sampai akhir film. Untuk sebagian orang, mungkin akan terasa too much karena di beberapa dialog, terlihat so asik sendiri. Apalagi di beberapa adegan yang melibatkan karakter Tokek cukup sensitif karena mengarah ke sexual harrasment.


Ketika elemen horror mulai dimunculkan lewat serangkaian terror kematian, plot cerita tidak langsung menjelaskan apa yang terjadi agar kebingungan dari para karakter napi di penjara tampil believable. Alhasil, penonton jadi dibuat penasaran dengan penyebab semua kekacauan yang terjadi di sana. Ketika para napi menyadari satu-satunya cara untuk mencegah kematian lewat konsep aura dalam diri manusia, plot kembali bersenang-senang lewat kombinasi action dan komedi. Kapan lagi coba bisa melihat para aktor sangar pada gelut sambil melakukan hal-hal konyol wkwkwk. Eksekusi horror nya pun tidak penuh dengan jump scared dan penampakan berkali-kali. Joko Anwar bermain-main dengan elemen gore secara brutal sekaligus artsy. Seperti biasanya, setelah selesai nonton, muncul berbagai pertanyaan menarik yang jadi bahan diskusi panjang dari penonton dan penggemar setia film-filmnya Joko Anwar. Mengapa kematian brutal mereka dibuat artistik layaknya instalasi seni. Apakah sosok gaib yang gentayangan dan balas dendam di sana adalah seorang seniman? Hahaha.
Untuk jajaran pemain, hampir semuanya berhasil memancarkan pesona dan kelebihan mereka masing-masing. Nama-nama aktor yang sering dijuluki "Kartap nya Joko Anwar" selalu konsisten memberikan penampilan terbaik di film GHOST IN THE CELL (2026). Sebut saja, Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Yoga Pratama, Lukman Sardi, Bront Paralae, Morgan Oey, Kiki Narendra, Mike Lucock hingga Aming, mereka semua tampil having fun tanpa jaim sama sekali di film ini. Adegan fighting dan latihan menari jadi salah scene paling lucu! Hahaha.
Untuk urusan visual dan audio, film GHOST IN THE CELL (2026) tampil memukau. Sinematografi khas Joko Anwar semakin didukung dengan artistik dan wardrobe yang keren. Set penjara yang sepertinya masih sama dengan set film PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI (2025) jadi mengingatkanku akan film bertema penjara namun bergenre drama tearjerker yaitu MIRACLE IN CELL NO. 7 (2022) versi remake oleh Falcon Pictures. Hahaha. Untuk sisi efek visual, dari awal sampai pertengahan sih berjalan sangat mulus, namun entah kenapa saat memasuki akhir film, CGI dan visualnya mengalami penurunan, terutama saat adegan fighting melawan para napi preman di Blok K hingga akhir film.
Overall, film GHOST IN THE CELL (2026) berhasil menyajikan cerita komedi, horror yang sangat brutal dalam mengangkat berbagai keresahan dari penonton dan juga Warga Negara Indonesia. Definisi having fun dengan sarkasme yang berkesan!


[8.5/10Bintang]

Thursday, 16 April 2026

[Review] Undertone: Mengungkap Kejadian Supranatural Yang Dialami Oleh Dua Host Podcast Horror!

 


#Description:
Title: Undertone (2026)
Casts: Nina Kiri, Adam DiMarco, Michele Duquet, Keana Bastidas, Jeff Yung, Ryan Turner, Brian Quintero, Marisol D'Andrea, Austin Tuason, Seled Calderon, Bianca Nugara, Jayda Woods, Sarah Beaudin, Christina Notto
Director: Ian Tuason
Studio: Black Fawn Films, Slateverse Pictures, Spooky Pictures, Dimension Gate, A24


#Synopsis:
The Undertone, merupakan salah satu podcast horror yang populer dan banyak pendengar setianya. Podcast tersebut dipandu oleh dua orang yaitu Evy Babic (Nina Kiri) dan Justin Manuel (Adam DiMarco). Menariknya, selama siaran podcast, mereka berdua berada di tempat dan zona waktu yang berbeda. Evy tinggal di Amerika sementara itu Justin tinggal di Eropa. Selain itu, Evy juga dikenal sebagai host yang sangat tidak mempercayai hal-hal mistis karena menurutnya itu tipuan semata dan semua hal yang terjadi pasti punya penjelasan rasional. Berbanding terbalik dengan Justin yang justru sangat mempercayai adanya hal-hal mistis. Suatu hari, Justin mendapat kiriman email anonim yang berisikan rangkaian huruf secara acak serta 10 file rekaman audio. Justin yakin jika episode podcast mereka kali ini akan sangat menarik dan juga menyeramkan.
File-file audio tersebut direkam oleh sepasang suami istri yaitu Mike (Jeff Yung) dan Jessa (Keana Lyn Bastidas). Mike sengaja merekam suara karena ingin membuktikan jika sang istri sering mengigau dan berbicara ketika mereka sedang tertidur. Rekaman pertama, Mike mendengar istrinya yang sedang terlelap tidur menggumam lagu klasik anak-anak berjudul London Bridge. Rekaman tersebut kemudian diputar terbalik oleh Justin dan ia terkejut karena mendengar samar-samar kalimat "Mike, Kill All". Evy lantas tidak percaya dan menganggap itu hanya kebetulan dan salah pendengaran saja. Setelah selesai siaran, Evy langsung teringat jika ia juga sering mendengar lagu klasik anak-anak yang sering dinyanyikan ibunya saat masih kecil. Lagu tersebut berjudul "Baa, Baa, Black Sheep". Karena penasaran, Evy iseng memutar lagu itu secara terbalik sama seperti yang dilakukan Justin. Ketika diputar, Evy mendengar samar-samar sebuah kalimat "Lick The Blood Off". Evy kemudian menghentikan lagu tersebut dan mematikan semua perangkat podcast nya.
Keesokan paginya, Evy menjalani rutinitas sehari-hari yaitu mengurus sang ibu (Michele Dequet) yang sudah berusia lanjut dan hanya terbaring di kamarnya saja. Beberapa tahun lalu, Evy sempat mengeluh pada Justin. Ia mengaku sudah menyerah dan berharap ibunya itu meninggal saja karena sudah lama tak berdaya dan tak sadarkan diri juga. Namun hingga saat ini Evy tetap merawat sang ibu sebaik mungkin meskipun kakak laki-lakinya tak pernah membantunya. Siang harinya, Evy memanggil dokter ke rumah untuk diperiksa sekaligus mengecek kondisi kesehatan ibunya. Dokter mengatakan jika kondisi kesadaran sang ibu semakin menurun karena sudah berhari-hari tidak makan dan minum. Dokter pun memberitahu kemungkinan terburuk jika tak lama lagi ibunya akan meninggal. Sore harinya, Evy mendapat panggilan telepon dari teman-temannya yang sedang berpesta. Mereka meminta Evy untuk datang ke pesta sekalian istirahat sejenak dari rutinitasnya merawat sang ibu dan juga siaran podcast. Evy pun izin pamit pada ibunya untuk pergi ke rumah temannya. Sebelum pergi, Evy sudah memandikan, mengganti celana, menyimpan obat dan makanan di meja dekat tempat tidur sang ibu.
Evy pulang dari pesta di pagi hari. Saat berjalan ke kamar ibunya yang ada di lantai atas, Evy terkejut melihat kondisi sang ibu yang tergeletak di lantai dan tak sadarkan diri. Sejak saat itu, Evy sering mengalami kejadian aneh seperti keran air di toilet kamar ibunya menyala dan patung hiasan Bunda Maria berpindah posisi. Evy kemudian berkata jujur jika saat ini ia sedang hamil muda pada ibunya dan mengaku jika ia merasa tidak layak menjadi seorang ibu.
Malam haripun tiba. Evy dan Justin podcast The Undertone kembali siaran. Di episode terbarunya ini, mereka berdua kembali memutar file rekaman audio Mike dan Jessa lainnya. Dalam rekaman tersebut, Jessa kembali berbicara ketika sedang tidur hingga sleepwalking saat tengah malam. Berkali-kali Jessa mengatakan "Ouzyba, Ni Emoc". Justin kembali memutar rekaman secara terbalik untuk mendengar lebih jelas setiap kata yang diucapkan Jessa. Ketika didengarkan secara seksama, terdengar sebuah kalimat yaitu "Come In, Abyzou" berkali-kali. Mereka kemudian menelusuri tentang Abyzou ini dan menemukan sebuah cerita rakyat Mediterania di masa lalu tentang entitas gaib yang dipercaya menyebabkan keguguran pada ibu hamil dan mendorong ibu-ibu untuk membunuh anak mereka sendiri.
Di rekaman-rekaman berikutnya, Jessa semakin intens mengigau kalimat tersebut. Tak hanya itu saja, selama berada di rumah, Evy semakin sering mengalami kejadian-kejadian aneh seperti ibunya yang tiba-tiba bergerak sendiri, kemudian banyak lampu berkedip-kedip di semua ruangan. Saat rekaman terakhir selesai diputar, Evy dan Justin menyadari jika Jessa harus memperingatkan seseorang melalui rekaman tersebut kepada seseorang yang sedang mendengarnya. Orang tersebut adalah Evy itu sendiri. Ketika Justin mencoba membalas email anonim yang mengirimkan 10 file rekaman suara tersebut, emailnya sudah hilang.
Podcast The Undertone kemudian membuka sesi telepon dengan para pendengar setianya. Mereka berharap bisa menemukan orang lain yang mungkin saja mengenal Mike dan Jessa. Tak lama setelah itu, Evy dan Justin menerima panggilan masuk dari seseorang yang mengaku tetangga dari Mike dan Jessa. Ia menceritakan jika Mike dan Jessa ditemukan meninggal di mereka dengan kondisi yang mengenaskan. Hasil autopsi dari jasad menemukan jika Jessa sedang hamil muda. Setelah itu, telepon kembali masuk dari seorang perempuan bernama Abby (Sarah Beaudin) yang meminta bantuan untuk menenangkan anak bayinya yang terus-terusan menangis. Setelah itu, telepon lain masuk dan mengatakan sebuah nama yang hanya diketahui oleh Evy saja. Bagaimana cerita selanjutnya dari Podcast The Undertone ini?


#Review:
Rumah produksi A24 kembali menghadirkan sebuah film horror terbaru dengan premis dan ide yang berhasil menarik perhatian saat trailernya dirilis. Film berjudul UNDERTONE (2026) ini menjadi karya debut dari Ian Tuason sebagai sutradara film layar lebar, setelah sebelumnya dikenal sebagai sutradara film-film pendek. Selama penayangan di bioskop Amerika Serikat sejak pertengahan Maret kemarin, film UNDERTONE (2026) yang berbudget hanya $500.000 saja, berhasil mengumpulkan $18 juta. A24 dibuat untung banget dari film ini!


Untuk segi cerita, Ian Tuason sangat brilian dalam memanfaatkan elemen audio dalam film ini. Karena premisnya berpusat pada sebuah podcast horror, indera pendengaran penonton dipaksa untuk bekerja ekstra. Teknik backmasking (memutar audio secara terbalik) bukan cuma sekadar jump scared biasa, tapi menjadi jembatan narasi yang menghubungkan dunia nyata dengan mitologi Abyzou. Saat lagu anak-anak yang ceria seperti "London Bridge" dan "Baa Baa Black Sheep" berubah menjadi bisikan menyeramkan, di situlah horror yang sesungguhnya muncul. Lebih lanjut, rasa takut dan mencekam dibangun perlahan melalui rasa isolasi dan kesunyian di rumah Evy. Selain itu, plot juga turut mengeksplorasi trauma lintas generasi antara anak dengan orang tua serta ketakutan akan menjadi orang tua. Misteri dan mitology fiktif tentang Abyzou juga cukup terjelaskan dengan baik. Namun sayang, Ian Tuason menghadirkan pace cerita film ini cenderung slow burn dan repetitif terutama di bagian pertengahan film. Bahkan di beberapa bagian, interaksi antara karakter Evy dengan ibunya yang cenderung minim dialog dengan teknik kamera statis menurutku terlalu banyak dan membosankan.


Untuk jajaran pemain, Performa Nina Kiri yang sekilas mengingatkanku pada salah satu aktris ratu FTV Indonesia sangat krusial di film UNDERTONE (2026) ini. Ia berhasil menampilkan transisi dari seorang skeptis menjadi wanita yang hancur karena paranoia dan ketakutan terhadap entitas gaib yang menghantuinya. Chemistry dan tektokan dengan Adam DiMarco yang hanya bermodalkan suara saja tampil sangat asyik sekaligus bikin deg-degan. Tipe suara mereka berdua emang cocok sebagai host podcast karena enak banget didengar! Hahaha.
Overall, Film UNDERTONE (2026) berhasil membuktikan bahwa horror independen dengan budget terbatas bisa jauh lebih efektif daripada film horror blockbuster karena memiliki konsep dan ide yang kuat. Semoga saja trilogy yang direncanakan oleh sang sutradara tetap konsisten bagus!


[8/10Bintang]

Wednesday, 15 April 2026

[Review] The Drama: Ketika Rencana Pernikahan Diiringi Serangkaian Masalah Tak Terduga!

 


#Description:
Title: The Drama (2026)
Casts: Zendaya, Robert Pattinson, Alana Haim, Mamoudou Athie, Hailey Benton Gates, Jordyn Curet, Zoe Winters, Hannah Gross, Sydney Lemmon, Anna Baryshnikov, Michael Abbott, Dee Nelson, Damon Gupton, Ken Cheeseman, Doria Bramante
Director: Kristoffer Borgli
Studio: Square Peg, A24


#Synopsis:
Suatu hari di sebuah cafe di Cambridge, seorang kurator museum asal Inggris bernama Charlie Thompson (Robert Pattinson) berusaha mendekati seorang staff toko buku bernama Emma Harwood (Zendaya) yang sedang membaca buku. Untuk menarik perhatian, Charlie berpura-pura telah membaca salah satu buku. Namun sayang, Emma mengabaikannya. Karena merasa gagal, Charlie kemudian mendatangi Emma dan meminta maaf jika merasa terganggu dengan sikapnya barusan. Emma terkejut lalu menjelaskan jika dirinya tuli di salah satu telinganya sehingga tidak bisa mendengar dengan jelas maksud dari Charlie itu apa. Mereka kemudian berkenalan ulang. Sejak pertemuan awkward tersebut, keduanya menjadi dekat dan berpacaran.




Dua tahun kemudian, Emma dan Charlie memutuskan untuk menikah dengan tenggat waktu menuju hari pelaminan tinggal seminggu lagi. Meskipun terasa serba mendadak, keduanya berusaha mempersiapkan acara pernikahan semaksimal mungkin dengan mengundang sahabat-sahabat mereka yaitu Rachel (Alana Haim) beserta suaminya, Mike (Mamoudou Athie), lalu Misha (Hailey Gates) dan pacarnya, Blake (Michael Abbott) untuk menjadi grooms man dan brides maid. Selain itu, Emma dan Charlie turut mengundang musisi DJ Pauline (Sydney Lemmon) untuk memeriahkan pesta pernikahan mereka. Tak lupa juga merekrut wedding photographer yaitu Frances (Zoe Winters) untuk mengabadikan moment bahagia keduanya.


Suatu malam, Emma dan Charlie tak sengaja memergoki Pauline sedang mengkonsumsi heroin di taman dekat rumah. Charlie kemudian mendatangi Rachel dan Mike untuk mempertimbangkan ulang keterlibatan Pauline di pesta pernikahannya, karena khawatir akan merusak acara pesta. Emma tak tinggal diam, ia justru membela Pauline karena ia meyakini setiap orang pasti pernah melakukan hal buruk dalam hidup mereka. Hal tersebut kemudian memunculkan ide diantara mereka berempat untuk berkata jujur tentang hal buruk apa yang pernah dilakukan. Charlie mengaku jika pernah jadi pelaku cyberbullying ke teman sekelasnya hingga ia pindah rumah. Rachel mengaku pernah mengunci tetangganya yang keterbelakangan mental di lemari semalaman. Kemudian Mike mengaku pernah sengaja berlindung di balik orang lain saat diserang anjing dan orang tersebut terluka. Terakhir, Emma dengan ragu mengaku jika ia pernah berencana melakukan aksi penembakan di sekolah.


Pengakuan Emma tersebut membuat Charlie, Rachel dan Mike terkejut. Bahkan Rachel langsung teringat sepupunya, Samantha (Anna Baryshnikov) yang menjadi korban insiden penembakan dan membuatnya lumpuh. Sejak terbuka dan saling berkata jujur itu, Charlie jadi meragukan dirinya sendiri yang merasa belum sepenuhnya mengenal baik calon istrinya itu. Ketika mereka sedang berduaan, Charlie mendesak Emma untuk berkata jujur tentang masa lalunya. Emma mengaku punya rencana aksi penembakan tersebut karena depresi dan terpengaruh komunitas online yang mengedepankan kekerasan menggunakan senjata. Namun pengaruh tersebut tak berlangsung lama, setelah Emma melihat secara langsung dampak negatif dari penembakan massal terhadap komunitasnya. Emma memutuskan untuk meninggalkan segala aktivitas berbahaya itu dan kini menjadi aktivis di komunitas pengendalian senjata dari tangan masyarakat dan punya banyak teman.


Setelah saling terbuka satu sama lain, muncul rasa khawatir dalam diri Emma dan Charlie. Keduanya jadi punya opini serta pandangan berbeda yang menyebabkan hubungan menjadi sedikit renggang. Selain itu, Emma semakin sering mengalami mimpi buruk yang berkaitan dengan masa lalunya. Sementara itu, Charlie jadi sering paranoid dengan kondisi mental calon istrinya itu yang pernah terobsesi dengan berbagai senjata api. Meskipun demikian, keduanya tetap melanjutkan rencana pernikahan.
Semakin dekat dengan hari pernikahan, Charlie berusaha meyakinkan dirinya untuk tetap lanjut menikah atau tidak kepada orang-orang disekitarnya. Charlie menanyakan pada rekan kerjanya yaitu Misha (Hailey Gates) tentang reaksi bagaimana jika punya pacar yang memiliki masa lalu pernah merencanakan aksi penembakan di sekolah. Misha pun dengan tegas mengatakan jika pacarnya, Blake (Michael Abbott) melakukan hal tersebut, ia langsung melaporkannya ke polisi. Mendengar reaksi Misha tersebut membuat Charlie semakin putus asa dan sedih untuk mengambil keputusan. Karena saling curhat tersebut, Charlie terbawa suasana sambil melepas pakaian dan menciumi Misha. Untungnya mereka berdua langsung sadar dan menghentikannya. Charlie dan Misha sepakat untuk tidak menceritakan apa yang mereka lakukan pada Emma dan juga Blake.


Hari pernikahan Emma dan Charlie pun tiba. Rachel memberikan pidato pernikahan untuk kedua mempelai secara blak-blakan setelah persahabatannya dengan Emma merenggang. Tak hanya itu saja, Emma tak sengaja mendengar obrolan dari tamu undangan lain perihal rencana penembakan sekolah yang ia lakukan di masa lalu dan langsung melaporkannya pada sang suami. Charlie pun langsung mendatangi Misha dan terjadi miskomunikasi yang membuka kejadian Charlie dan Misha hampir saja bercumbu beberapa sebelum acara pernikahan. Bagaimana nasib pernikahan Emma dan Charlie?


#Review:
Awal bulan Desember kemarin, para pecinta film dikejutkan dengan munculnya artikel pengumuman di surat kabar The Boston Globe tentang tunangan dan rencana pernikahan dengan foto terlampir aktris Zendaya dengan Robert Pattinson. Seperti yang kita ketahui, Zendaya adalah pacar dari Tom Holland dan sudah menjalani hubungan sejak tahun 2021 lalu. Selama lima tahun terakhir pun keduanya nampak harmonis dan tidak ada issue mereka putus. Tapi kok, tiba-tiba Zendaya tunangan dengan Robert Pattinson? Setelah ditelusuri, rupanya artikel berita tersebut adalah gimmick promosi untuk project film drama produksi A24 yang berjudul THE DRAMA (2026) yang disutradarai oleh Kristoffer Borgli.


Untuk segi cerita, film THE DRAMA (2026) diawali dengan scene manis dan menggemaskan yang sering sekali kita temukan di film atau series drama romantis. Pertemuan tak sengaja antara Emma dan Charlie tersebut kemudian berlanjut sampai dua tahun dan menjadi pondasi untuk hubungan mereka ke arah yang lebih serius lagi. Memasuki babak pertengahan film, barulah sang sutradara banting setir genre dan suasana yang tadinya serba menggemaskan jadi thriller psikologis. Moment jujur-jujuran dengan sahabat sebelum menikah yang akhirnya membuka masa lalu dari masing-masing karakter secara mengejutkan. Borgli mengeksplorasi masa lalu versus identitas masa kini dari karakter Emma Harwood yang mendapatkan social judge gara-gara pernah punya niatan untuk melakukan aksi penembakan di sekolah. Padahal Emma sendiri sama sekali tidak melakukannya, namun sudah diperlakukan seperti penemabakan itu benar-benar kejadian. Hal inilah yang menjadi kritik sosial atas fenomena sikap social judge yang sering kita temukan di kehidupan sekitar. Llemen mimpi buruk Emma dan obsesi visual Charlie terhadap senjata untuk menciptakan atmosfer yang mencekam. Adegan pernikahan di babak ketiga adalah puncak dari segala kecanggungan. Alih-alih menjadi momen bahagia, pernikahan tersebut menjadi ajang penghancuran karakter di depan publik. Pidato Charlie yang berniat membela Emma namun malah membongkar perselingkuhannya sendiri adalah momen komedi satir bagi penonton yang menyaksikannya.
Untuk jajaran pemain, Zendaya memberikan penampilan yang sangat berbeda dari film atau series yang pernah ia mainkan. Sebagai Emma, Zendaya harus memerankan karakter yang terjebak dalam rasa bersalah masa lalu sekaligus rasa sakit karena dihakimi oleh orang-orang yang ia cintai. Ia berhasil menampilkan sosok yang rapuh namun tetap defensif. Keheningan Emma di paruh kedua film terasa sangat berat dan emosional. Robert Pattinson memerankan Charlie dengan energi yang sangat tidak stabil. Penonton diajak melihat transisinya dari seorang tunangan yang suportif menjadi pria yang paranoia dan akhirnya melakukan tindakan destruktif yaitu berselingkuh dengan karakter Misha. Lalu, Alana Haim menunjukkan jangkauan akting yang semakin memukau sebagai Rachel. Haim memerankan Rachel dengan sikap yang angkuh, merasa paling benar, dan sangat menghakimi Emma. Definisi toxic friend yang bersembunyi di balik dinding moralitas wkwkwk!
Overall, film THE DRAMA (2026) yang awalnya dibuka dengan drama romantis dari pacaran menuju rencana pernikahan kemudian menjadi sebuah studi karakter yang provokatif tentang penghakiman sosial dan kemunafikan manusia. Keren!


[8.5/10Bintang]