Monday, 2 February 2026

[Review] The Voice of Hind Rajab: Cerita Tragis Seorang Anak Perempuan Ditengah Aksi Genosida Israel!

 


#Description:
Title: The Voice of Hind Rajab (2025)
Casts: Hind Rajab, Motaz Malhees, Saja Kilani, Amer Hlehel, Clara Khoury, Nesbat Serhan
Director: Kaouther Ben Hania
Studio: Mime Films, Tanit Film, Film4, MBC Studios, Plan B Entertainment, The Party Film Sales


#Synopsis:
29 Januari 2024, para relawan dan petugas di pusat bantuan Bulan Sabit Merah di Palestina sibuk dengan panggilan telepon masuk dari warga Gaza yang meminta bantuan. Salah satunya yaitu Omar (Motaz Malhees) yang menerima telepon dari seorang wanita yang terjebak ditengah genosida Israel di jalur Gaza. Namun sayang, saat Omar sedang berusaha berkoordinasi untuk mengirim ambulans kesana, terdengar jeritan penelepon dengan disertai suara tembakan dan akhirnya komunikasi terputus. Hal tersebut mengguncang perasaan Omar yang baru pertama kali mengalami kejadian seperti itu. Omar pun diminta leader nya yaitu Nisreen (Clara Khoury) untuk menenangkan diri dan meluapkan kesedihannya sejenak sebelum kembali bekerja.
Setelah menenangkan diri, Omar kembali ke mejanya dan lanjut bekerja. Saat pergantian shift dengan rekannya, Rana (Saja Kilani) ia menerima panggilan telepon dari seorang anak perempuan. Omar pun seperti biasa menanyakan identitas serta apa yang dibutuhkan. Namun telepon terputus. Tak lama setelah itu, Omar menerima kembali panggilan telepon dari seorang pria yang melaporkan jika keponakannya, Hind Rajab yang sedang berada di dalam mobil terjebak di dekat SPBU seorang diri. Pria tersebut kemudian memberikan nomor telepon saudaranya yang berada di mobil yang sama.
Omar kemudian menelepon nomor itu dan kembali tersambung dengan suara anak perempuan tadi. Selama percakapan, Hind Rajab yang punya nama panggilan Hanood itu meminta Omar dan yang lainnya untuk segera datang menolongnya. Ia ketakutan dan berkali-kali terdengar suara ledakan dan tembakan dari luar mobil. Omar semakin panik dan tak bisa menahan rasa sedihnya mendengar Hanood yang menangis sambil meminta bantuan. Rana kemudian ikut membantu Omar untuk menenangkan Hanood melalui telepon. Setelah itu, Omar mendatangi supervisor nya yaitu Mahdi (Amer Hlehel) untuk segera mengirimkan mobil ambulans untuk evakuasi Hanood.
Mahdi pun langsung berkoordinasi dengan berbagai departemen untuk menindaklanjuti laporan Omar tersebut. Setelah ditelusuri, Mahdi tidak bisa langsung begitu saja mengirim ambulans ke posisi Hanood karena jalur evakuasi tim medis ditutup. Ditambah lagi pasukan tentara Israel tak henti-hentinya melancarkan aksi genosida di sana dengan senjata dan juga tank perang. Omar kemudian berusaha mencari jalan alternatif dari jalur evakuasi. Ia pun menemukan sebuah jalan pintas menuju lokasi Hanood melalui peta yang berjarak hanya 8 menit dari posisi ambulans dan tim medis. Omar kembali mendatangi Mahdi untuk mengirim langsung ambulans via jalur alternatif. Namun Mahdi tak bisa main kirim ambulans kesana karena harus mengikuti prosedur dan perizinan dari berbagai departemen terkait dan juga keamanan personel tentara Palestina yang nanti ditugaskan.
Sementara itu, Rana yang masih berkomunikasi dengan Hanood via telepon berusaha menenangkannya agar tidak panik dan tetap bersembunyi. Ketika Rana menanyakan di mobil tersebut sedang bersama siapa saja, Hanood menjawab jika ia sendirian karena ketiga sepupu dan paman dan bibi nya sudah meninggal. Mendengar jawaban Hanood membuat Rana, Omar dan yang lainnya langsung menangis. Omar semakin marah pada Mahdi yang tidak bisa berbuat cepat untuk segera menolong Hanood. Suara tembakan dan tank yang sedang berjalan menghancurkan kendaraan dan bangunan semakin terdengar melalui telepon yang dipegang Hanood. Setelah mengetahui salah satu tentara Palestina adalah rekannya, Omar pun langsung menghubunginya dan meminta untuk segera menyelamatkan Hanood. Setelah mendapat izin, mobil ambulans kemudian berjalan menuju jalur alternatif dengan diarahkan oleh Mahdi. Dalam perjalanan itu, tentara Israel semakin agresif melancarkan tembakan dari senjata maupun tank perang milik mereka ke banyak titik. Di saat mobil ambulans tinggal sedikit lagi mencapai lokasi keberadaan mobil yang didalamnya ada Hanood, komunikasi terputus, begitu juga dengan Hanood. Tangisan pecah di Bulan Sabit Merah. Mereka gagal menyelamatkan Hind Rajab. Keesokan harinya setelah tentara Israel pergi, para relawan langsung menuju lokasi keberadaan mobil ambulans dan juga Hanood. Di sana, mereka menemukan kedua mobil tersebut sudah hancur penuh dengan bekas ratusan tembakan peluru. Hanood dan tim medis di ambulans yang berusaha menuju lokasi keberadaan Hanood ditemukan sudah meninggal dunia.


#Review:
Sejak bulan Oktober 2023 sampai hari ini, aksi genosida Israel semakin masif dilakukan di wilayah Palestina. Tak sedikit yang menyuarakan kecaman terhadap Israel dari berbagai kalangan. Namun hingga saat ini, Israel masih saja kekeuh dengan pendiriannya untuk menguasai Gaza dan juga Palestina. Emang negara biadab dan gak tau diri.


Aksi protes genosida Israel semakin intens disuarakan oleh para sineas film di seluruh dunia. Tercatat sudah ada beberapa film panjang, film pendek dan film dokumenter yang mengangkat cerita genosida Israel terhadap Palestina yang dirilis dari 2023 sampai hari ini. Jika tahun 2024 lalu dunia dihebohkan dengan film dokumenter NO OTHER LAND (2024) yang sukses memenangkan kategori Best Documentary Feature Film Academy Awards yang ke-97, di tahun 2025 kemarin, dunia kembali digemparkan dengan film asal Tunisia berjudul THE VOICE OF HIND RAJAB (2025). Film dengan format docudrama ini mengangkat cerita asli perjuangan petugas di Bulan Sabit Merah Palestina dalam upaya menyelamatkan nyawa seorang anak perempuan bernama Hind Rajab yang terjebak ditengah-tengah aksi biadab tentara Israel melalui panggilan telepon. Dengan bermodalkan suara rekaman asli Hind Rajab yang terjadi pada 29 Januari 2024 dan kemudian dikombinasikan dengan drama serta konflik batin petugas call center dalam menghadapi situasi menyayat hati tersebut. Durasi 89 menit berhasil dimaksimalkan dengan luar biasa oleh sang sutradara untuk menciptakan suasana ketegangan antara petugas call center Bulan Sabit Merah Palestina dengan para korban yang terjebak ditengah aksi genosida Israel. Setiap komunikasi telepon mendadak terputus, disitulah nyawa warga Palestina melayang. Selain itu, cerita film ini juga turut menyentil prosedur dan birokrasi dalam menjalankan tugas ternyata memang seribet itu. Meskipun dalam keadaan darurat, seharusnya birokrasi ribet itu sebaiknya bisa fleksibel deh. Asli, penonton ikutan dibuat greget terhadap karakter Mahdi, meskipun keputusannya mengikuti prosedur pun karena tugasnya seperti itu dan ia juga harus mengutamakan keselamatan tim medis yang harus menuju medan perang genosida yang dilakukan Israel.
Film THE VOICE OF HIND RAJAB (2025) kemudian ditutup dengan realita pahit sesuai dengan kejadian nyata. Rekaman otentik sebagai bukti kekejaman genosida Israel terhadap warga sipil yang tak berdosa terlihat dengan jelas. Mereka sengaja menembak dan menghancurkan mobil yang didalamnya ada Hind Rajab dan juga ambulans. Sinting!


[9/10Bintang]

Sunday, 1 February 2026

[Review] Surat Untuk Masa Mudaku: Mengikuti Kisah Mengharukan Antara Anak-Anak Panti Dengan Pengurusnya!


#Description:
Title: Surat Untuk Masa Mudaku - A Letter To My Youth (2026)
Casts: Millo Taslim, Agus Wibowo, Cleo Haura, Aqila Herby, Jordan Omar, Halim Latuconsina, Diandra Salsabila, Fendy Chow, Agla Artalidia, Verdi Solaiman, Sadia Aisye, Willem Bevers, Landung Simatupang, Ruth Marini, Rania Putrisari, Widika Sidmore, Chicco Kurniawan, Marthino Lio
Director: Sim F.
Studio: Buddy Buddy Pictures, Netflix


#Synopsis:
Kefas (Fendy Chow) dan istrinya Rania (Agla Artalidia) sedang berbahagia merayakan ulang tahun anak kesayangan mereka yaitu Abigail (Sadia Aisye) di rumah. Di tengah acara, Kefas marah dan menyuruh Abigail untuk tidak berenang dengan teman-temannya dengan alasan baru saja sembuh. Melihat hal tersebut membuat Rania kesal, karena Abigail sendiri sudah sehat dan juga sedang bermain dengan teman-temannya itu. Setelah pesta ulang tahun selesai, Rania meminta suaminya agar tidak berlebihan dalam bersikap untuk keluarga, karena membuat mereka ketakutan. Saat tengah malam, Kefas dibuat panik saat mengetahui Abigail kembali demam. Ia pun langsung membawa sang anak ke rumah sakit meskipun sebelumnya sudah diberi obat oleh Rania. Tiba di rumah sakit, Dokter kemudian menjelaskan jika kondisi Abigail sudah membaik berkat obat demam yang diberi Rania, sehingga tidak perlu untuk dirawat inap di rumah sakit. Dalam perjalanan pulang, Kefas meminta maaf pada Rania dan Abigail atas sikap overprotective nya selama ini.
Keesokan harinya, Kefas terkejut saat Rania dan Abigail tak ada di rumah. Rania kemudian menuliskan pesan jika ia dan Abigail akan tinggal di rumah orangtuanya untuk sementara waktu dan meminta Kefas untuk memperbaiki sikapnya yang selama ini terlalu berlebihan kepada Rania maupun Abigail. Ditengah kesendiriannya itu, Kefas juga mendapat kabar dari Sabrina (Ruth Marini), teman semasanya di panti asuhan yang memberi kabar jika pengelola panti yaitu Pak Simon Ferdinand (Agus Wibowo) meninggal. Kefas pun bergegas pergi menuju ke Sukabumi. Setibanya di panti asuhan dan bertemu lagi dengan Sabrina, Kefas pun langsung teringat masa-masa remajanya yang dihabiskan di panti tersebut.
Semasa tinggal di panti asuhan, Kefas (Millo Taslim) dikenal sebagai anak yang nakal dan sering membuat onar. Sudah berkali-kali panti asuhan mengganti pengurusnya karena dibuat tak nyaman oleh Kefas dan teman-temannya yaitu Joy (Cleo Haura), Desi (Diandra Salsabila), Romi (Jordan Omar), Boni (Halim Latuconsina) dan Bowo (Daniel Gabriel). Pemilik yayasan yaitu Pak Wahyu (Willem Bevers) kemudian meminta bantuan pada sahabatnya yaitu Pak Simon untuk mengelola panti. Pak Simon yang sedang menabung untuk memesan kavling kuburan dirinya bersedia dan menerima tawaran tersebut. Sebelum datang ke panti asuhan, Pak Simon membuat kesepakatan dengan pengelola Rumah Duka yaitu Pak Gabriel (Verdi Solaiman) agar kavling kuburan yang ia pesan persis di samping kuburan mendiang istrinya untuk tidak dijual ke orang lain. Dengan menggunakan sisa tabungan dan gaji dari panti asuhan, Pak Simon sepakat untuk menyicilnya.
Hari pertama Pak Simon bekerja di panti asuhan disambut baik oleh Sabrina (Aqila Herby), yang merupakan anak panti paling senior dan dipercaya oleh Pak Wahyu untuk memantau anak-anak. Kehadiran Pak Simon malah bikin kesal Kefas karena ia yakin jika kelakuan pengurus baru pasti akan tak beda jauh dengan pengurus-pengurus sebelumnya yang selalu tak peduli terhadap anak-anak panti hingga korupsi dana donasi panti. Kefas menyimpan dendam dan amarah terhadap pengurus panti sebelumnya karena tidak mau menolong adiknya, Angelica yang kala itu sakit demam untuk dibawa ke rumah sakit dan berujung sang adik meninggal dunia.
Setiap harinya, Kefas menyusun berbagai rencana agar Pak Simon tidak betah bekerja di panti. Namun respon dari Pak Simon selalu sabar dan tidak pernah memarahi anak-anak panti. Joy, Desi, Romi, Boni dan Bowo pun yakin jika Pak Simon adalah orang baik, tidak seperti pengurus-pengurus panti sebelumnya. Merasa belum puas, Kefas kemudian berencana mengacaukan acara bakti sosial panti yang akan segera digelar dalam waktu dekat. Acara yang dihadiri para tamu undangan dan donatur tersebut sering menampilkan bakat-bakat para anak-anak serta menjamu mereka dengan berbagai kuliner yang sudah dipersiapkan. Acara bakti sosial sering disebut sebagai ajang para donatur untuk mengadopsi anak-anak yang menurut mereka sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
Hari bakti sosial pun tiba. Semuanya sudah dipersiapkan oleh Pak Simon, Sabrina dan anak-anak lain. Saat para donatur akan menikmati hidangan yang disediakan, mereka terkejut melihat adanya bangkai tikus di atas meja makan. Para donatur pun sangat marah dan langsung pergi meninggalkan panti asuhan. Sabrina dan anak-anak lain juga ikutan marah sekaligus sedih. Mereka yakin Kefas adalah pelakunya. Kejadian tersebut membuat Pak Wahyu ikutan marah besar. Ia memaksa Pak Simon untuk mengusirnya di panti asuhan. Mendengar jika dirinya akan diusir, Kefas pun sedih dan memilih pergi dari panti.
Seiring berjalannya waktu, Pak Simon mengambil keputusan untuk tidak mengusir Kefas. Pak Simon justru tidak memarahi Kefas dan memaklumi semua kenakalannya karena hal tersebut merupakan ekspresi Kefas dalam meluapkan amarah dan bencinya atas kepergian sang adik. Pak Simon pun menceritakan masa mudanya di panti dan kejadian tragis yang menimpa calon pengadopsi Pak Simon. Selain itu, ia juga menceritakan kepergian mendiang istri dan anak semata wayangnya yang seumuran dengan Kefas. Setelah mendengar curhatan Pak Simon, Kefas pun meminta maaf. Mereka berdua kemudian kembali ke panti asuhan. Tiba di sana, Kefas kemudian bertemu dengan teman-temannya di sana dan meminta maaf atas semua perbuatannya.
Keesokan harinya, Pak Simon membujuk Pak Wahyu untuk tidak mengeluarkan Kefas dari panti. Ia berjanji jika Kefas kini sudah berubah dan berusaha menjadi anak yang baik. Setelah mendapatkan gaji, Pak Simon memutuskan jika bulan depan ia akan berhenti sebagai pengurus panti karena sudah punya rencana lain. Sebelum itu, Pak Simon meminta pada Pak Wahyu untuk menggelar bakti sosial lagi sebelum ia pergi dari panti. Acara bakti sosial kali ini berjalan sukses dan lancar. Semua donatur dibuat bahagia melihat paduan suara dan bakat-bakat dari anak-anak panti asuhan.
Setelah semuanya selesai, Pak Simon mendatangi Pak Gabriel untuk melunasi sisa pembayaran kavling kuburan miliknya. Selain itu, Pak Simon juga pindah alamat ke kontrakan yang lebih kecil agar keberadaannya tidak ketahuan oleh Pak Wahyu dan anak-anak panti asuhan, serta membeli seperangkat pakaian dan barang-barang kesayangannya untuk dititipkan pada Pak Gabriel. Apa yang sedang direncanakan oleh Pak Simon?


#Review:
Mengawali tahun 2026, Platform Streaming OTT Netflix merilis film original Indonesia terbarunya berjudul SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) produksi Buddy Buddy Pictures. Film ini disutradarai oleh Sim F. serta penulisan ceritanya hasil kolaborasi sang sutradara dengan Daud Sumolang. Untuk segi cerita, film SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) mengambil latar cerita di sebuah panti asuhan dengan daily life para penguhuninya di sana. Aku suka dengan treatment Sim F. yang tidak mengeksploitasi nuansa kelam dan kesedihan dalam menceritakan kehidupan anak-anak di panti asuhan, film ini justru berhasil menampilkan banyak sekali hal positif yang relevan dengan dunianya anak-anak.


Keceriaan, persahabatan dan kebersamaan mereka khususnya anak-anak yang sering bersinggungan dengan karakter Kefas selalu berhasil mencuri perhatian penonton. Jujur, sudah lama rasanya aku tidak menonton film Indonesia yang pemeran utamanya anak-anak dengan wajah-wajah baru di industri perfilman Indonesia. Terakhir, mungkin ada di film LASKAR PELANGI (2008) dan KOKI-KOKI CILIK (2018). Akting yang terlihat masih kaku serta kepolosan mereka justru berhasil menciptakan kehangatan dalam cerita film ini.
Memasuki pertengahan film, plot mulai fokus terhadap pengembangan cerita dari karakter Kefas dan Pak Simon. Keduanya memiliki nasib yang sama dalam upaya menghadapi duka dan mengikhlaskan apa yang seharusnya sudah terjadi. Kolaborasi sutradara dengan Daud Sumolang berhasil menguras emosi penonton ketika perjuangan mereka dalam menghadapi duka sangat betolak belakang. Meskipun demikian, pada akhirnya cara mereka untuk ikhlas dan bersyukur tampil sangat personal dan menyentuh perasaan penonton. Lebih lanjut, film ini juga tidak mengandalkan kejutan plot twist atau apapun yang menghentak. Penyelesaian cerita berjalan dengan mulus sambil menonjolkan makna tentang pentingnya kebersamaan.
Untuk jajaran pemain, apresiasi harus kita berikan pada ensemble casts anak-anak yang tampil sangat realistis, believable dan sesekali menghibur penonton. Lupakanlah semua kekakuan di babak awal film, saat memasuki pertengahan hingga akhir film, semua kekakuan dan kepolosan mereka terbayar tuntas dengan chemistry super heartwarming antara anak-anak panti dengan Pak Simon. Semuanya hadir secara mengalir dengan tambahan adegan ketika anaka-anak panti sudah dewasa, kemudian reunian ditengah suasana duka benar-benar bikin haru!
Untuk urusan visual dan scoring, sejauh ini film-film Indonesia original Netflix selalu berada di level yang memuaskan. Set lokasi, properti dan sinematografi untuk menghidupkan suasana 90an dalam film SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) sangat meyakinkan, serta mengajak penonton millenial serasa flashback ke jaman-jaman kita remaja. Overall, film SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) berhasil menyajikan drama tentang rekonsiliasi duka di masa lalu dengan cara yang hangat sekaligus berkesan. Keren!


[8/10Bintang]

Wednesday, 28 January 2026

[Review] Send Help: Cerita Survival Penuh Ketegangan Antara Bos & Staff-nya Di Pulau Terpencil!

 



#Description:
Title: Send Help (2026)
Casts: Rachel McAdams, Dylan O'Brien, Edyll Ismail, Dennis Haysbert, Xavier Samuel, Chris Pang, Thaneth Warakulnukroh, Emma Raimi, Bruce Campbell
Director: Sam Raimi
Studio: Raimi Productions, 20th Century Studios


#Synopsis:
Setelah tujuh tahun bekerja di perusahaan Preston Strategic Solutions, staff divisi strategi dan perencanaan yaitu Linda Liddle (Rachel McAdams) optimis jika dirinya akan naik jabatan, sesuai janji dari mendiang pemilik perusahaan yaitu Bruce Preston (Bruce Campbell), sebagai balas budi atas dedikasi mendiang ayahnya Linda di masa lalu terhadap Bruce dan juga perusahaannya.



Namun sayang, setelah meninggalnya Bruce, perusahaan dan kepemimpinannya justru diwariskan kepada anak semata wayang Bruce yaitu Bradley Preston (Dylan O'Brien). Harapan naik jabatan untuk Linda jadi semakin tipis karena Bradley lebih tertarik mempromosikan staff lain yaitu Donovan (Xavier Samuel) sebagai pimpinan baru perusahaan karena keduanya sudah berteman lama sejak masih kuliah. Selain itu, Bradley juga tidak menyukai sikap aneh dan penampilan culun dari Linda yang menurutnya tidak pantas untuk menjabat posisi penting di perusahaan. Bradley pun terang-terangan pada asistennya ingin menyingkirkan Linda dari kantornya dengan cara di mutasi ke kantor cabang yang lokasinya jauh agar ia tidak lagi melihat Linda.


Untuk menjalankan misinya, Bradley berencana memindahkan Linda ke kantor cabang yang akan segera di buka di Bangkok, Thailand. Ia pun mengajak Linda untuk meninjau langsung ke sana bersama dengan Donovan dan beberapa staff lain yang punya kedekatan tersendiri dengan Bradley. Rombongan kemudian terbang menggunakan pesawat pribadi menuju Bangkok. Dalam perjalanan, Donovan memutar video konten audisi Linda yang mengikuti kompetisi program reality show Survivor. Video tersebut menjadi bahan lelucon dan tertawaan dari Bradley dan yang lainnya. Hal tersebut membuat Linda sangat sedih dan semakin sakit hati karena perilaku jahat dari rekan-rekan kerjanya itu. Tak lama kemudian, pesawat mengalami turbulensi hebat. Ditengah kepanikan tersebut, pesawat terkena sambaran petir yang menyebabkan kerusakan fatal. Linda dan Bradley yang duduk memasang sabuk keamanan tidak terlempar keluar dari pesawat, namun tenggelam di tengah lautan.


Keesokan harinya, Linda terbangun dari pingsannya dan tersadar jika ia terdampar di sebuah pulau kosong tak berpenghuni. Ketika Linda berkeliling, ia menemukan Bradley di pinggir pantai dan tak sadarkan diri. Linda pun langsung membawa Bradley ke tempat yang aman. Selama terdampar di pulau tersebut, Linda menerapkan cara-cara survival yang selama ini ia pelajari baik melalui buku, jurnal, internet dan juga program televisi favoritnya, Survivor. Berkat hobinya itu, Linda berhasil membuat tempat teduh dari kayu dan dedaunan, api unggun tanpa bantuan korek api, berburu sumber makanan ke dalam hutan dan yang lainnya. Setelah dua hari tak sadarkan diri, Bradley mulai siuman. Ia terkejut sekaligus menangis terharu karena masih diberi keselamatan dari kecelakaan tragis pesawat, meskipun salah satu kakinya mengalami luka dan cidera parah.


Hari demi terus berlalu. Linda semakin menikmati terdampar di pulau terpencil dan terlihat tidak ada usaha untuk mencari cara agar bisa ditemukan oleh orang lain. Hal sebaliknya justru dialami oleh Bradley yang ingin segera keluar dari pulau tersebut. Meskipun di kantor mendapatkan perilaku buruk, tak membuat Linda enggan dalam menolong dan merawat Bradley. Di sisi lain, Bradley ternyata menyimpan rasa kesal terhadap Linda karena tidak ada usaha untuk mencari pertolongan, malah memilih bertahan hidup saja di pulau tersebut sampai bantuan pertolongan datang sendiri mendatangi mereka. Pertengkaran kecil pun selalu terjadi diantara Linda dan Bradley setiap harinya.


Hari demi hari terus berlalu. Kondisi kesehatan dan kaki Bradley yang cidera perlahan mulai membaik. Karena merasa bosan, Bradley kemudian ikut Linda berburu sumber makanan di dalam hutan. Sambil menjelajah hutan, Linda berbagi pengetahuan tentang hutan, tanaman, buah-buahan hingga hewan yang selama ini ia pelajari pada Bradley. Setelah itu, Linda juga mengajak Bradley berjalan menuju tebing untuk melihat pemandangan indah lautan luas sekaligus melarang Bradley untuk tidak berjalan jauh ke tebing sebrang karena banyak tumbuhan beracun di sana.
Tak terasa sudah hampir sebulan Linda dan Bradley terdampar di pulau tersebut. Bantuan dan upaya pencarian jatuhnya pesawat juga tak pernah sampai ke pulau mereka. Hingga suatu ketika, saat Linda sedang mencari sumber makanan di pantai bagian belakang, ia melihat kapal kecil melintas. Tapi ternyata, Linda memilih bersembunyi dan tidak meminta pertolongan kepada kapal tersebut. Ia pun merahasiakan kejadian itu pada Bradley supaya mereka berdua tetap terdampar di sana.



Karena sudah tidak tahan lagi hidup di sana, Bradley diam-diam merakit kapal kayu untuk kabur dari pulau dan pergi meninggalkan Linda. Agar rencananya berhasil, Bradley memberikan racun di hidangan makan malam yang disantap Linda. Melihat kondisi Linda yang keracunan dan hampir tak sadarkan diri, Bradley langsung mendorong kapal kayunya menuju pinggir pantai dan kabur menuju laut. Namun sayang, angin kencang di malam hari menciptakan arus dan ombak tinggi yang menyebabkan kapal kayu Bradley hancur dan terbalik. Ia pun terseret dan kembali ke pinggir pantai.
Keesokan harinya, Bradley terbangun yang diselamatkan lagi oleh Linda. Meskipun sudah mengecewakannya, Linda tetap menolong Bradley sambil mengancamnya untuk tidak lagi meremehkan dirinya. Bradley pun akhirnya menyerah dan memutuskan mengikuti semua keinginan Linda untuk tetap bertahan hidup di pulau. Bagaimana nasib mereka berdua selanjutnya?


#Review:
Di penghujung bulan Januari 2026, Hollywood siap digemparkan dengan film bergenre kombinasi antara drama komedi, romantis, thriller dan horror terbaru produksi 20th Century Fox berjudul SEND HELP (2026). Film ini disutradarai oleh Sam Raimi, kreator original Trilogy EVIL DEAD dan DRAG ME TO HELL (2009), yang selama ini dikenal sebagai salah satu sutradara spesialis film horror dengan memiliki ciri khas tersendiri di setiap filmnya.


Untuk segi cerita, menurutku wajar saja film SEND HELP (2026) ini berani menyuguhkan kombinasi genre dalam plotnya, karena kolaborasi Sam Raimi dan penulis Damian Shanon, Mark Swift berhasil menciptakan cerita tentang survival yang sangat seru dan penuh kejutan diluar dugaan! Premis film ini sebetulnya sudah sering kita temukan di film atau serial lain yaitu tentang karakter yang terjebak atau terdampar di sebuah pulau terpencil usai mengalami kecelakaan. Terakhir, premis ini bisa kita temukan di film nya Netflix THE MOST BEAUTIFUL IN THE WORLD (2025) yang dibintangi Reza Rahadian dan Sheila Dara. Bagian awalnya juga memiliki kesamaan pula, tentang boss pria yang selalu meremehkan staff perempuannya di kantor lalu tak sengaja mereka berdua terdampar di pulau. Ketika memasuki babak pertengahan, barulah film SEND HELP (2026) menunjukkan taringnya.


Terima kasih WatchmenID atas undangan nonton bareng film SEND HELP (2026) nya!

Moment terdampar di pulau terpencil dieksplorasi dengan realistis. Berkat hobinya membaca buku, riset dan menonton acara bertema survival, karakter Linda Liddle berhasil menerapkannya dengan maksimal selama terdampar di pulau tersebut. Penonton selalu berhasil dibuat tertawa melihat cekcok antara Linda dan Bradley karena keinginan mereka berdua sangat bersebrangan. Dengan durasi yang nyaris 120 menit, Sam Raimi sangat leluasa mengeksplor dua sifat manusia bertolak belakang lewat Linda dan Bradley. Di paruh awal film, penonton sangat mudah bersimpati dan berpihak pada Linda yang mendapat perlakuan sexism dan misogyny dari orang-orang di kantornya. Pada point ini, kritik sosial tersebut jadi lebih relevan dengan kehidupan sosial perkantoran yang pasti ada saja tipikal orang-orang brengsek seperti Bradley Preston. Namun saat memasuki babak pertengahan sampai akhir film, barulah kejutan demi kejutan disajikan ke penonton dengan cara yang sangat "menyenangkan". Aksi kucing-kucingan antara Linda dan Bradley serta kekonyolan mereka selalu berhasil memancing tawa sekaligus adrenaline penonton. Selain itu, Sam Raimi juga menyuguhkan signature nya yaitu elemen horror, thriller serta gore nya yang sukses membuatku ngilu! Gila sih, semua experience dari film-filmnya Sam Raimi terdahulu seperti Evil Dead, Spider-Man, Drag Me To Hell hingga yang terbaru DOCTOR STRANGE IN THE MULTIVERSE OF MADNESS (2022) bisa dirasakan disepanjang film ini. Bahkan, treatment angle kamera dan extreme close-up yang digunakan, beberapa diantaranya langsung dejavu terhadap film-film karya Sam Raimi terdahulu, khususnya saat Linda di babak akhir film, eksekusinya Scarlett Witch banget haha. Transformasi perubahan dari Linda dan Bradley di babak akhir film benar-benar memuaskan ekspektasi penonton!
Untuk jajaran pemain, penampilan luar biasa datang dari Rachel McAdams yang berhasil menghidupkan karakter Linda yang culun, freak dan kemudian menggila jadi cegil yang dibangun secara perlahan dengan sangat memukau. Range emosional serta gesture nya juara banget! Sangat berharap performa McAdams di film ini ter-notice oleh Oscars, Golden Globes dan SAG. Pasangannya yang memerankan Bradley Preston yaitu Dylan O'Brien pun tampil luar biasa menyebalkan sebagai boss patriarki yang sangat kekeuh tidak ingin dilangkahi oleh Linda. Aksi liciknya yang selalu gagal jadi bahan tertawaan bagi penonton. Chemistry hate relationship nya dengan Linda juga benar-benar menyebalkan. 
Overall, film SEND HELP (2026) sukses menjadi sajian film Hollywood yang paling mengejutkan dan memukau di awal tahun ini. Kombinasi drama komedi romantis, horror, thriller hingga gore yang sangat entertaining! Highly recommended ditonton di bioskop karena nyaris no sensor sama sekali!


[9.5/10Bintang]

Monday, 26 January 2026

[Review] Penerbangan Terakhir: Skandal Perselingkuhan Antara Pilot & Pramugari Yang Bikin Emosi!

 


#Description:
Title: Penerbangan Terakhir (2026)
Casts: Jerome Kurnia, Nadya Arina, Aghniny Haque, Nasya Marcella, Devina Bertha, Ayu Dyah Pasha, Fiorenza Celesta, Adam Farrel, Meni Agus, Marella Murwanto, Harris Soedarto, Astry Ovie
Director: Benni Setiawan
Studio: VMS Studio, Legacy Pictures


#Synopsis:
Deva (Jerome Kurnia) merupakan pilot muda yang banyak disukai para pramugari di bandara. Selain tampan, rupanya Deva juga dikenal sebagai playboy karena sering mendekati dan menggoda beberapa pramugari. Bahkan ia juga nekat merayu dan bermesraan dengan pramugari incarannya di kokpit pesawat ketika sedang mode otomatis.
Suatu hari setelah selesai tugas terbang, Deva tak sengaja bertemu dengan pramugari baru yaitu Tiara (Nadya Arina). Ternyata, Tiara adalah adik kelas Deva semasa SMA yang sama-sama mengikuti program ekstrakurikuler olahraga basket. Pertemuan tersebut membuat keduanya saling terpesona. Deva kemudian meminta nomor telepon Tiara agar obrolan mereka bisa berlanjut.
Sejak saat itu, Deva dan Tiara menjadi dekat. Ketika sedang berdinas di jadwal yang sama, tak jarang Deva tebar pesona dan merayu Tiara di kokpit pesawat. Namun Tiara masih bisa menahan diri untuk tidak mudah termakan rayuan Deva. Di sisi lain, hubungan mereka berdua cukup dikhawatirkan oleh kedua rekan Tiara yaitu Eva (Nasya Marcella) dan Siska (Devina Bertha). Namun Tiara berjanji akan menjaga diri sebaik mungkin agar tidak mengecewakan sang ibu (Ayu Dyah Pasha) dan adiknya, Indah (Fiorenza Celesta) yang ada di kampung halaman.
Setelah resmi berpacaran, Tiara pun mengajak Deva untuk menemui ibu dan adiknya. Tak membutuhkan waktu lama, keluarga Tiara sangat menyukai Deva yang sifatnya sopan, baik dan juga tampan. Ibunya Tiara pun menitipkan pesan pada Deva untuk menjaga Tiara sebaik mungkin. Setelah pertemuan tersebut dan mendapat restu dari keluarga, Deva pun berencana akan menikahi Tiara. Hingga suatu malam, saat Deva dan Tiara libur bekerja, mereka menghabiskan waktu bersama di apartment nya Deva. Karena terbujuk rayuan dan janji Deva yang akan menikahinya Tiara, mereka pun melakukan hubungan seksual. Sejak saat itu, Deva dan Tiara jadi pasangan pilot dan pramugari yang sering diperbincangkan di kalangan mereka. Selain itu, keduanya pun mulai mempersiapkan rencana tunangan dan pernikahan.
Hingga suatu hari, kabar mengejutkan datang dari Deva yang tiba-tiba saja mengadakan akad dan resepsi pernikahan dengan seorang konten kreator populer bernama Nadia Sarah (Aghniny Haque). Bersama dengan Eva dan Siska, mereka pergi ke tempat acara pernikahan Deva. Dan benar saja, mereka sudah resmi menikah. Hal tersebut membuat Tiara sangat sakit hati karena dibohongi oleh Deva. Tiara belum sepenuhnya merelakan Deva yang menikah dengan orang lain, selain karena masih mencintai Deva, tabungan pernikahan yang sudah ia persiapkan ternyata sudah digunakan oleh Deva. Tiara pun meminta adiknya untuk sementara waktu tidak menceritakan hal ini kepada sang ibu.
Disela-sela jam terbangnya, Deva sering menyempatkan waktu untuk menemui Tiara dengan alasan ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Deva mengaku terpaksa menikah dengan Nadia karena istrinya itu mengancam akan menghabisi karier Deva sebagai pilot. Selain itu, jika menikahi Nadia, ia bisa mendapatkan uang tambahan untuk melunasi hutang dengan cara membuat banyak konten bersama Nadia. Deva berjanji setelah 6 bulan menikah, ia akan mengajukan cerai pada Nadia dan kembali ke Tiara.
Seiring berjalannya waktu, Tiara yang berniat untuk melupakan Deva, selalu gagal karena termakan bujuk rayu Deva dengan alasan andalannya akan menikahi Tiara. Mereka pun diam-diam selalu menyempatkan waktu untuk bertemu meskipun Tiara sendiri menyadari jika hal tersebut memang salah. Sementara itu, Nadia mulai curiga jika suaminya masih ganjen terhadap wanita lain di belakangnya. Ia pun tak tinggal diam. Nadia menyusun rencana dengan membuat banyak konten dan live di sosial media sebagai pasangan suami istri yang harmonis bersama Deva. Rencana tersebut berhasil menarik perhatian para followers dan membuat Tiara semakin menyadari jika keputusannya percaya pada Deva itu adalah salah.
Sementara itu, Deva masih berusaha menyelamatkan hubungannya dengan Tiara. Ia kembali bersumpah akan secepatnya menceraikan Nadia asalkan Tiara bersabar untuk menunggu, karena permasalahan hutangnya masih belum terselesaikan. Situasi menjadi tidak sesuai rencana karena Nadia kini sedang mengandung anaknya Deva. Kabar kehamilannya itu disiarkan secara live di sosial media. Nadia pun mengancam Deva dan Tiara akan mengungkap perselingkuhan mereka ke publik jika tak kunjung diselesaikan.
Tiara pun sebetulnya sudah mengambil langkah untuk tak lagi berurusan dengan Deva. Namun sialnya, Deva terus berusaha mengejar dan tak mau kehilangan Tiara. Di sisi lain, reputasi dan nama Tiara semakin buruk. Awalnya ia ingin memberikan klarifikasi terkait hubungannya dengan Deva pada publik, namun Eva melarang hal tersebut karena saat ini posisi Tiara tidak akan mendapat respon baik dari publik karena berhadapan dengan Nadia yang notabene istri sah Deva yang sedang mengandung. Masalah kembali muncul disaat Deva tiba-tiba tidak bisa dihubungi oleh Nadia maupun Tiara. Sang istri curiga jika suaminya itu masih saja berhubungan dengan Tiara. Namun Tiara membantah hal tersebut karena sedang bekerja dan tidak satu jadwal dengan Deva.
Nadia pun terpaksa akhirnya buka suara melalui siaran live jika dirinya diselingkuhi oleh Deva disaat kondisinya sedang mengandung dan selingkuhannya adalah Tiara. Siaran live tersebut kemudian viral dimana-mana. Nama Tiara semakin buruk, disebut sebagai perusak rumah tangga orang, dipecat dari pekerjaannya sebagai Pramugari dan kabar tersebut akhirnya sampai ke ibunya. Sementara itu, Deva pun tak bisa berbuat banyak dan hubungannya dengan Tiara juga sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Agar namanya tidak semakin buruk, Deva terpaksa mengakui perbuatannya dan meminta maaf secara langsung kepada Nadia lewat program podcast.


#Review:
Bulan Januari 2026 perfilman Indonesia disuguhkan dengan dua film bertema drama perselingkuhan sekaligus dari dua rumah produksi berbeda. Setelah Unlimited Productions dengan MUSUH DALAM SELIMUT (2026), di minggu kedua hadir film PENERBANGAN TERAKHIR (2026) produksi VMS Studio karya sutradara dan penulis Benni Setiawan.


Untuk segi cerita, aku baru menyadari jika film ini adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Annastasia Anderson. Aku kira, terinspirasi dari berita viral perselingkuhan pramugari dengan kalangan pejabat yang sempat menghebohkan beberapa tahun lalu hahaha. Plot yang dihadirkan film PENERBANGAN TERAKHIR (2026) diawali dengan drama percintaan pilot playboy dengan pramugari fresh graduate. Treatment romansa Deva dan Tiara di awal film tampil cukup manis, khas cerita-cerita FTV yang aku tidak merasakan adanya rasa cinta satu sama lain diantara mereka. Tak lupa juga diselipkan betapa brengseknya karakter Deva dengan gombalan andalannya "kamu pernah ciuman di atas 30.000 kaki gak?" sambil dipangku di kabin pilot. Istighfar! Plot perjalanan cinta antara Deva dan Tiara pun terasa cepat dan singkat, tiba-tiba saja Tiara mengajak Deva berkenalan dengan ibu dan sang adik, kemudian langsung sibuk menyusun acara pernikahan.
Memasuki pertengahan cerita, barulah plot twist dihadirkan ketika karakter Nadia Sarah muncul sebagai calon istri Deva yang besoknya mereka menggelar pernikahan. Semuanya terasa serba instan, tanpa memperlihatkan maksud dan alasan Nadia yang kekeuh ingin tetap menikah dan mempertahankan Deva sebagai suaminya. Padahal sudah jelas, suaminya itu banyak main perempuan, kecanduan judol dan banyak hutang dimana-mana. Point of view cerita pun jadi berpindah kepada Nadia yang semakin agresif mempertahankan rumah tangganya meskipun hal tersebut memang sengaja penuh kepalsuan. Moment Nadia terus menyerang Tiara pun jadi bisa dimaklumi, karena dia memang diselingkuhi oleh Deva. Upaya mempertahankan hubungan yang dilakukan Tiara juga jadi sia-sia dan bodoh banget. Entah mengapa Benni Setiawan memberanikan diri mengambil sudut pandang pelakor yang seolah terdzolimi dalam film ini. Selain ketiga karakter utama yang punya pola pemikiran kurang waras, jajaran karakter pendukungnya pun sama-sama kurang waras menurutku. Mereka seolah terkesan menutupi dan membiarkan perselingkuhan di kalangaan pilot dan pramugari, yang secara tidak langsung semakin memperkuat stigma di masyarakat perihal affair di kalangan mereka itu memang ada.
Untuk jajaran pemain, penampilan Jerome Kurnia memang berhasil jadi sosok pilot Deva yang menyebalkan, namun levelnya masih kalah jauh dengan suami menyebalkan seperti Reza Rahadian di serial dan series LAYANGAN PUTUS (2023) yang sama-sama disutradarai Benni Setiawan. Range emosional dari Nadya Arina pun jadi tidak klimaks karena pov cerita itu tadi yang membuat karakter Tiara jadi enemy di film ini. Penampilan Aghniny Haque sebagai Nadia Sarah cukup berhasil menciptakan kesan agresif dan intimidatif nya, meskipun aura seorang konten kreator yang gila-gila sosmed nya masih kurang meyakinkan.
Overall, film PENERBANGAN TERAKHIR (2026) tampil kurang memuaskan sebagai sajian drama rumah tangga yang diguncang kehadiran orang ketiga. Romantisasi lewat pov dari pelakor ini terasa belum matang dan jauh dari ekspektasi!


[5.5/10Bintang]

Wednesday, 21 January 2026

[Review] Esok Tanpa Ibu: Ketika Peran Seorang Ibu Digantikan Oleh AI Assistant!

 



#Description:
Title: Esok Tanpa Ibu - Mothernet (2026)
Casts: Ali Fikry, Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, Bima Sena, Aisha Nurra Datau
Director: Ho Wi Ding
Studio: Base Entertainment, Beacon Film, Refinery Media, Singapore Film Commission, IMDA


#Synopsis:
Pak Hendi (Ringgo Agus Rahman), Ibu Laras (Dian Sastrowardoyo) dan anak semata wayang mereka yaitu Rama (Ali Fikry) memutuskan pindah dari Jakarta ke wilayah pinggiran kota bernama Cendana demi mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Di sana, Pak Hendi dan Ibu Laras juga turut mengembangkan project Flower Tower bersama perusahaan yang mereka kelola bernama ESOK.
Pindahnya dari kota ke wilayah pinggiran membuat Rama harus beradaptasi lagi dengan lingkungan dan teman-teman baru. Di usianya yang beranjak remaja, Rama memilih menghabiskan waktu dengan gadget dan bermain game favoritnya. Pak Hendi dan Ibu Laras terkadang merindukan kebersamaan dengan Cimot, panggilan sayang mereka untuk Rama sedari kecil. Saat waktu senggang, Ibu Laras selalu menyempatkan waktu untuk bisa ngobrol dengan Rama. Hal tersebut berbanding terbalik dengan Pak Hendi yang merasa ada jarak dengan anaknya itu. Rama pun kini lebih nyaman ngobrol dan curhat dengan sang ibu ketimbang berbagi cerita dengan ayahnya.
Suatu hari, Rama terlihat murung, tidak semangat dan sering menghabiskan waktu di kamar setelah pulang sekolah. Karena khawatir, Ibu Laras mengajaknya berbicara dan Rama pun bercerita jika ia baru saja putus dengan pacarnya yang ada di Jakarta. Rama meminta sang ibu untuk tidak menceritakan hal ini pada siapapun termasuk ayahnya sendiri.
Saat akhir pekan, Ibu Laras dan Pak Hendi mengajak Rama untuk menjelajah hutan dan mendaki bukit. Mereka ingin memperlihatkan sesuatu yang tersembunyi di balik jembatan dan tebing kepada Rama. Selama menjelajah hutan dan berjalan menuju jembatan, Ibu Laras berusaha mencairkan suasana antara Pak Hendi dan Rama. Namun yang terjadi malah Pak Hendi lebih banyak menasehati dan ketus kepada anaknya itu. Ditengah perjalanan, mereka menyadari jika stok minuman sudah habis dan botol minum milik Rama tertinggal di mobil. Ibu Laras berinisiatif turun dari bukit untuk mengambil botol minum dan meninggalkan mereka berdua. Ibu Laras berharap suami dan anaknya itu bisa akur tanpa harus dibantu olehnya. Ketika sedang berjalan turun dari bukit, Ibu Laras mengalami sesak nafas dan kepalanya mulai pusing. Tak lama setelah itu, Ibu Laras terjatuh tak sadarkan diri. Notifikasi keadaan darurat otomatis terkirim dari smartwatch milik Ibu Laras ke Pak Hendi dan Rama. Mereka berdua kemudian berlari turun dari bukit dan langsung membawa Ibu Laras ke rumah sakit.
Selama proses perawatan, Pak Hendi dan Rama mau tak mau harus saling berkomunikasi di rumah. Meskipun terasa kaku dan berjarak, Pak Hendi berusaha menggantikan semua pekerjaan rumah tangga yang sering dilakukan Ibu Laras, termasuk mengurus berbagai keperluan Rama untuk sekolah. Sementara itu, Rama semakin merindukan ibunya yang selalu ada dan menjadi tempat untuk curhat selama ini. Rasa sesal perlahan mulai menghampiri Rama karena selama ini ia selalu merasa malu dan risih ketikan Ibu Laras sering membuat rekaman video keluarga untuk keperluan konten di sosial media. Untuk mengatasi kerinduannya, Rama jadi sering membuka sosial media ibunya sambil browsing mencari berbagai cara agar Ibu Laras dapat memberikan respon ketika sedang dijenguk olehnya.
Waktu terus berlalu. Kondisi Ibu Laras malah semakin memburuk. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak rumah sakit. Namun sayang, Ibu Laras akhirnya meninggal dunia. Kepergian Ibu Laras untuk selama-lamanya membuat Pak Hendi dan Rama sangat terpukul. Saat duka menyelimuti mereka berdua, Rama berinisiatif mengganti suara di AI Assistant gadget Spiko di rumah dan smartwatch nya dengan menggunakan suara dari mendiang ibunya. Dengan bantuan temannya yang mahir soal software dan teknologi yaitu Zyla (Aisha Nurra Datau), mereka menciptakan AI Assistant pribadi terbaru bernama I-BU (Dian Sastrowardoyo) dengan menggunakan suara dari Ibu Laras. Saat Rama pertama kali mencobanya, ia langsung senang sekaligus terharu karena bisa mendengar suara mendiang ibunya, meskipun dalam bentuk AI Assistant.
Seiring berjalannya waktu, Rama mulai bangkit dari dukanya berkat kehadiran AI Assistant I-BU. Hampir setiap hari dan setiap saat ia sering curhat, mengobrol dan mengerjakan tugas sekolah dengan I-BU. Karena merasa terbantu, Rama kemudian meminta bantuan lagi pada Zyla untuk upgrade AI Assistant I-BU. Di versi terbarunya ini, I-BU jadi semakin pintar dan semakin mengerti semua keinginan Rama. Di sisi lain, Pak Hendi yang awalnya tidak menyetujui soal AI Assistant I-BU tersebut, perlahan mulai membiasakan diri karena dapat mengobati kerinduan akan mendiang sang istri.
Dibalik kecanggihan AI Assistant I-BU yang dipakai oleh Rama dan Pak Hendi, tersimpan kekhawatiran dari teman sekelas Rama yaitu Robert (Bima Sena). Ia melihat Rama jadi kecanduan dan membuatnya tidak bisa lepas dari I-BU. Keadaan menjadi semakin kompleks saat Rama memaksa Zyla untuk upgrade lagi I-BU jadi semakin cerdas dengan bantuan arsip data dari harddisk serta ponsel peninggalan Ibu Laras. Setelah upgrade ke versi paling baru, AI Assistant I-BU jadi semakin pintar dan mampu mengenal lebih personal Rama dan juga Pak Hendi. Bahkan I-BU juga punya kemampuan untuk melindungi dan membuat Rama selalu bahagia setiap saat.
Melihat Rama yang semakin ketergantungan dan tak bisa lepas dari AI Assistant I-BU membuat Pak Hendi, Zyla dan Robert khawatir, karena kecanggihan teknologi apapun tidak akan pernah bisa menggantikan emosional dan manusia sekalipun. Bagaimana akhir cerita Rama dan Pak Hendi dalam menghadapi AI Assistant I-BU yang semakin luar biasa tersebut?



#Review:
Setelah tayang perdana di JAFF Jogja yang ke-20 pada Desember tahun lalu, film Indonesia terbaru produksi kolaborasi antara Indonesia, Malaysia dan Singapura berjudul ESOK TANPA IBU - MOTHERNET (2026) siap tayang di bioskop mulai 22 Januari 2026 mendatang.


Aku berkesempatan hadir pada acara Gala Premiere film ESOK TANPA IBU (2026) yang sukses digelar pada Senin, 19 Januari kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada kesempatan tersebut, sutradara Ho Wi Ding asal Malaysia mengungkapkan, proses syuting film ESOK TANPA IBU (2026) berjalan dengan lancar dan penuh suka cita. Meskipun sempat terkendala karena perbedaan bahasa, hal tersebut tak menjadi penghalang bagi mereka. Kolaborasi sutradara dan para pemain terjalin sangat profesional. Selama proses produksi, naskah cerita dan skenario tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang setiap kalimatnya diterjemahkan dengan detail agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi. Lebih lanjut, Ho Wi Ding juga merasa terhormat karena mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan aktor-aktor terbaik Indonesia saat ini seperti Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, Ali Fikry, Nurra Datau dan Bima Sena. Ia mengaku tidak menemukan kesulitan sama sekali saat mengarahkan para aktor bermain di film ini karena sudah berakting dengan sangat bagus.


Untuk segi cerita, film ESOK TANPA IBU (2026) rupanya bukan sekedar drama keluarga yang ditinggal pergi oleh salah satu anggotanya saja. Cerita dan skenario yang ditulis rame-rame oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, Melarissa Sjarief dan Arief Asshiddiq ini turut mengangkat fenomena teknologi Artificial Intelligence di era modern. Paruh awal film, plot keluarga Pak Hendi, Ibu Laras dan Rama sekilas mengingatkanku akan film KELUARGA CEMARA (2018) yang sama-sama ditulis oleh Gina S. Noer, tentang keluarga yang memutuskan berpindah dari kota ke desa. Di film ini, konflik yang terjadi datang dari hubungan berjarak antara ayah dengan anak laki-lakinya. Plot tersebut tersaji secara simple, meaningful dan relatable bagi sebagian penonton yang bernasib sama seperti karakter Cimot di film ini. Memasuki babak pertengahan, plot semakin mengharu-biru ketika sosok ibu pergi untuk selama-lamanya. Potret kehilangan sosok istri dan ibu pasti akan berdampak besar dalam ruang lingkup keluarga. Selain kesedihan, hilangnya karakter Ibu Laras di film ini juga langsung mengubah dinamika hubungan ayah dan anak secara signifikan.


Aku sangat suka bagimana tim penulis dan sutradara menyatukan drama keluarga dengan plot soal teknologi Artificial Intelligence dalam film ini. Berbagai kebiasaan manusia saat ini seperti mengabadikan banyak moment dengan konten video, berjam-jam scrolling sosial media, penerapan smart living dalam rumah tangga, pengunaan smartwatch dan aplikasi AI tersaji apa adanya sesuai dengan jaman sekarang. Menariknya lagi, film ESOK TANPA IBU (2026) juga menampilkan sisi negatif jika manusia terus ketergantungan terhadap kecanggihan teknologi AI dalam segala aktivitas. Pesan yang disampaikan tersebut dibuat sesederhana mungkin, sehingga akan mudah menyentuh perasaan penonton. Jujur, baru kali ini aku menonton film bertema teknologi tapi tidak trying too hard untuk ambisius, pamer kecanggihan efek visual atau chaos skala masif. Sang sutradara memilih jalur yang lebih grounded dan juga emosional.


Untuk jajaran pemain, tiga pemain utama film ESOK TANPA IBU (2026) tampil luar biasa. Apresiasi harus diberikan kepada Ali Fikry yang berhasil memerankan karakter Rama yang sangat kompleks. Range emosionalnya sukses membuatku terpukau. Kesedihan dan kesepian yang ia rasakan terdeliver dengan baik pada penonton. Chemistry kaku in very good way dengan Ringgo Agus juga duh! Definisi hubungan berjarak ayah dan anak yang terlalu nyata! Hahaha. Applause selanjutnya wajib diberikan kepada Dian Sastrowardoyo. Meskipun screentime secara visualnya tidak mendominasi, namun kehadiran Ibu Laras versi I-BU berhasil meyakinkan penonton jika itu adalah AI. Intonasi suara, gesture avatar dan gaya bicara saat menjadi I-BU emang AI banget! Selain itu, yang selalu menjadi signature dari sosok Dian Sastrowardoyo yaitu di setiap film yang dimainkan, ia selalu tampil cantik dan flawless, termasuk saat adegan tak sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit. Cantik banget! Hahaha. Scene stealer pemeran Robert yaitu Bima Sena juga patut diberi acungan jempol. Tektokannya dengan Rama, Pak Hendi selalu berhasil memecah tawa penonton.
Overall, film ESOK TANPA IBU (2026) berhasil memadukan drama keluarga tentang kehilangan dengan balutan kecanggihan teknologi AI secara emosional, menghibur sekaligus bikin haru! Jangan sampai terlewatkan!


[8.5/10Bintang]