Saturday, 8 August 2026

[Review] The Invisible Guest: Mengungkap Aksi Kriminal Penuh Kejutan Berlapis!

 


#Description:
Title: The Invisible Guest (2026)
Casts: Reza Rahadian, Mawar Eva De Jongh, Arifin Putra, Putri Ayudya, Willem Bevers, Gusti Rayhan, Whani Darmawan, Vonny Anggraini, Rania Putrisari, Jeremy Thomas, Haydar Salishz
Director: Danial Rifki
Studio: Falcon Pictures, HBO Max


#Synopsis:
Masa depan karier dan rumah tangga Mawar Yustisia (Mawar De Jongh), seorang pemilik perusahaan start-up ternama di Indonesia, kini berada di ujung tanduk. Statusnya sebagai tahanan kota dan ancaman menjadi tersangka atas tewasnya sang selingkuhan, seorang fotografer bernama Yoshi (Arifin Putra), siap menghancurkan seluruh kehidupannya. Mawar sangat yakin jika ia dan Yoshi dijebak oleh seseorang ketika keduanya diminta untuk datang ke salah satu kamar di sebuah hotel yang ada di wilayah Lembang, Jawa Barat.
Selama menjadi tahanan kota, Mawar meminta bantuan pengacara langganannya, Ibu Widyawati Kusuma (Vonny Anggraini). Namun, karena sedang berada di luar kota, Ibu Widyawati mengutus rekannya, Pak Reza Atmaja (Reza Rahadian), untuk menggantikannya sementara. Ia menjamin Pak Reza mampu membebaskan Mawar dari jeratan hukum di persidangan nanti, lalu mengabarkan jika Pak Reza diperkirakan tiba di hotel pada malam hari.
Di luar dugaan, Pak Reza justru sudah tiba sejak sore hari dan langsung menemui Mawar di kamarnya. Sesi wawancara pun dimulai. Pak Reza memberi tahu jika pihak kepolisian baru saja menemukan saksi kunci yang berpotensi memberatkan posisi Mawar. Namun sayang, saksi tersebut masih dirahasiakan identitasnya. Ia memberikan waktu dua jam untuk menyusun strategi baru demi mematahkan kesaksian tersebut. Pak Reza pun mendesak Mawar untuk menceritakan ulang kronologi kejadian secara jujur dan detail, sebab pengakuan Mawar sebelumnya kepada Ibu Widyawati dinilai masih penuh kejanggalan dan justru berisiko memperberat tuntutan jaksa di pengadilan.
Mawar kemudian membeberkan kronologi kejadian yang menimpanya dan Yoshi. Setelah berbulan-bulan berpisah demi kebaikan bersama, mereka mendapat ancaman pemerasan lewat telepon. Sang pemeras yang tampaknya mengetahui rahasia perselingkuhan mereka, meminta Mawar dan Yoshi datang ke sebuah kamar hotel di kawasan Lembang dengan membawa uang tunai satu miliar rupiah. Setelah dua jam menunggu di kamar tersebut, Mawar menerima pesan asing, tetapi anehnya dikirim menggunakan nomor ponsel milik Yoshi. Merasa ada yang tidak beres, mereka bergegas kabur dari sana. Namun naas, Mawar mendadak diserang dari belakang hingga terjatuh dan pingsan. Saat tersadar dengan luka di bagian pelipis kepala, Mawar beranjak mencari bantuan. Langkahnya terhenti saat di depan kamar mandi. Ia histeris melihat Yoshi tergeletak tak bernyawa dengan kepala bersimbah darah disertai lembaran uang yang berserakan. Tak berselang lama, polisi dan pihak hotel mendobrak pintu kamar. Mawar yang masih syok dan menangis histeris langsung diamankan untuk dimintai keterangan. Hasil investigasi dan olah TKP mengungkap fakta mengejutkan. Tidak ada indikasi orang luar masuk atau keluar kamar. Seluruh akses ruangan termasuk jendela terkunci rapat dari dalam. Polisi pun menduga Mawar sebagai pelaku tunggal. Mawar membantah tuduhan tersebut dan mengaku sebagai korban yang dijebak, tetapi ia tidak dapat mengingat apa pun akibat benturan keras yang membuatnya tak sadarkan diri. Mawar sangat yakin jika ada orang lain selain dirinya dan Yoshi di dalam kamar tersebut. Namun pembelaan tersebut dibantah Pak Reza. Rekaman CCTV hotel membuktikan dalam rentang waktu Mawar dan Yoshi berada di hotel lalu kemudian menuju kamar, tidak ada orang lain selain mereka berdua. Mawar tetap dengan keyakinannya jika dirinya memang dijebak oleh seseorang yang ingin menghancurkan karier dan keluarganya. Berbagai spekulasi terus bermunculan di sosial media yang menduga jika Mawar sengaja membunuh Yoshi agar perselingkuhan mereka tidak muncul ke permukaan. Namun di sisi lain, Pak Reza menemukan fakta perihal kesaksian Mawar pada pihak kepolisian yang mengaku jika ia tidak memiliki musuh yang bisa dicurigai sebagai tersangka.
Pak Reza kemudian menanyakan keterkaitan saksi baru tersebut dengan kematian seorang pemuda bernama Dito Prakoso (Gusti Rayhan), yang jasadnya belum ditemukan hingga kini. Kasus tersebut berpotensi menjadi ancaman besar bagi Mawar. Ia menegaskan agar Mawar tidak menyembunyikan apa pun jika ingin dibantu sepenuhnya. Mawar akhirnya mengaku dan menceritakan peristiwa tiga bulan lalu. Kala itu, Mawar dan Yoshi menghabiskan akhir pekan di sebuah glamping mewah kawasan Kawah Putih, Ciwidey. Saat hendak kembali ke Jakarta, Mawar menerima telepon dari suaminya, Aditya (Edo Borne), dan putri kecil mereka. Panggilan itu memicu rasa bersalah yang mendalam pada diri Mawar atas perselingkuhannya dengan Yoshi. Di tengah perjalanan, Mawar mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Yoshi.
Di saat bersamaan, seekor rusa tiba-tiba melintas di tengah jalan. Mawar yang terkejut hilang kendali, membanting setir dan menyerempet mobil di jalur sebelah. Mawar dan Yoshi selamat, tetapi mobil lawan menabrak pembatas jalan hingga kacanya hancur. Saat diperiksa, si pengemudi tak sadarkan diri dengan kepala berdarah. Ketika dicek oleh Yoshi, pengemudi tersebut tidak mengenakan sabuk pengaman dan diduga berkendara sambil memainkan ponsel. Dilanda panik, Mawar hendak menghubungi polisi, namun Yoshi melarangnya. Yoshi beralasan bahwa kecelakaan itu bukan kesalahan mereka, melainkan akibat rusa yang melintas serta kelalaian pengemudi itu sendiri. Saat hendak melarikan diri, Yoshi melihat sebuah mobil mendekat dari arah bawah. Ia pun dengan cepat menyusun siasat: berpura-pura menjadi korban kecelakaan yang menuntut ganti rugi pada Mawar. Yoshi bergegas mengambil barang berharga dan ponsel milik korban dari dalam mobil, lalu menyembunyikan jasadnya agar tak terlihat dari luar. Mobil yang melintas itu rupanya dikendarai oleh Pak Jagawana (Whani Darmawan), seorang petugas penangkaran rusa Ranca Upas. Setelah mengingatkan mereka untuk berhati-hati karena adanya kawasan habitat rusa, ia pun berlalu.
Demi menghilangkan jejak, Yoshi berencana menenggelamkan mobil beserta korbannya ke danau terdekat dan membagi tugas. Mawar bertugas membawa mobil korban ke danau untuk ditenggelamkan, sementara Yoshi menunggu montir bengkel untuk memperbaiki mobil mereka sebelum menyusul Mawar. Namun hari semakin gelap dan montir tak kunjung datang. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti. Pengendaranya, Pak Donny Prakoso (Willem Bevers), menawarkan bantuan untuk memperbaiki mobil Yoshi di rumahnya yang memiliki peralatan lengkap. Karena terdesak waktu, Yoshi menerima tawaran tersebut. Setibanya di rumah Pak Donny, mobil langsung diperbaiki. Sambil menunggu, Yoshi mengamati foto-foto yang terpajang di ruang tamu. Betapa terkejutnya ia saat menyadari bahwa pemuda di dalam foto itu adalah korban kecelakaan yang baru saja mereka tabrak. Panik, Yoshi berusaha mencari cara untuk segera pergi. Ia sempat berbincang singkat dengan istri Pak Donny, Ibu Salma (Putri Ayudya). Di saat bersamaan, Ibu Salma menerima telepon dari rekan anaknya dan dibuat cemas karena putranya, Dito Prakoso (Gusti Rayhan), belum juga tiba di acara reuni sekolah padahal sudah berangkat sejak siang. Ibu Salma pun mencoba menghubungi nomor ponsel Dito. Yoshi yang sedang berada di teras seketika panik saat ponsel korban di saku celananya berdering. Ia reflek menyembunyikan ponsel tersebut di atas pagar rumah, lalu terburu-buru berpamitan kepada Pak Donny dan Ibu Salma dengan dalih harus segera kembali ke Jakarta.
Usai melarikan diri, Yoshi menjemput Mawar di titik lokasi yang disepakati. Di sepanjang jalan pulang, Yoshi menceritakan insiden tersebut saat ia tak sengaja bertamu ke rumah orang tua korban. Setelah tragedi itu, mereka berdua sepakat menjalani hidup masing-masing dan melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Yoshi kembali ke pelukan istrinya, Camelia (Rania Putrisari), serta kesibukannya sebagai fotografer. Sementara Mawar kembali membina rumah tangga bersama suaminya dan berfokus pada persiapan ekspansi perusahaan start-up miliknya ke Asia.
Pak Reza membeberkan bukti baru yang menyudutkan Mawar. Tim forensik mendapati dua jejak ban berbeda di lokasi, disusul kesaksian seorang pria yang mengenali mobil pelaku yang ternyata mobil tersebut terdaftar atas nama Mawar Yustisia, sebagai kendaraan yang pernah ia perbaiki. Takut kariernya hancur, Mawar bertindak nekat di belakang Ibu Widyawati. Ia merekayasa dokumen kunjungan kerja ke Beijing dan mengklaim mobilnya telah hilang dicuri agar bersih dari catatan kriminal. Meski alibi palsu itu berhasil mengecoh polisi, Pak Reza menemukan bukti bahwa Mawar dan Yoshi masih saling berhubungan secara sembunyi-sembunyi. Mawar bahkan sempat mengabarkan kepada Yoshi bahwa polisi mulai melacak keberadaannya berkat sketsa wajah dan kesaksian Pak Donny Prakoso.
Kabar tersebut mendorong Yoshi melakukan aksi nekat. Memanfaatkan dompet dan identitas korban yang ia curi, Yoshi memanfaatkan istrinya yang bekerja di bank yang sama dengan korban untuk merancang skenario palsu. Korban dituduh sengaja menghilang setelah menggelapkan dana nasabah hingga ratusan juta rupiah. Skenario gila ini berhasil menggiring opini publik sekaligus membersihkan nama Mawar dan Yoshi dari jeratan hukum. Keduanya pun bernapas lega dan kembali menjalani hidup tanpa gangguan dari pihak kepolisian. Ketika karier Mawar tengah berada di puncak, ia mendadak didatangi tamu tak diundang yaitu Ibu Salma. Sang ibu menuntut penjelasan atas fitnah keji yang mencoreng nama putranya, hingga membuat suaminya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Meski Ibu Salma terus berjuang mencari keadilan dengan membawa sederet bukti baru, usahanya selalu kandas karena menyadari Mawar memiliki pengaruh besar. Usai pertemuan itu, kabar tentang kasus pemuda yang hilang beserta kedua orang tuanya perlahan menguap begitu saja.
Kembali ke ruang interogasi, Pak Reza menegaskan bahwa Mawar adalah satu-satunya sosok yang paling bertanggung jawab atas kematian Dito maupun Yoshi. Mawar bersikeras membantah tuduhan membunuh Yoshi, lalu mengarahkan kecurigaan kepada petugas penangkaran rusa Ranca Upas yang sempat menemui mereka di hari kejadian. Mawar yakin pria itulah yang memerasnya setelah tak sengaja melihatnya menenggelamkan mobil di danau. Menurut Pak Reza, kecurigaan dan skenario Mawar terlalu lemah untuk mematahkan status tersangka di hadapan jaksa. Pak Reza lantas menyusun skenario baru yaitu menggunakan Pak Donny Prakoso sebagai kambing hitam. Motif balas dendam atas hilangnya sang putra dinilai sangat kuat untuk dijadikan alasan memeras Mawar sekaligus membunuh Yoshi. Terlebih, rencana Pak Donny bisa berjalan mulus karena dibantu oleh Ibu Salma yang bekerja di hotel tempat eksekusi berlangsung. Lewat skenario ini, Pak Reza dapat menyelamatkan Mawar dari tuntutan hukum dan mengalihkan status tersangka kepada Pak Donny. Demi memuluskan rencana tersebut sekaligus menghapus jejak Mawar dari kasus hilangnya Dito, Pak Reza menyusun taktik tambahan dengan cara melimpahkan seluruh kesalahan kepada Yoshi sebagai pelaku tunggal. Syaratnya, mereka harus menemukan lokasi danau tempat mobil dan korban ditenggelamkan sebelum polisi menemukannya. Setelah itu, Pak Reza akan mengutus orang untuk mengangkat mobil tersebut dari dasar danau, lalu menyelipkan barang pribadi milik Yoshi ke dalam bagasi. Hal tersebut menjadikannya bukti mutlak yang tak terbantahkan.
Usai membeberkan lokasi danau tempat ia menenggelamkan mobil beserta korban, Mawar akhirnya membocorkan satu rahasia besar lagi yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari siapa pun, termasuk kepada Yoshi dan Ibu Widyawati. Pengakuan tersebut membuat Pak Reza marah besar. Sang pengacara dibuat murka karena kliennya masih saja berbohong dan menyembunyikan kenyataan krusial. Merasa dipermainkan, Pak Reza mendadak mengubah taktik. Ia membalikkan seluruh skenario yang tadinya dirancang Yoshi, lalu mengarahkannya untuk menjadikan Mawar sebagai tersangka utama atas segala kejadian tersebut. Taktik tersebut muncul di benak Pak Reza setelah dirinya membaca riwayat medis dari Yoshi yang dinyatakan mengalami stress dan depresi berat selama beberapa bulan terakhir. Bagaimana nasib Mawar selanjutnya? Apakah skenario terakhir yang dibuat Pak Reza itu memang nyata?


#Review:
Mengadaptasi salah satu film drama thriller psikologis tersukses asal Spanyol, versi Indonesia dari CONTRATIEMPO atau THE INVISIBLE GUEST (2017) berhasil menyajikan dinamika konflik hukum sangat tajam dan penuh ketegangan. Adegan interogasi yang berlangsung intens di dalam satu ruangan yang cukup mendominasi durasi film menjadi panggung utama terkuaknya lapisan demi lapisan kebohongan penuh kejutan.


Secara garis besar, cerita film THE INVISIBLE GUEST (2026) versi Indonesia ini masih serupa dengan versi aslinya. Tragedi tabrakan maut di Ciwidey yang melibatkan korban jiwa, pemerasan, hingga rekayasa kasus penggelapan uang bank yang dirancang secara licik, dihadirkan lewat plot cerita non linear yang rapi. Penonton diajak melihat secara gamblang tentang dilema moral, rasa takut, serta watak egois para karakternya yang berusaha keras menutupi dosa masa lalu. Intensitas ketegangan terjaga dengan baik lewat permainan teka-teki, di mana setiap informasi baru justru melahirkan kecurigaan dan alibi baru dari para karakter. Meskipun berhasil menyajikan alur cerita thriller yang menegangkan, tantangan terbesar film ini terletak pada statusnya sebagai sebuah adaptasi. Bagi penonton yang sudah pernah menyaksikan film aslinya, unsur kejutan dan plot twist paling krusial di akhir cerita otomatis kehilangan sensasi magisnya. Formula ceritanya yang sangat mengejar keakuratan dari versi Spanyol membuat jalannya narasi jadi predictable, sehingga dinamika teka-teki hukumnya kurang memberi sensasi baru bagi penonton yang sudah nonton versi aslinya. Meskipun demikian, sutradara Danial Rifki tetap memberikan sedikit perbedaan yang cukup mencolok seperti menukar peran penting antara Mawar-Yoshi, Donny-Salma dan penggunaan the real pemeran pengganti pada bagian reveal plot twist krusialnya. Aku sarankan jika kamu tertarik menonton versi Indonesia nya, sebaiknya langsung nonton saja tanpa harus menonton versi aslinya ya. Biar sensasi terkejut dan terkecohnya bisa dirasakan secara maksimal!
Untuk jajaran pemain, performa akting dari para pemeran utamanya patut diacungi jempol. Mawar De Jongh sukses menampilkan sosok Mawar yang dingin, manipulatif, sekaligus rentan di bawah tekanan situasi. Sementara itu, Reza Rahadian tampil memukau sebagai pengacara tegas yang mencecar Mawar tanpa ampun, memegang kendali atas irama percakapan yang krusial. Intensitas ketegangan yang terjadi saat mereka tektokan berdialog bikin greget penonton. Jajaran pemain pendukung seperti Willem Bevers dan Putri Ayudya yang memerankan orang tua korban yang menuntut keadilan, turut memberi sisi emosional yang mendalam serta sisi kepedihan yang nyata pada penonton. Switch peran penting antara karakter Mawar dan Yoshi yang berbeda dengan versi aslinya juga patut diapresiasi. Sisi manipulatif serta egois dari mereka berdua terdeliver sempurna pada penonton.
Untuk urusan visual, film THE INVISIBLE GUEST (2026) nya Indonesia produksi Falcon Pictures ini tidak terlalu mengecewakan kok. Set lokasi di hotel betulan dan terkesan grande, kemudian kawasan wisata Ciwidey dan Ranca Upas yang digunakan sebagai latar cerita pun tidak memaksakan dan cukup masuk ke dalam cerita drama thriller kriminal ini. Yang sedikit mengganggu bagiku adalah scoring musik di beberapa bagian terutama saat awal-awal film terasa too much dan repetitif. Selain itu, narasi dialog yang diucapkan pun terasa kurang konsisten, terkadang bisa ngalir, terkadang kaku dan terlihat menghafal banget. Overall, adaptasi Indonesia ini menurutku tidak hanya berhasil mengeksekusi plot twist ikonik dari materi aslinya, tetapi juga mampu memberikan cita rasa lokal yang alami dan rasional.


[8/10Bintang]

Saturday, 1 August 2026

[Review] Leviticus: Ketika Doktrin Agama & Terapi Konversi Memiliki Sisi Gelap Yang Mengerikan!

 


#Description:
Title: Leviticus (2026)
Casts: Joe Bird, Stacy Clausen, Mia Wasikowska, Nicholas Hope, Tyallah Bullock, Ewen Leslie, Jeremy Blewitt, Davida McKenzie, Shannon Berry, Julia Grace, Hyu Motoki, Edwina Wren
Director: Adrian Chiarella
Studio: Causeway Films, Maslow Entertainment, NEON


#Synopsis:
Setelah kematian sang ayah, Naim Reid (Joe Bird) dan ibunya, Arlene (Mia Wasikowska), memutuskan untuk memulai hidup baru di kawasan pinggiran Victoria, Australia. Lingkungan baru yang sangat religius dan konservatif itu membuat Arlene merasa lebih tenang dan makin dekat dengan Tuhan. Ia dan Naim pun rutin menghadiri berbagai kegiatan keagamaan di gereja lokal tak jauh dari rumah mereka.
Di sekolah barunya, Naim berkenalan dengan Ryan Whelan (Stacy Clausen), seorang remaja setempat. Hubungan mereka berkembang cepat. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama di sebuah gudang terbengkalai sepulang sekolah. Momen-momen yang dihabiskan bersama itu perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka. Menyadari bahwa perasaannya tabu di mata masyarakat setempat, Naim dan Ryan sepakat menjalin hubungan asmara secara rahasia. Mereka berjanji untuk tetap bersikap sewajarnya saat berada di rumah, sekolah, maupun gereja agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Namun, komitmen pacaran itu hancur saat Naim berkunjung ke rumah Ryan sepulang sekolah. Ia memergoki Ryan sedang berciuman dengan Hunter (Jeremy Blewitt), putra sang pendeta di halaman rumah. Naim kemudian melangkah pergi dengan sakit hati sambil menahan tangis. Setibanya di rumah, dipicu rasa cemburu dan sakit hati yang mendalam, Naim menceritakan apa yang dilihatnya kepada sang ibu. Arlene yang terkejut langsung menghubungi keluarga Hunter. Malam itu juga, Naim mendatangi rumah Hunter untuk menceritakan kejadian tersebut secara langsung, sambil memohon pada keluarga Hunter agar menyembunyikan identitasnya sebagai pelapor.
Keesokan harinya, Hunter dan Ryan beserta orang tua mereka berkumpul di rumahnya Hunter. Ayahnya Hunter rupanya sudah memanggil seorang pria tua yang selama ini dikenal sebagai penyembuh dan pembebasan (deliverance healer) untuk membersihkan jiwa Hunter dan Ryan dari hasrat sesama jenis mereka. Para tetangga termasuk Naim dan sang ibu yang turut datang menjadi saksi ritual tersebut. Saat ritual dilakukan, Hunter dan Ryan mengalami kejang-kejang yang tak terkendali, kemudian muntah dan menjerit kesakitan hingga tak sadarkan diri.
Melihat Ryan dan Hunter tersiksa dalam ritual tersebut muncul rasa bersalah pada Naim. Keadaan jadi memburuk saat kembali ke sekolah. Ryan menjadi sasaran bullying dari siswa lain. Upaya Naim untuk berbaikan ditolak oleh Ryan yang memilih menghindar dan memutus kontak darinya. Sepulang sekolah, Naim mendatangi rumah Ryan secara diam-diam untuk meminta maaf. Di sana, ia melihat Ryan sedang berbicara seorang diri di halaman sebelum akhirnya masuk ke rumah. Tak lama kemudian, Ryan kembali keluar dan berjalan menuju arena sepatu roda. Naim yang membuntutinya dibuat heran sekaligus penasaran karena Ryan terus berbicara sendirian sepanjang jalan seolah ada orang lain di sampingnya.
Setibanya di sana, Ryan masuk ke dalam sebuah stan photo box. Dari luar, Naim masih bisa mendengar suara Ryan yang terus mengobrol. Tak lama setelah itu, Naim terkejut saat lembaran foto otomatis keluar dari mesin. Foto-foto itu memperlihatkan Ryan berpose sedang mencium ruang kosong. Setelah itu, terdengar suara napas Ryan yang tercekik dari dalam photo box. Begitu Naim membuka tirai, ia melihat leher Ryan sedang dicekik oleh kekuatan gaib. Naim mencoba mendekat tetapi mendadak terlempar keras ke arah pagar pembatas arena. Setelah berhasil melepaskan diri dari cekikan tersebut, Ryan berlari ketakutan sambil berteriak pada Naim untuk tidak mendekatinya lagi.
Keesokan harinya, Naim menemui Hunter yang kini bekerja di minimarket sebuah pom bensin. Hunter menceritakan bahwa ritual deliverance healer itu sebenarnya sudah dilakukan pada banyak remaja lain yang sama seperti dirinya. Ketika Naim bertanya apakah ritual tersebut berhasil, Hunter tidak memberi jawaban pasti. Ia mengatakan jika setelah menjalani ritual tersebut, Ryan selalu datang menerornya setiap malam dan melemparkan berbagai benda, meski tak ada satu pun orang yang mempercayainya.
Didorong rasa penasaran, Naim kembali ke pom bensin pada malam hari saat toko sudah tutup. Ia berhasil menyelinap masuk lewat pintu belakang tanpa sepengetahuan Hunter. Tak lama setelah itu, Hunter keluar membawa kantong sampah. Melalui kaca toko, Naim memperhatikan Hunter yang mendadak berhenti dan sambil meluapkan emosinya sendirian. Seketika itu juga, barang-barang melayang dan menghantam Hunter secara misterius. Hunter kemudian melepas bajunya dan terlihat seperti berciuman dengan sosok yang tak terlihat oleh Naim, sebelum akhirnya ia tercekik dan berteriak histeris. Naim panik dan berusaha  keluar dari untuk menolong, namun seluruh pintu akses telah terkunci rapat. Naim hanya bisa menyaksikan tubuh Hunter ambruk dan diseret dengan cepat menuju kegelapan.
Setelah berhasil meloloskan diri dari minimarket, Naim bergegas menuju kantor polisi dalam kondisi panik luar biasa. Di hadapan seorang detektif, ia membeberkan seluruh kejadian mengerikan yang disaksikannya malam itu dan memohon bantuan untuk menghentikan entitas tak kasat mata tersebut. Karena dihantui ketakutan bahwa ia akan menjadi target berikutnya, Naim terpaksa jujur mengenai hubungan asmaranya (coming out). Namun, kejujuran itu justru menjadi masalah baru saat sang ibu mengetahui rahasia tersebut. Situasi kian mencekam ketika polisi akhirnya menemukan jasad Hunter dalam kondisi mengenaskan dengan kepalanya terpenggal di sebuah ladang. Bukannya membawa Naim pulang, Arlene yang terkejut sekaligus takut justru membawa Naim mendatangi sang deliverance healer untuk menjalani ritual pengusiran setan yang sama.
Waktu terus berlalu. Naim dan ibunya menghadiri prosesi pemakaman Hunter. Di sana, Naim bertemu dengan Ryan di belakang rumah dan mengaku bahwa ia juga telah dipaksa menjalani ritual traumatis tersebut. Di tengah kesedihan, keduanya berciuman. Namun secara mengejutkan, sikap Ryan mendadak berubah. Ia mendorong dan mencekik Naim dengan sangat kuat. Naim yang berhasil melepaskan diri berlari ketakutan menuju ke dalam rumah sambil meminta pertolongan. Naim kemudian terkejut saat melihat Ryan yang asli ternyata ada di dalam rumah, sementara sosok di belakang rumah lenyap tanpa jejak. Melihat hal itu, Ryan dan adik dari mendiang Hunter yaitu Izzie (Davida McKenzie), menyadari jika Naim telah menjadi korban ritual berikutnya. Izzie kemudian membeberkan rahasia kelam tentang nasib tragis serupa menimpa seorang gadis bernama Marnie (Tyallah Bullock) yang tewas secara misterius usai menjalani ritual tersebut bersama kekasih perempuannya, Jessica (Shannon Berry). Izzie memberi tahu bahwa Jessica saat ini masih bertahan dan memutuskan tinggal di sebuah rumah sakit di Murryville.
Didorong harapan untuk mencari jalan keluar, Naim dan Ryan nekat menjenguk Jessica. Namun, jawaban Jessica justru menghancurkan harapan mereka. Jessica menjelaskan bahwa kutukan entitas dari ritual tersebut tidak bisa dihilangkan. Makhluk itu akan terus mengikuti mereka dan hanya menampakkan diri saat korbannya sendirian. Energinya pun akan semakin membesar jika terus dihindari. Dalam perjalanan pulang menggunakan bus, keputusasaan menyelimuti mereka berdua. Demi melindungi satu sama lain, Naim berniat pergi meninggalkan kota sendirian dan memohon agar Ryan tidak mengikutinya. Namun, Ryan menolak menyerah. Bagi Ryan, jika entitas itu harus membayanginya seumur hidup, ia tidak ingin makhluk itu berwujud orang lain selain Naim.
Gangguan supranatural semakin tidak terkendali. Saat berada di toilet sekolah, Ryan kembali diserang secara brutal oleh entitas yang menyerupai Naim hingga telinganya robek. Situasi jadi semakin pelik seiring hancurnya keluarga Hunter pasca-kematian putranya itu. Hingga pada suatu malam, Izzie mendadak menghubungi Naim dan Ryan. Ia mengklaim telah menemukan seseorang yang sanggup melepaskan mereka dari kutukan deliverance healer tersebut. Akankah petunjuk dari Izzie menjadi titik terang bagi Naim dan Ryan, atau justru membawa mereka masuk ke dalam jebakan yang jauh lebih mengerikan?


#Review:
Setelah tayang perdana di Sundance International Film Festival pada awal tahun ini, film horror LEVITICUS (2026) karya debut film panjang bagi sutradara Adrian Chiarella ini sukses mencuri perhatian penonton berkat premis dan narasi yang dihadirkan, memadukan antara horror dengan kritik sosial religi secara tajam. Respon positif dari mayoritas penonton dan kritikus terlihat dengan jelas dari yang meraih fresh certified 92% dari situs Rotten Tomatoes.


Dari segi cerita, film ini mengusung ide yang sangat menarik sekaligus berpotensi mengundang kontroversi karena mengangkat isu homofobia sistemik dan doktrin agama yang toksik. Kedua isu tersebut kemudian dimanifestasikan menjadi sosok tak kasat mata yang mengerikan. Mirip dengan film IT FOLLOWS (2014), entitas gaib di sini bertindak sebagai metafora dari trauma yang terus membayangi para karakter. Konsep cerita yang membuat wujud sang monster menyerupai sosok yang paling dicintai korbannya menghadirkan ironi yang sangat menyakitkan. Pesan yang disampaikan Chiarella terasa kuat dan berani, karena di lingkungan agama yang konservatif, ketulusan cinta dan keintiman sekalipun ternyata dapat dipelintir menjadi ancaman yang mematikan.
Menariknya, Adrian Chiarella tidak bergantung pada formula jump scare khas film horror kebanyakan. Ia berhasil membangun atmosfer mencekam dengan nuansa gloomy yang konsisten di sepanjang film. Pengarahan visual di ruang-ruang terbatas seperti photo box, minimarket, hingga toilet sekolah, dikemas secara rapi melalui tata kamera yang lumayan rapat dan efektif. Dinamika serta perjuangan karakter Naim dan Ryan pun disajikan tanpa dramatisasi berlebihan, sehingga penonton dapat ikut merasakan keputusasaan dan rasa frustrasi mereka. Sayangnya, eksekusi subplot tentang aksi balas dendam yang muncul tiba-tiba di paruh kedua film terasa seperti tempelan semata. Andai saja bagian ini dihilangkan, tidak berdampak signifikan pada dinamika hubungan Naim dan Ryan.


Dari jajaran pemain, penampilan memukau Joe Bird dan Stacy Clausen patut mendapat apresiasi tinggi. Joe Bird, yang sebelumnya tampil di film TALK TO ME (2022), bermain sangat mengesankan dalam membawakan rasa bersalah serta keputusasaan yang begitu nyata pada karakter Naim. Chemistry nya dengan Stacy Clausen terbangun secara natural. Porsi kebahagiaan dan kepedihan hubungan mereka tersampaikan dengan pas. Selain itu, kehadiran aktris Mia Wasikowska sebagai ibunya Naim makin menambah kesan tega yang realistis yaitu sosok orang tua yang rela melakukan apa saja demi "melindungi" anaknya terhindar dari penindasan lingkungan konservatif nya.
Secara keseluruhan, LEVITICUS (2026) menutup kisahnya dengan pesan pahit namun jujur mengenai penerimaan dan penyembuhan trauma. Akhir cerita ketika Naim dan Ryan memilih untuk terus melangkah bersama walau bayangan entitas itu masih mengintai, menunjukkan bahwa "luka" tidak bisa benar-benar dimusnahkan, melainkan harus dihadapi. Mengerikan sekaligus berkesan!


[9/10Bintang]

Thursday, 30 July 2026

[Review] Spider-Man Brand New Day: Awal Baru Perjalanan Peter Parker Jadi Street Level-Hero di MCU!

 


#Description:
Title: Spider-Man: Brand New Day (2026)
Casts: Tom Holland, Zendaya, Jacob Batalon, Sadie Sink, Jon Bernthal, Tramell Tillman, Mark Ruffalo, Liza Colon Zayas, Marisa Tomei, Michael Mando, Eman Esfandi, Marvin Jones III, Zabrina Guevara, Florence Pugh, Keith David, Naomi Watts
Director: Destin Daniel Cretton
Studio: Sony Pictures, Columbia Pictures, Marvel Studios


#Synopsis:
Mantra sihir Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) berhasil menyelamatkan alam semesta, namun ada satu konsekuensi besar yang harus diterima oleh Peter Parker (Tom Holland). Seluruh dunia lupa bahwa ia adalah Spider-Man. Peter kini hidup seorang diri setelah orang-orang terdekat yang sangat dicintainya, termasuk Michelle "MJ" Jones (Zendaya) dan Ned Leeds (Jacob Batalon), tak lagi mengenali dirinya.


Seiring berjalannya waktu, Peter berusaha bangkit dan melanjutkan hidup. Berbekal sisa-sisa teknologi peninggalan Stark Industries, ia merakit kembali kostum Spider-Man serta web-shooter ciptaannya sendiri. Bertindak sebagai pahlawan tanpa identitas, Spider-Man aktif membantu Department of Damage Control (DODC) dan kepolisian New York dalam memberantas kejahatan. Kerja samanya yang erat dengan Detektif Jean DeWolff (Liza Colon Zayas) membuat aksi pahlawannya menuai banyak apresiasi dari warga dan juga pihak kepolisian.
Di luar tugasnya sebagai pahlawan, Peter hanyalah pemuda yang kesepian. Di sela-sela rutinitasnya berkunjung ke makam Bibi May (Marisa Tomei), Peter kerap memantau media sosial Ned yang berhasil kuliah di kampus MIT. Melihat unggahan aktivitas Ned yang sesekali menampilkan kebersamaannya dengan MJ selalu memicu perasaan campur aduk di hati Peter. Kerinduan itu memuncak saat Peter tak sengaja berpapasan dengan Ned di sebuah minimarket. Malam harinya, Peter memberanikan diri datang ke pesta yang diadakan Ned. Namun, kedatangannya ke sana justru membuat Peter patah hati mendalam saat ia melihat MJ sudah memiliki pacar. Impian dahulu mereka bertiga untuk kuliah dan tinggal bersama selama kuliah MIT sirna akibat ulahnya sendiri.


Suatu hari, kesedihan Peter teralihkan oleh panggilan darurat mengenai truk tank baja milik cabang Damage Control yang dibajak dan mengamuk di tengah kota. Spider-Man langsung terjun ke lokasi bersama pasukan kepolisian arahan DeWolff. Di tengah aksi kejar-kejarannya, muncul Frank Castle alias The Punisher (Jon Bernthal) yang juga sedang memburu truk tersebut. Spider-Man lantas meminta Punisher untuk mundur dan menyerahkan penanganan kepadanya dan juga kepolisian. Mengingat truk pembajak itu mengarah ke kantor pusat Damage Control, DeWolff segera berkoordinasi dengan kepala DODC, Bill Metzger (Tramell Tillman) untuk mengevaluasi dan mengevakuasi orang-orang di sana demi mencegah timbulnya korban jiwa. Setelah pertempuran yang sengit, Spider-Man akhirnya berhasil menghentikan truk tank tersebut. Saat pintu kendaraan dibuka. Seorang wanita paruh baya tak dikenal terlihat di dalam dengan tatapan kosong dan menyebut nama Peter Parker. Hal itu membuat Spider-Man terkejut, sebab ia tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun sejak mantra sihir Dr. Strange bekerja. Tak lama kemudian, wanita itu tersadar lalu menangis histeris karena sama sekali tidak mengingat apa yang sudah ia lakukan. Seketika, insting Spider-Sense milik Peter mendeteksi adanya bahaya mengintai.


Keanehan beberapa orang di lokasi kejadian seperti kerasukan sambil berbicara dan mengenali identitas asli Peter Parker. Melalui analisis cepat dari asisten kecerdasan buatan miliknya, E.V. (Naomi Watts), Peter menyadari bahwa sosok misterius tersebut memiliki kemampuan merasuki pikiran dan berpindah tubuh secara instan. Entitas ini bahkan berhasil membebaskan tahanan berbahaya Damage Control yaitu Mac Gargan alias Scorpion (Michael Mando) dengan cara mengendalikan pikiran pilot helikopter. Demi menggali informasi lebih dalam mengenai keterkaitan antara Scorpion dan sosok misterius itu, Peter mendatangi anggota New Avengers, Yelena Belova (Florence Pugh). Dari hasil diskusi mereka, Yelena menduga adanya aset bernilai tinggi di dalam Damage Control yang tengah diincar oleh Scorpion dan entitas penjelajah pikiran tersebut.



Seiring berjalannya waktu, ancaman dari sosok misterius tersebut menjadi semakin tak terkendali karena ia dengan mudahnya merasuki siapa saja demi menemukan apa yang dicarinya. Di saat yang sama, Peter Parker mulai merasakan perubahan aneh pada tubuhnya. Mutasi DNA Arachnid dalam dirinya mengalami lonjakan drastis. Jaring organik mendadak dapat keluar langsung dari pergelangan tangannya dan kekuatan fisiknya pun meningkat pesat, meski ia sangat kesulitan untuk mengendalikannya. Dalam kondisi terdesak, Peter teringat pada alat Inhibitor yang pernah digunakan oleh Bruce Banner (Mark Ruffalo) alias Hulk untuk mengendalikan efek radiasi Gamma dalam tubuhnya. Peter lantas menemui Bruce yang kini berprofesi sebagai profesor dan dosen di Empire State University untuk berkonsultasi. Berbekal petunjuk dan bimbingan teknis dari Bruce, Peter mulai merakit sendiri alat Inhibitor ciptaannya agar dapat membatasi serta mengendalikan gejolak DNA Arachnid di dalam tubuhnya.



Di sisi lain, identitas sosok misterius yang mengacaukan Damage Control akhirnya terkuak. Ia adalah Jean Elaine Grey (Sadie Sink), seorang perempuan dengan kemampuan telekinesis luar biasa yang sanggup mengendalikan pikiran orang lain. Usut punya usut, Jean ternyata sedang berjuang mencari keberadaan seseorang yang ditangkap oleh pihak Damage Control beberapa tahun silam. Amarah dan rasa kecewa Jean kian memuncak karena aksi pencariannya selalu saja dihalangi oleh Spider-Man. Akankah Jean Grey berhasil menemukan orang yang dicarinya atau justru langkahnya terhenti oleh Spider-Man, pasukan Damage Control hingga The Punisher?


#Review:
Sony Pictures dan Marvel Studios akhirnya menghadirkan lagi kelanjutan cerita Peter Parker versi MCU setelah kemarin Trilogy Homecoming ditutup dengan sempurna lewat film SPIDER-MAN: NO WAY HOME (2021). Sesuai dengan judul, plot film SPIDER-MAN: BRAND NEW DAY (2026) mengajak penonton dan penggemar setia Marvel untuk melihat babak baru dan awal mula dari Spider-Man Earth-616 setelah satu alam semesta lupa akan Peter Parker adalah Spider-Man efek dari mantra sihirnya Dr. Strange.


Untuk segi cerita, film ini berhasil menyajikan tone yang lebih dewasa, personal dan juga emosional. Kehilangan Bibi May serta kenyataan pahit melihat Ned dan MJ yang melanjutkan hidup tanpa dirinya menjadi inti kekuatan narasi film ini. Sutradara Destin Daniel Cretton berhasil mengeksplorasi kerapuhan mental seorang pahlawan yang menjalankan misinya melindungi New York sambil memendam rasa patah hati yang mendalam. Meskipun dibuat jadi Spider-Man Sad Boy, untungnya Peter Parker versi MCU ini tidak jadi orang don't have seperti Peter Parker versi Sam Raimi hahaha. Peter di sini masih punya privilege yaitu memiliki akses untuk menggunakan fasilitas dan teknologi yang tersisa dari Stark Industries. Lebih lanjut, nuansa street-level hero membuat skenario pertarungan Spider-Man dalam film ini terasa lebih grounded dan sesuai dengan "marwah" nya yang sempat disinggung juga oleh Yelena Belova. Dinamika hubungan Peter Parker dengan orang-orang disekitarnya pun dibuat menyenangkan, seperti tektokan chemistry antara Spider-Man dengan Punisher dan DeWolff mengingatkan penonton akan dinamikanya dengan mendiang Tony Stark. Moment dramatic tentunya datang saat Peter Parker akhirnya bertemu lagi dengan MJ dan Ned. Sihir Dr. Strange memang mujarab dan mutlak. Meskipun Peter sudah effort memberikan kode dan sinyal, namun MJ maupun Ned benar-benar tidak mengenali siapa itu dia.


Kehadiran karakter mutant Jean Grey versi muda yang diperankan Sadie Sink memang jadi perbincangan hangat di kalangan fans. Secara tidak langsung, eksistensi mutant di MCU semakin diperkuat setelah debut lewat Kamala Khan dan sekarang Jean Grey. Development story dari karakter Jean Grey yang sengaja dibuat sedari remaja dan belum bertemu dengan X-Men menurutku keputusan yang tepat. Hal tersebut menjadikan karakter Jean Grey punya waktu dan kontrak jangka panjang untuk fase-fase MCU di masa depan. Penampilan Sadie Sink juga patut diacungi jempol karena berhasil membawakan karakter Jean yang penuh amarah, trauma, dan motivasi emosional yang kuat saat memburu seseorang di fasilitas Damage Control. Teror manipulasi pikiran yang dilakukan Jean, menciptakan eskalasi bahaya yang over power dan membahayakan keselamatan banyak orang.
Performa akting Tom Holland, Zendaya, dan Jacob Batalon dalam babak baru ini menghadirkan dinamika emosional yang jauh lebih matang, dewasa dan menyentuh hati. Tom Holland berhasil menampilkan performa terbaik sepanjang kariernya sebagai Peter Parker. Ia dengan lihai mentransisikan sosok Spider-Man yang ceria menjadi pemuda yang dipenuhi rasa kesepian, kedukaan, dan beban mental yang berat. Aksinya saat mengekspresikan patah hati terselubung ketika menatap orang-orang yang dicintainya menjadi salah satu puncak emosional film ini, memperlihatkan pendewasaan karakter yang sangat kuat di balik topeng pahlawannya. Zendaya dan Jacob Batalon memberikan kontras yang luar biasa melalui perubahan dinamika peran mereka sebagai MJ dan Ned. Berperan sebagai dua orang asing yang sama sekali tak mengingat Peter, Zendaya mampu menyampaikan kehangatan sekaligus jarak emosional yang canggung namun realistis, sementara Batalon mengeksekusi transisi karakternya dari seorang sahabat karib menjadi sosok pemuda biasa yang berjarak dengan sangat pas. Chemistry di antara ketiga aktor ini berhasil membangun nuansa ironi dan kian mempertegas rasa kehilangan yang harus ditanggung oleh Peter Parker sendirian.
Aspek teknis dan efek visual film SPIDER-MAN: BRAND NEW DAY (2026) juga sangatlah layak mendapatkan apresiasi tinggi dari penonton. Transisi adegan saat Jean Grey merasuki orang-orang di sekitar Spider-Man disajikan secara memukau, diperkuat oleh scoring musik yang ciamik dalam membangun ketegangan ketika Spider-Sense dari Peter Parker bereaksi. Selain itu, koreografi fighting dengan jarak dekat serta visualisasi alat Inhibitor buatan Peter dan organic web menunjukkan perpaduan sempurna antara aksi akrobatik pahlawan super khas Marvel yang selalu memanjakan mata. Destin Daniel Cretton berhasil menyajikan serangkaian adegan action street level-hero yang memukau dan konsisten dari awal sampai akhir film.
Overall, film SPIDER-MAN: BRAND NEW DAY (2026) adalah sebuah sekuel yang amat memuaskan dan berhasil re-introducing arah cerita Spider-Man di Marvel Cinematic Universe. Film ini tidak hanya menjual aksi pahlawan super yang megah, tetapi juga menyajikan sebuah kisah pendewasaan diri yang menyentuh hati tentang pengorbanan dan penerimaan. Tak heran saat opening day di Indonesia, film ini berhasil mengumpulkan lebih dari 600.000++ penonton! Gokil!


[9/10Bintang]

Monday, 20 July 2026

[Review] Afgan Retrospektif The Concert Live at Jakarta International Convention Center

 

Solois pria Afgansyah Reza kembali sukses menyapa penggemarnya lewat konser tunggal bertajuk "AFGAN RETROSPEKTIF THE CONCERT" pada Sabtu, 18 Juli 2026. Berlokasi di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Pusat, konser ini berhasil menarik perhatian lebih dari 3.500 penonton dengan seluruh kategori tiket (Bronze, Silver, Gold, Platinum, VIP, VVIP, dan Diamond) habis terjual.
Konser yang dipromotori oleh Seven Star Productions serta didukung oleh Bank Syariah Indonesia ini menandai kolaborasi kedua Afgan dengan Erwin Gutawa Orchestra, menyusul kesuksesan pertama mereka "KONSER DARI HATI AFGAN" pada 14 Februari 2015 lalu. Selain kemegahan aransemen orkestra, konser retrospektif ini juga turut dimeriahkan oleh penampilan memukau dari tiga bintang tamu: Petra Sihombing, Mahalini, dan Kris Dayanti yang berkolaborasi dengan Afgan.




Konser megah ini merupakan bagian dari rangkaian promosi album studio ketujuh Afgan yang bertajuk RETROSPEKTIF yang telah dirilis pada November 2025 lalu. Melalui album ini, Afgan kembali memanjakan telinga pendengar dengan lagu-lagu bergenre pop ballad dan semi-upbeat. Ini menjadi momen "pulang ke rumah" setelah di dua album sebelumnya yaitu WALLFLOWER (2021) dan EP: SONDER (2024), Afgan bereksperimen dengan genre pop R&B berformat bahasa Inggris penuh. Berikut adalah tracklist dari album terbaru Afgan, RETROSPEKTIF

1. Misteri Dunia
2. Sebentar
3. Kacamata
4. Silakan
5. Sampai Jumpa
6. Tak Ada Rencana (Kujatuh Cinta)
7. Masa Iya?
8. Kepastian
9. The One That Got Away
10. Peluk



Konser dimulai tepat pukul 20.15 WIB dan langsung dibuka dengan kejutan. Afgan naik ke atas panggung membawakan "Misteri Dunia" dan "Silakan", yang merupakan dua lagu baru dari album teranyarnya. Mengawali Chapter 1, Afgan tampil menawan dalam balutan jaket berwarna mustard yellow dan pants berwarna hitam. Kemunculannya di atas panggung seketika membuat riuh seisi Plenary Hall, Jakarta International Covention Center. Sorak histeris penonton langsung pecah, menyatu dengan iringan musik yang megah dan tata lampu yang memukau.

Tracklist Chapter 1:
1. Misteri Dunia
2. Silakan
3. Knock Me Out
4. Sebentar
5. Tak Ada Rencana (Kujatuh Cinta) - duet with Petra Sihombing
6. Cinta 2 Hati
7. Pesan Cinta
8. Wajahmu Mengalihkan Duniaku




Pada Chapter 1 ini, mayoritas aransemen yang disuguhkan terasa sangat segar dengan nuansa nge-band yang kental. Salah satu aransemen favoritku adalah saat Afgan membawakan lagu "Wajahmu Mengalihkan Duniaku". Lagunya terdengar jauh lebih bertenaga dengan sentuhan pop-rock yang apik. Di sesi ini pula, Afgan dengan bangga mengenalkan The Gandarianz, grup band yang setia mengiringi dan menemani perjalanan musiknya selama 15 tahun terakhir.
Setelah itu, keseruan "AFGAN RETROSPEKTIF THE CONCERT" berlanjut ke Chapter 2 dengan penampilan dari Erwin Gutawa Orchestra. Balutan musik orkestra seketika mengubah atmosfer konser menjadi begitu grande dan spektakuler. Penampilan Afgan pun kian menawan berkat setelan jas (suit) berwarna emerald green dengan motif unik yang sangat mencuri perhatian.

Tracklist Chapter 2:
9. Jalan Terus
10. Ku Dengannya Kau Dengan Dia
11. Masa Iya?
12. Lenggang Puspita
13. Untukmu Aku Bertahan
14. Sabar
15. Bawalah Cintaku
16. Sadis - duet with Mahalini
17. Peluk

Memasuki Chapter 2, megahnya aransemen orkestra benar-benar mendominasi setiap lagu. Iringan musik dari Erwin Gutawa sukses membuatku takjub hingga merinding! Lagu-lagu ballad andalan Afgan seperti "Jalan Terus", "Ku Dengannya Kau Dengan Dia", dan "Sabar" bertransformasi menjadi begitu megah. Salah satu yang menjadi highlight utama dan paling ramai diperbincangkan adalah duet mautnya bersama Mahalini lewat lagu "Sadis". Keduanya benar-benar "memamerkan" teknik vokal yang luar biasa di atas panggung! Momen magis lainnya tercipta saat lagu "Peluk" dibawakan. Seluruh penonton serentak mengangkat hand-banner dan menyalakan flashlight ponsel, mengubah atmosfer Plenary Hall menjadi emosional.
Ketakjuban penonton tidak berhenti di situ. Di Chapter 3, Afgan kembali ke panggung dengan penampilan elegan mengenakan leather jacket berwarna hitam. Babak ini dibuka dengan dua lagu berbahasa Inggris, "Shallow Water" dan "Say I'm Sorry". Kedua lagu ini dikemas dengan aransemen yang sangat megah. Dentuman musik dan bassnya benar-benar menggelegar! Ditambah lagi visual dari konsep panggung dengan dua screen besar di bagian atas dan bawah, sukses bikin semua mata terpukau.

Tracklist Chapter 3:
18. Shallow Water
19. Say I'm Sorry
20. Bukan Cinta Biasa
21. Kepastian - duet with Kris Dayanti
22. Kamu Yang Kutunggu - duet with Kris Dayanti
23. Ada - duet with Kris Dayanti
24. Percayalah - duet with Kris Dayanti
25. Terima Kasih Cinta
26. Sampai Jumpa
27. Dia Dia Dia
28. Panah Asmara
29. Kacamata
30. Jodoh Pasti Bertemu




Masih di Chapter 3, kolaborasi antara Afgan dan Kris Dayanti sukses mencuri perhatian lewat penampilan back-to-back medley empat lagu sekaligus. Harmonisasi vokal keduanya benar-benar saling melengkapi dengan sempurna. Suasana menjadi penuh haru saat Afgan membawakan lagu "Sampai Jumpa" sebagai tribute manis untuk sahabat tercintanya, almarhum Vidi Aldiano.
Bagian encore "AFGAN RETROSPEKTIF THE CONCERT" ditutup dengan segar. Lagu-lagu ikonis seperti "Panah Asmara", "Kacamata", dan "Jodoh Pasti Bertemu" dihadirkan lewat aransemen semi-grande orchestra. Tata lampu (lighting), kualitas suara, konsep panggung, hingga detail visual lainnya benar-benar memuaskan seluruh penonton yang hadir.
After this, it's time to take a rest for a while, Afgan. Kabar bahwa ia sempat jatuh sakit dua minggu sebelum konser sempat membuatku dan penggemar lain sangat khawatir. Namun, profesionalisme Afgan terbukti nyata di sepanjang konser malam itu. "AFGAN RETROSPEKTIF THE CONCERT" sukses besar dan tampil begitu memukau!

Setlist AFGAN RETROSPEKTIF THE CONCERT sudah tersedia di Spotify. Klik di sini.

Sunday, 19 July 2026

[Review] Heartstopper Forever: Akhir Manis Untuk Perjalanan Cinta Nick Nelson Dengan Charlie Spring!

 



#Description:
Title: Heartstopper Forever (2026)
Casts: Kit Connor, Joe Locke, William Gao, Yasmin Finney, Corinna Brown, Kizzy Edgell, Tobie Donovan, Jennie Walser, Rhea Norwood, Leila Khan, Fisayo Akinade, Nima Taleghani, Jack Barton, Darragh Hand, Anna Maxwell, Eddie Marsan
Director: Wash Westmoreland
Studio: See-Saw Films, Netflix


#Synopsis:
Memasuki kelas XI, Charlie Spring (Joe Locke) mencalonkan diri sebagai ketua OSIS di sekolahnya. Dalam kampanyenya, ia membawa visi dan misi utama untuk memberantas perundungan (bullying) serta menciptakan lingkungan yang menghargai setiap orientasi seksual. Meski sempat ragu, rasa percaya diri Charlie perlahan tumbuh berkat dukungan penuh dari sang kekasih, Nick Nelson (Kit Connor), serta sahabat-sahabatnya: Tao Xu (William Gao), Tara Jones (Corinna Brown), Darcy Olsson (Kizzy Edgell), dan Isaac (Tobie Donovan). Berkat dukungan tersebut, Charlie pun resmi terpilih menjadi ketua OSIS yang baru.


Setelah dilantik, langkah pertama Charlie adalah berencana membentuk komunitas Pride Club. Sayangnya, niat tersebut ditolak oleh kepala sekolah karena berbagai pertimbangan. Beruntung, dua guru mereka, Mr. Ajayi (Fisayo Akinade) dan Mr. Farouk (Nima Taleghani), berinisiatif mengizinkan Charlie dan para siswa lainnya menggunakan ruang kesenian sebagai tempat berkumpul Pride Club.


Di sisi lain, Nick yang berada di tingkat akhir telah menentukan Universitas Leeds sebagai pilihan utamanya. Keputusan ini mendatangkan rasa cemas dalam diri Nick terkait bayang-bayang hubungan jarak jauh (LDR) dengan Charlie. Berbeda dengan Nick, Charlie justru menyikapi kabar tersebut dengan santai. Ia meyakinkan Nick bahwa jarak bukanlah masalah karena mereka masih bisa saling mengunjungi. Charlie bahkan membantu Nick menyusun personal statement untuk pendaftaran kampus, serta menyarankannya mencari kegiatan di luar sekolah hingga Nick akhirnya diterima sebagai sukarelawan di penampungan anjing.



Seiring berjalannya waktu, kesibukan masing-masing mulai menyita perhatian mereka. Suatu malam saat menginap di rumah Nick, Nick terbangun dari mimpi buruk tentang Charlie. Ketakutannya semakin membendung saat melihat hubungan Tao dan Elle Argent (Yasmin Finney) yang akhirnya kandas akibat LDR. Situasi kian memuncak ketika mereka mengunjungi sebuah bar. Dalam kondisi mabuk berat, Nick tersulut cemburu melihat Charlie berbincang dengan pria lain, lalu pergi begitu saja meninggalkan Charlie. Ketegangan itu berlanjut hingga keesokan harinya, di mana Nick mengalami insiden saat bertanding rugbi yang membuat pelipisnya berdarah dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Merasa dirinya hanya menjadi beban dan terus diliputi kecemasan, Nick mengambil keputusan berat untuk mengakhiri hubungannya demi kebaikan Charlie. Ia berpikir Charlie akan hidup lebih tenang tanpa dirinya. Keputusan ini menghantam Charlie dengan sangat keras. Mengalami patah hati mendalam, Charlie kembali mengurung diri dan kecemasannya berimbas pada gangguan makan yang kambuh. Kondisi ini membuat orang tua, kakaknya (Tori Spring), serta para sahabatnya merasa sangat khawatir.


Selama berpisah, baik Nick maupun Charlie sebenarnya sama-sama rindu dan sering mengetik pesan singkat untuk memulai komunikasi, walau akhirnya ragu untuk mengirimkannya. Titik terang sempat muncul ketika mereka tak sengaja bertemu kembali di acara Pride Parade yang digagas oleh Elle dan berlanjut di sebuah Gay Club. Namun, kesalahpahaman justru terjadi saat Charlie melihat Nick sedang asyik mengobrol dengan seorang perempuan. Mampukah mereka menyelesaikan kesalahpahaman ini dan kembali bersatu, ataukah ini menjadi akhir dari perjalanan cinta Nick dan Charlie?


#Review:
Serial coming of age asal Inggris yaitu HEARTSTOPPER sukses mencuri perhatian penonton setia Netflix saat tayang perdana pada April tahun 2022 lalu. Serial yang menceritakan tentang drama percintaan dan persahabatan remaja di Truham School ini kemudian berkembang seiring bertambahnya usia para karakter dengan mengeksplorasi seksualitas, identitas gender, kesehatan mental, keintiman dan masa awal kedewasaan. Tiga musim yang sudah dirilis dalam rentang waktu 2022-2024 berhasil mendapat respon sangat positif dari para penonton dan juga kritikus. Dari situs Rotten Tomatoes,
Season 1 sukses mencetak 100% certified fresh, Season 2 sukses mencetak 96% certified fresh dan Season 3 kembali sukses mencetak 100% certified fresh.


Netflix dan See-Saw Films menutup cerita para remaja di Truham School ini lewat format film layar lebar berjudul HEARTSTOPPER FOREVER (2026) yang tayang secara eksklusif di Netflix mulai 17 Juli kemarin. Konflik utama film ini berfokus pada ketakutan akan long distance relationship ketika Nick bersiap melanjutkan studinya ke Universitas Leeds, sementara Charlie resmi terpilih menjadi ketua OSIS baru di sekolahnya. Bayang-bayang perpisahan ini semakin nyata ketika mereka melihat hubungan sahabat mereka, Tao dan Elle, harus kandas karena Elle pindah ke Berlin. Ketakutan Nick akan masa depan yang tidak pasti, dipadu dengan cemburu dan kecemasan yang membendung, sempat membuat Nick mengambil keputusan sepihak untuk memutuskan Charlie demi "kebaikan" kekasihnya itu. Hal tersebut menjadi sebuah dinamika emosional yang memicu retaknya hubungan sebelum akhirnya mereka menyadari betapa kuatnya ikatan di antara mereka. Dinamika dan ketakutan dalam film ini terasa sangat beralasan jika melihat bagaimana hubungan Nick dan Charlie dibentuk dan diuji sepanjang tiga musim serialnya. Penonton diajak mengingat kembali bagaimana cerita mereka bermula di Musim 1 dari pertemuan manis di bangku kelas, perjuangan Nick memahami identitas biseksualnya, hingga keberaniannya merangkul Charlie di depan publik. Perkembangan tersebut berlanjut ke Musim 2, di mana romansa manis mereka di Paris mulai diuji oleh realitas coming out di depan keluarga Nick yang rumit, sekaligus menjadi awal terungkapnya trauma masa lalu Charlie akibat perundungan parah yang pernah ia alami di sekolah.
Puncak pendewasaan karakter mereka di serial yang sangat memengaruhi konflik dalam film ini terjadi pada Musim 3. Pada musim tersebut, fokus cerita bergeser ke isu kesehatan mental yang lebih berat, di mana Charlie harus berjuang melawan anorexia dan OCD hingga menjalani perawatan intensif di fasilitas rehabilitasi. Di sisi lain, Nick belajar untuk tidak menjadi penyelamat melainkan menjadi pendamping yang sehat bagi kesehatan jiwa Charlie. Fondasi empati, komunikasi terbuka, dan penerimaan diri yang terbangun dengan susah payah sepanjang tiga musim itulah yang menjadi alasan mengapa konflik perpisahan di film HEARTSTOPPER FOREVER (2026) tidak langsung menghancurkan cinta mereka. Meskipun film HEARTSTOPPER FOREVER (2026) berhasil memberikan penutup yang emosional, film ini tidak lepas dari beberapa kekurangan dari segi penceritaan. Dengan durasi film yang terbatas, alur cerita terasa sedikit terburu-buru dalam mengeksplor konflik utama. Dinamika putus-nyambung Nick dengan Charlie diselesaikan secara aman demi mengejar happy ending. Beberapa subplot karakter pendukung tampil hanya selewat saja mengingat keterbatasan durasi, meskipun sebagian dari mereka sudah mendapat porsi yang melimpah di 3 season serialnya.
Dari segi performa akting, jajaran pemeran utama kembali membuktikan kematangan kualitas seni peran mereka. Joe Locke tampil semakin matang dalam menyampaikan kerentanan emosional; sorot matanya secara tajam mampu menggambarkan ketakutan akan depresi dan gangguan makan yang sewaktu-waktu bisa kambuh saat ia patah hati. Penampilan Kit Connor yang semakin atletis dan bulky juga memberikan penampilan yang luar biasa melalui gestur tubuhnya yang cemas, adegan kejujuran yang emosional, hingga ledakan emosi saat mabuk yang menunjukkan sisi frustrasi seorang remaja yang takut kehilangan orang terkasihnya. Chemistry di antara keduanya tetap menjadi fondasi terkuat yang membuat setiap adegan intim maupun konflik terasa sangat nyata dan believable. Kehadiran Anna Maxwell Martin yang menggantikan Olivia Colman sebagai ibu Nick juga patut diacungi jempol, meskipun awalnya aku cukup ragu karena karakter ibu Nick sudah sangat melekat dengan Olivia Colman. Surprisingly, Anna Maxwell Martin mampu membawakan peran seorang ibu yang supportive dengan kehangatan yang pas tanpa terasa memaksakan diri.
Overall, film HEARTSTOPPER FOREVER (2026) berhasil memanfaatkan jejak emosional dari tiga musim sebelumnya untuk memberikan konklusi yang memuaskan. Film ini bukan hanya sekadar penutup romansa remaja, melainkan sebuah perayaan tentang bagaimana cinta yang sehat, persahabatan, dan penerimaan diri mampu bertahan melintasi waktu dan juga jarak. So memorable!


[9/10Bintang]