Wednesday, 11 March 2026

[Review] Tunggu Aku Sukses Nanti: Perjuangan Untuk "Membeli" Semua Omongan Sanak Saudara Saat Berkumpul Keluarga!




#Description:
Title: Tunggu Aku Sukses Nanti (2026)
Casts: Ardit Erwandha, Lulu Tobing, Ariyo Wahab, Niniek L. Kariem, Adzana Shaliha, Sarah Sechan, Jamie Aditya, Afgansyah Reza, Ayu Laksmi, Marchella FP, Petra Gabriel, Gusty Pratama, Renitasari Adrian, Maudy Effrosina, Reza Chandika, Fita Anggraeni, Soleh Solihun, Farrell Rafisqy, Yono Bakrie
Director: Naya Anindita
Studio: Rapi Films, Screenplay Films, Legacy Pictures, Vortera Studios


#Synopsis:
Lebaran Idul Fitri biasanya disambut penuh dengan suka cita dan bahagia. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Arga (Ardit Erwandha) yang selalu tertekan saat keluarga besarnya berkumpul, bersilaturahmi sambil membicarakan pencapaian keluarga mereka masing-masing. Ditambah lagi, Arga sudah satu tahun terakhir masih menganggur dan belum mendapat pekerjaan baru. Tekanan dan berbagai pertanyaan selalu datang dari ketiga saudara kandung dari ayahnya Arga yaitu Tante Yuli (Sarah Sechan), Tante Yeni (Ayu Laksmi) dan Tante Yara (Renitasari Adrian). Ditambah lagi keempat sepupu Arga yaitu Dwiki (Afgansyah Reza), Bella (Marchella FP), Hanif (Petra Gabriel) dan Hilman (Gusty Pratama) memiliki karier yang cemerlang dan sudah hidup mapan. Untungnya, ayah Yudha (Ariyo Wahab), ibu Rita (Lulu Tobing), adik Alma (Adzana Shaliha), sang nenek (Niniek L. Kariem) dan pacarnya, Andin (Maudy Effrosina) selalu menenangkan Arga dan melerai pembicaraan yang memberatkan Arga ketika sedang berkumpul dengan keluarga besarnya.
Selama satu tahun tidak bekerja, Arga sebetulnya tidak berdiam diri saja. Ia rutin mengirim surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan namun tak kunjung mendapat panggilan. Meskipun keluarga besarnya selalu meremehkan dirinya, Arga masih memiliki ayah, ibu, adik, nenek, pacar serta dua sahabatnya yaitu Wicak (Reza Chandika) dan Fanny (Fita Anggraeni) yang selalu memberikan dukungan pada Arga untuk tetap semangat dalam mencari pekerjaan. Setiap ada panggilan wawancara kerja, Arga selalu semangat untuk datang. Meskipun berkali-kali mendapat penolakan, Arga tidak putus asa dan mencoba berbagai lowongan kerja lainnya.
Hingga suatu hari, Arga berhasil lolos wawancara dan diterima bekerja sebagai sales property perumahan. Kabar tersebut tentunya membuat ayah, ibu, adik, nenek, Andin, Wicak dan Fanny sangat bahagia. Arga berjanji akan bekerja semaksimal mungkin demi membahagiakan keluarganya di rumah. Setelah satu bulan bekerja sebagai sales, Arga gagal mencapai target penjualan. Wicak dan Fanny pun tak tinggal diam, mereka merubah penampilan Arga agar lebih menonjol dan menarik perhatian calon pembeli rumah. Tak hanya itu saja, Arga pun mencoba teknik pemasaran rumah lewat konten-konten lucu dan diunggah ke sosial media. Sejak penampilan berubah dan konten-kontennya mulai ramai dikomentari banyak orang, Arga berhasil mendapatkan beberapa client yang akan membeli rumah. Gaji dan tambahan bonus akhirnya bisa didapatkan oleh Arga setelah berjuang mati-matian mencari client untuk membeli rumah melalui dirinya.
Sejak memiliki penghasilan sendiri, Arga selalu menyisihkan uangnya untuk diberikan pada kedua orangtua dan biaya kuliah Alma. Bahkan, Arga pun berjanji akan menyewa ruko di pinggir jalan untuk dijadikan warung mie ayam dan membelikan motor untuk sang ayah. Arga semakin semangat dalam bekerja demi mengangkat derajat keluarganya dan tak lagi merasa insecure saat bertemu dengan keluarga besarnya di lebaran.
Waktu terus berlalu. Dibalik kondisi keuangannya yang perlahan mulai membaik, Arga justru harus menghadapi berbagai rintangan baru dalam hidupnya. Terjadi persaingan di lingkungan pekerjaan, Andin yang menginginkan hubungan dengan Arga bisa melangkah ke jenjang lebih serius, konflik pertengkaran antara Arga dengan kedua sahabatnya perihal perbedaan sudut pandang tentang semua pencapaian yang sudah diraih Arga, hingga masih saja menerima pandangan sebelah mata dari Tante Yuli, Tante Yeni dan Tante Yara. Apakah Arga mampu menyelesaikan dan berdamai dengan semua permasalahan pelik dalam hidupnya?


#Review:
Rumah produksi Rapi Films siap meramaikan Lebaran Idul Fitri tahun 2026 ini dengan merilis film terbarunya yang berjudul TUNGGU AKU SUKSES NANTI (2026), karya sutradara Naya Anindita yang tahun lalu sukses mencetak box office hit lewat film semi biografi berjudul KOMANG (2025).


Aku berkesempatan hadir pada Gala Premiere film TUNGGU AKU SUKSES NANTI (2026) yang sukses digelar pada Senin (10/3) kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada kesempatan tersebut, Naya Anindita dan Evelyn Afnilia selaku penulis skenario sekaligus cerita film ini mengungkapkan proses pemilihan aktor dilakukan dengan pendekatan secara personal. Naya sengaja memilih orang-orang dari circle pertemanannya untuk menghidupkan suasana keluarga dan persahabatan yang organik. Yang tak kalah menarik, saat Naya, Evelyn dan tim kreatif menulis cerita, sosok yang pertama kali terlintas dalam benak mereka untuk karakter Arga adalah Ardit Erwandha. Meskipun selama ini Ardit dikenal sebagai komika dan aktor komedian, namun Naya sangat yakin Ardit bisa memerankan karakter Arga sesuai keinginannya.
Untuk segi cerita, film TUNGGU AKU SUKSES NANTI (2026) terkonfirmasi bukan diadaptasi dari novel best seller, thread viral ataupun sosok inspiratif. Namun ajaibnya, cerita yang disajikan film ini surprisingly seperti menjadi biografi untuk para penonton dengan status anak sulung, sandwich generation yang sedang berjuang untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Sejak film dimulai saja, penonton langsung "ditampar" dengan adegan-adegan "horror" saat keluarga besar berkumpul di moment idul fitri yang terus berulang di setiap tahunnya. Di setiap keluarga pasti akan ada aja satu dua orang yang memiliki sifat cerewet, banyak tanya, bikin jengkel meskipun mereka selalu berlindung dibalik kata "bercanda". Dampaknya pun tak main-main, lewat karakter Arga yang sedari kecil sering diperlakukan seperti itu dan berlanjut sampai ia dewasa, jadi memupuk rasa benci dan ambisi untuk "balas dendam" di kemudian hari. Konflik internal keluarga besar Arga juga eksekusinya lagi dan lagi sangat relatable untuk keluarga yang sedang atau pernah berada di posisi yang sama dengan mereka. Semua pressure yang diterima Arga kemudian mencapai klimaksnya saat kehidupan dan karier keluarga Arga mulai membaik. Amarah Arga yang selama ini dipendam akhirnya meledak. Penonton pun langsung takjub melihat emosi yang meledak dari Arga karena timingnya sangat pas. Plot twist mengejutkan pun tak lupa diselipkan dalam cerita di film ini yang siapa sangka menjadi turning point dan penebusan dosa bagi Arga maupun orang-orang disekitarnya. Untuk kesekian kalinya, lagi dan lagi aku menangis!
Selain drama internal keluarga yang sangat luar biasa, film TUNGGU AKU SUKSES NANTI (2026) juga menghadirkan subplot menarik lainnya yaitu tentang persahabatan ajaib antara karakter Arga dengan Wicak dan Fanny. Keputusan Naya untuk mengambil inner circle pertemanan untuk terlibat sebagai aktor dalam film ini menurutku keputusan yang sangat tepat. Chemistry pertemanan mereka bertiga sangat believable, menghibur dan dekat dengan penonton. Subplot hubungan asmara Arga dengan Andin pun hadir sebagai pelengkap namun tetap punya pengaruh juka terhadap keseluruhan cerita. Keputusan yang mereka ambil pun menurutku rasional.


Untuk jajaran pemain, apresiasi pertama harus kita berikan kepada Ardit Erwandha yang berhasil keluar dari zona nyamannya sebagai aktor spesialis komedi, menjadi aktor yang memiliki range emosi serta gesture sangat luar biasa. Performa Ardit Erwandha sebagai Arga mengingatkanku akan Yunita Siregar sebagai Kaluna di film HOME SWEET LOAN (2024), sama-sama keduanya memang ditakdirkan untuk menjadi Arga dan Kaluna. Journey Arga ketika bekerja sebagai agent property perumahan dengan segala konflik internalnya sungguh believable. Bahkan di beberapa moment, aku dan penonton lain selalu refleks ikut bahagia melihat karakter Arga menemukan rasa bahagianya ketika bekerja. Dinamika emosional Arga di sepanjang film pun dibuat terus meningkat hingga memunculkan perasaan ingin memvalidasi semua pencapaian Arga selama ini. Range emosionalnya sekali lagi, gokil banget!
Ensemble cast pendukung di film ini juga siapa sangka punya andil cukup besar dalam keseluruhan cerita. Trio tante yang dimainkan oleh Ibu Ayu Laksmi, Sarah Sechan dan Renitasari Adrian sukses bikin jengkel penonton. Kehadiran para sepupu yang dimainkan Afgansyah Reza, Marchella FP, Petra Gabriel dan Gusty Pratama juga berhasil menjadi salah satu penyebab Arga ketrigger dengan kesuksesan yang mereka raih. Meskipun obrolan keluarga besar Arga terasa lazim, namun hal tersebut justru terasa seperti pisau yang tajam bagi para anak sulung yang sedang berproses seperti Arga. Kehadiran Lulu Tobing, Ariyo Wahab, Adzana Shaliha dan Ibu Niniek L. Kariem duh sungguh hangaat sekaligus bikin menangis melihat chemistry keluarga inti dari Arga.
Overall, film TUNGGU AKU SUKSES NANTI (2026) sangat mudah menjadi salah satu film Indonesia terbaik di tahun ini dan salah satu film Indonesia bertema Lebaran yang Lebaran banget! Aku sangat optimis, bakal panen nominasi dan piala di ajang penghargaan tahun ini. Bismillah Naya Anindita for Best Director dan Ardit Erwandha for Best Lead Actor!


[10/10Bintang]

Friday, 6 March 2026

[Review] Hoppers: Keseruan Si Pecinta Hewan Dalam Upaya Melestarikan Lingkungan!



#Description:
Title: Hoppers (2026)
Casts: Piper Curda, Bobby Moynihan, Jon Hamm, Kathy Najimi, Dave Franco, Eduardo Franco, Aparna Nancherla, Tom Law, Sam Richardson, Melissa Villasenor, Isaiah Whitlock Jr, Steve Purcell, Ego Nwodim, Nichole Sakura, Meryl Streep, Karen Huie, Vanessa Bayer
Director: Daniel Chong
Studio: Pixar Animation Studios, Disney Studios


#Synopsis:
Sejak kecil, Mabel Tanaka (Piper Cuda) sangat peduli dan sayang terhadap hewan. Ia bahkan sudah berulang kali mencoba melepaskan hewan-hewan yang sengaja dipelihara di sekolah untuk dibebaskan ke alam. Hal tersebut membuat para guru angkat tangan dengan apa yang dilakukan Mabel. Ayah dan ibunya pun sudah berulang kali menasehati Mabel untuk tidak melakukan tersebut agar ia tidak dikeluarkan dari sekolah.
Selama libur musim panas, Mabel dititipkan ke rumah neneknya (Karen Huie) yang tinggal di kota kecil bernama Beaverton. Selama tinggal bersama sang nenek, Mabel banyak belajar tentang alam dan juga hewan. Mereka sering menghabiskan waktu di danau hutan kota yang tak jauh dari rumah. Di sana, Mabel bisa melihat dengan leluasa lingkungan alam serta interaksi hewan-hewan yang tinggal di hutan tersebut. Rasa cinta dan peduli terhadap hewan serta lingkungan yang sangat besar dari neneknya ini kemudian turun pada Mabel. Bahkan setelah libur musim panas, Mabel semakin sering datang ke rumah neneknya saat akhir pekan dan di waktu libur. Hingga saat beranjak remaja, Mabel mengambil keputusan untuk tinggal bersama sang nenek ketimbang harus ikut orangtuanya pergi ke luar negeri untuk bekerja. Mabel lebih nyaman tinggal bersama sang nenek sekaligus merawatnya yang semakin menua.
Tak lama setelah itu, sang nenek meninggal. Mabel memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sesuai permintaan mendiang neneknya yang memintanya untuk merawat rumah dan lingkungan di sekitarnya. Selama tinggal sendirian di sana, kondisi lingkungan dan hutan kota yang didekat rumah perlahan mulai terganggu. Puncaknya, pembangunan jalan layang yang membentang dan pilarnya dibangun diatas rawa di hutan kota akan segera dibangun oleh pemerintah. Rencana tersebut langsung ditentang oleh Mabel karena selain merusak habitat hewan yang ada di rawa dan hutan, lokasi tersebut juga memiliki kenangan tersendiri bersama mendiang neneknya di sana. Mabel juga sudah berulang kali melayangkan protesnya terhadap walikota Beaverton yaitu Jerry Generazzo (Jon Hamm), bahkan Mabel juga sering menggelar aksi demo terhadap berbagai rencana pemerintah yang dianggap merusak lingkungan dan mengancam keselamatan hewan-hewan di alam liar. Karena kampanye menolak pembangunan jalan layang tersebut tak mendapat dukungan dari warga di Beaverton, Mabel pun meminta bantuan pada dosen di kampusnya yaitu Dr. Samantha Fairfax (Kathy Najimi) untuk mencari cara agar hutan dan rawa yang ada di hutan kota tidak dirusak oleh rencana pembangunan jalan layang. Dr. Samantha kemudian menjelaskan jika kondisi hutan di sana memang sudah lama ditinggal oleh hewan-hewan liar. Satu-satunya cara agar pemerintah tidak bisa melanjutkan proyek pembangunan pilar jalan layang di atas rawa dan hutan yaitu memancing semua hewan-hewan liar untuk kembali ke sana.
Mabel pun langsung menyusun rencana agar semua hewan bisa kembali ke habitatnya dengan cara membawakan sayuran dan makanan yang disimpan di tengah hutan. Namun selama seharian di sana, ia tak menemukan satupun hewan yang mendekati umpan tersebut. Saat tengah malam, Mabel melihat seekor berang-berang keluar dari semak-semak namun malah berjalan keluar dari hutan. Tak lama setelah itu, berang-berang tersebut diambil oleh seseorang dari dalam mobil dan pergi dari sana. Mabel pun tak tinggal diam, ia langsung mengejar mobil itu karena sudah menculik berang-berang dari habitat aslinya. Mobil tersebut ternyata berjalan menuju kampusnya. Berang-berang tadi kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung lalu turun ke tangga menuju laboratorium tertutup. Mabel yang mengikutinya dibuat terkejut setelah mengetahui jika berang-berang tersebut adalah robot hewan yang dibuat oleh Dr. Samantha beserta kedua asistennya yaitu Nisha (Aparna Nancherla) dan Conner (Sam Richardson). Mereka bertiga sedang mengembangkan project bernama Hoppers, yaitu teknologi yang memungkinkan kesadaran manusia untuk "melompat" ke dalam tubuh hewan robotik dan merasakan kehidupan sebagai spesies tersebut. Mabel kemudian menemukan peluang untuk menyelamatkan hutan dengan menggunakan teknologi Hoppers tersebut dan masuk ke dalam tubuh robot berang-berang tadi tanpa seizin Dr. Samantha lalu kabur dari laboratorium.
Setelah berhasil melarikan diri, Mabel yang kini ada dalam tubuh robot berang-berang menyusuri hutan untuk menemui hewan lain. Setelah berjalanan semalaman, pagi harinya Mabel bertemu dengan seekor berang-berang yang sedang bersantai di tepi sungai. Mabel mengajaknya untuk kembali ke hutan kota, namun sayang, berang-berang yang bernama Loaf (Eduardo Franco) memilih tetap tinggal di sana karena suasana hutan yang dekat kota sudah tidak kondusif lagi akibat pembangunan jalan layang itu. Tak lama setelah itu, seekor beruang bernama Ellen (Melissa Villasenor) mendekati Mabel dan Loaf. yang kemudian mencoba untuk memakan Loaf. Mabel pun histeris berteriak dan meminta Ellen untuk tidak memakan Loaf. Kejadian tersebut membuat Ellen dan Loaf terkejut, karena baru kali ini ada seekor berang-berang yang melanggar hukum alam tentang rantai makanan. Ellen dan Loaf kemudian membawa Mabel menemui pimpinan berang-berang yaitu King George (Bobby Moynihan) yang tinggal di bendungan dan aliran sungai dengan membangun tempat tinggal untuk hewan-hewan lain juga. Di sana, King George kemudian menjelaskan tentang hukum alam yang seharusnya sudah dipahami Mabel sebagai seekor berang-berang. Setelah itu, Mabel kemudian meminta bantuan pada George untuk membawa kawanan hewan kembali ke hutan kota agar proyek jalan layang dihentikan jika kawanan hewan masih menetap di sana. Sebelum meminta hewan-hewan pindah ke sana, George, Mabel, Ellen, Loaf dan beberapa hewan lain datang terlebih dahulu ke sana untuk melihat kondisi hutan dan rawa yang sudah lama mereka tinggalkan. Saat berkeliling, Mabel menemukan pohon buatan yang mengeluarkan suara dan radiasi untuk membasmi hewan-hewan yang masih saja berkeliaran di dekat proyek pembangunan jalan layang. Setelah berhasil menghancurkan pohon tersebut, King George kemudian menyetujui untuk kembali mengisi hutan kota bersama hewan-hewan lainnya.
Waktu terus berlalu. Rusaknya pohon pengusir hewan ketahuan oleh Jerry. Keesokan harinya, tim konstruksi langsung memasang pohon dengan speaker lebih banyak di area pembangunannnn jalan layang ditengah hutan kota yang membuat para hewan liar terpaksa kembali lagi ke bendungan. Kejadian tersebut membuat Mabel dan George menyusun rencana dengan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin hewan lain dari kalangan serangga, amfibi, ikan, reptil dan burung. Penjelasan Mabel tentang rencana pembangunan jalan layang yang menghancurkan kawasan hutan kota menyebabkan salah persepsi di kalangan pemimpin hewan dan menganggap jika manusia yang Jerry itu mengancam wilayah mereka masing-masing. Karena situasi semakin tidak kondusif, Mabel, George, Loaf, Ellen dan kadal Tom Lizard (Tom Law) berusaha menjelaskan kekhawatiran para pemimpin hewan itu terlalu berlebihan karena manusia saat ini hanya mengincar lahan hutan kota saja. Namun penjelasan tersebut tak bisa menenangkan kepanikan dan amarah para pimpinan dan hewan lain. Mereka kemudian menyusun rencana untuk menyerang Jerry dan manusia lain yang kebetulan akan menggelar acara peresmian proyek pembangunan pilar dan jalan layang dalam waktu dekat. Karena dianggap berkhianat, Mabel, George, Loaf dan Tom jadi ikut diburu oleh para hewan lain yang dihasut oleh pimpinan baru dari kalangan serangga yaitu Titus Insect King (Dave Franco).
Sementara itu, Mabel harus secepat mungkin memberitahu rencana para pimpinan dan pasukan hewan yang akan menyerang pada Jerry. Bersama dengan George, Loaf, Ellen dan Tom mereka menuju rumahnya Jerry sambil membawanya ke hutan. Apakah semua rencana yang dilakukan dari kubu Mabel maupun Titus akan berjalan mulus?


#Review:
Rumah produksi Disney Pixar baru saja merilis film animasi terbarunya yang berjudul HOPPERS (2026). Film yang menjadi debut bagi Daniel Chong sebagai sutradara film layar lebar ini mengusung tema cerita tentang dunia satwa yang habitatnya terancam hilang oleh pembangunan jalan layang. Menariknya, kepedulian terhadap satwa dan lingkungan tersebut datang dari seorang remaja perempuan blasteran Amerika - Jepang bernama Mabel Tanaka.


Untuk segi cerita, film HOPPERS (2026) menyajikan kombinasi plot yang terbilang unik sekaligus baru di filmography Disney Pixar. Plot pertama membahas soal upaya karakter Mabel yang sangat mencintai lingkungan dan bertransformasi menjadi sosok pelindung (SJW hahaha) bagi satwa liar di dekat rumah neneknya. Kemudian, relasi antara manusia dengan satwa menjadi konflik utama yang eksekusinya dibuat ringan, surprisingly menghibur dan tetap memberikan edukasi bagi penonton. Dinamika perjuangan karakter Mabel untuk melindungi lingkungan dan satwa liar di sini juga tak sepenuhnya berjalan dengan mulus, karena lawan yang harus dihadapi juga tidak sepenuhnya jahat. Maksud dan tujuan Mabel sebetulnya sangatlah baik karena ia ingin memperbaiki segala sesuatu sesuai keinginannya, namun berbagai usaha yang dilakukan justru membuatnya capek dan lelah sendiri karena tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Subplot fiksi ilmiah lewat teknologi bernama Hoppers yang secara singkat mirip dengan teknologi yang digunakan dalam film AVATAR (2009) juga berhasil menambah level keseruan film ini. Tingkah polah hewan dan sudut pandang mereka dalam melihat dunia dan manusia memang tidak ada bedanya, karena kita sama-sama makhluk hidup ciptaan tuhan.
Untuk urusan visual dan animasi, film HOPPERS (2026) memang tidak menawarkan sesuatu yang baru. Animasinya khas seperti film-film Disney Pixar pada umumnya. Yang menjadi point plus dan pembeda terletak disaat interaksi antara sesama satwa dengan manusia. Saat para hewan berinteraksi, mereka tampil layaknya interaksi manusia pada umumnya, kadang serius, kadang super konyol dengan ditambah ekspresi muka yang selalu over hahaha. Namun saat hewan-hewan tersebut berinteraksi dengan manusia, tampil sangat menggemaskan lewat point of view manusia saat melihat hewan itu seperti apa.
Overall, film HOPPERS (2026) berhasil mengangkat issue tentang kelesarasan dan keharmonisan antar makhluk hidup dengan cara yang fun, lucu sekaligus mengharukan. Semoga HOPPERS (2026) bisa mencetak box office hit melampaui film Disney Pixar tahun lalu yaitu ELIO (2025) yang bisa dibilang gagal meraih predikat tersebut.


[9/10Bintang]

Friday, 6 February 2026

[Review] If I Had Legs I'd Kick You: Drama Psikologis Dari Seorang Ibu Dalam Menghadapi Kekacauan Hidupnya!



#Description:
Title: If I Had Legs I'd Kick You (2025)
Casts: Rose Byrne, Conan O'Brien, Delaney Quinn, ASAP Rocky, Danielle Macdonald, Christian Slater, Ivy Wok, Mary Bronstein, Lark White, Ronald Bronstein
Director: Mary Bronstein
Studio: A24, Central Pictures, Fat City Productions


#Synopsis:
Dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, Linda (Rose Bryne) terasa semakin kacau dan berantakan. Sang suami, Charles (Christian Slater) bekerja sebagai nahkoda kapal yang sudah lama berlayar dan belum pulang ke rumah. Linda tinggal bersama anak perempuannya, Sarah (Delaney Quinn) yang mengidap gangguan makan pediatrik, sebuah kondisi pemberian makan tambahan setiap malam melalui selang makan. Setiap harinya, Linda harus mempersiapkan semua kebutuhan dan mengantar jemput sang anak ke sekolah, mengikuti program rumah sakit untuk memantau perkembangan sang anak dan bekerja sebagai psikoterapis yang bertemu dengan beberapa pasien tetapnya.
Ketika melakukan rutinitasnya itu, tak jarang Linda sering menghadapi berbagai macam drama seperti perselisihan dengan petugas parkir di sekolah sang anak yang berulang-ulang, Sarah yang cerewet sepanjang perjalanan berangkat dan pulang kerja, kemudian sering ditegur oleh dokternya sang anak karena Linda sering absen untuk sesi pertemuan. Untuk meluapkan semua kekesalan dan amarahnya, Linda rutin berkonsultasi juga pada terapisnya, Thomas (Conan O'Brien).
Suatu hari, saat Linda selesai menjemput Sarah dari sekolah dan tiba di apartemen, keduanya adanya genangan air di toilet dan menyebabkan bocor ke kamar Linda yang tepat di bawahnya. Tak lama setelah itu, lantai toilet ambruk dan menciptakan lubang besar membasahi seluruh ruangan yang ada di bawahnya. Selama proses perbaikan, Linda dan Sarah menyewa motel murah yang tak jauh dari apartemen mereka. Masalah baru muncul. Linda tidak bisa tidur nyenyak karena suara bising dari alat dan pompa makanan yang digunakan sang anak setiap malam. Ia pun menghabiskan malam harinya dengan meminum alkohol, membeli rokok dan makanan cepat saji sambil sesekali mengecek kondisi terkini apartemennya apakah sudah selesai diperbaiki atau belum.
Di sisi lain, Linda juga harus menghadapi berbagai keluh kesah dari pasien terapisnya ketika sedang bekerja. Salah satu pasiennya yaitu Caroline (Danielle Macdonald) yang mengalami paranoia dan baby blues setelah melahirkan anak pertamanya. Setelah selesai sesi terapi, Linda harus menghadapi pertengkaran dengan sang suami melalui telepon. Linda yang selama ini ditinggalkan sendirian merasa kesal melihat suaminya sibuk berlayar sambil menyempatkan waktu untuk menonton pertandingan olahraga. Hal tersebut membuat Charles juga ikutan terpancing emosi dan menganggap pekerjaan Linda jauh lebih santai karena hanya duduk saja mendengarkan keluh kesah orang lain.
Hari demi hari terus berlalu. Linda yang tak bisa tidur nyenyak, semakin sering meminum alkohol dari mini market yang ada di motel. Di sana, ia bertemu dengan penjaga motel yaitu James (ASAP Rocky) yang telah membantunya membeli alkohol. Selain itu, James juga memberikan dukungan moral dan emosional pada Linda dan juga anaknya untuk tetap bertahan hidup. James pun tak segan untuk membantu Linda membeli berbagai macam obat tanpa resep dokter melalui dark web agar dirinya bisa tenang dalam menghadapi berbagai kekacauan dalam hidup. Sejak mengkonsumsi beberapa obat penenang, kondisi emosional Linda perlahan mulai stabil. Namun di sisi lain, ia semakin sering mengalami halusinasi dan kembali meledak-ledak jika posisinya sedang terpojok.
Hingga suatu malam, Linda melihat Caroline mendatangi motelnya dalam kondisi mental yang semakin kritis. Caroline meminta pertolongan lagi pada Linda dan ia tidak mau kembali ke rumah sakit lagi. Disaat Linda berusaha menenangkan Caroline dan membujuknya untuk ke rumah sakit, Caroline sangat kecewa lalu menampar Linda dan pergi berlari ke pinggir pantai. Saat Linda mengejarnya, ia kehilangan jejak dalam gelap. Setelah melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian, Linda langsung berlari kembali ke motel.
Tiba di kamar, Linda disambut oleh suara mesin selang makan anaknya yang error. Saat ia berusaha memperbaikinya, Linda terkejut melihat lubang bekas bedah di perut sang anak untuk memasukkan selang makan sudah tertutup. Ia kemudian menarik selang makan yang selama ini tersambung di perut sang anak dan bernafas lega karena Sarah kini bisa hidup dengan normal. Setelah itu, Linda kemudian pergi menuju apartemennya. Di sana, ia terkejut melihat Charles yang sudah ada di kamar dan sudah memperbaiki kerusakan lantai yang berlubang besar itu dengan bantuan tukang renovasi. Setelah selesai, mereka berdua kemudian pergi menuju motel. Setibanya di sana, James ternyata sedang menjaga Sarah yang dari tadi menangis histeris setelah Linda pergi begitu saja dari motel. Charles semakin terkejut dengan melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.


#Review:
Sejak rilis di Amerika Serikat pada Oktober tahun lalu dan sukses meraih penghargaan bergengsi di Berlin International Film Festival dan Golden Globes 2026, film IF I HAD LEGS I'D KICK YOU (2025) akhirnya sempat tayang terbatas di bioskop Indonesia pada perhelatan JAFF Jogja yang ke-20 pada Desember kemarin dan di bioskop Jakarta dengan dibawa langsung oleh KlikFilm.


Untuk segi cerita, film IF I HAD LEGS (2025) ini mengeskplorasi batas kemampuan manusia dalam menghadapi krisis kehidupan yang bertubi-tubi. Point paling menonjol dari plot yang disajikan yaitu penggambaran burnout level maksimal yang dialami oleh karakter Linda. Sosoknya yang berprofesi sebagai psikoterapis dan penyembuh bagi orang lain, namun di sisi lain ia perlahan hancur berantakan dibawah tekanan perannya sendiri sebagai seorang perempuan, istri dan juga ibu. Sutradara Mary Bronstein berhasil mengekspos secara gamblang bagaimana perjuangan seorang ibu dalam menjalani hidup dengan segala problematika yang dihadapinya. Sekuat-kuatnya manusia, pasti akan mencapai pada titik batas kesabaran yang pada akhirnya dapat menghancurkan dirinya sendiri dan apapun yang ada disekitarnya. Sepanjang durasi film, aku ikut terbawa stress dan frustasi melihat karakter Linda dalam menghadapi semua kekacauan di hidupnya tersebut. Suasana depresif semakin menyeruak berkat pergerakan kamera dan teknik pengambilan gambar yang cukup ekstrim dalam menyoroti setiap gesture dan ekspresi muka dari karakter Linda. Rasa capek, lelah, pusing dan ingin berteriak sekencang-kencangnya benar-benar tersampaikan dengan sempurna ke penonton. Keputusan yang diambil di ending cerita pun semakin menambah kejutan tak terduga dan bisa saja terjadi seperti itu. Bikin ngilu sekaligus merenung.
Untuk jajaran pemain, sudah jelas bintang utama film IF I HAD LEGS (2025) adalah Rose Byrne. Karakter Linda yang super duper melelahkan dalam menghadapi hidup ditampilkan luar biasa olehnya. Range emosionalnya sudah sangat mentok sebagai seorang manusia, perempuan, istri dan juga ibu yang terus-terusan dihujani permasalahan. Pendalaman karakternya pun tidak sepenuhnya dibuat hitam putih. Sang sutradara memposisikan karakter Linda di zona abu-abu, sehingga keputusan dan sikap yang ditampilkan bisa dimaklumi namun di sisi lain sepertinya tak bisa ditolelir lagi. Tak heran jika Rose Byrne berhasil meraih Best Actress di Golden Globes 2026. Semoga Oscars di bulan Maret ini menang lagi! She's totally deserved it! Overall, film IF I HAD LEGS I'D KICK YOU (2025) berhasil mengemas issue burnout seorang perempuan yang berada di level paling maksimum. So depresive!


[8.5/10Bintang]

Monday, 2 February 2026

[Review] The Voice of Hind Rajab: Cerita Tragis Seorang Anak Perempuan Ditengah Aksi Genosida Israel!

 


#Description:
Title: The Voice of Hind Rajab (2025)
Casts: Hind Rajab, Motaz Malhees, Saja Kilani, Amer Hlehel, Clara Khoury, Nesbat Serhan
Director: Kaouther Ben Hania
Studio: Mime Films, Tanit Film, Film4, MBC Studios, Plan B Entertainment, The Party Film Sales


#Synopsis:
29 Januari 2024, para relawan dan petugas di pusat bantuan Bulan Sabit Merah di Palestina sibuk dengan panggilan telepon masuk dari warga Gaza yang meminta bantuan. Salah satunya yaitu Omar (Motaz Malhees) yang menerima telepon dari seorang wanita yang terjebak ditengah genosida Israel di jalur Gaza. Namun sayang, saat Omar sedang berusaha berkoordinasi untuk mengirim ambulans kesana, terdengar jeritan penelepon dengan disertai suara tembakan dan akhirnya komunikasi terputus. Hal tersebut mengguncang perasaan Omar yang baru pertama kali mengalami kejadian seperti itu. Omar pun diminta leader nya yaitu Nisreen (Clara Khoury) untuk menenangkan diri dan meluapkan kesedihannya sejenak sebelum kembali bekerja.
Setelah menenangkan diri, Omar kembali ke mejanya dan lanjut bekerja. Saat pergantian shift dengan rekannya, Rana (Saja Kilani) ia menerima panggilan telepon dari seorang anak perempuan. Omar pun seperti biasa menanyakan identitas serta apa yang dibutuhkan. Namun telepon terputus. Tak lama setelah itu, Omar menerima kembali panggilan telepon dari seorang pria yang melaporkan jika keponakannya, Hind Rajab yang sedang berada di dalam mobil terjebak di dekat SPBU seorang diri. Pria tersebut kemudian memberikan nomor telepon saudaranya yang berada di mobil yang sama.
Omar kemudian menelepon nomor itu dan kembali tersambung dengan suara anak perempuan tadi. Selama percakapan, Hind Rajab yang punya nama panggilan Hanood itu meminta Omar dan yang lainnya untuk segera datang menolongnya. Ia ketakutan dan berkali-kali terdengar suara ledakan dan tembakan dari luar mobil. Omar semakin panik dan tak bisa menahan rasa sedihnya mendengar Hanood yang menangis sambil meminta bantuan. Rana kemudian ikut membantu Omar untuk menenangkan Hanood melalui telepon. Setelah itu, Omar mendatangi supervisor nya yaitu Mahdi (Amer Hlehel) untuk segera mengirimkan mobil ambulans untuk evakuasi Hanood.
Mahdi pun langsung berkoordinasi dengan berbagai departemen untuk menindaklanjuti laporan Omar tersebut. Setelah ditelusuri, Mahdi tidak bisa langsung begitu saja mengirim ambulans ke posisi Hanood karena jalur evakuasi tim medis ditutup. Ditambah lagi pasukan tentara Israel tak henti-hentinya melancarkan aksi genosida di sana dengan senjata dan juga tank perang. Omar kemudian berusaha mencari jalan alternatif dari jalur evakuasi. Ia pun menemukan sebuah jalan pintas menuju lokasi Hanood melalui peta yang berjarak hanya 8 menit dari posisi ambulans dan tim medis. Omar kembali mendatangi Mahdi untuk mengirim langsung ambulans via jalur alternatif. Namun Mahdi tak bisa main kirim ambulans kesana karena harus mengikuti prosedur dan perizinan dari berbagai departemen terkait dan juga keamanan personel tentara Palestina yang nanti ditugaskan.
Sementara itu, Rana yang masih berkomunikasi dengan Hanood via telepon berusaha menenangkannya agar tidak panik dan tetap bersembunyi. Ketika Rana menanyakan di mobil tersebut sedang bersama siapa saja, Hanood menjawab jika ia sendirian karena ketiga sepupu dan paman dan bibi nya sudah meninggal. Mendengar jawaban Hanood membuat Rana, Omar dan yang lainnya langsung menangis. Omar semakin marah pada Mahdi yang tidak bisa berbuat cepat untuk segera menolong Hanood. Suara tembakan dan tank yang sedang berjalan menghancurkan kendaraan dan bangunan semakin terdengar melalui telepon yang dipegang Hanood. Setelah mengetahui salah satu tentara Palestina adalah rekannya, Omar pun langsung menghubunginya dan meminta untuk segera menyelamatkan Hanood. Setelah mendapat izin, mobil ambulans kemudian berjalan menuju jalur alternatif dengan diarahkan oleh Mahdi. Dalam perjalanan itu, tentara Israel semakin agresif melancarkan tembakan dari senjata maupun tank perang milik mereka ke banyak titik. Di saat mobil ambulans tinggal sedikit lagi mencapai lokasi keberadaan mobil yang didalamnya ada Hanood, komunikasi terputus, begitu juga dengan Hanood. Tangisan pecah di Bulan Sabit Merah. Mereka gagal menyelamatkan Hind Rajab. Keesokan harinya setelah tentara Israel pergi, para relawan langsung menuju lokasi keberadaan mobil ambulans dan juga Hanood. Di sana, mereka menemukan kedua mobil tersebut sudah hancur penuh dengan bekas ratusan tembakan peluru. Hanood dan tim medis di ambulans yang berusaha menuju lokasi keberadaan Hanood ditemukan sudah meninggal dunia.


#Review:
Sejak bulan Oktober 2023 sampai hari ini, aksi genosida Israel semakin masif dilakukan di wilayah Palestina. Tak sedikit yang menyuarakan kecaman terhadap Israel dari berbagai kalangan. Namun hingga saat ini, Israel masih saja kekeuh dengan pendiriannya untuk menguasai Gaza dan juga Palestina. Emang negara biadab dan gak tau diri.


Aksi protes genosida Israel semakin intens disuarakan oleh para sineas film di seluruh dunia. Tercatat sudah ada beberapa film panjang, film pendek dan film dokumenter yang mengangkat cerita genosida Israel terhadap Palestina yang dirilis dari 2023 sampai hari ini. Jika tahun 2024 lalu dunia dihebohkan dengan film dokumenter NO OTHER LAND (2024) yang sukses memenangkan kategori Best Documentary Feature Film Academy Awards yang ke-97, di tahun 2025 kemarin, dunia kembali digemparkan dengan film asal Tunisia berjudul THE VOICE OF HIND RAJAB (2025). Film dengan format docudrama ini mengangkat cerita asli perjuangan petugas di Bulan Sabit Merah Palestina dalam upaya menyelamatkan nyawa seorang anak perempuan bernama Hind Rajab yang terjebak ditengah-tengah aksi biadab tentara Israel melalui panggilan telepon. Dengan bermodalkan suara rekaman asli Hind Rajab yang terjadi pada 29 Januari 2024 dan kemudian dikombinasikan dengan drama serta konflik batin petugas call center dalam menghadapi situasi menyayat hati tersebut. Durasi 89 menit berhasil dimaksimalkan dengan luar biasa oleh sang sutradara untuk menciptakan suasana ketegangan antara petugas call center Bulan Sabit Merah Palestina dengan para korban yang terjebak ditengah aksi genosida Israel. Setiap komunikasi telepon mendadak terputus, disitulah nyawa warga Palestina melayang. Selain itu, cerita film ini juga turut menyentil prosedur dan birokrasi dalam menjalankan tugas ternyata memang seribet itu. Meskipun dalam keadaan darurat, seharusnya birokrasi ribet itu sebaiknya bisa fleksibel deh. Asli, penonton ikutan dibuat greget terhadap karakter Mahdi, meskipun keputusannya mengikuti prosedur pun karena tugasnya seperti itu dan ia juga harus mengutamakan keselamatan tim medis yang harus menuju medan perang genosida yang dilakukan Israel.
Film THE VOICE OF HIND RAJAB (2025) kemudian ditutup dengan realita pahit sesuai dengan kejadian nyata. Rekaman otentik sebagai bukti kekejaman genosida Israel terhadap warga sipil yang tak berdosa terlihat dengan jelas. Mereka sengaja menembak dan menghancurkan mobil yang didalamnya ada Hind Rajab dan juga ambulans. Sinting!


[9/10Bintang]

Sunday, 1 February 2026

[Review] Surat Untuk Masa Mudaku: Mengikuti Kisah Mengharukan Antara Anak-Anak Panti Dengan Pengurusnya!


#Description:
Title: Surat Untuk Masa Mudaku - A Letter To My Youth (2026)
Casts: Millo Taslim, Agus Wibowo, Cleo Haura, Aqila Herby, Jordan Omar, Halim Latuconsina, Diandra Salsabila, Fendy Chow, Agla Artalidia, Verdi Solaiman, Sadia Aisye, Willem Bevers, Landung Simatupang, Ruth Marini, Rania Putrisari, Widika Sidmore, Chicco Kurniawan, Marthino Lio
Director: Sim F.
Studio: Buddy Buddy Pictures, Netflix


#Synopsis:
Kefas (Fendy Chow) dan istrinya Rania (Agla Artalidia) sedang berbahagia merayakan ulang tahun anak kesayangan mereka yaitu Abigail (Sadia Aisye) di rumah. Di tengah acara, Kefas marah dan menyuruh Abigail untuk tidak berenang dengan teman-temannya dengan alasan baru saja sembuh. Melihat hal tersebut membuat Rania kesal, karena Abigail sendiri sudah sehat dan juga sedang bermain dengan teman-temannya itu. Setelah pesta ulang tahun selesai, Rania meminta suaminya agar tidak berlebihan dalam bersikap untuk keluarga, karena membuat mereka ketakutan. Saat tengah malam, Kefas dibuat panik saat mengetahui Abigail kembali demam. Ia pun langsung membawa sang anak ke rumah sakit meskipun sebelumnya sudah diberi obat oleh Rania. Tiba di rumah sakit, Dokter kemudian menjelaskan jika kondisi Abigail sudah membaik berkat obat demam yang diberi Rania, sehingga tidak perlu untuk dirawat inap di rumah sakit. Dalam perjalanan pulang, Kefas meminta maaf pada Rania dan Abigail atas sikap overprotective nya selama ini.
Keesokan harinya, Kefas terkejut saat Rania dan Abigail tak ada di rumah. Rania kemudian menuliskan pesan jika ia dan Abigail akan tinggal di rumah orangtuanya untuk sementara waktu dan meminta Kefas untuk memperbaiki sikapnya yang selama ini terlalu berlebihan kepada Rania maupun Abigail. Ditengah kesendiriannya itu, Kefas juga mendapat kabar dari Sabrina (Ruth Marini), teman semasanya di panti asuhan yang memberi kabar jika pengelola panti yaitu Pak Simon Ferdinand (Agus Wibowo) meninggal. Kefas pun bergegas pergi menuju ke Sukabumi. Setibanya di panti asuhan dan bertemu lagi dengan Sabrina, Kefas pun langsung teringat masa-masa remajanya yang dihabiskan di panti tersebut.
Semasa tinggal di panti asuhan, Kefas (Millo Taslim) dikenal sebagai anak yang nakal dan sering membuat onar. Sudah berkali-kali panti asuhan mengganti pengurusnya karena dibuat tak nyaman oleh Kefas dan teman-temannya yaitu Joy (Cleo Haura), Desi (Diandra Salsabila), Romi (Jordan Omar), Boni (Halim Latuconsina) dan Bowo (Daniel Gabriel). Pemilik yayasan yaitu Pak Wahyu (Willem Bevers) kemudian meminta bantuan pada sahabatnya yaitu Pak Simon untuk mengelola panti. Pak Simon yang sedang menabung untuk memesan kavling kuburan dirinya bersedia dan menerima tawaran tersebut. Sebelum datang ke panti asuhan, Pak Simon membuat kesepakatan dengan pengelola Rumah Duka yaitu Pak Gabriel (Verdi Solaiman) agar kavling kuburan yang ia pesan persis di samping kuburan mendiang istrinya untuk tidak dijual ke orang lain. Dengan menggunakan sisa tabungan dan gaji dari panti asuhan, Pak Simon sepakat untuk menyicilnya.
Hari pertama Pak Simon bekerja di panti asuhan disambut baik oleh Sabrina (Aqila Herby), yang merupakan anak panti paling senior dan dipercaya oleh Pak Wahyu untuk memantau anak-anak. Kehadiran Pak Simon malah bikin kesal Kefas karena ia yakin jika kelakuan pengurus baru pasti akan tak beda jauh dengan pengurus-pengurus sebelumnya yang selalu tak peduli terhadap anak-anak panti hingga korupsi dana donasi panti. Kefas menyimpan dendam dan amarah terhadap pengurus panti sebelumnya karena tidak mau menolong adiknya, Angelica yang kala itu sakit demam untuk dibawa ke rumah sakit dan berujung sang adik meninggal dunia.
Setiap harinya, Kefas menyusun berbagai rencana agar Pak Simon tidak betah bekerja di panti. Namun respon dari Pak Simon selalu sabar dan tidak pernah memarahi anak-anak panti. Joy, Desi, Romi, Boni dan Bowo pun yakin jika Pak Simon adalah orang baik, tidak seperti pengurus-pengurus panti sebelumnya. Merasa belum puas, Kefas kemudian berencana mengacaukan acara bakti sosial panti yang akan segera digelar dalam waktu dekat. Acara yang dihadiri para tamu undangan dan donatur tersebut sering menampilkan bakat-bakat para anak-anak serta menjamu mereka dengan berbagai kuliner yang sudah dipersiapkan. Acara bakti sosial sering disebut sebagai ajang para donatur untuk mengadopsi anak-anak yang menurut mereka sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
Hari bakti sosial pun tiba. Semuanya sudah dipersiapkan oleh Pak Simon, Sabrina dan anak-anak lain. Saat para donatur akan menikmati hidangan yang disediakan, mereka terkejut melihat adanya bangkai tikus di atas meja makan. Para donatur pun sangat marah dan langsung pergi meninggalkan panti asuhan. Sabrina dan anak-anak lain juga ikutan marah sekaligus sedih. Mereka yakin Kefas adalah pelakunya. Kejadian tersebut membuat Pak Wahyu ikutan marah besar. Ia memaksa Pak Simon untuk mengusirnya di panti asuhan. Mendengar jika dirinya akan diusir, Kefas pun sedih dan memilih pergi dari panti.
Seiring berjalannya waktu, Pak Simon mengambil keputusan untuk tidak mengusir Kefas. Pak Simon justru tidak memarahi Kefas dan memaklumi semua kenakalannya karena hal tersebut merupakan ekspresi Kefas dalam meluapkan amarah dan bencinya atas kepergian sang adik. Pak Simon pun menceritakan masa mudanya di panti dan kejadian tragis yang menimpa calon pengadopsi Pak Simon. Selain itu, ia juga menceritakan kepergian mendiang istri dan anak semata wayangnya yang seumuran dengan Kefas. Setelah mendengar curhatan Pak Simon, Kefas pun meminta maaf. Mereka berdua kemudian kembali ke panti asuhan. Tiba di sana, Kefas kemudian bertemu dengan teman-temannya di sana dan meminta maaf atas semua perbuatannya.
Keesokan harinya, Pak Simon membujuk Pak Wahyu untuk tidak mengeluarkan Kefas dari panti. Ia berjanji jika Kefas kini sudah berubah dan berusaha menjadi anak yang baik. Setelah mendapatkan gaji, Pak Simon memutuskan jika bulan depan ia akan berhenti sebagai pengurus panti karena sudah punya rencana lain. Sebelum itu, Pak Simon meminta pada Pak Wahyu untuk menggelar bakti sosial lagi sebelum ia pergi dari panti. Acara bakti sosial kali ini berjalan sukses dan lancar. Semua donatur dibuat bahagia melihat paduan suara dan bakat-bakat dari anak-anak panti asuhan.
Setelah semuanya selesai, Pak Simon mendatangi Pak Gabriel untuk melunasi sisa pembayaran kavling kuburan miliknya. Selain itu, Pak Simon juga pindah alamat ke kontrakan yang lebih kecil agar keberadaannya tidak ketahuan oleh Pak Wahyu dan anak-anak panti asuhan, serta membeli seperangkat pakaian dan barang-barang kesayangannya untuk dititipkan pada Pak Gabriel. Apa yang sedang direncanakan oleh Pak Simon?


#Review:
Mengawali tahun 2026, Platform Streaming OTT Netflix merilis film original Indonesia terbarunya berjudul SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) produksi Buddy Buddy Pictures. Film ini disutradarai oleh Sim F. serta penulisan ceritanya hasil kolaborasi sang sutradara dengan Daud Sumolang. Untuk segi cerita, film SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) mengambil latar cerita di sebuah panti asuhan dengan daily life para penguhuninya di sana. Aku suka dengan treatment Sim F. yang tidak mengeksploitasi nuansa kelam dan kesedihan dalam menceritakan kehidupan anak-anak di panti asuhan, film ini justru berhasil menampilkan banyak sekali hal positif yang relevan dengan dunianya anak-anak.


Keceriaan, persahabatan dan kebersamaan mereka khususnya anak-anak yang sering bersinggungan dengan karakter Kefas selalu berhasil mencuri perhatian penonton. Jujur, sudah lama rasanya aku tidak menonton film Indonesia yang pemeran utamanya anak-anak dengan wajah-wajah baru di industri perfilman Indonesia. Terakhir, mungkin ada di film LASKAR PELANGI (2008) dan KOKI-KOKI CILIK (2018). Akting yang terlihat masih kaku serta kepolosan mereka justru berhasil menciptakan kehangatan dalam cerita film ini.
Memasuki pertengahan film, plot mulai fokus terhadap pengembangan cerita dari karakter Kefas dan Pak Simon. Keduanya memiliki nasib yang sama dalam upaya menghadapi duka dan mengikhlaskan apa yang seharusnya sudah terjadi. Kolaborasi sutradara dengan Daud Sumolang berhasil menguras emosi penonton ketika perjuangan mereka dalam menghadapi duka sangat betolak belakang. Meskipun demikian, pada akhirnya cara mereka untuk ikhlas dan bersyukur tampil sangat personal dan menyentuh perasaan penonton. Lebih lanjut, film ini juga tidak mengandalkan kejutan plot twist atau apapun yang menghentak. Penyelesaian cerita berjalan dengan mulus sambil menonjolkan makna tentang pentingnya kebersamaan.
Untuk jajaran pemain, apresiasi harus kita berikan pada ensemble casts anak-anak yang tampil sangat realistis, believable dan sesekali menghibur penonton. Lupakanlah semua kekakuan di babak awal film, saat memasuki pertengahan hingga akhir film, semua kekakuan dan kepolosan mereka terbayar tuntas dengan chemistry super heartwarming antara anak-anak panti dengan Pak Simon. Semuanya hadir secara mengalir dengan tambahan adegan ketika anaka-anak panti sudah dewasa, kemudian reunian ditengah suasana duka benar-benar bikin haru!
Untuk urusan visual dan scoring, sejauh ini film-film Indonesia original Netflix selalu berada di level yang memuaskan. Set lokasi, properti dan sinematografi untuk menghidupkan suasana 90an dalam film SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) sangat meyakinkan, serta mengajak penonton millenial serasa flashback ke jaman-jaman kita remaja. Overall, film SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) berhasil menyajikan drama tentang rekonsiliasi duka di masa lalu dengan cara yang hangat sekaligus berkesan. Keren!


[8/10Bintang]