Friday, 11 September 2026

[Review] Semua Akan Baik-Baik Saja: Cerita Drama Keluarga Dengan Segudang Permasalahan Didalamnya!

 


#Description:
Title: Semua Akan Baik-Baik Saja (2026)
Casts: Reza Rahadian, Christine Hakim, Raihaanun, Ari Irham, Happy Salma, Teuku Rifnu Wikana, Rahmatullah Nan Alim, Aquene Aziz Djorghi, Malika Shaquena, Ade Rai, Chew Kin-Wah, Aimee Saras, Asri Welas, Erick Estrada, Amanda Soekasah, Rebecca Tamara, Nagra Kautsar, Benidictus Siregar
Director: Baim Wong
Studio: Tiger Wong Entertainment, Legacy Pictures, RANS Entertainment, Masih Belajar Pictures, Role Entertainment


#Synopsis:
Langit (Reza Rahadian), anak kedua dari empat bersaudara, memilih hidup mandiri di sebuah rumah susun sederhana. Suatu malam, kakaknya, Mentari (Happy Salma), tiba-tiba datang dan berkunjung membawakan nasi padang kesukaan mereka. Sebelum pulang, Mentari sempat menasihati Langit agar segera mencari pekerjaan tetap ketimbang terus menganggur dan hanya mengandalkan jasa perbaikan elektronik di rusun. Mentari merupakan orangtua tunggal dan membesarkan ketiga anaknya yaitu Malika (Ratu Aziz Djorghi), Shafa (Malika Shaquena), dan Alim (R. Nan Alim) seorang diri setelah bercerai dari suaminya, Ilham (Teuku Rifnu Wikana).
Keesokan harinya, Langit terkejut saat berkunjung ke rumah Mentari dan melihat bendera kuning sudah terpasang di pagar. Langkahnya terhenti ketika menyaksikan Bintang (Raihaanun), adik ketiganya, bersama warga sekitar sedang memandikan jenazah Mentari di halaman belakang. Langit syok dan sulit menerima kenyataan bahwa kakaknya itu telah tiada, padahal baru semalam mereka ngobrol bersama. Adik bungsu mereka, Banyu (Ari Irham), serta ibu mereka, Ibu Wida (Christine Hakim), berusaha menenangkan Langit agar ikhlas melepaskan Mentari yang meninggal mendadak akibat serangan jantung.
Keesokan harinya, Langit kembali ke rumah Mentari sambil membawa sarapan untuk ketiga keponakannya. Saat pintu dibuka, Langit terkejut melihat Ilham bersama dengan wanita lain yaitu Sarah (Asri Welas) dan mengatakan jika ketiga anaknya sudah dititipkan ke Ibu Wida. Langit pun langsung pergi dari sana menuju rumah sang ibu. Kini, nasib Malika, Shafa, dan Alim menjadi tanda tanya. Langit ragu untuk merawat ketiga keponakannya karena belum berpenghasilan tetap. Bintang pun bimbang mengingat ia masih tinggal di kontrakan kecil dan bekerja sebagai pemandu lagu karaoke. Begitu pula dengan Banyu yang tinggal di kost dan hanya mengandalkan penghasilan dari live TikTok. Melihat ketiga anaknya ragu, Ibu Wida memutuskan untuk merawat ketiga cucunya itu seorang diri. Tak tega melihat ibunya yang sudah tua harus menanggung beban tersebut, Langit akhirnya mengambil sikap dan menyatakan siap merawat ketiga keponakannya. Sementara itu, Bintang dan Banyu pun siap membantu untuk biaya pendidikan mereka di sekolah.
Pada hari pertama merawat keponakannya, Langit langsung disibukkan dengan urusan mengantar sekolah. Malika tak lupa mengingatkan sang paman agar menjemput Alim tepat waktu karena sekolahnya di SLB. Namun, situasi jadi kacau saat jam pulang sekolah karena ponsel Alim rusak. Ketika menjemput Malika dan Shafa, Langit terkejut mendapati Shafa terbaring di UKS karena pingsan yang belakangan diketahui akibat menstruasi pertamanya. Kekacauan berlanjut keesokan harinya ketika Langit justru ketiduran saat jam jemput Alim. Begitu ia tiba di sekolah, Alim sudah hilang. Beruntung, Shafa tak sengaja melihat Alim berjalan sendirian di dekat perlintasan kereta api sambil diganggu oleh anak-anak SMP setempat. Shafa pun bergegas menyelamatkan adiknya dan membawa Alim pulang ke rumah sang nenek. Sesampainya di rumah, amarah Malika pecah. Ia melampiaskan kekecewaannya pada Langit yang dinilai teledor dan meragukan kemampuan pamannya itu untuk merawat mereka. Ibu Wida lantas berusaha menenangkan cucunya, meminta Malika lebih bersabar karena Langit masih berproses dan belajar menjadi seorang figur orang tua.
Masalah belum selesai. Keesokan harinya, Ibu Wida mendapat telepon dari sekolah terkait tunggakan SPP Malika dan Shafa. Ibu Wida langsung mendatangi kost nya Banyu untuk mencari jalan keluar. Awalnya, sang ibu hanya ingin Banyu patungan bersama Bintang. Namun, karena tabungannya cukup dari hasil live TikTok, Banyu memilih melunasi seluruh tunggakan tersebut. Ibu Wida pun sangat tersentuh dan berterima kasih atas bantuan anak bungsunya itu. Setelahnya, Ibu Wida meminta Banyu mengantarnya ke kontrakan Bintang. Banyu berusaha menolak permintaan sang ibu. Ia paham betul rahasia kelam kakaknya. Bintang tak sekadar bekerja di karaoke, melainkan juga menyambung hidup sebagai pekerja seks komersial. Namun, karena desakan Ibu Wida, Banyu tak punya pilihan selain mengantarnya. Sesampainya di sana, kenyataan pahit menghantam Ibu Wida. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri putri kandungnya sedang melayani pelanggannya. Tak berhenti di situ, rasa syok sang ibu semakin bertambah saat mengetahui Bintang ternyata telah memiliki seorang anak laki-laki yang selama ini disembunyikan dari keluarga.
Di sisi lain, Malika terpaksa berhenti dari les musiknya setelah kepergian sang ibu. Bakat menyanyi dan bermain piano yang dimiliki ia kubur demi mengalah pada masa depan Shafa dan Alim. Tak tega melihat impian cucunya terkubur, Ibu Wida mendatangi sebuah perguruan tinggi seni dan musik untuk mendaftarkan Malika agar bisa melanjutkan pendidikan di sana. Namun, takdir mempertemukan Ibu Wida dengan Sarah, wanita yang kini menjalin hubungan dengan Ilham, mantan suami Mentari. Mengetahui siapa sosok di hadapannya, Sarah terkejut. Selama ini, Ilham mengaku kepadanya sebagai pria lajang dan memalsukan fakta tentang perceraiannya dengan Mentari. Digerogoti rasa bersalah, Sarah meminta maaf atas ketidaktahuannya, sementara Ibu Wida memilih melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa menguncapkan sepatah kata pun.
Waktu terus berlalu dan himpitan ekonomi keluarga Ibu Wida semakin berat. Demi membiayai sekolah serta masa depan Malika, Shafa dan Alim, Ibu Wida meminta Langit dan Banyu untuk mengambil sertifikat rumah milik Mentari. Ia berniat menjual rumah itu dan tidak rela jika aset tersebut jatuh ke tangan mantan menantunya. Bagaimanapun, rumah dan mobil itu adalah hasil kerja keras Mentari sendiri jauh sebelum menikah dengan Ilham. Mengetahui niat jahat Ilham, Sarah diliputi rasa bersalah sekaligus dendam karena telah dibohongi. Untuk menebus kesalahannya, Sarah menyerahkan sertifikat rumah Mentari secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ilham kepada Langit dan Banyu. Tak hanya itu, Sarah juga memberikan sebuah golden ticket kepada Malika untuk mengikuti kompetisi ajang pencarian bakat di kampus, yang membuka peluang besar baginya meraih beasiswa.
Saat Ilham akan menjual aset rumah milik Mentari, ia terkejut karena sertifikat rumah tidak ada. Ia marah besar dan langsung pergi menuju rumah Ibu Wida. Tiba di sana, keluarga Ibu Wida mengusir Ilham dan mengatakan jika semua harta milik Mentari itu bukanlah haknya. Bagaimana nasib Malika dan keluarga Ibu Wida selanjutnya? Apakah mereka berhasil mewujudkan satu persatu mimpi mereka?


#Review:
Dalam tiga tahun terakhir, aktor Baim Wong semakin serius mendalami profesi sutradara film layar lebar bersama dengan rumah produksinya yaitu Tiger Wong Entertainment. Setelah film horror LEMBAYUNG (2024) dan SUKMA (2025) yang sukses mencetak box office hit, di tahun ini Baim Wong menghadirkan film bergenre drama keluarga berjudul SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA (2026). Film menjadi debut bagi Baim Wong dalam genre drama yang penulisan skenarionya berkolaborasi dengan Oka Aurora dan Eurico Pratama. Saat penayangan di bioskop mulai 13 Mei lalu, film ini berhasil mengantongi 1.168.135 penonton dari seluruh Indonesia. Tepat tanggal 10 September kemarin, film SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA (2026) mulai tersedia di platform streaming Neflix.


Untuk segi cerita, film ini hadir sebagai sebuah drama keluarga yang memotret realitas pahit mengenai bagaimana sebuah tragedi dapat menghancurkan tatanan hidup orang-orang yang ditinggalkan. Mengangkat dinamika keluarga kelas menengah ke bawah di perkotaan, film ini menyuguhkan kisah tentang pencarian arah hidup, beban pengasuhan mendadak, serta kompromi yang harus diambil demi terus melangkah kedepan. Ceritanya tidak hanya fokus pada proses duka, tetapi juga secara dekat menyoroti perselisihan antar anggota keluarga yang cukup realistis. Dinamika cerita keluarga Ibu Wida memang sangat relevan dan mudah penonton temukan di kehidupan nyata. Baim Wong, Oka Aurora dan Eurico Pratama sangat eksploratif sekali mengeksplor berbagai permasalahan ekonomi yang dialami oleh keluarga Ibu Wida. Namun sayang, romantisasi struktural kemiskinan sebuah keluarga dan dinamika yang dihadirkan menurutku terlalu too much. Pacing cerita juga cenderung terburu-buru ketika memasukkan terlalu banyak konflik sampingan dalam jarak waktu yang berdekatan. Alhasil, subplot dan konflik jadi saling tumpang tindih, lalu berakhir jadi tumpukan kemalangan demi kemalangan saja pada keluarga Ibu Wida. Memasuki babak ketiga film, entah mengapa Baim Wong tiba-tiba menyuntikkan elemen komedi yang menurutku sangat tidak efektif, bikin drop dan cringe abis. Kehadiran nama-nama seperti Chew Kin-Wah, Aimee Saras hingga Ade Rai malah jadi bahan komedi garing saja? Sangat disayangkan. Selain itu, kehadiran karakter Sarah yang diperankan Asri Welas (Baim Wong Darling), yang tiba-tiba berubah pikiran memberikan jalan keluar berupa sertifikat dan golden ticket terasa kurang meyakinkan dari segi pengembangan karakter. Transisi emosinya dari orang luar menjadi penyelamat terlalu instan, menghilangkan potensi hukum atau proses negosiasi yang seharusnya bisa dieksplorasi lebih organik. Issue tentang pentingnya kesadaran pendidikan inklusif untuk anak berkebutuhan khusus melalui karakter Alim pun aku kira bakal ditekankan dalam cerita, eh tapi ternyata cuma sekedar tempelan, karena endingnya pun malah pindah fokus ke karakter Malika. Terus lagi, gara-gara banyaknya isu yang ingin dirangkul sekaligus, beberapa diantaranya cuma menyentuh permukaan tanpa penyelesaian yang benar-benar memuaskan.
Terlepas dari cerita dan skenario nya terlalu meromantisasi struktural keluarga menengah kebawah, film SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA (2026) punya ensemble cast dengan aktingnya yang sangat solid. Karakter Langit, Ibu Wida dan Bintang dimakan dengan effortless oleh Reza, Ibu Christine dan Raihaanun. Kehadiran Ari Irham sebagai Banyu seharusnya bisa dieksplor lebih mendalam sisi agama nya agar semakin relevan dengan habit nya yang sering berdakwah secara live di TikTok. Penampilan karakter pendukung anak-anak juga cukup nge-blend dengan para aktor senior. Secara teknis visual, film ini berhasil membangun suasana yang sangat grounded dan meyakinkan. Pengambilan gambar di area rumah susun dan pemukiman padat penduduk memperkuat kesan struggling finansial dan ekonomi yang dialami oleh karakter-karakter di dalamnya.
Overall, film SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA (2026) hadir sebagai sebuah sajian drama yang memang kaya akan pelajaran hidup, meskipun memiliki celah dalam struktur naskah dan penyelesaian konflik di beberapa lini, performa akting para pemainnya yang memukau serta pesan emosional tentang ketahanan sebuah keluarga membuat film ini tetap menyentuh dan layak untuk dinikmati. Yuk udahan romantisasi dan eksploitasi struktural kehidupan keluarga menengah kebawah dan pemakaian judul film yang panjang-panjang. Puitis enggak, forgettable iya.


[7/10Bintang]

Tuesday, 8 September 2026

[Review] Iyus Jenius: Nostalgia Lagu Anak Papa T. Bob dalam Balutan Duka & Persahabatan

 


#Description:
Title: Iyus Jenius (2026)
Casts: Kevin Abadio, Babah T. Bob, Wichita Satari, Brian Mahesa, Fernando Hany Putra, Jonathan Alvaro, Rasendrya Adwa, Mireille Grimonia, Adnan Putra Djani
Director: Achmad Romie, Adnan Putra Djani
Studio: Maxstream TV Studio, Seru Juga Film Studio, Creator Media, Frontline Pictures


#Synopsis:
Dua minggu menjelang ulang tahun anak kesayangannya, Babah Hartono (Brian Mahesa) mendapat panggilan kerja yang mengharuskannya pergi ke luar kota. Babah berjanji akan pulang dan memberikan kado saat Iyus (Kevin Abadio) berulang tahun nanti. Ibu Iyus, Bubu Minah (Wichita Satari), ikut senang melihat suaminya akhirnya bekerja kembali. Kabar kado ulang tahun dari Babah dan Bubu membuat Iyus sangat gembira, hingga ia menjadi lebih semangat serta rajin ke sekolah.



Dalam perjalanan pulang dari kantor, Babah membeli kaset lagu anak-anak karya Papa T. Bob dan sebuah walkman untuk kado Iyus. Setiap selesai bekerja, Babah selalu menyempatkan diri untuk menelepon Bubu dan Iyus. Sehari sebelum ulang tahunnya, Iyus sudah tidak sabar bertemu Babah dan menerima kadonya. Namun, hingga malam hari, ayahnya tak kunjung datang. Tepat tengah malam, Bubu menerima panggilan telepon dari nomor Babah. Panggilan itu membawa kabar duka: Babah mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dan dinyatakan meninggal dunia. Kepergian Babah menyelimuti keluarga itu dengan kesedihan yang luar biasa. Setelah prosesi pemakaman selesai, Iyus menerima bingkisan paket dari kepolisian berisi kado ulang tahun dari Babah. Melihat kaset dan walkman tersebut, tangis Iyus pecah karena teringat sang ayah. Seluruh kenangan indah bersama Babah dan Bubu pun seketika berputar kembali di ingatannya.
Seiring berjalannya waktu, Bubu Minah dan Iyus perlahan mulai bangkit untuk melanjutkan hidup. Setiap berangkat sekolah, Iyus selalu membawa walkman dan kaset lagu anak-anak dari Papa T. Bob. Namun, tangisnya kerap pecah setiap kali melihat murid lain diantar dan dijemput oleh ayah mereka. Suatu hari, ketika Iyus hendak memasuki gerbang sekolah, sebuah bola futsal dari arah lapangan menghantam dirinya. Benturan keras itu membuat kepalanya menabrak dinding hingga berdarah dan ia kehilangan kesadaran. Pihak sekolah segera melarikan Iyus ke rumah sakit, sementara Bubu yang mendapat kabar tersebut langsung meninggalkan pekerjaan menjahitnya untuk bergegas menuju rumah sakit.


Setelah mendapat perawatan dan lukanya diobati, Iyus diizinkan pulang. Setibanya di rumah, sebuah kejadian aneh menimpanya saat ia sedang sendirian di kamar. Iyus melihat bayangan bertubuh besar bersembunyi di balik tirai sambil memanggil namanya. Begitu Iyus membuka tirai tersebut, muncul seorang pria berbaju merah-kuning dan berkacamata yang membuatnya histeris ketakutan. Iyus lantas berlari keluar kamar dan meminta Bubu mengusir pria itu. Namun, saat Bubu mengecek ke dalam kamar, tidak ada siapa pun di sana. Lantaran masih diselimuti rasa takut, Iyus memilih tidur bersama ibunya malam itu.


Hari-hari berlalu dan Iyus menjalani rutinitas sekolah seperti biasa. Di sekolah, Iyus kerap diganggu oleh tiga teman sekelasnya yaitu Ade (Jonathan Alvaro), Ucok (Fernando Hany) dan Koko (Rasendrya Adwa). Suatu ketika, saat Iyus kembali dijahili atau merasa ragu dalam setiap mengambil keputusan, sosok pria bertubuh besar itu muncul lagi. Anehnya, hanya Iyus yang bisa melihatnya. Merasa terbantu oleh kehadiran sosok misterius tersebut, Iyus berterima kasih dan mengajaknya berkenalan. Iyus lantas menamainya Babah T. Bob, kombinasi dari panggilan mendiang ayahnya dan pencipta lagu anak-anak yang kasetnya ia punya. Kehadiran Babah T. Bob sebagai teman tak kasat mata membuat hidup Iyus kembali berwarna. Sosok itu selalu baik hati dan membantu Iyus meraih nilai-nilai bagus di sekolah. Akan tetapi, peningkatan prestasi Iyus justru memicu kecurigaan sebagian orang tua murid, terlebih setelah mereka tak sengaja melihat Iyus berbicara sendiri di gang rumah.


Di sisi lain, Ade, Ucok, dan Koko mulai mendekati Iyus hanya demi mendapatkan contekan saat Ujian Tengah Semester (UTS). Meski Babah T. Bob dan Gadis (Mireille Grimonia), teman sebangkunya sudah memperingatkan bahwa ketiga anak itu hanya memanfaatkan kepintarannya, Iyus tetap menerima mereka karena mendambakan teman di sekolah. Kecewa dengan keputusan Iyus, Babah T. Bob akhirnya memilih pergi dan tidak mau membantunya lagi. Hari UTS pun tiba. Teman-teman sekelas Iyus rupanya berniat mencontek jawaban darinya agar bisa meraih nilai sempurna. Namun sayang, saat ujian berlangsung, Iyus mendadak tidak bisa mengerjakan satu soal pun. Ia akhirnya asal mengisi lembar jawaban dan membagikan jawaban asal-asalan tersebut kepada teman-temannya.



Saat hasil UTS diumumkan, suasana kelas seketika gempar karena seluruh murid mendapatkan nilai nol. Kepala sekolah sangat kecewa dan marah, mengingat hasil buruk ini dapat memengaruhi persiapan ujian kelulusan yang tinggal beberapa bulan lagi. Akibat kejadian itu, teman-teman sekelas menjauhi Iyus dengan rasa kesal, sementara para orang tua murid ikut memprotes dan memarahi Iyus. Dari peristiwa ini, Iyus akhirnya sadar bahwa teman-temannya selama ini hanya memanfaatkan kepintarannya. Ia sangat menyesal karena tidak mendengar peringatan dari Babah T. Bob dan juga Gadis. Bagaimanakah nasib Iyus selanjutnya?


#Review:

Setelah penantian panjang dan mengantri untuk tayang di bioskop selama tiga tahun, akhirnya film drama musikal anak-anak terbaru produksi Maxstream TV Studio, Serujuga Film Studio, Creator Media dan Frontline Pictures yaitu IYUS JENIUS (2026) siap tayang di bioskop Indonesia mulai 10 September 2026 mendatang.


Aku berkesempatan hadir pada screening dan gala premiere film IYUS JENIUS (2026) yang sukses digelar pada Minggu (6/9) kemarin di Cinepolis Lippo Mall Nusantara, Semanggi, Jakarta Pusat. Pada kesempatan tersebut, produser dari Creator Media yaitu Gandhi Fernando mengungkapkan jika dirinya memiliki tanggung jawab moral sebagai pelaku di industri perfilman tanah air untuk memberikan tontonan yang berbeda bagi penonton di bioskop. Gandhi berharap kehadiran film musikal anak-anak dapat memberikan warna baru di tengah mayoritas film-film Indonesia bergenre drama, horror dan percintaan. Di sisi lain, Babah T. Bob yang merupakan anak dari mendiang musisi dan pencipta lagu anak-anak legendaris di tahun 90an yaitu Papa T. Bob mengungkapkan, proses kreatif penulisan cerita dan pemilihan lagu-lagu untuk film ini dilakukan secara kolaboratif bersama penulis cerita, produser dan sutradara. Dari ratusan judul lagu anak-anak yang diciptakan oleh Papa T. Bob, akhirnya terpilih beberapa judul yang sesuai dan kemudian dilakukan proses rekaman ulang dengan vokal dari para pemain serta aransemen musik yang lebih modern.


Untuk segi cerita, film IYUS JENIUS (2026) hadir sebagai sebuah persembahan hangat yang berupaya merawat warisan lagu-lagu anak legendaris ciptaan Papa T. Bob. Di bawah arahan sutradara Achmad Romie, film musikal ini tidak hanya menjual nostalgia bagi generasi yang tumbuh di era 90-an, tetapi juga memadukan narasi emosional tentang duka seorang anak yang kehilangan figur ayah. Penonton diajak menyelami bagaimana trauma, rasa rindu, dan imajinasi saling beriringan dalam proses penyembuhan luka batin seorang anak. Film IYUS JENIUS (2026) berhasil membangun fondasi konflik yang cukup solid sejak awal. Keputusan untuk menghadirkan sosok imaginatif "Babah T. Bob" dari gabungan kerinduan pada sang ayah dan walkman beserta kaset peninggalannya menjadi poin pembeda yang menarik. Tak hanya soal duka, film ini juga cukup jeli memotret dinamika kehidupan sekolah anak-anak. Isu-isu seperti soft bullying, tekanan prestasi di sekolah, hingga jebakan pertemanan toxic yang memanfaatkan kepintaran seseorang terasa relevan untuk lintas generasi. Konflik ketika Iyus terdesak hingga berujung pada kekacauan nilai UTS sekelas menjadi titik balik penting yang memberi pelajaran moral berharga tentang kejujuran dan keberanian dalam memilih teman sejati.


Sebagai sebuah film musikal, film IYUS JENIUS (2026) memiliki beberapa titik kelemahanSalah satu catatan yang paling terlihat yaitu performa para pemain anak-anak maupun pendukung yang sebagian besar masih terlihat kaku, membuat penonton butuh waktu untuk bisa terkoneksi dengan performa akting mereka. Dalam beberapa adegan khususnya saat melakukan transisi ke adegan koreografi dan musikal gerakan serta mimik muka para pemeran terasa kurang luwes dan canggung. Namun hal tersebut bisa penonton toleransi, mengingat para ensemble cast dari film ini adalah nama-nama baru yang baru pertama kali membintangi film layar lebar. Keputusan para produser memilih aktor-aktor baru ini memang disengaja agar tidak monoton sekaligus memberi kesempatan untuk mereka di industri perfilman lokal. Kelemahan lain yaitu penyusunan dialognya. Narasi dan skenario film ini masih didominasi oleh gaya bahasa dan struktur dialog yang sangat baku, tipikal tutur bahasa dalam tontonan anak-anak era 90-an. Lebih lanjut, lagu-lagu Papa T. Bob yang dibawakan dalam film IYUS JENIUS (2026) tampil dengan sentuhan aransemen modern yang segar dan kekinian. Hal tersebut jadi menimbulkan adanya gap atau jarak di benak penonton. Disatu sisi, telinga dimanjakan oleh musik yang modern dan dinamis, tetapi di sisi lain dialog para karakternya dan latar cerita yang sengaja dibuat di era 90-an, terasa seperti terjebak dalam narasi jadul yang tidak relevan dengan nuansa musikalnya.
Overall, film IYUS JENIUS (2026) tetaplah sebuah tontonan keluarga yang memiliki niat mulia dan hati yang tulus dalam melestarikan film anak-anak bergenre musikal di Indonesia. Film ini masih sanggup menyampaikan pesan emosionalnya dengan baik. Film IYUS JENIUS (2026) menjadi pengingat yang indah akan indahnya lagu anak Indonesia di era 90-an sekaligus pentingnya pendampingan emosional bagi anak dalam menghadapi duka.


[7.5/10Bintang]

Sunday, 6 September 2026

[Review] Agensi Rumah Tangga: Cerita Lucu Tentang Peluang Bisnis Menggiurkan Setelah Terkena Badai Layoff!

 


#Description:
Title: Agensi Rumah Tangga (2026)
Casts: Enzy Storia, Afgansyah Reza, Fita Anggriani, Ardit Erwandha, Yunita Siregar, Tike Priatnakusumah, Nada Novia Putri, Unique Priscilla, Nazira C. Noer, Ummi Quary, Musdalifah Basri, Dea Panendra, Neneng Risma Wulandari, Astrid Juwita, Boah Sartika, Priska Baru Segu, Nuri Zhafira, Mega Salsabila, Farrell Rafisqy, Khalif Al-Juna, Freya Mikhayla, Dayu Wijanto, Sheila Dara Aisha, Hesti Purwadinata, Lulu Tobing, Febby Rastanty, Reza Chandika, Shela Lala
Director: Naya Anindita
Studio: Starvision Plus


#Synopsis:
Badai PHK melanda banyak perusahaan start-up di Indonesia, termasuk Tokotani. Katia Amaranto (Enzy Storia), seorang manajer di perusahaan tersebut, turut terkena dampaknya di tengah kondisi ekonomi yang kian menantang. Enam bulan berlalu, Katia tak kunjung mendapatkan pekerjaan baru. Uang tabungannya kian terkuras untuk biaya hidup sehari-hari dan cicilan KPR. Tekanan pun datang dari sang ibu, Titin Amaranto (Unique Priscilla), seorang PNS yang akan segera pensiun. Ibu Titin terus mendesak Katia untuk mendaftar CPNS demi jaminan hidup yang stabil dan bebas dari risiko PHK. Namun, Katia enggan menjadi PNS karena menganggap pekerjaannya monoton dan kurang menuntut kreativitas.


Di sisi lain, Ibu Titin terpaksa harus merumahkan Bibi Minah (Tike Priatnakusumah), asisten rumah tangga yang sudah lebih dari 20 tahun bekerja di rumah setelah pensiun nanti. Katia yang dibesarkan oleh Bibi Minah merasa sangat sedih. Demi bisa menggaji Bibi Minah agar tetap bekerja di rumahnya, Katia akhirnya luluh dan bersedia mendaftar CPNS. Sambil menunggu proses seleksi, Katia mengantarkan Bibi Minah menuju terminal untuk pulang ke kampung halamannya di Cianjur. Saat menunggu bus, Bibi Minah tak sengaja bertemu dengan Siti (Ummi Quary), tetangga kampungnya yang juga hendak pulang. Siti mengeluh lantaran baru saja ditipu oleh agen penyalur asisten rumah tangga di Jakarta. Meski sudah menyetorkan sejumlah uang, ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan dan malah luntang-lantung di ibu kota.



Mendengar curahan hati Siti, timbul ide menarik di benak Katia untuk membuka usaha agen penyalur asisten rumah tangga (ART). Sepulang mengantar Bibi Minah, ia langsung gencar melakukan riset dan mencari referensi di internet. Merasa makin mantap, Katia memutuskan mendirikan agensi yang diberi nama Agensi Rumah Tangga. Ia bahkan nekat menjual mobilnya untuk modal mengurus perizinan ke notaris, membeli peralatan, serta merombak rumahnya menjadi kantor sekaligus mess bagi calon ART. Rencana ini didukung penuh oleh Sashi (Fita Anggriani), sahabatnya yang juga menjadi korban PHK dari Tokotani.
Setelah semua persiapan rampung, Katia meminta bantuan Bibi Minah untuk merekrut calon ART dari Cianjur. Lewat seleksi yang lumayan ketat, Bibi Minah berhasil mengumpulkan 10 kandidat yang sesuai dengan kriteria Katia dan Sashi. Mereka adalah Siti, Nissa (Nada Novia Putri) anak Bibi Minah, Dini (Dea Panendra), Ratih (Astrid Juwita), Asih (Musdalifah Basri), Marsih (Neneng Risma Wulandari), Denok (Boah Sartika), Rina (Priska Baru Segu), Fitri (Nuri Zhafira), dan Icha (Mega Salsabila). Untuk memastikan kualitas para kandidat, Katia datang langsung ke Cianjur. Setelah semuanya dirasa pas, Katia dan Bibi Minah memboyong kesepuluh calon ART tersebut ke Jakarta.



Di tengah kesibukan membangun usahanya, Katia terus didesak oleh Ibu Titin yang menanyakan perkembangan seleksi CPNS. Demi menjaga perasaan sang ibu, Katia terpaksa berbohong dan menyembunyikan bisnis barunya tersebut. Ia pun jadi makin jarang pulang ke rumah karena sibuk mengurus agensi. Demi meningkatkan profesionalisme, Katia, Sashi, dan Bibi Minah memberikan pelatihan intensif kepada para calon ART dengan mendatangkan Lala Shela, pengasuh kenamaan dari keluarga Raffi Ahmad berkat relasi yang dimiliki Sashi. Kerja keras mereka membuahkan hasil ketika klien pertama akhirnya datang, yakni Banu (Ardit Erwandha), sahabat Katia dan Sashi. Siti pun ditugaskan menjadi ART pertama di rumah Banu dan istrinya, Mila (Yunita Siregar), yang memiliki dua anak laki-laki.




Berkat relasi dan jaringan yang luas di kalangan manajer selebriti, Sashi berhasil menggaet klien besar berikutnya yaitu Kafka (Afgansyah Reza), penyanyi solo pria ternama yang mempunyai banyak penggemar. Manajer Kafka yaitu Ira (Nazira C. Noer), mengajukan syarat ketat pada Katia. Mereka membutuhkan ART berpengalaman yang sanggup menjaga privasi sang artis. Tanpa pilihan lain, Katia dan Sashi merekomendasikan Bibi Minah. Sebelum mengirimkan Bibi Minah ke rumahnya Kafka, mereka memberi peringatan keras pada Bibi Minah untuk tidak berkomunikasi dan memberi informasi kepada siapa pun termasuk Nissa, anaknya sendiri karena Katia tahu betul Nissa adalah penggemar berat Kafka.



Keberhasilan menggaet klien artis membuat Agensi Rumah Tangga semakin laris manis. Dini dikirim untuk menjadi ART di rumah pesinetron yang sedang naik daun, Quinna (Febby Rastanti). Tak lama berselang, Fitri, Icha, Rina dan Marsih turut mendapatkan majikan masing-masing. Melihat teman-temannya bekerja untuk kalangan artis dan orang berada, rasa iri mulai timbul di hati Asih, Nissa, Ratih, dan Denok. Masalah Katia pun kian menumpuk. Selain harus meredam perselisihan dan kecemburuan antar calon ART di mess, ia harus menangani dan membereskan keluhan dari para klien tentang kinerja dari para ART. Puncaknya, rahasia yang ia tutup rapat akhirnya terbongkar. Ibu Titin mengetahui bisnis agensi tersebut. Mampukah Katia menyelesaikan sederet masalah yang datang bertubi-tubi ini?


#Review:
Rumah produksi Starvision Plus kembali berkolaborasi dengan sutradara perempuan Naya Anindita lewat film komedi drama terbaru berjudul AGENSI RUMAH TANGGA (2026). Film ini merupakan adaptasi dari novel pop-urban best seller karya Almira Bastari yang siap tayang di bioskop Indonesia mulai 10 September 2026 mendatang.


Dalam sesi konferensi pers, sang sutradara, Naya Anindita, mengungkapkan bahwa kolaborasinya bersama Starvision dan Upi selaku penulis skenario bertujuan menyajikan tontonan yang menghibur sekaligus merepresentasikan kegigihan kaum perempuan dan para ibu yang berjuang mencari nafkah secara halal. Lewat film ini, Naya dan Upi ingin mengajak penonton untuk tidak lagi memandang sebelah mata profesi asisten rumah tangga. Bagaimanapun, pekerjaan tersebut mulia, halal, dan memberikan dampak serta manfaat yang sangat besar bagi orang-orang yang membutuhkan jasanya.



Untuk segi cerita, film AGENSI RUMAH TANGGA (2026) memiliki plot yang melimpah dan tidak berfokus pada satu main plot saja. Mengangkat premis fenomena badai PHK start-up dan kompleksitas tuntutan sosial dari orang tua, khususnya dorongan menjadi PNS demi "zona aman" dalam hidup, membuat issue yang diangkat oleh film ini terasa sangat relevan bagi generasi muda saat ini. Jalinan cerita yang dimulai dari keputusasaan karakter Katia hingga keberaniannya merintis agensi ART terasa mengalir dengan motif yang realistis. Plot kemudian bercabang menjadi beberapa bagian. Sisi drama romantis dihadirkan lewat pertemuan antara Katia dengan idolanya yaitu Kafka. Lewat subplot ini, penonton tidak sekedar diberi romansa klise semata, tapi turut menampilkan sisi manusiawi dari sosok idola yang mereka juga seorang manusia dan membutuhkan privasi ditengah popularitasnya sebagai seorang penyanyi. Subplot semakin kaya saat Naya dan Upi mengeksplorasi cerita dari sepuluh ART yang menjadi highlight utama dalam film ini. Berbekal pengalaman pernah menyutradarai drama geng kosan lewat IMPERFECT THE SERIES (2022), Naya Anindita berhasil membagi masing-masing cerita lucu secara ugal-ugalan melalui sepuluh ART ini. Tak hanya lucu, subplot kecil lain juga ditambahkan dengan cerdik oleh Naya dan Upi seperti cerita tentang kesedihan dan kesalahpahaman seorang anak yang merasa kehilangan kasih sayang dari ibunya, kemudian rasa rindu seorang ibu yang terpisah jarak dengan anaknya, lalu drama hampir pelakor dalam rumah tangga dan dinamika persahabatan antar sesama ART tersaji dengan sangat lengkap sekaligus menghibur dalam film ini.



Salah satu kelebihan dari Naya Anindita dalam menggarap sebuah film atau serial yaitu tektokan dialog setiap karakternya terasa believable dan juga hidup. Selain itu, sifat dan tingkah laku dari setiap karakter dalam film AGENSI RUMAH TANGGA (2026) ini seperti sengaja banget dibuat sama persis dengan pemeran aslinya di kehidupan nyata. Enzy Storia semakin luwes sebagai aktor spesialis komedi. Ditambah lagi ia dipasangkan dengan aktor yang masih satu circle pertemanan dengannya seperti Fita Anggriani, Ardit Erwandha, Afgan dan Yunita Siregar. Otomatis chemistry mereka sudah terbentuk dengan sangat maksimal. Come back Afgansyah Reza sebagai aktor juga berhasil mengobati kerinduan penonton dan fans-nya setelah terakhir ia membintangi film layar lebar di tahun 2013 lalu. Ensemble cast sebelas ART yang dibintangi para komedian dan komika juga tak kalah mencuri perhatian. Mulai dari Ummi Quary, Nada Novia Putri, Musdalifah Basri, Astrid Juwita hingga Dea Panendra berhasil memberikan jokes-jokes receh tiada henti yang membuat penonton tertawa lepas. Sungguh sebuah pengalaman nonton film di bioskop yang bikin puas bahagia! Kita tunggu gebrakan selanjutnya dari Naya Anindita, sutradara muda perempuan Indonesia dengan track record box office hit yang sudah tidak perlu diragukan lagi!


[9/10Bintang]

Tuesday, 1 September 2026

[Review] Munafik Melawan Iblis - Remake Indonesia: Perjuangan Ustaz Mengatasi Trauma Yang Membekas!

 


#Description:
Title: Munafik (2026)
Casts: Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, Donny Damara, Nova Eliza, Muhammad Faqih Alaydrus, Izabel Jahja, Elvira Devinamira, Annisa Hertami
Director: Guntur Soeharjanto
Studio: Unlimited Productions, A&Z Films


#Synopsis:
Selain berprofesi sebagai guru sekolah dan pendakwah di daerah pinggiran Pacitan, Ustaz Adam (Arya Saloka) dan rekannya, Ustaz Anwar (Dimas Aditya), juga dikenal memiliki kemampuan meruqyah. Setiap kali ada warga yang mengalami kerasukan, mereka berdua selalu berhasil menyembuhkannya. 
Suatu hari, Ustaz Adam dan Ustaz Anwar mendapat panggilan dari warga yang anak perempuannya kerasukan di siang hari. Setibanya di lokasi, Ustaz Adam terkejut melihat Yuli (Annisa Hertami) sudah terikat di atas ranjang karena berusaha menyerang kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia. Proses ruqyah pun dimulai. Ustaz Adam berusaha melantunkan doa dan ayat-ayat suci Al-Qur'an di hadapan Yuli, tetapi iblis yang merasukinya justru menirukan setiap bacaan tersebut. Selain itu, Yuli sering berteriak melantunkan kalimat-kalimat Jawa kuno yang diduga sebagai mantra sihir. Ustaz Adam dan Ustaz Anwar kemudian bekerja sama membacakan kembali ayat-ayat suci Al-Qur'an, lalu menyiram Yuli dengan air yang telah didoakan. Tak lama kemudian, Yuli siuman dan sosok iblis yang merasukinya pun sirnah.
Sesampainya di rumah, Ustaz Adam disambut oleh istrinya, Hanifah (Elvira Devinamira), dan anak tunggal mereka, Amir (Faqih Alaydrus). Mereka bertiga telah berencana menghabiskan akhir pekan dengan berlibur ke rumah ibu Hanifah. Setelah semua persiapan selesai, keluarga Ustaz Adam berangkat mengendarai mobil pada sore hari. Sepanjang perjalanan, mereka tampak bahagia dan Amir sudah tidak sabar untuk berlibur sekaligus menjenguk neneknya. Namun, saat melintasi jalanan di tengah hutan pada malam hari, Ustaz Adam terkejut melihat bayangan misterius menyerupai Yuli berdiri di tengah jalan. Ia pun langsung mengeram mendadak. Saat Ustaz Adam sedang memastikan kondisi istri dan anaknya, sebuah mobil dari arah belakang tiba-tiba menghantam kendaraan mereka. Kecelakaan mengenaskan tersebut merenggut nyawa sang istri untuk selama-lamanya.
Setelah selesai dirawat di rumah sakit, Ustaz Adam dan Amir kembali ke rumah dalam suasana duka yang mendalam. Ustaz Adam masih belum ikhlas kehilangan istrinya secara tragis. Ia terus menyalahkan diri sendiri karena merasa rencana liburan itulah yang merenggut nyawa orang yang paling dicintainya. Selama terpuruk dalam kesedihan, Ustaz Adam memilih mengurung diri di rumah dan menghentikan seluruh aktivitas dakwahnya.
Di tempat lain, rasa duka juga menyelimuti Fitri (Acha Septriasa), seorang perawat rumah sakit yang baru saja kehilangan ibunya akibat kecelakaan. Rasa sedih dan kecewa Fitri makin memuncak setelah ayahnya, Pak Mansyur (Donny Damara), memutuskan untuk menikah lagi dengan Ibu Zulfa (Nova Eliza). Meskipun mendapat penolakan, Ibu Zulfa tetap sabar dan berusaha menjadi ibu tiri yang baik. Salah satu upayanya adalah dengan tetap mempertahankan seluruh foto dan barang kesayangan almarhumah ibu Fitri di dalam rumah. Keluarga Pak Mansyur sendiri dikenal dermawan dan rutin membagikan sedekah ke warga sekitar. Tak heran jika keluarga Pak Mansyur sangat disegani oleh banyak orang.
Suatu malam, Fitri terbangun lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Tiba-tiba, ia melihat bayangan misterius dari balik jendela. Ketika hendak kembali ke kamar, Fitri terkejut menemukan sesosok perempuan yang sangat mirip dengannya berdiri di lorong rumah. Sosok tersebut menirukan setiap gerakan Fitri sebelum akhirnya mengejarnya hingga Fitri tak sadarkan diri. Tak lama kemudian, Fitri bertingkah aneh dan menangis histeris seperti orang kerasukan. Asisten rumah tangga keluarga Pak Mansyur yang panik segera memanggil Ustaz Anwar untuk meminta pertolongan. Namun, saat mencoba menangani Fitri, Ustaz Anwar tidak sanggup melawan iblis yang merasukinya. Ia pun bergegas menemui Ustaz Adam untuk meminta bantuan. Ustaz Adam yang tadinya mengurung diri akhirnya bersedia turun tangan. Ia merasa berutang budi karena Fitri banyak membantunya selama dirawat di rumah sakit. Setibanya di rumah Fitri, Ustaz Adam dan Ustaz Anwar bekerja sama meruqyahnya. Namun, di tengah prosesi ruqyah, gerak-gerik dan perilaku Fitri yang sedang kerasukan justru membuat Ustaz Adam teringat pada kejadian yang sama saat melakukan ruqyah pada Yuli. Tak hanya itu saja, iblis yang merasuki Fitri pun menirukan suara dan mengubah penampilannya seperti mendiang istrinya Ustaz Adam.
Waktu terus berlalu, iblis yang merasuki Fitri rupanya belum sepenuhnya pergi. Saat bekerja di rumah sakit, Fitri makin sering mengalami gangguan mistis dan berujung tak sadarkan diri. Ustaz Adam pun yakin ada penyebab khusus di balik rentetan teror dan kerasukan yang dialami Fitri. Guna mencari petunjuk, Ustaz Adam mengecek rumah Pak Mansyur. Betapa terkejutnya Ustaz Adam saat menemukan sebuah kotak kayu berisi gulungan kertas bertuliskan mantra-mantra kuno yang sengaja disimpan Pak Mansyur sebagai jimat pelindung. Ustaz Adam pun mendesak Pak Mansyur untuk segera membuang dan membakar benda tersebut karena perbuatan tersebut termasuk syirik. Di saat yang sama, Ustaz Adam juga harus berjuang menenangkan Amir yang belum bisa menerima kepergian ibunya. Kerinduan mendalam sang anak yang terus meratapi almarhumah ibunya setiap hari kian memperberat rasa bersalah dalam diri Ustaz Adam.
Seiring berjalannya waktu, misteri di balik kerasukan massal yang dialami Fitri dan warga sekitar perlahan mulai terkuak. Sosok iblis yang merasuki mereka rupanya berasal dari ritual gaib serta pesugihan demi meraih kekayaan abadi. Upaya Ustaz Adam dan Ustaz Anwar untuk menumpas iblis tersebut justru menempatkan nyawa mereka dalam bahaya. Kini, keselamatan mereka dan warga Pacitan menjadi taruhannya. Mampukah kedua ustaz ini membongkar sosok di balik ritual pesugihan tersebut dan mengakhiri seluruh terror gaib yang selama ini terjadi?


#Review:
Rumah produksi Unlimited Productions siap menghadirkan film horror terbarunya yang merupakan remake resmi dari film horror box office hit asal Malaysia berjudul MUNAFIK: MELAWAN IBLIS (2026). Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 3 September 2026 mendatang. Disutradarai oleh Guntur Soeharjanto yang semakin produktif menggarap film-film bergenre horror, serta dibintangi dua aktor papan atas Indonesia yaitu Arya Saloka dan Acha Septriasa, membuat film MUNAFIK (2026) versi Indonesia ini cukup diantisipasi kehadirannya di bioskop tanah air.


Untuk segi cerita, film MUNAFIK (2026) masih berpakem pada cerita originalnya yaitu tentang perjalanan seorang Ustaz dalam menyembuhkan trauma di masa lalu sekaligus melakukan ruqyah pada orang-orang di sekitarnya. Harus diakui, di versi Indonesia nya ini hadir lebih grande dibandingkan versi Malaysia. Guntur Soeharjanto untungnya berhasil menyuntikkan nuansa lokal yang cukup konsisten disepanjang film. Yang cukup disayangkan yaitu dinamika cerita film ini terlalu mainstream karena mengikuti formula khas film-film horror religi era modern. Prosesi ruqyah, adu ayat-ayat Al-Qur'an, kerasukan diikat kemudian memanjat dinding lalu plot twist seputar ritual pertumbalan semuanya bisa kita temukan dalam film ini. Semua template tersebut digabungkan dengan parade jump scared yang memang efektif bikin kaget (tapi tidak menakutkan) penonton di bioskop. Plot twist Amir yang disimpan di penghujung cerita pun reveal nya menurutku terlalu mendadak karena build-up di pertengahan film sama sekali tidak mengarah ke plot twist tersebut hahaha. Unpredictable tapi kalaupun dihilangkan, tidak terlalu berpengaruh besar terhadap keseluruhan cerita. Rasa trauma yang dialami Ustaz Adam jadinya tak kunjung sembuh deh hahaha.


Untuk jajaran pemain, penampilan Arya Saloka sebagai Ustaz Adam memberikan warna tersendiri untuk film ini. Sisi trauma yang ia tampilkan cukup emosional dan believable. Chemistry nya dengan Dimas Aditya sebagai Ustaz Anwar pun saling support satu sama lain sebagai sesama tukang Ruqyah di Pacitan. Apresiasi juga harus diberikan pada Acha Septriasa yang semakin nyaman membintangi film horror bertema religi yang ada Ustaz nya. Performa Acha saat kerasukan dan tanpa bantuan pemeran pengganti sukses membuatku terpukau. Penampilan Donny Damara dan Nova Eliza pun tidak mengecewakan. Hanya saja dialog dan chemistry mereka terlalu dibuat baku banget.
Overall, film MUNAFIK: MELAWAN IBLIS (2026) jadi sajian horror bertema religi yang cukup menghibur dan sangat terbantu oleh penampilan ensemble cast nya. Meskipun beberapa bagian eksekusi cerita dan penggunaan jump scared nya terjebak dalam formula horor pasaran, keberanian film ini dalam mengeksplorasi penderitaan jiwa dan kerapuhan iman seorang pemuka agama membuat karya ini masih sangat layak untuk dinikmati.


[7/10Bintang]

Monday, 31 August 2026

[Review] Rumah Singgah: Merayakan Sisa Waktu & Arti Persahabatan Di Dalam Rumah Perawatan!

 


#Description:
Title: Rumah Singgah (2026)
Casts: Adhisty Zara, Devano Danendra, Ciccio Manassero, Messi Gusti, Aming Sugandhi, Dewi Irawan, Alex Abbad, Marthino Lio, Agnes Naomi
Director: Dyan Sunu Prastowo
Studio: Senara, Mandela Pictures, Limelight Pictures


#Synopsis:
Impian Karla (Adhisty Zara), seorang atlet lari muda, untuk berkompetisi di tingkat nasional seketika hancur setelah ia mengalami cedera berat di kaki kirinya. Setelah diperiksa secara intensif di rumah sakit, Karla dinyatakan mengidap kanker tulang stadium dua. Ia pun harus menjalani pengobatan dan kemoterapi seorang diri karena ayahnya, Pak Ardi (Alex Abbad), sedang berlayar jauh dan bekerja sebagai koki di kapal pesiar. Karla akhirnya memutuskan untuk meninggalkan seluruh rutinitasnya di Jakarta demi berfokus pada pengobatan di Rumah Singgah, sebuah rumah perawatan yang dikelola oleh Ibu Andien (Dewi Irawan).
Setibanya di Rumah Singgah, Karla disambut hangat oleh Ibu Andien, Mang Didu (Aming Sugandhi), serta para penghuni di sana. Karla merasa terharu ketika melihat orang-orang yang bernasib sama dengannya tidak terpuruk dalam depresi atau mengumbar kesedihan. Sebaliknya, mereka tampak bahagia, menjalani rutinitas seperti biasa, dan saling menguatkan satu sama lain. Setelah membereskan barang bawaannya, Karla menempati kamar yang sama dengan Pika (Messi Gusti), seorang remaja perempuan cantik penderita kanker otak. Karena rambutnya mulai rontok, Pika selalu mengenakan penutup kepala. Selain Pika, Karla juga berkenalan dengan Luki (Devano Danendra) yang mengidap leukemia dan Toni (Ciccio Manassero) yang mengidap kanker hati.
Seiring berjalannya waktu, Karla mulai memberanikan diri untuk berinteraksi dengan penghuni lainnya dan menjalin persahabatan erat dengan Pika, Luki, serta Toni. Mereka berempat sering berbagi cerita hidup, bernyanyi bersama, dan bermain di taman belakang. Hingga suatu hari, Pika, Luki, dan Toni mengajak Karla berkunjung ke gudang rahasia mereka. Saat melangkah masuk, Karla terkejut melihat ribuan kertas origami tergantung cantik di seluruh sudut ruangan. Pika menjelaskan bahwa origami-origami yang dibuat bersama para penghuni Rumah Singgah tersebut merupakan lambang optimisme dan simbol harapan bagi mereka semua.
Di sela-sela jadwal pengobatan dan pemeriksaan medis, Karla, Pika, Luki, dan Toni bertekad memanfaatkan sisa waktu untuk mewujudkan impian masing-masing. Karla berhasrat untuk kembali ke lintasan lari sebagai atlet, meskipun hal tersebut mustahil baginya. Pika ingin menikmati pemandangan matahari terbit dan bermain di tepi pantai. Luki merindukan pertemuan dengan keluarga kakak kandungnya, Mas Prasetya (Marthino Lio) yang sudah lama berpisah karena Luki memilih pergi dari rumah setelah mengetahui dirinya mengidap leukimia. Sementara Toni ingin menemui mantan kekasihnya untuk meminta maaf atas keputusannya mengakhiri hubungan secara sepihak tanpa penjelasan.
Demi mewujudkan impian-impian tersebut, Karla, Pika, Luki, dan Toni bekerja sama dengan Mang Didu untuk meminjam mobil operasional Rumah Singgah. Namun, di tengah perjuangan mewujudkan mimpi mereka satu per satu, kabar duka datang silih berganti menghampiri keempat sahabat ini. Di sisi lain, aksi nekat Karla, Pika, Luki, Toni, dan Mang Didu yang pergi diam-diam membuat Ibu Andien panik. Kepergian mereka juga berimbas pada kekacauan acara sosial bersama para donatur yang selama ini menjadi penyokong utama Rumah Singgah. Akankah keempat sahabat ini berhasil menuntaskan seluruh impian mereka di tengah kondisi kesehatan mereka yang semakin kritis?


#Review:
Film RUMAH SINGGAH (2026) karya sutradara Dyan Sunu Prastowo menyajikan narasi emosional yang menyentuh tentang perjuangan hidup, persahabatan, dan harapan. Berfokus pada kisah dari karakter Karla, seorang atlet lari muda yang masa depannya terenggut oleh kanker tulang stadium dua, penonton diajak menyelami penderitaan yang tak hanya menguji fisik, tetapi juga mental.


Sejak Karla menginjakkan kaki di Rumah Singgah yang dikelola oleh Ibu Andien, dinamika cerita berkembang menjadi lebih hangat. Alih-alih menyajikan atmosfer yang muram, tempat ini justru menjadi tempat berlindung yang penuh energi positif. Interaksi Karla dengan para penghuni lain, seperti Pika, Luki, dan Toni memperlihatkan bagaimana kesakitan yang sama mampu melahirkan empati mendalam dan ikatan persahabatan yang solid. Simbolisme dalam film ini dieksekusi dengan cukup apik, terutama melalui kehadiran ribuan kertas origami di dalam gudang rahasia. Gantungan origami tersebut bukan sekadar hiasan visual, melainkan metafora visual yang kuat tentang ribuan doa, optimisme, dan harapan yang terus dirawat oleh para penderita kanker. Elemen ini berhasil memperkuat narasi emosional tanpa terasa menggurui.
Puncak emosional dari film ini bermuara pada penuntasan impian serta nasib akhir yang kontras bagi setiap anggotanya. Setelah impian mereka berhasil diwujudkan, kenyataan pahit tetap harus dihadapi ketika salah satu diantara mereka pergi untuk selama-lamanya. Di sisi lain, perjuangan Karla harus dibayar mahal dengan tindakan amputasi pada kakinya; sebuah keputusan pahit yang justru membebaskannya dari kanker dan membawanya bangkit menjadi atlet pelari disabilitas. Dinamika hubungan kakak beradik antara Luki dan Mas Prasetya pun berakhir bahagia setelah mereka berdua berkata jujur satu sama lain. Namun, film ini memiliki beberapa poin yang cukup mengganggu pengalaman menonton. Seperti film-film bertema tentang penyakit pada umumnya, pendekatan visual film RUMAH SINGGAH (2026) menurutku terlalu dreamy dengan lighting serba lembut dan atmosfer film yang terlalu puitis membuat setiap adegan film ini terasa datar. Alhasil, di pertengahan film aku dibuat mengantuk oleh dialog yang ikutan dibuat serba puitis serta latar musik melankolis yang dimainkan cukup mendominasi disepanjang durasi film.
Dari jajaran pemeran, Adhisty Zara berhasil menjadi kekuatan emosional cerita dengan membawakan karakter Karla secara meyakinkan. Transisi emosinya mulai dari kerapuhan dan keputusasaan seorang atlet yang kehilangan impiannya, hingga akhirnya menemukan kembali pijakan hidup bersama para penghuni Rumah Singgah terasa cukup natural dan konsisten. Interaksi serta chemistry dengan Messi Gusti, Devano Danendra dan Ciccio Manassero juga terasa believable sebagai empat sahabat. Kehadiran Messi Gusti sebagai Pika patut diapresiasi karena kepolosannya kerap kali berhasil menghadirkan momen pemicu rasa haru yang cukup efektif. Kehadiran aktor senior seperti Dewi Irawan dan Aming Sugandhi membantu memberi keseimbangan, di mana Aming berhasil membawa sedikit kesegaran berkat komedinya yang mencuri perhatian. Sayangnya, kehadiran Marthino Lio sebagai Mas Prasetya terasa kurang tereksplorasi secara maksimal dan penyelesaiannya terburu-buru dibuat happy ending.
Overall, film RUMAH SINGGAH (2026) berhasil menjadi tontonan drama humanis yang hangat dan menggugah emosi. Didukung oleh jajaran pemeran yang solid, film ini tidak hanya memotret pahitnya perjuangan melawan penyakit kritis, tetapi juga merayakan indahnya persahabatan serta pentingnya berdamai dengan keadaan sebelum waktu habis.


[7/10Bintang]