Monday, 13 July 2026

[Review] Evil Dead Burn: Terror Iblis Deadite Semakin Menggila Dan Tanpa Ampun!

 


#Description:
Title: Evil Dead Burn (2026)
Casts: Souheila Yacoub, Tandi Wright, Hunter Doohan, Luciane Buchanan, Erroll Shand, Maude Davey, Alain Chabat, George Pullar, Greta van den Brink, Keanu Karim, Tapiwa Soropa, Alyssa Sutherland
Director: Sébastien Vaniček
Studio: New Line Cinema, Screen Gems, Ghost House Pictures, Sony Pictures


#Synopsis:
Joseph Price (Hunter Doohan) sedang meneliti hasil studi mendiang kakeknya, Benjamin, mengenai buku terkutuk Necronomicon dan Deadit, sosok iblis yang selama ini meneror manusia secara sadis. Dalam rekaman studi tersebut, Benjamin rupanya menyembunyikan sebuah belati bernama Kandarian yang konon dapat menangkal sekaligus memusnahkan Deadite. Namun sayang, jika pembungkus belati itu dibuka, keberadaannya akan langsung terdeteksi oleh para Deadite. Dan benar saja, penemuan belati oleh Joseph itu membangkitkan kembali Deadite Jessica (Greta van den Brik) yang selama ini terperangkap di dasar danau. Nasib sial pun menimpa dua pemancing di danau tersebut. Jared (Keanu Karim) dan Leo (Victoru Ndukwe), yang menjadi korban kebrutalan Deadite Jessica.


Di sisi lain, kakak Joseph yaitu Will Price (George Pullar), bertengkar hebat dengan istrinya, Alice (Souheila Yacoub) dengan alasan hubungan mereka yang makin merenggang. Will yang gemar mabuk-mabukan kerap memicu keributan di bar, membuat Alice makin ragu untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Dalam kondisi mabuk berat, Will memutuskan pergi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi melintasi jalan raya yang gelap. Hal tersebut memicu kecelakaan fatal usai menabrak Deadite Jessica yang tiba-tiba muncul dan berdiri di tengah jalan. Saat Will tewas dalam kobaran api mobilnya, Deadite Jessica membacakan mantra Necronomicon untuk memindahkan jiwa iblis dari tubuhnya ke tubuh Will.


Kematian Will memaksa keluarganya untuk kembali berkumpul. Alice bertemu lagi dengan Joseph yang datang bersama kekasihnya, Thya (Luciane Buchanan), kedua mertuanya, Susan (Tandi Wright) dan Edgar Price (Eroll Shand), serta nenek dari keluarga tersebut, Polly (Maude Davey). Kehadiran Alice membuat Susan dan Edgar kesal karena menjadi penyebab kematian anak mereka. Saat sesi kebaktian berlangsung, jasad Will di dalam peti mati mendadak bangkit karena telah dirasuki Deadite. Ia kemudian membakar tubuh Edgar dan membunuh petugas kremasi, membuat situasi berubah menjadi kacau dan tak terkendali. Keluarga Price pun bergegas pergi meninggalkan lokasi dan pulang ke rumah mereka.



Setibanya di rumah, Susan, Joseph, Alice, dan Thya merawat luka bakar pada tubuh Edgar. Setelah kondisi Edgar membaik, keluarga Price menggelar makan malam bersama. Perselisihan kembali pecah antara Edgar, Joseph, dan Alice. Di tengah emosi yang meluap, Edgar secara brutal menusuk anjing peliharaan mereka menggunakan garpu hingga tewas. Melihat kondisi Edgar yang makin tak terkendali, Joseph dan Thya bergegas membawanya ke rumah sakit dengan mobil. Di tengah perjalanan, pengaruh Deadite membuat Edgar makin menggila. Ia menyerang Joseph dan Thya secara brutal hingga menyebabkan mobil mereka kecelakaan. Joseph berhasil selamat dari kecelakaan dan melarikan diri dari mobil tersebut.
Sementara itu di rumah, Alice tak sengaja menemukan buku catatan penelitian Benjamin yang sebelumnya dipelajari oleh Joseph. Tepat sebelum Alice membaca mantra dari buku terkutuk Necronomicon, ia mendadak diserang oleh anjing mereka yang bangkit kembali karena telah dirasuki Deadite.


Di tengah kekacauan itu, Joseph berhasil kembali ke rumah. Tak lama kemudian, Thya mendadak muncul di depan pintu dengan kondisi mengenaskan usai dirasuki Deadite. Thya langsung menyerang Joseph, Alice, Susan, dan Nenek Polly, sebelum akhirnya berhasil dijatuhkan ke dalam basement rumah. Keadaan semakin tak terkendali saat Edgar dan anjing mereka muncul di rumah dengan kondisi sudah sepenuhnya dirasuki Deadite. Bersama dengan Thya, mereka memburu keberadaan Belati Kandarian yang disembunyikan oleh Joseph. Bagaimanakah nasib keluarga Price selanjutnya? Mampukah mereka menyelamatkan diri dari teror sadis para Deadite yang kini merasuki anggota keluarga mereka sendiri?


#Review:
Salah satu franchise horror slasher ikonik dan legendaris karya Sam Raimi yang sudah eksis sejak 45 tahun lalu yaitu EVIL DEAD, kini kembali hadir dengan film standalone terbarunya di summer tahun ini berjudul EVIL DEAD BURN (2026). Menariknya, film ini menjadi film standalone ketiga dari EVIL DEAD versi modern setelah film pertamanya karya Fede Alvarez pada tahun 2013 dan film keduanya karya Lee Cronin, EVIL DEAD RISE (2023) pada tahun 2023.


Untuk segi cerita, pola dan treatment yang digunakan film EVIL DEAD BURN (2026) masih setia seperti film-film terdahulu yaitu tentang buku terkutuk, belati mistis dan serbuan iblis Deadite yang merasuki manusia dan menyerang secara ugal-ugalan. Seperti biasanya juga, film langsung dibuka dengan aksi sadis dan brutal ketika manusia menjadi korban keganasan manusia yang kerasukan Deadite. Sutradara asal Perancis yaitu Sebastian Vanicek berhasil mengeksekusi visual film ini lebih gelap dan kelam, menjadikan film EVIL DEAD BURN (2026) sebagai salah satu judul paling sadis, menjijikkan, penuh darah dan tanpa ampun dalam sejarah panjang franchise EVIL DEAD. Dinamika cerita yang berpusat pada konflik internal keluarga Price memberikan fondasi emosional yang pas sebelum pertumpahan darah dimulai. Pergolakan batin karakter Alice yang terjerat duka dan trauma akibat toxic relationship di masa lalunya menjadi "bensin" efektif yang sangat mudah dibakar oleh para Deadite. Pilihan lokasi rumah pinggir danau yang terisolasi sukses menciptakan rasa klaustrofobia yang kuat. Ketika keluarga disfungsional ini dipaksa berhadapan dengan teror supranatural, kepribadian dan rahasia kelam masing-masing justru dieksploitasi oleh iblis Deadite untuk saling menghancurkan dari dalam. Sesuai dengan branding dan reputasi franchise EVIL DEAD yang mengedepankan kesadisan di level maksimal, film EVIL DEAD BURN (2026) tentunya sangat royal dalam menyajikan serangkaian aksi sadis dan brutal di sepanjang film. Hampir semu adegan sukses membuatku ngilu, tutup mata dan sekalinya melihat, aku langsung dibuat mual. Sungguh gila! Sang sutradara juga rupanya sangat mengoptimalkan practical effect di setiap adegan gore dan slasher nya. Penonton bisa melihat secara gamblang bagaimana adegan kulit dan daging manusia hancur dengan mudahnya oleh kelakuan si Deadite sialan itu. Setiap penonton mengira jika kekerasan level ekstrim sudah ditampilkan, film ini menampilkan lagi "kegilaan" yang lebih gila. Hal tersebut membuktikan jika tidak ada satupun karakter dalam film yang aman dari siksaan ekstrim dari Deadite.
Salah satu pencapaian terbaik film EVIL DEAD BURN (2026) terletak pada kemampuannya mengolah ruang sempit menjadi arena pembantaian yang memanjakan mata pecinta horor slasher dan gore. Adegan di dalam mobil dan kamar mandi. Gila banget! Melihat alat pancing, sandaran jok mobil dan pisau cukur rambut warna pink kini jadi tak lagi sama. Sialan. Kombinasi sinematografi yang agresif dan permainan black comedy di beberapa dialog berhasil menjaga pace film tetap berada di intensitas tinggi.
Terlepas dari treatment dan template yang tidak menampilkan sesuatu yang baru, film EVIL DEAD BURN (2026) sukses menegaskan identitasnya sendiri melalui eskalasi aksi yang intens dari awal sampai akhir film, motif api yang sangat membara hingga kebrutalan tanpa ampun dan tedeng aling-aling. GILAAA!

NOTE: Jangan lupa post credit scene dan end credit scene yang berkaitan dengan film sebelumnya loh! Capek.


[8.5/10Bintang]

Sunday, 12 July 2026

[Review] Foufo: Ketika Alien Pink Hijau Tak Sengaja Muncul Di Tanah Madura & Menggegerkan Satu Keluarga!

 



#Description:
Title: Foufo (2026)
Casts: Tretan Muslim, Ade Bibier Kurniawan, Hari Otang, Fuad Sasmita, Anggun Dwi, Siti Kamariyah, Mieke Shahir, Sangat Mahendra, Rifqi Abdillah, Ina Pogang, Kiano Shaqeel, Habib Husein Jafar, Bambang Ceper, Karina Afandi, Atalazuardy Cheanno, Tina, Benedictus Siregar, Bayu Skak, Indra Pramujito
Director: Bayu Skak
Studio: Skak Studios, Sinemart, Legacy Pictures


#Synopsis:
Menjelang musim pemberangkatan jemaah haji, Muslim (Tretan Muslim) memutuskan untuk mengajukan pinjaman dana ke bank demi melunasi sisa biaya ibadah haji sang ibu, Saiqonnah (Siti Kamariyah). Setelah menanti antrean panjang selama 15 tahun, tahun ini sang ibu akhirnya mendapat kuota untuk berangkat. Namun, dua petugas bank, Joko (Bayu Skak) dan Cokro (Benedictus Siregar), ragu menyetujui pinjaman tersebut saat datang meriset rumah Muslim. Pasalnya, Muslim hanya bekerja sebagai pengepul barang rongsokan. Situasi finansial rumah tangga mereka makin rumit karena Muslim dan ibunya masih tinggal satu atap bersama dua adiknya yang sudah berkeluarga. Adiknya, Ipul (Fuad Sasmita), hanyalah seorang guru honorer. Istri Ipul, Siti (Anggun Dwi Lestari), sedang mengandung anak kedua adik dari anak pertama mereka, Mustofa (Rifqi Abdillah). Sementara itu, adik perempuan Muslim, Nur (Mieke Shahir), berjualan jus buah di depan rumah demi membiayai anaknya, Aqeela (Ina Pogang), sekaligus membeli obat untuk suaminya, Latif (Sangat Mahendra), yang sudah lama mengidap TBC. Muslim sangat berharap pinjaman bank tersebut bisa cair agar ibunya dapat menunaikan rukun Islam kelima dan tidak lagi menjadi bahan ejekan tetangga.
Namun, kabar dari pihak bank tak kunjung datang padahal tenggat pembayaran sudah makin dekat. Jika terlambat disetorkan ke pengelola ibadah haji, kuota sang ibu akan dialihkan ke calon jemaah lain. Terdesak oleh keadaan, Muslim dan Ipul terpaksa tergiur ajakan tetangga mereka, Kacong (Hari Otong), untuk mencuri dan memotong besi rel kereta yang sudah tak aktif pada malam hari. Saat tiba di lokasi, nurani Muslim membuat dirinya memilih mundur karena sadar aksi tersebut adalah tindakan kriminal. Namun, ketika Kacong dan Ipul sibuk memotong besi rel, sebuah kilatan cahaya melintas di langit yang disusul suara ledakan dahsyat tak jauh dari tempat mereka. Saat ketiganya mendekati sumber suara, mereka terkejut menemukan sebuah pesawat UFO kecil terdampar di tanah dengan makhluk misterius berwarna merah muda di dalamnya. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengamankan UFO dan sosok asing tersebut ke rumah Muslim.
Setibanya di rumah, Muslim kembali didatangi Toni (Ade Bibier) yang bermaksud membeli keris warisan almarhum ayahnya seharga 10 juta rupiah. Muslim tetap menolak menjual benda peninggalan tersebut dan menyuruh Toni pergi dari rumanya. Tak lama kemudian, makhluk asing di dalam UFO terbangun dari pingsannya dan mengejutkan semua orang. Makhluk itu mengeluarkan cahaya laser yang membuat Toni seketika pingsan. Tiba-tiba saja, ia bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dengan menirukan suara Toni. Makhluk misterius itu menjelaskan bahwa ia mengalami kecelakaan menabrak asteroid hingga terdampar di Bumi. Sisa energinya untuk bertahan hidup tinggal sedikit dan ia harus segera memperbaiki pesawatnya agar bisa kembali ke kapal induk. Masalahnya, kunci akses untuk menghidupkan mesin pesawat telah rusak. Ia membutuhkan logam dengan karakteristik yang sama persis seperti material kuncinya. Berbekal profesinya sebagai pengepul barang rongsokan, Muslim berjanji membantu mencari logam yang cocok. Muslim kemudian menamainya Foufo (Ade Bibier) agar lebih mudah dipanggil.
Awalnya, keberadaan Foufo dirahasiakan agar tidak memicu kehebohan warga. Beruntung, Foufo memiliki kemampuan menghilang atau invisible sehingga mudah disembunyikan. Lambat laun, Foufo mulai beradaptasi dengan kehidupan keluarga Muslim. Makanan favoritnya setiap kali lapar adalah Sate Madura yang sering dibawakan oleh Muslim.
Suatu hari, ketika sedang makan siang, Foufo tak sengaja menampakkan diri di depan seluruh anggota keluarga hingga memicu kepanikan. Muslim pun menenangkan keluarganya dan meyakinkan bahwa Foufo sama sekali tidak berbahaya. Seiring waktu, keberadaan Foufo justru membawa banyak berkah bagi keluarga Muslim. Katarak yang diidap Ibu Saiqonnah berhasil disembuhkan, Siti bisa memeriksakan kondisi kehamilannya tanpa perlu ke rumah sakit dan Mustofa jadi bisa belajar lebih giat berkat bantuan kemampuan Foufo.
Namun, waktu terus berjalan dan kondisi kesehatan Foufo kian menurun. Pencarian logam yang dibutuhkan tak kunjung membuahkan hasil. Di sisi lain, masalah finansial keluarga makin menghimpit. Pelunasan haji Ibu Saiqonnah makin mendekati jatuh tempo. Tunggakan sekolah Mustofa dan Aqeela harus segera diselesaikan. Biaya persalinan istri Ipul kian mendesak karena hari kelahiran bayi yang makin dekat. Debt collector yang terus menagih Nur, sementara kondisi TBC Latif kian memburuk. Mampukah Muslim menyelesaikan berbagai persoalan rumit yang datang bertubi-tubi ini sebelum semuanya terlambat?


#Review:
Aktor, komedian sekaligus sutradara muda asal Malang, Jawa Timur yaitu Bayu Skak kembali hadir dengan film terbarunya yang berjudul FOUFO (2026). Film ini menjadi film kedua bagi Bayu Skak sebagai sutradara di tahun 2026 setelah kemarin sukses besar dengan sekuel SEKAWAN LIMO 2 (2026) pada akhir Mei lalu.


Yang menjadi daya tarik dari film terbarunya ini, Bayu Skak mencoba hal baru yaitu menggabungkan antara elemen komedi Jawa Timur-an nya dengan elemen science fiction. Meskipun terkesan absurd dan "berat" karena ada unsur UFO beserta Alien, namun untungnya penulis Achmad Faisol menyajikan hal tersebut dengan treatment yang ringan dan sekedar lucu-lucuan. Tema persahabatan antara manusia dengan makhluk luar angkasa yang hadir dalam film FOUFO (2026) ini sekilas mengingatkan penonton akan film E.T. nya Spielberg dan juga Doraemon. Plot tersebut kemudian dibuat jadi lebih "lokal banget" berkat latar cerita berada di lingkungan daerah Madura yang sarat dengan dinamika sosial ekonomi masyarakat menengah ke bawah. Daya tarik utama film ini sudah jelas datang dari komedi verbal dan slapstick khas Madura yang dibawakan secara natural oleh Tretan Muslim bersama para pemain lainnya yang mayoritas asli orang sana hasil audisi oleh Skak Studios. Potret sosial dan kehidupan karakter Muslim yang merupakan sandwich generation serta tinggal di lingkungan menengah ke bawah dihadirkan secara lucu tanpa mengeksploitasi secara murahan atau menguras air mata penonton. Dibalik tawa dan hiburan yang disajikan film ini, Bayu Skak dan penulis naskah menyentil berbagai issue sosial yang memang terjadi di kehidupan nyata seperti nasib guru honorer, lamanya antrian calon jamaah haji reguler hingga jeratan pinjaman online yang melibatkan debt collector. Dengan durasi film yang cukup panjang mencapai 120 menit, Bayu Skak sangat detail mengeksplor setiap permasalahan internal keluarga dari karakter Muslim lengkap dengan segala komedinya. Di satu sisi, hal tersebut jadi terasa panjang dan kehadiran karakter alien Foufo pun jadi terabaikan. Andai saja porsi cerita kebersamaan Foufo yang "berguna" bagi keluarga Muslim dihadirkan sejak pertengahan film, bukan ditampilkan secara menumpuk lewat adegan flashback singkat di akhir cerita, pasti akan lebih bagus lagi, karena sesuai dengan judul filmnya sendiri.


Drama keluarga menengah ke bawah yang dihadirkan tampil cukup emosional, khususnya menjelang akhir film. Meskipun baru kali ini dipercaya menjadi lead actor, Tretan Muslim berhasil menampilkan range emosional yang believable. Rasa frustasi dan terhimpit masalah finansial keluarganya tersampaikan dengan baik pada penonton. Penampilan ensemble casts yang mayoritas wajah-wajah baru pun tidak mengecewakan serta tampil komikal nya pas banget.
Dari segi visual, penggarapan CGI dan animasi karakter Foufo yang dipadukan dengan live action tergolong mulus untuk ukuran perfilman Indonesia. Hal tersebut didukung juga oleh pengisian suara yang unik, sekilas mirip dubber Spongebob Squarepants di televisi hahaha. Interaksi antara animasi dengan karakter manusia dalam film ini jadinya terasa lebih hidup dan lucu. Bayu Skak bersama tim produksi berhasil membangun atmosfer yang kontras namun tetap selaras. Lanskap lingkungan pemukiman padat dan tempat penampungan barang rongsokan yang terkesan kumuh dibingkai dengan pencahayaan hangat khas rumah-rumah sederhana yang penuh dengan anggotanya.
Overall, film FOUFO (2026) tetap sukses menjadi angin segar yang menghibur, hangat, dan membuktikan bahwa kisah Science Fiction persahabatan antara alien dengan manusia bisa menyentuh juga kok ketika berakar kuat pada nilai-nilai keluarga serta budaya lokal khususnya Madura Jawa Timur-an. Sebuah eksperimen film yang berani dari Bayu Skak tentunya!


[7.5/10Bintang]

Saturday, 11 July 2026

[Review] 402 Rumah Sakit Angker Korea: Petaka Siaran Langsung Yang Mengancam Keselamatan!

 


#Description:
Title: 402 Rumah Sakit Angker Korea (2026)
Casts: Arbani Yasiz, Elang El Gibran, Saputra Kori, Diandra Agatha, Lea Ciarachel, Jang Han-Sol, Aylena Fusil
Director: Anggi Umbara
Studio: MD Pictures, Umbara Brothers Films, Pichouse Films


#Synopsis:
Demi menuruti permintaan para penonton setianya, kanal YouTube horor "Para Pemburu Hantu" yang dikelola oleh Juna (Arbani Yasiz), Bara (Elang El Gibran), dan Adit (Saputra Kori) terbang ke Korea Selatan. Mereka berencana menggelar siaran langsung di sebuah rumah sakit terbengkalai daerah Jeokyung bernama Yong-Won Hospital. Awalnya, mereka ingin mengunjungi rumah sakit terbengkalai yang ada di daerah Gonjiam, tetapi tempat tersebut sudah dibongkar oleh pemerintah. Dalam konten terbarunya ini, "Para Pemburu Hantu" berkolaborasi dengan kanal YouTube "Soul Sister" milik Arum (Diandra Agatha) dan Yuri (Lea Ciarachel). Kakak beradik ini dikenal lewat konten penelusuran ke berbagai tempat angker di Indonesia.
Setibanya di Korea Selatan, Juna mengajak timnya menemui Dae-Ho (Jang Han-Sol), pria keturunan Korea-Jawa yang sempat tinggal di Indonesia dan kini menetap di sana. Selain Dae-Ho, mereka juga akan ditemani oleh Tyas (Aylena Fusil), mahasiswi asal Indonesia yang terpilih untuk mengikuti eksplorasi tersebut. Sebelum menuju lokasi, Juna dan Dae-Ho mendatangi seorang cenayang untuk meminta doa perlindungan. Saat mengetahui rencana mereka, sang cenayang melarang keras karena Yong-Won Hospital sangat berbahaya untuk dikunjungi. Namun, Juna dan tim tetap keras kepala. Sang cenayang akhirnya memberikan jimat perlindungan kepada mereka semua untuk meminimalisir gangguan mistis.
Sehari sebelum penelusuran, Juna, Bara, Adit, Arum, dan Yuri bersantai menikmati suasana pusat kota Korea Selatan dengan dipandu Dae-Ho serta Tyas. Di sela-sela perjalanan, Dae-Ho dan Tyas menceritakan kisah kelam Yong-Won Hospital. Rumah sakit itu ditutup setelah pemiliknya, Jeong-Kyun Won, terbukti sebagai pimpinan sekte sesat yang menjanjikan kehidupan abadi, kekayaan melimpah dan kesehatan bagi para pengikutnya. Setelah ketahuan menyimpang, pemilik rumah sakit tersebut ditemukan tewas tak lama setelah seluruh pasiennya melakukan bunuh diri massal. Tempat itu kemudian dianggap terkutuk, terutama Ruangan 402 yang sering dijadikan lokasi ritual sekte. Tim "Para Pemburu Hantu" akan menjadi kreator pertama yang melakukan siaran langsung di sana, bahkan mereka juga berencana membobol ruangan tersebut. Juna, Bara, Adit, Arum, dan Dae-Ho sangat antusias menyiapkan penelusuran ini. Sebaliknya, Yuri dan Tyas yang skeptis justru memendam kekhawatiran mendalam. Namun, karena tergiur target tiga juta penonton yang berpotensi menghasilkan uang hingga 15 miliar rupiah, mereka semua akhirnya sepakat berangkat.
Keesokan harinya, tim berangkat menuju Yong-Won Hospital membawa perlengkapan lengkap. Sesampainya di gerbang utama, mereka masuk ke sana dengan berjalan kaki sambil membawa banyak peralatan dan mendirikan tenda tak jauh dari gedung rumah sakit. Menjelang tengah malam, Juna membagi tugas. Bara, Arum, Yuri, Dae-Ho, dan Tyas bertindak sebagai host siaran live, sementara Adit menjadi juru kamera. Masing-masing dari mereka dipasangi body rig camera agar penonton dapat menyaksikan sudut pandang pertama secara langsung. Di sisi lain, Juna bertugas memantau dan mengoperasikan siaran langsung berbayar via situs ghosthunters.com dari dalam tenda.
Tepat tengah malam, siaran dimulai di depan gedung. Tim mulai menyusuri koridor lantai satu yang gelap, lembap, dan berantakan. Di salah satu ruangan, mereka menemukan bingkai foto Jeong-Kyun Won bersama para pasiennya. Saat memeriksa kamar pasien lainnya, kamera Adit tak sengaja menangkap bayangan aneh yang bergerak di belakang Bara, hingga siaran terpaksa dijeda sejenak. Saat istirahat, Juna mengabarkan bahwa jumlah penonton telah menembus angka 200 ribu viewers. Kobaran semangat kembali membakar tim. Juna pun membagi tugas baru. Dae-Ho dan Tyas naik ke lantai empat untuk memasang kamera di koridor Kamar 402, Arum dan Yuri menyusuri lantai tiga, sedangkan Bara dan Adit mengeksplorasi lantai satu dan dua.
Tanpa sepengetahuan Dae-Ho, Arum, Yuri, dan Tyas, ternyata Juna, Bara, dan Adit telah menyiapkan Jelangkung untuk berkomunikasi dengan makhluk halus. Meski sempat ditolak karena dinilai berbahaya, Bara dan Adit berhasil meyakinkan tim bahwa ini hanyalah sarana komunikasi biasa. Arum diminta memegang papan permainan, sementara Tyas membacakan mantra yang diterjemahkan ke dalam bahasa Korea. Setelah tiga kali percobaan, Jelangkung bergerak sendiri dan membenarkan bahwa para pasien di sana bukanlah bunuh diri melainkan dibunuh secara massal. Tak lama, papan tersebut terbakar dan Tyas mendadak tak sadarkan diri seperti kerasukan. Mereka panik, berlari keluar ruangan, dan siaran langsung kembali dihentikan.
Kejadian itu membuat Arum, Yuri, dan Tyas ketakutan setengah mati. Juna berusaha menenangkan dan memberi pilihan untuk mundur. Namun, karena penonton telah mencapai satu juta orang, Bara dan Adit mendesak semua orang untuk bertahan agar perjuangan mereka tidak sia-sia. Siaran pun dilanjutkan dengan formasi berpencar. Arum menuliskan namanya di dinding lantai tiga sebagai tanda jejak, sementara Bara dan Adit masuk ke ruangan yang memiliki kolam pembaptisan kecil.
Di tempat lain, Yuri terkejut saat melihat boneka tradisional Korea yang tadinya ada di atas tempat tidur tiba-tiba berpindah ke dalam lemari. Kekhawatiran Yuri kian memuncak saat Adit secara ceroboh menyentuh benda-benda tersebut demi konten. Sementara itu dari dalam tenda, Juna terkejut karena boneka yang dipegang Adit itu sangat identik dengan boneka milik pasien di dalam foto yang mereka temui di lantai 1. Angka penonton pun melonjak mendekati dua juta viewers. Juna segera menghubungi Bara dan Adit untuk terus mempertahankan skenario rekayasa atau gimmick yang telah mereka rancang tanpa sepengetahuan anggota lain.
Tim kemudian berkumpul di lantai tiga dan memasuki ruangan penuh peti kayu. Bara dengan iseng memasukkan tangannya ke dalam lubang salah satu peti kosong. Secara mengejutkan, lengannya ditarik kencang dari dalam hingga suasana menjadi kacau. Arum yang mengira Bara hanya berakting, nekat memasukkan tangannya sendiri. Seketika tangan Arum ditarik sangat kencang hingga ia berteriak kesakitan. Saat berhasil lepas, telapak tangannya terluka parah seperti bekas gigitan. Yakin nyawa mereka dalam bahaya, Arum dan Yuri memutuskan berhenti dan keluar dari rumah sakit.
Bara dan Adit mulai panik dan mencoba menghubungi Juna, sebab luka Arum jelas bukan bagian dari rekayasa mereka. Di saat bersamaan, Juna juga mulai merasakan banyak keanehan di dalam tenda. Namun karena tergiur angka viewers yang menyentuh 2,5 juta penonton, Juna tetap memerintahkan sisa tim untuk melanjutkan siaran. Dalam perjalanan keluar, Arum yang menahan sakit meminta maaf kepada Yuri karena sempat tidak memercayainya. Namun, ikatan kain pada pohon yang mereka jadikan penanda jalan justru membawa mereka berputar-putar di tempat yang sama. Arum dan Yuri tersesat dan menangis histeris di tengah kegelapan hutan.
Sementara itu, Bara dan Adit yang hendak menyusul ke lantai empat diminta masuk ke ruang pembaptisan karena Juna mendeteksi pergerakan gaib di sana. Begitu melangkah masuk, teror mengerikan menimpa mereka berdua. Seluruh benda di dalam ruangan melayang dan menghantam mereka. Bara dan Adit pun tumbang tak sadarkan diri. Bagaimanakah nasib seluruh anggota "Para Pemburu Hantu" selanjutnya? Mampukah mereka selamat dan keluar dari rumah sakit terkutuk itu?


#Review:
Rumah produksi MD Pictures kembali hadir dengan film horror terbarunya yang berjudul 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026). Film ini merupakan remake resmi dari film box office hit asal Korea Selatan berjudul GONJIAM HAUNTED ASYLUM (2018) yang dirilis delapan tahun yang lalu. Dengan mempertahankan konsep mockumentary dan found footage horror, mampukah versi Indonesia nya ini hadir setara dengan versi Korsel nya?


Untuk segi cerita, film 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026) memang tidak mengalami perubahan drastis dari plot maupun karakter. Yang menjadi pertanyaan mengganjal bagiku, ada urgensi apakah tim kreator "Para Pemburu Hantu" mengadakan live streaming di rumah sakit terbengkalai sampai harus ke Korea Selatan segala. Padahal tempat-tempat angker di Indonesia juga sangat melimpah haha. Paruh pertama film, penonton seperti dejavu saja karena masih serupa dengan versi Korsel. Keputusan kreatif mengganti latar belakang cerita dari Yong-Won Hospital, menghadirkan tour guide dari warga lokal dan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di sana lalu berkonsultasi pada Cenayang dan penggunaan Jelangkung berhasil memberikan ciri khas sekaligus pembeda untuk versi Indonesia nya ini. Memasuki babak pertengahan, hampir semua adegan horror, jump scared hingga dialog masih copy paste dari film aslinya. Cukup disayangkan sih, Anggy Umbara dan penulis Lele Laila memilih cari aman dan tidak menonjolkan kreativitas mereka di pertengahan film. Saat menuju akhir film, barulah sisi kreativitas dan eksplorasi cerita dihadirkan oleh keduanya. Keputusan ending film dibuat sadis dan penuh darah berhasil membuatku terkejut. Sad ending versi Indonesia terasa lebih mengenaskan karena motivasi yang dihadirkan tersebut jadi lebih "masuk" dengan latar sejarah kelam Yong-Won Hospital yang sudah dijelaskan di awal film.


Untuk jajaran pemain, harus diakui penampilan geng "Para Pemburu Hantu" masih bisa ditingkatkan lebih maksimal lagi. Tektokan obrolan mereka kurang natural dan believable. Saat kamera meng-capture setiap ekspresi para karakter serta aura sekumpulan konten kreator nya juga kurang meyakinkan. Untungnya saat memasuki babak akhir cerita yang menjadi pembeda dengan versi Korsel, totalitas ensemble casts yang rela "disiksa" patut diapresiasi.
Untuk urusan visual, konsep found footage film 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026) ini masih terasa film banget. Unsur raw, mentah dan hand held shaky nya terlihat editing banget. Ditambah lagi pantauan CCTV yang dipasang sebelum eksplorasi Yong-Won Hospital terlalu banyak. Perbandingan nya terasa sangat menonjol dengan versi Korsel yang lebih believable. Overall, film 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026) masih enjoyable untuk ditonton di bioskop berkat third act nya menyimpan kejutan yang tidak kita temukan di versi Korsel. Punya potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dan harus bisa lebih baik lagi!


[7.5/10Bintang]

Monday, 29 June 2026

[Review] Jangan Buang Ibu: Kritik Tajam Sekaligus Mengharukan Tentang Nasib Orang Tua Di Usia Senja!

 


#Description:
Title: Jangan Buang Ibu (2026)
Casts: Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo, Saputra Kori, Basmallah Gralind, Jared Ali, Humaira Jahra, Dwi Sasono, Erika Carlina, Fadly Faisal, Saskia Chadwick, Farrell Rafisqy, Nunung, Ingrid Widjanarko, Mpok Atiek, Dewi Pakis, Chema Mahrey, Diaz Andriawan, Mira Desiana
Director: Hadrah Daeng Ratu
Studio: Leo Pictures, Legacy Pictures, Narasi Semesta, Role Entertainment


#Synopsis:
Ristiana (Nirina Zubir) dan kedua anaknya yaitu Tama (Jared Ali) dan Dewi (Humaira Jahra) terpaksa menjual rumah mereka yang ada di Bandung setelah sang suami, Ridho (Dwi Sasono) ketahuan selingkuh dan memilih tinggal bersama selingkuhannya yang sedang hamil. Di saat yang bersamaan pula, Ristiana sedang mengandung anak ketiga. Meskipun sudah berkali-kali dikhianati oleh sang suami, namun kali ini Ristiana mengambil keputusan besar yaitu pergi merantau ke Jakarta dan membuka lembaran baru di sana.
Tiba di Jakarta, Ristiana tinggal di rumah sederhana di dalam gang bersama dengan Tama, Dewi dan calon anak ketiganya yang masih dalam kandungan. Untuk menghidupi anak-anaknya, Ristiana berjualan donat dan bekerja sebagai cleaning service di mall. Mereka berjuang untuk bertahan hidup di Jakarta tanpa diberi nafkah sama sekali oleh Ridho. Rasa sakit hati dan kecewa pun turut dirasakan oleh Tama dan Dewi yang kehilangan sosok ayah dalam hidup mereka. Seiring berjalannya waktu, Ristiana perlahan berhasil membesarkan ketiga anaknya. Tama (Refal Hady) sedang disibukkan dengan skripsi kuliah, Dewi (Amanda Manopo) memutuskan untuk bekerja di mini market dan Tria (Saputra Kori) sudah memasuki SMA.
Waktu terus berlalu. Meskipun usianya terus bertambah dan menua tak membuat Ristiana menyerah untuk membesarkan ketiga anaknya. Setelah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan, Tama menikah dengan Asti (Erika Carlina) dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Marsha (Basmalah Gralind). Masalah muncul saat Dewi berencana akan menikah dengan pacarnya, Hafiz (Fadly Faisal). Dewi menginginkan sang ayah menjadi wali pernikahannya. Namun karena selama ini ayahnya menghilang tanpa kabar, keinginan tersebut sulit untuk terwujud. Tama pun bersedia dan menyanggupi sebagai wali pernikahan Dewi ketimbang mereka harus berusaha mencari keberadaan sang ayah yang sudah membuat keluarga sakit hati. Ristiana kemudian pergi ke Bandung untuk mencari keberadaan Ridho. Namun sayang, rumah mereka di Bandung sudah lama kosong dan tak pernah dikunjungi siapapun. Dewi pun akhirnya resmi menikah dengan Hafiz setelah Tama menjadi wali pernikahannya.
Setelah kedua anaknya menikah dan berumah tangga, Ristiana kini tinggal berdua saja dengan Tria. Di sisi lain, Tama dan istrinya, Asti yang sama-sama pekerja kantoran terlihat makin sibuk dengan segala urusan pekerjaan mereka hingga jarang sekali berinteraksi dengan anak mereka, Marsha. Begitu juga dengan Dewi yang kini tinggal di rumahnya Hafiz bersama sang anak, Zayn (Farrell Rafisqy) sambil merawat ibu mertua yang sedang sakit. Masalah kembali datang pada Ristiana yang harus menjemput Tria dari sekolah karena mencuri uang milik temannya untuk kepentingan acara cosplay. Ristiana tentunya sangat kecewa pada Tria dan merasa gagal juga dalam membesarkan anak. Tria pun menangis setelah ibunya mengeluarkan semua keluh kesahnya yang selama ini ia pendam. Tria berjanji akan menjadi anak yang lebih baik lagi kedepannya.
Waktu terus berjalan. Tria akhirnya lulus dari sekolah. Setelah itu, Ristiana berencana ingin anak ketiganya itu untuk lanjut kuliah. Namun rencana tersebut tidak terwujud karena Tria memilih langsung bekerja saja seperti kakaknya, Dewi. Ia kemudian berhasil diterima bekerja di pabrik. Saat waktu libur, Tria menggeluti hobinya yaitu membuat kostum dan datang ke acara cosplay. Di sana, ia tak sengaja berkenalan dengan cosplayer cantik dan populer di sosial media yaitu Rani (Saskia Chadwick). Pertemuan tersebut kemudian berlanjut dan mereka resmi berpacaran. Tak lama setelah itu, keduanya memutuskan untuk menjalani hubungan yang lebih serius yaitu menikah. Tepat satu minggu sebelum acara pernikahan, Ridho tiba-tiba muncul di rumah tanpa rasa bersalah dengan tatapan kosong. Tama sangat marah dan berusaha mengusirnya. Namun Ristiana melarangnya karena bagaimanapun juga Ridho adalah ayah kandung dari Tama, Dewi dan juga Tria. Setelah satu malam, Ridho kemudian pergi meninggalkan rumah.
Tria dan Rani akhirnya resmi menikah. Mereka berdua memutuskan menempati kontrakan yang sudah disediakan oleh tempat kerja Tria. Kini, Ristiana hidup sendirian di rumah. Rasa rindu dan kangen sesekali menghampirinya. Ristiana pun menyadari jika kini tidak bisa lagi seperti dulu yang bisa kapan saja bertemu dan mengobrol dengan Tama, Dewi dan Tria, karena mereka sudah berumah tangga dan mempunyai urusan masing-masing. Di sisi lain, Tama, Dewi dan Tria pun menyadari, setelah mereka dewasa dan berumah tangga, jadi sibuk degan banyak urusan pekerjaan dan jadi jarang berkomunikasi juga dengan sang ibu. Impian Ristiana yang ingin tinggal bersama anak dan cucunya pun sulit terwujud karena berbagai alasan kuat baik itu dari Tama, Dewi maupun Tria. Bagaimana nasib Ibu Ristiana selanjutnya?


#Review:
Rumah produksi Leo Pictures kembali hadir dengan project film drama terbarunya yang berjudul JANGAN BUANG IBU (2026). Film yang diadaptasi dari novel best seller karya Wahyu Derapriyangga ini bisa dibilang sebagai salah satu project premium dari Leo Pictures. Selain dibintangi sederet aktor besar dan sutradara spesialis mencetak Box Office Hit, film ini juga menurutku punya serangkaian promosi yang sangat gencar, bahkan dari 3-6 bulan filmnya tayang di bioskop Indonesia. Diantaranya menggelar press conference seperti fashion show di Senayan City, roadshow sneak preview di beberapa kota Indonesia hingga menggelar konvoi di Car Free Day Jakarta.


Untuk segi cerita, sutradara Hadrah Daeng Ratu dan penulis naskah cerita Widya Arifianti berhasil menyajikan melodrama keluarga yang sangat kuat dalam memotret realitas sosial di era modern. Film berdurasi dua jam ini menyoroti fenomena pengabaian orang tua di usia senja akibat kesibukan anak-anaknya. Melalui narasi yang penuh empati, sang sutradara berhasil menyentuh sisi paling sensitif dari institusi keluarga, memaksa penonton bercermin pada hubungannya sendiri dengan orang tua yang usianya terus bertambah dan menua. Secara penceritaan, Hadrah Daeng Ratu dan Widya Arifianti memilih konsep non-linear yang memberikan dimensi emosional lebih dalam. Penonton diajak melihat kontras yang tajam antara kehangatan masa lalu saat sang ibu berjuang sendirian demi masa depan ketiga anaknya dengan realitas pahit di masa kini ketika ia justru kesepian di panti jompo. Setiap back to back plot yang dihadirkan pun eksekusinya selalu bagus, sesuai realitas dan pastinya mengharukan. Dinamika hubungan ketiga anaknya Ibu Ristiana pun dibuat sangat natural dan tidak terlalu meledak-ledak setiap mereka menghadapi konflik. Chemistry Tama, Dewi dan Tria sangatlah believable. Setiap keputusan dan alasan mereka bertiga yang belum bisa tinggal dengan ibu mereka juga tergolong make sense. Keputusan ditempatkan di panti jompo pun jadi hal yang tidak buruk, meskipun pada akhirnya...... duh gila sih! bikin nangis kejer!! Leo Pictures sudah berhasil menyajikan drama keluarga yang levelnya hampir setara dengan film nya Thailand, HOW TO MAKE MILLIONS BEFORE GRANDMA DIES (2024)!


Nonton showtime pertama, pulang-pulang nangis jelek!!

Selain alurnya yang sangat solid sekaligus tearjerker, kekuatan utama film JANGAN BUANG IBU (2026) terletak pada jajaran pemainnya yang tampil sangat emosional, khususnya Nirina Zubir sebagai Ibu Ristiana. Transformasi Nirina menjadi sosok ibu paruh baya dengan tiga lintas waktu berbeda dan kemudian menggunakan make-up prostetik terbayar lunas karena aktingnya sebagai Ibu Ristiana sangatlah emosional. Trio anaknya Ibu Ristiana yang diperankan Refal Hady, Amanda Manopo dan Saputra Kori juga tak kalah memukau. Ketiganya digambarkan dengan sangat abu-abu, tidak hitam-putih, sehingga penonton bisa memahami dilema batin generasi muda yang terjebak antara hidup mandiri bersama keluarga yang sudah dibangun dan kewajiban berbakti. Supporting casts seperti Jared Ali, Humaira Jahra, Basmalah Gralind, Erika Carlina, Fadly Faisal, Saska Chadwick hingga Dwi Sasono yang jadi super villain dalam film ini semakin memperlengkap kompleksitas film ini.
Overall, film JANGAN BUANG IBU (2026) bukanlah sekadar tontonan drama tearjerker semata, melainkan sebuah kritik sosial yang dikemas dengan manis, hangat dan penuh martabat. Keputusan menyertakan lagu klasik, ikonik, legendaris dan magis berjudul "Bunda" dari Melly Goeslaw menambah nilai tambah dan kesempurnaan film ini! The best so far from Leo Pictures!


[9/10Bintang]

Thursday, 25 June 2026

[Review] Power Ballad: Drama Musikal Ringan Tentang Dua Musisi Rebutan Hak Cipta Lagu!

 


#Description:
Title: Power Ballad (2026)
Casts: Paul Rudd, Nick Jonas, Peter McDonald, Marcella Plunkett, Beth Fallon, Jack Reynor, Havana Rose Liu, Rory Keenan, Paul Reid, Keith McErlean, Sophie Vavasseur, Emma Rose Creaner, Robert Mitchell, Juliette Crosbie
Director: John Carney
Studio: 30West, Screen Ireland, Likely Story, Lionsgate


#Synopsis:
Rick Power (Paul Rudd) adalah vokalis dari grup band spesialis untuk acara pernikahan yang berbasis di Dublin, Irlandia. Grup band yang diberi nama The Bride & Groove ini terpaksa mengubur mimpi mereka untuk menjadi bintang musik di Amerika Serikat setelah Rick mengambil keputusan menikah dengan orang Irlandia yaitu Rachel (Marcella Plunkett) dan menetap tinggal di sana setelah dikaruniai seorang anak perempuan bernama Aja (Beth Fallon). Setiap The Bride & Groove manggung di acara pernikahan, Rick selalu menyempatkan untuk membawakan lagu pop rock mereka. Namun sayang, respon dari personel band lain tidak setuju karena lagu-lagu band mereka mayoritas tidak laku dipasaran dan tidak diketahui juga oleh banyak orang. Alhasil, setiap mereka manggung, lagu-lagu populer dan mainstream saja yang dinyanyikan.
Suatu hari, The Bride & Groove mendapat undangan untuk tampil di pesta pernikahan George (Robert Mitchell) dan Barbara (Juliette Crosbie), yang diselenggarakan di sebuah kastil. Ketika Rick dan band nya sedang tampil, George memberi kejutan tamu undangan dengan menghadirkan temannya yaitu Danny Wilson (Nick Jonas), penyanyi muda terkenal yang sedang berencana untuk membuat debut album setelah menuai kesuksesan dalam sebuah grup boy band. The Bride & Groove awalnya menyepelekan dan memandang sebelah mata musikalitas dari para penyanyi di era modern ini karena semuanya terasa serba instan. Namun saat George meminta Danny untuk naik ke atas panggung dan berduet dengan The Bride & Groove, semua anggapan tersebut sirna. Rick dan yang lainnya terpukau dengan penampilan Danny yang bisa berkolaborasi sangat baik dengan mereka. Video duet Danny dengan The Bride & Groove yang direkam oleh para tamu undangan pun menjadi viral di sosial media.
Setelah pesta pernikahan selesai, malam harinya Rick tak sengaja bertemu lagi dengan Danny yang sedang menikmati suasana kastil. Karena memiliki passion yang sama dalam dunia musik, Danny mengajak Rick untuk masuk ke kamarnya dan memperlihatkan jika dirinya sedang menggarap album debutnya. Sepanjang malam itu, mereka minum, menghisap ganja, dan saling berbagi musik, aransemen dan lirik lagu. Rick kemudian menyanyikan sebuah lagu orisinal yang ia tulis sendiri berjudul "How to Write a Song (Without You)". Danny sangat terpukau dengan musikalitas Rick yang masih kuat meskipun kini hanya berprofesi sebagai grup band spesialis acara pernikahan saja. Keesokan harinya, Danny langsung kembali ke Los Angeles, Rick dan teman satu band nya kembali pulang ke Irlandia dengan mengendarai mobil van. Saat akan keluar dari kastil, Rick mendapat kado istimewa dari Danny berupa gitar klasik yang bernilai mahal sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk berbagi ilmu dan musik kemarin malam.
Tiba di Los Angeles, Danny bertemu dengan produsernya yaitu Mac Darling (Jack Reynor) dan langsung mengkritik lagu-lagunya karena dianggap terlalu pasaran. Demi mencari inspirasi baru, Danny memutar lagu Rick yang kemudian tidak sengaja terdengar oleh kekasihnya, Marcia (Havana Rose Liu). Setelah Danny selesai menyanyikannya, Marcia terpukau dengan aransemen serta lirik dari lagu tersebut. Marcia kemudian mendorong Danny untuk merekamnya dan merilisnya karena ia yakin lagu tersebut akan meledak di pasaran.
Enam bulan berlalu. Danny Wilson resmi merilis debut album berjudul "Evolve" dengan single perdananya yang berjudul "How to Write a Song (Without You)". Sesuai prediksi Marcia, lagu tersebut menjadi hit dan No. 1 di berbagai platform musik dan berhasil ditonton ratusan juta viewers di YouTube. Di sisi lain, Rick yang sedang berbelanja di mall, ia mendengar lagunya diputar namun dengan suara Danny Wilson. Rick mencoba meyakinkan diri dan orang-orang disekitarnya bahwa dialah yang menulis lagu tersebut. Namun sayang, Rick tidak bisa membuktikannya karena saat ia menyanyikan lagu tersebut di hadapan Danny, tidak orang lain dan tidak ada rekaman apapun untuk memperkuat keyakinannya. Rick berusaha menghubungi Danny dan juga pihak label namun tidak mendapat respon sama sekali.
Mac pun tak tinggal diam. Ia menemui Danny yang sedang syuting Music Video lagunya untuk mengkonfirmasi terkait tuduhan Rick. Mac lega setelah mendapat penjelasan Danny yang mengatakan jika saat sesi berbagi musik dan aransemen di pernikahan George kala itu, tidak ada saksi maupun bukti kuat tentang kepemilikan lagu tersebut ada di tangan Rick.
Karena sangat ingin mendapatkan pengakuan atas karyanya, Rick meyakinkan rekan bandnya, Sandy (Peter McDonald) untuk ikut terbang bersamanya ke Los Angeles. Keduanya nekat menghadiri konser World Tour nya Danny Wilson yang bertajuk "Evolve" dengan menggunakan uang tabungan mereka. Rick masih percaya jika Danny masih mempunyai rasa respect dan tidak akan menghindarinya. Berhasilkah Rick Power untuk mendapatkan pengakuan atas karya lagunya kepada Danny Wilson?


#Review:
Sutradara John Carney yang dikenal sebagai spesialis film-film bertema drama musikal kembali hadir dengan film terbarunya berjudul POWER BALLAD (2026). Yang menjadi daya tarik dari film ini yaitu sang sutradara menggandeng dua nama aktor besar Hollywood yaitu Scott Lang Paul Rudd dan Nick Jonas, penyanyi sekaligus personel dari grup musik The Jonas Brother.


Untuk segi cerita, film yang naskah cerita dan skenarionya ditulis oleh John Carney beserta Peter McDonald ini berhasil menyajikan komedi-drama musikal yang segar, emosional, sekaligus menyentil realitas industri musik modern. Film ini dengan cerdas mengontraskan dua dunia yang bertolak belakang dari Rick Power seorang vokalis band pernikahan lokal yang telah mengubur mimpi besarnya demi keluarga dan Danny Wilson mantan bintang boy band yang sedang berjuang mempertahankan eksistensinya di dunia musik sebagai solois. Premis perselisihan hak cipta sebuah lagu orisinal di antara keduanya menjadi konflik cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat akan konflik ego dan pencarian jati diri. Kekuatan utama film ini terletak pada chemistry yang dinamis sekaligus kontras performa yang luar biasa dari kedua pemeran utamanya. Paul Rudd berhasil keluar dari zona nyaman karakter komedi romantisnya yang biasa. Ia menampilkan akting memukau sebagai seorang ayah yang frustrasi, keras kepala, namun memiliki hati yang luar biasa lembut. Di sisi lain, Nick Jonas tampil sangat meyakinkan sebagai pop star yang sedang putus asa dan berada di zona abu-abu karena menjadi seorang musisi yang terdesak oleh tuntutan label dan industri musik. Apresiasi selanjutnya harus diberikan pada John Carney yang berhasil menjaga ritme cerita tetap seimbang, berpindah dari momen-momen komedi ke drama keluarga yang mengharukan dengan sangat mulus. Aspek musikal dalam film ini pun digarap dengan sangat serius. Lagu tema utama yang diperebutkan benar-benar terdengar seperti sebuah lagu hit yang emosional, membuat penonton memahami mengapa kedua karakter tersebut rela mempertaruhkan segalanya demi lagu tersebut.
Overall, film POWER BALLAD (2026) jadi tontonan hangat dan lucu dengan akhir yang menyentuh hati. Film ini tidak hanya berbicara tentang siapa yang menang atau kalah dalam perebutan hak cipta, melainkan tentang bagaimana seseorang berdamai dengan takdir dan menemukan kembali apa yang benar-benar berharga dalam hidupnya. Bagi pencinta film drama musikal yang kaya akan pesan moral, penampilan apik dari duet Rudd dan Jonas ini jelas menjadi sebuah tontonan yang tidak boleh terlewatkan!


[8.5/10Bintang]