Saturday, 11 April 2026

[Review] Project Hail Mary: Perjalanan Antariksa Untuk Menyelamatkan Matahari Agar Tidak Redup!

 




#Description:
Title: Project Hail Mary (2026)
Casts: Ryan Gosling, James Ortiz, Sandra Huller, Lionel Boyce, Milana Vayntrub, Ken Leung, Priya Kansara, Mia Soteriou, Annalle Olaleye, Maya Eva Hosein, Bastian Antonio
Director: Phil Lord, Christopher Miller
Studio: Lord Miller Productions, Pascal Pictures, Sony Pictures


#Synopsis:
Para peneliti dan ilmuwan internasional kini sedang mengamati secara intens perihal energi yang dikeluarkan oleh Matahari mulai meredup. Fenomena tersebut memunculkan adanya garis inframerah yang disebut dengan garis Petrova dan kemudian mengarah pada planet Venus. Jika tidak ditangani secara serius, dalam kurun waktu 30 tahun kedepan, redupnya energi Matahari akan berdampak terhadap planet Bumi, seperti penurunan suhu secara ekstrim dan menurunnya populasi manusia secara masif.



Eva Stratt (Sandra Huller) sebagai perwakilan dari pemerintah Amerika Serikat dan para ilmuwan dari seluruh dunia sedang meneliti mikroorganisme bernama Astrophage yang terdeteksi berkembang biak di permukaan Matahari. Astrophage bermigrasi secara masif menuju permukaan planet Venus dengan cara memakan karbon dioksida di atmosfer dan menciptakan gas emisi yang disebut sebagai garis Petrova. Garis tersebut dapat dimanfaatkan juga untuk menambah bahan bakar pesawat luar angkasa yang sangat efisien namun menyimpan bahaya juga di dalamnya. Untuk memperbaiki redupnya energi Matahari akibat Astrophage, Stratt dan seluruh ilmuwan internasional menyusun sebuah proyek penyelamatan yang diberi nama Project Hail Mary. Proyek tersebut akan mengirimkan beberapa ilmuwan menuju Tau-Ceti, satu-satunya bintang di luar angkasa yang belum terpapar mikroorganisme Astrophage.


Hasil penelitian sementara membuktikan jika organisme yang ada permukaan Tau-Ceti dapat memangsa Astrophage. Uji coba pun rutin dilakukan oleh para peneliti dengan harapan bisa meredupkan garis Petrova sehingga tidak ada celah lagi bagi Astrophage bermigrasi ke mana-mana.
Suatu hari, terjadi sebuah insiden ledakan besar di laboratorium tiga hari menjelang hari peluncuran. Kejadian tersebut menewaskan ilmuwan utama yang memimpin Project Hail Mary menuju bintang Tau-Ceti. Karena tidak ada waktu lagi untuk memberikan pelatihan, Eva Stratt memaksa Ryland Grace (Ryan Gosling), seorang ilmuwan ahli mikroorganisme dan molekuler yang kini berprofesi sebagai guru sekolah untuk mengikuti Project Hail Mary. Stratt sangat yakin Grace bisa diandalkan dalam project ini karena memiliki pengetahuan yang luas di bidangnya.


Waktu terus berlalu. Grace tiba-tiba terbangun dari koma dan mendapati dirinya ada di dalam pesawat luar angkasa Hail Mary. Ditengah kebingungannya itu, perlahan Grace mulai sadar jika ia sudah menjadi bagian dari Project Hail Mary yang saat ini sedang berada di sistem tata surya jauh dari planet Bumi dan menjadi satu-satunya survivor dari tiga awak pesawat yang mereka sudah meninggal. Sambil mengembalikan semua ingatannya, Grace kembali mempelajari tentang garis Petrova, mikroorganisme Astrophage, bintang Tau-Ceti hingga mencari cara agar pesawat Hail Mary bisa pulang secepatnya ke Bumi.



Setelah ingatannya kembali pulih, Grace membawa pesawat Hail Mary pergi menuju bintang Tau-Ceti yang ternyata memiliki organisme yang dapat memangsa dan mengendalikan berkembang biaknya mikroorganisme Astropgahe. Saat mendekati bintang Tau-Ceti, Grace melihat sebuah pesawat luar angkasa lain yang perlahan mulai mendekatinya. Dari pesawat itu, keluar sebuah beberapa bongkahan xenon yang sengaja dilemparkan ke Hail Mary. Grace meyakini jika hal tersebut merupakan upaya komunikasi dari Alien yang ada di dalam pesawat luar angkasa itu. Kini, kedua pesawat itu saling merapat dan langsung terhubung oleh terowongan yang dibuat Alien. Karena penasaran, Grace berjalan menyusuri terowongan dan di sana ia bertemu dengan pilot pesawat luar angkasa Alien yang berasal dari bintang Eridani 40. Grace kemudian memanggil Alien tersebut dengan nama Rocky (James Ortiz) karena berwujud batu dan berkaki lima. Untuk memperlancar komunikasi antara manusia dengan Alien tersebut, Grace menciptakan sistem penerjemah ucapan dan suara dari Rocky. Setelah itu, Grace mengetahui jika Rocky juga bernasib seperti dirinya yaitu sama-sama survivor yang sedang berusaha menghentikan migrasi masif dari Astrophage. Agar bisa leluasa berkomunikasi dan masuk ke pesawat Hail Mary, Rocky menciptakan pelindung tubuh dari xenon sebagai baju luar angkasa nya.



Perjalanan eksplorasi bintang Tau-Ceti yang dilakukan Grace dan Rocky menambah pengetahuan bagi mereka berdua. Di saat yang bersamaan, Rocky juga mengetahui jika Project Hail Mary yang dijalankan Grace adalah misi bunuh diri, karena bahan bakar pesawat Hail Mary dibuat untuk satu kali perjalanan saja. Rocky pun menawarkan bantuan pada Grace dengan memberikan sebagian Astrophage untuk mengisi ulang bahan bakar pesawat Hail Mary agar Grace bisa pulang ke planet Bumi. Setelah berhasil mendapatkan organisme di bintang Tau-Ceti, mereka berdua kemudian kembali ke garis Petrova untuk mengendalikan Astrophage sekaligus menjadikannya bahan bakar bagi pesawat mereka masing-masing.
Namun sayang, terjadi kebocoran bahan bakar yang mengakibatkan ledakan dan pesawat mereka berputar-putar tanpa henti hingga menyebabkan Grace pingsan. Rocky tak tinggal diam, ia memecahkan baju luar angkasanya untuk menyelamatkan Grace. Bagaimana nasib mereka berdua? Akankah bisa kembali ke planet masing-masing?


#Review:
Semester pertama tahun 2026, industri perfilman Hollywood diramaikan lagi dengan sebuah film sci-fi space terbaru yang berjudul PROJECT HAIL MARY (2026). Film yang diadaptasi dari novel fenomenal berjudul sama karya Andy Weir ini dibintangi aktor peraih empat nominasi Oscars yaitu Ryan Gosling dan disutradarai oleh duo Phil Lord dan Christopher Miller. Menariknya, film PROJECT HAIL MARY (2026) merupakan salah satu film Hollywood yang paling diantisipasi kehadirannya di bioskop di tahun 2026 karena berbagai faktor. Seperti, mendapat skor sempurna di Rotten Tomatoes, Letterboxd dan iMDB, kemudian filmnya menggunakan format Filmed For IMAX dan tayang di IMAX 70MM. Sehingga antusias pecinta film di bioskop langsung tinggi terhadap film ini.


Untuk segi cerita, film PROJECT HAIL MARY (2026) menghadirkan kisah tentang rasa kesepian yang ditinggal sendirian bukan lagi di kantor ataupun rumah, melainkan di pesawat luar angkasa dengan jarak sangatlah jauh dari planet Bumi. Premis ini seketika mengingatkan penonton akan film sci-fi space setipe seperti film GRAVITY (2013) dan film yang dibintangi Matt Damon yaitu THE MARTIAN (2015). Yang menjadi pembeda dan daya tarik luar biasa dari film PROJECT HAIL MARY (2026) jika harus dibandingkan dengan film-film sejenis, yaitu adanya elemen komedi serta hati yang sangat luar biasa hangat. Awalnya aku kira film PROJECT HAIL MARY (2026) akan full serius seperti PROMETHEUS (2012), INTERSTELLAR (2014) atau ARRIVAL (2016), tapi ternyata dugaanku salah besar. Plot penjelasan teknis tentang luar angkasa dan istilah-istilah ilmiah nya sih tetap ada dan cukup mudah diikuti oleh penonton awam yang belum baca bukunya, eksekusi bagian seriusnya juga bagus dengan menggunakan treatment cerita maju mundur secara back to back. Yang menjadi bagian terbaik sekaligus emosional bagi penonton saat berfokus pada bonding dan interaksi antara karakter Grace dengan alien batu bernama Rocky. Yap betul! Interaksi manusia dengan alien berwujud batu dalam film ini tampil sangat mengesankan dan membuatku nangis berkali-kali! Tangis haru yang dirasakan karakter Ryland Grace tersampaikan dengan sangat baik pada penonton. Pokoknya siapkan jiwa dan raga kamu saat film memasuki adegan karaoke sampai film selesai. It's very monumental and full of emotional!


Nonton PROJECT HAIL MARY (2026) di IMAX adalah pengalaman sinematik luar biasa!

Untuk jajaran pemain, sudah jelas bintang utamanya di sini adalah Ryan Gosling. Moment survival dihadirkan penuh jenaka olehnya. Selain itu, rasa kesepian dan akhirnya menemukan ketulusan dari karakter Rocky juga tersampaikan dengan luar biasa pada penonton. Thumbs up juga untuk pengisi suara Rocky yaitu James Ortiz serta Sandra Huller yang tampil serius sesuai porsinya di bagian serius dalam film ini. Tanpa bonding chemistry mereka bertiga, film PROJECT HAIL MARY (2026) pasti tidak akan semenyenangkan ini.


Duet sutradara Lord dan Miller membawa energi yang dinamis di segala aspek. Sinematografinya menangkap kemegahan sistem bintang Tau-Ceti dengan sangat indah, namun juga berhasil menangkap klaustrofobia di dalam pesawat Hail Mary. Cahaya-cahaya luar biasa indah serta adegan-adegan yang banyak menggunakan praktikal ketimbang CGI, menjadi nilai tertinggi selanjutnya untuk film PROJECT HAIL MARY (2026) ini. Urusan audio dan suara juga patut diacungi jempol, terutama cara mereka menerjemahkan bahasa Rocky yang berbasis frekuensi menjadi sesuatu yang bisa dipahami secara emosional oleh penonton. Overall, film PROJECT HAIL MARY (2026) tidak hanya mengandalkan ledakan atau ancaman berbahaya khas film-film sci-fi space pada umunya. Film ini merayakan optimisme dan keyakinan bahwa dengan kecerdasan, kerja sama, dan pengorbanan, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dipecahkan. Durasi 2 jam 35 menit sama sekali tidak berasa! Keren banget! Salah satu film Hollywood terbaik di tahun ini. No debat!


[10/10Bintang]

Friday, 10 April 2026

[Review] Danur 4 The Last Chapter: Asal-Usul Sosok Gaib Canting Akhirnya Terungkap!

 


#Description:
Title: Danur: The Last Chapter (2026)
Casts: Prilly Latuconsina, Zee Asadel, Dito Darmawan, Lewis Robert, Muhammad Fauzan, Zachary Ayden, Said Darian Rizqi, Fillio Dheno, Dian Nitami, Anya Zen, Gilang Devialdy, Fajar Nugra
Director: Awi Suryadi
Studio: MD Pictures, Pichouse Films


#Synopsis:
Beranjak dewasa, Risa (Prilly Latuconsina) memutuskan untuk menutup mata batinnya dan melepas hubungan bersama kelima teman hantunya yaitu Peter (Lewis Robert), William (Muhammad Fauzan), Hans (Zachary Ayden), Hendrick (Said Darian) dan Janshen (Fillio Dheno). Risa kini hidup normal yang sibuk bekerja sebagai ASN di pemerintahan Kota Bandung dan tak lagi merasakan hal-hal gaib seperti biasanya. Di rumah pun demikian, Risa hidup damai bersama ibunya, Ibu Elly (Dian Nitami) dan sang adik, Riri (Zee Asadel).
Suatu hari ketika sedang latihan balet di gedung kesenian, Riri mendapat kejutan ulang tahun yang sudah dipersiapkan pacarnya, Dimas (Dito Darmawan) dengan dibantu Risa. Di hari istimewanya itu, Riri dilamar oleh Dimas. Meskipun adiknya yang dilamar dan akan menikah duluan, Risa menyambutnya penuh dengan suka cita. Risa dan ibunya tak mempermasalahkan Riri melangkahi kakaknya untuk naik ke pelaminan. Setelah selesai latihan balet, Riri mendapatkan kado kecil berupa tusukan konde berwarna emas dari teman latihan baletnya. Sepulang dari latihan, perangai Riri mendadak berubah. Ia jadi pemurung, pendiam dan selalu mengatakan jika ia tidak mau menikah.
Di sisi lain, Peter dan yang lainnya ternyata masih berada di sekitaran keluarga Risa. Mereka belum sepenuhnya pergi meskipun Risa sudah tidak bisa merasakan lagi keberadaan mereka. Peter dan yang lainnya berusaha mencari cara untuk memberitahu Risa jika adiknya itu sedang diganggu oleh sosok gaib penunggu gedung kesenian bernama Canting (Anya Zen).
Waktu terus berlalu. Sikap Riri semakin lama semakin aneh. Dimas pernah memergoki Riri sedang menari dengan tarian aneh. Saat di rumah, Riri juga sering mengeluh dan semakin tidak ingin menikah dengan alasan akan membawa bencana bagi dirinya. Sementara itu, Risa juga sering mendapat pengelihatan di masa lalu tentang kematian tragis Peter, William, Hans, Hendrick dan Janshen di tangan para penjajah Jepang yang akhirnya kembali membukakan mata batinnya.
Sebelum menentukan tanggal yang baik untuk pernikahan Riri dengan Dimas, Ibu Elly mengundang kerabatnya untuk menggelar acara langkahan bagi Risa. Adat dan budaya tersebut dipercaya akan melindungi rumah tangga sang adik dan juga Risa sekaligus menghindari pamali. Ketika adat langkahan dimulai dengan Risa membasuh kedua kaki adiknya, tiba-tiba saja Riri kerasukan Canting dan berkali-kali menenggelamkan Risa hingga tak sadarkan diri. Dengan bantuan Peter dan yang lainnya, Risa berhasil selamat meskipun kini Riri tiba-tiba saja menghilang.
Setelah mata batinnya terbuka, Risa pun akhirnya bisa melihat lagi Peter, William, Hans, Hendrick dan Janshen. Risa berjanji tidak akan memutus hubungan dengan mereka berlima karena kehadiran mereka justru membantu dan juga melindungi keluarga Risa dari bahaya. Saat menemukan tusukan konde berwarna emas milik adiknya, Risa pun akhirnya bisa melihat masa lalu tragis dari Canting yang menjadi korban KDRT dari suaminya sendiri hingga meninggal ketika sedang hamil tua. Dengan bantuan Peter dan yang lainnya, Riri ditemukan di gedung kesenian dengan kondisi kesurupan Canting. Berhasilkah Risa melenyapkan Canting demi kebahagiaan adiknya?


#Review:
Setelah hampir 10 tahun meramaikan genre horror perfilman Indonesia, rumah produksi MD Pictures resmi mengakhiri franchise film Danur lewat film terbarunya yang berjudul DANUR: THE LAST CHAPTER (2026). Sebagai informasi, film ini menjadi film keempat bagi Danur Series dan film ketujuh dari Danur Cinematic Universe yang sudah eksis sejak tahun 2017.


Untuk segi cerita, film DANUR 4 (2026) kali ini masih seperti tiga film Danur Series sebelumnya yang mengisahkan karakter Risa Saraswati harus melindungi orang-orang disekitarnya dari gangguan mahkluk gaib. Sub judul The Last Chapter yang digunakan dalam film ini menurutku agak sedikit janggal sih, karena jika berfokus untuk farewell antara Risa dengan Peter CS sendiri sudah dilakukan di film DANUR 3: SUNYARURI (2019). Di film keempatnya ini, cerita dan skenario yang kembali ditulis oleh Lele Laila ini memiliki narasi mengungkap terror yang menimpa karakter Riri dan asal-usul dari sosok gaib penghuni gedung kesenian yaitu Canting. Motif dan alasan yang di-reveal di akhir film juga menurutku terlalu main aman. Awi Suryadi dan Lele Laila cenderung lebih suka telling story dengan pengembangan plot sangat sederhana di film keempatnya ini tanpa menghadirkan elemen horror superior khas film-film horror box office hit lokal kebanyakan. Jump scared yang ditebar sebanyak mungkin juga, tidak ada yang memorable buatku. Hampir semuanya predictable. Moment karakter Risa yang mengalami lima kali kematian dari Peter CS tampil dengan eksekusi grande lah yang berhasil membuatku terpukau. Efek visual pergantian dua alam yang dialami Risa juga tampil sangat matang dan setara dengan film-film horror Hollywood.
Untuk jajaran pemain, penampilan Prilly Latuconsina sebagai Risa memang menjadi andalan di film ini, terlepas dari dialog serta gesture nya yang terlalu repetitif, sehingga banyak sekali dialog mubazir baik yang diucapkan Risa maupun Riri, Elly, Dimas dan Peter CS. Keputusan recast yang lagi dan lagi dilakukan MD Pictures membuat sensasi nostalgia jadi berantakan. Karakter Riri sudah melekat dengan Sandrinna Michelle, kemudian perbedaan kreatif dari sosok Canting yang sebelumnya penari bergaya konde dan diperankan oleh Dea Panendra di post credit scene DANUR 2 MADDAH (2018), jadi berubah dengan visual rambut berantakan serta berwajah seram yang diperankan Anya Zen.
Overall, film DANUR 4: THE LAST CHAPTER (2026) cukup berhasil melengkapi semua pertanyaan tentang asal-usul Peter CS dan juga Canting meskipun tidak terlalu mengesankan.


[7/10Bintang]

Friday, 20 March 2026

[Review] A Useful Ghost: Cerita Absurd Tentang Arwah Yang Merasuki Alat Elektronik!



#Description:
Title: A Useful Ghost (2026)
Casts: Davika Hoorne, Witsarut Himmarat, Apasiri Nitibhon, Wanlop Rungkumjad, Wisarut Homhuan, Gandhi​ Wasuvitchayagit, Ornanong Thaisriwong, Kritpahat Srimangkornkaew, Wachara Kanha
Director: Ratchapoom Boonbunchachoke
Studio: 185 Films, Haut Les Mains, Momo Films, Mayana Films, GDH 559


#Synopsis:
Sejak revitalisasi area mall menjadi lebih luas dengan mengorbankan taman dan lahan di sekitarnya, tak sedikit para warga mengeluhkan akan polusi dan debu yang mengotori tempat tinggal mereka. Tak hanya itu saja, polusi pembangunan area mall tersebut menyebabkan gangguan kesehatan seperti bersin-bersin hingga sesak nafas. Salah satu warga yang mengeluhkan hal ini yakni Academic Ladyboy (Wisarut Homhuan). Selain bikin kotor ruangannya, polusi dan debu juga membuatnya harus sering membersihkan seluruh ruangan setiap hari. Karena lelah, Ladyboy pun memutuskan untuk membeli Vacuum Cleaner di toko elektronik terdekat. Setelah mendapatkan Vacuum Cleaner dengan harga yang murah, ia langsung menggunakannya untuk membersihkan semua area rumah.
Saat malam hari ketika sedang istirahat, Ladyboy mendengar suara batuk-batuk di dalam rumah. Awalnya ia mengira jika suara tersebut berasal dari rumah sebelah atau orang yang ada di luar. Namun setelah mengecek dari jendela, ia tak menemukan apapun. Pagi harinya, Ladyboy menemukan semua debu dan kotoran berada di luar Vacuum Cleaner yang telah ia bersihkan kemarin. Hal tersebut membuatnya marah dan langsung menghubungi toko untuk claim garansi kerusakan. Siang harinya, teknisi dari toko bernama Krong (Wanlop Rungkumjad) datang ke rumah Ladyboy dan memeriksa Vacuum Cleaner tersebut. Setelah ia cek, Krong memastikan jika Vacuum Cleaner tidak ada kerusakan, namun hanya dirasuki oleh salah satu hantu yang berasal dari pabrik yang memproduksi Vacuum Cleaner tersebut. Krong kemudian menceritakan berbagai kejadian aneh yang menimpa pabrik dan juga keluarga pemiliknya.
Ibu Suman (Apasiri Nitibhon) pewaris pabrik milik mendiang suaminya merasa terganggu dengan arwah salah satu karyawannya yang bernama Tok (Krittin Thongmai) meninggal ketika sedang bekerja. Anehnya, arwah Tok itu merasuki alat-alat elektronik di pabrik sambil menyalahkan Ibu Suman serta lingkungan pabrik yang dinilai mempercepat kematiannya.
Di sisi lain, anak bungsu dari Ibu Suman yaitu March (Witsarut Himmarat) sedang berduka atas kematian istrinya, Nat (Davika Hoorne) yang sedang hamil karena gangguan pernafasan. Ibu Suman tetap memprioritaskan bisnis dan pabriknya agar lisensi operasionalnya tidak dicabut. Ibu Suman bersama ketiga anaknya kemudian datang ke pabrik bersama beberapa cenayang untuk melakukan pengusiran arwah yang masih saja bergentayangan di sana. Ketika para cenayang sedang berinteraksi dengan arwah Tok, March tak sengaja melihat arwah mendiang istrinya berjalan menuju gudang. March kemudian mengejarnya. Setelah itu, Nat tak terlihat. Ketika March akan pergi, sebuah Vacuum Cleaner berwarna merah tiba-tiba bergerak sendiri dan berkata jika ia adalah Nat. Mereka berdua kemudian melepas rindu dan bercumbu di sana. Ibu Suman dan yang lainnya terkejut saat memergoki March sedang disedot oleh Vacuum Cleaner penuh gairah. Gara-gara kejadian tersebut, keluarga memutuskan membawa March ke rumah sakit untuk dirawat. Malam harinya, arwah Nat yang masih berada dalam Vacuum Cleaner kemudian keluar dari pabrik dan pergi menuju rumah sakit untuk menemui March. Tiba di rumah sakit, March sangat senang bisa kembali melihat mendiang istrinya itu dan menemaninya selama dirawat di rumah sakit. Kemunculan arwah Nat yang merasuki Vacuum Cleaner dan dibiarkan menemani March membuat kerabat dan keluarga besar Ibu Suman resah hingga meminta Ibu Suman segera mengambil tindakan agar tidak semakin parah.
Keesokan harinya, Ibu Suman dan kerabatnya memanggil para biksu untuk mengusir arwah Nat serta menyita Vacuum Cleaner dan diserahkan ke polisi sebagai barang bukti curian. Namun sayang, rencana tersebut gagal dilakukan setelah mendapat anjuran dari seorang menteri yaitu Dr. Paul (Gandhi Wasuvitchayagit) yang mengatakan jika arwah Nat adalah arwah yang baik. Hal tersebut sudah dibuktikan saat Nat menolongnya ketika sedang di rumah sakit. Merasa frustasi, Ibu Suman kemudian membawa March ke psikiater untuk melakukan terapi electroshock. Hal tersebut sangat diyakini Ibu Suman akan merusak ingatan March dan jika berhasil, maka March akan lupa dengan mendiang istrinya, otomatis ikatan arwah antara Nat dengan March akan terputus dan Nat pun akan menghilang selamanya. Setelah melakukan terapi tersebut, Nat memang masih bisa masuk ke dalam mimpi suaminya. Namun sayang, wujudnya perlahan mulai memudar. Karena tak ingin melihat March yang terus-terusan terapi pengobatan, Nat mendatangi mimpi Ibu Suman dan meminta untuk menghentikannya. Mereka pun kemudian membuat kesepakatan baru yaitu Ibu Suman ingin Nat membantunya untuk mengusir arwah-arwah yang masih menghuni pabriknya agar bisa kembali beroperasional.
Setelah sepakat, Ibu Suman meminta semua karyawannya kembali ke pabrik untuk bekerja. Di sana, ia menyusun rencana untuk membius para karyawan dan Nat pun masuk satu persatu ke alam mimpi mereka dengan harapan bisa menemukan orang yang masih punya keterikatan dengan arwah Tok yang masih gentayangan di pabrik. Nat dan Ibu Suman kemudian menemui pacarnya Tok yaitu Pin (Wachara Kanha) yang ternyata masih belum mengikhlaskan kepergian pacarnya itu. Saat berbincang dengan Tok, rupanya Tok sedang mendatangi Pin dalam mimpi sambil mencumbunya. Setelah mengetahui hal tersebut, Ibu Suman langsung memberikan pilihan pada Pin untuk mengikuti terapi electroshock agar menghilangkan ingatannya akan Pin dan bisa kembali bekerja di pabrik atau dipecat jika menolaknya. Opsi tersebut membuat Pin sangat marah dan merasuki kulkas lalu menyerang Nat yang ada dalam Vacuum Cleaner. Setelah itu, Pin diamankan dan kini Nat mendapat reputasi sebagai hantu baik, sehingga ia dapat dilihat oleh semua orang.
Mengetahui Nat yang kini dikenal sebagai hantu baik dan sudah menyelamatkan bisnis pabrik mertuanya membuat Dr. Paul dan istrinya tertarik mengundang Ibu Suman, March dan Nat ke kediaman mereka. Tiba di sana, Nat terkejut karena Dr. Paul dikelilingi banyak arwah yang berkaitan dengan peristiwa pembantaian di tahun 2010. Dr. Paul meminta bantuan pada Nat untuk mengidentifikasi setiap individu dari para arwah agar ingatan mereka dapat dihapus dengan menggunakan pengobatan seperti March yaitu Electroshock. Karena sel telur yang dibekukan miliknya ditahan oleh Dr. Paul, Nat pun bersedia membantunya. Namun sayang, rencana yang Nat lakukan bersama Dr. Paul itu justru membuat sang suami kesal dan menganggap Nat telah berubah. March kemudian mencoba menjaga ingatan tentang para arwah yang dimusnahkan agar tetap hidup dengan cara mempelajari sejarah kekerasan politik yang terjadi di Thailand. Bagaimana akhir cerita dari pasutri beda alam ini?


#Review:
Tahun 2025 kemarin, Thailand resmi mengirimkan film A USEFUL GHOST (2025) sebagai perwakilan mengikuti seleksi masuk nominasi Best International Feature Academy Awards yang ke-98. Meskipun gagal, film yang menjadi debut bagi Ratchapoom Boonbunchachoke sebagai sutradara dan penulis film layar lebar ini, sukses memenangkan penghargaan bergengsi di festival film internasional seperti Cannes, Sitges dan JAFF Jogja 2025.


Untuk segi cerita, film A USEFUL GHOST (2025) memang sesuai dengan judulnya yaitu mengisahkan tentang sesosok hantu yang bermanfaat. Meskipun mengusung tema supranatural, film ini sama sekali tidak mengumbar adegan-adegan horror maupun jump scared. Sang sutradara lebih mendekatkan cerita fantasi yang terkesan absurd di awal film. Entah berasal dari mana, ide alat elektronik macam Vacuum Cleaner, mesin pabrik, AC portable hingga kulkas bisa kerasukan arwah. Mungkin untuk di Thailand, fenomena alat-alat elektronik kerasukan sudah biasa kali ya? Aku sih saat menonton film ini merasa aneh, konyol dan tertawa melihat Vacuum Cleaner kerasukan dan kemudian bercumbu dengan enaknya bersama seorang pria. Hahahaha. Plot film A USEFUL GHOST (2026) terbagi menjadi dua yaitu tentang si Ladyboy dengan petugas reparasi dan keluarga Ibu Suman pemilik pabrik yang memproduksi barang elektronik. Setengah durasi film, cerita berfokus kepada struggling Ibu Suman agar pabriknya bisa kembali beroperasi setelah izinnya dicabut gara-gara ulah arwah gentayangan yang mengganggu operasional pabrik wkwkw. Sisi dramatic kemudian dihadirkan dari cerita anak bungsu Ibu Suman yaitu March yang baru saja kehilangan istri dan calon anaknya. Ditengah duka yang menyelimuti itu, arwah sang istri yaitu Nat masih belum pergi meninggalkan dunia karena Nat belum merelakan kepergian istrinya itu. Konsep arwah merasuki Vacuum Cleaner kemudian menjalankan misi membantu manusia lalu mendapat predikat hantu baik, hingga akhirnya bisa berwujud normal benar-benar out of the box sekali sang sutradara hahaha. Plot antara si Ladyboy dan tukang reparasi pun awalnya aku kira hanya sebatas having fun saja tanpa ada kaitannya dengan cerita keluarga Ibu Suman. Namun siapa sangka, memasuki babak pertengahan hingga akhir film, A USEFUL GHOST (2026) rupanya banyak sekali menyoroti permasalahan politik dan pemerintahan yang memang terjadi di Thailand. Kritik sosial semakin tajam lewat narasi cerita tentang masalah polusi yang semakin tinggi di kota-kota besar Thailand yang sering diabaikan pemerintah. Selain itu, kritik pemerintahannya datang penghapusan sejarah kelam politik di masa lalu dengan memanfaatkan hantu baik yaitu Nat. Jangan dilupakan juga akhir cerita film yang benar-benar menyatukan semuanya dengan cara yang tak terduga!
Untuk jajaran pemain, tipikal film-film Thailand yang selalu konsisten bagus dan juga konyol secara bersamaan hahaha. Chemistry dan akting dari Davika Hoorne, Witsarut Himmarat dan Apasiri Nitibhon sangatlah memuaskan. Untuk urusan visual, satu hal yang paling menonjol yaitu kesan aesthetic, simetris dan statis bisa penonton rasakan di sepanjang film. Sinematografi dan pengambilan gambar nya memang kece banget! Jadi sangat deserve masuk nominasi Camera d'Or di Cannes yang ke-78 kemarin.
Overall, film A USEFUL GHOST (2025) sukses jadi sajian drama supernatural fantasi yang absurd dan konyol tapi anehnya aku bisa menikmati itu semuaa! Hahaha


[8/10Bintang]

Wednesday, 18 March 2026

[Review] Bodycam: Ketika Dua Polisi Patroli Terjebak Dalam Situasi Mengerikan!

 



#Description:
Title: Bodycam (2026)
Casts: Jaime M. Callica, Sean Rogerson, Catherine Lough, Angel Prater, Keegan Connor, Chris Casson, Elizabeth Longshaw, Colette Nwachi, Joe Perry, Onyx Shelton, Kevin Doree
Director: Brandon Christensen
Studio: Essential Film Group, Super Chill Productions, Shudder


#Synopsis:
Dua polisi yang sedang patroli rutin di sore hari yaitu Bryce Anderson (Sean Rogerson) dan Jerome Jackson (Jaime M. Callica) menerima panggilan dari kantor pusat untuk mendatangi sebuah rumah di pinggiran kota yang meminta bantuan. Karena mobil Bryce dan Jerome berada paling dekat dengan rumah itu, mereka pun langsung menuju ke tempat tujuan. Dalam perjalanan, mobil mereka melintasi wilayah suburban pinggiran kota yang kumuh dan banyak tuna wisma dimana-mana.



Tiba di tujuan, Bryce dan Jerome langsung melakukan pengecekan sesuai dengan prosedur. Ketika mereka sedang menunggu di depan pintu rumah, terdengar suara teriakan perempuan dari dalam rumah. Karena khawatir, mereka berdua pun terpaksa masuk ke dalam rumah untuk mencari sumber suara tersebut. Untuk mempersingkat waktu keduanya berpencar. Bryce ke basement dan Jerome ke lantai atas. Saat menggeledah setiap ruangan, Jerome tak menemukan siapapun. Saat suara teriakan itu kembali terdengar, Jerome berlari menuju toilet di salah satu kamar dan di sana ia melihat seorang perempuan yang tangan dan kakinya berlumuran darah. Di sisi lain, Bryce yang masuk ke basement rumah menemukan seorang pria tak sadarkan diri dengan tangannya tertutup kain serta sebuah lubang besar di lantai. Saat akan menolongnya, pria tersebut kemudian tersadar dan mulai mendekati Bryce. Karena panik dan takut pria tersebut menyerangnya, Bryce terpaksa melayangkan tembakan. Pria tersebut langsung jatuh tersungkur dan meninggal. Mendengar suara tembakan, Jerome langsung berlari menuju basement. Saat dicek, pria tersebut rupanya sedang menggendong bayi yang baru dilahirkan dan masih berlumuran darah. Bryce semakin panik dan merasa bersalah karena ia tak bermaksud untuk menembak pria dan bayi tersebut. Bryce hanya berusaha melindungi dirinya karena saat menemukan pria tersebut, gerak-geriknya sangat mencurigakan.


Sambil mencari jalan keluar, Bryce dan Jerome kemudian melihat perempuan yang ada di lantai atas tadi berlari ke luar rumah. Saat dikejar, perempuan tersebut malah bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri di hadapan mereka. Bryce dan Jerome semakin panik karena dua kejadian tersebut tidak bisa mereka cegah. Bryce juga semakin merasa bersalah karena ia tak sengaja menembak pria yang ada di basement rumah dan semua aktifitas keduanya terekam dengan jelas lewat bodycam yang memang dipasang di seragam mereka. Bryce pun akhirnya mengambil keputusan untuk tidak melaporkan semua kejadian tersebut ke kantor asalkan Jerome mau diajak kerja sama dengannya.
Untuk menjalankan misinya, Bryce kemudian pergi ke sebuah toko bersama Jerome untuk bertemu dengan seorang hacker yaitu Espo (Angel Prater). Bryce meminta bantuan pada Espo untuk menghapus rekaman bodycam pada hari itu. Saat Espo melihat rekaman bodycam melalui laptop nya, ia terkejut dengan apa yang dilihat. Espo ketakutan karena sesuatu yang buruk telah terjadi. Ia pun memutuskan untuk tidak membantu Bryce dan meninggalkannya.


Ditengah situasi serba panik dan bingung, Jerome kemudian membawa Bryce pulang ke rumahnya untuk menenangkan diri sambil bertemu dengan sang ibu, Ally Jackson (Catherine Lough) yang memiliki indera keenam. Tiba di rumah, Ally langsung bisa merasakan jika ada yang tak beres dengan Bryce. Di dalam rumah, Ally menjelaskan pada Jerome jika posisi mereka saat ini sedang dalam bahaya. Bryce dan Jerome sedang diincar oleh sosok misterius bernama Underman yang kini sedang mengontrol para tuna wisma di wilayah suburban itu. Di saat yang bersamaan, Bryce semakin sering mengalami gangguan gaib. Orang-orang yang menghampiri Bryce selalu mengucapkan kalimat aneh yang mengatakan jika Bryce telah merenggut sesuatu dari mereka, saatnya giliran mereka yang merenggut semuanya.


Karena semakin stress, Bryce dan Jerome kemudian pergi menuju tempat awal untuk membereskan jasad di sana. Namun sayang, setibanya di sana, jasad tersebut menghilang dan meninggalkan jejak berupa tanda misterius yang dibuat dari lumuran darah. Mampukah mereka berdua keluar dari kejadian-kejadian gaib yang mengerikan tersebut?


#Review:
Platrorm streaming yang dikenal sebagai surganya untuk genre horror thriller yaitu Shudder baru saja merilis film terbaru berjudul BODYCAM (2026). Dari judulnya saja, penonton sudah bisa menebak dengan mudah jika film ini akan menggunakan sudut pandang dari dari kamera Bodycam. Trailer yang dirilis pun terbilang sangat menarik karena menggunakan teknik found footage, yang rasanya sudah lama sekali perfilman Hollywood tak lagi mengeksplor konsep seperti ini.


Untuk segi cerita, film BODYCAM (2026) menyajikan plot tentang dua petugas polisi yang sedang menjalankan tugasnya dengan rentang waktu hanya satu malam saja. Meskipun berdurasi singkat hanya 75 menitan saja, sutradara Brandon Christensen berhasil membangun intensitas ketegangan dari awal sampai akhir film. Penonton serasa ikut terlibat langsung dengan apa yang dihadapi duo polisi Bryce dan Jerome ketika mereka menjalankan tugasnya. Perjalanan mereka berdua menyusuri suburban dengan lingkungan sekitar banyak gelandangan dan tunawisma menjadi potret kelam sekaligus kritik sosial dibalik negara maju Amerika Serikat. Meskipun plot tidak fokus pada sisi kriminalitasnya, namun penonton bisa merasakan situasi was-was serta takut jika berada di situasi seperti itu. Ditambah lagi, gerak-gerik tunawisma yang dilewati kedua polisi itu semuanya sangat suspect.
Level ketegangan semakin meningkat ketika Bryce dan Jerome menggeledah rumah yang mencurigakan itu. Dengan teknik found footage lewat kamera Bodycam yang ditempel di dada mereka berdua, suasana creepy nya terasa sangat realistis! Journey dan struggle mereka berdua selama mencari jalan keluar dari serangkaian kejadian gaib itu terasa seperti kombinasi antara dokumenter kepolisian, film THE BLAIR WITCH PROJECT hingga franchise ikonik V/H/S. Meskipun endingnya sangat predictable, namun siapa sangka, sang sutradara punya kejutan yang menurutku sangat spektakuler saat karakter Jerome terjebak saat 'berkeliling kota' meminta bantuan. Kombinasi antara found footage lewat kamera bodycam dengan efek visual jalanan dan perkotaan yang gelap sukses membuatku takjub.
Untuk jajaran pemain, penampilan para aktornya sangat believable. Meskipun beberapa kali terlihat ada yang over expressive, namun hal tersebut bisa kita tolelir karena orang-orang tersebut memang dikendalikan oleh sosok gaib bernama Underman. Yang sedikit mengganjal dari film BODYCAM (2026) adalah latar belakang dari Underman dan alasannya mengincar Bryce, Jerome dan orang-orang disekitarnya tuh kenapa? Plot nya kurang tegas terhadap bagian ini.
Overall, film BODYCAM (2026) sukses mengobati kerinduan akan film-film bertema found footage yang sudah jarang lagi diangkat oleh sineas Hollywood. Seram dan bikin gregetan!


[8/10Bintang]

Thursday, 12 March 2026

[Review] Na Willa: Keseruan Eksplorasi Dunia Lewat Perspektif Anak-Anak Di Era 60an!

 



#Description:
Title: Na Willa (2026)
Casts: Luisa Andreena, Irma Rihi, Junior Liem, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Mbok Tun, Melissa Karim, Ira Wibowo, Agla Artalidia, Putri Ayudya, Fanny Fadillah, Nayla D. Purnama, Sita Nursanti, Fita Anggraini, Calvin Jeremy, Kawai Labiba, Muzakki Ramdhan, M. Adhiyat, Hifdzi Khoir
Director: Ryan Adriandhy
Studio: Visinema Studios


#Synopsis:
Seorang anak perempuan cantik bernama Na Willa (Luisa Andreena) mempunyai cita-cita ingin cepat tinggi seperti kedua orangtua nya yaitu Ma' Marie (Irma Rihi) dan Pa' Paul (Junior Liem). Selain itu, Na Willa juga ingin memiliki rambut keriting dan berkulit gelap seperti ibunya. Sambil bercanda, keinginan Na Willa tersebut terasa mustahil menurut ART di rumah yaitu Mbok Tun (Mbok Tun), karena menurutnya, anak perempuan biasanya menurun kepada ayahnya. Hal tersebut bisa terlihat dari fisik, warna kulit dan juga wajah dari Na Willa yang sangat oriental dan lebih mirip dengan ayahnya. Meskipun sang anak sedih, Ma' Marie selalu meyakinkan Na Willa jika sudah besar nanti pasti akan ada perubahan fisik yang menyesuaikan dengan keinginannya.



Di luar rumah, Na Willa memiliki tiga sahabat yaitu Farida (Freya Mikhayla), Dul (Azamy Syauqi) dan Bud (Arsenio Rafisqy). Mereka berempat tinggal berdekatan di gang kecil yang sama bernama Gang Krembangan. Hampir setiap hari, Farida, Dul dan Bud sering menghabiskan waktu di rumahnya Na Willa. Selain bermain di rumahnya Na Willa, mereka juga sering bermain di luar rumah seperti main layangan, kelereng, petak umpet dan engklek di lapangan dekat rumah. Disaat waktu senggang, Na Willa juga sering diajak ke pasar oleh ibunya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari sambil Na Willa nya dititipkan di toko sembako milik Cik Mien (Melissa Karim). Karena sifat Na Willa yang riang serta polos, Ciek Mien selalu memberikan minuman botol Orange Cruz secara gratis, meskipun sudah berulang kali dilarang oleh Ma' Marie karena takut menjadi kebiasaan.
Seiring berjalannya waktu, libur sekolah telah usai. Bud yang sudah masuk sekolah TK duluan jadi jarang bermain ketika sedang sekolah. Selain itu, Farida dan Dul juga tahun ini akan masuk sekolah sama seperti Bud. Otomatis, Na Willa kini sendirian selama ketiga temannya sedang belajar di sekolah. Melihat anaknya yang kesepian, Ma' Marie pun memutuskan untuk memberikan pendidikan belajar membaca dan menulis kepada Na Willa di rumah. Selain itu, Na Willa juga sering dibacakan buku-buku dan surat dari kiriman dari Pa' Paul yang sedang berlayar di lautan.


Suatu hari saat akhir pekan, Bud punya cita-cita ingin melihat kereta api melintas yang tak jauh dari Gang Krembangan. Namun akses gang menuju rel kereta selalu ditutup dan anak-anak dilarang melintas ke arah sana. Bud kemudian mencari jalan alternatif dan akhirnya berhasil menemukannya. Setelah yakin jalan tersebut aman, Bud ingin mengajak Na Willa, Farida dan Dul untuk menemaninya. Namun keesokan harinya, rencana Bud itu ketahuan oleh Ma' Marie dan langsung melarang Na Willa keluar rumah dengan alasan kiriman buku dan surat dari ayahnya akan datang. Tak lama setelah itu, terjadi insiden di rel kereta yang menyebabkan salah satu kaki Bud mengalami luka parah yang membuat warga di Gang Krembangan terkejut. Sejak kejadian tersebut para orangtua dari Na Willa, Farida dan Dul semakin protektif terhadap mereka.


Waktu terus berlalu. Na Willa merasa kesepian semenjak Bud dirawat di rumah sakit dan Farida, Dul sibuk sekolah. Ma' Marie masih belum merelakan jika anak semata wayangnya itu pergi ke sekolah. Keputusan belajar mandiri di rumah tersebut perlahan mulai menghambat interaksi sosial Na Willa dengan orang lain dan juga dunia. Setelah mendapat dukungan dari Pa' Paul, akhirnya Na Willa didaftarkan ke sekolah yang sama dengan Farida, Dul dan Bud. Mengetahui esok hari akan sekolah, membuat Na Willa sangat senang. Ia bahkan bangun lebih pagi karena sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Farida dan Dul di lingkungan yang baru.


Tiba di sekolah, rupanya Na Willa tidak satu kelas dengan Farida dan juga Dul. Na Willa masuk ke kelas berbeda bersama dengan Ibu Tini (Putri Ayudya), wali kelasnya. Di hari pertama sekolah, Na Willa hanya diizinkan untuk melihat siswa lain belajar saja oleh Ibu Tini. Karena merasa bosan, Na Willa kemudian berjalan ke depan kelas dan mengatakan jika ia sudah bisa membaca dan menulis. Ibu Tini ragu dengan ucapan Na Willa dan menyuruhnya untuk kembali ke kursi. Na Willa pun kesal, karena kemampuan membaca dan menulisnya diragukan oleh Ibu Tini dan siswa lain. Hingga terjadilah insiden yang menyebabkan Na Willa pergi dari kelas dan pulang ke rumah sambil menangis. Bagaimana reaksi Ma' Marie ketika melihat anaknya menangis sambil berkata jika ia tidak ingin lagi sekolah?


#Review:
Rumah produksi Visinema Studios siap meramaikan kembali libur Lebaran Idul Fitri tahun ini dengan merilis film untuk anak-anak berjudul NA WILLA (2026). Menariknya, Visinema bukan lagi menghadirkan film animasi seperti tahun lalu, melainkan sebuah film panjang yang diadaptasi dari novel best seller karya Reda Gaudiamo, dengan sutradara dan penulis cerita kembali dipegang oleh Ryan Adriandhy.


Aku berkesempatan hadir pada Press Screening dan Premiere film NA WILLA (2026) yang sukses digelar pada Selasa (10/3) kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada sesi wawancara, Ryan Adriandhy selaku sutradara memberikan penjelasan tentang cerita film ini berdasarkan perspektif dan dunia dari seorang anak perempuan di tahun 60an bernama Na Willa. Bersama dengan Visinema dan tentunya Ibu Reda, film ini bukan sekedar hanya bercerita saja, namun ingin mengajak penonton semua umur untuk membuka kembali kenangan-kenangan bahagia tanpa beban saat kita berusia anak-anak. Lebih lanjut, CEO dan para produser dari Visinema Studios yaitu Herry B. Salim, teteh Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari menambahkan, film keluarga bagi Visinema selalu dipandang lebih dari sekadar hiburan. Ia mengatakan Na Willa dirancang sebagai ruang emosional yang mempertemukan anak, orang tua, dan sisi anak-anak yang masih hidup dalam diri orang dewasa. Lebih lanjut, Intellectual Property Na Willa memiliki potensi menjadi IP lokal yang kuat, besar dan berkelanjutan. Maka tak heran, Visinema Studios optimis jika film NA WILLA (2026) dapat diterima secara positif oleh penonton dan sudah dipastikan jika cerita dunia Na Willa akan berlanjut di film-film selanjutnya.



Untuk segi cerita, film NA WILLA (2026) ini hampir sepenuhnya mengambil sudut pandang dari bocil perempuan dan teman-temannya yang tinggal di Gang Krembangan. Alhasil, sejak film dimulai saja, penonton sudah disuguhkan dengan berbagai pertanyaan "asbun" dan kepolosan khas anak-anak yang penuh rasa penasaran. Di paruh awal film ini, Ryan Adriandhy sangat detail dalam mengeksplor keseharian karakter Na Willa dengan orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Di rumah, kelucuan sering terjadi ketika ia tektokan dengan ibunya dan juga Mbok Tun. Saat berada di luar rumah, menghadirkan keseharian bocil. Meskipun plotnya terlihat ringan karena untuk anak-anak, namun siapa sangka, film NA WILLA (2026) juga turut mengangkat berbagai macam issue yang masih sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Contoh yang paling mencolok yaitu sikap over protective orang tua terhadap anak, meskipun awalnya dianggap lebay, tapi keputusan Ma' Marie bersikap seperti itu tuh ada alasan kuat perihal issue yang nanti terungkap di babak akhir film. Kemudian film ini juga turut menyoroti kehidupan dan definisi keluarga besar lewat keluarga Farida yang cukup disayangkan tidak dieksplor oleh Ryan. Terakhir, ditutup dengan cerita tentang usaha mendapatkan sekolah yang aman dan nyaman untuk Na Willa. Konflik yang dihadirkan film ini juga eksekusinya dibuat seceria mungkin. Chemistry dan happiness Na Willa saat bermain dengan Farida, Dul dan Bud juga terasa menembus ke luar layar. Persahabatan mereka nyata, hangat, lucu sekaligus believable seperti bocil-bocil pada umumnya. Tragedi yang sempat "memisahkan" mereka berempat juga yang seharusnya penuh duka, Ryan Adriandhy justru menyajikannya lebih fun lewat lagu ikonik "Sikilku Iso Muni".


Untuk jajaran pemain, Visinema Studios memang semakin handal dan presisi dalam urusan casting. Karakter Na Willa bagaikan hadir dan terlahir hanya untuk Luisa Andreena. Semangat membaranya dalam mengeksplorasi banyak hal sangat terpancar kuat. Bonding dan tektokannya dengan Irma Rihi juga selalu lucu karena memiliki perbedaan sifat yang mencolok. Kehadiran tiga aktor cilik lainnya juga semakin menambah semangat dan antusias keseluruhan cerita dalam film ini. Apresiasi juga harus diberikan pada aktor-aktor dewasanya yaitu Irma Rihi, Junior Liem, Mbok Tun, Ira Wibowo, Melissa Kariem, Putri Ayudya hingga Agla Artalidia yang ikut terbawa energi mereka seperti geng Na Willa.
Untuk urusan visual, film NA WILLA (2026) sudah dipastikan jadi salah satu karya produksi dengan visual paling memuaskan yang pernah dibuat oleh Visinema. Sepanjang durasi disuguhkan gambar yang tajam, terang, visual penuh warna, imaginatif dan magis, kemudian diperkaya juga dengan treatment semi musikal dan teatrikal di beberapa bagian. Sungguh menggemaskan!
Overall, film NA WILLA (2026) bisa dibilang berhasil memberikan bencmark yang semakin tinggi untuk film bertema anak-anak di industri perfilman Indonesia. Slice of life seorang anak di Surabaya era 60an yang lucu, menghibur sekaligus nostalgic akan masa-masa bocil yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman di luaran sana. Highly recommended untuk ditonton di bioskop mulai 18 Maret 2026!


[9/10Bintang]