#Description:
Title: 402 Rumah Sakit Angker Korea (2026)
Casts: Arbani Yasiz, Elang El Gibran, Saputra Kori, Diandra Agatha, Lea Ciarachel, Jang Han-Sol, Aylena Fusil
Director: Anggi Umbara
Studio: MD Pictures, Umbara Brothers Films, Pichouse Films
#Synopsis:
Demi menuruti permintaan para penonton setianya, kanal YouTube horor "Para Pemburu Hantu" yang dikelola oleh Juna (Arbani Yasiz), Bara (Elang El Gibran), dan Adit (Saputra Kori) terbang ke Korea Selatan. Mereka berencana menggelar siaran langsung di sebuah rumah sakit terbengkalai daerah Jeokyung bernama Yong-Won Hospital. Awalnya, mereka ingin mengunjungi rumah sakit terbengkalai yang ada di daerah Gonjiam, tetapi tempat tersebut sudah dibongkar oleh pemerintah. Dalam konten terbarunya ini, "Para Pemburu Hantu" berkolaborasi dengan kanal YouTube "Soul Sister" milik Arum (Diandra Agatha) dan Yuri (Lea Ciarachel). Kakak beradik ini dikenal lewat konten penelusuran ke berbagai tempat angker di Indonesia.
Setibanya di Korea Selatan, Juna mengajak timnya menemui Dae-Ho (Jang Han-Sol), pria keturunan Korea-Jawa yang sempat tinggal di Indonesia dan kini menetap di sana. Selain Dae-Ho, mereka juga akan ditemani oleh Tyas (Aylena Fusil), mahasiswi asal Indonesia yang terpilih untuk mengikuti eksplorasi tersebut. Sebelum menuju lokasi, Juna dan Dae-Ho mendatangi seorang cenayang untuk meminta doa perlindungan. Saat mengetahui rencana mereka, sang cenayang melarang keras karena Yong-Won Hospital sangat berbahaya untuk dikunjungi. Namun, Juna dan tim tetap keras kepala. Sang cenayang akhirnya memberikan jimat perlindungan kepada mereka semua untuk meminimalisir gangguan mistis.
Sehari sebelum penelusuran, Juna, Bara, Adit, Arum, dan Yuri bersantai menikmati suasana pusat kota Korea Selatan dengan dipandu Dae-Ho serta Tyas. Di sela-sela perjalanan, Dae-Ho dan Tyas menceritakan kisah kelam Yong-Won Hospital. Rumah sakit itu ditutup setelah pemiliknya, Jeong-Kyun Won, terbukti sebagai pimpinan sekte sesat yang menjanjikan kehidupan abadi, kekayaan melimpah dan kesehatan bagi para pengikutnya. Setelah ketahuan menyimpang, pemilik rumah sakit tersebut ditemukan tewas tak lama setelah seluruh pasiennya melakukan bunuh diri massal. Tempat itu kemudian dianggap terkutuk, terutama Ruangan 402 yang sering dijadikan lokasi ritual sekte. Tim "Para Pemburu Hantu" akan menjadi kreator pertama yang melakukan siaran langsung di sana, bahkan mereka juga berencana membobol ruangan tersebut. Juna, Bara, Adit, Arum, dan Dae-Ho sangat antusias menyiapkan penelusuran ini. Sebaliknya, Yuri dan Tyas yang skeptis justru memendam kekhawatiran mendalam. Namun, karena tergiur target tiga juta penonton yang berpotensi menghasilkan uang hingga 15 miliar rupiah, mereka semua akhirnya sepakat berangkat.
Keesokan harinya, tim berangkat menuju Yong-Won Hospital membawa perlengkapan lengkap. Sesampainya di gerbang utama, mereka masuk ke sana dengan berjalan kaki sambil membawa banyak peralatan dan mendirikan tenda tak jauh dari gedung rumah sakit. Menjelang tengah malam, Juna membagi tugas. Bara, Arum, Yuri, Dae-Ho, dan Tyas bertindak sebagai host siaran live, sementara Adit menjadi juru kamera. Masing-masing dari mereka dipasangi body rig camera agar penonton dapat menyaksikan sudut pandang pertama secara langsung. Di sisi lain, Juna bertugas memantau dan mengoperasikan siaran langsung berbayar via situs ghosthunters.com dari dalam tenda.
Tepat tengah malam, siaran dimulai di depan gedung. Tim mulai menyusuri koridor lantai satu yang gelap, lembap, dan berantakan. Di salah satu ruangan, mereka menemukan bingkai foto Jeong-Kyun Won bersama para pasiennya. Saat memeriksa kamar pasien lainnya, kamera Adit tak sengaja menangkap bayangan aneh yang bergerak di belakang Bara, hingga siaran terpaksa dijeda sejenak. Saat istirahat, Juna mengabarkan bahwa jumlah penonton telah menembus angka 200 ribu viewers. Kobaran semangat kembali membakar tim. Juna pun membagi tugas baru. Dae-Ho dan Tyas naik ke lantai empat untuk memasang kamera di koridor Kamar 402, Arum dan Yuri menyusuri lantai tiga, sedangkan Bara dan Adit mengeksplorasi lantai satu dan dua.
Tanpa sepengetahuan Dae-Ho, Arum, Yuri, dan Tyas, ternyata Juna, Bara, dan Adit telah menyiapkan Jelangkung untuk berkomunikasi dengan makhluk halus. Meski sempat ditolak karena dinilai berbahaya, Bara dan Adit berhasil meyakinkan tim bahwa ini hanyalah sarana komunikasi biasa. Arum diminta memegang papan permainan, sementara Tyas membacakan mantra yang diterjemahkan ke dalam bahasa Korea. Setelah tiga kali percobaan, Jelangkung bergerak sendiri dan membenarkan bahwa para pasien di sana bukanlah bunuh diri melainkan dibunuh secara massal. Tak lama, papan tersebut terbakar dan Tyas mendadak tak sadarkan diri seperti kerasukan. Mereka panik, berlari keluar ruangan, dan siaran langsung kembali dihentikan.
Kejadian itu membuat Arum, Yuri, dan Tyas ketakutan setengah mati. Juna berusaha menenangkan dan memberi pilihan untuk mundur. Namun, karena penonton telah mencapai satu juta orang, Bara dan Adit mendesak semua orang untuk bertahan agar perjuangan mereka tidak sia-sia. Siaran pun dilanjutkan dengan formasi berpencar. Arum menuliskan namanya di dinding lantai tiga sebagai tanda jejak, sementara Bara dan Adit masuk ke ruangan yang memiliki kolam pembaptisan kecil.
Di tempat lain, Yuri terkejut saat melihat boneka tradisional Korea yang tadinya ada di atas tempat tidur tiba-tiba berpindah ke dalam lemari. Kekhawatiran Yuri kian memuncak saat Adit secara ceroboh menyentuh benda-benda tersebut demi konten. Sementara itu dari dalam tenda, Juna terkejut karena boneka yang dipegang Adit itu sangat identik dengan boneka milik pasien di dalam foto yang mereka temui di lantai 1. Angka penonton pun melonjak mendekati dua juta viewers. Juna segera menghubungi Bara dan Adit untuk terus mempertahankan skenario rekayasa atau gimmick yang telah mereka rancang tanpa sepengetahuan anggota lain.Tim kemudian berkumpul di lantai tiga dan memasuki ruangan penuh peti kayu. Bara dengan iseng memasukkan tangannya ke dalam lubang salah satu peti kosong. Secara mengejutkan, lengannya ditarik kencang dari dalam hingga suasana menjadi kacau. Arum yang mengira Bara hanya berakting, nekat memasukkan tangannya sendiri. Seketika tangan Arum ditarik sangat kencang hingga ia berteriak kesakitan. Saat berhasil lepas, telapak tangannya terluka parah seperti bekas gigitan. Yakin nyawa mereka dalam bahaya, Arum dan Yuri memutuskan berhenti dan keluar dari rumah sakit.
Bara dan Adit mulai panik dan mencoba menghubungi Juna, sebab luka Arum jelas bukan bagian dari rekayasa mereka. Di saat bersamaan, Juna juga mulai merasakan banyak keanehan di dalam tenda. Namun karena tergiur angka viewers yang menyentuh 2,5 juta penonton, Juna tetap memerintahkan sisa tim untuk melanjutkan siaran. Dalam perjalanan keluar, Arum yang menahan sakit meminta maaf kepada Yuri karena sempat tidak memercayainya. Namun, ikatan kain pada pohon yang mereka jadikan penanda jalan justru membawa mereka berputar-putar di tempat yang sama. Arum dan Yuri tersesat dan menangis histeris di tengah kegelapan hutan.
Sementara itu, Bara dan Adit yang hendak menyusul ke lantai empat diminta masuk ke ruang pembaptisan karena Juna mendeteksi pergerakan gaib di sana. Begitu melangkah masuk, teror mengerikan menimpa mereka berdua. Seluruh benda di dalam ruangan melayang dan menghantam mereka. Bara dan Adit pun tumbang tak sadarkan diri. Bagaimanakah nasib seluruh anggota "Para Pemburu Hantu" selanjutnya? Mampukah mereka selamat dan keluar dari rumah sakit terkutuk itu?
#Review:
Rumah produksi MD Pictures kembali hadir dengan film horror terbarunya yang berjudul 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026). Film ini merupakan remake resmi dari film box office hit asal Korea Selatan berjudul GONJIAM HAUNTED ASYLUM (2018) yang dirilis delapan tahun yang lalu. Dengan mempertahankan konsep mockumentary dan found footage horror, mampukah versi Indonesia nya ini hadir setara dengan versi Korsel nya?
Untuk segi cerita, film 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026) memang tidak mengalami perubahan drastis dari plot maupun karakter. Yang menjadi pertanyaan mengganjal bagiku, ada urgensi apakah tim kreator "Para Pemburu Hantu" mengadakan live streaming di rumah sakit terbengkalai sampai harus ke Korea Selatan segala. Padahal tempat-tempat angker di Indonesia juga sangat melimpah haha. Paruh pertama film, penonton seperti dejavu saja karena masih serupa dengan versi Korsel. Keputusan kreatif mengganti latar belakang cerita dari Yong-Won Hospital, menghadirkan tour guide dari warga lokal dan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di sana lalu berkonsultasi pada Cenayang dan penggunaan Jelangkung berhasil memberikan ciri khas sekaligus pembeda untuk versi Indonesia nya ini. Memasuki babak pertengahan, hampir semua adegan horror, jump scared hingga dialog masih copy paste dari film aslinya. Cukup disayangkan sih, Anggy Umbara dan penulis Lele Laila memilih cari aman dan tidak menonjolkan kreativitas mereka di pertengahan film. Saat menuju akhir film, barulah sisi kreativitas dan eksplorasi cerita dihadirkan oleh keduanya. Keputusan ending film dibuat sadis dan penuh darah berhasil membuatku terkejut. Sad ending versi Indonesia terasa lebih mengenaskan karena motivasi yang dihadirkan tersebut jadi lebih "masuk" dengan latar sejarah kelam Yong-Won Hospital yang sudah dijelaskan di awal film.
Untuk jajaran pemain, harus diakui penampilan geng "Para Pemburu Hantu" masih bisa ditingkatkan lebih maksimal lagi. Tektokan obrolan mereka kurang natural dan believable. Saat kamera meng-capture setiap ekspresi para karakter serta aura sekumpulan konten kreator nya juga kurang meyakinkan. Untungnya saat memasuki babak akhir cerita yang menjadi pembeda dengan versi Korsel, totalitas ensemble casts yang rela "disiksa" patut diapresiasi.
Untuk urusan visual, konsep found footage film 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026) ini masih terasa film banget. Unsur raw, mentah dan hand held shaky nya terlihat editing banget. Ditambah lagi pantauan CCTV yang dipasang sebelum eksplorasi Yong-Won Hospital terlalu banyak. Perbandingan nya terasa sangat menonjol dengan versi Korsel yang lebih believable. Overall, film 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026) masih enjoyable untuk ditonton di bioskop berkat third act nya menyimpan kejutan yang tidak kita temukan di versi Korsel. Punya potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dan harus bisa lebih baik lagi!
[7.5/10Bintang]





















