Wednesday, 15 April 2026

[Review] The Drama: Ketika Rencana Pernikahan Diiringi Serangkaian Masalah Tak Terduga!

 


#Description:
Title: The Drama (2026)
Casts: Zendaya, Robert Pattinson, Alana Haim, Mamoudou Athie, Hailey Benton Gates, Jordyn Curet, Zoe Winters, Hannah Gross, Sydney Lemmon, Anna Baryshnikov, Michael Abbott, Dee Nelson, Damon Gupton, Ken Cheeseman, Doria Bramante
Director: Kristoffer Borgli
Studio: Square Peg, A24


#Synopsis:
Suatu hari di sebuah cafe di Cambridge, seorang kurator museum asal Inggris bernama Charlie Thompson (Robert Pattinson) berusaha mendekati seorang staff toko buku bernama Emma Harwood (Zendaya) yang sedang membaca buku. Untuk menarik perhatian, Charlie berpura-pura telah membaca salah satu buku. Namun sayang, Emma mengabaikannya. Karena merasa gagal, Charlie kemudian mendatangi Emma dan meminta maaf jika merasa terganggu dengan sikapnya barusan. Emma terkejut lalu menjelaskan jika dirinya tuli di salah satu telinganya sehingga tidak bisa mendengar dengan jelas maksud dari Charlie itu apa. Mereka kemudian berkenalan ulang. Sejak pertemuan awkward tersebut, keduanya menjadi dekat dan berpacaran.




Dua tahun kemudian, Emma dan Charlie memutuskan untuk menikah dengan tenggat waktu menuju hari pelaminan tinggal seminggu lagi. Meskipun terasa serba mendadak, keduanya berusaha mempersiapkan acara pernikahan semaksimal mungkin dengan mengundang sahabat-sahabat mereka yaitu Rachel (Alana Haim) beserta suaminya, Mike (Mamoudou Athie), lalu Misha (Hailey Gates) dan pacarnya, Blake (Michael Abbott) untuk menjadi grooms man dan brides maid. Selain itu, Emma dan Charlie turut mengundang musisi DJ Pauline (Sydney Lemmon) untuk memeriahkan pesta pernikahan mereka. Tak lupa juga merekrut wedding photographer yaitu Frances (Zoe Winters) untuk mengabadikan moment bahagia keduanya.


Suatu malam, Emma dan Charlie tak sengaja memergoki Pauline sedang mengkonsumsi heroin di taman dekat rumah. Charlie kemudian mendatangi Rachel dan Mike untuk mempertimbangkan ulang keterlibatan Pauline di pesta pernikahannya, karena khawatir akan merusak acara pesta. Emma tak tinggal diam, ia justru membela Pauline karena ia meyakini setiap orang pasti pernah melakukan hal buruk dalam hidup mereka. Hal tersebut kemudian memunculkan ide diantara mereka berempat untuk berkata jujur tentang hal buruk apa yang pernah dilakukan. Charlie mengaku jika pernah jadi pelaku cyberbullying ke teman sekelasnya hingga ia pindah rumah. Rachel mengaku pernah mengunci tetangganya yang keterbelakangan mental di lemari semalaman. Kemudian Mike mengaku pernah sengaja berlindung di balik orang lain saat diserang anjing dan orang tersebut terluka. Terakhir, Emma dengan ragu mengaku jika ia pernah berencana melakukan aksi penembakan di sekolah.


Pengakuan Emma tersebut membuat Charlie, Rachel dan Mike terkejut. Bahkan Rachel langsung teringat sepupunya, Samantha (Anna Baryshnikov) yang menjadi korban insiden penembakan dan membuatnya lumpuh. Sejak terbuka dan saling berkata jujur itu, Charlie jadi meragukan dirinya sendiri yang merasa belum sepenuhnya mengenal baik calon istrinya itu. Ketika mereka sedang berduaan, Charlie mendesak Emma untuk berkata jujur tentang masa lalunya. Emma mengaku punya rencana aksi penembakan tersebut karena depresi dan terpengaruh komunitas online yang mengedepankan kekerasan menggunakan senjata. Namun pengaruh tersebut tak berlangsung lama, setelah Emma melihat secara langsung dampak negatif dari penembakan massal terhadap komunitasnya. Emma memutuskan untuk meninggalkan segala aktivitas berbahaya itu dan kini menjadi aktivis di komunitas pengendalian senjata dari tangan masyarakat dan punya banyak teman.


Setelah saling terbuka satu sama lain, muncul rasa khawatir dalam diri Emma dan Charlie. Keduanya jadi punya opini serta pandangan berbeda yang menyebabkan hubungan menjadi sedikit renggang. Selain itu, Emma semakin sering mengalami mimpi buruk yang berkaitan dengan masa lalunya. Sementara itu, Charlie jadi sering paranoid dengan kondisi mental calon istrinya itu yang pernah terobsesi dengan berbagai senjata api. Meskipun demikian, keduanya tetap melanjutkan rencana pernikahan.
Semakin dekat dengan hari pernikahan, Charlie berusaha meyakinkan dirinya untuk tetap lanjut menikah atau tidak kepada orang-orang disekitarnya. Charlie menanyakan pada rekan kerjanya yaitu Misha (Hailey Gates) tentang reaksi bagaimana jika punya pacar yang memiliki masa lalu pernah merencanakan aksi penembakan di sekolah. Misha pun dengan tegas mengatakan jika pacarnya, Blake (Michael Abbott) melakukan hal tersebut, ia langsung melaporkannya ke polisi. Mendengar reaksi Misha tersebut membuat Charlie semakin putus asa dan sedih untuk mengambil keputusan. Karena saling curhat tersebut, Charlie terbawa suasana sambil melepas pakaian dan menciumi Misha. Untungnya mereka berdua langsung sadar dan menghentikannya. Charlie dan Misha sepakat untuk tidak menceritakan apa yang mereka lakukan pada Emma dan juga Blake.


Hari pernikahan Emma dan Charlie pun tiba. Rachel memberikan pidato pernikahan untuk kedua mempelai secara blak-blakan setelah persahabatannya dengan Emma merenggang. Tak hanya itu saja, Emma tak sengaja mendengar obrolan dari tamu undangan lain perihal rencana penembakan sekolah yang ia lakukan di masa lalu dan langsung melaporkannya pada sang suami. Charlie pun langsung mendatangi Misha dan terjadi miskomunikasi yang membuka kejadian Charlie dan Misha hampir saja bercumbu beberapa sebelum acara pernikahan. Bagaimana nasib pernikahan Emma dan Charlie?


#Review:
Awal bulan Desember kemarin, para pecinta film dikejutkan dengan munculnya artikel pengumuman di surat kabar The Boston Globe tentang tunangan dan rencana pernikahan dengan foto terlampir aktris Zendaya dengan Robert Pattinson. Seperti yang kita ketahui, Zendaya adalah pacar dari Tom Holland dan sudah menjalani hubungan sejak tahun 2021 lalu. Selama lima tahun terakhir pun keduanya nampak harmonis dan tidak ada issue mereka putus. Tapi kok, tiba-tiba Zendaya tunangan dengan Robert Pattinson? Setelah ditelusuri, rupanya artikel berita tersebut adalah gimmick promosi untuk project film drama produksi A24 yang berjudul THE DRAMA (2026) yang disutradarai oleh Kristoffer Borgli.


Untuk segi cerita, film THE DRAMA (2026) diawali dengan scene manis dan menggemaskan yang sering sekali kita temukan di film atau series drama romantis. Pertemuan tak sengaja antara Emma dan Charlie tersebut kemudian berlanjut sampai dua tahun dan menjadi pondasi untuk hubungan mereka ke arah yang lebih serius lagi. Memasuki babak pertengahan film, barulah sang sutradara banting setir genre dan suasana yang tadinya serba menggemaskan jadi thriller psikologis. Moment jujur-jujuran dengan sahabat sebelum menikah yang akhirnya membuka masa lalu dari masing-masing karakter secara mengejutkan. Borgli mengeksplorasi masa lalu versus identitas masa kini dari karakter Emma Harwood yang mendapatkan social judge gara-gara pernah punya niatan untuk melakukan aksi penembakan di sekolah. Padahal Emma sendiri sama sekali tidak melakukannya, namun sudah diperlakukan seperti penemabakan itu benar-benar kejadian. Hal inilah yang menjadi kritik sosial atas fenomena sikap social judge yang sering kita temukan di kehidupan sekitar. Llemen mimpi buruk Emma dan obsesi visual Charlie terhadap senjata untuk menciptakan atmosfer yang mencekam. Adegan pernikahan di babak ketiga adalah puncak dari segala kecanggungan. Alih-alih menjadi momen bahagia, pernikahan tersebut menjadi ajang penghancuran karakter di depan publik. Pidato Charlie yang berniat membela Emma namun malah membongkar perselingkuhannya sendiri adalah momen komedi satir bagi penonton yang menyaksikannya.
Untuk jajaran pemain, Zendaya memberikan penampilan yang sangat berbeda dari film atau series yang pernah ia mainkan. Sebagai Emma, Zendaya harus memerankan karakter yang terjebak dalam rasa bersalah masa lalu sekaligus rasa sakit karena dihakimi oleh orang-orang yang ia cintai. Ia berhasil menampilkan sosok yang rapuh namun tetap defensif. Keheningan Emma di paruh kedua film terasa sangat berat dan emosional. Robert Pattinson memerankan Charlie dengan energi yang sangat tidak stabil. Penonton diajak melihat transisinya dari seorang tunangan yang suportif menjadi pria yang paranoia dan akhirnya melakukan tindakan destruktif yaitu berselingkuh dengan karakter Misha. Lalu, Alana Haim menunjukkan jangkauan akting yang semakin memukau sebagai Rachel. Haim memerankan Rachel dengan sikap yang angkuh, merasa paling benar, dan sangat menghakimi Emma. Definisi toxic friend yang bersembunyi di balik dinding moralitas wkwkwk!
Overall, film THE DRAMA (2026) yang awalnya dibuka dengan drama romantis dari pacaran menuju rencana pernikahan kemudian menjadi sebuah studi karakter yang provokatif tentang penghakiman sosial dan kemunafikan manusia. Keren!


[8.5/10Bintang]

Saturday, 11 April 2026

[Review] Project Hail Mary: Perjalanan Antariksa Untuk Menyelamatkan Matahari Agar Tidak Redup!

 


#Description:
Title: Project Hail Mary (2026)
Casts: Ryan Gosling, James Ortiz, Sandra Huller, Lionel Boyce, Milana Vayntrub, Ken Leung, Priya Kansara, Mia Soteriou, Annalle Olaleye, Maya Eva Hosein, Bastian Antonio
Director: Phil Lord, Christopher Miller
Studio: Lord Miller Productions, Pascal Pictures, Sony Pictures


#Synopsis:
Para peneliti dan ilmuwan internasional kini sedang mengamati secara intens perihal energi yang dikeluarkan oleh Matahari mulai meredup. Fenomena tersebut terjadi karena munculnya garis inframerah yang disebut dengan garis Petrova dan kemudian mengarah pada planet Venus. Jika tidak ditangani secara serius, dalam kurun waktu 30 tahun kedepan, redupnya energi Matahari akan berdampak terhadap planet lain termasuk Bumi. Jika tidak segera ditangani, akan menyebabkan penurunan suhu di permukaan bumi secara drastis dan mengancam umat manusia.



Eva Stratt (Sandra Huller) sebagai perwakilan dari pemerintah Amerika Serikat dan para ilmuwan dari seluruh dunia sedang meneliti mikroorganisme bernama Astrophage yang terdeteksi berkembang biak di permukaan Matahari. Astrophage bermigrasi secara masif menuju permukaan planet Venus dengan cara memakan karbon dioksida di atmosfer dan menciptakan gas emisi yang disebut sebagai garis Petrova. Garis tersebut dapat dimanfaatkan juga untuk menambah bahan bakar pesawat luar angkasa yang sangat efisien namun menyimpan bahaya juga di dalamnya. Untuk memperbaiki redupnya energi Matahari akibat Astrophage, Stratt dan seluruh ilmuwan internasional menyusun sebuah proyek penyelamatan yang diberi nama Project Hail Mary. Proyek tersebut akan mengirimkan beberapa ilmuwan menuju Tau-Ceti, salah satu bintang di luar angkasa yang belum terpapar mikroorganisme Astrophage.


Hasil penelitian sementara membuktikan jika organisme yang ada permukaan Tau-Ceti dapat memangsa Astrophage. Uji coba pun rutin dilakukan oleh para peneliti dari sample mikroorganisme yang didapatkan dengan harapan bisa meredupkan garis Petrova, sehingga tidak ada celah lagi bagi Astrophage bermigrasi ke mana-mana.
Suatu hari, terjadi sebuah insiden ledakan besar di laboratorium tiga hari menjelang hari peluncuran. Kejadian tersebut menewaskan ilmuwan utama yang memimpin Project Hail Mary. Karena tidak ada waktu lagi untuk memberikan pelatihan kepada orang lain, Eva Stratt memaksa Dr. Ryland Grace (Ryan Gosling), seorang ilmuwan ahli mikroorganisme dan molekuler yang kini berprofesi sebagai guru sekolah untuk mengikuti Project Hail Mary. Stratt sangat yakin Grace bisa diandalkan dalam project ini karena memiliki pengetahuan yang luas di bidangnya.


Waktu terus berlalu. Grace tiba-tiba terbangun dari koma dan mendapati dirinya ada di dalam pesawat luar angkasa Hail Mary. Ditengah kebingungannya itu, perlahan Grace mulai sadar jika ia sudah menjadi bagian dari Project Hail Mary yang saat ini sedang sudah berada sangat jauh dari Bumi, Selain itu, Grace juga menjadi satu-satunya survivor dari tiga awak pesawat yang sudah meninggal. Sambil mengembalikan semua ingatannya, Grace kembali mempelajari tentang garis Petrova, mikroorganisme Astrophage, bintang Tau-Ceti hingga mencari cara agar pesawat Hail Mary bisa pulang secepatnya ke Bumi.



Seiring berjalannya waktu, ingatan Grace perlahan mulai pulih, Grace langsung membawa pesawat Hail Mary menuju bintang Tau-Ceti untuk mendapatkan organisme yang dapat memangsa dan mengendalikan berkembang biaknya Astrophage. Saat mendekati orbit Tau-Ceti, Grace melihat sebuah pesawat luar angkasa lain yang perlahan mulai mendekatinya. Dari pesawat itu, keluar sebuah beberapa bongkahan xenon yang sengaja dilemparkan ke Hail Mary. Grace meyakini jika hal tersebut merupakan upaya komunikasi dari Alien yang ada di dalam pesawat luar angkasa itu. Setelah terlihat aman dan tidak berbahaya, kedua pesawat itu saling merapat dan langsung terhubung oleh sebuah terowongan. Karena penasaran, Grace berjalan menyusuri terowongan tersebut dan bertemu dengan pilot pesawat luar angkasa Alien yang berasal dari sebuah bintang bernama 40 Eridani. Grace kemudian memanggil Alien tersebut dengan nama Rocky (James Ortiz) karena berwujud batu dan berkaki lima. Untuk memperlancar komunikasi antara dirinya dengan Rocky, Grace menciptakan sistem penerjemah ucapan dan suara dari Rocky. Setelah itu, Grace mengetahui jika Rocky juga bernasib seperti dirinya yaitu sama-sama survivor yang sedang berusaha menghentikan migrasi masif dari Astrophage.



Perjalanan eksplorasi bintang Tau-Ceti yang dilakukan Grace dan Rocky menambah pengetahuan baru bagi mereka berdua. Di saat yang bersamaan, Rocky juga mengetahui jika Project Hail Mary yang dijalankan Grace adalah misi bunuh diri, karena bahan bakar pesawat Hail Mary dibuat untuk satu kali perjalanan saja. Berkaca pada kegagalannya dalam menyelamatkan rekan-rekannya, Rocky pun menawarkan bantuan pada Grace dengan memberikan sebagian Astrophage untuk mengisi ulang bahan bakar pesawat Hail Mary agar Grace bisa pulang ke planet Bumi. Setelah berhasil mendapatkan organisme yang diinginkan di bintang Tau-Ceti, mereka kemudian kembali ke garis Petrova untuk mengendalikan Astrophage sekaligus menjadikannya bahan bakar untuk pesawat mereka masing-masing.
Namun sayang, terjadi kebocoran bahan bakar yang mengakibatkan ledakan dan pesawat mereka berputar-putar tanpa henti hingga menyebabkan Grace terluka dan tak sadarkan diri. Rocky tak tinggal diam, ia memecahkan baju luar angkasanya demi menyelamatkan Grace. Bagaimana nasib mereka berdua? Akankah bisa kembali ke planet masing-masing?


#Review:
Semester pertama tahun 2026, industri perfilman Hollywood diramaikan lagi dengan sebuah film sci-fi space terbaru yang berjudul PROJECT HAIL MARY (2026). Film yang diadaptasi dari novel fenomenal berjudul sama karya Andy Weir ini dibintangi aktor peraih empat nominasi Oscars yaitu Ryan Gosling dan disutradarai oleh duo Phil Lord dan Christopher Miller. Menariknya, film PROJECT HAIL MARY (2026) merupakan salah satu film Hollywood yang paling diantisipasi kehadirannya di bioskop di tahun 2026 karena berbagai faktor. Seperti, mendapat skor sempurna di Rotten Tomatoes, Letterboxd dan iMDB, kemudian filmnya menggunakan format Filmed For IMAX dan tayang di IMAX 70MM. Sehingga antusias pecinta film di bioskop langsung tinggi terhadap film ini.


Untuk segi cerita, film PROJECT HAIL MARY (2026) menghadirkan kisah tentang rasa kesepian yang ditinggal sendirian bukan lagi di kantor ataupun rumah, melainkan di pesawat luar angkasa dengan jarak sangatlah jauh dari planet Bumi. Premis ini seketika mengingatkan penonton akan film sci-fi space setipe seperti film GRAVITY (2013) dan film yang dibintangi Matt Damon yaitu THE MARTIAN (2015). Yang menjadi pembeda dan daya tarik luar biasa dari film PROJECT HAIL MARY (2026), yaitu adanya elemen komedi serta menyimpan banyak moment mengharukan di dalamnya. Awalnya aku kira film PROJECT HAIL MARY (2026) akan full serius seperti PROMETHEUS (2012), INTERSTELLAR (2014) atau ARRIVAL (2016), tapi ternyata dugaanku salah besar. Plot penjelasan teknis tentang luar angkasa dan istilah-istilah ilmiah nya sih tetap ada dan cukup mudah diikuti oleh penonton awam yang belum baca bukunya. Eksekusi bagian seriusnya juga terbilang sangat bagus dengan menggunakan treatment cerita maju mundur secara back to back. Yang menjadi bagian terbaik sekaligus emosional bagi penonton ketika plot mulai berfokus pada bonding dan interaksi antara karakter Grace dengan alien batu bernama Rocky. Yap betul! Interaksi manusia dengan alien berwujud batu dalam film ini tampil sangat mengesankan dan membuatku nangis berkali-kali! Tangis haru dari karakter Ryland Grace tersampaikan dengan sangat baik pada penonton. Pokoknya siapkan jiwa dan raga kamu saat film memasuki adegan karaoke sampai film selesai. It's very monumental and full of emotional!



Dua hari berturut-turut nonton PROJECT HAIL MARY (2026) di IMAX nya Cinema XXI Mall Kelapa Gading adalah pengalaman sinematik luar biasa!

Untuk jajaran pemain, sudah jelas bintang utamanya di sini adalah Ryan Gosling. Moment survival dihadirkan penuh jenaka olehnya. Selain itu, rasa kesepian dan akhirnya menemukan partner yang tulus dari karakter Rocky juga tersampaikan dengan luar biasa pada penonton. Thumbs up juga untuk pengisi suara Rocky yaitu James Ortiz serta Sandra Huller yang tampil serius sesuai porsinya di bagian serius dalam film ini. Tanpa bonding chemistry mereka bertiga, film PROJECT HAIL MARY (2026) pasti tidak akan semenyenangkan ini.


Duet sutradara Lord dan Miller membawa energi yang dinamis di segala aspek. Sinematografinya menangkap kemegahan bintang Tau-Ceti dengan sangat indah, namun juga berhasil menangkap klaustrofobia di dalam pesawat Hail Mary. Cahaya-cahaya luar biasa indah serta adegan-adegan yang mayoritas banyak menggunakan praktikal ketimbang CGI, menjadi nilai tertinggi selanjutnya untuk film PROJECT HAIL MARY (2026) ini. Urusan audio dan suara juga patut diacungi jempol, saat adegan-adegan di luar angkasa, kombinasi visual dan audinya sangat spektakuler. Lebih lanjut, proses kreatif untuk menerjemahkan bahasa Rocky yang berbasis frekuensi menjadi sesuatu yang bisa dipahami secara emosional oleh penonton. Overall, film PROJECT HAIL MARY (2026) tidak hanya mengandalkan ledakan atau ancaman berbahaya khas film-film sci-fi space pada umunya. Film ini merayakan optimisme dan keyakinan bahwa dengan kecerdasan, kerja sama, dan pengorbanan, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dipecahkan. Durasi 2 jam 35 menit sama sekali tidak berasa! Keren banget! Salah satu film Hollywood terbaik di tahun ini. No debat!


[10/10Bintang]

Friday, 10 April 2026

[Review] Danur 4 The Last Chapter: Asal-Usul Sosok Gaib Canting Akhirnya Terungkap!

 


#Description:
Title: Danur: The Last Chapter (2026)
Casts: Prilly Latuconsina, Zee Asadel, Dito Darmawan, Lewis Robert, Muhammad Fauzan, Zachary Ayden, Said Darian Rizqi, Fillio Dheno, Dian Nitami, Anya Zen, Gilang Devialdy, Fajar Nugra
Director: Awi Suryadi
Studio: MD Pictures, Pichouse Films


#Synopsis:
Beranjak dewasa, Risa (Prilly Latuconsina) memutuskan untuk menutup mata batinnya dan melepas hubungan bersama kelima teman hantunya yaitu Peter (Lewis Robert), William (Muhammad Fauzan), Hans (Zachary Ayden), Hendrick (Said Darian) dan Janshen (Fillio Dheno). Risa kini hidup normal yang sibuk bekerja sebagai ASN di pemerintahan Kota Bandung dan tak lagi merasakan hal-hal gaib seperti biasanya. Di rumah pun demikian, Risa hidup damai bersama ibunya, Ibu Elly (Dian Nitami) dan sang adik, Riri (Zee Asadel).
Suatu hari ketika sedang latihan balet di gedung kesenian, Riri mendapat kejutan ulang tahun yang sudah dipersiapkan pacarnya, Dimas (Dito Darmawan) dengan dibantu Risa. Di hari istimewanya itu, Riri dilamar oleh Dimas. Meskipun adiknya yang dilamar dan akan menikah duluan, Risa menyambutnya penuh dengan suka cita. Risa dan ibunya tak mempermasalahkan Riri melangkahi kakaknya untuk naik ke pelaminan. Setelah selesai latihan balet, Riri mendapatkan kado kecil berupa tusukan konde berwarna emas dari teman latihan baletnya. Sepulang dari latihan, perangai Riri mendadak berubah. Ia jadi pemurung, pendiam dan selalu mengatakan jika ia tidak mau menikah.
Di sisi lain, Peter dan yang lainnya ternyata masih berada di sekitaran keluarga Risa. Mereka belum sepenuhnya pergi meskipun Risa sudah tidak bisa merasakan lagi keberadaan mereka. Peter dan yang lainnya berusaha mencari cara untuk memberitahu Risa jika adiknya itu sedang diganggu oleh sosok gaib penunggu gedung kesenian bernama Canting (Anya Zen).
Waktu terus berlalu. Sikap Riri semakin lama semakin aneh. Dimas pernah memergoki Riri sedang menari dengan tarian aneh. Saat di rumah, Riri juga sering mengeluh dan semakin tidak ingin menikah dengan alasan akan membawa bencana bagi dirinya. Sementara itu, Risa juga sering mendapat pengelihatan di masa lalu tentang kematian tragis Peter, William, Hans, Hendrick dan Janshen di tangan para penjajah Jepang yang akhirnya kembali membukakan mata batinnya.
Sebelum menentukan tanggal yang baik untuk pernikahan Riri dengan Dimas, Ibu Elly mengundang kerabatnya untuk menggelar acara langkahan bagi Risa. Adat dan budaya tersebut dipercaya akan melindungi rumah tangga sang adik dan juga Risa sekaligus menghindari pamali. Ketika adat langkahan dimulai dengan Risa membasuh kedua kaki adiknya, tiba-tiba saja Riri kerasukan Canting dan berkali-kali menenggelamkan Risa hingga tak sadarkan diri. Dengan bantuan Peter dan yang lainnya, Risa berhasil selamat meskipun kini Riri tiba-tiba saja menghilang.
Setelah mata batinnya terbuka, Risa pun akhirnya bisa melihat lagi Peter, William, Hans, Hendrick dan Janshen. Risa berjanji tidak akan memutus hubungan dengan mereka berlima karena kehadiran mereka justru membantu dan juga melindungi keluarga Risa dari bahaya. Saat menemukan tusukan konde berwarna emas milik adiknya, Risa pun akhirnya bisa melihat masa lalu tragis dari Canting yang menjadi korban KDRT dari suaminya sendiri hingga meninggal ketika sedang hamil tua. Dengan bantuan Peter dan yang lainnya, Riri ditemukan di gedung kesenian dengan kondisi kesurupan Canting. Berhasilkah Risa melenyapkan Canting demi kebahagiaan adiknya?


#Review:
Setelah hampir 10 tahun meramaikan genre horror perfilman Indonesia, rumah produksi MD Pictures resmi mengakhiri franchise film Danur lewat film terbarunya yang berjudul DANUR: THE LAST CHAPTER (2026). Sebagai informasi, film ini menjadi film keempat bagi Danur Series dan film ketujuh dari Danur Cinematic Universe yang sudah eksis sejak tahun 2017.


Untuk segi cerita, film DANUR 4 (2026) kali ini masih seperti tiga film Danur Series sebelumnya yang mengisahkan karakter Risa Saraswati harus melindungi orang-orang disekitarnya dari gangguan mahkluk gaib. Sub judul The Last Chapter yang digunakan dalam film ini menurutku agak sedikit janggal sih, karena jika berfokus untuk farewell antara Risa dengan Peter CS sendiri sudah dilakukan di film DANUR 3: SUNYARURI (2019). Di film keempatnya ini, cerita dan skenario yang kembali ditulis oleh Lele Laila ini memiliki narasi mengungkap terror yang menimpa karakter Riri dan asal-usul dari sosok gaib penghuni gedung kesenian yaitu Canting. Motif dan alasan yang di-reveal di akhir film juga menurutku terlalu main aman. Awi Suryadi dan Lele Laila cenderung lebih suka telling story dengan pengembangan plot sangat sederhana di film keempatnya ini tanpa menghadirkan elemen horror superior khas film-film horror box office hit lokal kebanyakan. Jump scared yang ditebar sebanyak mungkin juga, tidak ada yang memorable buatku. Hampir semuanya predictable. Moment karakter Risa yang mengalami lima kali kematian dari Peter CS tampil dengan eksekusi grande lah yang berhasil membuatku terpukau. Efek visual pergantian dua alam yang dialami Risa juga tampil sangat matang dan setara dengan film-film horror Hollywood.
Untuk jajaran pemain, penampilan Prilly Latuconsina sebagai Risa memang menjadi andalan di film ini, terlepas dari dialog serta gesture nya yang terlalu repetitif, sehingga banyak sekali dialog mubazir baik yang diucapkan Risa maupun Riri, Elly, Dimas dan Peter CS. Keputusan recast yang lagi dan lagi dilakukan MD Pictures membuat sensasi nostalgia jadi berantakan. Karakter Riri sudah melekat dengan Sandrinna Michelle, kemudian perbedaan kreatif dari sosok Canting yang sebelumnya penari bergaya konde dan diperankan oleh Dea Panendra di post credit scene DANUR 2 MADDAH (2018), jadi berubah dengan visual rambut berantakan serta berwajah seram yang diperankan Anya Zen.
Overall, film DANUR 4: THE LAST CHAPTER (2026) cukup berhasil melengkapi semua pertanyaan tentang asal-usul Peter CS dan juga Canting meskipun tidak terlalu mengesankan.


[7/10Bintang]

Wednesday, 25 March 2026

[Review] The History of Sound: Kisah Cinta Dua Mahasiswa Yang Sangat Mencintai Folk Music!



#Description:
Title: The History of Sound (2025)
Casts: Paul Mescal, Josh O'Connor, Molly Price, Chris Cooper, Raphael Sbarge, Hadley Robinson, Emma Canning, Emily Bergl, Brianna Middleton, Gary Raymond, Alison Bartlett
Director: Oliver Hermanus
Studio: Closer Media, Film4, Tango Entertainment, Fat City, Mubi, Universal Pictures


#Synopsis:
Saat sedang menghabiskan malam bersama teman-teman kampusnya di sebuah bar, Lionel Worthing (Paul Mescal) tak sengaja mendengar lantunan suara piano serta nyanyian folk music dari seorang pria di ruangan sebelah. Lionel kemudian menghampirinya. Pria tersebut bernama David White (Josh O'Connor) yang ternyata mahasiswa di kampus yang sama dengan Lionel yaitu di New England Conservatory of Music (NEC). Setelah mengetahui punya selera musik yang sama, mereka berduet menyanyikan lagu folk music dan disambut meriah oleh para pengunjung bar lain sambil bernyanyi bersama-sama. Setelah selesai dari bar, David meminta Lionel untuk menemaninya pulang ke rumah dengan alasan mabuk. Tiba di rumah, mereka berdua langsung melakukan hubungan yang lebih intim lagi. Sejak saat itu, hubungan mereka berdua semakin dekat. Lionel sering menghabiskan waktu bersama di rumahnya David sambil bertukar ide untuk menulis lagu-lagu bertema folk musik.
Seiring berjalannya waktu, Perang Dunia I terjadi. Kampus NEC ditutup. David direkrut menjadi tentara bersama beberapa mahasiswa lain. Sementara itu, Lionel pulang ke rumahnya di Kentucky dan memutuskan berhenti kuliah serta meninggalkan dunia musik untuk menemani sang ibu (Molly Price) sambil mengurus lahan pertanian milik keluarga setelah ayahnya meninggal.
Dua tahun berlalu. Lionel mendapat kiriman surat dari David yang mengabari jika ia akan segera pulang dari Eropa dan kini ia bekerja di sebuah perguruan tinggi di daerah Maine. Selain itu, David juga berencana akan melakukan perjalanan ke berbagai wilayah mengumpulkan folk music dari warga menggunakan Wax Cylinders dan meminta Lionel untuk membantunya. Sebelum pergi menemui David, Lionel sudah mempersiapkan berbagai kebutuhan pokok di rumah untuk sang ibu dan juga kakeknya. David dan Lionel akhirnya bertemu lagi setelah bertahun-tahun berpisah. Mereka kembali menjalin cinta ditengah perjalanan merekam lagu-lagu folk music dari berbagai kalangan ke berbagai daerah. Selama perjalanan tersebut, David tak ingin menceritakan pengalamannya sebagai tentara pada Lionel dengan alasan membosankan. David pun bertanya apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh Lionel setelah semua ini selesai. Lionel berharap bisa tetap bersama dengan David dan tinggal di Maine. Namun David menyarankan Lionel untuk mengeksplorasi dunia dan musik lebih luas lagi daripada harus bekerja dengannya. Setelah menyelesaikan project folk music, mereka berpisah lagi. David kembali pulang ke Maine untuk bekerja. Sementara itu, Lionel pergi mengejar mimpinya ke Eropa.
Empat tahun berlalu, Selama tinggal di Roma, Lionel selalu mengirimkan surat pada David. Namun pada akhirnya ia memutuskan berhenti mengirimkan surat karena tidak pernah mendapat respon dari David. Di Roma Lionel sempat menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Vincent (Alessandro Bedetti), namun hubungan tersebut berakhir tidak baik karena perbedaan selera musik serta mengambil pekerjaan di Universitas Oxford. Setahun bekerja sebagai konduktor paduan suara di kampus, Lionel menjalin hubungan dengan muridnya yaitu Clarissa Roux (Emma Canning). Selama mereka berpacaran, Lionel sering diajak mengunjungi keluarga Clarissa yang ternyata keluarga konglomerat dan tinggal di pedesaan terpencil di Roma. Namun sayang, hubungan kali ini kembali berakhir karena Lionel masih belum bisa melupakan David serta harus segera pulang ke Amerika Serikat setelah mendapat kabar ibunya sakit parah.
Setelah ibunya meninggal, Lionel memutuskan pergi ke Maine untuk mencari David. Tiba di salah satu kampus musik, David mendapat kabar mengejutkan. David sudah meninggal beberapa tahun lalu dan semua perjalanan merekam folk music ke berbagai daerah yang David lakukan bersama Lionel bukanlah tugas dari kampus, melainkan ide pribadi dari David. Wax Cylinders yang dikumpulkan pun kini tidak tahu keberadaannya dimana. David kemudian mendatangi rumah David dan bertemu dengan istrinya yaitu Belle Sinclair (Hadley Robinson) yang sudah menikah lagi. Belle kemudian menceritakan jika ia sudah mengetahui siapa Lionel sebenarnya dan memiliki hubungan dengan David. Belle juga mengatakan jika David meninggal bukan bunuh diri, melainkan karena menderita trauma akut pasca perang yang tidak pernah diceritakan pada Lionel. Setelah mengetahui fakta pedih tersebut, Lionel mengunjungi tempat-tempat favorit David semasa muda dan menumbuhkan lagi semangat untuk menulis lirik lagu.
Seiring berjalannya waktu, Lionel Worthing dikenal sebagai seorang etnomusikolog dan juga penulis buku. Hingga suatu ketika, ia mendapat kiriman paket yang berisikan tabung-tabung Wax Cylinders termasuk rekaman suara dari David yang dibuat di hari kematiannya. Dalam rekaman tersebut, David meminta maaf dan berterima kasih pada Lionel atas waktu yang mereka lalui bersama sambil menyanyikan lagu "Silver Dagger", lagu yang Lionel nyanyikan untuk David saat pertama kali mereka bertemu.


#Review:
Sutradara keturunan Afrika Selatan yaitu Oliver Hermanus menghadirkan film bertema LGBT yaitu THE HISTORY OF SOUND (2026) yang diadaptasi dari cerita pendek berjudul sama karya Ben Shattuck. Menariknya, film ini tayang perdana di Cannes 2025 pada bulan Mei tahun lalu dan berhasik masuk nominasi untuk kategori Queer Palm dan Palm d'Or. Selain itu, film ini juga punya dua nama besar aktor yang sedang naik daun di Hollywood yaitu Paul Mescal dan Josh O'Connor.


Untuk segi cerita, film THE HISTORY OF SOUND (2026) menyajikan kisah cinta antara Lionel dengan David secara melankolis, indah dan juga puitis. Hal tersebut didukung dengan latar cerita film menggunakan waktu era Perang Dunia 1 hingga tahun 1980an, sehingga setiap dialog baku dan nyanyian folk music yang dilantunkan terasa magis bagi penonton. Harus diakui, tempo dari plot film ini terasa cukup lambat dan terasa membosankan karena minimnya konflik. Setiap perpisahan yang terjadi diantara karakter Lionel dan David pun terjadi secara mengalir, tanpa adanya adegan menguras emosional penonton. Namun jika berkaca pada latar cerita yang disajikan film ini, keputusan hubungan mereka berdua dibuat discreet pun bisa kita maklumi, karena yaa di jaman itu LGBT masih dianggap tabu di sana. Alur cerita perjalanan asmara karakter Lionel dan David yang membentang dari tahun 1917 hingga 1980 memberikan perspektif yang luas tentang arti dari kehilangan, penyesalan, dan bagaimana cinta yang tak terselesaikan dapat menghantui seseorang seumur hidup. Hal tersebut berhasil tersampaikan dengan sangat baik kepada penonton lewat kedua karakter utama dalam film ini.
Untuk jajaran pemain, big applause tentunya harus penonton berikan pada duet Paul Mescal dan Josh O'Connor. Pesona mereka berdua sangat memikat satu sama lain. Paul Mescal kembali menunjukkan kelasnya dalam memerankan karakter yang memendam kesedihan mendalam tanpa harus berlebihan dalam mengungkapkannya. Josh O'Connor memberikan penampilan yang sangat rapuh. Ia berhasil menggambarkan dualitas seorang pria yang jatuh cinta namun perlahan terkikis oleh trauma pasca-perang yang tak terlihat. Selain mereka berdua, elemen musik dan lagu yang hadir di film ini juga surprisingly menambah kekuatan untuk plot dan juga para karakter. Lagu-lagu folk music seperti "The Unquiet Grave" dan "Silver Dagger" tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi sebagai jembatan komunikasi antara Lionel dan David dalam mengungkapkan isi hati mereka masing-masing. Sangat manis, indah dan berakhir dengan bittersweet!


[8/10Bintang]

Friday, 20 March 2026

[Review] A Useful Ghost: Cerita Absurd Tentang Arwah Yang Merasuki Alat Elektronik!



#Description:
Title: A Useful Ghost (2026)
Casts: Davika Hoorne, Witsarut Himmarat, Apasiri Nitibhon, Wanlop Rungkumjad, Wisarut Homhuan, Gandhi​ Wasuvitchayagit, Ornanong Thaisriwong, Kritpahat Srimangkornkaew, Wachara Kanha
Director: Ratchapoom Boonbunchachoke
Studio: 185 Films, Haut Les Mains, Momo Films, Mayana Films, GDH 559


#Synopsis:
Sejak revitalisasi area mall menjadi lebih luas dengan mengorbankan taman dan lahan di sekitarnya, tak sedikit para warga mengeluhkan akan polusi dan debu yang mengotori tempat tinggal mereka. Tak hanya itu saja, polusi pembangunan area mall tersebut menyebabkan gangguan kesehatan seperti bersin-bersin hingga sesak nafas. Salah satu warga yang mengeluhkan hal ini yakni Academic Ladyboy (Wisarut Homhuan). Selain bikin kotor ruangannya, polusi dan debu juga membuatnya harus sering membersihkan seluruh ruangan setiap hari. Karena lelah, Ladyboy pun memutuskan untuk membeli Vacuum Cleaner di toko elektronik terdekat. Setelah mendapatkan Vacuum Cleaner dengan harga yang murah, ia langsung menggunakannya untuk membersihkan semua area rumah.
Saat malam hari ketika sedang istirahat, Ladyboy mendengar suara batuk-batuk di dalam rumah. Awalnya ia mengira jika suara tersebut berasal dari rumah sebelah atau orang yang ada di luar. Namun setelah mengecek dari jendela, ia tak menemukan apapun. Pagi harinya, Ladyboy menemukan semua debu dan kotoran berada di luar Vacuum Cleaner yang telah ia bersihkan kemarin. Hal tersebut membuatnya marah dan langsung menghubungi toko untuk claim garansi kerusakan. Siang harinya, teknisi dari toko bernama Krong (Wanlop Rungkumjad) datang ke rumah Ladyboy dan memeriksa Vacuum Cleaner tersebut. Setelah ia cek, Krong memastikan jika Vacuum Cleaner tidak ada kerusakan, namun hanya dirasuki oleh salah satu hantu yang berasal dari pabrik yang memproduksi Vacuum Cleaner tersebut. Krong kemudian menceritakan berbagai kejadian aneh yang menimpa pabrik dan juga keluarga pemiliknya.
Ibu Suman (Apasiri Nitibhon) pewaris pabrik milik mendiang suaminya merasa terganggu dengan arwah salah satu karyawannya yang bernama Tok (Krittin Thongmai) meninggal ketika sedang bekerja. Anehnya, arwah Tok itu merasuki alat-alat elektronik di pabrik sambil menyalahkan Ibu Suman serta lingkungan pabrik yang dinilai mempercepat kematiannya.
Di sisi lain, anak bungsu dari Ibu Suman yaitu March (Witsarut Himmarat) sedang berduka atas kematian istrinya, Nat (Davika Hoorne) yang sedang hamil karena gangguan pernafasan. Ibu Suman tetap memprioritaskan bisnis dan pabriknya agar lisensi operasionalnya tidak dicabut. Ibu Suman bersama ketiga anaknya kemudian datang ke pabrik bersama beberapa cenayang untuk melakukan pengusiran arwah yang masih saja bergentayangan di sana. Ketika para cenayang sedang berinteraksi dengan arwah Tok, March tak sengaja melihat arwah mendiang istrinya berjalan menuju gudang. March kemudian mengejarnya. Setelah itu, Nat tak terlihat. Ketika March akan pergi, sebuah Vacuum Cleaner berwarna merah tiba-tiba bergerak sendiri dan berkata jika ia adalah Nat. Mereka berdua kemudian melepas rindu dan bercumbu di sana. Ibu Suman dan yang lainnya terkejut saat memergoki March sedang disedot oleh Vacuum Cleaner penuh gairah. Gara-gara kejadian tersebut, keluarga memutuskan membawa March ke rumah sakit untuk dirawat. Malam harinya, arwah Nat yang masih berada dalam Vacuum Cleaner kemudian keluar dari pabrik dan pergi menuju rumah sakit untuk menemui March. Tiba di rumah sakit, March sangat senang bisa kembali melihat mendiang istrinya itu dan menemaninya selama dirawat di rumah sakit. Kemunculan arwah Nat yang merasuki Vacuum Cleaner dan dibiarkan menemani March membuat kerabat dan keluarga besar Ibu Suman resah hingga meminta Ibu Suman segera mengambil tindakan agar tidak semakin parah.
Keesokan harinya, Ibu Suman dan kerabatnya memanggil para biksu untuk mengusir arwah Nat serta menyita Vacuum Cleaner dan diserahkan ke polisi sebagai barang bukti curian. Namun sayang, rencana tersebut gagal dilakukan setelah mendapat anjuran dari seorang menteri yaitu Dr. Paul (Gandhi Wasuvitchayagit) yang mengatakan jika arwah Nat adalah arwah yang baik. Hal tersebut sudah dibuktikan saat Nat menolongnya ketika sedang di rumah sakit. Merasa frustasi, Ibu Suman kemudian membawa March ke psikiater untuk melakukan terapi electroshock. Hal tersebut sangat diyakini Ibu Suman akan merusak ingatan March dan jika berhasil, maka March akan lupa dengan mendiang istrinya, otomatis ikatan arwah antara Nat dengan March akan terputus dan Nat pun akan menghilang selamanya. Setelah melakukan terapi tersebut, Nat memang masih bisa masuk ke dalam mimpi suaminya. Namun sayang, wujudnya perlahan mulai memudar. Karena tak ingin melihat March yang terus-terusan terapi pengobatan, Nat mendatangi mimpi Ibu Suman dan meminta untuk menghentikannya. Mereka pun kemudian membuat kesepakatan baru yaitu Ibu Suman ingin Nat membantunya untuk mengusir arwah-arwah yang masih menghuni pabriknya agar bisa kembali beroperasional.
Setelah sepakat, Ibu Suman meminta semua karyawannya kembali ke pabrik untuk bekerja. Di sana, ia menyusun rencana untuk membius para karyawan dan Nat pun masuk satu persatu ke alam mimpi mereka dengan harapan bisa menemukan orang yang masih punya keterikatan dengan arwah Tok yang masih gentayangan di pabrik. Nat dan Ibu Suman kemudian menemui pacarnya Tok yaitu Pin (Wachara Kanha) yang ternyata masih belum mengikhlaskan kepergian pacarnya itu. Saat berbincang dengan Tok, rupanya Tok sedang mendatangi Pin dalam mimpi sambil mencumbunya. Setelah mengetahui hal tersebut, Ibu Suman langsung memberikan pilihan pada Pin untuk mengikuti terapi electroshock agar menghilangkan ingatannya akan Pin dan bisa kembali bekerja di pabrik atau dipecat jika menolaknya. Opsi tersebut membuat Pin sangat marah dan merasuki kulkas lalu menyerang Nat yang ada dalam Vacuum Cleaner. Setelah itu, Pin diamankan dan kini Nat mendapat reputasi sebagai hantu baik, sehingga ia dapat dilihat oleh semua orang.
Mengetahui Nat yang kini dikenal sebagai hantu baik dan sudah menyelamatkan bisnis pabrik mertuanya membuat Dr. Paul dan istrinya tertarik mengundang Ibu Suman, March dan Nat ke kediaman mereka. Tiba di sana, Nat terkejut karena Dr. Paul dikelilingi banyak arwah yang berkaitan dengan peristiwa pembantaian di tahun 2010. Dr. Paul meminta bantuan pada Nat untuk mengidentifikasi setiap individu dari para arwah agar ingatan mereka dapat dihapus dengan menggunakan pengobatan seperti March yaitu Electroshock. Karena sel telur yang dibekukan miliknya ditahan oleh Dr. Paul, Nat pun bersedia membantunya. Namun sayang, rencana yang Nat lakukan bersama Dr. Paul itu justru membuat sang suami kesal dan menganggap Nat telah berubah. March kemudian mencoba menjaga ingatan tentang para arwah yang dimusnahkan agar tetap hidup dengan cara mempelajari sejarah kekerasan politik yang terjadi di Thailand. Bagaimana akhir cerita dari pasutri beda alam ini?


#Review:
Tahun 2025 kemarin, Thailand resmi mengirimkan film A USEFUL GHOST (2025) sebagai perwakilan mengikuti seleksi masuk nominasi Best International Feature Academy Awards yang ke-98. Meskipun gagal, film yang menjadi debut bagi Ratchapoom Boonbunchachoke sebagai sutradara dan penulis film layar lebar ini, sukses memenangkan penghargaan bergengsi di festival film internasional seperti Cannes, Sitges dan JAFF Jogja 2025.


Untuk segi cerita, film A USEFUL GHOST (2025) memang sesuai dengan judulnya yaitu mengisahkan tentang sesosok hantu yang bermanfaat. Meskipun mengusung tema supranatural, film ini sama sekali tidak mengumbar adegan-adegan horror maupun jump scared. Sang sutradara lebih mendekatkan cerita fantasi yang terkesan absurd di awal film. Entah berasal dari mana, ide alat elektronik macam Vacuum Cleaner, mesin pabrik, AC portable hingga kulkas bisa kerasukan arwah. Mungkin untuk di Thailand, fenomena alat-alat elektronik kerasukan sudah biasa kali ya? Aku sih saat menonton film ini merasa aneh, konyol dan tertawa melihat Vacuum Cleaner kerasukan dan kemudian bercumbu dengan enaknya bersama seorang pria. Hahahaha. Plot film A USEFUL GHOST (2026) terbagi menjadi dua yaitu tentang si Ladyboy dengan petugas reparasi dan keluarga Ibu Suman pemilik pabrik yang memproduksi barang elektronik. Setengah durasi film, cerita berfokus kepada struggling Ibu Suman agar pabriknya bisa kembali beroperasi setelah izinnya dicabut gara-gara ulah arwah gentayangan yang mengganggu operasional pabrik wkwkw. Sisi dramatic kemudian dihadirkan dari cerita anak bungsu Ibu Suman yaitu March yang baru saja kehilangan istri dan calon anaknya. Ditengah duka yang menyelimuti itu, arwah sang istri yaitu Nat masih belum pergi meninggalkan dunia karena Nat belum merelakan kepergian istrinya itu. Konsep arwah merasuki Vacuum Cleaner kemudian menjalankan misi membantu manusia lalu mendapat predikat hantu baik, hingga akhirnya bisa berwujud normal benar-benar out of the box sekali sang sutradara hahaha. Plot antara si Ladyboy dan tukang reparasi pun awalnya aku kira hanya sebatas having fun saja tanpa ada kaitannya dengan cerita keluarga Ibu Suman. Namun siapa sangka, memasuki babak pertengahan hingga akhir film, A USEFUL GHOST (2026) rupanya banyak sekali menyoroti permasalahan politik dan pemerintahan yang memang terjadi di Thailand. Kritik sosial semakin tajam lewat narasi cerita tentang masalah polusi yang semakin tinggi di kota-kota besar Thailand yang sering diabaikan pemerintah. Selain itu, kritik pemerintahannya datang penghapusan sejarah kelam politik di masa lalu dengan memanfaatkan hantu baik yaitu Nat. Jangan dilupakan juga akhir cerita film yang benar-benar menyatukan semuanya dengan cara yang tak terduga!
Untuk jajaran pemain, tipikal film-film Thailand yang selalu konsisten bagus dan juga konyol secara bersamaan hahaha. Chemistry dan akting dari Davika Hoorne, Witsarut Himmarat dan Apasiri Nitibhon sangatlah memuaskan. Untuk urusan visual, satu hal yang paling menonjol yaitu kesan aesthetic, simetris dan statis bisa penonton rasakan di sepanjang film. Sinematografi dan pengambilan gambar nya memang kece banget! Jadi sangat deserve masuk nominasi Camera d'Or di Cannes yang ke-78 kemarin.
Overall, film A USEFUL GHOST (2025) sukses jadi sajian drama supernatural fantasi yang absurd dan konyol tapi anehnya aku bisa menikmati itu semuaa! Hahaha


[8/10Bintang]