#Description:
Title: Surat Untuk Masa Mudaku - A Letter To My Youth (2026)
Casts: Millo Taslim, Agus Wibowo, Cleo Haura, Aqila Herby, Jordan Omar, Halim Latuconsina, Diandra Salsabila, Fendy Chow, Agla Artalidia, Verdi Solaiman, Sadia Aisye, Willem Bevers, Landung Simatupang, Ruth Marini, Rania Putrisari, Widika Sidmore, Chicco Kurniawan, Marthino Lio
Director: Sim F.
Studio: Buddy Buddy Pictures, Netflix
#Synopsis:
Kefas (Fendy Chow) dan istrinya Rania (Agla Artalidia) sedang berbahagia merayakan ulang tahun anak kesayangan mereka yaitu Abigail (Sadia Aisye) di rumah. Di tengah acara, Kefas marah dan menyuruh Abigail untuk tidak berenang dengan teman-temannya dengan alasan baru saja sembuh. Melihat hal tersebut membuat Rania kesal, karena Abigail sendiri sudah sehat dan juga sedang bermain dengan teman-temannya itu. Setelah pesta ulang tahun selesai, Rania meminta suaminya agar tidak berlebihan dalam bersikap untuk keluarga, karena membuat mereka ketakutan. Saat tengah malam, Kefas dibuat panik saat mengetahui Abigail kembali demam. Ia pun langsung membawa sang anak ke rumah sakit meskipun sebelumnya sudah diberi obat oleh Rania. Tiba di rumah sakit, Dokter kemudian menjelaskan jika kondisi Abigail sudah membaik berkat obat demam yang diberi Rania, sehingga tidak perlu untuk dirawat inap di rumah sakit. Dalam perjalanan pulang, Kefas meminta maaf pada Rania dan Abigail atas sikap overprotective nya selama ini.
Keesokan harinya, Kefas terkejut saat Rania dan Abigail tak ada di rumah. Rania kemudian menuliskan pesan jika ia dan Abigail akan tinggal di rumah orangtuanya untuk sementara waktu dan meminta Kefas untuk memperbaiki sikapnya yang selama ini terlalu berlebihan kepada Rania maupun Abigail. Ditengah kesendiriannya itu, Kefas juga mendapat kabar dari Sabrina (Ruth Marini), teman semasanya di panti asuhan yang memberi kabar jika pengelola panti yaitu Pak Simon Ferdinand (Agus Wibowo) meninggal. Kefas pun bergegas pergi menuju ke Sukabumi. Setibanya di panti asuhan dan bertemu lagi dengan Sabrina, Kefas pun langsung teringat masa-masa remajanya yang dihabiskan di panti tersebut.
Semasa tinggal di panti asuhan, Kefas (Millo Taslim) dikenal sebagai anak yang nakal dan sering membuat onar. Sudah berkali-kali panti asuhan mengganti pengurusnya karena dibuat tak nyaman oleh Kefas dan teman-temannya yaitu Joy (Cleo Haura), Desi (Diandra Salsabila), Romi (Jordan Omar), Boni (Halim Latuconsina) dan Bowo (Daniel Gabriel). Pemilik yayasan yaitu Pak Wahyu (Willem Bevers) kemudian meminta bantuan pada sahabatnya yaitu Pak Simon untuk mengelola panti. Pak Simon yang sedang menabung untuk memesan kavling kuburan dirinya bersedia dan menerima tawaran tersebut. Sebelum datang ke panti asuhan, Pak Simon membuat kesepakatan dengan pengelola Rumah Duka yaitu Pak Gabriel (Verdi Solaiman) agar kavling kuburan yang ia pesan persis di samping kuburan mendiang istrinya untuk tidak dijual ke orang lain. Dengan menggunakan sisa tabungan dan gaji dari panti asuhan, Pak Simon sepakat untuk menyicilnya.
Hari pertama Pak Simon bekerja di panti asuhan disambut baik oleh Sabrina (Aqila Herby), yang merupakan anak panti paling senior dan dipercaya oleh Pak Wahyu untuk memantau anak-anak. Kehadiran Pak Simon malah bikin kesal Kefas karena ia yakin jika kelakuan pengurus baru pasti akan tak beda jauh dengan pengurus-pengurus sebelumnya yang selalu tak peduli terhadap anak-anak panti hingga korupsi dana donasi panti. Kefas menyimpan dendam dan amarah terhadap pengurus panti sebelumnya karena tidak mau menolong adiknya, Angelica yang kala itu sakit demam untuk dibawa ke rumah sakit dan berujung sang adik meninggal dunia.
Setiap harinya, Kefas menyusun berbagai rencana agar Pak Simon tidak betah bekerja di panti. Namun respon dari Pak Simon selalu sabar dan tidak pernah memarahi anak-anak panti. Joy, Desi, Romi, Boni dan Bowo pun yakin jika Pak Simon adalah orang baik, tidak seperti pengurus-pengurus panti sebelumnya. Merasa belum puas, Kefas kemudian berencana mengacaukan acara bakti sosial panti yang akan segera digelar dalam waktu dekat. Acara yang dihadiri para tamu undangan dan donatur tersebut sering menampilkan bakat-bakat para anak-anak serta menjamu mereka dengan berbagai kuliner yang sudah dipersiapkan. Acara bakti sosial sering disebut sebagai ajang para donatur untuk mengadopsi anak-anak yang menurut mereka sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
Hari bakti sosial pun tiba. Semuanya sudah dipersiapkan oleh Pak Simon, Sabrina dan anak-anak lain. Saat para donatur akan menikmati hidangan yang disediakan, mereka terkejut melihat adanya bangkai tikus di atas meja makan. Para donatur pun sangat marah dan langsung pergi meninggalkan panti asuhan. Sabrina dan anak-anak lain juga ikutan marah sekaligus sedih. Mereka yakin Kefas adalah pelakunya. Kejadian tersebut membuat Pak Wahyu ikutan marah besar. Ia memaksa Pak Simon untuk mengusirnya di panti asuhan. Mendengar jika dirinya akan diusir, Kefas pun sedih dan memilih pergi dari panti.
Seiring berjalannya waktu, Pak Simon mengambil keputusan untuk tidak mengusir Kefas. Pak Simon justru tidak memarahi Kefas dan memaklumi semua kenakalannya karena hal tersebut merupakan ekspresi Kefas dalam meluapkan amarah dan bencinya atas kepergian sang adik. Pak Simon pun menceritakan masa mudanya di panti dan kejadian tragis yang menimpa calon pengadopsi Pak Simon. Selain itu, ia juga menceritakan kepergian mendiang istri dan anak semata wayangnya yang seumuran dengan Kefas. Setelah mendengar curhatan Pak Simon, Kefas pun meminta maaf. Mereka berdua kemudian kembali ke panti asuhan. Tiba di sana, Kefas kemudian bertemu dengan teman-temannya di sana dan meminta maaf atas semua perbuatannya.
Keesokan harinya, Pak Simon membujuk Pak Wahyu untuk tidak mengeluarkan Kefas dari panti. Ia berjanji jika Kefas kini sudah berubah dan berusaha menjadi anak yang baik. Setelah mendapatkan gaji, Pak Simon memutuskan jika bulan depan ia akan berhenti sebagai pengurus panti karena sudah punya rencana lain. Sebelum itu, Pak Simon meminta pada Pak Wahyu untuk menggelar bakti sosial lagi sebelum ia pergi dari panti. Acara bakti sosial kali ini berjalan sukses dan lancar. Semua donatur dibuat bahagia melihat paduan suara dan bakat-bakat dari anak-anak panti asuhan.
Setelah semuanya selesai, Pak Simon mendatangi Pak Gabriel untuk melunasi sisa pembayaran kavling kuburan miliknya. Selain itu, Pak Simon juga pindah alamat ke kontrakan yang lebih kecil agar keberadaannya tidak ketahuan oleh Pak Wahyu dan anak-anak panti asuhan, serta membeli seperangkat pakaian dan barang-barang kesayangannya untuk dititipkan pada Pak Gabriel. Apa yang sedang direncanakan oleh Pak Simon?
#Review:
Mengawali tahun 2026, Platform Streaming OTT Netflix merilis film original Indonesia terbarunya berjudul SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) produksi Buddy Buddy Pictures. Film ini disutradarai oleh Sim F. serta penulisan ceritanya hasil kolaborasi sang sutradara dengan Daud Sumolang. Untuk segi cerita, film SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) mengambil latar cerita di sebuah panti asuhan dengan daily life para penguhuninya di sana. Aku suka dengan treatment Sim F. yang tidak mengeksploitasi nuansa kelam dan kesedihan dalam menceritakan kehidupan anak-anak di panti asuhan, film ini justru berhasil menampilkan banyak sekali hal positif yang relevan dengan dunianya anak-anak.
Keceriaan, persahabatan dan kebersamaan mereka khususnya anak-anak yang sering bersinggungan dengan karakter Kefas selalu berhasil mencuri perhatian penonton. Jujur, sudah lama rasanya aku tidak menonton film Indonesia yang pemeran utamanya anak-anak dengan wajah-wajah baru di industri perfilman Indonesia. Terakhir, mungkin ada di film LASKAR PELANGI (2008) dan KOKI-KOKI CILIK (2018). Akting yang terlihat masih kaku serta kepolosan mereka justru berhasil menciptakan kehangatan dalam cerita film ini.
Memasuki pertengahan film, plot mulai fokus terhadap pengembangan cerita dari karakter Kefas dan Pak Simon. Keduanya memiliki nasib yang sama dalam upaya menghadapi duka dan mengikhlaskan apa yang seharusnya sudah terjadi. Kolaborasi sutradara dengan Daud Sumolang berhasil menguras emosi penonton ketika perjuangan mereka dalam menghadapi duka sangat betolak belakang. Meskipun demikian, pada akhirnya cara mereka untuk ikhlas dan bersyukur tampil sangat personal dan menyentuh perasaan penonton. Lebih lanjut, film ini juga tidak mengandalkan kejutan plot twist atau apapun yang menghentak. Penyelesaian cerita berjalan dengan mulus sambil menonjolkan makna tentang pentingnya kebersamaan.
Untuk jajaran pemain, apresiasi harus kita berikan pada ensemble casts anak-anak yang tampil sangat realistis, believable dan sesekali menghibur penonton. Lupakanlah semua kekakuan di babak awal film, saat memasuki pertengahan hingga akhir film, semua kekakuan dan kepolosan mereka terbayar tuntas dengan chemistry super heartwarming antara anak-anak panti dengan Pak Simon. Semuanya hadir secara mengalir dengan tambahan adegan ketika anaka-anak panti sudah dewasa, kemudian reunian ditengah suasana duka benar-benar bikin haru!
Untuk urusan visual dan scoring, sejauh ini film-film Indonesia original Netflix selalu berada di level yang memuaskan. Set lokasi, properti dan sinematografi untuk menghidupkan suasana 90an dalam film SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) sangat meyakinkan, serta mengajak penonton millenial serasa flashback ke jaman-jaman kita remaja. Overall, film SURAT UNTUK MASA MUDAKU (2026) berhasil menyajikan drama tentang rekonsiliasi duka di masa lalu dengan cara yang hangat sekaligus berkesan. Keren!
[8/10Bintang]





















