Thursday, 30 July 2026

[Review] Spider-Man Brand New Day: Awal Baru Perjalanan Peter Parker Jadi Street Level-Hero di MCU!

 


#Description:
Title: Spider-Man: Brand New Day (2026)
Casts: Tom Holland, Zendaya, Jacob Batalon, Sadie Sink, Jon Bernthal, Tramell Tillman, Mark Ruffalo, Liza Colon Zayas, Marisa Tomei, Michael Mando, Eman Esfandi, Marvin Jones III, Zabrina Guevara, Florence Pugh, Keith David, Naomi Watts
Director: Destin Daniel Cretton
Studio: Sony Pictures, Columbia Pictures, Marvel Studios


#Synopsis:
Mantra sihir Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) berhasil menyelamatkan alam semesta, namun ada satu konsekuensi besar yang harus diterima oleh Peter Parker (Tom Holland). Seluruh dunia lupa bahwa ia adalah Spider-Man. Peter kini hidup seorang diri setelah orang-orang terdekat yang sangat dicintainya, termasuk Michelle "MJ" Jones (Zendaya) dan Ned Leeds (Jacob Batalon), tak lagi mengenali dirinya.


Seiring berjalannya waktu, Peter berusaha bangkit dan melanjutkan hidup. Berbekal sisa-sisa teknologi peninggalan Stark Industries, ia merakit kembali kostum Spider-Man serta web-shooter ciptaannya sendiri. Bertindak sebagai pahlawan tanpa identitas, Spider-Man aktif membantu Department of Damage Control (DODC) dan kepolisian New York dalam memberantas kejahatan. Kerja samanya yang erat dengan Detektif Jean DeWolff (Liza Colon Zayas) membuat aksi pahlawannya menuai banyak apresiasi dari warga dan juga pihak kepolisian.
Di luar tugasnya sebagai pahlawan, Peter hanyalah pemuda yang kesepian. Di sela-sela rutinitasnya berkunjung ke makam Bibi May (Marisa Tomei), Peter kerap memantau media sosial Ned yang berhasil kuliah di kampus MIT. Melihat unggahan aktivitas Ned yang sesekali menampilkan kebersamaannya dengan MJ selalu memicu perasaan campur aduk di hati Peter. Kerinduan itu memuncak saat Peter tak sengaja berpapasan dengan Ned di sebuah minimarket. Malam harinya, Peter memberanikan diri datang ke pesta yang diadakan Ned. Namun, kedatangannya ke sana justru membuat Peter patah hati mendalam saat ia melihat MJ sudah memiliki pacar. Impian dahulu mereka bertiga untuk kuliah dan tinggal bersama selama kuliah MIT sirna akibat ulahnya sendiri.


Suatu hari, kesedihan Peter teralihkan oleh panggilan darurat mengenai truk tank baja milik cabang Damage Control yang dibajak dan mengamuk di tengah kota. Spider-Man langsung terjun ke lokasi bersama pasukan kepolisian arahan DeWolff. Di tengah aksi kejar-kejarannya, muncul Frank Castle alias The Punisher (Jon Bernthal) yang juga sedang memburu truk tersebut. Spider-Man lantas meminta Punisher untuk mundur dan menyerahkan penanganan kepadanya dan juga kepolisian. Mengingat truk pembajak itu mengarah ke kantor pusat Damage Control, DeWolff segera berkoordinasi dengan kepala DODC, Bill Metzger (Tramell Tillman) untuk mengevaluasi dan mengevakuasi orang-orang di sana demi mencegah timbulnya korban jiwa. Setelah pertempuran yang sengit, Spider-Man akhirnya berhasil menghentikan truk tank tersebut. Saat pintu kendaraan dibuka. Seorang wanita paruh baya tak dikenal terlihat di dalam dengan tatapan kosong dan menyebut nama Peter Parker. Hal itu membuat Spider-Man terkejut, sebab ia tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun sejak mantra sihir Dr. Strange bekerja. Tak lama kemudian, wanita itu tersadar lalu menangis histeris karena sama sekali tidak mengingat apa yang sudah ia lakukan. Seketika, insting Spider-Sense milik Peter mendeteksi adanya bahaya mengintai.


Keanehan beberapa orang di lokasi kejadian seperti kerasukan sambil berbicara dan mengenali identitas asli Peter Parker. Melalui analisis cepat dari asisten kecerdasan buatan miliknya, E.V. (Naomi Watts), Peter menyadari bahwa sosok misterius tersebut memiliki kemampuan merasuki pikiran dan berpindah tubuh secara instan. Entitas ini bahkan berhasil membebaskan tahanan berbahaya Damage Control yaitu Mac Gargan alias Scorpion (Michael Mando) dengan cara mengendalikan pikiran pilot helikopter. Demi menggali informasi lebih dalam mengenai keterkaitan antara Scorpion dan sosok misterius itu, Peter mendatangi anggota New Avengers, Yelena Belova (Florence Pugh). Dari hasil diskusi mereka, Yelena menduga adanya aset bernilai tinggi di dalam Damage Control yang tengah diincar oleh Scorpion dan entitas penjelajah pikiran tersebut.



Seiring berjalannya waktu, ancaman dari sosok misterius tersebut menjadi semakin tak terkendali karena ia dengan mudahnya merasuki siapa saja demi menemukan apa yang dicarinya. Di saat yang sama, Peter Parker mulai merasakan perubahan aneh pada tubuhnya. Mutasi DNA Arachnid dalam dirinya mengalami lonjakan drastis. Jaring organik mendadak dapat keluar langsung dari pergelangan tangannya dan kekuatan fisiknya pun meningkat pesat, meski ia sangat kesulitan untuk mengendalikannya. Dalam kondisi terdesak, Peter teringat pada alat Inhibitor yang pernah digunakan oleh Bruce Banner (Mark Ruffalo) alias Hulk untuk mengendalikan efek radiasi Gamma dalam tubuhnya. Peter lantas menemui Bruce yang kini berprofesi sebagai profesor dan dosen di Empire State University untuk berkonsultasi. Berbekal petunjuk dan bimbingan teknis dari Bruce, Peter mulai merakit sendiri alat Inhibitor ciptaannya agar dapat membatasi serta mengendalikan gejolak DNA Arachnid di dalam tubuhnya.



Di sisi lain, identitas sosok misterius yang mengacaukan Damage Control akhirnya terkuak. Ia adalah Jean Elaine Grey (Sadie Sink), seorang perempuan dengan kemampuan telekinesis luar biasa yang sanggup mengendalikan pikiran orang lain. Usut punya usut, Jean ternyata sedang berjuang mencari keberadaan seseorang yang ditangkap oleh pihak Damage Control beberapa tahun silam. Amarah dan rasa kecewa Jean kian memuncak karena aksi pencariannya selalu saja dihalangi oleh Spider-Man. Akankah Jean Grey berhasil menemukan orang yang dicarinya atau justru langkahnya terhenti oleh Spider-Man, pasukan Damage Control hingga The Punisher?


#Review:
Sony Pictures dan Marvel Studios akhirnya menghadirkan lagi kelanjutan cerita Peter Parker versi MCU setelah kemarin Trilogy Homecoming ditutup dengan sempurna lewat film SPIDER-MAN: NO WAY HOME (2021). Sesuai dengan judul, plot film SPIDER-MAN: BRAND NEW DAY (2026) mengajak penonton dan penggemar setia Marvel untuk melihat babak baru dan awal mula dari Spider-Man Earth-616 setelah satu alam semesta lupa akan Peter Parker adalah Spider-Man efek dari mantra sihirnya Dr. Strange.


Untuk segi cerita, film ini berhasil menyajikan tone yang lebih dewasa, personal dan juga emosional. Kehilangan Bibi May serta kenyataan pahit melihat Ned dan MJ yang melanjutkan hidup tanpa dirinya menjadi inti kekuatan narasi film ini. Sutradara Destin Daniel Cretton berhasil mengeksplorasi kerapuhan mental seorang pahlawan yang menjalankan misinya melindungi New York sambil memendam rasa patah hati yang mendalam. Meskipun dibuat jadi Spider-Man Sad Boy, untungnya Peter Parker versi MCU ini tidak jadi orang don't have seperti Peter Parker versi Sam Raimi hahaha. Peter di sini masih punya privilege yaitu memiliki akses untuk menggunakan fasilitas dan teknologi yang tersisa dari Stark Industries. Lebih lanjut, nuansa street-level hero membuat skenario pertarungan Spider-Man dalam film ini terasa lebih grounded dan sesuai dengan "marwah" nya yang sempat disinggung juga oleh Yelena Belova. Dinamika hubungan Peter Parker dengan orang-orang disekitarnya pun dibuat menyenangkan, seperti tektokan chemistry antara Spider-Man dengan Punisher dan DeWolff mengingatkan penonton akan dinamikanya dengan mendiang Tony Stark. Moment dramatic tentunya datang saat Peter Parker akhirnya bertemu lagi dengan MJ dan Ned. Sihir Dr. Strange memang mujarab dan mutlak. Meskipun Peter sudah effort memberikan kode dan sinyal, namun MJ maupun Ned benar-benar tidak mengenali siapa itu dia.


Kehadiran karakter mutant Jean Grey versi muda yang diperankan Sadie Sink memang jadi perbincangan hangat di kalangan fans. Secara tidak langsung, eksistensi mutant di MCU semakin diperkuat setelah debut lewat Kamala Khan dan sekarang Jean Grey. Development story dari karakter Jean Grey yang sengaja dibuat sedari remaja dan belum bertemu dengan X-Men menurutku keputusan yang tepat. Hal tersebut menjadikan karakter Jean Grey punya waktu dan kontrak jangka panjang untuk fase-fase MCU di masa depan. Penampilan Sadie Sink juga patut diacungi jempol karena berhasil membawakan karakter Jean yang penuh amarah, trauma, dan motivasi emosional yang kuat saat memburu seseorang di fasilitas Damage Control. Teror manipulasi pikiran yang dilakukan Jean, menciptakan eskalasi bahaya yang over power dan membahayakan keselamatan banyak orang.
Performa akting Tom Holland, Zendaya, dan Jacob Batalon dalam babak baru ini menghadirkan dinamika emosional yang jauh lebih matang, dewasa dan menyentuh hati. Tom Holland berhasil menampilkan performa terbaik sepanjang kariernya sebagai Peter Parker. Ia dengan lihai mentransisikan sosok Spider-Man yang ceria menjadi pemuda yang dipenuhi rasa kesepian, kedukaan, dan beban mental yang berat. Aksinya saat mengekspresikan patah hati terselubung ketika menatap orang-orang yang dicintainya menjadi salah satu puncak emosional film ini, memperlihatkan pendewasaan karakter yang sangat kuat di balik topeng pahlawannya. Zendaya dan Jacob Batalon memberikan kontras yang luar biasa melalui perubahan dinamika peran mereka sebagai MJ dan Ned. Berperan sebagai dua orang asing yang sama sekali tak mengingat Peter, Zendaya mampu menyampaikan kehangatan sekaligus jarak emosional yang canggung namun realistis, sementara Batalon mengeksekusi transisi karakternya dari seorang sahabat karib menjadi sosok pemuda biasa yang berjarak dengan sangat pas. Chemistry di antara ketiga aktor ini berhasil membangun nuansa ironi dan kian mempertegas rasa kehilangan yang harus ditanggung oleh Peter Parker sendirian.
Aspek teknis dan efek visual film SPIDER-MAN: BRAND NEW DAY (2026) juga sangatlah layak mendapatkan apresiasi tinggi dari penonton. Transisi adegan saat Jean Grey merasuki orang-orang di sekitar Spider-Man disajikan secara memukau, diperkuat oleh scoring musik yang ciamik dalam membangun ketegangan ketika Spider-Sense dari Peter Parker bereaksi. Selain itu, koreografi fighting dengan jarak dekat serta visualisasi alat Inhibitor buatan Peter dan organic web menunjukkan perpaduan sempurna antara aksi akrobatik pahlawan super khas Marvel yang selalu memanjakan mata. Destin Daniel Cretton berhasil menyajikan serangkaian adegan action street level-hero yang memukau dan konsisten dari awal sampai akhir film.
Overall, film SPIDER-MAN: BRAND NEW DAY (2026) adalah sebuah sekuel yang amat memuaskan dan berhasil re-introducing arah cerita Spider-Man di Marvel Cinematic Universe. Film ini tidak hanya menjual aksi pahlawan super yang megah, tetapi juga menyajikan sebuah kisah pendewasaan diri yang menyentuh hati tentang pengorbanan dan penerimaan. Tak heran saat opening day di Indonesia, film ini berhasil mengumpulkan lebih dari 600.000++ penonton! Gokil!


[9/10Bintang]

Monday, 20 July 2026

[Review] Afgan Retrospektif The Concert Live at Jakarta International Convention Center

 

Solois pria Afgansyah Reza kembali sukses menyapa penggemarnya lewat konser tunggal bertajuk "AFGAN RETROSPEKTIF THE CONCERT" pada Sabtu, 18 Juli 2026. Berlokasi di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Pusat, konser ini berhasil menarik perhatian lebih dari 3.500 penonton dengan seluruh kategori tiket (Bronze, Silver, Gold, Platinum, VIP, VVIP, dan Diamond) habis terjual.
Konser yang dipromotori oleh Seven Star Productions serta didukung oleh Bank Syariah Indonesia ini menandai kolaborasi kedua Afgan dengan Erwin Gutawa Orchestra, menyusul kesuksesan pertama mereka "KONSER DARI HATI AFGAN" pada 14 Februari 2015 lalu. Selain kemegahan aransemen orkestra, konser retrospektif ini juga turut dimeriahkan oleh penampilan memukau dari tiga bintang tamu: Petra Sihombing, Mahalini, dan Kris Dayanti yang berkolaborasi dengan Afgan.




Konser megah ini merupakan bagian dari rangkaian promosi album studio ketujuh Afgan yang bertajuk RETROSPEKTIF yang telah dirilis pada November 2025 lalu. Melalui album ini, Afgan kembali memanjakan telinga pendengar dengan lagu-lagu bergenre pop ballad dan semi-upbeat. Ini menjadi momen "pulang ke rumah" setelah di dua album sebelumnya yaitu WALLFLOWER (2021) dan EP: SONDER (2024), Afgan bereksperimen dengan genre pop R&B berformat bahasa Inggris penuh. Berikut adalah tracklist dari album terbaru Afgan, RETROSPEKTIF

1. Misteri Dunia
2. Sebentar
3. Kacamata
4. Silakan
5. Sampai Jumpa
6. Tak Ada Rencana (Kujatuh Cinta)
7. Masa Iya?
8. Kepastian
9. The One That Got Away
10. Peluk



Konser dimulai tepat pukul 20.15 WIB dan langsung dibuka dengan kejutan. Afgan naik ke atas panggung membawakan "Misteri Dunia" dan "Silakan", yang merupakan dua lagu baru dari album teranyarnya. Mengawali Chapter 1, Afgan tampil menawan dalam balutan jaket berwarna mustard yellow dan pants berwarna hitam. Kemunculannya di atas panggung seketika membuat riuh seisi Plenary Hall, Jakarta International Covention Center. Sorak histeris penonton langsung pecah, menyatu dengan iringan musik yang megah dan tata lampu yang memukau.

Tracklist Chapter 1:
1. Misteri Dunia
2. Silakan
3. Knock Me Out
4. Sebentar
5. Tak Ada Rencana (Kujatuh Cinta) - duet with Petra Sihombing
6. Cinta 2 Hati
7. Pesan Cinta
8. Wajahmu Mengalihkan Duniaku




Pada Chapter 1 ini, mayoritas aransemen yang disuguhkan terasa sangat segar dengan nuansa nge-band yang kental. Salah satu aransemen favoritku adalah saat Afgan membawakan lagu "Wajahmu Mengalihkan Duniaku". Lagunya terdengar jauh lebih bertenaga dengan sentuhan pop-rock yang apik. Di sesi ini pula, Afgan dengan bangga mengenalkan The Gandarianz, grup band yang setia mengiringi dan menemani perjalanan musiknya selama 15 tahun terakhir.
Setelah itu, keseruan "AFGAN RETROSPEKTIF THE CONCERT" berlanjut ke Chapter 2 dengan penampilan dari Erwin Gutawa Orchestra. Balutan musik orkestra seketika mengubah atmosfer konser menjadi begitu grande dan spektakuler. Penampilan Afgan pun kian menawan berkat setelan jas (suit) berwarna emerald green dengan motif unik yang sangat mencuri perhatian.

Tracklist Chapter 2:
9. Jalan Terus
10. Ku Dengannya Kau Dengan Dia
11. Masa Iya?
12. Lenggang Puspita
13. Untukmu Aku Bertahan
14. Sabar
15. Bawalah Cintaku
16. Sadis - duet with Mahalini
17. Peluk

Memasuki Chapter 2, megahnya aransemen orkestra benar-benar mendominasi setiap lagu. Iringan musik dari Erwin Gutawa sukses membuatku takjub hingga merinding! Lagu-lagu ballad andalan Afgan seperti "Jalan Terus", "Ku Dengannya Kau Dengan Dia", dan "Sabar" bertransformasi menjadi begitu megah. Salah satu yang menjadi highlight utama dan paling ramai diperbincangkan adalah duet mautnya bersama Mahalini lewat lagu "Sadis". Keduanya benar-benar "memamerkan" teknik vokal yang luar biasa di atas panggung! Momen magis lainnya tercipta saat lagu "Peluk" dibawakan. Seluruh penonton serentak mengangkat hand-banner dan menyalakan flashlight ponsel, mengubah atmosfer Plenary Hall menjadi emosional.
Ketakjuban penonton tidak berhenti di situ. Di Chapter 3, Afgan kembali ke panggung dengan penampilan elegan mengenakan leather jacket berwarna hitam. Babak ini dibuka dengan dua lagu berbahasa Inggris, "Shallow Water" dan "Say I'm Sorry". Kedua lagu ini dikemas dengan aransemen yang sangat megah. Dentuman musik dan bassnya benar-benar menggelegar! Ditambah lagi visual dari konsep panggung dengan dua screen besar di bagian atas dan bawah, sukses bikin semua mata terpukau.

Tracklist Chapter 3:
18. Shallow Water
19. Say I'm Sorry
20. Bukan Cinta Biasa
21. Kepastian - duet with Kris Dayanti
22. Kamu Yang Kutunggu - duet with Kris Dayanti
23. Ada - duet with Kris Dayanti
24. Percayalah - duet with Kris Dayanti
25. Terima Kasih Cinta
26. Sampai Jumpa
27. Dia Dia Dia
28. Panah Asmara
29. Kacamata
30. Jodoh Pasti Bertemu




Masih di Chapter 3, kolaborasi antara Afgan dan Kris Dayanti sukses mencuri perhatian lewat penampilan back-to-back medley empat lagu sekaligus. Harmonisasi vokal keduanya benar-benar saling melengkapi dengan sempurna. Suasana menjadi penuh haru saat Afgan membawakan lagu "Sampai Jumpa" sebagai tribute manis untuk sahabat tercintanya, almarhum Vidi Aldiano.
Bagian encore "AFGAN RETROSPEKTIF THE CONCERT" ditutup dengan segar. Lagu-lagu ikonis seperti "Panah Asmara", "Kacamata", dan "Jodoh Pasti Bertemu" dihadirkan lewat aransemen semi-grande orchestra. Tata lampu (lighting), kualitas suara, konsep panggung, hingga detail visual lainnya benar-benar memuaskan seluruh penonton yang hadir.
After this, it's time to take a rest for a while, Afgan. Kabar bahwa ia sempat jatuh sakit dua minggu sebelum konser sempat membuatku dan penggemar lain sangat khawatir. Namun, profesionalisme Afgan terbukti nyata di sepanjang konser malam itu. "AFGAN RETROSPEKTIF THE CONCERT" sukses besar dan tampil begitu memukau!

Setlist AFGAN RETROSPEKTIF THE CONCERT sudah tersedia di Spotify. Klik di sini.

Sunday, 19 July 2026

[Review] Heartstopper Forever: Akhir Manis Untuk Perjalanan Cinta Nick Nelson Dengan Charlie Spring!

 



#Description:
Title: Heartstopper Forever (2026)
Casts: Kit Connor, Joe Locke, William Gao, Yasmin Finney, Corinna Brown, Kizzy Edgell, Tobie Donovan, Jennie Walser, Rhea Norwood, Leila Khan, Fisayo Akinade, Nima Taleghani, Jack Barton, Darragh Hand, Anna Maxwell, Eddie Marsan
Director: Wash Westmoreland
Studio: See-Saw Films, Netflix


#Synopsis:
Memasuki kelas XI, Charlie Spring (Joe Locke) mencalonkan diri sebagai ketua OSIS di sekolahnya. Dalam kampanyenya, ia membawa visi dan misi utama untuk memberantas perundungan (bullying) serta menciptakan lingkungan yang menghargai setiap orientasi seksual. Meski sempat ragu, rasa percaya diri Charlie perlahan tumbuh berkat dukungan penuh dari sang kekasih, Nick Nelson (Kit Connor), serta sahabat-sahabatnya: Tao Xu (William Gao), Tara Jones (Corinna Brown), Darcy Olsson (Kizzy Edgell), dan Isaac (Tobie Donovan). Berkat dukungan tersebut, Charlie pun resmi terpilih menjadi ketua OSIS yang baru.


Setelah dilantik, langkah pertama Charlie adalah berencana membentuk komunitas Pride Club. Sayangnya, niat tersebut ditolak oleh kepala sekolah karena berbagai pertimbangan. Beruntung, dua guru mereka, Mr. Ajayi (Fisayo Akinade) dan Mr. Farouk (Nima Taleghani), berinisiatif mengizinkan Charlie dan para siswa lainnya menggunakan ruang kesenian sebagai tempat berkumpul Pride Club.


Di sisi lain, Nick yang berada di tingkat akhir telah menentukan Universitas Leeds sebagai pilihan utamanya. Keputusan ini mendatangkan rasa cemas dalam diri Nick terkait bayang-bayang hubungan jarak jauh (LDR) dengan Charlie. Berbeda dengan Nick, Charlie justru menyikapi kabar tersebut dengan santai. Ia meyakinkan Nick bahwa jarak bukanlah masalah karena mereka masih bisa saling mengunjungi. Charlie bahkan membantu Nick menyusun personal statement untuk pendaftaran kampus, serta menyarankannya mencari kegiatan di luar sekolah hingga Nick akhirnya diterima sebagai sukarelawan di penampungan anjing.



Seiring berjalannya waktu, kesibukan masing-masing mulai menyita perhatian mereka. Suatu malam saat menginap di rumah Nick, Nick terbangun dari mimpi buruk tentang Charlie. Ketakutannya semakin membendung saat melihat hubungan Tao dan Elle Argent (Yasmin Finney) yang akhirnya kandas akibat LDR. Situasi kian memuncak ketika mereka mengunjungi sebuah bar. Dalam kondisi mabuk berat, Nick tersulut cemburu melihat Charlie berbincang dengan pria lain, lalu pergi begitu saja meninggalkan Charlie. Ketegangan itu berlanjut hingga keesokan harinya, di mana Nick mengalami insiden saat bertanding rugbi yang membuat pelipisnya berdarah dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Merasa dirinya hanya menjadi beban dan terus diliputi kecemasan, Nick mengambil keputusan berat untuk mengakhiri hubungannya demi kebaikan Charlie. Ia berpikir Charlie akan hidup lebih tenang tanpa dirinya. Keputusan ini menghantam Charlie dengan sangat keras. Mengalami patah hati mendalam, Charlie kembali mengurung diri dan kecemasannya berimbas pada gangguan makan yang kambuh. Kondisi ini membuat orang tua, kakaknya (Tori Spring), serta para sahabatnya merasa sangat khawatir.


Selama berpisah, baik Nick maupun Charlie sebenarnya sama-sama rindu dan sering mengetik pesan singkat untuk memulai komunikasi, walau akhirnya ragu untuk mengirimkannya. Titik terang sempat muncul ketika mereka tak sengaja bertemu kembali di acara Pride Parade yang digagas oleh Elle dan berlanjut di sebuah Gay Club. Namun, kesalahpahaman justru terjadi saat Charlie melihat Nick sedang asyik mengobrol dengan seorang perempuan. Mampukah mereka menyelesaikan kesalahpahaman ini dan kembali bersatu, ataukah ini menjadi akhir dari perjalanan cinta Nick dan Charlie?


#Review:
Serial coming of age asal Inggris yaitu HEARTSTOPPER sukses mencuri perhatian penonton setia Netflix saat tayang perdana pada April tahun 2022 lalu. Serial yang menceritakan tentang drama percintaan dan persahabatan remaja di Truham School ini kemudian berkembang seiring bertambahnya usia para karakter dengan mengeksplorasi seksualitas, identitas gender, kesehatan mental, keintiman dan masa awal kedewasaan. Tiga musim yang sudah dirilis dalam rentang waktu 2022-2024 berhasil mendapat respon sangat positif dari para penonton dan juga kritikus. Dari situs Rotten Tomatoes,
Season 1 sukses mencetak 100% certified fresh, Season 2 sukses mencetak 96% certified fresh dan Season 3 kembali sukses mencetak 100% certified fresh.


Netflix dan See-Saw Films menutup cerita para remaja di Truham School ini lewat format film layar lebar berjudul HEARTSTOPPER FOREVER (2026) yang tayang secara eksklusif di Netflix mulai 17 Juli kemarin. Konflik utama film ini berfokus pada ketakutan akan long distance relationship ketika Nick bersiap melanjutkan studinya ke Universitas Leeds, sementara Charlie resmi terpilih menjadi ketua OSIS baru di sekolahnya. Bayang-bayang perpisahan ini semakin nyata ketika mereka melihat hubungan sahabat mereka, Tao dan Elle, harus kandas karena Elle pindah ke Berlin. Ketakutan Nick akan masa depan yang tidak pasti, dipadu dengan cemburu dan kecemasan yang membendung, sempat membuat Nick mengambil keputusan sepihak untuk memutuskan Charlie demi "kebaikan" kekasihnya itu. Hal tersebut menjadi sebuah dinamika emosional yang memicu retaknya hubungan sebelum akhirnya mereka menyadari betapa kuatnya ikatan di antara mereka. Dinamika dan ketakutan dalam film ini terasa sangat beralasan jika melihat bagaimana hubungan Nick dan Charlie dibentuk dan diuji sepanjang tiga musim serialnya. Penonton diajak mengingat kembali bagaimana cerita mereka bermula di Musim 1 dari pertemuan manis di bangku kelas, perjuangan Nick memahami identitas biseksualnya, hingga keberaniannya merangkul Charlie di depan publik. Perkembangan tersebut berlanjut ke Musim 2, di mana romansa manis mereka di Paris mulai diuji oleh realitas coming out di depan keluarga Nick yang rumit, sekaligus menjadi awal terungkapnya trauma masa lalu Charlie akibat perundungan parah yang pernah ia alami di sekolah.
Puncak pendewasaan karakter mereka di serial yang sangat memengaruhi konflik dalam film ini terjadi pada Musim 3. Pada musim tersebut, fokus cerita bergeser ke isu kesehatan mental yang lebih berat, di mana Charlie harus berjuang melawan anorexia dan OCD hingga menjalani perawatan intensif di fasilitas rehabilitasi. Di sisi lain, Nick belajar untuk tidak menjadi penyelamat melainkan menjadi pendamping yang sehat bagi kesehatan jiwa Charlie. Fondasi empati, komunikasi terbuka, dan penerimaan diri yang terbangun dengan susah payah sepanjang tiga musim itulah yang menjadi alasan mengapa konflik perpisahan di film HEARTSTOPPER FOREVER (2026) tidak langsung menghancurkan cinta mereka. Meskipun film HEARTSTOPPER FOREVER (2026) berhasil memberikan penutup yang emosional, film ini tidak lepas dari beberapa kekurangan dari segi penceritaan. Dengan durasi film yang terbatas, alur cerita terasa sedikit terburu-buru dalam mengeksplor konflik utama. Dinamika putus-nyambung Nick dengan Charlie diselesaikan secara aman demi mengejar happy ending. Beberapa subplot karakter pendukung tampil hanya selewat saja mengingat keterbatasan durasi, meskipun sebagian dari mereka sudah mendapat porsi yang melimpah di 3 season serialnya.
Dari segi performa akting, jajaran pemeran utama kembali membuktikan kematangan kualitas seni peran mereka. Joe Locke tampil semakin matang dalam menyampaikan kerentanan emosional; sorot matanya secara tajam mampu menggambarkan ketakutan akan depresi dan gangguan makan yang sewaktu-waktu bisa kambuh saat ia patah hati. Penampilan Kit Connor yang semakin atletis dan bulky juga memberikan penampilan yang luar biasa melalui gestur tubuhnya yang cemas, adegan kejujuran yang emosional, hingga ledakan emosi saat mabuk yang menunjukkan sisi frustrasi seorang remaja yang takut kehilangan orang terkasihnya. Chemistry di antara keduanya tetap menjadi fondasi terkuat yang membuat setiap adegan intim maupun konflik terasa sangat nyata dan believable. Kehadiran Anna Maxwell Martin yang menggantikan Olivia Colman sebagai ibu Nick juga patut diacungi jempol, meskipun awalnya aku cukup ragu karena karakter ibu Nick sudah sangat melekat dengan Olivia Colman. Surprisingly, Anna Maxwell Martin mampu membawakan peran seorang ibu yang supportive dengan kehangatan yang pas tanpa terasa memaksakan diri.
Overall, film HEARTSTOPPER FOREVER (2026) berhasil memanfaatkan jejak emosional dari tiga musim sebelumnya untuk memberikan konklusi yang memuaskan. Film ini bukan hanya sekadar penutup romansa remaja, melainkan sebuah perayaan tentang bagaimana cinta yang sehat, persahabatan, dan penerimaan diri mampu bertahan melintasi waktu dan juga jarak. So memorable!


[9/10Bintang]

Thursday, 16 July 2026

[Review] The Odyssey: Mengikuti Perjalanan Pulang Raja Ithaca Yang Sangat Spektakuler!

 


#Description:
Title: The Odyssey (2026)
Casts: Matt Damon, Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Lupita Nyong'o, Zendaya, Charlize Theron, Benny Safdie, Jon Bernthal, Mia Goth, John Leguizamo, Himesh Patel, Will Yun Lee, Jimmy Gonzales, Elliot Page, Bill Irwin, Samantha Morton, Logan Marshal-Green
Director: Christopher Nolan
Studio: Universal Pictures, Syncopy


#Synopsis:
Setelah memenangkan Perang Troya berkat strategi cerdiknya, Raja Ithaca, Odysseus (Matt Damon), bersiap berlayar pulang bersama pasukannya. Namun, perjalanan melintasi Samudera berubah menjadi petualangan berbahaya. Saat singgah di sebuah pulau untuk mencari perbekalan, mereka menyusuri bukit hingga menemukan gua yang diyakini sebagai sarang kawanan domba. Di dalam gua yang gelap, mereka menemukan sisa api unggun, perkakas besi dan bungkusan keju fermentasi. Sialnya, sebelum sempat mengambil makanan tersebut, kawanan domba masuk bersama Cyclops Polyphemus, makhluk mitologi raksasa bermata satu.



Kepanikan memicu pasukan Odysseus untuk menyerang, raksasa itu membalasnya dan membantai beberapa prajurit. Karena pintu gua ditutup dengan batu raksasa, Odysseus menginstruksikan pasukannya untuk berdiam tanpa suara memanfaatkan keterbatasan penglihatan sang monster. Saat matahari mulai terbit, Cyclops menggeser batu untuk mengeluarkan ternaknya. Odysseus dan para prajurit menyelinap keluar di antara kerumunan domba. Sebelum kabur, Odysseus berhasil melempar kayu tajam ke arah mata Cyclops. Sambil mengerang kesakitan, monster itu mengejar mereka hingga ke pantai dan menghancurkan beberapa kapal. Ia menyumpahi pelayaran Odysseus seraya memohon bantuan ayahnya, Dewa Poseidon, untuk mengutuk perjalanan sang raja. Kutukan itu terbukti nyata. Gelombang tinggi dan badai dahsyat nyaris menenggelamkan mereka. Berhari-hari terlantar di laut lepas, mereka akhirnya melihat pulau beriklim salju bernama Aeaea. Saat mencari makanan, mereka melihat seorang anak dengan berzirah perak yang mendadak berteriak lalu melarikan diri. Tak lama kemudian, kawanan prajurit raksasa Laestrygonians muncul dan mengepung mereka. Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan dan merenggut banyak nyawa prajurit Ithaca sebelum sisa armada berhasil meloloskan diri.



Sementara Odysseus berjuang di laut lepas, Kerajaan Ithaca berada di ambang kehancuran. Sang istri, Penelope (Anne Hathaway), harus beradu taktik menghadapi puluhan pelamar yang berambisi merebut takhta. Salah satu pemuda paling licik, Antinous (Robert Pattinson), bahkan menyusun rencana jahat untuk menguasai kerajaan. Di sisi lain, sang putra, Telemachus (Tom Holland), tumbuh dalam bayang-bayang ketidakpastian. Ia dan ibunya dianggap naif oleh para pelamar gara-gara meyakini jika Odysseus masih hidup, serta tidak menghormati Hukum Zeus dalam menyambut para tamu di kerajaan mereka. Selain Penelope dan Telemachus, peternak babi kerajaan Ithaca yaitu Eumaeus (John Leguizamo) juga percaya jika sahabatnya itu pasti pulang.
Telemachus kemudian menyusun rencana untuk berlayar tanpa sepengetahuan ibunya menuju kerajaan Sparta dan ditemani Mentor (Ryan Hurst). Ia ingin menemui Menelaus (John Bernthal), veteran Perang Troya yang sudah pulang duluan namun berpisah dengan Odysseus setelah selesai perang. Namun sayang, rencana tersebut ketahuan Antinous. Bekerja sama dengan Polybus (Corey Hawkins), Antinous pun menyusun rencana jahat untuk menghadang dan menghabisi nyawa Telemachus di tengah pelayarannya menuju Sparta.



Di sisi lain, sisa armada Odysseus harus menembus pusaran air raksasa Charybdis dan serangan monster Scylla yang bersembunyi di balik tebing laut. Kejadian tersebut menyisakan beberapa kapal dan segelintir prajurit. Mereka kemudian melintasi perairan keramat tempat bersemayamnya para Sirens, makhluk gaib bersuara merdu yang sanggup membunuh siapa pun yang mendengar nyanyiannya. Atas perintah Odysseus, para prajurit menyumbat telinga mereka dengan lilin hingga selamat menembus wilayah tersebut.
Setelah berhasil melintasi perairan penuh nyanyian maut dari para Sirens, Odysseus dan prajurit yang tersisa akhirnya melihat sebuah pulau dengan kepulan asap yang menjulang dari cerobong sebuah rumah. Didorong rasa lapar dan lelah, kapal pun merapat. Beberapa prajurit diutus untuk mendekati rumah tersebut. Di sana, mereka disambut hangat oleh seorang wanita bernama Cerci (Samantha Morton) yang menjamu mereka dengan hidangan yang sangat lezat. Tanpa rasa curiga, para prajurit melahap jamuan itu, perlahan-lahan terlena oleh kehangatan tempat tersebut. Di kapal, Odysseus dilanda kecemasan karena pasukannya tak kunjung kembali. Dengan perasaan tak enak, ia memutuskan untuk menyusul ke atas. Tiba di depan rumah, Odysseus terkejut saat menemukan tumpukan baju zirah dan senjata prajuritnya berserakan di luar rumah. Dalam percakapannya yang penuh teka-teki dengan Cerci yang bersikap dingin, Odysseus perlahan-lahan menyadari adanya hal aneh yang terjadi di sana.


Usai meninggalkan kediaman Cerci, Odysseus dan prajuritnya kembali mengarungi lautan hingga terjebak di wilayah misterius bernama Hades. Di sana, Odysseus berhadapan dengan arwah peramal bernama Tiresias (James Remar) yang mengatakan bahwa hanya Odysseus seorang yang akan selamat sampai ke Ithaca. Menolak tunduk pada takdir kejam tersebut, Odysseus bertekad melawan kehendak para dewa demi menyelamatkan sisa pasukannya. Di sana, ia juga bertemu dengan arwah rekan-rekan seperjuangannya yang telah gugur, termasuk Agamemnon (Benny Safdie) yang menceritakan nasibnya yang tewas dibunuh oleh istrinya sendiri, Clytemnestra (Lupita Nyong'o) tak lama setelah pulang dari Perang Troya. Odysseus juga bertemu dengan Sinon (Elliot Page) yang menceritakan tentang pengkhianatan kakaknya, Antinous yang mengirimkan dirinya untuk menjadi prajurit Ithaca dalam Perang Troya. Setelah berjuang meloloskan diri dari Hades, nasib buruk kembali mengintai mereka. Badai dahsyat di tengah malam menghantam pelayaran dan menghancurkan kapal terakhir yang tersisa.


Odysseus yang terombang-ambing di laut lepas akhirnya terdampar di pantai berpasir putih Pulau Ogygia. Di sana, ia ditemukan oleh sosok wanita misterius bernama Calypso (Charlize Theron) yang merawat luka-lukanya dengan ramuan bunga Lotus. Sayangnya, efek samping ramuan tersebut membuat Odysseus menderita hilang ingatan. Calypso memang sengaja melakukan hal itu demi menyandera Odysseus sebagai kekasihnya selama tujuh tahun. Meski begitu, jauh di dalam lubuk hatinya, Calypso merasa iba melihat penderitaan batin serta kerinduan mendalam sang raja untuk kembali ke tanah airnya. Ia pun perlahan membimbing Odysseus untuk merajai kembali ingatan masa lalunya. Di saat yang sama, sosok perempuan berbaju putih, Athena (Zendaya), senantiasa hadir membayangi setiap langkah sang raja. Bagaimanakah nasib Odysseus selanjutnya? Mampukah ia mengingat kembali jati dirinya dan berlayar pulang demi menyelamatkan Kerajaan Ithaca?


#Review:
Christopher Nolan kembali membuktikan kelasnya sebagai sutradara paling visioner di Hollywood melalui adaptasi megah cerita klasik asal Yunani yaitu THE ODYSSEY (2026). Mengambil fondasi karya klasik Homer, Nolan menyulap kisah perjalanan pulang King Odysseus yang legendaris menjadi sebuah film dengan cinematic experience yang intens, kelam dan juga puitis. Di film terbarunya ini, Nolan tidak sekadar menjual aksi kolosal melawan makhluk mitologi, ia juga berhasil menampilkan signature khasnya yaitu eksplorasi psikologis dari para karakternya, struktur narasi berlapis, serta audio visual premium yang membuat drama mitologi klasik ini terasa sangat memukau dan begitu nyata.


Untuk segi cerita, sang sutradara secara cerdik membagi dua fokus utama yang saling berhubungan yaitu menampilkan struggle pelayaran Odysseus di laut lepas dan krisis politik yang makin memuncak di Kerajaan Ithaca. Pola cerita yang dihadirkan pun sengaja dibuat non-linear khas film-film Nolan, namun eksekusinya masih sangat mudah dipahami, tidak seberat film INCEPTION (2010), INTERSTELLAR (2014), TENET (2020) maupun OPPENHEIMER (2023) hahaha. Treatment ini menurutku berhasil menjaga ritme film tetap kencang meski durasinya nyaris menyentuh tiga jam. Penonton tidak hanya melihat beratnya journey Odysseus beserta prajuritnya yang harus menghadapi banyak hal dalam perjalanan pulang, tetapi juga ikutan cemas menantikan apakah Odysseus bisa tiba tepat waktu sebelum kerajaan Ithaca direbut oleh para pelamar yang licik. Teknik non-linear yang diterapkan Nolan berhasil menciptakan ketegangan yang konsisten, di mana setiap kepingan masa lalu memberi makna emosional langsung pada keputusan yang diambil Odysseus. Ciri khas lainnya yang kembali dihadirkan pada pendalaman cerita dari karakter Odysseus selaku tokoh sentral dalam film ini. Nolan berhasil menyajikan sisi penyesalan dan manusiawi dari seorang Odysseus yang secara tersirat memang dirinya juga punya rasa penyesalan atas ide patung kuda raksasa dan Perang Troya itu dan berdampak besar terhadap banyak hal.


Untuk jajaran pemain, penampilan Matt Damon memberikan performa yang sangat emosional sekaligus berani sebagai Odysseus. Matt Damon tidak hanya tampil sebagai raja sekaligus ahli strategi perang yang perkasa, melainkan ia juga sebagai veteran perang jiwanya perlahan retak oleh trauma, kesombongan, dan rasa bersalah atas gugurnya para prajurit Ithaca. Perubahan fisik yang ia lakukan secara alami tanpa bantuan efek CGI sukses membuatku terpana sekaligus pangling. Sementara itu, Anne Hathaway menghadirkan kepemimpinan yang anggun dan berwibawa di kerajaan Ithaca sebagai Penelope. Kesetiannya yang menunggu cinta sejatinya pulang tersampaikan dengan baik dan penuh emosional. Saat ia beradu peran secara intens dengan Robert Pattinson yang tampil dingin dan manipulatif sebagai Antinous pun, pride dan wibawanya masih terjaga dengan sangat baik. Tom Holland memberikan salah satu performa akting terbaik dalam kariernya lewat perannya sebagai Telemachus. Image nya sebagai Peter Parker serta pemuda modern yang ceria benar-benar hilang dalam film ini. Holland menampilkan sosok putra raja yang tumbuh dalam trauma, keraguan, dan beban ekspektasi yang teramat berat. Pada paruh awal film, Holland sangat apik menggambarkan kebingungan dan kecanggangan seorang pemuda yang dibesarkan tanpa sosok ayah, dikelilingi oleh musuh-musuh politik yang siap menelannya hidup-hidup. Raut wajah dan bahasa tubuhnya memancarkan kerentanan yang membuat penonton dengan mudah bersimpati pada karakter Telemachus. Robert Pattinson tampil sangat memukau sebagai Antinous, pemimpin para pelamar yang berambisi menguasai takhta kerajaan Ithaca. Pattinson memilih pendekatan yang sangat menarik ia membawakan Antinous dengan gaya yang dingin, tenang dan intimidatif. Ia berhasil menjadikan Antinous sosok politikus licik yang tahu persis cara memanfaatkan kelemahan lawan demi mencapai tujuannya.


Untuk urusan visual, Christopher Nolan berhasil membawa film THE ODYSSEY (2026) menjadi film bioskop pertama dan satu-satunya dalam sejarah yang syutingnya 100% menggunakan IMAX 70mm Camera. Ditambah lagi beliau meminimalisasi penggunaan efek CGI dan mengandalkan practical effect sehingga memberikan dampak yang luar biasa saat menontonnya di layar bioskop. Setiap adegan mulai dari yang bombastis seperti adegan dahsyat badai di tengah laut hingga adegan sederhana yang menampilkan keindahan alam Yunani tampil sangat outstanding. Desain tata suara yang menggelegar dan scoring musik atmosferik garapan Ludwig Goransson kian menegaskan kengerian laut lepas dan teror makhluk mitologi yang terus membayangi sepanjang pelayaran.
Overall, film THE ODYSSEY (2026) adalah sebuah pencapaian sinematik yang monumental untuk kesekian kalinya dari Christopher Nolan. Film ini berhasil menjembatani keagungan mitologi kuno dengan sensibilitas sinema modern tanpa kehilangan jiwa kemanusiaan di dalamnya. Beyond, Ultra and Pro Max Cinematic Experience! Borong piala Oscars lagi inimah!


[10/10Bintang]

Monday, 13 July 2026

[Review] Evil Dead Burn: Terror Iblis Deadite Yang Semakin Menggila Dan Tanpa Ampun!

 


#Description:
Title: Evil Dead Burn (2026)
Casts: Souheila Yacoub, Tandi Wright, Hunter Doohan, Luciane Buchanan, Erroll Shand, Maude Davey, Alain Chabat, George Pullar, Greta van den Brink, Keanu Karim, Tapiwa Soropa, Alyssa Sutherland
Director: Sébastien Vaniček
Studio: New Line Cinema, Screen Gems, Ghost House Pictures, Sony Pictures


#Synopsis:
Joseph Price (Hunter Doohan) sedang meneliti hasil studi mendiang kakeknya, Benjamin, mengenai buku terkutuk Necronomicon dan Deadit, sosok iblis yang selama ini meneror manusia secara sadis. Dalam rekaman studi tersebut, Benjamin rupanya menyembunyikan sebuah belati bernama Kandarian yang konon dapat menangkal sekaligus memusnahkan Deadite. Namun sayang, belati tersebut punya kelemahan. Ketika pembungkus belati dibuka, keberadaannya akan memancing kedatangan Deadite. Dan benar saja, penemuan belati oleh Joseph itu membangkitkan kembali Deadite Jessica (Greta van den Brik) yang selama ini terperangkap di dasar danau. Nasib sial pun menimpa dua pemancing di danau tersebut. Jared (Keanu Karim) dan Leo (Victoru Ndukwe), yang menjadi korban kebrutalan Deadite Jessica.


Di sisi lain, kakak Joseph yaitu Will Price (George Pullar), bertengkar hebat dengan istrinya, Alice (Souheila Yacoub) ketika sedang merayakan ulang tahun Joseph dengan pacarnya, Thya (Luciane Buchanan) di bar. Alice merasa semakin tidak ada kecocokan dengan suaminya itu. Will yang tempramental dan sering mabuk, membuat Alice makin ragu untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Dalam kondisi mabuk berat, Will memutuskan pergi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi melintasi jalan raya yang gelap. Hal tersebut memicu kecelakaan fatal usai menabrak Deadite Jessica yang tiba-tiba muncul dan berdiri di tengah jalan. Saat Will tewas dalam kobaran api mobilnya, Deadite Jessica membacakan mantra Necronomicon untuk memindahkan jiwa iblis dari tubuhnya ke tubuh Will.


Kematian Will memaksa keluarganya untuk kembali berkumpul. Alice bertemu lagi dengan Joseph, Thya, kedua mertuanya, Susan (Tandi Wright) dan Edgar Price (Eroll Shand), serta nenek mereka yaitu, Polly (Maude Davey). Saat sesi kebaktian, Susan menceritakan berbagai kenangan indah bersama mendiang anaknya itu. Isak tangis perlahan terdengar dari Joseph, Thya, Edgar, Alice dan kerabat lainnya. Sebelum proses kremasi, Edgar mendatangi peti Will untuk mengucapkan salam perpisahan. Ditengah kesedihannya itu, Edgar mendengar suara tendangan dari dalam peti. Ia pun berusaha membukanya karena terdengar seperti anaknya yang meminta pertolongan. Saat peti terbuka, jasad Will mendadak bangkit karena telah dirasuki Deadite. Ia kemudian membakar tangan Edgar dan membunuh petugas kremasi. Setelah kejadian tersebut, Edgar kembali ke gereja. Setelah itu, keluarga Price pun pulang ke rumah mereka.



Setibanya di rumah, Susan, Joseph, Alice, dan Thya merawat luka bakar pada tangan Edgar. Setelah kondisi Edgar membaik, keluarga Price menggelar makan malam bersama. Perselisihan kembali pecah antara Susan, Edgar, Alice dan Joseph. Mereka masih menyalahkan Alice dan juga Joseph atas kematian Will. Di tengah emosi yang meluap, Edgar secara brutal menusuk anjing peliharaan mereka menggunakan garpu hingga tewas. Melihat kondisi Edgar yang makin tak terkendali, Joseph dan Thya bergegas membawanya ke rumah sakit dengan mobil. Di tengah perjalanan, pengaruh Deadite membuat Edgar makin menggila. Ia menyerang Joseph dan Thya secara brutal hingga menyebabkan mobil mereka kecelakaan. Joseph berhasil selamat dari kecelakaan dan melarikan diri dari mobil tersebut.
Sementara itu di rumah, Alice tak sengaja menemukan buku catatan penelitian Benjamin yang sebelumnya dipelajari oleh Joseph. Tepat sebelum Alice membaca mantra dari buku terkutuk Necronomicon tersebut, ia mendadak diserang oleh anjing mereka yang bangkit kembali karena telah dirasuki Deadite.


Di tengah kekacauan itu, Joseph berhasil kembali ke rumah. Tak lama kemudian, Thya mendadak muncul di depan pintu dengan kondisi mengenaskan usai dirasuki Deadite. Thya langsung menyerang Joseph, Alice, Susan, dan Nenek Polly, sebelum akhirnya berhasil dijatuhkan ke dalam basement rumah. Keadaan semakin tak terkendali saat Edgar dan anjing mereka muncul di rumah dengan kondisi sudah sepenuhnya dirasuki Deadite. Bersama dengan Thya, mereka memburu keberadaan Belati Kandarian yang disembunyikan oleh Joseph. Bagaimanakah nasib keluarga Price selanjutnya? Mampukah mereka menyelamatkan diri dari teror sadis para Deadite yang kini merasuki anggota keluarga mereka sendiri?


#Review:
Salah satu franchise horror slasher ikonik dan legendaris karya Sam Raimi yang sudah eksis sejak 45 tahun lalu yaitu EVIL DEAD, kini kembali hadir dengan film standalone terbarunya di summer tahun ini berjudul EVIL DEAD BURN (2026). Menariknya, film ini menjadi film standalone ketiga dari EVIL DEAD versi modern setelah film pertamanya karya Fede Alvarez pada tahun 2013 dan film keduanya karya Lee Cronin, EVIL DEAD RISE (2023) pada tahun 2023.


Untuk segi cerita, pola dan treatment yang digunakan film EVIL DEAD BURN (2026) masih setia seperti film-film terdahulu yaitu tentang buku terkutuk, belati mistis dan serbuan iblis Deadite yang merasuki manusia dan menyerang secara ugal-ugalan. Seperti biasanya juga, film langsung dibuka dengan aksi sadis dan brutal ketika manusia menjadi korban keganasan manusia yang kerasukan Deadite. Sutradara asal Perancis yaitu Sebastian Vanicek berhasil mengeksekusi visual film ini lebih gelap dan kelam, menjadikan film EVIL DEAD BURN (2026) sebagai salah satu judul paling sadis, menjijikkan, penuh darah dan tanpa ampun dalam sejarah panjang franchise EVIL DEAD. Dinamika cerita yang berpusat pada konflik internal keluarga Price memberikan fondasi emosional yang pas sebelum pertumpahan darah dimulai. Pergolakan batin karakter Alice yang terjerat duka dan trauma akibat toxic relationship di masa lalunya menjadi "bensin" efektif yang sangat mudah dibakar oleh para Deadite. Pilihan lokasi rumah pinggir danau yang terisolasi sukses menciptakan rasa klaustrofobia yang kuat. Ketika keluarga disfungsional ini dipaksa berhadapan dengan teror supranatural, kepribadian dan rahasia kelam masing-masing justru dieksploitasi oleh iblis Deadite untuk saling menghancurkan dari dalam. Sesuai dengan branding dan reputasi franchise EVIL DEAD yang mengedepankan kesadisan di level maksimal, film EVIL DEAD BURN (2026) tentunya sangat royal dalam menyajikan serangkaian aksi sadis dan brutal di sepanjang film. Hampir semu adegan sukses membuatku ngilu, tutup mata dan sekalinya melihat, aku langsung dibuat mual. Sungguh gila! Sang sutradara juga rupanya sangat mengoptimalkan practical effect di setiap adegan gore dan slasher nya. Penonton bisa melihat secara gamblang bagaimana adegan kulit dan daging manusia hancur dengan mudahnya oleh kelakuan si Deadite sialan itu. Setiap penonton mengira jika kekerasan level ekstrim sudah ditampilkan, film ini menampilkan lagi "kegilaan" yang lebih gila. Hal tersebut membuktikan jika tidak ada satupun karakter dalam film yang aman dari siksaan ekstrim dari Deadite.
Salah satu pencapaian terbaik film EVIL DEAD BURN (2026) terletak pada kemampuannya mengolah ruang sempit menjadi arena pembantaian yang memanjakan mata pecinta horor slasher dan gore. Adegan di dalam mobil dan kamar mandi. Gila banget! Melihat alat pancing, sandaran jok mobil dan pisau cukur rambut warna pink kini jadi tak lagi sama. Sialan. Kombinasi sinematografi yang agresif dan permainan black comedy di beberapa dialog berhasil menjaga pace film tetap berada di intensitas tinggi.
Terlepas dari treatment dan template yang tidak menampilkan sesuatu yang baru, film EVIL DEAD BURN (2026) sukses menegaskan identitasnya sendiri melalui eskalasi aksi yang intens dari awal sampai akhir film, motif api yang sangat membara hingga kebrutalan tanpa ampun dan tedeng aling-aling. GILAAA!

NOTE: Jangan lupa terdapat post credit scene dan end credit scene yang berkaitan dengan film sebelumnya loh! Capek.


[8.5/10Bintang]