#Description:
Title: Operasi Pesta Copet (2026)
Title: Operasi Pesta Copet (2026)
Casts: Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Kawai Labiba, Zulfa Maharani, Fauzan Lubis, Azizah Hanum, Ardit Erwandha, Kiki Narendra, Bukie B. Mansyur, Yeyen Lidya, Myesha Lin, Totos Rasiti, Rio Dumatubun, Martin Anugrah, Rhoma Irama
Director: Edy Khemod
Studio: Imajinari Pictures
#Synopsis:
Setelah terkena PHK, Ijal (Iqbaal Ramadhan) belum juga mendapatkan pekerjaan baru. Demi bertahan hidup dan membayar sewa kontrakan, ia terpaksa mengamen sebagai badut jalanan bersama sahabatnya, Adut (Kristo Immanuel). Meski sudah mengamen seharian, penghasilan Ijal masih jauh dari kata cukup. Setibanya di kontrakan, Ijal dikejutkan oleh kedatangan sang ibu (Yeyen Lidya) yang mendadak meminta bantuan untuk melunasi tagihan pinjaman online sebesar 13 juta rupiah. Ijal yang sebenarnya masih memendam sakit hati karena pernah ditinggalkan demi suami baru ibunya, kini harus menghadapi kenyataan pahit. Sang ibu kembali karena sudah bercerai, memboyong adik tirinya, Mila (Myesha Lin) dan menuntut bantuan untuk melunasi utangnya.
Di sisi lain, sepupu Ijal yang bernama Melodi (Kawai Labiba), anak dari Tante Meli (Damita Almira) datang meminta Ijal menemaninya menonton konser gratis. Awalnya Ijal menolak karena belum pernah menonton konser musik, tetapi ia akhirnya setuju setelah dijanjikan traktir makan. Di lokasi konser, melihat kerumunan penonton yang membludak, timbul niat Ijal untuk kembali mencopet. Aksi itu sebenarnya sudah lama ia dan Adut tinggalkan sejak teman mereka, Bang Silet (Fauzan Lubis), tertangkap warga dan masuk penjara. Saat konser berlangsung, Ijal sukses mencopet empat unit ponsel dan langsung menceritakannya kepada Adut. Tergiur oleh peluang besar tersebut, mereka sepakat untuk terus mengincar acara-acara konser musik berikutnya. Hasil dari mencopet itu rencananya akan Ijal dan Adut gunakan sebagai jalan pintas demi memutus rantai kemiskinan yang selama ini menjerat hidup mereka.
Melodi sempat kesal saat Ijal mendadak bertanya soal konser musik. Ia menyayangkan kenapa Ijal baru tertarik sekarang, padahal jika sejak dulu menyukai konser musik, Melodi tak perlu repot-repot menonton konser sendirian. Meski begitu, Melodi memberi tahu Ijal dan Adut tentang Pestapora, festival musik akbar yang akan digelar selama tiga hari berturut-turut pada September mendatang dan dihadiri ratusan ribu penonton. Melodi membocorkan potensi besar. Jika berhasil mencopet 100 ponsel per hari, mereka bisa meraup 300 ponsel bernilai sekitar 600 juta rupiah. Tergiur oleh angka yang sanggup merubah nasib mereka, Ijal dan Adut langsung menyusun rencana. Karena area festival sangat luas, Melodi menyarankan mereka untuk merekrut anggota tambahan. Adut pun mengusulkan Tia (Zulfa Maharani), mantan kekasih Ijal yang pernah ditangkap polisi akibat menjadi penadah hasil curian Ijal dan Bang Silet.
Setelah diyakinkan, Tia akhirnya bersedia bergabung dengan Ijal, Adut, dan Melodi. Demi kelancaran aksi mereka, Melodi memberikan pembekalan mengenai situasi konser hingga melatih gerakan joget agar mereka tampil meyakinkan di tengah kerumunan. Melodi juga mendorong mereka melakukan uji coba mencopet di beberapa acara musik sebelum konser Pestapora dimulai. Keuntungan dari aksi uji coba ini nantinya digunakan untuk membiayai tiket tiga hari Pestapora beserta seluruh atribut yang dibutuhkan.
Uji coba di tiga konser musik berjalan sukses. Ijal, Adut, Melodi, dan Tia berhasil mencopet puluhan ponsel dari para penonton. Keuntungan penjualan ponsel itu langsung digunakan untuk membeli tiket Pestapora, sementara sisanya dibagi rata. Ijal menyerahkan sebagian uangnya kepada sang ibu yang terus-menerus menagih uang, sedangkan Adut memakainya untuk membeli burger kesukaan dan obat sang ayah. Di sisi lain, Melodi memanfaatkan uang tersebut untuk memproduksi kaos sablon seragam mereka berempat, sementara Tia memberikan sebagian hasil bagiannya kepada sang ayah yang berjualan mie ayam.
Suksesnya aksi Ijal, Adut, Melodi, dan Tia mencopet puluhan ponsel menjadi perbincangan hangat di kalangan warga sekitar. Kabar tersebut rupanya sampai juga ke Bang Silet yang ternyata telah bebas dari penjara. Bang Silet mendatangi Ijal dan Adut untuk menawarkan diri bergabung. Ia berjanji jika bertambahnya personel akan melipatgandakan hasil curian mereka. Tanpa ragu, Ijal menyambut baik tawaran tersebut dan langsung mengajaknya masuk ke dalam tim untuk konser Pestapora. Keputusan sepihak Ijal ini memicu amarah Tia. Ia paham betul rekam jejak Bang Silet yang selalu lepas tangan dan mementingkan diri sendiri saat beraksi, seperti pengalaman pahit Tia dulu yang ditinggal sendirian hingga tertangkap warga di pasar. Namun karena Ijal sudah terlanjur memberi lampu hijau, Bang Silet resmi menjadi anggota baru yang siap beraksi bersama mereka di konser Pestapora.
Setelah persiapan matang, Ijal, Adut, Melodi, Tia, dan Bang Silet akhirnya melancarkan aksi di konser Pestapora. Pembagian tugas pun berjalan sesuai rencana. Ijal, Adut, Tia, dan Bang Silet berpencar ke berbagai panggung untuk mencopet ponsel dari para penonton. Sementara Melodi menyamar sebagai petugas kebersihan yang mengendalikan operasional penadahan dengan melempar hasil curian ke dalam tempat sampah dorongnya.
Hari pertama konser Pestapora dimulai dengan sukses besar. Namun, suasana diantara Ijal, Adut, Tia dan Bang Silet jadi tegang ketika Bang Silet memamerkan trik nekatnya mencopet menggunakan semprotan bubuk cabai. Metode agresif ini memang berhasil mengumpulkan banyak ponsel dalam waktu singkat. Hal tersebut membuat Ijal kegirangan. Namun sebaliknya, Tia sangat cemas karena cara berbahaya itu bisa memicu kecurigaan para penonton dan membongkar aksi mereka. Hari pertama di konser Pestapora, Ijal, Adut, Tia, Melodi dan Bang Silet berhasil mengumpulkan ratusan ponsel. Dampaknya, panitia Pestapora dibanjiri laporan kehilangan. Menanggapi situasi yang tak terkendali ini, Pak Iwan (Martin Anugrah) selaku perwakilan penyelenggara konser Pestapora langsung menerjunkan personel keamanan tambahan dari vendor milik Pak Toni (Kiki Narendra) untuk memperketat pengawasan di hari kedua dan ketiga. Bagaimana aksi Ijal dan yang lainnya di hari kedua dan ketiga konser Pestapora? Apakah akan berjalan mulus atau justru sebaliknya?
#Review:
Rumah produksi Imajinari Pictures semakin konsisten dan berpegang teguh pada prinsip untuk menghadirkan film dengan ide-ide fresh sekaligus original. Di bulan Agustus ini, Imajinari baru saja merilis film terbarunya berjudul OPERASI PESTA COPET (2026) yang menjadi debut bagi musisi Edy Khemod sebagai sutradara film layar lebar. Langkah Imajinari terasa semakin "nekat" karena di film ini mengangkat cerita tentang komplotan pencopet yang sering beraksi di berbagai acara musik.
Meskipun berhasil menyajikan hiburan yang segar dan energik, film ini tidak sepenuhnya tampil tanpa cela. Kelemahan paling krusial justru terasa di babak akhir. Keputusan untuk mengambil jalur "insyaf" bagi para karakternya seketika meruntuhkan sisi satir dan kritik sosial yang sudah digaungkan sejak awal cerita. Sangat disayangkan Edy Khemod memilih jalan aman ini. Padahal, jika komplotan ini biarkan tetap berada di jalur kriminal hingga akhir, dampak dan pesan filmnya tentu akan jauh lebih berkesan.
Berbekal pengalamannya sebagai musisi dan sudah berkecimpung di industri musik Indonesia sejak tahun 90-an, membuat Edy Khemod sangat lihai dalam menampilkan crowded dan euphoria Konser Musik Pestapora yang menjadi latar tempat untuk film ini. Rasanya aku baru pertama kali menonton film Indonesia non dokumenter yang memiliki latar cerita acara konser dan menggunakan acara konser sungguhan. Kemeriahan konser semakin terasa maksimal karena Edy Khemod menampilkan banyak sekali referensi musik-musik non-mainstream lintas genre yang bisa menjadi pengetahuan baru bagi para penonton. Aksi-aksi ikonik seperti Moshing, Wall of Death pun dengan gilanya bisa dimasukan ke dalam cerita film OPERASI PESTA COPET (2026) ini. Semua adegan di konser Pestapora sukses membuatku terpukau dengan engambil latar di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat dengan membaur di antara ribuan penonton asli, pergerakan kamera terasa lincah dalam menangkap detail-detail aksi pencopetan di tengah himpitan kerumunan. Ditambah lagi editing yang ciamik serta efek-efek animasi stop motion saat transisi perpindahan semakin menunjukkan sisi kreativitas luar biasa dari sang sutradara dan juga Imajinari.
Film Imajinari harus ditonton dua kali!
Untuk jajaran pemain, penampilan Iqbaal Ramadhan tampil semakin lepas dari personal branding-nya selama ini dalam membawakan karakter Ijal. Mulai dari gesture, dialog dan penampilannya sudah akamsi banget. Bromance relationship bersama pemeran Adut yaitu Kristo Immanuel juga menyuntikkan humor segar yang natural tanpa terasa dipaksakan. Kawai Labiba tampil mencuri perhatian yang memberikan kesegaran sebagai Melodi. Ia berhasil membawakan karakter yang tak hanya menjadi perencana taktis tapi punya jiwa Gen Z serta emosional yang memukau. Fauzan Lubis yang debut main film layar lebar berhasil menyuntikkan ketegangan yang mengerikan lewat karakter Bang Silet. Moment mengintimidasi karakter Ijal saat di kerumunan konser bikin merinding! Zulfa Maharani memberikan tampil solid sebagai Tia, mantan kekasih Ijal yang membawa luka dari masa lalu. Lewat ekspresi muka, perasaan dan gestur yang sangat hati-hati, Zulfa efektif menyampaikan rasa trauma dan ketidakpercayaan terhadap Bang Silet.
Overall, film OPERASI PESTA COPET (2026) tidak hanya sukses membuktikan kapasitas Edy Khemod sebagai sutradara yang peka terhadap ritme visual dan dinamika festival musik, tetapi juga menjadi panggung kolaborasi antara drama remaja pinggiran dan kualitas akting luar biasa dari empat aktor utama dalam film ini. Imajinari, you did it again and again!
[9/10Bintang]







.jpeg)



















