Saturday, 9 May 2026

[Review] Billie Eilish Hit Me Hard and Soft The Tour Live in 3D: Film Konser Musik Dengan Teknologi Mutakhir!



#Description:
Title: Billie Eilish - Hit Me Hard And Soft The Tour: Live In 3D (2026)
Casts: Billie Eilish, Finneas O'Connell, James Cameron
Director: James Cameron, Billie Eilish
Studio: Lightstorm Entertainment, Darkroom Films, Interscope Films, Paramount Pictures


#Synopsis:
HIT ME HARD AND SOFT THE TOUR dibuka dengan intro yang sukses menciptakan keriuhan dari penonton dan fans. Tata cahaya, laser, musik dan visual disajikan spektakuler. Billie Eilish kemudian terlihat dari kotak LED raksasa dengan membawakan lagu pembuka Chihiro, Lunch dan NDA.
Setelah itu, film menampilkan cuplikan behind the scene tim produksi Billie Eilish untuk menggelar konser HIT ME HARD AND SOFT THE TOUR yang kali ini digelar di Co-Op Live, Manchester, Inggris. Behind the scene juga turut menampilkan proses brainstorming antara Billie Eilish dengan James Cameron yang sedang mempersiapkan concert film untuk HIT ME HARD AND SOFT THE TOUR. Proses kreatif mereka berdua berjalan dengan sangat lancar. Meskipun berasal dari generasi yang sangat berbeda, Billie Eilish dan James Cameron saling melengkapi, menghormati serta memahami keinginan satu sama lain. Billie yang berasal dari generasi GEN Z berusaha menampilkan konser sesuai dengan visinya meskipun terlihat mustahil. Namun ditangan James Cameron, semuanya bisa terwujud termasuk dengan adanya penggunaan efek 3D.
HIT ME HARD AND SOFT THE TOUR juga turut menyoroti loyalitas dan dukungan dari fans setia pada Billie Eilish. Lagu-lagu yang ditulis dan dibawakan Billie Eilish bukan sekedar lagu saja bagi mereka, namun bisa membantu mereka mengatasi masa-masa sulit dan membangkitkan semangat. Di sisi Billie Eilish, para fans setianya bukan lagi sekedar penggemar saja, ia sudah menganggap seperti keluarga dan kerabatnya sendiri.
HIT ME HARD AND SOFT THE TOUR semakin memperkuat personal branding dari Billie Eilish yang tampil sebagai penyanyi perempuan yang tidak mengekspos keseksian di setiap penampilan bermusiknya. Billie menegaskan, ia ingin dikenal dengan kemampuan vokal, aksi panggung yang sewajar-wajar saja. Hal menarik lainnya, ketika James Cameron menanyakan perihal Billie yang tidak pernah menampilkan penari latar atau dancer di setiap konsernya. Billie memilih tampil maksimal sendirian di konsernya, karena ia ingin membagi energinya secara maksimal pada penonton dan juga fans setianya.
Billie Eilish dan team nya selalu menyempatkan waktu untuk mendatangi shelter anjing terlantar di kota-kota yang didatangi tour nya. Lewat film terbarunya ini, Billie juga memberitahu fans nya jika keluarga dan team nya sudah mengadopsi anjing-anjing terlantar dari shelter.

Set List Billie Eilish - Hit Me Hard And Soft The Tour: Live In 3D (2026)
1. Chihiro
2. Lunch
3. NDA
4. Therefore I Am
5. Wildflower
6. When The Party's Over
7. The Diner
8. Ilomilo
9. Bad Guy
10. The Greatest
11. Male Fantasy
12. Skinny
13. TV
14. Bittersuite
15. Bury A Friend
16. Oxytocin
17. You Should See Me In A Crown
18. Guess
19. Everything I Wanted
20. Blue
21. Lovely
22. I Don't Wannabe You Anymore
23. Ocean Eyes
24. L'Amour De Ma Vie, Over Now
25. What Was I Made For?
26. Happier Than Ever
27. Birds Of A Feather


#Review:
Musisi perempuan asal Amerika Serikat yaitu Billie Eilish kembali menghadirkan rockumentary concert film terbarunya yang berjudul HIT ME HARD AND SOFT THE TOUR LIVE IN 3D (2026). Film ini menampilkan cuplikan world tour dari Billie Eilish yang ke-7 untuk album ketiganya berjudul HIT ME HARD AND SOFT di Co-op Live, Manchester, Inggris. Tak tanggung-tanggung, Billie Eilish yang berhasil mendapatkan predikat triple crown (pemenang Grammy, Oscars, Golden Globes) ini menggandeng sutradara James Cameron untuk menggarap film HIT ME HARD AND SOFT LIVE IN 3D (2026).


Seperti film-film konser pada umumnya, HIT ME HARD AND SOFT LIVE IN 3D (2026) menampilkan atmosfer konser yang sangat luar biasa. James Cameron membawa teknologi kamera Sony Venice 2 yang beliau gunakan di film AVATAR THE WAY OF WATER (2022) dan AVATAR FIRE AND ASH (2025) ke atas panggung konser. Hasilnya, depth setiap moment nya sangat menakjubkan! Selain itu, sang sutradara juga menggunakan teknologi 3D teknik stereoscopic yang membuat penonton di bioskop merasa berada di dalam kerumunan penonton konser, bahkan seolah-olah bisa menyentuh Billie saat ia mendekat ke kamera ketika menggunakan teknik handheld. Kontras antara biru elektrik dan hitam pekat khas album 'Hit Me Hard and Soft' tampil sangat tajam berkat teknologi HDR. Konsep panggung yang berbentuk kotak dan 360 derajat membuat berbagai atraksi visual, lighting, laser dan atmosfer konser jadi semakin gila. Tidak hanya visual, sisi audio ditangani dengan sangat presisi. Setiap bisikan Billie di lagu-lagu melankolis terdengar sangat halus dan masuk ke hati penonton. Saat lagu-lagu upbeat dengan musik menggelegar juga sukses membuat penonton terpukau serasa nonton konser langsung. Selain menampilkan performance Billie Eilish di atas stage yang luar biasa, rockumentary ini juga menyoroti dinamika kolaborasi antara Billie Eilish dengan James Cameron. Keduanya sangat saling respect satu sama lain, padahal mereka berdua berasal dari generasi yang sangat berbeda.


James Cameron benar-benar mewujudkan rockumentary yang spektakuler sesuai kemauan Billie Eilish. Selain itu, plot soal kehidupan dan kegiatan Billie Eilish dengan orang-orang disekitarnya termasuk para fans loyalnya jadi moment yang manis sekaligus emosional. Yang cukup disayangkan cuma satu yaitu KENAPA PARAMOUNT PICTURES INDONESIA TIDAK MENAMPILKAN SUBTITLE LIRIK LAGU SAAT BILLIE EILISH SEDANG PERFORMANCE!!
Overall, rockumentary BILLIE EILISH: HIT ME HARD AND SOFT LIVE IN 3D (2026) jadi salah satu best cinematic concert experience yang aku rasakan di bioskop! Worth it ditonton di layar dan audio yang bombastis! Efek 3D nya ditangan James Cameron sungguh mind blowing!


[9/10Bintang]

Wednesday, 6 May 2026

[Review] Crocodile Tears: Drama Psikologis Dari Seorang Ibu Yang Overprotective Terhadap Anak Laki-Lakinya!

 


#Description:
Title: Crocodile Tears (2026)
Casts: Yusuf Mahardika, Marissa Anita, Zulfa Maharani, Agnes Naomi, Ravi Septian, Kaan Lativan, Ego Heriyanto, Sheila Miranda, Vivi Afriyani, Riken Pramiswari, Amagerald, Uthie Diazva
Director: Tumpal Tampubolon
Studio: Tala Media, E-Motion Entertainment


#Synopsis:
Setelah kematian sang ayah ketika masih bayi, Johan (Yusuf Mahardika) yang kini beranjak dewasa tinggal berdua saja dengan sang Ibu (Marissa Anita). Mereka tinggal di tempat penangkaran buaya yang turut dijadikan tempat wisata bernama Taman Buaya. Namun sayang, seiring perkembangan zaman, Taman Buaya yang dikelola Ibu dan Johan makin sepi pengunjung. Setiap atraksi pertunjukan buaya juga penontonnya sedikit. Akibatnya, Taman Buaya jadi tidak terawat dengan baik.
Suatu malam, ketika Johan sedang asyik menonton video porno di ponselnya, ia mendengar teriakan Ibu sambil memanggilnya dari luar rumah. Saat dihampiri, sang Ibu sedang menangis di depan kandang buaya berwarna putih yang selama ini dianggap sebagai reinkarnasi dari sang suami. Johan pun kemudian mengajak pulang ibunya untuk kembali istirahat. Sampai di rumah, mereka berdua tidur di kamar yang sama dan sang ibu punya kebiasaan yang tak pernah berubah yaitu memeluk Johan dengan erat.
Keesokan harinya, Johan teringat jika ibunya ulang tahun. Setelah selesai jaga Taman Buaya, Johan pergi ke pasar membeli kado berupa parfum untuk sang ibu. Meskipun dirayakan dengan sederhana, Ibu sangat bahagia bisa merayakan kembali ulang tahun dan mendapatkan kado dari Johan. Setelah itu, Ibu dan Johan melakukan rutinitas sehari-hari mereka di Taman Buaya seperti membeli ayam untuk pakan buaya ke pasar, membersihkan got dan menyapu dedaunan kering yang ada di sana.
Waktu terus berlalu. Ketika Johan sedang di pasar membagikan flyer pentas Taman Buaya, ia tak sengaja berpapasan dengan seorang perempuan bernama Arumi (Zulfa Maharani). Mereka kemudian berkenalan setelah Johan mengantarkan Arumi ke bengkel untuk memperbaiki sepedanya yang rusak. Tak lupa mereka juga saling bertukar nomor telepon. Keesokan harinya, pentas Taman Buaya digelar. Terlihat beberapa pengunjung mulai duduk di area pentas dan menikmati pertunjukan berbahaya dari orang-orang yang berani berhadapan dengan buaya. Setelah selesai, Johan terkejut karena Arumi datang dan menonton pentas Taman Buaya. Melihat Johan dekat dengan pengunjung perempuan, sang ibu langsung mendatanginya. Johan kemudian mengenalkan Arumi pada ibunya meskipun mendapat respon yang dingin.
Sejak saat itu, pertemuan Johan dengan Arumi semakin intens. Setiap libur bekerja, Johan menyempatkan waktu untuk menemui Arumi sambil mengajarinya mengendarai motor. Selain itu, Johan juga dikenalkan pada teman-teman nongkrongnya Arumi yaitu Intan (Agnes Naomi), Dika (Ravi Septian) dan yang lainnya. Saat mereka sedang bersantai di pinggir danau, teman-teman Arumi terkejut ketika mengetahui Johan bekerja dan tinggal di Taman Buaya. Mereka kemudian menanyakan tentang gosip yang sudah lama beredar di kampung jika suami dari pemilik Taman Buaya itu tewas karena dilempar oleh istrinya ke kolam buaya di sana. Arumi pun langsung menghentikan pembicaraan tersebut dan meminta Johan agar tidak mempercayai gosip itu. Sepulang jalan-jalan, malam harinya Johan ikut ke kost nya Arumi dan mereka pun melakukan hubungan seksual.
Melihat Johan yang sedang jatuh cinta pada perempuan lain membuat ibunya cemburu. Ia belum bisa menerima kenyataan jika anaknya kini sudah dewasa dan mencintai orang lain. Agar tidak semakin jauh, ibu nekat memarahi Johan dan melarang untuk menemui Arumi lagi dengan alasan membawa pengaruh buruk. Tak hanya itu saja, ia juga menggunakan alasan mendengar bisikan dari buaya putih jika Arumi tidak pantas untuknya. Apa yang diucapkan ibunya membuat Johan sangat kesal dan marah. Ia tidak ingin selamanya hidup sendirian dan ingin juga memiliki pacar seperti pria normal pada umumnya.
Keadaan jadi semakin tidak kondusif setelah Arumi hamil. Johan tentunya sangat siap dan bertanggung jawab atas kehamilan Arumi. Namun sikap sang ibu justru sebaliknya. Ia malah menyarankan Arumi untuk menggugurkan kandungan dan meragukan juga jika bayi yang dikandung itu anaknya Johan, dengan alasan Arumi bekerja sebagai pemandu lagu di tempat karaoke. Mendengar ucapan ibunya Johan membuat Arumi sakit hati. Selama ini, Arumi terpaksa bekerja di sana karena susahnya cari pekerjaan di perantauan. Arumi juga sudah lama tinggal sebatang kara karena kedua orangtuanya sudah lama meninggal. Johan tetap akan bertanggung jawab dan akan menikahi Arumi meskipun sang ibu terus-menerus melarangnya.
Ibu pun akhirnya menyerah. Ia mengizinkan Johan merawat Arumi selama masa kehamilan. Arumi kini tinggal bersama di rumahnya Johan. Selama tinggal bersama, Arumi pun rajin membantu Johan dan calon mertuanya itu membereskan rumah, Taman Buaya dan juga memberi makan ratusan buaya yang ada di penangkaran. Tapi disaat Johan sedang keluar rumah, sang ibu sering memikirkan rencana untuk mencelakai Arumi. Hingga suatu ketika, Johan terkejut saat melihat Arumi yang sedang naik tangga bambu untuk memotong ranting pohon dan memarahi ibunya karena tega pada Arumi.
Setiap tengah malam, sang ibu diam-diam masuk ke kamar Johan dan Arumi. Ia hanya berdiri terdiam sambil menatap mereka berdua. Kejadian tersebut terus berulang. Puncaknya, sang ibu memberikan obat tidur pada jamuan makan malam yang membuat Johan dan Arumi tak sadarkan diri. Tengah malamnya, sang ibu masuk ke kamar dan menggusur Arumi yang tak sadarkan diri menuju keluar rumah. Apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dilakukan oleh sang ibu pada Arumi?


#Review:
Setelah tayang perdana di Toronto International Film Festival dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada tahun 2024 lalu, film CROCODILE TEARS (2026) akhirnya siap tayang reguler di bioskop Indonesia mulai besok, 7 Mei 2026. Film ini merupakan debut Tumpal Tampubolon sebagai sutradara film layar lebar, setelah sebelumnya ia dikenal sebagai penulis naskah cerita dan juga skenario di beberapa film populer Indonesia seperti TABULA RASA (2014), WIRO SABLENG (2018) dan SUZZANNA: MALAM JUMAT KLIWON (2023).


Aku berkesempatan hadir pada Press Conference dan Gala Premiere film CROCODILE TEARS (2026) yang sukses digelar pada Selasa, 28 April 2026 kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada kesempatan tersebut, ketiga pemain utama film ini yaitu Marissa Anita, Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani berbagi pengalaman menarik selama proses syuting. Untuk mendalami peran mereka masing-masing, Marissa, Yusuf dan Zulfa melakukan observasi secara intens di penangkaran buaya. Menariknya lagi, Marissa Anita mendalami perannya sebagai seorang ibu yang sangat protective terhadap anaknya dengan metode seperti seekor buaya betina melindungi anaknya.
Untuk segi cerita, film ini mengangkat dinamika hubungan posesif antara ibu dengan anaknya yang menggunakan metafora buaya. Penggunaan metafora buaya di sini bukan gimmick semata, Tumpal merefleksikan insting predator yang mengancam dan sifat posesif seekor buaya terhadap anaknya rupanya diterapkan oleh sang ibu pada Johan. Sejak awal film, penonton sudah bisa merasakan sikap berlebihan ibu pada Johan membuat rasa tidak nyaman dan juga janggal. Tema kasih sayang ibu lewat sudut pandang yang kelam karena mengaburkan batas antara perlindungan atau pengekangan. Konflik yang dihadirkan film CROCODILE TEARS (2026) muncul ketika pihak luar datang sehingga menyebabkan motherhood dari karakter ibu terasa makin toxic. Hampir sepanjang durasi film, penonton dibuat tidak nyaman dengan segala pengekangan sang ibu pada Johan. Yang cukup disayangkan, tempo cerita yang disajikan Tumpal dibuat slow-burn, ditambah lagi saat pertengahan film, banyak adegan statis dan minim dialog. Sehingga rasa bosan muncul di benak penonton. Untungnya, saat memasuki klimaks cerita, Tumpal cukup berhasil meningkatkan intensitas ketegangan lewat drama psikologis misteri yang terjadi diantara sang ibu, Johan dan Arumi. Kehadiran buaya putih dengan mitosnya yang tidak terjawab, semakin menguatkan betapa mistis dan absurd nya film ini.


Untuk jajaran pemain, Marissa Anita memberikan penampilan berkesan sebagai seorang ibu yang overprotective. Setiap dialog dan gesture yang ia lakukan memang menimbulkan rasa tidak nyaman baik itu pada Johan, Arumi maupun penonton. Penampilan Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani sebagai pasangan yang saling jatuh cinta terasa serba canggung, mungkin dialog yang ada di naskah memang sengaja dibuat seperti itu kali ya, jadinya terlihat kurang greget. Padahal kapasitas akting mereka berdua sudah tidak perlu diragukan lagi.
Overall, film CROCODILE TEARS (2026) cukup berhasil menyajikan toxic motherhood dengan menonjolkan sisi psikologis dari sang ibu lewat keheningan, tatapan tajam dan ketakutan manusiawi akan kehilangan kendali.


[7/10Bintang]

Thursday, 30 April 2026

[Review] The Devil Wears Prada 2: Ketika Majalah Runway Berada Di Posisi Yang Terancam!

 


#Description:
Title: The Devil Wears Prada (2026)
Casts: Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, Stanley Tucci, Justin Theroux, Kenneth Branagh, Tracie Thoms, Tibor Feldman, Simone Ashley, Lucy Liu, Patrick Brammall, Caleb Hearon, Helen J. Shen, Pauline Chalamet, BJ Novak, Conrad Ricamora, Rachel Bloom, Lady Gaga, Donatella Versace
Director: David Frankel
Studio: 20th Century Studios, Wendy Finerman Productions


#Synopsis:
Andy Sachs (Anne Hathaway) kini dikenal sebagai seorang jurnalis handal dan punya segudang prestasi di tempat kerjanya. Setiap berita dan artikel yang ia tulis selalu mendapatkan respon sangat baik dari para pembaca. Namun sayang, saat Andy menerima penghargaan atas karya jurnalisme nya, ia mendapat kabar mengejutkan dari kantor berita perihal layoff besar-besaran di hampir semua divisi. Andy pun menjadi salah satu dari ratusan orang yang terkena dampak layoff tersebut. Rasa kecewa, sedih dan marah pun ia ungkapkan saat berpidato sambil menerima penghargaan tersebut. Aksi protes dan kekecewaan Andy kemudian viral di sosial media.


Di sisi lain, kantor majalah fashion Runway di New York mendapat hujatan dan kritikan keras di sosial media setelah muncul sebuah artikel di majalah Runway yang memuat profile brand fashion yang diduga menggunakan tenaga kerja di bawah umur. Hal tersebut membuat kredibilitas dari pemimpin redaksi Runway yaitu Miranda Priestly (Meryl Streep) jadi dipertanyakan. Tak hanya itu saja, brand-brand besar yang selama ini menjalin kerjasama dengan Runway langsung mengurangi katalog iklan mereka. Hal tersebut tentunya berdampak sangat besar terhadap pendapatan Runway jika terus dibiarkan seperti ini. Melihat kekacauan yang terjadi, komisaris Runway dari Elias-Clark Publications yaitu Irv Ravitz (Tibor Fieldman) marah besar dan meminta Miranda dan Nigel Kipling (Stanley Tucci) untuk secepatnya membereskan hal tersebut.


Ditengah situasi kacau ini, anak dari Irv yaitu Jay Ravitz (BJ Novak) merekomendasikan Andy pada Runway setelah ia melihat video viral pidato kemenangan Andy yang menurutnya akan sangat membantu untuk mengembalikan citra Runway di mata publik. Irv yang mengetahui Andy terkena layoff, langsung menghubunginya dan menawarkan pekerjaan sebagai Features Editor di Runway. Karena saat ini sedang tidak mempunyai pekerjaan, Andy langsung menerima tawaran tersebut. Ia tak menyangka kembali lagi bekerja di Runway, tempat pertama kali ia memulai karier dan bekerja di dua puluh tahun yang lalu.


Saat tiba di kantor Runway, Andy merasakan nostalgia ketika melihat dua meja assistant di depan ruangannya Miranda. Sebelum bertemu dengan mantan bos nya, Andy berbincang dengan kedua assistant Miranda saat ini yaitu Amari Mari (Simon Ashley) dan Charlie (Caleb Hearon). Kehadiran Andy di Runway membuat Miranda dan juga Nigel terkejut. Andy kemudian menjelaskan jika ia diminta kembali bekerja di sana oleh Irv dan anaknya untuk membereskan berita buruk di sosial media yang menyerang Runway. Karena tak punya banyak waktu, Andy, Miranda dan Nigel langsung menyusun strategi dan berbagai rencana agar bisa secepatnya menyelamatkan reputasi Runway.
Langkah pertama, mereka bertiga harus mendatangi brand-brand besar yang sempat mundur setelah kasus ini viral. Salah satu brand tersebut yaitu Dior yang selama ini menjalin kerjasama sangat baik dengan Runway. Tiba di kantor Dior, mereka bertiga dikejutkan karena bertemu lagi dengan Emily Charlton (Emily Blunt) yang kini bekerja sebagai Senior Executive di sana. Andy, Miranda dan Nigel langsung bernegosiasi agar Dior tidak cabut dari Runway. Emily kemudian meminta jatah iklan dan publikasi Dior di Runway edisi bulan depan untuk diperbanyak, termasuk liputan khusus tentang rencana pembukaan flagship Dior terbaru. Miranda dan Nigel pun langsung menyetujuinya karena bagi mereka, jantung utama Runway saat ini hanya berasal dari brand-brand besar yang beriklan di mereka saja.


Setelah mengamankan reputasi dari brand-brand besar, Andy, Miranda dan Nigel kemudian menyusun strategi dengan membuat klarifikasi serta permohonan maaf di sosial media perihal tuduhan artikel yang menyudutkan mereka. Selain itu, Andy juga tetap membuat berbagai artikel menarik tentang dunia fashion dengan gaya jurnalisme agar punya perbedaan yang mencolok dibandingkan kompetitor lain. Saat mereka bertiga sedang berdiskusi dan mencari ide, Andy tak sengaja melihat sampul majalah Runway yang menampilkan mantan sepasang suami istri selebriti yaitu Sasha Barnes (Lucy Liu) dan Benji Barnes (Justin Theorux) yang kini sudah bercerai. Sejak perceraiannya di tiga tahun yang lalu, Sasha menghilang dari dunia entertainment dan tinggal bersama kedua anaknya. Selain itu, Sasha juga tidak pernah bersedia menjadi bintang tamu atau narasumber dari media apapun untuk membahas kehidupan pribadinya. Sementara itu, mantan suami Sasha yaitu Benji semakin dikenal sebagai pemilik salah satu perusahaan teknologi AI terkaya di Amerika Serikat. Menariknya, Benji ternyata menjalin hubungan asmara dengan Emily Charlton. Keduanya sering memperlihatkan kemesraan mereka dan menjadi berita populer di acara entertainment televisi maupun sosial media.


Mengingat Miranda sangat mengidolakan Sasha serta reputasi majalah Runway yang terbilang majalah fashion legendaris di New York, Andy jadi punya ide untuk menghadirkan wawancara eksklusif dengan Sasha. Ia pun langsung mencari berbagai cara agar bisa mendapatkan kontak Sasha. Dengan bantuan sahabatnya yaitu Tessa (Rachel Bloom) dan Douglas (Rich Sommer), Andy berhasil mendapatkan akses komunikasi dengan Sasha. Setelah bernegosiasi dan berbincang secara intens, Sasha akhirnya bersedia diwawancarai oleh Runway dan juga Miranda di kediamannya. Mereka pun langsung meluncur ke sana. Setelah selesai interview, Sasha memberikan alasan ia bersedia diwawancarai oleh Runway karena reputasi Miranda Priestly serta artikel-artikel berbobot yang ditulis oleh Andy ketika bergabung lagi di Runway. Apresiasi tersebut tentunya membuat Andy, Miranda dan Nigel sangat senang. Mereka juga tak lupa memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang sangat besar pada Sasha karena sudah meluangkan waktu dan bersedia diwawancarai oleh Runway.



Reputasi Runway perlahan semakin membaik setelah memberikan klarifikasi dan juga dirilisnya artikel berita interview bersama Sasha Barnes. Para pembaca setia Runway juga memberikan respon sangat positif dengan apa yang dilakukan oleh Runway dalam beberapa bulan terakhir. Melihat kondisi Runway yang sudah pulih dari hujatan di sosial media membuat Miranda lega. Selain itu, Miranda juga semakin optimis dengan kabar yang beredar perihal dirinya yang naik jabatan menjadi Director Creative Global untuk Elias-Clarke Publications akan segera terwujud. Miranda dan Nigel sangat yakin jika pengumuman promosi jabatan itu akan dilakukan saat acara fashion show sekaligus perayaan ulang tahun Irv Ravitz yang ke-75 di Italia.



Di saat Runway sudah berjalan normal seperti sedia kala, muncul cobaan baru yang mengejutkan banyak pihak. Jay Ravitz dikabarkan akan melakukan restrukturisasi dan efisiensi di Runway secara besar-besaran. Banyak divisi yang terancam kena layoff termasuk Andy dan juga Nigel. Miranda pun tidak bisa berbuat banyak karena Jay Ravitz secara tidak langsung adalah atasannya di Elias-Clark Publications. Miranda, Andy, Nigel dan seluruh team Runway harus mencari cara agar hal tersebut tidak terjadi. Ditengah kepanikan, Andy dan Nigel menemukan satu cara untuk menyelamatkan Runway yaitu dengan meminta bantuan pada Emily dan pacarnya, Benji. Rencana tersebut harus mereka lakukan tanpa sepengetahuan Miranda karena jika mereka berhasil menyelamatkan Runway, otomatis posisi Miranda pun akan tetap aman. Selain itu, Runway juga sudah punya rencana akan menggelar fashion show skala besar di Italia untuk membuktikan jika Runway adalah majalah fashion mode ikonik dan legendaris yang tak akan lekang oleh waktu. Akankah semua rencana Andy, Nigel, Emily dan Miranda berhasil?


#Review:
Saat Disney dan 20th Century Studios resmi mengumumkan project sekuel THE DEVIL WEARS PRADA (2006) pada tahun 2024 lalu, rasa excited dan juga gembira langsung menghampiri para penggemar filmnya. Namun di satu sisi, keputusan melanjutkan cerita dari film ikonik tersebut dengan berjarak 20 tahun dari film pertamanya jadi memunculkan rasa khawatir, mengingat pada tahun 2013 silam, tersiar kabar jika sekuel film ini akan hadir dengan berdasarkan buku keduanya yaitu REVENGE WEARS PRADA: THE DEVIL RETURNS yang masih ditulis Lauren Weisberger, namun keempat pemain utama film pertamanya sudah tidak tertarik melanjutkan peran mereka di project tersebut. Setelah 20th Century Fox diakuisisi oleh Disney, rencana sekuel film ini kembali muncul dengan ide cerita yang tidak lagi berdasarkan buku keduanya. Barulah, keempat pemain utama, sutradara dan penulis skenario dari film pertamanya sepakat untuk come back dan memperkuat film THE DEVIL WEARS PRADA 2 (2026).


Untuk segi cerita, film THE DEVIL WEARS PRADA 2 (2026) hadir dengan latar waktu 20 tahun setelah film pertamanya. Otomatis, penonton serasa time travel bisa melihat perkembangan karier dari keempat karakter utama, serta perkembangan mode fashion dan juga jurnalisme yang semakin pesat dibandingkan era awal 2000an ketika film pertamanya dirilis. Harus diakui, plot dan konflik di sekuelnya kali ini terasa familiar karena masih serupa tapi tak sama dengan film pertamanya. Beberapa adegan ikonik juga terlihat sengaja di-recreate agar penonton dan penggemar setia merasakan nostalgia yang maksimal selama menonton film keduanya ini. Meskipun demikian, Lauren Weisberger dan Aline Brosh McKenna selaku penulis naskah tetap memberikan pembaharuan juga yang sesuai dengan perkembangan zaman. Issue layoff besar-besaran, pergeseran media cetak ke media digital online yang semakin agresif serta tidak dianggap prestisius lagi hingga ancaman teknologi AI menjadi sederet konflik menarik yang bisa kita temukan dalam film ini. Yang tak kalah menarik, keempat karakter utama kembali mendapat development dan background story yang semakin kuat. Miranda Priestly yang selama ini sangat superior, kini dibuat lebih grounded dan semakin manusiawi. Perkembangan zaman membuat karakter Miranda tak lagi bersikap semena-mena terhadap asisten dan karyawannya, seperti menahan diri untuk tidak menghina anak buahnya, menyimpan mantel dan tasnya secara mandiri hingga bersedia bekerja sama dengan orang lain tanpa adanya penolakan. Karakter Andy Sachs dan Emily Charlton mengalami perkembangan karakter yang sukses mencuri perhatian. Transformasi karier keduanya yang sesuai dengan passion tampil sangat gemilang. Meskipun saat ini posisi mereka setara dengan Miranda, namun lucunya baik Andy maupun Emily masih saja menunjukkan rasa takut dan kikuk saat bertemu lagi dengan Miranda hahaha. Sisi kesetiaan dan loyalitas bisa penonton lihat dari karakter Nigel Kipling. Meskipun sudah berkali-kali dibuat sakit hati oleh Miranda, ia tetap mengabdikan diri dengan sepenuh hati di Runway. Moment "penebusan dosa" Miranda terhadap Nigel tercipta di film ini dan sukses membuatku terharu!


Dinamika konflik yang dihadirkan di film THE DEVIL WEARS PRADA (2026) jauh lebih banyak dibandingkan film terdahulu. Perspektif tentang modernisasi yang dihadirkan terasa seimbang karena mau tidak mau harus mengikuti plot juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun sayang, penyelesaian sederet konflik yang terjadi dibuat terlalu gampang. Bahkan dampak yang dirasakan ketika sebelum dan sesudah konflik terjadi tidak terlalu menonjol. Sekuelnya ini memang lebih fokus untuk bernostalgia sekaligus fan service setelah 20 tahun berpisah.
Untuk jajaran pemain, penampilan Meryl Streep tetaplah ikonik sebagai Miranda Priestly yang kini dibuat lebih manusiawi karena selain faktor usia, modernisasi juga yang membuat Miranda tidak bisa seenaknya lagi hahaha. Adegan "penebusan dosa" pada Nigel dan obrolan ikonik di dalam mobil yang di-recreate sukses membuatku haru! Penampilan gemilang selanjutnya tentu datang dari Anne Hathaway. Peran Andy Sachs yang semakin dewasa dan berhasil memunculkan sosok perempuan yang tak selamanya harus bersikap seperti Miranda untuk menaklukan dunia. Scene stealer kembali dipegang oleh Emily Blunt dengan perannya sebagai Emily Charlton. Dengan aksen dan logat british nya yang semakin kental, kemudian subplot dirinya yang memiliki karier gemilang di Dior serta punya hubungan spesial dengan bos teknologi terasa sangat relevan dengan di era seperti sekarang. Komedi yang ditebar oleh keempat karakter utama serta para karakter pendukung baru dari kalangan Gen Z sukses menciptakan tawa penonton!
Untuk urusan visual, film THE DEVIL WEARS PRADA 2 (2026) masih setia menggunakan gaya sinematografi dan teknik pengambilan gambar seperti film pertamanya. Terkesan raw dan alami. Namun kali ini, dari sisi penggunaan lokasi syuting hingga wardrobe yang ditampilkan jauh lebih grande dan spektakuler. Parade mode dan fashion yang dipakai Miranda, Andy, Emily, Amari, Nigel dan yang lainnya selalu berhasil membuatku terkagum-kagum. Gak ada yang gagal satupun! Moment red carpet dan fashion show bersama Lady Gaga juga eksekusinya glamour banget! Untuk sisi musiknya juga, film ini berhasil melahirkan lagi original soundtrack dan lagu tema yang sangat pas dengan setiap adegan.
Overall, film THE DEVIL WEARS PRADA (2026) boleh dibilang sebagai surat cinta untuk bernostalgia akan film drama bertema dunia mode dan fashion yang tak hanya menghibur dan glamour, tapi punya issue serta konflik yang sangat relevan sesuai perkembangan zaman. Almost perfect sequel!


[9/10Bintang]

Monday, 27 April 2026

[Review] The Devil Wears Prada: Drama Komedi Luar Biasa & Ikonik Dari Kantor Majalah Runway!

 


#Description:
Title: The Devil Wears Prada (2006)
Casts: Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, Stanley Tucci, Adrian Grenier, Simon Baker, Gisele Bundchen, Tracie Thoms, Rich Sommer, Daniel Sunjata, James Naughton, Colleen Dengel, Suzanne Dengel, David Marshall Grant, Tibor Feldman, Alyssa Sutherland, Rebecca Mader
Director: David Frankel
Studio: Fox 2000 Pictures, 20th Century Fox, Wendy Finerman Productions


#Synopsis:
Setelah lulus dari Universitas Northwestern, Andrea Sachs (Anne Hathaway) atau yang akrab dipanggil Andy punya cita-cita ingin menjadi seorang jurnalis handal. Ketika pertama kali mendapat panggilan interview dari perusahaan Elias Clark Publications, Andy diminta datang ke kantor majalah fashion ikonik di New York yaitu Runway. Tiba di sana, ia harus menemui Emily Charlton (Emily Blunt) yang akan mewawancarainya. Saat mengetahui Andy tidak memiliki background di dunia fashion serta tidak mengetahui tentang majalah Runway, Emily meragukan jika Andy akan diterima di sana. Ditambah lagi, lowongan pekerjaan yang tersedia yaitu sebagai Junior Personal Assistant untuk pemimpin redaksi majalah Runway yaitu Miranda Priestly (Meryl Streep), bos nya Emily yang dikenal sangat perfeksionis, tegas dan juga kejam. Emily juga menceritakan jika sebelumnya sudah ada dua orang yang mengisi posisi tersebut namun mereka gagal karena Miranda tidak menyukainya.



Tak lama setelah itu, Emily mendapat panggilan telepon jika Miranda akan segera tiba ke kantor Runway. Hal tersebut membuat semua orang panik dan mempersiapkan diri semaksimal mungkin supaya tidak diomeli oleh Miranda. Tiba di kantor, Miranda langsung sibuk dengan sederet jadwal untuk meeting bersama Nigel Kipling (Stanley Tucci), Fashion Director di majalah Runway dan orang-orang penting lainnya. Ditengah kesibukannya itu, Miranda bersedia untuk mewawancarai Andy karena dua kandidat sebelumnya yang dipilih Emily justru bikin dia kecewa dan marah. Andy kemudian diperbolehkan masuk ke ruangan. Miranda langsung menyepelekan Andy yang tidak fashionable dan tidak mengetahui majalah Runway dengan kata-kata pedasnya. Andy langsung membela diri, meskipun tidak berpenampilan menarik seperti model, ia punya kelebihan lain yaitu pintar. Setelah itu, Andy pamit dari ruangan dan pergi dari kantor Runway. Ketika berjalan keluar dari gedung Elias Clark, Emily memanggil Andy untuk kembali ke kantor. Andy diterima bekerja di Runway sebagai Junior Personal Assistant nya Miranda.
Setelah selesai bekerja, Andy langsung menemui kekasihnya, Nate Cooper (Adrian Grenier) yang sudah menunggu di cafe bersama kedua sahabat mereka yaitu Lily (Tracie Thoms) dan Douglas (Rich Sommer). Andy menceritakan jika dirinya sudah resmi bekerja di kantor majalah Runway. Nate, Lily dan Douglas terkejut karena Andy bekerja sebagai personal assistant nya Miranda yang semua orang tahu jika ia sangat perfeksionis, galak dan juga kejam. Meskipun demikian, mereka tetap bangga pada Andy karena bisa bekerja di Runway dan menjadi assistant Miranda itu impian para perempuan yang sangat mencintai dunia fashion.



Di pagi hari, Andy dikejutkan dengan panggilan telepon dari Emily yang memintanya untuk mengambil pesanan kopi milik Miranda dan beberapa item fashion lainnya tepat sebelum Miranda tiba di kantor. Setelah selesai, Miranda, Nigel dan yang lainnya sibuk mempersiapkan beberapa gaun untuk ditampilkan di majalah edisi bulan depan. Nigel diam-diam memperhatikan penampilan Andy. Ia kemudian memberikan sepasang sepatu heels pada Andy supaya tidak lagi kena omel Miranda. Hari demi hari, Andy harus beradaptasi dengan pekerjaanya sebagai seorang assistant. Tak jarang ia harus memenuhi semua keinginan tak masuk akal nya Miranda. Setiap pulang ke apartemen, Andy meluapkan emosi dan kekesalan terhadap Miranda pada Nate supaya lebih tenang untuk esok kembali bekerja. Andy juga sudah mengambil keputusan hanya akan bertahan setahun saja bekerja di Runway karena ia tidak ingin terus-terusan dikendalikan oleh Miranda.



Suatu malam, saat Andy sedang menikmati makan malam dan menonton pertunjukan teater bersama ayahnya, Andy mendapat panggilan telepon dari Miranda yang memintanya mencarikan tiket pesawat ke Miami agar ia bisa hadir melihat kedua anaknya pentas di acara sekolah. Andy berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan tiket pesawat di malam itu juga. Namun sayang, tak ada satupun pesawat yang terbang di malam itu karena badai dan cuaca buruk. Keesokan harinya, Miranda sangat kecewa dan dan memaki-maki Andy karena menurutnya tidak becus dalam mengurus jadwal penerbangannya itu. Andy pun jadi sedih dan sakit hati karena ia sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tak pernah dianggap oleh Miranda. Andy kemudian mencurahkan rasa sedih dan amarahnya itu dengan menemui Nigel. Respon Nigel ternyata tidak sesuai harapan Andy karena menyuruhnya untuk resign saja. Andy tentu tak ingin melakukan hal tersebut. Nigel kemudian menasehati Andy tentang dunia kerja di Runway memang sangat keras. Nigel yakin jika Andy bisa bertahan dan beradaptasi lagi kedepannya. Setelah mendapat wejangan tersebut, Andy kemudian sadar dan akan mengikuti semua maunya Miranda. Andy pun langsung meminta tolong make over penampilannya untuk menebus kesalahan pada Miranda. Mereka berdua kemudian pergi ke ruang wardrobe untuk mencari busana, sepatu, tas dan aksesoris yang pas untuk Andy.


Keesokan harinya, Andy datang ke kantor Runway dengan gaya fashion baru yang menarik perhatian banyak orang. Andy sangat berterima kasih pada Nigel karena ia jadi lebih dihargai dan percaya diri selama bekerja. Melihat penampilan baru dari Andy membuat Miranda senang. Seiring berjalannya waktu, performa kerja Andy juga mengalami peningkatan. Semua keinginan Miranda bisa dengan cepat terpenuji olehnya. Hal tersebut membuat Miranda memberi kepercayaan kepada Andy untuk mengerjakan tugas-tugas penting yang selama ini selalu dikerjakan oleh Emily. Nigel pun ikut senang melihat perkembangan kinerja Andy di Runway yang semakin bagus. Nigel kemudian mengajak Andy bertemu saat sepulang bekerja. Nigel memberitahu jika ia akan resign dari Runway karena mendapat tawaran sebagai Creative Director dengan gaji fantastis untuk perusahaan baru milik designer kondang James Holt (Daniel Sunjata).
Andy tentunya sangat senang dengan kabar tersebut meskipun di satu sisi ia juga sedih harus kehilangan Nigel yang selama ini sudah membantunya bekerja dan beradaptasi di Runway.
Di sisi lain, kondisi kesehatan Emily mulai menurun dan terserang flus karena diet ekstrim yang ia lakukan demi bisa tampil maksimal saat nanti menemani Miranda ke Paris Fashion Week. Akibatnya, saat mereka bertiga menghadiri acara penggalangan dana untuk amal, Miranda kecewa terhadap Emily yang lupa mengingat nama-nama tamu di cara tersebut. Melihat penurunan kinerja Emily membuat Miranda langsung menggeser nama Emily sebagai asistennya nanti selama ke Paris dengan Andy. Hal tersebut membuat Andy terkejut karena pergi ke Paris adalah impian terbesar Emily. Jika Andy menolak, Miranda mengancam akan memecat Andy dan siap mempersulit Andy untuk mencari kerja di bidang yang sama dengan kekuatan koneksinya sebagai pemimpin redaksi Runway.


Saat Andy akan berkata jujur pada Emily, terjadi insiden tabrakan yang menyebabkan Emily masuk dan dirawat di rumah sakit. Emily terkejut dan juga sakit hati setelah mendengar penjelasan Andy soal batalnya dirinya pergi ke Paris. Emily merasa dikhianati oleh Andy, meskipun Andy tidak sepenuhnya salah karena ia sudah berusaha menolaknya namun diancam oleh Miranda. Di sisi lain, hubungan Andy dengan Nate semakin merenggang saat Andy merayakan ulang tahun, Andy tidak datang tepat waktu karena harus datang ke acara penggalangan dana untuk amal bersama Miranda dan Emily. Nate yang melihat kekasihnya itu kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan memenuhi semua perintah Miranda, sudah sepenuhnya berubah. Mereka berdua kemudian mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan.
Selama di Paris, Andy perlahan mulai mengetahui kehidupan pribadi Miranda yang ternyata suaminya, sudah mengajukan gugatan cerai. Miranda berusaha terlihat kuat meskipun dalam hatinya ia sedih karena harus bercerai untuk yang kedua kalinya gara-gara terlalu sibuk dengan pekerjaannya di Runway. Di sisi lain, Setelah putus dengan Nate, Andy berkenalan dengan seorang jurnalis tampan yaitu Christian Thompson (Simon Baker) yang telah membantunya memenuhi salah satu keinginan mustahil Miranda untuk mendapatkan Harry Potter yang belum rilis. Hingga suatu ketika, Andy mendapat informasi dari Christian jika posisi Miranda di Runway New York akan diganti oleh pesaingnya dari Runway Perancis yaitu Jacqueline Follet (Stephanie Szostak). Andy pun langsung mengabari Miranda soal hal tersebut. Namun Miranda mengabaikannya karena sebenarnya ia sudah mengetahui tentang rencana penggantian pemimpin redaksi di Runway New York.


Keesokan harinya, saat acara pengumuman kolaborasi antara Runway dengan James Holt, Miranda mengumumkan hal terduga. Posisinya di Runway New York ternyata tidak diganti. Jacqueline justru terpilih sebagai Creative Director untuk James Holt yang sebelumnya sudah ditawarkan pada Nigel. Kabar tersebut langsung menggemparkan para tamu undangan dan wartawan yang ada di sana. Nigel pun berpasrah diri dengan keputusan tersebut dan mengatakan jika setiap pencapaian baru dalam berkarier pasti akan dibayar dengan hancurnya kehidupan pribadi. Hal tersebut sudah terjadi di kehidupan pribadinya sendiri, Miranda dan kini Andy yang hubungannya dengan Nate sudah putus.
Saat pulang menuju hotel, Miranda mengatakan jika ia kagum dengan Andy yang sudah berusaha mengabari tentang jabatannya di Runway New York akan digantikan oleh musuhnya yaitu Jacqueline. Miranda diam-diam sudah melangkah lebih jauh dan menyusun strategi demi mempertahankan posisinya di Runway meskipun harus mengkhianati Nigel. Apa yang Miranda lakukan tersebut ternyata sudah ada juga dalam diri Andy selama ia bekerja di Runway. Menyadari jika Andy juga sudah melakukan yang sama dengan Miranda yaitu mengkhianati Emily, ia memutuskan pergi meninggalkan Miranda dan resign dari Runway.


#Review:
Dua puluh tahun yang lalu, industri perfilman Hollywood digemparkan dengan sebuah film drama komedi berjudul THE DEVIL WEARS PRADA (2006) yang dimana, lisensi dan filmnya resmi dibuat sebelum novelnya selesai dirampungkan oleh penulisnya yaitu Lauren Weisberger. Selain itu, film ini juga memberikan cultural impact dna menjadi fenomenal yang luar biasa di dunia perfilman. Selama penayangan di bioskop, film ini berhasil mencetak box office hit padahal budget yang digunakan tergolong kecil untuk ukuran film Hollywood di masa itu. Film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) bukan sekedar film tentang mode fashion saja, tapi didalamnya terdapat studi karakter yang tajam tentang ambisi, integritas, dan pengorbanan di dunia kerja. Sudah nonton berkali-kali, tapi rasanya masih sama, selalu puas dan takjub dengan cerita yang disajikan oleh film ini. Truly comfort movie for me!


Untuk segi cerita, film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) bukan sekedar drama karyawan baru yang tidak punya passion di dunia mode lalu bekerja di majalah yang isinya tentang mode dan fashion. Karakter Andy mempunyai latar pendidikan di bidang jurnalisme, menganggap mode fashion itu sebagai hal dangkal. Karena tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan passionnya, ia justru bertemu dengan karakter ikonik Miranda Priestly dari Runway. Pertemuan pertama mereka langsung menetapkan dinamika kekuasaan. Miranda adalah sosok yang menuntut kesempurnaan tanpa cela. Andy diterima bukan karena seleranya, tetapi karena Miranda menginginkan assistant cerdas meskipun visualnya tidak seperti orang-orang di dunia mode dan fashion. Konflik pertama muncul saat Andy menyepelekan dua sabuk berwarna biru yang terlihat identik. Pada adegan ini, Miranda menghancurkan rasa superioritas intelektual Andy dengan menjelaskan bagaimana pilihan mode yang dianggap Andy sepele dan dangkal sebenarnya adalah hasil keputusan orang-orang di ruangan itu yang mempengaruhi industri serta bernilai jutaan dollar. Hinaan Miranda tersebut membuat Andy menyadari jika ia ingin bertahan di Runway, bukan jadi penonton saja. Hadirnya karakter Nigel yang menjadi mentor bagi Andy menjadi moment yang sangat manis sekaligus heartwarming. Dinamika dan situasi di Runway semakin memanas saat banyak konflik lain berdatangan yang melibatkan Miranda, Andy, Emily dan Nigel. David Frankel dan Aline Brosh McKenna selaku penulis naskah berhasil mengupas berbagai konflik dengan kejutan tak terduga dari masing-masing karakter. Setiap keputusan yang diambil punya resiko sangat besar. Meskipun film ini dirilis dua puluh tahun silam, namun dunia kerja yang digambarkan masih sangat relevan sampai sekarang. Lebih lanjut, plot film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) sangat berhasil jadi sajian yang relatable karena tidak memberikan akhir yang hitam-putih. karakter Miranda tidak berubah menjadi baik. Ia tetap menjadi penguasa yang kejam di Runway. Demikian juga dengan karakter Andy. Ia tidak keluar sebagai pemenang yang menghancurkan musuhnya melainkan menjadikannya lebih dewasa.



Untuk jajaran pemain, Meryl Streep memberikan salah satu performa paling ikonik dalam kariernya dengan melakukan pilihan akting yang menurutku sangat luar biasa dan juga fresh. Daripada memerankan bos galak yang berteriak atau meledak-ledak, Meryl Streep memilih suara yang hampir berbisik saat sedang mengomel wkwkwk. Kekuatan aktingnya juga terletak pada tatapan mata yang dingin dan cara ia membalik halaman majalah dengan gerakan yang bisa membuat nyali lawan bicaranya langsung meredup. Bahkan saat plot cerita membahas kehidupan pribadinya, Meryl Streep lagi dan lagi berhasil menunjukkan sisi paling manusiawi dari Miranda tanpa sedikit pun meminta belas kasihan. Ia tetap menjaga martabat karakternya, menunjukkan bahwa karakter Miranda adalah wanita yang memilih karier di atas segalanya, dan ia menerima konsekuensinya dengan kepala tegak. Anne Hathaway berhasil meyakinkan penonton soal karakter Andy tuh cukup cerdas untuk membenci dunia mode namun punya ambisi yang sangat besar untuk masuk menjadi bagian Runway. Di awal film, karakter Andy tampak kikuk, jalannya tidak beraturan dan tidak seperti model-model yang bekerja di sana. Namun, seiring berjalannya cerita, Andy bertransformasi menjadi sosok yang elegan, sigap, dan penuh percaya diri. Kualitas aktingnya juga sangat kuat dalam bagaimana ia menghadapi Miranda. Ekspresi wajahnya yang mencoba menahan tangis atau rasa frustrasi membuat penonton merasa seperti menemani disamping Andy disepanjang durasi film. Emily Blunt memberikan performa yang mencuri perhatian di setiap adegan dalam film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) ini. Karakter Emily Charlton membawa humor melalui sarkasme yang tajam lewat menggerutu yang lucu dan bikin tertawa. Dibalik sikap ketusnya terhadap Andy, Emily berhasil memberikan lapisan kesedihan. Penonton bisa melihat ketakutan yang mendalam di matanya tentang ketakutan akan kegagalan akan tidak relevan di mata Miranda. Sebuah debut yang luar biasa dari Emily Blunt ketika pertama kali membintangi film layar lebar Hollywood. Stanley Tucci memberikan performa yang hangat, bijaksana, namun juga serba praktis dan efisien. Nigel adalah satu-satunya karakter yang berani memberikan kebenaran pahit kepada Andy tanpa bermaksud jahat. Tucci berhasil memberikan martabat pada Nigel sebagai seorang profesional yang sangat mencintai seninya. Monolognya tentang sejarah mode menunjukkan gairah yang tulus pada penonton. Tanpa keempat aktor ini, THE DEVIL WEARS PRADA (2006) mungkin hanya akan menjadi film komedi tentang perkantoran yang terlupakan. Meryl Streep memberikan fondasi yang kuat hingga berhasil masuk nominasi Best Actress di Academy Awards 2007, Anne Hathaway memberikan hati, Emily Blunt memberikan bumbu konflik, dan Stanley Tucci memberikan jiwa. Kombinasi inilah yang membuat film ini menjadi mahakarya yang terus dibahas hingga saat ini.


[9.5/10Bintang]

Friday, 24 April 2026

[Review] Para Perasuk: Ketika Kesurupan Massal Jadi Budaya Dan Hiburan Di Desa Latas!



#Description:
Title: Para Perasuk - Levitating (2026)
Casts: Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Ganindra Bimo, Indra Birowo, Ivonne Dahler, Ninda Fillasputri, Buyung Ispramadi, Untung Basuki
Director: Wregas Bhanuteja
Studio: Rekata Studio, KG Media, Anami Films, Masih Belajar Pictures


#Synopsis:
Desa Latas yang berlokasi kurang lebih 2-3 jam perjalanan dari Jakarta mempunyai tradisi tak lazim yang diberi nama Sambetan. Tradisi tersebut mengumpulkan Para Pelamun atau orang-orang yang bersedia untuk dirasuki oleh roh spiritual dengan diiringi musik serta mantra yang dimainkan oleh Guru Asri (Anggun C. Sasmi) selaku ketua penyelenggara tradisi Sambetan. Dalam menjalankan tradisi tersebut, Guru Asri dibantu oleh satu orang yang disebut sebagai Perasuk. Tugas dari Perasuk yaitu memainkan musik dan mengendalikan roh spiritual yang merasuki Para Pelamun agar tetap terkendali dan tidak melukai mereka. Dalam periode waktu tertentu, Guru Asri juga menggelar kompetisi untuk mencari Perasuk baru menggantikan Perasuk lama yang sudah pensiun atau mengundurkan diri. Jika terpilih dan sesuai kriteria yang diinginkan Guru Asri, Perasuk baru ini akan menjadi bagian dari pagelaran rutin tradisi Sambetan dari desa ke desa.



Suatu hari, Guru Asri menggelar Sambetan dengan mendatangkan roh spiritual kupu-kupu. Warga yang bersedia menjadi Pelamun mulai kerasukan roh tersebut. Para calon Perasuk kemudian menunjukkan keahlian mereka dalam bermusik, seperti Bayu Laksana (Angga Yunanda) dengan slompret andalannya, kemudian Pawit Arifin (Chicco Kurniawan) dengan gitar elektrik, Ananto Anugerah (Bryan Domani) dengan perkusi dan yang lainnya. Satu persatu dari mereka mulai berhasil mengendalikan roh spiritual yang merasuki Para Pelamun. Ketika Bayu sedang menunjukkan bakatnya dalam bermain slompret, ia kehilangan fokus dan menyebabkan Para Pelamun terluka. Sambetan pun terpaksa dihentikan. Guru Asri kecewa dengan hal tersebut dan meminta Bayu bisa mengendalikan diri lebih maksimal lagi. Setelah selesai acara Sambetan, Bayu kemudian mendatangi Para Pelamun untuk meminta maaf. Salah satu dari Pelamun yaitu Laksmi (Maudy Ayunda), perempuan asal Jakarta yang sedang bekerja dinas luar kota ke Desa Latas untuk proyek pembangunan dari PT. Wanaria.



Bayu sangat berambisi ingin menjadi Perasuk handal selanjutnya di Desa Latas karena ia tidak ingin merantau dan tinggal lagi di Jakarta. Alasannya karena selama hidup di sana, Bayu dan sang ayah, Pak Agus (Indra Birowo) hidup melarat, bisnis mereka ditipu hingga dikejar-kejar debt collector. Kondisi perekenomian keluarga semakin berantakan saat kedua orangtua Bayu bercerai. Tak lama setelah itu Pak Agus mendekam di penjara karena kasus pencurian ponsel. Setelah selesai menjalani hukuman di penjara, Bayu dan sang ayah memutuskan pulang dari Jakarta dan tinggal di rumah peninggalan keluarga di Desa Latas. Masalah baru kemudian muncul ketika PT. Wanaria mengincar curug yang menjadi sumber mata air bagi warga Desa Latas dan banyak tanah serta rumah milik warga dibeli oleh mereka untuk pembangunan hotel dan komplek perumahan. Salah satu lahan yang diincar yaitu milik Pak Agus. Tawaran yang diberikan oleh Pak Fahri (Ganindra Bimo) selaku perwakilan PT. Wanaria membuatnya tergiur untuk menjual warisan tanah dan rumahnya. Ia berjanji uang yang didapat dari menjual warisan setelah dibagi rata dengan kedua saudaranya akan digunakan untuk menyewa rumah susun di Jakarta dan membuka usaha isi ulang air galon bersama calon istrinya yaitu Ibu Nana (Ivonne Dahler). Mendengar hal tersebut membuat Bayu kesal. Ia tidak mau lagi tinggal dan hidup di Jakarta serta meragukan ide usaha dari ayahnya itu yang sudah berulang kali kena tipu orang lain. Bayu memaksa sang ayah untuk tidak menjual warisan mereka karena jika ia terpilih menjadi Perasuk handal oleh Guru Asri, Bayu akan punya penghasilan sendiri dan bisa mencukupi berbagai kebutuhan sehari-hari.


Waktu terus berlalu. Guru Asri dan rombongannya berencana akan menggelar pesta Sambetan sambil melakukan seleksi untuk Perasuk baru. Di Sambetan kali ini, Guru Asri meminta setiap Perasuk membawa roh spiritual masing-masing yang nantinya harus menyatu dengan baik dan tidak membahayakan Para Pelamun. Sehari sebelum pesta digelar, Bayu bertapa di curug yang menjadi sumber mata air warga Desa Latas untuk mencari roh spiritual yang cocok dengan dirinya. Setelah melakukan meditasi, roh hewan bulus berhasil didapatkan oleh Bayu. Keesokan harinya, pesta Sambetan digelar. Para Perasuk lain turut membawa roh hewan jagoan mereka masing-masing. Meskipun sempat diremehkan, Bayu berhasil menunjukkan kemampuannya sebagai Perasuk lewat roh hewan bulus yang disukai oleh para Pelamun. Bayu, Ananto dan tiga Perasuk lain berhasil mendapatkan nilai yang baik dari Guru Asri dan anggota penyelenggara. Mereka berenam kemudian akan kembali dipentaskan untuk mencari yang terbaik dan mampu menguasai roh bawaan mereka.


Sejak tinggal di Desa Latas, Laksmi mulai menikmati sebagai seorang Pelamun di tradisi Sambetan. Sudah berbagai cara dilakukan untuk healing dari trauma dan luka di masa lalu, namun baru kali ini Laksmi bisa bangkit dari keterpurukannya. Di sisi lain, Bayu yang berusaha menjadi Perasuk handal semakin sering mengalami gagal fokus karena terganggu oleh masalah di rumahnya. Bayu belum bisa merelakan rumah keluarganya dijual oleh sang ayah. Selain itu, Bayu juga merasa tersaingi dengan lolosnya Ananto serta dilibatkannya lagi Pawit untuk pemilihan Perasuk baru. Ditengah kerasnya berlatih dan mencari roh spiritual yang lebih meyakinkan, konsentrasi Bayu semakin berantakan gara-gara rumah dijual juga oleh sang ayah ke PT. Wanaria dengan alasan tuntutan dari keluarga saudara-saudaranya yang ada di Jakarta.


Rasa kecewa, kesal, marah dan sedih menyelimuti Bayu. Ketika berhasil mendapatkan roh spiritual lintah, Bayu mengikuti saran Guru Asri untuk lebih totalitas dan menjiwai roh tersebut agar saat pesta Sambetan nanti, Para Pelamun akan terpuaskan olehnya. Di sisi lain, Laksmi yang semakin nyaman tinggal di Desa Latas dan menikmati sebagai Pelamun meminta pada Bayu untuk merasukinya lagi diluar pentas Sambetan, meskipun hal tersebut sangat berbahaya untuk Laksmi dan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana kelanjutan kisah Bayu, Laksmi dan orang-orang di Desa Latas ini?


#Review:
Sutradara muda peraih Piala Citra FFI yaitu Wregas Bhanuteja kembali hadir dengan karya film terbarunya yang berjudul PARA PERASUK (2026). Menariknya, kali ini Wregas mengeksplor genre horror dengan sentuhan "artsy and festival oriented" yang menjadi ciri khasnya di setiap film yang ia garap.


Untuk segi cerita, Wregas bersama Alicia Angelina dan Defi Mahendra selaku penulis naskah menyajikan perspektif unik, baru sekaligus absurd dari fenomena kerasukan menjadi sebuah tradisi budaya yang bernama Sambetan. Dari pemilihan judul dan tema horror kerasukan, pasti sebagian besar penonton akan mengira film ini full horror dengan jump scared yang mengagetkan. Namun siapa sangka, hal mainstream tersebut tidak dilakukan oleh sang sutradara. Film PARA PERASUK (2026) justru menonjolkan budaya dan tradisi fiksi yang rutin digelar di Desa Latas. Elemen klenik kerasukan lewat pesta Sambetan dijelaskan secara apik layaknya sebuah budaya sungguhan di kehidupan sehari-hari. Setiap moment pesta Sambetan dieksekusi dengan ide-ide kreatif, absurd dan absurd. Sesekali penonton dibuat tawa melihat aksi Para Perasuk dan Para Pelamun yang nyeleneh. Jujur, konsep roh spiritual hewan kemudian alam roh pelamun yang divisualkan sangatlah berbeda dari film-film horror kebanyakan hahaha.
Seiring berjalannya durasi film, terdapat serangkaian konflik menarik yang terjadi pada warga desa di sana. Karakter Bayu dihadapkan dengan pergolakan quarterlife crisis mengenai hubungan dengan ayahnya, permasalahan finansial hingga ambisinya untuk menjadi Perasuk handal semuanya tersaji dengan mulus. Selain itu, ada cerita dari karakter Laksmi yang berusaha mengobati trauma di masa lalu. Terakhir, yaitu issue konflik sosial yang melibatkan warga desa dengan perusahaan kontraktor. Semua permasalahan tersebut berjalan beriringan meskipun dinamikanya cenderung datar dan bermain aman. Sepertinya sang sutradara memilih jalan aman dan tidak over dramatic, meskipun sebetulnya potensi sisi menguras emosional penonton bisa banget didapatkan dari banyak hal dalam film ini. Dramatisasi baru muncul di babak akhir film saat karakter Bayu dan Laksmi juga melakukan hal nekat yang melampaui batas. Sensasi horror artsy nya mantap sekaligus tragis sekali! Konflik penyelesaian cerita juga hadir dengan kejutan gotong royong yang serasa seperti metafora rakyat kecil yang enggan ditindas oleh perusahaan besar.


Untuk jajaran pemain, kita harus berikan apresiasi yang luar biasa untuk kelima pemain utamanya. Angga Yunanda bertransformasi menjadi pria kampung dengan logat campuran serta peningkatan kualitas akting yang sangat signifikan. Adegan Bayu yang menjelema menjadi lintah, sungguh mindblowing! Applause selanjutnya untuk Maudy Ayunda yang sangat berani tampil beda dan meninggalkan citra high class nya demi menjadi Laksmi yang ketagihan kerasukan. Kesurupan massal dengan koreografi hewan yang Maudy lakukan apik sekali! Apresiasi juga harus kita berikan pada Anggun C. Sasmi yang debut main film langsung mencuri perhatian dan sangat natural sebagai ketua tradisi Sambetan. Penampilan Chicco Kurniawan dan Bryan Domani juga tak kalah bagus. Gesture, logat dan akting mereka saat menjadi Perasuk dengan alat musik mengesankan!
Untuk urusan visual, film PARA PERASUK (2026) memang tidak menawarkan sinematografi atau efek visual yang luar biasa. Bahkan saat adegan Pelamun kerasukan roh kutu, sensasi melompat lebih tinggi nya CGI nya masih sangat mentah dan itu cukup mengganggu. Selipan-selipan humor dengan visual aesthetic seperti iklan menggunakan warna-warna mencolok menjadi keunikan tersendiri dari film ini. Sungguh sebuah pengalaman nonton di bioskop yang tak lazim, unik tapi aku suka! Hahahaha.


[8.5/10Bintang]