#Description:
Title: Lee Cronin's The Mummy (2026)
Title: Lee Cronin's The Mummy (2026)
Casts: Jack Reynor, Laia Costa, May Calamawy, Natalie Grace, Emily Mitchell, Veronica Falcon, Shylo Molina, Billie Roy, May Elghety, Hayat Kamille, Jonathan Gunning
Director: Lee Cronin
Studio: New Line Cinema, Atomic Monster, Blum House Productions, Warner Bros Pictures
#Synopsis:
Charlie Cannon (Jack Reynor) yang berprofesi sebagai reporter berita tinggal bersama keluarganya di Cairo, Mesir. Sang istri yaitu Larissa Cannon (Laia Costa) yang sedang mengandung anak ketiga masih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai perawat di rumah sakit. Sementara itu, kedua anak mereka yaitu Katie (Emily Mitchell) dan Sebastian (Dean Allen Williams) sibuk sekolah dan bermain saja di rumah. Suatu hari, Charlie mendapat tawaran bekerja sebagai reporter dari kantor berita di Amerika Serikat. Hal tersebut membuat Charlie senang karena bisa sekalian membawa keluarganya kembali pulang ke negara asal.
Saat Larissa pergi bekerja ke rumah sakit, anak-anak ada di rumah bersama dengan ayahnya. Katie seperti biasa bermain dengan boneka di kebun belakang rumah dan Sebastian menonton televisi. Tak lama setelah itu, Katie didatangi seorang perempuan yang mengenakan jubah dari pagar kebun. Rupanya perempuan tersebut sudah sering menemui Katie sambil memberikan cokelat dan mengaku sebagai seorang pesulap (Hayat Kamille). Namun kali ini, perempuan itu memberikan buah nektarin pada Katie. Dari buah tersebut ternyata keluar serangga hewan dan langsung masuk ke dalam mulut Katie. Perempuan tersebut kemudian merusak pagar, menculik Katie dan melarikan diri. Charlie baru menyadari anaknya hilang setelah ia datang ke kebun namun hanya menemukan mainan, boneka dan sebuah apel tergeletak di sana. Charlie langsung keluar dari pagar yang rusak dan melihat perempuan berjubah sedang lari menggendong Katie dari kejauhan. Charlie pun langsung berteriak dan mengejar perempuan itu. Namun sayang, badai dan angin yang membawa pasir tiba-tiba muncul menutupi seluruh kota sehingga menyebabkan Charlie kehilangan jejak. Charlie dan Larissa langsung pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kasus penculikan ini. Tiba di sana, Charlie bertemu dengan detektif Dalia Zaki (May Calamawy). Namun sayang respon dari detektif kepolisian yang lebih tua di sana malah mencurigai Charlie dan Larissa berbohong. Charlie pun marah dan tak terima dengan tuduhan tersebut. Keesokan harinya, pihak kepolisian Cairo pun langsung melakukan proses investigasi kasus ini.
Delapan tahun berlalu. Katie tak kunjung ditemukan. Keluarga Charlie kini sudah tak lagi tinggal di Cairo. Mereka tinggal di Albuquerque, New Mexico di rumah ibunya Larissa yaitu Carmen Santiago (Veronica Falcon). Sebastian (Shylo Molina) tumbuh jadi remaja pria yang menghabiskan waktu belajar dan mendengarkan musik. Sementara itu, Maud (Billie Roy) anak ketiga Charlie dan Larissa sudah lahir dan berusia 8 tahun. Suatu hari, Charlie mendapat telepon dari kepolisian dan pemerintah Mesir yang mengabari jika Katie berhasil ditemukan dan masih hidup. Bersama dengan Larissa, mereka langsung terbang dari Mexico menuju Cairo untuk menjemput Katie. Selama perjalanan, pihak kepolisian mendapat laporan dari arkeolog Cairo yang menemukan seorang perempuan terjebak dalam peti sarkofagus berusia 3000 tahun. Peti tersebut berasal dari pesawat kargo yang mengalami kecelakaan dan jatuh di tengah hutan. Dokter yang merawat dan memantau kondisi Katie kemudian meminta pihak keluarga untuk tetap tenang saat melihat lagi Katie yang kondisi fisiknya sudah berubah drastis karena mengalami trauma berat akibat dikurung selama bertahun-tahun di dalam peti sarkofagus. Tiba di rumah sakit, Charlie dan Larissa berusaha menahan rasa kaget serta sedihnya saat melihat Katie yang sangat berbeda. Mereka memutuskan membawa Katie pulang ke Mexico karena kondisi denyut jantungnya stabil.
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Mesir menuju Mexico, Charlie, Larissa dan Katie tiba di rumah. Mereka disambut suka cita oleh Nenek Carmen, Sebastian dan juga Maud. Meskipun wujud dan fisik Katie nampak menyeramkan, sang nenek dan Maud tetap menjalin interaksi lewat mengobrol, bercerita dan mendoakan Katie. Sementara itu, Sebastian memilih untuk menjaga jarak dengan kakaknya itu karena ia merasa tak nyaman melihat kondisi fisik serta sikapnya Katie yang aneh.
Waktu terus berlalu. Larissa berusaha membantu Katie agar bisa kembali berbicara dan merespon dirinya dengan cara memperlihatkan album foto Katie ketika masih anak-anak. Namun sayang, Katie tidak merespon apapun. Saat Nenek Carmen mendekati Katie dan memanjatkan doa dan kemudian mencium kening, tiba-tiba saja Katie membenturkan kepalanya ke hidung sang nenek hingga berdarah. Sore harinya, Larissa dan Nenek Carmen memandikan Katie sambil kukunya digunting. Secara tidak sengaja, Larissa merobek lapisan kulit bagian kaki Katie yang menyebabkan ia jadi tak terkendali hingga menikam dirinya sendiri sampai mengalami luka parah di bagian kakinya. Berbagai kejadian aneh lainnya semakin sering terjadi di rumah. Katie tiba-tiba menghilang dari dalam kamar dan berlarian di dalam loteng rumah yang membuat Sebastian dan Maud semakin ketakutan. Selain itu, Katie juga sering mengeluarkan suara aneh yang tidak bisa dipahami oleh keluarganya.
Seiring berjalannya waktu, perban yang menutupi badan Katie perlahan mulai longgar. Saat akan diganti dengan yang baru, Larissa dan Charlie menemukan perban lainnya yang sudah menempel dengan kulit Katie. Perban tersebut memiliki banyak tulisan ayat-ayat suci. Karena penasaran, Charlie kemudian melakukan konsultasi pada arkeolog untuk mengetahui maksud dari lapisan kulit yang menutupi hampir semua badan dari Katie. Saat ditelusuri, ternyata Katie dijadikan tumbal ritual dengan cara mumifikasi agar entitas gaib kuno bernama Nasmaranian tetap terikat dengan Katie yang masih muda dan juga hidup. Charlie langsung mencari cara untuk segera menemukan orang yang sangat tega menculik Katie dan dijadikan Mummy selama delapan tahun lamanya. Sebelum melanjutkan proses pencariannya, Charlie menemui lagi Katie di kamarnya dan berjanji akan menemukan orang yang sudah sangat jahat kepadanya. Obrolan tersebut ternyata mendapat respon dari Katie dengan kode morse lewat ketukan berkali-kali. Charlie langsung menyadari jika sebelum Katie diculik, mereka sempat belajar kode morse. Ia pun menulis semua kode yang diberikan Katie hingga muncul satu nama yaitu Layla. Setelah mendapatkan nama tersebut, Charlie langsung menghubungi Dalia untuk menelusuri nama Layla di Cairo. Namun sayang, Dalia tidak bisa langsung menemukan Layla yang mereka cari mengingat di Cairo dan Mesir sangat banyak perempuan bernama Layla. Charlie kemudian menelusuri semua surat kiriman dari orang-orang seluruh dunia yang mengucapkan turut berduka saat Katie diculik dan menjadi berita besar kala itu. Setelah membuka kotak penyimpanan yang cukup besar dan membuka semua amplop, Charlie berhasil menemukan satu surat yang pengirimnya bernama Layla Khalil (May Elghety). Dugaan semakin kuat karena isi surat dan sampul amplopnya memiliki gambar permen cokelat yang sama persis dengan temuan permen cokelat untuk memancing Katie sebelum diculik.
Dalia pun langsung menelusuri nama Layla Khalil dan membawanya ke sebuah rumah terpencil dengan kebun nektarin yang tumbuh subur di padang pasir. Tiba di sana, Dalia tak menemukan siapapun di rumah tersebut. Ia kemudian menyusuri ke belakang rumah dan menemukan sebuah piramida tersembunyi di sana. Saat masuk ke dalam piramida tersebut melalui pintu yang tertutup pasir, Dalia terkejut melihat ruangan kosong dengan tanda bekas peti sarkofagus pernah tersimpan di sana. Ia meyakini sarkofagus yang sempat ada di sana adalah sarkofagus nya Katie. Ketika Dalia sedang menelepon Charlie atas temuannya itu, seorang perempuan tiba di rumah dan berusaha menyerang Dalia lalu kabur. Perempuan tersebut adalah pesulap berjubah yang delapan tahun lalu menculik Katie. Untungnya Dalia bawa senjata dan langsung melumpuhkan perempuan itu. Letusan senjata itu terdengar oleh anaknya si perempuan yaitu Layla. Karena takut dengan tembakan, Layla akhirnya menyerah dan memberikan sebuah kotak yang ia kubur berisikan VHS Katie di masa lalu dan langsung terbang menuju Mexico untuk memberikannya pada keluarga Charlie.
Sementara itu, kondisi Katie di rumahnya semakin tidak terkendali semenjak perban dan lapisan kulit nya banyak yang lepas. Katie memanipulasi pikiran kedua saudaranya dan bertindak kasar. Selain itu, Katie juga menyerang sang nenek hingga tewas dengan cara yang mengenaskan. Charlie dan Larissa tak tinggal diam. Mereka mengunci Katie di kamarnya selama prosesi acara pemakaman Nenek Carmen. Namun karena kekuatannya semakin tidak terkendali, Katie berhasil keluar dari kamar lalu memakan cairan darah dan pengawet mayat pada peti Nenek Carmen. Selain Katie, kedua saudaranya pun bertindak gila menyerang siapapun yang ada di dalam rumah.
Tiba di rumahnya keluarga Charlie, Dalia langsung memberikan VHS itu dan memutarnya. Dalia, Charlie dan Larissa terkejut melihat rekaman prosesi ritual tumbal dan mumifikasi Katie oleh keluarganya Layla dengan cara pertukaran jiwa iblis kuno Nasmaranian ke tubuh Katie demi menjaga agar wilayah mereka tidak terkena kutukan serta banjir bandang. Bagaimana nasib keluarga Charlie selanjutnya?
#Review:
Rumah produksi Warner Bros mencoba peruntungan untuk menghadirkan cerita baru dari legacy franchise legendaris THE MUMMY yang sudah eksis sejak tahun 1932. Menariknya, jika versi Universal Pictures mayoritas film THE MUMMY bertema action adventure, di tangan Warner Bros, banting setir genre menjadi horror supernatural. Tak tanggung-tanggung, Warner Bros langsung menggandeng Lee Cronin yang sukses mencuri perhatian lewat film THE HOLE IN THE GROUND (2019) dan EVIL DEAD RISE (2024) sebagai sutradara dari THE MUMMY (2026) versi horror ini.
Untuk segi cerita, film LEE CRONIN'S THE MUMMY (2026) sebetulnya memiliki premis yang cukup menjanjikan. Namun entah kenapa, plot yang dihadirkan film ini menurutku terlalu panjang dan bertele-tele. Paruh awal film, penonton diajak untuk berkenalan dengan keluarga Charlie yang normal dan bahagia. Aku suka dengan keputusan Lee Cronin yang memilih latar cerita utama bukan dari kalangan keluarga disfungsional seperti film-film horror kebanyakan. Meskipun karakter dalam film ini hidup bahagia, mereka tetap bisa diganggu juga kok, tanpa harus punya konflik internal seperti akibat perceraian, ditinggal meninggal orangtua atau anaknya rebel. Faktor eksternal yang mengganggu keluarga Charlie hadir dengan cara menculik anak pertamanya yaitu Katie dan kemudian dijadikan tumbal untuk ritual. Pada bagian ini, Lee Cronin sedikit memberikan kritik sosial terhadap respon oknum kepolisian atau detektif mengenai kasus penculikan tuh dugaan awalnya selalu orang tua yang disalahkan. Sampai Katie diculik lalu menghilang ditengah badai pasir yang menimpa Cairo masih enjoyable untuk diikuti.
Saat plot memasuki babak pertengahan yang dimulai dengan latar waktu maju ke 8 tahun kemudian, barulah temponya terasa berjalan lambat. Banyak pertanyaan yang tidak terjawab secara jelas seperti pesawat yang mengangkut sarkofagus berisikan Katie dipindahkan lalu mengalami kecelakaan, lalu narasi tentang sejarah ritual Mummy dan entitas gaib Nasmaraian pun hanya dijelaskan melalui rekaman VHS saja. Intensitas ketegangan juga awalnya terjaga dengan sangat baik, namun seiring berjalannya cerita, Lee Cronin justru menebar jump scared khas film-film horror blockbuster melalui parade gore yang terus-menerus. Di satu sisi iya sih, berhasil bikin ngilu dan nahan rasa mual apalagi adegan gunting kuku dan jenazah Nenek Carmen. Ampun! Sisanya, yaa terasa sangat repetitif biar penonton yang suka jump scared terpuaskan teriak-teriak dan misuh-misuhnya. Elemen investigasi dan pemecahan teka-teki misteri yang menimpa Katie di sini terasa seperti tribute kecil-kecilan dari Lee Cronin untuk film-film The Mummy versi action-adventure. Yang cukup disayangkan selanjutnya yaitu bonding keluarga Charlie terasa kuat hanya paruh awal semata. Makin menuju akhir cerita, justru jadi hambar karena filmnya terlalu fokus menyajikan elemen gore yang bertubi-tubi.
Untuk jajaran pemain, penampilan para aktor yang menjadi keluarga Charlie tidak ada yang mengecewakan. Mereka saling melengkapi dan terasa believable jika mereka menyayangi karakter Katie dengan kondisi anehnya itu. May Calamawy yang memerankan detektif Dalia Zaki pun sebetulnya masih bisa dieksplor lebih mendalam lagi karakternya karena banyak sekali hal yang dimana dia tuh tiba-tiba mengetahui semuanya tanpa menampilkan investigasi secara jelas pada penonton.
Untuk urusan visual, nonton film LEE CRONIN'S THE MUMMY (2026) tuh vibes nya jadi 11-12 seperti film EVIL DEAD RISE (2026). Teknik pengambilan gambar secara ekstrim dan tak lazim mudah kita temukan disepanjang durasi film. Sinematografi nya pun sama. Eksekusi adegan-adegan gore nya memang tak kalah gila dengan film Lee Cronin sebelumnya. Scoring yang dihadirkan di beberapa bagian menurutku terlalu berisik. Apakah faktor Atomic Monster dan Blum House yang menyebabkan film ini jadi mengobral jump scared dan scoring di sepanjang durasi film? Entahlah. Hahaha.
[7.5/10Bintang]

































