Wednesday, 18 March 2026

[Review] Bodycam: Ketika Dua Polisi Patroli Terjebak Dalam Situasi Mengerikan!

 



#Description:
Title: Bodycam (2026)
Casts: Jaime M. Callica, Sean Rogerson, Catherine Lough, Angel Prater, Keegan Connor, Chris Casson, Elizabeth Longshaw, Colette Nwachi, Joe Perry, Onyx Shelton, Kevin Doree
Director: Brandon Christensen
Studio: Essential Film Group, Super Chill Productions, Shudder


#Synopsis:
Dua polisi yang sedang patroli rutin di sore hari yaitu Bryce Anderson (Sean Rogerson) dan Jerome Jackson (Jaime M. Callica) menerima panggilan dari kantor pusat untuk mendatangi sebuah rumah di pinggiran kota yang meminta bantuan. Karena mobil Bryce dan Jerome berada paling dekat dengan rumah itu, mereka pun langsung menuju ke tempat tujuan. Dalam perjalanan, mobil mereka melintasi wilayah suburban pinggiran kota yang kumuh dan banyak tuna wisma dimana-mana.



Tiba di tujuan, Bryce dan Jerome langsung melakukan pengecekan sesuai dengan prosedur. Ketika mereka sedang menunggu di depan pintu rumah, terdengar suara teriakan perempuan dari dalam rumah. Karena khawatir, mereka berdua pun terpaksa masuk ke dalam rumah untuk mencari sumber suara tersebut. Untuk mempersingkat waktu keduanya berpencar. Bryce ke basement dan Jerome ke lantai atas. Saat menggeledah setiap ruangan, Jerome tak menemukan siapapun. Saat suara teriakan itu kembali terdengar, Jerome berlari menuju toilet di salah satu kamar dan di sana ia melihat seorang perempuan yang tangan dan kakinya berlumuran darah. Di sisi lain, Bryce yang masuk ke basement rumah menemukan seorang pria tak sadarkan diri dengan tangannya tertutup kain serta sebuah lubang besar di lantai. Saat akan menolongnya, pria tersebut kemudian tersadar dan mulai mendekati Bryce. Karena panik dan takut pria tersebut menyerangnya, Bryce terpaksa melayangkan tembakan. Pria tersebut langsung jatuh tersungkur dan meninggal. Mendengar suara tembakan, Jerome langsung berlari menuju basement. Saat dicek, pria tersebut rupanya sedang menggendong bayi yang baru dilahirkan dan masih berlumuran darah. Bryce semakin panik dan merasa bersalah karena ia tak bermaksud untuk menembak pria dan bayi tersebut. Bryce hanya berusaha melindungi dirinya karena saat menemukan pria tersebut, gerak-geriknya sangat mencurigakan.


Sambil mencari jalan keluar, Bryce dan Jerome kemudian melihat perempuan yang ada di lantai atas tadi berlari ke luar rumah. Saat dikejar, perempuan tersebut malah bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri di hadapan mereka. Bryce dan Jerome semakin panik karena dua kejadian tersebut tidak bisa mereka cegah. Bryce juga semakin merasa bersalah karena ia tak sengaja menembak pria yang ada di basement rumah dan semua aktifitas keduanya terekam dengan jelas lewat bodycam yang memang dipasang di seragam mereka. Bryce pun akhirnya mengambil keputusan untuk tidak melaporkan semua kejadian tersebut ke kantor asalkan Jerome mau diajak kerja sama dengannya.
Untuk menjalankan misinya, Bryce kemudian pergi ke sebuah toko bersama Jerome untuk bertemu dengan seorang hacker yaitu Espo (Angel Prater). Bryce meminta bantuan pada Espo untuk menghapus rekaman bodycam pada hari itu. Saat Espo melihat rekaman bodycam melalui laptop nya, ia terkejut dengan apa yang dilihat. Espo ketakutan karena sesuatu yang buruk telah terjadi. Ia pun memutuskan untuk tidak membantu Bryce dan meninggalkannya.


Ditengah situasi serba panik dan bingung, Jerome kemudian membawa Bryce pulang ke rumahnya untuk menenangkan diri sambil bertemu dengan sang ibu, Ally Jackson (Catherine Lough) yang memiliki indera keenam. Tiba di rumah, Ally langsung bisa merasakan jika ada yang tak beres dengan Bryce. Di dalam rumah, Ally menjelaskan pada Jerome jika posisi mereka saat ini sedang dalam bahaya. Bryce dan Jerome sedang diincar oleh sosok misterius bernama Underman yang kini sedang mengontrol para tuna wisma di wilayah suburban itu. Di saat yang bersamaan, Bryce semakin sering mengalami gangguan gaib. Orang-orang yang menghampiri Bryce selalu mengucapkan kalimat aneh yang mengatakan jika Bryce telah merenggut sesuatu dari mereka, saatnya giliran mereka yang merenggut semuanya.


Karena semakin stress, Bryce dan Jerome kemudian pergi menuju tempat awal untuk membereskan jasad di sana. Namun sayang, setibanya di sana, jasad tersebut menghilang dan meninggalkan jejak berupa tanda misterius yang dibuat dari lumuran darah. Mampukah mereka berdua keluar dari kejadian-kejadian gaib yang mengerikan tersebut?


#Review:
Platrorm streaming yang dikenal sebagai surganya untuk genre horror thriller yaitu Shudder baru saja merilis film terbaru berjudul BODYCAM (2026). Dari judulnya saja, penonton sudah bisa menebak dengan mudah jika film ini akan menggunakan sudut pandang dari dari kamera Bodycam. Trailer yang dirilis pun terbilang sangat menarik karena menggunakan teknik found footage, yang rasanya sudah lama sekali perfilman Hollywood tak lagi mengeksplor konsep seperti ini.


Untuk segi cerita, film BODYCAM (2026) menyajikan plot tentang dua petugas polisi yang sedang menjalankan tugasnya dengan rentang waktu hanya satu malam saja. Meskipun berdurasi singkat hanya 75 menitan saja, sutradara Brandon Christensen berhasil membangun intensitas ketegangan dari awal sampai akhir film. Penonton serasa ikut terlibat langsung dengan apa yang dihadapi duo polisi Bryce dan Jerome ketika mereka menjalankan tugasnya. Perjalanan mereka berdua menyusuri suburban dengan lingkungan sekitar banyak gelandangan dan tunawisma menjadi potret kelam sekaligus kritik sosial dibalik negara maju Amerika Serikat. Meskipun plot tidak fokus pada sisi kriminalitasnya, namun penonton bisa merasakan situasi was-was serta takut jika berada di situasi seperti itu. Ditambah lagi, gerak-gerik tunawisma yang dilewati kedua polisi itu semuanya sangat suspect.
Level ketegangan semakin meningkat ketika Bryce dan Jerome menggeledah rumah yang mencurigakan itu. Dengan teknik found footage lewat kamera Bodycam yang ditempel di dada mereka berdua, suasana creepy nya terasa sangat realistis! Journey dan struggle mereka berdua selama mencari jalan keluar dari serangkaian kejadian gaib itu terasa seperti kombinasi antara dokumenter kepolisian, film THE BLAIR WITCH PROJECT hingga franchise ikonik V/H/S. Meskipun endingnya sangat predictable, namun siapa sangka, sang sutradara punya kejutan yang menurutku sangat spektakuler saat karakter Jerome terjebak saat 'berkeliling kota' meminta bantuan. Kombinasi antara found footage lewat kamera bodycam dengan efek visual jalanan dan perkotaan yang gelap sukses membuatku takjub.
Untuk jajaran pemain, penampilan para aktornya sangat believable. Meskipun beberapa kali terlihat ada yang over expressive, namun hal tersebut bisa kita tolelir karena orang-orang tersebut memang dikendalikan oleh sosok gaib bernama Underman. Yang sedikit mengganjal dari film BODYCAM (2026) adalah latar belakang dari Underman dan alasannya mengincar Bryce, Jerome dan orang-orang disekitarnya tuh kenapa? Plot nya kurang tegas terhadap bagian ini.
Overall, film BODYCAM (2026) sukses mengobati kerinduan akan film-film bertema found footage yang sudah jarang lagi diangkat oleh sineas Hollywood. Seram dan bikin gregetan!


[8/10Bintang]

Thursday, 12 March 2026

[Review] Na Willa: Keseruan Eksplorasi Dunia Lewat Perspektif Anak-Anak Di Era 60an!

 



#Description:
Title: Na Willa (2026)
Casts: Luisa Andreena, Irma Rihi, Junior Liem, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Mbok Tun, Melissa Karim, Ira Wibowo, Agla Artalidia, Putri Ayudya, Fanny Fadillah, Nayla D. Purnama, Sita Nursanti, Fita Anggraini, Calvin Jeremy, Kawai Labiba, Muzakki Ramdhan, M. Adhiyat, Hifdzi Khoir
Director: Ryan Adriandhy
Studio: Visinema Studios


#Synopsis:
Seorang anak perempuan cantik bernama Na Willa (Luisa Andreena) mempunyai cita-cita ingin cepat tinggi seperti kedua orangtua nya yaitu Ma' Marie (Irma Rihi) dan Pa' Paul (Junior Liem). Selain itu, Na Willa juga ingin memiliki rambut keriting dan berkulit gelap seperti ibunya. Sambil bercanda, keinginan Na Willa tersebut terasa mustahil menurut ART di rumah yaitu Mbok Tun (Mbok Tun), karena menurutnya, anak perempuan biasanya menurun kepada ayahnya. Hal tersebut bisa terlihat dari fisik, warna kulit dan juga wajah dari Na Willa yang sangat oriental dan lebih mirip dengan ayahnya. Meskipun sang anak sedih, Ma' Marie selalu meyakinkan Na Willa jika sudah besar nanti pasti akan ada perubahan fisik yang menyesuaikan dengan keinginannya.



Di luar rumah, Na Willa memiliki tiga sahabat yaitu Farida (Freya Mikhayla), Dul (Azamy Syauqi) dan Bud (Arsenio Rafisqy). Mereka berempat tinggal berdekatan di gang kecil yang sama bernama Gang Krembangan. Hampir setiap hari, Farida, Dul dan Bud sering menghabiskan waktu di rumahnya Na Willa. Selain bermain di rumahnya Na Willa, mereka juga sering bermain di luar rumah seperti main layangan, kelereng, petak umpet dan engklek di lapangan dekat rumah. Disaat waktu senggang, Na Willa juga sering diajak ke pasar oleh ibunya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari sambil Na Willa nya dititipkan di toko sembako milik Cik Mien (Melissa Karim). Karena sifat Na Willa yang riang serta polos, Ciek Mien selalu memberikan minuman botol Orange Cruz secara gratis, meskipun sudah berulang kali dilarang oleh Ma' Marie karena takut menjadi kebiasaan.
Seiring berjalannya waktu, libur sekolah telah usai. Bud yang sudah masuk sekolah TK duluan jadi jarang bermain ketika sedang sekolah. Selain itu, Farida dan Dul juga tahun ini akan masuk sekolah sama seperti Bud. Otomatis, Na Willa kini sendirian selama ketiga temannya sedang belajar di sekolah. Melihat anaknya yang kesepian, Ma' Marie pun memutuskan untuk memberikan pendidikan belajar membaca dan menulis kepada Na Willa di rumah. Selain itu, Na Willa juga sering dibacakan buku-buku dan surat dari kiriman dari Pa' Paul yang sedang berlayar di lautan.


Suatu hari saat akhir pekan, Bud punya cita-cita ingin melihat kereta api melintas yang tak jauh dari Gang Krembangan. Namun akses gang menuju rel kereta selalu ditutup dan anak-anak dilarang melintas ke arah sana. Bud kemudian mencari jalan alternatif dan akhirnya berhasil menemukannya. Setelah yakin jalan tersebut aman, Bud ingin mengajak Na Willa, Farida dan Dul untuk menemaninya. Namun keesokan harinya, rencana Bud itu ketahuan oleh Ma' Marie dan langsung melarang Na Willa keluar rumah dengan alasan kiriman buku dan surat dari ayahnya akan datang. Tak lama setelah itu, terjadi insiden di rel kereta yang menyebabkan salah satu kaki Bud mengalami luka parah yang membuat warga di Gang Krembangan terkejut. Sejak kejadian tersebut para orangtua dari Na Willa, Farida dan Dul semakin protektif terhadap mereka.


Waktu terus berlalu. Na Willa merasa kesepian semenjak Bud dirawat di rumah sakit dan Farida, Dul sibuk sekolah. Ma' Marie masih belum merelakan jika anak semata wayangnya itu pergi ke sekolah. Keputusan belajar mandiri di rumah tersebut perlahan mulai menghambat interaksi sosial Na Willa dengan orang lain dan juga dunia. Setelah mendapat dukungan dari Pa' Paul, akhirnya Na Willa didaftarkan ke sekolah yang sama dengan Farida, Dul dan Bud. Mengetahui esok hari akan sekolah, membuat Na Willa sangat senang. Ia bahkan bangun lebih pagi karena sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Farida dan Dul di lingkungan yang baru.


Tiba di sekolah, rupanya Na Willa tidak satu kelas dengan Farida dan juga Dul. Na Willa masuk ke kelas berbeda bersama dengan Ibu Tini (Putri Ayudya), wali kelasnya. Di hari pertama sekolah, Na Willa hanya diizinkan untuk melihat siswa lain belajar saja oleh Ibu Tini. Karena merasa bosan, Na Willa kemudian berjalan ke depan kelas dan mengatakan jika ia sudah bisa membaca dan menulis. Ibu Tini ragu dengan ucapan Na Willa dan menyuruhnya untuk kembali ke kursi. Na Willa pun kesal, karena kemampuan membaca dan menulisnya diragukan oleh Ibu Tini dan siswa lain. Hingga terjadilah insiden yang menyebabkan Na Willa pergi dari kelas dan pulang ke rumah sambil menangis. Bagaimana reaksi Ma' Marie ketika melihat anaknya menangis sambil berkata jika ia tidak ingin lagi sekolah?


#Review:
Rumah produksi Visinema Studios siap meramaikan kembali libur Lebaran Idul Fitri tahun ini dengan merilis film untuk anak-anak berjudul NA WILLA (2026). Menariknya, Visinema bukan lagi menghadirkan film animasi seperti tahun lalu, melainkan sebuah film panjang yang diadaptasi dari novel best seller karya Reda Gaudiamo, dengan sutradara dan penulis cerita kembali dipegang oleh Ryan Adriandhy.


Aku berkesempatan hadir pada Press Screening dan Premiere film NA WILLA (2026) yang sukses digelar pada Selasa (10/3) kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada sesi wawancara, Ryan Adriandhy selaku sutradara memberikan penjelasan tentang cerita film ini berdasarkan perspektif dan dunia dari seorang anak perempuan di tahun 60an bernama Na Willa. Bersama dengan Visinema dan tentunya Ibu Reda, film ini bukan sekedar hanya bercerita saja, namun ingin mengajak penonton semua umur untuk membuka kembali kenangan-kenangan bahagia tanpa beban saat kita berusia anak-anak. Lebih lanjut, CEO dan para produser dari Visinema Studios yaitu Herry B. Salim, teteh Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari menambahkan, film keluarga bagi Visinema selalu dipandang lebih dari sekadar hiburan. Ia mengatakan Na Willa dirancang sebagai ruang emosional yang mempertemukan anak, orang tua, dan sisi anak-anak yang masih hidup dalam diri orang dewasa. Lebih lanjut, Intellectual Property Na Willa memiliki potensi menjadi IP lokal yang kuat, besar dan berkelanjutan. Maka tak heran, Visinema Studios optimis jika film NA WILLA (2026) dapat diterima secara positif oleh penonton dan sudah dipastikan jika cerita dunia Na Willa akan berlanjut di film-film selanjutnya.



Untuk segi cerita, film NA WILLA (2026) ini hampir sepenuhnya mengambil sudut pandang dari bocil perempuan dan teman-temannya yang tinggal di Gang Krembangan. Alhasil, sejak film dimulai saja, penonton sudah disuguhkan dengan berbagai pertanyaan "asbun" dan kepolosan khas anak-anak yang penuh rasa penasaran. Di paruh awal film ini, Ryan Adriandhy sangat detail dalam mengeksplor keseharian karakter Na Willa dengan orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Di rumah, kelucuan sering terjadi ketika ia tektokan dengan ibunya dan juga Mbok Tun. Saat berada di luar rumah, menghadirkan keseharian bocil. Meskipun plotnya terlihat ringan karena untuk anak-anak, namun siapa sangka, film NA WILLA (2026) juga turut mengangkat berbagai macam issue yang masih sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Contoh yang paling mencolok yaitu sikap over protective orang tua terhadap anak, meskipun awalnya dianggap lebay, tapi keputusan Ma' Marie bersikap seperti itu tuh ada alasan kuat perihal issue yang nanti terungkap di babak akhir film. Kemudian film ini juga turut menyoroti kehidupan dan definisi keluarga besar lewat keluarga Farida yang cukup disayangkan tidak dieksplor oleh Ryan. Terakhir, ditutup dengan cerita tentang usaha mendapatkan sekolah yang aman dan nyaman untuk Na Willa. Konflik yang dihadirkan film ini juga eksekusinya dibuat seceria mungkin. Chemistry dan happiness Na Willa saat bermain dengan Farida, Dul dan Bud juga terasa menembus ke luar layar. Persahabatan mereka nyata, hangat, lucu sekaligus believable seperti bocil-bocil pada umumnya. Tragedi yang sempat "memisahkan" mereka berempat juga yang seharusnya penuh duka, Ryan Adriandhy justru menyajikannya lebih fun lewat lagu ikonik "Sikilku Iso Muni".


Untuk jajaran pemain, Visinema Studios memang semakin handal dan presisi dalam urusan casting. Karakter Na Willa bagaikan hadir dan terlahir hanya untuk Luisa Andreena. Semangat membaranya dalam mengeksplorasi banyak hal sangat terpancar kuat. Bonding dan tektokannya dengan Irma Rihi juga selalu lucu karena memiliki perbedaan sifat yang mencolok. Kehadiran tiga aktor cilik lainnya juga semakin menambah semangat dan antusias keseluruhan cerita dalam film ini. Apresiasi juga harus diberikan pada aktor-aktor dewasanya yaitu Irma Rihi, Junior Liem, Mbok Tun, Ira Wibowo, Melissa Kariem, Putri Ayudya hingga Agla Artalidia yang ikut terbawa energi mereka seperti geng Na Willa.
Untuk urusan visual, film NA WILLA (2026) sudah dipastikan jadi salah satu karya produksi dengan visual paling memuaskan yang pernah dibuat oleh Visinema. Sepanjang durasi disuguhkan gambar yang tajam, terang, visual penuh warna, imaginatif dan magis, kemudian diperkaya juga dengan treatment semi musikal dan teatrikal di beberapa bagian. Sungguh menggemaskan!
Overall, film NA WILLA (2026) bisa dibilang berhasil memberikan bencmark yang semakin tinggi untuk film bertema anak-anak di industri perfilman Indonesia. Slice of life seorang anak di Surabaya era 60an yang lucu, menghibur sekaligus nostalgic akan masa-masa bocil yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman di luaran sana. Highly recommended untuk ditonton di bioskop mulai 18 Maret 2026!


[9/10Bintang]

Wednesday, 11 March 2026

[Review] Tunggu Aku Sukses Nanti: Perjuangan Untuk "Membeli" Semua Omongan Sanak Saudara Saat Berkumpul Keluarga!


Title: Tunggu Aku Sukses Nanti (2026)
Casts: Ardit Erwandha, Lulu Tobing, Ariyo Wahab, Niniek L. Kariem, Adzana Shaliha, Sarah Sechan, Jamie Aditya, Afgansyah Reza, Ayu Laksmi, Marchella FP, Petra Gabriel, Gusty Pratama, Renitasari Adrian, Maudy Effrosina, Reza Chandika, Fita Anggraeni, Soleh Solihun, Farrell Rafisqy, Yono Bakrie
Director: Naya Anindita
Studio: Rapi Films, Screenplay Films, Legacy Pictures, Vortera Studios


#Synopsis:
Lebaran Idul Fitri biasanya disambut penuh dengan suka cita dan bahagia. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Arga Mahendra (Ardit Erwandha) yang selalu tertekan saat keluarga besarnya berkumpul, bersilaturahmi sambil membicarakan pencapaian keluarga mereka masing-masing. Ditambah lagi, Arga sudah satu tahun terakhir masih menganggur dan belum mendapat pekerjaan baru. Berbagai pertanyaan dan tekanan selalu datang dari ketiga saudara kandung dari ayahnya Arga yaitu Tante Yuli (Sarah Sechan), Tante Yeni (Ayu Laksmi) dan Tante Yara (Renitasari Adrian). Ditambah lagi keempat sepupu Arga yaitu Dwiki (Afgansyah Reza), Bella (Marchella FP), Hanif (Petra Gabriel) dan Hilman (Gusty Pratama) memiliki karier yang cemerlang dan sudah hidup mapan. Untungnya, ayah Yudhi (Ariyo Wahab), ibu Rita (Lulu Tobing), adik Alma (Adzana Shaliha), sang nenek (Niniek L. Kariem) dan pacarnya, Andin (Maudy Effrosina) selalu menenangkan Arga dan melerai pembicaraan yang memberatkan Arga ketika sedang berkumpul dengan keluarga besarnya.
Selama satu tahun tidak bekerja, Arga sebetulnya tidak berdiam diri saja. Ia rutin mengirim surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan namun tak kunjung mendapat panggilan. Meskipun keluarga besarnya selalu meremehkan dirinya, Arga masih memiliki ayah, ibu, adik, nenek, pacar serta dua sahabatnya yaitu Wicak (Reza Chandika) dan Fanny (Fita Anggraeni) yang selalu memberikan dukungan pada Arga untuk tetap semangat dalam mencari pekerjaan. Setiap ada panggilan wawancara kerja, Arga selalu semangat untuk datang. Meskipun berkali-kali mendapat penolakan, Arga tidak putus asa dan mencoba berbagai lowongan kerja lainnya.


Hingga suatu hari, Arga berhasil lolos wawancara dan diterima bekerja sebagai sales property perumahan. Kabar tersebut tentunya membuat ayah, ibu, adik, nenek, Andin, Wicak dan Fanny sangat bahagia. Arga berjanji akan bekerja semaksimal mungkin demi membahagiakan keluarganya di rumah. Setelah satu bulan bekerja sebagai sales, Arga gagal mencapai target penjualan. Wicak dan Fanny pun tak tinggal diam, mereka merubah penampilan Arga agar lebih menonjol dan menarik perhatian calon pembeli rumah. Tak hanya itu saja, Arga pun mencoba teknik pemasaran rumah lewat konten-konten lucu dan diunggah ke sosial media. Sejak penampilan berubah dan konten-kontennya mulai ramai dikomentari banyak orang, Arga berhasil mendapatkan beberapa client yang akan membeli rumah. Gaji dan tambahan bonus akhirnya bisa didapatkan oleh Arga setelah berjuang mati-matian mencari client untuk membeli rumah melalui dirinya.


Sejak memiliki penghasilan sendiri, Arga selalu menyisihkan uangnya untuk diberikan pada kedua orangtua dan biaya kuliah Alma. Bahkan, Arga pun berjanji akan menyewa ruko di pinggir jalan untuk dijadikan warung mie ayam dan membelikan motor untuk sang ayah. Arga semakin semangat dalam bekerja demi mengangkat derajat keluarganya dan tak lagi merasa insecure saat bertemu dengan keluarga besarnya di lebaran.
Waktu terus berlalu. Dibalik kondisi keuangannya yang perlahan mulai membaik, Arga justru harus menghadapi berbagai rintangan baru dalam hidupnya. Terjadi persaingan di lingkungan pekerjaan, Andin yang menginginkan hubungan dengan Arga bisa melangkah ke jenjang lebih serius, konflik pertengkaran antara Arga dengan kedua sahabatnya perihal perbedaan sudut pandang tentang semua pencapaian yang sudah diraih Arga, hingga masih saja menerima pandangan sebelah mata dari Tante Yuli, Tante Yeni dan Tante Yara. Apakah Arga mampu menyelesaikan dan berdamai dengan semua permasalahan pelik dalam hidupnya?


#Review:
Rumah produksi Rapi Films siap meramaikan Lebaran Idul Fitri tahun 2026 ini dengan merilis film terbarunya yang berjudul TUNGGU AKU SUKSES NANTI (2026), karya sutradara Naya Anindita yang tahun lalu sukses mencetak box office hit lewat film semi biografi berjudul KOMANG (2025).


Aku berkesempatan hadir pada Gala Premiere film TUNGGU AKU SUKSES NANTI (2026) yang sukses digelar pada Senin (9/3) kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada kesempatan tersebut, Naya Anindita dan Evelyn Afnilia selaku penulis skenario sekaligus cerita film ini mengungkapkan proses pemilihan aktor dilakukan dengan pendekatan secara personal. Naya sengaja memilih orang-orang dari circle pertemanannya untuk menghidupkan suasana keluarga dan persahabatan yang organik. Yang tak kalah menarik, saat Naya, Evelyn dan tim kreatif menulis cerita, sosok yang pertama kali terlintas dalam benak mereka untuk karakter Arga adalah Ardit Erwandha. Meskipun selama ini Ardit dikenal sebagai komika dan aktor komedian, namun Naya sangat yakin Ardit bisa memerankan karakter Arga sesuai keinginannya.



Untuk segi cerita, film TUNGGU AKU SUKSES NANTI (2026) terkonfirmasi bukan diadaptasi dari novel best seller, thread viral ataupun sosok inspiratif. Namun ajaibnya, cerita yang disajikan film ini surprisingly seperti menjadi biografi untuk para penonton dengan status anak sulung, sandwich generation yang sedang berjuang untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Sejak film dimulai saja, penonton langsung "ditampar" dengan adegan-adegan "horror" saat keluarga besar berkumpul di moment idul fitri yang terus berulang di setiap tahunnya. Di setiap keluarga pasti akan ada aja satu dua orang yang memiliki sifat cerewet, banyak tanya, bikin jengkel meskipun mereka selalu berlindung dibalik kata "bercanda". Dampaknya pun tak main-main, lewat karakter Arga yang sedari kecil sering diperlakukan seperti itu dan berlanjut sampai ia dewasa, jadi memupuk rasa benci dan ambisi untuk "balas dendam" di kemudian hari. Konflik internal keluarga besar Arga juga eksekusinya lagi dan lagi sangat relatable untuk keluarga yang sedang atau pernah berada di posisi yang sama dengan mereka. Semua pressure yang diterima Arga kemudian mencapai klimaksnya saat kehidupan dan karier keluarga Arga mulai membaik. Amarah Arga yang selama ini dipendam akhirnya meledak. Penonton pun langsung takjub melihat emosi yang meledak dari Arga karena timingnya sangat pas. Plot twist mengejutkan pun tak lupa diselipkan dalam cerita di film ini yang siapa sangka menjadi turning point dan penebusan dosa bagi Arga maupun orang-orang disekitarnya. Untuk kesekian kalinya, lagi dan lagi aku menangis!


Selain drama internal keluarga yang sangat luar biasa, film TUNGGU AKU SUKSES NANTI (2026) juga menghadirkan subplot menarik lainnya yaitu tentang persahabatan ajaib antara karakter Arga dengan Wicak dan Fanny. Keputusan Naya untuk mengambil inner circle pertemanan untuk terlibat sebagai aktor dalam film ini menurutku keputusan yang sangat tepat. Chemistry pertemanan mereka bertiga sangat believable, menghibur dan dekat dengan penonton. Subplot hubungan asmara Arga dengan Andin pun hadir sebagai pelengkap namun tetap punya pengaruh juga terhadap keseluruhan cerita. Keputusan yang mereka ambil pun menurutku rasional.




Untuk jajaran pemain, apresiasi pertama harus kita berikan kepada Ardit Erwandha yang berhasil keluar dari zona nyamannya sebagai aktor spesialis komedi, menjadi aktor yang memiliki range emosi serta gesture sangat luar biasa. Performa Ardit Erwandha sebagai Arga mengingatkanku akan Yunita Siregar sebagai Kaluna di film HOME SWEET LOAN (2024), sama-sama keduanya memang ditakdirkan untuk menjadi Arga dan Kaluna. Journey Arga ketika bekerja sebagai agent property perumahan dengan segala konflik internalnya sungguh believable. Bahkan di beberapa moment, aku dan penonton lain selalu refleks ikut bahagia melihat karakter Arga menemukan rasa bahagianya ketika bekerja. Dinamika emosional Arga di sepanjang film pun dibuat terus meningkat hingga memunculkan perasaan ingin memvalidasi semua pencapaian Arga selama ini. Range emosionalnya sekali lagi, gokil banget!
Ensemble cast pendukung di film ini juga siapa sangka punya andil cukup besar dalam keseluruhan cerita. Trio tante yang dimainkan oleh Ibu Ayu Laksmi, Sarah Sechan dan Renitasari Adrian sukses bikin jengkel penonton. Kehadiran para sepupu yang dimainkan Afgansyah Reza, Marchella FP, Petra Gabriel dan Gusty Pratama juga berhasil menjadi salah satu penyebab Arga ketrigger dengan kesuksesan yang mereka raih. Meskipun obrolan keluarga besar Arga terasa lazim, namun hal tersebut justru terasa seperti pisau yang tajam bagi para anak sulung yang sedang berproses seperti Arga. Kehadiran Lulu Tobing, Ariyo Wahab, Adzana Shaliha dan Ibu Niniek L. Kariem duh sungguh hangaat sekaligus bikin menangis melihat chemistry keluarga inti dari Arga.
Overall, film TUNGGU AKU SUKSES NANTI (2026) sangat mudah menjadi salah satu film Indonesia terbaik di tahun ini dan salah satu film Indonesia bertema Lebaran yang Lebaran banget! Aku sangat optimis, bakal panen nominasi dan piala di ajang penghargaan tahun ini. Bismillah Naya Anindita for Best Director dan Ardit Erwandha for Best Lead Actor!


[9.5/10Bintang]

Friday, 6 March 2026

[Review] Hoppers: Keseruan Si Pecinta Hewan Dalam Upaya Melestarikan Lingkungan!



#Description:
Title: Hoppers (2026)
Casts: Piper Curda, Bobby Moynihan, Jon Hamm, Kathy Najimi, Dave Franco, Eduardo Franco, Aparna Nancherla, Tom Law, Sam Richardson, Melissa Villasenor, Isaiah Whitlock Jr, Steve Purcell, Ego Nwodim, Nichole Sakura, Meryl Streep, Karen Huie, Vanessa Bayer
Director: Daniel Chong
Studio: Pixar Animation Studios, Disney Studios


#Synopsis:
Sejak kecil, Mabel Tanaka (Piper Cuda) sangat peduli dan sayang terhadap hewan. Ia bahkan sudah berulang kali mencoba melepaskan hewan-hewan yang sengaja dipelihara di sekolah untuk dibebaskan ke alam. Hal tersebut membuat para guru angkat tangan dengan apa yang dilakukan Mabel. Ayah dan ibunya pun sudah berulang kali menasehati Mabel untuk tidak melakukan tersebut agar ia tidak dikeluarkan dari sekolah.
Selama libur musim panas, Mabel dititipkan ke rumah neneknya (Karen Huie) yang tinggal di kota kecil bernama Beaverton. Selama tinggal bersama sang nenek, Mabel banyak belajar tentang alam dan juga hewan. Mereka sering menghabiskan waktu di danau hutan kota yang tak jauh dari rumah. Di sana, Mabel bisa melihat dengan leluasa lingkungan alam serta interaksi hewan-hewan yang tinggal di hutan tersebut. Rasa cinta dan peduli terhadap hewan serta lingkungan yang sangat besar dari neneknya ini kemudian turun pada Mabel. Bahkan setelah libur musim panas, Mabel semakin sering datang ke rumah neneknya saat akhir pekan dan di waktu libur. Hingga saat beranjak remaja, Mabel mengambil keputusan untuk tinggal bersama sang nenek ketimbang harus ikut orangtuanya pergi ke luar negeri untuk bekerja. Mabel lebih nyaman tinggal bersama sang nenek sekaligus merawatnya yang semakin menua.
Tak lama setelah itu, sang nenek meninggal. Mabel memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sesuai permintaan mendiang neneknya yang memintanya untuk merawat rumah dan lingkungan di sekitarnya. Selama tinggal sendirian di sana, kondisi lingkungan dan hutan kota yang didekat rumah perlahan mulai terganggu. Puncaknya, pembangunan jalan layang yang membentang dan pilarnya dibangun diatas rawa di hutan kota akan segera dibangun oleh pemerintah. Rencana tersebut langsung ditentang oleh Mabel karena selain merusak habitat hewan yang ada di rawa dan hutan, lokasi tersebut juga memiliki kenangan tersendiri bersama mendiang neneknya di sana. Mabel juga sudah berulang kali melayangkan protesnya terhadap walikota Beaverton yaitu Jerry Generazzo (Jon Hamm), bahkan Mabel juga sering menggelar aksi demo terhadap berbagai rencana pemerintah yang dianggap merusak lingkungan dan mengancam keselamatan hewan-hewan di alam liar. Karena kampanye menolak pembangunan jalan layang tersebut tak mendapat dukungan dari warga di Beaverton, Mabel pun meminta bantuan pada dosen di kampusnya yaitu Dr. Samantha Fairfax (Kathy Najimi) untuk mencari cara agar hutan dan rawa yang ada di hutan kota tidak dirusak oleh rencana pembangunan jalan layang. Dr. Samantha kemudian menjelaskan jika kondisi hutan di sana memang sudah lama ditinggal oleh hewan-hewan liar. Satu-satunya cara agar pemerintah tidak bisa melanjutkan proyek pembangunan pilar jalan layang di atas rawa dan hutan yaitu memancing semua hewan-hewan liar untuk kembali ke sana.
Mabel pun langsung menyusun rencana agar semua hewan bisa kembali ke habitatnya dengan cara membawakan sayuran dan makanan yang disimpan di tengah hutan. Namun selama seharian di sana, ia tak menemukan satupun hewan yang mendekati umpan tersebut. Saat tengah malam, Mabel melihat seekor berang-berang keluar dari semak-semak namun malah berjalan keluar dari hutan. Tak lama setelah itu, berang-berang tersebut diambil oleh seseorang dari dalam mobil dan pergi dari sana. Mabel pun tak tinggal diam, ia langsung mengejar mobil itu karena sudah menculik berang-berang dari habitat aslinya. Mobil tersebut ternyata berjalan menuju kampusnya. Berang-berang tadi kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung lalu turun ke tangga menuju laboratorium tertutup. Mabel yang mengikutinya dibuat terkejut setelah mengetahui jika berang-berang tersebut adalah robot hewan yang dibuat oleh Dr. Samantha beserta kedua asistennya yaitu Nisha (Aparna Nancherla) dan Conner (Sam Richardson). Mereka bertiga sedang mengembangkan project bernama Hoppers, yaitu teknologi yang memungkinkan kesadaran manusia untuk "melompat" ke dalam tubuh hewan robotik dan merasakan kehidupan sebagai spesies tersebut. Mabel kemudian menemukan peluang untuk menyelamatkan hutan dengan menggunakan teknologi Hoppers tersebut dan masuk ke dalam tubuh robot berang-berang tadi tanpa seizin Dr. Samantha lalu kabur dari laboratorium.
Setelah berhasil melarikan diri, Mabel yang kini ada dalam tubuh robot berang-berang menyusuri hutan untuk menemui hewan lain. Setelah berjalanan semalaman, pagi harinya Mabel bertemu dengan seekor berang-berang yang sedang bersantai di tepi sungai. Mabel mengajaknya untuk kembali ke hutan kota, namun sayang, berang-berang yang bernama Loaf (Eduardo Franco) memilih tetap tinggal di sana karena suasana hutan yang dekat kota sudah tidak kondusif lagi akibat pembangunan jalan layang itu. Tak lama setelah itu, seekor beruang bernama Ellen (Melissa Villasenor) mendekati Mabel dan Loaf. yang kemudian mencoba untuk memakan Loaf. Mabel pun histeris berteriak dan meminta Ellen untuk tidak memakan Loaf. Kejadian tersebut membuat Ellen dan Loaf terkejut, karena baru kali ini ada seekor berang-berang yang melanggar hukum alam tentang rantai makanan. Ellen dan Loaf kemudian membawa Mabel menemui pimpinan berang-berang yaitu King George (Bobby Moynihan) yang tinggal di bendungan dan aliran sungai dengan membangun tempat tinggal untuk hewan-hewan lain juga. Di sana, King George kemudian menjelaskan tentang hukum alam yang seharusnya sudah dipahami Mabel sebagai seekor berang-berang. Setelah itu, Mabel kemudian meminta bantuan pada George untuk membawa kawanan hewan kembali ke hutan kota agar proyek jalan layang dihentikan jika kawanan hewan masih menetap di sana. Sebelum meminta hewan-hewan pindah ke sana, George, Mabel, Ellen, Loaf dan beberapa hewan lain datang terlebih dahulu ke sana untuk melihat kondisi hutan dan rawa yang sudah lama mereka tinggalkan. Saat berkeliling, Mabel menemukan pohon buatan yang mengeluarkan suara dan radiasi untuk membasmi hewan-hewan yang masih saja berkeliaran di dekat proyek pembangunan jalan layang. Setelah berhasil menghancurkan pohon tersebut, King George kemudian menyetujui untuk kembali mengisi hutan kota bersama hewan-hewan lainnya.
Waktu terus berlalu. Rusaknya pohon pengusir hewan ketahuan oleh Jerry. Keesokan harinya, tim konstruksi langsung memasang pohon dengan speaker lebih banyak di area pembangunannnn jalan layang ditengah hutan kota yang membuat para hewan liar terpaksa kembali lagi ke bendungan. Kejadian tersebut membuat Mabel dan George menyusun rencana dengan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin hewan lain dari kalangan serangga, amfibi, ikan, reptil dan burung. Penjelasan Mabel tentang rencana pembangunan jalan layang yang menghancurkan kawasan hutan kota menyebabkan salah persepsi di kalangan pemimpin hewan dan menganggap jika manusia yang Jerry itu mengancam wilayah mereka masing-masing. Karena situasi semakin tidak kondusif, Mabel, George, Loaf, Ellen dan kadal Tom Lizard (Tom Law) berusaha menjelaskan kekhawatiran para pemimpin hewan itu terlalu berlebihan karena manusia saat ini hanya mengincar lahan hutan kota saja. Namun penjelasan tersebut tak bisa menenangkan kepanikan dan amarah para pimpinan dan hewan lain. Mereka kemudian menyusun rencana untuk menyerang Jerry dan manusia lain yang kebetulan akan menggelar acara peresmian proyek pembangunan pilar dan jalan layang dalam waktu dekat. Karena dianggap berkhianat, Mabel, George, Loaf dan Tom jadi ikut diburu oleh para hewan lain yang dihasut oleh pimpinan baru dari kalangan serangga yaitu Titus Insect King (Dave Franco).
Sementara itu, Mabel harus secepat mungkin memberitahu rencana para pimpinan dan pasukan hewan yang akan menyerang pada Jerry. Bersama dengan George, Loaf, Ellen dan Tom mereka menuju rumahnya Jerry sambil membawanya ke hutan. Apakah semua rencana yang dilakukan dari kubu Mabel maupun Titus akan berjalan mulus?


#Review:
Rumah produksi Disney Pixar baru saja merilis film animasi terbarunya yang berjudul HOPPERS (2026). Film yang menjadi debut bagi Daniel Chong sebagai sutradara film layar lebar ini mengusung tema cerita tentang dunia satwa yang habitatnya terancam hilang oleh pembangunan jalan layang. Menariknya, kepedulian terhadap satwa dan lingkungan tersebut datang dari seorang remaja perempuan blasteran Amerika - Jepang bernama Mabel Tanaka.


Untuk segi cerita, film HOPPERS (2026) menyajikan kombinasi plot yang terbilang unik sekaligus baru di filmography Disney Pixar. Plot pertama membahas soal upaya karakter Mabel yang sangat mencintai lingkungan dan bertransformasi menjadi sosok pelindung (SJW hahaha) bagi satwa liar di dekat rumah neneknya. Kemudian, relasi antara manusia dengan satwa menjadi konflik utama yang eksekusinya dibuat ringan, surprisingly menghibur dan tetap memberikan edukasi bagi penonton. Dinamika perjuangan karakter Mabel untuk melindungi lingkungan dan satwa liar di sini juga tak sepenuhnya berjalan dengan mulus, karena lawan yang harus dihadapi juga tidak sepenuhnya jahat. Maksud dan tujuan Mabel sebetulnya sangatlah baik karena ia ingin memperbaiki segala sesuatu sesuai keinginannya, namun berbagai usaha yang dilakukan justru membuatnya capek dan lelah sendiri karena tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Subplot fiksi ilmiah lewat teknologi bernama Hoppers yang secara singkat mirip dengan teknologi yang digunakan dalam film AVATAR (2009) juga berhasil menambah level keseruan film ini. Tingkah polah hewan dan sudut pandang mereka dalam melihat dunia dan manusia memang tidak ada bedanya, karena kita sama-sama makhluk hidup ciptaan tuhan.
Untuk urusan visual dan animasi, film HOPPERS (2026) memang tidak menawarkan sesuatu yang baru. Animasinya khas seperti film-film Disney Pixar pada umumnya. Yang menjadi point plus dan pembeda terletak disaat interaksi antara sesama satwa dengan manusia. Saat para hewan berinteraksi, mereka tampil layaknya interaksi manusia pada umumnya, kadang serius, kadang super konyol dengan ditambah ekspresi muka yang selalu over hahaha. Namun saat hewan-hewan tersebut berinteraksi dengan manusia, tampil sangat menggemaskan lewat point of view manusia saat melihat hewan itu seperti apa.
Overall, film HOPPERS (2026) berhasil mengangkat issue tentang kelesarasan dan keharmonisan antar makhluk hidup dengan cara yang fun, lucu sekaligus mengharukan. Semoga HOPPERS (2026) bisa mencetak box office hit melampaui film Disney Pixar tahun lalu yaitu ELIO (2025) yang bisa dibilang gagal meraih predikat tersebut.


[9/10Bintang]

Friday, 6 February 2026

[Review] If I Had Legs I'd Kick You: Drama Psikologis Dari Seorang Ibu Dalam Menghadapi Kekacauan Hidupnya!



#Description:
Title: If I Had Legs I'd Kick You (2025)
Casts: Rose Byrne, Conan O'Brien, Delaney Quinn, ASAP Rocky, Danielle Macdonald, Christian Slater, Ivy Wok, Mary Bronstein, Lark White, Ronald Bronstein
Director: Mary Bronstein
Studio: A24, Central Pictures, Fat City Productions


#Synopsis:
Dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, Linda (Rose Bryne) terasa semakin kacau dan berantakan. Sang suami, Charles (Christian Slater) bekerja sebagai nahkoda kapal yang sudah lama berlayar dan belum pulang ke rumah. Linda tinggal bersama anak perempuannya, Sarah (Delaney Quinn) yang mengidap gangguan makan pediatrik, sebuah kondisi pemberian makan tambahan setiap malam melalui selang makan. Setiap harinya, Linda harus mempersiapkan semua kebutuhan dan mengantar jemput sang anak ke sekolah, mengikuti program rumah sakit untuk memantau perkembangan sang anak dan bekerja sebagai psikoterapis yang bertemu dengan beberapa pasien tetapnya.
Ketika melakukan rutinitasnya itu, tak jarang Linda sering menghadapi berbagai macam drama seperti perselisihan dengan petugas parkir di sekolah sang anak yang berulang-ulang, Sarah yang cerewet sepanjang perjalanan berangkat dan pulang kerja, kemudian sering ditegur oleh dokternya sang anak karena Linda sering absen untuk sesi pertemuan. Untuk meluapkan semua kekesalan dan amarahnya, Linda rutin berkonsultasi juga pada terapisnya, Thomas (Conan O'Brien).
Suatu hari, saat Linda selesai menjemput Sarah dari sekolah dan tiba di apartemen, keduanya adanya genangan air di toilet dan menyebabkan bocor ke kamar Linda yang tepat di bawahnya. Tak lama setelah itu, lantai toilet ambruk dan menciptakan lubang besar membasahi seluruh ruangan yang ada di bawahnya. Selama proses perbaikan, Linda dan Sarah menyewa motel murah yang tak jauh dari apartemen mereka. Masalah baru muncul. Linda tidak bisa tidur nyenyak karena suara bising dari alat dan pompa makanan yang digunakan sang anak setiap malam. Ia pun menghabiskan malam harinya dengan meminum alkohol, membeli rokok dan makanan cepat saji sambil sesekali mengecek kondisi terkini apartemennya apakah sudah selesai diperbaiki atau belum.
Di sisi lain, Linda juga harus menghadapi berbagai keluh kesah dari pasien terapisnya ketika sedang bekerja. Salah satu pasiennya yaitu Caroline (Danielle Macdonald) yang mengalami paranoia dan baby blues setelah melahirkan anak pertamanya. Setelah selesai sesi terapi, Linda harus menghadapi pertengkaran dengan sang suami melalui telepon. Linda yang selama ini ditinggalkan sendirian merasa kesal melihat suaminya sibuk berlayar sambil menyempatkan waktu untuk menonton pertandingan olahraga. Hal tersebut membuat Charles juga ikutan terpancing emosi dan menganggap pekerjaan Linda jauh lebih santai karena hanya duduk saja mendengarkan keluh kesah orang lain.
Hari demi hari terus berlalu. Linda yang tak bisa tidur nyenyak, semakin sering meminum alkohol dari mini market yang ada di motel. Di sana, ia bertemu dengan penjaga motel yaitu James (ASAP Rocky) yang telah membantunya membeli alkohol. Selain itu, James juga memberikan dukungan moral dan emosional pada Linda dan juga anaknya untuk tetap bertahan hidup. James pun tak segan untuk membantu Linda membeli berbagai macam obat tanpa resep dokter melalui dark web agar dirinya bisa tenang dalam menghadapi berbagai kekacauan dalam hidup. Sejak mengkonsumsi beberapa obat penenang, kondisi emosional Linda perlahan mulai stabil. Namun di sisi lain, ia semakin sering mengalami halusinasi dan kembali meledak-ledak jika posisinya sedang terpojok.
Hingga suatu malam, Linda melihat Caroline mendatangi motelnya dalam kondisi mental yang semakin kritis. Caroline meminta pertolongan lagi pada Linda dan ia tidak mau kembali ke rumah sakit lagi. Disaat Linda berusaha menenangkan Caroline dan membujuknya untuk ke rumah sakit, Caroline sangat kecewa lalu menampar Linda dan pergi berlari ke pinggir pantai. Saat Linda mengejarnya, ia kehilangan jejak dalam gelap. Setelah melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian, Linda langsung berlari kembali ke motel.
Tiba di kamar, Linda disambut oleh suara mesin selang makan anaknya yang error. Saat ia berusaha memperbaikinya, Linda terkejut melihat lubang bekas bedah di perut sang anak untuk memasukkan selang makan sudah tertutup. Ia kemudian menarik selang makan yang selama ini tersambung di perut sang anak dan bernafas lega karena Sarah kini bisa hidup dengan normal. Setelah itu, Linda kemudian pergi menuju apartemennya. Di sana, ia terkejut melihat Charles yang sudah ada di kamar dan sudah memperbaiki kerusakan lantai yang berlubang besar itu dengan bantuan tukang renovasi. Setelah selesai, mereka berdua kemudian pergi menuju motel. Setibanya di sana, James ternyata sedang menjaga Sarah yang dari tadi menangis histeris setelah Linda pergi begitu saja dari motel. Charles semakin terkejut dengan melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.


#Review:
Sejak rilis di Amerika Serikat pada Oktober tahun lalu dan sukses meraih penghargaan bergengsi di Berlin International Film Festival dan Golden Globes 2026, film IF I HAD LEGS I'D KICK YOU (2025) akhirnya sempat tayang terbatas di bioskop Indonesia pada perhelatan JAFF Jogja yang ke-20 pada Desember kemarin dan di bioskop Jakarta dengan dibawa langsung oleh KlikFilm.


Untuk segi cerita, film IF I HAD LEGS (2025) ini mengeskplorasi batas kemampuan manusia dalam menghadapi krisis kehidupan yang bertubi-tubi. Point paling menonjol dari plot yang disajikan yaitu penggambaran burnout level maksimal yang dialami oleh karakter Linda. Sosoknya yang berprofesi sebagai psikoterapis dan penyembuh bagi orang lain, namun di sisi lain ia perlahan hancur berantakan dibawah tekanan perannya sendiri sebagai seorang perempuan, istri dan juga ibu. Sutradara Mary Bronstein berhasil mengekspos secara gamblang bagaimana perjuangan seorang ibu dalam menjalani hidup dengan segala problematika yang dihadapinya. Sekuat-kuatnya manusia, pasti akan mencapai pada titik batas kesabaran yang pada akhirnya dapat menghancurkan dirinya sendiri dan apapun yang ada disekitarnya. Sepanjang durasi film, aku ikut terbawa stress dan frustasi melihat karakter Linda dalam menghadapi semua kekacauan di hidupnya tersebut. Suasana depresif semakin menyeruak berkat pergerakan kamera dan teknik pengambilan gambar yang cukup ekstrim dalam menyoroti setiap gesture dan ekspresi muka dari karakter Linda. Rasa capek, lelah, pusing dan ingin berteriak sekencang-kencangnya benar-benar tersampaikan dengan sempurna ke penonton. Keputusan yang diambil di ending cerita pun semakin menambah kejutan tak terduga dan bisa saja terjadi seperti itu. Bikin ngilu sekaligus merenung.
Untuk jajaran pemain, sudah jelas bintang utama film IF I HAD LEGS (2025) adalah Rose Byrne. Karakter Linda yang super duper melelahkan dalam menghadapi hidup ditampilkan luar biasa olehnya. Range emosionalnya sudah sangat mentok sebagai seorang manusia, perempuan, istri dan juga ibu yang terus-terusan dihujani permasalahan. Pendalaman karakternya pun tidak sepenuhnya dibuat hitam putih. Sang sutradara memposisikan karakter Linda di zona abu-abu, sehingga keputusan dan sikap yang ditampilkan bisa dimaklumi namun di sisi lain sepertinya tak bisa ditolelir lagi. Tak heran jika Rose Byrne berhasil meraih Best Actress di Golden Globes 2026. Semoga Oscars di bulan Maret ini menang lagi! She's totally deserved it! Overall, film IF I HAD LEGS I'D KICK YOU (2025) berhasil mengemas issue burnout seorang perempuan yang berada di level paling maksimum. So depresive!


[8.5/10Bintang]