Thursday, 30 April 2026

[Review] The Devil Wears Prada 2: Ketika Majalah Runway Berada Di Posisi Yang Terancam!

 


#Description:
Title: The Devil Wears Prada (2026)
Casts: Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, Stanley Tucci, Justin Theroux, Kenneth Branagh, Tracie Thoms, Tibor Feldman, Simone Ashley, Lucy Liu, Patrick Brammall, Caleb Hearon, Helen J. Shen, Pauline Chalamet, BJ Novak, Conrad Ricamora, Rachel Bloom, Lady Gaga, Donatella Versace
Director: David Frankel
Studio: 20th Century Studios, Wendy Finerman Productions


#Synopsis:
Andy Sachs (Anne Hathaway) kini dikenal sebagai seorang jurnalis handal dan punya segudang prestasi di tempat kerjanya. Setiap berita dan artikel yang ia tulis selalu mendapatkan respon sangat baik dari para pembaca. Namun sayang, saat Andy menerima penghargaan atas karya jurnalisme nya, ia mendapat kabar mengejutkan dari kantor berita perihal layoff besar-besaran di hampir semua divisi. Andy pun menjadi salah satu dari ratusan orang yang terkena dampak layoff tersebut. Rasa kecewa, sedih dan marah pun ia ungkapkan saat berpidato sambil menerima penghargaan tersebut. Aksi protes dan kekecewaan Andy kemudian viral di sosial media.


Di sisi lain, kantor majalah fashion Runway di New York mendapat hujatan dan kritikan keras di sosial media setelah muncul sebuah artikel di majalah Runway yang memuat profile brand fashion yang diduga menggunakan tenaga kerja di bawah umur. Hal tersebut membuat kredibilitas dari pemimpin redaksi Runway yaitu Miranda Priestly (Meryl Streep) jadi dipertanyakan. Tak hanya itu saja, brand-brand besar yang selama ini menjalin kerjasama dengan Runway langsung mengurangi katalog iklan mereka. Hal tersebut tentunya berdampak sangat besar terhadap pendapatan Runway jika terus dibiarkan seperti ini. Melihat kekacauan yang terjadi, komisaris Runway dari Elias-Clark Publications yaitu Irv Ravitz (Tibor Fieldman) marah besar dan meminta Miranda dan Nigel Kipling (Stanley Tucci) untuk secepatnya membereskan hal tersebut.


Ditengah situasi kacau ini, anak dari Irv yaitu Jay Ravitz (BJ Novak) merekomendasikan Andy pada Runway setelah ia melihat video viral pidato kemenangan Andy yang menurutnya akan sangat membantu untuk mengembalikan citra Runway di mata publik. Irv yang mengetahui Andy terkena layoff, langsung menghubunginya dan menawarkan pekerjaan sebagai Features Editor di Runway. Karena saat ini sedang tidak mempunyai pekerjaan, Andy langsung menerima tawaran tersebut. Ia tak menyangka kembali lagi bekerja di Runway, tempat pertama kali ia memulai karier dan bekerja di dua puluh tahun yang lalu.


Saat tiba di kantor Runway, Andy merasakan nostalgia ketika melihat dua meja assistant di depan ruangannya Miranda. Sebelum bertemu dengan mantan bos nya, Andy berbincang dengan kedua assistant Miranda saat ini yaitu Amari Mari (Simon Ashley) dan Charlie (Caleb Hearon). Kehadiran Andy di Runway membuat Miranda dan juga Nigel terkejut. Andy kemudian menjelaskan jika ia diminta kembali bekerja di sana oleh Irv dan anaknya untuk membereskan berita buruk di sosial media yang menyerang Runway. Karena tak punya banyak waktu, Andy, Miranda dan Nigel langsung menyusun strategi dan berbagai rencana agar bisa secepatnya menyelamatkan reputasi Runway.
Langkah pertama, mereka bertiga harus mendatangi brand-brand besar yang sempat mundur setelah kasus ini viral. Salah satu brand tersebut yaitu Dior yang selama ini menjalin kerjasama sangat baik dengan Runway. Tiba di kantor Dior, mereka bertiga dikejutkan karena bertemu lagi dengan Emily Charlton (Emily Blunt) yang kini bekerja sebagai Senior Executive di sana. Andy, Miranda dan Nigel langsung bernegosiasi agar Dior tidak cabut dari Runway. Emily kemudian meminta jatah iklan dan publikasi Dior di Runway edisi bulan depan untuk diperbanyak, termasuk liputan khusus tentang rencana pembukaan flagship Dior terbaru. Miranda dan Nigel pun langsung menyetujuinya karena bagi mereka, jantung utama Runway saat ini hanya berasal dari brand-brand besar yang beriklan di mereka saja.


Setelah mengamankan reputasi dari brand-brand besar, Andy, Miranda dan Nigel kemudian menyusun strategi dengan membuat klarifikasi serta permohonan maaf di sosial media perihal tuduhan artikel yang menyudutkan mereka. Selain itu, Andy juga tetap membuat berbagai artikel menarik tentang dunia fashion dengan gaya jurnalisme agar punya perbedaan yang mencolok dibandingkan kompetitor lain. Saat mereka bertiga sedang berdiskusi dan mencari ide, Andy tak sengaja melihat sampul majalah Runway yang menampilkan mantan sepasang suami istri selebriti yaitu Sasha Barnes (Lucy Liu) dan Benji Barnes (Justin Theorux) yang kini sudah bercerai. Sejak perceraiannya di tiga tahun yang lalu, Sasha menghilang dari dunia entertainment dan tinggal bersama kedua anaknya. Selain itu, Sasha juga tidak pernah bersedia menjadi bintang tamu atau narasumber dari media apapun untuk membahas kehidupan pribadinya. Sementara itu, mantan suami Sasha yaitu Benji semakin dikenal sebagai pemilik salah satu perusahaan teknologi AI terkaya di Amerika Serikat. Menariknya, Benji ternyata menjalin hubungan asmara dengan Emily Charlton. Keduanya sering memperlihatkan kemesraan mereka dan menjadi berita populer di acara entertainment televisi maupun sosial media.


Mengingat Miranda sangat mengidolakan Sasha serta reputasi majalah Runway yang terbilang majalah fashion legendaris di New York, Andy jadi punya ide untuk menghadirkan wawancara eksklusif dengan Sasha. Ia pun langsung mencari berbagai cara agar bisa mendapatkan kontak Sasha. Dengan bantuan sahabatnya yaitu Tessa (Rachel Bloom) dan Douglas (Rich Sommer), Andy berhasil mendapatkan akses komunikasi dengan Sasha. Setelah bernegosiasi dan berbincang secara intens, Sasha akhirnya bersedia diwawancarai oleh Runway dan juga Miranda di kediamannya. Mereka pun langsung meluncur ke sana. Setelah selesai interview, Sasha memberikan alasan ia bersedia diwawancarai oleh Runway karena reputasi Miranda Priestly serta artikel-artikel berbobot yang ditulis oleh Andy ketika bergabung lagi di Runway. Apresiasi tersebut tentunya membuat Andy, Miranda dan Nigel sangat senang. Mereka juga tak lupa memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang sangat besar pada Sasha karena sudah meluangkan waktu dan bersedia diwawancarai oleh Runway.



Reputasi Runway perlahan semakin membaik setelah memberikan klarifikasi dan juga dirilisnya artikel berita interview bersama Sasha Barnes. Para pembaca setia Runway juga memberikan respon sangat positif dengan apa yang dilakukan oleh Runway dalam beberapa bulan terakhir. Melihat kondisi Runway yang sudah pulih dari hujatan di sosial media membuat Miranda lega. Selain itu, Miranda juga semakin optimis dengan kabar yang beredar perihal dirinya yang naik jabatan menjadi Director Creative Global untuk Elias-Clarke Publications akan segera terwujud. Miranda dan Nigel sangat yakin jika pengumuman promosi jabatan itu akan dilakukan saat acara fashion show sekaligus perayaan ulang tahun Irv Ravitz yang ke-75 di Italia.



Di saat Runway sudah berjalan normal seperti sedia kala, muncul cobaan baru yang mengejutkan banyak pihak. Jay Ravitz dikabarkan akan melakukan restrukturisasi dan efisiensi di Runway secara besar-besaran. Banyak divisi yang terancam kena layoff termasuk Andy dan juga Nigel. Miranda pun tidak bisa berbuat banyak karena Jay Ravitz secara tidak langsung adalah atasannya di Elias-Clark Publications. Miranda, Andy, Nigel dan seluruh team Runway harus mencari cara agar hal tersebut tidak terjadi. Ditengah kepanikan, Andy dan Nigel menemukan satu cara untuk menyelamatkan Runway yaitu dengan meminta bantuan pada Emily dan pacarnya, Benji. Rencana tersebut harus mereka lakukan tanpa sepengetahuan Miranda karena jika mereka berhasil menyelamatkan Runway, otomatis posisi Miranda pun akan tetap aman. Selain itu, Runway juga sudah punya rencana akan menggelar fashion show skala besar di Italia untuk membuktikan jika Runway adalah majalah fashion mode ikonik dan legendaris yang tak akan lekang oleh waktu. Akankah semua rencana Andy, Nigel, Emily dan Miranda berhasil?


#Review:
Saat Disney dan 20th Century Studios resmi mengumumkan project sekuel THE DEVIL WEARS PRADA (2006) pada tahun 2024 lalu, rasa excited dan juga gembira langsung menghampiri para penggemar filmnya. Namun di satu sisi, keputusan melanjutkan cerita dari film ikonik tersebut dengan berjarak 20 tahun dari film pertamanya jadi memunculkan rasa khawatir, mengingat pada tahun 2013 silam, tersiar kabar jika sekuel film ini akan hadir dengan berdasarkan buku keduanya yaitu REVENGE WEARS PRADA: THE DEVIL RETURNS yang masih ditulis Lauren Weisberger, namun keempat pemain utama film pertamanya sudah tidak tertarik melanjutkan peran mereka di project tersebut. Setelah 20th Century Fox diakuisisi oleh Disney, rencana sekuel film ini kembali muncul dengan ide cerita yang tidak lagi berdasarkan buku keduanya. Barulah, keempat pemain utama, sutradara dan penulis skenario dari film pertamanya sepakat untuk come back dan memperkuat film THE DEVIL WEARS PRADA 2 (2026).


Untuk segi cerita, film THE DEVIL WEARS PRADA 2 (2026) hadir dengan latar waktu 20 tahun setelah film pertamanya. Otomatis, penonton serasa time travel bisa melihat perkembangan karier dari keempat karakter utama, serta perkembangan mode fashion dan juga jurnalisme yang semakin pesat dibandingkan era awal 2000an ketika film pertamanya dirilis. Harus diakui, plot dan konflik di sekuelnya kali ini terasa familiar karena masih serupa tapi tak sama dengan film pertamanya. Beberapa adegan ikonik juga terlihat sengaja di-recreate agar penonton dan penggemar setia merasakan nostalgia yang maksimal selama menonton film keduanya ini. Meskipun demikian, Lauren Weisberger dan Aline Brosh McKenna selaku penulis naskah tetap memberikan pembaharuan juga yang sesuai dengan perkembangan zaman. Issue layoff besar-besaran, pergeseran media cetak ke media digital online yang semakin agresif serta tidak dianggap prestisius lagi hingga ancaman teknologi AI menjadi sederet konflik menarik yang bisa kita temukan dalam film ini. Yang tak kalah menarik, keempat karakter utama kembali mendapat development dan background story yang semakin kuat. Miranda Priestly yang selama ini sangat superior, kini dibuat lebih grounded dan semakin manusiawi. Perkembangan zaman membuat karakter Miranda tak lagi bersikap semena-mena terhadap asisten dan karyawannya, seperti menahan diri untuk tidak menghina anak buahnya, menyimpan mantel dan tasnya secara mandiri hingga bersedia bekerja sama dengan orang lain tanpa adanya penolakan. Karakter Andy Sachs dan Emily Charlton mengalami perkembangan karakter yang sukses mencuri perhatian. Transformasi karier keduanya yang sesuai dengan passion tampil sangat gemilang. Meskipun saat ini posisi mereka setara dengan Miranda, namun lucunya baik Andy maupun Emily masih saja menunjukkan rasa takut dan kikuk saat bertemu lagi dengan Miranda hahaha. Sisi kesetiaan dan loyalitas bisa penonton lihat dari karakter Nigel Kipling. Meskipun sudah berkali-kali dibuat sakit hati oleh Miranda, ia tetap mengabdikan diri dengan sepenuh hati di Runway. Moment "penebusan dosa" Miranda terhadap Nigel tercipta di film ini dan sukses membuatku terharu!


Dinamika konflik yang dihadirkan di film THE DEVIL WEARS PRADA (2026) jauh lebih banyak dibandingkan film terdahulu. Perspektif tentang modernisasi yang dihadirkan terasa seimbang karena mau tidak mau harus mengikuti plot juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun sayang, penyelesaian sederet konflik yang terjadi dibuat terlalu gampang. Bahkan dampak yang dirasakan ketika sebelum dan sesudah konflik terjadi tidak terlalu menonjol. Sekuelnya ini memang lebih fokus untuk bernostalgia sekaligus fan service setelah 20 tahun berpisah.
Untuk jajaran pemain, penampilan Meryl Streep tetaplah ikonik sebagai Miranda Priestly yang kini dibuat lebih manusiawi karena selain faktor usia, modernisasi juga yang membuat Miranda tidak bisa seenaknya lagi hahaha. Adegan "penebusan dosa" pada Nigel dan obrolan ikonik di dalam mobil yang di-recreate sukses membuatku haru! Penampilan gemilang selanjutnya tentu datang dari Anne Hathaway. Peran Andy Sachs yang semakin dewasa dan berhasil memunculkan sosok perempuan yang tak selamanya harus bersikap seperti Miranda untuk menaklukan dunia. Scene stealer kembali dipegang oleh Emily Blunt dengan perannya sebagai Emily Charlton. Dengan aksen dan logat british nya yang semakin kental, kemudian subplot dirinya yang memiliki karier gemilang di Dior serta punya hubungan spesial dengan bos teknologi terasa sangat relevan dengan di era seperti sekarang. Komedi yang ditebar oleh keempat karakter utama serta para karakter pendukung baru dari kalangan Gen Z sukses menciptakan tawa penonton!
Untuk urusan visual, film THE DEVIL WEARS PRADA 2 (2026) masih setia menggunakan gaya sinematografi dan teknik pengambilan gambar seperti film pertamanya. Terkesan raw dan alami. Namun kali ini, dari sisi penggunaan lokasi syuting hingga wardrobe yang ditampilkan jauh lebih grande dan spektakuler. Parade mode dan fashion yang dipakai Miranda, Andy, Emily, Amari, Nigel dan yang lainnya selalu berhasil membuatku terkagum-kagum. Gak ada yang gagal satupun! Moment red carpet dan fashion show bersama Lady Gaga juga eksekusinya glamour banget! Untuk sisi musiknya juga, film ini berhasil melahirkan lagi original soundtrack dan lagu tema yang sangat pas dengan setiap adegan.
Overall, film THE DEVIL WEARS PRADA (2026) boleh dibilang sebagai surat cinta untuk bernostalgia akan film drama bertema dunia mode dan fashion yang tak hanya menghibur dan glamour, tapi punya issue serta konflik yang sangat relevan sesuai perkembangan zaman. Almost perfect sequel!


[9/10Bintang]

Monday, 27 April 2026

[Review] The Devil Wears Prada: Drama Komedi Luar Biasa & Ikonik Dari Kantor Majalah Runway!

 


#Description:
Title: The Devil Wears Prada (2006)
Casts: Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, Stanley Tucci, Adrian Grenier, Simon Baker, Gisele Bundchen, Tracie Thoms, Rich Sommer, Daniel Sunjata, James Naughton, Colleen Dengel, Suzanne Dengel, David Marshall Grant, Tibor Feldman, Alyssa Sutherland, Rebecca Mader
Director: David Frankel
Studio: Fox 2000 Pictures, 20th Century Fox, Wendy Finerman Productions


#Synopsis:
Setelah lulus dari Universitas Northwestern, Andrea Sachs (Anne Hathaway) atau yang akrab dipanggil Andy punya cita-cita ingin menjadi seorang jurnalis handal. Ketika pertama kali mendapat panggilan interview dari perusahaan Elias Clark Publications, Andy diminta datang ke kantor majalah fashion ikonik di New York yaitu Runway. Tiba di sana, ia harus menemui Emily Charlton (Emily Blunt) yang akan mewawancarainya. Saat mengetahui Andy tidak memiliki background di dunia fashion serta tidak mengetahui tentang majalah Runway, Emily meragukan jika Andy akan diterima di sana. Ditambah lagi, lowongan pekerjaan yang tersedia yaitu sebagai Junior Personal Assistant untuk pemimpin redaksi majalah Runway yaitu Miranda Priestly (Meryl Streep), bos nya Emily yang dikenal sangat perfeksionis, tegas dan juga kejam. Emily juga menceritakan jika sebelumnya sudah ada dua orang yang mengisi posisi tersebut namun mereka gagal karena Miranda tidak menyukainya.



Tak lama setelah itu, Emily mendapat panggilan telepon jika Miranda akan segera tiba ke kantor Runway. Hal tersebut membuat semua orang panik dan mempersiapkan diri semaksimal mungkin supaya tidak diomeli oleh Miranda. Tiba di kantor, Miranda langsung sibuk dengan sederet jadwal untuk meeting bersama Nigel Kipling (Stanley Tucci), Fashion Director di majalah Runway dan orang-orang penting lainnya. Ditengah kesibukannya itu, Miranda bersedia untuk mewawancarai Andy karena dua kandidat sebelumnya yang dipilih Emily justru bikin dia kecewa dan marah. Andy kemudian diperbolehkan masuk ke ruangan. Miranda langsung menyepelekan Andy yang tidak fashionable dan tidak mengetahui majalah Runway dengan kata-kata pedasnya. Andy langsung membela diri, meskipun tidak berpenampilan menarik seperti model, ia punya kelebihan lain yaitu pintar. Setelah itu, Andy pamit dari ruangan dan pergi dari kantor Runway. Ketika berjalan keluar dari gedung Elias Clark, Emily memanggil Andy untuk kembali ke kantor. Andy diterima bekerja di Runway sebagai Junior Personal Assistant nya Miranda.
Setelah selesai bekerja, Andy langsung menemui kekasihnya, Nate Cooper (Adrian Grenier) yang sudah menunggu di cafe bersama kedua sahabat mereka yaitu Lily (Tracie Thoms) dan Douglas (Rich Sommer). Andy menceritakan jika dirinya sudah resmi bekerja di kantor majalah Runway. Nate, Lily dan Douglas terkejut karena Andy bekerja sebagai personal assistant nya Miranda yang semua orang tahu jika ia sangat perfeksionis, galak dan juga kejam. Meskipun demikian, mereka tetap bangga pada Andy karena bisa bekerja di Runway dan menjadi assistant Miranda itu impian para perempuan yang sangat mencintai dunia fashion.



Di pagi hari, Andy dikejutkan dengan panggilan telepon dari Emily yang memintanya untuk mengambil pesanan kopi milik Miranda dan beberapa item fashion lainnya tepat sebelum Miranda tiba di kantor. Setelah selesai, Miranda, Nigel dan yang lainnya sibuk mempersiapkan beberapa gaun untuk ditampilkan di majalah edisi bulan depan. Nigel diam-diam memperhatikan penampilan Andy. Ia kemudian memberikan sepasang sepatu heels pada Andy supaya tidak lagi kena omel Miranda. Hari demi hari, Andy harus beradaptasi dengan pekerjaanya sebagai seorang assistant. Tak jarang ia harus memenuhi semua keinginan tak masuk akal nya Miranda. Setiap pulang ke apartemen, Andy meluapkan emosi dan kekesalan terhadap Miranda pada Nate supaya lebih tenang untuk esok kembali bekerja. Andy juga sudah mengambil keputusan hanya akan bertahan setahun saja bekerja di Runway karena ia tidak ingin terus-terusan dikendalikan oleh Miranda.



Suatu malam, saat Andy sedang menikmati makan malam dan menonton pertunjukan teater bersama ayahnya, Andy mendapat panggilan telepon dari Miranda yang memintanya mencarikan tiket pesawat ke Miami agar ia bisa hadir melihat kedua anaknya pentas di acara sekolah. Andy berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan tiket pesawat di malam itu juga. Namun sayang, tak ada satupun pesawat yang terbang di malam itu karena badai dan cuaca buruk. Keesokan harinya, Miranda sangat kecewa dan dan memaki-maki Andy karena menurutnya tidak becus dalam mengurus jadwal penerbangannya itu. Andy pun jadi sedih dan sakit hati karena ia sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tak pernah dianggap oleh Miranda. Andy kemudian mencurahkan rasa sedih dan amarahnya itu dengan menemui Nigel. Respon Nigel ternyata tidak sesuai harapan Andy karena menyuruhnya untuk resign saja. Andy tentu tak ingin melakukan hal tersebut. Nigel kemudian menasehati Andy tentang dunia kerja di Runway memang sangat keras. Nigel yakin jika Andy bisa bertahan dan beradaptasi lagi kedepannya. Setelah mendapat wejangan tersebut, Andy kemudian sadar dan akan mengikuti semua maunya Miranda. Andy pun langsung meminta tolong make over penampilannya untuk menebus kesalahan pada Miranda. Mereka berdua kemudian pergi ke ruang wardrobe untuk mencari busana, sepatu, tas dan aksesoris yang pas untuk Andy.


Keesokan harinya, Andy datang ke kantor Runway dengan gaya fashion baru yang menarik perhatian banyak orang. Andy sangat berterima kasih pada Nigel karena ia jadi lebih dihargai dan percaya diri selama bekerja. Melihat penampilan baru dari Andy membuat Miranda senang. Seiring berjalannya waktu, performa kerja Andy juga mengalami peningkatan. Semua keinginan Miranda bisa dengan cepat terpenuji olehnya. Hal tersebut membuat Miranda memberi kepercayaan kepada Andy untuk mengerjakan tugas-tugas penting yang selama ini selalu dikerjakan oleh Emily. Nigel pun ikut senang melihat perkembangan kinerja Andy di Runway yang semakin bagus. Nigel kemudian mengajak Andy bertemu saat sepulang bekerja. Nigel memberitahu jika ia akan resign dari Runway karena mendapat tawaran sebagai Creative Director dengan gaji fantastis untuk perusahaan baru milik designer kondang James Holt (Daniel Sunjata).
Andy tentunya sangat senang dengan kabar tersebut meskipun di satu sisi ia juga sedih harus kehilangan Nigel yang selama ini sudah membantunya bekerja dan beradaptasi di Runway.
Di sisi lain, kondisi kesehatan Emily mulai menurun dan terserang flus karena diet ekstrim yang ia lakukan demi bisa tampil maksimal saat nanti menemani Miranda ke Paris Fashion Week. Akibatnya, saat mereka bertiga menghadiri acara penggalangan dana untuk amal, Miranda kecewa terhadap Emily yang lupa mengingat nama-nama tamu di cara tersebut. Melihat penurunan kinerja Emily membuat Miranda langsung menggeser nama Emily sebagai asistennya nanti selama ke Paris dengan Andy. Hal tersebut membuat Andy terkejut karena pergi ke Paris adalah impian terbesar Emily. Jika Andy menolak, Miranda mengancam akan memecat Andy dan siap mempersulit Andy untuk mencari kerja di bidang yang sama dengan kekuatan koneksinya sebagai pemimpin redaksi Runway.


Saat Andy akan berkata jujur pada Emily, terjadi insiden tabrakan yang menyebabkan Emily masuk dan dirawat di rumah sakit. Emily terkejut dan juga sakit hati setelah mendengar penjelasan Andy soal batalnya dirinya pergi ke Paris. Emily merasa dikhianati oleh Andy, meskipun Andy tidak sepenuhnya salah karena ia sudah berusaha menolaknya namun diancam oleh Miranda. Di sisi lain, hubungan Andy dengan Nate semakin merenggang saat Andy merayakan ulang tahun, Andy tidak datang tepat waktu karena harus datang ke acara penggalangan dana untuk amal bersama Miranda dan Emily. Nate yang melihat kekasihnya itu kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan memenuhi semua perintah Miranda, sudah sepenuhnya berubah. Mereka berdua kemudian mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan.
Selama di Paris, Andy perlahan mulai mengetahui kehidupan pribadi Miranda yang ternyata suaminya, sudah mengajukan gugatan cerai. Miranda berusaha terlihat kuat meskipun dalam hatinya ia sedih karena harus bercerai untuk yang kedua kalinya gara-gara terlalu sibuk dengan pekerjaannya di Runway. Di sisi lain, Setelah putus dengan Nate, Andy berkenalan dengan seorang jurnalis tampan yaitu Christian Thompson (Simon Baker) yang telah membantunya memenuhi salah satu keinginan mustahil Miranda untuk mendapatkan Harry Potter yang belum rilis. Hingga suatu ketika, Andy mendapat informasi dari Christian jika posisi Miranda di Runway New York akan diganti oleh pesaingnya dari Runway Perancis yaitu Jacqueline Follet (Stephanie Szostak). Andy pun langsung mengabari Miranda soal hal tersebut. Namun Miranda mengabaikannya karena sebenarnya ia sudah mengetahui tentang rencana penggantian pemimpin redaksi di Runway New York.


Keesokan harinya, saat acara pengumuman kolaborasi antara Runway dengan James Holt, Miranda mengumumkan hal terduga. Posisinya di Runway New York ternyata tidak diganti. Jacqueline justru terpilih sebagai Creative Director untuk James Holt yang sebelumnya sudah ditawarkan pada Nigel. Kabar tersebut langsung menggemparkan para tamu undangan dan wartawan yang ada di sana. Nigel pun berpasrah diri dengan keputusan tersebut dan mengatakan jika setiap pencapaian baru dalam berkarier pasti akan dibayar dengan hancurnya kehidupan pribadi. Hal tersebut sudah terjadi di kehidupan pribadinya sendiri, Miranda dan kini Andy yang hubungannya dengan Nate sudah putus.
Saat pulang menuju hotel, Miranda mengatakan jika ia kagum dengan Andy yang sudah berusaha mengabari tentang jabatannya di Runway New York akan digantikan oleh musuhnya yaitu Jacqueline. Miranda diam-diam sudah melangkah lebih jauh dan menyusun strategi demi mempertahankan posisinya di Runway meskipun harus mengkhianati Nigel. Apa yang Miranda lakukan tersebut ternyata sudah ada juga dalam diri Andy selama ia bekerja di Runway. Menyadari jika Andy juga sudah melakukan yang sama dengan Miranda yaitu mengkhianati Emily, ia memutuskan pergi meninggalkan Miranda dan resign dari Runway.


#Review:
Dua puluh tahun yang lalu, industri perfilman Hollywood digemparkan dengan sebuah film drama komedi berjudul THE DEVIL WEARS PRADA (2006) yang dimana, lisensi dan filmnya resmi dibuat sebelum novelnya selesai dirampungkan oleh penulisnya yaitu Lauren Weisberger. Selain itu, film ini juga memberikan cultural impact dna menjadi fenomenal yang luar biasa di dunia perfilman. Selama penayangan di bioskop, film ini berhasil mencetak box office hit padahal budget yang digunakan tergolong kecil untuk ukuran film Hollywood di masa itu. Film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) bukan sekedar film tentang mode fashion saja, tapi didalamnya terdapat studi karakter yang tajam tentang ambisi, integritas, dan pengorbanan di dunia kerja. Sudah nonton berkali-kali, tapi rasanya masih sama, selalu puas dan takjub dengan cerita yang disajikan oleh film ini. Truly comfort movie for me!


Untuk segi cerita, film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) bukan sekedar drama karyawan baru yang tidak punya passion di dunia mode lalu bekerja di majalah yang isinya tentang mode dan fashion. Karakter Andy mempunyai latar pendidikan di bidang jurnalisme, menganggap mode fashion itu sebagai hal dangkal. Karena tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan passionnya, ia justru bertemu dengan karakter ikonik Miranda Priestly dari Runway. Pertemuan pertama mereka langsung menetapkan dinamika kekuasaan. Miranda adalah sosok yang menuntut kesempurnaan tanpa cela. Andy diterima bukan karena seleranya, tetapi karena Miranda menginginkan assistant cerdas meskipun visualnya tidak seperti orang-orang di dunia mode dan fashion. Konflik pertama muncul saat Andy menyepelekan dua sabuk berwarna biru yang terlihat identik. Pada adegan ini, Miranda menghancurkan rasa superioritas intelektual Andy dengan menjelaskan bagaimana pilihan mode yang dianggap Andy sepele dan dangkal sebenarnya adalah hasil keputusan orang-orang di ruangan itu yang mempengaruhi industri serta bernilai jutaan dollar. Hinaan Miranda tersebut membuat Andy menyadari jika ia ingin bertahan di Runway, bukan jadi penonton saja. Hadirnya karakter Nigel yang menjadi mentor bagi Andy menjadi moment yang sangat manis sekaligus heartwarming. Dinamika dan situasi di Runway semakin memanas saat banyak konflik lain berdatangan yang melibatkan Miranda, Andy, Emily dan Nigel. David Frankel dan Aline Brosh McKenna selaku penulis naskah berhasil mengupas berbagai konflik dengan kejutan tak terduga dari masing-masing karakter. Setiap keputusan yang diambil punya resiko sangat besar. Meskipun film ini dirilis dua puluh tahun silam, namun dunia kerja yang digambarkan masih sangat relevan sampai sekarang. Lebih lanjut, plot film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) sangat berhasil jadi sajian yang relatable karena tidak memberikan akhir yang hitam-putih. karakter Miranda tidak berubah menjadi baik. Ia tetap menjadi penguasa yang kejam di Runway. Demikian juga dengan karakter Andy. Ia tidak keluar sebagai pemenang yang menghancurkan musuhnya melainkan menjadikannya lebih dewasa.



Untuk jajaran pemain, Meryl Streep memberikan salah satu performa paling ikonik dalam kariernya dengan melakukan pilihan akting yang menurutku sangat luar biasa dan juga fresh. Daripada memerankan bos galak yang berteriak atau meledak-ledak, Meryl Streep memilih suara yang hampir berbisik saat sedang mengomel wkwkwk. Kekuatan aktingnya juga terletak pada tatapan mata yang dingin dan cara ia membalik halaman majalah dengan gerakan yang bisa membuat nyali lawan bicaranya langsung meredup. Bahkan saat plot cerita membahas kehidupan pribadinya, Meryl Streep lagi dan lagi berhasil menunjukkan sisi paling manusiawi dari Miranda tanpa sedikit pun meminta belas kasihan. Ia tetap menjaga martabat karakternya, menunjukkan bahwa karakter Miranda adalah wanita yang memilih karier di atas segalanya, dan ia menerima konsekuensinya dengan kepala tegak. Anne Hathaway berhasil meyakinkan penonton soal karakter Andy tuh cukup cerdas untuk membenci dunia mode namun punya ambisi yang sangat besar untuk masuk menjadi bagian Runway. Di awal film, karakter Andy tampak kikuk, jalannya tidak beraturan dan tidak seperti model-model yang bekerja di sana. Namun, seiring berjalannya cerita, Andy bertransformasi menjadi sosok yang elegan, sigap, dan penuh percaya diri. Kualitas aktingnya juga sangat kuat dalam bagaimana ia menghadapi Miranda. Ekspresi wajahnya yang mencoba menahan tangis atau rasa frustrasi membuat penonton merasa seperti menemani disamping Andy disepanjang durasi film. Emily Blunt memberikan performa yang mencuri perhatian di setiap adegan dalam film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) ini. Karakter Emily Charlton membawa humor melalui sarkasme yang tajam lewat menggerutu yang lucu dan bikin tertawa. Dibalik sikap ketusnya terhadap Andy, Emily berhasil memberikan lapisan kesedihan. Penonton bisa melihat ketakutan yang mendalam di matanya tentang ketakutan akan kegagalan akan tidak relevan di mata Miranda. Sebuah debut yang luar biasa dari Emily Blunt ketika pertama kali membintangi film layar lebar Hollywood. Stanley Tucci memberikan performa yang hangat, bijaksana, namun juga serba praktis dan efisien. Nigel adalah satu-satunya karakter yang berani memberikan kebenaran pahit kepada Andy tanpa bermaksud jahat. Tucci berhasil memberikan martabat pada Nigel sebagai seorang profesional yang sangat mencintai seninya. Monolognya tentang sejarah mode menunjukkan gairah yang tulus pada penonton. Tanpa keempat aktor ini, THE DEVIL WEARS PRADA (2006) mungkin hanya akan menjadi film komedi tentang perkantoran yang terlupakan. Meryl Streep memberikan fondasi yang kuat hingga berhasil masuk nominasi Best Actress di Academy Awards 2007, Anne Hathaway memberikan hati, Emily Blunt memberikan bumbu konflik, dan Stanley Tucci memberikan jiwa. Kombinasi inilah yang membuat film ini menjadi mahakarya yang terus dibahas hingga saat ini.


[9.5/10Bintang]

Friday, 24 April 2026

[Review] Para Perasuk: Ketika Kesurupan Massal Jadi Budaya Dan Hiburan Di Desa Latas!



#Description:
Title: Para Perasuk - Levitating (2026)
Casts: Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Ganindra Bimo, Indra Birowo, Ivonne Dahler, Ninda Fillasputri, Buyung Ispramadi, Untung Basuki
Director: Wregas Bhanuteja
Studio: Rekata Studio, KG Media, Anami Films, Masih Belajar Pictures


#Synopsis:
Desa Latas yang berlokasi kurang lebih 2-3 jam perjalanan dari Jakarta mempunyai tradisi tak lazim yang diberi nama Sambetan. Tradisi tersebut mengumpulkan Para Pelamun atau orang-orang yang bersedia untuk dirasuki oleh roh spiritual dengan diiringi musik serta mantra yang dimainkan oleh Guru Asri (Anggun C. Sasmi) selaku ketua penyelenggara tradisi Sambetan. Dalam menjalankan tradisi tersebut, Guru Asri dibantu oleh satu orang yang disebut sebagai Perasuk. Tugas dari Perasuk yaitu memainkan musik dan mengendalikan roh spiritual yang merasuki Para Pelamun agar tetap terkendali dan tidak melukai mereka. Dalam periode waktu tertentu, Guru Asri juga menggelar kompetisi untuk mencari Perasuk baru menggantikan Perasuk lama yang sudah pensiun atau mengundurkan diri. Jika terpilih dan sesuai kriteria yang diinginkan Guru Asri, Perasuk baru ini akan menjadi bagian dari pagelaran rutin tradisi Sambetan dari desa ke desa.



Suatu hari, Guru Asri menggelar Sambetan dengan mendatangkan roh spiritual kupu-kupu. Warga yang bersedia menjadi Pelamun mulai kerasukan roh tersebut. Para calon Perasuk kemudian menunjukkan keahlian mereka dalam bermusik, seperti Bayu Laksana (Angga Yunanda) dengan slompret andalannya, kemudian Pawit Arifin (Chicco Kurniawan) dengan gitar elektrik, Ananto Anugerah (Bryan Domani) dengan perkusi dan yang lainnya. Satu persatu dari mereka mulai berhasil mengendalikan roh spiritual yang merasuki Para Pelamun. Ketika Bayu sedang menunjukkan bakatnya dalam bermain slompret, ia kehilangan fokus dan menyebabkan Para Pelamun terluka. Sambetan pun terpaksa dihentikan. Guru Asri kecewa dengan hal tersebut dan meminta Bayu bisa mengendalikan diri lebih maksimal lagi. Setelah selesai acara Sambetan, Bayu kemudian mendatangi Para Pelamun untuk meminta maaf. Salah satu dari Pelamun yaitu Laksmi (Maudy Ayunda), perempuan asal Jakarta yang sedang bekerja dinas luar kota ke Desa Latas untuk proyek pembangunan dari PT. Wanaria.



Bayu sangat berambisi ingin menjadi Perasuk handal selanjutnya di Desa Latas karena ia tidak ingin merantau dan tinggal lagi di Jakarta. Alasannya karena selama hidup di sana, Bayu dan sang ayah, Pak Agus (Indra Birowo) hidup melarat, bisnis mereka ditipu hingga dikejar-kejar debt collector. Kondisi perekenomian keluarga semakin berantakan saat kedua orangtua Bayu bercerai. Tak lama setelah itu Pak Agus mendekam di penjara karena kasus pencurian ponsel. Setelah selesai menjalani hukuman di penjara, Bayu dan sang ayah memutuskan pulang dari Jakarta dan tinggal di rumah peninggalan keluarga di Desa Latas. Masalah baru kemudian muncul ketika PT. Wanaria mengincar curug yang menjadi sumber mata air bagi warga Desa Latas dan banyak tanah serta rumah milik warga dibeli oleh mereka untuk pembangunan hotel dan komplek perumahan. Salah satu lahan yang diincar yaitu milik Pak Agus. Tawaran yang diberikan oleh Pak Fahri (Ganindra Bimo) selaku perwakilan PT. Wanaria membuatnya tergiur untuk menjual warisan tanah dan rumahnya. Ia berjanji uang yang didapat dari menjual warisan setelah dibagi rata dengan kedua saudaranya akan digunakan untuk menyewa rumah susun di Jakarta dan membuka usaha isi ulang air galon bersama calon istrinya yaitu Ibu Nana (Ivonne Dahler). Mendengar hal tersebut membuat Bayu kesal. Ia tidak mau lagi tinggal dan hidup di Jakarta serta meragukan ide usaha dari ayahnya itu yang sudah berulang kali kena tipu orang lain. Bayu memaksa sang ayah untuk tidak menjual warisan mereka karena jika ia terpilih menjadi Perasuk handal oleh Guru Asri, Bayu akan punya penghasilan sendiri dan bisa mencukupi berbagai kebutuhan sehari-hari.


Waktu terus berlalu. Guru Asri dan rombongannya berencana akan menggelar pesta Sambetan sambil melakukan seleksi untuk Perasuk baru. Di Sambetan kali ini, Guru Asri meminta setiap Perasuk membawa roh spiritual masing-masing yang nantinya harus menyatu dengan baik dan tidak membahayakan Para Pelamun. Sehari sebelum pesta digelar, Bayu bertapa di curug yang menjadi sumber mata air warga Desa Latas untuk mencari roh spiritual yang cocok dengan dirinya. Setelah melakukan meditasi, roh hewan bulus berhasil didapatkan oleh Bayu. Keesokan harinya, pesta Sambetan digelar. Para Perasuk lain turut membawa roh hewan jagoan mereka masing-masing. Meskipun sempat diremehkan, Bayu berhasil menunjukkan kemampuannya sebagai Perasuk lewat roh hewan bulus yang disukai oleh para Pelamun. Bayu, Ananto dan tiga Perasuk lain berhasil mendapatkan nilai yang baik dari Guru Asri dan anggota penyelenggara. Mereka berenam kemudian akan kembali dipentaskan untuk mencari yang terbaik dan mampu menguasai roh bawaan mereka.


Sejak tinggal di Desa Latas, Laksmi mulai menikmati sebagai seorang Pelamun di tradisi Sambetan. Sudah berbagai cara dilakukan untuk healing dari trauma dan luka di masa lalu, namun baru kali ini Laksmi bisa bangkit dari keterpurukannya. Di sisi lain, Bayu yang berusaha menjadi Perasuk handal semakin sering mengalami gagal fokus karena terganggu oleh masalah di rumahnya. Bayu belum bisa merelakan rumah keluarganya dijual oleh sang ayah. Selain itu, Bayu juga merasa tersaingi dengan lolosnya Ananto serta dilibatkannya lagi Pawit untuk pemilihan Perasuk baru. Ditengah kerasnya berlatih dan mencari roh spiritual yang lebih meyakinkan, konsentrasi Bayu semakin berantakan gara-gara rumah dijual juga oleh sang ayah ke PT. Wanaria dengan alasan tuntutan dari keluarga saudara-saudaranya yang ada di Jakarta.


Rasa kecewa, kesal, marah dan sedih menyelimuti Bayu. Ketika berhasil mendapatkan roh spiritual lintah, Bayu mengikuti saran Guru Asri untuk lebih totalitas dan menjiwai roh tersebut agar saat pesta Sambetan nanti, Para Pelamun akan terpuaskan olehnya. Di sisi lain, Laksmi yang semakin nyaman tinggal di Desa Latas dan menikmati sebagai Pelamun meminta pada Bayu untuk merasukinya lagi diluar pentas Sambetan, meskipun hal tersebut sangat berbahaya untuk Laksmi dan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana kelanjutan kisah Bayu, Laksmi dan orang-orang di Desa Latas ini?


#Review:
Sutradara muda peraih Piala Citra FFI yaitu Wregas Bhanuteja kembali hadir dengan karya film terbarunya yang berjudul PARA PERASUK (2026). Menariknya, kali ini Wregas mengeksplor genre horror dengan sentuhan "artsy and festival oriented" yang menjadi ciri khasnya di setiap film yang ia garap.


Untuk segi cerita, Wregas bersama Alicia Angelina dan Defi Mahendra selaku penulis naskah menyajikan perspektif unik, baru sekaligus absurd dari fenomena kerasukan menjadi sebuah tradisi budaya yang bernama Sambetan. Dari pemilihan judul dan tema horror kerasukan, pasti sebagian besar penonton akan mengira film ini full horror dengan jump scared yang mengagetkan. Namun siapa sangka, hal mainstream tersebut tidak dilakukan oleh sang sutradara. Film PARA PERASUK (2026) justru menonjolkan budaya dan tradisi fiksi yang rutin digelar di Desa Latas. Elemen klenik kerasukan lewat pesta Sambetan dijelaskan secara apik layaknya sebuah budaya sungguhan di kehidupan sehari-hari. Setiap moment pesta Sambetan dieksekusi dengan ide-ide kreatif, absurd dan absurd. Sesekali penonton dibuat tawa melihat aksi Para Perasuk dan Para Pelamun yang nyeleneh. Jujur, konsep roh spiritual hewan kemudian alam roh pelamun yang divisualkan sangatlah berbeda dari film-film horror kebanyakan hahaha.
Seiring berjalannya durasi film, terdapat serangkaian konflik menarik yang terjadi pada warga desa di sana. Karakter Bayu dihadapkan dengan pergolakan quarterlife crisis mengenai hubungan dengan ayahnya, permasalahan finansial hingga ambisinya untuk menjadi Perasuk handal semuanya tersaji dengan mulus. Selain itu, ada cerita dari karakter Laksmi yang berusaha mengobati trauma di masa lalu. Terakhir, yaitu issue konflik sosial yang melibatkan warga desa dengan perusahaan kontraktor. Semua permasalahan tersebut berjalan beriringan meskipun dinamikanya cenderung datar dan bermain aman. Sepertinya sang sutradara memilih jalan aman dan tidak over dramatic, meskipun sebetulnya potensi sisi menguras emosional penonton bisa banget didapatkan dari banyak hal dalam film ini. Dramatisasi baru muncul di babak akhir film saat karakter Bayu dan Laksmi juga melakukan hal nekat yang melampaui batas. Sensasi horror artsy nya mantap sekaligus tragis sekali! Konflik penyelesaian cerita juga hadir dengan kejutan gotong royong yang serasa seperti metafora rakyat kecil yang enggan ditindas oleh perusahaan besar.


Untuk jajaran pemain, kita harus berikan apresiasi yang luar biasa untuk kelima pemain utamanya. Angga Yunanda bertransformasi menjadi pria kampung dengan logat campuran serta peningkatan kualitas akting yang sangat signifikan. Adegan Bayu yang menjelema menjadi lintah, sungguh mindblowing! Applause selanjutnya untuk Maudy Ayunda yang sangat berani tampil beda dan meninggalkan citra high class nya demi menjadi Laksmi yang ketagihan kerasukan. Kesurupan massal dengan koreografi hewan yang Maudy lakukan apik sekali! Apresiasi juga harus kita berikan pada Anggun C. Sasmi yang debut main film langsung mencuri perhatian dan sangat natural sebagai ketua tradisi Sambetan. Penampilan Chicco Kurniawan dan Bryan Domani juga tak kalah bagus. Gesture, logat dan akting mereka saat menjadi Perasuk dengan alat musik mengesankan!
Untuk urusan visual, film PARA PERASUK (2026) memang tidak menawarkan sinematografi atau efek visual yang luar biasa. Bahkan saat adegan Pelamun kerasukan roh kutu, sensasi melompat lebih tinggi nya CGI nya masih sangat mentah dan itu cukup mengganggu. Selipan-selipan humor dengan visual aesthetic seperti iklan menggunakan warna-warna mencolok menjadi keunikan tersendiri dari film ini. Sungguh sebuah pengalaman nonton di bioskop yang tak lazim, unik tapi aku suka! Hahahaha.


[8.5/10Bintang]

Friday, 17 April 2026

[Review] Lee Cronin's The Mummy: Cerita Tragis Anak Perempuan Yang Dijadikan Tumbal Ritual Mummy Nasmaranian!



#Description:
Title: Lee Cronin's The Mummy (2026)
Casts: Jack Reynor, Laia Costa, May Calamawy, Natalie Grace, Emily Mitchell, Veronica Falcon, Shylo Molina, Billie Roy, May Elghety, Hayat Kamille, Jonathan Gunning
Director: Lee Cronin
Studio: New Line Cinema, Atomic Monster, Blum House Productions, Warner Bros Pictures


#Synopsis:
Charlie Cannon (Jack Reynor) yang berprofesi sebagai reporter berita tinggal bersama keluarganya di Cairo, Mesir. Sang istri yaitu Larissa Cannon (Laia Costa) yang sedang mengandung anak ketiga masih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai perawat di rumah sakit. Sementara itu, kedua anak mereka yaitu Katie (Emily Mitchell) dan Sebastian (Dean Allen Williams) sibuk sekolah dan bermain saja di rumah. Suatu hari, Charlie mendapat tawaran bekerja sebagai reporter dari kantor berita di Amerika Serikat. Hal tersebut membuat Charlie senang karena mereka bisa kembali pulang ke negara asal.
Saat Larissa pergi bekerja ke rumah sakit, anak-anak ada di rumah bersama dengan ayahnya. Katie seperti biasa bermain dengan boneka di kebun belakang rumah dan Sebastian menonton televisi. Tak lama setelah itu, Katie didatangi seorang perempuan mengenakan jubah yang muncul di pagar kebun. Rupanya perempuan tersebut sudah sering menemui Katie sambil memberikan cokelat dan mengaku sebagai seorang pesulap (Hayat Kamille). Namun kali ini, si perempuan berjubah memberikan buah nektarin pada Katie. Dari buah tersebut keluar serangga hewan dan langsung masuk ke dalam mulut Katie. Si perempuan kemudian merusak pagar, menculik Katie dan melarikan diri. Charlie baru menyadari anaknya hilang setelah ia datang ke kebun namun hanya menemukan mainan, boneka dan buah nektarin yang tergeletak di sana. Charlie langsung keluar dari pagar yang rusak dan melihat seseorang sedang berlari menggendong Katie dari kejauhan. Charlie pun langsung berteriak dan mengejar orang itu. Namun sayang, badai dan angin yang membawa pasir tiba-tiba muncul dan menutupi seluruh kota sehingga menyebabkan Charlie kehilangan jejak. Charlie dan Larissa langsung pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kasus penculikan ini. Tiba di sana, Charlie bertemu dengan detektif Dalia Zaki (May Calamawy). Namun sayang respon dari detektif kepolisian yang lebih tua di sana malah mencurigai Charlie dan Larissa berbohong. Charlie pun marah dan tak terima dengan tuduhan tersebut. Keesokan harinya, pihak kepolisian Cairo pun langsung melakukan proses pencarian Katie.
Delapan tahun berlalu. Katie tak kunjung ditemukan. Keluarga Charlie kini sudah tak lagi tinggal di Cairo. Mereka tinggal di Albuquerque, New Mexico di rumah ibunya Larissa yaitu Carmen Santiago (Veronica Falcon). Sebastian (Shylo Molina) tumbuh jadi remaja pria yang menghabiskan waktu belajar dan mendengarkan musik. Sementara itu, Maud (Billie Roy) anak ketiga Charlie dan Larissa sudah lahir dan kini berusia 8 tahun. Suatu hari, Charlie mendapat telepon dari pemerintah Mesir yang mengabari jika Katie berhasil ditemukan dan masih hidup. Keduanya langsung terbang dari Mexico menuju Cairo untuk menjemput Katie. Selama perjalanan, pihak kepolisian menjelaskan kronologis ditemukannya Katie. Pihak kepolisian mendapat laporan dari arkeolog di Cairo yang menemukan seorang perempuan terjebak dalam peti sarkofagus berusia 3000 tahun. Peti sarkofagus tersebut berasal dari pesawat kargo yang mengalami kecelakaan dan jatuh di tengah hutan. Dokter yang merawat dan memantau kondisi Katie kemudian meminta pihak keluarga untuk tetap tenang saat bertemu dengan Katie yang saat ini kondisi fisiknya sangat berubah drastis karena mengalami trauma berat akibat dikurung selama bertahun-tahun di dalam peti sarkofagus. Tiba di rumah sakit, Charlie dan Larissa berusaha menahan rasa kaget serta sedihnya saat melihat kondisi terkini dari anak pertamanya itu. Mereka memutuskan membawa Katie pulang ke Mexico dan merawatnya di sana.
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Mesir menuju Mexico, Charlie, Larissa dan Katie tiba di rumah. Mereka disambut suka cita oleh Nenek Carmen, Sebastian dan juga Maud. Meskipun wujud dan fisik Katie nampak menyeramkan, sang nenek dan Maud tetap menjalin interaksi lewat mengobrol, bercerita dan juga mendoakan Katie. Sementara itu, Sebastian memilih untuk menjaga jarak dengan kakaknya itu karena ia merasa tak nyaman melihat kondisi Katie yang aneh.
Waktu terus berlalu. Larissa berusaha membantu Katie agar bisa kembali berbicara dan merespon dirinya dengan cara memperlihatkan album foto Katie ketika masih anak-anak. Namun sayang, Katie tidak merespon apapun. Saat Nenek Carmen mendekati Katie dan memanjatkan doa dan kemudian mencium kening, tiba-tiba saja Katie membenturkan kepalanya ke hidung sang nenek hingga berdarah. Sore harinya, Larissa dan Nenek Carmen memandikan Katie sambil kukunya digunting. Secara tidak sengaja, Larissa merobek kuku dan lapisan kulit bagian kaki Katie yang menyebabkan ia tak terkendali hingga menikam dirinya sendiri sampai mengalami luka parah. Berbagai kejadian aneh lainnya semakin sering terjadi di rumah. Katie tiba-tiba menghilang dari dalam kamar dan berlarian di loteng rumah yang membuat Sebastian dan Maud semakin ketakutan. Selain itu, Katie juga sering mengeluarkan suara aneh yang tidak bisa dipahami oleh keluarganya.
Seiring berjalannya waktu, perban yang menutupi badan Katie perlahan mulai longgar. Saat akan diganti dengan yang baru, Larissa dan Charlie menemukan perban lainnya yang tersembunyi dan menempel pada kulit Katie. Perban tersebut memiliki banyak tulisan ayat-ayat suci. Karena penasaran, Charlie kemudian berkonsultasi pada arkeolog untuk mengetahui maksud dari lapisan kulit yang menutupi hampir semua badan dari Katie. Saat ditelusuri, rupanya Katie dijadikan tumbal ritual dengan cara mumifikasi untuk entitas gaib kuno bernama Nasmaranian. Ritual tersebut dilakukan agar Nasmaranian tetap terikat dengan Katie yang masih muda dan juga hidup. Charlie langsung mencari cara untuk segera menemukan orang yang sudah melakukan perbuatan jahat itu. Sebelum melanjutkan proses pencariannya, Charlie menemui lagi Katie di kamarnya dan berjanji akan menemukan pelaku. Obrolan tersebut ternyata mendapat respon dari Katie dengan kode morse lewat ketukan berkali-kali. Charlie langsung menyadari jika sebelum Katie diculik, mereka sempat belajar kode morse. Ia pun menulis semua kode morse yang diberikan Katie hingga memunculkan satu nama yaitu Layla. Setelah mendapatkan nama tersebut, Charlie langsung menghubungi Dalia untuk menelusuri nama Layla di Cairo. Namun sayang, Dalia tidak bisa langsung menemukan Layla yang mereka cari mengingat di Cairo dan Mesir sangat banyak perempuan bernama Layla. Charlie kemudian menelusuri semua surat kiriman dari orang-orang seluruh dunia yang mengucapkan turut berduka ketika Katie diculik dan menjadi berita besar kala itu. Setelah membuka kotak penyimpanan yang cukup besar dan membuka semua amplop, Charlie berhasil menemukan satu surat yang pengirimnya bernama Layla Khalil (May Elghety). Dugaan semakin kuat karena isi surat dan sampul amplopnya memiliki gambar cokelat yang sama persis dengan temuan bungkus cokelat untuk memancing Katie sebelum diculik.
Dalia pun langsung menelusuri nama Layla Khalil dan membawanya ke sebuah rumah terpencil dengan kebun nektarin yang tumbuh subur di padang pasir. Tiba di sana, Dalia tak menemukan siapapun di rumah tersebut. Ia kemudian menyusuri ke belakang rumah dan menemukan sebuah piramida tersembunyi di sana. Saat masuk ke dalam piramida tersebut melalui pintu yang tertutup pasir, Dalia terkejut melihat ruangan kosong dengan tanda bekas peti sarkofagus pernah tersimpan di sana. Ia meyakini sarkofagus yang sempat ada di sana adalah sarkofagus nya Katie. Ketika Dalia sedang menelepon Charlie atas temuannya itu, seorang perempuan tiba di rumah dan berusaha menyerang Dalia lalu kabur. Perempuan tersebut adalah pesulap berjubah yang delapan tahun lalu menculik Katie. Untungnya Dalia bawa senjata dan langsung melumpuhkan perempuan itu. Letusan senjata itu terdengar oleh anaknya si perempuan yaitu Layla. Karena takut dengan tembakan, Layla akhirnya menyerah dan memberikan sebuah kotak yang ia kubur berisikan VHS Katie di masa lalu dan langsung terbang menuju Mexico untuk memberikannya pada keluarga Charlie.
Sementara itu, kondisi Katie di rumahnya semakin tidak terkendali semenjak perban dan lapisan kulit nya banyak yang lepas. Katie memanipulasi pikiran kedua saudaranya dan bertindak kasar. Selain itu, Katie juga menyerang sang nenek hingga tewas dengan cara yang mengenaskan. Charlie dan Larissa tak tinggal diam. Mereka mengunci Katie di kamarnya selama prosesi pemakaman Nenek Carmen. Namun karena kekuatannya semakin tidak terkendali, Katie berhasil keluar dari kamar lalu memakan cairan darah dan pengawet mayat pada peti Nenek Carmen. Selain Katie, kedua saudaranya pun bertindak gila menyerang siapapun yang ada di dalam rumah.
Tiba di rumahnya keluarga Charlie, Dalia langsung memberikan VHS itu dan memutarnya. Dalia, Charlie dan Larissa terkejut melihat rekaman prosesi ritual tumbal dan mumifikasi Katie oleh keluarganya Layla dengan cara pertukaran jiwa iblis kuno Nasmaranian ke tubuh Katie demi menjaga agar wilayah mereka tidak terkena kutukan serta banjir bandang. Bagaimana nasib keluarga Charlie selanjutnya?



#Review:
Rumah produksi Warner Bros mencoba peruntungan untuk menghadirkan cerita baru dari legacy franchise legendaris THE MUMMY yang sudah eksis sejak tahun 1932. Menariknya, jika versi Universal Pictures mayoritas film THE MUMMY bertema action adventure, di tangan Warner Bros, banting setir genre menjadi horror supernatural. Tak tanggung-tanggung, Warner Bros langsung menggandeng Lee Cronin yang sukses mencuri perhatian lewat film THE HOLE IN THE GROUND (2019) dan EVIL DEAD RISE (2024) sebagai sutradara dari THE MUMMY (2026) versi horror ini.


Untuk segi cerita, film LEE CRONIN'S THE MUMMY (2026) sebetulnya memiliki premis yang cukup menjanjikan. Namun entah kenapa, plot yang dihadirkan film ini menurutku terlalu panjang dan bertele-tele. Paruh awal film, penonton diajak untuk berkenalan dengan keluarga Charlie yang normal dan bahagia. Aku suka dengan keputusan Lee Cronin yang memilih latar cerita utama bukan dari kalangan keluarga disfungsional seperti film-film horror kebanyakan. Meskipun karakter dalam film ini hidup bahagia, mereka tetap bisa diganggu juga kok, tanpa harus punya konflik internal seperti akibat perceraian, ditinggal meninggal orangtua atau anaknya rebel. Faktor eksternal yang mengganggu keluarga Charlie hadir dengan cara menculik anak pertamanya yaitu Katie dan kemudian dijadikan tumbal untuk ritual. Pada bagian ini, Lee Cronin sedikit memberikan kritik sosial terhadap respon oknum kepolisian atau detektif mengenai kasus penculikan tuh dugaan awalnya selalu orang tua yang disalahkan. Sampai Katie diculik lalu menghilang ditengah badai pasir yang menimpa Cairo masih enjoyable untuk diikuti.


Saat plot memasuki babak pertengahan yang dimulai dengan latar waktu maju ke 8 tahun kemudian, barulah temponya terasa berjalan lambat. Banyak pertanyaan yang tidak terjawab secara jelas seperti pesawat yang mengangkut sarkofagus berisikan Katie dipindahkan lalu mengalami kecelakaan, lalu narasi tentang sejarah ritual Mummy dan entitas gaib Nasmaraian pun hanya dijelaskan melalui rekaman VHS saja. Intensitas ketegangan juga awalnya terjaga dengan sangat baik, namun seiring berjalannya cerita, Lee Cronin justru menebar jump scared khas film-film horror blockbuster melalui parade gore yang terus-menerus. Di satu sisi iya sih, berhasil bikin ngilu dan nahan rasa mual apalagi adegan gunting kuku dan jenazah Nenek Carmen. Ampun! Sisanya, yaa terasa sangat repetitif biar penonton yang suka jump scared terpuaskan teriak-teriak dan misuh-misuhnya. Elemen investigasi dan pemecahan teka-teki misteri yang menimpa Katie di sini terasa seperti tribute kecil-kecilan dari Lee Cronin untuk film-film The Mummy versi action-adventure. Yang cukup disayangkan selanjutnya yaitu bonding keluarga Charlie terasa kuat hanya paruh awal semata. Makin menuju akhir cerita, justru jadi hambar karena filmnya terlalu fokus menyajikan elemen gore yang bertubi-tubi.
Untuk jajaran pemain, penampilan para aktor yang menjadi keluarga Charlie tidak ada yang mengecewakan. Mereka saling melengkapi dan terasa believable jika mereka menyayangi karakter Katie dengan kondisi anehnya itu. May Calamawy yang memerankan detektif Dalia Zaki pun sebetulnya masih bisa dieksplor lebih mendalam lagi karakternya karena banyak sekali hal yang dimana dia tuh tiba-tiba mengetahui semuanya tanpa menampilkan investigasi secara jelas pada penonton.
Untuk urusan visual, nonton film LEE CRONIN'S THE MUMMY (2026) tuh vibes nya jadi 11-12 seperti film EVIL DEAD RISE (2026). Teknik pengambilan gambar secara ekstrim dan tak lazim mudah kita temukan disepanjang durasi film. Sinematografi nya pun sama. Eksekusi adegan-adegan gore nya memang tak kalah gila dengan film Lee Cronin sebelumnya. Scoring yang dihadirkan di beberapa bagian menurutku terlalu berisik. Apakah faktor Atomic Monster dan Blum House yang menyebabkan film ini jadi mengobral jump scared dan scoring di sepanjang durasi film? Entahlah. Hahaha.



[7.5/10Bintang]

[Review] Ghost In The Cell: Mengungkap Terror Sadis Dari Sosok Gaib Yang Gentayangan Di Penjara!

 


#Description:
Title: Ghost In The Cell (2026)
Casts: Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Bront Paralae, Dimas Danang, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming Sugandhi, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Kiki Narendra, Haydar Salishz, Arswendy Beningswara, Dewa Dayana, Ical Tanjung, Farrell Rafisqy, Radja Nasution, Marissa Anita
Director: Joko Anwar
Studio: Come and See Pictures, Rapi Films, Legacy Pictures, Barunson E&A


#Synopsis:
Setelah melakukan penelusuran di kawasan hutan bernama Nehea yang ada di Kalimantan untuk keperluan artikel berita, seorang jurnalis sekaligus editor yaitu Dimas (Endy Arfian), dikejar deadline oleh pemimpin redaksi di kantornya untuk segera menerbitkan artikel tentang perusahaan tambang nikel milik anak dari wakil presiden Indonesia yang melakukan penebangan hutan secara ilegal di sana. Namun sayang, hasil penelusuran yang dilakukan Dimas justru menemukan banyak keanehan. Selain luas wilayah hutan yang ditebang tidak sesuai dengan yang dilaporkan, ia juga mendapat kabar jika tak sedikit warga sekitar dan para pekerja tambang di sana yang hilang secara misterius. Informasi yang didapatkannya itu membuat Pemred Pak Endy (Rio Dewanto) marah besar. Ia menyuruh Dimas segera merevisinya agar tidak fokus pada hal-hal mistis tersebut.



Dimas pun langsung merevisi artikel beritanya sesuai permintaan Pak Endy. Setelah selesai, Dimas terkejut saat masuk ke ruangan Pemred, ia menemukan Pak Endy tewas secara mengenaskan di ruangannya. Karena tidak ada saksi dan Dimas jadi orang pertama yang menemukan jasad Pak Endy, ia dinyatakan jadi tersangka kasus pembunuhan sadis Pak Endy dan langsung dijebloskan ke penjara. Dimas dan narapidana lain yang ada di kantor polisi langsung dibawa ke penjara Lapas Labuhan Angsana untuk menjalani hukuman di sana.


Tiba di penjara, Dimas langsung melalui serangkaian pengecekan fisik yang dilakukan oleh para sipir. Setelah itu, ia bertemu dengan Irfan (Dimas Danang), salah satu narapidana di sana yang diminta untuk memandu Dimas berkeliling ke setiap sudut penjara. Irfan sendiri merupakan tersangka kasus penipuan melalui telepon yang sudah menelan banyak korban. Selama berkeliling, Irfan meminta Dimas agar tidak kemana-mana sendirian dan harus ikut berkelompok supaya aman. Di penjara, Irfan berkelompok dengan Anggoro (Abimana Aryasatya), tersangka kasus perampokan rumah pejabat karena tanah dan rumahnya digusur secara ilegal. Lalu ada Pendi (Lukman Sardi) dosen kampus yang dijebak karena tidak mau terlibat kasus korupsi, Wildan (Mike Lucock) tersangka kasus penipuan penggandaan uang. Terakhir yaitu Six (Yoga Pratama), tersangka penipuan yang merugikan korban miliaran rupiah. 


Anggoro sendiri dikenal sebagai narapidana yang selalu peduli dan membela napi-napi lain yang mendapat perlakuan tidak adil baik dari sesama napi maupun para sipir di sana. Sikap Anggoro tersebut rupanya sangat dibenci oleh kepala sipir yaitu Jefry (Bront Paralae) dan beberapa napi mafia anak buah dari Koh Rendra (Ho Yuhang) yaitu Bimo (Morgan Oey), Tokek (Aming), Bucky (Almanzo Konoralma) dan Bambang (Ical Tanjung).
Setelah selesai berkeliling penjara, Dimas mendapatkan sel tahanan bersama dengan Tokek, salah satu napi yang ditakuti karena sikap anehnya. Tokek juga diam-diam tertarik pada Dimas karena terlihat polos dan penampilannya tidak seperti penjahat. Sebelum masuk ke sel tahanan masing-masing, Irfan dan Anggoro meminta Dimas untuk selalu waspada terhadap Tokek.


Waktu terus berlalu. Dimas masih selamat dari godaan Tokek karena pada malam itu Tokek mabuk berat. Saat para napi sedang membersihkan diri, Tokek lagi-lagi berusaha menggoda Dimas. Untungnya Anggoro dan yang lainnya ada di sana dan menolong Dimas agar tidak lagi diganggu Tokek. Setelah selesai, semua narapidana kembali ke sel tahanan dan menjalankan tugas mereka masing-masing. Saat Six sedang menyapu di depan sel tahanan, ia melihat Tokek berjalan menuju sel nya dari tempat bilas tanpa mengenakan pakaian. Saat Six mendekati sel tahanan Tokek, ia terkejut karena Tokek tidak ada di sana. Tak lama setelah itu, terdengar teriakan kencang dari salah satu napi di tempat bilas. Para napi lain dan sipir langsung berlari ke sana. Mereka terkejut menemukan Tokek tewas dengan cara yang sangat mengenaskan.


Kematian Tokek membuat Jefry dan kepala pengelola penjara yaitu Pak Sapto (Kiki Narendra) khawatir akan jabatan mereka. Jika kabar tewasnya napi sampai ketahuan polisi dan media, akan berdampak buruk kepada mereka berdua dan juga para napi koruptor di Blok K yang selama ini dikenal sebagai narapidana eksklusif. Jefry kemudian mengumpulkan semua napi dan memaksa pelaku pembunuh Tokek untuk mengakui perbuatannya. Namun para napi memang tidak ada yang melakukan hal keji tersebut. Jefry dan para sipir lain kemudian menghukum semua napi dengan tidak menyediakan makanan selama seharian. Sementara itu, Pak Sapto menutupi kejadian tersebut agar napi yang paling disegani oleh Pak Sapto di Blok K yaitu Prakasa Kitabuming (Arswendy Bening Swara) dan napi eksklusif lainnya tidak ketakutan.


Seiring berjalannya waktu. Six yang kesehatannya kembali pulih semakin sensitif merasakan hal-hal aneh di penjara. Selain itu, kemampuan Six dalam membaca aura orang lain juga semakin menguat. Hal tersebut terbukti setelah terjadi lagi kematian tragis dari beberapa napi yang menciptakan suasana mencekam di penjara. Six, Anggoro, Irfan, Pendi dan Wildan meyakini jika semua kematian yang terjadi di sana setelah Dimas datang. Para napi lain pun jadi curiga jika Dimas menjadi penyebab dan yang membawa malapetaka ke dalam penjara. Setelah mempelajari pola kematian dari para napi, Six meyakini jika kematian brutal yang terjadi di penjara karena para korban tersebut memiliki aura berwarna merah yang menandakan adanya emosi dan amarah besar. Six, Anggoro, Irfan, Pendi, Wildan dan para napi lain kemudian sepakat untuk kerja sama agar sosok gaib yang gentayangan di penjara itu tak lagi menjemput ajal mereka yang tersisa. Berhasil kah mereka?


#Review:
Sutradara Joko Anwar kembali hadir dan meramaikan industri perfilman Indonesia dengan merilis film terbarunya yang berjudul GHOST IN THE CELL (2026). Menariknya, sebelum tayang di Indonesia, film ke-12 dari Joko Anwar ini sukses menggelar world premiere perdana di Berlinale International Film Festival pada bulan Februari kemarin dan mendapat respon sangat positif dari penonton di sana.


Untuk segi cerita, film GHOST IN THE CELL (2026) memadukan tiga genre utama yaitu komedi, horror dan sedikit sentuhan action di dalamnya. Ketiga genre tersebut berhasil disatukan oleh Joko Anwar lewat plot survival para narapidana dan mengungkap misteri sosok gaib yang mengincar nyawa mereka. Jika berkaca pada track record filmography Joko Anwar, penonton pasti punya pemikiran jika elemen horror dan kesan serius akan mendominasi film ini. Namun siapa sangka, Joko Anwar justru menyajikan film GHOST IN THE CELL (2026) penuh dengan komedi satir yang mengkritik kondisi sosial, budaya, politik dan pemerintahan Indonesia saat ini. Tidak tanggung-tanggung hampir semua dialog dari para karakter selalu "ngeri-ngeri sedap" bikin penonton tertawa kencang. Saking ironisnya, kok terlalu relatable dengan kondisi sekarang di Indonesia. Selain melalui celetukan-celetukan "pedas" nya, Joko Anwar juga turut memelesetkan nama-nama besar yang penonton bisa langsung paham itu siapa saja hahaha. Konsistensi jokes yang mengkritik tersebut terasa disepanjang durasi, dari awal sampai akhir film. Untuk sebagian orang, mungkin akan terasa too much karena di beberapa dialog, terlihat so asik sendiri. Apalagi di beberapa adegan yang melibatkan karakter Tokek cukup sensitif karena mengarah ke sexual harrasment.


Ketika elemen horror mulai dimunculkan lewat serangkaian terror kematian, plot cerita tidak langsung menjelaskan apa yang terjadi agar kebingungan dari para karakter napi di penjara tampil believable. Alhasil, penonton jadi dibuat penasaran dengan penyebab semua kekacauan yang terjadi di sana. Ketika para napi menyadari satu-satunya cara untuk mencegah kematian lewat konsep aura dalam diri manusia, plot kembali bersenang-senang lewat kombinasi action dan komedi. Kapan lagi coba bisa melihat para aktor sangar pada gelut sambil melakukan hal-hal konyol wkwkwk. Eksekusi horror nya pun tidak penuh dengan jump scared dan penampakan berkali-kali. Joko Anwar bermain-main dengan elemen gore secara brutal sekaligus artsy. Seperti biasanya, setelah selesai nonton, muncul berbagai pertanyaan menarik yang jadi bahan diskusi panjang dari penonton dan penggemar setia film-filmnya Joko Anwar. Mengapa kematian brutal mereka dibuat artistik layaknya instalasi seni. Apakah sosok gaib yang gentayangan dan balas dendam di sana adalah seorang seniman? Hahaha.
Untuk jajaran pemain, hampir semuanya berhasil memancarkan pesona dan kelebihan mereka masing-masing. Nama-nama aktor yang sering dijuluki "Kartap nya Joko Anwar" selalu konsisten memberikan penampilan terbaik di film GHOST IN THE CELL (2026). Sebut saja, Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Yoga Pratama, Lukman Sardi, Bront Paralae, Morgan Oey, Kiki Narendra, Mike Lucock hingga Aming, mereka semua tampil having fun tanpa jaim sama sekali di film ini. Adegan fighting dan latihan menari jadi salah scene paling lucu! Hahaha.
Untuk urusan visual dan audio, film GHOST IN THE CELL (2026) tampil memukau. Sinematografi khas Joko Anwar semakin didukung dengan artistik dan wardrobe yang keren. Set penjara yang sepertinya masih sama dengan set film PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI (2025) jadi mengingatkanku akan film bertema penjara namun bergenre drama tearjerker yaitu MIRACLE IN CELL NO. 7 (2022) versi remake oleh Falcon Pictures. Hahaha. Untuk sisi efek visual, dari awal sampai pertengahan sih berjalan sangat mulus, namun entah kenapa saat memasuki akhir film, CGI dan visualnya mengalami penurunan, terutama saat adegan fighting melawan para napi preman di Blok K hingga akhir film.
Overall, film GHOST IN THE CELL (2026) berhasil menyajikan cerita komedi, horror yang sangat brutal dalam mengangkat berbagai keresahan dari penonton dan juga Warga Negara Indonesia. Definisi having fun dengan sarkasme yang berkesan!


[8.5/10Bintang]