#Description:
Title: Backrooms (2026)
Title: Backrooms (2026)
Casts: Chiwetel Ejiofor, Renate Reinsve, Mark Duplass, Finn Bennett, Lukita Maxwell, Avan Jogja, Robert Bobroczkyi, Krista Kosonen
Director: Kane Parsons
Studio: North Road Productions, 21 Laps Entertainment, Atomic Monster, A24, Feat Pictures
#Synopsis:
Seorang peneliti dari ASYNC Foundation yaitu Naren Warne (Avan Jogia), terpisah dari rombongannya dan tersesat di ruangan tanpa batas seperti labirin kosong dengan dinding berlapis wallpaper kuning kusam, karpet lembab dan lampu neon yang terus-terusan mendengung. Ruangan yang ditemukan tersebut kemudian disebut sebagai Backrooms. Setelah berjalan jauh dan berkeliling, Warne menemukan peralatan untuk berkomunikasi dengan ASYNC dan berusaha meminta bantuan. Tak lama setelah itu, Warne dikejar dan diserang oleh entitas misterius. Video footage hilangnya Warne tersebut ditemukan dan diteliti lebih lanjut oleh ASYNC.
Di sisi lain, Clark (Chiwete Ejiofor) pemilik toko furnitur diskonan sekaligus seorang arsitek gagal berusaha mengatasi kecanduan alkohol dan memperbaiki rumah tangganya yang terancam perceraian. Clark kemudian melakukan konsultasi pada psikolog yaitu Dr. Mary Kline (Renate Reinsve), yang dirinya sendiri juga sedang berjuang mengatasi trauma berat terkait pembongkaran rumah masa kecilnya serta ibunya, Nora (Krista Kosonen) yang mengidap gangguan kecemasan. Setelah selesai konsultasi, Clark kembali ke toko dan kembali berjualan meskipun tak ada satupun yang berkunjung ke sana. Malam harinya, Clark memutuskan tidur di toko dan tidak pulang ke rumah. Saat sedang menonton televisi, ia menyadari jika semua lampu toko berulang kali berkedip-kedip. Keesokan harinya, Clark memanggil tukang listrik untuk memeriksa kotak sekring yang ada di lantai bawah toko. Saat dicek, semua sekring listrik tidak ada rusak. Mereka juga menemukan dua sekring listrik dengan warna berbeda dan ketika pengetesan, tidak ada perubahan. Setelah itu, toko furnitur kembali buka seperti biasa. Di siang hari, Clark membuat materi promosi iklan dengan bantuan staff nya yaitu Kat Taylor (Lukita Maxwell). Bersama dengan pacarnya Kat yaitu Bobby Franklin (Finn Bennett) mereka bertiga membuat video iklan toko furnitur dengan tema bajak laut. Clark mengenakan kostum dan menjadi seorang kapten bajak laut seperti maskot tokonya yaitu Captain Clark. Setelah selesai, beberapa hari kemudian video iklan tersebut akhirnya tayang di televisi.
Suatu malam, saat Clark sedang beristirahat di tokonya, seluruh lampu kembali berkedip. Karena kesal, ia kemudian turun ke bawah untuk memperbaiki sekring listrik. Saat semuanya gelap, Clark melihat garis celah bercahaya dari dinding lantai bawah toko furnitur. Ketika mendekatinya, ia masuk dan terjatuh ke dalam Backrooms. Di depannya, Clark melihat banyak barang-barang seperti kursi, lemari dan meja yang saling menumpuk di tengah ruangan. Ia kemudian berjalan menyusuri setiap lorong dan ruangan di Backrooms. Clark mulai menyadari jika ruangan yang ia jelajahi itu tak ada ujungnya. Saat akan kembali ke tempat semula, Clark mendengar suara orang berbicara. Saat dicari keberadaannya, ia menemukan standee bergambar seorang pria yang mengeluarkan suara rekaman. Sumber suara tersebut berasal dari sebuah kabel yang terhubung ke sebuah pintu. Di sisi lain, Clark juga tak sengaja menemukan sebuah tas dengan nama pemilik Naren Warne yang tersembunyi di balik dinding. Saat Clark menarik kabel yang terhubung pada sebuah pintu, ia mendengar suara langkah kaki yang sangat besar. Clark kemudian pergi dari sana dan kembali ke toko dengan selamat.
Keesokan harinya, Clark kembali menemui Mary dan menceritakan pengalamannya memasuki Backrooms. Namun sayang, Mary menanggapinya dengan skeptis dan menduga hal tersebut efek dari kecanduan alkohol saja. Mendengar omongan tersebut membuat Clark kesal. Ia kemudian pulang dan meminta bantuan pada Kat dan Bobby untuk menemaninya masuk lagi ke Backrooms. Clark berjanji akan membayar dengan harga tinggi jika mereka bersedia membantunya. Setelah sepakat, Clark, Kat dan Bobby masuk ke Backrooms dengan cara menembus dinding yang sudah ditandai. Kat dan Bobby terkejut sekaligus takut saat mereka berhasil masuk ke sana dengan cara yang tak lazim. Ketiganya berjalan menyusuri setiap ruangan dan lorong dengan dinding warna kuning pucat, lantai karpet lembab dan lampu neon berdengung dimana-mana. Selama menjelajah Backrooms, Clark mulai menyadari adanya perubahan bentuk ruangan dibandingkan kemarin saat pertama kali masuk. Mereka bertiga kemudian menemukan sebuah lorong dengan kemiringan yang curam. Clark meminta Bobby untuk turun ke sana dan merekam apa yang ada di bawah dengan bantuan tali yang diikat. Ketika mendarat di bawah, Bobby menemukan ruangan yang gelap dan dipenuhi sampah, tumpukan baju kotor dan furnitur yang sudah rusak. Saat akan kembali naik ke atas, Bobby merekam entitas misterius muncul dari kegelapan dan mengejarnya. Clark dan Kat menarik tali yang mengikat pada tubuh Bobby. Namun sayang Bobby kembali terseret ke bawah dan menghilang di sana. Karena kuatnya tarikan dari bawah, Clark dan Kat juga ikut terjatuh. Mereka berdua panik dan berusaha mencari jalan keluar. Kat lalu ditarik oleh entitas misterius itu dan menghilang. Clark yang ketakutan berusaha melarikan diri dan menyusuri ruangan aneh dan tidak beraturan. Setelah berlari tanpa arah, Clark berpapasan dengan dua entitas humanoid yang mengejarnya hingga terjebak di ruangan buntu.
Beberapa hari kemudian, Mary menerima panggilan telepon dari Clark yang mengungkapkan jika ia akan tinggal di Backrooms dan menetap di sana. Merasa khawatir, Mary pun pergi menuju toko furniturnya Clark. Setibanya di sana, toko terlihat sepi tidak ada orang dan dalam keadaan tidak terkunci. Mary pun masuk ke sana dan mencari Clark. Ketika turun ke lantai bawah, Mary melihat sebuah denah lokasi di papan yang digambar oleh Clark. Selain itu, ia juga melihat sebuah tanda garis berbentuk pintu menempel di dinding. Karena teringat akan ucapan Clark, ia mendekati garis berbentuk pintu tersebut dan secara mengejutkan masuk ke dalam Backrooms.
Di sana, Mary berjalan menyusuri setiap lorong dan ruangan sambil memanggil Clark. Mary kemudian menemukan sebuah ruangan dengan coretan gambar yang diyakini dibuat oleh Clark. Tak lama setelah itu Clark muncul dan entitas gaib juga mulai mendekati mereka berdua. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Bagaimana nasib Mary dan Clark selanjutnya?
#Review:
Pertengahan tahun 2026, jagat sinema Hollywood digemparkan dengan kesuksesan film BACKROOMS (2026) yang diadaptasi dari urban legend viral di internet serta disutradarai oleh seorang pemuda berusia 20 tahun! Tak hanya itu saja, debut film Kane Parsons menggarap film layar lebar ini juga mencetak rekor sebagai film produksi A24 terlaris sejauh ini menggeser posisi MARTY SUPREME (2025) dan EVERYTHING EVEREWHERE ALL AT ONCE (2022). Luar biasa!
Untuk segi cerita, film BACKROOMS (2026) terbilang cukup berbeda dengan versi serial web nya. Di versi layar lebar, Kane Parsons dan Will Soodik selaku penulis naskah memilih untuk melanjutkan cerita dari pov warga sipil yang tak sengaja masuk ke dalam Backrooms ketimbang mengulang dari awal. Seperti yang sudah dijelaskan di serial web nya, ASYNC Foundation tak sengaja membuka gerbang dimensi alternatif dan menciptakan sebuah distorsi sebuah ruangan yang tak terbatas. ASYNC menyadari bahwa pembukaan gerbang dimensi alternatif tersebut berdampak buruk pada dunia nyata. Terjadi distorsi di beberapa tempat di bumi, menyebabkan orang-orang atau barang-barang di dunia nyata terjatuh secara tidak sengaja ke dalam Backrooms. Salah satu tempat yang terkena distorsi tersebut adalah toko furnitur diskonan milik karakter Clark. Menariknya di sini, Kane Parsons memadukan gaya found footage dengan sinematografi teatrikal yang megah namun tetap dengan gaya khas kamera VHS seperti serial web nya. Selain itu, ia juga memberikan jiwa dan karakter manusia yang kuat. Penonton tidak lagi hanya melihat orang asing tanpa nama yang tersesat di koridor kuning, melainkan mengikuti Clark, seorang pria yang hancur oleh alkoholisme dan kegagalan hidup, serta Dr. Mary Kline yang berjuang menyembuhkan trauma masa kecilnya. film BACKROOMS (2026) bukan sekadar labirin atau infinity space semata, melainkan manifestasi visual dari keputusasaan, trauma, dan ruang isolasi mental dari kedua karakter utama.
Sumber horror dari film BACKROOMS (2026) bukan berasal dari jump scared atau scoring bombastis khas film-film horror mainstream, melainkan dari ruangan kosong dan tak terbatas itu sendiri. Konsep liminal space menciptakan rasa terisolasi, keputusasaan, dan paranoia yang mencekam bagi penonton. Hampir sepanjang nonton, penonton pasti punya imajinasi tersendiri dan membayangkan di pojokan ruangan atau lorong yang akan dilalui oleh Clark maupun Mary. Jika di versi serial web penggemarnya terbiasa dengan monster kabel, versi film layar lebarnya membawa horor ke arah yang lebih surealis dan psikologis. Kehadiran entitas gaib berwujud Captain Clark atau maskot toko furnitur dan tiga makhluk humanoid terasa lebih creepy dan bikin ngeri.
Meskipun film BACKROOMS (2026) didominasi oleh ruang kosong dan kegilaan visual, performa kedua aktor utamanya berhasil memberikan "jiwa" dan dimensi kemanusiaan yang membuat penonton benar-benar peduli pada nasib para karakter, bukan sekadar menunggu mereka dikejar monster. Sebagai aktor berkelas pemenang Piala Oscars, Chiwetel Ejiofor memberikan penampilan yang luar biasa intens dan tragis sebagai Clark, arsitek gagal yang tenggelam dalam alkoholisme. Ejiofor dengan sangat brilian menggambarkan transisi Clark dari seorang pria yang depresi dan frustrasi di dunia nyata, menjadi sosok yang tidak waras setelah terjebak di dalam Backrooms. Sementara itu, aktris asal Norwegia yang saat ini sedang naik daun dan dikenal sebagai aktor spesialis film-film festival yaitu Renate Reinsve, berhasil menampilkan secara profesional seorang psikolog di awal film, yang perlahan-lahan runtuh ketika dirinya sendiri masuk ke dalam Backrooms dan dihadapkan pada manifestasi ketakutan terbesarnya. Saat berhadapan dengan Clark yang sudah tidak waras di ruang makan tiruan, akting Reinsve sangat memukau tanpa harus berteriak histeris atau marah-marah. Ia justru bersikap tegas dan realistis dalam menghadapi Clark.
Overall, film BACKROOMS (2026) adalah adaptasi yang sukses dan kualitasnya setara dengan versi serial web. Film ini tidak hanya menjual jump scared mainstream, melainkan sebuah horor psikologis berbalut fiksi ilmiah yang emosional, kelam dan meninggalkan rasa tidak nyaman setelah menonton. Kane Parsons menurutku berhasil mengubah salah satu urban legend internet sederhana menjadi sebuah kisah tragedi fiksi ilmiah yang megah, mencekam dan meninggalkan kesan mendalam mengenai batas ambisi manusia. Keren!
[8.5/10Bintang]

































