Showing posts with label Film Asia. Show all posts
Showing posts with label Film Asia. Show all posts

Sunday, 17 May 2026

[Review] Gohan: Perjalanan Hidup Seekor Anjing Berbulu Putih Yang Sangat Bombastis!

 

#Description:
Title: Gohan (2026)
Casts: Kori, Meechok, Hima, Yasushi Kitajima, Poe Mamhe Thar, Jinjett Wattanasin, Tontawan Tantivejakul, Chatchai Chinnasri, Ohmi Ryota, Nophand Boonyai, Jarinporn Joonkiat, Arunee Kwanyune
Director: Atta Hemwadee, Nattawut Poonpiriya, Chayanop Bunprakob
Studio: BASK, Houseton Films, GDH 559, Prima Cinema Indonesia


#Synopsis:
Sudah 35 tahun Hiro (Yasushi Kitajima) bekerja sebagai seorang engineer di salah satu pabrik mobil di Thailand. Kini, di usianya yang semakin menua, Hiro harus menghadapi masa pensiun dari perusahaan. Meskipun sudah berkali-kali menolak, namun akhirnya Hiro bersedia untuk pensiun setelah mengetahui posisinya akan diisi oleh orang baru yang usianya lebih muda.
Sebelum pensiun, Hiro masih rajin datang ke kantor meskipun atasannya sudah melarangnya. Setiap berangkat dan pulang bekerja, Hiro juga selalu menyempatkan belanja makanan ke 7-Eleven di dekat apartemen yang disediakan oleh perusahaan. Di sana, ia tak sengaja melihat seekor anak anjing liar berbulu putih dengan hidung berwarna pink yang sedang mencari makan. Hiro pun sering memberikan sedikit cemilan dan makanan pada anjing tersebut. Hingga suatu malam ketika pulang bekerja, anak anjing tersebut masuk ke dalam kotak chiller milik Hiro dan ikut terbawa ke apartemen. Hiro pun terkejut melihat anak anjing itu ada dalam kotak chiller. Ia kemudian memberi nama anak anjing tersebut Gohan (Kori) karena bulunya yang berwarna putih mirip dengan warna nasi hangat dalam bahasa Jepang. Selama Gohan tinggal di apartemen, Hiro merasa tidak kesepian karena tingkah laku Gohan selalu membuatnya tertawa. Namun Hiro juga menyadari adanya larangan memelihara hewan di apartemen, Hiro berencana akan mengembalikan Gohan ke depan 7-Eleven besok pagi sebelum berangkat kerja.


Keesokan harinya, sambil menunggu jemputan menuju pabrik, Hiro jadi ragu untuk mengembalikan Gohan di pinggir jalan. Hiro pun membawanya ke kantor secara sembunyi-sembunyi. Para karyawan yang ada di pabrik langsung dibuat gemas dan lucu ketika menyadari Hiro membawa Gohan disembunyikan di kotak chiller. Mereka pun berbondong-bondong ingin merawat dan mengadopsi jika Hiro tidak bersedia. Hiro kemudian meminta waktu tambahan selama satu minggu pada atasannya untuk tetap bisa datang ke kantor. Hal tersebut ia lakukan karena akan melakukan sesi wawancara terhadap para karyawan yang tertarik untuk mengadopsi Gohan. Namun sayang, Hiro belum menemukan satupun orang yang menurutnya cocok sebagai majikan baru bagi Gohan. Saat pulang ke rumah, engineer baru yang menggantikan posisinya yaitu Sawada (Ohmi Ryota) meminta Hiro untuk mengizinkannya mengadopsi Gohan bersama dengan pacarnya, Meow (Jarinporn Joonkiat) karena anjing peliharaan mereka berdua yang sudah meninggal yang mereka rawat sebelumnya satu ras dengan Gohan.
Setelah resmi pensiun dari pabrik, Hiro pun berencana pulang ke Jepang dan tinggal bersama anak dan cucunya di sana. Berbagai persiapan sudah dilakukan oleh Hiro, termasuk menitipkan Gohan pada Sawada dan Meow. Di hari keberangkatan menuju bandara, Hiro meminta pada supir pabrik mendatangi rumahnya Sawada untuk melihat Gohan yang terakhir kalinya. Tak lama setelah itu, Meow keluar bersama Gohan yang akan jalan-jalan. Setelah itu, Hiro pergi diam-diam. Mendengar suara mobil pergi meninggalkan jalanan depan rumah Meow membuat Gohan langsung mengejarnya. Supir pun langsung menghentikan mobilnya. Gohan terlihat sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan Hiro. Pertemuan tersebut membuat Hiro dan juga Meow menangis haru. Selama merawat Goham, Meow pun menyadari jika Gohan sudah memiliki ikatan yang kuat dengan Hiro. Sejak saat itu, Hiro memutuskan batal pulang ke Jepang dan memilih tetap tinggal di Thailand bersama dengan Gohan. Keputusan yang diambil oleh Hiro tersebut untungnya disambut dengan baik oleh anaknya yang di Jepang. Masa tua Hiro kini diisi dengan bersantai dan menikmati keindahan pantai bersama dengan Gohan. Setiap moment kebersamaan selalu diabadikan oleh Hiro melalui video dan diunggah ke sosial media.


Seiring berjalannya waktu, usia Hiro semakin menua dan kondisi kesehatannya terus menurun setelah terpapar CoVid-19. Tak lama setelah itu, Hiro meninggal dunia. Sementara itu, Gohan (Meechok) yang kini sudah besar dan ditinggal sendirian di villa, berhasil ditemukan oleh petugas penangkaran hewan-hewan liar yaitu Kung (Nophand Boonyai) dengan dibantu oleh asistennya, Namcha (Poe Mamhe Thar). Setelah ditempatkan di penangkaran, Gohan dan anjing-anjing liar di sana dieksploitasi untuk mendapat donasi melalui sosial media. Setiap akan live, Gohan selalu dibius agar terlihat tak berdaya di hadapan kamera, sehingga donasi yang terkumpul semakin banyak. Namcha pun tak bisa berbuat banyak karena ia imigran ilegal asal Myanmar dan diancam akan dilaporkan ke imigrasi jika melaporkan apa yang dilakukan oleh Kung tersebut. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan Namcha yaitu mengumpulkan upah bekerja dari Kung dan jika nanti sudah terkumpul banyak, ia akan kabur dari penangkaran dan membebaskan semua anjing liar yang ada di sana.


Seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatan Gohan semakin memburuk karena terlalu sering dibius oleh Kung. Hal tersebut membuat Namcha khawatir. Merasa tabungan upahnya sudah cukup, ia pun memutuskan kabur dari penangkaran sambil membebaskan semua anjing liar di sana. Namcha turut membawa Gohan kabur bersamanya dan pergi sejauh mungkin dari penangkaran. Selama perjalanan yang tak tentu arah tersebut, Namcha dan Gohan jadi terlunta-lunta di jalann. Namcha harus lebih waspada karena Kung masih mengejarnya dan ingin merebut Gohan. Agar tidak ketahuan, Gohan pun dilumuri oleh lumpur dan tanah sehingga warna bulunya berubah jadi kecokelatan. Namcha juga mengganti nama Gohan jadi Brownie. Setelah itu, Namcha menghubungi kerabatnya di Myanmar dan menceritakan apa yang sesungguhnya. Namun sayang, respon kerabatnya itu justru berpihak pada Kung dan meminta Namcha untuk segera mengembalikan Gohan pada Kung agar tidak menimbulkan masalah yang semakin besar. Setelah berhari-hari melakukan perjalanan tanpa tentu arah, keberadaan Namcha dan Gohan akhirnya ketahuan Kung. Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan. Gohan juga berusaha melindungi Namcha dan menyerang Kung sampai terluka.
Namcha pun menyerah. Ia memutuskan pergi naik kereta menuju Bangkok bersama dengan Gohan. Dalam perjalanan, Namcha justru turun dari kereta dan membiarkan Gohan sendirian di dalam kereta. Perpisahan tersebut membuat Namcha sedih dan juga lega, karena ia berhasil menyelamatkan Gohan dari tangan orang jahat. Setelah itu, Namcha dideportasi ke Myanmar dan Kung pun ditangkap oleh kepolisian.


Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, kereta pun tiba di stasiun pinggiran kota Bangkok. Gohan (Hima) kemudian turun dari kereta dan hanya terduduk saja di peron stasiun. Hari demi hari terus berlalu, Gohan masih setia berada di sana menunggu kedatangan Namcha di setiap kereta yang berhenti di sana. Namun sayang, hal tersebut tidak pernah terjadi. Setiap harinya, Gohan sering mendapat makanan secara sembarangan dari penumpang yang naik dan turun di stasiun. Selain itu, Gohan juga mendapat perhatian dari sepasang kekasih yaitu Jaidee (Tontawan Tantivejakul) dan Pele (Jinjett Wattanasin) yang masih sekolah. Sejak saat itu, mereka berdua rutin menemui Gohan setiap pulang sekolah.


Waktu terus berlalu, Gohan pun jadi saksi perjalanan kehidupan dan asmara dari Jaidee dan juga Pele. Saat mereka lulus sekolah, kemudian masuk kampus hingga Jaidee bekerja sebagai pramugari pesawat dan Pele menunda cita-citanya karena membantu bibi nya, Sorn (Arunee Kwanyune) berjualan di depan stasiun, hingga akhirnya mereka putus, Gohan masih setia tinggal di stasiun tersebut. Hingga suatu ketika, terjadi insiden kecelakaan di jalan raya. Gohan yang sedang menyebrang tak karuan tertabrak oleh motor. Jaidee dan Pele langsung membawa Gohan ke klinik hewan. Setelah diperiksa, dokter menanyakan nama anjing dan mereka berdua sepakat memberi nama Hima. Dokter pun menjelaskan jika kondisi kesehatan Hima saat ini sudah cukup kronis karena adanya gangguan pencernaan serta lambung yang bermasalah. Ditambah lagi usia Hima sudah tergolong tua untuk seekor anjing sehingga proses pemulihannya cenderung lambat. Dokter juga memprediksi jika usia Hima tinggal tiga bulan lagi.


Selama proses penyembuhan, Hima harus mendapatkan infus obat setiap hari. Jaidee dan Pele pun berkomitmen akan merawat Hima secara intens selama tiga bulan kedepan. Mereka ingin memberikan kenangan yang indah bagi Hima di sisa umurnya ini. Meskipun Jaidee dan Pele tidak berpacaran, mereka berusaha memberikan yang terbaik untuk Hima. Keduanya rutin menyempatkan waktu untuk Hima yang kini tinggal rumahnya Jaidee. Meskipun awalnya Pele tidak terlalu dekat dengan Hima, perlahan mulai mencair. Bagaimana nasib Hima atau Gohan selanjutnya?
 

#Synopsis:
Rumah produksi GDH 559 asal Thailand kembali hadir di tahun ini dengan merilis dua film layar lebar terbaru. Film pertama yaitu HUMAN RESOURCE (2026) yang tayang perdana di Venice International Film Festival dan Busan International Film Festival. Setelah itu, film GOHAN (2026) yang dirilis di Thailand awal April tahun ini dan di Indonesia mulai 13 Mei 2026 kemarin. Yang menjadi daya tarik di sini, GDH menggandeng tiga sutradara muda Thailand untuk menggarap film ini, yang dimana mereka bertiga memiliki track record luar biasa yaitu sebagai sutradara film BAD GENIUS (2017), FRIEND ZONE (2019) dan NOT FRIENDS (2023). Sangat triple kill sekali bukan?



Untuk segi cerita, film GOHAN (2026) terbagi menjadi tiga plot dengan tiga latar waktu yang berbeda, sesuai dengan perkembangan usia seekor anjing liar berwarna putih. Masing-masing sutradara menggarap satu plot yang dirangkai dengan sangat baik dan tidak ada yang jomplang sama sekali. Plot pertama menampilkan cerita awal mula anjing liar berbulu putih itu ditemukan, diberi nama Gohan dan tinggal bersama engineer senior yang baru saja pensiun.


Di bagian ini, childhood dari Gohan dikemas sangat menggemaskan melihat bonding antara Gohan dengan Hiro yang hangat. Kebersamaan mereka berdua terasa sangat harmonis sebagai sesama makhluk hidup. Elemen komedi yang ditampilkan pun kadarnya sangat lembut dan pasti related bagi penonton yang sama-sama memelihara seekor anjing seperti Pak Hiro. Menutup masa childhood Gohan, Atta Hemwadee berhasil menguras emosional penonton ketika Gohan "kembali" ke pelukan Pak Hiro. Keputusan besar yang dipilih Pak Hiro pun terasa realistis karena di masa-masa tua, seseorang pasti lebih memilih hidup damai dan tenang. Transisi menuju masa adulthood untuk Gohan dengan kepergian Pak Hiro akibat terpapar CoVid-19 seharusnya bisa lebih emosional lagi, namun ternyata sang sutradara terlihat sangat menahan diri agar di babak selanjutnya bisa bersinar lagi.


Plot kedua, film GOHAN (2026) menampilkan cerita yang cukup tragis dimana Gohan yang memasuki usia dewasa harus terperangkap ke penangkaran anjing liar dan dieksploitasi secara biadab oleh pelaku. Pada bagian ini, plot serta bonding Gohan dengan karakter Namcha lebih ke mode survival ditengah kejamnya dunia pada mereka berdua. Hopeless mereka berdua pun tampil sangat realistis karena nasib imigran ilegal ya memang seperti itu, tidak bisa mendapat perlindungan sepenuhnya dari negara yang ditempati. Klimaks haru dan menguras emosional kembali dihadirkan saat Namcha meninggalkan Brownie di kereta. Eksekusi dan dialog yang dihadirkan sangat sederhana tapi impactful banget ke hati. Otomatis yang nonton bakal nangis! Dijamin!!
Plot ketiga, film GOHAN (2026) menyajikan cerita Gohan memasuki usia Golden Age alias masa tua untuk seekor anjing. Dengan latar waktu hampir 10 tahun sejak pertemuan pertama dengan Pak Hiro, perubahan fisik sudah jelas terlihat dari Gohan. Kesetiaan seekor anjing yang bertahan hidup di peron stasiun menunggu Namcha lagi dan lagi membuatku menangis. Lewat film ini, aku semakin memahami kenapa manusia dan hewan anjing ini selalu memiliki ikatan yang sangat kuat. Plot semakin menarik saat Gohan menemui pasangan Jaidee dan Pele. Kebersamaan yang terjalin diantara mereka bertiga berjalan sangat mulus, sejak mereka masih sekolah, lulus, putus hubungan lalu kuliah hingga bekerja selalu menyempatkan waktu untuk menemui Gohan atau Hima. Tak sedikit adegan-adegan manis dan lucu yang terjadi diantara mereka bertiga. Setelah bersenang-senang, vonis kemungkinan 3 bulan yang tersisa untuk Hima jadi moment paling prestisius di babak akhir film. Selain memberikan kenangan indah bagi Hima, secara tidak langsung turut menciptakan CLBK antara Jaidee dan Pele. Di balik harapan agar Hima bisa hidup lebih panjang, tersimpan harapan untuk mereka tetap bersama. KOK KEPIKIRAN SAMPAI SEJAUH INI YAA TOLONG BANGEET!!! Emosional penonton benar-benar terombang-ambing melihat Jaidee, Pele dan juga Hima. Visualisasi mimpi dari Hima atau Gohan di "detik-detik" terakhirnya duh bikin nangis lagi!!!


Untuk jajaran pemain, apresiasi dan applause selama-lamanya untuk para aktor yang sudah luar biasa menghidupak setiap karakter di film GOHAN (2026) ini. GDH memang tidak pernah jelek kalau urusan ensemble casts. Semuanya memukau, termasuk ketiga anjing yaitu Kori, Meechok dan Hima. AKU TAKJUB MEREKA BISA BERAKTING DI DEPAN KAMERA!! Tatapan bahagia, tertawa, sedih hinga menangis nyampe banget ke penonton! Rasa sesak dan ingin menangis sejadi-jadinya kembali terulang setelah tahun 2024 lalu dengan sadis dilakukan oleh LAHN MAH (2024) yang sama-sama diproduksi GDH! GOHAN (2026) Easily my favourite movie of the year so far!


[9.5/10Bintang]

Friday, 20 March 2026

[Review] A Useful Ghost: Cerita Absurd Tentang Arwah Yang Merasuki Alat Elektronik!



#Description:
Title: A Useful Ghost (2026)
Casts: Davika Hoorne, Witsarut Himmarat, Apasiri Nitibhon, Wanlop Rungkumjad, Wisarut Homhuan, Gandhi​ Wasuvitchayagit, Ornanong Thaisriwong, Kritpahat Srimangkornkaew, Wachara Kanha
Director: Ratchapoom Boonbunchachoke
Studio: 185 Films, Haut Les Mains, Momo Films, Mayana Films, GDH 559


#Synopsis:
Sejak revitalisasi area mall menjadi lebih luas dengan mengorbankan taman dan lahan di sekitarnya, tak sedikit para warga mengeluhkan akan polusi dan debu yang mengotori tempat tinggal mereka. Tak hanya itu saja, polusi pembangunan area mall tersebut menyebabkan gangguan kesehatan seperti bersin-bersin hingga sesak nafas. Salah satu warga yang mengeluhkan hal ini yakni Academic Ladyboy (Wisarut Homhuan). Selain bikin kotor ruangannya, polusi dan debu juga membuatnya harus sering membersihkan seluruh ruangan setiap hari. Karena lelah, Ladyboy pun memutuskan untuk membeli Vacuum Cleaner di toko elektronik terdekat. Setelah mendapatkan Vacuum Cleaner dengan harga yang murah, ia langsung menggunakannya untuk membersihkan semua area rumah.
Saat malam hari ketika sedang istirahat, Ladyboy mendengar suara batuk-batuk di dalam rumah. Awalnya ia mengira jika suara tersebut berasal dari rumah sebelah atau orang yang ada di luar. Namun setelah mengecek dari jendela, ia tak menemukan apapun. Pagi harinya, Ladyboy menemukan semua debu dan kotoran berada di luar Vacuum Cleaner yang telah ia bersihkan kemarin. Hal tersebut membuatnya marah dan langsung menghubungi toko untuk claim garansi kerusakan. Siang harinya, teknisi dari toko bernama Krong (Wanlop Rungkumjad) datang ke rumah Ladyboy dan memeriksa Vacuum Cleaner tersebut. Setelah ia cek, Krong memastikan jika Vacuum Cleaner tidak ada kerusakan, namun hanya dirasuki oleh salah satu hantu yang berasal dari pabrik yang memproduksi Vacuum Cleaner tersebut. Krong kemudian menceritakan berbagai kejadian aneh yang menimpa pabrik dan juga keluarga pemiliknya.
Ibu Suman (Apasiri Nitibhon) pewaris pabrik milik mendiang suaminya merasa terganggu dengan arwah salah satu karyawannya yang bernama Tok (Krittin Thongmai) meninggal ketika sedang bekerja. Anehnya, arwah Tok itu merasuki alat-alat elektronik di pabrik sambil menyalahkan Ibu Suman serta lingkungan pabrik yang dinilai mempercepat kematiannya.
Di sisi lain, anak bungsu dari Ibu Suman yaitu March (Witsarut Himmarat) sedang berduka atas kematian istrinya, Nat (Davika Hoorne) yang sedang hamil karena gangguan pernafasan. Ibu Suman tetap memprioritaskan bisnis dan pabriknya agar lisensi operasionalnya tidak dicabut. Ibu Suman bersama ketiga anaknya kemudian datang ke pabrik bersama beberapa cenayang untuk melakukan pengusiran arwah yang masih saja bergentayangan di sana. Ketika para cenayang sedang berinteraksi dengan arwah Tok, March tak sengaja melihat arwah mendiang istrinya berjalan menuju gudang. March kemudian mengejarnya. Setelah itu, Nat tak terlihat. Ketika March akan pergi, sebuah Vacuum Cleaner berwarna merah tiba-tiba bergerak sendiri dan berkata jika ia adalah Nat. Mereka berdua kemudian melepas rindu dan bercumbu di sana. Ibu Suman dan yang lainnya terkejut saat memergoki March sedang disedot oleh Vacuum Cleaner penuh gairah. Gara-gara kejadian tersebut, keluarga memutuskan membawa March ke rumah sakit untuk dirawat. Malam harinya, arwah Nat yang masih berada dalam Vacuum Cleaner kemudian keluar dari pabrik dan pergi menuju rumah sakit untuk menemui March. Tiba di rumah sakit, March sangat senang bisa kembali melihat mendiang istrinya itu dan menemaninya selama dirawat di rumah sakit. Kemunculan arwah Nat yang merasuki Vacuum Cleaner dan dibiarkan menemani March membuat kerabat dan keluarga besar Ibu Suman resah hingga meminta Ibu Suman segera mengambil tindakan agar tidak semakin parah.
Keesokan harinya, Ibu Suman dan kerabatnya memanggil para biksu untuk mengusir arwah Nat serta menyita Vacuum Cleaner dan diserahkan ke polisi sebagai barang bukti curian. Namun sayang, rencana tersebut gagal dilakukan setelah mendapat anjuran dari seorang menteri yaitu Dr. Paul (Gandhi Wasuvitchayagit) yang mengatakan jika arwah Nat adalah arwah yang baik. Hal tersebut sudah dibuktikan saat Nat menolongnya ketika sedang di rumah sakit. Merasa frustasi, Ibu Suman kemudian membawa March ke psikiater untuk melakukan terapi electroshock. Hal tersebut sangat diyakini Ibu Suman akan merusak ingatan March dan jika berhasil, maka March akan lupa dengan mendiang istrinya, otomatis ikatan arwah antara Nat dengan March akan terputus dan Nat pun akan menghilang selamanya. Setelah melakukan terapi tersebut, Nat memang masih bisa masuk ke dalam mimpi suaminya. Namun sayang, wujudnya perlahan mulai memudar. Karena tak ingin melihat March yang terus-terusan terapi pengobatan, Nat mendatangi mimpi Ibu Suman dan meminta untuk menghentikannya. Mereka pun kemudian membuat kesepakatan baru yaitu Ibu Suman ingin Nat membantunya untuk mengusir arwah-arwah yang masih menghuni pabriknya agar bisa kembali beroperasional.
Setelah sepakat, Ibu Suman meminta semua karyawannya kembali ke pabrik untuk bekerja. Di sana, ia menyusun rencana untuk membius para karyawan dan Nat pun masuk satu persatu ke alam mimpi mereka dengan harapan bisa menemukan orang yang masih punya keterikatan dengan arwah Tok yang masih gentayangan di pabrik. Nat dan Ibu Suman kemudian menemui pacarnya Tok yaitu Pin (Wachara Kanha) yang ternyata masih belum mengikhlaskan kepergian pacarnya itu. Saat berbincang dengan Tok, rupanya Tok sedang mendatangi Pin dalam mimpi sambil mencumbunya. Setelah mengetahui hal tersebut, Ibu Suman langsung memberikan pilihan pada Pin untuk mengikuti terapi electroshock agar menghilangkan ingatannya akan Pin dan bisa kembali bekerja di pabrik atau dipecat jika menolaknya. Opsi tersebut membuat Pin sangat marah dan merasuki kulkas lalu menyerang Nat yang ada dalam Vacuum Cleaner. Setelah itu, Pin diamankan dan kini Nat mendapat reputasi sebagai hantu baik, sehingga ia dapat dilihat oleh semua orang.
Mengetahui Nat yang kini dikenal sebagai hantu baik dan sudah menyelamatkan bisnis pabrik mertuanya membuat Dr. Paul dan istrinya tertarik mengundang Ibu Suman, March dan Nat ke kediaman mereka. Tiba di sana, Nat terkejut karena Dr. Paul dikelilingi banyak arwah yang berkaitan dengan peristiwa pembantaian di tahun 2010. Dr. Paul meminta bantuan pada Nat untuk mengidentifikasi setiap individu dari para arwah agar ingatan mereka dapat dihapus dengan menggunakan pengobatan seperti March yaitu Electroshock. Karena sel telur yang dibekukan miliknya ditahan oleh Dr. Paul, Nat pun bersedia membantunya. Namun sayang, rencana yang Nat lakukan bersama Dr. Paul itu justru membuat sang suami kesal dan menganggap Nat telah berubah. March kemudian mencoba menjaga ingatan tentang para arwah yang dimusnahkan agar tetap hidup dengan cara mempelajari sejarah kekerasan politik yang terjadi di Thailand. Bagaimana akhir cerita dari pasutri beda alam ini?


#Review:
Tahun 2025 kemarin, Thailand resmi mengirimkan film A USEFUL GHOST (2025) sebagai perwakilan mengikuti seleksi masuk nominasi Best International Feature Academy Awards yang ke-98. Meskipun gagal, film yang menjadi debut bagi Ratchapoom Boonbunchachoke sebagai sutradara dan penulis film layar lebar ini, sukses memenangkan penghargaan bergengsi di festival film internasional seperti Cannes, Sitges dan JAFF Jogja 2025.


Untuk segi cerita, film A USEFUL GHOST (2025) memang sesuai dengan judulnya yaitu mengisahkan tentang sesosok hantu yang bermanfaat. Meskipun mengusung tema supranatural, film ini sama sekali tidak mengumbar adegan-adegan horror maupun jump scared. Sang sutradara lebih mendekatkan cerita fantasi yang terkesan absurd di awal film. Entah berasal dari mana, ide alat elektronik macam Vacuum Cleaner, mesin pabrik, AC portable hingga kulkas bisa kerasukan arwah. Mungkin untuk di Thailand, fenomena alat-alat elektronik kerasukan sudah biasa kali ya? Aku sih saat menonton film ini merasa aneh, konyol dan tertawa melihat Vacuum Cleaner kerasukan dan kemudian bercumbu dengan enaknya bersama seorang pria. Hahahaha. Plot film A USEFUL GHOST (2026) terbagi menjadi dua yaitu tentang si Ladyboy dengan petugas reparasi dan keluarga Ibu Suman pemilik pabrik yang memproduksi barang elektronik. Setengah durasi film, cerita berfokus kepada struggling Ibu Suman agar pabriknya bisa kembali beroperasi setelah izinnya dicabut gara-gara ulah arwah gentayangan yang mengganggu operasional pabrik wkwkw. Sisi dramatic kemudian dihadirkan dari cerita anak bungsu Ibu Suman yaitu March yang baru saja kehilangan istri dan calon anaknya. Ditengah duka yang menyelimuti itu, arwah sang istri yaitu Nat masih belum pergi meninggalkan dunia karena Nat belum merelakan kepergian istrinya itu. Konsep arwah merasuki Vacuum Cleaner kemudian menjalankan misi membantu manusia lalu mendapat predikat hantu baik, hingga akhirnya bisa berwujud normal benar-benar out of the box sekali sang sutradara hahaha. Plot antara si Ladyboy dan tukang reparasi pun awalnya aku kira hanya sebatas having fun saja tanpa ada kaitannya dengan cerita keluarga Ibu Suman. Namun siapa sangka, memasuki babak pertengahan hingga akhir film, A USEFUL GHOST (2026) rupanya banyak sekali menyoroti permasalahan politik dan pemerintahan yang memang terjadi di Thailand. Kritik sosial semakin tajam lewat narasi cerita tentang masalah polusi yang semakin tinggi di kota-kota besar Thailand yang sering diabaikan pemerintah. Selain itu, kritik pemerintahannya datang penghapusan sejarah kelam politik di masa lalu dengan memanfaatkan hantu baik yaitu Nat. Jangan dilupakan juga akhir cerita film yang benar-benar menyatukan semuanya dengan cara yang tak terduga!
Untuk jajaran pemain, tipikal film-film Thailand yang selalu konsisten bagus dan juga konyol secara bersamaan hahaha. Chemistry dan akting dari Davika Hoorne, Witsarut Himmarat dan Apasiri Nitibhon sangatlah memuaskan. Untuk urusan visual, satu hal yang paling menonjol yaitu kesan aesthetic, simetris dan statis bisa penonton rasakan di sepanjang film. Sinematografi dan pengambilan gambar nya memang kece banget! Jadi sangat deserve masuk nominasi Camera d'Or di Cannes yang ke-78 kemarin.
Overall, film A USEFUL GHOST (2025) sukses jadi sajian drama supernatural fantasi yang absurd dan konyol tapi anehnya aku bisa menikmati itu semuaa! Hahaha


[8/10Bintang]

Monday, 2 February 2026

[Review] The Voice of Hind Rajab: Cerita Tragis Seorang Anak Perempuan Ditengah Aksi Genosida Israel!

 


#Description:
Title: The Voice of Hind Rajab (2025)
Casts: Hind Rajab, Motaz Malhees, Saja Kilani, Amer Hlehel, Clara Khoury, Nesbat Serhan
Director: Kaouther Ben Hania
Studio: Mime Films, Tanit Film, Film4, MBC Studios, Plan B Entertainment, The Party Film Sales


#Synopsis:
29 Januari 2024, para relawan dan petugas di pusat bantuan Bulan Sabit Merah di Palestina sibuk dengan panggilan telepon masuk dari warga Gaza yang meminta bantuan. Salah satunya yaitu Omar (Motaz Malhees) yang menerima telepon dari seorang wanita yang terjebak ditengah genosida Israel di jalur Gaza. Namun sayang, saat Omar sedang berusaha berkoordinasi untuk mengirim ambulans kesana, terdengar jeritan penelepon dengan disertai suara tembakan dan akhirnya komunikasi terputus. Hal tersebut mengguncang perasaan Omar yang baru pertama kali mengalami kejadian seperti itu. Omar pun diminta leader nya yaitu Nisreen (Clara Khoury) untuk menenangkan diri dan meluapkan kesedihannya sejenak sebelum kembali bekerja.
Setelah menenangkan diri, Omar kembali ke mejanya dan lanjut bekerja. Saat pergantian shift dengan rekannya, Rana (Saja Kilani) ia menerima panggilan telepon dari seorang anak perempuan. Omar pun seperti biasa menanyakan identitas serta apa yang dibutuhkan. Namun telepon terputus. Tak lama setelah itu, Omar menerima kembali panggilan telepon dari seorang pria yang melaporkan jika keponakannya, Hind Rajab yang sedang berada di dalam mobil terjebak di dekat SPBU seorang diri. Pria tersebut kemudian memberikan nomor telepon saudaranya yang berada di mobil yang sama.
Omar kemudian menelepon nomor itu dan kembali tersambung dengan suara anak perempuan tadi. Selama percakapan, Hind Rajab yang punya nama panggilan Hanood itu meminta Omar dan yang lainnya untuk segera datang menolongnya. Ia ketakutan dan berkali-kali terdengar suara ledakan dan tembakan dari luar mobil. Omar semakin panik dan tak bisa menahan rasa sedihnya mendengar Hanood yang menangis sambil meminta bantuan. Rana kemudian ikut membantu Omar untuk menenangkan Hanood melalui telepon. Setelah itu, Omar mendatangi supervisor nya yaitu Mahdi (Amer Hlehel) untuk segera mengirimkan mobil ambulans untuk evakuasi Hanood.
Mahdi pun langsung berkoordinasi dengan berbagai departemen untuk menindaklanjuti laporan Omar tersebut. Setelah ditelusuri, Mahdi tidak bisa langsung begitu saja mengirim ambulans ke posisi Hanood karena jalur evakuasi tim medis ditutup. Ditambah lagi pasukan tentara Israel tak henti-hentinya melancarkan aksi genosida di sana dengan senjata dan juga tank perang. Omar kemudian berusaha mencari jalan alternatif dari jalur evakuasi. Ia pun menemukan sebuah jalan pintas menuju lokasi Hanood melalui peta yang berjarak hanya 8 menit dari posisi ambulans dan tim medis. Omar kembali mendatangi Mahdi untuk mengirim langsung ambulans via jalur alternatif. Namun Mahdi tak bisa main kirim ambulans kesana karena harus mengikuti prosedur dan perizinan dari berbagai departemen terkait dan juga keamanan personel tentara Palestina yang nanti ditugaskan.
Sementara itu, Rana yang masih berkomunikasi dengan Hanood via telepon berusaha menenangkannya agar tidak panik dan tetap bersembunyi. Ketika Rana menanyakan di mobil tersebut sedang bersama siapa saja, Hanood menjawab jika ia sendirian karena ketiga sepupu dan paman dan bibi nya sudah meninggal. Mendengar jawaban Hanood membuat Rana, Omar dan yang lainnya langsung menangis. Omar semakin marah pada Mahdi yang tidak bisa berbuat cepat untuk segera menolong Hanood. Suara tembakan dan tank yang sedang berjalan menghancurkan kendaraan dan bangunan semakin terdengar melalui telepon yang dipegang Hanood. Setelah mengetahui salah satu tentara Palestina adalah rekannya, Omar pun langsung menghubunginya dan meminta untuk segera menyelamatkan Hanood. Setelah mendapat izin, mobil ambulans kemudian berjalan menuju jalur alternatif dengan diarahkan oleh Mahdi. Dalam perjalanan itu, tentara Israel semakin agresif melancarkan tembakan dari senjata maupun tank perang milik mereka ke banyak titik. Di saat mobil ambulans tinggal sedikit lagi mencapai lokasi keberadaan mobil yang didalamnya ada Hanood, komunikasi terputus, begitu juga dengan Hanood. Tangisan pecah di Bulan Sabit Merah. Mereka gagal menyelamatkan Hind Rajab. Keesokan harinya setelah tentara Israel pergi, para relawan langsung menuju lokasi keberadaan mobil ambulans dan juga Hanood. Di sana, mereka menemukan kedua mobil tersebut sudah hancur penuh dengan bekas ratusan tembakan peluru. Hanood dan tim medis di ambulans yang berusaha menuju lokasi keberadaan Hanood ditemukan sudah meninggal dunia.


#Review:
Sejak bulan Oktober 2023 sampai hari ini, aksi genosida Israel semakin masif dilakukan di wilayah Palestina. Tak sedikit yang menyuarakan kecaman terhadap Israel dari berbagai kalangan. Namun hingga saat ini, Israel masih saja kekeuh dengan pendiriannya untuk menguasai Gaza dan juga Palestina. Emang negara biadab dan gak tau diri.


Aksi protes genosida Israel semakin intens disuarakan oleh para sineas film di seluruh dunia. Tercatat sudah ada beberapa film panjang, film pendek dan film dokumenter yang mengangkat cerita genosida Israel terhadap Palestina yang dirilis dari 2023 sampai hari ini. Jika tahun 2024 lalu dunia dihebohkan dengan film dokumenter NO OTHER LAND (2024) yang sukses memenangkan kategori Best Documentary Feature Film Academy Awards yang ke-97, di tahun 2025 kemarin, dunia kembali digemparkan dengan film asal Tunisia berjudul THE VOICE OF HIND RAJAB (2025). Film dengan format docudrama ini mengangkat cerita asli perjuangan petugas di Bulan Sabit Merah Palestina dalam upaya menyelamatkan nyawa seorang anak perempuan bernama Hind Rajab yang terjebak ditengah-tengah aksi biadab tentara Israel melalui panggilan telepon. Dengan bermodalkan suara rekaman asli Hind Rajab yang terjadi pada 29 Januari 2024 dan kemudian dikombinasikan dengan drama serta konflik batin petugas call center dalam menghadapi situasi menyayat hati tersebut. Durasi 89 menit berhasil dimaksimalkan dengan luar biasa oleh sang sutradara untuk menciptakan suasana ketegangan antara petugas call center Bulan Sabit Merah Palestina dengan para korban yang terjebak ditengah aksi genosida Israel. Setiap komunikasi telepon mendadak terputus, disitulah nyawa warga Palestina melayang. Selain itu, cerita film ini juga turut menyentil prosedur dan birokrasi dalam menjalankan tugas ternyata memang seribet itu. Meskipun dalam keadaan darurat, seharusnya birokrasi ribet itu sebaiknya bisa fleksibel deh. Asli, penonton ikutan dibuat greget terhadap karakter Mahdi, meskipun keputusannya mengikuti prosedur pun karena tugasnya seperti itu dan ia juga harus mengutamakan keselamatan tim medis yang harus menuju medan perang genosida yang dilakukan Israel.
Film THE VOICE OF HIND RAJAB (2025) kemudian ditutup dengan realita pahit sesuai dengan kejadian nyata. Rekaman otentik sebagai bukti kekejaman genosida Israel terhadap warga sipil yang tak berdosa terlihat dengan jelas. Mereka sengaja menembak dan menghancurkan mobil yang didalamnya ada Hind Rajab dan juga ambulans. Sinting!


[9/10Bintang]

Wednesday, 17 December 2025

[Review] It Was Just an Accident: Cerita Serba Tak Sengaja Yang Awalnya Berniat Untuk Balas Dendam!



#Description:
Title: It Was Just an Accident (2025)
Casts: Vahid Mobasseri, Mariam Afshari, Ebrahim Azizi, Hadis Pakbaten, Majid Panahi, Mohammad Ali Elyasmehr, Delnaz Najafi, Afssaneh Najmabadi, Georges Hashemzadeh
Director: Jafar Panahi
Studio: Jafar Panahi Productions, Arte France Cinema, Memento Distribution, NEON


#Synopsis:
Pada suatu malam, pasangan suami istri beserta anak perempuannya sedang dalam perjalanan menuju rumah dengan mengendarai mobil. Di tengah perjalanan mobil mereka mogok usai tak sengaja menabrak seekor anjing. Beruntung, mobil tersebut berhenti tak jauh dari sebuah bengkel yang sudah tutup. Karena tak mengerti soal mesin mobil, sang suami ditolong oleh seorang pengendara motor yang merupakan pekerja di bengkel tersebut.


Sambil menunggu mobilnya diperbaiki, sang istri dan anaknya masuk ke bengkel untuk izin ke toilet. Sementara itu, sang suami diminta untuk membawakan tool box yang ada di dalam bengkel. Ketika sedang mencari tool box tersebut, karyawan lain yang ada di sana yaitu Vahid (Vahid Mobasseri) mendengar suara langkah kaki palsu dari pria itu berkeliling bengkel. Suara tersebut langsung mengingatkan Vahid terhadap apa yang terjadi beberapa tahun silam saat dirinya disekap dan disiksa oleh petugas penjara gara-gara bertentangan dengan rezim pemerintahan di Iran. Dengan bermodalkan suara langkah dari kaki palsu, Vahid sangat yakin jika pria tersebut adalah Eqhbal (Ebrahim Azizi), petugas yang menyiksanya sambil matanya ditutup. Setelah selesai diperbaiki, pasangan suami istri dan anaknya langsung pulang menuju rumah mereka. Di belakang, diam-diam Vahid mengikuti mobil tersebut untuk memastikan tempat tinggal pria tadi.


Keesokan harinya, Vahid nekat membuntuti pria yang dianggapnya sebagai Eqhbal kemanapun dia pergi. Saat terlihat pria itu sendirian, Vahid langsung menculiknya dan membawa pergi jauh dari kota. Rupanya Vahid membawa pria tersebut ke gurun pasir dan akan menguburnya sebagai balas dendam atas apa yang terjadi di masa lalu. Namun pria tersebut mengaku tidak mengenal Vahid dan bukan orang yang dimaksud. Sambil berteriak, pria itu meyakinkan Vahid salah orang. Hal tersebut diperkuat dengan adanya luka lecet yang masih baru di bagian kaki yang diamputasi dan dijadwalkan untuk pemeriksaan ke dokter di hari itu. Vahid yang awalnya sangat yakin bahwa pria tersebut adalah Eghbal jadi ragu dan membawanya kembali dari liang kubur dan dimasukkan ke mobil van nya. Untuk memperkuat keyakinannya, Vahid mendatangi rekannya yang dahulu sama-sama ikut disekap oleh rezim pemerintah yaitu Salar (Georges Hashemzadeh) yang kini sudah hidup tenang dan membuka usaha toko buku.
Saat mengetahui Vahid menyekap seorang pria di mobil van nya membuat Salar terkejut. Ia tak ingin berurusan dan terlibat lagi dengan siapapun demi keamanan dirinya. Salar pun berusaha membujuk Vahid agar melepaskan pria itu jika meragukan identitasnya, namun Vahid menolaknya. Salar kemudian mengarahkan Vahid untuk bertemu rekannya, Shiva (Mariam Afshari) sesama penyintas dari aksi penyekapan dan dipercaya bisa mengenali petugas yang bernama Eghbal tersebut. Setibanya di sana, Shiva sedang disibukkan sebagai fotografer untuk calon pasutri yang akan segera menikah yaitu Goli (Hadis Pakbate) dan Ali (Majid Panahi). Awalnya Shiva menolak membantu Vahid karena harus membuka luka lama di masa lalu, namun karena Goli mendengar obrolan Shiva dengan Vahid, ia pun tersulut emosi karena Goli juga salah satu dari ratusan orang yang sempat disekap dan diancam oleh rezim pemerintah Iran. Ali pun terpaksa menuruti keinginan calon istrinya itu untuk menyelidiki sekaligus membuktikan jika pria yang disekap Vahid adalah Eqhbal. Saat mencium aroma tubuh dari pria tersebut, Shiva pun cukup yakin jika itu adalah Eqhbal, karena aromanya sangat mirip. Sebelum melakukan aksi balas dendam, Shiva ingin memastikan identitas pria tersebut dengan cara menginterogasinya. Jika benar itu adalah Eqhbal, ia sangat setuju dengan keputusan Vahid untuk menguburnya hidup-hidup.


Shiva kemudian mengajak Vahid, Goli dan Ali untuk menemui rekannya yang sesama penyintas penyekapan rezim pemerintah Iran yaitu Hamid (Mohammad Ali Elyasmehr) untuk mengabari jika Eqhbal sudah ditemukan. Shiva juga turut membeli obat bius untuk diberikan pada pria yang diduga Eqhbal tersebut agar bisa lebih lama mereka sekap di mobil van. Saat Hamid datang, ia langsung emosi dan ingin segera membunuh pria tersebut. Mobil van kemudian berhenti di area parkir sambil menentukan nasib si pria yang mereka sembunyikan di dalam peti. Di saat yang bersamaan, polisi yang berjaga di sana curiga dengan mobil van milik Vahid dan mendatanginya. Beruntung, mereka berhasil lolos setelah Ali memberikan uang sogokan agar polisi tersebut pergi.



Setelah itu, mereka berlima memutuskan untuk kembali ke gurun tempat dimana Vahid sudah menyiapkan liang kubur untuk pria yang diduga Eghbal. Dalam perjalanan menuju ke sana, telepon milik pria itu bergetar beberapa kali. Saat Vahid mengangkat telepon, terdengar suara tangisan anak perempuan yang meminta ayahnya cepat pulang karena ibunya pingsan. Awalnya Hamid curiga jika panggilan telepon tersebut jebakan dari polisi, namun Vahid, Shiva, Goli dan Ali akhirnya memutuskan datang ke rumah pria itu. Setibanya di sana, mereka langsung membawa istri dari pria itu yang tak sadarkan diri ke rumah sakit. Sang anak perempuan yaitu Nilufer (Delnaz Najafi) sangat berterima kasih pada Vahid dan yang lainnya karena sudah mengantar sang ibu yang hamil tua ke rumah sakit. Sementara itu, Hamid memutuskan pergi meninggalkan Vahid dan yang lainnya gara-gara menolong keluarga dari pria yang diduga Eghbal tersebut.


Setelah ibunya Nilufer melahirkan, Vahid, Shiva, Goli dan Ali mengumpulkan uang tunai untuk biaya persalinan sang ibu di rumah sakit. Setelah itu, Goli dan Ali memutuskan pergi meninggalkan Vahid dan Shiva karena esok hari mereka akan melangsungkan pernikahan. Setelah semuanya selesai, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan dan memutuskan apa yang akan dilakukan pada pria yang mereka sekap di mobil van.


#Review:
Sutradara senior asal Iran yang terkenal kontroversi yaitu Jafar Pahani kembali hadir dengan film terbarunya yang berjudul IT WAS JUST AN ACCIDENT (2025). Film ini berhasil memenangkan kategori puncak di Cannes International Film Festival ke-78 serta sukses masuk nominasi Best International Feature di Golden Globes 2026 dan dipastikan akan masuk nominasi juga di Academy Awards 2026 sebagai perwakilan dari Perancis.


Sepak terjang sutradara Jafar Panahi dengan film-filmnya selalu menjadi bahan perbincangan dan menimbulkan reaksi keras dari pemerintah Iran. Sang sutradara dianggap melakukan propaganda dan kritik terlalu keras terhadap sistem politik dan pemerintahan di sana. Gara-gara hal tersebut, film-filmnya selalu diboikot oleh negaranya sendiri hingga dikenakan sanksi larangan pembuatan film, skenario dan interview apapun selama 20 tahun lamanya. Namun dirinya tak pernah takut terhadap semua ancaman tersebut. Kontroversi dan karya-karya dari Jafar Panahi merupakan simbol perjuangan kebebasan dalam berekspresi. Bagi dunia internasional, ia bagaikan pahlawan yang berani menyuarakan berbagai keresahan di negaranya. Namun bagi pemerintah Iran, ia dianggap sebagai pembangkang dengan menggunakan media film sebagai senjata politik melawan pemerintahan.
Untuk segi cerita, film IT WAS JUST AN ACCIDENT (2025) mengeksplorasi multiple genre yaitu drama, kriminal, thriller kemudian dipadukan juga dengan komedi di dalamnya. Sebuah kombinasi genre yang awalnya terasa tricky, namun siapa sangka, Panahi berhasil memadukannya secara cerdas dan brilian. Paruh awal film, disuguhkan dengan cerita yang langsung engage dan meningkatkan rasa penasaran penonton. Dengan hanya bermodalkan suara langkah kaki saja, film ini berhasil menciptakan rasa trauma yang menghantui para karakter dan juga penontonnya. Setelah itu, plot berjalan semakin asyik dengan konsep semi roadtrip yang penuh kejutan tak terduga. Setiap moment yang dilalui kelima diiringi komedi sesuai situasi yang spontan tapi cerdas. Tak lupa juga, Panahi menyajikan kritik sosial seperti praktek sogokan, mendobrak larangan buka hijab untuk perempuan Iran hingga birokrasi berbelit. Semuanya tersaji dengan gamblang sesuai realita. Kejutan selanjutnya dihadirkan saat Panahi menyajikan potret empati dari keempat karakter saat menghadapi istri dan anak dari pria yang mereka culik. Memasuki babak akhir film, cerita kembali ke jalur thriller dengan eksekusi sederhana melalui dialog ketiga karakter namun intensitasnya sangat menegangkan. Sisi humanisme dalam diri manusia juga akhirnya dimunculkan dan memberikan pelajaran berharga pastinya kepada penonton.
Untuk jajaran pemain, kelima karakter utama di film IT WAS JUST AN ACCIDENT (2025) tampil sangat luar biasa dalam memerankan perannya masing-masing. Setiap dialog spontan dan keputusan yang mereka ambil sangatlah chaos, namun hal tersebut menjadikan penampilan mereka semua jadi realistis dan natural. Adegan long take saat mereka beradu pendapat di gurun pasir untuk menentukan langkah selanjutnya dieksekusi sangat memukau dengan didukung oleh dialog yang berbobot, kualitas akting para aktornya kemudian pergerakan kamera dan blocking pemainnya.
Overall, film IT WAS JUST AN ACCIDENT (2025) berhasil menyajikan kombinasi antara thriller, kriminal dan komedi dengan cara yang cerdas ditengah batasan dan aturan rezim pemerintah Iran terhadap sutradaranya. Salah satu film terbaik yang aku tonton di tahun ini! Memukau!


[9.5/10Bintang]

Monday, 3 February 2025

[Review] Dark Nuns: Perjuangan Dua Biarawati Melakukan Ritual Eksorisme Terhadap Iblis Gamigin!

 
 
#Description:
Title: The Priests 2: Dark Nuns (2025)
Casts: Song Hye-Kyo, Jeon Yeo-Been, Lee Jin-Uk, Moon Woo-Jin, Huh Joon-Ho, Kim Kuk-Hee, Shin Jae-Hwi, Gang Dong-Won
Director: Kwon Hyeok-jae
Studio: Zip Cinema, Next Entertainment World, CBI Pictures
 
 
#Synopsis:
Seorang remaja laki-laki bernama Hee-Jun (Moon Woo-Jin) mengalami kerasukan iblis jahat dan saat ini dirawat secara intensif dalam pengawasan rumah sakit yang ada di lingkungan gereja. Selama mendapat perawatan di rumah sakit, kondisi kesehatan dan mental dari Hee-Jun dipantau oleh psikolog sekaligus pendeta gereja yaitu Father Paul (Lee Jin-Uk) yang meyakini jika pasiennya tersebut dapat disembuhkan secara medis.
Kabar mengenai Hee-Jun yang mengalami kerasukan dan tak kunjung sembuh membuat seorang biarawati bernama Sister Junia (Song Hye-Kyo) khawatir. Ia pun mengajukan diri pada gereja untuk membantu Father Paul untuk melakukan ritual eksorsisme pada Hee-Jun. Namun sayang, rencana Junia tersebut mendapat penolakan dari pimpinan gereja yaitu Father Andrea (Huh Joon-Ho) lantaran proses eksorsisme harus dilakukan oleh pendeta dan sudah mendapat izin secara resmi dari Vatikan. Junia khawatir akan keselamatan Hee-Jun jika eksorsisme tak segera dilakukan.
Junia kemudian mengajak asisten dari Paul yaitu Sister Mikhaela (Jeon Yeo-Been) untuk membantunya menyusun rencana proses eksorsisme kepada Hee-Jun. Selama proses persiapan tersebut, Junia dan Mikhaela menemukan banyak sekali hal-hal mistis mereka rasakan, termasuk bayang-bayang masa lalu kembali menghantui mereka. Karena tak kunjung mendapat izin dari gereja, Junia dan Mikhaela mendatangi rekan mereka yaitu Hyo-Won (Kim Kuk-Hee) yang berprofesi sebagai cenayang. Dengan dibantu asistennya yaitu Ae-Dong (Shin Jae-Hwi), mereka berempat melakukan ritual pengusiran setan secara tradisional. Setelah melakukan ritual tersebut, Junia dan Mikhaela akhirnya mengetahui sosok iblis yang menguasai tubuh Hee-Jun ternyata 12 manifestasi yang sangat sulit dilepaskan. Sosok iblis tersebut tak hanya mengancam nyawa Hee-Jun, namun turut mengincar nyawa dari Junia, Mikhaela dan seluruh umat manusia. Junia dan Mikhaela harus segera melakukan eksorsisme sebelum semuanya terlambat.
Pihak gereja beserta Paul akhirnya mengizinkan Junia dan Mikhaela untuk melakukan eksorsisme pada Hee-Jun setelah melihat secara langsung kejadian sebenarnya. Junia dan Mikhaela kemudian membawa Hee-Jun ke tempat pertama kali ia mengalami kerasukan yaitu sebuah pabrik terbengkalai. Setibanya disana, Hee-Jun langsung diikat untuk menjalani eksorsisme. Berhasilkan Junia melenyapkan iblis 12 manifestasi dalam diri Hee-Jun?
 
 
#Review:
Mengawali tahun 2025, industri perfilman Korea Selatan dimeriahkan dengan hadirnya film thriller horror terbaru berjudul DARK NUNS (2025). Film ini dibintangi salah satu aktris besar Korea Selatan yaitu Song Hye-Kyo yang semakin populer berkat Drakor DESCENDANTS OF THE SUN (2016) dan yang terbaru, THE GLORY (2022).
 

Untuk segi cerita, film DARK NUNS (2025) sendiri merupakan stand-alone sekuel sekaligus spin-off dari film THE PRIESTS (2015) yang dibintangi Gang Dong-Won. Kedua film ini menurutku cukup berhasil menawarkan hal baru untuk genre horror di industri sinema Korea Selatan maupun Asia, karena mengangkat tema eksorsisme dan agama kristen katolik yang terbilang jarang dieksplorasi oleh para sineas di benua Asia. Plot film DARK NUNS (2025) ini mengisahkan tentang upaya eksorsisme yang dilakukan oleh seorang biarawati. Dari premis tersebut, dikembangkan menjadi sebuah plot yang cukup menarik tentang betapa ribetnya birokrasi dalam ruang lingkup gereja ketika menghadapi kasus eksorsisme yang harus dilakukan oleh pendeta. Selain itu, birokrasi yang ribet tersebut secara tidak langsung menampilkan budaya patriarki yang sangat dominan. Karakter Sister Junia dihadirkan sebagai biarawati yang selalu mendobrak aturan baku gereja dan melangkahi setiap ketetapan yang sudah diberlakukan. Setiap tindakan, gaya bahasa, perilaku, gesture dan ambisinya untuk secepat mungkin menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi terasa believable. Sister Junia dan rekannya, Sister Mikhaela pun selalu menampilkan sisi manusiawi nya seperti berbicara kasar, merokok, ketakutan dan hal-hal lainnya yang mengisyaratkan jika biarawati juga adalah manusia yang tak luput dari kesalahan dan dosa. Namun sayang, dibalik pendalaman masing-masing karakter yang sudah bagus ini, terasa cukup membosankan saat film memasuki babak pertengahan. Banyak sekali adegan yang cukup kompleks yang sangat minim adegan-adegan horror. Sang sutradara lebih menonjolkan atmosfer mencekam, hening dan adegan-adegan metafora yang pastinya mengingatkan penonton terhadap film-film horror dengan gaya art-house. Untungnya, saat film memasuki babak ketiga, klimaks cerita tentang eksorsisme dieksekusi sangat memuaskan! Tahapan demi tahapan yang dilakukan oleh dua biarawati yang bekerja sama dengan orang ketiga sungguh menegangkan. Situasi mencekam, penuh ancaman, intimidasi dan kengerian tersampaikan dengan maksimal kepada penonton. Tak dilupakan juga moment dramatis yang menghentak khas film atau Drakor pun bisa dirasakan dalam film ini.
Untuk jajaran pemain, penampilan Mama Song Hye-Kyo dan yang lainnya sudah berada di level yang memuaskan. Rasa optimis, gelisah, panik dan ketakutan yang dialami oleh Junia, Mikhaela terasa real dan tidak lebay. Selain jajaran aktor senior yang memukau, penampilan aktor muda Moon Woo-Jin yang mengalami kerasukan juga tak kalah memukau. Transformasi perubahan gesture, suara dengan dukungan tata riasnya sukses membuat siapapun yang melihatnya ketakutan. Gokil!
Overall, film DARK NUNS (2025) sangat layak ditonton. Effort Song Hye-Kyo sebagai biarawati dan para pemain lainnya sungguh luar biasa!
 
 
[8/10Bintang]

Friday, 10 January 2025

[Review] Hear Me Our Summer: Drama Cinta Manis Dari Teman Tuli!



#Description:
Title: Hear Me: Our Summer (2024)
Casts: Hong Kyung, Roh Yoon-Seo, Kim Min-Ju, Jung Yong-Ju, Jeong Hye-Young, Hyun Bong-Sik, Ah Min-Young, Jo Deok-Hyeon
Director: Cho Sun-Ho
Studio: Movie Rock, Another Pictures, Plus M Entertainment, MovieCloud, GaragePlay, CBI Pictures


#Synopsis:
Setelah lulus kuliah, Yong-Jun (Hong Kyung) merasa bingung dalam menentukan arah hidup. Ia tidak tertarik untuk bekerja kantoran ataupun menjadi pegawai negeri sipil seperti kebanyakan orang. Untuk mengisi waktu luang sebagai pengangguran, Yong-Jun memilih untuk membantu sebagai pengantar makanan di restoran milik ibu dan ayahnya.
Suatu hari, Yong-Jun diminta sang ibu untuk mengantarkan pesanan makan siang ke tempat latihan para atlet renang yang sedang berlatih untuk seleksi olimpiade. Setibanya di kolam renang, Yung-Jun dibuat terpesona saat melihat seorang perempuan muda yang sibuk melatih dan mengawasi para atlet disana. Setelah selesai mengantarkan makanan, Yung-Jun yang penasaran kemudian menanyakan perempuan tadi kepada salah satu atlet yang sedang latihan berenang. Tak disangka, atlet yang ia tanya adalah adik dari perempuan tadi yaitu Seo Ga-Eul (Kim Min-Ju) yang merupakan seorang tuna wicara dan tuna rungu. Yung-Jun berusaha meminta nomor telepon Seo Yeo-Reum (Roh Yoon-Seo) kepada Seo Ga-Eul, namun ia tak memberikannya. Seo Ga-Eul meminta Yung-Jun sendiri yang mendatangi langsung kakaknya untuk meminta nomor telepon sekaligus berkenalan dengan kakaknya itu.
Keesokan harinya, Yong-Jun jadi makin semangat untuk mengantarkan makanan tanpa diminta oleh orangtuanya. Hingga suatu ketika, ia tak sengaja bertemu kembali dengan Seo Yeo-Reum yang motornya bermasalah dan mogok. Yong-Jun pun langsung menawarkan bantuan untuk memperbaiki motor milik Seo Yeo-Reum. Karena terlihat sedang buru-buru, Seo Yeo-Reum pun diberi pinjam motor milik Yong-Jun untuk dipakai selama motornya diperbaiki. Keduanya pun bertukar nomor telepon agar bisa saling mengabari jika motor yang bermasalah tadi sudah kembali normal.
Yong-Jun pun langsung pulang dan membawa motor milik Seo Yeo-Reum ke bengkel milik kerabatnya, Jae-Jin (Ju Yong-Ju). Keduanya langsung memperbaiki motor Seo Yeo-Reum dan berharap bisa selesai dengan cepat. Setelah itu, Yong-Jun juga tak lupa mencuci motor sampai bersih dan kinclong agar Seo Yeo-Reum terpesona saat melihat motornya nanti. Namun ditengah rasa tak sabarnya untuk segera mengembalikan motor, Yong-Jun dibuat khawatir dan putus asa gara-gara chat dan teleponnya tak pernah direspon oleh Seo Yeo-Reum. Sekalinya dibalas, hanya memberitahukan perihal tentang pengembalian motor mereka masing-masing saja.
Esok hari pun tiba. Yung-Jun dan Seo Yeo-Reum janjian untuk bertemu di tempat pertama kali mereka berkenalan. Saat melihat motornya sudah selesai diperbaiki dan kondisinya sangat bersih membuat Seo Yeo-Reum terkejut. Ia sangat berterima kasih pada Yung-Jun karena sudah membantunya dan memberikan uang kepada Yung-Jun sebagai imbalan. Namun Yung-Jun menolaknya dengan alasan ia ikhlas membantu Seo Yeo-Reum. Yung-Jun hanya ingin berteman dan berkenalan lebih dekat dengannya.
Hari demi hari terus berlalu, Yung-Jun dan Seo Yeo-Reum semakin rutin bertemu. Sesekali keduanya sering menghabiskan waktu bersama ditengah kesibukan Seo Yeo-Reum mengurusi segala keperluan sang adik yang dipersiapkan untuk mengikuti seleksi olimpiade. Ditengah keterbatasan dalam mendengar dan berbicara, tak menghalangi mereka berdua untuk berkomunikasi. Yung-Jun pun berinisiatif mengajak Seo Yeo-Reum dan Seo Ga-Eul melepas penat mereka di club malam setelah mereka berdua mendapat perlakuan diskriminatif saat latihan di kolam renang. Usaha yang dilakukan Yung-Jun pun tak sia-sia. Seo Yeo-Reum beserta adiknya sangat senang dan berterima kasih karena sudah diajak bersenang-senang dengan cara yang sederhana.
Keesokan harinya, Yung-Jun mengajak Seo Yeo-Reum untuk makan siang bersama sambil jalan-jalan di pinggir danau. Mendengar hal tersebut membuat Seo Ga-Eul senang. Ia memaksa sang kakak untuk menerima ajakan kencan Yung-Jun karena selama ini Seo Ga-Eul tak pernah melihat kakaknya meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Mereka berdua kemudian bertemu dan menghabiskan waktu bersama hingga malam hari. Dalam perjalanan pulang, Seo Yeo-Reum terkejut saat mendapat pesan dari tetangga di apartemennya yang memberitahukan jika Seo Ga-Eul dilarikan ke rumah sakit karena sesak nafas akibat kebakaran di lantai bawah apartemen mereka. Seo Yeo-Reum langsung lari ke ke rumah sakit untuk mencari adiknya dan meninggalkan Yung-Jun tanpa sepatah kata apapun.
Setibanya di rumah sakit, Seo Reo-Yeum merasa sedih sekaligus menyesal karena telah meninggalkan adiknya. Ia sangat khawatir dengan kondisi kesehatan sang adik yang takutnya bisa berimbas pada persiapan mereka menuju seleksi olimpiade. Seo Reo-Yeum kemudian memutuskan untuk lebih fokus dan meluangkan waktu lebih banyak lagi untuk sang adik ketimbang ia bersenang-senang dengan Yung-Jun. Keputusan tersebut dibarengi dengan Seo Reo-Yeum yang tak lagi merespon dan menghindari segala hal yang berkaitan dengan Yung-Jun.
Perubahan sikap dari Seo Reo-Yeum tersebut membuat Yung-Jun bertanya-tanya. Setiap dirinya berusaha untuk bertemu dan meminta penjelasan, Seo Reo-Yeum selalu menghindarinya. Yung-Jun pun menjadi galau dan berimbas kepada semua aktivitas sehari-harinya yang tak lagi penuh semangat seperti biasa. Disisi lain, setelah dirawat di rumah sakit akibat gangguan pernafasan, Seo Ga-Eul pun menyadari tentang sikap kakaknya yang selama ini sudah terlalu banyak berkorban demi dirinya. Seo Ga-Eul merasa sungkan dan bersalah gara-gara dirinya lah, sang kakak jadi kehilangan banyak waktu, tenaga dan banyak hal demi mewujudkan impian dirinya menjadi seorang atlet renang. Setelah Seo Ga-Eul mengungkapkan perasaannya yang sudah lama ia pendam terhadap kakaknya, Seo Reo-Yeum pun akhirnya tersadar dengan isi hati sang adik beserta nasihat dari orangtua mereka. Bagaimana nasib selanjutnya dari hubungan antara Seo Reo-Yeum dan Yong-Jun?


#Review:
Awal tahun 2025, rumah produksi dan distributor CBI Pictures mendatangkan film drama terbaru dari Korea Selatan berjudul HEAR ME: OUR SUMMER (2024). Film ini merupakan remake dari film asal Taiwan berjudul HEAR ME (2009) yang mencetak box office hit saat penayangan di bioskop sana. Tanpa membaca sinopsis, melihat trailer dan menggali informasi mendalam sebelum menonton versi Korea Selatan nya, ternyata film ini tampil sangat manis, sederhana, penuh makna dan menghangatkan banget.


Untuk segi cerita, film HEAR ME: OUR SUMMER (2024) hadir dengan mengambil dua plot utama tentang drama percintaan dan juga hubungan kakak beradik. Elemen drama romantis hadir lewat dua karakter dengan cara yang sederhana. Siapapun pasti pernah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Usaha yang dilakukan oleh karakter Yong-Jun untuk bisa mengenal lebih dekat perempuan idamannya yang memiliki senyuman manis tersebut terasa pas, sat-set dan tidak bertele-tele. Semua hal yang ia lakukan masih reasonable. Yang menjadi daya tarik dari film ini yaitu penggunaan bahasa isyarat sebagai dialog diantara ketiga karakter utama. Jika biasanya menonton film yang karakternya tuna rungu atau tuna wicara mayoritas selalu mengumbar kesedihan dan keterbatasan, di film ini justru kebalikannya. Dua kakak beradik perempuan yang memiliki keterbatasan itu tak menghalangi mereka untuk menjalani hidup seperti biasa. Menariknya, mereka juga mendapat pengembangan cerita tentang mengejar cita-cita menjadi atlet renang, meskipun perlakuan diskriminatif kerap dialami oleh keduanya. Selain itu, hubungan kakak beradik perempuan dalam film ini juga terasa makin personal lewat effort yang selama ini dilakukan sang kakak demi adik kesayangannya itu. Elemen romantis yang terjalin diantara Yung-Jun dan Seo Yeo-Reum pun dikemas sangat sederhana namun tetap memancarkan kesan manis sekaligus hangat. Tak boleh dilupakan juga kejutan manis yang sengaja banget disimpan di akhir film. Cukup unpredictable! Hahaha.
Untuk jajaran pemain, sudah jelas Hong Kyung dan Roh Yoon-Seo tampil gemilang di film HEAR ME: OUR SUMMER (2024) ini. Keduanya sangat effortless saat berdialog menggunakan bahasa isyarat. Pesona dan aura positif dari mereka bisa dirasakan dengan maksimal oleh penonton. Untuk urusan visual, treatment khas film-film drama Korea Selatan nya memang sangat menonjol. Sinematografi dan teknik pengambilan gambarnya berhasil menangkap kondisi pinggiran kota di Korea Selatan saat sedang musim panas. Iringan musiknya pun terdengar indah dan tak berlebihan sama sekali.
Overall, film HEAR ME: OUR SUMMER (2024) bakal masuk list film drama Korea Selatan yang tidak akan bosan untuk ditonton berkali-kali. Manis dan menghangatkan!


[8.5/10Bintang]

Thursday, 7 November 2024

[Review] The Paradise of Thorns: Drama Menegangkan Rebutan Warisan Kebun Durian!




#Description:
Title: The Paradise of Thorns (2024)
Casts: Jeff Satur, Engfa Waraha, Seeda Puapimon, Harit Buayoi, Pongsakorn Mettarikanon, Nikorn Saetang, Sirin Wannavalee
Director: Boss Naruebet Kuno
Studio: GDH, Jor Kwang Films, Klik Film


#Synopsis:
Setelah bertahun-tahun mengelola kebun durian yang cukup luas, akhirnya sepasang kekasih Seksan (Pongsakorn Mettarikanon) dan Thongkam (Jeff Satur) bisa melihat secara langsung beberapa pohon yang mereka tanam mulai berbuah. Hampir setiap hari dan dari dini hari keduanya sudah terbangun untuk merawat semua pohon di kebun durian, mulai dari memberi pupuk, menyiram semua pohon dan menyemprot pestisida agar pohon-pohon durian mereka terbebas dari hama yang mengganggu.
Sebelum panen, Seksan juga akhirnya bisa melunasi cicilan tanah perkebunan dengan bantuan dana dari Thongkam. Keduanya sepakat setelah tanah perkebunan sepenuhnya milik Seksan dan panen durian selesai, mereka akan melangsungkan pernikahan. Seksan dan Thongkam ingin hidup bahagia bersama secara resmi sambil mengelola perekebunan durian.



Suatu malam, Seksan dan Thongkam melakukan rutinitasnya untuk mengecek beberapa pohon durian yang baru saja berbuah. Namun kali ini, Seksan mengecek naik ke atas pohon sendirian tanpa bantuan Thongkam karena mereka memutuskan untuk berpencar. Rencana tersebut rupanya membawa petaka bagi Seksan. Ia terpeleset dan terjatuh dari ketinggian. Kepalanya terbentur ke batang pohon yang menyebabkan luka berdarah sampai pingsan. Thongkam dibuat panik dan langsung membawa Seksan ke rumah sakit. Setibanya disana, Seksan langsung mendapat perawatan darurat dan harus segera dioperasi. Pihak rumah sakit hanya bisa melakukan operasi jika pihak keluarga Seksan mengizinkannya. Meskipun Thongkam memaksa dirinya untuk menjadi perwakilan keluarga Seksan namun pihak rumah sakit tidak mengizinkannya karena Thongkam hanya sebatas partner atau pacar saja, bukan dari anggota keluarga. Thongkam pun langsung menghubungi ibu dari Seksan yaitu Saeng (Seeda Puapimon) untuk segera datang ke rumah sakit dan menandatangani surat perizinan operasi Seksan.


Mendengar anaknya masuk rumah sakit, Ibu Saeng panik. Ia yang tidak bisa berjalan, meminta kerabatnya, Mo Jongyoi (Engfa Waraha) untuk mengantarkan ke rumah sakit. Dalam perjalanan dari desa menuju kota, motor yang mereka kendarai malah tergelincir. Akibatnya, keduanya terjatuh dan pingsan. Sementara itu, Thongkam semakin panik saat mengetahui kondisi pacarnya terus menurun. Tak lama setelah itu, dokter menyatakan jika Seksan sudah tiada.
Kematian Seksan membuat Thongkam sangat sedih. Duka pun dirasakan oleh Ibu Saeng. Ia belum bisa menerima kenyataan jika anak satu-satunya itu kini sudah tiada. Karena terus bersedih, Mo meminta izin untuk sementara waktu Ibu Saeng tinggal di rumah Seksan yang berdekatan dengan kebun durian. Thongkam pun menyetujuinya dan berjanji akan membantu keluarga Seksan selama tinggal bersama disana.



Tiba di rumah, Ibu Saeng langsung mengenang masa kecil dari Seksan. Thongkam pun memberikan beberapa pakaian milik Seksan kepada ibunya untuk melepas kerinduan. Tak lama setelah itu, Ibu Saeng langsung mempertanyakan perihal tanah, kebun dan rumah yang selama ini ditempati Seksan dan juga Thongkam. Thongkam pun berkata jujur, jika tanah dan kebun sudah sepenuhnya milik Seksan, karena semua cicilan sudah dilunasi bersama dengannya. Mendengar hal tersebut membuat Ibu Saeng senang. Ia meminta Mo untuk segera mengurus penggantian nama akte kepemilikan tanah menjadi miliknya.
Melihat apa yang dilakukan Ibu Seeda dan juga Mo membuat Thongkam terkejut. Pasalnya, tanah dan kebun durian tersebut dikelola bersama. Bahkan Thongkam yang membantu melunasi sisa cicilan agar Seksan bisa mendapatkan haknya lebih cepat. Namun sayang, semua pembelaan Thongkam tersebut terancam sia-sia karena di mata hukum, hanya pihak keluarga saja yang berhak menerima warisan peninggalan dari Seksan. Sementara itu, Thongkam hanya sebatas partner saja dan belum secara resmi menikah juga dengan Seksan.



Meskipun lemah di mata hukum, Thongkam tetap memperjuangkan haknya sebagai partner bisnis sekaligus pacar dari Seksan yang selama ini sudah berkontribusi besar terhadap kebun durian. Di saat yang bersamaan, diam-diam Mo juga menyusun rencana agar kebagian dari warisan tersebut. Mo beralasan jika ia sudah belasan tahun merawat Ibu Saeng selama Seksan pergi meninggalkan rumah dan membesarkan kebun durian. Mo pun meminta kepada Ibu Saeng untuk secepatnya mengusir Thongkam agar warisan tak jatuh kepadanya. Ibu Saeng juga ternyata menyusun rencana. Sebelum mengusir Thongkam, ia meminta Mo untuk mengajak adiknya, Jingna (Harit Buayoi) bekerja serta mempelajari semua ilmu tentang merawat kebun durian. Setelah Jingna menguasainya, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk mengusir Thongkam.



Thongkam pun tak tinggal diam. Ia juga menyusun berbagai rencana untuk menggagalkan semua rencana yang sudah disusun oleh keluarga Ibu Saeng. Siapakah yang pada akhirnya menerima warisan tanah dan kebun durian milik Seksan?


#Review:
Rumah produksi asal Thailand yaitu GDH kembali hadir di semester akhir tahun 2024 dengan film terbarunya yang berjudul THE PARADISE OF THORNS (2024). Saat film ini tayang terbatas di Jakarta World Cinema Week bulan September lalu, respon dari para penonton ternyata sangat positif. Setelah satu bulan, akhirnya film ini tayang secara reguler di bioskop Indonesia mulai Rabu, 6 November 2024.


Untuk segi cerita, film THE PARADISE OF THORNS (2024) hadir dengan premis sederhana tentang rebutan harta warisan. Namun dibalik premis simple tersebut, tersimpan plot sangat menarik dan pendalaman masing-masing karakter yang luar biasa. Drama percintaan antara Thongkam dengan Seksan bukanlah hal yang tabu di Thailand. Lewat film ini, sang sutradara dan tim penulis skenario sedikit menyinggung kejelasan status hukum perihal harta warisan yang dikelola oleh pasangan LGBT. Penonton pun pastinya akan terbagi menjadi dua kubu, antara team Thongkam dan team keluarga Seksan. Jika berdasarkan hukum yang berlaku, harta warisan memang diberikan kepada pihak keluarga. Namun pada kasus ini, Thongkam pun memang berhak juga menerimanya, lantaran kebun durian tersebut dikelola bersama selama bertahun-tahun.


Seiring berjalannya durasi film, kedua kubu yang rebutan warisan ini masing-masing mulai memperlihatkan sifat manusia yang sesungguhnya. Mereka terpaksa menghalalkan segala cara agar bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Penonton kembali dibuat bingung dan juga trust issue untuk berpihak kepada siapa, karena masing-masing karakter memiliki kekurangan serta kelebihannya masing-masing. Karakter Thongkam meskipun terlihat sebagai pembawa sial bagi setiap pasangannya, namun menurutku justru sosok Thongkam lah tidak jahat di film ini. Andai saja pihak keluarga tidak mengusik dan meributkan soal warisan, pasti Thongkam akan menerima dengan baik keluarga dari pacarnya tersebut. Motivasi Thongkam ingin warisan juga lebih believable karena memperjuangkan haknya. Tidak seperti keluarga Seksan yang tiba-tiba datang dan seolah paling deserved untuk warisan tersebut. Hal tersebut bisa penonton rasakan dari gesture serta dialog-dialog dari Ibu Seeda dan Mo yang terlalu ambisius serta banyak rencana-rencana terselubung. Dinamika pendalaman karakter di film THE PARADISE OF THORNS (2024) ini sungguh luar biasa! Jangan lupakan juga pemilihan ending cerita yang sangat-sangat mengejutkan! Kenapa harus mengarah ke subgenre itu sih. Gila! Hahaha.


Untuk jajaran pemain, penampilan Jeff Staur yang sebelumnya sukses mencuri perhatian lewat serial KINNPORSCHE tampil gemilang sebagai Thongkam di film ini. Build up chemistry dengan lawan mainnya terlihat lepas tanpa beban sama sekali. Moment-moment sedihnya pun meskipun hanya sekilas tapi bisa tersampaikan dengan baik pada penonton. Penampilan Engfa Waraha dan aktris senior Seeda Puapimon juga berhasil bikin penonton jengkel kepada mereka. Suspect banget pokoknya! Hahaha.
Untuk urusan visual, film THE PARADISE OF THORNS (2024) punya sinematografi yang sangat cantik! Suasana kebon durian yang sangat jauh dari perkotaan terasa lebih fresh berkat sisi teknis serta artistiknya yang jempolan. Untuk urusan tata audio, film ini juga gak kalah bagusnya dengan film-film GDH lainnya. Siapa sangka, setiap moment sengit yang ada diiringi dengan scoring bikin adrenaline semakin meningkat. Level ketegangannya benar-benar sudah setara dengan film BAD GENIUS (2017)!
Overall, film THE PARADISE OF THORNS (2024) akan masuk jadi salah satu film paling mengesankan yang aku tonton di tahun ini. Klasifikasi rating D21+ dari LSF memang pas dan tanpa dipotong sedikitpun!


[9/10Bintang]