Showing posts with label Komedi. Show all posts
Showing posts with label Komedi. Show all posts

Sunday, 12 July 2026

[Review] Foufo: Ketika Alien Pink Hijau Tak Sengaja Muncul Di Tanah Madura & Menggegerkan Satu Keluarga!

 





#Description:
Title: Foufo (2026)
Casts: Tretan Muslim, Ade Bibier Kurniawan, Hari Otang, Fuad Sasmita, Anggun Dwi, Siti Kamariyah, Mieke Shahir, Sangat Mahendra, Rifqi Abdillah, Ina Pogang, Kiano Shaqeel, Habib Husein Jafar, Bambang Ceper, Karina Afandi, Atalazuardy Cheanno, Tina, Benedictus Siregar, Bayu Skak, Indra Pramujito
Director: Bayu Skak
Studio: Skak Studios, Sinemart, Legacy Pictures


#Synopsis:
Menjelang musim pemberangkatan jemaah haji, Muslim (Tretan Muslim) memutuskan untuk mengajukan pinjaman dana ke bank demi melunasi sisa biaya ibadah haji sang ibu, Saiqonnah (Siti Kamariyah). Setelah menanti antrean panjang selama 15 tahun, tahun ini sang ibu akhirnya mendapat kuota untuk berangkat. Namun, dua petugas bank, Joko (Bayu Skak) dan Cokro (Benedictus Siregar), ragu menyetujui pinjaman tersebut saat datang meriset rumah Muslim. Pasalnya, Muslim hanya bekerja sebagai pengepul barang rongsokan. Situasi finansial rumah tangga mereka makin rumit karena Muslim dan ibunya masih tinggal satu atap bersama dua adiknya yang sudah berkeluarga. Adiknya, Ipul (Fuad Sasmita), hanyalah seorang guru honorer. Istri Ipul, Siti (Anggun Dwi Lestari), sedang mengandung anak kedua adik dari anak pertama mereka, Mustofa (Rifqi Abdillah). Sementara itu, adik perempuan Muslim, Nur (Mieke Shahir), berjualan jus buah di depan rumah demi membiayai anaknya, Aqeela (Ina Pogang), sekaligus membeli obat untuk suaminya, Latif (Sangat Mahendra), yang sudah lama mengidap TBC. Muslim sangat berharap pinjaman bank tersebut bisa cair agar ibunya dapat menunaikan rukun Islam kelima dan tidak lagi menjadi bahan ejekan tetangga.
Namun, kabar dari pihak bank tak kunjung datang padahal tenggat pembayaran sudah makin dekat. Jika terlambat disetorkan ke pengelola ibadah haji, kuota sang ibu akan dialihkan ke calon jemaah lain. Terdesak oleh keadaan, Muslim dan Ipul terpaksa tergiur ajakan tetangga mereka, Kacong (Hari Otong), untuk mencuri dan memotong besi rel kereta yang sudah tak aktif pada malam hari. Saat tiba di lokasi, nurani Muslim membuat dirinya memilih mundur karena sadar aksi tersebut adalah tindakan kriminal. Namun, ketika Kacong dan Ipul sibuk memotong besi rel, sebuah kilatan cahaya melintas di langit yang disusul suara ledakan dahsyat tak jauh dari tempat mereka. Saat ketiganya mendekati sumber suara, mereka terkejut menemukan sebuah pesawat UFO kecil terdampar di tanah dengan makhluk misterius berwarna merah muda di dalamnya. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengamankan UFO dan sosok asing tersebut ke rumah Muslim.
Setibanya di rumah, Muslim kembali didatangi Toni (Ade Bibier) yang bermaksud membeli keris warisan almarhum ayahnya seharga 10 juta rupiah. Muslim tetap menolak menjual benda peninggalan tersebut dan menyuruh Toni pergi dari rumanya. Tak lama kemudian, makhluk asing di dalam UFO terbangun dari pingsannya dan mengejutkan semua orang. Makhluk itu mengeluarkan cahaya laser yang membuat Toni seketika pingsan. Tiba-tiba saja, ia bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dengan menirukan suara Toni. Makhluk misterius itu menjelaskan bahwa ia mengalami kecelakaan menabrak asteroid hingga terdampar di Bumi. Sisa energinya untuk bertahan hidup tinggal sedikit dan ia harus segera memperbaiki pesawatnya agar bisa kembali ke kapal induk. Masalahnya, kunci akses untuk menghidupkan mesin pesawat telah rusak. Ia membutuhkan logam dengan karakteristik yang sama persis seperti material kuncinya. Berbekal profesinya sebagai pengepul barang rongsokan, Muslim berjanji membantu mencari logam yang cocok. Muslim kemudian menamainya Foufo (Ade Bibier) agar lebih mudah dipanggil.
Awalnya, keberadaan Foufo dirahasiakan agar tidak memicu kehebohan warga. Beruntung, Foufo memiliki kemampuan menghilang atau invisible sehingga mudah disembunyikan. Lambat laun, Foufo mulai beradaptasi dengan kehidupan keluarga Muslim. Makanan favoritnya setiap kali lapar adalah Sate Madura yang sering dibawakan oleh Muslim.
Suatu hari, ketika sedang makan siang, Foufo tak sengaja menampakkan diri di depan seluruh anggota keluarga hingga memicu kepanikan. Muslim pun menenangkan keluarganya dan meyakinkan bahwa Foufo sama sekali tidak berbahaya. Seiring waktu, keberadaan Foufo justru membawa banyak berkah bagi keluarga Muslim. Katarak yang diidap Ibu Saiqonnah berhasil disembuhkan, Siti bisa memeriksakan kondisi kehamilannya tanpa perlu ke rumah sakit dan Mustofa jadi bisa belajar lebih giat berkat bantuan kemampuan Foufo.
Namun, waktu terus berjalan dan kondisi kesehatan Foufo kian menurun. Pencarian logam yang dibutuhkan tak kunjung membuahkan hasil. Di sisi lain, masalah finansial keluarga makin menghimpit. Pelunasan haji Ibu Saiqonnah makin mendekati jatuh tempo. Tunggakan sekolah Mustofa dan Aqeela harus segera diselesaikan. Biaya persalinan istri Ipul kian mendesak karena hari kelahiran bayi yang makin dekat. Debt collector yang terus menagih Nur, sementara kondisi TBC Latif kian memburuk. Mampukah Muslim menyelesaikan berbagai persoalan rumit yang datang bertubi-tubi ini sebelum semuanya terlambat?


#Review:
Aktor, komedian sekaligus sutradara muda asal Malang, Jawa Timur yaitu Bayu Skak kembali hadir dengan film terbarunya yang berjudul FOUFO (2026). Film ini menjadi film kedua bagi Bayu Skak sebagai sutradara di tahun 2026 setelah kemarin sukses besar dengan sekuel SEKAWAN LIMO 2 (2026) pada akhir Mei lalu.


Yang menjadi daya tarik dari film terbarunya ini, Bayu Skak mencoba hal baru yaitu menggabungkan antara elemen komedi Jawa Timur-an nya dengan elemen science fiction. Meskipun terkesan absurd dan "berat" karena ada unsur UFO beserta Alien, namun untungnya penulis Achmad Faisol menyajikan hal tersebut dengan treatment yang ringan dan sekedar lucu-lucuan. Tema persahabatan antara manusia dengan makhluk luar angkasa yang hadir dalam film FOUFO (2026) ini sekilas mengingatkan penonton akan film E.T. nya Spielberg dan juga Doraemon. Plot tersebut kemudian dibuat jadi lebih "lokal banget" berkat latar cerita berada di lingkungan daerah Madura yang sarat dengan dinamika sosial ekonomi masyarakat menengah ke bawah. Daya tarik utama film ini sudah jelas datang dari komedi verbal dan slapstick khas Madura yang dibawakan secara natural oleh Tretan Muslim bersama para pemain lainnya yang mayoritas asli orang sana hasil audisi oleh Skak Studios. Potret sosial dan kehidupan karakter Muslim yang merupakan sandwich generation serta tinggal di lingkungan menengah ke bawah dihadirkan secara lucu tanpa mengeksploitasi secara murahan atau menguras air mata penonton. Dibalik tawa dan hiburan yang disajikan film ini, Bayu Skak dan penulis naskah menyentil berbagai issue sosial yang memang terjadi di kehidupan nyata seperti nasib guru honorer, lamanya antrian calon jamaah haji reguler hingga jeratan pinjaman online yang melibatkan debt collector. Dengan durasi film yang cukup panjang mencapai 120 menit, Bayu Skak sangat detail mengeksplor setiap permasalahan internal keluarga dari karakter Muslim lengkap dengan segala komedinya. Di satu sisi, hal tersebut jadi terasa panjang dan kehadiran karakter alien Foufo pun jadi terabaikan. Andai saja porsi cerita kebersamaan Foufo yang "berguna" bagi keluarga Muslim dihadirkan sejak pertengahan film, bukan ditampilkan secara menumpuk lewat adegan flashback singkat di akhir cerita, pasti akan lebih bagus lagi, karena sesuai dengan judul filmnya sendiri.


Drama keluarga menengah ke bawah yang dihadirkan tampil cukup emosional, khususnya menjelang akhir film. Meskipun baru kali ini dipercaya menjadi lead actor, Tretan Muslim berhasil menampilkan range emosional yang believable. Rasa frustasi dan terhimpit masalah finansial keluarganya tersampaikan dengan baik pada penonton. Penampilan ensemble casts yang mayoritas wajah-wajah baru pun tidak mengecewakan serta tampil komikal nya pas banget.
Dari segi visual, penggarapan CGI dan animasi karakter Foufo yang dipadukan dengan live action tergolong mulus untuk ukuran perfilman Indonesia. Hal tersebut didukung juga oleh pengisian suara yang unik, sekilas mirip dubber Spongebob Squarepants di televisi hahaha. Interaksi antara animasi dengan karakter manusia dalam film ini jadinya terasa lebih hidup dan lucu. Bayu Skak bersama tim produksi berhasil membangun atmosfer yang kontras namun tetap selaras. Lanskap lingkungan pemukiman padat dan tempat penampungan barang rongsokan yang terkesan kumuh dibingkai dengan pencahayaan hangat khas rumah-rumah sederhana yang penuh dengan anggotanya.
Overall, film FOUFO (2026) tetap sukses menjadi angin segar yang menghibur, hangat, dan membuktikan bahwa kisah Science Fiction persahabatan antara alien dengan manusia bisa menyentuh juga kok ketika berakar kuat pada nilai-nilai keluarga serta budaya lokal khususnya Madura Jawa Timur-an. Sebuah eksperimen film yang berani dari Bayu Skak tentunya!


[7.5/10Bintang]

Thursday, 25 June 2026

[Review] Power Ballad: Drama Musikal Ringan Tentang Dua Musisi Rebutan Hak Cipta Lagu!

 


#Description:
Title: Power Ballad (2026)
Casts: Paul Rudd, Nick Jonas, Peter McDonald, Marcella Plunkett, Beth Fallon, Jack Reynor, Havana Rose Liu, Rory Keenan, Paul Reid, Keith McErlean, Sophie Vavasseur, Emma Rose Creaner, Robert Mitchell, Juliette Crosbie
Director: John Carney
Studio: 30West, Screen Ireland, Likely Story, Lionsgate


#Synopsis:
Rick Power (Paul Rudd) adalah vokalis dari grup band spesialis untuk acara pernikahan yang berbasis di Dublin, Irlandia. Grup band yang diberi nama The Bride & Groove ini terpaksa mengubur mimpi mereka untuk menjadi bintang musik di Amerika Serikat setelah Rick mengambil keputusan menikah dengan orang Irlandia yaitu Rachel (Marcella Plunkett) dan menetap tinggal di sana setelah dikaruniai seorang anak perempuan bernama Aja (Beth Fallon). Setiap The Bride & Groove manggung di acara pernikahan, Rick selalu menyempatkan untuk membawakan lagu pop rock mereka. Namun sayang, respon dari personel band lain tidak setuju karena lagu-lagu band mereka mayoritas tidak laku dipasaran dan tidak diketahui juga oleh banyak orang. Alhasil, setiap mereka manggung, lagu-lagu populer dan mainstream saja yang dinyanyikan.
Suatu hari, The Bride & Groove mendapat undangan untuk tampil di pesta pernikahan George (Robert Mitchell) dan Barbara (Juliette Crosbie), yang diselenggarakan di sebuah kastil. Ketika Rick dan band nya sedang tampil, George memberi kejutan tamu undangan dengan menghadirkan temannya yaitu Danny Wilson (Nick Jonas), penyanyi muda terkenal yang sedang berencana untuk membuat debut album setelah menuai kesuksesan dalam sebuah grup boy band. The Bride & Groove awalnya menyepelekan dan memandang sebelah mata musikalitas dari para penyanyi di era modern ini karena semuanya terasa serba instan. Namun saat George meminta Danny untuk naik ke atas panggung dan berduet dengan The Bride & Groove, semua anggapan tersebut sirna. Rick dan yang lainnya terpukau dengan penampilan Danny yang bisa berkolaborasi sangat baik dengan mereka. Video duet Danny dengan The Bride & Groove yang direkam oleh para tamu undangan pun menjadi viral di sosial media.
Setelah pesta pernikahan selesai, malam harinya Rick tak sengaja bertemu lagi dengan Danny yang sedang menikmati suasana kastil. Karena memiliki passion yang sama dalam dunia musik, Danny mengajak Rick untuk masuk ke kamarnya dan memperlihatkan jika dirinya sedang menggarap album debutnya. Sepanjang malam itu, mereka minum, menghisap ganja, dan saling berbagi musik, aransemen dan lirik lagu. Rick kemudian menyanyikan sebuah lagu orisinal yang ia tulis sendiri berjudul "How to Write a Song (Without You)". Danny sangat terpukau dengan musikalitas Rick yang masih kuat meskipun kini hanya berprofesi sebagai grup band spesialis acara pernikahan saja. Keesokan harinya, Danny langsung kembali ke Los Angeles, Rick dan teman satu band nya kembali pulang ke Irlandia dengan mengendarai mobil van. Saat akan keluar dari kastil, Rick mendapat kado istimewa dari Danny berupa gitar klasik yang bernilai mahal sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk berbagi ilmu dan musik kemarin malam.
Tiba di Los Angeles, Danny bertemu dengan produsernya yaitu Mac Darling (Jack Reynor) dan langsung mengkritik lagu-lagunya karena dianggap terlalu pasaran. Demi mencari inspirasi baru, Danny memutar lagu Rick yang kemudian tidak sengaja terdengar oleh kekasihnya, Marcia (Havana Rose Liu). Setelah Danny selesai menyanyikannya, Marcia terpukau dengan aransemen serta lirik dari lagu tersebut. Marcia kemudian mendorong Danny untuk merekamnya dan merilisnya karena ia yakin lagu tersebut akan meledak di pasaran.
Enam bulan berlalu. Danny Wilson resmi merilis debut album berjudul "Evolve" dengan single perdananya yang berjudul "How to Write a Song (Without You)". Sesuai prediksi Marcia, lagu tersebut menjadi hit dan No. 1 di berbagai platform musik dan berhasil ditonton ratusan juta viewers di YouTube. Di sisi lain, Rick yang sedang berbelanja di mall, ia mendengar lagunya diputar namun dengan suara Danny Wilson. Rick mencoba meyakinkan diri dan orang-orang disekitarnya bahwa dialah yang menulis lagu tersebut. Namun sayang, Rick tidak bisa membuktikannya karena saat ia menyanyikan lagu tersebut di hadapan Danny, tidak orang lain dan tidak ada rekaman apapun untuk memperkuat keyakinannya. Rick berusaha menghubungi Danny dan juga pihak label namun tidak mendapat respon sama sekali.
Mac pun tak tinggal diam. Ia menemui Danny yang sedang syuting Music Video lagunya untuk mengkonfirmasi terkait tuduhan Rick. Mac lega setelah mendapat penjelasan Danny yang mengatakan jika saat sesi berbagi musik dan aransemen di pernikahan George kala itu, tidak ada saksi maupun bukti kuat tentang kepemilikan lagu tersebut ada di tangan Rick.
Karena sangat ingin mendapatkan pengakuan atas karyanya, Rick meyakinkan rekan bandnya, Sandy (Peter McDonald) untuk ikut terbang bersamanya ke Los Angeles. Keduanya nekat menghadiri konser World Tour nya Danny Wilson yang bertajuk "Evolve" dengan menggunakan uang tabungan mereka. Rick masih percaya jika Danny masih mempunyai rasa respect dan tidak akan menghindarinya. Berhasilkah Rick Power untuk mendapatkan pengakuan atas karya lagunya kepada Danny Wilson?


#Review:
Sutradara John Carney yang dikenal sebagai spesialis film-film bertema drama musikal kembali hadir dengan film terbarunya berjudul POWER BALLAD (2026). Yang menjadi daya tarik dari film ini yaitu sang sutradara menggandeng dua nama aktor besar Hollywood yaitu Scott Lang Paul Rudd dan Nick Jonas, penyanyi sekaligus personel dari grup musik The Jonas Brother.


Untuk segi cerita, film yang naskah cerita dan skenarionya ditulis oleh John Carney beserta Peter McDonald ini berhasil menyajikan komedi-drama musikal yang segar, emosional, sekaligus menyentil realitas industri musik modern. Film ini dengan cerdas mengontraskan dua dunia yang bertolak belakang dari Rick Power seorang vokalis band pernikahan lokal yang telah mengubur mimpi besarnya demi keluarga dan Danny Wilson mantan bintang boy band yang sedang berjuang mempertahankan eksistensinya di dunia musik sebagai solois. Premis perselisihan hak cipta sebuah lagu orisinal di antara keduanya menjadi konflik cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat akan konflik ego dan pencarian jati diri. Kekuatan utama film ini terletak pada chemistry yang dinamis sekaligus kontras performa yang luar biasa dari kedua pemeran utamanya. Paul Rudd berhasil keluar dari zona nyaman karakter komedi romantisnya yang biasa. Ia menampilkan akting memukau sebagai seorang ayah yang frustrasi, keras kepala, namun memiliki hati yang luar biasa lembut. Di sisi lain, Nick Jonas tampil sangat meyakinkan sebagai pop star yang sedang putus asa dan berada di zona abu-abu karena menjadi seorang musisi yang terdesak oleh tuntutan label dan industri musik. Apresiasi selanjutnya harus diberikan pada John Carney yang berhasil menjaga ritme cerita tetap seimbang, berpindah dari momen-momen komedi ke drama keluarga yang mengharukan dengan sangat mulus. Aspek musikal dalam film ini pun digarap dengan sangat serius. Lagu tema utama yang diperebutkan benar-benar terdengar seperti sebuah lagu hit yang emosional, membuat penonton memahami mengapa kedua karakter tersebut rela mempertaruhkan segalanya demi lagu tersebut.
Overall, film POWER BALLAD (2026) jadi tontonan hangat dan lucu dengan akhir yang menyentuh hati. Film ini tidak hanya berbicara tentang siapa yang menang atau kalah dalam perebutan hak cipta, melainkan tentang bagaimana seseorang berdamai dengan takdir dan menemukan kembali apa yang benar-benar berharga dalam hidupnya. Bagi pencinta film drama musikal yang kaya akan pesan moral, penampilan apik dari duet Rudd dan Jonas ini jelas menjadi sebuah tontonan yang tidak boleh terlewatkan!


[8.5/10Bintang]

Monday, 22 June 2026

[Review] Voicemails For Isabelle: Ketika Pesan Suara Salah Kirim Justru Menemukan Jodoh!

 



#Description:
Title: Voicemails for Isabelle (2026)
Casts: Zoey Deutch, Nick Robinson, Harry Shum Jr, Lukas Gage, Ciara Bravo, Nick Offerman, Megan Danso, Gil Bellows, Toby Sandeman, Spencer Lord
Director: Leah McKendrick
Studio: Sony Pictures, Escape Artists, Netflix


#Synopsis:
Sedari kecil, Jill Shaw (Zoey Deutch) sangat dekat dan akrab dengan adik perempuannya yaitu Izzy Shaw (Ciara Bravo). Setiap moment yang ia lalui dalam hidup selalu ia ceritakan pada Izzy. Hal tersebut sudah menjadi kewajiban bagi Jill untuk berbagi cerita dan kebahagiaan dengan sang adik yang tidak bisa menjalani hidup dengan normal karena mengidap penyakit Fibrosis Kistik, sebuah penyakit genetik langka yang menyebabkan pengidapnya kesulitan bernafas karena adanya mutasi gen pada lendir yang menyelimuti organ paru-parunya. Hal tersebut membuat Izzy menghabiskan waktu hanya di rumah dan juga menjalani home schooling.


Setelah lulus kuliah, Jill dan Izzy memiliki passion yang sama di bidang bakery. Keduanya bercita-cita ingin punya toko bakery sendiri. Untuk memperdalam ilmu dunia bakery dan kuliner, Jill berencana melamar kerja sebagai baker di restoran Eropa milik Chef Bastien (Nick Offerman) yang ada di San Francisco. Mendengar hal tersebut tentunya mendapat dukungan penuh dari Izzy dan kedua orang tua mereka. Meskipun awalnya merasa berat harus meninggalkan keluarganya di Austin, Jill pun akhirnya merantau ke San Francisco setelah resmi diterima sebagai chef baru di restorannya Chef Bastien.
Setelah beberapa bulan tinggal dan bekerja di San Francisco, Jill merasakan betapa kerasnya kehidupan di sana. Di restoran, Jill dan karyawan lain selalu kena marah oleh Chef Bastien meskipun mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Sepulang bekerja, Jill selalu mencurahkan keluh kesahnya pada Izzy melalui telepon. Mendengar curhatan kakaknya, Izzy tak pernah lelah menyemangati dan meminta Jill untuk tetap bertahan, karena Izzy sangat yakin akan kemampuan kakaknya itu.



Hari demi hari terus berlalu. Selama tinggal di San Francisco, Jill didekati oleh rekan kerjanya yaitu Arthur (Lukas Gage). Namun sayang, kedekatan mereka tak berlanjut sampai ke tahap pacaran karena Jill tidak selera dengannya. Karena ditolak, Arthur pun menjauhi Jill dan kini menganggapnya sebagai musuh di tempat kerja. Sejak saat itu, Jill memutuskan untuk tidak memprioritaskan urusan asmaranya dan fokus untuk bekerja saja. Suatu malam setelah Jill pulang bekerja, Izzy menelepon Jill dan mengabari jika ia didaftarkan untuk mengikuti transplantasi paru-paru. Mendengar hal tersebut membuat Jill terkejut sekaligus sedih karena menandakan jika kondisi kesehatan Izzy semakin menurun. Keesokan harinya, Jill yang sedang bertemu dengan seorang pria di bar mendapat telepon dari ibunya yang mengabari jika Izzy dilarikan ke rumah sakit. Jill pun langsung pulang dengan pesawat dari San Francisco menuju Austin. Setibanya di rumah sakit, Jill harus menerima kenyataan pahit karena Izzy sudah meninggal dunia.
Kepergian Izzy untuk selama-lamanya menjadi duka yang sangat mendalam bagi Jill dan kedua orangtua mereka. Saat kembali melanjutkan hidup ke San Francisco, Jill belum bisa mengikhlaskan kepergian adiknya itu. Jill bahkan masih sering mengirimkan voicemail ke nomor ponsel milik Izzy dan memutar kembali semua voicemail yang dikirim Izzy pada dirinya. Kebiasaan tersebut terus ia lakukan selama berbulan-bulan karena bisa sedikit mengobati kerinduan Jill terhadap sang adik.


Di sisi lain, voicemail yang selama ini dikirim Jill, terkirim ke nomor ponsel Izzy yang sudah di-recycle. Nomor ponsel tersebut kini dimiliki oleh seorang agen real estate di Austin yaitu Wes (Nick Robinson). Hampir setiap hari Wes menerima voicemail dari Jill yang menceritakan kehidupannya, pekerjaannya, mimpinya hingga urusan asmaranya semua ia curahkan melalui voicemail. Awalnya Wes terganggu dengan notifikasi voicemail yang masuk karena sempat membuat pacarnya, Brittani (Zenia Marshall) cemburu. Melihat pacarnya terlalu pasif dan tidak bisa bersikap romantis layaknya pasangan kekasih, Brittani pun mengambil keputusan untuk putus dengan Wes. Setelah itu, Wes jadi sering mendengarkan setiap voicemail yang dikirim Jill untuk Izzy. Semua curahan hati dan keluh kesah Jill terdengar sangat membahagiakan bagi Wes. Perlahan tapi pasti, Wes semakin tertarik pada kehidupan Jill dan memutuskan untuk menunda berkata jujur soal nomor ponselnya Izzy yang sudah di-recycle dan kini jadi miliknya.



Seiring berjalannya waktu, Jill yang sedang menikmati kesendiriannya tak sengaja bertemu dan berkenalan dengan seorang konten kreator dan podcaster asmara yang punya jutaan followers yaitu Tyler Riordan (Toby Sandeman). Pertemuan mereka kembali berlanjut karena Tyler mulai tertarik pada sikap Jill yang riang dan lucu. Namun sayang, Jill jadi tidak tertarik pada Tyler setelah dirinya dighosting tanpa kabar. Hal tersebut sangat berbanding terbaling dengan personal branding dari Tyler di sosial media dan podcast nya yang selalu memberikan nasihat soal asmara pada jutaan followers nya. Jill kemudian menyusun rencana untuk melabrak Tyler saat sesi meet and greet dengan followers nya yang disiarkan secara live. Rencana yang turut diketahui Wes melalui voicemail membuatnya ingin melihat aksi yang akan dilakukan Jill tersebut. Ia kemudian terbang dari Austin menuju San Francisco dan menjadi saksi dari rencana labrak Jill pada Tyler.


Setelah berhasil menjalankan misinya, Jill sangat senang dan kembali menceritakan hal tersebut melalui voicemail sambil menikmati sunset dengan pemandangan jembatan Golden Gate. Setelah selesai menelepon, Wes duduk disamping Jill dan mengajaknya berkenalan. Dengan bermodalkan semua cerita yang sudah ia dengar melalui voicemail, Wes pun berusaha menjadi sosok terbaik bagi Jill. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin akrab. Jill yang sudah berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun akhirnya menyerah. Treatment yang diberikan Wes terasa sangat sempurna dan ia juga yakin jika Wes adalah jodoh yang dikirimkan oleh tuhan dan juga Izzy dari surga.
Seiring berjalannya waktu, hubungan Jill dengan Wes semakin dekat. Wes pun mengajak Jill untuk datang ke pesta pernikahan kerabat dekatnya yaitu Breeda (Leah McKendrick) dan Andy (Harry Shum Jr). Sebelum menjemput Jill dari San Francisco, Breeda dan Andy memastikan apakah Wes sudah berkata jujur tentang nomor ponsel mendiang Izzy sekarang sudah berpindah tangan pada dirinya atau belum. Sialnya, Wes sampai saat ini belum menyampaikan hal tersebut pada Jill. Namun ia berjanji akan mengatakannya pada Jill di waktu yang tepat, karena tak mau mengganggu keharmonisan dan kebahagiaan yang sudah tercipta diantara mereka berdua.


Pesta pernikahan Breeda dan Andy pun tiba. Semua tamu undangan termasuk Jill dan Wes ikut berbahagia di acara tersebut. Namun sayang, ditengah suasana penuh suka cita itu, Jill tak sengaja menemukan sebuah fakta yang membuatnya harus menelan kekecewaan sangat besar terhadap Wes. Apa yang terjadi pada mereka berdua?


#Review:
Rumah produksi Sony Pictures merilis film drama komedi romantis terbaru yang langsung "dilempar" ke platform streaming Netflix berjudul VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026). Film ini disutradarai oleh seorang perempuan yang dikenal sebagai aktris, sutradara dan penulis naskah asal San Francisco yaitu Leah McKendrick.


Untuk segi cerita, film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026) mencoba menggabungkan premis tentang rasa duka mendalam dengan romansa yang unik, sederhana dan juga lucu. Pada paruh pertama film, plot berhasil menggambarkan dinamika kakak adik perempuan serta proses berduka yang langsung mengguncang emosional penonton. Bonding antara Jill dan adiknya Izzy tampil sangat seru, tidak ada satupun yang mereka rahasiakan dan selalu mengusahakan untuk selalu ada setiap saat. Selain development character kakak beradik ini yang memukau, Leah McKendrick juga turut menyoroti passion serta mimpi karakter Jill yang bekerja di restoran milik Chef Bestien. Penggambaran dunia kerja di restoran yang penuh tekanan, ujaran kebencian dengan dalih untuk memperkuat mental pekerja terasa sangat relatable di dunia nyata, karena tak sedikit lingkungan kerja di dapur tuh emang se-toxic itu. Meskipun berkali-kali diperlakukan tidak adil, untungnya Jill sempat dibuat tetap bertahan berkat support dari adiknya. Journey percintaan yang dialami Jill pun semakin menarik untuk diikuti karena setiap pria yang ia temui punya keunikan masing-masing hahaha. Keputusan Jill yang tidak mudah baper dan bisa mengontrol dengan baik perasaannya saat menghadapi Arthur, Tyler hingga Wes patut diacungi jempol. Justru mereka bertiga yang jatuh cinta duluan pada Jill yang memang memiliki pesona dan daya tarik luar biasa.
Plot percintaan antara Jill dengan Wes menjadi daya tarik selanjutnya dari film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026). Leah McKendrick sukses menghadirkan drama romcom Jill dan Wes yang langsung mengingatkan penonton akan film-film romcom Hollywood di awal tahun 2000-an. Plot berjalan smooth, menggemaskan, ringan dan juga menghibur. Sikap dan keputusan Wes yang tetap melanjutkan aksi stalking via voicemail agar semakin memahami kehidupan Jill dan terus menunda untuk berkata jujur, menurutku masih dalam batas wajar. Keputusan Wes seperti itu pun bisa kita maklumi karena pendalaman karakter nya tipikal pria introvert dan culun hahaha.
Untuk segi visual dan atmosfer, film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026) berhasil menangkap kontras yang menarik antara dua dunia Jill dengan Wes. San Francisco digambarkan dengan palet warna yang hangat namun sibuk, mencerminkan isi kepala Jill yang penuh dengan resep kue dan memori masa lalu bersama Izzy. Sementara Austin, Texas disajikan dengan visual yang lebih lapang, flat dan sunyi, menggambarkan keterasingan emosional yang dirasakan Wes. Aransemen musiknya pun bekerja dengan sangat baik dalam menjembatani transisi emosi penonton, terutama saat voicemail antara Jill dengan Izzy diputar, mengubah momen yang biasa menjadi sangat intim dan mengharukan.
Penampilan Zoey Deutch patut diberi acungan jempol. Karakter Jill mampu mengekspresikan kesedihan secara natural sekaligus menampilkan pesona komedinya yang khas saat karakternya menghadapi karut-marut dunia kerja dan dating dengan beberapa pria di San Francisco. Karakter Wes yang diperankan oleh Nick Robinson bisa dibilang sebagai salah satu elemen yang cukup menonjol selanjutnya dari film ini. Karakter Wes tampil dengan membawa pesona khasnya yang tenang, karismatik dan tulus. Penulisan karakter Wes membawa Nick Robinson menuju di garis tipis antara pria idaman yang sensitif dan seorang stalker sang obsesif yang menurutku masih dalam batas wajar. Ketika Wes mulai menerima pesan suara emosional dari Jill, Nick Robinson berhasil mengekspresikan perubahan karakter Wes dengan sangat meyakinkan. Lewat tatapan mata dan ekspresi wajahnya, penonton bisa merasakan bagaimana Wes pelan-pelan menemukan kembali jiwa dan tujuan hidupnya lewat suara Jill setelah sekian lama ia merasa hampa ketika berpacaran dengan Brittani.
Overall, film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026) berhasil menjadi tontonan healing bagi orang yang sedang berduka dan berada di fase hopeless romantic. Yuk Hollywood perbanyak lagi romcom manis, simple dan lucu seperti ini ketimbang eksplorasi perselingkuhan melulu bosen! Haha!


[9/10Bintang]

Thursday, 30 April 2026

[Review] The Devil Wears Prada 2: Ketika Majalah Runway Berada Di Posisi Yang Terancam!

 


#Description:
Title: The Devil Wears Prada (2026)
Casts: Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, Stanley Tucci, Justin Theroux, Kenneth Branagh, Tracie Thoms, Tibor Feldman, Simone Ashley, Lucy Liu, Patrick Brammall, Caleb Hearon, Helen J. Shen, Pauline Chalamet, BJ Novak, Conrad Ricamora, Rachel Bloom, Lady Gaga, Donatella Versace
Director: David Frankel
Studio: 20th Century Studios, Wendy Finerman Productions


#Synopsis:
Andy Sachs (Anne Hathaway) kini dikenal sebagai seorang jurnalis handal dan punya segudang prestasi di tempat kerjanya. Setiap berita dan artikel yang ia tulis selalu mendapatkan respon sangat baik dari para pembaca. Namun sayang, saat Andy menerima penghargaan atas karya jurnalisme nya, ia mendapat kabar mengejutkan dari kantor berita perihal layoff besar-besaran di hampir semua divisi. Andy pun menjadi salah satu dari ratusan orang yang terkena dampak layoff tersebut. Rasa kecewa, sedih dan marah pun ia ungkapkan saat berpidato sambil menerima penghargaan tersebut. Aksi protes dan kekecewaan Andy kemudian viral di sosial media.


Di sisi lain, kantor majalah fashion Runway di New York mendapat hujatan dan kritikan keras di sosial media setelah muncul sebuah artikel di majalah Runway yang memuat profile brand fashion yang diduga menggunakan tenaga kerja di bawah umur. Hal tersebut membuat kredibilitas dari pemimpin redaksi Runway yaitu Miranda Priestly (Meryl Streep) jadi dipertanyakan. Tak hanya itu saja, brand-brand besar yang selama ini menjalin kerjasama dengan Runway langsung mengurangi katalog iklan mereka. Hal tersebut tentunya berdampak sangat besar terhadap pendapatan Runway jika terus dibiarkan seperti ini. Melihat kekacauan yang terjadi, komisaris Runway dari Elias-Clark Publications yaitu Irv Ravitz (Tibor Fieldman) marah besar dan meminta Miranda dan Nigel Kipling (Stanley Tucci) untuk secepatnya membereskan hal tersebut.


Ditengah situasi kacau ini, anak dari Irv yaitu Jay Ravitz (BJ Novak) merekomendasikan Andy pada Runway setelah ia melihat video viral pidato kemenangan Andy yang menurutnya akan sangat membantu untuk mengembalikan citra Runway di mata publik. Irv yang mengetahui Andy terkena layoff, langsung menghubunginya dan menawarkan pekerjaan sebagai Features Editor di Runway. Karena saat ini sedang tidak mempunyai pekerjaan, Andy langsung menerima tawaran tersebut. Ia tak menyangka kembali lagi bekerja di Runway, tempat pertama kali ia memulai karier dan bekerja di dua puluh tahun yang lalu.


Saat tiba di kantor Runway, Andy merasakan nostalgia ketika melihat dua meja assistant di depan ruangannya Miranda. Sebelum bertemu dengan mantan bos nya, Andy berbincang dengan kedua assistant Miranda saat ini yaitu Amari Mari (Simon Ashley) dan Charlie (Caleb Hearon). Kehadiran Andy di Runway membuat Miranda dan juga Nigel terkejut. Andy kemudian menjelaskan jika ia diminta kembali bekerja di sana oleh Irv dan anaknya untuk membereskan berita buruk di sosial media yang menyerang Runway. Karena tak punya banyak waktu, Andy, Miranda dan Nigel langsung menyusun strategi dan berbagai rencana agar bisa secepatnya menyelamatkan reputasi Runway.
Langkah pertama, mereka bertiga harus mendatangi brand-brand besar yang sempat mundur setelah kasus ini viral. Salah satu brand tersebut yaitu Dior yang selama ini menjalin kerjasama sangat baik dengan Runway. Tiba di kantor Dior, mereka bertiga dikejutkan karena bertemu lagi dengan Emily Charlton (Emily Blunt) yang kini bekerja sebagai Senior Executive di sana. Andy, Miranda dan Nigel langsung bernegosiasi agar Dior tidak cabut dari Runway. Emily kemudian meminta jatah iklan dan publikasi Dior di Runway edisi bulan depan untuk diperbanyak, termasuk liputan khusus tentang rencana pembukaan flagship Dior terbaru. Miranda dan Nigel pun langsung menyetujuinya karena bagi mereka, jantung utama Runway saat ini hanya berasal dari brand-brand besar yang beriklan di mereka saja.


Setelah mengamankan reputasi dari brand-brand besar, Andy, Miranda dan Nigel kemudian menyusun strategi dengan membuat klarifikasi serta permohonan maaf di sosial media perihal tuduhan artikel yang menyudutkan mereka. Selain itu, Andy juga tetap membuat berbagai artikel menarik tentang dunia fashion dengan gaya jurnalisme agar punya perbedaan yang mencolok dibandingkan kompetitor lain. Saat mereka bertiga sedang berdiskusi dan mencari ide, Andy tak sengaja melihat sampul majalah Runway yang menampilkan mantan sepasang suami istri selebriti yaitu Sasha Barnes (Lucy Liu) dan Benji Barnes (Justin Theorux) yang kini sudah bercerai. Sejak perceraiannya di tiga tahun yang lalu, Sasha menghilang dari dunia entertainment dan tinggal bersama kedua anaknya. Selain itu, Sasha juga tidak pernah bersedia menjadi bintang tamu atau narasumber dari media apapun untuk membahas kehidupan pribadinya. Sementara itu, mantan suami Sasha yaitu Benji semakin dikenal sebagai pemilik salah satu perusahaan teknologi AI terkaya di Amerika Serikat. Menariknya, Benji ternyata menjalin hubungan asmara dengan Emily Charlton. Keduanya sering memperlihatkan kemesraan mereka dan menjadi berita populer di acara entertainment televisi maupun sosial media.


Mengingat Miranda sangat mengidolakan Sasha serta reputasi majalah Runway yang terbilang majalah fashion legendaris di New York, Andy jadi punya ide untuk menghadirkan wawancara eksklusif dengan Sasha. Ia pun langsung mencari berbagai cara agar bisa mendapatkan kontak Sasha. Dengan bantuan sahabatnya yaitu Tessa (Rachel Bloom) dan Douglas (Rich Sommer), Andy berhasil mendapatkan akses komunikasi dengan Sasha. Setelah bernegosiasi dan berbincang secara intens, Sasha akhirnya bersedia diwawancarai oleh Runway dan juga Miranda di kediamannya. Mereka pun langsung meluncur ke sana. Setelah selesai interview, Sasha memberikan alasan ia bersedia diwawancarai oleh Runway karena reputasi Miranda Priestly serta artikel-artikel berbobot yang ditulis oleh Andy ketika bergabung lagi di Runway. Apresiasi tersebut tentunya membuat Andy, Miranda dan Nigel sangat senang. Mereka juga tak lupa memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang sangat besar pada Sasha karena sudah meluangkan waktu dan bersedia diwawancarai oleh Runway.



Reputasi Runway perlahan semakin membaik setelah memberikan klarifikasi dan juga dirilisnya artikel berita interview bersama Sasha Barnes. Para pembaca setia Runway juga memberikan respon sangat positif dengan apa yang dilakukan oleh Runway dalam beberapa bulan terakhir. Melihat kondisi Runway yang sudah pulih dari hujatan di sosial media membuat Miranda lega. Selain itu, Miranda juga semakin optimis dengan kabar yang beredar perihal dirinya yang naik jabatan menjadi Director Creative Global untuk Elias-Clarke Publications akan segera terwujud. Miranda dan Nigel sangat yakin jika pengumuman promosi jabatan itu akan dilakukan saat acara fashion show sekaligus perayaan ulang tahun Irv Ravitz yang ke-75 di Italia.



Di saat Runway sudah berjalan normal seperti sedia kala, muncul cobaan baru yang mengejutkan banyak pihak. Jay Ravitz dikabarkan akan melakukan restrukturisasi dan efisiensi di Runway secara besar-besaran. Banyak divisi yang terancam kena layoff termasuk Andy dan juga Nigel. Miranda pun tidak bisa berbuat banyak karena Jay Ravitz secara tidak langsung adalah atasannya di Elias-Clark Publications. Miranda, Andy, Nigel dan seluruh team Runway harus mencari cara agar hal tersebut tidak terjadi. Ditengah kepanikan, Andy dan Nigel menemukan satu cara untuk menyelamatkan Runway yaitu dengan meminta bantuan pada Emily dan pacarnya, Benji. Rencana tersebut harus mereka lakukan tanpa sepengetahuan Miranda karena jika mereka berhasil menyelamatkan Runway, otomatis posisi Miranda pun akan tetap aman. Selain itu, Runway juga sudah punya rencana akan menggelar fashion show skala besar di Italia untuk membuktikan jika Runway adalah majalah fashion mode ikonik dan legendaris yang tak akan lekang oleh waktu. Akankah semua rencana Andy, Nigel, Emily dan Miranda berhasil?


#Review:
Saat Disney dan 20th Century Studios resmi mengumumkan project sekuel THE DEVIL WEARS PRADA (2006) pada tahun 2024 lalu, rasa excited dan juga gembira langsung menghampiri para penggemar filmnya. Namun di satu sisi, keputusan melanjutkan cerita dari film ikonik tersebut dengan berjarak 20 tahun dari film pertamanya jadi memunculkan rasa khawatir, mengingat pada tahun 2013 silam, tersiar kabar jika sekuel film ini akan hadir dengan berdasarkan buku keduanya yaitu REVENGE WEARS PRADA: THE DEVIL RETURNS yang masih ditulis Lauren Weisberger, namun keempat pemain utama film pertamanya sudah tidak tertarik melanjutkan peran mereka di project tersebut. Setelah 20th Century Fox diakuisisi oleh Disney, rencana sekuel film ini kembali muncul dengan ide cerita yang tidak lagi berdasarkan buku keduanya. Barulah, keempat pemain utama, sutradara dan penulis skenario dari film pertamanya sepakat untuk come back dan memperkuat film THE DEVIL WEARS PRADA 2 (2026).


Untuk segi cerita, film THE DEVIL WEARS PRADA 2 (2026) hadir dengan latar waktu 20 tahun setelah film pertamanya. Otomatis, penonton serasa time travel bisa melihat perkembangan karier dari keempat karakter utama, serta perkembangan mode fashion dan juga jurnalisme yang semakin pesat dibandingkan era awal 2000an ketika film pertamanya dirilis. Harus diakui, plot dan konflik di sekuelnya kali ini terasa familiar karena masih serupa tapi tak sama dengan film pertamanya. Beberapa adegan ikonik juga terlihat sengaja di-recreate agar penonton dan penggemar setia merasakan nostalgia yang maksimal selama menonton film keduanya ini. Meskipun demikian, Lauren Weisberger dan Aline Brosh McKenna selaku penulis naskah tetap memberikan pembaharuan juga yang sesuai dengan perkembangan zaman. Issue layoff besar-besaran, pergeseran media cetak ke media digital online yang semakin agresif serta tidak dianggap prestisius lagi hingga ancaman teknologi AI menjadi sederet konflik menarik yang bisa kita temukan dalam film ini. Yang tak kalah menarik, keempat karakter utama kembali mendapat development dan background story yang semakin kuat. Miranda Priestly yang selama ini sangat superior, kini dibuat lebih grounded dan semakin manusiawi. Perkembangan zaman membuat karakter Miranda tak lagi bersikap semena-mena terhadap asisten dan karyawannya, seperti menahan diri untuk tidak menghina anak buahnya, menyimpan mantel dan tasnya secara mandiri hingga bersedia bekerja sama dengan orang lain tanpa adanya penolakan. Karakter Andy Sachs dan Emily Charlton mengalami perkembangan karakter yang sukses mencuri perhatian. Transformasi karier keduanya yang sesuai dengan passion tampil sangat gemilang. Meskipun saat ini posisi mereka setara dengan Miranda, namun lucunya baik Andy maupun Emily masih saja menunjukkan rasa takut dan kikuk saat bertemu lagi dengan Miranda hahaha. Sisi kesetiaan dan loyalitas bisa penonton lihat dari karakter Nigel Kipling. Meskipun sudah berkali-kali dibuat sakit hati oleh Miranda, ia tetap mengabdikan diri dengan sepenuh hati di Runway. Moment "penebusan dosa" Miranda terhadap Nigel tercipta di film ini dan sukses membuatku terharu!


Dinamika konflik yang dihadirkan di film THE DEVIL WEARS PRADA (2026) jauh lebih banyak dibandingkan film terdahulu. Perspektif tentang modernisasi yang dihadirkan terasa seimbang karena mau tidak mau harus mengikuti plot juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun sayang, penyelesaian sederet konflik yang terjadi dibuat terlalu gampang. Bahkan dampak yang dirasakan ketika sebelum dan sesudah konflik terjadi tidak terlalu menonjol. Sekuelnya ini memang lebih fokus untuk bernostalgia sekaligus fan service setelah 20 tahun berpisah.
Untuk jajaran pemain, penampilan Meryl Streep tetaplah ikonik sebagai Miranda Priestly yang kini dibuat lebih manusiawi karena selain faktor usia, modernisasi juga yang membuat Miranda tidak bisa seenaknya lagi hahaha. Adegan "penebusan dosa" pada Nigel dan obrolan ikonik di dalam mobil yang di-recreate sukses membuatku haru! Penampilan gemilang selanjutnya tentu datang dari Anne Hathaway. Peran Andy Sachs yang semakin dewasa dan berhasil memunculkan sosok perempuan yang tak selamanya harus bersikap seperti Miranda untuk menaklukan dunia. Scene stealer kembali dipegang oleh Emily Blunt dengan perannya sebagai Emily Charlton. Dengan aksen dan logat british nya yang semakin kental, kemudian subplot dirinya yang memiliki karier gemilang di Dior serta punya hubungan spesial dengan bos teknologi terasa sangat relevan dengan di era seperti sekarang. Komedi yang ditebar oleh keempat karakter utama serta para karakter pendukung baru dari kalangan Gen Z sukses menciptakan tawa penonton!
Untuk urusan visual, film THE DEVIL WEARS PRADA 2 (2026) masih setia menggunakan gaya sinematografi dan teknik pengambilan gambar seperti film pertamanya. Terkesan raw dan alami. Namun kali ini, dari sisi penggunaan lokasi syuting hingga wardrobe yang ditampilkan jauh lebih grande dan spektakuler. Parade mode dan fashion yang dipakai Miranda, Andy, Emily, Amari, Nigel dan yang lainnya selalu berhasil membuatku terkagum-kagum. Gak ada yang gagal satupun! Moment red carpet dan fashion show bersama Lady Gaga juga eksekusinya glamour banget! Untuk sisi musiknya juga, film ini berhasil melahirkan lagi original soundtrack dan lagu tema yang sangat pas dengan setiap adegan.
Overall, film THE DEVIL WEARS PRADA (2026) boleh dibilang sebagai surat cinta untuk bernostalgia akan film drama bertema dunia mode dan fashion yang tak hanya menghibur dan glamour, tapi punya issue serta konflik yang sangat relevan sesuai perkembangan zaman. Almost perfect sequel!


[9/10Bintang]

Monday, 27 April 2026

[Review] The Devil Wears Prada: Drama Komedi Luar Biasa & Ikonik Dari Kantor Majalah Runway!

 


#Description:
Title: The Devil Wears Prada (2006)
Casts: Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, Stanley Tucci, Adrian Grenier, Simon Baker, Gisele Bundchen, Tracie Thoms, Rich Sommer, Daniel Sunjata, James Naughton, Colleen Dengel, Suzanne Dengel, David Marshall Grant, Tibor Feldman, Alyssa Sutherland, Rebecca Mader
Director: David Frankel
Studio: Fox 2000 Pictures, 20th Century Fox, Wendy Finerman Productions


#Synopsis:
Setelah lulus dari Universitas Northwestern, Andrea Sachs (Anne Hathaway) atau yang akrab dipanggil Andy punya cita-cita ingin menjadi seorang jurnalis handal. Ketika pertama kali mendapat panggilan interview dari perusahaan Elias Clark Publications, Andy diminta datang ke kantor majalah fashion ikonik di New York yaitu Runway. Tiba di sana, ia harus menemui Emily Charlton (Emily Blunt) yang akan mewawancarainya. Saat mengetahui Andy tidak memiliki background di dunia fashion serta tidak mengetahui tentang majalah Runway, Emily meragukan jika Andy akan diterima di sana. Ditambah lagi, lowongan pekerjaan yang tersedia yaitu sebagai Junior Personal Assistant untuk pemimpin redaksi majalah Runway yaitu Miranda Priestly (Meryl Streep), bos nya Emily yang dikenal sangat perfeksionis, tegas dan juga kejam. Emily juga menceritakan jika sebelumnya sudah ada dua orang yang mengisi posisi tersebut namun mereka gagal karena Miranda tidak menyukainya.



Tak lama setelah itu, Emily mendapat panggilan telepon jika Miranda akan segera tiba ke kantor Runway. Hal tersebut membuat semua orang panik dan mempersiapkan diri semaksimal mungkin supaya tidak diomeli oleh Miranda. Tiba di kantor, Miranda langsung sibuk dengan sederet jadwal untuk meeting bersama Nigel Kipling (Stanley Tucci), Fashion Director di majalah Runway dan orang-orang penting lainnya. Ditengah kesibukannya itu, Miranda bersedia untuk mewawancarai Andy karena dua kandidat sebelumnya yang dipilih Emily justru bikin dia kecewa dan marah. Andy kemudian diperbolehkan masuk ke ruangan. Miranda langsung menyepelekan Andy yang tidak fashionable dan tidak mengetahui majalah Runway dengan kata-kata pedasnya. Andy langsung membela diri, meskipun tidak berpenampilan menarik seperti model, ia punya kelebihan lain yaitu pintar. Setelah itu, Andy pamit dari ruangan dan pergi dari kantor Runway. Ketika berjalan keluar dari gedung Elias Clark, Emily memanggil Andy untuk kembali ke kantor. Andy diterima bekerja di Runway sebagai Junior Personal Assistant nya Miranda.
Setelah selesai bekerja, Andy langsung menemui kekasihnya, Nate Cooper (Adrian Grenier) yang sudah menunggu di cafe bersama kedua sahabat mereka yaitu Lily (Tracie Thoms) dan Douglas (Rich Sommer). Andy menceritakan jika dirinya sudah resmi bekerja di kantor majalah Runway. Nate, Lily dan Douglas terkejut karena Andy bekerja sebagai personal assistant nya Miranda yang semua orang tahu jika ia sangat perfeksionis, galak dan juga kejam. Meskipun demikian, mereka tetap bangga pada Andy karena bisa bekerja di Runway dan menjadi assistant Miranda itu impian para perempuan yang sangat mencintai dunia fashion.



Di pagi hari, Andy dikejutkan dengan panggilan telepon dari Emily yang memintanya untuk mengambil pesanan kopi milik Miranda dan beberapa item fashion lainnya tepat sebelum Miranda tiba di kantor. Setelah selesai, Miranda, Nigel dan yang lainnya sibuk mempersiapkan beberapa gaun untuk ditampilkan di majalah edisi bulan depan. Nigel diam-diam memperhatikan penampilan Andy. Ia kemudian memberikan sepasang sepatu heels pada Andy supaya tidak lagi kena omel Miranda. Hari demi hari, Andy harus beradaptasi dengan pekerjaanya sebagai seorang assistant. Tak jarang ia harus memenuhi semua keinginan tak masuk akal nya Miranda. Setiap pulang ke apartemen, Andy meluapkan emosi dan kekesalan terhadap Miranda pada Nate supaya lebih tenang untuk esok kembali bekerja. Andy juga sudah mengambil keputusan hanya akan bertahan setahun saja bekerja di Runway karena ia tidak ingin terus-terusan dikendalikan oleh Miranda.



Suatu malam, saat Andy sedang menikmati makan malam dan menonton pertunjukan teater bersama ayahnya, Andy mendapat panggilan telepon dari Miranda yang memintanya mencarikan tiket pesawat ke Miami agar ia bisa hadir melihat kedua anaknya pentas di acara sekolah. Andy berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan tiket pesawat di malam itu juga. Namun sayang, tak ada satupun pesawat yang terbang di malam itu karena badai dan cuaca buruk. Keesokan harinya, Miranda sangat kecewa dan dan memaki-maki Andy karena menurutnya tidak becus dalam mengurus jadwal penerbangannya itu. Andy pun jadi sedih dan sakit hati karena ia sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tak pernah dianggap oleh Miranda. Andy kemudian mencurahkan rasa sedih dan amarahnya itu dengan menemui Nigel. Respon Nigel ternyata tidak sesuai harapan Andy karena menyuruhnya untuk resign saja. Andy tentu tak ingin melakukan hal tersebut. Nigel kemudian menasehati Andy tentang dunia kerja di Runway memang sangat keras. Nigel yakin jika Andy bisa bertahan dan beradaptasi lagi kedepannya. Setelah mendapat wejangan tersebut, Andy kemudian sadar dan akan mengikuti semua maunya Miranda. Andy pun langsung meminta tolong make over penampilannya untuk menebus kesalahan pada Miranda. Mereka berdua kemudian pergi ke ruang wardrobe untuk mencari busana, sepatu, tas dan aksesoris yang pas untuk Andy.


Keesokan harinya, Andy datang ke kantor Runway dengan gaya fashion baru yang menarik perhatian banyak orang. Andy sangat berterima kasih pada Nigel karena ia jadi lebih dihargai dan percaya diri selama bekerja. Melihat penampilan baru dari Andy membuat Miranda senang. Seiring berjalannya waktu, performa kerja Andy juga mengalami peningkatan. Semua keinginan Miranda bisa dengan cepat terpenuji olehnya. Hal tersebut membuat Miranda memberi kepercayaan kepada Andy untuk mengerjakan tugas-tugas penting yang selama ini selalu dikerjakan oleh Emily. Nigel pun ikut senang melihat perkembangan kinerja Andy di Runway yang semakin bagus. Nigel kemudian mengajak Andy bertemu saat sepulang bekerja. Nigel memberitahu jika ia akan resign dari Runway karena mendapat tawaran sebagai Creative Director dengan gaji fantastis untuk perusahaan baru milik designer kondang James Holt (Daniel Sunjata).
Andy tentunya sangat senang dengan kabar tersebut meskipun di satu sisi ia juga sedih harus kehilangan Nigel yang selama ini sudah membantunya bekerja dan beradaptasi di Runway.
Di sisi lain, kondisi kesehatan Emily mulai menurun dan terserang flus karena diet ekstrim yang ia lakukan demi bisa tampil maksimal saat nanti menemani Miranda ke Paris Fashion Week. Akibatnya, saat mereka bertiga menghadiri acara penggalangan dana untuk amal, Miranda kecewa terhadap Emily yang lupa mengingat nama-nama tamu di cara tersebut. Melihat penurunan kinerja Emily membuat Miranda langsung menggeser nama Emily sebagai asistennya nanti selama ke Paris dengan Andy. Hal tersebut membuat Andy terkejut karena pergi ke Paris adalah impian terbesar Emily. Jika Andy menolak, Miranda mengancam akan memecat Andy dan siap mempersulit Andy untuk mencari kerja di bidang yang sama dengan kekuatan koneksinya sebagai pemimpin redaksi Runway.


Saat Andy akan berkata jujur pada Emily, terjadi insiden tabrakan yang menyebabkan Emily masuk dan dirawat di rumah sakit. Emily terkejut dan juga sakit hati setelah mendengar penjelasan Andy soal batalnya dirinya pergi ke Paris. Emily merasa dikhianati oleh Andy, meskipun Andy tidak sepenuhnya salah karena ia sudah berusaha menolaknya namun diancam oleh Miranda. Di sisi lain, hubungan Andy dengan Nate semakin merenggang saat Andy merayakan ulang tahun, Andy tidak datang tepat waktu karena harus datang ke acara penggalangan dana untuk amal bersama Miranda dan Emily. Nate yang melihat kekasihnya itu kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan memenuhi semua perintah Miranda, sudah sepenuhnya berubah. Mereka berdua kemudian mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan.
Selama di Paris, Andy perlahan mulai mengetahui kehidupan pribadi Miranda yang ternyata suaminya, sudah mengajukan gugatan cerai. Miranda berusaha terlihat kuat meskipun dalam hatinya ia sedih karena harus bercerai untuk yang kedua kalinya gara-gara terlalu sibuk dengan pekerjaannya di Runway. Di sisi lain, Setelah putus dengan Nate, Andy berkenalan dengan seorang jurnalis tampan yaitu Christian Thompson (Simon Baker) yang telah membantunya memenuhi salah satu keinginan mustahil Miranda untuk mendapatkan Harry Potter yang belum rilis. Hingga suatu ketika, Andy mendapat informasi dari Christian jika posisi Miranda di Runway New York akan diganti oleh pesaingnya dari Runway Perancis yaitu Jacqueline Follet (Stephanie Szostak). Andy pun langsung mengabari Miranda soal hal tersebut. Namun Miranda mengabaikannya karena sebenarnya ia sudah mengetahui tentang rencana penggantian pemimpin redaksi di Runway New York.


Keesokan harinya, saat acara pengumuman kolaborasi antara Runway dengan James Holt, Miranda mengumumkan hal terduga. Posisinya di Runway New York ternyata tidak diganti. Jacqueline justru terpilih sebagai Creative Director untuk James Holt yang sebelumnya sudah ditawarkan pada Nigel. Kabar tersebut langsung menggemparkan para tamu undangan dan wartawan yang ada di sana. Nigel pun berpasrah diri dengan keputusan tersebut dan mengatakan jika setiap pencapaian baru dalam berkarier pasti akan dibayar dengan hancurnya kehidupan pribadi. Hal tersebut sudah terjadi di kehidupan pribadinya sendiri, Miranda dan kini Andy yang hubungannya dengan Nate sudah putus.
Saat pulang menuju hotel, Miranda mengatakan jika ia kagum dengan Andy yang sudah berusaha mengabari tentang jabatannya di Runway New York akan digantikan oleh musuhnya yaitu Jacqueline. Miranda diam-diam sudah melangkah lebih jauh dan menyusun strategi demi mempertahankan posisinya di Runway meskipun harus mengkhianati Nigel. Apa yang Miranda lakukan tersebut ternyata sudah ada juga dalam diri Andy selama ia bekerja di Runway. Menyadari jika Andy juga sudah melakukan yang sama dengan Miranda yaitu mengkhianati Emily, ia memutuskan pergi meninggalkan Miranda dan resign dari Runway.


#Review:
Dua puluh tahun yang lalu, industri perfilman Hollywood digemparkan dengan sebuah film drama komedi berjudul THE DEVIL WEARS PRADA (2006) yang dimana, lisensi dan filmnya resmi dibuat sebelum novelnya selesai dirampungkan oleh penulisnya yaitu Lauren Weisberger. Selain itu, film ini juga memberikan cultural impact dna menjadi fenomenal yang luar biasa di dunia perfilman. Selama penayangan di bioskop, film ini berhasil mencetak box office hit padahal budget yang digunakan tergolong kecil untuk ukuran film Hollywood di masa itu. Film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) bukan sekedar film tentang mode fashion saja, tapi didalamnya terdapat studi karakter yang tajam tentang ambisi, integritas, dan pengorbanan di dunia kerja. Sudah nonton berkali-kali, tapi rasanya masih sama, selalu puas dan takjub dengan cerita yang disajikan oleh film ini. Truly comfort movie for me!


Untuk segi cerita, film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) bukan sekedar drama karyawan baru yang tidak punya passion di dunia mode lalu bekerja di majalah yang isinya tentang mode dan fashion. Karakter Andy mempunyai latar pendidikan di bidang jurnalisme, menganggap mode fashion itu sebagai hal dangkal. Karena tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan passionnya, ia justru bertemu dengan karakter ikonik Miranda Priestly dari Runway. Pertemuan pertama mereka langsung menetapkan dinamika kekuasaan. Miranda adalah sosok yang menuntut kesempurnaan tanpa cela. Andy diterima bukan karena seleranya, tetapi karena Miranda menginginkan assistant cerdas meskipun visualnya tidak seperti orang-orang di dunia mode dan fashion. Konflik pertama muncul saat Andy menyepelekan dua sabuk berwarna biru yang terlihat identik. Pada adegan ini, Miranda menghancurkan rasa superioritas intelektual Andy dengan menjelaskan bagaimana pilihan mode yang dianggap Andy sepele dan dangkal sebenarnya adalah hasil keputusan orang-orang di ruangan itu yang mempengaruhi industri serta bernilai jutaan dollar. Hinaan Miranda tersebut membuat Andy menyadari jika ia ingin bertahan di Runway, bukan jadi penonton saja. Hadirnya karakter Nigel yang menjadi mentor bagi Andy menjadi moment yang sangat manis sekaligus heartwarming. Dinamika dan situasi di Runway semakin memanas saat banyak konflik lain berdatangan yang melibatkan Miranda, Andy, Emily dan Nigel. David Frankel dan Aline Brosh McKenna selaku penulis naskah berhasil mengupas berbagai konflik dengan kejutan tak terduga dari masing-masing karakter. Setiap keputusan yang diambil punya resiko sangat besar. Meskipun film ini dirilis dua puluh tahun silam, namun dunia kerja yang digambarkan masih sangat relevan sampai sekarang. Lebih lanjut, plot film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) sangat berhasil jadi sajian yang relatable karena tidak memberikan akhir yang hitam-putih. karakter Miranda tidak berubah menjadi baik. Ia tetap menjadi penguasa yang kejam di Runway. Demikian juga dengan karakter Andy. Ia tidak keluar sebagai pemenang yang menghancurkan musuhnya melainkan menjadikannya lebih dewasa.



Untuk jajaran pemain, Meryl Streep memberikan salah satu performa paling ikonik dalam kariernya dengan melakukan pilihan akting yang menurutku sangat luar biasa dan juga fresh. Daripada memerankan bos galak yang berteriak atau meledak-ledak, Meryl Streep memilih suara yang hampir berbisik saat sedang mengomel wkwkwk. Kekuatan aktingnya juga terletak pada tatapan mata yang dingin dan cara ia membalik halaman majalah dengan gerakan yang bisa membuat nyali lawan bicaranya langsung meredup. Bahkan saat plot cerita membahas kehidupan pribadinya, Meryl Streep lagi dan lagi berhasil menunjukkan sisi paling manusiawi dari Miranda tanpa sedikit pun meminta belas kasihan. Ia tetap menjaga martabat karakternya, menunjukkan bahwa karakter Miranda adalah wanita yang memilih karier di atas segalanya, dan ia menerima konsekuensinya dengan kepala tegak. Anne Hathaway berhasil meyakinkan penonton soal karakter Andy tuh cukup cerdas untuk membenci dunia mode namun punya ambisi yang sangat besar untuk masuk menjadi bagian Runway. Di awal film, karakter Andy tampak kikuk, jalannya tidak beraturan dan tidak seperti model-model yang bekerja di sana. Namun, seiring berjalannya cerita, Andy bertransformasi menjadi sosok yang elegan, sigap, dan penuh percaya diri. Kualitas aktingnya juga sangat kuat dalam bagaimana ia menghadapi Miranda. Ekspresi wajahnya yang mencoba menahan tangis atau rasa frustrasi membuat penonton merasa seperti menemani disamping Andy disepanjang durasi film. Emily Blunt memberikan performa yang mencuri perhatian di setiap adegan dalam film THE DEVIL WEARS PRADA (2006) ini. Karakter Emily Charlton membawa humor melalui sarkasme yang tajam lewat menggerutu yang lucu dan bikin tertawa. Dibalik sikap ketusnya terhadap Andy, Emily berhasil memberikan lapisan kesedihan. Penonton bisa melihat ketakutan yang mendalam di matanya tentang ketakutan akan kegagalan akan tidak relevan di mata Miranda. Sebuah debut yang luar biasa dari Emily Blunt ketika pertama kali membintangi film layar lebar Hollywood. Stanley Tucci memberikan performa yang hangat, bijaksana, namun juga serba praktis dan efisien. Nigel adalah satu-satunya karakter yang berani memberikan kebenaran pahit kepada Andy tanpa bermaksud jahat. Tucci berhasil memberikan martabat pada Nigel sebagai seorang profesional yang sangat mencintai seninya. Monolognya tentang sejarah mode menunjukkan gairah yang tulus pada penonton. Tanpa keempat aktor ini, THE DEVIL WEARS PRADA (2006) mungkin hanya akan menjadi film komedi tentang perkantoran yang terlupakan. Meryl Streep memberikan fondasi yang kuat hingga berhasil masuk nominasi Best Actress di Academy Awards 2007, Anne Hathaway memberikan hati, Emily Blunt memberikan bumbu konflik, dan Stanley Tucci memberikan jiwa. Kombinasi inilah yang membuat film ini menjadi mahakarya yang terus dibahas hingga saat ini.


[9.5/10Bintang]

Friday, 17 April 2026

[Review] Ghost In The Cell: Mengungkap Terror Sadis Dari Sosok Gaib Yang Gentayangan Di Penjara!

 


#Description:
Title: Ghost In The Cell (2026)
Casts: Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Bront Paralae, Dimas Danang, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming Sugandhi, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Kiki Narendra, Haydar Salishz, Arswendy Beningswara, Dewa Dayana, Ical Tanjung, Farrell Rafisqy, Radja Nasution, Marissa Anita
Director: Joko Anwar
Studio: Come and See Pictures, Rapi Films, Legacy Pictures, Barunson E&A


#Synopsis:
Setelah melakukan penelusuran di kawasan hutan bernama Nehea yang ada di Kalimantan untuk keperluan artikel berita, seorang jurnalis sekaligus editor yaitu Dimas (Endy Arfian), dikejar deadline oleh pemimpin redaksi di kantornya untuk segera menerbitkan artikel tentang perusahaan tambang nikel milik anak dari wakil presiden Indonesia yang melakukan penebangan hutan secara ilegal di sana. Namun sayang, hasil penelusuran yang dilakukan Dimas justru menemukan banyak keanehan. Selain luas wilayah hutan yang ditebang tidak sesuai dengan yang dilaporkan, ia juga mendapat kabar jika tak sedikit warga sekitar dan para pekerja tambang di sana yang hilang secara misterius. Informasi yang didapatkannya itu membuat Pemred Pak Endy (Rio Dewanto) marah besar. Ia menyuruh Dimas segera merevisinya agar tidak fokus pada hal-hal mistis tersebut.



Dimas pun langsung merevisi artikel beritanya sesuai permintaan Pak Endy. Setelah selesai, Dimas terkejut saat masuk ke ruangan Pemred, ia menemukan Pak Endy tewas secara mengenaskan di ruangannya. Karena tidak ada saksi dan Dimas jadi orang pertama yang menemukan jasad Pak Endy, ia dinyatakan jadi tersangka kasus pembunuhan sadis Pak Endy dan langsung dijebloskan ke penjara. Dimas dan narapidana lain yang ada di kantor polisi langsung dibawa ke penjara Lapas Labuhan Angsana untuk menjalani hukuman di sana.


Tiba di penjara, Dimas langsung melalui serangkaian pengecekan fisik yang dilakukan oleh para sipir. Setelah itu, ia bertemu dengan Irfan (Dimas Danang), salah satu narapidana di sana yang diminta untuk memandu Dimas berkeliling ke setiap sudut penjara. Irfan sendiri merupakan tersangka kasus penipuan melalui telepon yang sudah menelan banyak korban. Selama berkeliling, Irfan meminta Dimas agar tidak kemana-mana sendirian dan harus ikut berkelompok supaya aman. Di penjara, Irfan berkelompok dengan Anggoro (Abimana Aryasatya), tersangka kasus perampokan rumah pejabat karena tanah dan rumahnya digusur secara ilegal. Lalu ada Pendi (Lukman Sardi) dosen kampus yang dijebak karena tidak mau terlibat kasus korupsi, Wildan (Mike Lucock) tersangka kasus penipuan penggandaan uang. Terakhir yaitu Six (Yoga Pratama), tersangka penipuan yang merugikan korban miliaran rupiah. 


Anggoro sendiri dikenal sebagai narapidana yang selalu peduli dan membela napi-napi lain yang mendapat perlakuan tidak adil baik dari sesama napi maupun para sipir di sana. Sikap Anggoro tersebut rupanya sangat dibenci oleh kepala sipir yaitu Jefry (Bront Paralae) dan beberapa napi mafia anak buah dari Koh Rendra (Ho Yuhang) yaitu Bimo (Morgan Oey), Tokek (Aming), Bucky (Almanzo Konoralma) dan Bambang (Ical Tanjung).
Setelah selesai berkeliling penjara, Dimas mendapatkan sel tahanan bersama dengan Tokek, salah satu napi yang ditakuti karena sikap anehnya. Tokek juga diam-diam tertarik pada Dimas karena terlihat polos dan penampilannya tidak seperti penjahat. Sebelum masuk ke sel tahanan masing-masing, Irfan dan Anggoro meminta Dimas untuk selalu waspada terhadap Tokek.


Waktu terus berlalu. Dimas masih selamat dari godaan Tokek karena pada malam itu Tokek mabuk berat. Saat para napi sedang membersihkan diri, Tokek lagi-lagi berusaha menggoda Dimas. Untungnya Anggoro dan yang lainnya ada di sana dan menolong Dimas agar tidak lagi diganggu Tokek. Setelah selesai, semua narapidana kembali ke sel tahanan dan menjalankan tugas mereka masing-masing. Saat Six sedang menyapu di depan sel tahanan, ia melihat Tokek berjalan menuju sel nya dari tempat bilas tanpa mengenakan pakaian. Saat Six mendekati sel tahanan Tokek, ia terkejut karena Tokek tidak ada di sana. Tak lama setelah itu, terdengar teriakan kencang dari salah satu napi di tempat bilas. Para napi lain dan sipir langsung berlari ke sana. Mereka terkejut menemukan Tokek tewas dengan cara yang sangat mengenaskan.


Kematian Tokek membuat Jefry dan kepala pengelola penjara yaitu Pak Sapto (Kiki Narendra) khawatir akan jabatan mereka. Jika kabar tewasnya napi sampai ketahuan polisi dan media, akan berdampak buruk kepada mereka berdua dan juga para napi koruptor di Blok K yang selama ini dikenal sebagai narapidana eksklusif. Jefry kemudian mengumpulkan semua napi dan memaksa pelaku pembunuh Tokek untuk mengakui perbuatannya. Namun para napi memang tidak ada yang melakukan hal keji tersebut. Jefry dan para sipir lain kemudian menghukum semua napi dengan tidak menyediakan makanan selama seharian. Sementara itu, Pak Sapto menutupi kejadian tersebut agar napi yang paling disegani oleh Pak Sapto di Blok K yaitu Prakasa Kitabuming (Arswendy Bening Swara) dan napi eksklusif lainnya tidak ketakutan.


Seiring berjalannya waktu. Six yang kesehatannya kembali pulih semakin sensitif merasakan hal-hal aneh di penjara. Selain itu, kemampuan Six dalam membaca aura orang lain juga semakin menguat. Hal tersebut terbukti setelah terjadi lagi kematian tragis dari beberapa napi yang menciptakan suasana mencekam di penjara. Six, Anggoro, Irfan, Pendi dan Wildan meyakini jika semua kematian yang terjadi di sana setelah Dimas datang. Para napi lain pun jadi curiga jika Dimas menjadi penyebab dan yang membawa malapetaka ke dalam penjara. Setelah mempelajari pola kematian dari para napi, Six meyakini jika kematian brutal yang terjadi di penjara karena para korban tersebut memiliki aura berwarna merah yang menandakan adanya emosi dan amarah besar. Six, Anggoro, Irfan, Pendi, Wildan dan para napi lain kemudian sepakat untuk kerja sama agar sosok gaib yang gentayangan di penjara itu tak lagi menjemput ajal mereka yang tersisa. Berhasil kah mereka?


#Review:
Sutradara Joko Anwar kembali hadir dan meramaikan industri perfilman Indonesia dengan merilis film terbarunya yang berjudul GHOST IN THE CELL (2026). Menariknya, sebelum tayang di Indonesia, film ke-12 dari Joko Anwar ini sukses menggelar world premiere perdana di Berlinale International Film Festival pada bulan Februari kemarin dan mendapat respon sangat positif dari penonton di sana.


Untuk segi cerita, film GHOST IN THE CELL (2026) memadukan tiga genre utama yaitu komedi, horror dan sedikit sentuhan action di dalamnya. Ketiga genre tersebut berhasil disatukan oleh Joko Anwar lewat plot survival para narapidana dan mengungkap misteri sosok gaib yang mengincar nyawa mereka. Jika berkaca pada track record filmography Joko Anwar, penonton pasti punya pemikiran jika elemen horror dan kesan serius akan mendominasi film ini. Namun siapa sangka, Joko Anwar justru menyajikan film GHOST IN THE CELL (2026) penuh dengan komedi satir yang mengkritik kondisi sosial, budaya, politik dan pemerintahan Indonesia saat ini. Tidak tanggung-tanggung hampir semua dialog dari para karakter selalu "ngeri-ngeri sedap" bikin penonton tertawa kencang. Saking ironisnya, kok terlalu relatable dengan kondisi sekarang di Indonesia. Selain melalui celetukan-celetukan "pedas" nya, Joko Anwar juga turut memelesetkan nama-nama besar yang penonton bisa langsung paham itu siapa saja hahaha. Konsistensi jokes yang mengkritik tersebut terasa disepanjang durasi, dari awal sampai akhir film. Untuk sebagian orang, mungkin akan terasa too much karena di beberapa dialog, terlihat so asik sendiri. Apalagi di beberapa adegan yang melibatkan karakter Tokek cukup sensitif karena mengarah ke sexual harrasment.


Ketika elemen horror mulai dimunculkan lewat serangkaian terror kematian, plot cerita tidak langsung menjelaskan apa yang terjadi agar kebingungan dari para karakter napi di penjara tampil believable. Alhasil, penonton jadi dibuat penasaran dengan penyebab semua kekacauan yang terjadi di sana. Ketika para napi menyadari satu-satunya cara untuk mencegah kematian lewat konsep aura dalam diri manusia, plot kembali bersenang-senang lewat kombinasi action dan komedi. Kapan lagi coba bisa melihat para aktor sangar pada gelut sambil melakukan hal-hal konyol wkwkwk. Eksekusi horror nya pun tidak penuh dengan jump scared dan penampakan berkali-kali. Joko Anwar bermain-main dengan elemen gore secara brutal sekaligus artsy. Seperti biasanya, setelah selesai nonton, muncul berbagai pertanyaan menarik yang jadi bahan diskusi panjang dari penonton dan penggemar setia film-filmnya Joko Anwar. Mengapa kematian brutal mereka dibuat artistik layaknya instalasi seni. Apakah sosok gaib yang gentayangan dan balas dendam di sana adalah seorang seniman? Hahaha.
Untuk jajaran pemain, hampir semuanya berhasil memancarkan pesona dan kelebihan mereka masing-masing. Nama-nama aktor yang sering dijuluki "Kartap nya Joko Anwar" selalu konsisten memberikan penampilan terbaik di film GHOST IN THE CELL (2026). Sebut saja, Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Yoga Pratama, Lukman Sardi, Bront Paralae, Morgan Oey, Kiki Narendra, Mike Lucock hingga Aming, mereka semua tampil having fun tanpa jaim sama sekali di film ini. Adegan fighting dan latihan menari jadi salah scene paling lucu! Hahaha.
Untuk urusan visual dan audio, film GHOST IN THE CELL (2026) tampil memukau. Sinematografi khas Joko Anwar semakin didukung dengan artistik dan wardrobe yang keren. Set penjara yang sepertinya masih sama dengan set film PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI (2025) jadi mengingatkanku akan film bertema penjara namun bergenre drama tearjerker yaitu MIRACLE IN CELL NO. 7 (2022) versi remake oleh Falcon Pictures. Hahaha. Untuk sisi efek visual, dari awal sampai pertengahan sih berjalan sangat mulus, namun entah kenapa saat memasuki akhir film, CGI dan visualnya mengalami penurunan, terutama saat adegan fighting melawan para napi preman di Blok K hingga akhir film.
Overall, film GHOST IN THE CELL (2026) berhasil menyajikan cerita komedi, horror yang sangat brutal dalam mengangkat berbagai keresahan dari penonton dan juga Warga Negara Indonesia. Definisi having fun dengan sarkasme yang berkesan!


[8.5/10Bintang]