Monday, 13 July 2026

[Review] Evil Dead Burn: Terror Iblis Deadite Semakin Menggila Dan Tanpa Ampun!

 


#Description:
Title: Evil Dead Burn (2026)
Casts: Souheila Yacoub, Tandi Wright, Hunter Doohan, Luciane Buchanan, Erroll Shand, Maude Davey, Alain Chabat, George Pullar, Greta van den Brink, Keanu Karim, Tapiwa Soropa, Alyssa Sutherland
Director: Sébastien Vaniček
Studio: New Line Cinema, Screen Gems, Ghost House Pictures, Sony Pictures


#Synopsis:
Joseph Price (Hunter Doohan) sedang meneliti hasil studi mendiang kakeknya, Benjamin, mengenai buku terkutuk Necronomicon dan Deadit, sosok iblis yang selama ini meneror manusia secara sadis. Dalam rekaman studi tersebut, Benjamin rupanya menyembunyikan sebuah belati bernama Kandarian yang konon dapat menangkal sekaligus memusnahkan Deadite. Namun sayang, jika pembungkus belati itu dibuka, keberadaannya akan langsung terdeteksi oleh para Deadite. Dan benar saja, penemuan belati oleh Joseph itu membangkitkan kembali Deadite Jessica (Greta van den Brik) yang selama ini terperangkap di dasar danau. Nasib sial pun menimpa dua pemancing di danau tersebut. Jared (Keanu Karim) dan Leo (Victoru Ndukwe), yang menjadi korban kebrutalan Deadite Jessica.


Di sisi lain, kakak Joseph yaitu Will Price (George Pullar), bertengkar hebat dengan istrinya, Alice (Souheila Yacoub) dengan alasan hubungan mereka yang makin merenggang. Will yang gemar mabuk-mabukan kerap memicu keributan di bar, membuat Alice makin ragu untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Dalam kondisi mabuk berat, Will memutuskan pergi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi melintasi jalan raya yang gelap. Hal tersebut memicu kecelakaan fatal usai menabrak Deadite Jessica yang tiba-tiba muncul dan berdiri di tengah jalan. Saat Will tewas dalam kobaran api mobilnya, Deadite Jessica membacakan mantra Necronomicon untuk memindahkan jiwa iblis dari tubuhnya ke tubuh Will.


Kematian Will memaksa keluarganya untuk kembali berkumpul. Alice bertemu lagi dengan Joseph yang datang bersama kekasihnya, Thya (Luciane Buchanan), kedua mertuanya, Susan (Tandi Wright) dan Edgar Price (Eroll Shand), serta nenek dari keluarga tersebut, Polly (Maude Davey). Kehadiran Alice membuat Susan dan Edgar kesal karena menjadi penyebab kematian anak mereka. Saat sesi kebaktian berlangsung, jasad Will di dalam peti mati mendadak bangkit karena telah dirasuki Deadite. Ia kemudian membakar tubuh Edgar dan membunuh petugas kremasi, membuat situasi berubah menjadi kacau dan tak terkendali. Keluarga Price pun bergegas pergi meninggalkan lokasi dan pulang ke rumah mereka.



Setibanya di rumah, Susan, Joseph, Alice, dan Thya merawat luka bakar pada tubuh Edgar. Setelah kondisi Edgar membaik, keluarga Price menggelar makan malam bersama. Perselisihan kembali pecah antara Edgar, Joseph, dan Alice. Di tengah emosi yang meluap, Edgar secara brutal menusuk anjing peliharaan mereka menggunakan garpu hingga tewas. Melihat kondisi Edgar yang makin tak terkendali, Joseph dan Thya bergegas membawanya ke rumah sakit dengan mobil. Di tengah perjalanan, pengaruh Deadite membuat Edgar makin menggila. Ia menyerang Joseph dan Thya secara brutal hingga menyebabkan mobil mereka kecelakaan. Joseph berhasil selamat dari kecelakaan dan melarikan diri dari mobil tersebut.
Sementara itu di rumah, Alice tak sengaja menemukan buku catatan penelitian Benjamin yang sebelumnya dipelajari oleh Joseph. Tepat sebelum Alice membaca mantra dari buku terkutuk Necronomicon, ia mendadak diserang oleh anjing mereka yang bangkit kembali karena telah dirasuki Deadite.


Di tengah kekacauan itu, Joseph berhasil kembali ke rumah. Tak lama kemudian, Thya mendadak muncul di depan pintu dengan kondisi mengenaskan usai dirasuki Deadite. Thya langsung menyerang Joseph, Alice, Susan, dan Nenek Polly, sebelum akhirnya berhasil dijatuhkan ke dalam basement rumah. Keadaan semakin tak terkendali saat Edgar dan anjing mereka muncul di rumah dengan kondisi sudah sepenuhnya dirasuki Deadite. Bersama dengan Thya, mereka memburu keberadaan Belati Kandarian yang disembunyikan oleh Joseph. Bagaimanakah nasib keluarga Price selanjutnya? Mampukah mereka menyelamatkan diri dari teror sadis para Deadite yang kini merasuki anggota keluarga mereka sendiri?


#Review:
Salah satu franchise horror slasher ikonik dan legendaris karya Sam Raimi yang sudah eksis sejak 45 tahun lalu yaitu EVIL DEAD, kini kembali hadir dengan film standalone terbarunya di summer tahun ini berjudul EVIL DEAD BURN (2026). Menariknya, film ini menjadi film standalone ketiga dari EVIL DEAD versi modern setelah film pertamanya karya Fede Alvarez pada tahun 2013 dan film keduanya karya Lee Cronin, EVIL DEAD RISE (2023) pada tahun 2023.


Untuk segi cerita, pola dan treatment yang digunakan film EVIL DEAD BURN (2026) masih setia seperti film-film terdahulu yaitu tentang buku terkutuk, belati mistis dan serbuan iblis Deadite yang merasuki manusia dan menyerang secara ugal-ugalan. Seperti biasanya juga, film langsung dibuka dengan aksi sadis dan brutal ketika manusia menjadi korban keganasan manusia yang kerasukan Deadite. Sutradara asal Perancis yaitu Sebastian Vanicek berhasil mengeksekusi visual film ini lebih gelap dan kelam, menjadikan film EVIL DEAD BURN (2026) sebagai salah satu judul paling sadis, menjijikkan, penuh darah dan tanpa ampun dalam sejarah panjang franchise EVIL DEAD. Dinamika cerita yang berpusat pada konflik internal keluarga Price memberikan fondasi emosional yang pas sebelum pertumpahan darah dimulai. Pergolakan batin karakter Alice yang terjerat duka dan trauma akibat toxic relationship di masa lalunya menjadi "bensin" efektif yang sangat mudah dibakar oleh para Deadite. Pilihan lokasi rumah pinggir danau yang terisolasi sukses menciptakan rasa klaustrofobia yang kuat. Ketika keluarga disfungsional ini dipaksa berhadapan dengan teror supranatural, kepribadian dan rahasia kelam masing-masing justru dieksploitasi oleh iblis Deadite untuk saling menghancurkan dari dalam. Sesuai dengan branding dan reputasi franchise EVIL DEAD yang mengedepankan kesadisan di level maksimal, film EVIL DEAD BURN (2026) tentunya sangat royal dalam menyajikan serangkaian aksi sadis dan brutal di sepanjang film. Hampir semu adegan sukses membuatku ngilu, tutup mata dan sekalinya melihat, aku langsung dibuat mual. Sungguh gila! Sang sutradara juga rupanya sangat mengoptimalkan practical effect di setiap adegan gore dan slasher nya. Penonton bisa melihat secara gamblang bagaimana adegan kulit dan daging manusia hancur dengan mudahnya oleh kelakuan si Deadite sialan itu. Setiap penonton mengira jika kekerasan level ekstrim sudah ditampilkan, film ini menampilkan lagi "kegilaan" yang lebih gila. Hal tersebut membuktikan jika tidak ada satupun karakter dalam film yang aman dari siksaan ekstrim dari Deadite.
Salah satu pencapaian terbaik film EVIL DEAD BURN (2026) terletak pada kemampuannya mengolah ruang sempit menjadi arena pembantaian yang memanjakan mata pecinta horor slasher dan gore. Adegan di dalam mobil dan kamar mandi. Gila banget! Melihat alat pancing, sandaran jok mobil dan pisau cukur rambut warna pink kini jadi tak lagi sama. Sialan. Kombinasi sinematografi yang agresif dan permainan black comedy di beberapa dialog berhasil menjaga pace film tetap berada di intensitas tinggi.
Terlepas dari treatment dan template yang tidak menampilkan sesuatu yang baru, film EVIL DEAD BURN (2026) sukses menegaskan identitasnya sendiri melalui eskalasi aksi yang intens dari awal sampai akhir film, motif api yang sangat membara hingga kebrutalan tanpa ampun dan tedeng aling-aling. GILAAA!

NOTE: Jangan lupa post credit scene dan end credit scene yang berkaitan dengan film sebelumnya loh! Capek.


[8.5/10Bintang]

0 comments:

Post a Comment