Showing posts with label Adventure. Show all posts
Showing posts with label Adventure. Show all posts

Monday, 22 December 2025

[Review] Avatar 3 Fire And Ash: Mengenal Klan Baru Di Pandora Yang Berasal Dari Wilayah Gunung Berapi!



#Description:
Title: Avatar: Fire And Ash (2025)
Casts: Sam Worthington, Zoe Saldana, Sigourney Weaver, Stephen Lang, Oona Chaplin, Cliff Curtis, Britain Dalton, Trinity Bliss, Cliff Curtis), Kate Winslet, Jack Champion, Bailey Bass, Giovanni Ribisi, Carol Christine Pounder, Joel David Moore, Brendan Cowell
Director: James Cameron
Studio: 20th Century Studios, Lightstorm Entertainment


#Synopsis:
Neytiri (Zoe Saldana) dirundung duka yang amat mendalam usai kematian anak pertamanya yaitu Neteyam (Jamie Flatters) pada kejadian perang antara klan Na'vi dan Omatikaya melawan pasukan RDA (Resources Development Administration) di kapal raksasa. Sementara itu, Jake Sully (Sam Worthington) berusaha tegar dan melanjutkan hidup bersama keempat anaknya yaitu Lo'ak (Britain Dalton), Kiri (Sigourney Weaver), Spider (Jack Champion) dan Tuktirey (Trinity Bliss). Keluarga Na'vi masih tinggal di wilayah Metkayina yang dipimpin Tonowari (Cliff Curtis) dan istrinya, Ronal (Kate Winslet) yang sedang mengandung anak keempat mereka.



Kematian Neteyam semakin menumbuhkan rasa benci Neytiri terhadap manusia. Termasuk pada Spider. Sambil menahan emosi dan amarahnya, ia ingin membunuh Spider karena menjadi penyebab kematian Neteyam. Jake dan Neytiri memutuskan untuk mengembalikan Spider ke Bridgehead City, markas pasukan RDA yang dipimpin oleh mendiang ayahnya Spider yaitu Kolonel Miles Quaritch (Stephen Lang) yang kini sudah bertransformasi seutuhnya menjadi avatar seperti Jake. Keputusan tersebut membuat Lo'ak, Kiri dan Tuk marah karena mereka harus kehilangan lagi anggota keluarga setelah Neteyam.
Spider pun mau tak mau harus menerima keputusan Neytiri dan Jake. Ia diantar menuju Bridgehead City dengan menumpang pada kapal-kapal pedagang yang sedang menuju Metkayina. Sebagai perpisahan terakhir, Jake dan Neytiri mengajak ketiga anaknya untuk ikut menemani Spider dalam perjalan ke tempat asalnya.



Di tengah perjalanan, kapal-kapal yang mereka tumpangi harus menghadapi para perompak dari klan Mangkwang yang tinggal di wilayah gunung berapi. Pasukan perompak tersebut dipimpin oleh Varang (Oona Chaplin) dan langsung melakukan penjarahan, membakar dan membunuh para penumpang di kapal tersebut. Untungnya keluarga Jake berhasil melarikan diri meskipun mereka terpisah ketika terjatuh dan terdampar di hutan belantara Pandora. Di sana, mereka juga dikejar oleh pasukan Varang. Lo'ak, Kiri dan Tuk berusaha melindungi diri dan juga Spider yang mulai kehabisan stok oksigen. Sementara itu, Jake tak sengaja bertemu dengan Quaritch dan asistennya Lyle (Matt Gerald) yang sedang mencari Spider untuk dibawa pulang ke Bridgehead City. Jake pun menuntun Quaritch menuju kapal mereka yang habis dibakar oleh pasukan Mangkwang dan hampir saja berhasil menangkap Lo'ak, Kiri, Tuk dan Spider. Di sisi lain, Neytiri yang terluka parah berhasil melarikan diri dengan bantuan hewan terbangnya yaitu Ikran dan menuju tempat persembunyian peneliti klan Na'vi.


Lo'ak, Kiri dan Tuk semakin panik saat Spider jatuh pingsan. Kiri pun nekat melakukan ritual berkomunikasi pada Great Mother penjaga Spirit Trees dan meminta bantuan agar Spider bisa diselamatkan dengan cara menghubungkan ekornya pada jaringan akar yang ada di tanah. Secara ajaib, tubuh Spider diselimuti jamur berwarna putih sama seperti yang terjadi di masa lalu pada Jake dan Dr. Grace Augustine (Sigourney Weaver). Tak lama setelah itu, Spider mulai sadar dan kini ia bisa menghirup udara di Pandora tanpa masker lagi. Quaritch kini berhadapan dengan pasukan Mangkwang dan juga Varang. Terjadilah kesepakatan yang dimana Quaritch akan memberikan supply senjata pada Varang asalkan membantunya untuk menangkap Jake dan Spider lalu membawa mereka ke Bridgehead City. Selain itu, Quaritch juga berjanji jika mereka bersekutu maka akan lebih mudah bagi Varang untuk menguasai wilayah klan lain di seluruh penjuru Pandora.


Ditengah kekacauan usai hadirnya Varang, wilayah Metkayina kembali diusik oleh pasukan pemburu paus Tulkun dari RDA yang mengetahui jika para paus Tulkun akan berkumpul untuk beranak pinak. Pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Frances Ardmore (Edi Falco), Kapten Mick Scoresby (Brendan Cowell), ilmuwan biologi Dr. Ian Garvin (Jemaine Clement) dan Parker Selfridge (Giovanni Ribissi) akan menangkap seluruh paus Tulkun dari yang akan berkumpul tersebut agar pasokan stok selama satu tahun kedepan terpenuhi. Lo'ak dan anak-anak dari Tonowari dan Ronal pun mencoba berkomunikasi pada pasukan paus Tulkun perihal rencana tersebut. Sementara itu, Spider berhasil ditangkap oleh pasukan Mangkwan dan dibawa menuju Bridgehead City. Jake pun kemudian menyerahkan diri pada Quaritch dan bersedia untuk ditahan.



Kondisi fisik Neytiri perlahan mulai membaik. Ia pun tak tinggal diam saat mengetahui Jake dan Spider sudah ditangkap. Ia pun terbang menuju Bridgehead City dan merusak beberapa fasilitas yang membuat Jake dan Spider berhasil kabur. Dalam persembunyiannya, Jake pun sepakat dengan Neytiri untuk membunuh Spider karena beban yang harus ditanggungnya kini semakin besar. Namun rencana tidak jadi dilakukan karena Spider sudah menyelamatkan Jake dan mereka berdua pun tak ingin kembali dirundung kesedihan harus kembali kehilangan orang-orang yang mereka sayangi. Neytiri kemudian menerima kembali Spider menjadi bagian dari keluarganya.


Ditengah situasi yang semakin memanas, Jake dan Tonukwari meminta bantuan pada seluruh suku dan klan yang adai Pandora untuk menyerang pasukan RDA. Peperangan pun kembali terjadi. Saat para klan hampir berhasil melumpuhkan pasukan RDA, Varang dan pasukannya kemudian muncul dan membantu pasukan RDA untuk menghabisi musuh-musuh mereka. Peperangan semakin membesar hingga menimbulkan banyak kematian. Bagaimana nasib selanjutnya dari klan Metakyina, Omatikaya dan yang lainnya?



#Review:
Franchise film mega box office hit produksi 20th Century Studios yaitu AVATAR kembali hadir di penghujung tahun ini dengan film AVATAR: FIRE AND ASH (2025), yang merupakan film ketiga sekaligus direct sequel dari film keduanya, AVATAR: THE WAY OF WATER (2022). Menariknya, proses syuting kedua film ini dilakukan secara back to back selama tiga tahun sehingga plot dan para pemain mayoritas tidak mengalami perubahan signifikan.


Untuk segi cerita, film AVATAR 3 (2025) memang melanjutkan cerita yang sudah terjadi di film kedua. Maka aku sangat sarankan sebelum menonton film ini di bioskop, wajib untuk menonton film AVATAR 2 (2022) terlebih dahulu. Hal inilah yang menjadikan plot secara keseluruhan masih 11-12 dengan film terdahulu yaitu tentang keluarga Jake masih jadi buronan Quaritch karena (masih aja) ingin balas dendam sambil merebut (lagi) Spider yang lebih nyaman tinggal di Pandora. Dengan durasi yang melar mencapai 3 jam 15 menit, James Cameron dan tim penulis cerita sangat leluasa untuk mengeksplor dunia Pandora yang kini menghadirkan klan baru yang dipimpin oleh Varang. Konflik pun jadi bercabang antara keluarga Jake, Quaritch dan Varang. Yang cukup disayangkan, pola dan treatment plot nya pengulangan dari dua film sebelumnya yaitu aksi kejar-kejaran, lalu berhasil sembunyi, kemudian tertangkap, berhasil bebas, pengorbanan dan seterusnya. Fokus cerita pun masih berkutat pada Jake dengan Quaritch saja, padahal di film sebelumnya dan film ini sudah hadir dua klan baru namun tak tereksplor lebih spesifik dan mendalam lagi. Klan Mangkwan yang dipimpin Varang pun seharusnya menjadi main villain baru karena sesuai dengan sub judul film, namun ia malah jadi side character yang sekedar tukang jarah dan anarkis semata, lalu terjebak cinlok sekaligus menjalin kerjasama dengan Quaritch karena saking polosnya wkwkwk. Alhasil, untuk keseluruhan plot jadi membosankan karena konflik yang dihadirkan tidak menawarkan sesuatu yang baru.


Visual film AVATAR: FIRE AND ASH (2025) di IMAX 3D sangat direkomendasikan!

Untuk urusan visual, sutradara James Cameron memang selalu konsisten memberikan gebrakan sekaligus menjadi pioneer dalam teknologi di dunia sinema Hollywood. Visualisasi film AVATAR 3 (2025) tampil semakin mengesankan dengan penggunaan HFR (High Frame Rate) pada efek 3D dan 48 FPS nya yang makin smooth, natural, tajam dan tidak bikin lelah mata! Aku menonton film AVATAR 3 (2025) di Teater IMAX Cinema XXI Kelapa Gading, sensasi spektakuler nya masih terasa maksimal. Hutan belantara dan lautan di Pandora seperti biasanya, dieksplor dengan memukau. Yang cukup disayangkan yaitu eksplorasi tempat tinggal klan Mangkwan yang dipimpin Varang kurang terekspos dengan maksimal. Adegan-adegan aksinya pun memang keren, tapi terasa tidak menawarkan hal baru karena hanya pengulangan demi pengulangan saja dari film keduanya.
Untuk jajaran pemain, tak perlu untuk dikomentari karena kapasitas mereka sebagai aktor untuk film AVATAR 3 (2025) ini sudah berada di level yang sangat memuaskan. Yang kali ini mencuri perhatian datang dari pemeran Varang yaitu Oona Chaplin. Gesture dan visualisasinya bersama dengan pasukan Mangkwan benar-benar menyeramkan, sekilas mirip zombie ih takut! Moment-moment emosional dari para aktor saat adegan-adegan dramatis juga sukses membuat penonton ikutan haru.
Overall, film AVATAR: FIRE AND ASH (2025) memang jempolan dan bintang lima untuk urusan visualisasinya yang rasanya tidak ada sineas lain yang seberani James Cameron, namun untuk urusan cerita, terasa tidak punya sesuatu yang baru lagi. Semoga saja di dua film yang tersisa, hadir dengan cerita yang lebih berkesan dan mengejutkan, sama seperti ketika film pertamanya yang dirilis 16 tahun silam.


[8.5/10Bintang]

Thursday, 19 June 2025

[Review] Elio: Serunya Cerita Tentang Mimpi Diculik Alien Yang Menjadi Kenyataan!

 


#Description:
Title: Elio (2025)
Casts: Yonas Kibreab, Zoe Saldana, Remy Edgerly, Brandon Moon, Brad Garrett, Jameela Jamil, Young Dilan, Jake T. Getman, Matthias Schweighöfer, Ana de la Reguera, Atsuko Okatsuka, Shirley Henderson, Naomi Watanabe, Brendan Hunt, Anissa Borrego, Shelby Young
Director: Madeline Sharafian, Domee Shi, Adrian Molina
Studio: Pixar Animation Studios, Walt Disney Pictures


#Synopsis:
Elio Solis (Yonas Kibreab) baru saja menjadi seorang yatim piatu usai kematian kedua orangtuanya. Elio kini tinggal bersama adik dari mendiang ibunya yaitu Olga Solis (Zoe Saldana), seorang mayor angkatan udara yang rela mengorbankan impiannya sebagai astronot demi merawat dan menjaga keponakannya itu. Saat mengunjungi tempat kerja bibinya dan museum dirgantara, Elio tak sengaja masuk ke ruang pameran pesawat ruang angkasa Voyager 1. Disana, Elio dibuat takjub saat mendengar misi menemukan kehidupan lain di luar angkasa. Sejak saat itulah, Elio semakin tertarik terhadap dunia antariksa dan luar angkasa.


Bertahun-tahun kemudian, Elio tumbuh menjadi remaja yang terobsesi dengan segala hal tentang antariksa termasuk alien. Yang lebih gilanya lagi, Elio punya cita-cita ingin diculik alien. Untuk mewujudkan impiannya itu, Elio berusaha mengirim sinyal komunikasi ke langit dan menyusuri setiap pinggir pantai dengan harapan bisa mendapat respon dari makhluk luar angkasa. Namun sayang, semua usahanya itu selalu gagal. Hingga suatu malam, Elio meminjam alat komunikasi milik Bryce (Young Dilan) dengan harapan jangkauan sinyal yang dikirimkan ke luar angkasa bisa lebih luas. Saat dicoba, Elio kembali gagal dan membuatnya diejek oleh teman dari Bryce yaitu Caleb (Jake T. Getman). Perkelahian pun tak terhindarkan hingga Elio mengalami lebam di bagian mata sebelah kiri.


Bibi Olga dibuat kesal saat mengetahui keponakannya itu berkelahi di pantai saat malam hari. Elio pun terpaksa ia bawa ke tempat kerja agar bisa diawasi lebih ketat lagi. Saat menunggu di ruangan kerja Bibi Olga, Elio tak sengaja mendengar obrolan di pertemuan darurat angkatan udara perihal temuan dari seorang ahli teori konspirasi yaitu Gunther Melmac (Brendan Hunt) yang mengatakan jika makhluk di luar angkasa telah merespon pesan yang dikirim pesawat Voyager 1 pada tahun 1977 silam. Namun sayang, semua teori tersebut dibantah oleh Olga dan para ilmuwan disana. Mereka tidak mempercayai tentang adanya alien atau mahkluk luar angkasa lain yang berusaha berkomunikasi dengan planet bumi.
Mendengar teori yang diucapkan Melmac, membuat Elio sangat senang. Ia langsung menyelinap masuk ke ruang rapat lalu menggunakan perangkat komunikasi milik Melmac untuk merespon pesan yang diyakini berasal dari alien.


Gara-gara hal tersebut, seketika listrik di pangkalan militer padam dan Bibi Olga nyaris saja kehilangan pekerjaannya. Karena muak dan semakin kewalahan menghadapi keponakannya yang sulit diatur, Bibi Olga kemudian memasukkan Elio ke camp perkemahan dengan harapan Elio bisa lebih disiplin dan meninggalkan semua obsesinya terhadap alien.
Selama berada di perkemahan, Elio tetap saja berusaha mengirimkan sinyal komunikasi ke langit agar alien menculiknya. Hingga suatu ketika saat tengah malam, Elio yang bersembunyi di pinggir pantai karena dikejar anak-anak nakal, melihat cahaya yang sangat besar dari langit. Cahaya tersebut rupanya sebuah pesawat alien yang datang untuk menjemput Elio. Di sisi lain, Bibi Olga menerima pesan-pesan aneh di semua perangkat elektronik pangkalan militer yang isinya menanggapi pesan kiriman Elio. Tak lama setelah itu, Elio benar-benar pergi naik pesawat alien tersebut.


Saat berada di dalam pesawat luar angkasa, Elio disambut oleh sebuah superkomputer cair bernama OOOOO (Shirley Henderson) yang akan membawa Elio menuju planet Communiverse. Setibanya disana, Elio disambut penuh suka cita oleh para alien perwakilan atau Ambassador dari planet-planet lain dari seluruh alam semesta. Para Ambassador sangat meyakini jika Elio adalah perwakilan dari planet bumi yang menciptakan pesawat Voyager 1. Hal tersebut membuat Elio kebingungan, mengingat dirinya hanyalah seorang remaja yang sangat terobsesi dengan luar angkasa.




Sementara itu, para Ambassador dari berbagai planet yang ada di Communiverse menggelar pertemuan darurat secara mendadak untuk membahas perihal Lord Grigon (Brad Garrett), seorang panglima perang kejam yang terobsesi ingin menjadi anggota sekaligus memimpin Communiverse. Namun karena keputusan seluruh Ambassador yang masih menolaknya, Lord Grigon mengancam akan mengambil alih Communiverse secara paksa dengan mendatangkan seluruh pasukannya. Para Ambassador ketakutan dengan rencana tersebut dan secepatnya harus segera meninggalkan Communiverse. Hal berbanding terbalik justru datang dari Elio. Ia mengajukan diri akan bernegosiasi pada Lord Grigon dan membujuknya untuk tidak berambisi ingin mengambil alih kekuasaan di Communiverse. Rencana tersebut sangat didukung oleh para Ambassador. Mereka kagum terhadap sikap Elio yang pemberani dan tak pantang takut dalam menghadapi Lord Grigon. Sebelum memulai proses negosiasi, OOOO menciptakan kloning dari Elio untuk menggantikan sementara Elio di bumi selama menjalankan tugasnya di Communiverse.


Keesokan harinya, Elio terbang menuju pesawat luar angkasa Lord Grigon. Tiba di sana, proses negosiasi tak sesuai dengan harapan. Elio justru membuat marah Lord Grigon dan akhirnya ia dimasukkan ke sel tahanan. Sementara itu, kloning Elio yang ada di bumi sangat berbanding terbalik dengan Elio versi asli. Hal tersebut membuat Bibi Olga bahagia karena keponakannya itu tidak lagi tertarik akan luar angkasa dan juga alien. Saat Elio asli berusaha melarikan diri dari sel tahanan, ia tak sengaja bertemu dengan anak dari Lord Grigon yaitu Glordon (Remy Edgerly) yang selama ini sedang dipersiapkan sebagai alat perang terbaru dan tercanggih yang pernah ada. Elio kemudian punya ide untuk menggunakan Glordon sebagai alat untuk tawar-menawar dengan Lord Grigon agar pergi dari Communiverse dengan damai dan tanpa konflik. Bagaimana nasib Elio dan planet Communiverse selanjutnya?



#Review:
Disney Pixar kembali hadir memeriahkan early summer tahun ini dengan merilis film animasi terbaru berjudul ELIO (2025). Film ini disutradarai oleh tiga nama besar animator Hollywood yang sukses lewat beberapa film panjang dan film pendek animasi Pixar seperti COCO (2017), TURNING RED (2021) dan BURROW (2024).


Untuk segi cerita, film ELIO (2025) menghadirkan plot tentang keluarga dan juga persahabatan yang dibungkus dengan sci-fi luar angkasa. Bagi penonton yang ketika masa kecil dan remajanya sangat tergila-gila dengan dunia antariksa (sepertiku), pasti akan jatuh hati dan terpukau dengan apa yang disajikan oleh film ELIO (2025) ini. Development character dari Elio Solis terasa relatable dengan anak-anak yang merasa sendirian dan tidak pernah mendapat tempat nyaman untuk mengekspresikan diri. Pada paruh awal film inilah, plot journey dari Elio semakin menarik dengan sentuhan sci-fi yang eksekusinya terasa seperti tribute untuk film-film sci-fi legendaris Hollywood. Seiring berjalannya durasi, plot cerita yang semula tentang proses pencarian jati diri serta obsesi untuk melarikan diri dari kenyataan, pada akhirnya memberikan moral value pada penonton dalam menghargai "rumah" dan orang-orang disekitarnya. Main value yang disampaikan oleh film ini sebetulnya sudah sangat berhasil divisualkan dengan luar biasa. 


Namun di pertengahan film, plot dan pendalaman cerita dari planet Communiverse beserta para Ambassador yang ada disana hanya sebatas pelengkap saja dan tidak dieksplor lebih jauh lagi. Untungnya, relationship antara Elio dengan Bibi Olga menjadi nilai lebih tersendiri dalam film ini. Meskipun Elio bukanlah anak kandungnya, Bibi Olga tetap mengambil peran sebagai orangtua pengganti untuk Elio dan menjaganya dengan penuh tanggung jawab. Terdapat dua moment sangat mengharukan antara Elio dengan Bibi Olga yang mereflesikan tentang "just the way you are" dan "rumah". Dinamika emosional juga turut hadir lewat hubungan antara Lord Grigon dengan anaknya Glordon. Moment of truth dan saling jujur antara mereka berdua yang kemudian divisualkan dengan kebiasaan seekor kepompong di akhir film sukses membuatku kembali meneteskan air mata. Lagi dan lagi, Disney Pixar selalu berhasil menyajikan film animasi yang tak cuma menghibur dengan visual spektakulernya, tapi tetap memiliki hati dan perasaan di setiap filmnya!
Jajaran aktor pengisi suara di film ELIO (2025) juga tampil gemilang dengan ciri khasnya masing-masing. Yonas Kibreab, Zoe Saldana dan Remy Edgerly menjadi terfavorit karena chemistry mereka bertiga sangat kuat dan saling melengkapi satu sama lain. Untuk urusan visual juga, Disney Pixar memang tak perlu dikomentari lebih jauh. Sudah jelas berada di level yang memuaskan. Overall, film ELIO (2025) adalah bukti nyata hal-hal sederhana pun bisa diolah menjadi sajian film animasi yang bagus dan berkesan!


[9/10Bintang]

Saturday, 22 March 2025

[Review] Jumbo: Petualangan Don Dan Kawan-Kawan Menghadirkan Pentas Ksatria Dan Pulau Gelembung!

 


#Description:
Title: Jumbo (2025)
Casts: Prince Poetiray, Quinn Salman, Graciella Abigail, Yusuf Ozkan, M. Adhiyat, Angga Yunanda, Bunga Citra Lestari, Ariel Noah, Ratna Riantiarno, Kiki Narendra, Cinta Laura Kiehl, Ariyo Wahab, Rachel Amanda, Aci Resti, Muzakki Ramdhan, Ali Fikry, Den Bagus Satrio Sasono
Director: Ryan Adriandhy
Studio: Visinema Studios, Springboard, Anami Films


#Synopsis: 
Don (Prince Poetiray) dikenal sangat menyukai dongeng dan juga musik. Dongeng kesukaannya yaitu Ksatria dan Pulau Gelembung yang ditulis oleh mendiang Ayah (Ariel Noah) dan Ibunya (Bunga Citra Lestari) yang telah tiada. Satu-satunya peninggalan dari mereka yaitu buku dongeng Ksatria dan Pulau Gelembung yang kini menjadi buku kesayangan Don dan sang nenek (Ratna Riantiarno).



Suatu hari, anak-anak di Kampung Seruni mendengar kabar pengumuman tentang lomba dan pentas seni yang akan digelar dalam waktu dekat. Atta (M. Adhiyat) yang memiliki bakat merakit alat elektronik tertarik untuk ikutan pentas tersebut karena jika ia menang, bisa mendapatkan hadiah uang tunai yang nantinya bisa dipakai untuk berobat kakaknya, Acil (Angga Yunanda) ke rumah sakit. Namun sayang, saat Atta tiba di booth, pendaftaran peserta sudah ditutup. Selain Atta, ternyata Don juga tertarik mengikuti lomba tersebut. Rencananya, Don akan mementaskan dongeng Ksatria dan Pulau Gelembung dengan dibantu kedua temannya yaitu Mae (Graciella Abigail) dan Nurman (Yusuf Ozkan). Keberuntungan berpihak pada Don. Panitia membuka satu slot peserta karena ada satu peserta mengundurkan diri. Otomatis, Don yang masih ada disana langsung diterima menjadi peserta terakhir untuk mengikuti perlombaan.
Don, Mae dan Nurman langsung menyusun rencana dan berbagi ide agar pentas dongeng Ksatria dan Pulau Gelembung mereka bisa memukau banyak orang. Ketiganya berkumpul di gudang yang sudah lama kosong yang sering dijadikan basecamp untuk berkumpul. Don menjadi pemeran Ksatria dan dituntut harus bisa menyanyi. Mae mendapat tugas untuk melatih vokal Don sekaligus membuat kostum, lalu Nurman mendapat tugas untuk membuat properti pentas.


Sementara itu, Atta kesal dan marah melihat Don yang beruntung bisa ikut lomba dibandingkan dirinya. Atta pun langsung untuk mengambil buku dongeng milik Don agar pentasnya tidak jadi tampil. Don histeris dan panik buku kesayangannya itu diambil oleh Atta. Saat mereka berusaha mencari cara agar bisa mendapatkan kembali buku dongeng itu, Don, Mae dan Nurman tiba-tiba melihat penampakan seorang perempuan muncul dari gudang. Perempuan kecil itu bernama Meri (Quinn Salman) yang memiliki kekuatan ajaib. Meri sendiri serta sudah lama menghuni gudang disana usai kehilangan Ayah (Ariyo Wahab) dan Ibunya (Cinta Laura Kiehl). Meri akhirnya berani menampakkan diri pada Don, Mae dan Nurma untuk meminta pertolongan mencari keberadaan ayah dan ibunya yang tiba-tiba menghilang.


Don dan kedua temannya bersedia membantu Meri asalkan Meri mau membantu mereka bertiga untuk mendapatkan buku dongeng yang diambil Atta. Mereka berempat kemudian sepakat dan akan saling membantu satu sama lain. Dengan kekuatan ajaibnya, Meri berhasil mendapatkan kembali buku dongeng yang diambil Atta. Setelah itu, Don meminta bantuan sekali lagi pada Meri untuk ikut lomba pementasan dongeng Ksatria dan Pulau Gelembung. Meri pun bersedia karena Don sudah berjanji akan menolongnya untuk mencari ayah dan juga ibunya. Meri pun ikut membantu Don, Mae dan Nurma mendapatkan banyak uang dengan mengikuti berbagai lomba menarik menjelang acara pentas seni. Uang yang mereka dapatkan kemudian dipakai untuk membeli perlengkapan kostum dan properti. Meri pun bersedia bertransformasi menjadi manusia selama acara pentas agar tidak menimbulkan kecurigaan. Selama menjadi manusia, Meri diajak untuk duet bersama Don menyanyikan lagu yang tersembunyi di halaman terakhir buku dongeng Ksatria dan Pulau Gelembung.


Kehadiran Meri berhasil membawa pentas seni Ksatria dan Pulau Gelembung milik Don menjadi juara pertama. Pihak penyelenggara pun meminta Don, Meri, Mae dan Nurman untuk pentas lagi di malam selanjutnya. Setelah selesai, Meri menagih janji pada Don untuk mencari orangtuanya. Namun Don malah mengulur waktu dengan alasan mereka harus tampil sekali lagi atas permintaan pihak panitia lomba. Mendengar hal tersebut membuat Meri kesal sekaligus sedih. Janji yang sudah disepakati malah diingkari oleh Don. Pertengkaran tersebut diam-diam diketahui oleh Atta dan langsung pulang ke rumah untuk memberitahu kakaknya. Tiba di rumah, Atta melihat sang kakak sedang berbincang dengan Kepala Desa Seruni yaitu Pak Rusli (Kiki Narendra) yang menawarkan pekerjaan. Mendengar penjelasan dari Atta membuat Acil terkejut dan menganggap adiknya itu hanya bercanda saja.


Usai mendengar sosok hantu yang menghuni gudang kosong, Pak Rusli mengajak Acil dan Atta ke gudang kosong tempat latihan Don, Mae dan Nurman sekaligus tempat persembunyian Meri. Setibanya disana, Pak Rusli sudah punya rencana yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bagaimana nasib Meri selanjutnya? Apakah Don, Mae dan Nurman tetap tampil meskipun tanpa bantuan Meri?


#Review:
Setelah penantian panjang selama lebih dari lima tahun, akhirnya Visinema Studios siap menayangkan film animasi JUMBO (2025) di bioskop Indonesia pada moment Libur Lebaran tahun ini! Sedikit throwback, gaung proses produksi film JUMBO (2025) ini sendiri sudah terdengar sejak awal tahun 2020 lalu. Usai menggarap film animasi NUSSA (2021) bersama dengan rumah produksi The Little Giantz, Visinema Studios kemudian langsung mengerjakan film JUMBO (2025) yang resmi dimulai pada awal 2021.


Ketika Pandemi CoVid-19 melanda dunia, proses produksi film JUMBO (2025) terpaksa mengalami penundaan. Sisi positifnya, sang sutradara sekaligus Head of Animation Development dari Visinema Studios yaitu Ryan Adriandhy menjadi lebih leluasa untuk terus memoles film animasi panjang perdananya ini. Lima tahun berlalu, film JUMBO (2025) akhirnya melangsungkan Gala Premiere yang sukses digelar pada Kamis, 13 Maret 2025 kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Kuningan Jakarta Selatan. Acara berlangsung sangat meriah, lobby luar dan dalam bioskop dihiasi properti film-film JUMBO (2025) serta tersedianya photobooth bagi tamu undangan. Antusias para tamu undangan dari rekan-rekan media sampai kalangan aktor pun semakin meriah saat memasuki malam hari.




Hal menarik diungkapkan oleh sang sutradara saat sesi press conference fim JUMBO (2025). Ryan Adriandhy beserta 400 lebih kreator dan animator lokal asli Indonesia sangat lega dan bahagia akhirnya film yang dikerjakan dalam lima tahun terakhir ini bisa segera dinikmati oleh seluruh penonton di Indonesia. Lebih lanjut, ide dan inspirasi cerita film JUMBO (2025) ini berasal dari masa kecil sang sutradara bersama orang-orang terdekatnya termasuk persahabatan dengan teman-teman sebayanya. Hal menarik lainnya datang dari pengisi suara karakter utama Don yaitu Prince Poetiray yang mengaku jika dirinya memiliki banyak kesamaan dengan Don. Prince dan juga Don sangat percaya diri, antusias dan pantang menyerah. Selain itu, keduanya pun sama-sama memiliki bakat dalam bernyanyi. Pengisi suara karakter Meri yaitu Quinn Salman juga sangat senang bisa menjadi bagian dari film JUMBO (2025) ini karena sejak kecil ia punya impian ingin menjadi voice aktor untuk film animasi.



Untuk segi cerita, film JUMBO (2025) menghadirka cerita yang sederhana tentang persahabatan anak-anak yang dibalut dengan fantasi magis. Sang sutradara berhasil memotret kehidupan sehari-hari bocil-bocil era tahun 90an yang lebih banyak meluangkan waktu bermain diluar dan berinteraksi satu sama lain. Keputusan Ryan Adriandhy mengambil latar waktu di era 90an adalah hal yang tepat, efek nostalgia terasa sangat kuat dan generasi milenial ketika masih bocil memang belum terpapar kecanggihan gadget dan sosial media seperti generasi Gen Z dan Alpha saat ini. Sepanjang petualangan Don dalam mewujudkan dongengnya menjadi sebuah pentas seni juga memberikan moral value yang sangat powerful tentang bagaimana solidaritas, ingkar janji dan pentingnya saling mendengarkan satu sama lain dalam sebuah pertemanan. Subplot tambahan yang tak kalah menarik datang dari sosok villain yang merepresentasikan tentang perilaku dzolim demi kepentingan pribadi. Cara penyampaiannya pun surprisingly sangat ringan dengan balutan unsur magical, padahal jika hadir dalam live action, subplot ini akan jadi horror banget vibes nya haha.


Lima babak yang disajikan oleh film JUMBO (2025) berjalan sangat mulus dan saling melengkapi satu sama lain. Setiap karakter yang muncul mendapat pendalaman karakter dan cerita yang bagus. Moment-moment emosional yang mereka tampilkan juga selalu berhasil membuatku terharu. Menonton film JUMBO (2025) di bioskop sungguh menjadi sebuah pengalaman yang sangat mengesankan. Akhirnya Indonesia punya lagi film animasi yang BAGUS dan sudah setara dengan film-film animasi kelas Hollywood!
Untuk jajaran pemain, Prince Poetiray, Quinn Salman, Graciella Abigail, Yusuf Ozkan dan M. Adhiyat berhasil menghidupkan Don dan kawan-kawan dengan sangat maksimal! Ekspresi, gesture dan emosi yang mereka keluarkan bisa dirasakan oleh penonton. Lagu Selalu Ada Di Nadimu versi Don dan Meri saat pentas harus segera dirilis! Eargasm dan berhasil membuatku terharu di adegan lagu ini! Para pengisi suara dari kalangan aktor dewasa seperti Ariel Noah, Bunga Citra Lestari, Ratna Riantiarno, Kiki Narendra sampai Aci Resti dan Rachel Amanda yang mencuri perhatian juga sukses melengkapi keindahan film JUMBO (2025).

OST Film JUMBO (2025) klik di sini

Untuk urusan visual, film JUMBO (2025) menampilkan visual animasi yang sangat memuaskan dan memanjakan mata penonton di bioskop. Mungkin jika film ini menggunakan dialog full bahasa Inggris, pasti akan banyak yang mengira buatan Hollywood. Setelah film NUSSA (2021), Visinema lagi dan lagi memberikan benchmark baru dan standar sangat tinggi untuk kualitas film animasi di Indonesia. Harus ditonton di bioskop rame-rame bareng keluarga, sahabat, kerabat di moment libur Lebaran Idul Fitri 1446 Hijriyah! Totally highly recommended!


[9.5/10Bintang]

Sunday, 23 February 2025

[Review] Wicked: Kisah Persahabatan Elphaba dan Galinda Ketika Di Shiz University!




#Description:
Title: Wicked Part One (2024)
Casts: Cynthia Erivo, Ariana Grande, Jonathan Bailey, Michelle Yeoh, Jeff Goldblum, Ethan Slater, Marissa Bode, Peter Dinklage, Bowen Yang, Bronwyn James, Keala Settle, Colin Michael, Andy Nyman
Director: Jon M. Chu
Studio: Universal Pictures, Marc Platt Productions
 
 
#Synopsis:
Kedatangan Glinda The Good (Ariana Grande) di Land of Oz disambut suka cita oleh para warga. Mereka sangat senang, saat mengetahui Galinda berhasil mengalahkan Wicked Witch (Cynthia Erivo) yang menguasai wilayah barat. Saat akan kembali ke Emerald City, Galinda mendapat pertanyaan dari seorang anak tentang persahabatannya dengan Wicked. Glinda tak membantah hal tersebut karena memang mereka pernah bersahabat saat kuliah di Shiz University.
Memasuki tahun ajaran baru, Galinda Upland tiba di kampus yang selama ini ia idamkan. Dengan parasnya yang cantik dan berasal dari keluarga kaya raya, Galinda langsung menjadi pusat perhatian oleh para mahasiswa disana. Disisi lain, Elphaba Thropp diminta sang ayah untuk mengantar dan mengawasi adiknya, Nessarose (Marissa Bode) yang ingin kuliah di Shiz University. Para mahasiswa yang ada disana dibuat terkejut saat melihat Elphaba karena warna kulitnya yang berwarna hijau. Tak sedikit yang memandang sebelah mata dan menganggap Elphaba aneh dengan bentuk fisiknya yang seperti itu. Para mahasiswa baru pun diminta berkumpul di taman sambil menunggu kehadiran Madame Morrible (Michelle Yeoh), yang menjabat sebagai pimpinan sekaligus Dean of Sorcery di Shiz University. Tugas Elphaba mengantarkan Nessarose sebetulnya sudah selesai. Namun karena aksi bullying yang Nessarose dapatkan gara-gara menggunakan kursi roda, membuat Elphaba marah hingga mengeluarkan kekuatan sihirnya. Seluruh mahasiswa terkejut dengan apa yang terjadi. Madame Morrible seketika langsung melindungi Elphaba dengan berkata jika sihir tersebut dilakukan oleh dirinya sendiri.
Di depan Madame Morrible, akhirnya Elphaba menceritakan tentang kemampuan sihirnya yang selama ini ia sembunyikan karena sulit untuk dikuasai. Madame Morrible langsung menawarkan Elphaba kursus sihir secara privat dengan dirinya dan dipersilahkan bergabung sebagai mahasiswa baru di Shiz University. Elphaba langsung menolak tawaran tersebut dengan alasan yang ingin kuliah disana hanya adiknya. Selain itu, jika dirinya ikut kuliah pasti tidak akan mendapat izin dari sang ayah. Melihat Elphaba yang bisa dengan mudah didekati oleh Madame Morrible, membuat Galinda berusaha mencari perhatian juga. Madame Morrible kemudian memanfaatkan Galinda untuk membujuk Elphaba bersedia kuliah di Shiz University dan nantinya Galinda bisa ikut kursus privat dengan Madame Morrible jika rencana tersebut berhasil. Elphaba akhirnya bersedia ikut kuliah di Shiz University dan mendapat satu kamar asrama yang sama dengan Galinda. Awalnya Galinda merasa keberatan dan risih karena harus berbagi kamar dengan Galinda, namun seiring berjalannya waktu Galinda mulai terbiasa dirinya bisa kursus secara privat dengan Madame Morrible.
Suatu hari, Shiz University kedatangan mahasiswa baru yaitu Fiyero Tigelaar (Jonathan Bailey). Para mahasiswa baru kemudian berencana menggelar pesta dansa di Ozdust Ballroom. Seluruh mahasiswa bisa hadir dengan membawa pasangan mereka masing-masing. Kehadiran Fiyero membuat Galinda langsung jatuh hati kepadanya. Sementara itu, Eplhaba yang awalnya tidak ingin datang, diminta oleh Galinda untuk datang juga ke pesta dengan mengenakan gaun serta topi aneh yang sengaja Galinda berikan pada Elphaba. Kehadirannya di Ozdust Ballroom, kembali mengundang bullying dari para mahasiswa lain. Mereka menganggap penampilan busana Elphaba aneh dan juga menyeramkan. Setelah itu, Madame Morrible muncul di pesta tersebut dan menemui Galinda. Ia bersedia mengajarinya ilmu sihir secara privat atas paksaan dari Elphaba. Jika, Madame Morrible tidak menyanggupi hal tersebut, maka Elphaba akan keluar dari Shiz University.
Seiring berjalannya waktu, berbagai kebijakan aneh muncul di Shiz University. Para Doktor dan Professor hewan yang ada disana tiba-tiba mendapat perilaku diskriminatif. Salah satu yang mengalaminya yaitu Dr. Dillamon (Peter Dinklage) yang mengaku kemampuannya untuk berbicara dan berfikir seperti manusia mendadak berkurang secara drastis. Puncaknya, Shiz University mengeluarkan surat yang memerintahkan jika seluruh hewan yang selama ini mengajar sebagai dosen, Doktor maupun Professor harus dikembalikan ke habitatnya. Kejadian tersebut membuat Elphaba sangat sedih dan kesal. Keadilan dan kesetaraan sebagai sesama makhluk hidup harus kembali ditegakkan. Elphaba pun kini berjanji jika sudah berhasil menguasai kekuatannya, ia akan membantu Dr. Dillamon dan seluruh hewan lainnya agar bisa kembali seperti semula.
Waktu terus berlalu, Shiz University mendapat kiriman sebuah surat dari Wizard of Oz (Jeff Goldblum). Surat tersebut ternyata undangan untuk Elphaba yang memintanya untuk datang ke Emerald City. Madame Morrible sangat senang akhirnya Elphaba bisa bertemu Wizard of Oz dan mewujudkan impiannya disana sebagai seorang penyihir dengan kemampuan luar biasa. Ketika rombongan pengantar Elphaba sedang menunggu kereta, Galinda menunjukkan solidaritasnya dengan mendukung semua impian dan cita-cita Elphaba yang ingin mengembalikan hak-hak para hewan di Shiz University. Galinda pun memutuskan untuk mengganti nama panggilannya menjadi Glinda, sama seperti nama panggilan yang diberikan Dr. Dillamon kepada dirinya. Karena merasa terharu dengan sikap sahabatnya itu, Elphaba tiba-tiba saja langsung mengajak Glinda untuk ikut ke Emerald City dengan menaiki kereta. Setibanya disana, mereka disambut dengan penuh suka cita oleh para warga dengan berbagai atraksi spektakuler.
Tiba di istana, Elphaba dan Glinda disambut dengan hangat oleh Wizard of Oz. Tak lama setelah itu, mereka juga kedatangan Madame Morrible. Usai menjelajahi setiap sudut istana, Elphaba dan Glinda dipertemukan dengan sebuah buku keramat bernama Grimmerie. Buku tersebut berisikan berbagai mantra tersembunyi yang tulisannya sangat sulit untuk dibaca. Namun siapa sangka, Elphaba berhasil membuka dan membaca salah satu mantra dalam buku Grimmerie tersebut. Mantra yang ia ucapkan yaitu tentang levitasi. Mantra tersebut ternyata berhasil mengubah pasukan penjaga Wizard of Oz jadi memiliki sayap dan bisa terbang. Tak hanya itu saja, Elphaba pun kini memiliki kemampuan yang sama. Disaat yang bersamaan Elphaba menemukan fakta mengejutkan tentang rencana dari Wizard of Oz. Apa yang sebenarnya terjadi disana? Akankah Elphaba mengikuti semua perintah dari Madame Morrible dan juga Wizard of Oz?
 
 
#Review:
Rumah produksi Universal Studios akhirnya merilis live action WICKED (2024) yang diadaptasi dari panggung musikal Wicked The Untold Story of The Witches of Oz tahun 2003 karya Stephen Schwartz dan Holzman. Pentas musikal tersebut berdasarkan dari novel ikonik berjudul Wicked karya Gregory Maguire yang sama-sama terinspirasi dari series buku legendaris The Oz Book yang sudah ada sejak tahun 1900 silam.


Untuk segi cerita, film WICKED (2024) ini lebih fokus pada karakter penyihir Wicked dan Glinda. Karena sebelumnya, kedua karakter ini sudah muncul sebagai karakter pendukung dalam film live action OZ THE GREAT AND POWERFUL (2013) yang diproduksi oleh studio sebelah. Keputusan sutradara Jon M. Chu membagi film WICKED (2024) menjadi dua bagian adalah keputusan yang sangat tepat. Pada bagian pertamanya yang dirilis November 2024 kemarin, film ini berhasil membangun cerita dan pendalaman masing-masing karakter dengan sangat baik. Melanjutkan tradisi dari Hollywood belakangan ini yang dimana menghadirkan sisi lain dari sosok villain ikonik dalam dongeng-dongeng klasik. Sosok Elphaba terlahir dengan warna kulit hijau. Ia merupakan anak dari hasil hubungan terlarang mendiang ibunya dengan seorang salesman. Kondisi Elphaba yang berwarna hijau tersebut memang tidak dijelaskan dengan gamblang mengapa bisa seperti itu dan kenapa juga ia bisa memiliki kekuatan sihir, padahal kedua orangtuanya bukan penyihir. Elphaba tumbuh menjadi seorang remaja perempuan yang sudah terbiasa dengan bully dari orang-orang disekitarnya, termasuk sang ayah yang lebih menyayangi anak keduanya ketimbang Elphaba. Backstory dari karakter Glinda pun sama. Ia muncul sebagai sosok remaja perempuan cantik serba pink yang sangat berambisi ingin menjadi seorang penyihir. Untungnya, saat plot memasuki latar Shiz University, dinamika drama remaja tampil dengan baik dan juga menghibur. Meskipun bertema fantasy dan dongeng, konflik remaja yang dihadirkan di lingkungan Shiz University ini menurutku cukup related dengan kondisi di era modern yang dimana tindakan bullying masih bisa ditemukan dimanapun. Sosok Glinda yang selama ini identik dengan sosok peri baik, image nya diubah menjadi seorang remaja centil, caper, pick me dan bermuka dua wkwkwk. Hampir sepanjang film, aku bisa merasakan tidak ada ketulusan dari Glinda yang ingin berteman dengan Elphaba hahaha. Semuanya terasa sangat fake dan banyak niat terselubung lah pokoknya. Bahkan saat memasuki final act di istana Wizard of Oz pun, keputusan, ketulusan dan sikap Glinda belum bisa meyakinkan penonton kalau dirinya satu visi dengan Elphaba. Mungkin semuanya bisa terjawab dengan tuntas nanti di WICKED PART TWO: FOR GOOD (2025) yang akan dirilis November tahun ini. Selain problematika khas remaja, babak pertama dari film WICKED (2024) juga turut menyoroti perilaku diskriminatif, memanfaat kondisi dan memutarbalikkan fakta yang related lagi dengan kondisi sosial saat ini. Namun disatu sisi, treatment konflik dan dialog di beberapa bagian menurutku ada yang terlalu modern, serta adanya issue woke agenda pun semakin menjauhkan film ini dari kesan klasik.
Untuk jajaran pemain, duo Cynthia Erivo dan Ariana Grande sudah jelas jadi bintang utama dalam film WICKED (2024) ini. Kualitas akting serta vokal dari Erivo sebagai Elphaba terasa sangat konsisten dari awal sampai akhir film. Kesan independen, tegas, berpegang teguh terhadap pendirian terpancar kuat dari sosok Elphaba yang meskipun gaya busananya culun dan warna kulitnya beda dari yang lain. Vokalnya yang lantang namun tetap memberikan rasa menyentuh setiap ia menyanyi menjadi daya tarik tersendiri ketika Elphaba sedang sing a long di film ini. Selanjutnya, penampilan Ariana Grande sebagai Glinda pun sangat berhasil mencuri perhatianku. Image Glinda diubah total olehnya menjadi centil, caper dan juga bermuka dua. Hahaha. Meskipun demikian, visual Ariana Grande sebagai Glinda masyaallah cantik banget! Outfit serba pink dengan gaya rambut blonde yang bergelombang membuat level cantiknya makin paripurna. Vokal Ariana dalam bernyanyi dan berdansa di film ini juga bagus! Duet maut dengan Erivo juga tak kalah memukau. Tak heran jika keduanya berhasil masuk nominasi Best Actress dan Best Supporting Actress di berbagai ajang penghargaan bergengsi seperti Golden Globes dan Academy Awards 2025. Jajaran pemain pendukung lainnya tampil sesuai dengan porsinya masing-masing dan memang cukup tertutupi oleh pesona Erivo dan juga Ariana.
Untuk urusan visual, to be honest, film WICKED (2024) ini jauh lebih memukau dan juga realistis dibandingkan film OZ THE GREAT AND POWERFUL (2013) nya Disney. Jon M. Chu tidak terlalu mabok visual efek di semua bagian. Beberapa scene terlihat menggunakan set lokasi sungguhan. Penggunaan visual efek juga sangat smooth. Scoring musik dan lagu-lagu yang dinyanyikan dalam film ini juga easy listening, sangat modern dan punya pesan powerful bagi pendengarnya. Overall, film WICKED (2024) memang layak masuk jajaran film Hollywood terbaik di tahun 2024 lalu. Makin tidak sabar untuk menunggu PART TWO nya November tahun ini!
 
 
[9/10Bintang]

Thursday, 10 October 2024

[Review] The Wild Robot: Ketika Robot Canggih Jadi Induk Seekor Angsa!

 


#Description:
Title: The Wild Robot (2024)
Casts: Lupita Nyong'o, Kit Connor, Pedro Pascal, Boone Storme, Catherine O'Hara, Bill Nighy, Stephanie Hsu, Mark Hamill, Matt Berry, Ving Rhames, Alexandra Novelle, Raphael Alejandro
Director: Chris Sanders
Studio: Dreamworks Animation, Universal Pictures


#Synopsis:
Pesawat kargo yang mengangkut robot-robot produksi Universal Dynamics terkena cuaca badai dahsyat dan menyebabkan enam robot terjatuh ke sebuah pulau tak berpenghuni. Salah satu robot yaitu Rozzum Unit 7134 (Lupita Nyong'o) tak sengaja aktif karena tombol aktivasinya ditekan oleh hewan-hewan liar yang ada disana. Robot produksi Universal Dynamics tersebut diciptakan untuk sepenuhnya membantu segala aktifitas manusia. Ketika Rozz sudah aktif, otomatis ia mencari tuannya untuk menjalankan tugas. Namun sayang, Rozz tak menemukan satu manusia pun di planet tersebut. Ia hanya melihat banyak hewan liar berkeliaran disana. Karena tidak memiliki kemampuan dalam bahasa binatang, Rozz kemudian melakukan analisa dan menerjemah semua bahasa binatang selama beberapa hari agar ia bisa berkomunikasi dengan hewan-hewan penghuni pulau tersebut.



Meskipun kini ia sudah bisa berkomunikasi dengan hewan, namun Rozz tetap tidak bisa menjalankan tugasnya dengan maksimal. Ia pun memutuskan untuk pulang ke Headquarters Universal Dynamics dengan cara mengirimkan sinyal agar dapat segera dijemput. Namun saat melakukan hal tersebut, Rozz terjatuh dari ketinggan dan menimpa sarang burung angsa. Kejadian tak sengaja tersebut menyebabkan induk angsa mati dan beberapa telur pecah. Rozz langsung memindai sarang dan berhasil menemukan 1 telur yang tidak pecah. Ia pun langsung menyelamatkan telur tersebut agar tidak terjatuh atau hancur sia-sia lagi.



Disaat yang bersamaan Rozz harus berhadapan dengan seekor rubah yang berusaha memakan telur angsa tersebut. Rubah tersebut berhasil dihentikan usai Rozz bisa berkomunikasi dengannya. Rubah yang bernama Fink (Pedro Pascal) itu kemudian berjanji akan tidak akan memakan telur tersebut dan akan membantu Rozz untuk merawat telur sampai menetas. Tak lama setelah itu, telur tersebut menetas dan muncul seekor angsa kecil. Rozz seketika menjadi sosok induk bagi angsa tersebut. Hampir kemanapun Rozz pergi angsa kecil itu selalu mengikutinya. Melihat tingkah lucu dari Rozz dan angsa kecil tersebut membuat Fink tertawa. Seekor Opposum (Catherine O'Hara) beserta anak-anaknya kemudian menjelaskan jika sifat alamiah seekor angsa yang baru menetas akan menganggap sosok pertama yang dilihatnya itu adalah induk atau ibunya. Meskipun Rozz adalah seorang robot, angsa kecil tersebut tetap menganggapnya sebagai induk. Fink pun memanfaatkan kemampuan Rozz untuk membantunya membangun sebuah shelter dengan alasan sebagai tempat tinggal bagi angsa kecil dan dirinya di hutan. Setelah itu, mereka bertiga tinggal di shelter tersebut. Angsa kecil tersebut kemudian diberi nama Brightbill (Boone Storme).



Seiring berjalannya waktu, Brightbill (Kit Connor) tumbuh menjadi angsa yang sehat dan juga besar. Namun sayang, tumbuh kembang Brightbill yang selama ini dibesarkan oleh Rozz membuatnya kehilangan jati diri sebagai seekor angsa. Brightbill tidak bisa berenang dan juga terbang. Bahkan perilaku sampai pola pikirnya semakin serupa dengan Rozz ketimbang angsa pada umumnya. Hal tersebut membuat Brightbill mendapat bully dari kawanan angsa yang ada di rawa. Mereka tak menyangka jika bisa melihat secara langsung sosok Brightbill yang dibesarkan oleh monster robot. Meskipun diperlakukan buruk, Rozz selalu berusaha melindungi Brightbill setiap saat. Namun sayang, kemunculan Rozz di rawa tersebut menimbulkan kekacauan. Brightbill memutuskan ingin menjadi seekor angsa seutuhnya dan hidup di habitat aslinya.




Seiring berjalannya waktu, Brightbill perlahan mulai bisa berenang dan juga terbang berkat belajar dari angsa senior Longneck (Bill Nighy) dan juga elang Thunderbolt (Ving Rhames). Brightbill pun memutuskan untuk ikut bermigrasi dengan kawanan angsa sebelum memasuki musim dingin. Disisi lain, kondisi Rozz perlahan mulai menurun karena kehabisan daya energi. Ia dilanda kebingungan antara tetap tinggal di pulau sampai Brightbill kembali atau menyalakan sinyal untuk kembali pulang ke Headquarters Universal Dynamics. Sebelum baterai dalam tubuhnya habis, Rozz menyelamatkan hewan-hewan yang terjebak badai salju ekstrim dan berlindung di shelter yang ia bangun bersama dengan Fink dan Brightbill.
Setelah selesai musim dingin, hewan-hewan yang berhasil diselamatkan dan tinggal di shelter merasa sangat bersyukur atas apa yang dilakukan oleh Rozz tersebut.


Tak lama setelah itu, Brightbill dan kawanan angsa lainnya kembali ke pulau. Longneck dan kawanan angsa menganggap Brightbill sebagai pahlawan karena berhasil mengawal mereka kembali ke pulau dengan selamat, meskipun sempat berurusan dengan robot-robot pengusir hama yang ada Headquarters Universal Dynamics. Namun sayang, sebelum bertemu dengan Brightbill, Rozz sudah mengirimkan sinyal untukp pulang dan tak lama setelah itu ia dijemput oleh Vontra (Stephanie Hsu), awak pesawat dari Universal Dynamics yang akan melakukan reset kepada Rozzum Unit 7134. Namun setelah mengetahui Brightbill telah kembali, Rozz pun membatalkan untuk pulang dan bergegas pergi menemui Brightbill. Vontra langsung mengejarnya dan dibantu oleh kawanan robot untuk menangkap Rozz.
Bagaimana nasib selanjutnya dari Rozz? Apakah ia akan sepenuhnya menjadi robot pelindung bagi habitat hewan di pulau atau terpaksa kembali ke Headquarters Universal Dynamics?



#Review:
Memasuki empat bulan terakhir di tahun 2024, industri perfilman Hollywood selalu memiliki amunisi andalan film-film yang potensial untuk berlaga di Academy Awards tahun depan. Kali ini sebuah film animasi produksi Dreamworks Animation Studios berjudul THE WILD ROBOT (2024) yang digadang-gadang sebagai salah satu kandidat terkuat untuk menyabet piala Oscars Best Animated Feature setelah film produksi kompetitornya yaitu INSIDE OUT 2 (2024).


Aku berkesempatan hadir pada special screening film THE WILD ROBOT (2024) yang sukses digelar oleh UIP Pictures Indonesia, Universal Pictures Indonesia dan WatchmenID pada Sabtu, 5 Oktober 2024 lalu di Cinema XXI Gandaria City, Jakarta Selatan.
Untuk segi cerita, film animasi THE WILD ROBOT (2024) ini diadaptasi dari buku karya Peter Brown yang pertama kali dirilis pada tahun 2016 lalu. Plot yang dihadirkan pun surprisingly membuatku takjub tentang bagaimana kecanggihan teknologi di masa depan yang berdampingan dengan kehidupan alam liar. Semua interaksi antara robot dan hewan-hewan liar yang terjadi dalam film ini terasa believable. Penonton bisa merasakan rasa cinta dan tulus dari sebuah robot dalam merawat seekor angsa dari nol sampai bisa menggapai impiannya. Moment kebersamaan antara Rozz, Brightbill dan Fink selalu berhasil membuat penonton tertawa. Namun tak sedikit juga interaksi mereka bertiga ini menciptakan suasana haru, sampai membuatku berkata dalam hati "gila ya, sebuah robot dan hewan pun sebetulnya memiliki perasaan yang sangat tulus, bahkan jauh lebih besar ketimbang manusia sekalipun". Chris Sanders selaku sutradara berhasil memanusiakan karakter robot Rozz sebagai sosok ibu yang luar biasa untuk Brightbill. Effort yang dilakukannya sangat maksimal dari awal sampai akhir film. Bahkan tak disangka-sangka, perasaan rapuh, sedih dan hampa dari Rozz ketika ditinggal Brightbill tersampaikan dengan baik pada penonton. Jujur, pada part ini, aku sampai baper melihat Rozz yang ditinggal Brightbill. Huhuhu!
Selain relationship antara induk dengan anaknya, film THE WILD ROBOT (2024) juga memberikan gambaran tentang dunia alam liar yang sangat realistis. Tingkah laku hewan-hewan disini sama persis dengan kehidupan sesungguhnya. Seperti mamalia opposum yang punya keunikan sering pura-pura mati, rubah yang licik dan tak punya teman, berang-berang yang punya semangat gigih dan optimisme tinggi dalam mewujudkan ambisnya dan masih banyak lagi hewan lainnya yang punya pesonanya masing-masing.


Untuk jajaran aktor pengisi suara, film THE WILD ROBOT (2024) punya ensemble cast yang sangat luar biasa. Lupita Nyong'o terlalu luar biasa dalam menghidupkan robot Rozzum. Dinamika perubahan sikap serta intonasi suaranya sukses membuatku terpukau. Tak heran jika beliau ini masuk jajaran aktris Hollywood terbaik di era modern. Papi Pedro Pascal juga surprisingly bagus juga dalam menyuarakan Fink si rubah cerdik. Malah di beberapa bagian, aura Pedro Pascal nya tidak terasa sama sekali, malah seperti suara teenager. Keren! Yang selanjutnya yaitu duo Boone Storme dan "Nick" Kit Connor yang begitu apik menyuarakan karakter Brightbill. Semangat serta ambisnya itu bisa tersampaikan dengan maksimal kepada penonton. Tak heran jika para pemain di film ini terasa sangat saling melengkapi satu sama lain. Gokil!
Untuk urusan visual, film THE WILD ROBOT (2024) menghadirkan animasi yang sangat fresh, unik dan tidak membosankan. Hampir sepanjang film, visualisasi kehidupan di alam liar dalam film ini seperti lukisan bergerak. Indah banget! Menurutku visual THE WILD ROBOT (2024) terasa lebih memukau ketimbang film-film animasi produksi kompetitor dan Spider-Verse sekalipun. Scoring dan alunan musik yang mengiringi setiap adegan film juga semakin memperlengkap keindahan dari film ini.
Overall film THE WILD ROBOT (2024) otomatis jadi salah satu film animasi Hollywood terbaik yang pernah dibuat sejauh ini. Aku sangat ikhlas jika di kompetisi Oscars tahun depan, film ini mendapat gelar Best Animated Feature. Bagus!


[9.5/10Bintang]

Friday, 12 July 2024

[Review] Twisters: Ketika Manusia Berusaha Mencegah Bencana Badai Tornado!

 


#Description:
Title: Twisters (2024)
Casts: Daisy Edgar-Jones, Glen Powell, Anthony Ramos, David Corenswet, Brandon Perea, Maura Tierney, Harry Hadden-Paton, Sasha Lane, Daryl McCormack, Kiernan Shipka, Nik Dodani, Tude Adebimpe, Katy O'Brian, Paul Scheer, James Paxton
Director: Lee Isaac Chung
Studio: Warner Bros Pictures, Universal Pictures, Amblin Entertainment


#Synopsis:
Empat mahasiswa jurusan meteorologi yaitu Kate Cooper (Daisy Edgar-Jones), Javi (Anthony Ramos), Jeb (Daryl McCormack), Addy (Kiernan Shipka) dan Praveen (Nik Dodani) merencanakan sebuah metode penelitian dan riset yang berhubungan dengan badai tornado. Hasil penelitian yang mereka lakukan diharapkan bisa mengurangi kekuatan dari badai tornado dan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Hari uji coba penelitian pun tiba. Kate dan keempat temannya menunggu hadirnya badai tornado yang sering terjadi di wilayah Oklahoma, Amerika Serikat. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh mereka. Kate, Jeb, Addy dan Praveen menyiapkan kendaraan beserta beberapa tong yang berisi bahan kimia serta alat pengukur badai tornado yang diciptakan oleh Javi.


Tak lama setelah itu, awan hitam mulai menggumpal di langit. Kate dan ketiga temannya langsung tancap gas mendekati area yang nantinya dilewati oleh badai tornado tersebut. Sementara itu, Javi tetap berada dari kejauhan untuk memantau aktivitas dan alat pengukur yang nantinya terbawa oleh badai tornado. Seketika hujan lebat mengguyur area yang dilalui oleh mereka berempat. Kate, Jeb, Addy dan Praveen berhasil masuk ke dalam badai tornado dan melepaskan bahan kimia dan alat pendeteksi tornado. Meskipun sempat terlihat melemah, namun ternyata badai tornado susulan kembali datang dengan kekuatan yang lebih besar. Kate dan ketiga temannya berlari keluar dari mobil untuk menyelamatkan diri. Namun sayang, satu persatu dari mereka terhisap oleh kencanganya badai tornado tersebut. Kate yang bertahan dengan berlindung di bawah jembatan harus kehilangan tiga temannya sekaligus. Sejak saat itu, Kate tidak ingin lagi bekerja lapangan sebagai peneliti badai tornado dan memutuskan untuk pergi ke New York.



Lima tahun berlalu, Kate bekerja di kantor pusat badan meteorologi yang ada di New York. Suatu hari, ia kedatangan tamu yang ternyata adalah Javi. Keduanya tak menyangka bisa kembali bertemu setelah sekian lama berpisah karena kesibukan masing-masing. Saat ini, Javi bekerja sebagai peneliti badai tornado dibawah perusahaan Storm PAR. Javi ingin mengajak Kate untuk bekerja sama mengembangkan prototype pendeteksi badai tornado yang nantinya dapat digunakan untuk daerah-daerah yang rawan terkena dampak badai tornado. Javi membutuhkan Kate yang memiliki insting kuat terhadap pola, arah dan pergerakan angin dari suatu wilayah. Meskipun awalnya sempat ragu, Kate pun akhirnya bersedia untuk bekerja sama dengan Javi agar prototype tersebut bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Javi pun memberikan rentang waktu selama satu minggu. Jika dalam kurun waktu tersebut tidak berhasil, Kate dipersilahkan untuk meninggalkan project tersebut.



Kate dan Javi kemudian berangkat menuju Oklahoma. Setibanya disana, Kate disambut oleh tim dari Storm PAR yang terdiri dari beberapa ahli meteorologi. Disana juga, Kate bertemu dengan perwakilan dari investor bisnis yang mendanai Javi yaitu Scott (David Corenswet). Ditengah persiapan, mereka kedatangan rombongan YouTuber yang dikenal sebagai penakluk tornado yaitu Tyler Owens (Glen Powell). Tak disangka, banyak fans yang sudah tidak sabar untuk melihat aksi Tyler menaklukan badai tornado. Tyler membawa empat rekan serta seorang jurnalis yaitu Ben (Harry Hadden-Paton).
Berbekal insting yang kuat serta peralatan sederhana untuk keperluan konten di YouTube, Tyler dan timnya merencanakan aksi gila yaitu masuk ke dalam badai tornado dan menyalakan kembang api disana. Aksi tersebut disiarkan secara langsung di YouTube yang ditonton oleh jutaan penonton dan fans dari Tyler Owens. Melihat kegilaan yang dilakukan oleh Tyler membuat Kate, Javi dan tim Storm PAR kesal karena sangat berbahaya serta tidak berdasarkan ilmu pengetahuan fisika.


Seiring berjalannya waktu, intensitas badai dan angin kencang semakin meningkat. Kate, Javi dan tim Storm PAR harus secepat mungkin memasang tiga prototype yang mengelilingi badai tornado agar bisa mendapatkan data realtime tentang badai tersebut. Sementara itu, rombongan Tyler Owens terus mengejar badai tornado demi kepentingan konten. Kedua belah pihak harus mempertaruhkan nyawa mereka dalam menghadapi badai tornado yang semakin sering terjadi.



Disaat kedua belah pihak sibuk dengan tujuan mereka masing-masing, badai tornado terus terjadi dan mengancam beberapa wilayah yang dipadati penduduk. Disaat yang bersamaan pula, Kate menemukan fakta tersembunyi saat dirinya ikut membantu Javi untuk mengembangkan prototype nya itu. Mampukah Kate dan Tyler mencapai tujuan mereka masing-masing?


#Review:
Kolaborasi tiga rumah produksi raksasa Hollywood yaitu Warner Bros Pictures, Universal Pictures dan Amblin Entertainment lewat film bencana terbaru berjudul TWISTERS (2024) akhirnya rilis di bioskop Indonesia mulai Rabu, 10 Juli 2024. Film ini merupakan standalone sequel dari film TWISTER (1996) yang dirilis 28 tahun silam.


Kolaborasi antara Joseph Kosinski dan Mark L. Smith sebagai penulis cerita dan skenario film ini, menjadikan TWISTERS (2024) terasa seperti soft remake dari film yang digarap oleh Jan De Bont, karena premis dan karakter utama yang ada di dua film ini sama-sama perempuan dengan pengalaman buruk akan badai tornado, dan kemudian berambisi untuk mencari cara agar bisa "menjinakkan" tornado. Yang menarik, kreator film TOP GUN: MAVERICK (2022) yaitu Joseph Kosinski menghadirkan cerita film TWISTERS (2024) ini dengan pendekatan mengikuti perkembangan zaman lewat kehadiran team YouTuber yaitu Tyler Owens. Penonton bisa merasakan keseruan dua belah pihak yang bertolak belakang dalam "mengejar" badai tornado. Yang satu, selalu berdasarkan science dan penuh riset ilmiah. Sementara yang satunya lagi, berdasarkan pengalaman dan modal nekat demi popularitas di YouTube. 


Benturan konflik antara Kate dengan Tyler inilah yang membuat film ini terasa hidup. Subplot tambahan lain dari masing-masing karakter yang terlibat pun saling melengkapi satu sama lain sehingga tidak ada karakter yang numpang lewat semata. Aku suka dengan treatment penggabungan karakter Kate dan Tyler lewat satu cerita yang memang bisa saja terjadi oleh oknum yang memanfaatkan situasi tersebut. Pengembangan setiap karakter juga berjalan mulus dan memiliki dinamika tersendiri. Khususnya yang terjadi kepada karakter Kate dan juga Tyler.
Untuk jajaran pemain, penampilan Daisy Edgar-Jones, Glen Powell, David Corenswet dan para pendukung lainnya tampil bersinar sekaligus meyakinkan penonton jika mereka semua memang sangat terobsesi terhadap badai tornado. Tektokan chemistry dari Daisy Edgar-Jones dan Glen Powell juga menarik perhatian meskipun kadar romansa mereka terlihat dibatasi banget.


Untuk urusan visual dan audio, film TWISTERS (2024) sudah jelas memberikan kualitas khas blockbuster summer movie Hollywood yang bombastis dan spektakuler. Serangkaian kejadian badai tornado dahsyat berhasil divisualisasikan dengan maksimal. Efek ngerinya bisa dirasakan oleh penonton dengan dukungan teknis, sound dan artistik mumpuni. Kapan lagi coba penonton menyaksikan berbagai macam badai tornado mulai dari yang paling kecil, kembar, besar sampai mengandung bara api semuanya lengkap tersaji di film ini. Luar biasa! Nonton film TWISTERS (2024) di teater IMAX menjadi pengalaman gila di tahun ini. Berasa duduk bersebelahan dengan Kate dan Tyler banget! Overall, film TWISTERS (2024) menurutku salah satu film blockbuster Hollywood terbaik yang dirilis tahun ini. Wajib ditonton di bioskop dengan layar terbesar dan audio terdahsyat!


[9/10Bintang]