Showing posts with label Horror. Show all posts
Showing posts with label Horror. Show all posts

Saturday, 1 August 2026

[Review] Leviticus: Ketika Doktrin Agama & Terapi Konversi Memiliki Sisi Gelap Yang Mengerikan!

 


#Description:
Title: Leviticus (2026)
Casts: Joe Bird, Stacy Clausen, Mia Wasikowska, Nicholas Hope, Tyallah Bullock, Ewen Leslie, Jeremy Blewitt, Davida McKenzie, Shannon Berry, Julia Grace, Hyu Motoki, Edwina Wren
Director: Adrian Chiarella
Studio: Causeway Films, Maslow Entertainment, NEON


#Synopsis:
Setelah kematian sang ayah, Naim Reid (Joe Bird) dan ibunya, Arlene (Mia Wasikowska), memutuskan untuk memulai hidup baru di kawasan pinggiran Victoria, Australia. Lingkungan baru yang sangat religius dan konservatif itu membuat Arlene merasa lebih tenang dan makin dekat dengan Tuhan. Ia dan Naim pun rutin menghadiri berbagai kegiatan keagamaan di gereja lokal tak jauh dari rumah mereka.
Di sekolah barunya, Naim berkenalan dengan Ryan Whelan (Stacy Clausen), seorang remaja setempat. Hubungan mereka berkembang cepat. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama di sebuah gudang terbengkalai sepulang sekolah. Momen-momen yang dihabiskan bersama itu perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka. Menyadari bahwa perasaannya tabu di mata masyarakat setempat, Naim dan Ryan sepakat menjalin hubungan asmara secara rahasia. Mereka berjanji untuk tetap bersikap sewajarnya saat berada di rumah, sekolah, maupun gereja agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Namun, komitmen pacaran itu hancur saat Naim berkunjung ke rumah Ryan sepulang sekolah. Ia memergoki Ryan sedang berciuman dengan Hunter (Jeremy Blewitt), putra sang pendeta di halaman rumah. Naim kemudian melangkah pergi dengan sakit hati sambil menahan tangis. Setibanya di rumah, dipicu rasa cemburu dan sakit hati yang mendalam, Naim menceritakan apa yang dilihatnya kepada sang ibu. Arlene yang terkejut langsung menghubungi keluarga Hunter. Malam itu juga, Naim mendatangi rumah Hunter untuk menceritakan kejadian tersebut secara langsung, sambil memohon pada keluarga Hunter agar menyembunyikan identitasnya sebagai pelapor.
Keesokan harinya, Hunter dan Ryan beserta orang tua mereka berkumpul di rumahnya Hunter. Ayahnya Hunter rupanya sudah memanggil seorang pria tua yang selama ini dikenal sebagai penyembuh dan pembebasan (deliverance healer) untuk membersihkan jiwa Hunter dan Ryan dari hasrat sesama jenis mereka. Para tetangga termasuk Naim dan sang ibu yang turut datang menjadi saksi ritual tersebut. Saat ritual dilakukan, Hunter dan Ryan mengalami kejang-kejang yang tak terkendali, kemudian muntah dan menjerit kesakitan hingga tak sadarkan diri.
Melihat Ryan dan Hunter tersiksa dalam ritual tersebut muncul rasa bersalah pada Naim. Keadaan jadi memburuk saat kembali ke sekolah. Ryan menjadi sasaran bullying dari siswa lain. Upaya Naim untuk berbaikan ditolak oleh Ryan yang memilih menghindar dan memutus kontak darinya. Sepulang sekolah, Naim mendatangi rumah Ryan secara diam-diam untuk meminta maaf. Di sana, ia melihat Ryan sedang berbicara seorang diri di halaman sebelum akhirnya masuk ke rumah. Tak lama kemudian, Ryan kembali keluar dan berjalan menuju arena sepatu roda. Naim yang membuntutinya dibuat heran sekaligus penasaran karena Ryan terus berbicara sendirian sepanjang jalan seolah ada orang lain di sampingnya.
Setibanya di sana, Ryan masuk ke dalam sebuah stan photo box. Dari luar, Naim masih bisa mendengar suara Ryan yang terus mengobrol. Tak lama setelah itu, Naim terkejut saat lembaran foto otomatis keluar dari mesin. Foto-foto itu memperlihatkan Ryan berpose sedang mencium ruang kosong. Setelah itu, terdengar suara napas Ryan yang tercekik dari dalam photo box. Begitu Naim membuka tirai, ia melihat leher Ryan sedang dicekik oleh kekuatan gaib. Naim mencoba mendekat tetapi mendadak terlempar keras ke arah pagar pembatas arena. Setelah berhasil melepaskan diri dari cekikan tersebut, Ryan berlari ketakutan sambil berteriak pada Naim untuk tidak mendekatinya lagi.
Keesokan harinya, Naim menemui Hunter yang kini bekerja di minimarket sebuah pom bensin. Hunter menceritakan bahwa ritual deliverance healer itu sebenarnya sudah dilakukan pada banyak remaja lain yang sama seperti dirinya. Ketika Naim bertanya apakah ritual tersebut berhasil, Hunter tidak memberi jawaban pasti. Ia mengatakan jika setelah menjalani ritual tersebut, Ryan selalu datang menerornya setiap malam dan melemparkan berbagai benda, meski tak ada satu pun orang yang mempercayainya.
Didorong rasa penasaran, Naim kembali ke pom bensin pada malam hari saat toko sudah tutup. Ia berhasil menyelinap masuk lewat pintu belakang tanpa sepengetahuan Hunter. Tak lama setelah itu, Hunter keluar membawa kantong sampah. Melalui kaca toko, Naim memperhatikan Hunter yang mendadak berhenti dan sambil meluapkan emosinya sendirian. Seketika itu juga, barang-barang melayang dan menghantam Hunter secara misterius. Hunter kemudian melepas bajunya dan terlihat seperti berciuman dengan sosok yang tak terlihat oleh Naim, sebelum akhirnya ia tercekik dan berteriak histeris. Naim panik dan berusaha  keluar dari untuk menolong, namun seluruh pintu akses telah terkunci rapat. Naim hanya bisa menyaksikan tubuh Hunter ambruk dan diseret dengan cepat menuju kegelapan.
Setelah berhasil meloloskan diri dari minimarket, Naim bergegas menuju kantor polisi dalam kondisi panik luar biasa. Di hadapan seorang detektif, ia membeberkan seluruh kejadian mengerikan yang disaksikannya malam itu dan memohon bantuan untuk menghentikan entitas tak kasat mata tersebut. Karena dihantui ketakutan bahwa ia akan menjadi target berikutnya, Naim terpaksa jujur mengenai hubungan asmaranya (coming out). Namun, kejujuran itu justru menjadi masalah baru saat sang ibu mengetahui rahasia tersebut. Situasi kian mencekam ketika polisi akhirnya menemukan jasad Hunter dalam kondisi mengenaskan dengan kepalanya terpenggal di sebuah ladang. Bukannya membawa Naim pulang, Arlene yang terkejut sekaligus takut justru membawa Naim mendatangi sang deliverance healer untuk menjalani ritual pengusiran setan yang sama.
Waktu terus berlalu. Naim dan ibunya menghadiri prosesi pemakaman Hunter. Di sana, Naim bertemu dengan Ryan di belakang rumah dan mengaku bahwa ia juga telah dipaksa menjalani ritual traumatis tersebut. Di tengah kesedihan, keduanya berciuman. Namun secara mengejutkan, sikap Ryan mendadak berubah. Ia mendorong dan mencekik Naim dengan sangat kuat. Naim yang berhasil melepaskan diri berlari ketakutan menuju ke dalam rumah sambil meminta pertolongan. Naim kemudian terkejut saat melihat Ryan yang asli ternyata ada di dalam rumah, sementara sosok di belakang rumah lenyap tanpa jejak. Melihat hal itu, Ryan dan adik dari mendiang Hunter yaitu Izzie (Davida McKenzie), menyadari jika Naim telah menjadi korban ritual berikutnya. Izzie kemudian membeberkan rahasia kelam tentang nasib tragis serupa menimpa seorang gadis bernama Marnie (Tyallah Bullock) yang tewas secara misterius usai menjalani ritual tersebut bersama kekasih perempuannya, Jessica (Shannon Berry). Izzie memberi tahu bahwa Jessica saat ini masih bertahan dan memutuskan tinggal di sebuah rumah sakit di Murryville.
Didorong harapan untuk mencari jalan keluar, Naim dan Ryan nekat menjenguk Jessica. Namun, jawaban Jessica justru menghancurkan harapan mereka. Jessica menjelaskan bahwa kutukan entitas dari ritual tersebut tidak bisa dihilangkan. Makhluk itu akan terus mengikuti mereka dan hanya menampakkan diri saat korbannya sendirian. Energinya pun akan semakin membesar jika terus dihindari. Dalam perjalanan pulang menggunakan bus, keputusasaan menyelimuti mereka berdua. Demi melindungi satu sama lain, Naim berniat pergi meninggalkan kota sendirian dan memohon agar Ryan tidak mengikutinya. Namun, Ryan menolak menyerah. Bagi Ryan, jika entitas itu harus membayanginya seumur hidup, ia tidak ingin makhluk itu berwujud orang lain selain Naim.
Gangguan supranatural semakin tidak terkendali. Saat berada di toilet sekolah, Ryan kembali diserang secara brutal oleh entitas yang menyerupai Naim hingga telinganya robek. Situasi jadi semakin pelik seiring hancurnya keluarga Hunter pasca-kematian putranya itu. Hingga pada suatu malam, Izzie mendadak menghubungi Naim dan Ryan. Ia mengklaim telah menemukan seseorang yang sanggup melepaskan mereka dari kutukan deliverance healer tersebut. Akankah petunjuk dari Izzie menjadi titik terang bagi Naim dan Ryan, atau justru membawa mereka masuk ke dalam jebakan yang jauh lebih mengerikan?


#Review:
Setelah tayang perdana di Sundance International Film Festival pada awal tahun ini, film horror LEVITICUS (2026) karya debut film panjang bagi sutradara Adrian Chiarella ini sukses mencuri perhatian penonton berkat premis dan narasi yang dihadirkan, memadukan antara horror dengan kritik sosial religi secara tajam. Respon positif dari mayoritas penonton dan kritikus terlihat dengan jelas dari yang meraih fresh certified 92% dari situs Rotten Tomatoes.


Dari segi cerita, film ini mengusung ide yang sangat menarik sekaligus berpotensi mengundang kontroversi karena mengangkat isu homofobia sistemik dan doktrin agama yang toksik. Kedua isu tersebut kemudian dimanifestasikan menjadi sosok tak kasat mata yang mengerikan. Mirip dengan film IT FOLLOWS (2014), entitas gaib di sini bertindak sebagai metafora dari trauma yang terus membayangi para karakter. Konsep cerita yang membuat wujud sang monster menyerupai sosok yang paling dicintai korbannya menghadirkan ironi yang sangat menyakitkan. Pesan yang disampaikan Chiarella terasa kuat dan berani, karena di lingkungan agama yang konservatif, ketulusan cinta dan keintiman sekalipun ternyata dapat dipelintir menjadi ancaman yang mematikan.
Menariknya, Adrian Chiarella tidak bergantung pada formula jump scare khas film horror kebanyakan. Ia berhasil membangun atmosfer mencekam dengan nuansa gloomy yang konsisten di sepanjang film. Pengarahan visual di ruang-ruang terbatas seperti photo box, minimarket, hingga toilet sekolah, dikemas secara rapi melalui tata kamera yang lumayan rapat dan efektif. Dinamika serta perjuangan karakter Naim dan Ryan pun disajikan tanpa dramatisasi berlebihan, sehingga penonton dapat ikut merasakan keputusasaan dan rasa frustrasi mereka. Sayangnya, eksekusi subplot tentang aksi balas dendam yang muncul tiba-tiba di paruh kedua film terasa seperti tempelan semata. Andai saja bagian ini dihilangkan, tidak berdampak signifikan pada dinamika hubungan Naim dan Ryan.


Dari jajaran pemain, penampilan memukau Joe Bird dan Stacy Clausen patut mendapat apresiasi tinggi. Joe Bird, yang sebelumnya tampil di film TALK TO ME (2022), bermain sangat mengesankan dalam membawakan rasa bersalah serta keputusasaan yang begitu nyata pada karakter Naim. Chemistry nya dengan Stacy Clausen terbangun secara natural. Porsi kebahagiaan dan kepedihan hubungan mereka tersampaikan dengan pas. Selain itu, kehadiran aktris Mia Wasikowska sebagai ibunya Naim makin menambah kesan tega yang realistis yaitu sosok orang tua yang rela melakukan apa saja demi "melindungi" anaknya terhindar dari penindasan lingkungan konservatif nya.
Secara keseluruhan, LEVITICUS (2026) menutup kisahnya dengan pesan pahit namun jujur mengenai penerimaan dan penyembuhan trauma. Akhir cerita ketika Naim dan Ryan memilih untuk terus melangkah bersama walau bayangan entitas itu masih mengintai, menunjukkan bahwa "luka" tidak bisa benar-benar dimusnahkan, melainkan harus dihadapi. Mengerikan sekaligus berkesan!


[9/10Bintang]

Monday, 13 July 2026

[Review] Evil Dead Burn: Terror Iblis Deadite Yang Semakin Menggila Dan Tanpa Ampun!

 


#Description:
Title: Evil Dead Burn (2026)
Casts: Souheila Yacoub, Tandi Wright, Hunter Doohan, Luciane Buchanan, Erroll Shand, Maude Davey, Alain Chabat, George Pullar, Greta van den Brink, Keanu Karim, Tapiwa Soropa, Alyssa Sutherland
Director: Sébastien Vaniček
Studio: New Line Cinema, Screen Gems, Ghost House Pictures, Sony Pictures


#Synopsis:
Joseph Price (Hunter Doohan) sedang meneliti hasil studi mendiang kakeknya, Benjamin, mengenai buku terkutuk Necronomicon dan Deadit, sosok iblis yang selama ini meneror manusia secara sadis. Dalam rekaman studi tersebut, Benjamin rupanya menyembunyikan sebuah belati bernama Kandarian yang konon dapat menangkal sekaligus memusnahkan Deadite. Namun sayang, belati tersebut punya kelemahan. Ketika pembungkus belati dibuka, keberadaannya akan memancing kedatangan Deadite. Dan benar saja, penemuan belati oleh Joseph itu membangkitkan kembali Deadite Jessica (Greta van den Brik) yang selama ini terperangkap di dasar danau. Nasib sial pun menimpa dua pemancing di danau tersebut. Jared (Keanu Karim) dan Leo (Victoru Ndukwe), yang menjadi korban kebrutalan Deadite Jessica.


Di sisi lain, kakak Joseph yaitu Will Price (George Pullar), bertengkar hebat dengan istrinya, Alice (Souheila Yacoub) ketika sedang merayakan ulang tahun Joseph dengan pacarnya, Thya (Luciane Buchanan) di bar. Alice merasa semakin tidak ada kecocokan dengan suaminya itu. Will yang tempramental dan sering mabuk, membuat Alice makin ragu untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Dalam kondisi mabuk berat, Will memutuskan pergi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi melintasi jalan raya yang gelap. Hal tersebut memicu kecelakaan fatal usai menabrak Deadite Jessica yang tiba-tiba muncul dan berdiri di tengah jalan. Saat Will tewas dalam kobaran api mobilnya, Deadite Jessica membacakan mantra Necronomicon untuk memindahkan jiwa iblis dari tubuhnya ke tubuh Will.


Kematian Will memaksa keluarganya untuk kembali berkumpul. Alice bertemu lagi dengan Joseph, Thya, kedua mertuanya, Susan (Tandi Wright) dan Edgar Price (Eroll Shand), serta nenek mereka yaitu, Polly (Maude Davey). Saat sesi kebaktian, Susan menceritakan berbagai kenangan indah bersama mendiang anaknya itu. Isak tangis perlahan terdengar dari Joseph, Thya, Edgar, Alice dan kerabat lainnya. Sebelum proses kremasi, Edgar mendatangi peti Will untuk mengucapkan salam perpisahan. Ditengah kesedihannya itu, Edgar mendengar suara tendangan dari dalam peti. Ia pun berusaha membukanya karena terdengar seperti anaknya yang meminta pertolongan. Saat peti terbuka, jasad Will mendadak bangkit karena telah dirasuki Deadite. Ia kemudian membakar tangan Edgar dan membunuh petugas kremasi. Setelah kejadian tersebut, Edgar kembali ke gereja. Setelah itu, keluarga Price pun pulang ke rumah mereka.



Setibanya di rumah, Susan, Joseph, Alice, dan Thya merawat luka bakar pada tangan Edgar. Setelah kondisi Edgar membaik, keluarga Price menggelar makan malam bersama. Perselisihan kembali pecah antara Susan, Edgar, Alice dan Joseph. Mereka masih menyalahkan Alice dan juga Joseph atas kematian Will. Di tengah emosi yang meluap, Edgar secara brutal menusuk anjing peliharaan mereka menggunakan garpu hingga tewas. Melihat kondisi Edgar yang makin tak terkendali, Joseph dan Thya bergegas membawanya ke rumah sakit dengan mobil. Di tengah perjalanan, pengaruh Deadite membuat Edgar makin menggila. Ia menyerang Joseph dan Thya secara brutal hingga menyebabkan mobil mereka kecelakaan. Joseph berhasil selamat dari kecelakaan dan melarikan diri dari mobil tersebut.
Sementara itu di rumah, Alice tak sengaja menemukan buku catatan penelitian Benjamin yang sebelumnya dipelajari oleh Joseph. Tepat sebelum Alice membaca mantra dari buku terkutuk Necronomicon tersebut, ia mendadak diserang oleh anjing mereka yang bangkit kembali karena telah dirasuki Deadite.


Di tengah kekacauan itu, Joseph berhasil kembali ke rumah. Tak lama kemudian, Thya mendadak muncul di depan pintu dengan kondisi mengenaskan usai dirasuki Deadite. Thya langsung menyerang Joseph, Alice, Susan, dan Nenek Polly, sebelum akhirnya berhasil dijatuhkan ke dalam basement rumah. Keadaan semakin tak terkendali saat Edgar dan anjing mereka muncul di rumah dengan kondisi sudah sepenuhnya dirasuki Deadite. Bersama dengan Thya, mereka memburu keberadaan Belati Kandarian yang disembunyikan oleh Joseph. Bagaimanakah nasib keluarga Price selanjutnya? Mampukah mereka menyelamatkan diri dari teror sadis para Deadite yang kini merasuki anggota keluarga mereka sendiri?


#Review:
Salah satu franchise horror slasher ikonik dan legendaris karya Sam Raimi yang sudah eksis sejak 45 tahun lalu yaitu EVIL DEAD, kini kembali hadir dengan film standalone terbarunya di summer tahun ini berjudul EVIL DEAD BURN (2026). Menariknya, film ini menjadi film standalone ketiga dari EVIL DEAD versi modern setelah film pertamanya karya Fede Alvarez pada tahun 2013 dan film keduanya karya Lee Cronin, EVIL DEAD RISE (2023) pada tahun 2023.


Untuk segi cerita, pola dan treatment yang digunakan film EVIL DEAD BURN (2026) masih setia seperti film-film terdahulu yaitu tentang buku terkutuk, belati mistis dan serbuan iblis Deadite yang merasuki manusia dan menyerang secara ugal-ugalan. Seperti biasanya juga, film langsung dibuka dengan aksi sadis dan brutal ketika manusia menjadi korban keganasan manusia yang kerasukan Deadite. Sutradara asal Perancis yaitu Sebastian Vanicek berhasil mengeksekusi visual film ini lebih gelap dan kelam, menjadikan film EVIL DEAD BURN (2026) sebagai salah satu judul paling sadis, menjijikkan, penuh darah dan tanpa ampun dalam sejarah panjang franchise EVIL DEAD. Dinamika cerita yang berpusat pada konflik internal keluarga Price memberikan fondasi emosional yang pas sebelum pertumpahan darah dimulai. Pergolakan batin karakter Alice yang terjerat duka dan trauma akibat toxic relationship di masa lalunya menjadi "bensin" efektif yang sangat mudah dibakar oleh para Deadite. Pilihan lokasi rumah pinggir danau yang terisolasi sukses menciptakan rasa klaustrofobia yang kuat. Ketika keluarga disfungsional ini dipaksa berhadapan dengan teror supranatural, kepribadian dan rahasia kelam masing-masing justru dieksploitasi oleh iblis Deadite untuk saling menghancurkan dari dalam. Sesuai dengan branding dan reputasi franchise EVIL DEAD yang mengedepankan kesadisan di level maksimal, film EVIL DEAD BURN (2026) tentunya sangat royal dalam menyajikan serangkaian aksi sadis dan brutal di sepanjang film. Hampir semu adegan sukses membuatku ngilu, tutup mata dan sekalinya melihat, aku langsung dibuat mual. Sungguh gila! Sang sutradara juga rupanya sangat mengoptimalkan practical effect di setiap adegan gore dan slasher nya. Penonton bisa melihat secara gamblang bagaimana adegan kulit dan daging manusia hancur dengan mudahnya oleh kelakuan si Deadite sialan itu. Setiap penonton mengira jika kekerasan level ekstrim sudah ditampilkan, film ini menampilkan lagi "kegilaan" yang lebih gila. Hal tersebut membuktikan jika tidak ada satupun karakter dalam film yang aman dari siksaan ekstrim dari Deadite.
Salah satu pencapaian terbaik film EVIL DEAD BURN (2026) terletak pada kemampuannya mengolah ruang sempit menjadi arena pembantaian yang memanjakan mata pecinta horor slasher dan gore. Adegan di dalam mobil dan kamar mandi. Gila banget! Melihat alat pancing, sandaran jok mobil dan pisau cukur rambut warna pink kini jadi tak lagi sama. Sialan. Kombinasi sinematografi yang agresif dan permainan black comedy di beberapa dialog berhasil menjaga pace film tetap berada di intensitas tinggi.
Terlepas dari treatment dan template yang tidak menampilkan sesuatu yang baru, film EVIL DEAD BURN (2026) sukses menegaskan identitasnya sendiri melalui eskalasi aksi yang intens dari awal sampai akhir film, motif api yang sangat membara hingga kebrutalan tanpa ampun dan tedeng aling-aling. GILAAA!

NOTE: Jangan lupa terdapat post credit scene dan end credit scene yang berkaitan dengan film sebelumnya loh! Capek.


[8.5/10Bintang]

Saturday, 11 July 2026

[Review] 402 Rumah Sakit Angker Korea: Petaka Siaran Langsung Yang Mengancam Keselamatan!

 


#Description:
Title: 402 Rumah Sakit Angker Korea (2026)
Casts: Arbani Yasiz, Elang El Gibran, Saputra Kori, Diandra Agatha, Lea Ciarachel, Jang Han-Sol, Aylena Fusil
Director: Anggi Umbara
Studio: MD Pictures, Umbara Brothers Films, Pichouse Films


#Synopsis:
Demi menuruti permintaan para penonton setianya, kanal YouTube horor "Para Pemburu Hantu" yang dikelola oleh Juna (Arbani Yasiz), Bara (Elang El Gibran), dan Adit (Saputra Kori) terbang ke Korea Selatan. Mereka berencana menggelar siaran langsung di sebuah rumah sakit terbengkalai daerah Jeokyung bernama Yong-Won Hospital. Awalnya, mereka ingin mengunjungi rumah sakit terbengkalai yang ada di daerah Gonjiam, tetapi tempat tersebut sudah dibongkar oleh pemerintah. Dalam konten terbarunya ini, "Para Pemburu Hantu" berkolaborasi dengan kanal YouTube "Soul Sister" milik Arum (Diandra Agatha) dan Yuri (Lea Ciarachel). Kakak beradik ini dikenal lewat konten penelusuran ke berbagai tempat angker di Indonesia.
Setibanya di Korea Selatan, Juna mengajak timnya menemui Dae-Ho (Jang Han-Sol), pria keturunan Korea-Jawa yang sempat tinggal di Indonesia dan kini menetap di sana. Selain Dae-Ho, mereka juga akan ditemani oleh Tyas (Aylena Fusil), mahasiswi asal Indonesia yang terpilih untuk mengikuti eksplorasi tersebut. Sebelum menuju lokasi, Juna dan Dae-Ho mendatangi seorang cenayang untuk meminta doa perlindungan. Saat mengetahui rencana mereka, sang cenayang melarang keras karena Yong-Won Hospital sangat berbahaya untuk dikunjungi. Namun, Juna dan tim tetap keras kepala. Sang cenayang akhirnya memberikan jimat perlindungan kepada mereka semua untuk meminimalisir gangguan mistis.
Sehari sebelum penelusuran, Juna, Bara, Adit, Arum, dan Yuri bersantai menikmati suasana pusat kota Korea Selatan dengan dipandu Dae-Ho serta Tyas. Di sela-sela perjalanan, Dae-Ho dan Tyas menceritakan kisah kelam Yong-Won Hospital. Rumah sakit itu ditutup setelah pemiliknya, Jeong-Kyun Won, terbukti sebagai pimpinan sekte sesat yang menjanjikan kehidupan abadi, kekayaan melimpah dan kesehatan bagi para pengikutnya. Setelah ketahuan menyimpang, pemilik rumah sakit tersebut ditemukan tewas tak lama setelah seluruh pasiennya melakukan bunuh diri massal. Tempat itu kemudian dianggap terkutuk, terutama Ruangan 402 yang sering dijadikan lokasi ritual sekte. Tim "Para Pemburu Hantu" akan menjadi kreator pertama yang melakukan siaran langsung di sana, bahkan mereka juga berencana membobol ruangan tersebut. Juna, Bara, Adit, Arum, dan Dae-Ho sangat antusias menyiapkan penelusuran ini. Sebaliknya, Yuri dan Tyas yang skeptis justru memendam kekhawatiran mendalam. Namun, karena tergiur target tiga juta penonton yang berpotensi menghasilkan uang hingga 15 miliar rupiah, mereka semua akhirnya sepakat berangkat.
Keesokan harinya, tim berangkat menuju Yong-Won Hospital membawa perlengkapan lengkap. Sesampainya di gerbang utama, mereka masuk ke sana dengan berjalan kaki sambil membawa banyak peralatan dan mendirikan tenda tak jauh dari gedung rumah sakit. Menjelang tengah malam, Juna membagi tugas. Bara, Arum, Yuri, Dae-Ho, dan Tyas bertindak sebagai host siaran live, sementara Adit menjadi juru kamera. Masing-masing dari mereka dipasangi body rig camera agar penonton dapat menyaksikan sudut pandang pertama secara langsung. Di sisi lain, Juna bertugas memantau dan mengoperasikan siaran langsung berbayar via situs ghosthunters.com dari dalam tenda.
Tepat tengah malam, siaran dimulai di depan gedung. Tim mulai menyusuri koridor lantai satu yang gelap, lembap, dan berantakan. Di salah satu ruangan, mereka menemukan bingkai foto Jeong-Kyun Won bersama para pasiennya. Saat memeriksa kamar pasien lainnya, kamera Adit tak sengaja menangkap bayangan aneh yang bergerak di belakang Bara, hingga siaran terpaksa dijeda sejenak. Saat istirahat, Juna mengabarkan bahwa jumlah penonton telah menembus angka 200 ribu viewers. Kobaran semangat kembali membakar tim. Juna pun membagi tugas baru. Dae-Ho dan Tyas naik ke lantai empat untuk memasang kamera di koridor Kamar 402, Arum dan Yuri menyusuri lantai tiga, sedangkan Bara dan Adit mengeksplorasi lantai satu dan dua.
Tanpa sepengetahuan Dae-Ho, Arum, Yuri, dan Tyas, ternyata Juna, Bara, dan Adit telah menyiapkan Jelangkung untuk berkomunikasi dengan makhluk halus. Meski sempat ditolak karena dinilai berbahaya, Bara dan Adit berhasil meyakinkan tim bahwa ini hanyalah sarana komunikasi biasa. Arum diminta memegang papan permainan, sementara Tyas membacakan mantra yang diterjemahkan ke dalam bahasa Korea. Setelah tiga kali percobaan, Jelangkung bergerak sendiri dan membenarkan bahwa para pasien di sana bukanlah bunuh diri melainkan dibunuh secara massal. Tak lama, papan tersebut terbakar dan Tyas mendadak tak sadarkan diri seperti kerasukan. Mereka panik, berlari keluar ruangan, dan siaran langsung kembali dihentikan.
Kejadian itu membuat Arum, Yuri, dan Tyas ketakutan setengah mati. Juna berusaha menenangkan dan memberi pilihan untuk mundur. Namun, karena penonton telah mencapai satu juta orang, Bara dan Adit mendesak semua orang untuk bertahan agar perjuangan mereka tidak sia-sia. Siaran pun dilanjutkan dengan formasi berpencar. Arum menuliskan namanya di dinding lantai tiga sebagai tanda jejak, sementara Bara dan Adit masuk ke ruangan yang memiliki kolam pembaptisan kecil.
Di tempat lain, Yuri terkejut saat melihat boneka tradisional Korea yang tadinya ada di atas tempat tidur tiba-tiba berpindah ke dalam lemari. Kekhawatiran Yuri kian memuncak saat Adit secara ceroboh menyentuh benda-benda tersebut demi konten. Sementara itu dari dalam tenda, Juna terkejut karena boneka yang dipegang Adit itu sangat identik dengan boneka milik pasien di dalam foto yang mereka temui di lantai 1. Angka penonton pun melonjak mendekati dua juta viewers. Juna segera menghubungi Bara dan Adit untuk terus mempertahankan skenario rekayasa atau gimmick yang telah mereka rancang tanpa sepengetahuan anggota lain.
Tim kemudian berkumpul di lantai tiga dan memasuki ruangan penuh peti kayu. Bara dengan iseng memasukkan tangannya ke dalam lubang salah satu peti kosong. Secara mengejutkan, lengannya ditarik kencang dari dalam hingga suasana menjadi kacau. Arum yang mengira Bara hanya berakting, nekat memasukkan tangannya sendiri. Seketika tangan Arum ditarik sangat kencang hingga ia berteriak kesakitan. Saat berhasil lepas, telapak tangannya terluka parah seperti bekas gigitan. Yakin nyawa mereka dalam bahaya, Arum dan Yuri memutuskan berhenti dan keluar dari rumah sakit.
Bara dan Adit mulai panik dan mencoba menghubungi Juna, sebab luka Arum jelas bukan bagian dari rekayasa mereka. Di saat bersamaan, Juna juga mulai merasakan banyak keanehan di dalam tenda. Namun karena tergiur angka viewers yang menyentuh 2,5 juta penonton, Juna tetap memerintahkan sisa tim untuk melanjutkan siaran. Dalam perjalanan keluar, Arum yang menahan sakit meminta maaf kepada Yuri karena sempat tidak memercayainya. Namun, ikatan kain pada pohon yang mereka jadikan penanda jalan justru membawa mereka berputar-putar di tempat yang sama. Arum dan Yuri tersesat dan menangis histeris di tengah kegelapan hutan.
Sementara itu, Bara dan Adit yang hendak menyusul ke lantai empat diminta masuk ke ruang pembaptisan karena Juna mendeteksi pergerakan gaib di sana. Begitu melangkah masuk, teror mengerikan menimpa mereka berdua. Seluruh benda di dalam ruangan melayang dan menghantam mereka. Bara dan Adit pun tumbang tak sadarkan diri. Bagaimanakah nasib seluruh anggota "Para Pemburu Hantu" selanjutnya? Mampukah mereka selamat dan keluar dari rumah sakit terkutuk itu?


#Review:
Rumah produksi MD Pictures kembali hadir dengan film horror terbarunya yang berjudul 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026). Film ini merupakan remake resmi dari film box office hit asal Korea Selatan berjudul GONJIAM HAUNTED ASYLUM (2018) yang dirilis delapan tahun yang lalu. Dengan mempertahankan konsep mockumentary dan found footage horror, mampukah versi Indonesia nya ini hadir setara dengan versi Korsel nya?


Untuk segi cerita, film 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026) memang tidak mengalami perubahan drastis dari plot maupun karakter. Yang menjadi pertanyaan mengganjal bagiku, ada urgensi apakah tim kreator "Para Pemburu Hantu" mengadakan live streaming di rumah sakit terbengkalai sampai harus ke Korea Selatan segala. Padahal tempat-tempat angker di Indonesia juga sangat melimpah haha. Paruh pertama film, penonton seperti dejavu saja karena masih serupa dengan versi Korsel. Keputusan kreatif mengganti latar belakang cerita dari Yong-Won Hospital, menghadirkan tour guide dari warga lokal dan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di sana lalu berkonsultasi pada Cenayang dan penggunaan Jelangkung berhasil memberikan ciri khas sekaligus pembeda untuk versi Indonesia nya ini. Memasuki babak pertengahan, hampir semua adegan horror, jump scared hingga dialog masih copy paste dari film aslinya. Cukup disayangkan sih, Anggy Umbara dan penulis Lele Laila memilih cari aman dan tidak menonjolkan kreativitas mereka di pertengahan film. Saat menuju akhir film, barulah sisi kreativitas dan eksplorasi cerita dihadirkan oleh keduanya. Keputusan ending film dibuat sadis dan penuh darah berhasil membuatku terkejut. Sad ending versi Indonesia terasa lebih mengenaskan karena motivasi yang dihadirkan tersebut jadi lebih "masuk" dengan latar sejarah kelam Yong-Won Hospital yang sudah dijelaskan di awal film.


Untuk jajaran pemain, harus diakui penampilan geng "Para Pemburu Hantu" masih bisa ditingkatkan lebih maksimal lagi. Tektokan obrolan mereka kurang natural dan believable. Saat kamera meng-capture setiap ekspresi para karakter serta aura sekumpulan konten kreator nya juga kurang meyakinkan. Untungnya saat memasuki babak akhir cerita yang menjadi pembeda dengan versi Korsel, totalitas ensemble casts yang rela "disiksa" patut diapresiasi.
Untuk urusan visual, konsep found footage film 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026) ini masih terasa film banget. Unsur raw, mentah dan hand held shaky nya terlihat editing banget. Ditambah lagi pantauan CCTV yang dipasang sebelum eksplorasi Yong-Won Hospital terlalu banyak. Perbandingan nya terasa sangat menonjol dengan versi Korsel yang lebih believable. Overall, film 402 RUMAH SAKIT ANGKER KOREA (2026) masih enjoyable untuk ditonton di bioskop berkat third act nya menyimpan kejutan yang tidak kita temukan di versi Korsel. Punya potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dan harus bisa lebih baik lagi!


[7.5/10Bintang]

Saturday, 20 June 2026

[Review] Cerita Lila: Cerita Kelam Di Balik Rumah Kosong Antara Ibu & Anak Kembarnya!

 


#Description:
Title: Cerita Lila (2026)
Casts: Lutesha, Myesha Lin, Shareefa Daanish, Firzanah Alya, Sara Wijayanto, Wisnu Hardana, Wafda Saifan, Whani Darmawan, Jovial Da Lopez, Aci Resti, Enrico Winaldy, Kiara Virly, Demian Aditya, Fadi Iskandar
Director: Bobby Prasetyo
Studio: MVP Pictures


#Synopsis:
Sara (Sara Wijayanto) dan Wisnu (Wisnu Hardana) tak sengaja melihat sebuah rumah tua kosong ketika dalam perjalanan menuju basecamp Diary Misteri Sara. Mobil pun menepi sejenak di depannya. Saat berada di depan pagar rumah, Sara merasakan adanya energi buruk yang membuatnya khawatir. Namun sayang, Sara dan Wisnu tidak bisa asal masuk ke dalam rumah karena di depan pagar terpasang iklan dijual oleh agen properti. Sarah kemudian meminta Wisnu menghubungi agen properti tersebut dan meminta izin agar bisa masuk ke dalam rumah. Namun karena tak mendapat jawaban, keduanya tidak jadi masuk ke rumah tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju basecamp.
Di sisi lain, Tari (Lutesha) sedang berjuang menghidupi anak kesayangannya, Nia (Myesha Lin) dengan bekerja sebagai agen properti rumah. Meskipun saat itu sedang demam, Tari tetap berangkat bekerja dan menitipkan Nia selama ia bekerja pada tetangga rusunnya yaitu Septi (Aci Resti). Setibanya di kantor, Tari mendapat teguran dari atasan karena performa sales propertinya buruk. Ia pun terancam dipecat jika tak kunjung mencapai target. Atasannya kemudian memberikan satu kesempatan pada Tari untuk menjual satu properti rumah tua yang sudah lama tidak laku meskipun harga yang ditawarkan tergolong sangat murah. Tari pun langsung mendatangi rumah tua yang harus segera ia jual secepatnya. Tiba di sana, Tari membereskan perabotan jadul yang masih ada di dalam rumah dan membersihkan semua ruangan supaya jika nanti ada calon pembeli yang berkunjung, bisa langsung tertarik dan membeli rumah tersebut. Selain tuntutan pekerjaan yang semakin berat, Tari juga harus menghadapi sidang perceraian dan rebutan hak asuh anak dengan mantan suaminya, Teguh (Jovial Da Lopez). Tari berusaha hidup mandiri bersama Nia dan tidak mau bergantung dari nafkah yang diberikan Teguh karena suaminya itu ketahuan selingkuh dengan wanita lain. 
Setelah bekerja seharian dan membereskan rumah yang akan ia jual, malam harinya, Tari kembali demam dan meriang. Melihat ibunya yang sedang sakit, Nia berinisiatif membuatkan teh hangat. Ketika sedang merebus air di dapur, Nia tak sengaja membakar kain lap dari kompor gas dan menyebar ke gorden dapur. Nia yang menangis kemudian terdengar oleh Tari dan langsung keluar dari rusun untuk meminta pertolongan. Beruntung para tetangga rusun berhasil memadamkan api. Gara-gara kejadian tersebut, Tari mendapat teguran keras dari pemilik rusun karena menyebabkan kebakaran dan membahayakan banyak orang. Tari dan Nia diminta untuk segera mengosongkan rusun yang mereka sewa dan tak lagi tinggal di sana.
Tari berusaha mencari kost atau kontrakan sementara untuk ditinggali setelah ia diusir dari rusun. Karena tak punya uang yang cukup untuk bayar DP, Tari terpaksa menempati rumah tua yang sedang ia pasarkan tanpa sepengetahuan pemilik dan juga kantornya. Tari berjanji pada Nia jika rumah tua tersebut berhasil terjual, komisinya akan langsung digunakan untuk menyewa kontrakan secepatnya. Tiba di rumah, Tari dan Nia kembali membersihkan kamar agar bisa digunakan untuk beristirahat. Setelah selesai beres-beres, Tari mengizinkan Nia untuk terpisah dengannya karena ada kamar satunya lagi yang merupakan kamar anak-anak. Di kamar tersebut Nia melihat ada dua kasur dan juga satu kursi roda.
Di tengah malam, Nia terbangun dari tidurnya dan mendengar suara anak perempuan yang memanggil nama Lili (Firzanah Alya). Selain itu, Tari juga tiba-tiba mengalami sleep walking dan merasakan seperti ada seseorang yang mengawasinya. Seiring berjalannya waktu, Nia berkenalan dengan arwah seorang anak perempuan bernama Lila (Firzanah Alya) yang meminta bantuan pada Nia untuk mencarikan saudara kembarnya, Lili di rumah. Nia yang menyadari jika Lila bukanlah manusia justru tidak takut karena ia yakin jika Lila adalah arwah yang baik.
Hari demi hari terus berlalu. Tari semakin mendapat banyak tekanan dan masalah. Rumah tak kunjung terjual, calon pembeli rumah batal membeli rumah karena mengalami kejadian mistis saat berkunjung ke sana, jadwal persidangan hak asuh anak semakin dekat, mantan suami yang selalu menyalahkannya hingga gangguan mistis perlahan mulai dirasakan Tari dan juga Nia. Sosok penunggu di rumah tua tersebut adalah seorang ibu bernama Rahma (Shareefa Daanish) yang terpaksa gantung diri setelah membunuh kedua anak kembarnya. Cerita masa lalu dari Rahma pun perlahan mulai terungkap melalui mimpi dan kerasukan yang dialami oleh Tari. Bagaimana nasib Tari dan Nia selanjutnya?


#Review:
Rumah produksi MVP Pictures kembali hadir dengan film horror terbarunya yang berjudul CERITA LILA (2026). Meskipun kembali mengadaptasi cerita viral dari sosial media khususnya YouTube channel nya Diary Misteri Sara, sutradara Bobby Prasetyo dan tim penulis cerita serta naskah yang terdiri dari Gea Rexy, Erwanto Alphadullah dan Sara Wijayanto memberikan konsep terbilang baru di film terbarunya ini.


Untuk segi cerita, film CERITA LILA (2026) memiliki tiga plot yang saling beriringan satu sama lain. Plot pertama sebagai pembuka datang dari tokoh nyata yaitu Sara Wijayanto beserta tim Diary Misteri Sara (DMS) nya. Keputusan dan konsep kreatif yang memadukan antara tokoh nyata dan karakter fiksi disatukan dalam film ini tampil solid dan juga believable. Ketimbang harus recast atau memaksa geng DMS untuk full berakting, mending dibuat seperti ini aja. Terasa lebih natural dan tidak cringe. Dengan menghadirkan tiga plot dari tiga sudut pandang yang berbeda, semuanya berhasil dijahit dengan maksimal oleh tim penulis naskah. Setiap pertanyaan dan misteri yang awalnya memunculkan tanda tanya, selalu terjawab tuntas di babak-babak selanjutnya. Konflik utama dari plot Tari dan juga Rahma memiliki kesamaan yaitu perasaan trauma, depresi berat, dan tekanan psikologis dari kejamnya dunia hingga memicu serangkaian kejadian tragis yang terjadi di rumah tua tersebut. Saat karakter Tari dan Nia terperangkap dalam energi mistis di sana, mereka tidak hanya harus bertahan hidup dari terror supranatural, mereka juga buruknya pola asuh orang tua yang dilakukan Rahma, trauma pengkhianatan, ketidakberdayaan perempuan dan issue kesehatan mental. Dinamika emosional antara ibu dengan anak yang mendominasi di sepanjang film berhasil menguatkan sisi drama dalam film horror ini. Yang cukup disayangkan dari film CERITA LILA (2026) ini yaitu penonton terasa "disuapin" banget sehingga setiap teka-teki dan misteri yang ditebar, penonton cuma menikmatinya saja tanpa harus effort memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Hahaha.


Untuk jajaran pemain, time flies banget melihat aktris cantik Lutesha yang kini dipercaya untuk memerankan karakter seorang ibu dalam sebuah film. Rasanya kayak masih kemarin banget baru melihat Lutesha debut dengan karakter ikoniknya yaitu Suki di MY GENERATION (2017), Suci di BEBAS (2019) dan Alpha di THE BIG FOUR (2024), eh sekarang menjadi Tari seorang ibu dan single parent. Pendalaman karakter sebagai seorang ibu muda dengan segala permasalahan hidup serta emosionalnya yang belum stabil terasa believable. Lutesha semakin menunjukkan "taring" sebagai seoranga aktris saat karakter Tari mengalami kerasukan. Chemistry yang dibangun bersama Myesha Lin juga terasa hangat karena keduanya selalu berusaha saling melindungi satu sama lain. Penampilan Shareefa Daanish yang semakin mengukuhkan predikat sebagai expert dan spesialis peran setan juga mengesankan. Setiap kemunculannya di awal film dibuat sangat cerdik. Karakter Rahma yang ia perankan berhasil menarik simpati penonton. Kerapuhannya, kesedihannya dan amarahnya tersampaikan dengan baik disepanjang film. Kemunculan geng Diary Misteri Sara yang menjadi diri mereka dalam film CERITA LILA (2026) ini tampil sangat meyakinkan. Kehadiran geng DMS ini sudah pasti menjadi fan service bagi penonton setia channel Youtube mereka.
Untuk urusan visual, tim artistik, sinematografi dan efek visual berhasil menyajikan terror rumah tua yang memukau. Set lokasi terlihat sangat meyakinkan seperti rumah tua betulan yang tak kunjung laku padahal lokasinya sangat strategis di pusat kota. Scoring yang mengiringi film pun terasa dramatis dan tidak terlalu berlebihan saat memunculkan jump scared. 
Overall, film CERITA LILA (2026) bukan sekadar horror yang menjual ketakutan, melainkan sebuah refleksi tajam tentang bagaimana trauma, amarah dan dendam masa lalu yang tidak disembuhkan dapat terus menghantui secara abadi. Applause untuk Bobby Prasetyo yang berhasil memadukan cerita viral dari Diary Misteri Sara dengan melodrama keluarga yang emosional. Keren!


[8/10Bintang]

Tuesday, 16 June 2026

[Review] Obsession: Ketika Mantra One Wish Willow Diucapkan, Berubah Menjadi Cegil!

 


#Description:
Title: Obsession (2026)
Casts: Michael Johnston, Inde Navarrette, Cooper Tomlinson, Megan Lawless, Andy Richter, Haley Fitzgerald, Darin Toonder, Curry Barker
Director: Curry Barker
Studio: Focus Feature, Universal Pictures


#Synopsis:
Baron Bailey (Michael Johnston) memendam rasa suka pada Nikki Freeman (Inde Navarrette), rekan kerjanya di sebuah toko musik. Hampir setiap hari, pria yang akrab disapa Bear ini berlatih menyusun kata-kata untuk menyatakan cintanya, dibantu oleh dua rekan kerja lainnya, Ian (Cooper Tomlinson) dan Sarah Harper (Megan Lawless). Setelah berulang kali memantapkan nyali lewat latihan itu, Bear akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya kepada Nikki esok hari sepulang kerja.
Namun, kebahagiaan yang dinantinya runtuh seketika saat ia tiba di rumah. Bear terkejut mendapati Sandy, kucing kesayangannya, sudah tergeletak tak bernyawa. Setelah diperiksa, Sandy tak sengaja menelan obat oxycodone milik mendiang nenek Bear yang terjatuh dari tempat penyimpanan obat. Malam itu, pertahanan Bear runtuh. Tangis dan rasa sedihnya pecah di dalam kamar yang sunyi, saat ia harus tidur sendirian tanpa kehadiran Sandy.


Keesokan harinya, bertepatan dengan hari liburnya, Bear memanfaatkan waktu untuk mengubur bangkai Sandy dan membersihkan rumah. Di tengah kesibukannya, Nikki menelepon dan mengajaknya bertemu di sebuah bar yang sudah mereka agendakan sebelumnya. Bear awalnya menolak karena masih harus membereskan rumah, tetapi urung setelah mendengar dua kabar mengejutkan: Nikki berencana untuk resign dan ia baru saja tidak sengaja menjatuhkan kalung kristal kesayangannya ke dalam kloset toilet. Mendengar itu, Bear pun luluh dan memutuskan datang. Bear berpikir bahwa ini adalah momen yang tepat untuk menghibur sekaligus menyatakan cintanya pada Nikki.
Dalam perjalanan menuju bar, Bear menyempatkan diri mampir ke sebuah toko pernak-pernik untuk mencarikan kalung pengganti bagi Nikki. Sayangnya, tidak ada satu pun kalung yang terasa cocok. Pandangannya justru teralih pada sebuah mainan unik bernama "One Wish Willow", yang diklaim bisa mengabulkan satu permohonan jika dipatahkan. Merasa benda itu unik, Bear memutuskan membelinya sebagai hadiah untuk Nikki.


Sesampainya di bar, Bear bergabung dengan Nikki, Sarah, dan Ian. Mereka berempat asyik mengobrol tentang pekerjaan dan impian masa depan. Nikki menceritakan lebih detail soal rencana resign-nya, sementara Sarah mengungkapkan impiannya untuk masuk ke sekolah tato di Luther Art College, meski rencana itu ditentang keras oleh sang ayah. Tak lama kemudian, Ian dan Sarah sengaja pamit ke konter bar untuk memesan minuman, memberikan ruang bagi Bear dan Nikki agar bisa mengobrol berdua.Namun, kesempatan emas itu tidak berjalan mulus. Di meja bar, Bear mendadak diserang rasa gugup yang luar biasa hingga gagal menyatakan cintanya. Ditambah lagi, fokusnya terus buyar karena Ian dan Sarah sesekali menyela dari kejauhan. Ketika mereka bersiap untuk pindah ke bar berikutnya, Nikki memilih untuk menyudahi malam itu karena ingin langsung pulang. Tanpa membuang kesempatan, Bear pun menawarkan diri untuk mengantar Nikki pulang dengan mobilnya.
Di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang, Nikki mengungkapkan rasa duka citanya atas kematian Sandy. Ia kemudian mulai mencurahkan isi hatinya tentang pekerjaan di toko musik yang terasa kian membosankan karena tidak sesuai dengan passion nya. Sebagai orang yang gemar membaca, Nikki mengaku impian terbesarnya adalah menjadi seorang penulis.


Tak terasa, mobil Bear sudah berhenti di depan rumah Nikki. Bear sebenarnya sudah bersiap memberikan mainan "One Wish Willow" yang dibelinya, tetapi nyalinya mendadak ciut saat Nikki tiba-tiba bertanya apakah Bear tahu bahwa Sarah menyukainya. Bear langsung membantah hal itu dan menegaskan bahwa hubungannya dengan Sarah murni sebatas teman. Tepat sebelum keluar dari mobil, Nikki menatap Bear dan bertanya langsung tentang bagaimana perasaan Bear kepadanya. Lagi-lagi, Bear diserang rasa gugup yang hebat hingga akhirnya memilih berkelit dan tidak berani jujur.
Sambil tersenyum tipis, Nikki berpamitan lalu berjalan pelan menuju rumahnya. Di dalam mobil, Bear didera penyesalan yang besar. Ia membenci dirinya sendiri yang begitu pengecut untuk menyatakan cinta. Larut dalam kekecewaan, Bear nekat membuka kemasan "One Wish Willow", lalu mematahkan rantingnya sambil merapalkan satu permohonan yaitu ia ingin Nikki mencintainya melebihi apa pun di dunia ini. Seketika keajaiban langsung terjadi. Belum sempat Bear melajukan mobilnya, ia melihat Nikki berbalik dan berjalan kembali ke arahnya. Nikki mendadak berubah pikiran. Nikki mengaku tidak pulang dan ingin menginap di rumah Bear saja. Begitu kembali duduk di samping Bear, Nikki bercerita dengan raut sedih bahwa ia selalu merasa kesepian di rumah, terlebih karena sang ayah saat ini sedang berjuang melawan kanker di rumah sakit.


Setibanya di rumah, Nikki berniat untuk tidur bersama Bear. Namun, saat mendekat dan hendak menciumnya, Nikki tiba-tiba berteriak histeris karena ketakutan. Setelah tersadar dari kepanikannya, ia langsung meminta maaf. Malam itu, mereka tetap tidur di ranjang yang sama tanpa melakukan apa pun. Keesokan paginya, Bear terkejut mendapati bangkai Sandy, kucing kesayangannya, tergeletak di lantai dapur dengan dikelilingi lingkaran lilin. Nikki mengaku sengaja melakukannya sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk Sandy. Bagi Bear, tindakan itu sudah sangat keterlaluan. Nikki pun kembali meminta maaf atas rentetan sikap anehnya sejak semalam dengan alasan efek mengkonsumsi ekstasi sepulang dari bar. Setelah itu, ia memberanikan diri menyatakan cinta kepada Bear. Momen jujur tersebut membawa mereka semakin dekat hingga akhirnya resmi menjalin hubungan asmara. Sejak saat itu, Nikki jadi lebih sering menghabiskan waktu dan tinggal di rumah Bear.


Saat sedang makan malam bersama di sebuah restoran, ponsel Bear terus berdering mendapat panggilan berkali-kali dari Ian. Bear terpaksa izin beranjak untuk mengangkatnya. Di seberang telepon, Ian membawa kabar mengejutkan. Hasil penelusurannya menunjukkan bahwa ayah Nikki sama sekali tidak sakit kanker ataupun dirawat di rumah sakit. Beliau sehat-sehat saja dan saat ini sedang bekerja di New York. Ian juga menceritakan kejanggalan lain yang ia dengar saat Bear sedang libur kerja. Ian sempat mendengar obrolan Nikki dengan Sarah, di mana Nikki menyebut bahwa Bear sebenarnya sudah ia anggap seperti adik laki-lakinya sendiri. Ian khawatir Nikki sengaja mengarang cerita demi mencari perhatian Bear. Apalagi, perubahan sikap Nikki yang mendadak posesif dan tergila-gila pada Bear terasa instan dan mencurigakan.
Begitu Bear kembali ke meja makan, Nikki langsung menyodorkan sebuah batu bermotif warna harimau warisan mendiang ibunya yang dipercaya bisa meningkatkan rasa percaya diri. Nikki kembali menegaskan bahwa ia sangat mencintai Bear melebihi apa pun di dunia ini. Alih-alih tersanjung, ucapan itu justru membuat Bear merinding ketakutan. Bear sadar impian yang pernah ia ucapkan lewat mainan "One Wish Willow" kini menjadi kenyataan dengan cara yang aneh dan menakutkan. Mencoba mencari kebenaran, Bear pun menanyakan kondisi ayah Nikki. Mendengar pertanyaan itu, respons Nikki langsung berubah drasti. ia mengamuk dan menangis histeris.
Setelah ketegangan di restoran, mereka pulang dan melakukan hubungan intim dengan penuh gairah. Saat dini hari, Bear terbangun dan dibuat merinding ketika melihat Nikki berdiri di sudut kamar yang gelap, mengawasinya semalaman. Setelah itu, Nikki kembali menangis histeris dengan alasan mengalami mimpi buruk. Pagi harinya, Nikki mencoba menahan Bear agar tidak berangkat kerja dengan alasan kesepian. Bear tetap memutuskan pergi, meskipun ia heran melihat pintu rumah sudah ditutupi banyak lakban oleh Nikki. Kejanggalan itu akhirnya terjawab saat Bear berada di toko. Tengah asyik mengobrol dengan Sarah, Bear baru menyadari sebuah kenyataan mengerikan. Sandwich yang dibuat Nikki ternyata berisi potongan daging dari bangkai Sandy, kucing kesayangannya. Bear yang terlanjur menelan beberapa gigitan seketika langsung mual dan muntah.


Sepulang kerja, Ian menumpang mobil Bear untuk pulang bersama. Di sepanjang perjalanan, suasana mendadak tegang saat Ian menuduh Bear telah memanfaatkan kondisi Nikki yang mentalnya sedang tidak stabil. Ian meyakini bahwa perubahan perilaku Nikki yang ekstrem sepenuhnya adalah kesalahan Bear. Tertekan oleh tuduhan itu dan teror yang semakin menakutkan, Bear akhirnya menelepon nomor yang tertera pada bungkus mainan "One Wish Willow". Ia memohon agar permintaannya dibatalkan. Namun, jawaban di seberang telepon justru mengejutkan. Permohonan yang sudah terwujud tidak bisa diubah. Hanya ada satu cara agar teror itu berakhir, yaitu Bear harus mati. Bagaimana nasib Bear dan Nikki selanjutnya?


#Review:
Sutradara film pendek sekaligus YouTuber dengan channel "That's a Bad Idea" asal Amerika Serikat yaitu Curry Barker, sukses mendapat perhatian dari para penonton film di sana setelah debut film panjangnya, OBSESSION (2026) mencetak box office hit dengan pendapatan lebih dari $280 juta Dollar Amerika Serikat dari modal yang dikeluarkan hanya sekitar $750.000 saja. Selain itu, film ini juga berhasil mendapat predikat Fresh Certified dan skor seimbang 94% di Rotten Tomattoes dan masuk jadi salah satu film horror terbaik di tahun ini.


Untuk segi cerita, Curry Barker yang turut menulis naskah cerita, skenario sekaligus editor film OBSESSION (2026), ia berani menembus batas kenyamanan penonton lewat cerita cinta bertepuk sebelah tangan yang berubah menjadi terror domestik sekaligus brutal didalamnya. Film dibuka dengan drama cinta segiempat pada Bear, Nikki, Ian dan Sarah yang dipertemukan karena mereka bekerja di toko musik yang sama. Bear memendam perasaan pada Nikki. Ian diam-diam menjalin hubungan tanpa status dengan Nikki dan Sarah pun diam-diam memendam perasaan pada Bear. Namun mereka berempat mempunyai satu kesamaan yaitu sama-sama tidak berani untuk mengutarakan perasaan demi menjaga perasaan satu sama lain. Premis romantis klise tentang berharap orang yang disukai membalas cinta ini kemudian berubah menjadi mimpi buruk bagi penonton. Selain terror brutal, film OBSESSION (2026) juga memutarbalikan makna cinta sejati menjadi sebuah obsesi super berlebihan. Hal tersebut semakin menarik karena sang sutradara menambahkan unsur magis lewat tongkat dan mantra "One Wish Willow". Rasa frustasi, putus asa dan ketakutan yang dialami oleh karakter Bear bisa dirasakan dengan mudah oleh penonton disepanjang film. Plot bergulir dengan tempo yang awalnya lambat namun secara konsisten menumpuk rasa tidak nyaman, memposisikan penonton ada di pov karakter Bear yang terjebak dalam konsekuensi atas permintaannya sendiri. Keberhasilan sang sutradara terletak pada bagaimana ia mengeksplorasi perubahan drastis mental dari karakter Nikki yang berawal sebagai teman kerja yang manis, kemudian bertransisi menjadi sosok yang mengerikan setelah mantra One Wish Willow membelah kewarasannya. Curry Barker tidak ragu menyajikan serangkaian terror yang absurd sekaligus traumatis, mulai dari manipulasi emosional lewat kebohongan tentang kanker, penyajian bangkai kucing jadi sandwich, hingga aksi mengejutkan yang disimpan sangat memukau di akhir cerita.


Kegilaan cegil dan cogil di film OBSESSION (2026) tidak akan efektif tanpa jajaran pemain yang mampu tampil sangat memukau dan juga meyakinkan. Applause pertama harus kita berikan pada Inde Navarrette yang memerankan karakter Nikki Freeman. Transisi perubahan karakter dan ekspresi yang secepat kilat sungguh luar biasa mengerikan. Adegan saat persona obsesif dari Nikki muncul dan terus-terusan mengejar Bear benar-benar bikin merinding! Applause berikutnya kita berikan untuk Michael Johnston yang beperan sebagai Baron Bear. Ia berhasil menampilkan jiwanya yang rapuh, penuh rasa bersalah, kebingungan dan ketakutan perlahan-lahan menghancurkan mentalnya karena permintaannya tidak bisa di-undo.
Untuk urusan visual, Curry Barker dengan cerdik memanfaatkan estetika yang raw dan pencahayaan minim untuk memperkuat atmosfer klaustrofobik di sepanjang film. Kekuatan utama film OBSESSION (2026) terletak pada keberaniannya menyajikan deretan adegan disturbing yang tidak sekadar mengandalkan jump scare, tapi menciptakan teror psikologis dan body horror yang mengganggu kenyamanan penonton secara mendalam. Kekurangan dari film ini yang menurutku cukup terasa yaitu penurunan logika yang realistis di paruh pertengahan film. Contohnya keputusan Bear yang memilih tetap tinggal bersama Nikki ketimbang melaporkan ke orangtuanya atau pihak polisi serta asal-usul dan aturan tentang mainan magis dan mantra "One Wish Willow" tidak dieksplor dengan maksimal, sehingga menimbulkan pertanyaan di benak penonton.
Overall, film OBSESSION (2026) bisa dibilang sebagai sebuah studi karakter yang memukau tentang bahaya ego dan obsesi dari manusia. Salah satu film horror domestik yang menakjubkan sekaligus disturbing ketika drama romansa picisan tiba-tiba banting setir menjadi tragedi berdarah yang tak terduga!


[9/10Bintang]

Friday, 12 June 2026

[Review] Backrooms: Cerita Depresif Ketika Masuk & Terjebak Di Ruangan Kosong Tak Terbatas!

 


#Description:
Title: Backrooms (2026)
Casts: Chiwetel Ejiofor, Renate Reinsve, Mark Duplass, Finn Bennett, Lukita Maxwell, Avan Jogja, Robert Bobroczkyi, Krista Kosonen
Director: Kane Parsons
Studio: North Road Productions, 21 Laps Entertainment, Atomic Monster, A24, Feat Pictures


#Synopsis:
Seorang peneliti dari ASYNC Foundation yaitu Naren Warne (Avan Jogia), terpisah dari rombongannya dan tersesat di ruangan tanpa batas seperti labirin kosong dengan dinding berlapis wallpaper kuning kusam, karpet lembab dan lampu neon yang terus-terusan mendengung. Ruangan yang ditemukan tersebut kemudian disebut sebagai Backrooms. Setelah berjalan jauh dan berkeliling, Warne menemukan peralatan untuk berkomunikasi dengan ASYNC dan berusaha meminta bantuan. Tak lama setelah itu, Warne dikejar dan diserang oleh entitas misterius. Video footage hilangnya Warne tersebut ditemukan dan diteliti lebih lanjut oleh ASYNC.



Di sisi lain, Clark (Chiwete Ejiofor) pemilik toko furnitur diskonan sekaligus seorang arsitek gagal berusaha mengatasi kecanduan alkohol dan memperbaiki rumah tangganya yang terancam perceraian. Clark kemudian melakukan konsultasi pada psikolog yaitu Dr. Mary Kline (Renate Reinsve), yang dirinya sendiri juga sedang berjuang mengatasi trauma berat terkait pembongkaran rumah masa kecilnya serta ibunya, Nora (Krista Kosonen) yang mengidap gangguan kecemasan. Setelah selesai konsultasi, Clark kembali ke toko dan kembali berjualan meskipun tak ada satupun yang berkunjung ke sana. Malam harinya, Clark memutuskan tidur di toko dan tidak pulang ke rumah. Saat sedang menonton televisi, ia menyadari jika semua lampu toko berulang kali berkedip-kedip. Keesokan harinya, Clark memanggil tukang listrik untuk memeriksa kotak sekring yang ada di lantai bawah toko. Saat dicek, semua sekring listrik tidak ada rusak. Mereka juga menemukan dua sekring listrik dengan warna berbeda dan ketika pengetesan, tidak ada perubahan. Setelah itu, toko furnitur kembali buka seperti biasa. Di siang hari, Clark membuat materi promosi iklan dengan bantuan staff nya yaitu Kat Taylor (Lukita Maxwell). Bersama dengan pacarnya Kat yaitu Bobby Franklin (Finn Bennett) mereka bertiga membuat video iklan toko furnitur dengan tema bajak laut. Clark mengenakan kostum dan menjadi seorang kapten bajak laut seperti maskot tokonya yaitu Captain Clark. Setelah selesai, beberapa hari kemudian video iklan tersebut akhirnya tayang di televisi.


Suatu malam, saat Clark sedang beristirahat di tokonya, seluruh lampu kembali berkedip. Karena kesal, ia kemudian turun ke bawah untuk memperbaiki sekring listrik. Saat semuanya gelap, Clark melihat garis celah bercahaya dari dinding lantai bawah toko furnitur. Ketika mendekatinya, ia masuk dan terjatuh ke dalam Backrooms. Di depannya, Clark melihat banyak barang-barang seperti kursi, lemari dan meja yang saling menumpuk di tengah ruangan. Ia kemudian berjalan menyusuri setiap lorong dan ruangan di Backrooms. Clark mulai menyadari jika ruangan yang ia jelajahi itu tak ada ujungnya. Saat akan kembali ke tempat semula, Clark mendengar suara orang berbicara. Saat dicari keberadaannya, ia menemukan standee bergambar seorang pria yang mengeluarkan suara rekaman. Sumber suara tersebut berasal dari sebuah kabel yang terhubung ke sebuah pintu. Di sisi lain, Clark juga tak sengaja menemukan sebuah tas dengan nama pemilik Naren Warne yang tersembunyi di balik dinding. Saat Clark menarik kabel yang terhubung pada sebuah pintu, ia mendengar suara langkah kaki yang sangat besar. Clark kemudian pergi dari sana dan kembali ke toko dengan selamat.



Keesokan harinya, Clark kembali menemui Mary dan menceritakan pengalamannya memasuki Backrooms. Namun sayang, Mary menanggapinya dengan skeptis dan menduga hal tersebut efek dari kecanduan alkohol saja. Mendengar omongan tersebut membuat Clark kesal. Ia kemudian pulang dan meminta bantuan pada Kat dan Bobby untuk menemaninya masuk lagi ke Backrooms. Clark berjanji akan membayar dengan harga tinggi jika mereka bersedia membantunya. Setelah sepakat, Clark, Kat dan Bobby masuk ke Backrooms dengan cara menembus dinding yang sudah ditandai. Kat dan Bobby terkejut sekaligus takut saat mereka berhasil masuk ke sana dengan cara yang tak lazim. Ketiganya berjalan menyusuri setiap ruangan dan lorong dengan dinding warna kuning pucat, lantai karpet lembab dan lampu neon berdengung dimana-mana. Selama menjelajah Backrooms, Clark mulai menyadari adanya perubahan bentuk ruangan dibandingkan kemarin saat pertama kali masuk. Mereka bertiga kemudian menemukan sebuah lorong dengan kemiringan yang curam. Clark meminta Bobby untuk turun ke sana dan merekam apa yang ada di bawah dengan bantuan tali yang diikat. Ketika mendarat di bawah, Bobby menemukan ruangan yang gelap dan dipenuhi sampah, tumpukan baju kotor dan furnitur yang sudah rusak. Saat akan kembali naik ke atas, Bobby merekam entitas misterius muncul dari kegelapan dan mengejarnya. Clark dan Kat menarik tali yang mengikat pada tubuh Bobby. Namun sayang Bobby kembali terseret ke bawah dan menghilang di sana. Karena kuatnya tarikan dari bawah, Clark dan Kat juga ikut terjatuh. Mereka berdua panik dan berusaha mencari jalan keluar. Kat lalu ditarik oleh entitas misterius itu dan menghilang. Clark yang ketakutan berusaha melarikan diri dan menyusuri ruangan aneh dan tidak beraturan. Setelah berlari tanpa arah, Clark berpapasan dengan dua entitas humanoid yang mengejarnya hingga terjebak di ruangan buntu.


Beberapa hari kemudian, Mary menerima panggilan telepon dari Clark yang mengungkapkan jika ia akan tinggal di Backrooms dan menetap di sana. Merasa khawatir, Mary pun pergi menuju toko furniturnya Clark. Setibanya di sana, toko terlihat sepi tidak ada orang dan dalam keadaan tidak terkunci. Mary pun masuk ke sana dan mencari Clark. Ketika turun ke lantai bawah, Mary melihat sebuah denah lokasi di papan yang digambar oleh Clark. Selain itu, ia juga melihat sebuah tanda garis berbentuk pintu menempel di dinding. Karena teringat akan ucapan Clark, ia mendekati garis berbentuk pintu tersebut dan secara mengejutkan masuk ke dalam Backrooms.
Di sana, Mary berjalan menyusuri setiap lorong dan ruangan sambil memanggil Clark. Mary kemudian menemukan sebuah ruangan dengan coretan gambar yang diyakini dibuat oleh Clark. Tak lama setelah itu Clark muncul dan entitas gaib juga mulai mendekati mereka berdua. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Bagaimana nasib Mary dan Clark selanjutnya?


#Review:
Pertengahan tahun 2026, jagat sinema Hollywood digemparkan dengan kesuksesan film BACKROOMS (2026) yang diadaptasi dari urban legend viral di internet serta disutradarai oleh seorang pemuda berusia 20 tahun! Tak hanya itu saja, debut film Kane Parsons menggarap film layar lebar ini juga mencetak rekor sebagai film produksi A24 terlaris sejauh ini menggeser posisi MARTY SUPREME (2025) dan EVERYTHING EVEREWHERE ALL AT ONCE (2022). Luar biasa!


Untuk segi cerita, film BACKROOMS (2026) terbilang cukup berbeda dengan versi serial web nya. Di versi layar lebar, Kane Parsons dan Will Soodik selaku penulis naskah memilih untuk melanjutkan cerita dari pov warga sipil yang tak sengaja masuk ke dalam Backrooms ketimbang mengulang dari awal. Seperti yang sudah dijelaskan di serial web nya, ASYNC Foundation tak sengaja membuka gerbang dimensi alternatif dan menciptakan sebuah distorsi sebuah ruangan yang tak terbatas. ASYNC menyadari bahwa pembukaan gerbang dimensi alternatif tersebut berdampak buruk pada dunia nyata. Terjadi distorsi di beberapa tempat di bumi, menyebabkan orang-orang atau barang-barang di dunia nyata terjatuh secara tidak sengaja ke dalam Backrooms. Salah satu tempat yang terkena distorsi tersebut adalah toko furnitur diskonan milik karakter Clark. Menariknya di sini, Kane Parsons memadukan gaya found footage dengan sinematografi teatrikal yang megah namun tetap dengan gaya khas kamera VHS seperti serial web nya. Selain itu, ia juga memberikan jiwa dan karakter manusia yang kuat. Penonton tidak lagi hanya melihat orang asing tanpa nama yang tersesat di koridor kuning, melainkan mengikuti Clark, seorang pria yang hancur oleh alkoholisme dan kegagalan hidup, serta Dr. Mary Kline yang berjuang menyembuhkan trauma masa kecilnya. film BACKROOMS (2026) bukan sekadar labirin atau infinity space semata, melainkan manifestasi visual dari keputusasaan, trauma, dan ruang isolasi mental dari kedua karakter utama.
Sumber horror dari film BACKROOMS (2026) bukan berasal dari jump scared atau scoring bombastis khas film-film horror mainstream, melainkan dari ruangan kosong dan tak terbatas itu sendiri. Konsep liminal space menciptakan rasa terisolasi, keputusasaan, dan paranoia yang mencekam bagi penonton. Hampir sepanjang nonton, penonton pasti punya imajinasi tersendiri dan membayangkan di pojokan ruangan atau lorong yang akan dilalui oleh Clark maupun Mary. Jika di versi serial web penggemarnya terbiasa dengan monster kabel, versi film layar lebarnya membawa horor ke arah yang lebih surealis dan psikologis. Kehadiran entitas gaib berwujud Captain Clark atau maskot toko furnitur dan tiga makhluk humanoid terasa lebih creepy dan bikin ngeri. 


Meskipun film BACKROOMS (2026) didominasi oleh ruang kosong dan kegilaan visual, performa kedua aktor utamanya berhasil memberikan "jiwa" dan dimensi kemanusiaan yang membuat penonton benar-benar peduli pada nasib para karakter, bukan sekadar menunggu mereka dikejar monster. Sebagai aktor berkelas pemenang Piala Oscars, Chiwetel Ejiofor memberikan penampilan yang luar biasa intens dan tragis sebagai Clark, arsitek gagal yang tenggelam dalam alkoholisme. Ejiofor dengan sangat brilian menggambarkan transisi Clark dari seorang pria yang depresi dan frustrasi di dunia nyata, menjadi sosok yang tidak waras setelah terjebak di dalam Backrooms. Sementara itu, aktris asal Norwegia yang saat ini sedang naik daun dan dikenal sebagai aktor spesialis film-film festival yaitu Renate Reinsve, berhasil menampilkan secara profesional seorang psikolog di awal film, yang perlahan-lahan runtuh ketika dirinya sendiri masuk ke dalam Backrooms dan dihadapkan pada manifestasi ketakutan terbesarnya. Saat berhadapan dengan Clark yang sudah tidak waras di ruang makan tiruan, akting Reinsve sangat memukau tanpa harus berteriak histeris atau marah-marah. Ia justru bersikap tegas dan realistis dalam menghadapi Clark.
Overall, film BACKROOMS (2026) adalah adaptasi yang sukses dan kualitasnya setara dengan versi serial web. Film ini tidak hanya menjual jump scared mainstream, melainkan sebuah horor psikologis berbalut fiksi ilmiah yang emosional, kelam dan meninggalkan rasa tidak nyaman setelah menonton. Kane Parsons menurutku berhasil mengubah salah satu urban legend internet sederhana menjadi sebuah kisah tragedi fiksi ilmiah yang megah, mencekam dan meninggalkan kesan mendalam mengenai batas ambisi manusia. Keren!


[8.5/10Bintang]