#Description:
Title: Leviticus (2026)
Title: Leviticus (2026)
Casts: Joe Bird, Stacy Clausen, Mia Wasikowska, Nicholas Hope, Tyallah Bullock, Ewen Leslie, Jeremy Blewitt, Davida McKenzie, Shannon Berry, Julia Grace, Hyu Motoki, Edwina Wren
Director: Adrian Chiarella
Studio: Causeway Films, Maslow Entertainment, NEON
#Synopsis:
Setelah kematian sang ayah, Naim Reid (Joe Bird) dan ibunya, Arlene (Mia Wasikowska), memutuskan untuk memulai hidup baru di kawasan pinggiran Victoria, Australia. Lingkungan baru yang sangat religius dan konservatif itu membuat Arlene merasa lebih tenang dan makin dekat dengan Tuhan. Ia dan Naim pun rutin menghadiri berbagai kegiatan keagamaan di gereja lokal tak jauh dari rumah mereka.
Di sekolah barunya, Naim berkenalan dengan Ryan Whelan (Stacy Clausen), seorang remaja setempat. Hubungan mereka berkembang cepat. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama di sebuah gudang terbengkalai sepulang sekolah. Momen-momen yang dihabiskan bersama itu perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka. Menyadari bahwa perasaannya tabu di mata masyarakat setempat, Naim dan Ryan sepakat menjalin hubungan asmara secara rahasia. Mereka berjanji untuk tetap bersikap sewajarnya saat berada di rumah, sekolah, maupun gereja agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Namun, komitmen pacaran itu hancur saat Naim berkunjung ke rumah Ryan sepulang sekolah. Ia memergoki Ryan sedang berciuman dengan Hunter (Jeremy Blewitt), putra sang pendeta di halaman rumah. Naim kemudian melangkah pergi dengan sakit hati sambil menahan tangis. Setibanya di rumah, dipicu rasa cemburu dan sakit hati yang mendalam, Naim menceritakan apa yang dilihatnya kepada sang ibu. Arlene yang terkejut langsung menghubungi keluarga Hunter. Malam itu juga, Naim mendatangi rumah Hunter untuk menceritakan kejadian tersebut secara langsung, sambil memohon pada keluarga Hunter agar menyembunyikan identitasnya sebagai pelapor.
Di sekolah barunya, Naim berkenalan dengan Ryan Whelan (Stacy Clausen), seorang remaja setempat. Hubungan mereka berkembang cepat. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama di sebuah gudang terbengkalai sepulang sekolah. Momen-momen yang dihabiskan bersama itu perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka. Menyadari bahwa perasaannya tabu di mata masyarakat setempat, Naim dan Ryan sepakat menjalin hubungan asmara secara rahasia. Mereka berjanji untuk tetap bersikap sewajarnya saat berada di rumah, sekolah, maupun gereja agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Namun, komitmen pacaran itu hancur saat Naim berkunjung ke rumah Ryan sepulang sekolah. Ia memergoki Ryan sedang berciuman dengan Hunter (Jeremy Blewitt), putra sang pendeta di halaman rumah. Naim kemudian melangkah pergi dengan sakit hati sambil menahan tangis. Setibanya di rumah, dipicu rasa cemburu dan sakit hati yang mendalam, Naim menceritakan apa yang dilihatnya kepada sang ibu. Arlene yang terkejut langsung menghubungi keluarga Hunter. Malam itu juga, Naim mendatangi rumah Hunter untuk menceritakan kejadian tersebut secara langsung, sambil memohon pada keluarga Hunter agar menyembunyikan identitasnya sebagai pelapor.
Keesokan harinya, Hunter dan Ryan beserta orang tua mereka berkumpul di rumahnya Hunter. Ayahnya Hunter rupanya sudah memanggil seorang pria tua yang selama ini dikenal sebagai penyembuh dan pembebasan (deliverance healer) untuk membersihkan jiwa Hunter dan Ryan dari hasrat sesama jenis mereka. Para tetangga termasuk Naim dan sang ibu yang turut datang menjadi saksi ritual tersebut. Saat ritual dilakukan, Hunter dan Ryan mengalami kejang-kejang yang tak terkendali, kemudian muntah dan menjerit kesakitan hingga tak sadarkan diri.
Melihat Ryan dan Hunter tersiksa dalam ritual tersebut muncul rasa bersalah pada Naim. Keadaan jadi memburuk saat kembali ke sekolah. Ryan menjadi sasaran bullying dari siswa lain. Upaya Naim untuk berbaikan ditolak oleh Ryan yang memilih menghindar dan memutus kontak darinya. Sepulang sekolah, Naim mendatangi rumah Ryan secara diam-diam untuk meminta maaf. Di sana, ia melihat Ryan sedang berbicara seorang diri di halaman sebelum akhirnya masuk ke rumah. Tak lama kemudian, Ryan kembali keluar dan berjalan menuju arena sepatu roda. Naim yang membuntutinya dibuat heran sekaligus penasaran karena Ryan terus berbicara sendirian sepanjang jalan seolah ada orang lain di sampingnya.
Setibanya di sana, Ryan masuk ke dalam sebuah stan photo box. Dari luar, Naim masih bisa mendengar suara Ryan yang terus mengobrol. Tak lama setelah itu, Naim terkejut saat lembaran foto otomatis keluar dari mesin. Foto-foto itu memperlihatkan Ryan berpose sedang mencium ruang kosong. Setelah itu, terdengar suara napas Ryan yang tercekik dari dalam photo box. Begitu Naim membuka tirai, ia melihat leher Ryan sedang dicekik oleh kekuatan gaib. Naim mencoba mendekat tetapi mendadak terlempar keras ke arah pagar pembatas arena. Setelah berhasil melepaskan diri dari cekikan tersebut, Ryan berlari ketakutan sambil berteriak pada Naim untuk tidak mendekatinya lagi.
Keesokan harinya, Naim menemui Hunter yang kini bekerja di minimarket sebuah pom bensin. Hunter menceritakan bahwa ritual deliverance healer itu sebenarnya sudah dilakukan pada banyak remaja lain yang sama seperti dirinya. Ketika Naim bertanya apakah ritual tersebut berhasil, Hunter tidak memberi jawaban pasti. Ia mengatakan jika setelah menjalani ritual tersebut, Ryan selalu datang menerornya setiap malam dan melemparkan berbagai benda, meski tak ada satu pun orang yang mempercayainya.
Didorong rasa penasaran, Naim kembali ke pom bensin pada malam hari saat toko sudah tutup. Ia berhasil menyelinap masuk lewat pintu belakang tanpa sepengetahuan Hunter. Tak lama setelah itu, Hunter keluar membawa kantong sampah. Melalui kaca toko, Naim memperhatikan Hunter yang mendadak berhenti dan sambil meluapkan emosinya sendirian. Seketika itu juga, barang-barang melayang dan menghantam Hunter secara misterius. Hunter kemudian melepas bajunya dan terlihat seperti berciuman dengan sosok yang tak terlihat oleh Naim, sebelum akhirnya ia tercekik dan berteriak histeris. Naim panik dan berusaha keluar dari untuk menolong, namun seluruh pintu akses telah terkunci rapat. Naim hanya bisa menyaksikan tubuh Hunter ambruk dan diseret dengan cepat menuju kegelapan.
Setelah berhasil meloloskan diri dari minimarket, Naim bergegas menuju kantor polisi dalam kondisi panik luar biasa. Di hadapan seorang detektif, ia membeberkan seluruh kejadian mengerikan yang disaksikannya malam itu dan memohon bantuan untuk menghentikan entitas tak kasat mata tersebut. Karena dihantui ketakutan bahwa ia akan menjadi target berikutnya, Naim terpaksa jujur mengenai hubungan asmaranya (coming out). Namun, kejujuran itu justru menjadi masalah baru saat sang ibu mengetahui rahasia tersebut. Situasi kian mencekam ketika polisi akhirnya menemukan jasad Hunter dalam kondisi mengenaskan dengan kepalanya terpenggal di sebuah ladang. Bukannya membawa Naim pulang, Arlene yang terkejut sekaligus takut justru membawa Naim mendatangi sang deliverance healer untuk menjalani ritual pengusiran setan yang sama.
Waktu terus berlalu. Naim dan ibunya menghadiri prosesi pemakaman Hunter. Di sana, Naim bertemu dengan Ryan di belakang rumah dan mengaku bahwa ia juga telah dipaksa menjalani ritual traumatis tersebut. Di tengah kesedihan, keduanya berciuman. Namun secara mengejutkan, sikap Ryan mendadak berubah. Ia mendorong dan mencekik Naim dengan sangat kuat. Naim yang berhasil melepaskan diri berlari ketakutan menuju ke dalam rumah sambil meminta pertolongan. Naim kemudian terkejut saat melihat Ryan yang asli ternyata ada di dalam rumah, sementara sosok di belakang rumah lenyap tanpa jejak. Melihat hal itu, Ryan dan adik dari mendiang Hunter yaitu Izzie (Davida McKenzie), menyadari jika Naim telah menjadi korban ritual berikutnya. Izzie kemudian membeberkan rahasia kelam tentang nasib tragis serupa menimpa seorang gadis bernama Marnie (Tyallah Bullock) yang tewas secara misterius usai menjalani ritual tersebut bersama kekasih perempuannya, Jessica (Shannon Berry). Izzie memberi tahu bahwa Jessica saat ini masih bertahan dan memutuskan tinggal di sebuah rumah sakit di Murryville.
Didorong harapan untuk mencari jalan keluar, Naim dan Ryan nekat menjenguk Jessica. Namun, jawaban Jessica justru menghancurkan harapan mereka. Jessica menjelaskan bahwa kutukan entitas dari ritual tersebut tidak bisa dihilangkan. Makhluk itu akan terus mengikuti mereka dan hanya menampakkan diri saat korbannya sendirian. Energinya pun akan semakin membesar jika terus dihindari. Dalam perjalanan pulang menggunakan bus, keputusasaan menyelimuti mereka berdua. Demi melindungi satu sama lain, Naim berniat pergi meninggalkan kota sendirian dan memohon agar Ryan tidak mengikutinya. Namun, Ryan menolak menyerah. Bagi Ryan, jika entitas itu harus membayanginya seumur hidup, ia tidak ingin makhluk itu berwujud orang lain selain Naim.
Gangguan supranatural semakin tidak terkendali. Saat berada di toilet sekolah, Ryan kembali diserang secara brutal oleh entitas yang menyerupai Naim hingga telinganya robek. Situasi jadi semakin pelik seiring hancurnya keluarga Hunter pasca-kematian putranya itu. Hingga pada suatu malam, Izzie mendadak menghubungi Naim dan Ryan. Ia mengklaim telah menemukan seseorang yang sanggup melepaskan mereka dari kutukan deliverance healer tersebut. Akankah petunjuk dari Izzie menjadi titik terang bagi Naim dan Ryan, atau justru membawa mereka masuk ke dalam jebakan yang jauh lebih mengerikan?
#Review:
Setelah tayang perdana di Sundance International Film Festival pada awal tahun ini, film horror LEVITICUS (2026) karya debut film panjang bagi sutradara Adrian Chiarella ini sukses mencuri perhatian penonton berkat premis dan narasi yang dihadirkan, memadukan antara horror dengan kritik sosial religi secara tajam. Respon positif dari mayoritas penonton dan kritikus terlihat dengan jelas dari yang meraih fresh certified 92% dari situs Rotten Tomatoes.
Dari segi cerita, film ini mengusung ide yang sangat menarik sekaligus berpotensi mengundang kontroversi karena mengangkat isu homofobia sistemik dan doktrin agama yang toksik. Kedua isu tersebut kemudian dimanifestasikan menjadi sosok tak kasat mata yang mengerikan. Mirip dengan film IT FOLLOWS (2014), entitas gaib di sini bertindak sebagai metafora dari trauma yang terus membayangi para karakter. Konsep cerita yang membuat wujud sang monster menyerupai sosok yang paling dicintai korbannya menghadirkan ironi yang sangat menyakitkan. Pesan yang disampaikan Chiarella terasa kuat dan berani, karena di lingkungan agama yang konservatif, ketulusan cinta dan keintiman sekalipun ternyata dapat dipelintir menjadi ancaman yang mematikan.
Menariknya, Adrian Chiarella tidak bergantung pada formula jump scare khas film horror kebanyakan. Ia berhasil membangun atmosfer mencekam dengan nuansa gloomy yang konsisten di sepanjang film. Pengarahan visual di ruang-ruang terbatas seperti photo box, minimarket, hingga toilet sekolah, dikemas secara rapi melalui tata kamera yang lumayan rapat dan efektif. Dinamika serta perjuangan karakter Naim dan Ryan pun disajikan tanpa dramatisasi berlebihan, sehingga penonton dapat ikut merasakan keputusasaan dan rasa frustrasi mereka. Sayangnya, eksekusi subplot tentang aksi balas dendam yang muncul tiba-tiba di paruh kedua film terasa seperti tempelan semata. Andai saja bagian ini dihilangkan, tidak berdampak signifikan pada dinamika hubungan Naim dan Ryan.
Dari jajaran pemain, penampilan memukau Joe Bird dan Stacy Clausen patut mendapat apresiasi tinggi. Joe Bird, yang sebelumnya tampil di film TALK TO ME (2022), bermain sangat mengesankan dalam membawakan rasa bersalah serta keputusasaan yang begitu nyata pada karakter Naim. Chemistry nya dengan Stacy Clausen terbangun secara natural. Porsi kebahagiaan dan kepedihan hubungan mereka tersampaikan dengan pas. Selain itu, kehadiran aktris Mia Wasikowska sebagai ibunya Naim makin menambah kesan tega yang realistis yaitu sosok orang tua yang rela melakukan apa saja demi "melindungi" anaknya terhindar dari penindasan lingkungan konservatif nya.
Secara keseluruhan, LEVITICUS (2026) menutup kisahnya dengan pesan pahit namun jujur mengenai penerimaan dan penyembuhan trauma. Akhir cerita ketika Naim dan Ryan memilih untuk terus melangkah bersama walau bayangan entitas itu masih mengintai, menunjukkan bahwa "luka" tidak bisa benar-benar dimusnahkan, melainkan harus dihadapi. Mengerikan sekaligus berkesan!
Secara keseluruhan, LEVITICUS (2026) menutup kisahnya dengan pesan pahit namun jujur mengenai penerimaan dan penyembuhan trauma. Akhir cerita ketika Naim dan Ryan memilih untuk terus melangkah bersama walau bayangan entitas itu masih mengintai, menunjukkan bahwa "luka" tidak bisa benar-benar dimusnahkan, melainkan harus dihadapi. Mengerikan sekaligus berkesan!
[9/10Bintang]



0 comments:
Post a Comment