Monday, 22 June 2026

[Review] Voicemails For Isabelle: Ketika Pesan Suara Salah Kirim Justru Menemukan Jodoh!

 



#Description:
Title: Voicemails for Isabelle (2026)
Casts: Zoey Deutch, Nick Robinson, Harry Shum Jr, Lukas Gage, Ciara Bravo, Nick Offerman, Megan Danso, Gil Bellows, Toby Sandeman, Spencer Lord
Director: Leah McKendrick
Studio: Sony Pictures, Escape Artists, Netflix


#Synopsis:
Sedari kecil, Jill Shaw (Zoey Deutch) sangat dekat dan akrab dengan adik perempuannya yaitu Izzy Shaw (Ciara Bravo). Setiap moment yang ia lalui dalam hidup selalu ia ceritakan pada Izzy. Hal tersebut sudah menjadi kewajiban bagi Jill untuk berbagi cerita dan kebahagiaan dengan sang adik yang tidak bisa menjalani hidup dengan normal karena mengidap penyakit Fibrosis Kistik, sebuah penyakit genetik langka yang menyebabkan pengidapnya kesulitan bernafas karena adanya mutasi gen pada lendir yang menyelimuti organ paru-parunya. Hal tersebut membuat Izzy menghabiskan waktu hanya di rumah dan juga menjalani home schooling.


Setelah lulus kuliah, Jill dan Izzy memiliki passion yang sama di bidang bakery. Keduanya bercita-cita ingin punya toko bakery sendiri. Untuk memperdalam ilmu dunia bakery dan kuliner, Jill berencana melamar kerja sebagai baker di restoran Eropa milik Chef Bastien (Nick Offerman) yang ada di San Francisco. Mendengar hal tersebut tentunya mendapat dukungan penuh dari Izzy dan kedua orang tua mereka. Meskipun awalnya merasa berat harus meninggalkan keluarganya di Austin, Jill pun akhirnya merantau ke San Francisco setelah resmi diterima sebagai chef baru di restorannya Chef Bastien.
Setelah beberapa bulan tinggal dan bekerja di San Francisco, Jill merasakan betapa kerasnya kehidupan di sana. Di restoran, Jill dan karyawan lain selalu kena marah oleh Chef Bastien meskipun mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Sepulang bekerja, Jill selalu mencurahkan keluh kesahnya pada Izzy melalui telepon. Mendengar curhatan kakaknya, Izzy tak pernah lelah menyemangati dan meminta Jill untuk tetap bertahan, karena Izzy sangat yakin akan kemampuan kakaknya itu.



Hari demi hari terus berlalu. Selama tinggal di San Francisco, Jill didekati oleh rekan kerjanya yaitu Arthur (Lukas Gage). Namun sayang, kedekatan mereka tak berlanjut sampai ke tahap pacaran karena Jill tidak selera dengannya. Karena ditolak, Arthur pun menjauhi Jill dan kini menganggapnya sebagai musuh di tempat kerja. Sejak saat itu, Jill memutuskan untuk tidak memprioritaskan urusan asmaranya dan fokus untuk bekerja saja. Suatu malam setelah Jill pulang bekerja, Izzy menelepon Jill dan mengabari jika ia didaftarkan untuk mengikuti transplantasi paru-paru. Mendengar hal tersebut membuat Jill terkejut sekaligus sedih karena menandakan jika kondisi kesehatan Izzy semakin menurun. Keesokan harinya, Jill yang sedang bertemu dengan seorang pria di bar mendapat telepon dari ibunya yang mengabari jika Izzy dilarikan ke rumah sakit. Jill pun langsung pulang dengan pesawat dari San Francisco menuju Austin. Setibanya di rumah sakit, Jill harus menerima kenyataan pahit karena Izzy sudah meninggal dunia.
Kepergian Izzy untuk selama-lamanya menjadi duka yang sangat mendalam bagi Jill dan kedua orangtua mereka. Saat kembali melanjutkan hidup ke San Francisco, Jill belum bisa mengikhlaskan kepergian adiknya itu. Jill bahkan masih sering mengirimkan voicemail ke nomor ponsel milik Izzy dan memutar kembali semua voicemail yang dikirim Izzy pada dirinya. Kebiasaan tersebut terus ia lakukan selama berbulan-bulan karena bisa sedikit mengobati kerinduan Jill terhadap sang adik.


Di sisi lain, voicemail yang selama ini dikirim Jill, terkirim ke nomor ponsel Izzy yang sudah di-recycle. Nomor ponsel tersebut kini dimiliki oleh seorang agen real estate di Austin yaitu Wes (Nick Robinson). Hampir setiap hari Wes menerima voicemail dari Jill yang menceritakan kehidupannya, pekerjaannya, mimpinya hingga urusan asmaranya semua ia curahkan melalui voicemail. Awalnya Wes terganggu dengan notifikasi voicemail yang masuk karena sempat membuat pacarnya, Brittani (Zenia Marshall) cemburu. Melihat pacarnya terlalu pasif dan tidak bisa bersikap romantis layaknya pasangan kekasih, Brittani pun mengambil keputusan untuk putus dengan Wes. Setelah itu, Wes jadi sering mendengarkan setiap voicemail yang dikirim Jill untuk Izzy. Semua curahan hati dan keluh kesah Jill terdengar sangat membahagiakan bagi Wes. Perlahan tapi pasti, Wes semakin tertarik pada kehidupan Jill dan memutuskan untuk menunda berkata jujur soal nomor ponselnya Izzy yang sudah di-recycle dan kini jadi miliknya.



Seiring berjalannya waktu, Jill yang sedang menikmati kesendiriannya tak sengaja bertemu dan berkenalan dengan seorang konten kreator dan podcaster asmara yang punya jutaan followers yaitu Tyler Riordan (Toby Sandeman). Pertemuan mereka kembali berlanjut karena Tyler mulai tertarik pada sikap Jill yang riang dan lucu. Namun sayang, Jill jadi tidak tertarik pada Tyler setelah dirinya dighosting tanpa kabar. Hal tersebut sangat berbanding terbaling dengan personal branding dari Tyler di sosial media dan podcast nya yang selalu memberikan nasihat soal asmara pada jutaan followers nya. Jill kemudian menyusun rencana untuk melabrak Tyler saat sesi meet and greet dengan followers nya yang disiarkan secara live. Rencana yang turut diketahui Wes melalui voicemail membuatnya ingin melihat aksi yang akan dilakukan Jill tersebut. Ia kemudian terbang dari Austin menuju San Francisco dan menjadi saksi dari rencana labrak Jill pada Tyler.


Setelah berhasil menjalankan misinya, Jill sangat senang dan kembali menceritakan hal tersebut melalui voicemail sambil menikmati sunset dengan pemandangan jembatan Golden Gate. Setelah selesai menelepon, Wes duduk disamping Jill dan mengajaknya berkenalan. Dengan bermodalkan semua cerita yang sudah ia dengar melalui voicemail, Wes pun berusaha menjadi sosok terbaik bagi Jill. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin akrab. Jill yang sudah berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun akhirnya menyerah. Treatment yang diberikan Wes terasa sangat sempurna dan ia juga yakin jika Wes adalah jodoh yang dikirimkan oleh tuhan dan juga Izzy dari surga.
Seiring berjalannya waktu, hubungan Jill dengan Wes semakin dekat. Wes pun mengajak Jill untuk datang ke pesta pernikahan kerabat dekatnya yaitu Breeda (Leah McKendrick) dan Andy (Harry Shum Jr). Sebelum menjemput Jill dari San Francisco, Breeda dan Andy memastikan apakah Wes sudah berkata jujur tentang nomor ponsel mendiang Izzy sekarang sudah berpindah tangan pada dirinya atau belum. Sialnya, Wes sampai saat ini belum menyampaikan hal tersebut pada Jill. Namun ia berjanji akan mengatakannya pada Jill di waktu yang tepat, karena tak mau mengganggu keharmonisan dan kebahagiaan yang sudah tercipta diantara mereka berdua.


Pesta pernikahan Breeda dan Andy pun tiba. Semua tamu undangan termasuk Jill dan Wes ikut berbahagia di acara tersebut. Namun sayang, ditengah suasana penuh suka cita itu, Jill tak sengaja menemukan sebuah fakta yang membuatnya harus menelan kekecewaan sangat besar terhadap Wes. Apa yang terjadi pada mereka berdua?


#Review:
Rumah produksi Sony Pictures merilis film drama komedi romantis terbaru yang langsung "dilempar" ke platform streaming Netflix berjudul VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026). Film ini disutradarai oleh seorang perempuan yang dikenal sebagai aktris, sutradara dan penulis naskah asal San Francisco yaitu Leah McKendrick.


Untuk segi cerita, film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026) mencoba menggabungkan premis tentang rasa duka mendalam dengan romansa yang unik, sederhana dan juga lucu. Pada paruh pertama film, plot berhasil menggambarkan dinamika kakak adik perempuan serta proses berduka yang langsung mengguncang emosional penonton. Bonding antara Jill dan adiknya Izzy tampil sangat seru, tidak ada satupun yang mereka rahasiakan dan selalu mengusahakan untuk selalu ada setiap saat. Selain development character kakak beradik ini yang memukau, Leah McKendrick juga turut menyoroti passion serta mimpi karakter Jill yang bekerja di restoran milik Chef Bestien. Penggambaran dunia kerja di restoran yang penuh tekanan, ujaran kebencian dengan dalih untuk memperkuat mental pekerja terasa sangat relatable di dunia nyata, karena tak sedikit lingkungan kerja di dapur tuh emang se-toxic itu. Meskipun berkali-kali diperlakukan tidak adil, untungnya Jill sempat dibuat tetap bertahan berkat support dari adiknya. Journey percintaan yang dialami Jill pun semakin menarik untuk diikuti karena setiap pria yang ia temui punya keunikan masing-masing hahaha. Keputusan Jill yang tidak mudah baper dan bisa mengontrol dengan baik perasaannya saat menghadapi Arthur, Tyler hingga Wes patut diacungi jempol. Justru mereka bertiga yang jatuh cinta duluan pada Jill yang memang memiliki pesona dan daya tarik luar biasa.
Plot percintaan antara Jill dengan Wes menjadi daya tarik selanjutnya dari film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026). Leah McKendrick sukses menghadirkan drama romcom Jill dan Wes yang langsung mengingatkan penonton akan film-film romcom Hollywood di awal tahun 2000-an. Plot berjalan smooth, menggemaskan, ringan dan juga menghibur. Sikap dan keputusan Wes yang tetap melanjutkan aksi stalking via voicemail agar semakin memahami kehidupan Jill dan terus menunda untuk berkata jujur, menurutku masih dalam batas wajar. Keputusan Wes seperti itu pun bisa kita maklumi karena pendalaman karakter nya tipikal pria introvert dan culun hahaha.
Untuk segi visual dan atmosfer, film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026) berhasil menangkap kontras yang menarik antara dua dunia Jill dengan Wes. San Francisco digambarkan dengan palet warna yang hangat namun sibuk, mencerminkan isi kepala Jill yang penuh dengan resep kue dan memori masa lalu bersama Izzy. Sementara Austin, Texas disajikan dengan visual yang lebih lapang, flat dan sunyi, menggambarkan keterasingan emosional yang dirasakan Wes. Aransemen musiknya pun bekerja dengan sangat baik dalam menjembatani transisi emosi penonton, terutama saat voicemail antara Jill dengan Izzy diputar, mengubah momen yang biasa menjadi sangat intim dan mengharukan.
Penampilan Zoey Deutch patut diberi acungan jempol. Karakter Jill mampu mengekspresikan kesedihan secara natural sekaligus menampilkan pesona komedinya yang khas saat karakternya menghadapi karut-marut dunia kerja dan dating dengan beberapa pria di San Francisco. Karakter Wes yang diperankan oleh Nick Robinson bisa dibilang sebagai salah satu elemen yang cukup menonjol selanjutnya dari film ini. Karakter Wes tampil dengan membawa pesona khasnya yang tenang, karismatik dan tulus. Penulisan karakter Wes membawa Nick Robinson menuju di garis tipis antara pria idaman yang sensitif dan seorang stalker sang obsesif yang menurutku masih dalam batas wajar. Ketika Wes mulai menerima pesan suara emosional dari Jill, Nick Robinson berhasil mengekspresikan perubahan karakter Wes dengan sangat meyakinkan. Lewat tatapan mata dan ekspresi wajahnya, penonton bisa merasakan bagaimana Wes pelan-pelan menemukan kembali jiwa dan tujuan hidupnya lewat suara Jill setelah sekian lama ia merasa hampa ketika berpacaran dengan Brittani.
Overall, film VOICEMAILS FOR ISABELLE (2026) berhasil menjadi tontonan healing bagi orang yang sedang berduka dan berada di fase hopeless romantic. Yuk Hollywood perbanyak lagi romcom manis, simple dan lucu seperti ini ketimbang eksplorasi perselingkuhan melulu bosen! Haha!


[9/10Bintang]

0 comments:

Post a Comment