Wednesday, 24 June 2026

[Review] Saat Aku Bersuara: Ketika Penyintas Kekerasan Seksual Bersatu Menegakkan Keadilan!

 


#Description:
Title: Saat Aku Bersuara (2026)
Casts: Marshanda, Cut Mini, Teuku Rifnu Wikana, Hana Malasan, Rini Yulianti, Lukman Sardi, Ibnu Jamil, Nino Fernandez, Lydia Kandou, Unique Priscilla, Georgina Andrea, Omar Daniel, Bara Valentino
Director: Sonu Samtani
Studio: Arjuna Mega Films, Rain Creation, Lex Pictures


#Synopsis:
Kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang perempuan bernama Riana (Hana Malasan) yang menjadi korban oleh teman dekatnya sendiri yaitu Alex (Omar Daniel). Setelah mengalami trauma berat dan kesedihan luar biasa selama beberapa minggu, Riana dengan didampingi ibunya melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.
Saat proses persidangan, kuasa hukum dari pihak Alex yaitu Pak Rudi (Lukman Sardi) dan timnya berusaha agar Alex tidak terjerat hukum karena terdapat bukti dan saksi mata jika Riana dan Alex memang suka sama suka serta dibawah pengaruh minuman beralkohol. Ditambah lagi, hasil pemeriksaan visum dan medis yang dilampirkan Riana tidak valid karena tidak langsung dilakukan setelah kejadian pemerkosaan. Mendengar hal tersebut membuat Riana semakin sakit hati dan sedih karena memang Alex memperkosanya secara paksa ketika akan mengantarkannya pulang ke rumah. Pengadilan pun menyatakan Alex tidak bersalah dan terbebas dari jeratan hukum.
Pihak keluarga Alex yang berasal dari kalangan pejabat mengucapkan terima kasih dan memberikan honor yang tinggi pada Pak Rudi atas perjuangannya menyelamatkan Alex dari pengadilan. Melihat hukum dapat dibeli dengan uang membuat salah satu pengacara yang mendampingi Pak Rudi yaitu Nadia (Marshanda) resah. Sebagai seorang perempuan, ia ikut merasa sedih dengan apa yang dialami oleh Riana. Namun ia pun tak bisa berbuat banyak karena masih bekerja di kantor pengacaranya Pak Rudi.


Ditengah kesibukannya sebagai seorang pengacara muda, Nadia juga sedang mempersiapkan rencana pernikahannya dengan sang kekasih yaitu Reza (Nino Fernandez). Berbagai persiapan sudah berjalan termasuk gaun pengantin yang dirancang khusus oleh sahabatnya Nadia sejak kecil yaitu Andien (Rini Yulianti). Ibu (Cut Mini) dan Ayah (Teuku Rifnu Wikana) nya Nadia ikut berbahagia melihat anak semata wayang mereka akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.
Suatu hari setelah selesai bekerja, Nadia mendapat telepon dari Andien jika gaun pengantin yang sempat mereka fitting sudah jadi. Dalam perjalanan mengantarkan gaun tersebut ke rumah Nadia, ban mobil yang dikendarai Andien tiba-tiba bocor terkena ranjau paku. Andien kemudian menelepon dan mengirimkan share location pada Nadia. Tak lama setelah itu, dua orang preman dengan wajah tertutup menghampiri Andien dan berusaha menyerangnya. Beruntung, Nadia sudah dekat dan langsung menabrak mereka. Andien berhasil masuk ke dalam mobil bersama Nadia. Dalam keadaaan panik, Nadia tidak bisa mengontrol laju mobil hingga menabrak lagi pembatas jalan. Nadia dan Andien langsung keluar dari mobil untuk menyelamatkan diri. Dua preman tadi kembali mengejar. Andien berhasil naik ke atas jembatan lintasan kereta api. Sementara itu, Nadia ke arah lain menuju kolong jembatan yang gelap dan banyak limbah sampah. Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan. Dua preman tadi kini mengejar Nadia saja. Meskipun sudah berkali-kali berhasil menghindari kejaran mereka, energi Nadia semakin terkuras habis hingga akhirnya ia terjatuh dan ditangkap oleh kedua preman tersebut. Selain dipukul dan disiksa hingga mukanya penuh dengan luka, Nadia juga diperkosa hingga tak sadarkan diri. Kejadian tersebut membuat Nadia trauma berat dan menangis histeris. Setelah proses visum ke rumah sakit dengan ditemani Andien, Nadia pulang ke rumah dengan kondisi hancur. Ibu dan Ayah sangat terkejut saat Andien menjelaskan kejadian tragis yang menimpa Nadia. Selain itu, rencana pernikahannya pun dibatalkan karena Reza butuh waktu untuk memproses atas kejadian tragis tersebut.
Hari demi hari terus berlalu. Nadia yang terpuruk dan masih trauma berat memutuskan untuk menata kembali hidupnya. Ia tak ingin terus-terusan tenggelam dalam kejadian mengerikan itu. Nadia menuliskan pengalaman buruknya tersebut melalui blog dan mengajak semua korban kekerasan seksual untuk berani speak-up, serta menegakkan keadilan untuknya. Blog milik Nadia kemudian menjadi viral dan diketahui juga oleh rekan kerjanya di kantor. Pak Rudi menyayangkan keputusan Nadia yang menceritakan pengalaman buruknya jadi korban pemerkosaan di blog, karena mengancam reputasi dan kepercayaan para kliennya yang mayoritas dari kalangan pejabat dan juga pengusaha. Nadia mengambil keputusan untuk resign dari kantor dan tidak mau lagi berurusan dengan Pak Rudi.
Setelah resign, Nadia menyusun rencana untuk melakukan sebuah gerakan menegakkan keadilan bagi para perempuan yang mengalami kekerasan seksual. Meskipun ditentang oleh ayahnya, Nadia tetap melanjutkan misinya ini dan memilih keluar dari rumah. Bersama dengan Andien, mereka menyusun dan mencari informasi tentang kasus-kasus kekerasan seksual dalam beberapa tahun terakhir dengan dibantu juga oleh Adrian (Ibnu Jamil), pengacara yang selama ini dikenal selalu berpihak pada korban kekerasan seksual di pengadilan. Selain itu, Nadia, Andien dan Adrian juga kedatangan Riana yang ingin berkontribusi dalam gerakan tersebut setelah ia diusir oleh ibunya sendiri dari rumah.
Gerakan menegakkan keadilan yang diberi nama "Silence" semakin mendapat banyak perhatian dari banyak orang. Tak sedikit juga dari masyarakat yang ikut bergabung dengan gerakan yang dibangun oleh Nadia ini. Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh gerakan "Silence" pun menjadi headline berita di televisi karena melibatkan ribuan peserta. Ditengah kesibukannya menyuarakan keadilan bagi para penyintas kekerasan seksual, Nadia dan seluruh anggota gerakan "Silence" digemparkan lagi dengan kabar kasus pemerkosaan terhadap seorang DJ dan model yaitu Aura (Georgina Andrea) yang mengalami koma serta banyak luka berat di sekujur tubuhnya. Ibu (Unique Priscilla) dari Aura berjuang mencari keadilan untuk anaknya meskipun harus berhadapan dengan tersangka yaitu Marcel (Bara Valentino Peter) yang orangtuanya berasal dari kalangan pejabat. Berhasilkah Nadia dan gerakan "Silence" nya melindungi dan menegakkan keadilan untuk Aura?


#Review:
Aktris multitalenta Marshanda kembali meramaikan industri perfilman dengan membintangi film terbaru yang berjudul SAAT AKU BERSUARA (2026). Film yang kabarnya sudah selesai syuting sejak 5-6 tahun lalu ini menceritakan tentang perjuangan para penyintas kekerasan seksual dalam mendapatkan keadilan hukum.


Film langsung dibuka dengan disclaimer dan himbauan kepada penonton karena menampilkan adegan kekerasan seksual secara eksplisit didalamnya. Aku kira adegan trigger tersebut cuma satu dan sebentar, tapi ternyata, ada tiga adegan eksplisit dan screen time nya pun panjang. Di satu sisi, keputusan dramatisasi yang dilakukan sang sutradara dan penulis naskah yaitu Tisa TS ini memang cukup penting untuk menggambarkan jika hal tersebut akan menciptakan trauma berat bagi korban. Namun di sisi lainnya, screen time dan penggambarannya yang terlalu detail ini justru membuat penonton jadi tidak nyaman melihatnya. Ditambah lagi, penggambaran narasi berita dan korban-korban lain yang akhirnya berani speak-up melalui video terasa eksploitatif sekali. Belum lagi beberapa dialog, gesture dan blocking yang dihadirkan terlalu sinetron banget sehingga terkesan kurang believable. Terlepas dari hal tersebut, film SAAT AKU BERSUARA (2026) berhasil menciptakan plot soal women support women yang sangat kuat. Penonton bisa melihat secara nyata gerakan "Silence" yang dibangun penuh susah payah oleh karakter Nadia ini perlahan tapi pasti mulai berdampak ke segala sektor.


Journey karakter Nadia sebagai seorang pengacara muda kemudian hancur menjadi korban, lalu mengambil sikap untuk bangkit, tidak mau bungkam dan ingin membantu perempuan-perempuan di luar sana yang bernasib seperti dirinya untuk mendapat keadilan berhasil menguras emosional penonton. Ketulusan dari Nadia sangat nyata dan hal tersebut berhasil dilakukan oleh Marshanda yang memang selama ini dikenal juga sebagai aktivis perempuan di sosial media. Issue yang diangkat film ini menjadi relevan dengannya. Yang tak kalah menarik, film SAAT AKU BERSUARA (2026) juga turut menyentil kritik sosial terhadap budaya patriarki pada pria yang selalu menganggap perempuan itu lemah dan tidak bisa melawan. Keputusan tegas yang diambil karakter Nadia terhadap pacar dan ayahnya membuktikan jika perempuan bisa mengambil keputusan berani untuk dirinya sendiri.
Untuk jajaran pemain, penampilan Marshanda menjadi yang paling all out dari film ini. Jiwa aktivis dan ketegasannya Nadia memang 11-12 seperti Marshanda di kehidupan nyata. Hana Malasan, Georgina Andrea, Rini Yulianti, Cut Mini, Unique Priscilla, Lydia Kandou, Ibnu Jamil hingga Teuku Rifnu Wikana juga tampil tidak mengecewakan. Karakter villain para laki-laki dalam film ini juga emang sengaja banget dibuat antagonis khas sinetron, minim pendalaman karakter dan pure penjahat aja haha.
Overall, film SAAT AKU BERSUARA (2026) memiliki pesan dan semangat yang besar dalam bentuk women support women, meskipun narasi yang disampaikan terlalu "sinetron" untuk ukuran film layar lebar.


[7/10Bintang]

0 comments:

Post a Comment