Thursday, 12 March 2026

[Review] Na Willa: Keseruan Eksplorasi Dunia Lewat Perspektif Anak-Anak Di Era 60an!

 



#Description:
Title: Na Willa (2026)
Casts: Luisa Andreena, Irma Rihi, Junior Liem, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Mbok Tun, Melissa Karim, Ira Wibowo, Agla Artalidia, Putri Ayudya, Fanny Fadillah, Nayla D. Purnama, Sita Nursanti, Fita Anggraini, Calvin Jeremy, Kawai Labiba, Muzakki Ramdhan, M. Adhiyat, Hifdzi Khoir
Director: Ryan Adriandhy
Studio: Visinema Studios


#Synopsis:
Seorang anak perempuan cantik bernama Na Willa (Luisa Andreena) mempunyai cita-cita ingin cepat tinggi seperti kedua orangtua nya yaitu Ma' Marie (Irma Rihi) dan Pa' Paul (Junior Liem). Selain itu, Na Willa juga ingin memiliki rambut keriting dan berkulit gelap seperti ibunya. Sambil bercanda, keinginan Na Willa tersebut terasa mustahil menurut ART di rumah yaitu Mbok Tun (Mbok Tun), karena menurutnya, anak perempuan biasanya menurun kepada ayahnya. Hal tersebut bisa terlihat dari fisik, warna kulit dan juga wajah dari Na Willa yang sangat oriental dan lebih mirip dengan ayahnya. Meskipun sang anak sedih, Ma' Marie selalu meyakinkan Na Willa jika sudah besar nanti pasti akan ada perubahan fisik yang menyesuaikan dengan keinginannya.



Di luar rumah, Na Willa memiliki tiga sahabat yaitu Farida (Freya Mikhayla), Dul (Azamy Syauqi) dan Bud (Arsenio Rafisqy). Mereka berempat tinggal berdekatan di gang kecil yang sama bernama Gang Krembangan. Hampir setiap hari, Farida, Dul dan Bud sering menghabiskan waktu di rumahnya Na Willa. Selain bermain di rumahnya Na Willa, mereka juga sering bermain di luar rumah seperti main layangan, kelereng, petak umpet dan engklek di lapangan dekat rumah. Disaat waktu senggang, Na Willa juga sering diajak ke pasar oleh ibunya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari sambil Na Willa nya dititipkan di toko sembako milik Cik Mien (Melissa Karim). Karena sifat Na Willa yang riang serta polos, Ciek Mien selalu memberikan minuman botol Orange Cruz secara gratis, meskipun sudah berulang kali dilarang oleh Ma' Marie karena takut menjadi kebiasaan.
Seiring berjalannya waktu, libur sekolah telah usai. Bud yang sudah masuk sekolah TK duluan jadi jarang bermain ketika sedang sekolah. Selain itu, Farida dan Dul juga tahun ini akan masuk sekolah sama seperti Bud. Otomatis, Na Willa kini sendirian selama ketiga temannya sedang belajar di sekolah. Melihat anaknya yang kesepian, Ma' Marie pun memutuskan untuk memberikan pendidikan belajar membaca dan menulis kepada Na Willa di rumah. Selain itu, Na Willa juga sering dibacakan buku-buku dan surat dari kiriman dari Pa' Paul yang sedang berlayar di lautan.


Suatu hari saat akhir pekan, Bud punya cita-cita ingin melihat kereta api melintas yang tak jauh dari Gang Krembangan. Namun akses gang menuju rel kereta selalu ditutup dan anak-anak dilarang melintas ke arah sana. Bud kemudian mencari jalan alternatif dan akhirnya berhasil menemukannya. Setelah yakin jalan tersebut aman, Bud ingin mengajak Na Willa, Farida dan Dul untuk menemaninya. Namun keesokan harinya, rencana Bud itu ketahuan oleh Ma' Marie dan langsung melarang Na Willa keluar rumah dengan alasan kiriman buku dan surat dari ayahnya akan datang. Tak lama setelah itu, terjadi insiden di rel kereta yang menyebabkan salah satu kaki Bud mengalami luka parah yang membuat warga di Gang Krembangan terkejut. Sejak kejadian tersebut para orangtua dari Na Willa, Farida dan Dul semakin protektif terhadap mereka.


Waktu terus berlalu. Na Willa merasa kesepian semenjak Bud dirawat di rumah sakit dan Farida, Dul sibuk sekolah. Ma' Marie masih belum merelakan jika anak semata wayangnya itu pergi ke sekolah. Keputusan belajar mandiri di rumah tersebut perlahan mulai menghambat interaksi sosial Na Willa dengan orang lain dan juga dunia. Setelah mendapat dukungan dari Pa' Paul, akhirnya Na Willa didaftarkan ke sekolah yang sama dengan Farida, Dul dan Bud. Mengetahui esok hari akan sekolah, membuat Na Willa sangat senang. Ia bahkan bangun lebih pagi karena sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Farida dan Dul di lingkungan yang baru.


Tiba di sekolah, rupanya Na Willa tidak satu kelas dengan Farida dan juga Dul. Na Willa masuk ke kelas berbeda bersama dengan Ibu Tini (Putri Ayudya), wali kelasnya. Di hari pertama sekolah, Na Willa hanya diizinkan untuk melihat siswa lain belajar saja oleh Ibu Tini. Karena merasa bosan, Na Willa kemudian berjalan ke depan kelas dan mengatakan jika ia sudah bisa membaca dan menulis. Ibu Tini ragu dengan ucapan Na Willa dan menyuruhnya untuk kembali ke kursi. Na Willa pun kesal, karena kemampuan membaca dan menulisnya diragukan oleh Ibu Tini dan siswa lain. Hingga terjadilah insiden yang menyebabkan Na Willa pergi dari kelas dan pulang ke rumah sambil menangis. Bagaimana reaksi Ma' Marie ketika melihat anaknya menangis sambil berkata jika ia tidak ingin lagi sekolah?


#Review:
Rumah produksi Visinema Studios siap meramaikan kembali libur Lebaran Idul Fitri tahun ini dengan merilis film untuk anak-anak berjudul NA WILLA (2026). Menariknya, Visinema bukan lagi menghadirkan film animasi seperti tahun lalu, melainkan sebuah film panjang yang diadaptasi dari novel best seller karya Reda Gaudiamo, dengan sutradara dan penulis cerita kembali dipegang oleh Ryan Adriandhy.


Aku berkesempatan hadir pada Press Screening dan Premiere film NA WILLA (2026) yang sukses digelar pada Selasa (10/3) kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada sesi wawancara, Ryan Adriandhy selaku sutradara memberikan penjelasan tentang cerita film ini berdasarkan perspektif dan dunia dari seorang anak perempuan di tahun 60an bernama Na Willa. Bersama dengan Visinema dan tentunya Ibu Reda, film ini bukan sekedar hanya bercerita saja, namun ingin mengajak penonton semua umur untuk membuka kembali kenangan-kenangan bahagia tanpa beban saat kita berusia anak-anak. Lebih lanjut, CEO dan para produser dari Visinema Studios yaitu Herry B. Salim, teteh Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari menambahkan, film keluarga bagi Visinema selalu dipandang lebih dari sekadar hiburan. Ia mengatakan Na Willa dirancang sebagai ruang emosional yang mempertemukan anak, orang tua, dan sisi anak-anak yang masih hidup dalam diri orang dewasa. Lebih lanjut, Intellectual Property Na Willa memiliki potensi menjadi IP lokal yang kuat, besar dan berkelanjutan. Maka tak heran, Visinema Studios optimis jika film NA WILLA (2026) dapat diterima secara positif oleh penonton dan sudah dipastikan jika cerita dunia Na Willa akan berlanjut di film-film selanjutnya.



Untuk segi cerita, film NA WILLA (2026) ini hampir sepenuhnya mengambil sudut pandang dari bocil perempuan dan teman-temannya yang tinggal di Gang Krembangan. Alhasil, sejak film dimulai saja, penonton sudah disuguhkan dengan berbagai pertanyaan "asbun" dan kepolosan khas anak-anak yang penuh rasa penasaran. Di paruh awal film ini, Ryan Adriandhy sangat detail dalam mengeksplor keseharian karakter Na Willa dengan orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Di rumah, kelucuan sering terjadi ketika ia tektokan dengan ibunya dan juga Mbok Tun. Saat berada di luar rumah, menghadirkan keseharian bocil. Meskipun plotnya terlihat ringan karena untuk anak-anak, namun siapa sangka, film NA WILLA (2026) juga turut mengangkat berbagai macam issue yang masih sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Contoh yang paling mencolok yaitu sikap over protective orang tua terhadap anak, meskipun awalnya dianggap lebay, tapi keputusan Ma' Marie bersikap seperti itu tuh ada alasan kuat perihal issue yang nanti terungkap di babak akhir film. Kemudian film ini juga turut menyoroti kehidupan dan definisi keluarga besar lewat keluarga Farida yang cukup disayangkan tidak dieksplor oleh Ryan. Terakhir, ditutup dengan cerita tentang usaha mendapatkan sekolah yang aman dan nyaman untuk Na Willa. Konflik yang dihadirkan film ini juga eksekusinya dibuat seceria mungkin. Chemistry dan happiness Na Willa saat bermain dengan Farida, Dul dan Bud juga terasa menembus ke luar layar. Persahabatan mereka nyata, hangat, lucu sekaligus believable seperti bocil-bocil pada umumnya. Tragedi yang sempat "memisahkan" mereka berempat juga yang seharusnya penuh duka, Ryan Adriandhy justru menyajikannya lebih fun lewat lagu ikonik "Sikilku Iso Muni".


Untuk jajaran pemain, Visinema Studios memang semakin handal dan presisi dalam urusan casting. Karakter Na Willa bagaikan hadir dan terlahir hanya untuk Luisa Andreena. Semangat membaranya dalam mengeksplorasi banyak hal sangat terpancar kuat. Bonding dan tektokannya dengan Irma Rihi juga selalu lucu karena memiliki perbedaan sifat yang mencolok. Kehadiran tiga aktor cilik lainnya juga semakin menambah semangat dan antusias keseluruhan cerita dalam film ini. Apresiasi juga harus diberikan pada aktor-aktor dewasanya yaitu Irma Rihi, Junior Liem, Mbok Tun, Ira Wibowo, Melissa Kariem, Putri Ayudya hingga Agla Artalidia yang ikut terbawa energi mereka seperti geng Na Willa.
Untuk urusan visual, film NA WILLA (2026) sudah dipastikan jadi salah satu karya produksi dengan visual paling memuaskan yang pernah dibuat oleh Visinema. Sepanjang durasi disuguhkan gambar yang tajam, terang, visual penuh warna, imaginatif dan magis, kemudian diperkaya juga dengan treatment semi musikal dan teatrikal di beberapa bagian. Sungguh menggemaskan!
Overall, film NA WILLA (2026) bisa dibilang berhasil memberikan bencmark yang semakin tinggi untuk film bertema anak-anak di industri perfilman Indonesia. Slice of life seorang anak di Surabaya era 60an yang lucu, menghibur sekaligus nostalgic akan masa-masa bocil yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman di luaran sana. Highly recommended untuk ditonton di bioskop mulai 18 Maret 2026!


[9/10Bintang]

0 comments:

Post a Comment