Friday, 6 February 2026

[Review] If I Had Legs I'd Kick You: Drama Psikologis Dari Seorang Ibu Dalam Menghadapi Kekacauan Hidupnya!



#Description:
Title: If I Had Legs I'd Kick You (2025)
Casts: Rose Byrne, Conan O'Brien, Delaney Quinn, ASAP Rocky, Danielle Macdonald, Christian Slater, Ivy Wok, Mary Bronstein, Lark White, Ronald Bronstein
Director: Mary Bronstein
Studio: A24, Central Pictures, Fat City Productions


#Synopsis:
Dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, Linda (Rose Bryne) terasa semakin kacau dan berantakan. Sang suami, Charles (Christian Slater) bekerja sebagai nahkoda kapal yang sudah lama berlayar dan belum pulang ke rumah. Linda tinggal bersama anak perempuannya, Sarah (Delaney Quinn) yang mengidap gangguan makan pediatrik, sebuah kondisi pemberian makan tambahan setiap malam melalui selang makan. Setiap harinya, Linda harus mempersiapkan semua kebutuhan dan mengantar jemput sang anak ke sekolah, mengikuti program rumah sakit untuk memantau perkembangan sang anak dan bekerja sebagai psikoterapis yang bertemu dengan beberapa pasien tetapnya.
Ketika melakukan rutinitasnya itu, tak jarang Linda sering menghadapi berbagai macam drama seperti perselisihan dengan petugas parkir di sekolah sang anak yang berulang-ulang, Sarah yang cerewet sepanjang perjalanan berangkat dan pulang kerja, kemudian sering ditegur oleh dokternya sang anak karena Linda sering absen untuk sesi pertemuan. Untuk meluapkan semua kekesalan dan amarahnya, Linda rutin berkonsultasi juga pada terapisnya, Thomas (Conan O'Brien).
Suatu hari, saat Linda selesai menjemput Sarah dari sekolah dan tiba di apartemen, keduanya adanya genangan air di toilet dan menyebabkan bocor ke kamar Linda yang tepat di bawahnya. Tak lama setelah itu, lantai toilet ambruk dan menciptakan lubang besar membasahi seluruh ruangan yang ada di bawahnya. Selama proses perbaikan, Linda dan Sarah menyewa motel murah yang tak jauh dari apartemen mereka. Masalah baru muncul. Linda tidak bisa tidur nyenyak karena suara bising dari alat dan pompa makanan yang digunakan sang anak setiap malam. Ia pun menghabiskan malam harinya dengan meminum alkohol, membeli rokok dan makanan cepat saji sambil sesekali mengecek kondisi terkini apartemennya apakah sudah selesai diperbaiki atau belum.
Di sisi lain, Linda juga harus menghadapi berbagai keluh kesah dari pasien terapisnya ketika sedang bekerja. Salah satu pasiennya yaitu Caroline (Danielle Macdonald) yang mengalami paranoia dan baby blues setelah melahirkan anak pertamanya. Setelah selesai sesi terapi, Linda harus menghadapi pertengkaran dengan sang suami melalui telepon. Linda yang selama ini ditinggalkan sendirian merasa kesal melihat suaminya sibuk berlayar sambil menyempatkan waktu untuk menonton pertandingan olahraga. Hal tersebut membuat Charles juga ikutan terpancing emosi dan menganggap pekerjaan Linda jauh lebih santai karena hanya duduk saja mendengarkan keluh kesah orang lain.
Hari demi hari terus berlalu. Linda yang tak bisa tidur nyenyak, semakin sering meminum alkohol dari mini market yang ada di motel. Di sana, ia bertemu dengan penjaga motel yaitu James (ASAP Rocky) yang telah membantunya membeli alkohol. Selain itu, James juga memberikan dukungan moral dan emosional pada Linda dan juga anaknya untuk tetap bertahan hidup. James pun tak segan untuk membantu Linda membeli berbagai macam obat tanpa resep dokter melalui dark web agar dirinya bisa tenang dalam menghadapi berbagai kekacauan dalam hidup. Sejak mengkonsumsi beberapa obat penenang, kondisi emosional Linda perlahan mulai stabil. Namun di sisi lain, ia semakin sering mengalami halusinasi dan kembali meledak-ledak jika posisinya sedang terpojok.
Hingga suatu malam, Linda melihat Caroline mendatangi motelnya dalam kondisi mental yang semakin kritis. Caroline meminta pertolongan lagi pada Linda dan ia tidak mau kembali ke rumah sakit lagi. Disaat Linda berusaha menenangkan Caroline dan membujuknya untuk ke rumah sakit, Caroline sangat kecewa lalu menampar Linda dan pergi berlari ke pinggir pantai. Saat Linda mengejarnya, ia kehilangan jejak dalam gelap. Setelah melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian, Linda langsung berlari kembali ke motel.
Tiba di kamar, Linda disambut oleh suara mesin selang makan anaknya yang error. Saat ia berusaha memperbaikinya, Linda terkejut melihat lubang bekas bedah di perut sang anak untuk memasukkan selang makan sudah tertutup. Ia kemudian menarik selang makan yang selama ini tersambung di perut sang anak dan bernafas lega karena Sarah kini bisa hidup dengan normal. Setelah itu, Linda kemudian pergi menuju apartemennya. Di sana, ia terkejut melihat Charles yang sudah ada di kamar dan sudah memperbaiki kerusakan lantai yang berlubang besar itu dengan bantuan tukang renovasi. Setelah selesai, mereka berdua kemudian pergi menuju motel. Setibanya di sana, James ternyata sedang menjaga Sarah yang dari tadi menangis histeris setelah Linda pergi begitu saja dari motel. Charles semakin terkejut dengan melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.


#Review:
Sejak rilis di Amerika Serikat pada Oktober tahun lalu dan sukses meraih penghargaan bergengsi di Berlin International Film Festival dan Golden Globes 2026, film IF I HAD LEGS I'D KICK YOU (2025) akhirnya sempat tayang terbatas di bioskop Indonesia pada perhelatan JAFF Jogja yang ke-20 pada Desember kemarin dan di bioskop Jakarta dengan dibawa langsung oleh KlikFilm.


Untuk segi cerita, film IF I HAD LEGS (2025) ini mengeskplorasi batas kemampuan manusia dalam menghadapi krisis kehidupan yang bertubi-tubi. Point paling menonjol dari plot yang disajikan yaitu penggambaran burnout level maksimal yang dialami oleh karakter Linda. Sosoknya yang berprofesi sebagai psikoterapis dan penyembuh bagi orang lain, namun di sisi lain ia perlahan hancur berantakan dibawah tekanan perannya sendiri sebagai seorang perempuan, istri dan juga ibu. Sutradara Mary Bronstein berhasil mengekspos secara gamblang bagaimana perjuangan seorang ibu dalam menjalani hidup dengan segala problematika yang dihadapinya. Sekuat-kuatnya manusia, pasti akan mencapai pada titik batas kesabaran yang pada akhirnya dapat menghancurkan dirinya sendiri dan apapun yang ada disekitarnya. Sepanjang durasi film, aku ikut terbawa stress dan frustasi melihat karakter Linda dalam menghadapi semua kekacauan di hidupnya tersebut. Suasana depresif semakin menyeruak berkat pergerakan kamera dan teknik pengambilan gambar yang cukup ekstrim dalam menyoroti setiap gesture dan ekspresi muka dari karakter Linda. Rasa capek, lelah, pusing dan ingin berteriak sekencang-kencangnya benar-benar tersampaikan dengan sempurna ke penonton. Keputusan yang diambil di ending cerita pun semakin menambah kejutan tak terduga dan bisa saja terjadi seperti itu. Bikin ngilu sekaligus merenung.
Untuk jajaran pemain, sudah jelas bintang utama film IF I HAD LEGS (2025) adalah Rose Byrne. Karakter Linda yang super duper melelahkan dalam menghadapi hidup ditampilkan luar biasa olehnya. Range emosionalnya sudah sangat mentok sebagai seorang manusia, perempuan, istri dan juga ibu yang terus-terusan dihujani permasalahan. Pendalaman karakternya pun tidak sepenuhnya dibuat hitam putih. Sang sutradara memposisikan karakter Linda di zona abu-abu, sehingga keputusan dan sikap yang ditampilkan bisa dimaklumi namun di sisi lain sepertinya tak bisa ditolelir lagi. Tak heran jika Rose Byrne berhasil meraih Best Actress di Golden Globes 2026. Semoga Oscars di bulan Maret ini menang lagi! She's totally deserved it! Overall, film IF I HAD LEGS I'D KICK YOU (2025) berhasil mengemas issue burnout seorang perempuan yang berada di level paling maksimum. So depresive!


[8.5/10Bintang]

0 comments:

Post a Comment