Wednesday, 25 March 2026

[Review] The History of Sound: Kisah Cinta Dua Mahasiswa Yang Sangat Mencintai Folk Music!



#Description:
Title: The History of Sound (2025)
Casts: Paul Mescal, Josh O'Connor, Molly Price, Chris Cooper, Raphael Sbarge, Hadley Robinson, Emma Canning, Emily Bergl, Brianna Middleton, Gary Raymond, Alison Bartlett
Director: Oliver Hermanus
Studio: Closer Media, Film4, Tango Entertainment, Fat City, Mubi, Universal Pictures


#Synopsis:
Saat sedang menghabiskan malam bersama teman-teman kampusnya di sebuah bar, Lionel Worthing (Paul Mescal) tak sengaja mendengar lantunan suara piano serta nyanyian folk music dari seorang pria di ruangan sebelah. Lionel kemudian menghampirinya. Pria tersebut bernama David White (Josh O'Connor) yang ternyata mahasiswa di kampus yang sama dengan Lionel yaitu di New England Conservatory of Music (NEC). Setelah mengetahui punya selera musik yang sama, mereka berduet menyanyikan lagu folk music dan disambut meriah oleh para pengunjung bar lain sambil bernyanyi bersama-sama. Setelah selesai dari bar, David meminta Lionel untuk menemaninya pulang ke rumah dengan alasan mabuk. Tiba di rumah, mereka berdua langsung melakukan hubungan yang lebih intim lagi. Sejak saat itu, hubungan mereka berdua semakin dekat. Lionel sering menghabiskan waktu bersama di rumahnya David sambil bertukar ide untuk menulis lagu-lagu bertema folk musik.
Seiring berjalannya waktu, Perang Dunia I terjadi. Kampus NEC ditutup. David direkrut menjadi tentara bersama beberapa mahasiswa lain. Sementara itu, Lionel pulang ke rumahnya di Kentucky dan memutuskan berhenti kuliah serta meninggalkan dunia musik untuk menemani sang ibu (Molly Price) sambil mengurus lahan pertanian milik keluarga setelah ayahnya meninggal.
Dua tahun berlalu. Lionel mendapat kiriman surat dari David yang mengabari jika ia akan segera pulang dari Eropa dan kini ia bekerja di sebuah perguruan tinggi di daerah Maine. Selain itu, David juga berencana akan melakukan perjalanan ke berbagai wilayah mengumpulkan folk music dari warga menggunakan Wax Cylinders dan meminta Lionel untuk membantunya. Sebelum pergi menemui David, Lionel sudah mempersiapkan berbagai kebutuhan pokok di rumah untuk sang ibu dan juga kakeknya. David dan Lionel akhirnya bertemu lagi setelah bertahun-tahun berpisah. Mereka kembali menjalin cinta ditengah perjalanan merekam lagu-lagu folk music dari berbagai kalangan ke berbagai daerah. Selama perjalanan tersebut, David tak ingin menceritakan pengalamannya sebagai tentara pada Lionel dengan alasan membosankan. David pun bertanya apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh Lionel setelah semua ini selesai. Lionel berharap bisa tetap bersama dengan David dan tinggal di Maine. Namun David menyarankan Lionel untuk mengeksplorasi dunia dan musik lebih luas lagi daripada harus bekerja dengannya. Setelah menyelesaikan project folk music, mereka berpisah lagi. David kembali pulang ke Maine untuk bekerja. Sementara itu, Lionel pergi mengejar mimpinya ke Eropa.
Empat tahun berlalu, Selama tinggal di Roma, Lionel selalu mengirimkan surat pada David. Namun pada akhirnya ia memutuskan berhenti mengirimkan surat karena tidak pernah mendapat respon dari David. Di Roma Lionel sempat menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Vincent (Alessandro Bedetti), namun hubungan tersebut berakhir tidak baik karena perbedaan selera musik serta mengambil pekerjaan di Universitas Oxford. Setahun bekerja sebagai konduktor paduan suara di kampus, Lionel menjalin hubungan dengan muridnya yaitu Clarissa Roux (Emma Canning). Selama mereka berpacaran, Lionel sering diajak mengunjungi keluarga Clarissa yang ternyata keluarga konglomerat dan tinggal di pedesaan terpencil di Roma. Namun sayang, hubungan kali ini kembali berakhir karena Lionel masih belum bisa melupakan David serta harus segera pulang ke Amerika Serikat setelah mendapat kabar ibunya sakit parah.
Setelah ibunya meninggal, Lionel memutuskan pergi ke Maine untuk mencari David. Tiba di salah satu kampus musik, David mendapat kabar mengejutkan. David sudah meninggal beberapa tahun lalu dan semua perjalanan merekam folk music ke berbagai daerah yang David lakukan bersama Lionel bukanlah tugas dari kampus, melainkan ide pribadi dari David. Wax Cylinders yang dikumpulkan pun kini tidak tahu keberadaannya dimana. David kemudian mendatangi rumah David dan bertemu dengan istrinya yaitu Belle Sinclair (Hadley Robinson) yang sudah menikah lagi. Belle kemudian menceritakan jika ia sudah mengetahui siapa Lionel sebenarnya dan memiliki hubungan dengan David. Belle juga mengatakan jika David meninggal bukan bunuh diri, melainkan karena menderita trauma akut pasca perang yang tidak pernah diceritakan pada Lionel. Setelah mengetahui fakta pedih tersebut, Lionel mengunjungi tempat-tempat favorit David semasa muda dan menumbuhkan lagi semangat untuk menulis lirik lagu.
Seiring berjalannya waktu, Lionel Worthing dikenal sebagai seorang etnomusikolog dan juga penulis buku. Hingga suatu ketika, ia mendapat kiriman paket yang berisikan tabung-tabung Wax Cylinders termasuk rekaman suara dari David yang dibuat di hari kematiannya. Dalam rekaman tersebut, David meminta maaf dan berterima kasih pada Lionel atas waktu yang mereka lalui bersama sambil menyanyikan lagu "Silver Dagger", lagu yang Lionel nyanyikan untuk David saat pertama kali mereka bertemu.


#Review:
Sutradara keturunan Afrika Selatan yaitu Oliver Hermanus menghadirkan film bertema LGBT yaitu THE HISTORY OF SOUND (2026) yang diadaptasi dari cerita pendek berjudul sama karya Ben Shattuck. Menariknya, film ini tayang perdana di Cannes 2025 pada bulan Mei tahun lalu dan berhasik masuk nominasi untuk kategori Queer Palm dan Palm d'Or. Selain itu, film ini juga punya dua nama besar aktor yang sedang naik daun di Hollywood yaitu Paul Mescal dan Josh O'Connor.


Untuk segi cerita, film THE HISTORY OF SOUND (2026) menyajikan kisah cinta antara Lionel dengan David secara melankolis, indah dan juga puitis. Hal tersebut didukung dengan latar cerita film menggunakan waktu era Perang Dunia 1 hingga tahun 1980an, sehingga setiap dialog baku dan nyanyian folk music yang dilantunkan terasa magis bagi penonton. Harus diakui, tempo dari plot film ini terasa cukup lambat dan terasa membosankan karena minimnya konflik. Setiap perpisahan yang terjadi diantara karakter Lionel dan David pun terjadi secara mengalir, tanpa adanya adegan menguras emosional penonton. Namun jika berkaca pada latar cerita yang disajikan film ini, keputusan hubungan mereka berdua dibuat discreet pun bisa kita maklumi, karena yaa di jaman itu LGBT masih dianggap tabu di sana. Alur cerita perjalanan asmara karakter Lionel dan David yang membentang dari tahun 1917 hingga 1980 memberikan perspektif yang luas tentang arti dari kehilangan, penyesalan, dan bagaimana cinta yang tak terselesaikan dapat menghantui seseorang seumur hidup. Hal tersebut berhasil tersampaikan dengan sangat baik kepada penonton lewat kedua karakter utama dalam film ini.
Untuk jajaran pemain, big applause tentunya harus penonton berikan pada duet Paul Mescal dan Josh O'Connor. Pesona mereka berdua sangat memikat satu sama lain. Paul Mescal kembali menunjukkan kelasnya dalam memerankan karakter yang memendam kesedihan mendalam tanpa harus berlebihan dalam mengungkapkannya. Josh O'Connor memberikan penampilan yang sangat rapuh. Ia berhasil menggambarkan dualitas seorang pria yang jatuh cinta namun perlahan terkikis oleh trauma pasca-perang yang tak terlihat. Selain mereka berdua, elemen musik dan lagu yang hadir di film ini juga surprisingly menambah kekuatan untuk plot dan juga para karakter. Lagu-lagu folk music seperti "The Unquiet Grave" dan "Silver Dagger" tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi sebagai jembatan komunikasi antara Lionel dan David dalam mengungkapkan isi hati mereka masing-masing. Sangat manis, indah dan berakhir dengan bittersweet!


[8/10Bintang]

0 comments:

Post a Comment