[Review] Primetime: Drama Psikologis Di Balik Acara Televisi Memburu Predator Seksual!

 


#Description:
Title: Primetime (2026)
Casts: Robert Pattinson, Merritt Wever, Skyler Gisondo, Matthew Maher, Phoebe Bridges, Bokeem Woodbine, Michael Chachere, Alex Winter, Tony Revolori, Bob Ari, Jonathan Lipnicki, Matt Smith, David Fierro, Caveh Zahedi, Jason Woliner, Eugene Kotlyarenko, Anna Faris
Director: Lance Oppenheim
Studio: A24, Icki Eneo Arlo Range, Square Peg


#Synopsis:
Program reality show kriminal To Catch a Predator yang ditayangkan di saluran NBC sukses mencuri perhatian penonton televisi Amerika Serikat sejak penayangan perdananya. Acara yang dipandu oleh jurnalis Chris Hansen (Robert Pattinson) ini menjadi pionir di industri pertelevisian karena berani mengungkap kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak dan remaja di internet.
Aksi penjebakan dilakukan secara rapi dan terorganisir. Selain memasang Chris sebagai pembawa acara, tim produksi juga menyiapkan talent umpan bernama Del Harvey (Phoebe Bridgers) yang berpura-pura menjadi anak di bawah umur di ruang obrolan (chat) internet. Setelah menjalin komunikasi intens, target diundang ke sebuah rumah yang telah dipasangi kamera pengintai. Begitu pelaku masuk, Chris akan langsung menginterogasinya. Program ini juga bekerja sama dengan organisasi Perverted-Justice dan pihak kepolisian untuk langsung menangkap para pelaku di lokasi.
Kesuksesan mereka menangkap pelaku dengan nama akun MarriedAndLookingForFun13 (Tony Revolori), yang ternyata seorang pensiunan tentara membuat rating acara ini melonjak tajam. Melihat potensi tersebut, Kepala NBC, Jeff Zucker (Jeff Zucker), memindahkan To Catch a Predator ke jam tayang utama (primetime) untuk bersaing langsung dengan serial populer milik ABC, Lost. Kabar ini disambut antusias oleh Chris dan sang produser, Andie Bender (Merritt Wever), yang segera menyusun strategi untuk menghadirkan episode primetime yang jauh lebih besar dan menggemparkan.
Seiring berjalannya waktu, tim produksi merekrut talent umpan baru bernama Daniel Plum (Skyler Gisondo), seorang aktor figuran yang tengah berjuang mengumpulkan kredit akting demi menjadi anggota Screen Actors Guild (SAG) di Hollywood. Awalnya, Daniel sempat ragu karena keterbatasan pengalaman aktingnya saat diminta memerankan karakter anak laki-laki. Namun, demi bayaran dan kredit peran, ia pun menerima tawaran tersebut. Pada hari syuting pertamanya, Daniel berhasil memancing seorang target datang ke rumah jebakan setelah beberapa hari melakukan obrolan sensual. Namun, saat berada di dapur, pelaku tersebut tiba-tiba membuka celana dan memperlihatkan area vitalnya. Kejadian itu membuat Daniel terkejut sekaligus tidak nyaman karena ia nyaris mengalami pelecehan seksual. Beruntung, Chris segera muncul untuk menginterogasi pelaku, yang kemudian langsung diringkus oleh pihak kepolisian. Kehadiran Daniel memberikan warna baru karena sebelumnya tim hanya menggunakan umpan perempuan. Rating acara pun terus bertahan di angka tinggi, yang memicu tekanan bagi Andie dan Chris untuk selalu menyajikan kasus yang lebih sensasional. Bersama pendiri Perverted-Justice, Xavier Von Erck (Matthew Maher), mereka berburu target baru yang mampu mengguncang publik.
Di sisi lain, popularitas Chris mulai diterpa skandal. Perselingkuhannya dengan seorang wanita muda tertangkap kamera paparazzi, dan pihak majalah mengancam akan menyebarkannya ke media serta keluarganya. Meski Chris segera mengakhiri hubungan terlarang itu, tekanan pekerjaan dan ancaman terbongkarnya skandal tersebut membuatnya terobsesi menjadikan acaranya nomor satu di Amerika. Ambisi berlebihan ini perlahan mengacaukan konsentrasi Chris dan membuat Andie cemas akan masa depan program mereka. Di saat bersamaan, Daniel juga mulai dilanda krisis. Ia merasa perannya sebagai umpan anak-anak dan remaja tidak akan memajukan karier aktingnya di Hollywood.
Situasi memanas ketika Xavier menerima surel anonim dari wilayah Murphy, Texas. Saat melacak area tersebut, organisasi Perverted-Justice menemukan jejak seorang predator yang sangat rapi dan teliti dalam menyembunyikan identitasnya. Xavier mendapat informasi bahwa pelaku ini akan menghadiri acara penghormatan terakhir bagi seorang Senator Texas, sehingga ia menduga jika target kali ini adalah seorang pejabat pemerintah. Mendengar hal itu, Chris dan Andie langsung membatalkan jadwal syuting di New Jersey dan memboyong seluruh tim ke Texas.
Xavier dan Daniel pun menjalin komunikasi intens dengan si target. Meski Daniel sudah berusaha keras merayu, pelaku tersebut terus menolak untuk bertemu secara langsung. Namun, tak lama kemudian, pelaku itu justru memberikan nomor telepon pribadinya kepada Daniel agar bisa berkomunikasi di luar internet. Tim produksi segera melacak nomor tersebut dan menemukan fakta mengejutkan. Sang predator adalah seorang pejabat penting di wilayah Rockwall County. Berhasilkah tim To Catch a Predator menjebak dan menangkap pelaku kelas kakap ini?


#Review:
Rumah produksi A24 semakin produktif menghadirkan film-film di layar lebar. Film PRIMETIME (2026) menjadi film ke-14 dari 18 film yang dipersiapkan oleh A24 untuk tayang di bioskop di tahun ini. Saat tayang perdana di Venice International Film Festival yang ke-83 dan kemudian tayang serentak di bioskop Amerika Serikat, film karya Lance Oppenheim ini sukses mendapat respon positif dari para penonton. Skor dari Rotten Tomatoes pun mendapat certified fresh di angka 86%.


Untuk segi cerita, film PRIMETIME (2026) membawa penonton menyelami sisi kelam di balik salah satu fenomena televisi paling kontroversial pada pertengahan tahun 2000-an yaitu To Catch a Predator. Mengambil latar tahun 2006, film psychological thriller ini tidak sekadar menyajikan ulang aksi penjebakan para predator anak, melainkan mengulik sifat obsesi, moralitas yang abu-abu, serta harga mahal yang harus dibayar demi mengejar rating tinggi. Dengan sentuhan produksi khas A24, film ini terasa mencekam, bikin sesak dan jauh dari kesan tontonan kriminal prosedural biasa.
Salah satu kelebihan paling menonjol dari plot film PRIMETIME (2026) terletak pada transformasi dan kedalaman akting para pemainnya, terutama Robert Pattinson sebagai Chris Hansen. Pattinson berhasil menghidupkan sosok jurnalis ikonik tersebut bukan sebagai pahlawan sempurna, melainkan manusia rapuh yang perlahan ditelan oleh egonya sendiri. Di sisi lain, Skyler Gisondo tampil sangat empatik sebagai Daniel Plum, aktor umpan yang terjebak di antara ambisi meraih kartu keanggotaan SAG dan trauma psikologis akibat pekerjaan yang ia jalani. Interaksi keduanya, ditambah akting solid Merritt Wever sebagai produser Andie Bender, menciptakan dinamika karakter yang sangat hidup dan penuh ketegangan emosional. Sutradara Lance Oppenheim berhasil memadukan gaya visual era tahun 2000-an dengan elemen horor psikologis disepanjang film. Visual dengan format digital dan raw, penggunaan pencahayaan yang suram, sudut kamera di dalam rumah jebakan, serta desain suara yang menekan berhasil membuat penonton ikut merasakan paranoia dan ketidaknyamanan dari para karakternya. Penonton serasa kembali ke masa lalu berkat format visual dan aspect ratio yang disajikan benar-benar seperti film era tahun 2000-an!
Namun sayang, pendekatan artistik dan psikologis tersebut justru menjadi salah satu kekurangan film bagi sebagian penonton. Alur cerita di paruh pertama bergerak cukup lambat karena terlalu berfokus pada pembangunan karakter dan krisis rumah tangga dari Chris. Penonton yang mengharapkan ketegangan aksi penangkapan yang intens sejak awal mungkin akan merasa bosan sebelum konflik utama di Murphy, Texas benar-benar dimulai. Bagi penonton yang menyukai narasi biopik atau drama investigasi yang grounded, pergeseran plot di babak ketiga menuju ranah horor psikologis yang simbolis ini cukup membingungkan dan mengurangi bobot tragedi nyata yang melatarbelakangi peristiwa Bill Conradt di Rockwall County. Kok tiba-tiba banget jadi ada horror-nya. Selain itu, porsi pengembangan beberapa karakter pendukung terasa kurang maksimal. Karakter seperti Del Harvey dan Xavier Von sebetulnya memiliki potensi besar untuk dieksplorasi lebih dalam terutama mengenai motivasi dan etika kelompok main hakim sendiri di internet, namun peran mereka cenderung hanya berfungsi sebagai penggerak plot bagi konflik utama Chris dan Daniel.
Overall, film PRIMETIME (2026) adalah sebuah karya sinema yang berani, provokatif dan memicu diskusi panjang mengenai etika media serta budaya sensasionalisme televisi yang bisa saja relevan dengan dunia hiburan saat ini. Meski memiliki sedikit kelemahan pada tempo penceritaan dan pergeseran narasi yang eksperimental, kekuatan akting jajaran pemainnya serta keberanian film ini dalam menguliti sisi lain dari "hiburan berbasis keadilan" menjadikannya salah satu film thriller psikologis yang paling bagus di tahun ini!


[8.5/10Bintang]