Friday, 24 April 2026

[Review] Para Perasuk: Ketika Kesurupan Massal Jadi Budaya Dan Hiburan Di Desa Latas!



#Description:
Title: Para Perasuk - Levitating (2026)
Casts: Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Ganindra Bimo, Indra Birowo, Ivonne Dahler, Ninda Fillasputri, Buyung Ispramadi, Untung Basuki
Director: Wregas Bhanuteja
Studio: Rekata Studio, KG Media, Anami Films, Masih Belajar Pictures


#Synopsis:
Desa Latas yang berlokasi kurang lebih 2-3 jam perjalanan dari Jakarta mempunyai tradisi tak lazim yang diberi nama Sambetan. Tradisi tersebut mengumpulkan Para Pelamun atau orang-orang yang bersedia untuk dirasuki oleh roh spiritual dengan diiringi musik serta mantra yang dimainkan oleh Guru Asri (Anggun C. Sasmi) selaku ketua penyelenggara tradisi Sambetan. Dalam menjalankan tradisi tersebut, Guru Asri dibantu oleh satu orang yang disebut sebagai Perasuk. Tugas dari Perasuk yaitu memainkan musik dan mengendalikan roh spiritual yang merasuki Para Pelamun agar tetap terkendali dan tidak melukai mereka. Dalam periode waktu tertentu, Guru Asri juga menggelar kompetisi untuk mencari Perasuk baru menggantikan Perasuk lama yang sudah pensiun atau mengundurkan diri. Jika terpilih dan sesuai kriteria yang diinginkan Guru Asri, Perasuk baru ini akan menjadi bagian dari pagelaran rutin tradisi Sambetan dari desa ke desa.



Suatu hari, Guru Asri menggelar Sambetan dengan mendatangkan roh spiritual kupu-kupu. Warga yang bersedia menjadi Pelamun mulai kerasukan roh tersebut. Para calon Perasuk kemudian menunjukkan keahlian mereka dalam bermusik, seperti Bayu Laksana (Angga Yunanda) dengan slompret andalannya, kemudian Pawit Arifin (Chicco Kurniawan) dengan gitar elektrik, Ananto Anugerah (Bryan Domani) dengan perkusi dan yang lainnya. Satu persatu dari mereka mulai berhasil mengendalikan roh spiritual yang merasuki Para Pelamun. Ketika Bayu sedang menunjukkan bakatnya dalam bermain slompret, ia kehilangan fokus dan menyebabkan Para Pelamun terluka. Sambetan pun terpaksa dihentikan. Guru Asri kecewa dengan hal tersebut dan meminta Bayu bisa mengendalikan diri lebih maksimal lagi. Setelah selesai acara Sambetan, Bayu kemudian mendatangi Para Pelamun untuk meminta maaf. Salah satu dari Pelamun yaitu Laksmi (Maudy Ayunda), perempuan asal Jakarta yang sedang bekerja dinas luar kota ke Desa Latas untuk proyek pembangunan dari PT. Wanaria.



Bayu sangat berambisi ingin menjadi Perasuk handal selanjutnya di Desa Latas karena ia tidak ingin merantau dan tinggal lagi di Jakarta. Alasannya karena selama hidup di sana, Bayu dan sang ayah, Pak Agus (Indra Birowo) hidup melarat, bisnis mereka ditipu hingga dikejar-kejar debt collector. Kondisi perekenomian keluarga semakin berantakan saat kedua orangtua Bayu bercerai. Tak lama setelah itu Pak Agus mendekam di penjara karena kasus pencurian ponsel. Setelah selesai menjalani hukuman di penjara, Bayu dan sang ayah memutuskan pulang dari Jakarta dan tinggal di rumah peninggalan keluarga di Desa Latas. Masalah baru kemudian muncul ketika PT. Wanaria mengincar curug yang menjadi sumber mata air bagi warga Desa Latas dan banyak tanah serta rumah milik warga dibeli oleh mereka untuk pembangunan hotel dan komplek perumahan. Salah satu lahan yang diincar yaitu milik Pak Agus. Tawaran yang diberikan oleh Pak Fahri (Ganindra Bimo) selaku perwakilan PT. Wanaria membuatnya tergiur untuk menjual warisan tanah dan rumahnya. Ia berjanji uang yang didapat dari menjual warisan setelah dibagi rata dengan kedua saudaranya akan digunakan untuk menyewa rumah susun di Jakarta dan membuka usaha isi ulang air galon bersama calon istrinya yaitu Ibu Nana (Ivonne Dahler). Mendengar hal tersebut membuat Bayu kesal. Ia tidak mau lagi tinggal dan hidup di Jakarta serta meragukan ide usaha dari ayahnya itu yang sudah berulang kali kena tipu orang lain. Bayu memaksa sang ayah untuk tidak menjual warisan mereka karena jika ia terpilih menjadi Perasuk handal oleh Guru Asri, Bayu akan punya penghasilan sendiri dan bisa mencukupi berbagai kebutuhan sehari-hari.


Waktu terus berlalu. Guru Asri dan rombongannya berencana akan menggelar pesta Sambetan sambil melakukan seleksi untuk Perasuk baru. Di Sambetan kali ini, Guru Asri meminta setiap Perasuk membawa roh spiritual masing-masing yang nantinya harus menyatu dengan baik dan tidak membahayakan Para Pelamun. Sehari sebelum pesta digelar, Bayu bertapa di curug yang menjadi sumber mata air warga Desa Latas untuk mencari roh spiritual yang cocok dengan dirinya. Setelah melakukan meditasi, roh hewan bulus berhasil didapatkan oleh Bayu. Keesokan harinya, pesta Sambetan digelar. Para Perasuk lain turut membawa roh hewan jagoan mereka masing-masing. Meskipun sempat diremehkan, Bayu berhasil menunjukkan kemampuannya sebagai Perasuk lewat roh hewan bulus yang disukai oleh para Pelamun. Bayu, Ananto dan tiga Perasuk lain berhasil mendapatkan nilai yang baik dari Guru Asri dan anggota penyelenggara. Mereka berenam kemudian akan kembali dipentaskan untuk mencari yang terbaik dan mampu menguasai roh bawaan mereka.


Sejak tinggal di Desa Latas, Laksmi mulai menikmati sebagai seorang Pelamun di tradisi Sambetan. Sudah berbagai cara dilakukan untuk healing dari trauma dan luka di masa lalu, namun baru kali ini Laksmi bisa bangkit dari keterpurukannya. Di sisi lain, Bayu yang berusaha menjadi Perasuk handal semakin sering mengalami gagal fokus karena terganggu oleh masalah di rumahnya. Bayu belum bisa merelakan rumah keluarganya dijual oleh sang ayah. Selain itu, Bayu juga merasa tersaingi dengan lolosnya Ananto serta dilibatkannya lagi Pawit untuk pemilihan Perasuk baru. Ditengah kerasnya berlatih dan mencari roh spiritual yang lebih meyakinkan, konsentrasi Bayu semakin berantakan gara-gara rumah dijual juga oleh sang ayah ke PT. Wanaria dengan alasan tuntutan dari keluarga saudara-saudaranya yang ada di Jakarta.


Rasa kecewa, kesal, marah dan sedih menyelimuti Bayu. Ketika berhasil mendapatkan roh spiritual lintah, Bayu mengikuti saran Guru Asri untuk lebih totalitas dan menjiwai roh tersebut agar saat pesta Sambetan nanti, Para Pelamun akan terpuaskan olehnya. Di sisi lain, Laksmi yang semakin nyaman tinggal di Desa Latas dan menikmati sebagai Pelamun meminta pada Bayu untuk merasukinya lagi diluar pentas Sambetan, meskipun hal tersebut sangat berbahaya untuk Laksmi dan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana kelanjutan kisah Bayu, Laksmi dan orang-orang di Desa Latas ini?


#Review:
Sutradara muda peraih Piala Citra FFI yaitu Wregas Bhanuteja kembali hadir dengan karya film terbarunya yang berjudul PARA PERASUK (2026). Menariknya, kali ini Wregas mengeksplor genre horror dengan sentuhan "artsy and festival oriented" yang menjadi ciri khasnya di setiap film yang ia garap.


Untuk segi cerita, Wregas bersama Alicia Angelina dan Defi Mahendra selaku penulis naskah menyajikan perspektif unik, baru sekaligus absurd dari fenomena kerasukan menjadi sebuah tradisi budaya yang bernama Sambetan. Dari pemilihan judul dan tema horror kerasukan, pasti sebagian besar penonton akan mengira film ini full horror dengan jump scared yang mengagetkan. Namun siapa sangka, hal mainstream tersebut tidak dilakukan oleh sang sutradara. Film PARA PERASUK (2026) justru menonjolkan budaya dan tradisi fiksi yang rutin digelar di Desa Latas. Elemen klenik kerasukan lewat pesta Sambetan dijelaskan secara apik layaknya sebuah budaya sungguhan di kehidupan sehari-hari. Setiap moment pesta Sambetan dieksekusi dengan ide-ide kreatif, absurd dan absurd. Sesekali penonton dibuat tawa melihat aksi Para Perasuk dan Para Pelamun yang nyeleneh. Jujur, konsep roh spiritual hewan kemudian alam roh pelamun yang divisualkan sangatlah berbeda dari film-film horror kebanyakan hahaha.
Seiring berjalannya durasi film, terdapat serangkaian konflik menarik yang terjadi pada warga desa di sana. Karakter Bayu dihadapkan dengan pergolakan quarterlife crisis mengenai hubungan dengan ayahnya, permasalahan finansial hingga ambisinya untuk menjadi Perasuk handal semuanya tersaji dengan mulus. Selain itu, ada cerita dari karakter Laksmi yang berusaha mengobati trauma di masa lalu. Terakhir, yaitu issue konflik sosial yang melibatkan warga desa dengan perusahaan kontraktor. Semua permasalahan tersebut berjalan beriringan meskipun dinamikanya cenderung datar dan bermain aman. Sepertinya sang sutradara memilih jalan aman dan tidak over dramatic, meskipun sebetulnya potensi sisi menguras emosional penonton bisa banget didapatkan dari banyak hal dalam film ini. Dramatisasi baru muncul di babak akhir film saat karakter Bayu dan Laksmi juga melakukan hal nekat yang melampaui batas. Sensasi horror artsy nya mantap sekaligus tragis sekali! Konflik penyelesaian cerita juga hadir dengan kejutan gotong royong yang serasa seperti metafora rakyat kecil yang enggan ditindas oleh perusahaan besar.


Untuk jajaran pemain, kita harus berikan apresiasi yang luar biasa untuk kelima pemain utamanya. Angga Yunanda bertransformasi menjadi pria kampung dengan logat campuran serta peningkatan kualitas akting yang sangat signifikan. Adegan Bayu yang menjelema menjadi lintah, sungguh mindblowing! Applause selanjutnya untuk Maudy Ayunda yang sangat berani tampil beda dan meninggalkan citra high class nya demi menjadi Laksmi yang ketagihan kerasukan. Kesurupan massal dengan koreografi hewan yang Maudy lakukan apik sekali! Apresiasi juga harus kita berikan pada Anggun C. Sasmi yang debut main film langsung mencuri perhatian dan sangat natural sebagai ketua tradisi Sambetan. Penampilan Chicco Kurniawan dan Bryan Domani juga tak kalah bagus. Gesture, logat dan akting mereka saat menjadi Perasuk dengan alat musik mengesankan!
Untuk urusan visual, film PARA PERASUK (2026) memang tidak menawarkan sinematografi atau efek visual yang luar biasa. Bahkan saat adegan Pelamun kerasukan roh kutu, sensasi melompat lebih tinggi nya CGI nya masih sangat mentah dan itu cukup mengganggu. Selipan-selipan humor dengan visual aesthetic seperti iklan menggunakan warna-warna mencolok menjadi keunikan tersendiri dari film ini. Sungguh sebuah pengalaman nonton di bioskop yang tak lazim, unik tapi aku suka! Hahahaha.


[8.5/10Bintang]

0 comments:

Post a Comment