#Description:
Title: Crocodile Tears (2026)
Title: Crocodile Tears (2026)
Casts: Yusuf Mahardika, Marissa Anita, Zulfa Maharani, Agnes Naomi, Ravi Septian, Kaan Lativan, Ego Heriyanto, Sheila Miranda, Vivi Afriyani, Riken Pramiswari, Amagerald, Uthie Diazva
Director: Tumpal Tampubolon
Studio: Tala Media, E-Motion Entertainment
#Synopsis:
Setelah kematian sang ayah ketika masih bayi, Johan (Yusuf Mahardika) yang kini beranjak dewasa tinggal berdua saja dengan sang Ibu (Marissa Anita). Mereka tinggal di tempat penangkaran buaya yang turut dijadikan tempat wisata bernama Taman Buaya. Namun sayang, seiring perkembangan zaman, Taman Buaya yang dikelola Ibu dan Johan makin sepi pengunjung. Setiap atraksi pertunjukan buaya juga penontonnya sedikit. Akibatnya, Taman Buaya jadi tidak terawat dengan baik.
Suatu malam, ketika Johan sedang asyik menonton video porno di ponselnya, ia mendengar teriakan Ibu sambil memanggilnya dari luar rumah. Saat dihampiri, sang Ibu sedang menangis di depan kandang buaya berwarna putih yang selama ini dianggap sebagai reinkarnasi dari sang suami. Johan pun kemudian mengajak pulang ibunya untuk kembali istirahat. Sampai di rumah, mereka berdua tidur di kamar yang sama dan sang ibu punya kebiasaan yang tak pernah berubah yaitu memeluk Johan dengan erat.
Keesokan harinya, Johan teringat jika ibunya ulang tahun. Setelah selesai jaga Taman Buaya, Johan pergi ke pasar membeli kado berupa parfum untuk sang ibu. Meskipun dirayakan dengan sederhana, Ibu sangat bahagia bisa merayakan kembali ulang tahun dan mendapatkan kado dari Johan. Setelah itu, Ibu dan Johan melakukan rutinitas sehari-hari mereka di Taman Buaya seperti membeli ayam untuk pakan buaya ke pasar, membersihkan got dan menyapu dedaunan kering yang ada di sana.
Waktu terus berlalu. Ketika Johan sedang di pasar membagikan flyer pentas Taman Buaya, ia tak sengaja berpapasan dengan seorang perempuan bernama Arumi (Zulfa Maharani). Mereka kemudian berkenalan setelah Johan mengantarkan Arumi ke bengkel untuk memperbaiki sepedanya yang rusak. Tak lupa mereka juga saling bertukar nomor telepon. Keesokan harinya, pentas Taman Buaya digelar. Terlihat beberapa pengunjung mulai duduk di area pentas dan menikmati pertunjukan berbahaya dari orang-orang yang berani berhadapan dengan buaya. Setelah selesai, Johan terkejut karena Arumi datang dan menonton pentas Taman Buaya. Melihat Johan dekat dengan pengunjung perempuan, sang ibu langsung mendatanginya. Johan kemudian mengenalkan Arumi pada ibunya meskipun mendapat respon yang dingin.
Sejak saat itu, pertemuan Johan dengan Arumi semakin intens. Setiap libur bekerja, Johan menyempatkan waktu untuk menemui Arumi sambil mengajarinya mengendarai motor. Selain itu, Johan juga dikenalkan pada teman-teman nongkrongnya Arumi yaitu Intan (Agnes Naomi), Dika (Ravi Septian) dan yang lainnya. Saat mereka sedang bersantai di pinggir danau, teman-teman Arumi terkejut ketika mengetahui Johan bekerja dan tinggal di Taman Buaya. Mereka kemudian menanyakan tentang gosip yang sudah lama beredar di kampung jika suami dari pemilik Taman Buaya itu tewas karena dilempar oleh istrinya ke kolam buaya di sana. Arumi pun langsung menghentikan pembicaraan tersebut dan meminta Johan agar tidak mempercayai gosip itu. Sepulang jalan-jalan, malam harinya Johan ikut ke kost nya Arumi dan mereka pun melakukan hubungan seksual.
Melihat Johan yang sedang jatuh cinta pada perempuan lain membuat ibunya cemburu. Ia belum bisa menerima kenyataan jika anaknya kini sudah dewasa dan mencintai orang lain. Agar tidak semakin jauh, ibu nekat memarahi Johan dan melarang untuk menemui Arumi lagi dengan alasan membawa pengaruh buruk. Tak hanya itu saja, ia juga menggunakan alasan mendengar bisikan dari buaya putih jika Arumi tidak pantas untuknya. Apa yang diucapkan ibunya membuat Johan sangat kesal dan marah. Ia tidak ingin selamanya hidup sendirian dan ingin juga memiliki pacar seperti pria normal pada umumnya.
Keadaan jadi semakin tidak kondusif setelah Arumi hamil. Johan tentunya sangat siap dan bertanggung jawab atas kehamilan Arumi. Namun sikap sang ibu justru sebaliknya. Ia malah menyarankan Arumi untuk menggugurkan kandungan dan meragukan juga jika bayi yang dikandung itu anaknya Johan, dengan alasan Arumi bekerja sebagai pemandu lagu di tempat karaoke. Mendengar ucapan ibunya Johan membuat Arumi sakit hati. Selama ini, Arumi terpaksa bekerja di sana karena susahnya cari pekerjaan di perantauan. Arumi juga sudah lama tinggal sebatang kara karena kedua orangtuanya sudah lama meninggal. Johan tetap akan bertanggung jawab dan akan menikahi Arumi meskipun sang ibu terus-menerus melarangnya.
Ibu pun akhirnya menyerah. Ia mengizinkan Johan merawat Arumi selama masa kehamilan. Arumi kini tinggal bersama di rumahnya Johan. Selama tinggal bersama, Arumi pun rajin membantu Johan dan calon mertuanya itu membereskan rumah, Taman Buaya dan juga memberi makan ratusan buaya yang ada di penangkaran. Tapi disaat Johan sedang keluar rumah, sang ibu sering memikirkan rencana untuk mencelakai Arumi. Hingga suatu ketika, Johan terkejut saat melihat Arumi yang sedang naik tangga bambu untuk memotong ranting pohon dan memarahi ibunya karena tega pada Arumi.
Setiap tengah malam, sang ibu diam-diam masuk ke kamar Johan dan Arumi. Ia hanya berdiri terdiam sambil menatap mereka berdua. Kejadian tersebut terus berulang. Puncaknya, sang ibu memberikan obat tidur pada jamuan makan malam yang membuat Johan dan Arumi tak sadarkan diri. Tengah malamnya, sang ibu masuk ke kamar dan menggusur Arumi yang tak sadarkan diri menuju keluar rumah. Apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dilakukan oleh sang ibu pada Arumi?
#Review:
Setelah tayang perdana di Toronto International Film Festival dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada tahun 2024 lalu, film CROCODILE TEARS (2026) akhirnya siap tayang reguler di bioskop Indonesia mulai besok, 7 Mei 2026. Film ini merupakan debut Tumpal Tampubolon sebagai sutradara film layar lebar, setelah sebelumnya ia dikenal sebagai penulis naskah cerita dan juga skenario di beberapa film populer Indonesia seperti TABULA RASA (2014), WIRO SABLENG (2018) dan SUZZANNA: MALAM JUMAT KLIWON (2023).
Aku berkesempatan hadir pada Press Conference dan Gala Premiere film CROCODILE TEARS (2026) yang sukses digelar pada Selasa, 28 April 2026 kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada kesempatan tersebut, ketiga pemain utama film ini yaitu Marissa Anita, Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani berbagi pengalaman menarik selama proses syuting. Untuk mendalami peran mereka masing-masing, Marissa, Yusuf dan Zulfa melakukan observasi secara intens di penangkaran buaya. Menariknya lagi, Marissa Anita mendalami perannya sebagai seorang ibu yang sangat protective terhadap anaknya dengan metode seperti seekor buaya betina melindungi anaknya.
Untuk segi cerita, film ini mengangkat dinamika hubungan posesif antara ibu dengan anaknya yang menggunakan metafora buaya. Penggunaan metafora buaya di sini bukan gimmick semata, Tumpal merefleksikan insting predator yang mengancam dan sifat posesif seekor buaya terhadap anaknya rupanya diterapkan oleh sang ibu pada Johan. Sejak awal film, penonton sudah bisa merasakan sikap berlebihan ibu pada Johan membuat rasa tidak nyaman dan juga janggal. Tema kasih sayang ibu lewat sudut pandang yang kelam karena mengaburkan batas antara perlindungan atau pengekangan. Konflik yang dihadirkan film CROCODILE TEARS (2026) muncul ketika pihak luar datang sehingga menyebabkan motherhood dari karakter ibu terasa makin toxic. Hampir sepanjang durasi film, penonton dibuat tidak nyaman dengan segala pengekangan sang ibu pada Johan. Yang cukup disayangkan, tempo cerita yang disajikan Tumpal dibuat slow-burn, ditambah lagi saat pertengahan film, banyak adegan statis dan minim dialog. Sehingga rasa bosan muncul di benak penonton. Untungnya, saat memasuki klimaks cerita, Tumpal cukup berhasil meningkatkan intensitas ketegangan lewat drama psikologis misteri yang terjadi diantara sang ibu, Johan dan Arumi. Kehadiran buaya putih dengan mitosnya yang tidak terjawab, semakin menguatkan betapa mistis dan absurd nya film ini.
Untuk jajaran pemain, Marissa Anita memberikan penampilan berkesan sebagai seorang ibu yang overprotective. Setiap dialog dan gesture yang ia lakukan memang menimbulkan rasa tidak nyaman baik itu pada Johan, Arumi maupun penonton. Penampilan Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani sebagai pasangan yang saling jatuh cinta terasa serba canggung, mungkin dialog yang ada di naskah memang sengaja dibuat seperti itu kali ya, jadinya terlihat kurang greget. Padahal kapasitas akting mereka berdua sudah tidak perlu diragukan lagi.
Overall, film CROCODILE TEARS (2026) cukup berhasil menyajikan toxic motherhood dengan menonjolkan sisi psikologis dari sang ibu lewat keheningan, tatapan tajam dan ketakutan manusiawi akan kehilangan kendali.
[7/10Bintang]



0 comments:
Post a Comment