#Description:
Title: Iyus Jenius (2026)
Casts: Kevin Abadio, Babah T. Bob, Wichita Satari, Brian Mahesa, Fernando Hany Putra, Jonathan Alvaro, Rasendrya Adwa, Mireille Grimonia, Adnan Putra Djani
Director: Achmad Romie, Adnan Putra Djani
Studio: Maxstream TV Studio, Seru Juga Film Studio, Creator Media, Frontline Pictures
#Synopsis:
Dua minggu menjelang ulang tahun anak kesayangannya, Babah Hartono (Brian Mahesa) mendapat panggilan kerja yang mengharuskannya pergi ke luar kota. Babah berjanji akan pulang dan memberikan kado saat Iyus (Kevin Abadio) berulang tahun nanti. Ibu Iyus, Bubu Minah (Wichita Satari), ikut senang melihat suaminya akhirnya bekerja kembali. Kabar kado ulang tahun dari Babah dan Bubu membuat Iyus sangat gembira, hingga ia menjadi lebih semangat serta rajin ke sekolah.Dalam perjalanan pulang dari kantor, Babah membeli kaset lagu anak-anak karya Papa T. Bob dan sebuah walkman untuk kado Iyus. Setiap selesai bekerja, Babah selalu menyempatkan diri untuk menelepon Bubu dan Iyus. Sehari sebelum ulang tahunnya, Iyus sudah tidak sabar bertemu Babah dan menerima kadonya. Namun, hingga malam hari, ayahnya tak kunjung datang. Tepat tengah malam, Bubu menerima panggilan telepon dari nomor Babah. Panggilan itu membawa kabar duka: Babah mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dan dinyatakan meninggal dunia. Kepergian Babah menyelimuti keluarga itu dengan kesedihan yang luar biasa. Setelah prosesi pemakaman selesai, Iyus menerima bingkisan paket dari kepolisian berisi kado ulang tahun dari Babah. Melihat kaset dan walkman tersebut, tangis Iyus pecah karena teringat sang ayah. Seluruh kenangan indah bersama Babah dan Bubu pun seketika berputar kembali di ingatannya.
Setelah mendapat perawatan dan lukanya diobati, Iyus diizinkan pulang. Setibanya di rumah, sebuah kejadian aneh menimpanya saat ia sedang sendirian di kamar. Iyus melihat bayangan bertubuh besar bersembunyi di balik tirai sambil memanggil namanya. Begitu Iyus membuka tirai tersebut, muncul seorang pria berbaju merah-kuning dan berkacamata yang membuatnya histeris ketakutan. Iyus lantas berlari keluar kamar dan meminta Bubu mengusir pria itu. Namun, saat Bubu mengecek ke dalam kamar, tidak ada siapa pun di sana. Lantaran masih diselimuti rasa takut, Iyus memilih tidur bersama ibunya malam itu.
Hari-hari berlalu dan Iyus menjalani rutinitas sekolah seperti biasa. Di sekolah, Iyus kerap diganggu oleh tiga teman sekelasnya yaitu Ade (Jonathan Alvaro), Ucok (Fernando Hany) dan Koko (Rasendrya Adwa). Suatu ketika, saat Iyus kembali dijahili atau merasa ragu dalam setiap mengambil keputusan, sosok pria bertubuh besar itu muncul lagi. Anehnya, hanya Iyus yang bisa melihatnya. Merasa terbantu oleh kehadiran sosok misterius tersebut, Iyus berterima kasih dan mengajaknya berkenalan. Iyus lantas menamainya Babah T. Bob, kombinasi dari panggilan mendiang ayahnya dan pencipta lagu anak-anak yang kasetnya ia punya. Kehadiran Babah T. Bob sebagai teman tak kasat mata membuat hidup Iyus kembali berwarna. Sosok itu selalu baik hati dan membantu Iyus meraih nilai-nilai bagus di sekolah. Akan tetapi, peningkatan prestasi Iyus justru memicu kecurigaan sebagian orang tua murid, terlebih setelah mereka tak sengaja melihat Iyus berbicara sendiri di gang rumah.
Di sisi lain, Ade, Ucok, dan Koko mulai mendekati Iyus hanya demi mendapatkan contekan saat Ujian Tengah Semester (UTS). Meski Babah T. Bob dan Gadis (Mireille Grimonia), teman sebangkunya sudah memperingatkan bahwa ketiga anak itu hanya memanfaatkan kepintarannya, Iyus tetap menerima mereka karena mendambakan teman di sekolah. Kecewa dengan keputusan Iyus, Babah T. Bob akhirnya memilih pergi dan tidak mau membantunya lagi. Hari UTS pun tiba. Teman-teman sekelas Iyus rupanya berniat mencontek jawaban darinya agar bisa meraih nilai sempurna. Namun sayang, saat ujian berlangsung, Iyus mendadak tidak bisa mengerjakan satu soal pun. Ia akhirnya asal mengisi lembar jawaban dan membagikan jawaban asal-asalan tersebut kepada teman-temannya.
Saat hasil UTS diumumkan, suasana kelas seketika gempar karena seluruh murid mendapatkan nilai nol. Kepala sekolah sangat kecewa dan marah, mengingat hasil buruk ini dapat memengaruhi persiapan ujian kelulusan yang tinggal beberapa bulan lagi. Akibat kejadian itu, teman-teman sekelas menjauhi Iyus dengan rasa kesal, sementara para orang tua murid ikut memprotes dan memarahi Iyus. Dari peristiwa ini, Iyus akhirnya sadar bahwa teman-temannya selama ini hanya memanfaatkan kepintarannya. Ia sangat menyesal karena tidak mendengar peringatan dari Babah T. Bob dan juga Gadis. Bagaimanakah nasib Iyus selanjutnya?
#Review:
Setelah penantian panjang dan mengantri untuk tayang di bioskop selama tiga tahun, akhirnya film drama musikal anak-anak terbaru produksi Maxstream TV Studio, Serujuga Film Studio, Creator Media dan Frontline Pictures yaitu IYUS JENIUS (2026) siap tayang di bioskop Indonesia mulai 10 September 2026 mendatang.
Aku berkesempatan hadir pada screening dan gala premiere film IYUS JENIUS (2026) yang sukses digelar pada Minggu (6/9) kemarin di Cinepolis Lippo Mall Nusantara, Semanggi, Jakarta Pusat. Pada kesempatan tersebut, produser dari Creator Media yaitu Gandhi Fernando mengungkapkan jika dirinya memiliki tanggung jawab moral sebagai pelaku di industri perfilman tanah air untuk memberikan tontonan yang berbeda bagi penonton di bioskop. Gandhi berharap kehadiran film musikal anak-anak dapat memberikan warna baru di tengah mayoritas film-film Indonesia bergenre drama, horror dan percintaan. Di sisi lain, Babah T. Bob yang merupakan anak dari mendiang musisi dan pencipta lagu anak-anak legendaris di tahun 90an yaitu Papa T. Bob mengungkapkan, proses kreatif penulisan cerita dan pemilihan lagu-lagu untuk film ini dilakukan secara kolaboratif bersama penulis cerita, produser dan sutradara. Dari ratusan judul lagu anak-anak yang diciptakan oleh Papa T. Bob, akhirnya terpilih beberapa judul yang sesuai dan kemudian dilakukan proses rekaman ulang dengan vokal dari para pemain serta aransemen musik yang lebih modern.
Untuk segi cerita, film IYUS JENIUS (2026) hadir sebagai sebuah persembahan hangat yang berupaya merawat warisan lagu-lagu anak legendaris ciptaan Papa T. Bob. Di bawah arahan sutradara Achmad Romie, film musikal ini tidak hanya menjual nostalgia bagi generasi yang tumbuh di era 90-an, tetapi juga menganyam narasi emosional tentang duka seorang anak yang kehilangan figur ayah. Penonton diajak menyelami bagaimana trauma, rasa rindu, dan imajinasi saling beriringan dalam proses penyembuhan luka batin seorang anak. Film IYUS JENIUS (2026) berhasil membangun fondasi konflik yang cukup solid sejak awal. Keputusan untuk menghadirkan sosok imaginatif "Babah T. Bob" dari gabungan kerinduan pada sang ayah dan walkman beserta kaset peninggalannya menjadi poin pembeda yang menarik. Tak hanya soal duka, film ini juga cukup jeli memotret dinamika kehidupan sekolah anak-anak. Isu-isu seperti perundungan halus, tekanan prestasi di sekolah, hingga jebakan pertemanan toksik yang memanfaatkan kepintaran seseorang terasa relevan untuk lintas generasi. Konflik ketika Iyus terdesak hingga berujung pada kekacauan nilai UTS sekelas menjadi titik balik penting yang memberi pelajaran moral berharga tentang kejujuran dan keberanian dalam memilih teman sejati.
Sebagai sebuah film musikal, film IYUS JENIUS (2026) memiliki beberapa titik kelemahan. Salah satu catatan terbesarnya terletak pada performa para pemain anak-anak maupun pendukung yang sebagian besar masih terlihat kaku membuat penonton butuh waktu untuk bisa terkoneksi dengan performa akting mereka. Dalam beberapa adegan khususnya saat melakukan transisi ke adegan koreografi dan musikal gerakan serta mimik muka para pemeran terasa kurang luwes dan canggung. Namun hal tersebut bisa penonton toleransi, mengingat para ensemble cast dari film ini adalah nama-nama baru yang baru pertama kali membintangi film layar lebar. Keputusan para produser memilih aktor-aktor baru ini memang disengaja agar tidak tidak monoton dan itu-itu saja. Kelemahan lain yaitu penyusunan dialognya. Narasi dan skenario film ini masih didominasi oleh gaya bahasa dan struktur dialog yang sangat baku, tipikal tutur bahasa dalam tontonan anak-anak era 90-an. Lebih lanjut, lagu-lagu Papa T. Bob yang dibawakan dalam film IYUS JENIUS (2026) tampil dengan sentuhan aransemen modern yang segar dan kekinian. Hal tersebut jadi menimbulkan adanya jarak rasa di benak penonton. Disatu sisi, telinga dimanjakan oleh musik yang modern dan dinamis, tetapi di sisi lain dialog para karakternya dan latar cerita yang sengaja dibuat di era 90-an, terasa seperti terjebak dalam narasi jadul yang tidak relevan dengan nuansa musikalnya.
Overall, film IYUS JENIUS (2026) tetaplah sebuah tontonan keluarga yang memiliki niat mulia dan hati yang tulus dalam melestarikan film anak-anak bergenre musikal di Indonesia. Film ini masih sanggup menyampaikan pesan emosionalnya dengan baik. Film IYUS JENIUS (2026) menjadi pengingat yang indah akan indahnya lagu anak Indonesia di era 90-an sekaligus pentingnya pendampingan emosional bagi anak dalam menghadapi duka.
[7.5/10Bintang]




0 comments:
Post a Comment