#Description:
Title: Rumah Singgah (2026)
Title: Rumah Singgah (2026)
Casts: Adhisty Zara, Devano Danendra, Ciccio Manassero, Messi Gusti, Aming Sugandhi, Dewi Irawan, Alex Abbad, Marthino Lio, Agnes Naomi
Director: Dyan Sunu Prastowo
Studio: Senara, Mandela Pictures, Limelight Pictures
#Synopsis:
Impian Karla (Adhisty Zara), seorang atlet lari muda, untuk berkompetisi di tingkat nasional seketika hancur setelah ia mengalami cedera berat di kaki kirinya. Setelah diperiksa secara intensif di rumah sakit, Karla dinyatakan mengidap kanker tulang stadium dua. Ia pun harus menjalani pengobatan dan kemoterapi seorang diri karena ayahnya, Pak Ardi (Alex Abbad), sedang berlayar jauh dan bekerja sebagai koki di kapal pesiar. Karla akhirnya memutuskan untuk meninggalkan seluruh rutinitasnya di Jakarta demi berfokus pada pengobatan di Rumah Singgah, sebuah rumah perawatan yang dikelola oleh Ibu Andien (Dewi Irawan).
Setibanya di Rumah Singgah, Karla disambut hangat oleh Ibu Andien, Mang Didu (Aming Sugandhi), serta para penghuni di sana. Karla merasa terharu ketika melihat orang-orang yang bernasib sama dengannya tidak terpuruk dalam depresi atau mengumbar kesedihan. Sebaliknya, mereka tampak bahagia, menjalani rutinitas seperti biasa, dan saling menguatkan satu sama lain. Setelah membereskan barang bawaannya, Karla menempati kamar yang sama dengan Pika (Messi Gusti), seorang remaja perempuan cantik penderita kanker otak. Karena rambutnya mulai rontok, Pika selalu mengenakan penutup kepala. Selain Pika, Karla juga berkenalan dengan Luki (Devano Danendra) yang mengidap leukemia dan Toni (Ciccio Manassero) yang mengidap kanker hati.
Seiring berjalannya waktu, Karla mulai memberanikan diri untuk berinteraksi dengan penghuni lainnya dan menjalin persahabatan erat dengan Pika, Luki, serta Toni. Mereka berempat sering berbagi cerita hidup, bernyanyi bersama, dan bermain di taman belakang. Hingga suatu hari, Pika, Luki, dan Toni mengajak Karla berkunjung ke gudang rahasia mereka. Saat melangkah masuk, Karla terkejut melihat ribuan kertas origami tergantung cantik di seluruh sudut ruangan. Pika menjelaskan bahwa origami-origami yang dibuat bersama para penghuni Rumah Singgah tersebut merupakan lambang optimisme dan simbol harapan bagi mereka semua.
Di sela-sela jadwal pengobatan dan pemeriksaan medis, Karla, Pika, Luki, dan Toni bertekad memanfaatkan sisa waktu untuk mewujudkan impian masing-masing. Karla berhasrat untuk kembali ke lintasan lari sebagai atlet, meskipun hal tersebut mustahil baginya. Pika ingin menikmati pemandangan matahari terbit dan bermain di tepi pantai. Luki merindukan pertemuan dengan keluarga kakak kandungnya, Mas Prasetya (Marthino Lio) yang sudah lama berpisah karena Luki memilih pergi dari rumah setelah mengetahui dirinya mengidap leukimia. Sementara Toni ingin menemui mantan kekasihnya untuk meminta maaf atas keputusannya mengakhiri hubungan secara sepihak tanpa penjelasan.
Seiring berjalannya waktu, Karla mulai memberanikan diri untuk berinteraksi dengan penghuni lainnya dan menjalin persahabatan erat dengan Pika, Luki, serta Toni. Mereka berempat sering berbagi cerita hidup, bernyanyi bersama, dan bermain di taman belakang. Hingga suatu hari, Pika, Luki, dan Toni mengajak Karla berkunjung ke gudang rahasia mereka. Saat melangkah masuk, Karla terkejut melihat ribuan kertas origami tergantung cantik di seluruh sudut ruangan. Pika menjelaskan bahwa origami-origami yang dibuat bersama para penghuni Rumah Singgah tersebut merupakan lambang optimisme dan simbol harapan bagi mereka semua.
Di sela-sela jadwal pengobatan dan pemeriksaan medis, Karla, Pika, Luki, dan Toni bertekad memanfaatkan sisa waktu untuk mewujudkan impian masing-masing. Karla berhasrat untuk kembali ke lintasan lari sebagai atlet, meskipun hal tersebut mustahil baginya. Pika ingin menikmati pemandangan matahari terbit dan bermain di tepi pantai. Luki merindukan pertemuan dengan keluarga kakak kandungnya, Mas Prasetya (Marthino Lio) yang sudah lama berpisah karena Luki memilih pergi dari rumah setelah mengetahui dirinya mengidap leukimia. Sementara Toni ingin menemui mantan kekasihnya untuk meminta maaf atas keputusannya mengakhiri hubungan secara sepihak tanpa penjelasan.
Demi mewujudkan impian-impian tersebut, Karla, Pika, Luki, dan Toni bekerja sama dengan Mang Didu untuk meminjam mobil operasional Rumah Singgah. Namun, di tengah perjuangan mewujudkan mimpi mereka satu per satu, kabar duka datang silih berganti menghampiri keempat sahabat ini. Di sisi lain, aksi nekat Karla, Pika, Luki, Toni, dan Mang Didu yang pergi diam-diam membuat Ibu Andien panik. Kepergian mereka juga berimbas pada kekacauan acara sosial bersama para donatur yang selama ini menjadi penyokong utama Rumah Singgah. Akankah keempat sahabat ini berhasil menuntaskan seluruh impian mereka di tengah kondisi kesehatan mereka yang semakin kritis?
#Review:
Film RUMAH SINGGAH (2026) karya sutradara Dyan Sunu Prastowo menyajikan narasi emosional yang menyentuh tentang perjuangan hidup, persahabatan, dan harapan. Berfokus pada kisah dari karakter Karla, seorang atlet lari muda yang masa depannya terenggut oleh kanker tulang stadium dua, penonton diajak menyelami penderitaan yang tak hanya menguji fisik, tetapi juga mental.
Sejak Karla menginjakkan kaki di Rumah Singgah yang dikelola oleh Ibu Andien, dinamika cerita berkembang menjadi lebih hangat. Alih-alih menyajikan atmosfer yang muram, tempat ini justru menjadi tempat berlindung yang penuh energi positif. Interaksi Karla dengan para penghuni lain, seperti Pika, Luki, dan Toni memperlihatkan bagaimana kesakitan yang sama mampu melahirkan empati mendalam dan ikatan persahabatan yang solid. Simbolisme dalam film ini dieksekusi dengan cukup apik, terutama melalui kehadiran ribuan kertas origami di dalam gudang rahasia. Gantungan origami tersebut bukan sekadar hiasan visual, melainkan metafora visual yang kuat tentang ribuan doa, optimisme, dan harapan yang terus dirawat oleh para penderita kanker. Elemen ini berhasil memperkuat narasi emosional tanpa terasa menggurui.
Puncak emosional dari film ini bermuara pada penuntasan impian serta nasib akhir yang kontras bagi setiap anggotanya. Setelah impian mereka berhasil diwujudkan, kenyataan pahit tetap harus dihadapi ketika salah satu diantara mereka pergi untuk selama-lamanya. Di sisi lain, perjuangan Karla harus dibayar mahal dengan tindakan amputasi pada kakinya; sebuah keputusan pahit yang justru membebaskannya dari kanker dan membawanya bangkit menjadi atlet pelari disabilitas. Dinamika hubungan kakak beradik antara Luki dan Mas Prasetya pun berakhir bahagia setelah mereka berdua berkata jujur satu sama lain. Namun, film ini memiliki beberapa poin yang cukup mengganggu pengalaman menonton. Seperti film-film bertema tentang penyakit pada umumnya, pendekatan visual film RUMAH SINGGAH (2026) menurutku terlalu dreamy dengan lighting serba lembut dan atmosfer film yang terlalu puitis membuat setiap adegan film ini terasa datar. Alhasil, di pertengahan film aku dibuat mengantuk oleh dialog yang ikutan dibuat serba puitis serta latar musik melankolis yang dimainkan cukup mendominasi disepanjang durasi film.
Dari jajaran pemeran, Adhisty Zara berhasil menjadi kekuatan emosional cerita dengan membawakan karakter Karla secara meyakinkan. Transisi emosinya mulai dari kerapuhan dan keputusasaan seorang atlet yang kehilangan impiannya, hingga akhirnya menemukan kembali pijakan hidup bersama para penghuni Rumah Singgah terasa cukup natural dan konsisten. Interaksi serta chemistry dengan Messi Gusti, Devano Danendra dan Ciccio Manassero juga terasa believable sebagai empat sahabat. Kehadiran Messi Gusti sebagai Pika patut diapresiasi karena kepolosannya kerap kali berhasil menghadirkan momen pemicu rasa haru yang cukup efektif. Kehadiran aktor senior seperti Dewi Irawan dan Aming Sugandhi membantu memberi keseimbangan, di mana Aming berhasil membawa sedikit kesegaran berkat komedinya yang mencuri perhatian. Sayangnya, kehadiran Marthino Lio sebagai Mas Prasetya terasa kurang tereksplorasi secara maksimal dan penyelesaiannya terburu-buru dibuat happy ending.
Overall, film RUMAH SINGGAH (2026) berhasil menjadi tontonan drama humanis yang hangat dan menggugah emosi. Didukung oleh jajaran pemeran yang solid, film ini tidak hanya memotret pahitnya perjuangan melawan penyakit kritis, tetapi juga merayakan indahnya persahabatan serta pentingnya berdamai dengan keadaan sebelum waktu habis.
[7/10Bintang]


0 comments:
Post a Comment