
#Description:
Title: Tumbal Proyek (2026)
Title: Tumbal Proyek (2026)
Casts: Kiesha Alvaro, Callista Arum, Karina Suwandi, Eduwart Manalu, Fuad Idris, Agus Firmansyah, Adi Sudirja, Rendy Khrisna, Cetul Leatherart, Raffan Al-Aryan, Kanaya Tsabitah, Stella Bodea, Cinta Dewi, Ayu Inten
Director: Jeropoint
Director: Jeropoint
Studio: Dee Company
#Synopsis:
Proses pembangunan jembatan yang menghubungkan dua pulau di paling timur Pulau Jawa semakin dikebut. Jumlah pekerja proyek jembatan pun diperbanyak. Pak Bayu (Rendy Khrisna) adalah salah satu dari ratusan orang yang diterima sebagai pekerja di proyek oleh PT. Surajaya, selaku kontraktor dan pengelola pembangunan jembatan. Pak Bayu merantau dari Surabaya dan meninggalkan istrinya, Ibu Martha (Karina Suwandi) beserta kedua anaknya, Yudha (Kiesha Alvaro) dan Laras (Callista Arum).
Selama bekerja di sana, Pak Bayu mendapat fasilitas tempat tinggal di rusun bersama para pekerja lain. Namun sayang, baru beberapa bulan bekerja, Pak Bayu menemukan banyak keanehan yang terjadi di tempat ia bekerja maupun di rusun. Salah satunya yaitu seringnya terjadi kecelakaan kerja padahal perusahaan sudah menerapkan safety seketat mungkin. Selain itu, pekerja yang menjadi korban kecelakaan pun selalu hilang begitu saja dan dianggap sudah dikembalikan ke keluarga. Hal aneh lainnya dirasakan ketika Pak Bayu dan pekerja lainnya sedang istirahat di rusun. Selain pengawasan yang sangat ketat dan larangan keluar rusun di atas jam 22:00 malam, para pekerja di sana sering mendengar suara-suara aneh dari petugas keamanan yang berkeliling.
Nasib sial pun akhirnya menimpa Pak Bayu. Ia dipukuli hingga tak sadarkan diri lalu dibawa ke pinggir pantai di tengah malam oleh beberapa orang. Ketika tersadar, Pak Bayu melihat adanya ritual sajen tumbal dengan cara membunuh para pekerja dan jasadnya dicor semen dan dijadikan beton untuk proyek pembangunan jembatan. Pak Bayu pun berakhir menjadi korban tumbal proyek.
Waktu terus berlalu, rekan kerja Pak Bayu yaitu Heru kemudian mendatangi rumah Ibu Martha untuk mengabari jika Pak Bayu meninggal dunia karena kecelakaan kerja. Mendengar hal tersebut membuat Ibu Martha histeris hingga jatuh pingsan. Yudha dan Laras pun tak percaya jika ayahnya sudah tiada. Yudha menganggap omongan Heru itu bohong karena jika ayahnya meninggal, maka harus terlihat jelas jasadnya. Heru beralasan jika jasad Pak Bayu sudah dimakamkan di sana. Sejak saat itu, Yudha berambisi ingin mencari kebenaran tentang kematian sang ayah dengan menginvestigasi setiap kabar dan berita tentang proyek pembangunan jembatan itu.
Lima tahun berlalu. Setelah lulus sekolah, Yudha dan Laras sepakat untuk melamar kerja ke PT. Surajaya. Karena masih membutuhkan banyak orang, mereka berdua diterima bekerja di sana. Yudha, Laras dan Ibu Martha kemudian menempati fasilitas rusun yang disediakan perusahaan. Rusun tersebut ternyata rusun yang dahulu pernah ditempati juga oleh mendiang ayah mereka. Tiba di rusun, Ibu Martha merasakan sesuatu yang membuatnya kejang dan sempat tak sadarkan diri. Meskipun rusun nya terlihat sepi, sunyi dan minim penerangan, mereka bertiga tetap tinggal di sana. Yudha ingin menelusuri kematian sang ayah yang diduga sebagai korban tumbal proyek oleh perusahaan. Hal tersebut diperkuat dengan banyaknya berita di koran dan televisi yang membahas tentang para pekerja yang mengalami kecelakaan di area proyek pembangunan jembatan. Yudha juga meminta bantuan pada Laras untuk mencarikan informasi lewat dokumen dan arsip yang ada di kantor agar bisa secepatnya mengungkap penyebab kematian mendiang ayah mereka.
Hari demi hari terus berlalu. Selama Yudha dan Laras bekerja di area proyek pembangunan jembatan, terjadi beberapa kecelakaan kerja yang merenggut nyawa beberapa pekerja di sana. Selain itu, mereka juga sering melihat penampakan ketika di tempat kerja maupun di rusun. Hingga suatu ketika saat pulang bekerja di malam hari, Ibu Martha dan beberapa penghuni rusun lain mengalami kesurupan massal.
Keesokan harinya, Yudha melihat kabar berita tentang anak-anak hilang di sekitar lokasi proyek pembangunan yang jumlahnya terus bertambah. Para orang tua dan warga sudah melaporkan ke polisi dan melakukan pencarian selama berhari-hari namun tak membuahkan hasil. Selain itu, kecelakaan kerja di lokasi proyek pembangunan jembatan pun semakin sering terjadi. Pak Sutomo (Eduwart Manalu) selaku penanggung jawab dan yang mengawasi proyek pembangunan jembatan terpaksa harus menggelar upacara adat dan memberikan sesajen ke laut dengan harapan tidak ada lagi kecelakaan kerja di proyek pembangunan jembatan.
Saat persiapan upacara adat dan sesajen di malam hari, Yudha, Laras dan seorang ibu yang anaknya hilang menyusup masuk ke kantor proyek setelah menemukan informasi tentang daftar pekerja yang dijadikan tumbal proyek oleh perusahaan. Ketika menelusuri ruangan bawah tanah, mereka melihat beberapa orang kantor sedang melakukan ritual bersama Mbah Tarmo (Fuad Idris). Karena ketahuan, ritual tersebut menjadi kacau. Energi gaib semakin tak terkendali dan menyerang para pekerja yang ada di rusun dan juga para pekerja yang sedang mempersiapkan ritual di pinggir pantai. Yudha, Laras dan ibu tadi berhasil menemukan anak-anak yang disembunyikan di ruang bawah tanah dan membawa mereka secepatnya keluar.
Ketika Yudha dan Laras kembali ke rusun, mereka harus menghadapi banyak pekerja rusun dan ibunya yang mengalami kerasukan massal. Mbah Tarmo dan yang lainnya juga terkejut saat mendatangi rusun dan melihat banyak pekerja yang tewas karena kesurupan massal. Ia menyalahkan Yudha dan Laras yang sudah mengacaukan ritual sehingga sosok gaib dengan energi sangat buruk kini meminta tumbal secara tidak terkendali. Bagaimana nasib Yudha, Laras dan Ibu Martha selanjutnya?
#Review:
Rumah produksi Dee Company kembali hadir dengan film horror terbarunya yang berjudul TUMBAL PROYEK (2026). Film yang terinspirasi dari mitos dan urban legend populer di setiap ada pembangunan apapun ini disutradarai oleh penulis thread viral di X yaitu Jeropoint. Dalam beberapa tahun terakhir, Dee Company menurutku terbilang cerdik dalam memilih cerita yang sedang ramai diperbincangkan dan kemudian diangkat menjadi film layar lebar. Ditambah lagi dengan kehadiran poster dan juga trailer yang harus diakui selalu menarik perhatian penonton. Sebut saja poster film produksi Dee Company yang menurutku bagus SIKSA NERAKA (2023), JEMBATAN SHIRATAL MUSTAQIM (2025) dan yang terbaru yaitu TUMBAL PROYEK (2026).
Untuk segi cerita, film TUMBAL PROYEK (2026) awalnya tampil cukup menjanjikan lantaran mengusung tema investigasi dan penelusuran untuk mengungkap kebenaran tentang tindakan menumbalkan pekerja dalam proyek pembangunan jembatan. Konsep ini sebetulnya sudah sempat Dee Company terapkan di film box office hit nya yaitu VINA SEBELUM 7 HARI (2024). Namun sayang, tema investigasi, poster dan trailer yang sangat cakep ini berbanding terbalik dengan hasil filmnya. Selain banyak hal yang misleading, plot cerita semakin lama semakin berantakan. Di paruh awal penonton sudah disuguhi dengan kematian tragis beberapa pekerja yang dijadikan tumbal proyek, eksekusinya pun cukup bagus dengan efek visual yang believable. Memasuki bagian investigasi, masih cukup aman dan fokus. Setelah itu, barulah, plot terjun bebas karena fokusnya jadi penuh ambisi menampilkan jump scared yang sebanyak-banyaknya. Perkara buka pintu, menengok ke belakang dan jalan kaki saja Jeropoint menambahkan scoring bombastis dan too much. Selain itu, konsep tumbal yang dihadirkan pun tidak konsisten. Katanya para pekerja yang dijadikan tumbal proyek itu agar proses pembangunan lancar, tiang-tiang pancang kokoh dan selesai tepat waktu. Tapi kenyataannya, tumbal proyek di sini malah jadi ritual rutin yang tak kunjung selesai karena sosok gaib terus-terusan mengganggu dan mencelakakan para pekerja sehingga harus diberi tumbal proyek. Gimana sih? Belum lagi cerita di rusun yang tiba-tiba jadi kesurupan massal dengan konsep seperti zombie apocalypse, lalu dihadirkan pula tentang ritual sesajen dan pengorbanan demi keselamatan. Setiap transisi perpindahan cerita jadinya tidak jelas, maksud dan maunya sang sutradara tuh apaan sih?
Tak lupa juga, Jeropoint menyelipkan drama keluarga yang eksekusinya serba nanggung karena chemistry antara kedua anak dengan ibunya tidak menarik. Tak sampai di situ saja, elemen drama perselingkuhan juga dimunculkan yang tidak ada penjelasan sama sekali. Elemen religi kristen atau katolik yang digunakan film TUMBAL PROYEK (2026) ini sebetulnya bisa dieksekusi dengan lebih maksimal lagi, karena hampir disepanjang durasi film, simbol agama di sini justru hanya sebagai tempelan semata karena konteks nya tidak mendapat penjelasan. Selain itu, banyak sekali dialog-dialog konyol yang dilontarkan oleh para karakter, apalagi saat adegan Yudha meeting dengan management kantor. Wkwkwk! Paling annoying lagi yaitu kehadiran karakter satpam yang trying too hard menjadi pencair suasana, tapi eksekusinya cringe maksimal!
Untuk jajaran pemain, penampilan Kiesha Alvaro terasa paling lemah dan tidak stabil dibandingkan lawan mainnya. Dialog dan logat nya kaku banget. Moment-moment yang seharusnya emosional juga tidak nyampe ke penonton. Penampilan Karina Suwandi dan Callista Arum jauh lebih konsisten dari awal sampai akhir film berkat emosional keduanya lebih kuat.
Selain poster, film TUMBAL PROYEK (2026) memiliki satu point plus yang menurutku jadi jualan utamanya yaitu efek visual adegan-adegan gore dan brutalnya terlihat paling realistis dibandingkan film-film Dee Company sebelumnya. Terlepas dari adegan kesurupan massal seperti zombie apocalypse, tara make-up dan wardrobe nya masih tergolong bagus. Penampilan Karina Suwandi yang kesurupan juga bagus meskipun langsung mengingatkanku akan aksinya di SEBELUM IBLIS MENJEMPUT (2018).
Overall, film TUMBAL PROYEK (2026) masih terasa berantakan di bagian cerita karena sang sutradara terlalu ambisius ingin menghadirkan banyak hal, sama persis dengan film debutnya yaitu JALAN PULANG (2025). Semoga di waktu yang akan datang, Dee Company bisa menghadirkan film yang tidak sekedar berisik dengan jump scared dan scoring too much saja ya!
[5/10Bintang]

0 comments:
Post a Comment