#Description:
Title: Memburu Pemangsa (2026)
Title: Memburu Pemangsa (2026)
Casts: Laura Basuki, Taskya Namya, Prilly Latuconsina, Yasamin Jasem, Andri Mashadi, Teuku Rifnu Wikana, Jordan Omar, Septian Dwi Cahyo, Norman Akyuwen, Shareefa Daanish, Ruth Marini
Director: Umay Shahab
Studio: Sinemaku Pictures, Legacy Pictures
#Synopsis:
Daily Wave News, media berita politik yang dipimpin oleh Agnes (Laura Basuki), mendadak diubah fungsinya menjadi media berita kriminal. Mau tak mau, Agnes dan tiga reporter perempuannya, Brina (Taskya Namya), Cia (Prilly Latuconsina) dan Anya (Yasamin Jasem) harus menerima keputusan tersebut. Di hari pertama beroperasi, mereka langsung kesulitan mendapatkan informasi kriminal terbaru karena keterbatasan akses dan sumber daya.
Di saat bersamaan, publik dihebohkan oleh misteri hilangnya sejumlah anak. Rasa cemas para orang tua kian memuncak ketika pihak kepolisian akhirnya menemukan lima anak dalam kondisi tewas dengan beberapa anggota tubuh yang hilang. Lambatnya penanganan kasus ini membuat masyarakat mempertanyakan kredibilitas kepolisian. Tekanan dari atasan pun semakin berat bagi Petra (Andri Mashadi), polisi lapangan yang menangani kasus tersebut. Kabar penemuan jasad lima anak tersebut akhirnya sampai ke telinga Brina yang merupakan adik dari Petra. Ia kemudian meminta izin pada kakaknya itu untuk ikut melakukan investigasi dan penyelidikan tentang kasus tersebut.
Suatu hari, Cia meminta izin pulang lebih awal untuk menjemput adiknya, Pandu (Jordan Omar) yang sedang study tour di wahana aquarium. Agnes memberi izin sekaligus menawarkan tumpangan dengan mobilnya. Setibanya di lokasi, Agnes yang memiliki kemampuan indra keenam langsung merasakan kejanggalan. Firasat buruk itu kian nyata saat Cia panik kehilangan Pandu dari pandangannya.
Agnes dan Cia langsung dengan berpencar mencari Pandu. Cia akhirnya menemukan adiknya itu yang sedang mengamati akuarium di dekat pintu keluar. Namun, situasi di wahana aquarium mendadak kacau setelah seorang ibu berteriak histeris karena anak perempuannya hilang. Meski petugas keamanan telah menyisir seluruh sudut ruangan, anak itu tak kunjung ditemukan. Melihat situasi yang makin tak terkendali, Agnes, Cia, dan Pandu memutuskan untuk segera pulang meski acara study tour belum usai.
Saat berjalan pulang melewati gang-gang sempit menuju rumah, Cia dan Pandu mendadak dihadang oleh seorang pria tua (Septian Dwi Cahyo) yang dikenal warga sekitar mengidap gangguan jiwa. Pria tersebut mengejar mereka sambil berteriak-teriak histeris, memaksa Cia dan Pandu berlari ketakutan hingga berhasil masuk ke rumah. Dari balik pintu yang terkunci, Cia mendengar pria tua itu terus berteriak di depan rumah mereka, melontarkan ancaman bahwa bahaya besar sedang mengintai mereka.Beberapa hari kemudian, Petra mengajak Agnes, Brina, Cia, dan Anya mendatangi lokasi TKP penemuan jasad anak-anak yang dikubur secara massal. Salah satu korban yang ditemukan ternyata anak perempuan yang hilang di wahana akuarium sebelumnya. Di tengah guyuran hujan deras, Agnes mencoba menggunakan kemampuan indera keenamnya untuk berinteraksi dengan arwah anak tersebut demi mencari petunjuk. Namun, upaya itu gagal setelah Agnes mendadak terbayang trauma masa lalunya atas kecelakaan tragis yang menewaskan anaknya, Assa (Kathleen Thomas). Karena terguncang hebat, Agnes terpaksa menghentikannya dan pergi meninggalkan TKP.
Keesokan harinya, pria tua yang mengejar Cia dan Pandu mendadak muncul kembali di gang rumah. Namun, kali ini ia tampak ketakutan saat melihat kedatangan Agnes, Brina, dan Anya di rumah Cia. Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan. Berkat keahlian bela dirinya, Brina berhasil melumpuhkan pria tersebut dan langsung dibawa ke kantor polisi. Saat dimintai keterangan oleh Petra, Cia yakin bahwa pria tua itulah pelaku penculikan dan pembunuhan berantai yang turut mengincar adiknya, Pandu. Meski begitu, pihak kepolisian menegaskan perlunya penyidikan lebih lanjut demi menemukan bukti yang solid.
Tanpa mengkonfirmasi ke Petra, Agnes, Brina, atau Anya, Cia nekat menerbitkan berita di koran Daily Wave News yang menuding pria tua tersebut sebagai pelaku tunggal penculikan dan pembunuhan berantai anak-anak. Kabar sepihak itu langsung menjadi perbincangan panas di media sosial, televisi, serta koran. Imbas tuduhan gegabah Cia, redaksi Daily Wave News di bawah pimpinan Agnes langsung mendapat teguran keras dari jajaran direksi dan pihak kepolisian, karena sampai saat ini pria tua tersebut masih sebagai saksi, bukan tersangka.
Hasil investigasi mendalam justru mengungkap fakta mengejutkan dari kesaksian sang pria tua. Ia membeberkan bahwa penculik anak-anak tersebut sedang menjalankan ritual gaib dan mengikat perjanjian dengan iblis bernama Lara. Konon, sang iblis akan mengabulkan segala permintaan jika dipersembahkan tujuh nyawa, tujuh darah berbeda, dan tujuh tangkai bunga. Karena motif mistis tersebut dianggap tak masuk akal oleh kepolisian, Petra meminta bantuan Agnes untuk menerjemahkan fenomena ini secara rasional. Agnes, Brina, Cia, dan Anya pun bertekad bersatu demi membongkar identitas asli sang pemangsa anak-anak yang selama ini mengganggu para orang tua dan banyak orang.
Ketegangan berlanjut di kantor Daily Wave News saat Cia menerima paket misterius berisi bangkai hewan penuh dengan darah. Agnes bergerak cepat berkoordinasi dengan Petra untuk melacak sang pengirim. Petunjuk alamat menuntun Petra, Agnes, Brina, Cia, dan Anya ke sebuah mall yang telah lama terbengkalai. Namun, saat menyisir lokasi tersebut, mereka justru terperangkap dalam serangkaian teror mistis yang mengancam nyawa. Di tengah situasi yang kian mencekam, Cia menyadari kenyataan pahit jika Pandu telah ditargetkan menjadi korban berikutnya.
Berbekal kumpulan informasi yang terkumpul, mereka akhirnya berhasil menemukan sebuah rumah tua tak berpenghuni. Di tempat inilah Agnes kembali mengasah kemampuan indera keenamnya untuk membedah peristiwa masa lalu. Lewat penglihatannya, terungkap sebuah tragedi kelam. Seorang anak perempuan bernama Cindy (Javinada Della) telah menjadi korban kekerasan seksual dan grooming oleh ayah kandungnya sendiri, Sarno (Teuku Rifnu Wikana). Terungkap pula bahwa anak-anak yang diculik dan dibunuh merupakan teman-teman Cindy yang sempat melaporkan perbuatan bejat Sarno kepada guru dan ibunya Cindy yaitu Ibu Indah (Ruth Marin). Dari penglihatannya itu juga, Agnes berhasil mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Sarno serta jasad Cindy yang selama ini disembunyikan oleh Sarno. Mampukah Agnes, Petra, Brina, Cia, dan Anya menghentikan aksi biadab Sarno sebelum semuanya terlambat?
#Review:
Rumah produksi Sinemaku Pictures kembali hadir di tahun ini setelah hampir sembilan bulan absen tidak merilis film di bioskop, setelah hengkangnya Prilly Latuconsina dari jajaran direksi Sinemaku Pictures pada Januari tahun ini. Di bulan September ini, Sinemaku Pictures akhirnya merilis film horror terbaru berjudul MEMBURU PEMANGSA (2026) yang disutradarai oleh Umay Shahab. Film ini menjadi debut bagi Umay dalam menggarap film horror, setelah kemarin lebih dikenal sebagai sutradara film-film drama.
Harus diakui, premis film MEMBURU PEMANGSA (2026) terasa segar dan promising untuk genre horor-thriller Indonesia karena keberaniannya menggabungkan antara genre investigasi jurnalisme, aksi kriminal dan horror. Selain itu, film ini juga terbilang cukup unik karena menempatkan jurnalis perempuan sebagai penggerak utama cerita. Keputusan memindahkan fokus jurnalisme politik ke divisi kriminal Daily Wave News menjadi fondasi narasi yang solid untuk membangun nuansa serba terdesak, keputusasaan, dan kekacauan media di tengah terror pembunuhan berantai anak-anak. Saat memasuki babak pertengahan film, Umay Shahab memilih untuk menonjolkan elemen horror fantasi ala-ala superhero lewat karakter Agnes yang bisa melihat kejadian masa lalu. Treatment indera keenam yang divisualkan pun sudah seperti film-film superhero. Di babak pertengahan ini juga tempo cerita terlalu padat karena banyak sekali sub plot yang dihadirkan secara bersamaan, mulai dari konflik internal pers di Daily Wave News, investigasi kepolisian, trauma masa lalu Agnes, ritual gaib yang dilakukan Sarno hingga reveal masa lalu dari Sarno yang ternyata seorang pedofilia. Kelemahan lainnya yaitu konsep mistis dan gaib yang dihadirkan film ini menurutku jadi bertolak belakang dengan konsep investigasi kriminal rasional yang sejak awal berhasil dibangun dengan baik. Alhasil, penyelesaian sisi misteri yang menggunakan kekuatan ala superhero nya Agnes jadi serba instan untuk memecah teka-teki ketimbang murni hasil kerja keras investigasi jurnalistik kriminal. Logika keputusan para karakter saat nekat memasuki lokasi-lokasi berbahaya seperti mall terbengkalai dan gudang tersembunyi tempat Pandu disekap yang tanpa pengawalan ketat kepolisian jadi menghilangkan sisi realistis yang awalnya sudah dibangun dengan baik di awal film. Karakter Anya meskipun diperkenalkan sebagai bagian inti dari tim jurnalis Daily Wave News, tidak diberi porsi eksplorasi latar belakang maupun perkembangan emosi yang cukup. Jobdesk nya pun hanya sebatas mencari informasi dari sisi mistis tanpa adanya pengembangan berarti seperti pada karakter Agnes, Cia dan Brina. Elemen action yang dihadrikan film MEMBURU PEMANGSA (2026) patut diberi apresiasi. Performa Taskya Namya, Andri Mashadi dan tentunya Teuku Rifnu Wikana sangat intens dalam melakukan adegan action. Debut Umay dalam mengarahkan adegan action sudah bagus, bisa menangkap beberapa angle dengan baik. Namun saat adegan-adegan karakter yang terlempar, menurutku masih terlalu koreografi banget.
Dari segi jajaran pemain, performa ensemble cast nya patut diacungi jempol. Laura Basuki sebagai Agnes tampil matang dalam membawakan karakter pemimpin redaksi yang tak hanya tegas, tetapi juga memikul beban trauma masa lalu yang amat berat. Chemistry antara Laura Basuki dengan tiga jurnalis mudanya yaitu Prilly Latuconsina, Taskya Namya, dan Yasamin Jasem terbangun dengan serius, dinamis dan natural. Kehadiran Andri Mashadi juga semakin memperlengkap dinamika cerita dalam film ini. Applause berikutnya juga harus penonton berikan pada Teuku Rifnu Wikana yang tidak pernah gagal dalam memerankan karakter antagonis di setiap film yang ia mainkan. Aura creepy seorang pedofil dan bengisnya karakter Sarno sangat meyakinkan.
Overall, film MEMBURU PEMANGSA (2026) tetap menjadi sebuah tontonan horor-thriller yang sangat berani, ambisius, sensitif dan menghibur. Meski masih terkendala di skenario dan eksekusi logika investigasinya, film ini berhasil menyajikan perpaduan isu sosial yang krusial dengan teror gaib yang mencekam. Film MEMBURU PEMANGSA (2026) layak mendapat apresiasi sebagai warna baru bagi perfilman horor Indonesia.
[7.5/10Bintang]


0 comments:
Post a Comment