#Description:
Title: It Was Just an Accident (2025)
Title: It Was Just an Accident (2025)
Casts: Vahid Mobasseri, Mariam Afshari, Ebrahim Azizi, Hadis Pakbaten, Majid Panahi, Mohammad Ali Elyasmehr, Delnaz Najafi, Afssaneh Najmabadi, Georges Hashemzadeh
Director: Jafar Panahi
Studio: Jafar Panahi Productions, Arte France Cinema, Memento Distribution, NEON
#Synopsis:
Pada suatu malam, pasangan suami istri beserta anak perempuannya sedang dalam perjalanan menuju rumah dengan mengendarai mobil. Di tengah perjalanan mobil mereka mogok usai tak sengaja menabrak seekor anjing. Beruntung, mobil tersebut berhenti tak jauh dari sebuah bengkel yang sudah tutup. Karena tak mengerti soal mesin mobil, sang suami ditolong oleh seorang pengendara motor yang merupakan pekerja di bengkel tersebut.
Sambil menunggu mobilnya diperbaiki, sang istri dan anaknya masuk ke bengkel untuk izin ke toilet. Sementara itu, sang suami diminta untuk membawakan tool box yang ada di dalam bengkel. Ketika sedang mencari tool box tersebut, karyawan lain yang ada di sana yaitu Vahid (Vahid Mobasseri) mendengar suara langkah kaki palsu dari pria itu berkeliling bengkel. Suara tersebut langsung mengingatkan Vahid terhadap apa yang terjadi beberapa tahun silam saat dirinya disekap dan disiksa oleh petugas penjara gara-gara bertentangan dengan rezim pemerintahan di Iran. Dengan bermodalkan suara langkah dari kaki palsu, Vahid sangat yakin jika pria tersebut adalah Eqhbal (Ebrahim Azizi), petugas yang menyiksanya sambil matanya ditutup. Setelah selesai diperbaiki, pasangan suami istri dan anaknya langsung pulang menuju rumah mereka. Di belakang, diam-diam Vahid mengikuti mobil tersebut untuk memastikan tempat tinggal pria tadi.
Keesokan harinya, Vahid nekat membuntuti pria yang dianggapnya sebagai Eqhbal kemanapun dia pergi. Saat terlihat pria itu sendirian, Vahid langsung menculiknya dan membawa pergi jauh dari kota. Rupanya Vahid membawa pria tersebut ke gurun pasir dan akan menguburnya sebagai balas dendam atas apa yang terjadi di masa lalu. Namun pria tersebut mengaku tidak mengenal Vahid dan bukan orang yang dimaksud. Sambil berteriak, pria itu meyakinkan Vahid salah orang. Hal tersebut diperkuat dengan adanya luka lecet yang masih baru di bagian kaki yang diamputasi dan dijadwalkan untuk pemeriksaan ke dokter di hari itu. Vahid yang awalnya sangat yakin bahwa pria tersebut adalah Eghbal jadi ragu dan membawanya kembali dari liang kubur dan dimasukkan ke mobil van nya. Untuk memperkuat keyakinannya, Vahid mendatangi rekannya yang dahulu sama-sama ikut disekap oleh rezim pemerintah yaitu Salar (Georges Hashemzadeh) yang kini sudah hidup tenang dan membuka usaha toko buku.
Saat mengetahui Vahid menyekap seorang pria di mobil van nya membuat Salar terkejut. Ia tak ingin berurusan dan terlibat lagi dengan siapapun demi keamanan dirinya. Salar pun berusaha membujuk Vahid agar melepaskan pria itu jika meragukan identitasnya, namun Vahid menolaknya. Salar kemudian mengarahkan Vahid untuk bertemu rekannya, Shiva (Mariam Afshari) sesama penyintas dari aksi penyekapan dan dipercaya bisa mengenali petugas yang bernama Eghbal tersebut. Setibanya di sana, Shiva sedang disibukkan sebagai fotografer untuk calon pasutri yang akan segera menikah yaitu Goli (Hadis Pakbate) dan Ali (Majid Panahi). Awalnya Shiva menolak membantu Vahid karena harus membuka luka lama di masa lalu, namun karena Goli mendengar obrolan Shiva dengan Vahid, ia pun tersulut emosi karena Goli juga salah satu dari ratusan orang yang sempat disekap dan diancam oleh rezim pemerintah Iran. Ali pun terpaksa menuruti keinginan calon istrinya itu untuk menyelidiki sekaligus membuktikan jika pria yang disekap Vahid adalah Eqhbal. Saat mencium aroma tubuh dari pria tersebut, Shiva pun cukup yakin jika itu adalah Eqhbal, karena aromanya sangat mirip. Sebelum melakukan aksi balas dendam, Shiva ingin memastikan identitas pria tersebut dengan cara menginterogasinya. Jika benar itu adalah Eqhbal, ia sangat setuju dengan keputusan Vahid untuk menguburnya hidup-hidup.
Shiva kemudian mengajak Vahid, Goli dan Ali untuk menemui rekannya yang sesama penyintas penyekapan rezim pemerintah Iran yaitu Hamid (Mohammad Ali Elyasmehr) untuk mengabari jika Eqhbal sudah ditemukan. Shiva juga turut membeli obat bius untuk diberikan pada pria yang diduga Eqhbal tersebut agar bisa lebih lama mereka sekap di mobil van. Saat Hamid datang, ia langsung emosi dan ingin segera membunuh pria tersebut. Mobil van kemudian berhenti di area parkir sambil menentukan nasib si pria yang mereka sembunyikan di dalam peti. Di saat yang bersamaan, polisi yang berjaga di sana curiga dengan mobil van milik Vahid dan mendatanginya. Beruntung, mereka berhasil lolos setelah Ali memberikan uang sogokan agar polisi tersebut pergi.

Setelah itu, mereka berlima memutuskan untuk kembali ke gurun tempat dimana Vahid sudah menyiapkan liang kubur untuk pria yang diduga Eghbal. Dalam perjalanan menuju ke sana, telepon milik pria itu bergetar beberapa kali. Saat Vahid mengangkat telepon, terdengar suara tangisan anak perempuan yang meminta ayahnya cepat pulang karena ibunya pingsan. Awalnya Hamid curiga jika panggilan telepon tersebut jebakan dari polisi, namun Vahid, Shiva, Goli dan Ali akhirnya memutuskan datang ke rumah pria itu. Setibanya di sana, mereka langsung membawa istri dari pria itu yang tak sadarkan diri ke rumah sakit. Sang anak perempuan yaitu Nilufer (Delnaz Najafi) sangat berterima kasih pada Vahid dan yang lainnya karena sudah mengantar sang ibu yang hamil tua ke rumah sakit. Sementara itu, Hamid memutuskan pergi meninggalkan Vahid dan yang lainnya gara-gara menolong keluarga dari pria yang diduga Eghbal tersebut.
Setelah ibunya Nilufer melahirkan, Vahid, Shiva, Goli dan Ali mengumpulkan uang tunai untuk biaya persalinan sang ibu di rumah sakit. Setelah itu, Goli dan Ali memutuskan pergi meninggalkan Vahid dan Shiva karena esok hari mereka akan melangsungkan pernikahan. Setelah semuanya selesai, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan dan memutuskan apa yang akan dilakukan pada pria yang mereka sekap di mobil van.
#Review:
Sutradara senior asal Iran yang terkenal kontroversi yaitu Jafar Pahani kembali hadir dengan film terbarunya yang berjudul IT WAS JUST AN ACCIDENT (2025). Film ini berhasil memenangkan kategori puncak di Cannes International Film Festival ke-78 serta sukses masuk nominasi Best International Feature di Golden Globes 2026 dan dipastikan akan masuk nominasi juga di Academy Awards 2026 sebagai perwakilan dari Perancis.
Sepak terjang sutradara Jafar Panahi dengan film-filmnya selalu menjadi bahan perbincangan dan menimbulkan reaksi keras dari pemerintah Iran. Sang sutradara dianggap melakukan propaganda dan kritik terlalu keras terhadap sistem politik dan pemerintahan di sana. Gara-gara hal tersebut, film-filmnya selalu diboikot oleh negaranya sendiri hingga dikenakan sanksi larangan pembuatan film, skenario dan interview apapun selama 20 tahun lamanya. Namun dirinya tak pernah takut terhadap semua ancaman tersebut. Kontroversi dan karya-karya dari Jafar Panahi merupakan simbol perjuangan kebebasan dalam berekspresi. Bagi dunia internasional, ia bagaikan pahlawan yang berani menyuarakan berbagai keresahan di negaranya. Namun bagi pemerintah Iran, ia dianggap sebagai pembangkang dengan menggunakan media film sebagai senjata politik melawan pemerintahan.
Untuk segi cerita, film IT WAS JUST AN ACCIDENT (2025) mengeksplorasi multiple genre yaitu drama, kriminal, thriller kemudian dipadukan juga dengan komedi di dalamnya. Sebuah kombinasi genre yang awalnya terasa tricky, namun siapa sangka, Panahi berhasil memadukannya secara cerdas dan brilian. Paruh awal film, disuguhkan dengan cerita yang langsung engage dan meningkatkan rasa penasaran penonton. Dengan hanya bermodalkan suara langkah kaki saja, film ini berhasil menciptakan rasa trauma yang menghantui para karakter dan juga penontonnya. Setelah itu, plot berjalan semakin asyik dengan konsep semi roadtrip yang penuh kejutan tak terduga. Setiap moment yang dilalui kelima diiringi komedi sesuai situasi yang spontan tapi cerdas. Tak lupa juga, Panahi menyajikan kritik sosial seperti praktek sogokan, mendobrak larangan buka hijab untuk perempuan Iran hingga birokrasi berbelit. Semuanya tersaji dengan gamblang sesuai realita. Kejutan selanjutnya dihadirkan saat Panahi menyajikan potret empati dari keempat karakter saat menghadapi istri dan anak dari pria yang mereka culik. Memasuki babak akhir film, cerita kembali ke jalur thriller dengan eksekusi sederhana melalui dialog ketiga karakter namun intensitasnya sangat menegangkan. Sisi humanisme dalam diri manusia juga akhirnya dimunculkan dan memberikan pelajaran berharga pastinya kepada penonton.
Untuk jajaran pemain, kelima karakter utama di film IT WAS JUST AN ACCIDENT (2025) tampil sangat luar biasa dalam memerankan perannya masing-masing. Setiap dialog spontan dan keputusan yang mereka ambil sangatlah chaos, namun hal tersebut menjadikan penampilan mereka semua jadi realistis dan natural. Adegan long take saat mereka beradu pendapat di gurun pasir untuk menentukan langkah selanjutnya dieksekusi sangat memukau dengan didukung oleh dialog yang berbobot, kualitas akting para aktornya kemudian pergerakan kamera dan blocking pemainnya.
Overall, film IT WAS JUST AN ACCIDENT (2025) berhasil menyajikan kombinasi antara thriller, kriminal dan komedi dengan cara yang cerdas ditengah batasan dan aturan rezim pemerintah Iran terhadap sutradaranya. Salah satu film terbaik yang aku tonton di tahun ini! Memukau!
[9.5/10Bintang]






0 comments:
Post a Comment