#Description:
Title: Esok Tanpa Ibu - Mothernet (2026)
Casts: Ali Fikry, Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, Bima Sena, Aisha Nurra Datau
Director: Ho Wi Ding
Studio: Base Entertainment, Beacon Film, Refinery Media, Singapore Film Commission, IMDA
#Synopsis:
Pak Hendi (Ringgo Agus Rahman), Ibu Laras (Dian Sastrowardoyo) dan anak semata wayang mereka yaitu Rama (Ali Fikry) memutuskan pindah dari Jakarta ke wilayah pinggiran kota bernama Cendana demi mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Di sana, Pak Hendi dan Ibu Laras juga turut mengembangkan project Flower Tower bersama perusahaan yang mereka kelola bernama ESOK.
Pindahnya dari kota ke wilayah pinggiran membuat Rama harus beradaptasi lagi dengan lingkungan dan teman-teman baru. Di usianya yang beranjak remaja, Rama memilih menghabiskan waktu dengan gadget dan bermain game favoritnya. Pak Hendi dan Ibu Laras terkadang merindukan kebersamaan dengan Cimot, panggilan sayang mereka untuk Rama sedari kecil. Saat waktu senggang, Ibu Laras selalu menyempatkan waktu untuk bisa ngobrol dengan Rama. Hal tersebut berbanding terbalik dengan Pak Hendi yang merasa ada jarak dengan anaknya itu. Rama pun kini lebih nyaman ngobrol dan curhat dengan sang ibu ketimbang berbagi cerita dengan ayahnya.
Suatu hari, Rama terlihat murung, tidak semangat dan sering menghabiskan waktu di kamar setelah pulang sekolah. Karena khawatir, Ibu Laras mengajaknya berbicara dan Rama pun bercerita jika ia baru saja putus dengan pacarnya yang ada di Jakarta. Rama meminta sang ibu untuk tidak menceritakan hal ini pada siapapun termasuk ayahnya sendiri.
Saat akhir pekan, Ibu Laras dan Pak Hendi mengajak Rama untuk menjelajah hutan dan mendaki bukit. Mereka ingin memperlihatkan sesuatu yang tersembunyi di balik jembatan dan tebing kepada Rama. Selama menjelajah hutan dan berjalan menuju jembatan, Ibu Laras berusaha mencairkan suasana antara Pak Hendi dan Rama. Namun yang terjadi malah Pak Hendi lebih banyak menasehati dan ketus kepada anaknya itu. Ditengah perjalanan, mereka menyadari jika stok minuman sudah habis dan botol minum milik Rama tertinggal di mobil. Ibu Laras berinisiatif turun dari bukit untuk mengambil botol minum dan meninggalkan mereka berdua. Ibu Laras berharap suami dan anaknya itu bisa akur tanpa harus dibantu olehnya. Ketika sedang berjalan turun dari bukit, Ibu Laras mengalami sesak nafas dan kepalanya mulai pusing. Tak lama setelah itu, Ibu Laras terjatuh tak sadarkan diri. Notifikasi keadaan darurat otomatis terkirim dari smartwatch milik Ibu Laras ke Pak Hendi dan Rama. Mereka berdua kemudian berlari turun dari bukit dan langsung membawa Ibu Laras ke rumah sakit.
Selama proses perawatan, Pak Hendi dan Rama mau tak mau harus saling berkomunikasi di rumah. Meskipun terasa kaku dan berjarak, Pak Hendi berusaha menggantikan semua pekerjaan rumah tangga yang sering dilakukan Ibu Laras, termasuk mengurus berbagai keperluan Rama untuk sekolah. Sementara itu, Rama semakin merindukan ibunya yang selalu ada dan menjadi tempat untuk curhat selama ini. Rasa sesal perlahan mulai menghampiri Rama karena selama ini ia selalu merasa malu dan risih ketikan Ibu Laras sering membuat rekaman video keluarga untuk keperluan konten di sosial media. Untuk mengatasi kerinduannya, Rama jadi sering membuka sosial media ibunya sambil browsing mencari berbagai cara agar Ibu Laras dapat memberikan respon ketika sedang dijenguk olehnya.
Waktu terus berlalu. Kondisi Ibu Laras malah semakin memburuk. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak rumah sakit. Namun sayang, Ibu Laras akhirnya meninggal dunia. Kepergian Ibu Laras untuk selama-lamanya membuat Pak Hendi dan Rama sangat terpukul. Saat duka menyelimuti mereka berdua, Rama berinisiatif mengganti suara di AI Assistant gadget Spiko di rumah dan smartwatch nya dengan menggunakan suara dari mendiang ibunya. Dengan bantuan temannya yang mahir soal software dan teknologi yaitu Zyla (Aisha Nurra Datau), mereka menciptakan AI Assistant pribadi terbaru bernama I-BU (Dian Sastrowardoyo) dengan menggunakan suara dari Ibu Laras. Saat Rama pertama kali mencobanya, ia langsung senang sekaligus terharu karena bisa mendengar suara mendiang ibunya, meskipun dalam bentuk AI Assistant.
Seiring berjalannya waktu, Rama mulai bangkit dari dukanya berkat kehadiran AI Assistant I-BU. Hampir setiap hari dan setiap saat ia sering curhat, mengobrol dan mengerjakan tugas sekolah dengan I-BU. Karena merasa terbantu, Rama kemudian meminta bantuan lagi pada Zyla untuk upgrade AI Assistant I-BU. Di versi terbarunya ini, I-BU jadi semakin pintar dan semakin mengerti semua keinginan Rama. Di sisi lain, Pak Hendi yang awalnya tidak menyetujui soal AI Assistant I-BU tersebut, perlahan mulai membiasakan diri karena dapat mengobati kerinduan akan mendiang sang istri.
Dibalik kecanggihan AI Assistant I-BU yang dipakai oleh Rama dan Pak Hendi, tersimpan kekhawatiran dari teman sekelas Rama yaitu Robert (Bima Sena). Ia melihat Rama jadi kecanduan dan membuatnya tidak bisa lepas dari I-BU. Keadaan menjadi semakin kompleks saat Rama memaksa Zyla untuk upgrade lagi I-BU jadi semakin cerdas dengan bantuan arsip data dari harddisk serta ponsel peninggalan Ibu Laras. Setelah upgrade ke versi paling baru, AI Assistant I-BU jadi semakin pintar dan mampu mengenal lebih personal Rama dan juga Pak Hendi. Bahkan I-BU juga punya kemampuan untuk melindungi dan membuat Rama selalu bahagia setiap saat.
Melihat Rama yang semakin ketergantungan dan tak bisa lepas dari AI Assistant I-BU membuat Pak Hendi, Zyla dan Robert khawatir, karena kecanggihan teknologi apapun tidak akan pernah bisa menggantikan emosional dan manusia sekalipun. Bagaimana akhir cerita Rama dan Pak Hendi dalam menghadapi AI Assistant I-BU yang semakin luar biasa tersebut?
#Review:
Setelah tayang perdana di JAFF Jogja yang ke-20 pada Desember tahun lalu, film Indonesia terbaru produksi kolaborasi antara Indonesia, Malaysia dan Singapura berjudul ESOK TANPA IBU - MOTHERNET (2026) siap tayang di bioskop mulai 22 Januari 2026 mendatang.
Aku berkesempatan hadir pada acara Gala Premiere film ESOK TANPA IBU (2026) yang sukses digelar pada Senin, 19 Januari kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada kesempatan tersebut, sutradara Ho Wi Ding asal Malaysia mengungkapkan, proses syuting film ESOK TANPA IBU (2026) berjalan dengan lancar dan penuh suka cita. Meskipun sempat terkendala karena perbedaan bahasa, hal tersebut tak menjadi penghalang bagi mereka. Kolaborasi sutradara dan para pemain terjalin sangat profesional. Selama proses produksi, naskah cerita dan skenario tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang setiap kalimatnya diterjemahkan dengan detail agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi. Lebih lanjut, Ho Wi Ding juga merasa terhormat karena mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan aktor-aktor terbaik Indonesia saat ini seperti Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, Ali Fikry, Nurra Datau dan Bima Sena. Ia mengaku tidak menemukan kesulitan sama sekali saat mengarahkan para aktor bermain di film ini karena sudah berakting dengan sangat bagus.
Untuk segi cerita, film ESOK TANPA IBU (2026) rupanya bukan sekedar drama keluarga yang ditinggal pergi oleh salah satu anggotanya saja. Cerita dan skenario yang ditulis rame-rame oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, Melarissa Sjarief dan Arief Asshiddiq ini turut mengangkat fenomena teknologi Artificial Intelligence di era modern. Paruh awal film, plot keluarga Pak Hendi, Ibu Laras dan Rama sekilas mengingatkanku akan film KELUARGA CEMARA (2018) yang sama-sama ditulis oleh Gina S. Noer, tentang keluarga yang memutuskan berpindah dari kota ke desa. Di film ini, konflik yang terjadi datang dari hubungan berjarak antara ayah dengan anak laki-lakinya. Plot tersebut tersaji secara simple, meaningful dan relatable bagi sebagian penonton yang bernasib sama seperti karakter Cimot di film ini. Memasuki babak pertengahan, plot semakin mengharu-biru ketika sosok ibu pergi untuk selama-lamanya. Potret kehilangan sosok istri dan ibu pasti akan berdampak besar dalam ruang lingkup keluarga. Selain kesedihan, hilangnya karakter Ibu Laras di film ini juga langsung mengubah dinamika hubungan ayah dan anak secara signifikan.
Aku sangat suka bagimana tim penulis dan sutradara menyatukan drama keluarga dengan plot soal teknologi Artificial Intelligence dalam film ini. Berbagai kebiasaan manusia saat ini seperti mengabadikan banyak moment dengan konten video, berjam-jam scrolling sosial media, penerapan smart living dalam rumah tangga, pengunaan smartwatch dan aplikasi AI tersaji apa adanya sesuai dengan jaman sekarang. Menariknya lagi, film ESOK TANPA IBU (2026) juga menampilkan sisi negatif jika manusia terus ketergantungan terhadap kecanggihan teknologi AI dalam segala aktivitas. Pesan yang disampaikan tersebut dibuat sesederhana mungkin, sehingga akan mudah menyentuh perasaan penonton. Jujur, baru kali ini aku menonton film bertema teknologi tapi tidak trying too hard untuk ambisius, pamer kecanggihan efek visual atau chaos skala masif. Sang sutradara memilih jalur yang lebih grounded dan juga emosional.
Untuk jajaran pemain, tiga pemain utama film ESOK TANPA IBU (2026) tampil luar biasa. Apresiasi harus diberikan kepada Ali Fikry yang berhasil memerankan karakter Rama yang sangat kompleks. Range emosionalnya sukses membuatku terpukau. Kesedihan dan kesepian yang ia rasakan terdeliver dengan baik pada penonton. Chemistry kaku in very good way dengan Ringgo Agus juga duh! Definisi hubungan berjarak ayah dan anak yang terlalu nyata! Hahaha. Applause selanjutnya wajib diberikan kepada Dian Sastrowardoyo. Meskipun screentime secara visualnya tidak mendominasi, namun kehadiran Ibu Laras versi I-BU berhasil meyakinkan penonton jika itu adalah AI. Intonasi suara, gesture avatar dan gaya bicara saat menjadi I-BU emang AI banget! Selain itu, yang selalu menjadi signature dari sosok Dian Sastrowardoyo yaitu di setiap film yang dimainkan, ia selalu tampil cantik dan flawless, termasuk saat adegan tak sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit. Cantik banget! Hahaha. Scene stealer pemeran Robert yaitu Bima Sena juga patut diberi acungan jempol. Tektokannya dengan Rama, Pak Hendi selalu berhasil memecah tawa penonton.
Overall, film ESOK TANPA IBU (2026) berhasil memadukan drama keluarga tentang kehilangan dengan balutan kecanggihan teknologi AI secara emosional, menghibur sekaligus bikin haru! Jangan sampai terlewatkan!
[8.5/10Bintang]


0 comments:
Post a Comment