#Description:
Title: Empat Musim Pertiwi - Four Seasons In Java (2026)
Title: Empat Musim Pertiwi - Four Seasons In Java (2026)
Casts: Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, Hana Malasan, Hanna Aretha, Shofia Shireen, Iswadi Pratama, Hargi Sundari, Nagra Kautsar, Totos Rasiti, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Donikus Indarto, Ayub Antah, Stephania Shakila, Cut Mini, Putu Radith, Rasyid Albuqhory, Nunung Deni Puspitasari, Niken Ayu
Director: Kamila Andini
Studio: Forka Films
#Synopsis:
Setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun, Pertiwi Wardana (Putri Marino) memutuskan pulang ke kampung halamannya di sebuah desa terpencil di dekat kaki gunung Bromo, Jawa Timur. Namun sayang, kepulangan Pertiwi tidak disambut suka cita oleh para warga, termasuk Ayah (Iswadi Pratama) dan Ibu (Hargi Sundari) nya sendiri. Meskipun demikian, kepulangan Pertiwi disambut dengan hangat oleh mantan pacarnya, Bisma (Arya Saloka) yang kini sudah menikah dengan sahabatnya Pertiwi yaitu Niken (Hana Malasan). Selain Bisma, Pertiwi juga bertemu lagi dengan Mak Ira (Christine Hakim) yang sudah pensiun sebagai pekerja seks komersil dan menjadi pedagang makanan di tempat wisata gunung Bromo. Setelah bertemu dengan Bisma dan Mak Ira, Pertiwi menuju sebuah gubuk yang jauh dari desa untuk menemui sahabatnya, Kuntet (Dwika Pradnyana) yang terpaksa dipasung oleh para warga karena dianggap mengalami gangguan jiwa. Pertiwi pun langsung melepaskan Kuntet dan mengajaknya pergi dari sana.
Malam pertama tinggal di kampung halamannya, Pertiwi memutuskan tidak tinggal di rumahnya. Ia memilih untuk menyewa sebuah gudang terbengkalai untuk dijadikan tempat tinggal bersama dengan Kuntet. Setelah bertemu dengan Pertiwi, Kuntet pun perlahan mulai mengendalikan diri dan perlahan bisa berbicara secara normal. Keduanya pun mengenang masa-masa sekolah termasuk membahas kegemaran akan bidang sains. Setelah mendapatkan tempat tinggal, Pertiwi berencana ingin mencari pekerjaan di desa agar bisa menghasilkan uang. Berbekal kepintarannya di bidang sains semasa masih SMA, Pertiwi dan Kuntet merancang pembangkit listrik tenaga surya kecil-kecilan yang nantinya digunakan sebagai sumber listrik untuk tempat tinggal mereka.
Keesokan harinya, Pertiwi mendatangi kantor kecamatan untuk menemui Kepala Desa, Pak Fajar (Totos Rasiti). Pertemuan tersebut membangkitkan kembali trauma dan ketakutan masa lalu saat Pertiwi masih SMA. Kedatangan Pertiwi rupanya memicu penolakan dari mayoritas warga yang mendesak Pak Fajar agar mengusirnya akibat tragedi kelam masa lalu. Dalam pertemuan berikutnya, Pak Fajar menyarankan agar Pertiwi mencari pekerjaan dan menetap di desa tetangga saja demi menuruti kemauan warga. Hal ini tentu membuat Pertiwi kesal. Stigma buruk dari lingkungan sekitar ternyata belum hilang meskipun ia sudah menjalani hukuman penjara. Warga masih menyalahkannya atas tindakan membela diri dari percobaan pemerkosaan yang berujung pada tewasnya Ibnu (Putu Radith).Di sisi lain, Ayah Pertiwi berencana mencalonkan diri sebagai Kepala Desa yang baru. Namun, sang istri menentang niat tersebut karena terkendala biaya dan pendidikan suaminya yang hanya lulusan SMP. Sementara itu, Pak Fajar yang telah menjabat selama dua periode menjagokan Jonet (Nagra Kautsar) sebagai penerusnya. Jonet dipasangkan dengan Niken sebagai representasi calon pimpinan dari kalangan muda.
Seiring berjalannya waktu, trauma masa lalu terus menghantui Pertiwi. Semasa remaja, ia kerap dicap sebagai perempuan penggoda hanya karena dekat dengan Mak Ira yang saat itu bekerja di rumah bordil. Ia juga dicap perempuan murahan saat berpacaran dengan Bisma. Meski dipandang sebelah mata, Pertiwi tak ambil pusing. Ia membuktikan kemampuannya dengan selalu menjadi juara kelas dan meraih berbagai prestasi di sekolah. Kala itu, saat Pertiwi masih sekolah SMA, ia terpilih mewakili sekolah dalam ajang lomba sains tingkat nasional. Pak Fajar mendukung penuh dan memfasilitasi akomodasi Pertiwi selama lomba, begitu pula orang tuanya yang memaksa Pertiwi untuk ikut lomba karena tergiur imbalan beasiswa serta uang tunai. Sehari sebelum perlombaan, Pertiwi berangkat ke Jakarta didampingi Pak Fajar. Namun di tengah perjalanan, Pak Fajar menghentikan mobil di sebuah hotel dengan alasan beristirahat karena larut malam. Naas, saat tengah malam, Pertiwi terbangun dalam kondisi dilecehkan. Berkedok agenda lomba, Pak Fajar rupanya menjual Pertiwi kepada beberapa pria, lalu memberikannya piala palsu dan sebagian uang. Dalam perjalanan pulang, Pak Fajar mengancam akan membahayakan keluarga Pertiwi jika ia berani melapor.
Tahun demi tahun berlalu. Saat berjalan pulang menuju gudang pada suatu malam, Pertiwi melihat Raras (Hanna Aretha), seorang siswi SMA tunarungu, berdiri mematung sambil menatap ke atas. Saat mengikuti arah pandangnya, Pertiwi melihat sosok misterius bermata merah berdiri di balik pepohonan. Pertiwi merasa penampakan tersebut adalah firasat jika Raras mengalami trauma serupa dengan dirinya. Untuk membuktikannya, Pertiwi diam-diam mengawasi keseharian Raras. Di hari pertama, Pertiwi berhasil menyelamatkan Raras yang hampir dilecehkan oleh pemuda mabuk di pinggir jalan. Beberapa hari kemudian, Raras mengungkapkan jika kemarin ia dan adiknya dibius dan hampir diperkosa oleh beberapa pria asing saat orang tua mereka bekerja sebagai seniman kuda lumping di luar rumah. Informasi ini membuat Ibu Raras (Maryam Supraba) sangat terpukul dan merasa gagal melindungi kedua putrinya. Didampingi Pertiwi dan sang ibu, Raras memberanikan diri melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi.
Masalah lain menghampiri ketika lapak jualan Mak Ira terancam digusur aparat desa karena dituduh sebagai tempat prostitusi. Pertiwi dan Kuntet pun mengajak Mak Ira tinggal sementara di gudang mereka. Tidak berhenti di situ saja, polisi mendadak mendatangi gudang Pertiwi atas dugaan penyediaan tempat tinggal dan listrik ilegal. Namun, Pertiwi dengan sigap menunjukkan dokumen-dokumen resmi yang sudah ia persiapkan dari jauh hari. Kejadian ini kian meyakinkan Pertiwi jika ada kebusukan sistematis di desanya.
Pertiwi mulai menyelidiki rekam jejak Pak Fajar selama dua periode menjabat. Program "Desa Bebas Prostitusi" yang digagas Pak Fajar dulu memang berhasil menggusur rumah bordil. Namun, lokasi-lokasi tersebut kini bertransformasi menjadi kedai kopi dan tempat karaoke yang menjual miras secara ilegal, bahkan menjadi kedok baru praktik prostitusi. Di sana, Pertiwi bertemu kembali dengan kawan lamanya, Garong (Ayub Antah), yang kini menjadi pengawal Pak Fajar dan Jonet. Melalui Garong, Pertiwi membongkar berbagai rahasia kelam Pak Fajar. Sebagai imbalan, Pertiwi berjanji membantu Garong pulang ke Papua setelah tahu ibunya masih hidup di sana.
Mengetahui niat busuk Pak Fajar yang sengaja mencalonkan Jonet demi mengamankan posisinya, Pertiwi bertekad menghentikannya dengan rahasia besar yang selama ini ia simpan dengan rapat. Namun, situasi mendadak kacau ketika Garong ditemukan tewas mengenaskan di tengah hutan Pertiwi ditangkap polisi untuk dimintai keterangan karena menjadi orang terakhir yang berinteraksi dengan Garong. Setelah ditahan semalaman, Pertiwi diizinkan keluar dari tahanan berkat bantuan rekannya, Wanda (Stephania Shakila). Keduanya lalu kembali pulang ke restoran milik Ibu Rahma (Cut Mini), mantan narapidana yang kini menyediakan lapangan kerja bagi sesama mantan narapidana perempuan. Sepulang dari sanalah Pertiwi mulai menyusun strategi besar untuk kembali ke desa, menuntaskan dendam sekaligus melawan semua trauma masa lalu yang selama ini menghantuinya. Bagaimana nasib Pertiwi selanjutnya?
#Review:
Salah satu sutradara terbaik Indonesia saat ini yaitu Kamila Andini kembali hadir dengan membawa film terbarunya yang berjudul EMPAT MUSIM PERTIWI (2026). Film ini terpilih secara resmi menjadi perwakilan Indonesia untuk berkompetisi masuk seleksi kategori Best International Feature di Academy Awards ke-99 yang siap digelar pada bulan Maret tahun depan.
Menggunakan judul film yang puitis, bold dan keren, awalnya aku kira film FOUR SEASONS IN JAVA (2026) ini akan membahas seputar anomali iklim cuaca yang tiba-tiba terjadi di Pulau Jawa, tapi ternyata tidak seperti itu hahaha. Tanpa membaca sinopsis, mencari informasi dan menonton trailernya sama sekali, aku langsung nonton saja film ini dua faktor utama yaitu Kamila Andini dan juga Putri Marino. Untuk segi cerita, film FOUR SEASONS IN JAVA (2026) ternyata mengisahkan perjalanan hidup dari Pertiwi Wardana, seorang penyintas kekerasan seksual yang harus menjalani hukuman penjara selama 20 tahun akibat aksi bela diri yang menewaskan pelakunya. Setelah bebas, Pertiwi bukannya pulang mendapat kedamaian, ia harus berhadapan dengan alienasi sosial dari warga desa, trauma masa lalu yang tidak pernah pulih dan sistem patriarki lokal yang terus melanggengkan kekerasan berbasis gender. Di balik plot utamanya yang menyingkap kebobrokan aparatur desa dan dinamika sosial masyarakat lokal, film ini bertumpu pada metafora empat musim sebagai fase kehidupan psikologis dan spiritual dari karakter Pertiwi itu sendiri. Siklus empat musim diproyeksikan ke dalam bentang alam Gunung Bromo untuk menggambarkan pergantian kondisi batin dari karakter Pertiwi.
- Musim Gugur merepresentasikan keruntuhan masa muda Pertiwi yang direnggut oleh serangkaian kekerasan seksual hingga memunculkan trauma mendalam.
- Musim Dingin merujuk pada 20 tahun masa hukuman serta dinginnya penerimaan warga desa ketika Pertiwi pulang.
- Musim Semi menggambarkan harapan yang muncul dari perlawanan serta solidaritas sesama korban saat Pertiwi bertemu dengan para mantan narapidana perempuan.
- Musim Panas menjadi simbol puncak pembebasan batin dan pembalasan atas ketidakadilan yang selama ini dirasakan oleh Pertiwi.
Selain itu, Kamila Andini sangat cerdik dalam menyusun setiap kepingan-kepingan cerita kelam yang menimpa Pertiwi di masa lalu. Treatment flashback dari Pertiwi disajikan dalam bentuk tayangan televisi, rekaman video dan siaran radio yang sangat efektif menciptakan atmosfer disturbing sekaligus creepy pada penonton. Yang tak kalah menarik, elemen surealisme juga turut dihadirkan sang sutradara di beberapa titik cerita. Kemunculan wujud misterius bermata merah seperti manifestasi dari rasa trauma dari masa lalu yang terus menghantuinya. Fenomena UFO menegaskan rasa keterasingan ekstrim yang dirasakan para korban, sebuah pengalaman traumatis yang begitu ganjil lalu tidak diakui kejadian tersebut seolah seperti cerita UFO yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Memasuki babak akhir film, Kamila Andini memberikan kejutan plot twist yang tak terduga. Aku dan penonton lain langsung melontarkan sumpah serapah, F'CK THEM ALL terhadap semua pelaku kekerasan seksual dalam film ini. Sungguh biadab! Ih gila!
Untuk jajaran pemain, sang sutradara juga sangat berhasil mengeksplor kualitas setiap pemain dalam film FOUR SEASONS IN JAVA (2026) ini. Putri Marino dengan gestur yang terukur, tatapan mata yang menyimpan duka mendalam, serta ketenangan luar biasa dalam menyembunyikan trauma selama 20 tahun lamanya, ia membawakan karakter Pertiwi bukan sekadar sebagai korban yang meratap, melainkan sosok penyintas yang tangguh dan bermartabat. Empat fase psikologis yang diproyeksikan dari kerapuhan emosional saat menghadapi penolakan dingin warga desa, kehangatan yang tulus ketika berinteraksi dalam bahasa isyarat dengan Raras dan melindungi Kuntet, hingga ketegasan tanpa ragu saat berdiri menantang struktur kekuasaan Pak Fajar. Performa gemilang ini semakin menegaskan kapasitas Putri Marino sebagai salah satu aktris Indonesia terbaik di generasinya, yang mampu menggerakkan narasi berat dengan empati mendalam dan kepiawaian seni peran tingkat tinggi. Aktris senior Christine Hakim yang mendapat peran nyentrik dengan ledakan-ledakan emosi serta sumpah serapahnya sukses mencuri perhatian penonton. Penampilan berkesan selanjutnya datang dari Hanna Aretha yang memerankan karakter tunarungu. Keterbatasan Raras dalam bersuara adalah cerminan dari tidak tersedianya ruang aman bagi perempuan korban kekerasan di dalam struktur patriarki desa, di mana kesaksian mereka selalu diabaikan. Adegan ketika Raras berani menceritakan peristiwa memilukan yang menimpa dirinya sukses membuatku sakit hati. Sang sutradara dengan gamblang bercerita secara deskriptif yang bertujuan agar penonton bisa merasakan apa yang Raras rasakan secara organik. Keputusan akhir cerita yang sengaja dibuat seperti itu menurutku masih bisa diterima dengan baik, karena dalam kenyataan pun satu-satunya jalan untuk mendapat keadilan secara cepat dan efektif ya menempuh jalur tersebut. Sebuah ide mainstream yang tak disangka dilakukan juga oleh seorang Kamila Andini. Hahaha.
Untuk urusan visual, film FOUR SEASONS IN JAVA (2026) berhasil memanfaatkan dengan maksimal Gunung Bromo dan lautan pasirnya sebagai latar cerita yang relevan dengan kondisi para warga desa. Tidak sekedar cantik-cantikan saja, setiap sudut pemandangan dalam film ini memiliki makna mendalam bagi para karakter. Moment-moment metafora dan surealisme nya juga masih bisa dinikmati oleh penonton secara general. Scoring musik karya Ricky Lionardi dan Bottlesmoker duh, terasa magical dan menghipnotis di setiap babak yang dilalui oleh Pertiwi. Sound design saat trauma-trauma Pertiwi "merasuki" layar televisi dan radio sukses membuatku merinding!
Overall, sebagai sebuah karya sinematik yang utuh, film FOUR SEASONS IN JAVA (2026) tidak sekadar hadir sebagai tontonan drama biasa, melainkan sebuah pernyataan sikap yang tegar terhadap ketidakadilan sistemik dan trauma kekerasan berbasis gender. Keberhasilan Kamila Andini dalam merajut bentang alam Bromo yang megah namun dingin dengan metafora empat musim serta realisme magis menjadikan film ini salah satu pencapaian estetis dan naratif tertinggi dalam perfilman Indonesia di tahun ini. Brilliant!
[10/10Bintang]


