[Review] Lobang Buaya, 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah: Mengungkap Misteri Pembantaian Oleh Sosok Misterius!

 

#Description:
Title: Lobang Buaya - The Hole, 309 Days to the Bloodiest Tragedy (2026)
Casts: Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, Mathias Muchus, Abah Qomar, Royhan Hidayat, Egy Fedly, Fauzan Nasrul, Muhammad Abe, Pritt Timothy, Silvester Rangga
Director: Hanung Bramantyo
Studio: Adhya Pictures, Dapur Films, EST N68


#Synopsis:
Letnan Soegeng (Baskara Mahendra), seorang perwira militer asal Jakarta, ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian tragis yang menimpa para aparat dan pejabat di kampung halamannya, Desa Lobang Buaya. Soegeng merupakan anak angkat mantan kepala desa yaitu Pak Sukarya (Mathias Muchus). Di tengah kondisi kesehatannya yang terus menurun, Pak Sukarya meminta Soegeng menikahi putri kandungnya, Arum (Carissa Perusset), yang merupakan adik tiri Soegeng. Meski sempat menolak, Soegeng dan Arum akhirnya menikah demi menuruti keinginan sang ayah.
Setibanya di Desa Lobang Buaya, Letnan Soegeng langsung melakukan olah TKP dan investigasi bersama aparat kepolisian setempat, yaitu Haryono (Muhammad Abe), Adi (Fauzan Nasrul), Latief (Silvester Rangga) dan Tama (Rafael Rindang). Penyelidikan tersebut mengungkap sejumlah kejanggalan. Jasad para korban mengalami luka berat di bagian punggung, terdapat luka sayatan yang membentuk pesan kritik sosial serta angka 309 dan waktu kematian selalu terjadi pada tanggal 30 setiap bulannya.
Situasi di Desa Lobang Buaya kian mencekam setelah Kyai Sulaiman (Abah Qomar), pimpinan pondok pesantren setempat, turut ditemukan tewas tepat pada tanggal 30. Keresahan warga pun semakin meningkat di tengah maraknya rumor teror sosok wanita berpunggung bolong yang gentayangan membantai para pejabat dan aparat desa. Di sisi lain, tidak sedikit warga yang mencurigai adanya keterlibatan anggota Partai Komunis yang sengaja menyebarkan teror di desa mereka. Melihat kondisi Desa Lobang Buaya yang semakin tidak kondusif, Soegeng meminta Arum membawa ayah mereka ke Jakarta. Namun, Pak Sukarya menolak karena tak ingin meninggalkan rumah dan juga harta bendanya. Selama merawat sang ayah, Arum kerap mengalami kejadian aneh dan teror penampakan yang terus membayanginya. Arum awalnya menganggap semua itu sekadar halusinasi. Namun karena gangguan tersebut semakin intens, perlahan mulai mengacaukan mental Arum.
Sementara itu, Soegeng mendapat laporan bahwa warga menemukan beberapa lembar kertas dengan tulisan berbahasa Arab. Warga meyakini tulisan tersebut merupakan mantra sihir untuk memanggil sosok wanita berpunggung bolong yang selama ini meneror desa. Karena penasaran, Soegeng membawa lembaran tersebut ke Kyai Yahya (Pritt Timothy), guru mengaji masa kecilnya. Dari hasil penerjemahan, terungkap bahwa tulisan itu mengikat perjanjian dengan Jin Ifrit. Penyelidikan polisi kemudian mengarah pada Suradji (Khivano Iskak), seorang dukun yang tinggal di tengah hutan.
Ketika Suradji berhasil ditangkap Soegeng, ia menjelaskan jika teror yang terjadi di Desa Lobang Buaya adalah hasil ajian Rogo Sukmo demi membalas dendam atas kematian tragis calon istrinya, Ningsih (Anya Zen). Sepuluh bulan yang lalu, Suradji, Ningsih, dan kelompok tari ronggeng mereka kerap diundang Pak Sukarya untuk menghibur warga Desa Lobang Buaya. Suatu malam, usai pementasan, Pak Sukarya membujuk Suradji agar menyerahkan Ningsih dan para penari wanita dengan imbalan uang besar. Karena Suradji menolak keras, Pak Sukarya memerintahkan anak buahnya untuk menyingkirkan Suradji dari desa. Ningsih dan rekan-rekannya lantas disekap dan diperkosa secara paksa. Depresi akibat kekerasan seksual dan penyekapan, teman-teman Ningsih memilih mengakhiri untuk bunuh diri.
Ningsih yang menyimpan dendam kemudian berpura-pura tunduk hingga bersedia dinikahi oleh Pak Sukarya. Setelah hidup bergelimang harta dan berhasil mendapatkan kepercayaan, Ningsih melancarkan aksi pembunuhan terhadap Pak Sukarya. Sayang, rencananya gagal. Ia sempat melarikan diri ke pondok pesantren untuk meminta perlindungan Kyai Sulaiman, namun anak buah Pak Sukarya berhasil menangkapnya kembali. Ningsih diseret ke rumah dan disiksa secara brutal hingga tewas oleh Pak Sukarya. Jasadnya dibuang begitu saja ke dalam lubang galian yang ada di tengah hutan.
Terpukul oleh kematian sang kekasih, Suradji nekat mendalami ilmu hitam. Melalui mantra sihir beraksara Arab dan persekutuan dengan Jin Ifrit, ia menguasai ajian Rogo Sukmo untuk memanggil arwah Ningsih demi menuntut balas. Tak hanya menyasar Pak Sukarya dan para kroninya, Suradji juga melampiaskan amarah kepada warga Desa Lubang Buaya yang selama ini bungkam dan menutup mata atas tragedi keji tersebut. Puncaknya, Suradji dan arwah Ningsih merancang aksi pembalasan dendam yang jauh lebih besar, yang dijadwalkan tepat pada hari ulang tahun Ningsih sekaligus peringatan satu tahun rencana pernikahan mereka yaitu tanggal 30 September 1965. Lantas, bagaimanakah nasib warga Desa Lubang Buaya selanjutnya? Apakah malapetaka besar ini memang balasan yang pantas bagi mereka?


#Review:
Sutradara Hanung Bramantyo kembali meramaikan bioskop melalui proyek ambisiusnya, LOBANG BUAYA: 309 HARI SEBELUM TRAGEDI BERDARAH (2026). Mengambil latar waktu sepuluh bulan sebelum peristiwa kelam G30S/PKI pada tahun 1965, Hanung bersama penulis skenario Haqi Achmad menggunakan pendekatan fiksi yang memadukan genre investigasi kriminal, drama, dan horor didalamnya.


Menariknya, proyek ini awalnya direncanakan sebagai remake film propaganda PENUMPASAN PENGKHIANATAN G30S/PKI (1984) karya sutradara legendaris Arifin C. Noer. Ide tersebut sudah digagas Hanung sejak beberapa tahun lalu, bahkan ia telah menyusun naskah yang diberi judul SEPTEMBER 9. Namun, setelah melakukan riset mendalam bersama para sejarawan dan sponsor serta bersiap memasuki tahap produksi, Hanung mengaku mendapat banyak intervensi untuk membatalkan proyek tersebut. Kekhawatiran akan munculnya penolakan dari berbagai pihak akhirnya mendorong Hanung mengalihkan konsep proyek ini ke dalam baluran cerita fiksi dengan balutan genre horror.
Untuk segi cerita, film LOBANG BUAYA (2026) ini dibuka dengan cerita seorang Letnan Perwira Militer yang diminta untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai di sebuah desa. Jasad para korban yang ditemukan memiliki luka sayatan yang memuat kata-kata kritik sosial di tubuh mereka. Ide ini langsung mengingatkanku akan filmnya Joko Anwar, GHOST IN THE CELL (2026) yang sama-sama mengusung Seven Deadly Sins. Teka-teki dan investigasi kriminal di babak awal film sudah dibangun dengan cukup baik. Ditambah lagi, Hanung menambahkan unsur sejarah Indonesia di beberapa titik cerita. Memasuki paruh pertengahan film, film LOBANG BUAYA (2026) kemudian bergeser ke ranah horror dengan menampilkan sosok misterius berwujud perempuan berpunggung bolong yang gentayangan di desa. Pada bagian ini, elemen horror nya memang terasa sangat dipaksakan untuk ada. Eksperimen sang sutradara yang menjadikan ide G30S/PKI ke arah fiksi lalu dibalut horror penuh jump scared khas film-film horror lokal, kemudian dibarengi dengan scoring yang too much membuat elemen kriminal investigasi yang sudah diusung dengan baik di awal film semakin luntur. Memasuki paruh akhir film, plot kemudian memberi kejutan tentang masa lalu dari para karakter yang tinggal di Desa Lobang Buaya. Plot twist yang disajikan secara "disuapin banget" lewat adegan flashback benar-benar meruntuhkan semua teka-teki yang sudah disusun oleh penonton. Banting setir genre untuk yang kesekian kalinya kembali dilakukan oleh Hanung Bramantyo lewat film LOBANG BUAYA (2026) ini. Motif kritik sosial dan ketegangan politik era lampau yang sejatinya bisa menjadi latar belakang yang kokoh berakhir sekadar menjadi sekedar gimmick semata. Akibat perpaduan genre yang terlalu memaksakan diri ini, pacing cerita menjadi timpang satu sama lain. Selain terlihat dengan jelas dari sisi cerita, inkonsistensi juga turut terlihat dari segi bahasa dan wardrobe yang digunakan film ini. Warna seragam prajurit militer, postur para Letnan dan aparat kepolisian tidak disesuaikan dengan sejarah. Di satu sisi, film ini memang fiksi, tapi di sisi lain, film ini juga secara sadar "menyenggol" peristiwa kelam G30S/PKI di beberapa bagian, termasuk menampilkan cuplikan film karya Arifin C. Noer di babak akhir film. Tingkat akurasi dan riset yang sudah dilakukan jadinya sia-sia. Belum lagi dialog antar pemain yang sesekali terlihat kaku dan formal, namun tak jarang juga keceplosan berbahasa dengan aksen modern. Terlepas dari segala kekurangan tersebut, naskah yang ditulis oleh Haqi Achmad sejatinya menyimpan potensi dialog-dialog tajam, terutama saat menyoroti kemunafikan para pejabat desa dan kepasifan warga dalam menghadapi kejahatan di sekitar mereka.


Untuk jajaran pemain, penampilan Baskara Mahendra dan Carissa Perusset masih bisa ditingkatkan lebih maksimal lagi. Berperan sebagai pasutri dari kalangan militer tidak terpancar kuat dari karakter Soegeng dan Arum. Penampilan karakter villain yang diperankan Khivano Iskak menurutku masih terlihat trying too hard as a villain. Gesture sebagai dukun kurang believable. Penampilan yang membuatku pangling justru datang dari aktor senior Mathias Muchus. Perannya sebagai sosok kades jahat dan bejat sangat meyakinkan. Image protagonis yang selama ini selalu melekat padanya seketika hilang dalam film LOBANG BUAYA (2026) ini.
Untuk urusan visual, film LOBANG BUAYA (2026) memiliki penataan artistik berhasil menghidupkan landscape desa era lampau yang suram dan terisolasi, didukung oleh sinematografi yang lihai dalam menangkap setiap blocking dari para karakter. Efek visual saat adegan-adegan sadis pun surprisingly berhasil membuat penonton ngilu melihatnya. Overall, film LOBANG BUAYA (2026) menjadi sebuah eksperimen sinematik yang terasa "kegemukan" oleh ide. Hanung Bramantyo dan Haqi Achmad jelas memiliki visi yang besar untuk menghadirkan horor berlapis isu sosial-sejarah, namun eksekusinya yang kurang fokus membuat potensinya tidak tergali secara maksimal. Film ini tetap menghibur dan kaya akan ide, tetapi bagi penonton yang mengharapkan narasi yang utuh dan konsisten, percampuran genre yang terlalu ambisius ini justru menjadi kelemahan terbesarnya. Please Mas Hanung, terlalu kebanyakan film "banting setir genre" nya nih!


[6.5/10Bintang]