#Description:
Title: Penunggu Rumah Buto Ijo (2026)
Title: Penunggu Rumah Buto Ijo (2026)
Casts: Gandhi Fernando, Celine Evangelista, Valerie Thomas, Meryem Hasanah, Adnan Putri Djani, Pratito Wibowo, Arie Dwi Andika
Director: Achmad Romie
Studio: Creator Media, Maxstream Studios, Seru Juga Film Studio
#Synopsis:
Srini (Celine Evangelista) dan anaknya, Tisya (Meryem Hasanah) sering diganggu oleh entitas gaib yang ada di rumah mereka. Sosok gaib tersebut berpostur tinggi, besar, berwarna hijau gelap dan Srini menyebutnya Buto Ijo. Berbagai cara ia lakukan untuk mengusir Buto Ijo dari rumahnya. Namun sayang, setiap paranormal dan cenayang dan datang ke rumah, mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan Buto Ijo itu di rumahnya Srini. Mereka menganggap jika Srini dan Tisya hanya sekedar berhalusinasi saja.
Karena frustasi dan ingin membuktikan jika rumahnya berhantu, Srini kemudian meminta bantuan pada Ali Zayn (Gandhi Fernando), seorang konten kreator misteri sekaligus mantan pacarnya semasa sekolahnya. Srini memberikan tugas pada Ali untuk merekam semua aktifitas gaib yang terjadi di rumahnya. Ia ingin membuktikan jika rumahnya memang berhantu dan membantah semua tuduhan orang yang menganggap dirinya berhalusinasi. Srini juga siap membayar secara profesional Ali jika menyelesaikan pekerjaannya.
Karena kondisi keuangan yang sedang kekurangan dan harus segera membeli obat untuk ibunya, Ali pun menerima tawaran tersebut. Sebelum pergi ke rumahnya Srini, Ali meminjam beberapa kamera dan peralatan syuting milik teman dari adiknya yaitu Lana (Valerie Thomas). Setelah semuanya sudah lengkap, Ali pergi menuju rumahnya Srini. Tiba di sana, Srini langsung mengajak Ali berkeliling rumah dan melihat setiap ruangan yang menurutnya sering terjadi kejadian mistis. Ali kemudian memasang beberapa kamera di setiap ruangan dan sudut rumah dengan harapan bisa merekam hal-hal gaib sesuai keinginan Srini. Setelah semuanya selesai, Srini dan Tisya harus pergi dari rumah untuk menjenguk dan mengahabiskan akhir pekan di rumah ibunya. Setelah Srini dan Tisya pergi dari rumah, Ali bersantai sambil berkeliling ke setiap kamar dan ruangan di rumahnya Srini.
Waktu terus berlalu dan mulai masuk malam hari. Karena terasa tidak ada apa-apa, Ali semakin santai dan menikmati fasilitas rumahnya Srini seperti memasak di dapur, menonton televisi, meminum alkohol hingga menyempatkan diri untuk berendam juga. Selain itu, Ali juga menyempatkan waktu menelepon Lana untuk mengetahui kondisi terkini ibunya yang sudah diberi obat. Saat memasuki diatas jam 10 malam, Ali mulai merasakan ada hal ganjil. Kamera dan laptop yang ia simpan di ruang tengah tiba-tiba bergerak sendiri. Selain itu, Ali juga sering mendengar suara-suara aneh dari lantai atas. Keadaan semakin mencekam saat jam menunjukkan tengah malam. Sosok misterius serba hitam sering terlihat berjalan-jalan di dalam rumah. Tak hanya itu saja, Ali juga melihat secara langsung bayangan besar berwarna hitam dengan suara menggelegar muncul sambil mengacaukan seisi dapur. Untuk menghentikan gangguan gaib tersebut, Ali memanggil temannya yang seorang dukun yaitu Indra (Adnan Putra) ke rumah Srinil. Setelah sepakat untuk biaya imbalan, Indra melakukan ritual untuk berkomunikasi dengan para penunggu rumah nya Srini. Namun sayang, apa yang dilakukan Indra tersebut malah menimbulkan petaka.
Meskipun ketakutan setelah apa yang terjadi pada Indra, Ali berusaha merekam semua kejadian gaib di rumahnya Srinil dengan kamera dan juga ponselnya. Saat memasuki jam tiga pagi, sosok gaib Buto Ijo dan sosok misterius berpakaian serba hitam akhirnya menampakkan diri pada Ali. Saat Ali berusaha mencari jalan keluar dari rumah, ia harus berhadapan dengan Buto Ijo dan akhirnya terungkap apa yang sebenarnya terjadi di rumah Srini.
#Review:
Rumah produksi Creator Media Pictures kembali hadir dengan project film horror terbarunya yang berjudul PENUNGGU RUMAH: BUTO IJO (2026). Aktor multitalenta Gandhi Fernando come back sebagai aktor sekaligus produser dan juga penulis untuk film ini. Aku berkesempatan hadir pada Gala Premiere film BUTO IJO (2026) yang sukses digelar meriah pada Kamis, 8 Januari kemarin di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Pada kesempatan tersebut Gandhi Fernando dan sang sutradara yaitu Achmad Romie mengungkapkan, film BUTO IJO (2026) ini merupakan adaptasi dan rekonstruksi modern dari cerita klasik Timun Mas dan Buto Ijo. Lebih lanjut, alasan Gandhi Fernando tertarik untuk mengangkat folklore ini ke layar lebar dengan treatment horror karena ia ingin memberikan karakter horror baru yang jarang dilirik oleh para sineas perfilman Indonesia. Sebelumnya, Gandhi juga sudah menghadirkan dua karakter horror ikonik yaitu TUYUL (2015) dan LAMPIR (2024) yang bisa dibilang tidak sepopuler karakter horror Pocong, Kuntilanak dan Genderuwo di perfilman Indonesia.
Untuk segi cerita, film BUTO IJO (2026) ini melakukan pembaharuan menjadi lebih modern dan juga horror. Keputusan rekonstruksi folklore lokal ini langsung mengingatkan penonton akan film LEGENDA KELAM MALIN KUNDANG (2025) yang diproduksi oleh Come And See Pictures tentunya. Plot yang dihadirkan film ini bergerak secara linear dengan menerapkan banyak sekali adegan dan referensi dari film-film horror. Sebut saja yang paling mencolok yaitu WOMAN IN BLACK (2012), LA LLORONA (2019), film berkonsep found footage seperti GONJIAM (2018) hingga konsep screenlife seperti SEARCHING (2018) bisa kita temukan di film ini. Hal tersebut membuktikan jika Gandhi Fernando memang penikmat dan penonton setia film-film horror di bioskop. Eksekusinya pun tidak begitu jelek kok. Visual Buto Ijo, Pengantin Hitam, treatment found footage dan screenlife nya tampil believable, bagus dan smooth. Jika dibandingkan dengan film-film produksi Gandhi Fernando sebelumnya, film BUTO IJO (2026) sudah jelas punya visual dan sinematografi paling baik. Namun sayang, dengan banyaknya referensi horror yang diterapkan tak membuat plot dan dialog film BUTO IJO (2026) jadi ikutan bagus. Tak sedikit dialog-dialog antara karakter Ali dan Srini terlihat monoton dan juga cringe. Ekspresi ketakutan mereka dan Tisya juga kadang too much, kadang juga kaku. Sekilas, experience nonton film ini seperti menonton film-film horror Indonesia di tahun 2010-2017 an. Tak sedikit juga adegan-adegan "chill" yang dilakukan karakter Ali di film ini pasti akan menjadi bahan perbincangan dan mungkin saja roasting. Hahaha.
Terlepas dari kekurangan tersebut, film BUTO IJO (2026) rupanya menyimpan plot twist yang tersimpan dengan sangat rapi dan unpredictable. Adegan reveal plot twist tersebut juga eksekusinya cakep dan sekilas mengingatkanku akan salah satu adegan memorable Peter Parker di film Spider-Man nya MCU namun dengan treatment horror yang lebih simple. Overall, film PENUNGGU RUMAH: BUTO IJO (2026) cukup oke melakukan rekonstruksi folklore klasik dengan sentuhan horror yang durasinya tidak terlalu melar.
[7/10Bintang]

0 comments:
Post a Comment