#Description:
Title: Beautiful Pain (2026)
Title: Beautiful Pain (2026)
Casts: Raihaanun, Baim Wong, Jajang C. Noer, Anantya Kirana, Evano Zyan, Tarra Budiman, Dimas Aditya, Sha Ine Febriyanti, Nikita Mirzani, Willem Bevers, Anastasia Hergizova
Director: Dmaz Brodjonegoro
Studio: Dapur Film
#Synopsis:
Rumah tangga Niken (Raihaanun) dan Dirga (Baim Wong) hancur berantakan. Rasa curiga yang selama ini dipendam Niken terhadap suaminya akhirnya terbukti saat ia memergoki Dirga sedang berpesta di kelab malam bersama banyak wanita termasuk sahabatnya sendiri, Marcella (Nikita Mirzani). Kekecewaan Niken semakin membesar ketika ia tak sengaja menemukan narkoba tersimpan di antara barang-barang Dirga. Tak terima dengan perlakuan sang istri, Dirga yang berada di bawah pengaruh alkohol justru melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kejadian tersebut semakin membulatkan tekad Niken untuk bercerai dengan Dirga.Proses perceraian pun bergulir. Hakim memutuskan hak asuh kedua anak mereka, Naya (Anantya Kirana) dan Dio (Evano Zyan), jatuh ke tangan Niken. Mengetahui dirinya kalah, Dirga menolak membagi harta gono-gini dan hanya bersedia memberikan nafkah bulanan untuk kedua anaknya. Niken menerima keputusan itu tanpa debat. Ia memilih angkat kaki dari rumah mewah Dirga dan memboyong kedua anaknya ke rumah sang ibu, Ibu Rahma (Jajang C. Noer). Keputusan tersebut membawa perubahan drastis bagi Naya. Ia terpaksa pindah dari sekolah internasional ke sekolah negeri terdekat, yang membuatnya kecewa dan marah karena harus berpisah dari teman-teman lamanya. Langkah Niken meninggalkan Dirga juga memicu kekecewaan Ibu Rahma yang tak tega melihat kedua cucunya hidup pas-pasan di rumahnya yang sempit. Untuk meredam segala keluhan ibu dan kedua anaknya, Niken berjanji akan mencari pekerjaan secepatnya untuk menopang kebutuhan keluarga kecilnya itu.
Hari-hari berlalu. Niken sibuk membagi waktu antara mengurus rumah, mengantar Naya pergi sekolah dan melamar pekerjaan. Di saat bersamaan, masalah baru muncul. Naya yang belum move on menjadi korban perundungan di sekolah barunya hingga menolak untuk berangkat sekolah. Kabar kedua anaknya yang tidak betah di rumah Ibu Rahma sampai ke telinga Dirga. Tanpa sepengetahuan Niken, Dirga diam-diam meminta Ibu Rahma mengajak kedua anaknya untuk menemui dirinya sembari membawakan ponsel dan mainan agar Dirga mudah untuk berkomunikasi.
Secercah harapan muncul saat Niken tak sengaja bertemu Sekar (Siti Fauziyah), teman lamanya semasa kuliah di pasar. Sekar menceritakan pengalamannya yang sudah dua tahun menjanda dan terpaksa merelakan hak asuh ketiga anaknya ke tangan mantan suami karena tidak memiliki pekerjaan tetap kala itu. Kini, Sekar telah bangkit dan mengelola bisnis katering untuk rumah produksi sinetron. Merekam perjuangan sang sahabat dan mendengar Niken sedang mencari kerja, Sekar tanpa ragu menawarkan pekerjaan di bisnis kateringnya. Tawaran tersebut langsung Niken terima dengan suka cita.
Keesokan harinya, Niken mulai bekerja di bisnis katering Sekar. Meski disibukkan dengan rutinitas baru, Niken tetap memprioritaskan perannya sebagai ibu dengan menyiapkan sarapan, bekal, mengantar Naya ke sekolah dan menitipkan Dio kepada ibunya. Setibanya di lokasi syuting sinetron, Niken dan Sekar langsung sibuk menyiapkan konsumsi para kru. Di sana, paras cantik Niken mencuri perhatian Rendy Maja (Tarra Budiman), sang casting director dan Gerry Nugroho (Dimas Aditya) selaku sutradara. Rendy pun menawari Niken untuk mencoba peran figuran. Dukungan hangat dari Sekar memantapkan langkah Niken untuk menerima naskah singkat dari Rendy. Hari pertama bekerja dari mengurus katering hingga tampil di depan kamera sebagai figuran berjalan lancar dan memberi rasa lega luar biasa bagi Niken.
Peluang emas kembali menghampiri Niken di hari berikutnya. Kali ini, ia mendapat porsi peran yang beradu akting langsung dengan aktris ternama, Nadya Karna (Sha Ine Febriyanti). Memerankan sosok narasumber yang diwawancarai Nadya, Niken merasakan gugup yang luar biasa. Namun, berbekal pengalaman pahit rumah tangganya di masa lalu serta bimbingan hangat dari Nadya, Niken berhasil menyalurkan emosi yang begitu mendalam. Penampilannya yang memukau sukses menyentuh perasaan Nadya, Rendy, Gerry, dan seluruh tim di lokasi syuting. Sejak saat itu, Niken rutin dipercaya mengisi peran pendukung. Ketika proyek sinetron tersebut usai, rumah produksi milik Michael Maja (Willem Bevers) berencana menggarap sinetron baru berjudul Cinta Pertama. Tanpa ragu, Rendy dan Gerry mengajukan Niken sebagai pemeran utama. Keyakinan mereka terbukti benar. Sinetron Cinta Pertama meledak di pasaran dan meraih rating tinggi di televisi. Akting Niken panen pujian dari penonton. Seiring melesatnya karier, Niken resmi menandatangani kontrak kerja sama dengan rumah produksi dan menunjuk Sekar sebagai manajernya. Jadwal syuting yang makin padat perlahan mulai menyita waktu Niken bersama Naya dan Dio. Meski demikian, Niken tetap bertekad mengumpulkan semua penghasilannya demi masa depan keluarga. Usahanya membuahkan hasil. Niken berhasil membeli rumah dan mobil baru untuk membahagiakan ibu dan kedua anaknya. Kepindahan ke rumah baru membawa sukacita besar bagi Ibu Rahma dan anak-anak. Niken pun merasa lega karena tak lagi dibayang-bayangi kesulitan finansial dalam membesarkan buah hatinya.
Di sisi lain, Dirga sibuk dengan dunianya sendiri. Ia tak peduli saat mengetahui mantan istrinya kini menjadi bintang televisi ternama. Setiap usai bekerja, Dirga menghabiskan waktu dengan berpesta, mengonsumsi alkohol, dan menggunakan narkoba bersama Marcella serta wanita-wanita lain. Sementara itu, Naya dan Dio ingin berlibur ke pantai ketika sedang libur sekolah. Namun, Niken belum bisa menepati janji tersebut karena masih terikat jadwal syuting yang pada. Ia berjanji akan mengajak mereka begitu syuting sinetron nya selesai.
Suatu ketika, Niken harus menjalani syuting di luar kota bersama kru dan para pemain lainnya. Ia pun menitipkan Naya dan Dio kepada Ibu Rahma, lalu berangkat didampingi Sekar. Awalnya, proses syuting berjalan lancar. Hingga suatu malam, nasib tragis menimpa Niken yang mengalami pelecehan seksual setelah diberi minuman alkohol yang diberi obat tidur oleh Rendy dengan dalih membahas jadwal syuting terbaru. Diliputi amarah dan rasa trauma, Niken memutuskan untuk langsung berhenti dari syuting sinetron dan melaporkan Rendy ke polisi. Tak terima diancam, Rendy memutarbalikkan fakta dan menuduh Niken-lah yang mengundangnya bertemu sambil membawa minuman keras. Situasi makin kacau ketika rekaman pertengkaran antara Niken, Sekar dan Rendy diunggah oleh kru hingga viral di media sosial.
Demi membersihkan nama baiknya, Rendy menempuh jalur hukum dengan menuntut Niken atas tuduhan pencemaran nama baik serta pelanggaran kontrak. Di sisi lain, laporan kasus pelecehan yang diajukan Niken dan Sekar justru jalan di tempat karena dianggap minim bukti otentik. Enggan berurusan lebih panjang dengan Rendy, Niken memilih menjual mobil dan menguras tabungannya untuk mengembalikan honor serta membayar denda penalti. Imbas skandal viral tersebut, seluruh brand dan proyek sinetron baru menunda kerja sama dengannnya. Hal tersebut membuat sumber penghasilan Niken terputus total. Kondisi terpuruk ini dimanfaatkan oleh Dirga untuk merebut kembali hak asuh kedua anak mereka. Namun, perlahan aksi kejahatan Rendy mulai terkuak. Korban pelecehan seksual di lokasi syuting mulai bermunculan satu per satu, menyuarakan kesaksian yang sama persis dengan apa yang dialami Niken. Gelombang pengakuan ini membuat suasana kerja di lokasi syuting menjadi sangat tidak kondusif. Tak sanggup lagi menyaksikan aksi bejat Rendy yang terus memangsa para figuran dan calon aktris, Gerry akhirnya mengambil sikap tegas untuk mundur dari posisinya sebagai sutradara. Bagaimana nasib Niken selanjutnya? Apakah selamanya ia tidak akan mendapat keadilan dalam hidup?
#Review:
Rumah produksi Dapur Film kembali menghadirkan film terbarunya di bioskop berjudul BEAUTIFUL PAIN (2026). Menariknya, film ini merupakan project kolaborasi antara produser Hanung Bramantyo dengan Nikita Mirzani. Sejak pengumuman proses produksi hingga penayangan trailer, tak sedikit para penonton dan pecinta film Indonesia yang mengira jika film ini terinspirasi dari perjalanan hidup Nikita Mirzani yang penuh dengan kontroversi. Namun dugaan tersebut tidaklah tepat. Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Hanung Bramantyo, Dmaz Brodjonegoro selaku sutradara dan para pemain saat sesi press conference film BEAUTIFUL PAIN (2026) yang sukses digelar pada Kamis, 15 Oktober 2026 di Cinema XXI Epicentrum, Jakarta Selatan.
Pada kesempatan tersebut, Hanung menjelaskan jika ide cerita film ini memang berasal dari Nikita Mirzani yang saat ini tengah menjalani hukuman penjara di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Namun ide tersebut bukanlah dari perjalanan hidupnya Niki, melainkan dari cerita-cerita tentang perempuan di industri hiburan sekitar Niki. Meskipun dikenal kontroversial, Hanung dan Dmaz menemukan sisi lain dari seorang Niki yang tak hanya sebagai single parent luar biasa untuk anak-anaknya, ia juga sebagai seorang perempuan yang selalu bangkit dan tidak memperdulikan statusnya sebagai seorang janda dalam menjalani hidup.
Untuk segi cerita, film BEAUTIFUL PAIN (2026) mengusung cerita yang berani tentang realitas kelam yang sering kali tersembunyi di balik dinding rumah tangga dan gemerlap industri hiburan. Film ini mengeksplorasi isu kekerasan dalam rumah tangga, perjuangan seorang ibu tunggal, hingga maraknya kasus pelecehan seksual di lokasi syuting. Ceritanya tidak hanya berfokus pada penderitaan tokoh utama, tetapi juga pada bagaimana dinamika kekuasaan dan uang kerap membungkam keadilan bagi para korban. Secara teknis film ini juga mampu menyampaikan pesan sosial yang kuat mengenai keberanian korban untuk bersuara. Keberanian film ini meruntuhkan stigma sosial terhadap status janda maupun beban moral yang dipikul korban pelecehan patut mendapat apresiasi. Isu kesehatan mental dan ketidakadilan hukum yang disajikan terasa relevan dengan realitas sehari-hari, membuat penonton mudah berempati pada perjuangan Niken dan Sekar dalam mendapat keadilan. Drama rumah tangga antara Niken dengan Dirga pun dieksekusi secara dramatis, penuh dialog dengan nada tinggi yang menguras emosional penonton. Plot soal pelecehan seksual yang terjadi di lokasi syuting berhasil menambah cobaan hidup yang harus dilalui oleh karakter Niken. Meskipun mengangkat tema yang triggering, kolaborasi antara Hanung, Dmaz dan Titien Wattimena dalam menulis naskah cerita, film BEAUTIFUL PAIN (2026) memiliki sisi emansipasi dan women support women yang apik lewat hubungan persahabatan antara Niken dengan Sekar. Menariknya lagi, film ini juga memberikan semangat dan edukasi untuk berani speak-up lewat cerita yang terjalin antara Niken dan Nadya Karna. Klimaks cerita film BEAUTIFUL PAIN (2026) secara mengejutkan tampil bombastis. Intensitas ketegangan yang tercipta saat Niken "beradu" dengan Dirga sukses membuatku tercengang di kursi bioskop. Meskipun adegan klimaks tersebut terasa over dramatic dan menguras emosi, tapi hasilnya memuaskan berkat performa para aktornya yang menurutku luar biasa.
Meski memiliki pesan yang solid serta sisi emosional yang membara, kelemahan paling menonjol dari film BEAUTIFUL PAIN (2026) terletak pada struktur penceritaannya. Keputusan untuk menyajikan alur secara non-linear terasa janggal dan eksekusinya kurang rapi. Perpindahan timeline yang meloncat-loncat tidak dieksekusi dengan kecepatan dan penanda visual yang jelas, sehingga alih-alih memberikan efek dramatis atau kejutan naratif, alurnya justru terasa membingungkan dan memutus fokus emosi penonton yang sedang terbangun. Contohnya saat adegan Niken dan Dirga sudah resmi bercerai, tiba-tiba flashback, kemudian loncat lagi ke cerita lain yang tidak memberi kejelasan terhadap motif sebenarnya kenapa Dirga dan Niken bercerai, kenapa Dirga selalu merendahkan Niken padahal di scene flashback sering menampilkan keluarga yang harmonis. Kemunculan karakter perempuan yang menggatal yang diperankan Nikita Mirzani pun serba nanggung karena mendapat respon yang datar dari karakter Dirga.
Untuk jajaran pemain, keputusan memasangkan Raihaanun dan Baim Wong sebagai pasutri sangatlah tepat. Keduanya sudah menjadi spesialis memerankan karakter istri yang tersakiti dan suami redflag brengsek yang berhasil mengaduk-aduk emosi penonton. Konsistensi akting dan peran mereka berdua turut dimunculkan dari karakter Sekar yang diperankan Siti Fauziyah. Elemen komedi khasnya selalu berhasil mencairkan suasana. Dari awal sampai film selesai, karakter Sekar sangat konsisten sebagai support system yang selalu ada di sisi Niken. Hal tersebut tidak bisa penonton rasakan dari karakter Ibu Rahma yang diperankan oleh Ibu Jajang C. Noer. Entah kenapa development character sang ibu di sini dibuat matrealistis dan bisa-bisanya juga tidak satu tujuan dengan anak kandungnya sendiri. Bikin emosi. Apresiasi selanjutnya tentu harus diberikan pada Tarra Budiman. Branding dan image nya yang selama ini melekat sebagai aktor komedian, bisa di-switch dengan cepat dan sangat meyakinkan. Sebagai pria brengsek, bajingan, keparatnya terlalu meyakinkan! Hahaha.
Overall, film BEAUTIFUL PAIN (2026) merupakan potret drama sosial yang berani, emosional dan relevan dengan isu-isu sensitif masa kini. Meskipun penyajian alur non-linear yang dipaksakan menjadi nilai minus yang cukup mengganggu pengalaman menonton, penampilan akting jajaran pemain utamanya yang luar biasa tetap menjadikan film ini layak untuk ditonton di bioskop.
[8/10Bintang]



